Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Januari 2018

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare

Parepare, IPNU Tegal



Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana tahap kedua.?

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare

Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana ini dipandu oleh Humanitarian Open Street Map Team (HOT). Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, OPD Terkait, LPBINU, Pramuka, PMI, Perguruan Tinggi yang berasal dari Kabupaten Barru dan Wajo, Sulawesi Selatan yang telah mengikuti pelatihan tahap 1 (JSOM dan Mapathon). Pelatihan akan berlangsung selama 5 (lima) hari pada 10-14 April 2017 di Hotel Parewisata Parepare, Sulawesi Selatan.?

?

Ketua LPBINU PBNU M Ali Yusuf menyatakan bahwa untuk menyusun rencana dan aksi penanggulangan bencana yang sistematis, terarah dan terpadu, diperlukan dasar yang kuat untuk pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah/kawasan. Di sinilah letak penting adanya kajian risiko bencana sebagai perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran dampak (korban dan kerugian) dari ancaman bencana yang ada.?

IPNU Tegal

Dengan mengetahui kemungkinan dan besaran korban dan kerugian, lanjutnya, fokus perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif. “

Dapat dikatakan, kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu daerah atau kawasan,” jelasnya.

Pelatihan ini merupakan rangkaian kegiatan dalam Program Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Masyarakat Lokal dalam Kesiapsiagaan untuk Respon Bencana yang Cepat dan Efektif. Setelah penyelenggaraan pelatihan tahap pertama memperkenalkan dan menerapkan aplikasi Java Open Street Map (JOSM). JOSM merupakan salah satu alat dalam penanggulangan bencana alam, pada tahap kedua yaitu terkait dengan Quantum Geography Information System (QGIS) ? dan Ina SAFE.

Hasil dari pelatihan kajian risiko bencana ini adalah tersusunnya peta risiko bencana (peta ancaman, peta kerentanan dan peta kapasitas) dan juga tersusunnya kajian risiko bencana di Kabupaten Barru dan Wajo (Sulawesi Selatan).

H. Abdul Kadir, Kepala BPBD Kabupaten Barru, menyampaikan pentingnya kajian kerentanan untuk dapat meningkatkan kapasitas sehingga risiko dapat dikurangi. “Harapan kami dokumen kajian risiko bencana dapat menjadi acuan dalam pembangunan yang ada di Kabupaten Barru, dan kajian risiko bencana dapat diimplementasikan secara baik,” katanya.?

IPNU Tegal

Pelatihan dibuka oleh Syarifuddin Rahim, Sekretaris BPBD Provinsi Sulawesi Selatan. Ia mengapresiasi LPBINU yang bekerja sama dengan DFAT dalam melaksanakan program di Kabupaten Barru dan Wajo sebagai proyek percontohan. “Semoga kegiatan yang dilaksanakan di Sulawesi Selatan dapat di implementasikan dan di kembangkan di daerah lain,” katanya.

Menurutnya, bencana ? merupakan tanggung jawab bersama, dan pelatihan kajian risiko bencana dengan melibatkan multi stakeholders adalah sangat tepat, ? memang kegiatan kajian tidak mudah, namun hal yang sangat penting adalah kita mendapatkan kesepatan yang sangat berharga, dan semua peserta mampu mengamalkan ilmu yang telah didapat.

Salah satu tujuan pelatihan ini adalah untuk menerapkan aplikasi Java Open Street Map (JOSM) dalam melakukan pengkajian risiko bencana di suatu daerah termasuk di dalamnya memetakan risiko bencana dan mengembangkan skenario dalam melakukan penanggulangan bencana dengan menggunakan perangkat lunak InaSAFE. Hasil dari kajian risiko tersebut nantinya digunakan sebagai acuan dasar dalam menyusun perencanaan dalam kegiatan dan program penanggulangan bencana suatu daerah/kawasan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Tokoh, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Jakarta, IPNU Tegal. Rombongan Kementerian Agama Malaysia mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, Selasa (15/5) pagi. Rombongan yang berjumlah 29 orang ini, disambut baik oleh sejumlah Ketua Umum PBNU dan beberapa pengurus tanfidziyah. Kedua pihak saling mengabarkan kondisi sosial-keagamaan di masing-masing negara.

Dalam kesempatan ? tersebut, Iqbal Sullam, Ketua PBNU sempat mengenalkan profil singkat NU, badan otonom dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya. Pesantren dan madrasah yang menjadi kantong intelektual dan tata nilai moral-kultural NU, masuk dalam profil NU.

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Kedua pihak sepakat untuk mewaspadai gerakan-gerakan keagamaan yang ekstrem, terlebih lagi menggunakan kekerasan sebagai bentuk saluran aspirasinya. Masing-masing pihak, tidak menyetujui segala bentuk kekerasan atas nama apapun dan untuk tujuan apapun.

IPNU Tegal

PBNU menyatakan akan menerapkan, bentuk dakwah yang cocok dengan lokal setempat. “Dengan demikian, NU mengedepankan tawasuth, tasamuh, dan tawazun. Tiga istilah ini mungkin berbeda penyebutannya di Malaysia,” papar Iqbal Sullam disertai anggukan rombongan tamu.

Kedamaian dan persaudaraan bisa terjadi karena NU mendahulukan dan mementingkan 3 persaudaraan. Ketiganya adalah persaudaraan sesama muslim, persaudaraan se-tanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Karenanya, NU menjadi besar disebabkan oleh kalangan ulama yang mengorganisir dirinya dan menyatu dengan masyarakatnya.?

IPNU Tegal

“Kalau di Timur Tengah juga banyak ulama-ulama, namun tidak bisa menyelasikan konflik. Sedangkan kami di Indonesia mampu meredam konflik hingga tuntas,” ungkap Said Aqil Siroj, Ketum PBNU di hadapan tamunya.

Mayjen Dato Seri Jamil Khir bin Baharom, Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Agama) Malaysia, mengungkapkan pihaknya sepakat dengan paparan dari PBNU.

“Kita bangsa Malaysia juga sangat menghargai perbedaan seperti juga Nahdlatul Ulama. Dan kita bangsa Malaysia juga bagian dari persekawanan dengan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Di akhir pertemuan, kedua pihak saling memberikan cendera mata. Pemberian cendera mata adalah bukti sambutan baik PBNU akan kunjungan pihak Kementrian Agama Malaysia. Pertemuan keduanya sempat diliput oleh pers Malaysia dan pers dalam negeri Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Ulama, Nusantara IPNU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat

Jakarta, IPNU Tegal. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh meminta kalangan akademisi untuk meningkatkan kualitas pendidikannya dan menjadi teladan bagi masyarakat luas dengan tidak melakukan korupsi.

"Orang-orang terdidik mbok ya jangan korupsi. Wong sudah sekolah tinggi-tinggi, masak sih harus korupsi. Kan tidak pantas," kata Nuh usai mengikuti rapat koordinasi tentang pasokan gas di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian Jakarta, Rabu.

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat

Menurut Nuh, saat ini korupsi sudah menjadi merasuki hampir semua kalangan, termasuk kalangan perguruan tinggi yang seharusnya menjadi teladan perilaku baik.

IPNU Tegal

Menyusul pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie yang menyebut banyak koruptor adalah alumni perguruan tinggi negeri, Nuh tidak sepenuhnya sependapat dengan pernyataan Ketua DPR tersebut.

"Memang ada yang menyebut bahwa alumni universitas A, universitas B, universitas C jagoan dalam hal korupsi. Tentu tidak sepenuhnya benar, dan tidak selamanya seperti itu," katanya.

IPNU Tegal

Sebelumnya dalam diskusi bertajuk Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia di Universitas Indonesia, Depok, Senin (7/5), Ketua DPR RI Marzuki Alie mengatakan bahwa koruptor di Indonesia didominasi alumni Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Saat ini korupsi kan orang-orang pintar lulusan universitas dari UI, Gadjah Mada, ICMI, dan semuanya terlibatlah (korupsi). Ini fakta," ujarnya.

Kesemuanya itu, lanjut Marzuki Alie, disebabkan oleh pendidikan masa lalu. Karananya masalah itu harus segera diperbaiki. Pada kesempatan itu, Marzuki menyinggung rendahnya kualitas pendidikan perguruan tinggi Indonesia.

"Kebanyakan perguruan tinggi negeri ngurusin proyek saja," sindir Marzuki Alie.

Karena itu, Rancangan Undang-undang Perguruan Tinggi diharapkap dapat mengatasi minimnya fasilitas pendidikan dan kurang berprestasinya perguruan tinggi Indonesia di tingkat internasional.

"Pendidikan mahal! Salah kalau dibilang murah, makanya alokasi 20 persen jangan dialokasikan ke 19 kementerian yang kurang bermanfaat," usulnya.

"Perguruan tinggi harus tahu kebutuhan lingkungannya, makanya harus disiapkan agar mahasiswa bisa match dengan lingkungannya," tambah Marzuki.

Penulis : Sudarto Murtaufiq

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara IPNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Banyak gambar dan postingan di media sosial seputar kejadian runtuhnya alat berat (crane) yang tengah mengerjakan perluasan Masjidil Haram. Musibah yang terjadi Jumat (11/9) jelang Maghrib tersebut akhirnya merenggut 11 nyawa jamaah dari Indonesia. Puluhan korban luka tengah dirawat di rumah sakit setempat.

Bagaimana suasana sebelum dan sesudah kejadian? Berikut catatan dari H Nur Hidayat, salah seorang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia atau TPIHI yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jatim. Ia melaporkan ? dari penginapan atau maktab jamaah haji di kawasan Misfalah.

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Senin (7/9) dinihari, calon jamaah haji Kloter SUB 14 memasuki Kota Suci Makkah. Kelompok penerbangan atau kloter yang terdiri dari 450 orang jamaah dari Kabupaten Jombang ini menempati pemondokan Nomor 902, di sektor IX. Tepatnya di Hotel Jauharot Adham, yang berjarak sekitar 1.125 meter dari Masjidil Haram. Di hotel ini, jamaah kloter SUB 14 tinggal bersama dengan kloter SUB 05 SUB, JKS 25 dan sebagian jamaah kloter BTH 17.

Melalui "jalur tikus", jamaah yang menghuni Hotel Jauharot Adham dapat memperpendek jarak tempuh ke Masjidil Haram menjadi sekitar 750 meter. Karena itu, hampir semua jamaah yang masih berusia di bawah 60 tahun dan kondisinya sedang fit selalu berusaha melaksanakan shalat fardlu di Masjidil Haram. Adapun jamaah yang lansia dan kurang sehat, biasa melaksanakan di mushalla berkapasitas sekitar 500 di hotel setempat.

IPNU Tegal

Usai melaksanakan umrah wajib pada Senin dinihari hingga pagi, sebagian jamaah kloter SUB 14 pun mulai mencuci kain ihram dan pakaian yang sudah kotor. Selasa pagi adalah "hari mencuci berjamaah", usai menghilangkan kepenatan akibat perjalanan Madinah-Makkah yang memakan waktu hingga hampir 12 jam dan menunaikan umrah wajib.

Menerima pertanda

IPNU Tegal

Keesokan harinya, Selasa (8/9) sore, sekitar pukul 17:10 WAS, Nanik Kusyani (37), seorang jamaah kloter SUB 14, mengirimkan pemberitahuan melalui grup WhatsApp Ketua Regu dan Rombongan, agar jamaah yang memiliki jemuran segera mengambil jemurannya. "Angin sore ini sangat kencang, hingga banyak pakaian jamaah yang beterbangan dan terjatuh dari tempat jemuran," pesannya.

Sebagian jamaah di pemondokan 902 sempat agak kalut sore itu. Sebab, beberapa orang mengatakan ada badai pasir yang sedang berlangsung dan meminta jamaah untuk turun ke lobi hotel. Tapi, angin kencang Selasa sore itu sebenarnya tidak seberapa terasa dibandingkan apa yang terjadi pada Jumat (11/9) petang, yang berujung petaka jatuhnya (atau lebih tepatnya: terjungkal) mobile crane di proyek perluasan Masjidil Haram.

Karena itu, ketika Kamis (10/9) malam ada teman karib yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta menanyakan kabar dan berusaha mengonfirmasi kebenaran video badai pasir Jeddah yang beredar di media sosial, saya hanya menjawab santai. Pasalnya, saya kebetulan menyanggong jamaah yang kembali dari Masjidil Haram untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya di lobi hotel. Setiap saya tanya, rata-rata jamaah menjawab santai dan tidak ada kondisi yang mengejutkan. "Mboten wonten nopo-nopo, cuma radi gerimis kolowau (Tidak ada apa-apa. Cuma memang tadi agak gerimis)," kata M Syaikhu Amirulloh (43), salah seorang jamaah yang baru pulang dari Masjidil Haram.

Kepada teman karib tersebut, saya menjawab, "Sejak akhir Agustus, memang beberapa kali ada badai gurun." Ya, maskapai Saudia Airlines juga sempat menunda beberapa jam penerbangan haji karena badai pasir, termasuk keberangkatan kloter SUB 13 yang berisi jamaah dari Kabupaten Jember. Tapi, sepertinya itu sesuatu yang biasa di sini. Buktinya, di video badai pasir Jeddah yang beredar, kendaraan penumpang yang merekam badai pasir tersebut tetap melaju dengan santai sambil menyalakan lampu hazard. "Mungkin hal itu menjadi sesuatu bagi orang Indonesia," jawab saya dalam pesan WA pada Kamis (10/9) pukul 19.46 WAS.

Tapi, semuanya berubah pada Jumat (11/9) petang itu. Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan ketika menyaksikan badai pasir disusul hujan yang datang secara tiba-tiba, sekitar pukul 17:15 WAS. Saat itu, calon jamaah haji di pemondokan 902 sedang bersiap melaksanakan Shalat Maghrib di Masjidil Haram.

Awalnya, saya berencana mengajak Mbah Karnadi (75), seorang jamaah lansia berangkat ke Masjidil Haram bersama-sama. Ketika akan mengambil sajadah, saya melihat gumpalan pasir yang terbawa angin dari jendela kamar di lantai 7. Menyadari potensi bahaya yang muncul, pukul 17:24 saya segera mengirimkan pesan singkat ke grup Ketua Regu dan Rombongan Kloter SUB 14, "Alert!!! Hujan Badai... Mohon tidak usah ke Masjidil Haram!".

Setelah itu, saya segera menuju lobi hotel untuk memastikan tidak ada jamaah yang memaksakan diri berangkat ke Masjidil Haram. Selebihnya, saya berusaha merekam momen langka tersebut dengan kamera video telepon seluler. Hujan deras disertai angin kencang yang berlangsung sekitar 30 menitan itu, merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Makkah.

Abdurrahman (51), petugas kebersihan hotel asal Bangladesh yang sudah lima tahun bekerja di Makkah juga sibuk merekam momen langka itu dengan kamera video di telepon selulernya. Ketika saya tanya apakah hujan seperti ini sering terjadi, ia menjawab hal itu jarang terjadi. Dahsyatnya hujan dan angin yang menerpa, sampai harus membuat petugas hotel mematikan sensor pintu otomatis yang menjadi akses keluar masuk jamaah.

Tidak berselang lama, Faisol Adib (34) warga Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang baru turun ke lobi hotel bercerita, menyaksikan sebuah crane yang patah dan terjungkal karena terpaan angin. Faisol dan istrinya, Aisyah Muniroh (27), yang tinggal di lantai 11, menduga yang patah dan terjungkal itu adalah crane proyek pembangunan di sekitar Masjidil Haram.

Usai Shalat Maghrib berjamaah di mushalla hotel, saya segera menemui beberapa jamaah untuk menghimbau agar mereka tidak berangkat ke Masjidil Haram, hingga cuaca stabil. Tetapi, saya tidak menduga bahwa cerita Faisol tentang crane patah dan terjungkal itu terjadi di sekitar mathaf (area thawaf) dan memakan puluhan korban jiwa. Saat memasuki kamar, Susanto Slamet (31), salah satu anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), menunjukkan tiga foto yang diterimanya dari anggota TKHI yang sedang berada di Masjidil Haram. Saat itu, saya baru menyadari bahwa suara sirine yang bergema di sekitar maktab kami sejak hujan mereda ternyata sedang mengevakuasi jamaah yang meninggal dan terluka.

Sontak, saya segera menyalakan televisi, untuk menyaksikan berita di saluran televisi Al-Arabiya. Sekitar pukul 20.00 WAS, Al-Arabiya melaporkan data 62 jamaah yang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka akibat tertimpa crane proyek perluasan Masjidil Haram tersebut. Saya pun segera menemui salah satu pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang sudah mengagendakan untuk umrah sunnah malam itu.

Fatimatuz Zahro (51), pimpinan KBIH Al-Kautsar yang mengagendakan umrah sunnah untuk sekitar 324 orang jamaah malam itu, menjawab santai ketika saya minta menunda kegiatannya. Fatimah berada di Mushalla Nisa (tempat shalat khusus perempuan, berlokasi di sekitar pintu 84 Masjidil Haram) saat kejadian berlangsung menjelang Maghrib. Dia bercerita melihat beberapa petugas mengevakuasi jamaah yang berlumuran darah melalui kawasan Mushalla Nisa.

Ketika saya tanya apakah bisa agenda umrah sunnahnya ditunda, dia bilang akan jalan terus. "Tidak ada apa-apa kok. Tadi sudah selesai evakuasinya," tutur anggota DPRD Kabupaten Jombang ini. Tapi, muka Fatimah mendadak merah padam ketika saya tunjukkan gambar situasi di area mathaf yang tertimpa crane. Dia pun buru-buru menelepon muthawif untuk membatalkan sewa bis dan menunda pada hari lain.

Fatimah juga sempat menyatakan keheranannya karena imam hanya membaca dua ayat pendek dalam Shalat Maghrib saat itu. Hanya saja, saat itu dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Kalau tahu ada musibah itu, mungkin saya akan lari ke mathaf untuk menyaksikan secara langsung. Tapi karena tidak tahu, saya hanya memastikan suami saya aman karena berada di hotel," imbuh perempuan kelahiran Pasuruan ini.

Cerita berbeda diungkap oleh Abdurrahman (37). Pengusaha muda asal Jember yang kini tinggal di Bandung itu sedang melakukan thawaf di lantai 2, saat hujan mulai turun. Bersama ibu dan istrinya, Abdurrahman yang menginap di Hotel Hilton sore itu sedang melaksanakan thawaf sunnah. "Kami sedang memasuki putaran kelima saat badai pasir menerpa. Banyak botol air mineral, plastik dan pasir yang beterbangan di udara," tuturnya.

"Pas putaran ketujuh, hujan mulai turun. Banyak orang di lantai 2 dan lantai 3 mathaf yang panik, karena hujannya masya Allah (dahsyat). Langit juga penuh pasir dan angin kencang," imbuhnya.

Karena mengkhawatirkan keselamatan, Abdurrahman segera mengajak ibu dan istrinya berteduh di Masa (tempat Sai). Sempat berjalan perlahan, karena lantai sudah banjir dan licin. Dalam ingatan Abdurrahman, crane jatuh sekitar 17.32 WAS. "Saat itu, evakuasi jenazah sudah dimulai," kisahnya.

Dari siaran langsung televisi Masjidil Haram, tampak bahwa mathaf lantai 2 dan lantai 3 sempat ditutup hingga Sabtu sore. Tapi, aktivitas jamaah lainnya sudah mulai normal saat Shalat Subuh. Hanya sebagian area jatuhnya crane yang ditutup aksesnya untuk jamaah. Sabtu jelang Subuh, saya akhirnya memenuhi janji mengantar Mbah Karnadi ke Masjidil Haram.?

(Ibnu Nawawi/Fathoni)

Keterangan gambar: Suasana mathaf lantai dua Masjidil Haram usai musibah jatuhnya crane.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Fragmen, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni

Bangunannya terletak di pinggir jalan lintas Sumatera, jalur lalu lintas Padang Bukittinggi. Persisnya di Korong Batang Tapakih, Nagari Sintuak Tobohgadang Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat. Sekolah ini terkenal dengan nama Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lubuk Alung, kecamatan tetangga dari Sintuak Tobohgadang. Sebelumnya, Kecamatan Sintuak Tobohgadang merupakan bagian dari Kecamatan Lubuk Alung. Di bagian atap sekolah ini pun tertulis huruf besar MAN LUBUK ALUNG.

Seperti sekolah MAN lainnya, sekolah ini juga menyelenggarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Diantaranya kegiatan pramuka yang wajib diikuti siswa kelas X yang dibina oleh Ade Erwin, S.Pd. Setiap Selasa Hafiz Al-Quran melalui pondok Hafiz yang diasuh guru Abdul Malik S.Pd.I, Qirat dibimbing Drs. Bukari Masnur, dan tajwid setiap hari.

"Beberapa kegiatan lomba yang diikuti, sempat meraih juara. Seperti juara I Pramuka Lomba PBB antara SMA/SMK/MA yang diikuti 34 sekolah di Padangpariaman tahun 2014. Juara I Lomba Fisika se-Kabupaten Padangpariaman yang diselenggarkaan STIKIP YDB Lubuk Alung tahun 2015. Juara II Lomba Biologi yang diselenggarakan STIKIP PGRI tahun 2015 di Padang. Tahun 2015 ini, sebanyak 6 orang siswa MAN Lubuk Alung lolos jadi pasukan Paskibraka di Kabupaten Padangpariaman. Sedangkan di tingkat Propinsi Sumatera Barat, lolos satu siswa, yakni Abdi Wijasaksana kelas XI," tutur Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Ali Nurdin, S.Ag, MM kepada IPNU Tegal di ruang kerjanya, Senin (21/9/2015).

Kepala Sekolah MAN Lubuk Alung Drs. H.Akhri Meinhardi, MM ternyata tidak hanya menumbuhkan prestasi siswa secara akademik dan bidang perlombaan. Justru yang tidak kalah pentingnya adalah menumbuhkan kepedulian antar siswa yang mengalami kesulitan ekonomi di tengah keluarganya, namun memiliki semangat? belajar. Contoh konkrit, ada dua siswa yang mengalami kesulitan datang dan pulang dari sekolahnya. Seperti yang dialami Raki Paraski siswa kelas XI, dimana pergi ke sekolah jalan kaki sepanjang kurang lebih 5 kilometer. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dialami Ilma Rita siswi kelas X. Keduanya, masing-masing diberikan bantuan sepeda federal untuk Raki Paraski dan sepeda mini sanki untuk siswi Ilma Rita. Dengan sepeda tersebut, keduanya tidak perlu jalan kaki.

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni

Suatu hari, seorang siswa MAN yang bertempat tinggal di Nagari Pungguangkasiak meninggal dunia. Tentu saja pimpinan, guru dan teman-teman siswa yang meninggal datang melayat. Seluruh proses penyelenggaraan jenazah siswa itu dilaksanakan oleh siswa MAN. Mulai dari memandikan, mengapani, menshalatkan hingga ke pemakaman. Di sela-sela proses penyelenggaraan jenazah tersebut, Kepsek MAN Akhri menugaskan Ketua OSIS MAN Lubuk Alung Agung Irawan mendatangi rumah Muhammad Iqbal Abdilah. Rumahnya memang tidak jauh dari lokasi pemakaman. Selama ini Akhri mendapatkan informasi kondisi memprihatinkan keluarga Iqbal, siswa MAN kelas XI-PK.

Agung pun mengajak sekretarisnya Septia Intan Nurjanah mendatangi rumah Iqbal. Sampai di depan rumah Iqbal, keduanya sangat kaget dan penuh haru menyaksikan kondisi rumah teman sesama sekolahnya. Rumah itu tidak bisa dikatakan rumah, tapi layaknya kandang ternak peliharaan. Luasnya sekitar 4 x 6 meter persegi. Beratap rumbia, dindingnya terbuat dari bambu, tidak memiliki kamar, berlantaikan tanah. Saat hujan, mereka pun terpaksa bergantian tidur karena air masuk ke dalam. Rumah itu dihuni tujuh orang. Ayah, ibu dan lima anak. Masing-masing M.Iqbal, Hisam Ababil (siswa MTsN Sintuak), Fauziah Fisabillah Azmi (Siswa MTs Muhammadiyah Lubuk Alung), Ibrahim Arsyad (kelas 3 SD) dan Arsil Arsy (kelas 1 SD). Sedangkan dua kakak Iqbal, Risma Nizar Zamiati sudah berkeluarga dan M. Fahrizal Syamsuri merantau di Bogor.

IPNU Tegal

"Saya sempat meneteskan air mata saat mengetahui kondisinya. Saya dari keluarga yang miskin, ayah pengangguran, ibu petani, ternyata masih ada lagi teman yang hidupnya jauh lebih melarat dibanding saya," tutur Intan kepada IPNU Tegal? Senin (21/9/2015) di sekolahnya.

Pulang dari pemakaman, besoknya Kepsek Akhri mengumpulkan majelis guru dan karyawan MAN membicarakan apa yang harus dilakukan dengan kondisi rumah siswanya, Iqbal. Hasil rapat sepakat membedah rumah yang sangat tak layak huni itu.

Kepada IPNU Tegal, Iqbal bercerita ayahnya Zamzami bekerja sebagai pedagang barang mudo (buah-buah) yang dikumpulkan dari petani sekitar kampung. Sedangkan ibunya Siti Rusminah menerima upah cucian pakaian.

Meski hidup dengan prihatin, Iqbal bisa hafal 1 juz ayat-ayat Al-Quran. Dari kemampuan hafalan itu, sejak setahun lalu mengajar mengaji di sekitar tempat tinggalnya. Saat kelas III di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Sintuak, Iqbal meraih juara III. Namun kondisi rumah yang tidak nyaman, prestasi belajarnya anjlok di MAN. Bahkan tinggal di kelas 1. "Bayangkan, saat mau sekolah, saya harus melangkahi ayah yang tengah tidur. Seringkali ayah marah-marah dilangkahi. Bagaimana tidak melangkahi, semua peralatan sekolah, pakaian dan tidur hanya menempati satu ruangan," kenang Iqbal kelahiran Bogor, 31 Mei 1996.

Sejak itulah Iqbal mengaku selalu berdoa, "Ya Allah, keluarkan keluargaku dari kondisi yang memprihatinkan ini. Berilah tempat yang layak untuk keluargaku ini ya Allah," begitulah rintihan doanya pada Sang Khalik. Walaupun ada satu dua orang yang datang ke rumahnya ingin membantu, diambil fotonya, katanya bisa membantu mencari bantuan ke pusat (Jakarta) kepada orang penting. Tapi hasilnya tak pernah jadi kenyataan. Hanya mimpi.

IPNU Tegal

Doa Iqbal yang bercita-cita jadi dosen ini akhir mulai melihat titik terang. Kepala Kantor Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat Drs. Salman MM langsung melakukan? peletakan batu pertama pembangunan rumah Iqbal pada 3 September 2015 lalu. Bangunan berpondasi batu beton berukuran 6 x 10 meter, tiga kamar, wc dan dapur. Spontan pula Salman memberikan bantuan tunai Rp 2 juta kepada ibu Iqbal. "Hingga kini sudah terkumpul uang sebesar Rp 38 juta yang berasal dari keluarga besar MAN Rp 25 juta, alumni MAN Rp 3 juta, Baznas Kabupaten Padangpariaman Rp 10 juta. Dana yang dibutuhkan hingga selesai bisa dihuni mencapai Rp 100 juta. Untuk itu kami mengajak donatur bisa menyalurkan bantuannya melalui rekening bank Mandiri Lubuk Alung nomor 111-000-754091-3 a.n. Ali Nurdin/Nelhasrati dengan nomor kontak 081267261575," kata Ali Nurdin.

Menurut Ali Nurdin, sumbangan dari MAN berasal dari guru melalui badoncek (menyumbang) dari Rp 300.000 hingga 1 juta. Sedangkan siswa per kelas dengan membelikan bahan bangunan yang dibutuhkan. Misal ada kelas yang menyumbang pasir, semen, triplek, seng dan batu air. Sesuai dengan kesepakatan kelas. Pada peletakan batu pertama, siswa MAN bergotongroyong bersama. Saat pengerasan lantai, nanti juga akan digoro dengan siswa. Penanggungjawab pembangunan rumah tersebut langsung kepala sekolah bersama Ketua Komite Tuanku Syamsuar S.Pd.I.

Ali Nurdin mengakui, Iqbal sering kelihatan termenung dan mengalami kesulitan konsentrasi saat belajar, seperti mengalami depresi. Sehingga seringkali pula bila kondisinya tidak mengizinkan belajar, dibiarkan pulang. Boleh jadi apa yang belum pantas dilihatnya di tengah rumah malam hari menjadi pemikiran berat sehingga mengganggu konsentrasi belajar.

Ketua OSIS Agung Irawan pulang dari menyaksikan rumah Iqbal langsung mengadakan rapat pengurus OSIS. Pemikiran untuk turut membantu beban Iqbal dapat dukungan semua pengurus. Makanya seluruh pengurus OSIS bekerja saat peletakan batu pertama. Setidaknya 90 persen siswa MAN Lubuk Alung sudah mengunjungi rumah Iqbal sebagai bentuk solidaritas.

Berbeda dengan Sekretaris OSIS Intan, saat peletakan batu pertama dalam dirinya terucap ternyata keluarga itu tidak hanya keluarga kandung, di rumah. Masih ada keluarga lagi, yakni rasa keluarga yang ditumbuhkan sekolah. Hari itu, keluarga kami yang tidak punya rumah yang layak, dibuatkan rumah oleh keluarganya bersama-sama. "Inilah bentuk syukur saya sekolah di madrasah ini. Belum tentu di sekolah lain akan saya temui bagaimana menumbuhkan rasa "keluarga" sesama siswa ini. Terutama jika sekolah SMA. Di madrasah ini nilai-nilai Islam yang memiliki rasa sosial, bersyukur dan selalu berbuat kebaikan sesama selalu ditumbuhkan. Antar guru pun terlihat ada kepedulian sehingga kami juga termotivasi," tambah Intan alumni SMPN 2 X 11 Enam Lingkung ini. (Armaidi Tanjung)

Foto: Foto bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat Drs. Salman, MM usai peletakan batu pertama pembangunan rumah Iqbal, 3 September 2015

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pemurnian Aqidah, Nusantara IPNU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi

Jakarta, IPNU Tegal. Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya harus dijadikan momentum untuk bersih-bersih, termasuk membersihkan korupsi dan perilaku korup lainnya.

“Kini saatnya untuk bersih-bersih, termasuk bersih-bersih dari korupsi dan perilaku korup,” kata Gus Dur di kantor DPP PKB, Kalibata, Jakarta, Kamis (8/2), saat melepas rombongan Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI yang akan meninjau korban banjir di sejumlah lokasi.

Menurut Gus Dur, banjir yang melanda ibukota dan menelan sejumlah korban jiwa dan harta tidak sekedar persoalan gejala alam, melainkan juga akibat salah urus yang disebabkan praktik korupsi dan perilaku korup.

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi

Sementara itu Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar saat meninjau korban banjir di Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan, menyatakan setuju dengan gagasan relokasi warga yang bermukin di kawasan potensial banjir.

“Tentunya tempat relokasi tersebut tidak jauh beda dengan Jakarta. Jadi perlu dibuat semacam kota mandiri,” kata Muhaimin yang juga Wakil Ketua DPR RI tersebut.

IPNU Tegal

DPR RI, katanya, saat ini juga mengintensifkan komunikasi dengan DPRD DKI. Selain itu, DPR juga meminta Pemda DKI mengalokasikan dana-dana yang sangat tidak efektif untuk difokuskan pada korban banjir.

FKB DPR RI kemarin menyerahkan bantuan berupa 5 ton beras, 1.500 box susu balita balita, 500 dus biscuit, 300 paket pakaian anak-anak, alat kebersihan, paket pakaian dalam, selimut, dan lain-lain. Bantuan senilai Rp 100 juta yang dikumpulkan dari iuran anggota FKB tersebut dilepas oleh Gus Dur selaku Ketua Dewan Syura DPP PKB. (nam/ansor/uji)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Nusantara IPNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Menag: Siswa Madrasah Wajib Jaga Diri, Jaga Negeri

Yogyakarta, IPNU Tegal



Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tahun 2017 di Stadion Krida Mandala.

Di hadapan ribuan siswa madrasah, Menag mengingatkan kewajiban mereka untuk menjaga diri dan menjaga negeri. Caranya pelajar menjaga diri dan negeri adalah dengan prestasi.

Menag: Siswa Madrasah Wajib Jaga Diri, Jaga Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Siswa Madrasah Wajib Jaga Diri, Jaga Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Siswa Madrasah Wajib Jaga Diri, Jaga Negeri

“Terus berprestasi, hingga kalian menjadi seorang ahli. Bukan ahli yang lupa diri tetapi seorang ahli yang senantiasa mawas diri. Bukan ahli yang tidak berbakti tetapi seorang ahli yang siap mengabdi pada ibu pertiwi.

Bukan ahli yang tidak punya empati tetapi seorang ahli yang paham toleransi, selalu bergandeng tangan demi bangsa,” pekik Menag diiring tepuk tangan para siswa, Senin (7/8) sebagaimana diberitakan Kemenag.go.id.

Menag mengatakan, bangsa ini menaruh harapan besar kepada para siswa madrasah. Sebab, mereka adalah ? calon pemimpin bangsa masa depan.?

IPNU Tegal

“Pemimpin yang tidak sekedar mampu mengaplikasikan teknologi tetapi juga ? mengaplikasikan iman, taqwa dan cinta tanah air untuk menjaga keutuhan bangsa,” ucapnya.

IPNU Tegal

Menurut Menag AKSIOMA dan KSM merupakan kegiatan rutin Kementerian Agama ? dalam rangka mengaktualisasikan potensi siswa madrasah. Lebih dari itu, event ini menjadi ajang mereka untuk saling mengenal satu sama lain.

“Sehingga, tidak hanya potensi intelektulitas dan sportivitasnya saja yang terasah tetapi sekaligus integritas mereka juga ikut terlatih ketika mereka bertemu dan saling belajar satu sama lainnya,” ucap Lukman Hakim.

Para peserta datang bukan ingin ? menunjukan kemampuan dengan jumawa dan merasa ? paling digdaya, tetapi ingin menunjukkan bahwa inilah kami anak madrasah di negeri ini yang siap berkompetisi untuk maju bersama saling bersinegi demi ibu pertiwi.

Tampak hadir dalam pembukaan ini, Wakil Gubernur DI Yogyakarta dan jajaran Pemerintah Daerah, Dirjen Pendidikan Islam ? dan Irjen Kemenag RI beserta Kakanwil se-Indonesia. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara, RMI NU IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock