Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Majelis Alumni IPNU: Momen Pembahasan RUU Pilkada Tak Tepat

Kudus, IPNU Tegal. Ketua Umum Presedium Majelis Alumni IPNU H Hilmi Muhammadiyah menilai pembahasan tarik ulur RUU Pilkada oleh DPR waktunya tidak tepat.

Majelis Alumni IPNU: Momen Pembahasan RUU Pilkada Tak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni IPNU: Momen Pembahasan RUU Pilkada Tak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni IPNU: Momen Pembahasan RUU Pilkada Tak Tepat

Hal itu mengemuka dalam diskusi “Pilkada Langsung, Pilkada Tidak Langsung: Siapa Beruntung?” yang diadakan STAIN Kudus bekerja sama dengan Majelis Alumni IPNU Jawa Tengah di aula Rektorat lantai 3, Sabtu (20/9) siang.?

Ketidaktepatan itu terkait hawa panas di gedung dewan antara kubu pendukung Pilkada Langsung dan Pilkada Tidak Langsung. “Saya menilai pembahasan RUU ini tidak tepat karena saya mencium aroma kekecewaan salah satu calon dalam Pilpres kemarin,” terangnya.?

IPNU Tegal

Idealnya, pembahasan RUU tersebut dilakukan 2019 mendatang, syaratnya dengan kejernihan berpikir. Hilmi juga menyayangkan DPR yang baru membahasnya saat ini. Padahal, Munas NU tahun 2012 di Kempek telah jelas membahas hal itu.?

Hasil Munas waktu itu menyebutkan Pilgub, Pilwali, dan Pilbup oleh DPRD layak diberlakukan lagi. “Hasil ini muncul lantaran keprihatinan konflik sosial dalam penyelenggaraan Pilkada Langsung,” jelasnya pada audien yang hadir.?

IPNU Tegal

Mestinya, sebelum Pilpres atau usai hasil Munas itu diputuskan DPR langsung tanggap. Jika tarik-menariknya baru sekarang, ia meyakini ada banyak kepentingan dibalik pembahasan RUU tersebut. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Jadwal Kajian, Cerita, Sunnah IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

Jakarta, IPNU Tegal. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, Senin (10/8) dalam jumpa pers di kantornya menuturkan, bahwa pendidikan agama Islam di madrasah dan sekolah mempunyai peran yang sangat signifikan. Karena pengajaran agama tersebut turut menanamkan karakter kepada diri siswa.

“Bayangkan jika sekitar 50 juta siswa yang sedang belajar di madrasah dan sekolah ini pendidikan agamanya bersifat radikal, tentu negara ini akan mengalami kekacauan,” ujarnya di ruang jumpa pers, Kantor Kemenag lantai 7 Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

Oleh sebab itu, menurutnya, pengajaran dan pendidikan Islam di sekolah harus dikemas semenarik mungkin agar peserta didik termotivasi untuk mendalami agama Islam yang baik dan benar.

IPNU Tegal

Kamaruddin menambahkan, bahwa salah satu instrumen untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik terhadap agama Islam, yaitu dengan menyelenggarakan Pentas PAI. Pentas ini tidak hanya mengakomodasi keterampilan seni siswa, tetapi juga mengolah pemahaman mereka selama di sekolah dengan lomba seperti cerdas cermat, pidato, debat, dan lain-lain.

IPNU Tegal

“Dari kegiatan tersebut , nanti akan terlihat seperti apa pemahaman agama yang dimiliki oleh peserta didik. Media ini juga sebagai sarana peserta didik untuk mengaktualisasikan kemampuannya dari sisi seni pendidikan Islam, seperti lomba kaligrafi, nasyid, tahfidz Qur’an, lomba kreasi busana, dan lain-lain,” paparnya.

Lebih jauh, Kamaruddin menjelaskan, potensi radikalisme di setiap sekolah pasti ada. Sebab itu, pendidikan dan pengajaran agama Islam yang menarik menjadi upaya yang penting untuk menanamkan pemahaman Islam yang damai.?

“Pendidikan Islam damai harus terus menerus kita ajarkan dan tanamkan kepada peserta didik, yaitu Islam yang berusaha menghargai dan menyadarkan kita sebagai warga negara,” terangnya.

Lomba Pentas PAI Nasional VII yang akan berlangsung 10-14 Agustus 2015 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi ini akan diikuti oleh 1000 peserta hasil seleksi tingkat nasional yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari 33 Provinsi.

Adapun jenis mata lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB).

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, Dr Amin Haedari menyatakan, bahwa kepada para siswa yang juara pada kompetisi ini akan diganjar dengan hadiah yang sangat menarik. “Kepada para juara I, II, dan III, serta juara harapan I, II, dan III, Kemenag telah menyiapkan hadiah dan pengahargaan yang diharapkan dapat memotivasi mereka untuk terus meningkatkan minat, bakat, dan keterampilan mereka di bidang agama Islam,” ucap Amin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Jadwal Kajian IPNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Saksikan Pameran Lukisan Gus Mus, Kang Said: Sangat Dalam Maknanya

Kudus, IPNU Tegal. Pejabat Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) kembali menunjukkan kepiawiannya dalam melukis, Beberapa karya lukisnya Sabtu (6/8) kemarin dipamerkan sebagai rangkaian acara “Selametan 70 Tahun Gus Mus” di Balairung Universitas PGRI Semaran, Jawa Tengah.

Saksikan Pameran Lukisan Gus Mus, Kang Said: Sangat Dalam Maknanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Saksikan Pameran Lukisan Gus Mus, Kang Said: Sangat Dalam Maknanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Saksikan Pameran Lukisan Gus Mus, Kang Said: Sangat Dalam Maknanya

Lukisannya yang dipamerkan itu antara lain berupa kaligrafi, lukisan nikotin dan tinta di atas amplop, hingga lukisan besar di atas kanvas. Judul-judul karya tersebut, di antaranya Hanya Lafal, Mulut-mulut, Pencitraan, O,Islamku, Potret Diri, Sujud, Tuhan yang Akan Menolongku, Bismillah, Alif, dan lainnya.

Beberapa pengunjung pameran mengapresiasi karya kiai yang juga penyair, penulis, dan pelukis itu. Ketua umum PBNU KH Said Agil Siraj yang hadir merasa kagum terhadap Gus Mus yang disebutnya sebagai sosok langka.

?

IPNU Tegal

"Karya Gus Mus sangat dalam maknanya karena lukisannya menyikapi berbagai hal terutama keislaman," kata Kang Said yang seketika itu membeli sebuah lukisan Gus Mus yang berlabel O.Islamku..! berukuran 70 x 90 cm.

?

IPNU Tegal

Pegiat tari Sufi Kiai Budi Harjono menilai Gus Mus adalah sosok prasojo (sederhana) tetapi mampu menampilkan pesona. Gus Mus bisa dilihat dari berbagai sudut pandang kekiaian, kapabilitasnya dan kekuatan dirinya sebagai seorang penyair, serta karya lukisnya yang berkarakter sesuai universialitasnya.

?

"Terlebih lagi Gus Mus didukung pesantrennya dengan literaturnya yang selalu menjaga kekuatan sastra yang berangkat dari dalil dan nash," katanya kepada IPNU Tegal.

?

Seorang pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor Yogyakarta, Karsono, juga mengaku kagum dengan ketokohan Gus Mus. "Siapa pun sudah tahu Gus Mus itu lengkap, mulai kiai, penyair dan pelukis. Karyanya sangat menarik penuh makna," katanya singkat.

Pada 28 September-5 Oktober 2013 lalu, Gus Mus juga memamerkan lukisan dan puisi bertajuk "Rukun Lima" di Bandung, Jawa Barat. Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang ini memamerkan karyanya bersama empat penyair dan pelukis lain, yaitu Jeihan Sukmantoro, Sapardi Djoko Damono, D. Zawawi Imron, dan Acep Zamzam Noor. (Qomarul Adib/Mahbib)

Foto: Seorang pengunjung menyaksikan salah satu lukisan Gus Mus berjudul "Pencitraan"

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Jadwal Kajian IPNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Kader PMII Harus Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad

Pariaman, IPNU Tegal. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman sebagai bagian dari generasi muda Indonesia diharapkan terus meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang berhasil mengubah kondisi masyarakat yang jahiliyah kepada yang beradab.

Kader PMII Harus Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Harus Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Harus Teladani Kepemimpinan Nabi Muhammad

Melalui peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, PMII Pariaman berupaya memuliakan dan memahami perjuangan Nabi.

Ketua PC PMII Kota Pariaman Idris mengungkapkan hal itu, Kamis (24/1), pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Surau Pinago, Manggung, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman.

IPNU Tegal

Tampil sebagai penceramah Deri Effendi Tuanku Sutan Bagindo. Ikut memberikan sambutan Katib PCNU Kota Pariaman Mardison, S.Ag, M.Si, Tuanku  Simarajo dan tokoh masyarakat H. Burhanuddin Zein, SH, sejumlah Mabincab PMII Kota Pariaman,  Ory Satifa Sakban, S.Pdi dan Hendri.

Menurut  Idris, sebagai organisasi berpahamkan Ahlussunnah Waljamaah, peringatan maulid Nabi merupakan kegiatan penting dilaksanakan. Peringatan Maulid Nabi merupakan tradisi dalam rangka mensyiarkan Islam.

IPNU Tegal

“Jadi kalau ada pihak yang membid’ahkan maulud Nabi Muhammad Saw, itu karena mereka tidak paham perbedaan tersebut,” kata Idris yang baru saja menyelesaikan pendidikan di STIT Syekh Burhanuddin ini.

Katib PCNU Kota Pariaman Mardison memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang digelar PMII Kota Pariaman ini. Kegiatan ini tentu menjadi sumbangan berharga terhadap pembinaan generasi muda. Sebagai anak muda NU yang selalu kreatif dan inovatif, PMII Pariaman sudah menunjukkan jati dirinya. 

“Maulid Nabi Muhammad SAW penting disemangati oleh anak-anak muda kita. Sehingga mereka tidak salah memahami agama. Jangan sampai mereka terpengaruh oleh tindakan-tindakan radikal yang belakangan ini marah terjadi di Indonesia,” kata Mardison yang juga guru di SMA 4 Pariaman.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Armaidi Tanjung

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kyai, Jadwal Kajian IPNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Bersabar dan Memberi Maaf

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Dalam kitab suci al-Qur’ân dinyatakan: “Demi masa, manusia selalu merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, berpegang kepada kebenaran dan berpegang kepada kesabaran (Wal-‘ashri innal–insâna la fî khusrin illâ-lladzîna ‘âmanû wa ‘amilus-shâlihâti wa tawâshau bil-haqqi wa tawâshau bis-shabr)” QS al-‘Ashr (103):1-3). Ayat tersebut mengharuskan kita senantiasa menyerukan kebenaran namun tanpa kehilangan kesabaran. Dengan kata lain, kebenaran barulah ada artinya, kalau kita juga memiliki kesabaran. Kadangkala kebenaran itu baru dapat ditegakkan secara bertahap, seperti halnya demokrasi. Di sinilah rasa pentingnya arti kesabaran.

Demikian pula sikap pemaaf juga disebutkan sebagai tanda kebaikan seorang muslim. Sebuah ayat menyatakan: “Apa yang mengenai diri kalian dari (sekian banyak) musibah yang menimpa, (tidak lain merupakan) hal-hal berupa buah tangan kalian sendiri. Dan (walaupun demikian) Allah memaafkan sebagian (besar) hal-hal itu (mâ ashâbakum min mushîbatin fa bimâ kasabat a’ydîkum wa ya’fû ‘an katsîrin)” (QS al-Syura (42):30). Firman Allah ini mengharuskan kita juga mudah memberikan maaf kepada siapapun, sehingga sikap saling memaafkan adalah sesuatu yang secara inherent menjadi sifat seorang muslim. Inilah yang diambil mendiang Mahatma Gandhi sebagai muatan dalam sikap hidupnya yang menolak kekerasan (ahimsa), yang terkenal itu. Sikap inilah yang kemudian diambil oleh mendiang Pendeta Marthin Luther King Junior di Amerika Serikat, dalam tahun-tahun 60-an, ketika ia memperjuangkan hak-hak sipil (civil rights) di kawasan itu, yaitu agar warga kulit hitam berhak memilih dalam pemilu.

Bersabar dan Memberi Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersabar dan Memberi Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersabar dan Memberi Maaf

Hal ini membuktikan, kesabaran dalam membawakan kebenaran adalah sifat utama yang dipuji oleh sejarah. Sebagaimana dituturkan oleh kisah perwayangan, para ksatria Pandawa yang dengan sabar dibuang ke hutan untuk jangka waktu yang lama, juga merupakan contoh sebuah kesabaran. Jadi, kesadaran akan perlunya kesabaran itu, memang sudah sejak lama menjadi sifat manusia. Tanpa kesabaran, konflik yang terjadi akan dipenuhi oleh kekerasan. Sesuatu yang merugikan manusia sendiri. Kekerasan tidak akan dipakai, kecuali dalam keadaan tertentu. Hal ini memang sering dilanggar oleh kaum muslimin sendiri. Sudah waktunya kita kaum muslimin kembali kepada ayat di atas dan mengambil kesabaran serta kesediaan memberi maaf, atas segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai hikmah.

IPNU Tegal

***

Hiruk pikuk kehidupan, selalu penuh dengan godaan kepada kita untuk tidak bersikap sabar dan mudah memberikan maaf. Dalam pandangan penulis, kedua hal tersebut seharusnya selalu digunakan oleh kaum muslimin. Tetapi harus kita akui dengan jujur, bahwa justru kesabaran itulah yang paling sulit ditegakkan dan kalau kita tidak dapat bersabar bagaimana kita akan memberi maaf atas kesalahan orang kepada kita? Jelas, bahwa antara keduanya terdapat hubungan timbal balik yang sangat mendalam, walaupun tidak dapat dikatakan terjadi hubungan kausalitas antara kesabaran dan kemampuan memaafkan kesalahan orang lain pada diri kita.

IPNU Tegal

Kita sebagai seorang muslim, mau tidak mau harus menyediakan keduanya sebagai pegangan hidup baik secara kolektif maupun secara perorangan. Dari sinilah dapat dimengerti, mengapa hikmah 1 Muharam 1424 Hijriyah ini sebaiknya tetap ditekankan pada penciptaan kesabaran dan penumbuhan kemampuan untuk memberikan maaf kepada orang yang dalam pandangan kita, berbuat salah kepada diri kita. Bukankah kedua ayat kitab suci yang dikemukakan di atas, sudah cukup kuat dalam mendorong kita membuat kesabaran dan kemampuan memaafkan kesalahan orang kepada diri kita, sebagai hikmah yang kita petik di hari raya yang mulia tersebut. Kedengarannya prinsip yang sederhana, tetapi sulit dikembangkan dalam diri kita.

Namun, lain halnya dengan para politisi yang berinisiatif menyelenggarakan Sidang Istimewa yang terakhir, dengan dasar “kebenaran” hasil penafsiran politik masing-masing. Tindakan ini berarti melanggar Undang-undang Dasar 1945, karena tidak memiliki landasan hukum. Dengan “nafsu” politiknya –yaitu Presiden harus lengser- mereka pun meninggalkan jalan permusyawaratan. Padahal, semua persoalan yang melibatkan orang banyak harus dipecahkan dengan negosiasi, seperti firman Allah: “dan persoalan mereka harus lah di musyawarahkan oleh mereka sendiri (wa amruhum syûrâ bainahum)” (QS al-Syura [42]:38). Terlihat selain melanggar konstitusi, dalam hal ini merekalah yang tidak dapat memaafkan. Sederhana saja, walaupun rumit dalam kehidupan politik kita sebagai bangsa dan negara.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Memorandum, 20 Februari 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sunnah, Jadwal Kajian, Pahlawan IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Gus Mujib: MTA Mengingkari Kebenaran

Malang, IPNU Tegal. Beberapa pengurus NU bereaksi terkait diadukannya Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang, KH Marzuki Mustamar ke Kejaksaan Agung dan Mabes Polri oleh pimpinan organisasi garis keras yang menamakan diri MTA.

Gus Mujib: MTA Mengingkari Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mujib: MTA Mengingkari Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mujib: MTA Mengingkari Kebenaran

Gus Mujib Sadzili, salah satu jajaran Ketua PCNU Kabupaten Malang berharap pengaduan itu dihentikan. Jika diteruskan, ditengarai akan berakibat konflik sosial.?

“Memang benar bahwa Beliau (Kiai Marzuki, red) telah diajukan oleh mereka. Tapi kami yakin perkara tersebut pasti akan dihentikan oleh kepolisian. Karena hal ini akan menyebabkan kekacauan negara atau chaos,” kata Gus Mujib itu kepada IPNU Tegal di Malang, Rabu (29/5).

IPNU Tegal

Menurut Gus Mujib cukup akrab dengan Kiai Marzuki, dengan mengadukan ke kepolisian, berarti pihak MTA telah melakukan sesuatu perbuatan mengingkari kebenaran. Karena, setelah mereka diberitahu sebuah kebenaran justru mereka ingin mencelakai NU. Dan adalah sebuah keanehan jika pemerintah berniat meneruskan perkara ini.

“Cuma, anehnya mereka itu, mengapa setelah kita beritahu sebuah kebenaran kok justru akan mengadukan kami ke penjara? dan adalah hal yang aneh jika perkara dilanjutkan, NU adalah pemilik rumah Indonesia dan berperan serta membangun negara. Lalu sekarang ada pendatang baru yang ingin memenjarakan pemilik rumah itu?” kata Gus Mujib.

IPNU Tegal

Sedangkan saat ditanya, tentang tanggapan Kiai Marzuki sendiri, ia mengatakan, pihak Kiai Marzuki tidak hendak memperpanjang masalah ini. Kiai Marzuki memang mengaku mendengar sendiri MTA menyampaikan dakwah yang negatif untuk NU dan merusak ukhuwah islamiyah.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Ahmad Nur Kholis

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Pondok Pesantren, Jadwal Kajian IPNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Gus Dur dalam Lukisan Pasir

Jakarta, IPNU Tegal. Salah satu rangkaian acara dalam kegiatan peringatan Haul Ke-5 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang digelar di Ciganjur, Jakarta, Sabtu (27/12) malam, adalah pembacaan narasi puitis oleh Zastrouw Al-Ngatawi yang diiringi alunan musik dan kemudian narasi tersebut divisualisasikan dalam bentuk lukisan pasir oleh Fauzan.

Dalam kesempatan itu Zastrouw mengurai silsilah biologis dan ideologis Gus Dur. Di awal narasinya, Zastrouw menceritakan tentang sosok Syekh Subakir, seorang ulama dari Persia yang menumbal Nusantara pada umumnya dan Pulau Jawa khususnya.

Gus Dur dalam Lukisan Pasir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dalam Lukisan Pasir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dalam Lukisan Pasir

Saat Zastrouw membaca narasi, dengan sigap tangan seorang Fauzan langsung bergerak membentuk sebuah lukisan seorang tokoh yang diidentifikasi sebagai sosok Syekh Subakir.

IPNU Tegal

Begitu pun ketika Zastrouw menyinggung tentang peran Wali Songo dalam islamisasi di Nusantara, tangan kreatif Fauzan berhasil membentuk sebuah pola masjid yang di sekitarnya terdapat beberapa orang dan diduga kuat itu adalah gambar Wali Songo.

IPNU Tegal

Riuh tepuk tangan hadirin terus bergema menyaksikan krativitas Fauzan yang membuat logo Nahdlatul Ulama, tentu saja logo itu dibuat bersamaan dengan narasi yang disampaikan Zastrauw ketika menyinggung pendirian organisasi Nahdlatul Ulama.

Ketika logo NU sudah terbentuk, Zastrauw menceritakan sosok Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari, Fauzan menempatkan lukisan KH. Hasyim Asyari di samping kanan-depan logo NU dan disusul kemudian lukisan KH. Wahid Hasyim di sebelah kirinya lalu Fauzan melukis wajah Gus Dur di tengah-tengah lukisan kedua tokoh nasional tersebut.

Ketika Zastrouw mengatakan "Gus Dur menerangi masa depan", Fauzan memfokuskan lukisannya hanya pada sosok Gus Dur yang di belakangnya terdapat cahaya yang bersinar. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Meme Islam, Jadwal Kajian, Hikmah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock