Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad

Bantul, IPNU Tegal. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu.” KH Habib Abdus Syakur, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, mengutip ayat Al-Qur’an itu di sela-sela amanatnya sebagai Pembina Upacara Peringatan Hari Kartini, 21 April 2014 yang diselenggarakan di halaman Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul.

Dalam kesempatan itu Habib juga menegaskan bahwa Islam mengajarkan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT. Tidak ada keunggulan bangsa Arab atas bangsa lainnya, bahkan tidak ada keunggulan apapun dari laki-laki atas perempuan, melainkan semata ketaqwaan mereka kepada Allah.

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad

Di hadapan segenap siswa-siswi MA Unggulan Al-Imdad Bantul yang khusyu’ mengikuti jalannya Peringatan Hari Kartini tersebut, Habib juga menyampaikan besarnya peran kaum perempuan dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

IPNU Tegal

“Dengan demikian Hari Kartini ini sangat pantas dipersembahkan bukan hanya untuk Raden Ajeng Kartini, melainkan juga untuk pahlawan-pahlawan perempuan lainnya. Bahkan juga bagi semua yang berusaha mewujudkan kesetaraan tersebut. Termasuk santri-santri putri yang berjuang meraih ilmu demi mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik,” ujar Habib.

IPNU Tegal

MA Unggulan Al-Imdad yang berdiri belum genap dua tahun ini memang telah memprogramkan peringatan Hari Kartini 2014 secara khusus. Terkait hal ini, pihak madrasah melalui Fajar Bashir selaku Kepala TU telah meminta segenap siswa dan siswi untuk mengenakan busana adat.

“Untuk para siswi kita sudah meminta mereka untuk mengenakan kebaya, dan para siswa dipersilahkan untuk mengenakan batik yang dilengkapi dengan sarung setinggi lutut,” ujarnya

“Bahkan para guru yang memiliki kegiatan belajar-mengajar di hari ini juga kita minta untuk turut mensukseskan acara Peringatan Hari Kartini yang kita gagas,” imbuhnya.

“Dan terimakasih kepada Kiai Habib sebagai Pengasuh Pondok Pesantren dan Bapak Taufiq Bukhori selaku Sekretaris Yayasan yang secara khusus mengenakan surjan sebagai sebuah bentuk teladan bagi para santri.” (Muhammad Yusuf Anas/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Tokoh, Sholawat IPNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Islam Nusantara Perlu Kokohkan Metodologi

Surabaya, IPNU Tegal - Konsep Islam Nusantara terus diperbicangkan oleh akademisi, mahasiswa dan publik. Sebagai gagasan, Islam Nusantara harus dikokohkan dengan konstruksi epistemik dan metodologi agar dapat diterima publik muslim internasional.

Hal ini terekam dalam diskusi yang dihadiri oleh Prof. Dr. Masdar Hilmy dari UIN Sunan Ampel Surabaya, peneliti Islam Nusantara Munawir Aziz, dan Pradana Boy ZTF dari UMM Malang.

Islam Nusantara Perlu Kokohkan Metodologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Perlu Kokohkan Metodologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Perlu Kokohkan Metodologi

Agenda ini diselenggarakan di Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu (7/9) atas prakarsa Perpustakaan UIN Surabaya, Mitra Firdaus, dan Penerbit Mizan. Dalam diskusi ini, mereka membahas buku Islam Nusantara: dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan (Mizan, 2015) dan Islam Berkemajuan (Mizan).

IPNU Tegal

Dalam diskusi ini, Munawir Aziz menjelaskan tentang sisi-sisi penting dari gagasan Islam Nusantara. "Islam Nusantara itu menjadi produk pengetahuan yang berakar pada tradisi masyarakat di negeri ini. Nusantara tidak sekadar konsep geografis, namun juga strategis dan ideologis," jelas Munawir.

Menurutnya, Islam Nusantara menjadi tawaran alternatif gagasan bagi publik muslim internasional di tengah konflik Timur Tengah dan kekacauan Turki.

IPNU Tegal

Sementara Prof Dr Masdar Hilmy menjelaskan bahwa Islam Nusantara perlu diteruskan dengan menjelaskan teori dan epistemologinya. "Harus ada kiai-kiai dan akademisi NU yang fokus untuk membangun gagasan Islam Nusantara. Dengan demikian, Islam Nusantara menjadi konsep yang jelas dan dapat diterima publik internasional," terangnya.

Prof Masdar Hilmy adalah santri Kiai Mashum Lasem dan merupakan Asisten Direktur Pascasarjana UIN Sunan Ampel.

Dalam diskusi ini, mereka membahas sinergi Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan yang dapat menjadi gagasan strategis bagi masyarakat muslim negeri ini. Islam Nusantara yang berkemajuan, inilah yang menjadi penerus gagasan untuk Islam yang damai, moderat, ramah dan toleran. (Firdaus/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Warta, Kajian, Sholawat IPNU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Alumni Beri Arahan Pengurus Baru IPNU-IPPNU Wonosobo

Wonosobo, IPNU Tegal. Menjelang pelaksanaan rapat kerja, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Wonosobo, Jawa Tengah, menggelar pertemuan rutin, Jumat (11/7).

Alumni Beri Arahan Pengurus Baru IPNU-IPPNU Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Beri Arahan Pengurus Baru IPNU-IPPNU Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Beri Arahan Pengurus Baru IPNU-IPPNU Wonosobo

Namun, ada yang berbeda dengan forum yang diadakan tiap sore tersebut. Pertemuan mendalami program kerja ke depan dengan melibatkan alumni kepengurusan lama.

Ketua PC IPNU Wonosobo peroide 1997-2001, A Muzan, hadir dalam kesempatan itu. Muzan memberikan gambaran serta arahan kepada pengurus PC IPNU-IPPNU masa khidmah 2014-2016 tentang beberapa hal.

IPNU Tegal

Menurutnya, beberapa hal penting yang harus menjadi pedoman dalam membuat program kerja, yaitu keislaman, kebangsaan, keilmuan, serta isu kaderisasi. “Membuat progam kerja adalah penjabaran empat visi umum,” kata A. Muzan.

Ia menambahkan, program kerja yang dibuat harus bisa menyentuh langsung kepada semua anggota, karena dengan seperti itu maka program kerja itu akan dinikmati langsung oleh semua anggota. ”Buatlah program kerja yang langsung mengena,” tambahnya.

IPNU Tegal

Kaderisasi, katanya, menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan. Ia menekankan tentang perlunya peningkatan profesonalisme pada setiap pengisi materi pada jenjang pengkaderan IPNU-IPPNU. (Arif Syukron/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Makam IPNU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

GP Ansor Desak BPK Audit Anggaran DPR ke Luar Negeri

Jakarta, IPNU Tegal. Buntut dari rencana kepergian 300 anggota DPR ke luar negeri menjelang akhir tahun 2006, Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda (GP) Ansor melancarkan kritik keras. Organisasi sayap pemuda Nahdlatul Ulama (NU) itu mendesak Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) untuk mengaudit anggaran DPR.

“Ini penting agar anggaran ke luar negeri itu bisa ditekan seefisien mungkin. Bahkan kalau perlu dikurangi,” kata Sekjen PP GP Ansor Malik Haramain—sebagaimana dilansir www.gp-ansor.org--kepada wartawan di Jakarta, (27/11) kemarin.

GP Ansor Desak BPK Audit Anggaran DPR ke Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Desak BPK Audit Anggaran DPR ke Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Desak BPK Audit Anggaran DPR ke Luar Negeri

Menurutnya, GP Ansor sangat kecewa karena kepergian anggota DPR itu tidak ada gunanya dan tidak jelas pertanggungjawabannya kepada publik. “Selama ini mana sih hasilnya yang bisa dirasakan rakyat dari hasil kunjungan ke luar negeri itu. Ketimbang ke luar negeri tidak jelas, Lebih baik DPR mengurangi anggaran ke luar negeri,” gugatnya.

Lebih jauh, kata Malik, harus ada perubahan kebijakan tentang kegiatan ke luar negeri, selain menghabiskan banyak uang, toh hasilnya juga tidak ada. Apalagi publik tidak pernah tahu hasil kongkritnya. Pimpinan DPR harus betul-betul mempertimbangkan manfaat kunjungan ke luar negeri tersebut.

Seperti diketahui, setelah 30 orang komisi V DPR berkunjung ke Belanda, Perancis dan Jerman, BKSAP dan BURT ke Finlandia, sebagian Komisi VIII berangkat ke Turki. Kemudian menyusul Komisi IX DPR juga akan melakukan kunjungan kerja ke Hongkong dan Korea Selatan dengan agenda masalah kesehatan dan tenaga kerja. Rombongan terdiri dari dua tim, masing-masing beranggotan 15 orang.

IPNU Tegal

“Biayanya dari anggaran Sekjen DPR, diberi Rp 400 juta, namun yang dipakai hanya Rp 250 juta. Sisanya dikembalikan ke Sekjen DPR,” katakan Wakil Ketua Komisi IX DPR F-PD, Max Sopacua, kepada wartawan di DPR, (27/11) lalu.

Dia menambahkan total anggota Komisi IX DPR yang berangkat menjadi 30 orang. Masing-masing rombongan 15 orang. “Jadi, kalau dua tim itu, biayanya sekitar Rp500 juta. Sebenarnya anggaran yang diajukan itu Rp 600 juta, tapi sudah dua tahun Komisi IX DPR tak menggunakan anggaran itu,” katanya.

Max menambahkan, rombongan yang ke Hongkong berangkat  29 Nopember 2006 dan yang ke Korea Selatan berangkat pada 5 Desember 2006. “Masing-masing orang mendapatkan jatah 280 dolar untuk kunjungan selama 3 hari,” jelas Max.

Ditanya soal rumor pemberian dana dari Departemen Kesehatan sebesar Rp 2,5 miliar, Max membantahnya. “Wah, kalau sudah ada dari Depkes, tak perlu lagi dana dari Sekjen DPR. Jadi tidak ada pemberian dana dari Depkes itu,” ujarnya.

IPNU Tegal

Max tidak menampik jika ada anggota Komisi IX DPR dalam kunjungan kerja tersebut yang membawa isteri, asal tidak mempergunakan dana Komisi IX DPR. “Boleh asal ongkos sendiri, tapi tidak boleh tiket itu ditukar dengan kelas ekonomi. Saya akan laporkan kalau ada tiket yang ditukar dengan kelas ekonomi,” ujarnya. (eko)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal IMNU, Internasional, Sholawat IPNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Lajnah Falakiyah PBNU Minta Sidang Itsbat Kembali Digelar Terbuka

Jakarta, IPNU Tegal. Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama kembali menggelar sidang itsbat penentuan Idul Fitri atau tanggal 1 Syawal 1436 H nanti secara terbuka. Ada lima argumentasi yang disampaikan.

“Pertama, sidang itsbat itu merupakan syiar Islam di tengah masyarakat yang sedang hiruk pikuk,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri dalam konferensi pers terkait penetapan Idul Fitri di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (2/7).

Lajnah Falakiyah PBNU Minta Sidang Itsbat Kembali Digelar Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah PBNU Minta Sidang Itsbat Kembali Digelar Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah PBNU Minta Sidang Itsbat Kembali Digelar Terbuka

Kedua, kata Kiai Ghazalie, sidang itsbat merupakan sarana silaturrahmi antar berbagai ormas dengan masyarakat luas yang menyaksikan sidang secara langsung dari layar televisi.

IPNU Tegal

Ketiga, sidang itsbat yang dilakukan secara terbuka diharapkan dapat memberikan pencerdasan kepada umat. Masyarakat memperoleh banyak pengetahuan tentang agama Islam, terutama terkait berbagai ketentuan mengenai penetapan awal bulan hijriyah.

IPNU Tegal

Keempat, melalui sidang yang disiarkan secara langsung, masyarakat akan mendapatkan informasi secara cepat, tanpa menunggu lama.

Kelima yang terpenting menurut Lanjnah Falakiyah PBNU, pelaksanaan sidang itsbat yang dipantau langsung oleh masyarakat luas sebenarnya mengarahkan semua pihak untuk mengikuti ketetapan pemerintah berserta berbagai ormas Islam, para tokoh masyarakat dan pakar astronomi.

“Melalui sidang itsbat terbuka yang diikuti semua ormas itu maka kemudian tidak ada lagi yang mengatakan, kami mengikuti ormas kami. Semua mengikuti pemerintah,” kata Kiai Ghazalie.

Pelaksanaan sidan itsbat untuk penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dilakukan secara terbuka selama kurang lebih sebelas tahun, sejak era Menteri Agama Said Aqil Husein Almunawwar. Sidang itsbat dilakukan secara tertutup setahun belakangan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Terkait penetapan Idul Fitri atau tanggal 1 Syawal, Lajnah Falakiyah mengimbau masyarakat menunggu hasil rukyatul hilal atau pengamatan bulan sabit yang dilakukan pada tanggal 29 Ramadhan 1436 H bertepatan dengan tanggal 16 Juli 2015, yang diikuti dengan pelaksanaan sidang itsbat di Kantor Kementerian Agama.

Menurut Kia Ghazalie, penetapan Idul Fitri dilakukan dengan dua cara sekaligus, yakni hisab dan rukyat. Berdasarkan hasil hisab Lajnah Falakiyah hilal sudah mungkin diamati pada tanggal 29 Ramadhan 1436 H, meskipun masih sangat rendah 3 derajat.

“Jika tanggal 29 itu hilal sudah terlihat, maka berarti besoknya atau bertepatan dengan tanggal 17 Juli sudah Idul Fitri. Tapi jika tidak terlihat maka kita istiqmal-kan puasanya menjadi 30 sehingga tanggal 1 Syawal bertepatan dengan 18 Juli,” kata Kiai Ghazalie. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal News, Sholawat, Pendidikan IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

2000 Jemaah Ramaikan Silaturahmi Nasional Ulama dan Tentara

Pekalongan, IPNU Tegal. Sedikitnya 2000 jemaah memadati Dupan Square Pekalongan, Selasa (4/2). Mereka mengikuti silaturahmi nasional antara ulama, TNI, dan POLRI yang dirangkai dalam peringatan maulid Rasulullah SAW Majelis Kanzus Sholawat-nya pimpinan Habib Luthfi bin Yahya.

Mereka adalah tamu undangan yang terdiri dari ulama Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN), TNI, dan POLRI. Maulid ini secara teknis ditangani Pengurus Mahasiswa Ahlit Thariqah An Nahdliyyah (MATAN).

2000 Jemaah Ramaikan Silaturahmi Nasional Ulama dan Tentara (Sumber Gambar : Nu Online)
2000 Jemaah Ramaikan Silaturahmi Nasional Ulama dan Tentara (Sumber Gambar : Nu Online)

2000 Jemaah Ramaikan Silaturahmi Nasional Ulama dan Tentara

Dalam ceramah, Habib Luthfi yang juga Rais Aam Idaroh Aliyah JATMAN mengimbau unsur ulama, jajaran TNI, dan elemen POLRI untuk memperkuat barisan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

IPNU Tegal

“Kekompakan ketiganya memberi jaminan bagi kelestarian NKRI. Sebaliknya, bila tiga komponen ini berjalan masing-masing, maka NKRI akan rapuh,” terang Habib Luthfi di hadapan hadirin.

Dalam silaturahmi nasional ini, tampak hadir Panglima TNI Jendral Moeldoko dan Kapolri Jendral Sutarman. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pemurnian Aqidah, Sholawat IPNU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan

Cilacap, IPNU Tegal. Bulan Ramadhan selalu mendapat tempat yang istimewa di hati umat Islam. Hampir semua kegiatan positif dilakukan di bulan ini, Tak terkecuali bagi Pengurus Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Gandrungmangu Cilacap Jateng.

Di sepertiga terahir Ramadhan ini, mereka menyelenggarakan “Pesantren Ramadhan” dengan tema Mencari Berkah di Bulan Penuh Hikmah.

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Sekolah MI Ma’arif I Muktisari Kecamatan Gandrungmangu. Pesantren Ramadhan ini diikuti oleh lebih dari 200 santri, yang merupakan delegasi 14 Ranting dan 8 komisariat. Acara tersebut diselenggarakan selama dua hari, sejak Sabtu pagi (3/8) sampai Ahad sore (4/8), bertepatan dengan 25-26 Ramadhan 1434 H.

IPNU Tegal

Para Santri Pesantren Ramadhan ini diberi pengetahuan tentang aswaja, keorganisasian, kepemimpinan, kesehatan remaja, dan diklat da’i- da’iyah.

IPNU Tegal

“Pesantren Ramadhan berguna untuk menambah pengetahuan agama bagi kader, sekaligus ajang silaturahim,“ ujar M Ali Mahfudz, ketua PAC IPNU setempat.

Hal ini senada juga diamini oleh Ulun Najah, ketua IPPNU Gandrungmangu. Selain hal tersebut di atas, pengetahuan seperti kesehatan remaja juga penting diketahuai oleh kader. Pengetahuan semacam ini jarang diberikan di kegiatan sejenis. Sabtu malam juga akan dilaksanakan lailatul ijtima’ dan sholat tarawih bersama.

Kegiatan ini merupakan hasil kerja perdana masa kepengurusan PAC IPNU–IPPNU yang baru saja dilantik pada bulan Juni 2013.

 

Kegiatan ini dibuka oleh KH Tabingan SQ selaku Ketua Tanfidziyah MWC NU Kec. Gandrungmangu dan rencananya akan ditutup oleh Rais Syuriyah, K. Ngadziman.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kyai, Fragmen, Sholawat IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Muslimat NU Merauke Dilantik

Merauke, IPNU Tegal. Sabtu malam (21/4) kemarin, Hotel Itese Merauke dibanjiri para undangan dalam acara Peringatan Hari Lahir (Harlah) Muslimat NU dan sekaligus Pelantikan Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Merauke periode 2010-2015.

Pimpinan Wilayah Muslimat NU Papua dan Papua Barat Ibu Rahmatan secara resmi melantik Pengurus Muslimat NU Cab Merauke malam itu.

Muslimat NU Merauke Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Merauke Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Merauke Dilantik

Hadir dalam acara tersebut Staf Ahli Bupati Bidang Kesejahteraan Rakyat R. Gatot Marsigit dan Sekretaris Daerah Daniel Pauta, Danlantamal XI, Wakil Ketua DPRD Merauke, Komandan Korem, Ketua MUI, Kementerian Agama Kab. Merauke, para pengurus NU dan organisasi Islam lainnya, Ketua GOW, Pembedayaan Perempuan dan Majelis ta’lim se-kota Merauke.

Momen tersebut sungguh sangat penting karen bertepatan dengan hari Kartini. Acara pelantikan dan Harlah tersebut mengambil  tema “Mari Tingkatkan Kesalehan Sosial Menuju Kemandirian Muslimat NU”.

IPNU Tegal

“Muslimat NU sudah berjalan 3 periode di Kabupaten Merauke ini dinilai cukup membantu program-program pemerintah dari bergai bidang, khususnya bidang Pendidikan dan Kesejahteraan,” demikian disampaikan Ibu Rahmatan di sela pelantikan.

IPNU Tegal

Di bidang pendidikan, Muslimat NU telah membangun 4 PAUD dan 1 TK dan di bidang Kesejahteraan Muslimat setempat juga telah banyak membantu kaum dhuafa dan anak yatim. Sementara di bidang Kesehatan hampir setiap momen penting Muslimat NU mengadakan Khitanan Massal.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syamsuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Hikmah IPNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Islam dan Laku Normatif

Oleh Aswab Mahasin

Zaman berganti zaman, ideologi berganti mantra, makna terseret rupa. Tidaklah kamu mengetahui nurani adalah penentram suci. Wajah suci berlumur lumpur, terhapus oleh udara miring nasionalisme. Atas nama kebangsaan mereka berdiri di tengah panji asmara Ilahi. Entah dari mana datangnya wangsit itu. Ritual/spiritual/moral/sosial sederet nama perilaku baik menjadi bancakan kelompok “terhormat”.

Penerjemahan ajaran langit pada realitas bumi dimanipulasi, Baginda Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan tapi diacuhkan. Kenapa manusia berebut kebaikan, sedangkan kejahatan sendiri adalah nilai realitas yang tidak bisa dieelakan.

Islam dan Laku Normatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Laku Normatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Laku Normatif

Pertemuan belum bisa dimaknai sebagai perjumpaan. Sedangkan perjumpaan adalah pemahaman fungsional—kebijaksanaan. Anda ingat, kebijaksanaan dalam literatur jawa selalu diartikan pada dua fungsi, fungsi pertama kebijkasanaan sebagai kebenaran, dan kedua kebijaksanaan sebagai kepeneran (sesuai). Islam dan Laku Normatif, dalam pandangan kebudayaan adalah dua entitas yang dirancang terpisah, berbeda, berlawanan, dan tak mungkin bersenggama.

?

Islam disuarakan dengan Al-Hikmah (kebijaksnaan) dan kebaikan, sedangkan “laku normatif” dikonotasikan “kaku, keras, dan ideologis”. Islam yang secara definisi praksis adalah “agama”, apakah memiliki persandingan yang sesuai jika “tutur perilakunya” diseret pada kepentingan normatif (ideologi politik). Kajian kebudayaan mengatakan, agama bukanlah alat kepentingan kelompok atau personal apalagi dijadikan will to power (kehendak berkuasa), tidak.

IPNU Tegal

Hukum ilmiahnya, pemahaman normatif tentu menyudutkan pemahaman kesempitan berpikir. Ada seruan Al-Quran menegaskan, La ikhraha Fiddin. Tidak ada paksaan dalam memeluk agama, selanjutnya karena Allah tahu mana yang benar dan salah. Kalau ayat ini ditafsirkan pada penafsiran normatif akan memunculkan “walaupun tidak ada paksaan namun Islamlah sebenar-benarnya agama, oleh karena itu akidah harus dimurnikan”.?

Padahal, jika ayat ini kita tafsirkan dalam pengertian yang oprasional maka ayat ini akan menjadi sihir perdamaian kebangsaan, kebudayaan, dan keanekaragaman. Dan tentu Islam akan menjadi potret positif dalam sistem sosial yang tentram.?

Tafsir oprasionalnya adalah tak ada paksaan bagi siapa saja untuk memeluk agama, bergaul, bersosialisai, berpolitik, berbudaya, dan bersuku. Karena sesungguhnya kebenaran dan kesesatan akan nampak terlihat jelas pada sisi-sisi ketidaksesuaian.

Di sinilah pentingnya kita mendewasakan interpretasi, bukan mengkerdilkan analisis. Paradigma kebangsaan, paradigma keagamaan, dan paradigma kebudayaan bukan “pengecualian”. Melainkan norma sosial dalam keselarasan alam. Menerima bukan berarti mengikuti, menyalahkan bukan berarti memenjarakan, dan menyesatkan bukan berarti menenggelamkan.

IPNU Tegal

?

Semua ini adalah proses menuju pada keabadian sejati. Janganlah, kelas sosial yang awalnya hanya kelas borjuis dan ploretar, kelas penindas dan tertindas, lantas digantikan menjadi kelas surga dan neraka. Sungguh surga adalah milik kita semua, begitu pun dengan neraka.

?

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Bahtsul Masail, Sholawat IPNU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Mendikbud Kunjungi Kampus Akbid Muslimat NU Kudus

Kudus, IPNU Tegal. Setelah meresmikan gedung SD Unggulan Muslimat NU Kudus, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)  M Nuh mengunjungi kampus Akademi Kebidanan (Akbid) Muslimat NU Jl Lambao Bae Kudus, Jum’at (29/3) lalu. 

M Nuh  diterima pengurus Badan Pelaksana pendidikan Ma’arif NU Az-zahra, Direktur dan dosen serta seluruh mahasiswi 

Mendikbud Kunjungi Kampus Akbid Muslimat NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Kunjungi Kampus Akbid Muslimat NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Kunjungi Kampus Akbid Muslimat NU Kudus

Dalam pengarahannya, M Nuh merasa bangga terhadap Muslimat NU yang memiliki tekad luar biasa untuk mencerdaskan anak bangsa.  

IPNU Tegal

“Oleh karena itu pemerintah harus mengucapkan terima kasih karena tugas pemerintah dibantu NU,” ujarnya.

Ia mengatakan bidang yang terkait kesehatan termasuk kebidanan, perawat merupakan bidang dasar yang harus dilakukan secara profesionalitas karena ada fase kekritisan.

IPNU Tegal

“Dalam  melayani orang melahirkan kelahiran, sangat erat akan nasib ibu dan anak sehingga profesionalitas menjadi hal penting,” tandasnya.

M Nuh mengajak para mahasiswi untuk menanam investasi kebaikan dengan melaksanakan kebaikan dan kemuliaan.  Ia menegaskan investasi kebaikan ittu bisa dikonversi menjadi  pemenuhan kebutuhan. 

“Meskipun kita belum butuh, pada saatnya investasi kebaikan itu  bisa sebagai tabungan,” imbuh M Nuh.

Pada kesempatan itu, M Nuh menandatangani prasasti peresmian gedung baru Akbid Muslimat NU Kudus. 

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Umum GP Ansor H Nusron Wahid dan ketua PCNU Kudus KH Chusnan Ms.

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Warta, Budaya IPNU Tegal

Senin, 08 Januari 2018

NU Pesawaran Giatkan Dakwah Media

Pesawaran, IPNU Tegal

PCNU Pesawaran, Lampung mengajak kader untuk aktif berdakwah di media massa dan sosial sebagai upaya menyebarkan gagasan Islam rahmatan lil alamin, kebinekaan serta mereduksi penyebaran konten negatif dan radikal.

NU Pesawaran Giatkan Dakwah Media (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pesawaran Giatkan Dakwah Media (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pesawaran Giatkan Dakwah Media

Ketua PCNU Pesawaran KH Salamus Solichin di Pesawaran, Kamis (1/12) menegaskan, saat ini baru terhimpun 100 kader yang mempunyai akun media sosial.

Koordinasi, ujar dia menambahkan, sudah berlangsung dengan 100 kader. Akhir Desember ditargetkan 250 kader intens menyebarluaskan pemberitaan hingg opini dari media NU, baik pusa atau lokal melalui media sosial.

Salamus mengaku perlu mengambil langkah positif atas maraknya penyebaran konten negatif hingga penghinaan terhadap ulama.

IPNU Tegal

Menurut dia lagi, bagi ulama sabar dengan hujatan dan cacian merupakan ibadah. Tapi bagi jamaah dan kader NU, diam bukan perilaku tepat. Karena itu perlu ada upaya, menyebarkan dakwah ulama NU melalui media sosial, selain itu, untuk menangkal fitnah terhadap para kiai.

Berkaitan dengan gerakan dakwah lain melalui media, Salamus mengatakan pihaknya akan segera menghimpun badan otonom guna menyeleksi kader yang akan dilatih menulis untuk bisa menyebarkan dakwah ulama dan kiai NU. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Sholawat IPNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Momentum PMII Semarakkan Kegiatan Kaderisasi

Surabaya, IPNU Tegal. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sudah menapaki usia yang ke-53 tahun. Seperti manusia, usia PMII ini sudah tidak muda lagi. Usia yang semestinya cukup matang bagi sebuah organisasi dalam melibatkan diri dan merancang bangun perjalanan bangsa Indoensia.

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur mengajak seluruh kader untuk merefleksikan kembali demi menata fondasi PMII sebagai organisasi kader dan pergerakan yang betul-betul pergerakan.

Momentum PMII Semarakkan Kegiatan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Momentum PMII Semarakkan Kegiatan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Momentum PMII Semarakkan Kegiatan Kaderisasi

"Pada Harlah PMII ke-53 kali ini harus dijadikan momentum untuk menyemarakkan kembali kagiatan-kegiatan kaderisasi di Jawa Timur,"kata Bendahara Umum PKC PMII Jatim, Rusman Hadi, di Surabaya, Selasa (2/4).

IPNU Tegal

Sehingga, menurut dia, peringatan Harlah PMII tidak sekadar bersifat rutinitas tahunan belaka. Menyemarakkan kegiatan kaderisasi sangat urgen. Sebab, kader merupakan ujung tombak sekaligus tulang punggung keberlangsungan sebuah organisasi.

Mantan Ketua Umum PC PMII Sumenep ini menyadari, di usianya yang ke-53 ini, PMII masih lebih banyak mampu melahirkan kader-kader politisi. Sementara ruang-ruang lain bisa dikatakan masih sangat sedikit yang dijamah.

IPNU Tegal

"Jadi saat inilah momentum untuk melahirkan kader-kader PMII yang siap berkompetisi dalam banyak lini, tidak hanya pada ruang politik semata,"tegasnya.

Bagi dia, pengembangan potensi kader akan menjadi jawaban terhadap kebutuhan organisasi di masa sekarang dan akan datang.

Ia mencontohkan Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTIM) tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh PKC PMII Jatim. "Ini dalam rangka menantang para kader untuk berkarya, meningkatkan kemampuan, agar jati diri mahasiswa sebagai agen intelektual muncul,"tandasnya.

Pada momentum Harlah ke-53 ini, PKC PMII Jawa Timur menggelar LKTIM berhadiah total Rp 16,5 juta plus tropy bagi tiga pemenang dan tiga juara harapan. Hingga H-3 batas akhir penyetoran naskah LKTIM (batas akhir pada tanggal 5 April), baru belasan naskah yang masuk ke panitia.

"Pada hari terakhir, tanggal 5 April nanti insya Allah mencapai lebih 40 naskah peserta yang masuk, ini sudah banyak yang menghubungi, "kata Sekretaris Panitia LKTIM Anang Romli.

Rusman Hadi menambahkan, menggalakkan kegiatan kaderisasi tersebut, juga dalam rangka menguatkan mentalitas dan moralitas kader di tengah krisis moral yang melanda bangsa kita.

"Harapannya, PMII mampu melahirkan kader profesional yang bermoral, kader politik yg bermoral tak seperti para penguasa sekarang yang cenderung korup,"pungkasnya.

Kontributor: Abdul Hady JM

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Anti Hoax, Sholawat, Olahraga IPNU Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Tom Roper: Kami Ingin Tetap Menjalin Kerjasama dengan NU

Leeds, IPNU Tegal. Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Leeds, Tom Roper, mengungkapkan bahwa pihaknya tetap ingin menjalin kerjasama saling menguntungkan dengan PBNU.

"Kami ingin agar kerjasama Universitas Leeds dengan NU tetap terjalin. Semoga kerjasama ini akan terus terjalin," ungkapnya kepada IPNU Tegal belum lama ini.

Tom Roper: Kami Ingin Tetap Menjalin Kerjasama dengan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tom Roper: Kami Ingin Tetap Menjalin Kerjasama dengan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tom Roper: Kami Ingin Tetap Menjalin Kerjasama dengan NU

Roper mengungkapkan, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dinilainya punya peran penting dalam mempromosikan Islam sebagai agama yang cinta damai.

IPNU Tegal

Pihaknya juga berharap, para duta NU yang sudah mengikuti pelatihan manajemen pendidikan di Universitas Leeds dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas terutama di lingkungan pesantren.

IPNU Tegal

"Kami berharap semoga sekembalinya pulang dari Leeds, kalian dapat memberikan manfaat terutama di lingkungan pesantren," ungkapnya sambil menambahkan agar para duta NU juga dapat mempromosikan Universitas Leeds di Indonesia.

Sementara itu Kordinator Program Pelatihan Manajemen Pendidikan, Hywel Coleman, mengungkapkan rasa senangnya kepada para peserta yang telah mampu menunjukkan perannya sebagai duta NU.

"Kepada para peserta, saya mengungkapkan rasa senang dan gembira karena kalian telah mampu menunjukkan peran kalian selama di Leeds bukan hanya sebagai duta NU namun juga sebagai duta bangsa," terang Hywel.Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal IMNU, Cerita, Sholawat IPNU Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal

Bisyr bin Harits dikenal juga sebagai Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah /767 Masehi. Setelah meninggalkan hidup berfoya-foya, ia mempelajari Hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan pendidikan formal untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan dan bertelanjang kaki. Bisyr meninggal di kota Baghdad tahun 227 H/841 M. Ia sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh khalifah al-Mamun.

Bishr lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Kisah pertobatannya diriwayatkan oleh Fariduddin al-Attar di dalam buku Tadzkiratul Auliya. Attar meriwayatkan, sewaktu muda, ia adalah seorang pemuda berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang". Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal (Sumber Gambar : Nu Online)
Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal (Sumber Gambar : Nu Online)

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal

Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr: "Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti".

"Bisyr adalah seorang pemuda berandal", si manusia suci itu berpikir. "Mungkin aku telah bermimpi salah".

IPNU Tegal

Oleh karena itu ia pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendatangkan mimpi yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya, ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juga. Keesokan harinya pergilah ia mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban: "Bisyr sedang mengunjungi pesta minum anggur".

IPNU Tegal

Maka pergilah ia ke rumah orang yang sedang berpesta itu, dan menyampaikan pesan dari mimpinya tersebut kepada Bisyr.

Kemudian Bisyr berkata kepada teman-teman minumnya, "Sahabat-sahabat, aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!"

Attar selanjutnya meriwayatkan bahwa sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr juga dijuluki si manusia berkaki telanjang (al-hâfî).

Berikut beberapa kisah tentang Abû Nashr Bisyr bin al-Hârist al-Hâfî yang kami himpun dari beberapa sumber:

Kisah Bisyr al-Hafi dan Imam Ahmad bin Hanbal



Konon Imam Ahmad bin Hanbal sering mengunjungi Bisyr al-Hafi, entah untuk urusan apa. Dan sang imam pun sangat mempercayai perkataan Bisyr al-Hafi. Hal itu kemudian menyebabkan rasa kurang senang pada hati murid-muridnya, sehingga suatu hari muridnya memprotes Imam Ahmad bin Hanbal.

“Wahai guru, di zaman ini tak ada seorang pun yang bisa menandingimu di bidang hadits, hukum, teologi dan setiap cabang ilmu pengetahuan. Lalu mengapa setiap saat engkau menemani dan bergaul bersama seorang berandal (Bisyr al-Hafi)? Pantaskah hal itu?” protes muridnya.

“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli bila dibandingkan dengan Bisyr. Tetapi mengenai Allah, dia lebih ahli daripada aku”, jawab sang Imam.

Konon juga Imam Ahmad bin Hanbal sering memohon kepada Bisyr al-Hafi “ceritakanlah padaku perihal Tuhanku!”

Bisyr al-Hafi dan Empatinya Terhadap Orang Miskin



Alkisah, selama 40 tahun keinginan Bisyr al-Hafi untuk merasakan daging panggang tak kunjung terwujud, hal itu disebabkan karena dia tidak memiliki uang. Pernah juga beliau menginginkan memakan kacang buncis, keinginan itu pun  juga tak kunjung terwujud. Padahal, kalaupun beliau berkehendak, sebagai salah seorang waliyullah yang dekat kepada Allah, beliau bisa saja meminta segala sesuatu dan pasti dikabulkan. Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya. Jalan hidup dan penyangkalan diri yang beliau jalani juga menahan beliau untuk meminum air dari saluran yang ada pemiliknya.

Rasa peduli atau empatinya kepada orang-orang miskin pun sangat besar. Konon di suatu musim yang begitu dingin, di mana semua orang mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh mereka, beliau, Bisyr al-Hafi malah berbuat sebaliknya. Dia melepas pakaiannya di tengah cuaca yang begitu dingin. Akibatnya tubuhnya menjadi menggigil kedinginan.

“Hai Abu Nashr (panggilannya), mengapa kau melepaskan pakaianmu di tengah cuaca yang sangat dingin ini?” teriak orang-orang heran. “Aku teringat orang-orang miskin. Aku tidak punya uang untuk membantu mereka. Oleh karena itu, aku ingin turut merasakan penderitaan mereka”.

Wafatnya Sang Waliyullah



Suatu malam, ketika Bisyr al-Hafi sedang terbaring menanti ajalnya pada tahuan 277 H/ 841`M, tiba-datang seseorang dan mengeluhkan nasibnya kepadanya. Kemudian Bisyr pun menyerahkan seluruh pakaian yang dia kenakan kepada orang tadi. Dia pun lantas memakai pakaian lain yang dia pinjam dari salah seorang sahabatnya. Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah sang waliyullah tersebut menghadap Tuhannya.

Di tempat yang lain, seorang laki-laki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di jalan. Padahal selama Bisyr al-Hafi hidup, tidak ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan tanpa menggunakan alas kaki. Melihat kenyataan aneh seperti itu spontan si laki-laki tersebut langsung berteriak “Bisyr telah tiada!”

Mendengar seruan laki-laki tadi, orang-orang pun pergi untuk menyelidikinya validitas berita tersebut. Dan ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi benar adanya. Lalu orang-orang pun menanyakan sesuatu padanya, “Bagaimana kau tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah meninggal dunia?”.

“Karena selama Bisyr al-Hafi hidup aku tidak pernah menyaksikan ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan. Dan tadi aku melihat kenyataan yang sebaliknya. Keledaiku membuang kotorannya di jalan. Dari itu pun aku tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah wafat”, jawab laki-laki tadi. Wallahu a’lam.

Hilmy Firdausy, Mahasantri Pesantren Ilmu Hadits Darus-Sunnah Ciputat. [Sindikasi Media]

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Nahdlatul Ulama, Aswaja IPNU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf

Jakarta, IPNU Tegal. Masjid Jami’ al-Munawwarah yang terletak di kompleks kediaman KH Abdurrahamn Wahid (Gus Dur) Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, kembali menjadi tempat pengucapan dua kalimat syahadat seorang muallaf, Sabtu (19/1) siang.

Seorang perempuan bernama Stephanie Ade Irawan hari ini berketetapan hati masuk Islam. Turut hadir menjadi saksi istri mendiang Gus Dur Ny H Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Wasekjen PP LDNU H Syaifullah Amin, Habib Hasan Dalil Alaydrus, dan sejumlah jajaran pengurus Yayasan KH Abdul Wahid Hasyim.

Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf

”Apakah ada yang memaksa?” tanya Habib Hasan sebelum membimbing syahadat. ”Tidak,” jawab Stephanie.

IPNU Tegal

”Berarti dari hati?” sambung Habib Hasan.”Ya, dari hati,” Stephanie menganggukkan kepala.

Sebelum menuntun syahadat, Habib Hasan menjelaskan bahwa Islam bersifat rasional dan menentang unsur pemaksaan dalam beragama. Selain menyinggung kearifan dakwah Rasulullah, ia juga menjabarkan secara singkat lima rukun Islam yang meliputi syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji.

IPNU Tegal

Stephanie yang cukup lancar melafalkan dua kalimat syahadat dan terjemahannya itu disambut haru oleh kerabat dan tamu yang hadir. Karena bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi, prosesi masuk Islam ditutup dengan doa dan shalawat.

Menurut Ketua Harian Dewan Kemakmuran Masjid Syaifullah, ini merupakan kali keempat Masjid al-Munawwarah menyelenggarakan kegiatan serupa. Bahkan, katanya, sudah tiga kali pelafalan dua kalimat syahadat dituntun langsung oleh Gus Dur.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Mahbib Khoiron:

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Hadits IPNU Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi

Jakarta, IPNU Tegal. Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan Kementerian Desan dan Transmigrasi Republik Indonesia (RI) menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental Spiritual bagi Daiyah di Daerah Transmigrasi di Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat  (BBPLM) Jakarta Timur, Selasa (17/10) lalu.

Kegiatan ini dilaksanakn selama empat hari (16-20/10) dan diikuti 30 peserta terdiri atas Daiyah Fatayat NU se-Sumatera dan Indonesia Timur, Organisasi Masyarakat (Ormas), dan undangan.

Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi

Pengembangan dakwah Islam rahmatan lil alamin saat ini menjadi hal yang sangat urgen untuk dikembangakan terlebih bagi anak-anak dan perempuan. Perempuan sebagai  tulang punggung pertama dalam kelompok terkecil dalam amsyarakat, yaitukeluarga diharapkan menjadi agent of change bagi-minimal-keluarganya.

Ajaran islam rahmatan lil alamin juga menjadi counter dari radikalisme mengingat perkembangan radikalisme sudah menyebar ke semua kalangan masyarakat, termasuk perempuan dan kalangan anak muda.

IPNU Tegal

Oleh karena itu, perempuan sebagai pendakwah (daiyah) juga memiliki peran penting, bukan hanya sebagai pihak yang emlakukan transfer of knowledge pada masyarakat, namun telah meluas menjadi agent of change bagi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Demikian juga dalam persoalan radikalisme, daiyah memiliki peran yang sangat strategis untuk melakukan gerakan deradikalisasi.

Atas dasar itu uraian di atas,  Fatayat NuU merasa perlu berpartisipasi dalam deradikalisasi melalui peran perempuan, dengan meningkatkan peningkatan kualitas daiyah dan menguatkan materi dakwahnya.

IPNU Tegal

Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini dalam sambutannya mengatakan, daiyah sebagai orang yang dipercaya masyarakat di daerah transmigrasi, oleh karenanya peningkatan kapasitas daiyah perlu dikuatkan, tidak hanya peningkatan kapasitas secara ekonomi tapi juga secara rohani.

Menurutnya, Fatayat NU sangat concern para dai atau masyarakat di transmigrasi. Apalagi hari ini, Indonesia adalah negara di asia yang sangat cair sekali didatangi ideology-ideologi yang membawa masyarakatnya untuk tidak mencintai lagi negaranya.

“Karena transimgrasi  secara geografi jauh dari pusat kota, jauh dari komunitas secara umumm, ini lebih mudah untuk didatangi lebih mudah untuk dipengaruhi oleh ideology-ideologi ini, sehingga ini menjadi konsentrasi Fatayat NU yang sangat sinergi dengan programnya direktorat jenderal pengembangan kawasan transmigrasi,” terang Anggi.

Hadir pada kegiatan ini, Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Bidang Dakwah PP Fatayat NU Hj Anisa Rahmawati, dan Dirjen Pembangunan Kawasan Transmigrasi (PKTrans) HM. Nurdin. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Jadwal Kajian, Pahlawan IPNU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU

Jakarta, IPNU Tegal

Majelis alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama beri arahan khusus dalam rapat kerja dan orientasi kepengurusan PP IPNU periode 2015-2018.? Ketua Umum PP IPNU periode 1988-1996 Zainut Tauhid Saadi memberi pemaparan tantangan IPNU-IPPNU ke depan akan dihadapkan pada persoalan kualitas kader, karena di era global ini kita tidak hanya bisa berbicara soal kuantitas.

"Berbicara soal hari ini kita akan dihadapkan dengan tiga tantangan yang terus saling bersinggungan, yaitu idealisme, pragmatisme, dan tata nilai. Ketiga hal tersebut harus dipadukan agar seimbang," kata Zainut saat memaparkan arahan, Ahad (27/03), di Aula Asrama Haji Pondok Gede.

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU

Ia menjelaskan bahwa tiga kunci kesuksesan dalam organisasi adalah SDM, jejaring sosial, dan finansial.? "Tentu ketiga hal tersebut krusial semua, tapi jangan terpaku karena masalah finansial, coba perluas jaringan pasti banyak jalan," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PP IPNU periode 1996-2000 Hilmi Muhammadiyah memberikan arahan atas nama Majelis Alumni IPNU bahwa arah gerak IPNU sangat didukung oleh Majelis Alumni IPNU. Begitu pula IPPNU, meski saat ini belum terbentuk Majelis Alumni.

"Majelis Alumni IPNU bukan sebagai partner yang mengintervensi tapi membina dan mengarahkan serta membantu mencari jalan untuk berlangsungnya organisasi pelajar yang besar ini," kata Hilmi.

IPNU Tegal

Ia juga menambahkan bahwa IPNU-IPPNU perlu aktif berkoordinasi dengan Majelis Alumni agar mendapat dukungan serta akses yang mempermudah perjalanan organisasi. (Afifah Marwa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Sholawat, Pahlawan, Fragmen IPNU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

LKSB Sebut Kekayaan Budaya Indonesia Modal Membangun Bangsa

Jakarta, IPNU Tegal. Selain sumber daya alam yang melimpah, kekayaan tradisi dan budaya Indonesia menjadikan bangsa majemuk ini dipandang unik oleh sejumlah negara di dunia. Bahkan tak sedikit keunikan bangsa Indonesia untuk dijadikan fokus studi dan penelitian oleh para peneliti mancanegara.

LKSB Sebut Kekayaan Budaya Indonesia Modal Membangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Sebut Kekayaan Budaya Indonesia Modal Membangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Sebut Kekayaan Budaya Indonesia Modal Membangun Bangsa

Hal inilah yang dipandang oleh Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) sebagai modal strategis membangun manusia Indonesia. Pembahasan tersebut mengemuka ketika LKSB menggelar diskusi refleksi 72 tahun Indonesia merdeka, Senin (28/8) di Gedung PBNU Jakarta.

Mendatangkan sejumlah narasumber dan aktivis pergerakan, Direktur Eksekutif LKSB Abdul Ghopur mengungkapkan, saat ini tidak sedikit generasi muda yang tak kenal dengan identitas budayanya. Bahkan banyak yang terlena oleh perkembangan teknologi digital sehingga menggerus kearifan lokal.

“Ternyata sekarang sebagian masyarakat bangsa ini mulai lemah dan tercerabut dari akar kultur dan naturnya sebagai bangsa Indonesia (Nusantara). Mulai tak mengenali Pancasila sebagai falsafah atau pandangan hidup berbangsa dan bernegara,” ujar Ghopur yang dalam diskusi kali ini mengambil tema Membangun Manusia Indonesia yang Adil dan Beradab.

IPNU Tegal

Mengingat falsafah agung Pancasila, forum LKSB juga menyayangkan ketika ada sejumlah kelompok yang anti-Pancasila. Di sisi lain, perlakuan tidak adil juga kerap dialami oleh kelompok tertentu yang berusaha mempertahankan tanah adat tempat tinggalnya salama bertahun-tahun, namun justru tergusur karena kepentingan korporasi dan politik.

“Di sinilah kita bersama mencoba menjawab secara komprehensif seluruh persoalan bangsa. Kita ingin menjelaskan betapa pentingnya Pancasila menjadi kompas dalam perjalanan berbangsa dan bernegara yang kian mengalami dekadensi moral dan distorsi bangsa,” jelas intelektual muda NU ini.

IPNU Tegal

Ia menegaskan, begitu pentingnya Pancasila dihadirkan kembali dalam ruang publik yang belakangan sarat kontaminasi oleh kepentingan kelompok, nilai, maupun ideologi-ideologi privat.

Hadir memberikan pengarahan Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra. Di antara narasumber yang hadir ialah Ketua Umum Pengurus Besar Korps PMII Putri (Kopri) Septi Rahmawati, Ketua Umum GMNI Chrisman Damanik, Pengurus Pusat GMKI Korneles Galanjinjinay, Social Entrepreneur Moses Latuihamalo, dan Candra (GEMA Perhimpunan Indonesia-Tionghoa). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat IPNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Warga NU Pesepeda Ini Diliput Media India

Jakarta, IPNU Tegal?



Perjalanan Hakam Mabruri dan istrinya Rofingatul Islamiyah dengan bersepeda melewati beberapa negara, untuk menuju tanah suci Makkah, diliput media lokal India di daring dan cetak ketika berada di negara tersebut. Di berita daring, pada 26 Juni lalu, mereka dilaporkan cityliveindia.com.

Sebagaimana diketahui, dua warga NU dari Malang tersebut melakukan perjalanan darat telah 7 bulan lamanya dengan sepeda. Selepas perjalanan melalui jalur Pantura, selama sebulan, mereka tiba di Jakarta. Anggota GP Ansor Malang dan Fatayat itu sempat meminta doa restu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj sebelum berangkat.?

Warga NU Pesepeda Ini Diliput Media India (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Pesepeda Ini Diliput Media India (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Pesepeda Ini Diliput Media India

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju Sumatera, menyeberang ke Malaysia, Thailand, Myanmar, kembali ke Thailand, lalu ke India. Namun, perjalanan Thailand-India, keduanya menggunakan pesawat.

Ke India, mereka masuk melalui Calcutta. Kemudian bersepeda menuju kota Asansol, Varanasi, dan sekarang berada di Uttar Pradesh. Sebelumnya, ketika di kota Dhanbad mereka diliput media lokal. Berikut laporan media tersebut:?

“Satu pasangan Indonesia telah tiba di India dengan maksud mengalihkan perhatian dari keadaan-keadaan saat ini akibat dari fanatisme agama di dunia.?

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Pasangan ini melakukan perjalanan ke 13 negara di tahun yang sama dengan menggunakan satu sepeda. Tujuan perjalanan mereka adalah Mesir, dimulai dari Indonesia.?

Maburi dan istrinya, Ruffingul Islami, saat ini berada di Dhanbad, India dan akan meninggalkan India menuju Jordan pada bulan Agustus.?

Hakam Maburi dan Ruffingul Islami mengatakan bahwa kondisi yang tak mengenakkan telah tercipta atas nama agama-agama di dunia. Padahal agama adalah sebuah nama ? penyelamatan dari kejahatan-kejahatan, ia adalah sebuah ajaran untuk merangkul orang-orang baik. ?

Dalam pengertian ini, mengapa nama agama dibenturkan? Seluruh dunia harus memikirkan isu ini, sehingga akan terbebas dari keadaan yang tak diinginkan ini.

Dengan motivasi yang sama, mereka berdua melakukan touring ini dengan menggunakan satu sepeda.?

Ada dua pedal dalam sepeda tersebut yang menyatu, dan keduanya bisa bergerak secara bersamaan. Dia selalu bernyanyi-nyanyi di sepanjang jalan Dhanbad. Saat ditanya, negara ini sangat indah, orangnya juga baik-baik dan jalanannya bagus. Kita di sini berjalan sekitar 110km/hari dengan aman.

Sejauh ini, mereka telah melakukan perjalanan ke 10 negara. Saat ditanya apakah akan ke Pakistan, mereka tak menjawab, karena ada banyak teroris di sana, katanya.

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Sholawat IPNU Tegal

Senin, 27 November 2017

Merayakan Kemanusiaan

Oleh Ren Muhammad

Perang besar di Timur Tengah sejak satu dekade silam—yang digelorakan sebagai Perang Salib jilid baru, ditengarai bakal menghapus peta dunia Islam di jazirah yang dilintasi Sungai Eufrat dan Tigris. Sebagian besar alasan perang pecah di sana, dilandasi perebutan kue ekonomi yang berkedok agama. Perang yang sejatinya adalah kulminasi keputusasaan manusia mencari kebenaran. Selain itu, juga dilatari nafsu serakah menjarah kekayaan alam negeri—yang pernah melahirkan para Nabi. Itu baru di Timur Tengah, belum perang saudara yang tengah berkecamuk di bumi Afrika. Dunia kita seolah menuju titik nadir. Kedamaian hidup manusia, digerus keserakahan dan nafsu angkara.

Merayakan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Merayakan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Merayakan Kemanusiaan

Pendakuan manusia pada benar-salah, hanya perulangan cerita abad ke alaf. Tapi soal inilah yang kerap menghantui peradaban mana pun yang pernah ada. Agama, sebagai lokus utama yang mengajari manusia kehidupan setelah di dunia, kerap ditunggangi kepandiran. Agama dan penganutnya tak berjalin kelindan. Ia turun demi kebaikan manusia. Dilahirkan Langit, agar manusia tahu ke mana ia harus pamit, Pulang. Menganut agama, sama belaka dengan merangkul angin. Jika tak bisa dirasakan, maka belum absah disebut jalan hidup yang lurus.

IPNU Tegal

Para Nabi pembawa dan penganjur agama, tak pernah sekali pun menyebut diri merekalah yang paling benar. Mereka bukan pemabuk agama. Mereka hanya mengingatkan dan mengajak manusia yang mau menekuni perjalanan menuju Keabadian. Kembali ke sumber. Kembali ke asal. Hidup di dunia bukan tentang agama apa yang kita yakini, melainkan bagaimana hidup yang kita lalui dilandasi kebajikan dan kebijaksanaan. Jalan menuju kebenaran bisa serbaaneka. Namun kebenaran hanya satu jua—Tuhan sahaja.

Menghakimi Tuhan



Bagaimana mungkin Tuhan yang tanpa batas itu tak bisa didekati dengan cara apa saja? Padahal Dia menyelubungi semesta secara zhahir dan bathin. Ada sekaligus Tiada. Ada dalam rasa, karsa, cipta. Tiada satu pun yang menyamainya. Tan keno kinoyo ngopo. Laytsa kamitslihi syaiun.

IPNU Tegal

Kenapa selalu saja ada segelintir orang yang dengan gegabah meyakini bahwa ibadah yang ia lakukan, atau perilaku beragamanya pasti benar dan diterima tuhan? Sedang tak satu pun umat beragama di zaman ini yang pernah melihat langsung para Nabi dan Rasul menjalankan ibadah dan hidup kesehariannya. Pun jika Hadits—dalam kasus Islam misalnya, yang dijadikan tolok ukur, tetap saja itu hanya sebuah kabar. Bukan kebenaran itu sendiri. Jangankan mengetahui kebenaran, memahami tujuan kita dilahirkan saja sudah runyam.

Sejatinya, Kebenaran yang jelas paling Benar, hanya Dia saja yang tahu. Apa salahnya membiarkan setiap orang mencari jalan kebenaran yang sudah digariskan tuhan baginya. Apa susahnya menyadari bahwa kita semua sama tak tahu bahwa yang terbabar di alam semesta ini hanya senda gurau, lalu mengapa kita saling berbalahan mencabut pisau. Jika memang ada orang yang berani mengerangkeng kebenaran sedemikian rupa, tampaknya ia lebih pantas menjadi tuhan.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orangorang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. al-Anam [6]: 32)

Saat ini, sulit kiranya bagi kita menemukan kesantunan dalam beragama. Cinta dan welas asih yang menjadi spirit utama agama, menguap entah ke mana. Sementara anjuran itulah yang bertebaran di semua kitab suci agama manusia. Baik yang turun dari Langit (samawi), pun yang dianggit di bumi (ardhi). Sekadar menyegarkan pemahaman, berikut ini saya nukilkan sebuah kisah sederhana dari masa limabelas abad silam.

Seorang kepala kabilah di Yamamah—lahan subur pemasok bahan makanan bagi penduduk Makkah—yang secara sengit dan keji, getol memusuhi dan memerangi Islam, Tsumamah Ibn Ustal al-Hanafi, tertangkap oleh satuan pasukan di bawah komando Muhammad bin Maslamah. Selama ditawan kaum Muslimin di salah sebuah tiang Masjid Nabawi, Rasulullah Saw pun memperlakukan tahanan kakap pemimpin Bani Hanafi itu secara istimewa.

Kali perdana menemuinya, Rasulullah mengantarkan sarapan berupa susu dari onta miliknya sendiri, sambil menanyakan kabar, yang lalu dijawab, “Aku baik-baik saja, wahai Muhammad. Jika engkau ingin membunuh, berarti engkau akan membunuh seseorang yang masih memiliki darah. Jika engkau mau memberi makan, maka engkau memberi makan orang yang bersyukur. Jika engkau menghendaki harta benda, sebutkan saja, niscaya engkau akan mendapatkannya sesuai keinginanmu.” Pernyataan itu didiamkan saja oleh Rasulullah. Ia hanya mengulum senyum di wajahnya yang teduh.

Kejadian itu terus berulang sebanyak tiga kali, hingga kemudian Rasulullah berkata, “Lepaskanlah Tsumamah!” Maka para Sahabat pun melepasnya. Sambil terkejut melihat perlakuan Rasulullah yang di luar nalar manusia biasa, tanpa kata-kata, Ibn Ustal pun meninggalkan kawasan Masjid Nabawi—dengan seribu pertanyaan nirjawaban.

Ketika tiba di kebun korma dekat sebuah oase—tak jauh dari kawasan Masjid Nabawi, Ibn Ustal pun mandi, kemudian berbalik arah menuju Masjid Nabawi, menghadap Rasulullah lalu bersumpah, “Hai Muhammad! Demi Allah, tidak ada sebelum ini wajah yang paling kubenci di dunia selain wajahmu. Namun kini wajah yang paling kucintai adalah wajahmu. Demi Allah, tidak ada sebelum ini agama yang paling kubenci di muka bumi, selain agamamu. Kini agama yang paling kucintai adalah agamamu. Aku ingin naik kuda milikmu karena ingin melaksanakan umrah,” ujarnya mantap. Rasulullah pun mengabulkan permintaan itu dan meridhai Ibn Ustal berangkat umrah ke Makkah al-Mukarromah.

Kemerdekaan Manusia

Mengenang kelahiran sama dengan menelusur jejak kehadiran kita, dan akan ke mana kita setelah saat ini. Satu dua hari berlalu, tentu berbeda dengan satu dua tahun membeku—dalam kenangan. Kian rumit lagi jika sudah satu-dua dekade yang silam jadi sejarah waktu. Itulah kenapa bila melihat ke depan, terkadang tampak seperti menatap ke belakang.

Benarkah riwayat manusia abad ini tumbuh? Jika benar, kenapa yang terlihat malah kegalatan?Peradaban nampak maju berkembang. Namun kehidupan manusia mundur jauh ke belakang. Daya ingat manusia melemah. Wawasan semakin payah. Wacana tak lagi kritis. Jiwajiwa manusia mengering-menangis. Anakanak jadi lebih cepat dewasa. Sementara para orangtua berlomba lari ke masa lalunya. Sungai kehidupan kita menyusut jadi dangkal. Samudera ilmu menguap ke langit dan kembali ke asal.

Bela pati manusia kehilangan elan perjuangan. Tiada lagi yang bisa diharapkan kecuali harapan itu sendiri. Kita kesulitan membedakan kekeluargaan, kesukuan, kewargaan, kependudukan, kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan. Ditambah kerumitan meletakkan agama dan keyakinan di antara itu semua.

Sebagai bangsa, kita Indonesia. Maka lahirlah sebuah negara. Namun kelahiran bangsa Indonesia, belum berbanding lurus dengan kemerdekaan bangsa manusia untuk bertumbuh-kembang. Penjajahan di atas dunia belum benar-benar terhapuskan. Sebab manusia masih dijajah hidupnya sendiri. Hidup yang kian sulit ia mengerti.

Penulis adalah pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain terus membidani kelahiran buku-buku, juga bertugas sebagai Pemimpin Redaksi Majalah ARKA.
Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Sholawat, Kajian IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock