Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei

Jakarta, IPNU Tegal - Pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang itsbat bersama lintas ormas Islam dan para ahli perbintangan, Jumat (26/5) petang. Melalui forum tersebut, pemerintah secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 1438 H jatuh pada Sabtu, 27 Mei 2018.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, ketetapan ini didasarkan pada dua metode, yakni hisab dan rukyat. Menurutnya, hisab penting untuk memberikan informasi posisi hilal, namun hisab juga harus dikonfirmasi melalui praktik rukyat. Hilal berhasil terlihat di sejumlah titik, antara lain Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Kepulauan Seribu.

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei

“Maka dengan dua hal tadi, penghitungan (hisab) dan rukyat, seluruh peserta sidang besepakat malam ini sudah masuk 1 Ramadhan, dan Sabtu 27 Mei 2018 kita bisa mengawali puasa Ramadhan,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (26/5) malam.

IPNU Tegal

Ketetapan pemerintah ini selaras dengan prediksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah yang menyatakan, umat Islam sudah bisa memulai puasa Ramadhan pada Sabtu (275) besok.

IPNU Tegal

Hal tersebut berdasarkan hasil penghitungan astronomis Lembaga Falakiyah PBNU yang memungkinkan hilal terlihat pada Jumat tadi.

Data hisab Lembaga Falakiyah PBNU menyebutkan, posisi hilal markaz Jakarta pada 29 Sya’ban 1438 H berada pada ketinggian 8 derajat 26 menit 15 detik di atas ufuk. Peristiwa ijtima’ atau konjungsi berlangsung pada Jumat (26/5), pukul 02.45.47 WIB. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Ahlussunnah, Halaqoh IPNU Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif

Yogyakarta, IPNU Tegal. “Buku ini baca, ini amanat dari saya. Selain menikmati bahasa, muatannya sangat bagus, ini dapat menjawab pertanyaan Kiai Abdul Fatah, NU ini bagaimana? NU-nya rusak atau kadernya, atau NU tidak bisa masuk Ipad?”

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif

Itulah yang disampaikan oleh Ahmad Tohari dalam acara Bedah buku bedah yang berjudul “Sang Penakluk Badai” yang diselenggarakan oleh PWNU DIY, di kantor PWNU DIY jalan MT Haryono Selasa (14/05).

“Sebagai sastrawan buku ini sudah bagus, ini dapat menjawab realitas sosial NU saat ini,” ujar Ahmad Tohari, sastrawan NU berasal dari Banyumas.?

IPNU Tegal

“Dari riwayat yang ditulis, jelas Hadratus Syekh Hasyim Asy ‘ari sangat mempedulikan umat sekarang. Bukan seperti NU saat ini, yang banyak berorientasi empiris. Buku ini, menjawab permasalahan NU,” tambahnya.

Dalam diskusi yang dilaksanakan pada jam 19:30, ini banyak dihadiri oleh kader-kader NU, terutama para pelajar. Turut hadir juga sebagai pembicara, di antaranya adalah Aguk Irawan Mn dan Ahmad Tohari. Sebelum acara bedah buku tersebut dimulai, ada beberapa tampilan puisi dari para kyai dan sastrawan Yogyakarta.

IPNU Tegal

“Sepulang dari sini, saya berharap baca buku ini” tandas Ahmad Tohari memberi amanah para pengunjung.?

“Menulis buku setebal ini tidak mudah, tapi mas Aguk selaku penulisnya selesai menyelesaikan buku ini, ini merupakan luar biasa,” tambahnya.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Solikhin, Rokhim

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul IPNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi

Oleh: KH  Imam Jazuli MA*

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya! Begitu kata Bung Karno, pada pidatonya di hari pahlawan 10 November 1961.

Dan, mengenang riwayat perjuangan anak bangsa, terutama saat-saat peran pemuda begitu dominan dan sentral untuk sebuah nasionalisme; merebut atau mempertahankan kemerdekaan dengan caranya sendiri dan demi nilai agama sekaligus. 

Maka, kita tentu tak boleh lupa atau alpa pada riwayat apa dan bagaimana Ansor, sebagai barisan pemuda pesantren-islam tradisional itu berdiri dan lahir, dan pada masanya sangat dibutuhkan ketika republik yang kita cintai ini  baru merangkak dan belajar berdiri. 

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi

Ansor yang sering disebut sebagai anak rahim dari NU (Nahdlatul Ulama) bahkan secara de jure sudah terlahir lebih dulu sebelum NU berdiri. Tahun 1924, ketika organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes mencuat, anak-anak muda yang terdiri dari santri pesantren dan langgar atau masjid mendirikan organisasi kepemudaan bernama: Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaid.

IPNU Tegal

Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan semakin banyak diminati dan mendapatkan tempat di hati pemuda, saat itulah situasi konflik internal terjadi; antara tokoh-muda tradisional (KH. Abdul Wahab Hasbullah) dan tokoh muda-modernis (KH. Mas Mansyur) yang sama sama berada di tubuh Nahdlatul Wathan. Perbedaan itu muncul dalam cita-cita yang sama-sama mulia, yaitu bagaimana sebaiknya membina kader mubalig dan kemana idiologi mereka arahkan?. Perbedaan ini akhirnya melahirkan arus gerakan yang berbeda dalam mendirikan organisasi kepemudaan. KH. Wahab membawa gerbong cikal bakal Ansor, sementara Mas Mansyur kemudian kelak dikenal sebagai pioner dari Pandu Hisbul Wathan (Muhammadiyah). 

IPNU Tegal

Dari gagasan KH. Wahab tersebut, secara kongkrit dilanjutkan oleh kader Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri pada tahun 1930 dengan nama Nahdlatus Subban (Kebangkitan Pemuda), yang dipimpin oleh Umar Burhan. Abdullah Ubaid kemudian mendirikan organisasi pemuda yang lebih luas yaitu persatuan pemuda Nahdlatul Oelama (PPNO) dan tahun 1934 namanya disempurnakan menjadi Ansor Nahdlotul Oelama (ANO), sebagai bagian dari NU pada Muktamar ke 9 di bayuwangi 21-26 April 1934. Selanjutnya, melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan barisan berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama). Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser.

Peran Kongkrit Membela Negara

Meski kedua prototipe gerakan tersebut (Subbanul Wathan dan Pandu Hizbul Wathan) sering berbeda haluan, namun menurut catatan Prof. Anthony Ried, ada saat-saat yang mengharukan, dimana kedua gerakan pemuda itu dalam satu barisan, yaitu ketika  KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1944 berfatwa, untuk antara lain mengharamkan pribumi yang muslim menyanyikan lagu kebangsaan “Kimigayo”, dan mengibarkan bendera Hinomaru serta segala bentuk Niponisasi (serba Jepang). Hari berikutnya, dua gerakan pemuda itu, tidak sekedar mengikuti fatwa Kiyai Hasyim, tetapi saling bahu-membahu memerangi kolonialisme Jepang yang sangat kejam. KH. Hasyim bersama KH. Wahab Hasbullah kemudian secara sembunyi-sembunyi mencoba menyatukan dua gerakan anak muda itu dalam kelompok Laskar Hizbullah yang dikomandani Mahfudz Shidiq dan untuk yang tua-tua dalam barisan Laskar Sabilillah yang diketuai oleh KH. Abdul Kholik (Putra KH. Hasyim Asyari). (Anthony Ried. 1974. The Indonesian National Revolution, 1945-1950, Connectitud: GrPenwood Press)

Menariknya, meskipun pada akhirnya jumlah Pandu Hizbul Wathan (Muhammadiyah) tak begitu signifikan yang masuk dalam barisan pasukan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah ini, tetapi usaha menyatukan sudah dicoba dilakukan dengan arif oleh KH. Hasyim Asyari, dan secara mengagetkan, segera saja, pasukan dari kalangan Islam tradisionalis ini jauh lebih banyak daripada pasukan resmi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Bahkan untuk menghadapi Perang Pasifik, kalangan Nasionalis dalam Hokokai pada bulan Agustus 1944, di seluruh Nusantara baru mempunyai anggota sekitar 80.000 pemuda di dalam unit para militernya dengan nama barisan Pelopor dengan komando Soekarno dan Hatta, dan organisasi PETA punya barisan perang dengan jumlah yang sama dengan Pelopor, yaitu sekitar 80.000 pemuda yang terdiri dari tentara dan kaum buruh tani, dengan komando Jenderal Sudirman dan Jenderal A. H. Nasution.

Sedangkan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah yang anggotanya terdiri dari para santri, kaum muslim tradisionalis pedesaan di berbagai wilayah dan daerah dengan anggota di setiap wilayah sekitar 50.000 yang terpencar di kepulauan Nusantara, semuanya mencapai sekitar 500.0000. Jumlah tersebut tiap hari kian meledak, pemuda-pemuda desa  yang berumur sekitar delapan belas tahun sampai duapuluh tahun dengan antusias tergabung, dan  mengikuti pelatihan pusat di Malang. Dari semangat anak muda inilah, kelak kemerdekaan benar-benar terwujud. 

Setelah revolusi fisik (1945-1949) mereda. Tokoh Laskar Hizbullah dari barisan ANO Surabaya Moh. Chusaini Tiway, melegalkan ANO dengan Bansernya secara formal setelah sempat dibekukan oleh pihak Jepang. Ide tersebut mendapat sambutan positif dari KH. wahid Hasyim Menteri agama RIS kala itu, maka pada tanggal 19 desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO, dan secara de facto diakui dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor (GP. Ansor). 

Tentang Sepenggal Nama

Ansor Nahdlatul Oelama (ANO), adalah nama atas saran KH. Abdul Wahab. Nama ini menurutnya diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad Saw. kepada penduduk Madinah (kaum Ansorin) yang telah berjasa dalam membela dan ikut serta dalam perjuangan dan menegakan agama kaum muhajirin (Islam). Pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam. Kaum Ansor, berarti kaum asli pribumi, yang tak boleh meninggalkan karakter dan tradisi-tradisi arifnya, tetapi juga harus mau merima yang baik dari luar, yaitu dari kaum muhajirin (Makkah). Diktum ini kemudian dikenal luas oleh Nahdliyin dengan al-muhafadzah ala qadim as-shalih wal-akhdzu bil jadid al-ashlah (menjaga tradisi yang baik, dan mengambil baru yang baik). 

Dengan demikian ANO diharapkan dapat mengambil hikmahnya serta tauladan terhadap sikap, prilaku dan semangat perjuangan serta kiprah sahabat nabi dan yang dapat predikat Ansor tersebut. Yakni sebagai penolong perjuangan dan bahkan pelopor dalam menyiapkan gebrakan dan pembentengan kekuatan islam. Inilah komitmen yang sejak awal diperlihatkan anggota ANO (GP. Ansor), misalnya dalam kasus G. 30 SPKI, dan lain sebagainya.

GP. Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikian rupa, bahkan mungkin menjadi organisasi kemasyarakatan yang berbasis pemuda terbesar di Indonesia, dan memiliki watak mecintai tradisi dan bervisi keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 cabang (tingkat kabupaten/kota) di bawah koordinasi 32 pengurus wilayah (tingkat provinsi ). Ditambah dengan kemampuan pengelola keanggotaan khusus BANSER (barisan Ansor serbaguna) yang memiliki kemampuan dan kualitas kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Barangkali tantangan GP. Ansor yang paling kongkrit saat ini dan ke depan adalah ’berperang’ menyelamatkan negeri dengan cara ”meneguhkan kebinekaan dan mengentaskan kemiskinan” dari jarahan para koruptor yang semakin membudaya di kalangan  birokrat! Selamat ultah Ansor yang ke 78, yang saat ini dirayakan di Solo (dengan rencana dibuka oleh Presiden RI), mulai tanggal 13-18 Juli 2012. Semoga terus eksis dalam setiap episode sejarah perjuangan bangsa dan tetap menepati posisi dan peran yang strategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional. Amin

Jakarta, 10  Juli 2012

* Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabitah Maahid Islamiyah -Asosiasi Pesantren se-Indonesia- (PP RMI)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Nahdlatul, News IPNU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU

Surabaya, IPNU Tegal. Legalitas kepengurusan hasil Muktamar ke-33 NU semakin kuat. Hal ini seiring dengan adanya keputusan Menteri Hukum dan HAM RI yang dikeluarkan 8 September 2015 lalu. "Setidaknya ada tiga alasan yang semakin menguatkan kepengurusan PBNU hasil Muktamar ke-33 di Jombang awal Agustus 2015," kata KH Sholeh Hayat, SH, Selasa (10/11).

Wakil Ketua PWNU Jatim ini kemudian memberikan rincian bahwa legalitas kepengurusan PBNU tidak lagi terbantahkan. "Pertama adalah kepengurusan hasil Muktamar ke-33 NU telah diterima oleh Presiden RI di istana kepresidenan pada tanggal 27 Agustus lalu," katanya. Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yakni KH Maruf Amin dan KH Said Aqil Siroj bersama sebagian pengurus harian telah diterima presiden dengan baik, lanjutnya.

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU

Penguatan kedua adalah kehadiran Presiden RI pada pelantikan PBNU periode 2015 hingga 2020 di Masjid Istiqlal Jakarta, 5 September 2015. "Ini semakin meyakinkan bahwa secara hukum, keberadaan kepengurusan telah diakui negara," ungkapnya.

IPNU Tegal

Dan yang terbaru adalah dikeluarkannya keputusan dari Kementerian Hukum dan HAM RI bernomor AHU – 70 AH.01.08 tahun 2015 tentang kepengurusan PBNU.

"Sehingga dengan demikian kepengurusan PBNU hasil Muktamar ke-33 yang berlangsung di Jombang telah diakui negara," kata KH Sholeh Hayat sembari menunjukkan salinan surat dimaksud.

IPNU Tegal

Mantan anggota DPRD Jatim ini tidak menampik adanya sejumlah kalangan yang masih mempersoalkan keabsahan kepengurusan PBNU. "Tapi kami rasa, itu adalah sebagai bagian dari dinamika yang ada di NU," katanya. Selanjutnya, setelah tiga fakta tersebut, semua pihak hendaknya dalam kembali bergabung dalam satu barisan dalam berkhidmat kepada NU, lanjutnya.

Kiai Sholeh, sapan akrabnya menandaskan ada banyak persoalan umat dan bangsa yang mendesak untuk segera disikapi dan dicarikan formula pemecahan terbaiknya. "Mari satukan kekuatan untuk mencarikan solusi terbaik agar bangsa ini segera dapat keluar dari berbagai masalah," katanya. Dan hal itu dapat dilakukan antara lain dengan terus memberikan dukungan kepada kepengurusan PBNU hingga daerah sehingga bisa berkiprah dengan lebih baik, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

?

Senin, 22 Januari 2018

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN

Kuburaya, IPNU Tegal

PMII Komisariat Untan Pontianak memberikan sosialisasi kepada puluhan peserta Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kabupaten Kuburaya Kalimantan Barat terkait merebaknya paham radikalisme di lingkungan kampus. Kegiatan yang didukung Mata Air Foundation dan GP Ansor ini berlangsung di Kecamatan Ambawang, Rabu (4/5) malam.

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN

“Ketika kalian masuk ke dunia kampus, akan ada banyak macam perbedaan pemikiran, terlebih disaat baru masuk ke dunia kampus, mahasiswa sangat mudah dipengaruhi dan didoktrin. Maka kalian harus berhati-hati dan mempersiapkan diri dari sekarang, karena kalianlah yang menjadi harapan generasi ahlussunnah waljamaah, di dalam dunia kampus,” kata Abdul Wesi Ibrahim, Sekretaris Umum PMII Untan.

Abdul Wesi menjelaskan mahasiswa sebagai insan yang masih mencari jati diri, wajar jika mudah dipengaruhi. “Sebelum kalian terjun di dunia kampus, persiapkan itu semua” pungkasnya. (Ai, Sf/Zunus)

IPNU Tegal



IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Nasional IPNU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Menggadang Undaan Jadi Percontohan IPNU-IPPNU Kudus

Kudus, IPNU Tegal. Kudus yang dikenal sebagai Kota Kretek rupanya masih memiliki area pertanian cukup luas. Menempuh setengah jam dari pusat kota ke arah selatan, kita akan menemui luas hektaran sawah yang tampak membentang.

Menggadang Undaan Jadi Percontohan IPNU-IPPNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggadang Undaan Jadi Percontohan IPNU-IPPNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggadang Undaan Jadi Percontohan IPNU-IPPNU Kudus

Penampang sawah inilah yang selalu mengiringi perjalanan pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kudus tiap menghadiri agenda Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Undaan, seperti saat mendatangi kegiatan Buka Bersama, Kamis kemarin (10/7).

Luas wilayah Kabupaten Kudus memang kecil dalam peta Provinsi Jawa Tengah. Dengan demikian, jarak antarkecamatan pun mestinya cukup berdekatan. Namun jika dibanding dengan wilayah kecamatan lain di Kudus, letak Kecamatan Undaan tergolong cukup jauh.

IPNU Tegal

Jalanan pun akan berubah total setelah masuk gang menuju pemukiman. Beda dengan jalan utama, kali ini jalanan yang membelah persawahan warga ini sungguh bergelombang tak rata, berdebu, panas, dan karenanya perjalanan menjadi lamban.

Kecamatan Undaan merupakan daerah paling selatan di Kudus, berbatasan dengan Purwodadi, Pati dan Demak. Namun kondisi geografis Kecamatan Undaan yang seperti ini tak lantas membuat kader malas berpartisipasi dalam wadah IPNU-IPPNU.

IPNU Tegal

Semangat para pelajar NU tersebut mendapat dukungan dari senior setempat. Anshori, salah satu alumni yang kini membina Ranting Kutuk sekaligus PAC Undaan, mengaku senang dapat berkontribusi dalam kegiatan. Ia pun meminta agar para kader mengabari alumni setiap mengadakan agenda. Lebih dari itu, kesiapan bantuan logistik juga ia ungkapkan.

“Baik pengurus Ranting hingga Cabang, kalau ada kegiatan, senior tetap dikabari. Semuanya harus tetap berumpun, jadi sering-seringlah sharing. Kalau perlu kami didatangi dan minta apa saja yang kalian butuhkan, insyaAllah bisa membantu. Butuh dana, beras, sekwintal juga boleh, datangi saja, tidak perlu sungkan, biar kami juga bisa ikut berjuang bersama. Kegiatan rutin yang diterima masyarakat itu harus tetap dilanjutkan,” ujar Anshori di depan peserta buka bersama.

Joni Prabowo, Ketua PC IPNU Kabupaten Kudus terpilih, menyatakan kebanggaannya terhadap semangat para kader Undaan. “Kudus, dalam wilayah Jawa Tengah termasuk Kabupaten yang sempit. Nah, ini justru menjadi peluang kita agar semakin bersemangat berjuang di IPNU-IPPNU,” katanya saat sambutan.

“Dibandingkan Jepara, misalnya, Kudus lebih enak karena jarak masing-masing PAC dekat. Tapi antara Undaan dengan PAC lain di Kudus, lebih enak di PAC lain karena kondisi wilayahnya. Inilah yang membuat saya bangga dengan PAC Undaan, ternyata kadernya tetap bersemangat!” imbuh Joni.

Sambil mengenalkan para pengurus PC. IPNU yang juga hadir, Joni semakin mengungkapkan rasa bangganya kepada kader Undaan.

“Saya dengar, di desa Kutuk ada malam takbiran yang terbesar di Kudus. Jadi saya yakin, insyaallah pergaulan di daerah ini masih terjaga, dan karenanya bisa menjadi trendsetter (percontohan) IPNU-IPPNU di Kudus,” papar Joni melihat semangat yang indah di desa Kutuk.

PAC Undaan sendiri telah memiliki kader-kader unggulan yang juga aktif di kepengurusan baru PC.? Mereka adalah Mira Agustina (Bandahara Umum) dan Fauzul Khusnia (Waka IV bidang perekonomian) dari IPPNU, serta Ahmad Said (Waka IV bidang perekonomian) dan Abu Hasan Asy’ari (Komandan CBP) yang juga memimpin keredaksian majalah Pilar terbitan PC IPNU-IPPNU Kudus.

Acara ini merupakan pertemuan antara alumni Latihan Kader Muda (Lakmud) bersama alumni Diklatama CBP dan KPP DKAC PAC. IPNU-IPPNU Kecamatan Undaan. Sebelum berbuka, Anshori yang juga mengajar di madrasah memberikan ceramah ihwal keistimewaan bulan Ramadlan. Pertemuan ini dilaksanakan di rumah Arif Rahmat, alumni Lakmud delegasi dari Ranting Kutuk. Pada lebaran nanti juga direncanakan silaturrahim ke dewan pembina dan alumni di Kecamatan Undaan. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pemurnian Aqidah, Olahraga, Nahdlatul IPNU Tegal

Derita Rohingya, Derita Kita

Hidup Muslim Rohingya yang tinggal di Provinsi Rakhine Myanmar seolah tak lepas dari derita. Bukan hanya beberapa tahun belakangan ini, catatan sejarah menunjukkan, mereka telah mengalami penganiayaan oleh pemerintah yang berkuasa dari periode ke periode. Kini, etnis Rohingya kembali menjadi perhatian internasional atas kekerasan yang mereka alami yang memaksa mereka harus mengungsi untuk menyelamatkan hidup. Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling menderita atas situasi ini.

Kita memiliki konsep ukhuwah islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim, yaitu Muslim di mana pun adalah saudara. Jika mereka menderita, maka hal tersebut juga penderitaan kita. Dalam konteks inilah, terasa sekali nilai penting bagi kita untuk membantu orang-orang yang sedang ditimpa kesusahan. Ada banyak cara untuk membantu Muslim Rohingnya, bagi umat Islam secara umum, memberikan donasi untuk meringankan penderitaan yang mereka alami adalah cara paling mudah. Sedikit uang yang terkumpul dari jutaan umat Islam Indonesia, akan sangat bernilai. Jika belum mampu memberikan sumbangan, hal minimal yang kita lakukan adalah memanjatkan doa untuk kebaikan mereka.

Derita Rohingya, Derita Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Derita Rohingya, Derita Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Derita Rohingya, Derita Kita

NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil langkah nyata dalam meringankan beban Muslim Rohingya. NU melalui LAZISNU dalam hal ini memfasilitasi orang-orang yang ingin membantu dengan menyediakan rekening khusus yang dilaporkan pengkembangannya setiap hari demi menjaga transparansi dan akuntabilitas. Para aktivis NU yang tergabung dalam berbagai badan otonom NU seperti Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, pesantren, sekolah dan kelompok NU lainnya secara massif mengampanyekan kesadaran untuk turut memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan guna menolong mereka yang sedang mengalami musibah ini. Relawan-relawan NU yang selama ini sudah berpengalaman dalam mengatasi bencana, rencananya juga akan diterjunkan langsung ke lokasi konflik untuk memberi bantuan kepada semua pihak yang menderita.

IPNU Tegal

Bagi pemerintah Indonesia, hal yang penting untuk dilakukan selain memberikan bantuan keuangan adalah melakukan diplomasi kepada pemerintah Mynmar agar lebih bijak dalam menangani masalah tersebut. Langkah Menlu Retno Marsudi untuk berkunjung ke Mynmar dan ke Bangladesh sebagai negara yang paling terdampak oleh pengungsi Rohingnya patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh komunitas Muslim di dunia internasional.

Negara yang cukup aktif dalam membantu masalah Muslim Rohingya adalah Indonesia dan Turki. Karena itu, disayangkan jika komunitas Muslim internasional kurang memberikan perhatian yang cukup atas masalah ini, mengingat etnis Rohingya merupakan etnis minoritas yang paling menderita di dunia. Kekuatan internasional, baik dalam hal pengumpulan dana atau diplomasi akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam upaya penyelesaian ini agar tidak terus berlarut-larut dari waktu ke waktu.

IPNU Tegal

Aksi mendukung Muslim Rohingya dengan melakukan demonstrasi juga sah-sah saja selama menjaga ketertiban dan sesuai dengan koridor hukum yang ada. Aksi seperti itu akan menjadi perhatian publik internasional bahwa apa yang dialami oleh Rohingya menjadi perhatian pihak lain. Tetapi, jika aksi tersebut memiliki motif lain seperti sebagai sarana konsolidasi untuk menggoyang pemerintahan, tentu sangat disesalkan. Sikap pemerintah yang tidak memberi izin pada rencana aksi di dekat kompleks Candi Borobudur juga tepat. Umat Budha di Indonesia hidup dengan damai dan menjaga toleransi dengan sesama. Jangan sampai upaya untuk membantu saudara Muslim di negara lain malah menjadi masalah antarumat beragama di negeri sendiri.

Bagi umat Islam secara umum, bersikap kritis atas segala informasi yang beredar di internet sangat penting. Baru-baru ini beredar viral foto-foto di dunia maya yang ternyata hoaks. Ada pihak-pihak yang berusaha menunggangi penderitaan pihak lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Mawas diri dalam situasi yang tidak pasti menjadi sangat penting untuk menjaga kedamaian.

Upaya-upaya pertolongan dengan menggalang aksi kemanusiaan sangat bermakna sebagai solusi jangka pendek atas masalah Rohingya. Kini saatnya dicarikan solusi permanen agar nasib etnis Rohingya tidak sebagaimana yang terjadi dengan Pelestina yang terus menerus dilanda konflik dan menjadi faktor ketidakstabilan kawasan. Dengan perkembangan teknologi, masalah yang terjadi di satu daerah bisa menjadi problem yang meluas ke daerah-daerah sekitarnya. Keterlibatan ASEAN untuk bersama-sama menyelesaikan masalah ini sangat penting. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Nahdlatul, Amalan IPNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat

Tangerang Selatan, IPNU Tegal

Para mahasiswa di kampus Politeknik Keuangan Negara STAN yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Iman) memilih ketua baru dalam Muktamar Ke-24 yang di Masjid Al-Barkah, Tangerang Selatan, Banten.

Metode pemilihan kali ini lebih mengedepankan musyawarah dibandingkan pemungutan suara atau voting. Sidang pemilihan ketua dipimpin ketua demisioner, M Roid Nashiruddin. Ia menjelaskan, beberapa hari sebelum acara Muktamar, pihaknya sudah meminta kepada masing-masing angkatan untuk mengusulkan nama-nama bakal calon ketua.

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat

Dari ketiga angkatan ternyata mengerucut pada dua nama untuk calon ketua Iman dan Imanisa (sebutan untuk ikatan mahasiswa Nahdliyin putri). Namun, pada waktu penyampaian visi-misi, calon ketua Iman yang satu mengundurkan diri dan muktamirin menyepakati untuk mengangkat calon tunggal, yaitu Achmad Fahmi Abdullah, ketua Iman periode 2016-2017.

IPNU Tegal

Sementara dari sisi Imanisa, setelah mendengar penyampaian visi-misi kedua calon dan dilakukan musyawarah internal anggota Imanisa, akhirnya terpilihlah Mei Nur Hakiki sebagai ketua baru Imanisa.

Sebelumnya, suksesi kepemimpinan didahului dengan penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Kinerja oleh kepengurusan Iman tahun 2015-2016. Dimulai dengan penyampaian dari Badan Pengurus Harian yang dikomandoi M Roid Nashiruddin, sidang LPJ berlangsung cukup hangat hingga pukul 23.00 WIB.

IPNU Tegal

Sidang LPJ semakin memuncak saat tiba giliran pengurus bidang Dana Usaha (Danus) Iman menyampaikan pertanggungjawabannya. Wildan Basri selaku kepala bidang (kabid) menyampaikan bahwa Danus menjadi salah satu bidang yang cukup penting dalam menopang kebutuhan finansial Iman. Pada tahun ini, bidang Danus sudah mencetak buku USM yang menjadi produk unggulannya sebanyak 5000 eksemplar.

Di sela-sela penyampaian LPJ, mahasiswa asal Pemalang ini masih sempat mempromosikan buku dan produk danus lainnya. Sontak kejadian itu mampu memecahkan tawa di antara para muktamirin. Sidang ditutup dengan penyampaian LPJ dari Ketua Imanisa.

Acara yang berlangsung Sabtu (30/1) malam itu dihadiri pengurus jamaah aktif, beberapa alumni Iman. Muktamar diawali dengan penampilan tim hadrah Badruttamam yang melantunkan lagu Yaa Hanaana dan Abatiy.

“Mereka yang mau mengurusi Iman, insyaa Allah akan menuai berkahnya,” ujar Ustad Faris dalam sambutannya mewakili dewan alumni Iman. Setelah resmi dilakukan prosesi serah terima jabatan, Muktamar Ke-24 Iman ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh salah satu alumni.

Selamat kepada ketua Iman dan Imanisa yang baru terpilih. Semoga amanah dan mendapat barokah! (Fauziyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Pelajar STAINU di Maroko Adakan Tasyakuran

Kenitra, IPNU Tegal. Malam pergantian tahun baru, bagi sebagian orang telah menjadi suatu peristiwa yang sangat istimewa dan sakral. Nampaknya, kurang afdol jika malam istimewa itu hanya berlalu begitu saja. Magnet tahun baru, bukan hanya ada di Indonesia, tetapi hampir di setiap pelosok dunia, ikut merayakannya dengan tradisi serta nuansa alami yang berbeda.

Namun lain halnya dengan para pelajar STAINU yang baru saja selesai mengikuti program kelas internsional di universitas Ibnu Tofail, Kenitra-Maroko. Menjelang kepulangnnya ke tanah air mereka mengadakan tasyakuran dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur karena telah menyelesaikan program tersebut dengan baik dan lancar yang bertepatan dengan malam pergantian tahun baru 2013. 

Pelajar STAINU di Maroko Adakan Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar STAINU di Maroko Adakan Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar STAINU di Maroko Adakan Tasyakuran

Acara yang bertempat di wisma STAINU Kenitra ini, juga dihadiri oleh sejumlah anggota dan pengurus PCINU Maroko. Dimana sehari sebelum acara tersebut para pelajar STAINU juga telah mengadakan rihlah penutupan dengan mendatangi rumah para ulama di Maroko dan dilanjutkan dengan berziaroh ke makam para ulama di Maroko selama dua hari yang didamping oleh sejumlah pengurus PCINU Maroko.

IPNU Tegal

Acara tersebut berlangsung dengan meriah dan penuh rasa kekeluargaan dengan sedikit mengharukan. Pasalnya ada sebagai pelajar yang menginginkan untuk bisa meneruskan program sarjananya di Maroko sampai selesai namun terpaksa harus kembali ke tanah air karena waktu yang telah ditentukan sudah habis.

IPNU Tegal

Sementara Ali Shodikin selaku  ketua rombongan pelajar STAINU juga mengatakan bahwa pada hari Jumat pagi nanti semua teman-teman STAINU harus sudah bersiap-siap menuju ke bandara Muhammad V.

Sebelum acara tasyakuran ditutup, Prabowo Wiratmoko Jati selaku Dewan Mustasyar PCINU Maroko menyampaikan kepada semua pelajar STAINU agar tetap menjaga silaturahmi dengan para dosen di Maroko yang telah memberikan ilmunya. Selain itu juga tetap menjaga hubungan yang baik dengan para staf dan local staf KBRI Rabat yang telah banyak membantu dalam proses belajar di Kenitra. Tak lupa Ia juga berharap semoga ilmu yang di dapat selama setahun bisa di fahami dengan baik dan bermanfaat bagi diri sendiri, agama, bangsa dan negara.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Tegal, Hikmah IPNU Tegal

Menteri Malaysia Ziarah Makam Sunan Ampel

Surabaya, IPNU Tegal. Dato Seri Mustapa Mohammed, Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia, berziarah ke Makam Sunan Ampel, Surabaya, Ahad (8/4) lalu. Ia didampingi oleh Abdul A’la, Rektor IAIN ? Sunan Ampel Surabaya, KH Khoiron Syuaib, dan serta Karim Raslan, seorang kolumnis Malaysia.

Menteri Malaysia Ziarah Makam Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Malaysia Ziarah Makam Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Malaysia Ziarah Makam Sunan Ampel

Dengan takzim, To’ Pa, panggilan akrab Dato Seri Mustapa Mohammed, mengikuti pembacaan tahlil di makam Sunan Ampel yang dipimpin oleh Kiai Khoiron.

Dalam kesempatan itu, dengan antusias Prof A’la dan Kiai Khoiron menjelaskan proses dakwah yang dilakukan oleh Walisongo, khususnya Sunan Ampel. Disampaikannya, dakwah walisongo dilakukan dengan penuh kedamaian dan tanpa pertumpahan darah.

IPNU Tegal

Berasal dari Kerajaan Champa, Raden Rahmatullah, nama asli Sunan Ampel, mengunjungi bibinya yang menjadi salah satu istri Raja Majapahit. Semangat dakwah membuat Sunan Ampel kemudian memutuskan tinggal di Ujung Galuh, nama kuno Surabaya, dan berdakwah hingga akhir hayatnya.

IPNU Tegal

Raut muka To’ Pa sedikit terkejut mendengar keterangan bahwa Sunan Ampel berasal dari Kerajaan Champa, yang saat ini berada di wilayah Kamboja. Arsitektur gapura makam yang berornamen Hindu juga tak luput dari penjelasan Prof A’la. “Hal ini menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan oleh Sunan Ampel merupakan dakwah yang arif dan bijak, serta secara evolutif melalui pendekatan kultural,” terang Prof A’la.

Kiai Khoiron juga menambahkan keterangan legenda-legenda seputar Sunan Ampel dan murid-muridnya. Mengenai Mbah Bolong, murid Sunan Ampel yang menjawab keraguan masyarakat mengenai arah kiblat dengan langsung melobangi dinding mihrab sehingga, konon, kota Makkah bisa terlihat, maupun tentang Mbah Soleh, murid Sunan Ampel yang memiliki sembilan makam.

“Meskipun tampak irasional, tapi biidznillah, kejadian ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah,” terang Kiai Khoiron, kiai yang berdakwah selama puluhan tahun di Lokalisasi Bangunsari Surabaya.

Dalam ziarah tersebut, To’ Pa mengungkapkan kekagumannya pada Sunan Ampel. Bagi To’ Pa, Sunan Ampel adalah teladan. “Perjuangan dakwah beliau dengan jalan damai, dengan pendekatan kultural dan langkah yang arif inilah yang saat ini harus kita lanjutkan,” tuturnya kepada wartawan.

Di akhir perjalanan ziarah tersebut, Prof A’la memberi kenang-kenangan kepada To’ Pa dan Karim Raslan buku berjudul Walisongo karya Agus Sunyoto, sejarawan-sastrawan yang sedang menyusun buku berjudul Atlas Walisongo. ?

Kedatangannya To’ Pa ke Surabaya dalam rangka menjalin hubungan perdagangan antara Indonesia dan Malaysia. Bersama dengan 26 pengusaha Malaysia, pria ramah ini melakukan pertemuan dengan para pengusaha yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghua (Perpit), maupun Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Rijal Mumazziq Z

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kyai, Nahdlatul, Makam IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

Jakarta, IPNU Tegal. Kepala Badan Litbang Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Masud menegaskan bahwa Indonesia berada pada urutan terdepan negara-negara dunia dalam konteks kerukunan. Banyak negara mengakui keberhasilan Indonesia dalam menjaga harmoni dalam kemajemukan.

Menurut Masud, kerukunan Indonesia tidak terlepas dari kekayaan kearifan lokal yang telah diwariskan pendahulu bangsa sejak ratusan tahun lalu. Kekayaan kearifan lokal itu, kata Masud, antara lain berupa tradisi lisan yang sarat akan nilai dan pesan kerukuan, persatuan, dan kesatuan.

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

“Tradisi lisan di daerah yang menjadi bagian dari kearifan lokal mempunyai korelasi dengan kerukunan daerah. Tradisi itu terbukti menjadi perekat kerukunan warga dan karenanya bisa dijadikan bahan kampanye perdamaian nusantara,” demikian penegasan Abdurrahman Masud sebagaimana dilansir di laman kemenag.go.id, Jumat (29/4).

Merujuk pada hasil penelitian Balai Litbang Keagamaan DKI Jakarta yang dilakuan sejak awal tahun ini. Penelitian yang bertajuk “Nilai Keagamaan dan Nilai Kerukunan dalam Tradisi Lisan Nusantara” mengungkap data dan fakta bahwa suku-suku bangsa di Indonesia sangat agamis dan rukun. Masyarakat Indonesia juga memiliki kekhasan dalam ? beragama yang terkait dengan kebudayaannya, dan salah satu wujudnya adalah tradisi lisan. Tradisi lisan itu diwariskan secara turun-temurun menjadikan pesan keagamaan dan kerukunan lebih mudah disampaikan dan diterima.

Anik Farida, selaku ketua tim peneliti mengungkapkan, ada delapan wilayah yang dijadikan sasaran penelitian, yakni: Jakarta, Banten, Bandung, Cirebon, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau. Penelitian dilakukan dengan menggali nilai keagamaan dan kerukunan yang tersirat dalam tradisi lisan pada sejumlah tradisi, yaitu: ? Ritual Akikah di Jakarta, Tradisi Panjang Mulud di Banten, Petatah-Petitih Sunan Gunung Jati di Cirebon, Tradisi Warahan di Lampung, Tradisi Tadud di Sumatera Selatan, Tradisi Teater Rakyat Mendu di Natuna Kepulauan Riau, dan Tradisi Pasambahan di Sumatera Barat. ? ? ?

IPNU Tegal

“Potensi harmoni di negara kita itu jauh lebih kuat dan dahsyat dibanding potensi disharmoni atau ? intoleransi. Makanya tidak aneh jika hasil penelitian kita, termasuk soal KUB, indeks kerukunan 2015, kita mencapai 75,36%. Bahkan yang nomor satu seperti di NTT dan Bali di atas 80%,” tandasnya. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Warta, Sejarah, Nahdlatul IPNU Tegal

IPNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh

Temanggung, IPNU Tegal. Ny Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, mengatakan, toleransi di Kabupaten Temanggung patut untuk dicontoh daerah lainnya. Keragaman yang ada dapat melebur menjadi satu kesatuan sehingga tidak menimbulkan konflik. Kerjasama yang baik antaragama di daerah penghasil tembakau ini juga dapat menjadi kiblat bagi pengelolaan keragaman.

Istri presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) ini menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam “Pengajian Kebangsaan” yang digelar Gusdurian Temanggung di Pendopo Pengayoman Temanggung, Jawa Tengah, Ahad (6/7).

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh

Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Temanggung Bambang Sukarno, Wakil Bupati Irawan Prasetyadi, Ketua DPW PKB Jawa Tengah Yusuf Chudlori, serta seluruh tokoh agama yang ada didaerah Kabupaten Temanggung.

IPNU Tegal

“Kita lihat dari panitia kegiatan ini saja sudah dipimpin orang Katolik, kita melihat keragaman ini harus dicontoh di daerah lainnya. Ini sangat bagus untuk dikembangkan,” papar Shinta.

IPNU Tegal

Ia juga menjelaskan tentang pentingnya puasa bagi pengendalian diri masyarakat, khususnya umat Islam. “Inti dari puasa adalah pengendalian diri untuk menghindari berbuat jahat dan selalu berbuat baik,” terangnya.

Dalam menghadapi pilpres, Shinta berharap pengendalian diri tersebut dapat diterapkan pada masing-masing individu untuk menghindari praktik kampanye hitam dan tindak kampanye yang menyalahi aturan. “Kita harus menjaga suasana kondusif. Dengan berpuasa yang baik kita dapat melakukan itu,” katanya.

Bupati Temanggung Bambang Sukarno mengatakan, pihaknya menyambut baik keragaman yang ada di Kabupaten Temanggung. Menurutnya, Pemkab Temanggung berupaya optimal untuk mengembangkan dan menjaga keragaman yang dimiliki. “Kita bersama Gusdurian telah melakukan hal yang optimal untuk itu,” tandasnya. (Zahrotien/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama, Humor Islam, Nahdlatul IPNU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Zakat Bangkit, Umat Mandiri

Oleh Nur Rohman



Zakat menjadi instrumen terpenting dalam kemandirian umat. Mandiri dalam kesehatan, pendidikan, dan ekonomi merupakan puncak dalam kesuksesan dalam kehidupan masyarakat. Semua itu tidaka akan tercapai kalau semua komponen masyarakat tidak bersatu.

Zakat Bangkit, Umat Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Bangkit, Umat Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Bangkit, Umat Mandiri

Setidaknya ada empat pilar dalam kemandirian umat yang di jelaskan dalam Hadist Nabi Muhammad;

Pertama adalah ilmunya ulama, ilmu merupakan instrumen atau alat vital dalam kemandirian umat. Bahkan Nabi menjelaskan bahwa ilmu itu adalah hal yang paling pokok untuk menggapai kesuksesan baik di dunia maupun sukses di akhirat kelak.

IPNU Tegal

Ingatlah kita pada cerita Nabi Sulaiman ketika beliau disuruh memilih Allah dua perkara yaitu ilmu atau kerajaan dan kemudian beliau memilih ilmu. Dengan memilih ilmu, Nabi Sulaiman mendapatkan segala kenikmatan di dunia baik kerajaan, kekuasaan dan sebagainya. Betapa akal yang di dalam ada ilmulah yang membuat manusia menjadi mulia dibanding dengan mahluk yang lain. Bahkan Allah membedakan serta memuliakan seseorang karena ilmu yang tentunya disertai dengan ahlak yang mulia.

Kedua, adalah adilnya umara atau goverment. Pemerintah yang adil akan memberikan manfaat yang? besar pada masyarakat. Selain taat kepada Allah yang didasari dengan ilmunya ulama kemakmuran itu harus didasari dengan ketaatan kepada ulil amri yang? tentu mereka yang? bersifat adil. Adil menjadi kata kunci karena adil menjadi berkah dan maslahat.

IPNU Tegal

Salah satu tugas utama umara adalah menciptakan kemaslahatan bagi masyarakatnya. Bukan pemerintah yang zalim yang? tentunya akan menbuat mudarat masyarakat. Gambaran umara yang adil itu dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika memimpin negara Madinah. Dengan kemajemukan masyarakat di zaman itu, Nabi Muhammad tetap bersikap adil kepada semua masyarakat tak terkecuali dengan orang yahudi maupun Nasrani. Gambaran Piagam Madinah itu menunjukkan betapa Nabi Muhammad itu adalah umara yang? adil.

Ketiga, adalah kedermawanan agniya (pemilik harta). Allah SWT mengajarkan kedermawanan itu tidak kenal waktu dan keadaan. Bahkan anjuran Allah di dalam Al-Qur’an di saat lapang dan sempit kita didorong untuk infaq yang diniatkan mengabdi karena Allah. Saat sempit tidak boleh dijadikan alasan bagi seorang hamba untuk menjadi dermawan apalagi saat lapang.

Janji Allah untuk memberikan balasan kepada hambanya yang mau bersedekah itu janji yang nyata bukan janji palsu. Allah akan berkahkan harta dan jiwa siapa saja yang? mau mendermakan harta dijalan Allah. Yang? berinfaq seribu Allah akan ganti dengan sepuluh ribu.

Silakan buktikan dengan keyakinan bahwa janji Allah itu benar. Bahkan Allah memberikan gambaran bagi orang yang mau bersedekah karena ikhlas hanya karena pengabdian maka diibaratkan menanam satu biji yang? akan tumbuh menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkai akan mempunyai seratus dahan dan bahkan janji Allah bagi yang dikehendaki balasannya akan berlipat ganda tidak bisa diukur dengan hitungan. Tentunya Konsekuensi bagi hamba Allah yang? bakhil juga jelas neraka yang? dahsyat siksanya.

Empat, adalah doanya hamba Allah yang fakir. Kaya dan miskin itu sunnatullah dalam kehidupan di dunia. Gambaran kaya dan miskin ini untuk dijadikan peringatan dalam dunia bagi yang? mau berpikir. Kaum papa menjadi penyeimbang dalam kehidupan di dunia seperti layaknya gunung sebagai penyeimbang bumi. Tujuan hidup itu bukan untuk kaya tapi kaya harus sebagai perantara seorang hamba untuk mencapai kesuksesan yang? sejati kelak hidup di akhirat. Manusia itu dicipatakan Allah hanya sebagai khalifah di bumi yang? tujuannya disuruh menghamba kepada Allah.

Penulis adalah Pembina Majelis Rajeg dan pengurus PP NU Care-Lazisnu Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul IPNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

LBH Ansor DIY Buka Posbakum

Yogyakarta, IPNU Tegal. Lembaga Bantuan Hukum LBH Ansor bekerjasama dengan Pengadilan Negeri Sleman dan Pengadilan Agama Sleman menyelenggarakan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di Pengadilan Negeri Sleman dan Pengadilan Agama Sleman bagi masyarakat miskin.

LBH Ansor DIY Buka Posbakum (Sumber Gambar : Nu Online)
LBH Ansor DIY Buka Posbakum (Sumber Gambar : Nu Online)

LBH Ansor DIY Buka Posbakum

Menurut Direktur LBH Ansor, Agus Suprianto, Posbakum merupakan program pemberian bantuan hukum cuma-cuma yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin yang sedang berhadapan dengan hukum melalui Organisasi Bantuan Hukum yang terakreditasi sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 16 tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2013.

LBH Ansor sendiri merupakan salah satu organisasi bantuan hukum yang mendapatkan akreditasi “A” di Indonesia oleh Kementerian Hukum dan HAM RI dan merupakan satu-satunya organisasi bantuan hukum yang terakreditasi “A” di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

IPNU Tegal

Menurut Kadiv Humas LBH Ansor Yogyakarta Muh. Jamal, warga yang ingin mendapatkan pelayanan Posbakum cukup mengajukan permohonan di Posakum PN Sleman/PA Sleman, dengan menyerahkan dokumen yang berkenaan dengan perkara hukum yang dihadapi dan mMelampirkan Surat Keterangan Miskin dari Lurah/Desa/Pejabat yang berwenang di tempat tinggal pemohon atau surat sejenis lainnya (Kartu Jamkesmas, Raskin, PKH, KPS, BLSM, dll).

Adapun jenis pelayanan yang disediakan antara lain konsultasi, pembuatan dokumen hukum (permohonan/gugatan, dll), pendampingan hukum baik di Pengadilan maupun di luar pengadilan. Waktu dan tempat pelayanan Senin-Kamis pukul 09.00-12.00 WIB di Pengadilan Negeri Sleman Jl. Merapi No.1, Beran.

IPNU Tegal

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Nusantara, Ahlussunnah IPNU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Dari Pengembangan Islam Nusantara, Pemberdayaan Syuriyah sampai Ekonomi Syariah

Keputusan sembilan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk memilih KH Ma’ruf Amin sebagai rais aam PBNU periode 2015-2020 mencerminkan pengakuan para kiai sepuh terhadapnya. Ia memiliki berbagai kapasitas yang diperlukan untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Pandangan-pandangannya secara jelas dapat dilihat oleh publik dalam berbagai isu agama nasional. Kiprahnya bisa dilihat dalam pengembangan ekonomi syariah. Tak kalah penting, ia juga memahami politik nasional yang sangat krusial mengingat besarnya pengaruh yang dimiliki NU. Ia dikenal sebagai kiai yang sangat disiplin soal waktu dengan pergaulannya yang sangat luas. Kemampuannya dalam mengelola organisasi diharapkan akan mampu ‘menggerakkan’ jajaran syuriyah PBNU. 

Lalu, seperti apa visi dan misinya sebagai rais aam PBNU untuk periode lima tahun mendatang, upaya pengembangan Islam Nusantara, pemberdayaan syuriyah, pengembangan ekonomi syariah sampai dengan perannya di Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut wawancara Mukafi Niam  dengannya sesaat sebelum pengumuman jajaran kepengurusan PBNU, Sabtu (22/8).

Dari Pengembangan Islam Nusantara, Pemberdayaan Syuriyah sampai Ekonomi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Pengembangan Islam Nusantara, Pemberdayaan Syuriyah sampai Ekonomi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Pengembangan Islam Nusantara, Pemberdayaan Syuriyah sampai Ekonomi Syariah

Apa visi dan misi Kiai sebagai rais aam PBNU untuk lima tahun ke depan?. Pertama tentu, saya akan mendorong konsolidasi organisasi, melakukan revitalisasi di tingkat Pusat, Wilayah, Cabang, MWC sampai di Ranting. Semua tugas dan program tidak mungkin jalan tanpa konsolidasi organisasi yang solid. Itu mutlak. Karena itu, kita akan melakukan pemantauan-pemantauan, di mana bagian pusat yang harus dibenahi, didorong, kemudian wilayah mana yang tampak belum hidup. Dan kita harus bisa memantau secara tepat kondisi kepengurusan di semua tingkatan. 

IPNU Tegal

Selanjutnya apa Kiai?.

IPNU Tegal

Yang kedua, tentu program yang diprioritaskan di muktamar. Pasti kita akan melakukan sosialisasi, edukasi yang kita sudah kita sampaikan seperti Islam Nusantara. Islam Nusantara bagi saya bukan sesuatu yang baru, ini merupakan Islam Aswaja Annahdliyah. Kenapa Aswaja. Kerena ada ada paham lain seperti Syiah, ada Muktazilah, ada Jabariyah. Kemudian kenapa mesti Annahdliyah, karena ada yang mengaku Aswaja, tetapi tidak sama dengan paham Aswaja NU, seperti Wahabiyah. Kita mendasarkan akidahnya pada Asy’ari dan Maturidi, tetapi mereka menganggap Asy’ari menyimpang. Karena itu kita tegaskan bahwa Annahdliyah menjadi ciri khusus. Atau juga sekarang ini model ISIS. Mereka mengaku aswaja, tetapi melakukan tindakan yang radikal, teror dan itu tidak sesuai dengan watak Islam Nusantara. Maka Aswaja Annadliyah perlu kita pertahankan. Ini perlu sosialisasi dan edukasi di lingkungan warga NU dan di luar warga NU. 

Bagaimana dengan pengembangan Islam Nusantara?. Saya ingin perilaku Islam Nusantara ini menjadi perilakunya Islam di Indonesia, bahkan kalau perlu kita ingin ini menjadi perilaku bukan hanya di Indonesia, tetapi perilaku di dunia. Perilaku pergaulan dalam kehidupan global. Kita melihat Islam di Timur Tengah diliputi kekerasan. Banyak konflik dimana-mana karena itu kita menginginkan Islam Nusantara menjadi bagian dari Islam yang damai, tidak memaksa, tidak mengintimidasi, menjaga hubungan yang harmonis.

Apa point-point penting yang harus diperhatikan?. Islam menurut saya ada tiga faktor yang perlu diperhatikan. Pertama cara berpikirnya atau fikrah-nya. Saya sering mengemukakan, fikrah nahdliyah sebagai tawassutiyah, tatawwuriyah, wa manhajiyah. Artinya tawassutiyah moderat, tidak tekstual, tidak statis pada teks, beda dengan salafi. Mereka sangat tekstualis sehingga tidak memberi ruang pada yang tidak ada nash-nya. Cara berpikir ini penting karena di NU, atau kita sebut Islam Nusantara ini, kita memberi ruang sepanjang tidak bertentangan dengan nash. Kita menerima kebiasaan, tradisi, dan budaya selama ada maslahah, ya disitu sudah sesuai syariah, sepanjang tidak bertentangan dengan nash. Ini adalah al ihtisan, sesuatu yang kita anggap baik sepanjang tidak bertentangan. dalilnya “Jika orang Islam mengatakan itu baik, bagi Allah juga baik.” Kita mengakomodasi sepanjang tidak bertentangan dengan nash. Ada kaidah yang menyebut “sesuatu yang ditetapkan berlaku dalam kebiasaan, seperti sudah tercakup dalam nash.” Ini cara berpikir yang akomodatif, tetapi tidak liberal.

Bagaimana dengan kelompok Liberal?. Yang liberal cara berpikirnya terbalik dari kelompok tekstualis, tapi mereka berlebihan. Karena itu kita selain tawassutiyah, tetapi juga dinamis. Kita tidak boleh statis. Kita pernah terjabak pada teks kitab, maka di Lampung, kita buka insinbat mahaji. Berpikir secara manhaji atau metodologis, kemudian mendinamisir, tetapi sebaliknya ketika dinamisasi ini kebablasan, tidak memperhatikan metode-metode yang sudah diajarkan para ulama, maka pada tahun 2005 kita melakukan pengembalian, penjernihan kembali. Kalau di Lampung kita namakan tatwir, saat pengembalian kita namakan taswiyah. Ini dibersihkan dari unsur luar yang bisa merusak cara berpikir NU. Disini kita kembalikan pada manhaj-nya.

Tadi terkait dengan pemikiran, bagaimana dengan gerakan NU? . Ciri gerakan kita. Pertama kita islahiyah, ini artinya perbaikan. Sebab NU ini gerakan islahi. Ketika paradigma yang kita pakai ala qadimishaalih, menjaga yang lama yang baik-baik. Yang kedua, al akhdu bil jadidil aslah. Mengambil yang baru yang lebih baik. Ini kurang mendukung yang kita sebut al islah. Kalau hanya ‘mengambil’ kan bermakna pasif. ada produk orang yang lebih baik kemudian diambil, tetapi kita harus melakukan perbaikan. Saya menyebutnya al islah ila ma hua aslah summal aslah fal aslah. Memperbaiki keadaan untuk menjadi lebih baik, lebih baik lagi, lebih baik lagi secara sustainable. Ini adalah upaya menjadikan sesuatu inovatif, kreatif, dan aktif. Kalau cuma mengambil kan pasif. Karena itu, kita tidak cukup dengan mengambil. 

Memang NU itu kan jamiyyah islah, paradigmanya perlu dilengkapi, mendahulukan yang aslah, yang lebih baik daripada yang baik. Kenapa, karena ada ungkapan dari ahli ushul fikh, namanya Izzudin Ibnusalam “tidak mendahulukan yang baik daripada yang lebih baik, kecuali orang itu tidak mengerti, terhadap kelebihan yang lebih baik.” Kita harus melakukan itu. Namanya fikih aulawi, namanya auwaliyah. Ini mesti dibangun oleh kita. Ini kalau tidak menimbulkan kegoncangan. Kalau menimbulkan disharmoni, ya ditunda.

Kedua, tawazuniyah atau seimbang, ya masalah agama dan masalah keduniaan. Ketiga, ciri kita adalah mengajaknya dengan cara kesukarelaan. Tidak ada pemaksaan tapi juga tidak masa bodoh. Kemudian tasamuhiyah, toleran. Kita juga santun dalam menyampaikan dan mengajak. Itu gerakan yang saya sebut gerakan Islam Nusantara.

Selanjutnya adalah amaliyahnya, tradisi kita seperti shalawat dan istighotsah harus dihidupkan karena ini salah satu ciri Islam Nusantara. Ini perlu melakukan agar organisasi solid. 

Bagaimana mengenai pemberdayaan ekonomi?. Kita mengembangkan ekonomi kemasyarakat, ekonomi keumatan. Ini yang harus dibangun. Ada dua pendekatan, melakui ekonomi komersial dengan menumbuhkan dan menyemai pengusaha melalui upaya yang sungguh-sungguh, menghadirkan lembaga keuangan untuk mendukung, juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, tetapi juga ada sektor voluntary seperti dana sosial, wakaf, zakat, infak, dan sedekah. Jumlah warga NU yang besar ini menjadi potensi yang belum tergali. Ini bisa untuk membangun ekonomi masyarakat kita. Tentu yang tidak kita lupakan adalah akhlak bangsa. Dan ini memerlukan upaya sistematis, gerakan dakwah yang menurut saya high impact, jangan yang low impact atau bahkan yang no impact. Bagaimana, ini yang harus menjadi perhatian kita. 

Bagaimana dengan upaya penguatan syuriyah NU?. Salah satu faktor yang harus dibangun adalah penguatan kepemimpinan ulama di NU. Nah, penguatan kepemimpinan ulama ini identik dengan penguatan lembaga ulama di NU. Bagaimana syuriyah bisa efektif melakukan pengawasan, mendorong, kalau perlu melakukan pelurusan-pelurusan. Kalau kendor di dorong tanfidznya. Kalau terlalu kenceng dikendalikan biar tidak nabrak-nabrak, kan begitu. Jadi syuriyahnya harus aktif. Karena itu saya ingin mengefektifkan kekatiban. Karena rais syuriyah kan banyak yang jauh dari Jakarta. Syuriyah harus hadir. Kalau tidak hadir ya tidak berperan. 

Kiai tinggal di Jakarta, jadi lebih mudah beraktifitas di kantor PBNU?. Ya, akan saya usahakan karena kan ada harmoni antara syuriyah dan tanfidziyah, saling mengisi, saling memberi dan saling mendukung serta saling mengingatkan.

Kiai aktif di PBNU dan MUI, ke depan akan seperti apa?. Kalau saya masih di MUI, tentu saya pertama harus membagi. Kedua, berbeda antara fungsi MUI dan NU. MUI itu kan tidak punya umat. Umatnya ada di NU, di sana hanya bersifat kebijakan, pemikiran, tetapi operasionalisasi dalam rangka pemberdayaan umat, perbaikan akhlak, kemudian pemahaman Islam Nusantara, itu yang punya rakyat kan NU. Karena itu, cara kita kerja berbeda polanya. Disana pola besaran saja, konsep, dan pemikiran. Disini, di PBNU selain ada pemikiran, ada operasionalisasi. Langsung pada pembinaan umat.

Kadang ada beda sikap antara MUI dan NU?. Seharusnya sama, sayang ada perbedaan informasi. Di MUI sebenarnya juga anak NU. Ada paradigma yang dipakai terhadap suatu masalah. Kalau di MUI sudah saya gariskan. Kalau menyangkut makanan, kita mengambilnya al akhdu bil akhlab, wal khuruj minal khilab, mengambil pendapat yang paling hati-hati dan supaya keluar dari khilaf. Mengambil yang paling unggul. Tapi kalau dalam muamalah, ekonomi syariah, mengambilnya yang paling maslahah dan pendapat yang bisa mengakomodir, walaupun tidak unggul. Kenapa, karena dalam muamalah asalnya adalah boleh sepanjang tidak ada larangan. Karena itu yang lebih longgar. 

Dalam masalah label halal, nanti NU punya lembaga pemeriksa. UU-nya memang begitu, fatwa ada di MUI, obyek yang diperiksa dibagi oleh LP POM, mana yang dikasih ke NU, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) NU, mana yang akan diambil yang lain sehingga tidak terjadi rebutan. Ini harus dihindari, harus proporsional. Jadi sebenarnya tidak harus terjadi perbedaan, wong fikihnya sama, kitabnya sama, kaidahnya sama.

Kiai sangat aktif dalam pengembangan ekonomi syariah. Apakah hal ini juga akan dikembangkan di lingkungan NU?. Ini sudah menjadi sistem nasional, artinya sudah memperoleh tempat secara nasional. Bahkan insyaallah akan dibentuk Komite Nasional Keuangan Syariah. Ketuanya kalau tidak salah presiden atau wakil presiden. Anggotanya para menteri. NU harus memanfaatkan peluang ini. Kita yang punya potensi, jangan sampai diambil orang, dan NU yang paling punya referensi. Yang punya kitab kan NU, jangan sampai orang lain yang memakai. Kita hanya terlambat saja masuk sektor ini, tetapi potensinya ada di NU. Kita akan gerakkan ekonomi syariah di lingkungan pesantren. Saya kira ekonomi syariah itu nantinya yang memegang kendalinya orang NU. Itu keyakinan saya. 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Santri, Nahdlatul IPNU Tegal

Al-Syami Ungkap 10 Fakta Suriah yang Ditutup-tutupi Media Takfiri

Jakarta, IPNU Tegal. Ikatan Alumni Suriah (Syam) Indonesia (Al-Syami) mengungkap 10 fakta tentang Suriah yang selalu ditutup-tutupi oleh media-media takfiri di tanah air. Sekretaris Al-Syami Muhammad Najih Arromadloni menjelaskan bahwa pihaknya mempunyai tanggung jawab untuk meluruskan kebohongan-kebohongan publik dan data-data manipulatif yang diakibatkan oleh fabrikasi media-media tersebut.

“Seperti pada Rabu, 11 Mei 2016 kemarin, Al-Syami juga menjelaskan fakta-fakta tersebut dalam diskusi publik di Fakultas Hukum UGM,” jelas Najih kepada IPNU Tegal, Sabtu (14/5).

Al-Syami Ungkap 10 Fakta Suriah yang Ditutup-tutupi Media Takfiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Syami Ungkap 10 Fakta Suriah yang Ditutup-tutupi Media Takfiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Syami Ungkap 10 Fakta Suriah yang Ditutup-tutupi Media Takfiri

Berikut 10 fakta tentang Suriah yang berhasil diungkap oleh Al-Syami, yang merujuk pada salah satu tulisan di Kompasiana:

1. Pemerintah Suriah tidak pernah membantai Sunni. Hasil pemilu presiden Suriah yang diawasi lembaga-lembaga independen Juni 2014 kemarin, Assad terpilih kembali dengan perolehan 88.7 persen suara rakyat. Sedangkan kaum Sunni itu mayoritas (74 persen) di Suriah. Itu artinya mayoritas mutlak rakyat Suriah yang Sunni dan apapun latarnya masih mencintai Assad. Itu yang selalu ditutupi media-media Takfiri. Jika Assad adalah pembantai Sunni, mungkinkah mayoritas rakyatnya yang Sunni tersebut memilih dia?

2. Satu lagi propaganda murahan yang menyebut Rezim Suriah adalah Rezim Syiah. Faktanya, Mayoritas kabinet pemerintahan di Suriah diisi oleh orang-orang Sunni. Jabatan-jabatan penting seperti Wakil Presiden, Wakil Presiden 1, Perdana Menteri, Deputi Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, Menteri Informasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dll diisi orang-orang Sunni. Grand Mufti resmi Suriah Syekh Ahmad Badruddin Hassun pun seorang ulama besar Sunni. Bahkan istri Bashar yaitu Asma al Assad adalah seorang Muslimah Sunni dari Homs. Ini semua adalah fakta-fakta yang selalu ditutupi media-media radikal tanah air.

IPNU Tegal

3. Dan (lagi) fakta yang selalu ditutupi mereka, para pemberontak di Suriah mayoritas bukanlah rakyat Suriah, tapi para militan takfiri asing yang datang dari 83 negara (termasuk Indonesia), korban cuci otak sektarian yang rame-rame menginvasi Suriah dengan kedok "jihad". Bahkan situs SOHR (Syrian Observatory for Human Rights) yang berafiliasi dengan oposisi pun mengakui > 70 persen militan yang memberontak di Suriah adalah para militan asing/jihadis impor (bukan rakyat Suriah).

4. Fitnah-fitnah Assad membantai Sunni baru ditebar 5 tahun terakhir, tepatnya sejak invasi puluhan ribu militan takfiri asing ke Suriah. Faktanya, sebelum itu tidak pernah terdengar isu-isu tersebut. Bashar al Assad sudah berkuasa sejak tahun 2000 dan sampai hari ini Sunni masih mayoritas di Suriah (74 persen). Kalau benar Assad membantai dan menggenosida kaum Sunni Suriah, seharusnya sudah habis semua Sunni di Suriah, wong dia sudah berkuasa 16 tahun. Kenyataannya sampai hari ini Sunni masih mayoritas di Suriah. Apa masih percaya dengan isu murahan tersebut?

5. Pada 2009, Qatar mengajukan proposal agar Assad melegalkan jalur pipa gas alamnya melintasi Suriah dan Turki untuk menuju Eropa. Bashar al Assad menolak proposal ini dan pada 2011 ia justru menjalin kerjasama dengan Iraq dan Iran untuk membangun jalur pipa ke Timur. Qatar, Saudi dan Turki adalah pihak yang paling sakit hati dan dirugikan oleh keputusan ini. Khayalan mereka untuk mendapat pemasukan Milyaran dollar dari ekspor Migas buyar seketika. Apa kalian terkejut jika hari ini Saudi, Qatar dan Turki menjadi negara-negara yang paling getol mensponsori dan mempersenjatai para teroris yang hendak menggulingkan Assad?

IPNU Tegal

Kenapa USA dan NATO juga sangat berambisi menggulingkan Assad? Karena mereka dan ketiga negara tersebut adalah sekutu dan mitra bisnis utama. Keputusan Assad akan menguatkan posisi Iran secara ekonomi maupun politis dalam pasar tambang Migas di Timur Tengah dan mengecilkan pengaruh USA dan sekutunya. Apa USA rela?

6. Sejak perang Arab-Israel pada 1948 hingga perang edisi ketiga pada 1967, Suriah tidak pernah absen dalam mengirim pasukan militernya melawan Zionis. Suriah bersama Mesir, Iraq dan Jordan saat itu (1967) mengirim 547.000 pasukan melawan Zionis di Sinai dan Golan. Bahkan ketika negara-negara Arab tersebut sudah berdamai dengan Israel, Suriah adalah satu-satunya Rezim Arab yang hingga hari ini tidak bersedia menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Hingga perang Suriah dan Israel terus berlanjut pada Yom Kippur 1973 atas pendudukan Israel di Golan. Hingga hari ini PBB harus menurunkan pasukan perdamaiannya di Golan dan menetapkan sebagian wilayah tersebut sebagai zona netral.

7. Suriah hingga hari ini adalah penampung terbesar pengungsi Palestina di Timur Tengah. Jutaan pengungsi Palestina telah diterima dengan tangan terbuka oleh Pemerintah Suriah sejak 1948 di kamp-kamp pengungsi Yarmouk, Neirab, Handarat, Aleppo dll. Mereka diberi fasilitas Sekolah, Rumah Sakit dll layaknya warga sendiri. Bahkan Assad pun dijuluki sebagai Bapak Pengungsi Palestina. Mereka beranak pinak di Suriah hingga hari ini. Dan tidak mengejutkan jika para pejuang Palestina dari PFLP-GC di Yarmouk (cabang PFLP yang bermarkas di Gaza) dan Brigade al-Quds (sayap militer Jihad Islam Palestina di Gaza) sejak awal konflik mengabdi pada Suriah dan bergabung dengan Tentara Arab Suriah melawan para teroris.

8. Sebuah strategi militer baru telah dimulai di Suriah. Hal ini merubah Suriah selama 15 tahun terakhir kepada sebuah kekuatan militer yang nyata yang lagi-lagi akan mengancam Israel, khususnya pada tingkat pengembangan roket dan persenjataan militer yang lain. Israel melihat ini sebagai ancaman besar. Roket-roket Khaibar M-302 buatan Suriah telah membantu Hizbullah dalam perang 2006 melawan Israel di Lebanon Selatan untuk menghujani Haifa dan kota-kota lain di Israel. Bahkan roket-roket yang sama juga telah digunakan para pejuang Muqawwamah Palestina seperti Hamas, Jihad Islam dan PFLP di Gaza yang membuat pertama kalinya dalam sejarah 1,5 juta Zionis masuk ke dalam bunker perlindungan bom. Suriah bukan hanya gerbang atau jembatan transportasi dan komunikasi antara pejuang Muqawwamah dan Iran, tapi Suriah adalah adalah pendukung nyata pejuang-pejuang resistensi di Lebanon dan Palestina. Suriah adalah bagian vital dalam perjuangan melawan Zionis.

9. Setelah Hamas diusir dari Jordania pada 1999, di saat negara-negara arab mengucilkan dan mengabaikan Hamas. Suriah membuka tangannya dan menyediakan ibukota negaranya untuk menjadi markas Hamas. Bashar al Assad membangunkan kantor pusat Hamas di Damaskus pada 2001, melalui markas ini Suriah rutin berkoordinasi menjalin cara menyuplai persenjataan kepada kelompok-kelompok Muqawwamah di Gaza, tidak hanya Hamas. Sebutkan jika Saudi, Turki, dan Qatar pernah menyuplai senjata atau sebutir saja peluru untuk pejuang Palestina?

10. Mundur ke belakang bicara Libya. Di Libya bahkan tidak ada yang namanya Syiah, tapi nyatanya terjadi perang selama 4 tahun di sana. Para pemberontak takfiri bekerja sama dengan NATO dan USA akhirnya berhasil membunuh pemimpin Sunni Muammar Qaddafi secara keji. Masih ingat saat itu media-media radikal di Indonesia menggelari Qaddafi sebagai Toghut, Firaun, dan julukan-julukan keji lain dalam rangka perjuangan mereka demi menegakkan Khilafah. Khilafah apa yang sudah tegak? Belajarlah dari pola permainan ini.

Namun demikian, Al-Syami juga memberikan catatan soal tindakan kekerasan Assad terhadap para penentangnya. Al-Syami mengutuk segala bentuk tindakan rezim Assad yang mencederai nilai kemanusiaan, termasuk langkah Assad yang memperlakukan demonstran secara represif dan tanpa pandang bulu.

(Baca: Al-Syami Kecam Tindakan Repressif Assad)

Krisis politik dan perang saudara yang terjadi di Suriah menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Konflik yang menelan ratusan ribu korban ini banyak dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mempertajam sentimen sekte dalam Islam, terutama Sunni dan Syiah. Al-Syami dalam hal ini mengimbau Muslim secara luas untuk menilai tragedi berdarah tersebut secara objektif.Al-Syami mengaku mendukung proses penyelesaian konflik tersebut menuju kondisi yang lebih aman dan damai bagi rakyat Suriah, tanpa pernah membela salah satu pihak, baik rezim Assad maupun oposisi.

Terkait dengan penyelenggaraan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang digelar NU pada 9-11 Mei 2016 lalu di Jakarta, Al-Syami yang masih diketuai oleh Ahmad Fathir Hambali ini menaruh harapan besar terkait forum internasional itu.

“Melalui Isomil, kami berharap ada penyamaan persepsi antara para pemimpin ulama moderat di seluruh dunia yang selalu mengedepankan sikap tawazun di tengah krisis tabayun yang menimpa masyarakat dunia Islam saat ini,” ujar Najih menandaskan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul IPNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU

Sidoarjo, IPNU Tegal. Halaqoh Ahlusunnah wal Jamaah yang digelar di aula PCNU Sidoarjo, Ahad (19/4), diharapkan mampu melakukan perubahan yang lebih bagus dengan membangun pola pikir masyarakat yang cerdas serta memiliki kemampuan dan rasa percaya diri yang tangguh dalam mengahadapi era global.

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyatakan, pemikiran ulama NU sudah saatnya go internasional. Pasalnya, ulama Timur Tengah masih dalam tahap tafaqquh fiddzin atau mendalami ilmu agama. Mereka belum bisa yunziru qaumahum atau melakukan pembinaan terhadap umat.

"Dalam hal keilmuan memang ulama NU banyak belajar dari Timur Tengah. Beberapa karya besar ulama Timur Tengah dipelajari di pesantren-pesantren. Namun, terkait memberikan bimbingan kepada umat, ulama Timur Tengah perlu belajar ke Indonesia yaitu kepada NU. Sehingga, sudah saatnya pemikiran ulama NU go internasional tanpa meninggalkan aqidah dari Ahlussunnah wal Jamaah," tegas kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

IPNU Tegal

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Mutawakil Alallah yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa Muktamar NU yang akan diadakan di Jombang mendatang itu dalam rangka Harlah ke-89 NU dan akan ditempatkan di 4 pondok pesantren yang memiliki nilai history terhadap awal berdirinya NU, diantaranya, Tebuireng, Tambak beras, Denanyar dan Darul Ulum yang semua berlokasi di Jombang.

Acara Halaqoh Ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang diadakan di aula PC NU Sidoarjo dalam rangka memperingahti Harlah NU ke-89 itu juga dihadiri Ketua PC NU Sidoarjo KH Abdi Manaf, KH Agoes Ali Mashuri Pemangku Ponpes Bumi Sholawat, Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dan para ulama se-Sidoarjo. (Moh Kholidun/Mahbib)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Lomba, Pahlawan IPNU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

LDNU Siapkan Da’i dan Khotib Jumat Khusus Perkantoran

Jakarta, IPNU Tegal. Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) masa khidmat 2015-2020 terus mengembangkan potensi para da’i di lingkungan Nahdlatul Ulama. Pada pertemuan perdana setelah dilantik, pengurus baru LDNU menambahkan fokus garapan pelatihan bagi calon khotib di perkantoran.

“Pengurus masjid di sejumlah kantor dan badan-badan negara sudah menghubungi kita untuk mengadakan khotib dari NU,” kata Ketua baru PP LDNU KH Manarul Hidayat di hadapan pengurus LDNU lainnya di Jakarta, Rabu (17/9) malam.

LDNU Siapkan Da’i dan Khotib Jumat Khusus Perkantoran (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Siapkan Da’i dan Khotib Jumat Khusus Perkantoran (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Siapkan Da’i dan Khotib Jumat Khusus Perkantoran

Menurut Kiai Manarul, program pelatihan dakwah yang sudah berjalan pada kepengurusan LDNU sebelumnya tetap diteruskan. Hanya saja kebutuhan untuk menyiapkan khotib dan para da’i di perkantoran, patut dijawab.

IPNU Tegal

“Ini tantangan kita sekarang. Jangan sampai para da’i dan khotib NU hanya bergerak dari satu ke lain kampung. Kita perlu mempersiapkan kompetensi, pembawaan, dan pilihan materi sesuai selera orang-orang kantor,” terang Kiai Manarul.

Kiai Manarul mengatakan bahwa masjid perkantoran selama ini luput dari garapan dakwah NU.

IPNU Tegal

Gagasan ini akan dimatangkan pada rapat perdana pengurus PP LDNU di Jakarta pada Selasa, 22 September 2015. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Jadwal Kajian, Kajian Islam, Nahdlatul IPNU Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan bukan semata sebagai rahmat dan terbukanya pintu ampunan. Bulan suci ini juga menjadi saksi sejarah tentang duka mendalam keluarga besar Pesantren Tebuireng, warga NU, serta bangsa Indonesia secara umum.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang kemudian disebut Mbah Hasyim wafat pada hari ketujuh di bulan Ramadhan. Tepatnya tahun 1366 H. Ya, tidak terasa 69 tahun sudah peristiwa kewafatan sang kiai yang demikian dihormati ini.

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan

Berbeda dengan meninggalnya sang cucu, yakni KH Abdurrahman Wahid yang demikian meriah diperingati, suasana Ramadhan membuat haul Mbah Hasyim serasa sepi tanpa acara yang spesial. Hal ini mungkin juga buah dari pandangan beliau yang menolak hari wafatnya diperingati secara khusus agar tidak ada kultus individu.

IPNU Tegal

Seperti diketahui, Mbah Hasyim terlahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H yang juga bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di Pesantren Gedang, Tambakrejo Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

IPNU Tegal

Dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berputera Karebet atau Jaka Tingkir, raja Pajang pertama (1568) dengan gelar Sultan Pajang atau pangeran Adiwijaya.

Dalam buku Profil Pesantren Tebuireng disampaikan bahwa pada 3 Ramadhan 1366 H yang bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M, jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Seperti biasa Hadratussyaikh baru saja selesai mengimami shalat tarawih. Beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tidak lama kemudian, datang seorang tamu utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kiai Hasyim menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.

Sang utusan menyampaikan surat dari Jendral Sudirman yang berisi tiga pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan dua tokoh penting tersebut Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan selanjutnya memberikan jawaban. Isi pesan tersebut adalah, pertama bahwa di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro, dan Madiun.

Kedua, Hadratussyaikh dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh. Pesan ketiga adalah jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kiai Hasyim.

Keesokan harinya, Kiai Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB datang lagi utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada hadratus syaikh. Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Kiai Hasyim mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadratus Syaikh kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.

Tidak lama berselang, hadratus syaikh mendapat laporan dari Kiai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Kondisi para pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berujar: “Masya Allah, masya Allah…..” sambil memegang kepalanya. Lalu Kiai Hasyim tidak sadarkan diri.

Kala itu putra-putri beliau sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Kiai Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius.

Pada pukul 03.00, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366, hadratus syaikh KH M Hasyim Asy’ari dipanggil Sang Maha Kuasa. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Atas jasa-jasa beliau selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan tiga fatwanya yang sangat penting: Pertama, perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia. Kedua, kaum muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda. Ketiga, kaum muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah, maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.

Kepergian Kiai Hasyim menjadi duka mendalam di awal bulan Ramadhan. Tidak hanya bagi keluarga besar Pesantren Tebuireng, tapi juga warga Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat sekitar bahkan bangsa Indonesia.

Karena itu, sudah pada tempatnya bila malam ini kita menghadiahkan tahlil dan kalimat thayyibah kepada hadratus syaikh. Semoga amal baiknya diterima oleh-Nya dan besar harapan agar kita diberikan kekuatan meneruskan jariyah yakni eksistensi pesantren dan khidmat NU agar sesuai dengan cita awal pendirian.

Hiruk pikuk tahapan Pemilu, termasuk Pilpres semoga tidak melunturkan komitmen nahdliyin dalam mengabdi dan menyelamatkan khittah sesuai itikad awal pendirian jam’iyah diniyah ijtima’iyah ini. Bukan malah bisa diombang-ambing sejumlah kalangan atau orang perorang demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Mampukah? Kita lihat saja kondisinya saat ini dan nanti. (Syaifullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Kajian IPNU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Filosofi Kemandirian Santri Penting Bagi Perkembangan Ekonomi

Pringsewu, IPNU Tegal. Mustasyar PCNU Pringsewu yang juga Bupati Pringsewu KH Sujadi mengatakan bahwa kunci kesuksesan dalam bidang ekonomi adalah kemandirian. Hal tersebut dikatakannya saat membuka secara resmi Kegiatan Seminar Kewirausahaan dan Kemandirian Santri dalam Rangka Hari Santri Nasional 2017 Kabupaten Pringsewu di Gedung NU, Sabtu (21/10).

Bupati yang merupakan Alumni Pondok Pesantren Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah ini menambahkan bahwa  jiwa  kemandirian ini sudah ditanamkan di pondok pesantren kepada santri sejak dini. Sehingga menurutnya sebagai seorang santri, sudah seharusnya  memiliki ide dan gagasan bagaimana berkiprah dalam bidang ekonomi.

Filosofi Kemandirian Santri Penting Bagi Perkembangan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Filosofi Kemandirian Santri Penting Bagi Perkembangan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Filosofi Kemandirian Santri Penting Bagi Perkembangan Ekonomi

"Yang tidak berbicara ekonomi hanya di surga. Siapapun akan berbicara tentang ekonomi," kata Abah Sujadi, sapaannya, di depan para peserta seminar yang terdiri dari santri dan Alumni Pondok Pesantren se Kabupaten Pringsewu.

Seminar yang bertemakan "Santri Mandiri, NKRI Hebat" tersebut menghadirkan dua orang nara sumber yaitu Sekjen Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Muhammad Nur Hayid dan Rektor Universitas Malahayati Lampung Muhammad Kadafi.

IPNU Tegal

Dalam pemaparannya, Sekjen HIPSI yang akrab dipanggil Gus Hayid menjelaskan dalam mengawali bisnis dibidang ekonomi diperlukan beberapa aspek yang dapat menghantarkan seseorang kepada kesuksesan.

"Berbisnis tidak hanya belajar tapi membutuhkan mental. Berbisnis juga tidak hanya mencari uang tapi membutuhkan akses. Dalam berbisnis harus tetap belajar. Jangan berhenti untuk belajar tidak  tidak cukup hanya teori saja," tegasnya seraya mengingatkan agar jangan berputus asa dalam berusaha.

Senada dengan Gis Hayid, Rektor Universitas Malahayati Lampung Muhammad Kadafi mengatakan bahwa jiwa entrepeneurship harus terus ditumbuhkan kepada para pelajar dan santri.

Hal ini dapat ditempuh dengan memperluas gerakan entrepeneurship, menerapkan kurikulum entrepeneurship dilembaga pendidikan dan menciptakan jiwa-jiwa yang inovatif.

Ketua Kadin Provinsi Lampung ini juga mengingatkan bahwa dalam berusaha juga harus ditanamkan niat untuk beribadah.

IPNU Tegal

"Landasi dengan ketulusan dan keikhlasan. Semoga berkah. Kalau bisa berbuat 1000 kebaikan kenapa harus satu. Kalau kita bersungguh-sungguh pasti bisa," pungkas Wakil Ketua PWNU Lampung ini. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hadits, Nahdlatul IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock