Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Brebes, IPNU Tegal. Meski mengalami keterlambatan akibat delay pesawat di Bandara King Abdul Azis Mekah, jamaah haji dari Kabupaten Brebes pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka tiba di Islamic Center Brebes terlambat lima jam dari waktu yang dijadwalkan semula.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyambut kedatangan haji kelompok terbang (Kloter) pertama di Islamic Center Sabtu dinihari (11/10). Idza mengaku sangat gembira karena tidak ada permasalahan yang menimpa jamaah haji Brebes. Sehingga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap, para jamaah haji menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Selain itu, ia meminta mereka agar mampu menjadi contoh tauladan di masyarakat. “Gelar haji menjadi barometer akhlak dan tabiat di masyarakat,” katanya. Dengan tauladan yang telah dicontohkan para jamaah haji Brebes, mudah-mudahan Brebes semakin maju dan sejahtera dibawah naungan dan ridlo dari Allah SWT.

IPNU Tegal

Bupati juga menyambut kedatangan kloter 2 dan 3 di dampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi Garahaju) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes Drs H Syauqi Wijaya. Kloter 1 sejumlah 363 jamaah tiba di Islamic Center Brebes Sabtu (11/10) pukul 00.30 dini hari dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan.

IPNU Tegal

Sementara kloter kedua yang berjumlah 366 calon haji tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 08.00 dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan. Sedangkan kloter ketiga yang berjumlah 167 tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 12.30 mengendarai 4 bus.

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Donohudan Solo melaporkan jamaah yang berangkat sejak 30-31 Agustus lalu sudah menunaikan ritual haji dan kembali tiba di Donohudan dengan selamat. Mereka pulang ke Brebes dengan mengendarai 22 bus dan 2 bus cadangan.

Menurut Imam, secara umum kondisi jamaah haji Indonesia asal Brebes dalam keadaan baik, sehat walafiat. Namun demikian ada 2 orang suami istri dari Salem yang tertinggal tidak mengikuti jamaah asal Brebes, tetapi mengikuti kloter 16.

Sehingga, kata dia, yang sudah pulang saat ini baru 896 jamaah. Pada saat pemberangkatan, istrinya mengalami sakit maka suaminya turut mendampingi dan diberangkatkan mengikuti kloter 16, maka kepulangannya pun ikut juga kloter 16. “Yang bersangkutan memilih pulang tunda untuk menyempurnakan ibadahnya,” tandas Imam.

Salah seorang jamaah haji dari Kloter 1 H Moh Aqso MAg menjelaskan, jumlah jamaah haji dunia saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan tahun lalu. Namun demikian jamaah haji Brebes yang berangkat lebih awal terasa diuntungkan karena telah melakukan ibadah masih dalam kondisi lengang.

“Meski padat, tapi pemberangkatan awal bagi jamaah Brebes sangat diuntungkan,” kata Aqso ketika di tanya Bupati sesampainya di Brebes. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Cerita, Halaqoh IPNU Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi

Brebes, IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Fatayat NU Brebes mendirikan Baitul Mal wat Tamwil Syirkah Muawanah Fatayat Nahdlatul Ulama (BMT SM FNU). Kehadiran lembaga ini diharapkan menjawab tantangan ekonomi yang mendera sebagian warga NU di kabupaten Brebes.

“Fatayat NU senantiasa melakukan gerakan-gerakan ekonomi dengan mengembangkan sayap ekonomi, seperti BMT,” ujar Ketua Fatayat NU Brebes Mukminah usai peluncuran Koperasi Serba Usaha (KSU) BMT SM FNU di jalan raya Kluwut KM 03 Bulakamba, Brebes, Ahad (17/5).

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi

Pemberdayaan perempuan sebagai kader NU, menurutnya, berpotensi besar dalam pengaturan roda ekonomi keluarga. Kehadiran BMT menjadi jawaban kegelisahan perempuan Nahdliyin. Apalagi di daerah Kluwuat, mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani yang sangat memerlukan langkah penyejahteraan keluarganya.

IPNU Tegal

“BMT SM berupaya meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan dan petani Brebes pada umumnya,” terang Mukminah.

IPNU Tegal

Direktur BMT SM FNU Hj Eva Trisnawati menjelaskan, BMT didirikan dengan modal awal sebesar Rp 100 juta dari investasi sejumlah orang. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang juga Wakil Ketua Fatayat NU berinvestasi sebesar Rp 10 juta. Bahrudin Nasori Rp 25 juta. H A Rafiq Abdillah Rp 10 Juta. H Toridin (Pengusaha Tambak) Rp 25 juta. Selain mereka, ada 20 orang pengurus masing-masing berinvestasi Rp 1 juta serta nasabah lainnya sehingga genap Rp 100 juta.

“Modal awal Rp 100 juta ini mudah-mudahan menjadi titik awal keberkahan usaha kami,” kata Eva.

Untuk sementara, bidang usaha yang dijalani masih berkutat di simpan pinjam. Mudah-mudahan sepanjang perjalanan waktu akan dikembangkan berbagai usaha untuk membantu kesejahteraan bersama.

Hadir dalam peluncuran ini Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Brebes Sutejo, Ketua KSU Windu Kencana Brebes Komar, Kasi Simpan Pinjam Dinas Koperasi dan UMKM Sunoto, beserta pimpinan cabang NU, Fatayat, Muslimat, IPNU-IPPNU, Ketua anak cabang Fatayat NU sekabupaten Brebes, dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Cerita IPNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Jakarta, IPNU Tegal. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meminta agar penulisan sejarah keislaman, terutama yang menyangkut sejarah perjuangan komunitas NU terus dilanjutkan.  Peran para ulama  dalam perjuangan kemerdekaan seolah-olah diabaikan, padahal banyak diantara kaum santri yang meninggal.

Pernyataan tersebut diungkapkan dalam peluncuran buku Laskar Ulama-Santri  dan Resolusi Jihad yang digelar di Gedung Juang 45 Jakarta, Ahad (2/2).

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Ia menuturkan, suatu saat pernah diberi dokumentasi perjuangan kemerdekaan oleh Des Alwi, sejarawan dan penulis asal Jakarta, tetapi peran kaum santri sama sekali tidak disebutkan didalamnya.

IPNU Tegal

“Padahal banyak sekali santri yang meninggal waktu perjuangan kemerdekaan,” tandasnya.

Untuk itu, ia mengapresiasi langkah Zainul Millal dalam menelusuri dan menuliskan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan ini.

IPNU Tegal

“Ini merupakan langkah awal untuk menuliskan sejarah selanjutnya,” tegasnya.

Ditegaskannya, para ulama memiliki peran sangat besar sejak zaman zaman Kesultanan Demak yang menyerang Malaka, kemudian Sultan Agung yang menyerang Jayakarta sampai zaman Diponegoro yang selanjutnya, para keturunannya melahirkan para kiai dan pejuang kemerdekaan.

Dengan latar belakang sejarah inilah, Indonesia menjadi sebuah negara nasionalis yang religius, bukan sebuah negara agama atau negara sekuler dan bisa hidup damai sampai sekarang.

Dalam pertemuan dengan para ulama Afganistan, mereka menanyakan, bagaimana Indonesia bisa menyatukan nasionalisme sekaligus agama sehingga bisa hidup damai. Mereka sendiri merasa kelelahan menghadapi perang selama 32 tahun terus menerus yang sampai sekarang belum selesai.

“Karena itu, mereka saya ajak ke sini untuk belajar tentang kebangsaan ini,” paparnya.

Buku Sejarah Ulama-Santri yang dalam satu bulan ini sudah cetak ulang yang kedua ini menelusuri jejak perjuangan para ulama, termasuk peran penting dalam pertempuran 10 November di Surabaya, yang dalam sejarah umum sampai saat ini belum banyak diungkap. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Sunnah, Berita IPNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Jepara, IPNU Tegal. Satu grup di Facebook yang berjuluk Ngomong Politik (Ngompol) Jepara tidak ketinggalan memperingati 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.



Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Melalui jejaring Facebook, mereka mengkoordinir anggota untuk menziarahi makam Gus Dur di komplek pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu-Ahad (6-7/10).?

Selain makam Gus Dur rombongan yang berjumlah puluhan orang juga menziarahi Sultan Hadirin, Raden Abdul Jalil (Jepara), Sayyid Jafar Shadiq (Sunan Kudus), Maulana Ibrahim Asmara Qandi (Ayah Sunan Ampel) dan Raden Rahmat (Sunan Ampel).?

IPNU Tegal

Badiul Hadi, ketua panitia sekaligus deputi direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jepara didampingi Ahmad N Huda mengatakan kegiatan dilaksanakan dalam rangka memperingati 1000 hari Gus Dur. ? ?

“Atas nama panitia kami mohon maaf karena pada saat hari H banyak yang membatalkan diri sehingga beberapa kursi tidak terisi,” paparnya.?

IPNU Tegal

H Abdul Kohar penggagas kegiatan mengungkapkan perjalanan ziarah sepenuhnya ditanggung H Abdul Wachid, mantan wakil ketua PP LPPNU. “Waktu itu beliau tanya agenda peringatan 1000 hari Gus Dur di Jepara kemudian saya share di grup Ngompol alhasil ziarah disepakati,” ungkapnya.?

Setelah disepakati, tambah ketua Kadin Jepara, H Wachid mem-back-up ongkos perjalanan menuju Jawa Timur. Biaya yang lain lanjutnya ditanggung penumpang sendiri.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam?

Kontributor: Syaiful Mustaqim ?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Khutbah IPNU Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi

Jakarta, IPNU Tegal. Meskipun kongres I Pagar Nusa tinggal 8 hari lagi, sampai saat ini bursa kandidat yang akan memimpin Pagar Nusa sebagai badan otonom NU belum muncul.

“Sejauh ini belum ada wilayah atau cabang yang menyuarakan aspirasinya mendukung calon tertentu,” tutur Ketua Panitia Kongres. H. Fuad Anwar, Selasa.

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bursa Kandidat Ketua Umum Pagar Nusa masih Sepi

Mekanisme pencalonan sampai saat ini juga belum ditentukan, berapa suara minimal yang harus dipenuhi untuk bisa mencalonkan diri.

“Masih terdapat perdebatan bagaimana mekanisme pemilihan ketua umum, melalui one man one vote, sistem ahlul halli wal aqdi atau sistem presidium, ini masih akan dibahas dalam tatib,” tutur Sekretaris Panitia Mujtahidur Ridho.

Edo, panggilan akrab Mujtahirur Ridho menjelaskan ada usulan dari pengurus PBNU yang menginginkan sistem ahlul halli wal aqdi untuk kongres pertama ini.

IPNU Tegal

Dalam acara pra kongres yang akhirnya forumnya dirubah menjadi kongres, namun tidak diakui oleh PBNU yang diselenggarakan pada 25 September 2005 di Ponpes Ciganjur, terpilih H. Suharbillah.

Kala itu, terdapat 5 kandidat yang bersaing dalam kongres. Dari 72 suara wilayah dan cabang, sebanyak 53 memilih Suharbillah diikuti KH Sayuthi Ghozali 13 suara, Kuncoro 3 suara, Abdul Latif 2 suara dan Abdul Halim 1 suara. Abstain 1 suara dan 1 suara lagi memilih Gus Maksum, pendiri Pagar Nusa yang saat ini sudah meninggal dunia. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Pendidikan, Pemurnian Aqidah, Pahlawan IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga

Brebes, IPNU Tegal. Pengurus Anak Cabang ( PAC) Fatayat Larangan mengadakan pelatihan untuk para pelatih di bidang tata boga di kediaman Tunjiyah dusun Temukerep desa Larangan kecamatan Larangan, Brebes, Ahad (7/6). Sebanyak 102 aktivis Fatayat NU dari 17 ranting di Larangan, hadir sebagai peserta pelatihan.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Fatayat NU Larangan dan Celoteh Brebes Membangun (CBM). Kegiatan ini murni swadaya anggota Fatayat. Setiap ranting dikenakan biaya sebesar Rp 200.000 untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan tata boga. Semua peserta yang ikut harus membawa alat masak seperti oven, kompor, gas lpj, dan mixer serta alat cetak kue.

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga

Ketua Fatayat NU Larangan Khurmah Al-Munawar bercerita bahwa pelatihan ini digagas bersama teman-teman CBM dengan maksud ? ke depan semua pengurus ranting Fatayat bisa melatih kembali warga NU di desanya. Dengan bekal itu, warga nantinya memiliki keterampilan yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga.

IPNU Tegal

Praktisi Tata Boga CBM Amellya Shofiya Rizqiyaty mengajarkan empat menu yang meliputi kue nastar nanas, kue putri salju keju, kue kering choco chips, bolu karamel panggang sarang semut. Semua bahan yang disajikan, langsung disediakan dan dibelikan oleh praktisi biar memudahkan saat praktik nantinya.

"Keahlian memasak dan membuat menu ini nantinya bisa menjadi nilai tambah bagi aktivis Fatayat. Apalagi menjelang puasa dan lebaran, para peserta bisa memproduksi aneka kue yang bisa dikonsumsi sendiri atau dijual di pasar," ujarnya.

IPNU Tegal

Salah seorang peserta pelatihan tata boga Tunjiyah mengaku senang dengan pelatihan ini karena selama ini dirinya belum pernah mendapat pelatihan seperti ini.

Ke depan diharapkan ada produk yang dihasilkan dari para peserta dan memiliki nilai jual produk yang tinggi hingga sukses di pasaran. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaSantri, Sejarah, Pahlawan IPNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Oleh Anggi Afriansyah

Indonesia beruntung memiliki lembaga pendidikan yang menyejarah seperti pesantren. Apalagi rekam jejak pesantren mendidik masyarakat sudah teruji zaman. Dari rahim pesantren telah lahir beragam tokoh cerdik cendikia.

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Keterlibatannya di Masyarakat

Pesantren tak hanya berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (religion-based curriculum) tetapi juga kurikulum yang berbasis pada persoalan masyarakat (community-based curriculum) (Suyata dalam Zuhri, 2016). Hal tersebut memang menjadi salah satu kekhasan pesantren. Pendidikan yang diberikan di pesantren tak menjauhkan santri dari realitas keseharian. Jika merujuk pada konteks pembelajaran modern, apa yang dilakukan pesantren adalah bagian dari pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning).

IPNU Tegal

Studi yang dilakukan oleh Anin Nurhati (2010) misalnya mengungkap peran pesantren dalam memberikan materi kewirausahaan kepada para santrinya agar mereka memiliki kecakapan hidup seperti kemampuan beternak, budi daya perikanan, pengolahan obat-obatan, perdagangan, perbengkelan, otomotif dan permebelan (Zuhri, 2010). Beragam kurikulum tersebut tentu menjadi kekuatan bagi pesantren untuk menjawab tantangan zaman. Ada kesadaran bahwa pemahaman teks-teks keagamaan semata tanpa penguasaan keilmuan yang lain akan menyebabkan santri semakin tertinggal.

IPNU Tegal

Pesantren tak pernah terjebak pada perubahan kurikulum yang terjadi karena berubahnya menteri. Pesantren senantiasa konsisten, karena tujuan awalnya adalah mendidik santri menjadi individu-individu yang bermanfaat bagi sesama. Maka pesantren tak terjebak pada pola-pola pendidikan formal yang berbasis nilai-nilai kuantitatif. Tak ada sertifikasi untuk para kiai, karena gelar kiai, ulama, ajengan, ataupun ustadz/ustadzah merupakan rekognisi yang diberikan oleh masyarakat. Penyematan karena kebermanfaatan mereka untuk umat. Bukan karena kepemilikan ijazah tertentu.

Keragaman tipikal lulusan pesantren membuktikan bahwa pesantren sesungguhnya sudah memberikan kontribusi pada penciptaan sumber daya manusia yang berkualitas. Pilihan profesi, pilihan politik, pilihan sudut pandang tafsir keagamaan dari lulusan pesantren menjadi warna tersendiri bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meskipun demikian, kemampuan pesantren mengkreasi intelektual-intelektual Muslim yang memiliki kapasitas mumpuni sehingga menjadi cahaya bagi umat harus tetap dijaga. Para intelektual itulah yang akan senantiasa memberikan pencerahan dan pencerdaskan bagi umat. Intelektual yang memberikan kedamaian dan menebarkan ajaran serta ujaran penuh kasih. Kita tentu merindukan almarhum Gus Dur dan Cak Nur, dua tokoh bangsa yang senantiasa berjuang untuk perdamaian, kesetaraan, dan demokrasi. Kita juga melihat kebesaran hati Gus Mus, yang meskipun dicaci oleh mereka yang membencinya, tetap memperlihatkan sifat welas asih dan pemaaf. Gus Mus telah memberikan teladan bagaimana implementasi akhlaqul karimah yang dicontontohkan Rasullah SAW.

Jika saat ini isu mengenai pentingnya pendidikan karakter kembali didengungkan. Sesungguhnya, proses pendidikan pesantren justru sejak awal telah memberikan ruang besar bagi penguatan karakter para santrinya. Pesantren memang memiliki fokus agar santri-santrinya menjadi uswatun hasanah, teladan kebaikan, yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi umat.

Para santri mendapatkan tempaan setiap waktu ketika mengenyam pendidikan pesantren. Satu hari penuh para santri berada dalam situasi belajar. Maka sesungguhnya, tak perlu lagi ada kebijakan full day school. Pemerintah hanya perlu mengoptimalkan pesantren-pesantren yang ada di berbagai penjuru tanah air.

Proses pendidikan di pesantren memang menyiapkan para santri agar mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitarnya. Dalam konteks ini, kiai dan para ustadz/ustadzah di pesantren memegang peran penting dalam konstruksi karakter para santri. Mereka menjadi role model bagi para santri yang diasuhnya.

Keberhasilan pesantren membentuk karakter santri sangat bergantung pada keteladanan para alim di pesantren.? Keteladanan tersebut tak hanya diberikan melalui ceramah-ceramah semata, namun juga melalu tindakan nyata. Kelebihan pesantren mendidik santri terletak pada pembiasaan dan praktik keseharian. Sehingga, kepatuhan santri terhadap aturan tak sekedar karena takut dihukum. Rasa malu jika tak patuh dan disiplin terbentuk karena adanya keteladanan dari para kiai ataupun ustadz/ustadzah.

Di sisi lain pesantren juga memberikan pembelajaran kontekstual kepada para santrinya. materi-materi yang diberikan adalah hal-hal yang relevan yang akan para santri gunakan di masa depan. missal saja, banyak pesantren memberikan penguatan pelajaran bahasa asing kepada santri karena menyadari bahwa penguasaan bahasa yang mumpuni merupakan keniscayaan di era global.

Selain itu, pelatihan mubaligh yang diselenggarakan di pesantren ditujukan agar para santri memiliki public speaking yang baik. Karena para santri harus mampu menyampaikan gagasan-gagasannya kepada masyarakat secara runut dan terstruktur. Menyampaikan pengetahuan keagamaannya kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.

Beberapa pesantren juga rutin menyelenggarakan program Bahtsul Masail. Kegiatan tersebut menjadi penting karena membiasakan para santri mendialogkan beragam permasalahan dengan merujuk beragam referensi. Kebiasaan berdiskusi sangatlah penting agar para santri tidak alergi terhadap perbedaan pandangan yang ada di masyarakat kelak. Memperkaya perspektif mereka memandang suatu persoalan. Dan pada akhirnya membuat mereka menyadari sepenuh hati bahwa perbedaan tafsir atas teks keagamaan merupakan hal biasa dan akan mereka hadapi di masyarakat.

Dan yang paling penting, pesantren memberikan para santri untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola dirinya, manajemen diri. Proses tersebut merupakan bagian dari pendewasaan diri. Pola pendidikan di pesantren menyediakan mekanisme panjang agar santri memiliki kemampuan manajemen diri tersebut.

Keberhasilan mengelola diri sendiri merupakan salah satu kunci penting keberhasilan mereka di masa mendatang. Akan tetapi, meskipun pesantren memberikan segala ruang dan mekanisme pengaderan yang luar biasa, jika santri tak mampu mengoptimalkan hal-hal tersebut, tidak akan memiliki pengaruh kepada diri mereka. Keinginan kuat dari diri sendiri tetap menjadi aspek yang paling penting.

Oleh sebab itu, menjadi harapan bersama agar santri lulusan pesantren memiliki kesadaran penuh untuk memberikan kinerja nyata bagi kemaslahatan Indonesia dan berkontribusi untuk penciptaan Islam yang rahmatan lil alamin. Memberikan kedamaian bagi bangsa dan negara.



Penulis adalah lulusan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, saat ini menjadi Peneliti di Puslit Kependudukan LIPI


Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Pahlawan IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock