Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim

Kudus, IPNU Tegal. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengajak warga untuk selalu mempererat silaturahim dengan sanak keluarga, saudara maupun sesama umat. Sebab, menurutnya, silaturahim mampu membangun kerukunan dalam kehidupan masyarakat.

“Sebagai umat Islam harus rukun bersatu dengan memperbanyak silaturahim,” katanya saat memberikan taushiyah pada acara open house halal bihalal di kediamannya di Desa Kajeksan, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (31/7).

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim

Ulama kharismatik ini menerangkan, Rasulullah SAW dalam haditsnya menegaskan bahwa siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim.

IPNU Tegal

“Setiap orang yang berhubungan dengan sesama anak adam perlu menggunakan ajang silaturahim supaya ditambahi rizeki dan umur panjang,” tegas Mbah Sya’roni di hadapan ratusan tamu.

Di akhir taushiyahnya, Mbah Sya’roni menjelaskan, umat Islam pada hari kiamat nanti akan saling berangkulan sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an pada Juz 19. Sementara orang kafir tidak demikian karena mereka tidak memperoleh syafaat.

IPNU Tegal

“Oleh karenanya jagalah umat Islam supaya tetap rukun dan bersatu,” tegasnya lagi.

Dalam acara open House idul fitri ini, KH Sya’roni selalu memberikan taushiyah beberapa saat sebelum bersalaman dengana ratusan tamu. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Bahtsul Masail, AlaSantri IPNU Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus

Semarang, IPNU Tegal. Istri Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Hj Sinta Nuriyah berharap Rais Am PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) selalu istiqomah menjaga, merawat dan mendampingi umat.

Hal itu disampaikannya pada saat memberikan testimoni pada acara Selametan 70 tahun Gus Mus di Balairung Universitas PGRI Semarang, Sabtu malam (6/9).

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus

"Saya berharap Gus Mus selalu Istiqomah menjaga ummat sebagaimana yang diharapkan Gus Dur. Jangan sia-siakan. Apalagi sebelum wafat,  Gus Dur menitipkan NU kepada Gus Mus," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Sinta Nuriyah menceritakan persahabatan Gus Mus dengan suaminya. Dituturkan, persahabatan kedua sahabat ini sangat akrab sejak sama-sama kuliah di universitas Al  Azhar Kairo.

IPNU Tegal

"Persahabatannya sangat erat sekali,hingga segala kebutuhan Gus Dur itu ditanggung Gus Mus. Karena Gus Dur itu memang tidak punya dompet (uang)," ujarnya yang disambut senyum hadirin.

IPNU Tegal

Sangking eratnya, persahabatan kedua tokoh umat inipun masih terjalin dengan keluarga dan anak-anaknya. Bahkan, setiap ada hal  yang harus dicarikan solusi selalu mengkonsultasikan kepada pengasuh pesantren Raudhatut thalibin Leteh Rembang ini.

"Termasuk anak-anak saya memanggil beliau  dengan panggilan Om Mus sampai  sekarang. Ini saking akrabnya diantara kita,"kata istri cucu KH.Hasyim Asyari yang hadir didamping putrinya Yenny Wahid. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Halaqoh, Santri IPNU Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Tahun 2001 silam, angin kencang berhembus kepada Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sampai-sampai berbagai cara dilakukan oleh lawan politiknya untuk melengserkannya dari jabatan orang nomor satu di Indonesia, termasuk kriminalisasi.

Namun hingga sekarang, hukum tidak pernah bisa membuktikan bahwa Presiden Gus Dur bersalah dalam kasus yang dilemparkan oleh lawan politiknya di Parlemen. Sehingga kasus Gus Dur murni politisasi.

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Baik secara hukum pidana maupun tata negara, Gus Dur tidak jatuh pada kasus Bulog dan Brunei seperti yang dituduhkan parlemen. Penjatuhan Gus Dur adalah persoalan pertarungan politik dimana yang satu kalah yang satu menang. Bukan soal hukum yang satu benar, yang satu kalah. Dan Gus Dur kalah dalam pertarungan politik itu, karena dikeroyok ramai-ramai.

Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur dari jabatan Presiden RI. Mundur bukan karena mengalah, tetapi Gus Dur lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan keutuhan negara. Sebab, jutaan rakyat Indonesia kala itu akan membela mati-matian agar Gus Dur tetap pada tampuk pimpinan tertinggi negara.

Gus Dur sekuat tenaga menahan amarah rakyat yang mendukung penuh dirinya. Namun, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana Negara kala itu. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima, sebab inkonstitusional dan tidak rasional (irrasional).

Yang menarik dalam persitiwa itu adalah cara Gus Dur yang menolak untuk menjadikan pelengseran itu sebagai tragedi personal. Ia tak merengek atau curhat di depan publik terkait dengan serangan politik terhadapnya. Sikap Gus Dur masih nampak sama, dengan logika komunikasi publik yang gitu saja kok repot.?

IPNU Tegal

Dalam sebuah acara, Gus Dur pernah bercerita tentang perbincangannya dengan Luhut Pandjaitan. Saat itu Gus Dur bercerita pada Luhut tentang hukum Islam yang mengatur bahwa kalau orang diusir dari rumahnya dia harus melawan, kalau perlu dengan menggunakan kekerasan. Namun karena Gus Dur tak ingin mengambil jalan kekerasan, dia lalu meminta bantuan Luhut untuk menguruskan surat perintah pengosongan Istana Negara dari kantor Kelurahan Gambir karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.

IPNU Tegal

Karena pengosongan Istana adalah kehendak pemerintah setempat yang sah, maka Gus Dur tak perlu melawan sama sekali. Kewajiban mempertahankan “rumah” pun gugur. Urusan selesai, dan Gus Dur keluar dari Istana tanpa gejolak. Gus Dur tak menjadikan pelengseran dirinya sebagai beban personal.

Dalam perbincangan lain dengan KH Maman Imanulhaq, Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat perintah dari Lurah Gambir? "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya, kenapa kamu meninggalkan Istana Negara? Tinggal saya jawab: monggo (silakan) ditanya saja ke Lurah Gambir,” ujar Gus Dur.?

Itulah Gus Dur, sang Guru Bangsa. Bukannya susah payah mengumpulkan energi politik untuk melawan kekuatan para pengeroyok, Gus Dur justru menegaskan pada orang di sekitarnya bahwa “tak ada kekuasaan yang begitu berharga hingga harus dipertahankan dengan darah.” Bangsa Indonesia patut mencatat bahwa berbeda dengan kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto yang diawali dan/atau disusul dengan konflik sosial yang berdarah-darah, pelengseran Gus Dur di tahun 2001 justru berjalan aman karena langkah brilian kemanusiaan (humanisme) yang ada pada diri Gus Dur.

Inilah refleksi paling konkret dari visi kemanusiaan yang secara ajeg ditunjukkan oleh Gus Dur. Bagi putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim da cucu Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini, kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Dalam hal ini, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat dan sama sekali tak berkehendak mengorbankan kemanusiaan itu demi kepentingan kekuasaan.

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Syariah, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji

Sudah menjadi tradisi bertamu ke rumah mereka yang baru pulang dari tanah suci untuk mohon didoakan dan juga meminta cinderamata. Bahkan seringkali keluarga maupun tetangga mementingkan penyambutan dan berebut bersalaman lebih dahulu, dengan alasan tabarrukan doa.Memang dianjurkan untuk meminta do’a kepada mereka yang baru datang dari haji. Bukan untuk meminta cindera mata. Sebagian orang menamakan do’a orang yang baru pulang dari haji ini dengan sebutan do’a maghfiroh, yaitu do’a khusus meminta ampunan dari Allah swt atas segala dosa yang telah dilakukan.

Mereka yang baru datang dari tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan, masih suci dari dosa-dosa.

Oleh karena itu, do’a dan permohonannya memiliki nilai lebih. Karena kesuciannya itulah posisinya dianggap lebih dekat kepada Allah. Dan diharapkan do’a-do’anya akan terkabulkan.

Sebagain ulama berkata bahwa kondisi tersebut (kemakbulan do’a) dapat bertahan sebelum orang tersebut masuk ke dalam rumahnya. Namun ada yang mengatakan kondisi tersebut akan bertahan hingga empat puluh hari.

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji

Hal ini diterangkan dalam Hasyiyatul Jamal:

وفÙ? Ù‡ Ø£Ù? ضا ماÙ? صه ÙˆÙ? Ù? دب للحاج الدعاء لغÙ? ره بالمغفرة واÙ? لم Ù? سأله ولغÙ? ره سؤاله الدعاء بها وفى الحدÙ? Ø« (اذا لقÙ? ت الحاج فسلم علÙ? Ù‡ وصافحه ومره Ø£Ù? Ù? دعولك فاÙ? Ù‡ مغفور له) قال العلامة المÙ? اوى ظاهره Ø£Ù? طلب الاستغفار Ù…Ù? Ù‡ مؤقت بما قبل الدخول فاÙ? دخل فات لكÙ? ذكر بعضهم اÙ? Ù‡ Ù? متد أربعÙ? Ù? Ù? وما Ù…Ù? مقدمه وفى الإحÙ? اء عÙ? عمر رضÙ? الله عÙ? Ù‡ Ø£Ù? ذلك Ù? متد بقÙ? Ø© الحجة والمحرم وعشرÙ? Ù? Ù? وما Ù…Ù? ربÙ? ع الأول..

IPNU Tegal

… dan dianjurkan (disunnahkan) bagi para haji untuk memohonkan ampun (do’a maghfiroh) kepada orang lain, walaupun mereka tidak memintanya. Demikian pula bagi mereka (yang tidak berangkat haji) agar meminta untuk dido’akan. Hal ini berdasar pada hadits Rasulullah saw “apabila kalian berjumpa dengan haji (orang yang pulang dari melaksanakan ibadah haji) maka salamilah dia dan jabatlah tangannya dan mintalah agar didoakan olehnya, karena doanya akan mengampunimu” Al-allamah al-Munawi berkata bahwa permitaan doa kepada haji ini sebaiknya dilakukan selama haji itu belum memasuki rumah.

Tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa permintaan do’a ini dapat dilakukan hingga 40 hari sepulangnya dari rumah. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diterangkan berdasakan cerita dari sahabat Umar ra. Keadaan ini dapat diberlangsungkan hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram dan dua puluh hari Rabiul Awwal.? ?

Redaktur: Ulil hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Lomba, Bahtsul Masail, AlaSantri IPNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Kuliner Sore Ramadhan di Jalan Petak Damai

Nganjuk, IPNU Tegal. Bulan Ramadhan memang bulan penuh berkah. Setiap Ramadhan tiba, tidak sedikit pasar dadakan digelar. Salah satu di antaranya pasar di kecamatan ? Bagor kabupaten Ngajuk itu, Pasar Sore Ramadhan di kelurahan Petak Damai, Nganjuk.

Di pasar yang membentang di sepanjang jalan Petak Damai ? ini, antrean panjang warga yang berdesakan bukan pemandangan baru. Banyak pengunjung datang untuk sekadar melihat-lihat atau membeli makanan buat hidangan buka puasa.

Kuliner Sore Ramadhan di Jalan Petak Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuliner Sore Ramadhan di Jalan Petak Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuliner Sore Ramadhan di Jalan Petak Damai

Berbagai macam aneka rupa makanan kecil hingga makanan utama dijajakan para pedagang yang berbaris memanjang dari pintu gerbang sampai pertengahan jalan kampung. Bagi pecinta wisata kuliner, pasar sore Petak Damai ? bisa menjadi rujukan yang menambah kaya khazanah di dunia kuliner.

IPNU Tegal

Makanan khas jajanan pasar mendominasi hampir semua stan para pedagang. Sebut saja kue Lapis yang berwarna kuning kontras dengan warna coklat kehitaman di bagian bawah serta penempatan di nampan merah membuat makanan ini mencuri fokus setiap pengunjung.

"Jajanan pasar ini menjadi salah satu favorit pengunjung. Kita sering kewalahan dengan permintaan kue tersebut," kata Rika, salah seorang penduduk setempat.

IPNU Tegal

Salah satu keunikan dari pasar ini adalah pemandangan pengunjung ? yang saling berdesakan satu dengan yang lain. Tidak ada ? keributan antarpengunjung. Toleransi pengunjung yang masuk dan keluar menjadi semacam kesepatakatan tidak tertulis.

Keunikan lainnya ialah tidak adanya kompetisi di antara para pedagang makanan itu. Semua menggelar dagangan. Semua percaya pada rezeki serta peruntungan masing-masing. Mereka bahkan saling bertukar uang kembalian, serta saling menawarkan dagangan tetangganya ketika mendengar ada permintaan pembeli yang tidak dapat dipenuhinya.

Untuk menjaga kenyamanan dan keamanan para pengunjung, kalangan mustadh’afin yang kurang beruntung hanya diwajibkan untuk menyiapkan kalengnya di bibir pintu masuk. Sementara pihak RT dan RW setempat bertanggung jawab sebagai pengelola pasar tersebut sehingga keteraturan bisa disaksikan di pasar sore ini. (Atik Fatmawati/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran

Jakarta, IPNU Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras sikap Pemerintah Indonesia yang mendukung perberlakukan sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) terhadap Iran. PBNU menilai, sikap tersebut merupakan kesalahan fatal yang justru akan mempersulit posisi Indonesia sendiri.

”Sikap Indonesia yang ikut menyetujui sanksi terhadap Iran adalah blunder besar untuk pemerintah Indonesia,” ungkap Ketua Umum PBNU Dr KH Hasyim Muzadi di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (26/3).

DK PBB menjatuhkan sanksi bagi Iran melalui Resolusi 1747 pada Ahad (25/3). Rancangan resolusi yang dirumuskan Inggris, Prancis, dan Jerman itu disepakati secara bulat oleh 15 negara anggota DK PBB, termasuk Indonesia.

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran

Resolusi ini memperluas sanksi atas Iran yang ditetapkan pada Desember 2006 dalam Resolusi 1737. Di antara isi Resolusi 1747 itu adalah larangan secara menyeluruh ekspor senjata Iran maupun pembatasan penjualan senjata ke Iran. Isi resolusi juga membekukan aset milik 28 lembaga atau perorangan yang berhubungan dengan program nuklir dan rudal Iran.

Iran juga dibatasi untuk memperoleh bantuan keuangan. DK PBB memberi batas waktu 60 hari setelah resolusi agar Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya. Jika diabaikan, DK PBB bisa mengambil langkah yang lebih pantas berupa sanksi ekonomi, bukan militer.

Hasyim menambahkan, kesalahan fatal yang dilakukan pemerintah akan berakibat menjauhnya umat Islam dan bangsa lain di seluruh duni dari Indonesia. Karena itu, menurutnya, pemerintah Indonesia harus bertanggung jawab terhadap rakyatnya yang sebagian besar muslim.

IPNU Tegal

Tak hanya itu. Menurut Presiden World Conference on Religon for Peace itu, dukungan pemerintah atas pemberlakukan sanksi tersebut akan menghancurkan nama baik Indonesia di mata negara-negara berkembang dan negara-negara Islam. “Indonesia mungkin hanya mendapat pujian kosong dari Amerika Serikat. Tapi bangsa Indonesia tidak akan dapat untung apa-apa,” pungkasnya.

IPNU Tegal

NU, tegas Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu, akan mengambil sikap berbeda dengan pemerintah, yakni tetap mendukung Iran berikut program nuklirnya serta negara-negara di kawasan Timur Tengah yang menjadi korban ketidakadilan.

”NU sikapnya jelas, yaitu selalu memperkuat yang benar, bukan membenarkan yang kuat. NU melakukan gerakan moral, bukan gerakan kepentingan. Kita semua berdoa, sukses untuk bangsa Iran, Irak dan Pelestina dalam meraih haknya yang sah,” pungaksnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, AlaSantri, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah

Oleh Edi Subkhan



Di tengah isu penistaan agama yang disangkakan pada Ahok, akhir 2016 time line Facebook dikuasai perang opini pihak yang pro Bashar al-Assad maupun yang kontra. Jutaan informasi disebar via Facebook, dan barangkali sebagian besar dari kita tanpa sempat mengkonfirmasi sumbernya langsung saja menjadi bagian dari jaringan penyebar informasi mengenai konflik Suriah, apapun itu, baik yang pro maupun kontra Assad.

Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah

Taggar #SaveAleppo mengemuka, banyak mengundang simpati bahkan dorongan agar pemerintah Indonesia segera mengirim kekuatan militernya untuk ikut serta mengakhiri konflik Suriah. Ketika pemerintah Arab Saudi menggalang kekuatan militer beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan Indonesia menolak ikut serta, Jokowi jadi bulan-bulanan bullying. Lawatan Presiden dan parlemen Indonesia ke Iran jadi bumbu penyedap tuduhan bahwa Jokowi pro Assad dan akan membawa nasib umat Islam di Indonesia sama seperti di Suriah.

Hal itu karena Iran dalam konflik Suriah menyokong pemerintahan Assad bersama Russia, dan isu sektarian yang diembuskan adalah: Assad presiden Syi’ah yang kejam dan membantai warganya sendiri. Narasi drama yang dibangun lebih lengkapnya adalah: Bashar al-Assad presiden Syi’ah yang kejam terhadap rakyatnya sendiri, hingga muncul para pemberontak yang ingin menumbangkannya. Setelah konflik bersenjata terjadi, kabut asap peta politik mulai tersingkap. Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, Amerika Serikat (AS), Israel, dan beberapa negara Eropa tampak mendukung para pemberontak, di sisi lain Iran dan Russia mendukung Bashar al-Assad.

IPNU Tegal

Respon umat Islam di Indonesia terbelah. Beberapa kelompok yang selalu responsif terhadap isu-isu politik Islam segera bersikap, walau sulit dan barangkali sadar pilihannya bukan tanpa risiko. Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang berada di lingkaran partai dakwah (baca: Partai Keadilan Sejahtera [PKS]). Kedutaan besar Russia di Jakarta mereka demo karena melihat Russia mendukung Assad yang menurut mereka telah membantai Muslim Sunni di Suriah. Sikap politik tersebut secara tidak langsung telah menjadikan HTI dan PKS berada di blok/pihak AS, Israel, dan kawan-kawan, satu pihak yang selama ini jadi sasaran kritik abadi mereka.

IPNU Tegal

Sikap tersebut juga menunjukkan mereka dalam satu blok/pihak dengan ISIS, karena para pemberontak di Suriah tiada lain kecuali ISIS dan kawan-kawannya. Hal yang saya pribadi tidak habis pikir adalah: sekian banyak orang yang posting di media sosial berada dalam posisi kontra Assad dan jika ditanya ternyata tak banyak yang paham bahwa dengan demikian mereka berada dalam satu blok dengan AS, Israel, bahkan ISIS. Anehnya juga tak banyak yang kritis bagaimana bisa AS, Israel, berada satu blok dengan Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, untuk sama-sama menggulingkan rezim Assad.

Sementara itu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah tampak lebih berhati-hati dalam bersikap, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Indonesia. Hal tersebut bisa jadi karena memang konflik Suriah teramat pelik dan kompleks. Duta besar Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto bahkan menyatakan banyak sekali informasi yang simpang siur hingga sampai di Indonesia. Misalnya tudingan bahwa Assad adalah Syi’ah dan juga keterlibatan media-media mainstream milik Barat yang membawa kepentingan Barat di Timur Tengah (Republika, 21/3/2016). Tuduhan bahwa rezim Assad merupakan rezim Syi’ah dan telah membantai Muslim Sunni juga dibantah oleh Muhammad Najih Arromadloni, sekretaris Ikatan Alumni Suriah (Syam) Indonesia (al-Syami) (nu.or.id, 14/5/2016).

Belajar dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah, setidaknya kita perlu melihat tendensi kepentingan Barat atas Timur Tengah dan Islam.



Kepentingan Barat



Kehadiran Barat yang direpresentasikan oleh AS dan negara-negara Eropa (terutama NATO) di Timur Tengah tentu bukan tanpa tendensi kepentingan tertentu. Kita bisa ingat bagaimana AS mendukung penuh para mujahidin di Afganistan agar dapat menjadi pengganggu permanen dari Uni Soviet waktu itu. Sayangnya milisi yang disokong penuh oleh AS tersebut sekarang jadi tanpa tuan dan cenderung destruktif. Namun keberadaannya di Timur Tengah tetap menguntungkan bagi AS, yakni sewaktu-waktu dapat dimainkan untuk jadi bagian dari proxy war di Timur Tengah, sekaligus jadi kambing hitam jika diperlukan.

Motif untuk menjadi satu-satunya kekuatan adidaya di dunia barangkali menjadikan AS berupaya untuk menundukkan potensi-potensi adidaya yang dimiliki oleh negara-negara lain. Terlebih negara-negara tersebut tidak berada dalam satu aliansi dan kesepemahaman dengan AS Di tahun 1960-an kita bisa telisik beberapa versi sejarah yang menyatakan bahwa kejatuhan Presiden Soekarno salah satunya direncanakan dan disetir oleh C.I.A., tiada lain karena Soekarno tidak dapat lagi disetir oleh AS dan sekutunya, dan juga Soekarno mulai dekat dengan Tiongkok. Berikutnya tahun 1990-an Saddam Husain dijatuhkan bahkan dengan intervensi langsung AS ke Irak dengan dalih membebaskan rakyat Irak dari pemimpinnya yang otoriter dan mencegah perang dunia karena Irak memiliki senjata pemusnah massal. Tuduhan yang pada kemudian hari tak pernah terbukti sama sekali.

Kembali menurut penuturan Arromadloni, sekretaris al-Syami (nu.or.id, 14/5/2016), pada 2009 Qatar meminta agar Assad membukakan jalur pipa gas alamnya melintasi Suriah hingga Turki menuju Eropa. Namun Assad menolak permintaan tersebut dan justru pada 2011 bekerjasama dengan Irak dan Iran untuk membuka jalur pipa ke Timur. Bisa jadi hal tersebut menjadi salah satu pemicu keterlibatan dari Arab Saudi, Qatar, Yordania, dan Turki dalam menyokong para pemberontak Suriah dalam menggulingkan Assad. Yakni rasa sakit hati blok Qatar, Turki, Arab Saudi yang kemudian melibatkan AS dan NATO sebagai mitra bisnis yang saling menguntungkan dan harus menjaga kepentingan masing-masing. Kerjasama Assad dengan Iran juga artinya mengancam posisi AS di Timur Tengah.

Senada dengan itu, Steven Sahiounie (ahtribune.com, 10/8/2016) menyatakan bahwa target Arab Spring setelah Tunisia, Libya, dan Mesir berikutnya adalah Suriah. Namun rencana awal tidak berjalan baik di Suriah hingga AS out of budget. Sahiounie menulis AS memulai rencana penggulingan Bashar al-Assad dengan menyelundupkan para teroris yang sebelumnya dimainkan untuk menggulingkan Moammar Khaddafi di Libya ke Deera, daerah perbatasan Suriah dan Yordania. Masjid Omari menjadi basis masuk dan pelatihan para pemberontak awal. Syaikh Ahmad al-Sayasneh, imam masjid Omari yang sudah sepuh dan bermasalah dengan penglihatannya terkelabuhi.

Para pengikut Ikhwanul Muslimin dan juga pengkut Salafi lokal Suriah diidentifikasi oleh Sahiounie sebagai pihak yang juga ikut membantu pergerakan awal para teroris/tentara bayaran dari Libya yang diselundupkan ke Deera. Rencana ini disusun dengan baik oleh C.I.A. dan dimonitor langsung dari Yordania. Di situ senjata dan dana sudah disiapkan untuk membakar api konflik/revolusi Suriah. Para demonstran lokal yang sudah tidak suka dengan rezim Assad barangkali banyak yang tidak tahu bahwa mereka menjadi bagian dari bidak-bidak catur yang dimainkan oleh pihak luar Suriah.

Deera tak pernah disangka bisa jadi pemicu awal konflik karena letaknya yang di perbatasan. Namun justru karena di pinggiran Deera strategis sebagai jalur suplai senjata dari Yordania. Jika benar konflik Suriah karena rakyat ingin Assad lengser, fakta menunjukkan bahwa hingga tahun kedua konflik, warga Aleppo dan beberapa kota besar seperti Damaskus dan Basrah tak pernah ikut demonstrasi menuntut Assad lengser. Bisa jadi karena mereka relatif terpelajar hingga tidak mudah untuk diseret pada isu murahan sektarian Sunni vs Syi’ah. Sahiounie menegaskan bahwa upaya AS menghancurkan Suriah dengan melengserkan Assad dan mengganti dengan pemimpin lain yang lebih kooperatif bukan hanya soal jalur gas, ladang minyak, juga tambang emas, melainkan juga untuk melumpuhkan Suriah di bawah kepemimpinan Assad yang selama ini jadi penyeru utama di Timur Tengah soal Palestina.

Upaya Mencoreng Islam Rahmatan Lil ‘Alamin



Kepentingan Barat lain yang perlu ditelusuri adalah upaya untuk menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama Rahmatan lil ‘alamin. Pelanggengan konflik Timur Tengah bertahun-tahun bisa ditafsirkan sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa wilayah tempat lahirnya Islam sendiri tak pernah lepas dirundung konflik. Citra yang barangkali ingin ditunjukkan pada dunia adalah: Islam agama yang mengajarkan terorisme, peperangan dan pembunuhan, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qaeda, ISIS, Assad, dan lainnya. Karena itu pula barangkali media-media mainstream Barat menyebut para pemberontak di Suriah dengan sebutan “Jihadis”, satu label yang berkonotasi positif dalam ajaran Islam.

Provokasi media-media Barat dan juga ISIS telah banyak mengundang simpati dan dorongan para “Jihadis” dari berbagai penjuru dunia untuk ikut berjuang di Suriah. Sahiounie mengemukakan bahwa kebanyakan mereka datang ke Turki dari Afganistan, Australia, Afrika, dan Eropa, kemudian diangkut bus-bus milik pemerintah Turki langsung ke perbatasan Turki-Aleppo. Konon tiket pesawat, bus, gaji, persediaan makanan dan obat-obatan sudah disediakan oleh pejabat dari Saudi di Turki. Soal senjata, AS mensuplai penuh dari gudangnya di pelabuhan Benghazi, Libya, sebagian besar persenjataan tersebut merupakan sitaan saat sukses menggulingkan rezim Khaddafi. Mehdi al-Harati, warga Libya berpaspor Irlandia, dijadikan pimpinan Free Syrian Army (FSA) setelah sebelumnya sukses memimpin pasukan teror di Libya.

Sahiounie memungkasi analisisnya bahwa: krisis Suriah adalah produksi bersama AS, Uni Eropa, NATO, Turki, Yordania, Israel, Arab Saudi, dan Qatar. Suplai senjata dilakukan oleh AS, sementara gaji, uang suap, dan lainnya ditanggung pangeran Qatar dan raja Saudi. Media yang digandeng untuk mempropagandakan narasi Hollywood adalah al-Jazeera milik Qatar, CNN, BBC, dan France24. Mereka inilah yang menggambarkan para “jihadis”/pemberontah Suriah sebagai pejuang pembebasan yang perlu didukung. Padahal di situ jelas ada ISIS, hal yang sangat kontradiksi tentunya. Al-Jazeera sejak awal krisis bahkan telah menawarkan $100 bagi siapa pun yang dapat menyerahkan video amatir dari Suriah kepada mereka. Sayembara tersebut seketika jadi lahan subur industri baru di Suriah, ‘sutradara’ dan ‘aktor’ bermunculan. Tak ada yang memverifikasi kebenaran isi video, asal mendukung propaganda semua diterima dan sebarluaskan media-media mainstream.

Telaah Sahiounie tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra dari almarhum Syaikh Ramadhan al-Buthi, salah seorang Ulama Suriah yang wafat di tangan kelompok pemberontak dalam konflik Suriah (republika, 7/12/2015). Ia menyatakan bahwa agenda memecah belah Suriah melalui konflik sektarian sudah terbaca ayahnya, oleh karena itu Syaikh Ramadhan al-Buthi memilih jalan tengah, berdiri di tengah, menjadi moderat, untuk menghindarkan konflik. Ia tak pernah mencela pemerintah namun tidak juga memujinya. Sebelumnya ia dikenal sebagai Ulama yang kritis terhadap pemerintah. Tiap bertemu Assad justru yang dilakukan adalah menasehatinya, bukan menyanjungnya. Namun karena upayanya untuk bersikap netral itulah al-Buthi di-bully sebagai Ulama pemerintah.

Pada akhirnya al-Buthi harus wafat dibom oleh para “jihadis” ketika sedang memimpin pengajian tafsir di Masjid al-Iman, Damaskus, 21 Maret 2013. Ironis sekali, seorang Ulama besar yang diakui keilmuannya di level internasional dibunuh karena dianggap pro pemerintah, dianggap akan menggagalkan skenario konflik sektarian di Suriah. Itulah yang terjadi, untuk berdiri di tengah menjadi moderat dan mencegah konflik saja fitnah datang bertubi-tubi, yang bisa saja fitnah itu datang dari pihak yang tidak tahu betul duduk perkaranya, bisa juga didalangi oleh pihak yang akan dirugikan jika konflik tak terjadi.

Dr. Taufiq Ramadhan menengarai bahwa konflik di Suriah sejatinya bukan konflik sektarian antara Sunni vs Syi’ah, apalagi Muslim vs non-Muslim. Menurutnya, selain menghancurkan Suriah menurutnya target dari konflik Suriah adalah mencoreng wajah Islam. Sekarang yang berkonflik dengan senjata bukan lagi warga Suriah, tapi diarahkan agar melibatkan warga Suriah. ISIS sendiri tak semuanya warga Suriah, demikian juga Jubha el-Nusra, anggotanya berasal dari berbagai negara. Ia mengatakan banyak sekali yang datang dari Eropa terutama melalui Turki untuk sampai ke Suriah. Ia mengatakan, tidak mungkin Barat tidak tahu hal ini, tidak mungkin intelijen tidak dapat mengidentifikasi gerakan mereka, namun dibiarkan saja karena akan menguntungkan dalam setting konflik yang disponsori oleh Barat.

Fenomena tersebut justru dimanfaatkan oleh Barat, yakni agar umat Islam di Eropa terprovokasi bertindak kriminal dan teror hingga wajah Islam benar-benar tampak buruk di Barat. Dr. Taufiq Ramadhan menyatakan bahwa yang ditakuti adalah kebangkitan Islam di Barat, oleh karenanya dibiarkan saja umat Islam datang ke Suriah dan saling bantai-membantai di situ. Ia juga meminta agar kita kritis terhadap ISIS: mengapa tak memerangi Israel, namun justru memerangi sesama Muslim? Begitu juga bagaimana Jubha el-Nusra dapat memperoleh bantuan logistik dan persenjataan dari Israel, termasuk Rudal Hawn, dan korban luka el-Nusra diobati di Israel. Barangkali para “jihadis” itu pun sebagian besar tak sadar jadi bagian yang dimainkan oleh para pemain yang lebih besar.

Selain itu Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin jelas punya kepentingan masing-masing, yakni mewujudkan cita-cita ideologisnya. Bagi Hizbut Tahrir Suriah harus direbut dari rezim Assad yang relatif sekuler dan diganti dengan Khilafah Islamiyah. Propaganda Hizbut Tahrir juga menggema ketika peristiwa Tahrir Square di Kairo, Mesir, juga misi pembebasan Palestina. Bagi Hizbut Tahrir pembebasan Palestina harus dilanjutkan dengan pendirian Khilafah Islamiyah, karena kalau yang dituju sekadar pengakuan terhadap Palestina sebagai negara yang merdeka ternyata tidak sejalan dengan visi ideologis Hizbut Tahrir. Oleh karena itu, informasi yang datang dari kanal-kanal informasi dan berita Hizbut Tahrir seluruh dunia, termasuk dari Timur Tengah, juga besar kemungkinan tidaklah netral. Sementara itu Ikhwanul Muslimin tampak lebih tertarik pada sentimen Sunni melawan Syi’ah.

Dus, mengamati banjir informasi di dunia maya mengenai Suriah, yang sebagian besar disetir oleh media-media mainstream Barat, juga media-media dari pihak yang punya kepentingan terhadap konflik Suriah, tentu kita mesti hati-hati. Dalam hal yang paling sederhana: janganlah ikut memperkeruh ruang publik umat Islam di Indonesia dengan berbagai posting yang provokatif, menyesatkan, dan belum dapat diverifikasi kebenarannya terkait dengan konflik Suriah. Upaya memecah belah umat Islam barangkali sedang terjadi juga di Indonesia, teror oleh jaringan ISIS dan sejenisnya dan provokasi para pemuka agama yang seringkali mengundang gesekan antara satu mazhab dengan mazhab lain perlu diwaspadai. Upaya membenturkan kelompok-kelompok ideologis di akar rumput bisa saja dilakukan sebagaimana terjadi di Suriah sebelum konflik pecah.

Oleh karenanya, menghindari konflik hendaknya lebih diutamakan. Hal ini penting mengingat tidak semua umat Islam di Indonesia terpelajar. Masih banyak yang lemah literasinya dalam berhadapan dengan jutaan informasi yang menyebar melalui televisi dan dunia maya. Wafatnya Syaikh Ramadhan al-Buthi patut jadi pelajaran, bahwa jadi moderat di tengah konflik pun berisiko difitnah, dihujat, dan dibunuh. Apalagi jika sudah memutuskan untuk ikut salah satu blok opini, padahal baik yang pro maupun kontra belumlah jelas betul mana yang benar. Namun satu yang pasti, bahwa konflik yang diuntungkan pasti bukan rezim Assad ataupun para “jihadis”, yang diuntungkan pasti para sutradara konflik di balik layar, juga industri persenjataan. Konflik Suriah mulanya juga bukanlah soal Sunni vs Syi’ah, ada intervensi AS, NATO, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, di blok berbeda terdapat Iran dan Russia. Sekiranya pihak-pihak tersebut belum bersedia untuk melepaskan ego dan kepentingan masing-masing, barangkali perdamaian di Suriah belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis adalah Takmir Masjid Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES).



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Cerita, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock