Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

NU Menjaga Bangsa dengan Segala Upaya

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari inspirasi untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dengan meneguhkan ajaran Islam yang terbuka (inklusif) dan moderat. NU juga menebarkan nilai-nilai Islam dengan tidak mencerabut akar tradisi dan budaya masyarakat sehingga jiwa nasionalisme tetap teguh terjaga.

Secara historis, sebelum mendirikan NU, ulama pesantren berupaya menumbuhkan jiwa nasionalisme para pemuda melalui berbagai wadah. Seperti yang dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971), salah satu Pahlawan Nasional. 

Mbah Wahab mendirikan Tashwirul Afkar (pergolakan pemikiran) pada tahun 1914 untuk memberikan kebebasan berpikir kepada pra pemuda dan bangsa Indonesia yang pada akhirnya menumbuhkan kesadaran akan perlunya membebaskan diri dari penjajah yang tidak peri kemnausiaan.

NU Menjaga Bangsa dengan Segala Upaya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Menjaga Bangsa dengan Segala Upaya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Menjaga Bangsa dengan Segala Upaya

Kemudian, Pendiri Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur ini juga mendirikan Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air) pada tahun 1916 sebagai wadah internalisasi cinta tanah air kepada generasi muda sehingga tumbuh kesadaran untuk membangun bangsanya.

Perjuangan panjang ulama pesantren pada klimaksnya memberikan ruang bagi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari penjajah sekaligus mempertahankannya. Misal ketika bangsa Indonesia berhasil memproklamirkan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945. 

Tetapi dua bulan kemudian NICA (Belanda) dengan membonceng tentara Sekutu ingin kembali menjejakkan kekuasaannya, ulama seperti KH Muhammada Hasyim Asy’ari (1875-1947) mencetuskan Fatwa Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945, bahwa wajib hukumnya bagi setiap warga untuk mempertahankan kemerdekaan RI dari tentara sekutu.

IPNU Tegal

Warisan kemerdekaan dari para ulama, santri, dan bangsa Indonesia tersebut tidak tanggung-tanggung senantiasa dijaga oleh warga NU hingga sekarang dalam bentuk apapun. Sejak pertama kali Hari Santri Nasional disahkan oleh pemerintah lewat Keppres Nomor 22 Tahun 2015, Nahdliyin memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan yang bertujuan menumbuhkan spirit nasionalisme.

Seperti saat peringatan Hari Santri Nasional tahun 2016, NU menggulirkan gerakan 1 miliar shalawat Nariyah. Kegiatan santri dan Shalawat Nariyah 1 miliar inilah yang menjadi fokus utama informasi yang termuat dalam Majalah Risalah NU edisi November 2016. Lewat Shalawat Nariyah, NU ingin menegaskan bahwa upaya menjaga bangsa dan negara tidak cukup modal material, tetapi juga spiritual.

IPNU Tegal

Pemimpin Redaksi Majalah Risalah NU, Musthafa Helmy menegaskan bahwa Hari Santri yang merupakan representasi kebangkitan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan bukanlah hanya miliki NU, tetapi juga milik seluruh bangsa Indonesia. Karena ketika KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad, seluruh bangsa Indonesia secara kompak ikut berjuang melawan agresi ulang Belanda tersebut.

Selain mengupas tuntas mengenai Hari Santri Nasional 2016, Majalah Risalah juga masih konsiten dengan bacaan dan informasi menarik lain. Majalah setebal 66 halaman ini juga mengupas profil Pesantren Raudlatun Nasyi’in Ash-Shidiqiyah Rembang Jawa Tengah yang menampilkan gaya arsitektur budaya Tionghoa. Menarik juga mencermati rubrik muthala’ah Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang diasuh oleh Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali. Selangkapnya, selamat membaca!

(Fathoni Ahmad)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Olahraga, Quote, Aswaja IPNU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Warga NU Diimbau Tidak Termakan Kampanye Hitam

Jember, IPNU Tegal. Warga NU diimbau tidak mudah termakan kampanye hitam yang dilancarkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab terkait dengan pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Imbauan ini disampaikan Sekretaris LDNU Jember Gus Moch Eksan menyusul beredarnya tabloid yang khusus mendiskreditkan salah satu pasangan Capres-Cawapres.

Warga NU Diimbau Tidak Termakan Kampanye Hitam (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Diimbau Tidak Termakan Kampanye Hitam (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Diimbau Tidak Termakan Kampanye Hitam

Menurutnya, kampanye hitam membahayakan bagi persatuan dan kerukunan umat. “Makanya, itu tak usah direken. Biarkan saja. Saya pastikan isi tabloid itu hanya rekayasa dan sangat tendensius, tidak berdasarkan fakta,” tuturnya kepada IPNU Tegal di kediamannya di kompleks pesantren Nuris 2 Jember, Kamis (29/5).

Mantan Komisioner KPUD Jember itu menambahkan, kampanye hitam merupakan bentuk ketakutan yang berlebihan dari pihak-pihak tertentu akan keberhasilan lawan. Mereka menggunakan cara apapun untuk menjatuhkan lawan.

IPNU Tegal

Dikemukakannya, cara-cara tersebut sangat jauh dari nilai-nilai yang dianut Nahdlatul Ulama. “Kalau mau berpolitik, marilah kita berpolitik yang santun dan elegan. Itulah NU,” tukas Eksan.

IPNU Tegal

Seperti diketahui, belum lama ini Rais Syuriyah PCNU Jember KH Imam Haromain mendapat kiriman segepok tabloid Obor Rakyat yang isinya menyudutkan salah satu capres-cawapres. Tabloid itu dikirim via pos tanpa alamat pengirim yang ditujukan kepada pengasuh pesantren Al-Hidayah desa Karangharjo kecamatan Silo KH Imam Haromain.

Kiai Haromain sendiri memastikan tabloid itu lebih bermuatan fitnah. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Meme Islam IPNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pamekasan, IPNU Tegal. NU adalah organisasi yang paling jelas proses kaderisasinya. Tidak hanya berhenti di kalangan mahasiswa dan atau pelajar di lingkungan lembaga pendidikan, melainkan juga hingga ke daerah-daerah terpencil di pelosok desa. Ada istilah Pimpinan Ranting (PR) untuk kepengurusan NU dan perangkat-perangkatnya di tingkat akar rumput.

Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)

Proses Kaderisasi NU Jelas

Kesimpulan demikian terbesit ketika sebanyak 30 orang PR IPNU-IPPNU Desa Pamaroh sudah dibentuk, Ahad (8/4) lalau. Pembentukan yang ditempatkan di balai desa tersebut berjalan secara khidmat, disaksikan oleh puluhan petinggi NU Desa Pamaroh. Para pengurus harian IPNU-IPPNU Kadur sebagai penyelenggara dan ketua PC IPNU Pamekasan Nasiruddin menambah suasana pembentukan kian mengesankan.

Pada kesempatan itu, ketua IPNU Kadur Faisol Ansori menekankan betapa pentingnya menyeriusi proses kaderisasi. Dirinya sangat menaifkan ketika ada seseorang langsung dimasukkan ke dalam kepengurusan organisasi NU tanpa melalui proses kaderisasi yang matang dan panjang.

IPNU Tegal

“Kami ke sini dalam rangka silaturahim serta membentuk kader-kader yang mau serius mengabdi dan belajar di NU,” tegas Faisol. “Dan siapa pun yang tidak serius dalam belajar, dengan berat hati kami sangat tidak mereka kader semacam itu. Berorgansiasi di NU butuh keseriusan dan keuletan dalam belajar.”

IPNU Tegal

Berumah tangga saja, lanjut Faisol, masih memerlukan kader. Kehidupan rumah tangga tentu dinilai kurang sempurna tanpa kehadiran seorang kader (keturunan) yang nantinya menjadi penerus perjuangan sang orangtua.

“Sama halnya di NU. Kalau proses kaderisasi di tubuh IPNU maupun IPPNU sudah melemah, maka tunggulah kehancuran NU beberapa tahun ke depan,” katanya dengan nada kalem. “Dan jelas kita tidak menginginkan hal itu.”

Dari itulah pihaknya sangat berharap agar para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh bisa diajak kerja sama menghidupkan organisasi NU di tingkat desa, khususnya di Desa Pamaroh.

Pernyataan Faisol Ansori yang disampaikan saat sambutan tersebut mendapat dukungan seutuhnya dari para petinggi NU Pamaroh dan kepala desa Pamaroh. 

“Kami siap mendampingi, membina, dan membantu segala program kerja yang hendak dilaksanakan nanti,” ujar ketua PR NU Pamaroh K Abdus Syukur.

“Saya juga begitu. Saya akan selalu dukung segala kegiatan yang bernafas ke-NU-an,” kata A’wan PR NU Pamaroh yang kini menjabat kepala desa, Ustaz Moh Riski Abdullah.

Semangat berorganisasi tersebut disimak secara serius oleh para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh yang merupakan perwakilan dari 4 dusun yang ada di Pamaroh, meliputi Dusun Oray, Madis, Panconan, dan Sumber Waru. Sebelum azan Magrib menggema, pembentukan PR IPNU-IPPNU Pamaroh sudah selesai.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Halaqoh IPNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Islam dan Laku Normatif

Oleh Aswab Mahasin

Zaman berganti zaman, ideologi berganti mantra, makna terseret rupa. Tidaklah kamu mengetahui nurani adalah penentram suci. Wajah suci berlumur lumpur, terhapus oleh udara miring nasionalisme. Atas nama kebangsaan mereka berdiri di tengah panji asmara Ilahi. Entah dari mana datangnya wangsit itu. Ritual/spiritual/moral/sosial sederet nama perilaku baik menjadi bancakan kelompok “terhormat”.

Penerjemahan ajaran langit pada realitas bumi dimanipulasi, Baginda Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan tapi diacuhkan. Kenapa manusia berebut kebaikan, sedangkan kejahatan sendiri adalah nilai realitas yang tidak bisa dieelakan.

Islam dan Laku Normatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Laku Normatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Laku Normatif

Pertemuan belum bisa dimaknai sebagai perjumpaan. Sedangkan perjumpaan adalah pemahaman fungsional—kebijaksanaan. Anda ingat, kebijaksanaan dalam literatur jawa selalu diartikan pada dua fungsi, fungsi pertama kebijkasanaan sebagai kebenaran, dan kedua kebijaksanaan sebagai kepeneran (sesuai). Islam dan Laku Normatif, dalam pandangan kebudayaan adalah dua entitas yang dirancang terpisah, berbeda, berlawanan, dan tak mungkin bersenggama.

?

Islam disuarakan dengan Al-Hikmah (kebijaksnaan) dan kebaikan, sedangkan “laku normatif” dikonotasikan “kaku, keras, dan ideologis”. Islam yang secara definisi praksis adalah “agama”, apakah memiliki persandingan yang sesuai jika “tutur perilakunya” diseret pada kepentingan normatif (ideologi politik). Kajian kebudayaan mengatakan, agama bukanlah alat kepentingan kelompok atau personal apalagi dijadikan will to power (kehendak berkuasa), tidak.

IPNU Tegal

Hukum ilmiahnya, pemahaman normatif tentu menyudutkan pemahaman kesempitan berpikir. Ada seruan Al-Quran menegaskan, La ikhraha Fiddin. Tidak ada paksaan dalam memeluk agama, selanjutnya karena Allah tahu mana yang benar dan salah. Kalau ayat ini ditafsirkan pada penafsiran normatif akan memunculkan “walaupun tidak ada paksaan namun Islamlah sebenar-benarnya agama, oleh karena itu akidah harus dimurnikan”.?

Padahal, jika ayat ini kita tafsirkan dalam pengertian yang oprasional maka ayat ini akan menjadi sihir perdamaian kebangsaan, kebudayaan, dan keanekaragaman. Dan tentu Islam akan menjadi potret positif dalam sistem sosial yang tentram.?

Tafsir oprasionalnya adalah tak ada paksaan bagi siapa saja untuk memeluk agama, bergaul, bersosialisai, berpolitik, berbudaya, dan bersuku. Karena sesungguhnya kebenaran dan kesesatan akan nampak terlihat jelas pada sisi-sisi ketidaksesuaian.

Di sinilah pentingnya kita mendewasakan interpretasi, bukan mengkerdilkan analisis. Paradigma kebangsaan, paradigma keagamaan, dan paradigma kebudayaan bukan “pengecualian”. Melainkan norma sosial dalam keselarasan alam. Menerima bukan berarti mengikuti, menyalahkan bukan berarti memenjarakan, dan menyesatkan bukan berarti menenggelamkan.

IPNU Tegal

?

Semua ini adalah proses menuju pada keabadian sejati. Janganlah, kelas sosial yang awalnya hanya kelas borjuis dan ploretar, kelas penindas dan tertindas, lantas digantikan menjadi kelas surga dan neraka. Sungguh surga adalah milik kita semua, begitu pun dengan neraka.

?

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Bahtsul Masail, Sholawat IPNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Oleh Anggi Afriansyah

Indonesia beruntung memiliki lembaga pendidikan yang menyejarah seperti pesantren. Apalagi rekam jejak pesantren mendidik masyarakat sudah teruji zaman. Dari rahim pesantren telah lahir beragam tokoh cerdik cendikia.

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Pesantren tak hanya berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (religion-based curriculum) tetapi juga kurikulum yang berbasis pada persoalan masyarakat (community-based curriculum) (Suyata dalam Zuhri, 2016). Hal tersebut memang menjadi salah satu kekhasan pesantren. Pendidikan yang diberikan di pesantren tak menjauhkan santri dari realitas keseharian. Jika merujuk pada konteks pembelajaran modern, apa yang dilakukan pesantren adalah bagian dari pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).

IPNU Tegal

Studi yang dilakukan oleh Anin Nurhati (2010) misalnya mengungkap peran pesantren dalam memberikan materi kewirausahaan kepada para santrinya agar mereka memiliki kecakapan hidup seperti kemampuan beternak, budi daya perikanan, pengolahan obat-obatan, perdagangan, perbengkelan, otomotif dan permebelan (Zuhri, 2010). Beragam kurikulum tersebut tentu menjadi kekuatan bagi pesantren untuk menjawab tantangan zaman. Ada kesadaran bahwa pemahaman teks-teks keagamaan semata tanpa penguasaan keilmuan yang lain akan menyebabkan santri semakin tertinggal.

IPNU Tegal

Pesantren tak pernah terjebak pada perubahan kurikulum yang terjadi karena berubahnya menteri. Pesantren senantiasa konsisten, karena tujuan awalnya adalah mendidik santri menjadi individu-individu yang bermanfaat bagi sesama. Maka pesantren tak terjebak pada pola-pola pendidikan formal yang berbasis nilai-nilai kuantitatif. Tak ada sertifikasi untuk para kiai, karena gelar kiai, ulama, ajengan, ataupun ustadz/ustadzah merupakan rekognisi yang diberikan oleh masyarakat. Penyematan karena kebermanfaatan mereka untuk umat. Bukan karena kepemilikan ijazah tertentu.

Keragaman tipikal lulusan pesantren membuktikan bahwa pesantren sesungguhnya sudah memberikan kontribusi pada penciptaan sumber daya manusia yang berkualitas. Pilihan profesi, pilihan politik, pilihan sudut pandang tafsir keagamaan dari lulusan pesantren menjadi warna tersendiri bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meskipun demikian, kemampuan pesantren mengkreasi intelektual-intelektual Muslim yang memiliki kapasitas mumpuni sehingga menjadi cahaya bagi umat harus tetap dijaga. Para intelektual itulah yang akan senantiasa memberikan pencerahan dan pencerdaskan bagi umat. Intelektual yang memberikan kedamaian dan menebarkan ajaran serta ujaran penuh kasih. Kita tentu merindukan almarhum Gus Dur dan Cak Nur, dua tokoh bangsa yang senantiasa berjuang untuk perdamaian, kesetaraan, dan demokrasi. Kita juga melihat kebesaran hati Gus Mus, yang meskipun dicaci oleh mereka yang membencinya, tetap memperlihatkan sifat welas asih dan pemaaf. Gus Mus telah memberikan teladan bagaimana implementasi akhlaqul karimah yang dicontontohkan Rasullah SAW.

Jika saat ini isu mengenai pentingnya pendidikan karakter kembali didengungkan. Sesungguhnya, proses pendidikan pesantren justru sejak awal telah memberikan ruang besar bagi penguatan karakter para santrinya. Pesantren memang memiliki fokus agar santri-santrinya menjadi uswatun hasanah, teladan kebaikan, yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi umat.

Para santri mendapatkan tempaan setiap waktu ketika mengenyam pendidikan pesantren. Satu hari penuh para santri berada dalam situasi belajar. Maka sesungguhnya, tak perlu lagi ada kebijakan full day school. Pemerintah hanya perlu mengoptimalkan pesantren-pesantren yang ada di berbagai penjuru tanah air.

Proses pendidikan di pesantren memang menyiapkan para santri agar mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitarnya. Dalam konteks ini, kiai dan para ustadz/ustadzah di pesantren memegang peran penting dalam konstruksi karakter para santri. Mereka menjadi role model bagi para santri yang diasuhnya.

Keberhasilan pesantren membentuk karakter santri sangat bergantung pada keteladanan para alim di pesantren.? Keteladanan tersebut tak hanya diberikan melalui ceramah-ceramah semata, namun juga melalu tindakan nyata. Kelebihan pesantren mendidik santri terletak pada pembiasaan dan praktik keseharian. Sehingga, kepatuhan santri terhadap aturan tak sekedar karena takut dihukum. Rasa malu jika tak patuh dan disiplin terbentuk karena adanya keteladanan dari para kiai ataupun ustadz/ustadzah.

Di sisi lain pesantren juga memberikan pembelajaran kontekstual kepada para santrinya. materi-materi yang diberikan adalah hal-hal yang relevan yang akan para santri gunakan di masa depan. missal saja, banyak pesantren memberikan penguatan pelajaran bahasa asing kepada santri karena menyadari bahwa penguasaan bahasa yang mumpuni merupakan keniscayaan di era global.

Selain itu, pelatihan mubaligh yang diselenggarakan di pesantren ditujukan agar para santri memiliki public speaking yang baik. Karena para santri harus mampu menyampaikan gagasan-gagasannya kepada masyarakat secara runut dan terstruktur. Menyampaikan pengetahuan keagamaannya kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.

Beberapa pesantren juga rutin menyelenggarakan program Bahtsul Masail. Kegiatan tersebut menjadi penting karena membiasakan para santri mendialogkan beragam permasalahan dengan merujuk beragam referensi. Kebiasaan berdiskusi sangatlah penting agar para santri tidak alergi terhadap perbedaan pandangan yang ada di masyarakat kelak. Memperkaya perspektif mereka memandang suatu persoalan. Dan pada akhirnya membuat mereka menyadari sepenuh hati bahwa perbedaan tafsir atas teks keagamaan merupakan hal biasa dan akan mereka hadapi di masyarakat.

Dan yang paling penting, pesantren memberikan para santri untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola dirinya, manajemen diri. Proses tersebut merupakan bagian dari pendewasaan diri. Pola pendidikan di pesantren menyediakan mekanisme panjang agar santri memiliki kemampuan manajemen diri tersebut.

Keberhasilan mengelola diri sendiri merupakan salah satu kunci penting keberhasilan mereka di masa mendatang. Akan tetapi, meskipun pesantren memberikan segala ruang dan mekanisme pengaderan yang luar biasa, jika santri tak mampu mengoptimalkan hal-hal tersebut, tidak akan memiliki pengaruh kepada diri mereka. Keinginan kuat dari diri sendiri tetap menjadi aspek yang paling penting.

Oleh sebab itu, menjadi harapan bersama agar santri lulusan pesantren memiliki kesadaran penuh untuk memberikan kinerja nyata bagi kemaslahatan Indonesia dan berkontribusi untuk penciptaan Islam yang rahmatan lil alamin. Memberikan kedamaian bagi bangsa dan negara.



Penulis adalah lulusan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, saat ini menjadi Peneliti di Puslit Kependudukan LIPI


Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Pahlawan IPNU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Lecehkan Gus Dur, Kemenag Jabar Harus Minta Maaf

Subang, IPNU Tegal. Keluarga Besar NU di Kabupaten Subang Jawa Barat yang meliputi elemen GP Ansor, PMII, dan IPNU meminta pihak Kanwil Kementerian Agama Jabar untuk segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.



Lecehkan Gus Dur, Kemenag Jabar Harus Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Lecehkan Gus Dur, Kemenag Jabar Harus Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Lecehkan Gus Dur, Kemenag Jabar Harus Minta Maaf

Hal ini terkait kasus pelecehan terhadap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam soal Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil Madrasah Aliyah.

Seperti diwartakan, pelecehan terhadap Presiden RI ke-4 tersebut muncul dalam soal Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil Madrasah Aliyah yang tertuang dalam pilihan ganda nomor 33 oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Kanwil Kementrian Agama Jawa Barat.

IPNU Tegal

Dalam soal tersebut terdapat pertanyaan yang menjerumuskan siswa, terkait sebab jatuhnya Gus Dur yang mengarah ke pilihan jawaban A, yakni kasus Bruneigate dan Buloggate.

IPNU Tegal

“Kami menuntut agar Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Jabar, Kanwil Kemenag Jabar dan Kemenag Subang untuk meminta maaf kepada Warga Nahdliyin dan Rakyat Indonesia di media cetak maupun elektronik,” kataKetua GP Ansor Subang, Asep Alamsyah Heridinata di sekretariatnya Jl Darmodiharjo, Subang, Sabtu, (8/12) lalu.

“Jika tuntutan kami tidak direspon, kami akan mengepung dan menduduki kantor tersebut,” tegas Asep serius.

Ketua PMII Ketua Kabupaten Subang, Ade Mahmudin mensinyalir, Kanwil Kemenag Jabar sengaja membiarkan penerbit buku mata pelajaran yang bersangkutan yang mengeluarkan soal tersebut.

“Dalam hal ini Kanwil jabar telah melakukan tindakan fitnah. Karena kasus dugaan korupsi Buloggate dan Brunaigate tidak terbukti secara hukum dan menurut Kejaksaan Agung Gus Dur tidak terlibat,”, kritik Ade.

Ketua Ikatan Pelajar NU Kabupaten Subang, Ahmad mengaku miris dengan kejadian ini. “Saya sangat prihatin. Ini merupakan distorsi dan pembelokan sejarah. Apalagi ini dikonsumsi langsung oleh pelajar,” katanya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ade Mahmudin

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Aswaja IPNU Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal

Bisyr bin Harits dikenal juga sebagai Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah /767 Masehi. Setelah meninggalkan hidup berfoya-foya, ia mempelajari Hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan pendidikan formal untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan dan bertelanjang kaki. Bisyr meninggal di kota Baghdad tahun 227 H/841 M. Ia sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh khalifah al-Mamun.

Bishr lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Kisah pertobatannya diriwayatkan oleh Fariduddin al-Attar di dalam buku Tadzkiratul Auliya. Attar meriwayatkan, sewaktu muda, ia adalah seorang pemuda berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang". Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal (Sumber Gambar : Nu Online)
Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal (Sumber Gambar : Nu Online)

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal

Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr: "Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti".

"Bisyr adalah seorang pemuda berandal", si manusia suci itu berpikir. "Mungkin aku telah bermimpi salah".

IPNU Tegal

Oleh karena itu ia pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendatangkan mimpi yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya, ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juga. Keesokan harinya pergilah ia mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban: "Bisyr sedang mengunjungi pesta minum anggur".

IPNU Tegal

Maka pergilah ia ke rumah orang yang sedang berpesta itu, dan menyampaikan pesan dari mimpinya tersebut kepada Bisyr.

Kemudian Bisyr berkata kepada teman-teman minumnya, "Sahabat-sahabat, aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!"

Attar selanjutnya meriwayatkan bahwa sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr juga dijuluki si manusia berkaki telanjang (al-hâfî).

Berikut beberapa kisah tentang Abû Nashr Bisyr bin al-Hârist al-Hâfî yang kami himpun dari beberapa sumber:

Kisah Bisyr al-Hafi dan Imam Ahmad bin Hanbal



Konon Imam Ahmad bin Hanbal sering mengunjungi Bisyr al-Hafi, entah untuk urusan apa. Dan sang imam pun sangat mempercayai perkataan Bisyr al-Hafi. Hal itu kemudian menyebabkan rasa kurang senang pada hati murid-muridnya, sehingga suatu hari muridnya memprotes Imam Ahmad bin Hanbal.

“Wahai guru, di zaman ini tak ada seorang pun yang bisa menandingimu di bidang hadits, hukum, teologi dan setiap cabang ilmu pengetahuan. Lalu mengapa setiap saat engkau menemani dan bergaul bersama seorang berandal (Bisyr al-Hafi)? Pantaskah hal itu?” protes muridnya.

“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli bila dibandingkan dengan Bisyr. Tetapi mengenai Allah, dia lebih ahli daripada aku”, jawab sang Imam.

Konon juga Imam Ahmad bin Hanbal sering memohon kepada Bisyr al-Hafi “ceritakanlah padaku perihal Tuhanku!”

Bisyr al-Hafi dan Empatinya Terhadap Orang Miskin



Alkisah, selama 40 tahun keinginan Bisyr al-Hafi untuk merasakan daging panggang tak kunjung terwujud, hal itu disebabkan karena dia tidak memiliki uang. Pernah juga beliau menginginkan memakan kacang buncis, keinginan itu pun  juga tak kunjung terwujud. Padahal, kalaupun beliau berkehendak, sebagai salah seorang waliyullah yang dekat kepada Allah, beliau bisa saja meminta segala sesuatu dan pasti dikabulkan. Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya. Jalan hidup dan penyangkalan diri yang beliau jalani juga menahan beliau untuk meminum air dari saluran yang ada pemiliknya.

Rasa peduli atau empatinya kepada orang-orang miskin pun sangat besar. Konon di suatu musim yang begitu dingin, di mana semua orang mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh mereka, beliau, Bisyr al-Hafi malah berbuat sebaliknya. Dia melepas pakaiannya di tengah cuaca yang begitu dingin. Akibatnya tubuhnya menjadi menggigil kedinginan.

“Hai Abu Nashr (panggilannya), mengapa kau melepaskan pakaianmu di tengah cuaca yang sangat dingin ini?” teriak orang-orang heran. “Aku teringat orang-orang miskin. Aku tidak punya uang untuk membantu mereka. Oleh karena itu, aku ingin turut merasakan penderitaan mereka”.

Wafatnya Sang Waliyullah



Suatu malam, ketika Bisyr al-Hafi sedang terbaring menanti ajalnya pada tahuan 277 H/ 841`M, tiba-datang seseorang dan mengeluhkan nasibnya kepadanya. Kemudian Bisyr pun menyerahkan seluruh pakaian yang dia kenakan kepada orang tadi. Dia pun lantas memakai pakaian lain yang dia pinjam dari salah seorang sahabatnya. Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah sang waliyullah tersebut menghadap Tuhannya.

Di tempat yang lain, seorang laki-laki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di jalan. Padahal selama Bisyr al-Hafi hidup, tidak ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan tanpa menggunakan alas kaki. Melihat kenyataan aneh seperti itu spontan si laki-laki tersebut langsung berteriak “Bisyr telah tiada!”

Mendengar seruan laki-laki tadi, orang-orang pun pergi untuk menyelidikinya validitas berita tersebut. Dan ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi benar adanya. Lalu orang-orang pun menanyakan sesuatu padanya, “Bagaimana kau tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah meninggal dunia?”.

“Karena selama Bisyr al-Hafi hidup aku tidak pernah menyaksikan ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan. Dan tadi aku melihat kenyataan yang sebaliknya. Keledaiku membuang kotorannya di jalan. Dari itu pun aku tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah wafat”, jawab laki-laki tadi. Wallahu a’lam.

Hilmy Firdausy, Mahasantri Pesantren Ilmu Hadits Darus-Sunnah Ciputat. [Sindikasi Media]

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Nahdlatul Ulama, Aswaja IPNU Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Bupati Letakan Batu Pertama Pembangunan SMK Ma’arif NU Bulakamba

Brebes, IPNU Tegal. Guna memberikan pelayanan di bidang pendidikan, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Bulakamba Kabupaten Brebes membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK berlabel SMK Maarif NU Bulakamba tersebut dimulai pembangunannya setelah dilakukan peletakan batu pertama oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE, Ahad Sore (9/8).

“Selaku pemerintah daerah, kami merasa bangga dengan pendirian SMK Maarif NU di Bulakamba, karena bisa membantu mengentaskan kebodohan dan meningkatkan derajat pendidikan masyarakat Brebes,” ucap Bupati dalam sambutan peletakan batu pertama dilokasi pembangunan Desa Bulusari Kecamatan Bulakamba. 

Bupati Letakan Batu Pertama Pembangunan SMK Ma’arif NU Bulakamba (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Letakan Batu Pertama Pembangunan SMK Ma’arif NU Bulakamba (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Letakan Batu Pertama Pembangunan SMK Ma’arif NU Bulakamba

Bupati berharap keberadaan SMK Maarif di Bulakamba itu nantinya akan dapat berkiprah membantu Pemkab di bidang pelayanan pendidikan. Apalagi, dengan modal dasar pendidikan agama yang kuat akan menjadi pondasi akhlakul karimah generasi muda penerus bangsa. 

IPNU Tegal

"Saya sangat mengapresiasi peran serta masyarakat swasta di bidang pendidikan. Keberadaan SMK ini bisa mencetak generasi bangsa berakhlak mulia, cerdas dan berkeahlian," katanya.

Pihaknya juga mengaku siap untuk membantu mendukung kegiatan pendidikan di sekolah tersebut. Termasuk dengan bantuan anggaran melalui APBD. "Saya sudah bilang sama kepada Dinas Pendidikan, dan bisa tinggal teknis dan berapa nilainya akan disesuaikan lagi," jelas Bupati.

IPNU Tegal

Selain pembangunan sekolah, di lokasi tersebut juga akan digunakan untuk membangun kantor MWCNU Kecamatan Bulakamba, masjid dan pondok pesantren. Selain Bupati, ikut meletakan peletakan batu pertama berturut-turut Ketua PCNU Brebes Athoilah Syatori, pengurus MWCNU Bulakamba, KH Subhan Makmun serta tokoh lainnya.

Halalbihalal dan Pelantikan Muslimat NU

Dalam kesempatan tersebut juga digelar halal bihalal warga NU dan pelantikan pengurus ranting Muslimat NU se-kecamatan Bulakamba. Ketua PCNU Brebes, Athoilah Satori saat memberikan sambutan berharap agar warga NU tidak terpecah akibat pemberitaan muktamar NU seperti muncul di berbagai media. Karena di internal struktural sendiri masih bersatu dan soliid. 

Sementara sbagai penceramah, pengasuh Ponpes Assalafiyah Luwungragi, KH Subkhan Makmun yang mangajak jamaah untuk tetap berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan. Warga NU, hendaknya juga paham dengan dinamika yang berkembang agar tidak salah paham, termasuk dengan wacana Islam Nusantara yang banyak disalahartikan sejumlah pihak.  

Pengurus Yayasan Al-Ihsan, Ghofar Mughni mengatakan lokasi pembangunan komplek pendidikan dan sekretariat MWCNU itu adalah hasil wakaf dari keluarga besar H Johari seluas 750 m2 lebih. Setelah SMK NU dan MWC berdiri direncanakan pula akan dibangun ponpes dan sarana dakwah lainnya. 

Ketua MWCNU Bulakamba, Moh Robikhun MAg menjelaskan, SMK Maarif tahun ini sudah mendapat 86 siswa jurusan teknik sepeda motor dan multimedia. Untuk sementara belajar di MTs Maarif Bulakamba sampai selesainya pembangunan gedung. “Insya Allah pembangunan akan cepat selesai karena telah ditanggung sepenuhnya pihak pemberi wakaf,” pungkasnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja IPNU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Waketum PBNU Buka Propesa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia

Jakarta, IPNU Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia mulai menggelar Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa) untuk para mahasiswa baru. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HM Maksum Mahfoedz, Kamis (25/8) di Aula Gedung PBNU Jakarta.

Sebelum membuka Propesa, Maksum memberikan sambutan pengarahan kepada ratusan mahasiswa baru. Dengan menggelar pembukaan Propesa di PBNU, mahasiswa diharapkan lebih mengenal rumah besar Nahdlatul Ulama (NU) sebagai dasar pemikiran sekaligus pergerakan.

Waketum PBNU Buka Propesa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU Buka Propesa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU Buka Propesa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia

Guru Besar UGM ini tak lupa memberikan dorongan dan motivasi belajar kepada para mahasisa agar mempunyai pijakan yang kuat dalam melalui proses belajar di perguruan tinggi NU tersebut. Menurutnya, mahasiswa harus sadar bahwa persaingan global semakin ketat sehingga harus selalu mengembangkan kapasitas diri di luar kampus selain aktif di dalam kampus.

“Harus fight dalam belajar, jangan lupa memperluas jaringan dan menguasai teknologi,” anjur Maksum yang saat menjabat sebagai Rektor UNU Indonesia.

Sementara itu, Ketua STAINU Jakarta Syahrizal Syarif dalam sambutannya juga menjelaskan, kesuksesan dalam menjalani pendidikan ada pada motivasi diri untuk selalu belajar meski dalam keterbatasan fasilitas. Ia menganjurkan kepada mahasiswa agar memanfaatkan jantung belajar seperti perpustakaan selain aktif mengembangkan diri dalam organisasi.

IPNU Tegal

“Jangan terpaku dengan keterbatasan fasilitas, karena hal itu hanya akan mempersempit kalian dalam belajar. Padahal perpustakaan tersebar di mana-mana, bahkan saat ini mudah sekali mengakses perpustakaan di dunia melalui digital,” jelaanya.

Oleh karena itu, tegasnya, penguasaan teknologi dan pemahaman informasi sangat menunjang proses belajar generasi muda saat ini. Dia juga mendorong mahasiswa untuk dapat menguasai minimal 2 bahasa, yaitu bahasa Arab dan Inggris. Karena penguasaan bahasa asing saat mempunyai peran strategis dalam menunjang belajar sekaligus mengembangkan keilmuan secara global.

IPNU Tegal

Kegiatan Propesa ini akan berlangsung di Parung Bogor selama tiga hari ke depan. Usai mengikuti pembukaan, para mahasiswa baru digiring langsung menuju lokasi kegiatan. Acara pembukaan Propesa ini juga dihadiri oleh salah satu pendiri STAINU Jakarta , KH M. Mujib Qulyubi. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Amalan, Aswaja, IMNU IPNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Destinasi Wisata Alami Jadi Andalan Banyuwangi

Banyuwangi, IPNU Tegal. Memiliki sejumlah tempat wisata yang menjadi jujugan para pelancong, tidak selamanya harus dengan mendirikan bangunan baru. Lewat sentuhan kreativitas dan memanfaatkan bangunan dengan konsep berbasis alam, ternyata juga bisa menjadi pilihan.

Setidaknya itulah yang dapat disaksikan di beberapa destinasi wisata di kawasan Banyuwangi. "Kami memanfaatkan bahan alami untuk membangun beberapa wahana wisata," kata Abdullah Azwar Anas, Sabtu (4/11).

Destinasi Wisata Alami Jadi Andalan Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Destinasi Wisata Alami Jadi Andalan Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Destinasi Wisata Alami Jadi Andalan Banyuwangi

Penjelasan tersebut disampaikan Bupati Banyuwangi ini saat mengantarkan peserta Konferensi Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur di Pondok Indah, Desa Pereng, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

"Bangunan yang ada ini terbuat dari kayu, demikian pula ornamen lainnya," kata mantan Ketua Umum PP IPNU tersebut. Bupati Anas kemudian menunjukkan tumpukan batu yang dijadikan jalan menuju Pondok Indah.

Konsep wisata alami ternyata banyak mendapatkan apresiasi dari sejumlah wisatawan. "Baik dalam maupun luar negeri," ungkapnya.

IPNU Tegal

Dalam paparan pria yang juga sebagai Ketua PW ISNU Jatim tersebut mengajak masyarakat setempat untuk memanfaatkan keindahan alam untuk dikelola sebagai destinasi wisata. Tercatat, sejumlah rumah penduduk yang telah disulap menjadi penginapan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.

"Imbasnya, taraf hidup masyarakat di sini mengalami peningkatan yang membanggakan," katanya.

IPNU Tegal

Kota paling timur di pulau Jawa ini juga menggunakan pendekatan yang lebih substansial dalam mengurangi penyakit masyarakat seperti prostitusi.

"Kita tidak menggunakan peraturan daerah syariah, namun lebih mengedukasi masyarakat," ungkapnya. Bahwa mengurangi tersebarnya penyakit kelamin dapat dilakukan lewat penjelasan yang disampaikan sejumlah tenaga kesehatan, lanjutnya.

Dia juga menceritakan sejumlah perdebatan yang mengemuka di masyarakat ketika akan diberlakukannya peraturan daerah berbasis syariah. "Baik yang pro maupun kontra," terangnya. Karena itu, yang lebih ditekankan di wilayahnya yakni dengan tidak terlalu larut dalam bungkus berupa aturan, melainkan strategilah yang lebih dikedepankan.

Di akhir paparannya, Bupati Anas berpesan kepada peserta konferensi untuk dapat meniru konsep pembangunan wisata alami di daerah masing-masing. "Pengalaman selama di sini bisa juga diterapkan di kawasan anda semua," pungkasnya. 

Konferensi PW ISNU Jatim berlangsung Sabtu hingga Ahad (4-5/11). Di sela kegiatan tersebut, Bupati Anas mengajak peserta yang berasal dari sejumlah kota dan kabupaten se-Jatim ini mengunjungi tempat wisata. Termasuk melepas anak penyu atau tukik di pantai Boom. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ahlussunnah, Aswaja IPNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah

Jakarta, IPNU Tegal. Kalangan pesantren atau warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) umumnya sepakat begitu saja dengan pembedaan antara jamaah dan jamiyyah. Jamaah disamakan dengan istilah paguyuban, sementara jamiyah disejajarkan dengan patembayan atau organisasi.

Dalam konteks NU, menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Masudi, pembedaan antara jamaah dan jamiyyah itu malah memunculkan segudang persoalan.

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah

Masdar Farid menyampaikan hal itu pada saat memberikan taushiyah kepada ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Pengajian Ahlussunnah wal Jamaah, yang dimotori oleh Pengurus Pusat Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB), di Jakarta, Selasa (22/4).

IPNU Tegal

Jamaah sering diartikan sebagai perkumpulan biasa yang hanya diikat secara tidak ketat oleh kultur yang berlaku di masyarakat setempat. Mereka hanya direkatkan dengan amalan atau kebiasaan yang sama.

IPNU Tegal

Sementara jamiyah adalah sebuah organisasi, dimana orang-orang yang berkumpul disatukan oleh visi dan misi yang sama dan diatur oleh tata aturan organisasi yang ketat dan tertata rapi.

Menurut Masdar Farid, pembedaan antara jama’ah dan jam’iyyah di dalam NU menyebabkan banyak warga Nahdliyyin merasa tidak terikat secara organisatoris dengan aturan-aturan dalam organisasi NU, juga kegiatan atau agenda-agendanya.

Maka pembedaan itu harus dihilangkan. Kiai yang sempat memunculkan opsi mengenai pengabungan antara zakat dan pajak di Indonesia itu mengatakan bahwa terma jama’ah yang sering disebut dalam berbagai literatur Islam justru dimaksudkan sebagai organisasi.

”Ada qoul yang menyatakan bahwa Allah bersama dengan kelompok yang berjama’ah, maka yang dimaksud dengan jama’ah di sini adalah organisasi,” katanya.

Dikatakannya, ibadah shalat yang dilakukan kaum muslimin bisa bernilai 27 derajat apabila dilakukan secara berjamaah, atau berorganisasi.

”Syarat shalat berjama’ah harus ada imam, mamum dan harus ada aturan main yang harus ditaati, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Demikian juga dalam berorganisasi,” katanya.

“Kelompok Muslim baru dikatakan sebagai umat terbaik atau Ahlussunnah wal Jama’ah hanya ketika mereka berorganisasi, berjama’ah. Ingat bahwa di situ ada kata wal jama’ah,” tambahnya.

Kelompok Muslim yang monoritas di dunia seperti Syi’ah, Ihwanul Muslimin bisa sangat kuat dan solid karena direkatkan oleh tata organisasi yang bagus. Sementara kelompok Muslim yang mayoritas yakni Ahlussunnah wal Jama’ah atau Sunni justru tidak bisa berbuat banyak karena tidak diorganisir dengan dengan baik.

Menurut Masdar, satu-satunya kelompok Ahlussunnah wal Jamaah di dunia yang terorganiasir adalah Nahdlatul Ulama (NU) yang berpusat di Indonesia, meski harus diakui bahwa sistem keorganisasian dalam NU berlum terlalu baik.

Sementara itu banyak yang menganggap bahwa berorganisasi adalah cara-cara yang primordial atau kampungan. Menurut Masdar, mereka yang solid dalam berbagai agama adalah anggota salah satu organisasi.

“Jadi anggapan bahwa berorganisasi itu primordial sama sekali tidak beralasan. Dengan berjamaah justru umat Islam dapat melakukan gerakan bersama untuk mencapai tujuan bersama,” katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Khutbah IPNU Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2

Brebes, IPNU Tegal. Sebanyak 723 santri ? dari Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) se Kabupaten Brebes mengikuti Wisuda Akbar ke-2 di Aula Islamic Center Jalan Yos Sudarso Brebes, Ahad (21/5). Wisuda dilakukan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, Imam Hidayat, ? disaksikan orang tua santri, dewan guru dan pejabat pemerintahan setempat.?

“Sebanyak 723 santri, mewakili madrasah masing-masing yang ada di Kabupaten Brebes,” ujar Ketua Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Sururi, di sela kegiatan.

Dari 723 madrasah MDTA yang ada di Kabupaten Brebes, dikatakannya, telah meluluskan 9.563 santri. Dijadwalkan untuk tahun mendatang seluruh santri akan di hadirkan di alun-alun, jadi meriah. Kalau sekarang, tempatnya tidak muat jadi hanya perwakilan saja yang diajak ke Islamic Center.

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2 (Sumber Gambar : Nu Online)
723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2 (Sumber Gambar : Nu Online)

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2

Dari banyaknya madrasah diniyah di Brebes, lanjut Sururi, masih terjadi ketimpangan dengan kurangnya perhatian pemerintah. Terbukti hingga kini belum terlahirnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Pendidikan Madrasah. Diyakini Sururi, dengan madrasah, akhlakul karimah generasi muda bisa terjaga. Karena MDTA menjadi lembaga penjaga moral yang sangat penting yang harus dipertahankan.

“Tidak pernah tawuran ketika lulus madrasah, kalau sedari kecil sudah mengenyam pendidikan madrasah. Itu artinya memiliki akhlakul karimah, dan itu menjadi ukuran mutu dalam pendidikan,” ungkapnya.?

IPNU Tegal

Kasubid Diniyah Formal dan Ma’had Ali, Kementerian Agama (Kemenag) RI Ahmad Jayadi mengakui kalau tantangan terhadap MDTA tidaklah ringan. Terakhir, adalah dengan pemberlakukan 5 hari masuk sekolah. Yang artinya, waktu milik MDTA akan tercerabut oleh kebijakan Mendiknas yang dikabarkan kebijakan itu akan tetap diberlakukan pada 2018 mendatang.?

“MDTA perlu mencari terobosan dan inovasi waktu dan system pembelajaran, agar MDTA tetap lestari dan makin maju,” ujarnya.

IPNU Tegal

Untuk meningkatkan kualitas MDTA sepertinya perlu diterbitkan Perda Madrasah, kata Jayadi, harus dimulai dari diri sendiri. Artinya, madrasah itu dari, oleh dan untuk umat. Kalau umatnya berkehendak kuat, maka tidak mustahil Perda atau peraturan lainnya akan mudah dan cepat diterbitkan. “Pemerintah, pada dasarnya hanyalah fasilitator. Kemauan kuat justru berakar dari pengelola MDTA dan FKDT itu sendiri,” tandasnya.?

?

Kendala akibat kepentingan politik, menurutnya sudah biasa, untuk itu, seluruh komponen harus seiring sejalan dan harus berangkat bersama.

?

Jayadi menginformasikan, kalau saat ini tengah dirancang undang undang tentang Pendidikan Pesantren. “Mudah-mudahan madrasah bisa terakomodir didalamnya. Sehingga posisi pendidikan agama dan keagamaan setara dengan pendidikan yang lain,” tandasnya.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes, Imam Hidayat mengajak seluruh kepala MDTA untuk tidak patah arang dalam mengelola pendidikan Islam. “Kita harus optimis bahwa anak-anak yang lulus MDTA bisa melanjutkan ke Wustho. Pendidikan diniyah bukanlah sebagai pelengkap belaka, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang urgen bagi masyarakat,” tandasnya.?

Agama lanjut Imam Hidayat, menjadi pemecah solusi tentang kemanusiaan dan kemasyarakatan. Bila agama sudah keluar dari karakter islam, maka pertanda islam hanya dijadikan alat politik belaka, seperti HTI yang menjadikan agama sebagai politik mendirikan khilafah. Lewat madrasah, anak-anak kita akan memiliki dasar akhlakul karimah yang sangat kuat.

? “Mendapatkan ilmu pengetahuan sangat mudah, tetapi menanamkan akhlakul karimah sangat sulit, untuk itu harus ditanamkan sejak dini,” kata Imam.?

Sementara itu, Kasubag Agama Bagian Kesra Pemkab Brebes, Harun menjelaskan, Pemkab Brebes telah memberikan dukungan yang banyak terhadap dunia pendidikan Islam. Diantaranya adalah, berupa pemberian bantuan hibah kepada para guru madrasah diniyah. “Tentang penerbitan Perda, tentu Pemkab sangat mendukung,” ucapnya. (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Olahraga, Aswaja IPNU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Dandim 0411 Gelar Doa Kemerdekaan di Pesantren Walisongo

Lampung Tengah, IPNU Tegal - Ratusan santri dan ratusan Tentara Nasional Indonesia di bawah Komando Dandim 0411 Kabupaten Lampung Tengah mengikuti upacara penurunan bendera di Pesantren Walisongo, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah. Mereka juga menggelar doa kebangsaan di pesantren tersebut, Kamis (17/8) sore.

Ada yang berbeda  pada upacara penurunan bendera dalam Hari Ulang Tahun Ke-72 Republik Indonesia tahun ini di halaman Pesantren Walisongo. Peserta upacara tidak hanya para santri pesantren setempat tetapi tampak hadir pula seratusan lebih pasukan TNI anggota Dandim 0411 Kabupaten Lampung Tengah.

Dandim 0411 Gelar Doa Kemerdekaan di Pesantren Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandim 0411 Gelar Doa Kemerdekaan di Pesantren Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandim 0411 Gelar Doa Kemerdekaan di Pesantren Walisongo

Pengasuh Pesantren Walisongo Kiai Syaikhul Ulum Syuhada di sela-sela sebelum upacara penurunan bendera menyampaikan, agenda ini dilaksanakan sebagai bentuk kerja sama pesantren dan militer, Polres Lampung Tengah, MWCNU Bumi Ratu Nuban untuk terus memupuk rasa nasionalisme di kalangan santri dan aparatur negara dalam hal ini TNI dan Polri.

IPNU Tegal

“Mari kita kirimkan hadiah surat Al-Fatihah untuk Komanadan Dandim Lampung Tengah dan Kapolres Lampung Tengah semoga para prajurit, anggotanya senantiasa diberi kekuatan, kesehatan dalam mengemban tugas negara menjaga ketertiban, keamanan masyarakat Indonesia,” kata alumnus Fakultas Tarbiyah IAIM NU Kota Metro Lampung ini.

IPNU Tegal

Inspektur upacara penurunan bendera adalah Dandim 0411 Lampung Tengah Letkol Janjang Kurniawan. Selepas shalat magrib berjamaah mereka makam tumpeng bersama.

Upacara penurunan bendera di Pesantren Walisongo Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah dihadiri Pengasuh Pesantren Walisongo Kiai Syaikhul Ulum Suhada, Ketua MUI Lampung Tengah H Mutawalli, Ketua GP Ansor Lampung Tengah Saryono, jajaran pengurus MWCNU Bumi Ratu Nuban, para santri Walisongo, pengurus harian Satkorcab Banser Lampung Tengah, Dandim 0411 Lampung Tengah Letkol Janjang Kurniawan, Kapolres Lampung Tengah AKBP Purwanto Puji Suttan, para anggota TNI Dandim 0411 Lampung Tengah, dan masyarakat sekitar. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, News IPNU Tegal

Perubahan Pola Pikir Zaman Now, Tantangan Jamiyyah NU

Bandarlampung, IPNU Tegal. Tantangan semakin berat dihadapi oleh Jamiyyah Nahdlatul Ulama milenial ini. Menjelang satu abad Jamiyyah Nahdlatul Ulama pada 2026 permasalahan tidak hanya terkait dengan keorganisasian dan struktural NU, namun juga kultural NU yang merupakan kekuatan Jamiyyah.

Perubahan Pola Pikir Zaman Now, Tantangan Jamiyyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perubahan Pola Pikir Zaman Now, Tantangan Jamiyyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perubahan Pola Pikir Zaman Now, Tantangan Jamiyyah NU

Hal ini diutarakan Wakil Sekjend PBNU M. Aqil Irham, Kamis (2/11) menanggapi kondisi perkembangan informasi dan teknologi terutama di media sosial telah memengaruhi tingkah laku dan pola pikir masyarakat.

Menurutnya perkembangan teknologi khususnya internet dan sosial media menyumbang pengaruh besar terhadap perubahan sudut pandang masyarakat dalam memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama.

"Saat ini berbagai riset dan survey menunjukkan bahwa otoritas kiai dan ulama yang sohih sanad keilmuannya, masih kalah populer di mata ummat Islam dibanding dengan ustad-ustad muda dan ustad yang melek sosmed," ujarnya.

Hal ini tentunya sangat menghawatirkan tidak saja bagi NU namun juga bagi Ormas keagamaan mainstream lainnya di Indonesia. Diperlukan perhatian tersendiri dalam rangka membentengi ummat dari belajar agama secara instan.

IPNU Tegal

"Basis dakwah di level bawah seperti masjid, surau dan majelis taklim sudah mulai diisi oleh ustad-ustad lain" tambahnya.

IPNU Tegal

Apalagi saat ini keberadaan pesantren juga tidak lagi menjadi otoritas satu-satunya yang melekat dengan NU.

"Saat ini tumbuh bagai jamur musim hujan, pesantren-pesantren yang beda dengan tradisi Nahdhiyin. Boarding school ala pesantren modern juga makin mengambil hati umat Islam kelas menengah, begitupan pesantren mahasiswa di sekitar kampus umum," katanya.

Melihat fenomena ini lanjutnya, Ia menilai perlunya inovasi oleh para Santri milenial dalam berdakwah. "Kita harus melakukan inovasi sistem pembelajaran, pendidikan dan pengajaran. Inovasi model dan gerakan dakwahnya. Alumni santri milenial harus tahu tren perubahan ini," ajaknya.

Ia berharap jangan sampai metode dakwah yang dilakukan seperti kegiatan olahraga menggunakan alat treadmill.

"Kelihatannya jalan bahkan berlari, namun tetap jalan di tempat," ujarnya.

Jika ini dibiarkan begitu saja tentunya pergeseran nilai akan berpengaruh dalam jamiyyah NU yang didirikan oleh para ulama sejak 1926. Kekuatan dari sisi kultural merupakan kekayaan dan kekuatan dalam Jamiyyah NU sehingga setiap pengurus dan warga NU harus bahu membahu mempertahankan ini. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Aswaja, Internasional IPNU Tegal

Rabu, 15 November 2017

GP Ansor Brebes Gelar Panggung Hiburan dan Bakti Sosial

Brebes, IPNU Tegal - GP Ansor Kabupaten Brebes mengadakan Panggung Hiburan di lapangan Desa Jatirokeh Kecamatan Songgom dan di lapangan Desa Klampok Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes, Rabu-Kamis (18-19/5). Selama dua hari itu mereka menggelar pelbagai macam lomba yang melibatkan ribuan warga sekitar.

Ketua Panitia Acara Ahmad Zacky Al-Aman mengatakan, rangkaian kegiatan ini terdiri atas lomba tarik tambang, lomba balap pucang, lomba kelereng yang semuannya diikuti oleh warga sekitar. Ada juga stan produk karya anggota IPNU dan IPPNU berupa kaos dan kerajinan tangan lainnya.

GP Ansor Brebes Gelar Panggung Hiburan dan Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Brebes Gelar Panggung Hiburan dan Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Brebes Gelar Panggung Hiburan dan Bakti Sosial

Selain hiburan meriah, pihak penyelenggara bekerja sama dengan PT Djarum menggelar bakti sosial. Mereka membuat jembatan dan mencat musholla di wilayah RW 02 Desa Klampok. Mereka membangun Gapura Pesantren Al-Falah Salafi II dan mendirikan posko siaga Banser Songgom di depan Kantor Sekretariat MWCNU Songgom.

IPNU Tegal

Pada malam harinya mereka melangsungkan hiburan dengan penampilan grup kesenian tradisional Brebes dan artis ibu kota antara lain mantan Vokalis Drive Band Anji.

Alhamdulillah acara bisa terselenggara dengan baik dan meriah berkat dukungan dan partisipasi dari seluruh pihak khususnya PT Djarum,” kata Zacky.

IPNU Tegal

Ketua GP Ansor Brebes Ahmad Munsip menambahkan, sebagai wujud partispasi pemuda NU GP Ansor wajib memberikan kontribusi berupa bakti sosial dan panggung hiburan bagi masyarakat untuk mempertegas peran GP Ansor dan legitimasi dari masyarakat semata.

“Kalau keberadaan kita ingin diakui oleh masyarakat maka laksanakan kegiatan yang langsung bisa dirasakan oleh masyarakat sebagai wujud eksistensi GP Ansor,” kata Munsip.

Tampak hadir dalam rangkaian kegiatan ini antara lain jajaran Muspika Songgom dan Wanasari serta para tokoh masyarakat setempat, dan ratusan kader GP Ansor. (Bayu/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Doa IPNU Tegal

Selasa, 14 November 2017

Tahun 2016 Anggaran Program Balitbang Diklat Kemenag Cukup Baik

Jakarta, IPNU Tegal

Berdasarkan pelaksanaan program dan anggaran, sasaran program dan kegiatan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2016 dapat dicapai dengan cukup baik. Sementara realisasi anggaran pelaksanaan Program Penelitian Pengembangan dan Pendidikan Pelatihan Kementerian Agama hingga tanggal 31 Desember 2016 sebesar Rp492.366.059.166,- atau 85,77% dari total anggaran sebesar Rp574.045.616.000,-.

Tahun 2016 Anggaran Program Balitbang Diklat Kemenag Cukup Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun 2016 Anggaran Program Balitbang Diklat Kemenag Cukup Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun 2016 Anggaran Program Balitbang Diklat Kemenag Cukup Baik

 

Akan tetapi, apabila anggaran self blokir yang ada di Pagu Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Tahun 2016 dikeluarkan sebesar Rp27.518.899.000,-, maka realisasi Anggaran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada Tahun 2016 menjadi 90,09% dari total anggaran sesudah dikurangi self blocking sebesar Rp546.526.717.000,-. 

Ada pun pencapaian Indikator Kinerja Utama Outcome program terdiri dari 2 (dua) indikator. Pertama, persentase hasil penelitian dan pengembangan yang digunakan oleh pimpinan dan unit-unit teknis Kementerian Agama serta masyarakat dari target 63% dapat terealisasi 65% sehingga nilai capaiannya 103%. Sedangkan indikator yang kedua Persentase sumber daya manusia pejabat struktural, fungsional tertentu, dan fungsional umum yang mengikuti diklat dari target 11% dapat terealisasi 14,71% (33.488 Orang) sehingga nilai capaiannya 133,68%.

IPNU Tegal

Kinerja tersebut terdistribusi pada pencapaian kegiatan sebagai berikut

Pertama, Dukungan Manajemen dan Tugas Teknis Lainnya Badan Litbang dan Diklat 

IPNU Tegal

Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Lainnya Badan Litbang dan Diklat ini tidak hanya dilaksanakan oleh satker pusat sebagai penanggungjawab kegiatan yaitu unit kerja Sekretariat Badan Litbang dan Diklat yang dipimpin oleh Sekretaris Badan Litbang dan Diklat, tetapi juga dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) yaitu Lajnah Pentashihan Mushaf Al- Qur?an, Balai Litbang Agama, dan Balai Diklat Keagamaan. 

Tujuan kegiatan tersebut yaitu menyelenggarakan layanan tata kelola kepemerintahan yang baik di bidang kelitbangan dan kediklatan. Untuk mendorong terwujudnya tata kelola kepemerintahan yang baik Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama telah melakukan kegiatan, antara lain: penyempurnaan sistem perencanaan anggaran dengan melakukan sinkronisasi kegiatan dan anggaran; peningkatan kualitas laporan keuangan; peningkatan kualitas laporan program dan kegiatan; reformasi birokrasi melalui penataan struktur organisasi; penyempurnaan proses kerja; penguatan dan pemanfaatan Sistem Informasi Kelitbangan dan Kediklatan (Simlitbang Diklat); Penguatan dan implementasi Sistem Informasi Pelaporan Program dan Anggaran (SIPPA) berbasis Web, Sinkronisasi data antara pusat dan daerah; pengembangan SDM berupa pemberian beasiswa dan short course di dalam dan luar negeri; dan optimalisasi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). 

Kedua, Penelitian dan Pengembangan Kehidupan Keagamaan

Pada tahun 2016, dalam kegiatan Penelitian dan Pengembangan Kehidupan Keagamaan terdapat kegiatan prioritas (RKP) yang dilaksanakan oleh Satker Pusat dan tercapai dengan baik (100%), antara lain: Penelitian Survey Kerukunan Umat Beragama 2016; Penelitian Perkembangan Gerakan Syiah di Indonesia; dan Penelitian Sikap Pelaku Usaha Kecil terhadap UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH). (Husni Sahal/Kendi Setiawan) 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Daerah, Aswaja, Ubudiyah IPNU Tegal

Kiai Ma’ruf Amin: Tugas Pesantren Juga Berdayakan Umat

Jakarta, IPNU Tegal - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin mengatakan, pesantren memiliki tugas yang menyeluruh. Pesantren tidak hanya bertanggung jawab memberikan pengajaran tentang keislaman tetapi juga memberdayakan umat.

“Pesantren memiliki tugas paripurna. Tugas utamanya adalah i’dadul mufaqqihin dan rijalul ishlah,” kata Kiai Ma’ruf saat memberikan cermah dalam acara seminar dan rapat kerja bertemakan Peran Pesantren untuk Penguatan Ekonomi Umat yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pesantren Nahdlatul (RMI NU) di Lantai 8 Gedung PBNU Jakarta, Kamis (27/4).

Kiai Ma’ruf Amin: Tugas Pesantren Juga Berdayakan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ma’ruf Amin: Tugas Pesantren Juga Berdayakan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ma’ruf Amin: Tugas Pesantren Juga Berdayakan Umat

Selain itu, Kiai Ma’ruf menjelaskan, tugas pesantren juga adalah memberdayakan ekonomi umat. Menurutnya, sekarang adalah momentum yang tepat bagi pesantren untuk ikut andil dalam mengembangkan ekonomi Indonesia.

IPNU Tegal

“Sekarang ini momentumnya tepat sekali. Kebijakan pemerintah sangat bagus sekali seperti pendistribusian tanah,” jelasnya.

Terkait kebijakan pemerintah itu, Kiai lulusan Pesantren Tebuireng ini mendorong pesantren untuk berbenah dan menyiapkan diri. Ia mewanti-wanti agar jangan sampai kesempatan tersebut terlewatkan oleh pesantren.

IPNU Tegal

Ia mengaku sudah meminta presiden untuk melibatkan umat Islam dalam pengembangan ekonomi nasional. “Jangan sampai saya ngerok. Presiden sudah siap tetapi kita belum siap. Maka kita tidak akan dapat apa-apa,” urainya.

Menurut Kiai Ma’ruf, masing-masing pesantren harus bisa memetakan diri terkait dengan model ekonomi seperti apa yang akan dikembangkan. “Kita harus benar-benar bisa memetakan. Mau bikin gerai, kita bisa kerja sama dengan Carrefour,” jelasnya.

“Kita harus punya inisiatif dan kreatifitas,” lanjut kiai yang juga menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia.

Kiai Ma’ruf menilai, umat Islam adalah bangsa terbesar di negara ini. Jika umatnya kuat maka bangsa Indonesia juga kuat. “Tetapi jika bangsanya lemah, maka bangsanya juga lemah. Menjadi kewajiban pemerintah untuk menguatkan umat,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja IPNU Tegal

Selasa, 17 Oktober 2017

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang

Jakarta, IPNU Tegal. Ada perbedaan pelarangan ma lima versi Walisongo dengan ma lima zaman sekarang. Larangan Walisongo mengacu kepada ritual yang dilakukan agama Budha Shiwa dengan salah satu mazhabnya, Bairawa Tantra.

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang

Menurut Sejarawan dan budayawan Agus Sunyoto, ritual mazhab itu adalah mamsa (daging), matsa (ikan), madya (arak) maiathuna (seks) mudras (semadhi) yang diamalkan dalam lingkaran jamaah di ksetra (kuburan).

Sementara ma lima versi sekarang mengacu kepada lima hal yang tak boleh dilakukan, yaitu madat, madon, main, minum, dan maling. Tetap sama-sama yang dilarang. Tapi acuan pelarangan Walisongo itu mengacu kepada ritual mazhab Bairawa Tantra tersebut.

IPNU Tegal

“Oleh karena itu, wal-wali dulu mengatakan ojo mo limo! (jangan melakukan lima hal, red.) karena itu upacara Pancamakara lingkaran, upacara Pancamatara Bairawa Tantra,” katanya di kantor redaksi IPNU Tegal, gedung PBNU, Jakarta, Sabtu, (9/3).  

Tapi, larangan Walisongo tidak menebar kebencian kepada kelompok yang melakukan, melainkan membuat budaya sendiri. Misalnya Sunan Bonang membuat tandingan dengan membentuk lingkaran jamaah yang disebut kenduri.

IPNU Tegal

Lebih jauh, penulis Suluk Abdul Jalil (7 Jilid) dan Atlas Walisongo tersebut menagatakan, waktu itu, umat Islam tandanya sederhan saja; sudah khitan dan melakukan selamatan sudah dianggap sebagai Muslim.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Aswaja IPNU Tegal

Selasa, 12 September 2017

Larut Dalam Kegembiraan, Anak-Anak Berebut Buah

Boyolali, IPNU Tegal. Penyelenggaraan santunan anak yatim di Bantulan, Banyudono, Boyolali, Ahad (2/11) malam, terbilang unik. Usai mendapat santunan, anak-anak langsung menyerbu buah-buahan yang dikemas sedemikian rupa yang diletakkan di beberapa titik.

Anak-anak yang mayoritas masih berusia di bawah dua belas tahun itu larut dalam kegembiraan. Irfan salah satu dari mereka mengaku senang karena dapat memetik banyak buah. “Tadi dapat pepaya, pisang, dan kelapa muda,” ungkap bocah kelas V SD itu.

Larut Dalam Kegembiraan, Anak-Anak Berebut Buah (Sumber Gambar : Nu Online)
Larut Dalam Kegembiraan, Anak-Anak Berebut Buah (Sumber Gambar : Nu Online)

Larut Dalam Kegembiraan, Anak-Anak Berebut Buah

Panitia kegiatan santunan anak yatim Al-Amin, Reka mengatakan pada tahun ini sekitar 250 anak yang mendapatkan bantuan. Lebih lanjut dikatakan olehnya, bantuan itu akan diberikan secara rutin tiap bulan. “Pemberian kali ini hanya simbolis yang dilaksanakan rutin tiap malam 10 Suro,” terang Reka.

IPNU Tegal

Sementara itu, dalam ceramahnya KH Amin Budi Harjono menerangkan keutamaan menyantuni anak yatim. “Sebuah keberuntungan besar, pada malam ini kita duduk bersama anak yatim dalam satu majelis yang penuh berkah, ditambah dengan memberikan santunan kepada mereka. Sebab, memberikan santunan kepada anak yatim itu setara dengan ibadah haji,” kata Kiai Amin di hadapan ribuan jamaah.

Pengasuh pesantren Al-Ishlah Semarang itu menambahkan, menyantuni anak yatim merupakan salah satu bentuk pengamalan sunah Rasulullah saw.

IPNU Tegal

“Mengamalkan sunah rasul, ibarat tanah yang diguyur air hujan menjadi subur dan tumbuh tanaman. Hati kita apabila disirami cahaya akan menumbuhkan sifat dan akhlak yang baik,” tuturnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Pemurnian Aqidah, Syariah IPNU Tegal

Sabtu, 29 Juli 2017

Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri

Jakarta, IPNU Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Aizzuddin Abdurrahman (Gus Aiz) mengaku sangat menyayangkan pemasangan spanduk atas nama Pagar Nusa pada Muktamar Khilafah 2013 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ia menegaskan, Pencak Silat NU Pagar Nusa tidak punya hubungan dengan HTI.

Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri

“Pagar Nusa sangat menyayangkan yang dilakukan HTI itu. Saya tegaskan, Pagar Nusa sama sekali tidak terlibat dan melibatkan diri dengan HTI baik terkait upaya atau amaliyah yang mereka lakukan,” kata Gus Aiz kepada IPNU Tegal pertelepon, Sabtu (8/6).

“Tidak ada agenda Pagar Nusa yang terkait HTI. Saya harap mereka tahu diri, bahwa yang diurusi Pagar Nusa adalah NU, ulama dan NKRI,” tegasnya lagi.

IPNU Tegal

Ditambahkan, Indonesia memang menjadi lahan subur bagi siapapun bagi berkembangnya berbagai pemikiran, dan bahkan ideologi baru. Namun Gus Aiz mengingatkan semua pihak untuk tidak melakukan aksi merorongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya harap HTI sadar diri dan tahu betul keberadaannya. Mereka adalah kelompok baru dan tidak memahami dengan bijak dan baik beberapa dasar pendirian bangsa ini,” katanya terkait pelaksanaan muktamar khilafah.

IPNU Tegal

Terkait kasus pemalsuan spanduk, dikatakannya, sampai saat ini belum ada agenda pertemuan dengan pihak HTI. “Belum ada agenda pertemuan dengan mereka. Tapi kami siap berkomunikasi dengan segala pihak,” katanya.

Namun ia tetap mengimbau para kader Pagar Nusa untuk tetap menahan diri dan tetap berkoordinasi sebelum melakukan tindakan apapun. “Pelajari dulu, jangan terburu-buru agar tidak berdampak pada ekses yang tidak baik,” tambahnya.

Seperti diwartakan PCNU Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, telah menegaskan spanduk yang menempel di tribun stadion Gelora Bung Karno yang mencatut nama “Pagar Nusa NU Wilayah Tanjungsari-Sumedang” itu adalah bentuk pemalsuan. 

Kepada IPNU Tegal, Gus Aiz menyatakan Pagar Nusa mendukung PCNU Sumedang dan berharap warga nahdliyin lebih berhati-hati dan mencermati propaganda yang dilakukan HTI dan sejenisnya. “Bagi NU, Pancasila adalah harga mati. Dan Pagar Nusa adalah pagarnya NU dan Bangsa,” pungkasnya.

Penulis: A. Khoirul Anan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Khutbah, Sholawat IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock