Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pelajar NU Gelar Diskusi Publik "Spirit Kartini"

Cirebon, IPNU Tegal Sekitar tiga ratusan peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, aktifis, dan santri dari wilayah Cirebon dan sekitarnya menghadiri diskusi publik bertema “Spirit Kartini di Mata Perempuan Masa Kini”.

Acara yang merupakan hasil kerjasama Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kabupaten Cirebon serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Biruni ini digelar di Aula Kampus II STID Al-Biruni, Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jum’at (26/4).

Pelajar NU Gelar Diskusi Publik Spirit Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Gelar Diskusi Publik Spirit Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Gelar Diskusi Publik "Spirit Kartini"

Selain sebagai refleksi dari peringatan hari Kartini, acara ini juga bertujuan untuk turut mengkampanyekan kedaulatan perempuan di segala bidang, dalam arti perempuan memiliki hak dan potensi yang setara dengan laki-laki di bidang pendidikan, ekonomi, dan politik. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wahyono, ketua PC. IPNU Kab. Cirebon.

IPNU Tegal

“Perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata, perempuan harus sama-sama diberi hak untuk mengolah potensi baik di bidang ekonomi maupun politik, terlebih lagi di dalam bidang pendidikan,” jelas Wahyono.

Hal senada disampaikan Putri Hidayani, Ketua PC. IPPNU Kab. Cirebon. Menurutnya acara diskusi publik tentang peran perempuan ini penting untuk digelar, karena dapat dijadikan sebagai media untuk membangkitkan semangat Kartini dalam hal memaksimalkan peran perempuan di tengah masyarakat.

IPNU Tegal

Berkesempatan hadir sebagai salah satu pembicara dalam diskusi publik ini Dr. Siti Fatimah, M. Hum, dosen ISIF dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dia memaparkan bahwa perjuangan Kartini sampai sekarang masih perlu diteruskan, karena masih terdapat banyak perempuan yang menjadi objek dan korban kekerasan. Meminjam data dari Komnas HAM 2013, terdapat 8.315 korban kekerasan , termasuk didalamnya 1.085 korban dalam pacaran. 

“Data yang dijelaskan adalah data yang masuk, dan masih banyak lagi yang belum diketahui. Ini potret perjuangan Kartini di era dewasa ini, untuk menghapus kekerasan dan menjadi subjek bukan objek,” ungkap Siti Fatimah.

Ny. Hj. Masriyah Amva, pengasuh pondok pesantren Kebon Jambu menambahkan tentang realita perempuan yang masih ditemui di kalangan pesantren, perempuan masih cenderung dinilai lemah dan harus bergantung kepada laki-laki.

“Sebagai perempuan, penting untuk selalu bercermin kepada lelaki yang kuat, juga kepada wanita tangguh dalam kehidupan ini,” tegas perempuan yang biasa disapa Yu Mas tersebut.

Selain dua pembicara di atas, diskusi publik ini juga melibatkan pembicara dari dinas kebudayaan, pariwisata, pemuda, dan olah raga (Disbudparpora) Kab. Cirebon, H. Asdullah Anwar, MM.

Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan hari Kartini yang digelar oleh pelajar NU Cirebon setelah sebelumnya melakuakn aksi tebar bunga bagi para pengendara yang melintas di sepanjang jalan Plered Cirebon, Ahad lalu.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Ahlussunnah, Internasional IPNU Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW

Memiliki istri lebih dari satu adalah salah satu budaya Arab saat itu. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun memiliki istri lebih dari satu. Salah satu konsekuensi memiliki istri lebih dari satu adalah kecemburuan yang dialami oleh salah satu istri dengan istri yang lain, termasuk para ummul mukminin (istri-istri Rasulullah SAW).

Walaupun Nabi Muhammad SAW ingin dan selalu berusaha keras untuk berlaku seadil-adilnya kepada para istrinya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada saja rasa cemburu yang melanda istrinya bahkan pada orang yang sudah tiada.

Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Cemburu Melanda Istri Nabi Muhammad SAW

Dalam hadits Bukhari dikisahkan bahwa Aisyah RA pernah cemburu kepada Siti Khadijah RA karena nabi sering menyebut-nyebut namanya dan sering memuji-mujinya di hadapan Aisyah RA. Walaupun saat itu Khadijah RA telah meninggal dunia, namun tetap saja Aisyah masih cemburu dengan Khadijah.

IPNU Tegal

Dalam hadits Bukhari juga, suatu hari nabi pulang ke rumah istrinya, yaitu Zainab binti Jahsy. Namun nyatanya di rumah, Aisyah sedang mempersiapkan sesuatu dengan Hafsah. Mereka berdua bersepakat untuk bilang kepada nabi bahwa ia mencium sesuatu yang tidak enak setelah pulang dari rumah Zainab.

IPNU Tegal

Setibanya nabi dari rumah Zainab.

“Nabi, aku mencium bau yang tidak sedap dari mulutmu? Apa yang engkau makan saat berada di sana?” tanya Aisyah kepada nabi.

Nabi pun menjawab, “Wahai Aisyah, aku hanya minum madu. Mana mungkin madu itu menjadikan mulutku berbau?”

Setelah bertemu Aisyah, nabi pun bertemu dengan Hafsah. Tanpa disangka oleh nabi, Hafsah pun mengatakan hal yang sama seperti Aisyah. Mendengar perkataan Hafsah tersebut, nabi masih tetap berkata sama.

“Tidak, wahai Hafsah. Aku hanya minum madu.”

Dari perkataan dua orang istrinya itu, nabi pun merasa bahwa mulutnya memang benar-benar bau. Sehingga nabi pun bersumpah untuk tidak meminum madu tersebut. Sumpah tersebut tidak lain dan tidak bukan hanya untuk membahagiakan kedua istrinya yang tidak suka dengan bau madu. Turunlah Al-Quran At-Tahrim ayat 1:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Wahai nabi, mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan kepadamu hanya karena ingin mengharap ridha istri-istrimu. Sungguh Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Bahkan kitab Durarul Mantsur karya As-Suyuthi menyebutkan bahwa ada kisah lain yang menjadi sebab turunnya ayat di atas selain kisah madu, yakni sebagaimana dikutip As-Suyuthi dari An-Nasai melalui riwayat Anas bahwa nabi memiliki seorang budak perempuan dan tidur dengannya. Kemudian hal tersebut diketahui oleh Aisyah dan Hafsah. Karena peristiwa itu, nabi akhirnya mengharamkan diri untuk tidur dengan budak perempuannya. Padahal saat itu hal itu dihalalkan oleh Allah. Dari situ lalu turunlah ayat di atas (At-Tahrim ayat1).

Dari kisah kecemburuan istri-istri nabi ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kecemburuan adalah sebuah keniscayaan bagi semua manusia tak terkecuali istri-istri Nabi Muhammad SAW. Namun, jangan sampai kecemburuan itu malah menjadi sebab datangnya murka Allah. Hanya karena kecemburuan seorang istri, suami harus melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Inilah yang menjadi sebab datangnya murka Allah. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah IPNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei

Jakarta, IPNU Tegal - Pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang itsbat bersama lintas ormas Islam dan para ahli perbintangan, Jumat (26/5) petang. Melalui forum tersebut, pemerintah secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 1438 H jatuh pada Sabtu, 27 Mei 2018.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, ketetapan ini didasarkan pada dua metode, yakni hisab dan rukyat. Menurutnya, hisab penting untuk memberikan informasi posisi hilal, namun hisab juga harus dikonfirmasi melalui praktik rukyat. Hilal berhasil terlihat di sejumlah titik, antara lain Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Kepulauan Seribu.

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei

“Maka dengan dua hal tadi, penghitungan (hisab) dan rukyat, seluruh peserta sidang besepakat malam ini sudah masuk 1 Ramadhan, dan Sabtu 27 Mei 2018 kita bisa mengawali puasa Ramadhan,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (26/5) malam.

IPNU Tegal

Ketetapan pemerintah ini selaras dengan prediksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah yang menyatakan, umat Islam sudah bisa memulai puasa Ramadhan pada Sabtu (275) besok.

IPNU Tegal

Hal tersebut berdasarkan hasil penghitungan astronomis Lembaga Falakiyah PBNU yang memungkinkan hilal terlihat pada Jumat tadi.

Data hisab Lembaga Falakiyah PBNU menyebutkan, posisi hilal markaz Jakarta pada 29 Sya’ban 1438 H berada pada ketinggian 8 derajat 26 menit 15 detik di atas ufuk. Peristiwa ijtima’ atau konjungsi berlangsung pada Jumat (26/5), pukul 02.45.47 WIB. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Ahlussunnah, Halaqoh IPNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

IPNU Berharap Media Jadi Perekat Masyarakat

Jakarta, IPNU Tegal. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama berharap media menjadi perekat sosial masyarakat, di tengah aparat penegak hukum yang tengah memproses dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Semua media elektronik atau cetak harus memberikan berita yang berimbang dan informasi yang benar kepada masyarakat.

"Kita mengapresiasi kinerja pihak kepolisian sehingga memiliki dasar yang kuat dalam memutuskan apakah kalimat yang diucapkan oleh Ahok dalam kunjungan kerjanya di Pulau Seribu itu benar-benar menghina Al-Quran dan agama Islam atau tidak," ucap? Ketua PP IPNU? bidang Advokasi Kebijakan Publik Ahmad Farikhul Badi’.

IPNU Berharap Media Jadi Perekat Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Berharap Media Jadi Perekat Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Berharap Media Jadi Perekat Masyarakat

Media memiliki peran yang sangat besar untuk menjaga kebhinekaan Indonesia, terlebih televisi yang hingga saat ini menjadi media yang dinikmati oleh mayoritas masyarakat.

IPNU Tegal

"Kita harus benar-benar mengedepankan fungsi penyiaran, dimana penyiaran terlahir sebagai media informasi,pendidikan,hiburan yang sehat serta menjadi kontrol dan perekat sosial," tambahnya.

IPNU Tegal

Lanjut dia, ?media elektronik harus berada di garda terdepan dalam memperkokoh integrasi nasional sebagai upaya menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam berbangsa dan bernegara.?

Disamping itu, PP IPNU? juga mendukung penuh pernyataan PBNU dalam menyikapi situasi dan kondisi terkini di tanah air, bahwa seluruh rakyat Indonesia bersatu padu senantiasa membangun ukhuwah dan memperkokoh ikatan kebangsaan.

"Kita dukung pernyataan PBNU dalam menyikapi kondisi terkini sehingga menjaga persatuan rakyat Indonesia," katanya.

Dalam proses gelar perkara penyelidikan kasus dugaan penistaan agama akan dilakukan secara terbuka kepada media dan pihak terkait oleh kepolisian?. Langkah yang diambil? dengan mendatangkan berbagai saksi ahli untuk memberikan masukan, saran dan pertimbangan kepada penegak hukum dinilai sudah tepat.

"Biarkan aparat penegak hukum menjalankan tugas dan fungsi sesuai dengan kewenangannya," katanya.

Pihak kepolisian jika mengeluarkan keputusan mengatakan, Ahok dinyatakan bersalah, maka semua pihak, khususnya pendukungnya harus bisa menerima dengan lapang dada. Sebaliknya apabila hasil pemeriksaan mengatakan Ahok dinyatakan tidak bersalah, maka semua pihak yang melaporkannya juga harus legowo menerima.

Pada akhirnya, sesuatu yang salah harus dinyatakan bersalah, dan yang benar harus dinyatakan benar sesuai dengan koridor hukum yang ada.

"Tidak bisa dibenarkan siapa pun melakukan main hakim sendiri atas tindakan seseorang, termasuk kasus dugaan penistaan agama ini lebih baik kita serahkan dan percayakan proses hukumnya kepada aparat penegak hukum," tuturnya.

Oleh sebab itu, ? semua pihak untuk menahan diri menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Terutama? kader IPNU jangan terpancing dengan munculnya berbagai isu yang justru akan memecah belah umat Islam. ?

"Semua kader IPNU dimana pun harus bisa menahan diri, jangan sampai terpancing dengan munculnya berbagai isu," tegasnya.? (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah IPNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Oleh? Rijal Mumazziq Z

Gula menjadi salah satu basis industri andalan kolonial Belanda pasca (hampir) bangkrutnya mereka akibat Perang Jawa, Perang Padri, dan Perang Aceh. Melalui sistem tanam paksa, penjajah menikmati kemakmuran di Hindia Belanda, apalagi dengan adanya sistem sewa tanah 70 tahun. Para bangsawan Jawa, misalnya, dengan ceroboh banyak yang menyewakan tanah-tanah leluhurnya untuk kepentingan industri gula, teh, kakao, dan kopi yang dikelola pengusaha Eropa. Mengenai kejamnya sistem kapitalis yang disokong feodalisme konyol ini bisa dibaca dalam novel "Max Havelaar"-nya Multatuli.

Dua dasawarsa sebelum pergantian abad 19 ? ke 20, pabrik gula didirikan di berbagai daerah. Semua menjadi mesin yang menggelembungkan kantong bangsawan Belanda dan mengeringkan keringat kaum pribumi. Mangkunegoro IV, tercatat sebagai salah satu raja Jawa terkaya, yang turut mendirikan beberapa pabrik gula untuk menopang ekonomi keraton, seperti PG Colomadu dan PG Tasikmadu. Di eranya, industri ini menjadi salah satu pabrik gula pribumi yang bersaing dengan industri gula milik kaum kolonial. Prof Wasino menjelaskanan seluk beluk industri gula yang dikuasai bangsawan Jawa, Mangkunegoro IV (dan sedikit ulasan mengenai pabrik milik Hamengkubowono VII dengan kepemilikan 17 pabrik gula itu) dalam "Kapitalisme Bumiputra", sebuah buku menarik soal industri gula di pergantian abad.

Berdirinya pabrik gula di beberapa daerah juga diiringi dengan berdirinya permukiman di dekatnya. Adanya permukiman alias tangsi bagi buruh pabrik yang berasal dari luar daerah juga diiringi dengan tumbuhnya bisnis haram seperti perjudian, penjaja minuman keras, hingga prostitusi terselubung tak jauh dari lokasi pabrik. Jadi, lazim terjadi manakala setelah menerima upah, mereka akan menandaskannya di meja judi maupun memberi saweran kepada penari yang merangkap pekerja seks.

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Lalu, bagaimana ulama kita menyikapi fenomena ini? Alih-alih hanya mencaci maki, dengan cerdas dan bijak, para ulama menyalakan pelita di tempat gelap ini. Maka, berdirilah pesantren-pesantren legendaris tak jauh dari pabrik gula.

Pondok Tebuireng berhadapan menantang Pabrik Gula Tjoekir. Ponpes Denanyar tak jauh dari PG Djombang Baru. Ponpes Lirboyo tak jauh dari PG Pesantren Baru. Ponpes Zainul Hasan Genggong tak jauh dari PG Padjarakan. Ponpes Salafiyah Syafiiyah berdekatan dengan PG Asembagoes. PP Assuniyah Kencong Jember berdekatan dengan PG Gunungsari. Ponpes Annur Bululawang Malang juga tak jauh dari PG Krebet.

IPNU Tegal

Dalam fakta lain, berdirinya pondok pesantren di dekat pabrik gula ini kelak juga menghambat pengaruh PKI di kalangan buruh pabrik. Kaum kiri memang mendominasi gerakan buruh pabrik dan jawatan kereta api. Aksi-aksi pemogokan buruh beberapa kali juga dimotori kaum kiri, khususnya era 1920-an dan 1930-an.

Dalam kasus pembantaian ulama di Madiun, 1948, PKI menggerakkan buruh PG Pagotan sebagai milisi yang menggorok Kiai Shiddiq dan beberapa ulama lain di desa Kresek. Bahkan KH Masyhudi, Mursyid Thariqah Syadziliyah, yang juga menantu Kiai Shiddiq, menjelaskan apabila sebelum dieksekusi, milisi PKI menggunakan salah satu bangunan di PG Pagotan sebagai ruang penyekapan.

Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, juga menjadi lokasi penyekapan para kiai, camat, pamong desa, lurah, mantri, dan ratusan orang lainnya pada September 1948 itu. Kemudian para tawanan ini dieksekusi dengan cara diberondong senapan mesin. Kiai Imam Shafwan dan putranya, Kiai Zubair dan Kiai Bawani, dikubur hidup-hidup setelah sebelumnya disiksa habis-habisan. Adapun Kiai Mursyid, pengasuh PP Sabilil Muttaqin Takeran Magetan, yang juga menjadi salah satu kawan diskusi KH Abdul Wahid Hasyim tatkala di BPUPKI, ikut dilenyapkan dan tidak diketahui makamnya. Para pelaku pembantaian ini, kabarnya adalah anggota serikat buruh pabrik gula Pagotan dan Rejosari yang didukung militer yang pro FDR.

Bisa dibilang, adanya pesantren di dekat pabrik gula menjadi penanda lanjutan Perang Jawa. Para cucu Laskar Diponegoro yang berdiaspora di pedalaman Jawa itu kemudian memilih melawan mesin kolonialisme Belanda bukan dengan cara yang frontal, melainkan dengan pencerdasan masyarakat yang terkonsentrasi di tangsi buruh maupun masyarakat sekitar pabrik.

IPNU Tegal

Langkah-langkah yang dilakukan oleh para kiai di atas memberikan sebuah hipotesa awal bahwa siyasah alias politik yang dilakukan dengan cara yang elegan dan cerdas akan bertahan lama!

Penulis adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Ahlussunnah IPNU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Madrasah Ini Peringati Rajaban dengan Karnaval Pakaian dari Sampah

Bojonegoro, IPNU Tegal. Para siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bahrul Ulum Desa Bulu, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (1/5/2014), mengadakan karnaval. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memperingati bulan Rojab.

Madrasah Ini Peringati Rajaban dengan Karnaval Pakaian dari Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Ini Peringati Rajaban dengan Karnaval Pakaian dari Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Ini Peringati Rajaban dengan Karnaval Pakaian dari Sampah

Salah seorang guru MI Bahrul Ulum dan juga ketua panitia kegiatan, Khoirul Anam mengatakan, karnaval ini dalam rangka memperingati bulan Rojab, serta hari kartini dan juga Hari Pendidikan Nasional (Hardikanas).

Acara tersebut diikuti seluruh siswa-siswi di lembaga tersebut, mereka mengenakan pakaian daur ulang, dari sampah di sekitar kita. "Karena banyak sampah di sekitar kita, sehingga oleh para siswa dimanfaatkan menjadi baju," terangnya.

IPNU Tegal

Para siswa dibantu guru bersama-sama, merangkai menjadikan pakaian bahan daur ulang tersebut. "Agar siswa belajar berkreasi, menggunakan bahan di sekitarnya," sambungnya.

IPNU Tegal

Rencananya kegiatan tersebut akan rutin dilakukan setiap memperingati hari besar Islam, maupun hari besar nasional lainnya. Diharapkan para siswa tahu dan memahami hari-hari tersebut.

Sementara itu, salah seorang siswa yang mengenakan pakaian daur ulang, Nurotun mengaku, membuat baju daur ulang tersebut bersama teman-temannya dan dibantu guru. "Agar sampah di sekitar dapat dimanfaatkan," pungkasnya.

Para peserta karnaval nampak bersemangat menyusuri jalanan desa setempat. Meskipun cuaca panas, para peserta tidak ada yang mengeluh. Pasalnya mereka bangga mengenakan pakaian berbahan daur ulang itu. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Ahlussunnah IPNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

LBH Ansor DIY Buka Posbakum

Yogyakarta, IPNU Tegal. Lembaga Bantuan Hukum LBH Ansor bekerjasama dengan Pengadilan Negeri Sleman dan Pengadilan Agama Sleman menyelenggarakan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di Pengadilan Negeri Sleman dan Pengadilan Agama Sleman bagi masyarakat miskin.

LBH Ansor DIY Buka Posbakum (Sumber Gambar : Nu Online)
LBH Ansor DIY Buka Posbakum (Sumber Gambar : Nu Online)

LBH Ansor DIY Buka Posbakum

Menurut Direktur LBH Ansor, Agus Suprianto, Posbakum merupakan program pemberian bantuan hukum cuma-cuma yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin yang sedang berhadapan dengan hukum melalui Organisasi Bantuan Hukum yang terakreditasi sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 16 tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2013.

LBH Ansor sendiri merupakan salah satu organisasi bantuan hukum yang mendapatkan akreditasi “A” di Indonesia oleh Kementerian Hukum dan HAM RI dan merupakan satu-satunya organisasi bantuan hukum yang terakreditasi “A” di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

IPNU Tegal

Menurut Kadiv Humas LBH Ansor Yogyakarta Muh. Jamal, warga yang ingin mendapatkan pelayanan Posbakum cukup mengajukan permohonan di Posakum PN Sleman/PA Sleman, dengan menyerahkan dokumen yang berkenaan dengan perkara hukum yang dihadapi dan mMelampirkan Surat Keterangan Miskin dari Lurah/Desa/Pejabat yang berwenang di tempat tinggal pemohon atau surat sejenis lainnya (Kartu Jamkesmas, Raskin, PKH, KPS, BLSM, dll).

Adapun jenis pelayanan yang disediakan antara lain konsultasi, pembuatan dokumen hukum (permohonan/gugatan, dll), pendampingan hukum baik di Pengadilan maupun di luar pengadilan. Waktu dan tempat pelayanan Senin-Kamis pukul 09.00-12.00 WIB di Pengadilan Negeri Sleman Jl. Merapi No.1, Beran.

IPNU Tegal

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Nusantara, Ahlussunnah IPNU Tegal

Ke Luar Kampung, GP Ansor Jatinegara Tegal Rapat Kerja di Kawasan Dieng

Tegal, IPNU Tegal - Ada yang berbeda dari gelaran Rapat Kerja Anak Cabang (Rakercab) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal. Rapat Kerja biasanya digelar di daerah sendiri, kali ini dalam suasana yang berbeda yakni sekaligus berwisata di kawasan wisata Dieng Kabupaten Wonosobo, Sabtu (11/11).

Rombongan PAC GP Ansor Jatinegara, Tegal di bawah pimpinan Abdul Aziz  berangkat  dari daerah asal pada Jumat (10/11) malam dengan menggunakan 4 mobil menuju kawasan Dieng. "Rombongan terdiri dari semua pengurus Ansor dan pembina dengan total sebanyak 30 orang," terang Pengurus PAC GP Ansor Jatinegara, Amar Budimas saat dihubungi IPNU Tegal.

Ke Luar Kampung, GP Ansor Jatinegara Tegal Rapat Kerja di Kawasan Dieng (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Luar Kampung, GP Ansor Jatinegara Tegal Rapat Kerja di Kawasan Dieng (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Luar Kampung, GP Ansor Jatinegara Tegal Rapat Kerja di Kawasan Dieng

Menurut Amar Budimas, GP Ansor adalah motor penggerak NU sekaligus wadah kaderisasi para calon pemimpin pemimpin NU. Oleh karena itu, Ansor harus intens berkomunikasi, menjalin silaturrahmi kepada para sesepuh NU dan seluruh stakeholder di semua tingkatan.

"Bahkan komunikasi dengan pemerintah setempat harus dimaksimalkan. Ini dalam rangka turut serta menjaga dan membangun NKRI tercinta," tandasnya.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Jatinegara Abdul Aziz mengatakan, rakerancab ini sebagai langkah awal GP Ansor Jatinegara dalam mewujudkan gerakan.

"Sebagaimana tema yang kami angkat, kebersamaan dan kekompakan seluruh kader PAC GP Ansor Jatinegara, harus tetap terjaga dari awal hingga akhir masa khidmah 2021 nanti," ujarnya.

Geliat organisasi GP Ansor Jatinegara, Tegal seakan lagi tinggi-tingginya, pascatiga bulan lalu dilantik di MDT Rhoutlotul Muttaqin Desa Sumbarang Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal.

Hal itu terbukti, usai acara Raker Anak Cabang rombongan Ansor Jatinegara langsung menuju Kajen, Kabupaten Pekalongan untuk turut menyuksekan gelaran Konferwil GP Ansor Jawa Tengah yang dihelat pada Ahad (12/11). (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah, Meme Islam, Kajian Sunnah IPNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

PBNU Mendorong Perubahan Paradigma Tata Kelola SDA di Indonesia

“Ada tiga macam sumber alam, itu harus direbut kembali, dipakai untuk memakmurkan Bangsa kita…Satu, sumber hutan; kedua, sumber pertambangan dalam negeri; tiga, sumber kekayaan laut.” [Gus Dur]

Muqaddimah

PBNU Mendorong Perubahan Paradigma Tata Kelola SDA di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Mendorong Perubahan Paradigma Tata Kelola SDA di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Mendorong Perubahan Paradigma Tata Kelola SDA di Indonesia

Konflik Sumber Daya Alam (SDA) adalah salah satu masalah terbesar di Indonesia. Berbagai konflik yang melibatkan banyak pihak baik antara perusahaan dengan warga maupun warga dengan aparat keamanan tak jarang diwarnai intimidasi dan kekerasan yang memakan korban pihak-pihak yang terlibat. Bahkan akibat meluasnya intensitas dan kedalaman konflik itu berlangsung, telah terbukti  menyebabkan kerugian sosial, budaya dan ekonomi yang tak ternilai harganya.

Kami menyadari bahwa sikap parsial dan reaktif dalam menyelesaikan konflik SDA tidak lagi memadai, tanpa mencari akar permasalahan konflik itu sendiri. Dalam pengelolaan sumber daya alam, sistem pengelolaan SDA yang sangat kapitalistik meletakkan korporasi sebagai pihak yang dominan dalam menentukan hitam-putih jalannya operasi dan pengelolaan tanpa mau mendengarkan aspirasi masyarakat setempat. Triad negara-korporasi-masyarakat yang tadinya dibayangkan memiliki kekuatan yang setara dengan negara sebagai regulator, pada kenyataannya tidaklah demikian. Korporasi mendominasi, diikuti oleh negara yang seringkali tunduk pada korporasi, dan masyarakat dalam posisi yang paling lemah. Hukum bukan cuma tidak ditegakkan, tetapi sudah menjadi bagian dari bagian penyuksesan penetrasi korporasi ini.

IPNU Tegal

Dalam banyak kasus korporasi mengklaim diri telah berkonsultasi dengan rakyat setempat melalui penyusunan dokumen usaha seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Namun kenyataannya bentuk partisipasi warga yang dimaksud adalah mobilisasi sekelompok orang demi memenuhi tertib prosedural AMDAL, tanpa menyentuh substansi masalah orientasi pembangunan yang melibatkan rakyat. Sistem ekonomi kapitalisme memang membuka keran partisipasi, tapi faktanya itu tak lebih untuk kelanggengan ekspansi kapital itu sendiri. Partisipasi hanya pelengkap, bukan inti dari bagaimana sebuah arah pembangunan/kebijakan yang berhubungan dengan orang banyak diputuskan.

IPNU Tegal

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki tujuan di bidang ekonomi untuk “mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat” memandang bahwa tata kelola SDA demikian itu sangat tidak adil dan mengkhianati cita-cita ekonomi yang termaktub dalam UUD 1945. Dan tak ada jalan lain, kita harus menilik ulang Tata kelola SDA yang amburadul tersebut dan mencari upaya untuk membangun paradigma baru Tata Kelola Sumber daya alam (SDA) yang mampu menjamin sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka dengan ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA) dan elemen-elemen masyarakat sipil menyatakan sikap untuk:

1. Mendukung sepenuhnya aksi warga Rembang dalam menuntut penghentian pendirian Pabrik Semen di Kabupaten Rembang, atas pertimbangan besarnya daya rusak ekologis yang dialami masyarakat setempat di masa yang akan datang.

2. Menyerukan kepada aparat untuk mengusut kasus-kasus intimidasi terhadap penduduk di sekitar wilayah tambang dan memperlakukan para pemrotes secara manusiawi dengan sungguh-sungguh menjamin perlindungan hak-hak asasi mereka

3. Menyerukan kepada Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Rembang untuk menghentikan semua kegiatan PT. Semen Indonesia di Rembang dan operasi perusahaan-perusahaan tambang lainnya di wilayah Kabupaten Rembang untuk kemudian dilakukan audit lingkungan secara menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan tersebut

4. Mendukung sepenuhnya upaya yang dilakukan oleh Gerakan Samarinda Menggugat (GSM) dalam menegakkan kedaulatan lingkungan bagi warga kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur.

5. Mendukung langkah-langkah bagi digelarnya pembicaraan yang substansial menuju konsensus nasional tentang paradigma tata kelola ekonomi SDA secara komprehensif demi menjamin terlaksananya asas kepentingan rakyat banyak dan pemeliharaan lingkungan hidup.

6. Demi kepentingan konsensus nasional tersebut di atas, maka di perlukan langkah-langkah perubahan paradigma tata kelola sumber daya alam. Karena itu, kami  mendesak pemerintahan nasional yang akan datang untuk membentuk suatu instansi yang menangani permasalahan konflik sumber daya alam (SDA) di seluruh Indonesia. Tugas pertama dari instansi ini adalah me-review semua bentuk perizinan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.  

7. Mendorong pemerintah untuk membentuk badan konstitusi di bagian hulu sebelum perumusan rancangan undang-undang agar fungsi MK yang berada di hilir dan pasif, tertutupi di daerah “hulu” menjadi aktif dan preventif agar produk hukum sesuai dengan rel konstitusi.

8. Mendorong pemerintahan nasional untuk menginisiasi pengadilan lingkungan dengan salah satu tugas utamanya melakukan eksaminasi terhadap dokumen AMDAL. Hal ini sekaligus untuk mengantisipasi pendangkalan makna “partisipasi” dalam penyusunan dokumen AMDAL, dimana selama ini “partisipasi” telah berubah menjadi “mobilisasi,” prosedural, dan meminggirkan kualitas dan substansi partisipasi itu sendiri.

9. PBNU menginstruksikan jajaran NU untuk berperan aktif dalam pengawasan praktek-praktek ekstraksi SDA di lingkungan masing-masing dalam konteks memperjuangkan kepentingan rakyat banyak dan memelihara kemaslahatan alam.

Demikian pernyataan ini disusun sebagai bahan acuan dan pertimbangan bagi semua pihak terkait.

 

Jakarta, 15 Agustus 2014

Inisiator pertemuan:

1. KH Yahya Staquf Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

2. KH Abbas Muin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  (PBNU)

3. M. Imam Aziz Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  (PBNU)

4. Mas Ubaidillah  Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA)

5. Bosman Batubara Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA)

6. Roy Murtadlo  Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA)

Pendukung:

KH. Masdar F Masudi (Rais Syuriyah PBNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah, IMNU IPNU Tegal

Destinasi Wisata Alami Jadi Andalan Banyuwangi

Banyuwangi, IPNU Tegal. Memiliki sejumlah tempat wisata yang menjadi jujugan para pelancong, tidak selamanya harus dengan mendirikan bangunan baru. Lewat sentuhan kreativitas dan memanfaatkan bangunan dengan konsep berbasis alam, ternyata juga bisa menjadi pilihan.

Setidaknya itulah yang dapat disaksikan di beberapa destinasi wisata di kawasan Banyuwangi. "Kami memanfaatkan bahan alami untuk membangun beberapa wahana wisata," kata Abdullah Azwar Anas, Sabtu (4/11).

Destinasi Wisata Alami Jadi Andalan Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Destinasi Wisata Alami Jadi Andalan Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Destinasi Wisata Alami Jadi Andalan Banyuwangi

Penjelasan tersebut disampaikan Bupati Banyuwangi ini saat mengantarkan peserta Konferensi Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur di Pondok Indah, Desa Pereng, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

"Bangunan yang ada ini terbuat dari kayu, demikian pula ornamen lainnya," kata mantan Ketua Umum PP IPNU tersebut. Bupati Anas kemudian menunjukkan tumpukan batu yang dijadikan jalan menuju Pondok Indah.

Konsep wisata alami ternyata banyak mendapatkan apresiasi dari sejumlah wisatawan. "Baik dalam maupun luar negeri," ungkapnya.

IPNU Tegal

Dalam paparan pria yang juga sebagai Ketua PW ISNU Jatim tersebut mengajak masyarakat setempat untuk memanfaatkan keindahan alam untuk dikelola sebagai destinasi wisata. Tercatat, sejumlah rumah penduduk yang telah disulap menjadi penginapan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.

"Imbasnya, taraf hidup masyarakat di sini mengalami peningkatan yang membanggakan," katanya.

IPNU Tegal

Kota paling timur di pulau Jawa ini juga menggunakan pendekatan yang lebih substansial dalam mengurangi penyakit masyarakat seperti prostitusi.

"Kita tidak menggunakan peraturan daerah syariah, namun lebih mengedukasi masyarakat," ungkapnya. Bahwa mengurangi tersebarnya penyakit kelamin dapat dilakukan lewat penjelasan yang disampaikan sejumlah tenaga kesehatan, lanjutnya.

Dia juga menceritakan sejumlah perdebatan yang mengemuka di masyarakat ketika akan diberlakukannya peraturan daerah berbasis syariah. "Baik yang pro maupun kontra," terangnya. Karena itu, yang lebih ditekankan di wilayahnya yakni dengan tidak terlalu larut dalam bungkus berupa aturan, melainkan strategilah yang lebih dikedepankan.

Di akhir paparannya, Bupati Anas berpesan kepada peserta konferensi untuk dapat meniru konsep pembangunan wisata alami di daerah masing-masing. "Pengalaman selama di sini bisa juga diterapkan di kawasan anda semua," pungkasnya. 

Konferensi PW ISNU Jatim berlangsung Sabtu hingga Ahad (4-5/11). Di sela kegiatan tersebut, Bupati Anas mengajak peserta yang berasal dari sejumlah kota dan kabupaten se-Jatim ini mengunjungi tempat wisata. Termasuk melepas anak penyu atau tukik di pantai Boom. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah, Aswaja IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Oleh Nadirsyah Hosen

Allahu Akbar sekarang menjadi guyonan. Takbir sering diplesetkan jadi take beer. Ucapan Takbir sering dianggap sebagai ciri Islam garis keras, yang sedikit-sedikit teriak Takbir disela orasinya. Bahkan di masyarakat Barat istilah Takbir dikenal akibat para teroris meneriakkannya sebelum menjalankan aksi terornya.

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Tiba-tiba kita hidup di jaman dimana ucapan Takbir menjadi begitu disalahmemgerti dan dikelirutafsirkan, baik oleh umat Islam maupun oleh non-Muslim. Dan harus diakui pihak Muslim berkontribusi besar atas kesalahpahaman ini. Takbir menjadi sesuatu yang menakutkan atau malah menjadi bahan plesetan. Mari kita kembalikan makna Takbir yang sesungguhnya.

Takbir itu adalah membesarkan Allah. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Maha Besar dari apa? dari alam semesta ini, dari segalanya, termasuk dari berbagai problem yang kita hadapi, dari segala ucapan yang menghina, dari segala pembangkangan makhluk.

Saat kita memulai shalat dan mengucapkan Allahu Akbar, maka itulah garis pemutus anrara kita dan dunia. Kita miraj ke hadapan Allah lewat ucapan takbir. Kita tinggalkan semua urusan dunia, tak kita pikirkan urusan hutang piutang, beban berat kerjaan, bahkan jomblo pun tak lagi hirau nasib ngenesnya saat Allahu Akbar diucapkan memulai shalat.

IPNU Tegal

Kita besarkan Allah, kita kecilkan diri kita. Siapa yang bertakbir maka dia tidak akan punya sifat kibir alias takabur. Dia paham sesungguhnya bahwa dirinya tidak berarti apa-apa di depan kemahabesaran Allah. Keangkuhan diri musnah seketika bersama Takbir.

Yang terjadi sekarang sebaliknya, ucapan Takbir dipakai untuk membesarkan diri kita, dan mengecilkan pihak lain. Takbir maknanya bergeser seolah menjadi "lihatlah betapa kami mayoritas, kami berkuasa penuh, dan kami bisa bertindak apapun atas kalian".

?

IPNU Tegal

Takbir sekarang lebih ditujukan kepada mereka yang kita anggap sebagai musuh Allah ketimbang kita tujukan untuk muhasabah diri kita sendiri. Alih-alih membesarkan Allah, saat ini ucapan Takbir justru dipakai untuk menakbirkan diri kita sendiri. Naudzubillah.

Tiba-tiba ucapan Takbir menjadi menakutkan. Dipakai untuk melibas yang berbeda, digunakan untuk membenarkan tindakan apapun termasuk membully atau memfitnah pihak lain. Takbir seolah mewakili kemurkaan Allah, padahal Allah gak ada urusannya dengan kemarahan dan ketersinggungan kalian. Kata Gus Mus, "disangkanya kalau kalian marah, terus Allah yang al-Rahman dan al-Rahim itu juga pasti marah?"

Allah Maha Besar itu tidak menakutkan. Allah Maha Besar itu mengayomi semuanya di dalam kemahabesaranNya. Allah Maha Besar itu memberi hak hidup dan rejeki bahkan kepada mereka yang menentangNya. Allah Maha Besar itu tidak terhina sedikitpun jikalau semua penduduk dunia melecehkanNya. Tidak berkurang kadar keagunganNya sedikitpun kalau tak satupun mau menyembahNya.

Maka sesiapa yang mengucap Takbir, sejatinya dia akan merunduk dan merendahkan diriNya di depan kemahabesaran Allah. Yang mengucapkan Takbir dia akan merangkul semua makhluk ciptaan Allah. Yang ber-takbir akan mengakui bukan kita yang menentukan nasib sesama tapi hanya Allah!

Mari kita kembalikan makna Takbir ke makna yang hakiki, agar ucapan Takbir tidak dianggap simbol kekerasan umat dan menjadi guyonan belaka. Ucapan Takbir harus diletakkan secara proporsional agar kita dan semuanya sama-sama mengerti makna yang sebenarnya.***

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara, Ahlussunnah IPNU Tegal

Selasa, 28 November 2017

Kisah Pemimpin Menolak Harta dari Rakyatnya

Tak setiap niat baik berbuah baik. Demikianlah yang dialami salah seorang pengusaha dalam hikayat klasik seperti diceritakan dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Mungkin karena merasa memiliki harta lebih, suatu ketika pengusaha itu menyerahkan harta upeti atau pajak di luar jumlah biasanya. Setiap tahun ia membayar pajak dengan nominal lebih besar.

Kisah Pemimpin Menolak Harta dari Rakyatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pemimpin Menolak Harta dari Rakyatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pemimpin Menolak Harta dari Rakyatnya

Tak berselang lama, kabar ini segera hinggap di telinga Raja Kisra. Alih-alih gembira, sebagai penguasa saat itu sang raja justru memerintahkan jajarannya untuk menolak keras pajak tambahan tersebut. Tak hanya itu, ia juga menjatuhi hukuman "disalib" bagi pengusaha itu.

IPNU Tegal

Kata Kisra, "Setiap raja atau pemimpin yang mengambil harta rakyatnya secara zalim tak akan meraih keberuntungan selamanya. Keberkahan tanah airnya sirna dan menjadi bencana bagi dirinya."

"Keberadaan raja ditopang oleh kekuasaan. Kekuasaan ditopang oleh tentara. Tentara ditopang harta kekayaan. Kekayaan ditopang teritori negara. Dan Teritori negara ditopang oleh keadilan pada rakyat dan perdamaian," sambung sang raja.

IPNU Tegal

Manakah yang lebih utama bagi seorang raja, keberanian atau keadilan? Orang bijak bestari berucap, "Ketika pemimpin sudah berlaku adil, keberanian tak lagi dibutuhkan." (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah IPNU Tegal

Selasa, 21 November 2017

JK Janji Tak Bedakan Sekolah Umum-Madrasah

Malang, IPNU Tegal. Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla berjanji tidak akan membedakan antara pendidikan atau sekolah umum dengan madrasah karena keduanya sama-sama membutuhkan perhatian.

"Saya dan Pak Jokowi akan berusaha memperhatikan dua model pendidikan ini. Hanya saja, strukturnya yang harus diperbaiki, sebab masyarakat kita tidak hanya membutuhkan pendidikan saja, tapi juga kesehatan, peningkatan infrastruktur serta faslitas dasar lainnya," tegasnya ketika memberikan sambutan pada silaturrahmi dan halalbihalal Muslimat NU se-Jatim di pesantren Bahrul Maghfiroh Malang, Sabtu.

JK Janji Tak Bedakan Sekolah Umum-Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
JK Janji Tak Bedakan Sekolah Umum-Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

JK Janji Tak Bedakan Sekolah Umum-Madrasah

Ia mengatakan tugas pemerintah bagaimana membuat masyarakat bisa mendapatkan fasilitas dan kebutuhannya terpenuhi secara layak. Namun, di luar itu, bagaimana cara masyarakat memberdayakan diri sendiri.

IPNU Tegal

Sementara itu, Ketua Umum PP Muslimat Nahdatul Ulama, Khofifah Indar Parawansa, menilai pendidikan di pesantren dan madrasah kurang mendapat perhatian dari pemerintah, karena itu Muslimat NU berharap pemerintahan baru dibawah pimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) lebih memperhatikan pesantren dan madrasah.

IPNU Tegal

"Saya berharap kartu Indonesia Pintar yang bakal digulirkan pemerintahan Jokowi-JK ini tidak hanya berlaku untuk siswa di sekolah umum, tapi juga untuk madrasah dan pesantren," kata Khofifah.

Menurut dia, selama ini ada dua lembaga yang mengelola pendidikan, yakni Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag). Kemendikbud mengelola pendidikan umum, dan Kemenag mengelola madrasah dan pesantren.

Selama ini, tegasnya, pendidikan umum mendapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tapi madrasah hanya mendapat Bantuan Operasional Madrasah (BOM) saja. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pondok Pesantren, Kajian Islam, Ahlussunnah IPNU Tegal

Jumat, 17 November 2017

Syukuran UIJ, Ribuan Warga Jember Bersholawat

Jember, IPNU Tegal. Ribuan warga nahdliyyin membanjiri halaman kampus Universitas Islam Jember (UIJ), Sabtu (1/11) malam.  Mereka mengikuti  sholawatan untuk memperingati haul masyayikh dan dies natalis ke-30 perguruan tinggi milik NU Jember.

Syukuran UIJ, Ribuan Warga Jember Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukuran UIJ, Ribuan Warga Jember Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukuran UIJ, Ribuan Warga Jember Bersholawat

Sholawatan bertajuk "UIJ Bershalawat" itu dipandu puluhan jamaah sholawat  Al-Amin, Ambulu asuhan KH Imam Ghazali. Tampak hadir dalam sholawatn Rais Syuriyah PCNU Jember KH Muhyiddin Abdusshomad, Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin, dan para kiai sepuh.

KH Abdullah yang biasa disapa Gus Aab itu menyatakan, pihaknya terharu atas hadirnya ribuan nahdliyin di kampus tersebut. Menurutnya, hal itu  sangat membanggakan karena menandakan bahwa warga NU mencintai dan merasa memilki UIJ.

IPNU Tegal

"Kami ingin mengembalikan UIJ ke pangkuan warga NU. Kalau bukan warga NU, siapa lagi yang mau membesarkan UIJ," ujarnya.

IPNU Tegal

Ketua Yayasan Pendidikan NU Jember ini melanjutkan, seharusnya di usianya yang ke-30, UIJ lebih maju dari sekarang. Apalagi mayoritas penduduk Jember adalah warga NU, yang secara moral ikut bertanggung jawab untuk membesarkan NU.

"Namun faktanya, anak-anak NU masih relatif sedikit yang sekolah di UIJ," tukasnya seraya menghimbau agar segenap elemen NU ikut membesarkan UIJ.

Sementara itu, Rektor UIJ, Dodiek Sutikno mengaku gembira dan bangga dengan sambutan warga NU. "Baru kali ini saya melihat ribuan warga hadir di UIJ untuk syukuran dies natalis," ungkapnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal IMNU, Budaya, Ahlussunnah IPNU Tegal

Kamis, 16 November 2017

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis

Pasuruan, IPNU Tegal. Tidak banyak kiai yang memiliki waktu dan kemampuan dalam menulis buku. Tapi kiai ini tidak semata menuangkan gagasan keagamaan lewat buku, juga membagikan karyanya secara cuma-cuma kepada masyarakat.

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sholeh Bahruddin Tradisikan Menulis dan Membagikan Buku Secara Gratis

Dialah KH Sholeh Bahruddin, Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Sengonagung, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur. Baginya, menulis buku adalah sebagai panggilan jiwa sekaligus ingin meniru tradisi agung yang telah dilakukan para ulama terdahulu.

"Saya ingin meniru pengarang kitab Fathul Qarib, Fathul Muin dan lain-lain," katanya kepada sejumlah Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (PW LFNU) Jawa Timur.

IPNU Tegal

Penegasan ini disampaikan Kiai Sholeh, di sela-sela acara Pendidikan dan Latihan (Diklat) falakiyah akhir pekan lalu yang diikuti ratusan peserta dari PC LFNU, utusan pesantren, pejabat kementerian agama, serta dosen sejumlah perguruan tinggi di pesantrennya.

Ia menandaskan, para pengarang kitab atau muallif tempo dulu tidak sekedar menulis kitab, juga tidak berkenan menerima dan meminta royalti dari karya yang telah dibuat. "Justru dengan tidak meminta royalti seperti ini, maka manfaat karya-karya mereka bisa bertahan ratusan tahun bahkan hingga sekarang," tandas  Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan ini.

IPNU Tegal

Kepada setiap peserta diklat falakiyah, Kiai Sholeh memberikan secara gratis buku berjudul Ensiklopedi Fikih Jawabul Masail Bermadzhab Empat. Buku setebal 572 halaman dan dicetak dengan hard cover ini disusun bersama para santri. Isinya adalah tentang tanya jawab hukun Islam terhadap berbagai masalah berdasarkan sudut pandang keagamaan. Mulai dari masalah internasional, kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, akidah, hinga persoalan amaliah ibadah sehari-hari.

Menurut Kiai Sholeh, buku-buku hasil karangannya memang sengaja dicetak dan dibagi-bagikan secara gratis. Bahkan  sudah didownload di situs pesantren dan dapat dimanfaatkan oleh siapapun tanpa batas. "Yang penting asas manfaat. Boleh diperbanyak dan tidak perlu izin," ungkapnya. Ia menandaskan, kalau hendak diterbitkan lagi maka identitas Pesantren Ngalah sebagai penerbit bisa dihilangkan.

Kiai Sholeh dan pesantren yang diasuhnya telah mentradisikan kegiatan menyusun, menerbitkan dan membagikan buku secara gratis sejak lama. Judul dan bahasan dari buku yang dihasilkan juga bervariasi. "Saya mendidik para santri agar memiliki kemampuan menulis dengan baik," ungkapnya. 

Tidak hanya itu, kepada seluruh pengurus PW LFNU Jatim saat itu, Kiai Sholeh juga menghadiahkan satu buku dengan judul Sabilus Salikin. Buku setebal 791 halaman tersebut berisi tentang ensiklopedi tarekat yang berjumlah 31 aliran. Selain itu, di bagian awal dan akhir buku dijelaskan tentang esensi tasawuf dan tarekat serta tanya jawab masalah tarekat.

"Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi jawaban atas berbagai tuduhan terhadap tasawuf dan pengamal tarekat, semakin banyak yang memanfaatkan buku tersebut tentu kian baik,” pungkas kiai yang juga mursyid tarekat ini. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah, Santri IPNU Tegal

Rabu, 15 November 2017

Jaranan

Pelepah pisangku patah, cemetinya juga sudah pecah. ‘’Hya..hya..hya…,’’ sesekali kami teriak riang.

Pohon-pohon pisang yang tumbuh di sekitar rumah memudahkan anak-anak mendapat barang semacam itu. Mereka bebas tertawa, gembira, lalu bercanda sembari berjoget memukul udara. ‘’Hya..pltar..pltar!’’ kembali terdengar teriakan diiringi suara cambuk yang kami mainkan.

Jaranan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaranan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaranan

Masa kecilku yang indah, Lerang Gunung Slamet saat itu masih pertengahan musim penghujan. Tanah terjal serta bebatuan kering kerap meluncur ke bawah dengan sendirinya secara tiba-tiba. Bergulingan lalu menghantam dataran dimana anak-anak seusia kami sedang asyik bermain.

Awas Rozak! ada batu meluncur ke arahamu, seru Subekhi mengingatkanku sewaktu kami asyik bermain. Waktu itu, kami masih duduk di bangku SD kelas empat. Tiap pulang sekolah, kami menyempatkan untuk bermain apa saja sebelum akhirnya bapak ibu kami mencari

IPNU Tegal

kesana-kemari.

Bekhi ibumu datang tuh, kamu pasti dimarahi nanti, kataku memberi tahu kedatangan seorang wanita setengah baya yang ternyata ibunya Subekhi.

IPNU Tegal

Anwar yang sedari tadi hanya terdiam tiba-tiba menyarankan agar Bekhi cepat-cepat sembunyi. Dia pun menyelinap di antara puluhan pohon pisang. Sembari bersungut, Bekhi tampak sekali terganggu dengan kedatangan ibunya.

Kalian pasti main jaranan lagi ya! Dimana Subekhi sudah jam dua siang kok belum sampai rumah?” tanya Bu Jamilah kepada kami berdua.

Kembali Anwar menjawab spontan, Dia mengatakan kalau Subekhi mendapat tugas khusus dari guru kesenian di sekolah, sehingga tidak bisa pulang bersama mereka. Anwar juga menjelaskan kalau Bekhi merupakan salah satu siswa yang bakal mewakili sekolah pada kejuaraan

seni di tingkat kecamatan.

Alasan! Pokoknya saya tidak mau kalau kegiatan berjoget sambil makan beling dianggap sebagai seni, apalagi Bekhi yang melakukan, titik! katanya sambil beranjak pergi meninggalkan kami.

Aku dan Anwar hanya bisa saling pandang sembari tersenyum kecil. Kami berdua sama-sama heran, sebab sampai sebesar itu ketidaksukaan ibunya Si Bekhi pada yang namanya jaranan. Terlihat Anwar membisu sembari memukul-mukulkan pelepah pisangnya pada sebuah batu.

Sebentar kemudian Bekhi keluar dari pesembunyian. Dia berjingkat sesekali tampak menoleh kesana-kemari. Itulah Rozak, ibuku melarang keras permainan jaranan ini, katanya mengeluh.

Bahkan, lanjut Bekhi, demi menjauhkannya dari kesenian tradisional jaranan, ibunya berencana memindah sekolah Bekhi ke Jakarta. Kebetulan di sana terdapat saudara misan bapaknya.

Apa?! Kamu mau dipindah ke Jakarta? lantas mau jadi apa…?! teriak Anwar kaget.

Iya, aku sendiri tidak tahu kenapa sampai seperti itu, jawab Bekhi menunduk.

‘’Memang apa sih yang dilihat ibumu dari jaranan?’’

‘’Syirik katanya,’’ jawab Rozak tertunduk.

***

Hari itu, lidahku kembali merasakan nikmatnya secangkir kopi buatan ibuku. Setelah seharian bergelut dengan lumpur sawah. Usai membersihkan mata cangkul, kusandarkan tubuh pada tiang gubuk. Hembusan angin segar mulai merayu, akalku membayangkan masa lalu. Masa dimana anak-anak kampung masih suka bermain jaranan. Dan sekarang, hampir tidak pernah lagi

dijumpai permainan itu. Anak-anak kampung lebih memilih playstation.

Bekhi, nama yang cukup lekat dalam ingatan. Teman sejawat sejak kecil itu hampir 15 tahun lebih tak lagi bertemu. Kabarnya, Bekhi sudah selesai kuliah di salah satu peguruan tinggi ternama di Jakarta. Tidak tahu lagi apa sekarang pekerjaannya, atau apakah masih ingat sewaktu sering bermain jaranan di areal perkebunan, lalu sekonyong-konyong ibunya dating sambil memainkan telunjuk, mengomel.

Pukul empat sore aku bergegas meninggalkan sawah, sebelumnya kututup kembali aliran air dari anak sungai induk. Kebiasaan masyarakat desa semacam ini tidak bisa dirubah, setiap kali mereka hendak meninggalkan area persawahan, kebiasaan yang tak bisa dihilangkan

adalah mengecek kembali saluran air. Maklum sungai kecil sepanjang persawahan merupakan ruh tanaman padi ratusan petani di desa kami. Mereka benar-benar merawatnya termasuk dalam hal pemakaian yang dilakukan secara bergilir.

Kalau tidak begitu bisa terjadi perang sabit Dik Rozak, kata Pak Udi, tetangga sekampung yang

memiliki petak sawah di ujung sebelah timur desa kami. Pak Udi yang ramah, santun, memang menjadi panutan para petani di desa. Dia tergolong petani sukses, dengan kemahirannya bercocok tanam kami banyak belajar dari caranya mengolah lahan pertanian. Selain itu, Pak

Udi juga tak segan membagi pengetahuannya kepada kami. Sehingga masalah sekecil apa pun terutama yang berkaitan dengan pertanian kami bicarakan dengannya. Termasuk masalah irigasi.

Tumben jam segini baru pulang dik, tadi ada yang mencari kamu tuh. Kebetulan ibumu juga lagi ikut pengajian di kantor desa, kata Pak Udi yang sore itu sedang duduk di teras rumahnya sembari menikmati secangkir kopi.

Iya Pak Udi, aliran airnya kecil jadi mesti menunggu berjam-jam, kataku.

Maklumlah Dik, mendekati musim kemarau seperti ini air mulai sulit didapat jadi harus bersabar memang, tambah Pak Udi.

Kira-kira Bapak kenal siapa yang mencariku barusan.

Itu lho ..., Si Subekhi teman masa kecilmu dulu, anaknya Bu Jamilah yang sekarang sekolah di Jakarta, jawab Pak Udi.

Sambil mengucapkan terima kasih aku segera menuju ke rumah yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumah Pak Udi. Mendengar nama Bekhi disebut kembali bayang-bayang masa lalu melintas. Bergegas aku membersihkan badan kemudian beranjak ke rumah Bekhi. Ternyata Bekhi sedang tidak berada di rumah, Bu Jamilah mengatakan kalau anaknya sedang keluar bersama Anwar . Tidak salah lagi mereka pasti sedang berada di lereng. Aku berguman sambil berlari kecil menuju lereng yang dahulu kerap menjadi tempat kami bermain jaranan.

Dugaanku benar, suara tawa mereka terdengar jelas sewaktu aku hampir sampai ke tempat tersebut. Bahkan, kali ini bukan jaranan yang mereka mainkan melainkan membakar setumpuk kayu yang menimbulkan asap pekat.Sementara tampak dua ekor ayam telanjang kaku di atas

perapian yang mereka buat.

Wah jaranan sekarang tak lagi makan beling ternyata, tetapi ayam, kataku di sambut tawa lebar kedua sahabatkku. Kami pun saling berangkulan. Bekhi tampak jauh berbeda, dia kini terlihat gagah tidak lagi ingusan seperti waktu main jaranan dulu, 15 tahun lalu. Penampilannya pun cukup nyentrik dengan rambut gondrong, celana jeans ketat serta t-shirt hitam. Sedikit cambang tumbuh di bawah dagunya menandakan Bekhi pamuda yang keras keinginan seperti masa

kecilnya dahulu.

Bekhi bagaimana kabarnya di Jakarta, masih ingat jaranan yang sering kita mainkan tidak? tanyaku mengajaknya bernostalgia.

Yah, jaranan di Jakarta jauh berbeda dengan yang ada di desa kita. Di sana tidak hanya beling yang dimakan, melainkan kayu glondongan, pajak, uang rakyat, bahkan seisi laut dan tambang minyak pun dilahap.

Kata-kata Bekhi membuat kami berdua bingung. Kami bahkan sangsi apakah ini Bekhi teman kami. Lantas mengapa jawabannya ngelantur tidak karuan. Apakah ini pula bukti ketidaksukaan ibunya bila melihat kami bermain jaranan. Mungkin khawatir nanti melahap kayu gelondongan, blandar atau tiang rumah kami yang terancam habis dimakan. Ataukah Bekhi hanya bercanda?

Tidak, sejak kecil Bekhi jarang bercanda. Bahkan dia kerap menangis bila kami bertiga mengajaknya bercanda, ini pasti mengandung makna. Maklum, Aku dan Anwar hanya lulusan sekolah dasar di desa sehingga sulit memahami perkataan mahasiswa semacam Bekhi. Tak terasa

mata kami berdua tertuju pada dua ekor ayam yang sudah mulai kaku mengering diranggas bara.

Apakah ini pertanda kita juga akan melakukan hal yang sama, sebab saat ini di depan kita tergolek dua ekor ayam siap disantap. Mungkin besok kita panggang kambing, kemudian kerbau, lalu gajah, lalu seisi laut, dan memakannya dengan kayu-kayu jati di sekeliling kita ini, ujar Anwar menduga.

Bekhi tidak merespon, dia justru mencukil sayap ayam yang sudah kelihatan gosong. Sejenak kemudian dioleskan ke mangkuk berisi bumbu kecap yang sudah disiapkan lantas dilahapnya.

Kalau begitu kita tidak usah lagi main jaranan, anak-anak kecil di desa ini juga dikasih tahu kalau bermain jaranan itu berbahaya karena kusen-kusen rumah penduduk terancam dimakan, tutur Rozak menambahi.

Lho, kenapa anak-anak mesti dilarang, justru itu kebudayaan yang menjadi kebanggaan desa ini. Aku lihat sekarang justru jarang jaranan dimainkan, kata Bekhi yang lagi-lagi membuat kami kebingungan.

Lantas bagaimana dengan pohon-pohon jati di kampung kita, kusen-kusen rumah penduduk, iuran desa tiap pekan yang ditarik Pak Udi. Bukankah itu akan habis dimakan mengingat jaranan sekarang bukan hanya makan beling, sergahku sedikit khawatir.

Memang, lanjut Bekhi, mereka justru tak bisa memakan beling. Bahkan bukan pelepah pisang yang dijadikan tunggangan melainkan partai politik, lembaga pemerintah, kantor-kantor dinas, bahkan instansi sosial seperti lembaga swadaya. Cemetinya pun bukan lagi utas tali yang dipilin kemudian menimbulkan bunyi nyaring saat dimainkan. Melainkan jabatan, kedudukan, kekuasaan, dan ambisi.

Wah apalagi itu, tanya Anwar.

Sudahlah, beruntung masyarakat di sini tidak banyak yang memahami hal ini. Coba kalau mereka semua tahu tentu ramai-ramai berangkat ke Jakarta menuntut para penguasa karena telah menyalahkagunakan kesenian jaranan yang menjadi kebanggaan kita, kata Bekhi.

Meski samar, kami sedikit mengerti maksud pembicaraan Bekhi. Sebuah pelajaran berharga telah dia berikan kepada dua anak desa. Ternyata, sikap kemaruk sudah mewabah kepada para pemimpin di negeri ini. Bahkan, tanpa merasa salah dan dosa jaranan yang kerap kami

mainkan diwaktu senggang ikut terlibat di dalamnya.

Bekhi kamu tahu tidak, dua minggu lalu Pak Lurah beli mobil, kalau tidak salah mereknya Kijang Inova, itu lho kijang yang agak lancip depannya.

Perkataan Rozak kembali terdengar sewaktu kami sedang asyik menikmati ayam bakar usai mendengar cerita Bekhi.

Oh iya, uangnya dari mana? timpal Bekhi terlihat cukup bersemangat.

Dia jual seluruh tanah bengkok, sebagian hasil penjualan kayu jati dari dua bukit yang kini dijadikan persil, jawab Rozak dengan mulut penuh daging ayam.

Bahaya, penyakit itu sudah sampai juga ke desa kita, tutur Bekhi tampak kecewa.

INYONG MAULANA, terlahir dengan nama Maulana di Desa Karang Sawah, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada 09 Februari 1976, sekarang tinggal di Surabaya. Pernah menjadi Reporter Harian Umum Republika (Kalam JawaTimur) pada 2002-2004 dan sekarang bekerja sebagai Redaktur di HARIAN BANGSA dan Kontributor IPNU Tegal Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah, Lomba, Cerita IPNU Tegal

LAZIS Nusantara Berbagi Alat Tulis dan Beasiswa Belajar

Semarang, IPNU Tegal. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZIS) Nusantara menyelenggarakan acara buka puasa bersama, Rabu (8/7). Selain itu, Lazis Nusantara juga berbagi alat tulis dan beasiswa belajar kepada masyarakat di Banjardowo Genuk, Semarang.

Acara di selenggarakan di Pesantren Budaya Lembah Manah Banjardowo Genuk yang dihadiri perwakilan masyarakat setempat dan 38 penerima beasiswa belajar.

LAZIS Nusantara Berbagi Alat Tulis dan Beasiswa Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZIS Nusantara Berbagi Alat Tulis dan Beasiswa Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZIS Nusantara Berbagi Alat Tulis dan Beasiswa Belajar

Ketua Yayasan Badan Wakaf Nusantara Agus Munif menuturkan, selama Ramadhan dan nanti bulan Syawal ada sepuluh program kegiatan yang akan dilaksanakan berorientasi pada masalah sosial kemasyarakatan.

IPNU Tegal

Agus mengungkapkan, sebagai upaya untuk turut peduli pada bidang pendidikan kami mengajak para penerima beasiswa belajar sejumlah 38 siswa berbuka bersama dan pemberian alat tulis serta uang tunai.

“Kegiatan positif semacam ini perlu terus diupayakan dengan terjun langsung ke masyarakat untuk melihat realitas sosial yang terjadi sebenarnya,” imbuh Lukni Maulana Ketua Lazis Nusantara.

IPNU Tegal

Lukni menambahkan, dengan semangat berani berbagi tidak semata-mata hanya jatuh pada bulan ramadhan saja, akan tetapi setiap bulan adalah waktunya untuk saling berbagi. Baik berbagi kebahagiaan, ilmu, barang maupun berbagi memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

“Untuk itulah, hal ini perlu menjadi tradisi untuk mendapatkan perhatian bahwa disekitar kita masih banyak membutuhkan ulur tangan kita. Sebagaimana khalifah Abu Bakar As-Shidiq menyedekahkan seluruh hartanya untuk jalan dakwah Rasulullah saw,” papar Lukni. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah, Nahdlatul IPNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo

Jepara, IPNU Tegal. Ratusan pelajar NU Blimbingrejo kecamatan Nalumsari, Jepara mengamanahkan Ridho Maulana dan Bela Santika sebagai ketua IPNU-IPPNU Blimbingrejo periode 2015-2016 di MI NU Al-Ma’arif, Senin (16/2) malam. Keduanya berencana membuat program-program sesuai kebutuhan masyarakat khususnya pelajar setempat.

Ketua IPNU Nalumsari Lukman Hakim mendukung kepengurusan baru agar ke depan menjadi lebih baik.

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo

"Selamat dan sukses kepada rekan Ridho dan Bella, semoga dapat membawa kepengurusan IPNU-IPPNU Blimbingrejo ke depan semakin baik" ujarnya.

IPNU Tegal

Sementara itu Ridho mengatakan, pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kepengurusan yang baru ini dengan merancang program-program yang dapat bermanfaat.

IPNU Tegal

"Kami akan merancang program-program yang sifatnya dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan juga kepada pengurus maupun anggota," ujarnya.

Ia berharap kepengurusan nanti bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

"Semoga dengan pergantian kepengurusan ini menjadikan IPNU-IPPNU lebih baik dan juga bisa menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab" tambahnya. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Ahlussunnah, Ulama IPNU Tegal

Kamis, 14 September 2017

Bersama Masyarakat, GP Ansor Jepara Gemakan Shalawat

Jepara, IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mengajak masyarakat untuk bershalawat. Kegiatan yang dilaksanakan kali ketiga itu ditempatkan di Alun-alun RS Kelet, Keling, Jepara, Ahad (17/11) siang. Sebelumnya kegiatan serupa dilaksanakan di kecamatan Nalumsari dan Mlonggo.?

Ketua PC GP Ansor Jepara, M Kholil mengatakan shalawat merupakan sarana yang mampu merekatkan ukhuwwah dan menyejukkan hati pada orang yang menghayatinya. Suasana itu terkadang merasuk jauh di relung hati sehingga membawa suasana yang indah melalui kebersamaan dengan mengumandangan shalawat secara bersama-sama.

Bersama Masyarakat, GP Ansor Jepara Gemakan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Masyarakat, GP Ansor Jepara Gemakan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Masyarakat, GP Ansor Jepara Gemakan Shalawat

“Dengan menyanjung kebesaran Nabi Muhammad, meneladani sifat-sifatnya dan memegang teguh sunnah-sunnahnya,” sebutnya. ?

IPNU Tegal

Harapan dari kesejukan itu, terang Kholil, juga membawa kesejukan suasana di lingkungan masyarakat sehingga kondusifitas masyarakat Jepara selalu terjaga. “Di samping itu untuk mengembalikan ruh Ansor menolong masyarakat atas berbagai permasalahan sosial yang dihadapi,” tambahnya.

IPNU Tegal

Pada putaran ketiga Ansor Bershalawat itu dibarengkan dengan pelantikan Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor se-kecamatan Keling juga santunan yatim piatu bersama Muslimat dan Fatayat NU kecamatan Keling. Jamaah pun membludak. Ditaksir sekitar 6000 jamaah yang turut hadir.

Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Jepara, Arif Mustofa mengungkapkan dengan membludaknya jamaah pihaknya berkoordinasi mengenai keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung. Karenanya, pihak Satkorcab didukung sepenuhnya Satkorcam Keling dan pasukan turun ke jalan untuk membantu keamanan lalu lintas, keamanaan pelaksanaan dan ketertiban pengunjung acara.?

Sementara itu, H Jajeri Amin selaku sekretaris PC GP Ansor mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak atas terselenggaranya acara tersebut. Khususnya kepada PW GP Ansor Jawa Tengah dan Djarum 76. “Harapan kami acara ini tidak hanya berhenti sampai disini. Ini adalah awal dari keinginan kami untuk mengajak masyarakat mencintai Rasul melalui shalawat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, hadir para kyai, ulama dan habaib diantaranya Habib Farid Assegaf, Habib Ali Zainal Abidin, Habib Ali Al-Habsyi, Habib Luthfi (Demak) dan Habib Abu Bakar Assegaf. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Tokoh, Anti Hoax, Ahlussunnah IPNU Tegal

Senin, 24 Juli 2017

Lulus, Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku “Rumah Kita”

Lebak,IPNU Tegal. Buku karya wisudawan dan wisudawati Sekolah Menengah Atas (SMA) Qothrotul Falah Kabupaten Lebak, Banten tahun 2015 berjudul Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah diluncurkan pada wisuda ke-16 pesantren tersebut pada Sabtu, 6 Juni 2015 akhir pekan lalu.

Buku yang diterbitkan Pustaka Qi Falah Mei 2015 ini berisi pengalaman para penulisnya selama menjadi santri di pondok pesantren yang diasuh KH Achmad Syatini Hambali.

Lulus, Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku “Rumah Kita” (Sumber Gambar : Nu Online)
Lulus, Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku “Rumah Kita” (Sumber Gambar : Nu Online)

Lulus, Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku “Rumah Kita”

Di antara pengalaman mereka adalah menjadi penyiar radio, pengurus perpustakaan, nyate bersama, kesan pada Bibi Dapur, Triping.Com, pramuka, dibotak, cobaan di pesantren, dan sebagainya.

IPNU Tegal

“Buku ini menjadi ikhtiar kami untuk berbagi pengalaman selama di pondok ini. Karena selama di pondok inilah kami menemukan cahaya dan sayang jika tidak kami bagikan,” ujar Editor Buku, Cahyati, didamping editor lainnya, Uyun R. Uyuni dan Anastasya Shofia Alfatha, saat memberikan sambutan.

IPNU Tegal

Sebagai simbol peluncuran, buku ini diberikan Pimpinan Pondok KH. Syatibi kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Asep Komar Hidayat, Ketua Maghrib Mengaji Kabupaten Lebak KH Zainuddin Amir, Camat Cikulur Sehabuddin, Anggota Dewan Kabupaten Lebak Acep Dimyati, Komisioner KPID Ade Bujhaerimi, dan wartawan Radar Banten Mastur Huda.

Dikatakan Cahyati, peluncuran buku di saat wisuda ini diniatkan sebagai tradisi baru yang jarang dilakukan pihak lain. “Mudah-mudahan ini menjadi tradisi baru yang akan diikuti adik-adik kita ke depan,” jelasnya. “Dan ini sudah tahun ketiga kita selalu launching buku di acara wisuda,” ujarnya.

Bagi Cahyati dan kawan-kawan penulis buku ini, launching ini sempat terkendala karena proses desain dan layout yang terlambat. “Kita semua deg-degan, apakah pada hari H buku ini bisa dilaunching. Berkat kerja keras semua pihak, Alhamdulillah akhirnya bisa juga diselesaikan kendati masih banyak kekurangan di sana-sini,” ujarnya haru.

Ki Lengser  

Seperti biasa, proses Wisuda XVI Pondok Pesantren Qothrotul Falah yang dihelat di halaman pesantren ini diawali dengan suguhan tarian adat Ki Lengser yang diinisasi Ustadz Agus F. Awaluddin.

“Alhamdulillah prosesi Ki Lengser lancar dan ini menjadi tradisi yang berbeda di kalangan pesantren saat wisuda. Kita ingin memadukan tradisi pesantren dengan tradisi lokal, dan ini mendapat banyak apresiasi,” ujarnya.

Usai Ki Lengser, secara beruntun rangkaian acara disambung dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, sambutan-sambutan, prosesi wisuda, sambutan perpisahan tiga santri dengan tiga bahasa, pemberian hadiah untuk santri berprestasi, pentas seni santri, arahan anggota dewan, nasihat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan lalu diakhiri dengan khutbah perpisahan pimpinan pesantren.

Dalam arahannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Asep Komar Hidayat, berharap para wisudawan-wisudawati terus melanjutkan kuliah setinggi-tingginya dengan semangat. “Kalau nggak punya semangat mendingan mati saja. Hidup ini penuh tantangan dan hanya orang yang semangat yang  bisa bersaing,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Pengasuh Pondok, KH Achmad Syatibi Hambali. “Anak-anakku harus terus belajar. Jangan berhenti hanya sampai di sini. Masih banyak hal yang penting diraih dan teruslah kejar impian kita,” katanya di sela-sela kondisi kesehatannya yang menurun.

Suasana wisuda kali ini jauh lebih semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain dihadiri pemangku-pemangku pendidikan di Kab. Lebak dan para tokoh agama, juga dihadiri banyak wali santri. “Kursi yang disediakan pun terus berkurang,” ujar Ustadz Ahmad Turmudzi, merespon ramainya tamu. (Nurul Huda Ma’arif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock