Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Brebes, IPNU Tegal. Meski mengalami keterlambatan akibat delay pesawat di Bandara King Abdul Azis Mekah, jamaah haji dari Kabupaten Brebes pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka tiba di Islamic Center Brebes terlambat lima jam dari waktu yang dijadwalkan semula.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyambut kedatangan haji kelompok terbang (Kloter) pertama di Islamic Center Sabtu dinihari (11/10). Idza mengaku sangat gembira karena tidak ada permasalahan yang menimpa jamaah haji Brebes. Sehingga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap, para jamaah haji menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Selain itu, ia meminta mereka agar mampu menjadi contoh tauladan di masyarakat. “Gelar haji menjadi barometer akhlak dan tabiat di masyarakat,” katanya. Dengan tauladan yang telah dicontohkan para jamaah haji Brebes, mudah-mudahan Brebes semakin maju dan sejahtera dibawah naungan dan ridlo dari Allah SWT.

IPNU Tegal

Bupati juga menyambut kedatangan kloter 2 dan 3 di dampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi Garahaju) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes Drs H Syauqi Wijaya. Kloter 1 sejumlah 363 jamaah tiba di Islamic Center Brebes Sabtu (11/10) pukul 00.30 dini hari dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan.

IPNU Tegal

Sementara kloter kedua yang berjumlah 366 calon haji tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 08.00 dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan. Sedangkan kloter ketiga yang berjumlah 167 tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 12.30 mengendarai 4 bus.

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Donohudan Solo melaporkan jamaah yang berangkat sejak 30-31 Agustus lalu sudah menunaikan ritual haji dan kembali tiba di Donohudan dengan selamat. Mereka pulang ke Brebes dengan mengendarai 22 bus dan 2 bus cadangan.

Menurut Imam, secara umum kondisi jamaah haji Indonesia asal Brebes dalam keadaan baik, sehat walafiat. Namun demikian ada 2 orang suami istri dari Salem yang tertinggal tidak mengikuti jamaah asal Brebes, tetapi mengikuti kloter 16.

Sehingga, kata dia, yang sudah pulang saat ini baru 896 jamaah. Pada saat pemberangkatan, istrinya mengalami sakit maka suaminya turut mendampingi dan diberangkatkan mengikuti kloter 16, maka kepulangannya pun ikut juga kloter 16. “Yang bersangkutan memilih pulang tunda untuk menyempurnakan ibadahnya,” tandas Imam.

Salah seorang jamaah haji dari Kloter 1 H Moh Aqso MAg menjelaskan, jumlah jamaah haji dunia saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan tahun lalu. Namun demikian jamaah haji Brebes yang berangkat lebih awal terasa diuntungkan karena telah melakukan ibadah masih dalam kondisi lengang.

“Meski padat, tapi pemberangkatan awal bagi jamaah Brebes sangat diuntungkan,” kata Aqso ketika di tanya Bupati sesampainya di Brebes. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Cerita, Halaqoh IPNU Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi

Brebes, IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Fatayat NU Brebes mendirikan Baitul Mal wat Tamwil Syirkah Muawanah Fatayat Nahdlatul Ulama (BMT SM FNU). Kehadiran lembaga ini diharapkan menjawab tantangan ekonomi yang mendera sebagian warga NU di kabupaten Brebes.

“Fatayat NU senantiasa melakukan gerakan-gerakan ekonomi dengan mengembangkan sayap ekonomi, seperti BMT,” ujar Ketua Fatayat NU Brebes Mukminah usai peluncuran Koperasi Serba Usaha (KSU) BMT SM FNU di jalan raya Kluwut KM 03 Bulakamba, Brebes, Ahad (17/5).

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi

Pemberdayaan perempuan sebagai kader NU, menurutnya, berpotensi besar dalam pengaturan roda ekonomi keluarga. Kehadiran BMT menjadi jawaban kegelisahan perempuan Nahdliyin. Apalagi di daerah Kluwuat, mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani yang sangat memerlukan langkah penyejahteraan keluarganya.

IPNU Tegal

“BMT SM berupaya meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan dan petani Brebes pada umumnya,” terang Mukminah.

IPNU Tegal

Direktur BMT SM FNU Hj Eva Trisnawati menjelaskan, BMT didirikan dengan modal awal sebesar Rp 100 juta dari investasi sejumlah orang. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang juga Wakil Ketua Fatayat NU berinvestasi sebesar Rp 10 juta. Bahrudin Nasori Rp 25 juta. H A Rafiq Abdillah Rp 10 Juta. H Toridin (Pengusaha Tambak) Rp 25 juta. Selain mereka, ada 20 orang pengurus masing-masing berinvestasi Rp 1 juta serta nasabah lainnya sehingga genap Rp 100 juta.

“Modal awal Rp 100 juta ini mudah-mudahan menjadi titik awal keberkahan usaha kami,” kata Eva.

Untuk sementara, bidang usaha yang dijalani masih berkutat di simpan pinjam. Mudah-mudahan sepanjang perjalanan waktu akan dikembangkan berbagai usaha untuk membantu kesejahteraan bersama.

Hadir dalam peluncuran ini Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Brebes Sutejo, Ketua KSU Windu Kencana Brebes Komar, Kasi Simpan Pinjam Dinas Koperasi dan UMKM Sunoto, beserta pimpinan cabang NU, Fatayat, Muslimat, IPNU-IPPNU, Ketua anak cabang Fatayat NU sekabupaten Brebes, dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Cerita IPNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Jakarta, IPNU Tegal. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meminta agar penulisan sejarah keislaman, terutama yang menyangkut sejarah perjuangan komunitas NU terus dilanjutkan.  Peran para ulama  dalam perjuangan kemerdekaan seolah-olah diabaikan, padahal banyak diantara kaum santri yang meninggal.

Pernyataan tersebut diungkapkan dalam peluncuran buku Laskar Ulama-Santri  dan Resolusi Jihad yang digelar di Gedung Juang 45 Jakarta, Ahad (2/2).

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Ia menuturkan, suatu saat pernah diberi dokumentasi perjuangan kemerdekaan oleh Des Alwi, sejarawan dan penulis asal Jakarta, tetapi peran kaum santri sama sekali tidak disebutkan didalamnya.

IPNU Tegal

“Padahal banyak sekali santri yang meninggal waktu perjuangan kemerdekaan,” tandasnya.

Untuk itu, ia mengapresiasi langkah Zainul Millal dalam menelusuri dan menuliskan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan ini.

IPNU Tegal

“Ini merupakan langkah awal untuk menuliskan sejarah selanjutnya,” tegasnya.

Ditegaskannya, para ulama memiliki peran sangat besar sejak zaman zaman Kesultanan Demak yang menyerang Malaka, kemudian Sultan Agung yang menyerang Jayakarta sampai zaman Diponegoro yang selanjutnya, para keturunannya melahirkan para kiai dan pejuang kemerdekaan.

Dengan latar belakang sejarah inilah, Indonesia menjadi sebuah negara nasionalis yang religius, bukan sebuah negara agama atau negara sekuler dan bisa hidup damai sampai sekarang.

Dalam pertemuan dengan para ulama Afganistan, mereka menanyakan, bagaimana Indonesia bisa menyatukan nasionalisme sekaligus agama sehingga bisa hidup damai. Mereka sendiri merasa kelelahan menghadapi perang selama 32 tahun terus menerus yang sampai sekarang belum selesai.

“Karena itu, mereka saya ajak ke sini untuk belajar tentang kebangsaan ini,” paparnya.

Buku Sejarah Ulama-Santri yang dalam satu bulan ini sudah cetak ulang yang kedua ini menelusuri jejak perjuangan para ulama, termasuk peran penting dalam pertempuran 10 November di Surabaya, yang dalam sejarah umum sampai saat ini belum banyak diungkap. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Sunnah, Berita IPNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Jepara, IPNU Tegal. Satu grup di Facebook yang berjuluk Ngomong Politik (Ngompol) Jepara tidak ketinggalan memperingati 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.



Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Melalui jejaring Facebook, mereka mengkoordinir anggota untuk menziarahi makam Gus Dur di komplek pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu-Ahad (6-7/10).?

Selain makam Gus Dur rombongan yang berjumlah puluhan orang juga menziarahi Sultan Hadirin, Raden Abdul Jalil (Jepara), Sayyid Jafar Shadiq (Sunan Kudus), Maulana Ibrahim Asmara Qandi (Ayah Sunan Ampel) dan Raden Rahmat (Sunan Ampel).?

IPNU Tegal

Badiul Hadi, ketua panitia sekaligus deputi direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jepara didampingi Ahmad N Huda mengatakan kegiatan dilaksanakan dalam rangka memperingati 1000 hari Gus Dur. ? ?

“Atas nama panitia kami mohon maaf karena pada saat hari H banyak yang membatalkan diri sehingga beberapa kursi tidak terisi,” paparnya.?

IPNU Tegal

H Abdul Kohar penggagas kegiatan mengungkapkan perjalanan ziarah sepenuhnya ditanggung H Abdul Wachid, mantan wakil ketua PP LPPNU. “Waktu itu beliau tanya agenda peringatan 1000 hari Gus Dur di Jepara kemudian saya share di grup Ngompol alhasil ziarah disepakati,” ungkapnya.?

Setelah disepakati, tambah ketua Kadin Jepara, H Wachid mem-back-up ongkos perjalanan menuju Jawa Timur. Biaya yang lain lanjutnya ditanggung penumpang sendiri.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam?

Kontributor: Syaiful Mustaqim ?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Khutbah IPNU Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi

Jakarta, IPNU Tegal. Meskipun kongres I Pagar Nusa tinggal 8 hari lagi, sampai saat ini bursa kandidat yang akan memimpin Pagar Nusa sebagai badan otonom NU belum muncul.

“Sejauh ini belum ada wilayah atau cabang yang menyuarakan aspirasinya mendukung calon tertentu,” tutur Ketua Panitia Kongres. H. Fuad Anwar, Selasa.

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi

Mekanisme pencalonan sampai saat ini juga belum ditentukan, berapa suara minimal yang harus dipenuhi untuk bisa mencalonkan diri.

“Masih terdapat perdebatan bagaimana mekanisme pemilihan ketua umum, melalui one man one vote, sistem ahlul halli wal aqdi atau sistem presidium, ini masih akan dibahas dalam tatib,” tutur Sekretaris Panitia Mujtahidur Ridho.

Edo, panggilan akrab Mujtahirur Ridho menjelaskan ada usulan dari pengurus PBNU yang menginginkan sistem ahlul halli wal aqdi untuk kongres pertama ini.

IPNU Tegal

Dalam acara pra kongres yang akhirnya forumnya dirubah menjadi kongres, namun tidak diakui oleh PBNU yang diselenggarakan pada 25 September 2005 di Ponpes Ciganjur, terpilih H. Suharbillah.

Kala itu, terdapat 5 kandidat yang bersaing dalam kongres. Dari 72 suara wilayah dan cabang, sebanyak 53 memilih Suharbillah diikuti KH Sayuthi Ghozali 13 suara, Kuncoro 3 suara, Abdul Latif 2 suara dan Abdul Halim 1 suara. Abstain 1 suara dan 1 suara lagi memilih Gus Maksum, pendiri Pagar Nusa yang saat ini sudah meninggal dunia. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Pendidikan, Pemurnian Aqidah, Pahlawan IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga

Brebes, IPNU Tegal. Pengurus Anak Cabang ( PAC) Fatayat Larangan mengadakan pelatihan untuk para pelatih di bidang tata boga di kediaman Tunjiyah dusun Temukerep desa Larangan kecamatan Larangan, Brebes, Ahad (7/6). Sebanyak 102 aktivis Fatayat NU dari 17 ranting di Larangan, hadir sebagai peserta pelatihan.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Fatayat NU Larangan dan Celoteh Brebes Membangun (CBM). Kegiatan ini murni swadaya anggota Fatayat. Setiap ranting dikenakan biaya sebesar Rp 200.000 untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan tata boga. Semua peserta yang ikut harus membawa alat masak seperti oven, kompor, gas lpj, dan mixer serta alat cetak kue.

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga

Ketua Fatayat NU Larangan Khurmah Al-Munawar bercerita bahwa pelatihan ini digagas bersama teman-teman CBM dengan maksud ? ke depan semua pengurus ranting Fatayat bisa melatih kembali warga NU di desanya. Dengan bekal itu, warga nantinya memiliki keterampilan yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga.

IPNU Tegal

Praktisi Tata Boga CBM Amellya Shofiya Rizqiyaty mengajarkan empat menu yang meliputi kue nastar nanas, kue putri salju keju, kue kering choco chips, bolu karamel panggang sarang semut. Semua bahan yang disajikan, langsung disediakan dan dibelikan oleh praktisi biar memudahkan saat praktik nantinya.

"Keahlian memasak dan membuat menu ini nantinya bisa menjadi nilai tambah bagi aktivis Fatayat. Apalagi menjelang puasa dan lebaran, para peserta bisa memproduksi aneka kue yang bisa dikonsumsi sendiri atau dijual di pasar," ujarnya.

IPNU Tegal

Salah seorang peserta pelatihan tata boga Tunjiyah mengaku senang dengan pelatihan ini karena selama ini dirinya belum pernah mendapat pelatihan seperti ini.

Ke depan diharapkan ada produk yang dihasilkan dari para peserta dan memiliki nilai jual produk yang tinggi hingga sukses di pasaran. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaSantri, Sejarah, Pahlawan IPNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Oleh Anggi Afriansyah

Indonesia beruntung memiliki lembaga pendidikan yang menyejarah seperti pesantren. Apalagi rekam jejak pesantren mendidik masyarakat sudah teruji zaman. Dari rahim pesantren telah lahir beragam tokoh cerdik cendikia.

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Pesantren tak hanya berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (religion-based curriculum) tetapi juga kurikulum yang berbasis pada persoalan masyarakat (community-based curriculum) (Suyata dalam Zuhri, 2016). Hal tersebut memang menjadi salah satu kekhasan pesantren. Pendidikan yang diberikan di pesantren tak menjauhkan santri dari realitas keseharian. Jika merujuk pada konteks pembelajaran modern, apa yang dilakukan pesantren adalah bagian dari pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).

IPNU Tegal

Studi yang dilakukan oleh Anin Nurhati (2010) misalnya mengungkap peran pesantren dalam memberikan materi kewirausahaan kepada para santrinya agar mereka memiliki kecakapan hidup seperti kemampuan beternak, budi daya perikanan, pengolahan obat-obatan, perdagangan, perbengkelan, otomotif dan permebelan (Zuhri, 2010). Beragam kurikulum tersebut tentu menjadi kekuatan bagi pesantren untuk menjawab tantangan zaman. Ada kesadaran bahwa pemahaman teks-teks keagamaan semata tanpa penguasaan keilmuan yang lain akan menyebabkan santri semakin tertinggal.

IPNU Tegal

Pesantren tak pernah terjebak pada perubahan kurikulum yang terjadi karena berubahnya menteri. Pesantren senantiasa konsisten, karena tujuan awalnya adalah mendidik santri menjadi individu-individu yang bermanfaat bagi sesama. Maka pesantren tak terjebak pada pola-pola pendidikan formal yang berbasis nilai-nilai kuantitatif. Tak ada sertifikasi untuk para kiai, karena gelar kiai, ulama, ajengan, ataupun ustadz/ustadzah merupakan rekognisi yang diberikan oleh masyarakat. Penyematan karena kebermanfaatan mereka untuk umat. Bukan karena kepemilikan ijazah tertentu.

Keragaman tipikal lulusan pesantren membuktikan bahwa pesantren sesungguhnya sudah memberikan kontribusi pada penciptaan sumber daya manusia yang berkualitas. Pilihan profesi, pilihan politik, pilihan sudut pandang tafsir keagamaan dari lulusan pesantren menjadi warna tersendiri bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meskipun demikian, kemampuan pesantren mengkreasi intelektual-intelektual Muslim yang memiliki kapasitas mumpuni sehingga menjadi cahaya bagi umat harus tetap dijaga. Para intelektual itulah yang akan senantiasa memberikan pencerahan dan pencerdaskan bagi umat. Intelektual yang memberikan kedamaian dan menebarkan ajaran serta ujaran penuh kasih. Kita tentu merindukan almarhum Gus Dur dan Cak Nur, dua tokoh bangsa yang senantiasa berjuang untuk perdamaian, kesetaraan, dan demokrasi. Kita juga melihat kebesaran hati Gus Mus, yang meskipun dicaci oleh mereka yang membencinya, tetap memperlihatkan sifat welas asih dan pemaaf. Gus Mus telah memberikan teladan bagaimana implementasi akhlaqul karimah yang dicontontohkan Rasullah SAW.

Jika saat ini isu mengenai pentingnya pendidikan karakter kembali didengungkan. Sesungguhnya, proses pendidikan pesantren justru sejak awal telah memberikan ruang besar bagi penguatan karakter para santrinya. Pesantren memang memiliki fokus agar santri-santrinya menjadi uswatun hasanah, teladan kebaikan, yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi umat.

Para santri mendapatkan tempaan setiap waktu ketika mengenyam pendidikan pesantren. Satu hari penuh para santri berada dalam situasi belajar. Maka sesungguhnya, tak perlu lagi ada kebijakan full day school. Pemerintah hanya perlu mengoptimalkan pesantren-pesantren yang ada di berbagai penjuru tanah air.

Proses pendidikan di pesantren memang menyiapkan para santri agar mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitarnya. Dalam konteks ini, kiai dan para ustadz/ustadzah di pesantren memegang peran penting dalam konstruksi karakter para santri. Mereka menjadi role model bagi para santri yang diasuhnya.

Keberhasilan pesantren membentuk karakter santri sangat bergantung pada keteladanan para alim di pesantren.? Keteladanan tersebut tak hanya diberikan melalui ceramah-ceramah semata, namun juga melalu tindakan nyata. Kelebihan pesantren mendidik santri terletak pada pembiasaan dan praktik keseharian. Sehingga, kepatuhan santri terhadap aturan tak sekedar karena takut dihukum. Rasa malu jika tak patuh dan disiplin terbentuk karena adanya keteladanan dari para kiai ataupun ustadz/ustadzah.

Di sisi lain pesantren juga memberikan pembelajaran kontekstual kepada para santrinya. materi-materi yang diberikan adalah hal-hal yang relevan yang akan para santri gunakan di masa depan. missal saja, banyak pesantren memberikan penguatan pelajaran bahasa asing kepada santri karena menyadari bahwa penguasaan bahasa yang mumpuni merupakan keniscayaan di era global.

Selain itu, pelatihan mubaligh yang diselenggarakan di pesantren ditujukan agar para santri memiliki public speaking yang baik. Karena para santri harus mampu menyampaikan gagasan-gagasannya kepada masyarakat secara runut dan terstruktur. Menyampaikan pengetahuan keagamaannya kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.

Beberapa pesantren juga rutin menyelenggarakan program Bahtsul Masail. Kegiatan tersebut menjadi penting karena membiasakan para santri mendialogkan beragam permasalahan dengan merujuk beragam referensi. Kebiasaan berdiskusi sangatlah penting agar para santri tidak alergi terhadap perbedaan pandangan yang ada di masyarakat kelak. Memperkaya perspektif mereka memandang suatu persoalan. Dan pada akhirnya membuat mereka menyadari sepenuh hati bahwa perbedaan tafsir atas teks keagamaan merupakan hal biasa dan akan mereka hadapi di masyarakat.

Dan yang paling penting, pesantren memberikan para santri untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola dirinya, manajemen diri. Proses tersebut merupakan bagian dari pendewasaan diri. Pola pendidikan di pesantren menyediakan mekanisme panjang agar santri memiliki kemampuan manajemen diri tersebut.

Keberhasilan mengelola diri sendiri merupakan salah satu kunci penting keberhasilan mereka di masa mendatang. Akan tetapi, meskipun pesantren memberikan segala ruang dan mekanisme pengaderan yang luar biasa, jika santri tak mampu mengoptimalkan hal-hal tersebut, tidak akan memiliki pengaruh kepada diri mereka. Keinginan kuat dari diri sendiri tetap menjadi aspek yang paling penting.

Oleh sebab itu, menjadi harapan bersama agar santri lulusan pesantren memiliki kesadaran penuh untuk memberikan kinerja nyata bagi kemaslahatan Indonesia dan berkontribusi untuk penciptaan Islam yang rahmatan lil alamin. Memberikan kedamaian bagi bangsa dan negara.



Penulis adalah lulusan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, saat ini menjadi Peneliti di Puslit Kependudukan LIPI


Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Pahlawan IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Ribuan Banser Ikuti Apel Kebangsaan

Tegal, IPNU Tegal?

Ribuan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se eks Karesidenan Pekalongan mengikuti apel kebangsaan dalam rangka peringatan hari sumpah pemuda di alun-alun kota Tegal, Ahad (28/10).?

Mereka datang dari Kabupaten Tegal, Brebes, Pemalang, ? Pekalongan Kabupaten dan Kota serta tuan rumah sendiri.?

Ribuan Banser Ikuti Apel Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Banser Ikuti Apel Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Banser Ikuti Apel Kebangsaan

Sebagaimana diberitakan sebelumnya apel banser akan diwarnai juga dengan aksi penanaman 1000 pohon di wilayah kelurahan keturen, Kecamatan Tegal selatan. Kota Tegal dan akan dilakukan oleh Banser dan Ansor kota Tegal.?

Seperti biasa apel Banser jug di dalamnya dibacakan nawa prsetiya Banser sebagai pedoman bertingkah laku dan berideologi bagi anggota banser dan tentunya mengawal NKRI sebagai harga mati. Pembacaan nawa prsetiya Banser berjalan dengan khidmat dan penuh dengan semangat. ?

IPNU Tegal

“Aksi sosial tanam pohon yang dilakukan dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda itu merupakan simbol kepedulian pemuda terhadap lingkungan hidup,” kata sekretaris panitia Sofyan Efendi.

IPNU Tegal

Menurut Sofyan, penanaman 1000 pohon yang terdiri dari jenis pohon Sawo dan pohon Sukun itu akan dilakukan usai mengikuti upacara peringatan hari Sumpah Pemuda yang diselenggaran Pemkot di alun-alun Kota Tegal.?

Seusai apel Banser peserta langsung kembali dengan kendaraan yang ditumpangi masing-masing, kabupaten Tegal peserta apel menggunakan kendraan bermotor, jadi seolah ada pawai yang menghiasi kegiatan itu.?

Wasat Satkorcab Banser Kabupaten Tegal Zeni Masardi mengatakan anggotanya hadir dalm apel itu Karena ada permintaan untuk mengikuti dan kami sangat bangga Karena sumpah pemuda yang merupakan peristiwa yang sangat bersejarah. “Ini menunjukan bahwa Banser selalu menghargai nilai-nilai sejarah," katanya.

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Pertandingan IPNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Bersabar dan Memberi Maaf

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Dalam kitab suci al-Qur’ân dinyatakan: “Demi masa, manusia selalu merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, berpegang kepada kebenaran dan berpegang kepada kesabaran (Wal-‘ashri innal–insâna la fî khusrin illâ-lladzîna ‘âmanû wa ‘amilus-shâlihâti wa tawâshau bil-haqqi wa tawâshau bis-shabr)” QS al-‘Ashr (103):1-3). Ayat tersebut mengharuskan kita senantiasa menyerukan kebenaran namun tanpa kehilangan kesabaran. Dengan kata lain, kebenaran barulah ada artinya, kalau kita juga memiliki kesabaran. Kadangkala kebenaran itu baru dapat ditegakkan secara bertahap, seperti halnya demokrasi. Di sinilah rasa pentingnya arti kesabaran.

Demikian pula sikap pemaaf juga disebutkan sebagai tanda kebaikan seorang muslim. Sebuah ayat menyatakan: “Apa yang mengenai diri kalian dari (sekian banyak) musibah yang menimpa, (tidak lain merupakan) hal-hal berupa buah tangan kalian sendiri. Dan (walaupun demikian) Allah memaafkan sebagian (besar) hal-hal itu (mâ ashâbakum min mushîbatin fa bimâ kasabat a’ydîkum wa ya’fû ‘an katsîrin)” (QS al-Syura (42):30). Firman Allah ini mengharuskan kita juga mudah memberikan maaf kepada siapapun, sehingga sikap saling memaafkan adalah sesuatu yang secara inherent menjadi sifat seorang muslim. Inilah yang diambil mendiang Mahatma Gandhi sebagai muatan dalam sikap hidupnya yang menolak kekerasan (ahimsa), yang terkenal itu. Sikap inilah yang kemudian diambil oleh mendiang Pendeta Marthin Luther King Junior di Amerika Serikat, dalam tahun-tahun 60-an, ketika ia memperjuangkan hak-hak sipil (civil rights) di kawasan itu, yaitu agar warga kulit hitam berhak memilih dalam pemilu.

Bersabar dan Memberi Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersabar dan Memberi Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersabar dan Memberi Maaf

Hal ini membuktikan, kesabaran dalam membawakan kebenaran adalah sifat utama yang dipuji oleh sejarah. Sebagaimana dituturkan oleh kisah perwayangan, para ksatria Pandawa yang dengan sabar dibuang ke hutan untuk jangka waktu yang lama, juga merupakan contoh sebuah kesabaran. Jadi, kesadaran akan perlunya kesabaran itu, memang sudah sejak lama menjadi sifat manusia. Tanpa kesabaran, konflik yang terjadi akan dipenuhi oleh kekerasan. Sesuatu yang merugikan manusia sendiri. Kekerasan tidak akan dipakai, kecuali dalam keadaan tertentu. Hal ini memang sering dilanggar oleh kaum muslimin sendiri. Sudah waktunya kita kaum muslimin kembali kepada ayat di atas dan mengambil kesabaran serta kesediaan memberi maaf, atas segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai hikmah.

IPNU Tegal

***

Hiruk pikuk kehidupan, selalu penuh dengan godaan kepada kita untuk tidak bersikap sabar dan mudah memberikan maaf. Dalam pandangan penulis, kedua hal tersebut seharusnya selalu digunakan oleh kaum muslimin. Tetapi harus kita akui dengan jujur, bahwa justru kesabaran itulah yang paling sulit ditegakkan dan kalau kita tidak dapat bersabar bagaimana kita akan memberi maaf atas kesalahan orang kepada kita? Jelas, bahwa antara keduanya terdapat hubungan timbal balik yang sangat mendalam, walaupun tidak dapat dikatakan terjadi hubungan kausalitas antara kesabaran dan kemampuan memaafkan kesalahan orang lain pada diri kita.

IPNU Tegal

Kita sebagai seorang muslim, mau tidak mau harus menyediakan keduanya sebagai pegangan hidup baik secara kolektif maupun secara perorangan. Dari sinilah dapat dimengerti, mengapa hikmah 1 Muharam 1424 Hijriyah ini sebaiknya tetap ditekankan pada penciptaan kesabaran dan penumbuhan kemampuan untuk memberikan maaf kepada orang yang dalam pandangan kita, berbuat salah kepada diri kita. Bukankah kedua ayat kitab suci yang dikemukakan di atas, sudah cukup kuat dalam mendorong kita membuat kesabaran dan kemampuan memaafkan kesalahan orang kepada diri kita, sebagai hikmah yang kita petik di hari raya yang mulia tersebut. Kedengarannya prinsip yang sederhana, tetapi sulit dikembangkan dalam diri kita.

Namun, lain halnya dengan para politisi yang berinisiatif menyelenggarakan Sidang Istimewa yang terakhir, dengan dasar “kebenaran” hasil penafsiran politik masing-masing. Tindakan ini berarti melanggar Undang-undang Dasar 1945, karena tidak memiliki landasan hukum. Dengan “nafsu” politiknya –yaitu Presiden harus lengser- mereka pun meninggalkan jalan permusyawaratan. Padahal, semua persoalan yang melibatkan orang banyak harus dipecahkan dengan negosiasi, seperti firman Allah: “dan persoalan mereka harus lah di musyawarahkan oleh mereka sendiri (wa amruhum syûrâ bainahum)” (QS al-Syura [42]:38). Terlihat selain melanggar konstitusi, dalam hal ini merekalah yang tidak dapat memaafkan. Sederhana saja, walaupun rumit dalam kehidupan politik kita sebagai bangsa dan negara.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Memorandum, 20 Februari 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sunnah, Jadwal Kajian, Pahlawan IPNU Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Turba, PCNU Semarang Terbitkan Majalah NU “Lentera 26”

Semarang, IPNU Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Semarang menyosialisasikan penerbitan majalah Lentera 26 dan pembuatan Kartanu di sejumlah kecataman di Semarang. Mereka membuka ruang dialog dengan warga NU Semarang melalui majalah ini untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan warga perihal agama, kebangsaan, pengembangan SDM, termasuk kesehatan.

Turba, PCNU Semarang Terbitkan Majalah NU “Lentera 26” (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba, PCNU Semarang Terbitkan Majalah NU “Lentera 26” (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba, PCNU Semarang Terbitkan Majalah NU “Lentera 26”

“Kita tengah mempersiapkan peluncuran majalah NU “Lentera 26”. Lentera 26 diharapkan menjadi media informasi bagi warga NU di kabupaten Semarang khususnya, dan warga Jawa Tengah umumnya,” kata Ketua PCNU Semarang H Ahmad Hanik di balai Islam Gedung MWCNU Ambarawa kabupaten Semarang, Ahad (21/9).

Untuk Kartanu, pihak PCNU menggandeng sejumlah pihak di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dengan kerja sama ini, pemegang Kartanu berkesempatan menerima fasilitas kesehatan di rumah sakit negeri atau swasta terutama dalam hal keringanan biaya.

IPNU Tegal

“Dengan semua itu, kita berharap NU menjadi pioner terdepan dalam menciptakan masyarakat yang adil, beradab dan berkemajuan. Karenanya, kita akan bekerja keras mewujudkan semua itu dalam program kerja yang ditransformasikan melalui kerja lembaga-lembaga yang kita punya,” tandas H Hanik. (Suharsini Buhar/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Pahlawan IPNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah

Oleh Ubaidillah Achmad

Sehubungan dengan peristiwa bom bunuh diri di Madinah, telah memunculkan banyak spekulasi penilaian terhadap motif seseorang yang memilih siap mati, namun tidak siap melaksanakan darma kehidupan.

Secara psikis banyak motivasi yang menyebabkan peristiwa ini terjadi. Karenanya, saya ingin turut mencoba memahami alasan dibalik peristiwa bom bunuh diri di Madinah. Secara sederhana, peristiwa ini tidak mungkin karena kegilaan pelaku, karena orang gila tidak bisa menyiapkan perangkat yang super dahsyat ini dan menentukan momentum bagaimana ancaman yang mengundang kekhawatiran umat dunia. Yang saya maksudkan dengan pelaku di sini, adalah pelaku yang bisa saja berupa korban dan juga berupa mereka yang memainkan korban.

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah

Sebagai umat Islam, tidak perlu mengkhawatirkan terhadap peristiwa yang sudah terjadi, namun perlu memikirkan lebih serius bagaimana supaya peristiwa ini tidak terjadi? Dengan demikian, kita tidak hanya bisa mengecam, namun juga memikirkan apa yang harus kita perbuat dengan perbuatan kecil, namun bermanfaat untuk umat manusia. Karenanya, umat Islam perlu memikirkan resolusi konflik personal dan komunal yang bersumber dari nilai-nilai keagamaan, bukan justru menjadikan keyakinan agama sebagai sumber konflik kemanusiaan.

Sebelum saya berkesimpulan terhadap peristiwa naas di Madinah sebelum lebaran Idul Fitri 2016, menurut saya ada lima tesis yang bisa kita baca kemungkinannya sebagai penyebab bom bunuh diri tersebut: tesis pertama, karena adanya bom waktu sistem pemerintahan yang menggunakan sistem kerajaan. Hal ini membuat masyarakat sudah tidak puas dengan sistem kerajaan di tengah perkembangan sistem demokratisasi di dunia. Tesis kedua, karena konspirasi kapitalisme global yang ingin menguasai negara-negara penghasil minyak dunia, seperti kawasan Timur Tengah.

IPNU Tegal

Tesis ketiga, kepentingan imperialisme yang ingin menjajah negara yang menyimpan sumber daya alam yang tinggi dengan model atau cara manajemen konflik. Berbeda dengan zaman Perang Dunia II, penjajahan bisa dilakukan dengan cara penindasan pada harkat dan martabat manusia dengan merampas SDA dan menindas SDM. Namum sekarang para imperialis telah melakukan pencitraan atas nama kemanusiaan, sedangkan di sisi yang lain, secara pelan pelan melakukan penjajahan terselubung melalui perspektif akademik dan ilmiah.

Tesis keempat, karena adanya senjata makan tuan, berupa gerakan wahabi yang telah dibesarkan oleh sistem kerajaan di Arab Saudi, bertujuan untuk mendidik masyarakat agar lebih fokus pada ajaran al-Qur’an dan Hadits. Sementara itu, sistem kerajaan Arab Saudi bersumber penuh pada kehendak kuasa sang raja dari keluarga Ibn Suud. Cita-cita gerakan yang baik melalui slogan kembali pada dua wasiyat Nabi Muhammad ini, telah dipimpin langsung oleh para Ulama Wahabi yang didanai langsung oleh kerajaan. Para Ulama Wahabi di Negera Saudia Arabia ini bersikap mendua, yaitu sebagai corong kerajaan yang banyak mengabaikan teks kewahyuan, namun dalam konteks yang lain bersikap sebagai seorang ulama yang selalu berkampanye kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Yang berkembang kuat dapat mempengruhi hukum kerajaan, adalah kepentingan keluarga kerajaan Ibn Saud. Bukti yang menunjukkan hal ini, tidak ada seorang Ulama Wahabi yang berani dengan tegas menolak kebijakan Raja setegas menolak setiap yang bidah dlalalah perspektif Wahabi. Misalnya, kebijakan yang selama ini menjadi ajaran Wahabi anti Barat, namun membiarkan kebijakan raja yang memilih kerjasama dengan Yahudi untuk kepentingan penguasaan minyak. Fenomena ini berjalan lancar tanpa gugatan dari para ulama Wahabi. Yang ironis, dalam konteks kasus di Indoensia, mereka yang Arabis, justru menegaskan, sebagai gerakan anti-Amerika, anti-imperialis dan anti-Barat.

Tesis kelima, adanya gerakan teroris murni yang mengatasnamakan Islam untuk sebuah kepentingan kehendak kuasa dan gerakan pencitraan para teroris di mata aktivis gerakan kelas dunia. Namun karena merupakam gerakan makar, maka gerakan ini tidak mendapatkan dukungan masyarakat dunia. Gerakan teroris ini, telah melakukan pembajakan melaluu gerakan keagamaan yang mengajarkan tentang radikalisme. Hasil pencitraan justru berbalik, telah mendapatkan kecaman masyarakat dunia.

Sehuhungan dengan kelima tesis tersebut di atas, maka dapat dipahami, bahwa ada sistem yang memancing gejala yang bertolak belakang atau kontra produktif terhadap tujuan subjek. Sebaliknya, kelima indikasi yang menguatkan tesis tersebut di atas, telah menjadi kemungkinan terbesar dari dampak sekenario politik kapital. Mengapa kemungkinan ini terjadi, karena hanya negara besar dan super powerlah yang mampu melakukan semua ini.

IPNU Tegal

Pertanyaannya, adalah mengapa kemampuan ini tidak ditunjukkan secara terang terangan? jika secara terang terangan politik imperialis yang merugikan negara sasaran bisa dilakukan kenapa harus dengan cara silend. Karena, sekarang ini telah banyak yang menyadari betapa buruknya dikenal sebagai diktator atau manusia kejam dalam sejarah umat manusia. Beberapa sejarah kelam para penjahat kemanusiaan, tidak ingin mereka ulang dalam sejarah modern. Karenanya, kebijakan politik yang berisiko bagi kemanusiaan telah mereka hindari, sehingga sewaktu hendak memainkan kepentingan ekonomi kapital tidak mendapatkan penolakan dari para calon pelanggan di negara yang mereka katagorikan sebagai negara berkembang. Para kapital, selalu berusaha mencari pelanggan yang baik yang menjaga kepentingan kapital tanpa halangan predikat "sebagai penjahat kemanusiaan".

Meskipun semua tesis tersebut di atas mungkin terjadi pada peristiwa bom di dekat Masjid Madinah, namun dalam perspektif penulis, yang paling mungkin, berupa tesis yang keempat, berupa gerakan pagar makan tanaman. Sudah tidak asing lagi, mengapa di negara arab sering terjadi konflik internal, karena model pembelajaran keberagamaan lebih menekankan pada model fanatisme madzhab dan aliran keberagamaan. Hal yang sama seperti gerakan wahabi di Indonesia yang cenderung lebih mudah membidahkan, mengkafirkan, memusyrikkan kepada individu yang berbeda golongan atau kelompok komunal.

Model seperti ini berbeda dengan model keberagamaan di Indonesia yang cenderung lebih mengedepankan kemajmukan atau keragaman. Kondisi keberagamaan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kondisi historis para leluhur masyarakat nusantara sebelum menjadi bangsa Indonesia, yaitu masyarakat yang terdiri dari berbagai keyakinan dan memiliki aneka ragam kebudayaan dan prinsip moralitas. Dari aneka ragam kebudayaan dan prinsip moralitas ini, terdapat etika universal yang masih menjadi pedoman hingga sekarang, yaitu prinsip binika tunggal ika. Prinsip ini yang telah dirangkum menjadi ideologi Pancasila.

Antitesis dari prinsip karagaman kebudayaan dan keyakinan ini, telah direkonstruksi dan dikontekstualisasikan oleh Walisongo melalui model keberagamaan yang disebut dengan istilah pribumisasi Islam. Pribumisasi Islam Walisongo didasarkan pada model kontekstualisasi pola keberagamaan yang diintegrasikan dengan model kearifan lokal dan prunsip etika Universal.

Jika model keberagamaan walisongo dibandingkan dengan model keberagamaan di timur tengah, maka akan mengalami perbedaan yang signifikan. model keberagamaan di timur tengah terlihat mengabaikan model keragaman sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad, namun justru lebih menekankan pada model yang membedakan peran dan fungsi sosial, antara pendapat sesama umat Islam dan pendapat mereka yang bukan orang Islam.

Oleh karena itu, di Jazirah Arab terjadi banyak konflik yang belum terselesaikan, karena masih banyak umat beragama mejadikan posisinya secara konfrontatif antara dirinya sebagai umat beragama dan pihak lain sebagai kaum yang dzalim, kafir, musyrik, dan munafik. Sementara itu, Walisongo lebih menekankan keberadaannya sebagai sosok yang memiliki kekhasan dan keunikan yang dapat memposisikan diri dalam perbedaan dan keragaman. Strategi Walisongo ini dapat menjadi teori baru dalam resolusi konflik.

Jadi, peran Walisongo di tengah perbedaan bersama pihak yang lain tidak dalam konteks sebagai keberadaan yang konfrontatif, yang harus saling memaksa dan menafikan fungsi muamalah dan fungsi kemanusiaan. Meskipun demikian, Walisongo meyakini relasi suci kosmologis di bawah kekuasaan Allah yang berhak memutuskan penciptaannya.

Sehubungan dengan model keberagamaan Walisongo ini dapat dijadikan sebagai paradigma yang dapat menjadi konstribusi model keberagamaan yang mengembalikan pada model keberagamaan Nabi Muhammad. Model ini, yang sekarang ini justru dilupakan umat Islam dibelahan dunia, khususnya timur tengah.

Karenanya, banyak konflik keberagamaan di belahan dunia dan negara negara Arab, yang bertambah rumit dan runyam, yang seolah justru agama menjadi sumber konflik sosial. Di Timur Tengah kurang menata keragaman di tengah keberagamaan. Misalnya, terjadi pada kasus konflik sunni-syii di Timur Tengah. Sebaliknya di Indonesia, meskipun kebanyakan memilih model keberagamaan Sunni, namun tidak menjadi sumber konflik atas nama pemahaman kedua aliran ini. Beberapa kasus konflik justru disebabkan oleh beberapa orang yang lebih memilih model Arabisme.

Jadi, kesadaran keragaman masyarakat Indonesia dalam keberagamaan, selain telah berlangsung melalui proses pribumisasi Islam Walisongo, juga memiliki sumber historis yang telah menjadi model kebhinekatunggalikaan para leluhur atau nenek moyang bangsa Indonesia.

Ubaidillah Achmad, Penulis Buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Nasional, Pahlawan IPNU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II

Jakarta, IPNU Tegal

Liga Santri Nusantara (LSN) Region Sulawesi I menggelar laga final, Rabu (31/8) ini, pukul 15.00 WITA, di Lapanham PP DDI Kaballangan, Pinrang, Sulawesi Selatan. Region Sulawesi I meliputi Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat.

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II

Di hari yang sama, final LSN Region Jatim II juga digelar di Stadion Brawijaya Kediri. LSN Region Jatim II yang bakal berlangsung pada pukul 15.30 WIB meliputi Kabupaten Kediri, Jombang, Malang, Batu, Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung.

Menurut Koordinator LSN Region Sulawesi I Alimuddin Budung, laga final tersebut akan mempertemukan Pondok Pesantren DDI Kaballangang Pinrang versus Pondok Pesantren Al-Ihsan Kanang, Sulbar.

IPNU Tegal

"Alhamdulillah kita sudah memasuki babak final. Saya mengundang kepada seluruh masyarakat untuk menyaksikan laga final ini. Ini merupakan tontonan yang menarik," tandasnya.

Sementara itu, laga final LSN Jatim II mempertemukan antara Pondok Pesantren An Nur 2 Malang versus Pondok Pesantren Darut Taibin Tulungagung. Sedangkan, pertandingan untuk merebut juara ketiga mempertemukan antara Pesantren Queen Al Falah Ploso Kediri versus Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang pada pukul 13.30 WIB.

IPNU Tegal

Untuk sementara, LSN di Jatim yang baru memastikan tiket ke babak 32 besar seri nasional adalah Pesantren Darul Huda Mayak. Darul Huda merupakan wakil dari LSN Region Jatim I. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Penguburan Jenazah Dengan Peti

Menurut agama Islam, mengubur jenazah merupakan kewajiban orang hidup. Ingat, bagi orang yang hidup… Kalau diwajibkan bagi orang mati, perihal itu dapat menakutkan kanak-kanak dan membuat sepi pasar.

Tentu saja orang hidup itu harus berakal dan baligh. Agama tidak mengenakan kewajiban itu kepada batu, pohon, binatang liar atau peliharaan, orang kurang kewarasan, kanak-kanak, dan lainnya.

Mengenai penguburan jenazah, sebuah pertanyaan masuk ke surel (surat elektronik) Redaksi IPNU Tegal. Apakah hukumnya penguburan jenazah dengan peti?

Penguburan Jenazah Dengan Peti (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguburan Jenazah Dengan Peti (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguburan Jenazah Dengan Peti

Para ulama menjawab sesuai dengan keadaan penguburan itu sendiri. Hukum penguburan jenazah menggunakan peti tanpa ada uzur, maka hukumnya makruh. Karena praktik itu terbilang bid‘ah. Lain soal kalau keadaan menuntut penggunaan peti. Untuk kasus terakhir, ulama menyatakan wajib menggunakan peti.

Kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj karya Ibnu Hajar Al-Haitami, mengatakan:

IPNU Tegal

(يُكْرَهُ دَفْنُهُ فِي التَّابُوْتِ) إِجْمَاعًا لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ (إِلاَّ لِعُذْرٍ) كَكَوْنِ الدَّفْنِ فِيْ أَرْضٍ نَدِيَةٍ بِتَخْفِيْفِ التَّحْتِيَّةِ أَوْ رَخْوَةٍ بِكَسْرِ أَوَّلِهِ أَوْ فَتْحِهِ أَوْ بِهَا سَبُعٌ تَحْفُرُ أَرْضَهَا وَاِنْ أُحْكِمَتْ أَوْ تَهَرَّى بِحَيْثُ لاَ يَضْبِطُهُ إِلاَّ التَّابُوْتُ أَوْ كَانَ اِمْرَأَةً لاَ مَحْرَمَ لَهَا فَلاَ يُكْرَهُ لِلْمَصْلَحَةِ بَلْ لاَ يَبْعُدُ وُجُوْبُهُ فِيْ مَسْأَلَةِ السِّبَاعِ اِنْ غَلَبَ وُجُوْدُهَا وَمَسْأَلَةِ التَّهَرِّيْ. 

“Sesuai kesepakatan ulama, dimakruhkan mengubur jenazah dalam peti, karena termasuk bid’ah, kecuali kalau ada uzur, seperti di tanah yang lembab atau gembur berair atau adanya binatang buas yang akan menggalinya walaupun sudah padat yang sekiranya tidak akan bisa terlindungi kecuali dengan dimasukkan dalam peti, atau jenazah wanita yang tidak punya mahram. Dalam hal ini maka tidak dimakruhkan menggunakan peti mati untuk kemaslahatan, bahkan bila diperkirakan adanya binatang buas, maka hukumnya menjadi wajib.”

Sedangkan kitab I‘anatut Thalibin karya Al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, menyatakan:

 ÙˆÙŽÙƒÙØ±ÙÙ‡ÙŽ ØµÙÙ†Ù’Ø¯ÙÙˆÙ’Ù‚ÙŒ إِلاَّ لِنَحْوِ نَدَاوَةٍ فَيَجِبُهُ 

IPNU Tegal

“Dimakruhkan mempergunakan peti mati kecuali semisal berada di tanah yang lembab berair, maka hukumnya wajib.”

Keterangan hukum para ulama di atas semoga cukup menjawab pertanyaan yang masuk. Sedangkan perihal bagaimana tata caranya, tidak ada aturan baku. Peraturan itu diserahkan kepada mereka yang mengurus pemakaman asal sesuai dengan nilai etis yang pantas. Wallahu A’lam.

Staf Redaksi: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan IPNU Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi

Jakarta, IPNU Tegal. Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan Kementerian Desan dan Transmigrasi Republik Indonesia (RI) menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental Spiritual bagi Daiyah di Daerah Transmigrasi di Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat  (BBPLM) Jakarta Timur, Selasa (17/10) lalu.

Kegiatan ini dilaksanakn selama empat hari (16-20/10) dan diikuti 30 peserta terdiri atas Daiyah Fatayat NU se-Sumatera dan Indonesia Timur, Organisasi Masyarakat (Ormas), dan undangan.

Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi

Pengembangan dakwah Islam rahmatan lil alamin saat ini menjadi hal yang sangat urgen untuk dikembangakan terlebih bagi anak-anak dan perempuan. Perempuan sebagai  tulang punggung pertama dalam kelompok terkecil dalam amsyarakat, yaitukeluarga diharapkan menjadi agent of change bagi-minimal-keluarganya.

Ajaran islam rahmatan lil alamin juga menjadi counter dari radikalisme mengingat perkembangan radikalisme sudah menyebar ke semua kalangan masyarakat, termasuk perempuan dan kalangan anak muda.

IPNU Tegal

Oleh karena itu, perempuan sebagai pendakwah (daiyah) juga memiliki peran penting, bukan hanya sebagai pihak yang emlakukan transfer of knowledge pada masyarakat, namun telah meluas menjadi agent of change bagi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Demikian juga dalam persoalan radikalisme, daiyah memiliki peran yang sangat strategis untuk melakukan gerakan deradikalisasi.

Atas dasar itu uraian di atas,  Fatayat NuU merasa perlu berpartisipasi dalam deradikalisasi melalui peran perempuan, dengan meningkatkan peningkatan kualitas daiyah dan menguatkan materi dakwahnya.

IPNU Tegal

Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini dalam sambutannya mengatakan, daiyah sebagai orang yang dipercaya masyarakat di daerah transmigrasi, oleh karenanya peningkatan kapasitas daiyah perlu dikuatkan, tidak hanya peningkatan kapasitas secara ekonomi tapi juga secara rohani.

Menurutnya, Fatayat NU sangat concern para dai atau masyarakat di transmigrasi. Apalagi hari ini, Indonesia adalah negara di asia yang sangat cair sekali didatangi ideology-ideologi yang membawa masyarakatnya untuk tidak mencintai lagi negaranya.

“Karena transimgrasi  secara geografi jauh dari pusat kota, jauh dari komunitas secara umumm, ini lebih mudah untuk didatangi lebih mudah untuk dipengaruhi oleh ideology-ideologi ini, sehingga ini menjadi konsentrasi Fatayat NU yang sangat sinergi dengan programnya direktorat jenderal pengembangan kawasan transmigrasi,” terang Anggi.

Hadir pada kegiatan ini, Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Bidang Dakwah PP Fatayat NU Hj Anisa Rahmawati, dan Dirjen Pembangunan Kawasan Transmigrasi (PKTrans) HM. Nurdin. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Jadwal Kajian, Pahlawan IPNU Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Ulama Pewaris Para Nabi, IPNU Pewaris Para Ulama

Sumedang, IPNU Tegal

Pengurus Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi Jawa Barat pada Sabtu-Ahad (3-4/12) melaksanakan rapat koordinasi wilayah di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Acara pembukaan digelar di Aula Tampomas Pemda Sumedang dan acara rapat koordinasinya bertempat di Aula PCNU Sumedang.

Ulama Pewaris Para Nabi, IPNU Pewaris Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Pewaris Para Nabi, IPNU Pewaris Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Pewaris Para Nabi, IPNU Pewaris Para Ulama

Semua pengurus PW IPNU Jawa Barat dan perwakilan pengurus dari tiap-tiap Pimpinan Cabang IPNU se-Jawa Barat ikut bagian dalam kegiatan ini. Sejumlah tokoh yang ketika masa pelajarnya merupakan bagian dari IPNU juga hadir dalam pembukaan rapat koordinasi itu. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya ada H. Dony Ahmad Munir yang sekarang menjabat sebagai angota DPR-RI, H Sadulloh (ketua PCNU Sumedang), H Zaenal Alimin (sekda Sumedang), dan tokoh-tokoh yang lainnya.

Zaenal Alimin yang menjabat juga sebagai awan di PCNU Sumedang dalam sambutannya mengatakan bahwa kata pelajar jika sudah disandingkan kepada NU maka pelajar tersebut harus menjadi bagian dari perjuangan NU. Kalau NU merupakan organisasi pewaris para Nabi, maka IPNU merupakan organisasi pelajar pewaris para ulama.

IPNU Tegal

“Oleh karena itu IPNU harus terus dekat, belajar, berguru, dan berkhidmah kepada para ulama. Kalau ulama NU selama ini ikut berjuang, menjaga dan mengisi Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka IPNU pun harus terus mengikuti langkah jejak para ulama tersebut,” kata Zaenal Alimin.

IPNU Tegal

Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh yang hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut memberikan wejangan kepada peserta rapat koordinasi bahwa kaderisasi IPNU saat ini bisa menentukan nasib NU ke depan.

Oleh karena itu, tambahnya, IPNU harus melakukan 4 hal sebagai, yakni pertama kader IPNU harus sering silaturahim, baik silaturahmi antar anggota, kapada ulama, atau kepada senior. Kedua, harus silatul-afkar, sesama anggota dan kader harus menyamakan persepsi. Katiga, silatul-amal, pengurus IPNU harus bekerja sesuai dengan amanah jabatan yang diembannya. Dan yang terakhir harus silaturruuh dengan cara sering ziarah.kepafa tokoh-tokoh NU, pendiri IPNU, para wali dan pahlawan.

“Semoga rapat koordinasi wilayah PW IPNU Jawa Barat ini bisa menyikapi perkembangan yang aktual dan hangat, serta bisa menghasilkan solusi-solusi menyelesaikan masalah yang dihadapi pelajar saat ini,” tutup H Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan IPNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU

Sidoarjo, IPNU Tegal. Halaqoh Ahlusunnah wal Jamaah yang digelar di aula PCNU Sidoarjo, Ahad (19/4), diharapkan mampu melakukan perubahan yang lebih bagus dengan membangun pola pikir masyarakat yang cerdas serta memiliki kemampuan dan rasa percaya diri yang tangguh dalam mengahadapi era global.

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyatakan, pemikiran ulama NU sudah saatnya go internasional. Pasalnya, ulama Timur Tengah masih dalam tahap tafaqquh fiddzin atau mendalami ilmu agama. Mereka belum bisa yunziru qaumahum atau melakukan pembinaan terhadap umat.

"Dalam hal keilmuan memang ulama NU banyak belajar dari Timur Tengah. Beberapa karya besar ulama Timur Tengah dipelajari di pesantren-pesantren. Namun, terkait memberikan bimbingan kepada umat, ulama Timur Tengah perlu belajar ke Indonesia yaitu kepada NU. Sehingga, sudah saatnya pemikiran ulama NU go internasional tanpa meninggalkan aqidah dari Ahlussunnah wal Jamaah," tegas kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

IPNU Tegal

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Mutawakil Alallah yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa Muktamar NU yang akan diadakan di Jombang mendatang itu dalam rangka Harlah ke-89 NU dan akan ditempatkan di 4 pondok pesantren yang memiliki nilai history terhadap awal berdirinya NU, diantaranya, Tebuireng, Tambak beras, Denanyar dan Darul Ulum yang semua berlokasi di Jombang.

Acara Halaqoh Ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang diadakan di aula PC NU Sidoarjo dalam rangka memperingahti Harlah NU ke-89 itu juga dihadiri Ketua PC NU Sidoarjo KH Abdi Manaf, KH Agoes Ali Mashuri Pemangku Ponpes Bumi Sholawat, Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dan para ulama se-Sidoarjo. (Moh Kholidun/Mahbib)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Lomba, Pahlawan IPNU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU

Jakarta, IPNU Tegal

Majelis alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama beri arahan khusus dalam rapat kerja dan orientasi kepengurusan PP IPNU periode 2015-2018.? Ketua Umum PP IPNU periode 1988-1996 Zainut Tauhid Saadi memberi pemaparan tantangan IPNU-IPPNU ke depan akan dihadapkan pada persoalan kualitas kader, karena di era global ini kita tidak hanya bisa berbicara soal kuantitas.

"Berbicara soal hari ini kita akan dihadapkan dengan tiga tantangan yang terus saling bersinggungan, yaitu idealisme, pragmatisme, dan tata nilai. Ketiga hal tersebut harus dipadukan agar seimbang," kata Zainut saat memaparkan arahan, Ahad (27/03), di Aula Asrama Haji Pondok Gede.

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU

Ia menjelaskan bahwa tiga kunci kesuksesan dalam organisasi adalah SDM, jejaring sosial, dan finansial.? "Tentu ketiga hal tersebut krusial semua, tapi jangan terpaku karena masalah finansial, coba perluas jaringan pasti banyak jalan," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PP IPNU periode 1996-2000 Hilmi Muhammadiyah memberikan arahan atas nama Majelis Alumni IPNU bahwa arah gerak IPNU sangat didukung oleh Majelis Alumni IPNU. Begitu pula IPPNU, meski saat ini belum terbentuk Majelis Alumni.

"Majelis Alumni IPNU bukan sebagai partner yang mengintervensi tapi membina dan mengarahkan serta membantu mencari jalan untuk berlangsungnya organisasi pelajar yang besar ini," kata Hilmi.

IPNU Tegal

Ia juga menambahkan bahwa IPNU-IPPNU perlu aktif berkoordinasi dengan Majelis Alumni agar mendapat dukungan serta akses yang mempermudah perjalanan organisasi. (Afifah Marwa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Sholawat, Pahlawan, Fragmen IPNU Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Pergamanas, ini Tanggapan dan Harapan Menag RI

Cirebon, IPNU Tegal. Perkemahan Regu Penggalang Ma’arif Nasional NU Nasional (Pergamanas) 2015 yang dilaksanakan di Pesantren KHAS Kempek Cirebon mendapatkan sambutan positif dari Menteri Agama Republik Indonesia, H Lukman Hakim Saefudin.

Pergamanas, ini Tanggapan dan Harapan Menag RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergamanas, ini Tanggapan dan Harapan Menag RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergamanas, ini Tanggapan dan Harapan Menag RI

Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan di acara Apel Pembukaan Pergamanas 2015 di Lapangan Sepak Bola Desa Kempek Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon, Kamis (8/1).

“Pergamanas merupakan bentuk partisipasi NU dalam mendesiminasi wawasan kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme kepada warganya,” ungkap Lukman.

IPNU Tegal

Menteri Agama juga mengatakan, bahwa NU melalui LP Ma’arif mampu memahami bahwa Gerakan Kepramukaan memberi peran besar dalam pembentukan karakter pada generasi muda.

Ia berharap, Pergamanas 2015 mampu menguatkan peserta sebagai generasi muda yang beriman, bertakwa, berkepribadian mulia dan bertindak cakap.

IPNU Tegal

“Melalui Pergamanas ini, diharap para peserta akan menjadi pribadi yang unggul, serta memiliki kecakapan hidup dalam menyikapi perubahan lokal, nasional maupun global,” tambahnya.

Selain diisi sambutan Menteri Agama RI, dalam acara apel pembukaan ini juga dilakukan? pemberian beasiswa secara simbolis, serta penyerahan penghargaaan kepada 9 tokoh NU yang memiliki jasa dan pengabdian yang tinggi terhadap dunia pendidikan. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan IPNU Tegal

Selasa, 28 November 2017

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya

Surabaya, IPNU Tegal



Sejarah bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para tokoh Nahdlatul Ulama. Organisasi ulama-santri ini berhasil membentuk citra dan cerita yang positif tentang bagaimana andil umat Islam dalam menegakkan bangsa dan Negara. Melihat pentingnya konstribusi tersebut, maka para pegiat literasi yang tergabung dalam Komunitas Baca Rakyat (Kobar) bekerjasama dengan Pustaka Tebuireng menggelar seminar dan bedah buku berjudul Membuka Ingatan: Memoar Tokoh NU yang Terlupakan bertempat di gedung B lantai 3 Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya.?

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya

Acara yang digelar pada hari Selasa (11/04) ini, dihadiri langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang sekaligus didapuk sebagai narasumber utama yaitu KH Shalahudin Wahid (Gus Sholah). Adapun narasumber kedua adalah KH Muhibin Zuhri selaku ketua PCNU Kota Surabaya, sementara itu Prof Masdar Hilmy mendapatkan tempat sebagai narasumber ketiga.?

Dalam paparannya, Gus Sholah menyatakan bahwa buku ini ditulis dalam rangka mengangkat kembali figur NU yang patut diteladani. Menurutnya ada beberapa hal yang perlu diikuti.

“Terutama motivasinya untuk maju, untuk mengembangakan diri, disiplin diri, tanggung jawab, integritas dan yang paling penting beliau semua adalah negarawan,” terangnya saat menyampaikan materi.

IPNU Tegal

Gus Sholah menambahkan bahwa para sosok yang diangkat dalam buku ini adalah seseorang yang secara sukses terbukti mampu menghidup-hidupi NU, bukan hidup di dalam NU.

Pernyataan ini, diperkuat oleh KH Muhibin Zuhri yang mengatakan bahwa para aktvis NU tempo dulu adalah orang-orang yang telah selesai urusan perutnya. “Para aktifis dulu adalah ? orang yang mapan, sehingga menjadi aktifis merupakan suatu pelarian dari segala hal yang mereka miliki. Karena, aktivis yang belum selesai masalah perutnya, biasanya justru masuk organisasi ? untuk menyelesaikan perutnya,” ujarnya dalam seminar tersebut.

Direktur Museum NU ini juga mengungkapkan bahwa buku ini penting karena banyak mengangkat tokoh yang semuanya merupakan pemimpin besar, karena mampu menginspirasi. Hal ini juga ditegaskan oleh Prof Masdar Hilmy yang menyatakan bahwa buku ini memberikan kontribusi sangat bagus bagi generasi muda untuk mengenal siapa saja yang mendedikasikan hidupnya untuk NU, Nusa dan bangsa.?

“Informasi yang dimuat dalam buku ini adalah jembatan antar generasi. Buku ini adalah media yang sangat penting untuk mengenalkan figur-figur yang punya nilai dalam hidupnya, yang bisa kita teladani, sehingga bisa kita buat sebagai kaca benggala untuk diri kita,” terangnya.

Acara yang digelar oleh Kobar ini semakin semarak karena dihadiri oleh para tokoh, antara lain Hj Farida Syaifudin (istri Gus Sholah), Prof.Abdul A’la (rektor UIN Sunan Ampel), Prof Husein Aziz (Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel), Prof Ridwan Natsir, Prof Ali Haidar dan para akademisi dari Surabaya, Jombang, Sidoarjo dan sekitarnya. (Eka Wahyudi/Mukafi Niam)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kajian, Pahlawan IPNU Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Aswaja Center NU Jember Luncurkan Majalah OASE

Jember, IPNU Tegal. Aswaja Center NU Jember melakukan langkah maju di bidang penulisan. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari diterbitkannya Majalah OASE. Peluncuran majalah tersebut dilakukan di sela-sela pertemuan bulanan warga nahdliyyin di halaman Kantor PCNU Jember, Senin (7/8) malam.

Aswaja Center NU Jember Luncurkan Majalah OASE (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Center NU Jember Luncurkan Majalah OASE (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Center NU Jember Luncurkan Majalah OASE

Direktur Aswaja Center NU Jember, Kiai Abdul Haris menegaskan bahwa penerbitanmajalah tersebutdimaksudkan sebagai media dakwah NU  sekaligus media silaturrahim antar warga nahdliyyin. Lebih dari itu, kehadiran OASE dirancang untuk mengimbangi penetrasi penerbitan media cetak yang selama ini gencar dilancarkan oleh sejumah kelompok kontra Aswaja An-Nahdliyah.

"Bagaimanapun, kita harus mengimbangi untuk memberikanpencerahan, yang salah satunya lewat media ini," tukas Kiai Abdul Haris saat meluncurkan OASE.

Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Jember tersebut berharap agar kehadiran OASE dapat menjadi penyejuk di tengah riuhnya  tudingan dan berita-berita provokatif cenderung menyudutkan amaliah NU. Karenaitu, ia mohon dukungan dari segenap warga NU demi kesinambungan media dakwah tersebut. 

IPNU Tegal

"Isitilahnya bukan membeli, tapi beramal dengan menyumbang untukmemperoleh majalah ini,meski sumbangantersebut ada batas minimalnya," lanjut Kiai Abdul Haris.

Majalah OASE tampil menawan, dengan tebal 43 halaman full colour. Di box redaksi, pelindung adalah KH. Muhyidin Abdusshomad dan KH. Abdullah Syamsul Arifin (Rais Syuriyah dan Ketua PCNU Jember). Sedangkan pemimpin umum dijabat oleh Kiai Abdul Haris sendiri. Sementara pemimpin redaksi ditangani  oleh Abdul Wahab Ahmad. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Sholawat IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock