Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei

Jakarta, IPNU Tegal - Pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang itsbat bersama lintas ormas Islam dan para ahli perbintangan, Jumat (26/5) petang. Melalui forum tersebut, pemerintah secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 1438 H jatuh pada Sabtu, 27 Mei 2018.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, ketetapan ini didasarkan pada dua metode, yakni hisab dan rukyat. Menurutnya, hisab penting untuk memberikan informasi posisi hilal, namun hisab juga harus dikonfirmasi melalui praktik rukyat. Hilal berhasil terlihat di sejumlah titik, antara lain Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Kepulauan Seribu.

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei

“Maka dengan dua hal tadi, penghitungan (hisab) dan rukyat, seluruh peserta sidang besepakat malam ini sudah masuk 1 Ramadhan, dan Sabtu 27 Mei 2018 kita bisa mengawali puasa Ramadhan,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (26/5) malam.

IPNU Tegal

Ketetapan pemerintah ini selaras dengan prediksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah yang menyatakan, umat Islam sudah bisa memulai puasa Ramadhan pada Sabtu (275) besok.

IPNU Tegal

Hal tersebut berdasarkan hasil penghitungan astronomis Lembaga Falakiyah PBNU yang memungkinkan hilal terlihat pada Jumat tadi.

Data hisab Lembaga Falakiyah PBNU menyebutkan, posisi hilal markaz Jakarta pada 29 Sya’ban 1438 H berada pada ketinggian 8 derajat 26 menit 15 detik di atas ufuk. Peristiwa ijtima’ atau konjungsi berlangsung pada Jumat (26/5), pukul 02.45.47 WIB. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Ahlussunnah, Halaqoh IPNU Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif

Yogyakarta, IPNU Tegal. “Buku ini baca, ini amanat dari saya. Selain menikmati bahasa, muatannya sangat bagus, ini dapat menjawab pertanyaan Kiai Abdul Fatah, NU ini bagaimana? NU-nya rusak atau kadernya, atau NU tidak bisa masuk Ipad?”

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari: Novel Mbah Hasyim ini Inspiratif

Itulah yang disampaikan oleh Ahmad Tohari dalam acara Bedah buku bedah yang berjudul “Sang Penakluk Badai” yang diselenggarakan oleh PWNU DIY, di kantor PWNU DIY jalan MT Haryono Selasa (14/05).

“Sebagai sastrawan buku ini sudah bagus, ini dapat menjawab realitas sosial NU saat ini,” ujar Ahmad Tohari, sastrawan NU berasal dari Banyumas.?

IPNU Tegal

“Dari riwayat yang ditulis, jelas Hadratus Syekh Hasyim Asy ‘ari sangat mempedulikan umat sekarang. Bukan seperti NU saat ini, yang banyak berorientasi empiris. Buku ini, menjawab permasalahan NU,” tambahnya.

Dalam diskusi yang dilaksanakan pada jam 19:30, ini banyak dihadiri oleh kader-kader NU, terutama para pelajar. Turut hadir juga sebagai pembicara, di antaranya adalah Aguk Irawan Mn dan Ahmad Tohari. Sebelum acara bedah buku tersebut dimulai, ada beberapa tampilan puisi dari para kyai dan sastrawan Yogyakarta.

IPNU Tegal

“Sepulang dari sini, saya berharap baca buku ini” tandas Ahmad Tohari memberi amanah para pengunjung.?

“Menulis buku setebal ini tidak mudah, tapi mas Aguk selaku penulisnya selesai menyelesaikan buku ini, ini merupakan luar biasa,” tambahnya.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Solikhin, Rokhim

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul IPNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi

Oleh: KH  Imam Jazuli MA*

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya! Begitu kata Bung Karno, pada pidatonya di hari pahlawan 10 November 1961.

Dan, mengenang riwayat perjuangan anak bangsa, terutama saat-saat peran pemuda begitu dominan dan sentral untuk sebuah nasionalisme; merebut atau mempertahankan kemerdekaan dengan caranya sendiri dan demi nilai agama sekaligus. 

Maka, kita tentu tak boleh lupa atau alpa pada riwayat apa dan bagaimana Ansor, sebagai barisan pemuda pesantren-islam tradisional itu berdiri dan lahir, dan pada masanya sangat dibutuhkan ketika republik yang kita cintai ini  baru merangkak dan belajar berdiri. 

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi

Ansor yang sering disebut sebagai anak rahim dari NU (Nahdlatul Ulama) bahkan secara de jure sudah terlahir lebih dulu sebelum NU berdiri. Tahun 1924, ketika organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes mencuat, anak-anak muda yang terdiri dari santri pesantren dan langgar atau masjid mendirikan organisasi kepemudaan bernama: Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaid.

IPNU Tegal

Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan semakin banyak diminati dan mendapatkan tempat di hati pemuda, saat itulah situasi konflik internal terjadi; antara tokoh-muda tradisional (KH. Abdul Wahab Hasbullah) dan tokoh muda-modernis (KH. Mas Mansyur) yang sama sama berada di tubuh Nahdlatul Wathan. Perbedaan itu muncul dalam cita-cita yang sama-sama mulia, yaitu bagaimana sebaiknya membina kader mubalig dan kemana idiologi mereka arahkan?. Perbedaan ini akhirnya melahirkan arus gerakan yang berbeda dalam mendirikan organisasi kepemudaan. KH. Wahab membawa gerbong cikal bakal Ansor, sementara Mas Mansyur kemudian kelak dikenal sebagai pioner dari Pandu Hisbul Wathan (Muhammadiyah). 

IPNU Tegal

Dari gagasan KH. Wahab tersebut, secara kongkrit dilanjutkan oleh kader Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri pada tahun 1930 dengan nama Nahdlatus Subban (Kebangkitan Pemuda), yang dipimpin oleh Umar Burhan. Abdullah Ubaid kemudian mendirikan organisasi pemuda yang lebih luas yaitu persatuan pemuda Nahdlatul Oelama (PPNO) dan tahun 1934 namanya disempurnakan menjadi Ansor Nahdlotul Oelama (ANO), sebagai bagian dari NU pada Muktamar ke 9 di bayuwangi 21-26 April 1934. Selanjutnya, melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan barisan berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama). Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser.

Peran Kongkrit Membela Negara

Meski kedua prototipe gerakan tersebut (Subbanul Wathan dan Pandu Hizbul Wathan) sering berbeda haluan, namun menurut catatan Prof. Anthony Ried, ada saat-saat yang mengharukan, dimana kedua gerakan pemuda itu dalam satu barisan, yaitu ketika  KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1944 berfatwa, untuk antara lain mengharamkan pribumi yang muslim menyanyikan lagu kebangsaan “Kimigayo”, dan mengibarkan bendera Hinomaru serta segala bentuk Niponisasi (serba Jepang). Hari berikutnya, dua gerakan pemuda itu, tidak sekedar mengikuti fatwa Kiyai Hasyim, tetapi saling bahu-membahu memerangi kolonialisme Jepang yang sangat kejam. KH. Hasyim bersama KH. Wahab Hasbullah kemudian secara sembunyi-sembunyi mencoba menyatukan dua gerakan anak muda itu dalam kelompok Laskar Hizbullah yang dikomandani Mahfudz Shidiq dan untuk yang tua-tua dalam barisan Laskar Sabilillah yang diketuai oleh KH. Abdul Kholik (Putra KH. Hasyim Asyari). (Anthony Ried. 1974. The Indonesian National Revolution, 1945-1950, Connectitud: GrPenwood Press)

Menariknya, meskipun pada akhirnya jumlah Pandu Hizbul Wathan (Muhammadiyah) tak begitu signifikan yang masuk dalam barisan pasukan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah ini, tetapi usaha menyatukan sudah dicoba dilakukan dengan arif oleh KH. Hasyim Asyari, dan secara mengagetkan, segera saja, pasukan dari kalangan Islam tradisionalis ini jauh lebih banyak daripada pasukan resmi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Bahkan untuk menghadapi Perang Pasifik, kalangan Nasionalis dalam Hokokai pada bulan Agustus 1944, di seluruh Nusantara baru mempunyai anggota sekitar 80.000 pemuda di dalam unit para militernya dengan nama barisan Pelopor dengan komando Soekarno dan Hatta, dan organisasi PETA punya barisan perang dengan jumlah yang sama dengan Pelopor, yaitu sekitar 80.000 pemuda yang terdiri dari tentara dan kaum buruh tani, dengan komando Jenderal Sudirman dan Jenderal A. H. Nasution.

Sedangkan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah yang anggotanya terdiri dari para santri, kaum muslim tradisionalis pedesaan di berbagai wilayah dan daerah dengan anggota di setiap wilayah sekitar 50.000 yang terpencar di kepulauan Nusantara, semuanya mencapai sekitar 500.0000. Jumlah tersebut tiap hari kian meledak, pemuda-pemuda desa  yang berumur sekitar delapan belas tahun sampai duapuluh tahun dengan antusias tergabung, dan  mengikuti pelatihan pusat di Malang. Dari semangat anak muda inilah, kelak kemerdekaan benar-benar terwujud. 

Setelah revolusi fisik (1945-1949) mereda. Tokoh Laskar Hizbullah dari barisan ANO Surabaya Moh. Chusaini Tiway, melegalkan ANO dengan Bansernya secara formal setelah sempat dibekukan oleh pihak Jepang. Ide tersebut mendapat sambutan positif dari KH. wahid Hasyim Menteri agama RIS kala itu, maka pada tanggal 19 desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO, dan secara de facto diakui dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor (GP. Ansor). 

Tentang Sepenggal Nama

Ansor Nahdlatul Oelama (ANO), adalah nama atas saran KH. Abdul Wahab. Nama ini menurutnya diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad Saw. kepada penduduk Madinah (kaum Ansorin) yang telah berjasa dalam membela dan ikut serta dalam perjuangan dan menegakan agama kaum muhajirin (Islam). Pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam. Kaum Ansor, berarti kaum asli pribumi, yang tak boleh meninggalkan karakter dan tradisi-tradisi arifnya, tetapi juga harus mau merima yang baik dari luar, yaitu dari kaum muhajirin (Makkah). Diktum ini kemudian dikenal luas oleh Nahdliyin dengan al-muhafadzah ala qadim as-shalih wal-akhdzu bil jadid al-ashlah (menjaga tradisi yang baik, dan mengambil baru yang baik). 

Dengan demikian ANO diharapkan dapat mengambil hikmahnya serta tauladan terhadap sikap, prilaku dan semangat perjuangan serta kiprah sahabat nabi dan yang dapat predikat Ansor tersebut. Yakni sebagai penolong perjuangan dan bahkan pelopor dalam menyiapkan gebrakan dan pembentengan kekuatan islam. Inilah komitmen yang sejak awal diperlihatkan anggota ANO (GP. Ansor), misalnya dalam kasus G. 30 SPKI, dan lain sebagainya.

GP. Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikian rupa, bahkan mungkin menjadi organisasi kemasyarakatan yang berbasis pemuda terbesar di Indonesia, dan memiliki watak mecintai tradisi dan bervisi keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 cabang (tingkat kabupaten/kota) di bawah koordinasi 32 pengurus wilayah (tingkat provinsi ). Ditambah dengan kemampuan pengelola keanggotaan khusus BANSER (barisan Ansor serbaguna) yang memiliki kemampuan dan kualitas kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Barangkali tantangan GP. Ansor yang paling kongkrit saat ini dan ke depan adalah ’berperang’ menyelamatkan negeri dengan cara ”meneguhkan kebinekaan dan mengentaskan kemiskinan” dari jarahan para koruptor yang semakin membudaya di kalangan  birokrat! Selamat ultah Ansor yang ke 78, yang saat ini dirayakan di Solo (dengan rencana dibuka oleh Presiden RI), mulai tanggal 13-18 Juli 2012. Semoga terus eksis dalam setiap episode sejarah perjuangan bangsa dan tetap menepati posisi dan peran yang strategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional. Amin

Jakarta, 10  Juli 2012

* Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabitah Maahid Islamiyah -Asosiasi Pesantren se-Indonesia- (PP RMI)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Nahdlatul, News IPNU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU

Surabaya, IPNU Tegal. Legalitas kepengurusan hasil Muktamar ke-33 NU semakin kuat. Hal ini seiring dengan adanya keputusan Menteri Hukum dan HAM RI yang dikeluarkan 8 September 2015 lalu. "Setidaknya ada tiga alasan yang semakin menguatkan kepengurusan PBNU hasil Muktamar ke-33 di Jombang awal Agustus 2015," kata KH Sholeh Hayat, SH, Selasa (10/11).

Wakil Ketua PWNU Jatim ini kemudian memberikan rincian bahwa legalitas kepengurusan PBNU tidak lagi terbantahkan. "Pertama adalah kepengurusan hasil Muktamar ke-33 NU telah diterima oleh Presiden RI di istana kepresidenan pada tanggal 27 Agustus lalu," katanya. Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yakni KH Maruf Amin dan KH Said Aqil Siroj bersama sebagian pengurus harian telah diterima presiden dengan baik, lanjutnya.

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU

Penguatan kedua adalah kehadiran Presiden RI pada pelantikan PBNU periode 2015 hingga 2020 di Masjid Istiqlal Jakarta, 5 September 2015. "Ini semakin meyakinkan bahwa secara hukum, keberadaan kepengurusan telah diakui negara," ungkapnya.

IPNU Tegal

Dan yang terbaru adalah dikeluarkannya keputusan dari Kementerian Hukum dan HAM RI bernomor AHU – 70 AH.01.08 tahun 2015 tentang kepengurusan PBNU.

"Sehingga dengan demikian kepengurusan PBNU hasil Muktamar ke-33 yang berlangsung di Jombang telah diakui negara," kata KH Sholeh Hayat sembari menunjukkan salinan surat dimaksud.

IPNU Tegal

Mantan anggota DPRD Jatim ini tidak menampik adanya sejumlah kalangan yang masih mempersoalkan keabsahan kepengurusan PBNU. "Tapi kami rasa, itu adalah sebagai bagian dari dinamika yang ada di NU," katanya. Selanjutnya, setelah tiga fakta tersebut, semua pihak hendaknya dalam kembali bergabung dalam satu barisan dalam berkhidmat kepada NU, lanjutnya.

Kiai Sholeh, sapan akrabnya menandaskan ada banyak persoalan umat dan bangsa yang mendesak untuk segera disikapi dan dicarikan formula pemecahan terbaiknya. "Mari satukan kekuatan untuk mencarikan solusi terbaik agar bangsa ini segera dapat keluar dari berbagai masalah," katanya. Dan hal itu dapat dilakukan antara lain dengan terus memberikan dukungan kepada kepengurusan PBNU hingga daerah sehingga bisa berkiprah dengan lebih baik, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

?

Senin, 22 Januari 2018

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN

Kuburaya, IPNU Tegal

PMII Komisariat Untan Pontianak memberikan sosialisasi kepada puluhan peserta Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kabupaten Kuburaya Kalimantan Barat terkait merebaknya paham radikalisme di lingkungan kampus. Kegiatan yang didukung Mata Air Foundation dan GP Ansor ini berlangsung di Kecamatan Ambawang, Rabu (4/5) malam.

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN

“Ketika kalian masuk ke dunia kampus, akan ada banyak macam perbedaan pemikiran, terlebih disaat baru masuk ke dunia kampus, mahasiswa sangat mudah dipengaruhi dan didoktrin. Maka kalian harus berhati-hati dan mempersiapkan diri dari sekarang, karena kalianlah yang menjadi harapan generasi ahlussunnah waljamaah, di dalam dunia kampus,” kata Abdul Wesi Ibrahim, Sekretaris Umum PMII Untan.

Abdul Wesi menjelaskan mahasiswa sebagai insan yang masih mencari jati diri, wajar jika mudah dipengaruhi. “Sebelum kalian terjun di dunia kampus, persiapkan itu semua” pungkasnya. (Ai, Sf/Zunus)

IPNU Tegal



IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Nasional IPNU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Menggadang Undaan Jadi Percontohan IPNU-IPPNU Kudus

Kudus, IPNU Tegal. Kudus yang dikenal sebagai Kota Kretek rupanya masih memiliki area pertanian cukup luas. Menempuh setengah jam dari pusat kota ke arah selatan, kita akan menemui luas hektaran sawah yang tampak membentang.

Menggadang Undaan Jadi Percontohan IPNU-IPPNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggadang Undaan Jadi Percontohan IPNU-IPPNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggadang Undaan Jadi Percontohan IPNU-IPPNU Kudus

Penampang sawah inilah yang selalu mengiringi perjalanan pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kudus tiap menghadiri agenda Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Undaan, seperti saat mendatangi kegiatan Buka Bersama, Kamis kemarin (10/7).

Luas wilayah Kabupaten Kudus memang kecil dalam peta Provinsi Jawa Tengah. Dengan demikian, jarak antarkecamatan pun mestinya cukup berdekatan. Namun jika dibanding dengan wilayah kecamatan lain di Kudus, letak Kecamatan Undaan tergolong cukup jauh.

IPNU Tegal

Jalanan pun akan berubah total setelah masuk gang menuju pemukiman. Beda dengan jalan utama, kali ini jalanan yang membelah persawahan warga ini sungguh bergelombang tak rata, berdebu, panas, dan karenanya perjalanan menjadi lamban.

Kecamatan Undaan merupakan daerah paling selatan di Kudus, berbatasan dengan Purwodadi, Pati dan Demak. Namun kondisi geografis Kecamatan Undaan yang seperti ini tak lantas membuat kader malas berpartisipasi dalam wadah IPNU-IPPNU.

IPNU Tegal

Semangat para pelajar NU tersebut mendapat dukungan dari senior setempat. Anshori, salah satu alumni yang kini membina Ranting Kutuk sekaligus PAC Undaan, mengaku senang dapat berkontribusi dalam kegiatan. Ia pun meminta agar para kader mengabari alumni setiap mengadakan agenda. Lebih dari itu, kesiapan bantuan logistik juga ia ungkapkan.

“Baik pengurus Ranting hingga Cabang, kalau ada kegiatan, senior tetap dikabari. Semuanya harus tetap berumpun, jadi sering-seringlah sharing. Kalau perlu kami didatangi dan minta apa saja yang kalian butuhkan, insyaAllah bisa membantu. Butuh dana, beras, sekwintal juga boleh, datangi saja, tidak perlu sungkan, biar kami juga bisa ikut berjuang bersama. Kegiatan rutin yang diterima masyarakat itu harus tetap dilanjutkan,” ujar Anshori di depan peserta buka bersama.

Joni Prabowo, Ketua PC IPNU Kabupaten Kudus terpilih, menyatakan kebanggaannya terhadap semangat para kader Undaan. “Kudus, dalam wilayah Jawa Tengah termasuk Kabupaten yang sempit. Nah, ini justru menjadi peluang kita agar semakin bersemangat berjuang di IPNU-IPPNU,” katanya saat sambutan.

“Dibandingkan Jepara, misalnya, Kudus lebih enak karena jarak masing-masing PAC dekat. Tapi antara Undaan dengan PAC lain di Kudus, lebih enak di PAC lain karena kondisi wilayahnya. Inilah yang membuat saya bangga dengan PAC Undaan, ternyata kadernya tetap bersemangat!” imbuh Joni.

Sambil mengenalkan para pengurus PC. IPNU yang juga hadir, Joni semakin mengungkapkan rasa bangganya kepada kader Undaan.

“Saya dengar, di desa Kutuk ada malam takbiran yang terbesar di Kudus. Jadi saya yakin, insyaallah pergaulan di daerah ini masih terjaga, dan karenanya bisa menjadi trendsetter (percontohan) IPNU-IPPNU di Kudus,” papar Joni melihat semangat yang indah di desa Kutuk.

PAC Undaan sendiri telah memiliki kader-kader unggulan yang juga aktif di kepengurusan baru PC.? Mereka adalah Mira Agustina (Bandahara Umum) dan Fauzul Khusnia (Waka IV bidang perekonomian) dari IPPNU, serta Ahmad Said (Waka IV bidang perekonomian) dan Abu Hasan Asy’ari (Komandan CBP) yang juga memimpin keredaksian majalah Pilar terbitan PC IPNU-IPPNU Kudus.

Acara ini merupakan pertemuan antara alumni Latihan Kader Muda (Lakmud) bersama alumni Diklatama CBP dan KPP DKAC PAC. IPNU-IPPNU Kecamatan Undaan. Sebelum berbuka, Anshori yang juga mengajar di madrasah memberikan ceramah ihwal keistimewaan bulan Ramadlan. Pertemuan ini dilaksanakan di rumah Arif Rahmat, alumni Lakmud delegasi dari Ranting Kutuk. Pada lebaran nanti juga direncanakan silaturrahim ke dewan pembina dan alumni di Kecamatan Undaan. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pemurnian Aqidah, Olahraga, Nahdlatul IPNU Tegal

Derita Rohingya, Derita Kita

Hidup Muslim Rohingya yang tinggal di Provinsi Rakhine Myanmar seolah tak lepas dari derita. Bukan hanya beberapa tahun belakangan ini, catatan sejarah menunjukkan, mereka telah mengalami penganiayaan oleh pemerintah yang berkuasa dari periode ke periode. Kini, etnis Rohingya kembali menjadi perhatian internasional atas kekerasan yang mereka alami yang memaksa mereka harus mengungsi untuk menyelamatkan hidup. Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling menderita atas situasi ini.

Kita memiliki konsep ukhuwah islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim, yaitu Muslim di mana pun adalah saudara. Jika mereka menderita, maka hal tersebut juga penderitaan kita. Dalam konteks inilah, terasa sekali nilai penting bagi kita untuk membantu orang-orang yang sedang ditimpa kesusahan. Ada banyak cara untuk membantu Muslim Rohingnya, bagi umat Islam secara umum, memberikan donasi untuk meringankan penderitaan yang mereka alami adalah cara paling mudah. Sedikit uang yang terkumpul dari jutaan umat Islam Indonesia, akan sangat bernilai. Jika belum mampu memberikan sumbangan, hal minimal yang kita lakukan adalah memanjatkan doa untuk kebaikan mereka.

Derita Rohingya, Derita Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Derita Rohingya, Derita Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Derita Rohingya, Derita Kita

NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil langkah nyata dalam meringankan beban Muslim Rohingya. NU melalui LAZISNU dalam hal ini memfasilitasi orang-orang yang ingin membantu dengan menyediakan rekening khusus yang dilaporkan pengkembangannya setiap hari demi menjaga transparansi dan akuntabilitas. Para aktivis NU yang tergabung dalam berbagai badan otonom NU seperti Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, pesantren, sekolah dan kelompok NU lainnya secara massif mengampanyekan kesadaran untuk turut memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan guna menolong mereka yang sedang mengalami musibah ini. Relawan-relawan NU yang selama ini sudah berpengalaman dalam mengatasi bencana, rencananya juga akan diterjunkan langsung ke lokasi konflik untuk memberi bantuan kepada semua pihak yang menderita.

IPNU Tegal

Bagi pemerintah Indonesia, hal yang penting untuk dilakukan selain memberikan bantuan keuangan adalah melakukan diplomasi kepada pemerintah Mynmar agar lebih bijak dalam menangani masalah tersebut. Langkah Menlu Retno Marsudi untuk berkunjung ke Mynmar dan ke Bangladesh sebagai negara yang paling terdampak oleh pengungsi Rohingnya patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh komunitas Muslim di dunia internasional.

Negara yang cukup aktif dalam membantu masalah Muslim Rohingya adalah Indonesia dan Turki. Karena itu, disayangkan jika komunitas Muslim internasional kurang memberikan perhatian yang cukup atas masalah ini, mengingat etnis Rohingya merupakan etnis minoritas yang paling menderita di dunia. Kekuatan internasional, baik dalam hal pengumpulan dana atau diplomasi akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam upaya penyelesaian ini agar tidak terus berlarut-larut dari waktu ke waktu.

IPNU Tegal

Aksi mendukung Muslim Rohingya dengan melakukan demonstrasi juga sah-sah saja selama menjaga ketertiban dan sesuai dengan koridor hukum yang ada. Aksi seperti itu akan menjadi perhatian publik internasional bahwa apa yang dialami oleh Rohingya menjadi perhatian pihak lain. Tetapi, jika aksi tersebut memiliki motif lain seperti sebagai sarana konsolidasi untuk menggoyang pemerintahan, tentu sangat disesalkan. Sikap pemerintah yang tidak memberi izin pada rencana aksi di dekat kompleks Candi Borobudur juga tepat. Umat Budha di Indonesia hidup dengan damai dan menjaga toleransi dengan sesama. Jangan sampai upaya untuk membantu saudara Muslim di negara lain malah menjadi masalah antarumat beragama di negeri sendiri.

Bagi umat Islam secara umum, bersikap kritis atas segala informasi yang beredar di internet sangat penting. Baru-baru ini beredar viral foto-foto di dunia maya yang ternyata hoaks. Ada pihak-pihak yang berusaha menunggangi penderitaan pihak lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Mawas diri dalam situasi yang tidak pasti menjadi sangat penting untuk menjaga kedamaian.

Upaya-upaya pertolongan dengan menggalang aksi kemanusiaan sangat bermakna sebagai solusi jangka pendek atas masalah Rohingya. Kini saatnya dicarikan solusi permanen agar nasib etnis Rohingya tidak sebagaimana yang terjadi dengan Pelestina yang terus menerus dilanda konflik dan menjadi faktor ketidakstabilan kawasan. Dengan perkembangan teknologi, masalah yang terjadi di satu daerah bisa menjadi problem yang meluas ke daerah-daerah sekitarnya. Keterlibatan ASEAN untuk bersama-sama menyelesaikan masalah ini sangat penting. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Nahdlatul, Amalan IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock