Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak

Cirebon, IPNU Tegal. Sedikitnya 75 pelajar NU Buntet Pesantren, Cirebon mendeklarasikan komunitas Falak. Mereka adalah peserta pelatihan Khazanah Teori dan Praktik Ilmu Falak yang diinisiasi MANU Putra Buntet Pesantren dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang, Senin-Selasa (27-28/1).

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak (Sumber Gambar : Nu Online)
Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak (Sumber Gambar : Nu Online)

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak

Pembentukan komunitas Falak Buntet Pesantren dinyatakan di akhir pelatihan Falak, Selasa (28/1) yang berisi pengenalan teori dan perangkat penelitian Falak mulai dari alat tradisional hingga modern berbasis teknologi.

Kepala Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren KH Ade Mohammad Mansyur mendorong komunitas Falak ini menjadi wadah pelajar mengembangkan khazanah Falak yang kini sepi dari perhatian dunia pendidikan.

IPNU Tegal

“Deklarasi ini diharapkan menginspirasi pesantren-pesantren lain untuk menghidupkan kembali khazanah Falak di mana pemikir-pemikir besar Islam masa lalu di bidang Falak menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia,” jelas Kiai Ade Mansyur.

Ia mengharapkan komunitas Falak Buntet Cirebon ini semakin menambah ? gairah para santri mempelajari dan mengembangkan Ilmu Falak agar eksistensinya tetap terjaga di dunia pendidikan khususnya pesantren. (Khaerun Nufus/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Sejarah, AlaSantri IPNU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional

Demak, IPNU Tegal. Puluhan siswa kelas IX MTs Futuhiyyah 1 Mranggen Demak mengadakan istighotsah bersama sebelum menghadapi UN, Sabtu (3/5) malam. Kegiatan ini didampingi segenap jajaran guru dan pegawai MTs Futuhiyyah 1.

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional

Istighotsah ini merupakan kegiatan rutin tahunan di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen. Bertempat di aula sekolah para hadirin mendengarkan pembacaan maulid yang dipimpin salah seorang siswa. Mereka selanjutnya membaca tahlil yang dipandu KH Ahmad Tamziz.

Kepala MTs Futuhiyyah 1 Mranggen KH Said Lafif Hakim berpesan kepada seluruh siswa kelas IX untuk senantiasa belajar dan terus belajar. Ia mengimbau para siswanya untuk memanfaatkan waktu yang ada.

IPNU Tegal

“Di samping belajar, kalian jangan lupa berdo’a. Karena, do’a akan menjadi kekuatan batin bagi kita,” kata Kiai Said dalam sambutannya.

Pembacaan istighotsah dipimpin langsung H Shodiqin. Acara ini ditutup dengan doa yang dibacakan oleh KH Abdul Basyir Hamzah. (Abdus Shomad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Sejarah IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga

Brebes, IPNU Tegal. Pengurus Anak Cabang ( PAC) Fatayat Larangan mengadakan pelatihan untuk para pelatih di bidang tata boga di kediaman Tunjiyah dusun Temukerep desa Larangan kecamatan Larangan, Brebes, Ahad (7/6). Sebanyak 102 aktivis Fatayat NU dari 17 ranting di Larangan, hadir sebagai peserta pelatihan.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Fatayat NU Larangan dan Celoteh Brebes Membangun (CBM). Kegiatan ini murni swadaya anggota Fatayat. Setiap ranting dikenakan biaya sebesar Rp 200.000 untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan tata boga. Semua peserta yang ikut harus membawa alat masak seperti oven, kompor, gas lpj, dan mixer serta alat cetak kue.

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga

Ketua Fatayat NU Larangan Khurmah Al-Munawar bercerita bahwa pelatihan ini digagas bersama teman-teman CBM dengan maksud ? ke depan semua pengurus ranting Fatayat bisa melatih kembali warga NU di desanya. Dengan bekal itu, warga nantinya memiliki keterampilan yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga.

IPNU Tegal

Praktisi Tata Boga CBM Amellya Shofiya Rizqiyaty mengajarkan empat menu yang meliputi kue nastar nanas, kue putri salju keju, kue kering choco chips, bolu karamel panggang sarang semut. Semua bahan yang disajikan, langsung disediakan dan dibelikan oleh praktisi biar memudahkan saat praktik nantinya.

"Keahlian memasak dan membuat menu ini nantinya bisa menjadi nilai tambah bagi aktivis Fatayat. Apalagi menjelang puasa dan lebaran, para peserta bisa memproduksi aneka kue yang bisa dikonsumsi sendiri atau dijual di pasar," ujarnya.

IPNU Tegal

Salah seorang peserta pelatihan tata boga Tunjiyah mengaku senang dengan pelatihan ini karena selama ini dirinya belum pernah mendapat pelatihan seperti ini.

Ke depan diharapkan ada produk yang dihasilkan dari para peserta dan memiliki nilai jual produk yang tinggi hingga sukses di pasaran. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaSantri, Sejarah, Pahlawan IPNU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik

Jakarta, IPNU Tegal 



Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan, reuni, kongres atau apapun namanya boleh saja dilakukan. Apalagi jika dimaksudkan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan sesama warga negara).

Ia mengatakan hal itu ketika mengomentari Reuni alumni 212 yang akan digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Sabtu (2/12). Reuni itu memperingati aksi yang dilakukan umat Islam setahun yang lalu.   

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik

"Namun, jangan ada upaya untuk mengarus-utamakan agama dalam percaturan politik praktis, apalagi menjadikan agama sebagai tunggangan politik. Politisasi agama akan mengoyak kohesivitas sosial yang pada gilirannya merusak persatuan dan kesatuan bangsa," katanya di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (30/11). 

Ia meminta untuk menjadikan agama sebagai inspirasi dalam  mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan jadikan agama sebagai aspirasi politik. Kesepakatan para pendiri bangsa atas NKRI (mu’ahadah wathaniyyah, konsep negara bangsa) harus kita junjung tinggi.

“Betapa rendah kedudukan agama bila dijadikan aspirasi politik hanya untuk menangguk keuntungan politik elektoral lima tahunan. Apalagi untuk dikonversi dengan perolehan suara dalam politik elektoral.” (Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Anti Hoax, Pondok Pesantren, Sejarah IPNU Tegal

IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem

Oleh Roqiyul Maarif Syam*



Maraknya kabar orang hilang di beberapa daerah di Indonesia yang terkait dengan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) maupun organisasi sejenisnya membuat keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi baru-baru ini terjadi aksi teror di Thamrin, Jakarta yang dikaitkan pada isu Islamic States of Iraq and Syiria (ISIS) maupun isu terorisme lainnya. Sasaran yang direkrut sebagai anggota oleh mereka dijadikan sempalan terhadap negara. Menyikapi hal tersebut, kita perlu untuk merespons, membentengi diri dan melawan terorisme, radikalisme, ekstrimisme serta bentuk kekerasan lain atas nama suatu paham atau keyakinan tertentu.?

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem

Negara Kesatuan Republik Indonesia ibarat rumah besar bagi warganya yang beragam. Pemerintah sebagai aparat yang bertugas menjamin keamanan, dan kesejahteraan para penghuninya dengan seperangkat aturan hukum yang mengatur keragaman warganya. Teror dan kekerasan yang berasal dari paham-paham fundamental, radikal dan ekstrem menjadi hantu gentayangan yang tidak mampu diusir hanya oleh para pemangku kebijakan. Dari luar, gelombang globalisasi yang tak terbendung selanjutnya memperparah persoalan karena secara drastis mengubah pola relasi masyarakat dengan ruang-ruang sosial. Hal-hal ini berakibat pada terjadinya guncangan serius pada identitas yang menjadi sumber makna dan pijakan setiap orang dalam mengidentifikasi secara simbolik arah dan tujuan tindakan-tindakan yang mereka lakukan didalam rumah besar ini. Dalam politik multikuturalisme seperti yang diungkapkan Melucci, gejala ini dinamakan "homelessness of personal identity" yang berarti gejala yang membuat orang kehilangan pijakan dan definisi tentang dirinya sehingga mudah dibujuk dan dipengaruhi paham ekstrem yang berasal dari "luar rumah" untuk menjadi penganutnya. Tak ayal situasi yang paling buruk akhirnya adalah ancaman disintegrasi bangsa yang disebabkan oleh konflik-konflik horizontal "di dalam rumah" dan pembangkangan/ sempalan terhadap negara.

Ledakan sosial dan riuh rendah tragedi kemanusiaan yang terjadi di negeri ini umumnya disebabkan dari pemahaman dangkal serta keyakinan ekstrem yang dianut oleh seseorang mengenai beberapa hal, diantaranya; nasionalisme; keberagamaan; dan juga lokalitas sebagai penanda/identitas primordial suatu etnik.

IPNU Tegal

Pertama, pemahaman nasionalisme yang dangkal akan berujung pada sikap hanya mengambil keuntungan saja dalam bernegara. Bagi orang yang berpemahaman dangkal terhadap negara akan beranggapan bahwa negara hanya tidak lebih dari suatu institusi yang korup. Orang dengan pemahaman demikian akan bersikap acuh tak acuh pada persoalan kenegaraan dan kebangsaan. Sedang bagi para wakil rakyat, sikap seperti ini beranggapan bahwa kepentingan-kepentingan yang dikiranya adalah kepentingan rakyat nyatanya hanya memperkuat posisi negara tanpa kehadirannya bagi kepentingan rakyat. Namun juga keyakinan bernegara yang keterlaluan adalah akar dari nasionalisme berlebihan (chauvistik) yang berujung pada fasisme seperti yang pernah dipraktikkan beberapa negara di masa yang silam. Sikap ekstrem di tengah kancah politik dunia juga sempat mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini. Dalam sejarah kepemimpinannya, Indonesia pernah mengalami masa nasionalisme ekstrem kiri (komunisme) pada era akhir kepemimpinan Orde Lama yang berujung pada peristiwa G30S-PKI, juga sempat menjadi pendukung nasionalisme ekstrem kanan (kapitalisme) di era Orde Baru yang lebih banyak lagi peristiwa teror dan kekerasan terjadi di era ini.

Bangsa kita menganut prinsip -meminjam istilah Soekarno, yaitu internasionalisme yang penulis pahami sebagai ikut aktif dalam menjaga humanisme atau peri- kemanusiaan, perdamaian di atas dunia. Nasionalisme kita adalah rasa cinta tanah air dan tumpah darahnya, suatu pemahaman dan keyakinan dengan fondasi nilai yang terkadung dalam Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap butir Pancasila merupakan jiwa yang menggerakkan setiap warga negara dalam berinteraksi sosial dari lingkup terkecil di Rukun Tetangga (RT) hingga masyarakat internasional. Ekspresi nasionalisme yang dituntun oleh rambu-rambu Pancasila ini akan mengantarkan bangsa Indosesia menuju cita-cita pendirian negara Republik Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 45. Meski erat kaitannya juga, bahwa nasionalisme kita harus diukur dari seberapa berhasil pemerintah mewujudkan janji-janji kemerdekaan yang diwariskan para pendiri negara ini. Di antara yang belum terwujud hingga saat ini yaitu cita-cita memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kedua, dalam hal beragama, jalan pintas memahami agama dengan instan serta praktik dakwah keagamaan yang keras adalah ekspresi kedangkalan pemahaman agama itu sendiri. Pemahaman agama yang ekstrem terhadap kebenaran dirinya hanya akan merusak nilai dari beragama itu sendiri, yaitu hidup dengan benar dan selamat di dunia dan akhirat. Lalu bagaimana penganut agama meyakini akan selamat di akhirat jika di dunia saja malah menyebarkan teror dan ancaman kemanusiaan bagi sesama hamba Tuhan?

Dalam catatan sejarah negara kita, pemahaman agama yang ekstrem merupakan hantu masa lalu yang selalu membisikkan teror, penculikan, dan tindakan yang mengganggu perikemanusiaan di negeri ini. Alih-alih demi mendirikan kerajaan tuhan di bumi, penganut agama yang ekstrem akan berani menganggap orang lain di luar kelompoknya sebagai kafir, musuh tuhan yang layak dimusnahkan. Sikap seperti ini berujung pada fitnah dan teror sesama umat beragama di suatu negara. Tak ayal pemahaman demikian bukannya mengajak selamat hidup di dunia malah menjadi pembangkang terhadap negara. Bangsa kita pernah mengalami fitnah ini dalam catatan kelam sejarahnya yaitu saat marak pendirian Negara Islam Indonesia (NII), juga Darul Islam (DI) di daerah Jawa Barat. Bahkan dalam hal ini penulis merupakan keturunan korban penyiksaan dan penculikan oleh anggota DI yang hingga kini tidak diketahui dimana keberadaan jasadnya atau kuburannya hanya untuk sekedar melakukan tradisi nyekar (ziarah kubur).

Namun juga perlu dipahami bahwa hampir setiap agama memiliki madzhab/sektenya masing-masing. Satu sama lain antar pemeluk agama perlu saling menjaga kebebasan beragamanya dengan saling melindungi dari sekte-sekte yang dianggap menggangu harmoni antar pemeluk agama. Diantara banyaknya sekte yang terdapat dalam setiap agama tersebut, yang terburuk adalah yang mengajarkan pemahaman yang ekstrem dan kekerasan terhadap manusia demi alasan pembelaan kepada Tuhan. Semua agama yang sah dianut di Indonesia mengedepankan prinsip-prinsip humanisme, perdamaian, serta cinta kasih sesama makhluk Tuhan. Juga setiap paham masing-masing agama yang mengajarkan kebaikan hidup, toleransi, saling menolong, merupakan sekte yang sah diakui sebagai bagian dari agama tersebut. Mereka yang membuat kerusakan dan menebar ancaman atas nama agama tidak lain adalah oknum penganut ajaran ekstrem dari suatu sekte agama tertentu yang keberadaannya malah meresahkan masyarakat. Seperti aksi pembakaran masjid pada saat pelaksanaan shalat hari raya yang dilakukan oleh oknum penganut sekte tertentu dalam agama Katolik di Papua beberapa waktu yang lalu. Sekali lagi, kita perlu saling mengenali dan menjaga sesama pemeluk agama dari penyusupan-penyusupan oknum penganut ajaran ekstrem yang justru ingin merusak wajah toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia.

IPNU Tegal

Ketiga, mengenai pemahaman serta keyakinan akan identitas lokal/primordial suatu etnik, apabila tidak arif dalam memahaminya hal ini seringkali menjadi pisau bermata dua yang dapat bernilai manfaat sekaligus dapat menjadi isu pemecah bagi masyarakat. Pemahaman yang ekstrem terhadap nilai lokal dapat menyebabkan seseorang terperangkap dalam sikap terlalu berbangga diri akan identitas lokal, tertutup terhadap perbedaan kebudayaan. Hal seperti ini yang sering disebut ego lokal. Seperti istilah katak dalam tempurung, yang tak mengerti akan dunia di luar dirinya dan dirinyalah satu-satunya penguasa di dalam tempurung itu. Ekspresi-ekspresi yang lebih menunjukkan sikap tertutup dari sang liyan ? akan menjadikan kita manusia primitif yang tidak mau mengenal kebaikan yang berasal dari luar. Sikap mengedepankan ego lokal secara ekstrem malah akan merusak nilai dari pada kearifan lokal itu sendiri. Merasa diri dari etniknya-lah yang layak mendapatkan posisi dan keistimewaan tertentu dalam masyarakat. Seperti anggapan yang sering terlontar saat musim pemilihan kepemimpinan nasional di negara ini semenjak pendiriannya, mengapa selalu orang Jawa yang jadi presiden?

Lebih arif bagi kita untuk menonjolkan identitas lokal dari sisi kesenian dan kebudayaan daerah juga identitas lokal lainnya sebagai alat pemersatu bangsa. Setiap kebudayaan suatu etnik memiliki rasa keindahan yang bersifat universal dapat dirasakan semua manusia Nilai-nilai keindahan universal tersebut adalah suatu ikatan tak terlihat yang menjadi penanda bahwa suatu etnis tertentu terhadap etnis lainnya adalah saudara yang saling mengisi peradaban manusia. Sebab kesenian dan kebudayaan tersebut merupakan warisan peradaban lokal yang patut dilestarikan keberadaannya. Dalam menyikapi perbedaan dari sudut pandang identitas kedaerahan, para pendiri bangsa ini sempat mengajarkan kita sikap keterbukaan, saling berbagi, persatuan dan kesatuan atas dasar kesamaan rasa, menghilangkan ego lokalitas atau sentimen kedaerahan, mengedepankan pertimbangan akal sehat, juga melakukan pertukaran budaya. Sikap para pendiri negara kita itu-lah yang menjadi rumusan terciptanya Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan dan kesatuan bangsa ini. Seperti pernah dicontohkan oleh Otto Iskandar Dinata dengan rela membubarkan Paguyuban Pasundan demi kebersatuan rakyat Indonesia dibawah Boedi Oetomo guna melawan kolonialisme Belanda, juga ? Sri Sultan Hamengku Bhuwana IX yang tulus bergabung memasukkan wilayah kekuasaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah pemerintahan Republik Indonesia, begitupun yang dicontohkan para tokoh besar lain pendiri republik ini.?

Gambaran Indonesia yang terangkai dalam kalimat "Dari Sabang sampai Merauke" menjadi istilah yang mampu merangkum jutaan nilai yang dikandung suku bangsa Aceh, Minangkabau, Jawa, Toraja, Dayak serta suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia. Nilai-nilai tersebut berasal dari peradaban lokal yang menyejarah bagi setiap suku bangsanya.

Lebih banyak dari kita yang menunjukkan perbedaan kedaerahan satu sama lain ketimbang persamaannya yang justru lebih banyak. Nilai-nilai itu harus dilahirkan menjadi bentuk ekspresi manusia Indonesia yang berkeadaban yang luhur demi mengisi kemajuan peradaban. Masyarakat Indonesia yang beradab berarti masyarakat yang mampu menjunjung nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan penghargaan yang tinggi bagi suatu karya. Bukankah suatu bangsa dianggap berbudaya jika dapat membangun kebaikan bersama?

Ketiga hal yang diuraikan tersebut merupakan isu-isu penting yang mengisi kesejarahan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa. Sejak jaman perjuangan pergerakan kemerdekaan, ketiga hal tersebut begitu saja liar berkelindan di dalam alam pikiran masyarakat tanpa porsinya yang sesuai demi membentuk kepribadian manusia Indonesia. Perdebatan antar kelompok di ketiga hal tersebut seperti tak pernah usai untuk diakhiri dengan kejernihan hati dan akal sehat. Dari ketiganya yang ekstrem lah yang selalu menjadi perusak kenyamanan kita sebagai manusia Indonesia di "rumah besar" kita ini. Pemahaman yang moderat dan mendalam akan ketiga hal tersebut nantinya yang akan membentuk kita menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Manusia Indonesia sebagai bangsa besar yang menghuni "rumah besar". Identitas keindonesiaan yang kuat akan begitu saja mampu menangkal paham-paham ekstrem yang akan merusak Indonesia sebagai negara-bangsa.

Jika hal-hal demikian dapat dilaksanakan baik oleh aparat pemerintah, maupun masyarakat selaku manusia Indonesia, paling tidak kita semua telah berusaha untuk dapat selamat hidup di belahan bumi manapun, terlebih di negeri kita tercinta yang gemah ripah loh jinawi ini. Lalu ajaran ekstrem mana lagi yang akan menabur benih ancaman dan kekerasan ? kita jika kita benar-benar menjadi manusia Indonesia? Demi hal itu kita tidak membutuhkan apapun, hanya ketulusan yang manusiawi. Wallahu alam bisshawwab

* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Siyasah UIN Sunan Kalijaga, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Sejarah, Ubudiyah IPNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan

Khartoum, IPNU Tegal. Dalam rangka meramaikan acara malam gebyar maulid, Kementerian Bimbingan dan Wakaf Sudan mengajak jamiyah sholawat NU Sudan yang bertempat di Qoah as Shodaqoh, Khartoum, untuk ikut berpartisipasil.



Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan

Acara yang berlangsung Senin, (2/2) lalu ini berlangsung meriah dengan penampilan musisi-musisi Negara Sudan yang terhimpun dalam Grup Ahbabul Rasul.

Menurut Wakil Rais Syuriah PCINU Sudan H. Lian Fuad, kelompok yang dinamakan Jami’yah Syifa’ul Qulub (JSQ) ini dinaungi oleh Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCINU Sudan dan sering mendapatkan undangan kehormatan, dari mulai kalangan sufi sampai pemerintah Sudan.

“Untuk kali pertama ini JSQ yang divokali oleh Hafidzul Umam ini bisa sejajar dengan para musisi dan seniman negara Sudan,” ujarnya.

IPNU Tegal

Acara yang berlangsung sampai larut malam ini disiarkan di beberapa stasiun televisi lokal dan juga dihadiri oleh Wakil Presiden Sudan Prof. Hassabu Mohammed Abdalrahman dan Menteri Bimbingan dan Wakaf Sudan Dr. Muhammad Musthafa al Yaquti.

Menurut Lian, para musisi Sudan sendiri sangat senang dan bangga bisa tampil bersama-sama membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Banyak juga penampilan dari kalangan anak-anak yang membawakan puisi untuk Nabi dan juga puisi dengan bahasa Inggris dan Perancis. Durasi penampilan yang diberikan oleh panitia kepada JSQ terbilang cukup untuk menampilkan satu lagu Ya Rasullah Salamun Alaik. (Azim Aufaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Hikmah, Tokoh, Sejarah IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

Jakarta, IPNU Tegal. Kepala Badan Litbang Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Masud menegaskan bahwa Indonesia berada pada urutan terdepan negara-negara dunia dalam konteks kerukunan. Banyak negara mengakui keberhasilan Indonesia dalam menjaga harmoni dalam kemajemukan.

Menurut Masud, kerukunan Indonesia tidak terlepas dari kekayaan kearifan lokal yang telah diwariskan pendahulu bangsa sejak ratusan tahun lalu. Kekayaan kearifan lokal itu, kata Masud, antara lain berupa tradisi lisan yang sarat akan nilai dan pesan kerukuan, persatuan, dan kesatuan.

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

“Tradisi lisan di daerah yang menjadi bagian dari kearifan lokal mempunyai korelasi dengan kerukunan daerah. Tradisi itu terbukti menjadi perekat kerukunan warga dan karenanya bisa dijadikan bahan kampanye perdamaian nusantara,” demikian penegasan Abdurrahman Masud sebagaimana dilansir di laman kemenag.go.id, Jumat (29/4).

Merujuk pada hasil penelitian Balai Litbang Keagamaan DKI Jakarta yang dilakuan sejak awal tahun ini. Penelitian yang bertajuk “Nilai Keagamaan dan Nilai Kerukunan dalam Tradisi Lisan Nusantara” mengungkap data dan fakta bahwa suku-suku bangsa di Indonesia sangat agamis dan rukun. Masyarakat Indonesia juga memiliki kekhasan dalam ? beragama yang terkait dengan kebudayaannya, dan salah satu wujudnya adalah tradisi lisan. Tradisi lisan itu diwariskan secara turun-temurun menjadikan pesan keagamaan dan kerukunan lebih mudah disampaikan dan diterima.

Anik Farida, selaku ketua tim peneliti mengungkapkan, ada delapan wilayah yang dijadikan sasaran penelitian, yakni: Jakarta, Banten, Bandung, Cirebon, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau. Penelitian dilakukan dengan menggali nilai keagamaan dan kerukunan yang tersirat dalam tradisi lisan pada sejumlah tradisi, yaitu: ? Ritual Akikah di Jakarta, Tradisi Panjang Mulud di Banten, Petatah-Petitih Sunan Gunung Jati di Cirebon, Tradisi Warahan di Lampung, Tradisi Tadud di Sumatera Selatan, Tradisi Teater Rakyat Mendu di Natuna Kepulauan Riau, dan Tradisi Pasambahan di Sumatera Barat. ? ? ?

IPNU Tegal

“Potensi harmoni di negara kita itu jauh lebih kuat dan dahsyat dibanding potensi disharmoni atau ? intoleransi. Makanya tidak aneh jika hasil penelitian kita, termasuk soal KUB, indeks kerukunan 2015, kita mencapai 75,36%. Bahkan yang nomor satu seperti di NTT dan Bali di atas 80%,” tandasnya. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Warta, Sejarah, Nahdlatul IPNU Tegal

IPNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Menag Harapkan Pemerintah Sediakan Anggaran APBN untuk Bantu Palestina

Jakarta, IPNU Tegal. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk membantu Palestina. Sehubungan itu, Menag berkeinginan agar negara dapat membantu Palestina melalui dana APBN 2016.

Menag Harapkan Pemerintah Sediakan Anggaran APBN untuk Bantu Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Harapkan Pemerintah Sediakan Anggaran APBN untuk Bantu Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Harapkan Pemerintah Sediakan Anggaran APBN untuk Bantu Palestina

“Mulai tahun depan, Insya Allah dan mudah-mudahan DPR RI bisa menyetujui, secara resmi bantuan bisa disalurkan melalui APBN,” kata Menag saat memberikan sambutan pada acara pemberian bantuan/Infaq Jamaah Masjid Istiqlal untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, Jakarta, Jumat (15/5) seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Hadir dalam kesempatan ini, Dubes Palestina untuk Indonesia, Sekjen Kemenag Nur Syam, Dirjen Bimas Islam Machasin, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Muchtar Ali, Ketua Badan Pelaksana Pengelolan Masjid Istiqlal Mubarok, dan ribuan jamaah Masjid Istiqlal.

IPNU Tegal

Menurut Menag, hubungan baik masyarakat Indonesia dengan Palestina bahkan sudah terjalin sejak awal kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Palestina adalah negara yang pertama kali memberikan dukungan atas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dukungan itu disampaikan langsung oleh Mufti Palestina, Syekh Muhammd Amin Al Khusaini yang saat itu sedang mengungsi di Berlin, Jerman.

“Sehingga, bantuan tidak hanya dari masyarakat Indonesia saja, namun negara secara resmi memberikan bantuan demi mewujudkan kemerdekaan negara Palestina,” jelas Menag.

IPNU Tegal

Menag menegaskan bahwa membantu Rumah Sakit Indonesia di Ghaza merupakan wujud bahwa Bangsa Indonesia terus mendambakan dan memperjuangakan agar bangsa Palestina juga bisa mencapai kemerdekaannya.  (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Sejarah IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Sumenep, IPNU Tegal - Roh organisasi sekelas Nahdlatul Ulama (NU) ialah memaksimalkan fungsi pengabdian dan pemberdayaan terhadap masyarakat. Itulah yang dicerminkan oleh para pendiri dan ulama NU sekaligus pejuang negeri ini. Karenanya sangat tepat kalau LKNU Sumenep membuka layanan cuma-cuma operasi katarak.

Demikian ditegaskan Ketua NU Sumenep KH Pandji Taufik saat sambutan aksi sosial operasi gratis di aula lantai II PCNU Sumenep di Jalan Trunojoyo, Sumenep, Sabtu (16/4).

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Menurut Kiai Pandji, sejauh ini NU Sumenep berikhtiar mewujudkan misi pengabdian dan pemberdayaan di atas. Karenanya, program operasi katarak secara gratis merupakan salah satu wujud dari misi tersebut.

IPNU Tegal

Ketua LKNU Sumenep Taufikurrahman menyatakan, kegiatan tersebut menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep dan RSUD Moh Anwar Sumenep.

Kepala Dinkes Sumenep dr Fathoni dan Direktur RSUD Moh Anwar Sumenep dr Fitril Akbar tampak hadir dalam acara tersebut. Sebanyak 160 penderita katarak dioperasi dalam aksi sosial ini.

IPNU Tegal

"Operasi katarak ini sudah 4 kali dilakukan oleh LKNU Sumenep. Ini khidmah NU kepada warganya. Inilah gerakan konkret yang dilakukan NU kepada warganya," tegas Wakil Sekretaris PCNU Sumenep M Muhri Zaen.

Sebelum aksi ini digelar, beberapa pekan sebelumnya panitia menyebar pamplet dan informasi melalui jejaring sosial. Dalam pengumuman ini disebutkan, warga yang hendak mengikuti operasi katarak harus terlebih dahulu mendaftar kepada panitia. Mereka cukup menyerahkan fotokopi selembar kartu tanda penduduk.

"Ada yang mendaftar langsung pada hari H. Kami tetap melayani mereka," tandas Ketua GP Ansor Sumenep Muhri itu. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Sejarah, AlaNu IPNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas

Purwakarta, IPNU Tegal - Forum bahtsul masail pra-Munas NU 2017 mencoba menggali pandangan Islam terhadap penyandang disabilitas di Pesantren Al-Muhajirin 3, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (11/11) siang. Forum ini mengangkat pembahasan terkait pandangan Islam memperlakukan penyandang disabilitas.

“Ini berkaitan juga dengan fasilitas umum. Pembahasan ini lahir dari evolusi pemikiran manusia terhadap kalangan disabilitas,” kata Anis Masduki, salah seorang peserta forum bahtsul masail pra-Munas NU asal Yogyakarta.

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas

Forum ini dipimpin Wakil Katib Syuriyah PWNU Jatim KH Muhibbul Aman yang didampingi Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU KH Mahbub Maafi dan KH Najib Bukhori.

IPNU Tegal

Kiai Muhib mengatakan, disabilitas bukanlah merupakan aib karenanya Islam memandang penyandang disabilitas sebagai manusia yang memilik hak yang sama dengan yang lainnya. Tetapi mereka berhak mendapatkan perlakuan khusus dalam mendapatkan hak dan menunaikan kewajibannya baik dalam ranah sosial maupun agama karena keterbatasannya.

Forum ini membahas masalah disabilitas dalam konteks taklif syar’i dan peran negara serta elemen masyarakat dalam memperlakukan mereka.

“Dengan demikian individu, masyarakat maupun negara tidak boleh memperlakukan mereka secara diskriminatif. Maka masyarakat dan negara sesuai dengan fungsi dan peran masing harus berperan secara aktif untuk membantu dan memberdayakan mereka,” kata Kiai Mahbub.

IPNU Tegal

Menurutnya, selama ini kelompok agamawan dan ormas Islam belum memberikan perhatian dalam bentuk pembahasan khusus terhadap penyandang disabilitas. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal IMNU, Sejarah, Berita IPNU Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Inilah Perwira PETA yang Berasal dari Kalangan Santri

Jakarta, IPNU Tegal. Peran kalangan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan tak diragukan lagi. Pada zaman Jepang, para santri ikut memanfaatkan pelatihan militer Pembela Tanah Air (PETA) yang terbukti sangat bermanfaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Belanda yang berupaya kembali lagi menjajah.?

Berikut nama-nama perwira PETA yang berasal dari kalangan santri sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf.?

Inilah Perwira PETA yang Berasal dari Kalangan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Perwira PETA yang Berasal dari Kalangan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Perwira PETA yang Berasal dari Kalangan Santri

1. KH M Basoeni (Daidancho Pelabuhan Ratu, Bogor),?

2. KH Soetalaksana (Daidancho Tasikmalaya, Priangan),?

3. KH Pardjaman (Daidancho Pangandaran, Priangan),?

4. KH Hamid (Kastaf Daidan 11 Pangandaran, Priangan),?

IPNU Tegal

5.KH R Aroedji Kartawinata (Daidancho Cimahi, Priangan),?

IPNU Tegal

6. KH Masjkoer (Daidancho Bojonegoro),?

7. KH Tubagus Achmad Chatib (Daidancho Labuan, Banten),?

8. K E. Oyong Ternaja (Daidancho Malingping, Banten),?

10. KH Sjamoen (Daidancho Cilegon, Banten),?

11. KH R.M. Moeljadi Djojomartono (Daidancho Manahan, Surakarta),?

12. KH ldris (Daidancho Wonogiri, Jogja),?

13. KH R Abdoelah bin Noeh (Oaidancho Djampang Kulon, Bagor),?

14. KH lskandar Sulaiman {Daidancho Daidan lV Malang),?

15. KH Doerjatman (Daidancho Tegal),?

16. KH R Amien Ojakfar (Daidancho Pamekasan, Madura),?

17. KH Abdoel Chamid Moedhari Daidancho Daidan III Ambunten, Sumenep).?

Nama-nama di atas adalah perwira PETA berpangkat daidancho (mayor) yang memimpin batalyon. Hamid Rusdi, pahlawan yang jadi nama jalan di Malang adalah Ketua Gerakan Pemuda Ansor Malang, perwira PETA dengan pangkat syudanco (komandan kompi), Brigjen Abdul Manan Wijaya adalah santri Tebuireng juga didikan PETA, termasuk Brigjen KH Sullam Syamsun. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sejarah IPNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW

Jakarta, IPNU Tegal - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengajak masyarakat untuk mengingat kembali tiga pesan Rasulullah SAW kepada umatnya. Kang Said mengimbau masyarakat agar tidak terjerumus pada tiga godaan ini.

“Kalau kita lihat, ada tiga pesan atau peringatan Rasulullah yang harus kita perhatikan. Pertama, hati-hati fitnah perempuan. banyak orang yang berduit terkena fitnahnya perempuan,” kata Kang Said dalam pertemuannya dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (29/2) siang.

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW

Pesan kedua dari Rasulullah SAW, kata Kang Said, adalah menjaga nafsu terkait batas kepemilikan tanah. Rasulullah SAW sangat marah saat Beliau mengetahui ada sahabat yang memindahkan batas tanahnya walau hanya beberapa meter.

IPNU Tegal

Ketiga, jual beli emas dengan emas atau uang dengan uang. Nabi SAW melarang akad jual-beli karena yang demikian itu haram. Yang ketiga inilah yang menjadi tantangan kita untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah agar bebas dari riba dan haram.

“Kalau semata-mata uang ditaruh di bank kemudian dibiarkan tidur begitu saja berbulan-bulan bahkan bertahun tahun, itu yang haram. Kalau mudharabah, musyarakah, dan murabahah itu sebuah jalan keluar yang baik dan harus terus kita kembangkan,” ujar Kang Said. (Ahmad Muchlishon/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sejarah, Nahdlatul Ulama, Syariah IPNU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Sambut Hari Santri, JQHNU Sumedang Gelar Semaan Al-Quran 30 Juz

Sumedang, IPNU Tegal. Beberapa hari menjelang Hari Santri Nasional (HSN), Pimpinan Cabang (PC) Jamiyyatul Qurra wal Hufaz (JQH) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat mengadakan semaan Al-Quran 30 Juz yang bertempat di Masjid Agung Sumedang, Kamis (19/10) malam. Semaan Al-Quran ini dimulai bakda isya dan direncanakan khatam jumat sore bakda asar. 

Sambut Hari Santri, JQHNU Sumedang Gelar Semaan Al-Quran 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, JQHNU Sumedang Gelar Semaan Al-Quran 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri, JQHNU Sumedang Gelar Semaan Al-Quran 30 Juz

Kegiatan semaan tersebut dipimpin langsung oleh para pengurus PC JQHNU Sumedang dan dihadiri oleh masyarakat dan santri-santriwati dari berbagai pesantren yang ada di Sumedang. 

Ketua PC JQH NU Sumedang, Ahmad Jauharudin, mengatakan bahwa simaan Al-Quran ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional yang dilaksanakan oleh PCNU Sumedang. Selain itu dengan digelarnya simaan Al-Quran 30 juz ini, kami turut memasyarakatkan Al-Quran sekaligus mengajak masyarakat untuk mencintai Al-Quran dan mempelajarinya.

Ahmad Jauharudin juga mengharapkan semoga semua rangkaian kegiatan HSN tahun ini dapat menjadi daya tarik masyarakat untuk terus bersemangat dalam menjaga keutuhan NKRI, bersemangat untuk menjadi santri yang mempelajari Islam yang Kaffah, Islam yang berlandasan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. 

IPNU Tegal

Sementara itu, ketua panitia peringatan Hari Santri Nasional Kabupaten Sumedang, Acep Komarudin Hidayat, mengatakan bahwa semaan Al-Quran merupakan kegiatan pertama dalam rangkaian kegiatan yang direncanakan oleh panitia HSN.

Semuanya ada tujuh kegiatan. Di antaranya ada halaqah, ziarah, dzikir, upacara HSN, kirab, dan penampilan panggung kreasi seni santri. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sejarah, Nusantara IPNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Inilah Pesan Wabup Lombok Tengah di Hadapan 2000 Warga NU

Lombok Tengah, IPNU Tegal. Sedikitnya 2.000 warga Nahdliyin memadati halaman Pondok Pesantren At Tamimy, Bransak, Praya, Lombok Tengah asuhan Rais Syuriyah PWNU NTB, TGH. Lalu Ahmad Khairi Adnan untuk mengikuti Istighotsah dan Sholawatan Akbar, Ahad (15/5) malam.?

Ketua Tanfidziyah PCNU Lombok Tengah, Lalu Fathul Bahri menyampaikan agar seluruh sekolah di lingkungan LP Maarif NU memasukkan Aswaja sebagai salah satu mata pelajaran agar kader muda NU memahami Islam Ahlussunnah Wal Jamaah sejak dini. Di samping itu, ia juga menekankan pendidikan berkarakter harus dikedepankan dengan pembiasaan berdoa untuk orang tua dan guru sebelum dan sesudah belajar. “Hal itu sangat penting untuk mendidik generasi masa depan yang bertakwa, beriman, dan mampu menghindari pengaruh radikalisme, dan kemerosotan moral lainnya,” kata Lalu? Fathul Bahri? yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Lombok Tengah.

Dalam kesempatan itu, ia juga meminta warga NU mendukung penuh penyelenggaraan MTQ Tingkat Nasional? untuk cabang Tilawah tingkat Remaja dan Anak-anak? yang akan berlangsung di Lombok Tengah pada akhir bulan Juli mendatang.?

Inilah Pesan Wabup Lombok Tengah di Hadapan 2000 Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Pesan Wabup Lombok Tengah di Hadapan 2000 Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Pesan Wabup Lombok Tengah di Hadapan 2000 Warga NU

Sementara terkait banyaknya destinasi wisata yang sangat bernilai bagi Kabupaten Lombok Tengah, dirinya mengharapkan agar warga NU turut berpartisipasi aktif dalam menjaga keamanan.?

Pada kesempatan yang sama, Rais Syuriyah PCNU Lombok Tengah, TGH. Makrif Makmun Diranse menyampaikan pentingnya menjaga keutuhan Negara. Menurutnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final, dan bagi NU hal itu adalah harga mati, dan tak ada pihak yang boleh mengganggu keutuhan bangsa. Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa pengurus NU mendatang harus fokus melaksanakan program keagamaan di antaranya pembinaan dan pengembangan majlis taklim, mengaktifkan Bahtsul Masail, Lailatul Ijtima, dan pembacaan (Qiraah) Bukhori.

Istighotsah dan Shalawatan Akbar ? tersebut dilaksanakaan dalam rangka pengenalan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lombok Tengah Masa Khidmat 2016-2021, sekaligus untuk pelepasan jamaah umrah dan tasyakuran kelulusan santri. Pembacaan Istighotsah dan Shalawat dipimpin oleh Wakil Rais PCNU Lombok Tengah, TGH. Sabaruddin Abdurrahman (Qori Terbaik 3 MTQ Internasional di Iran Tahun 2013) dan Katib Syuriah, TGH. L. Muhammad Tamim. Pembacaan Doa-doa dipimpin oleh Rais Syuriyah PWNU NTB, TGH. L. Ahmad Khairi Adnan) dan Rais Syuriyah PCNU Lombok Tengah, TGH. Makrif Makmun Diranse. (Lalu Rupawan Jhoni/Zunus)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal PonPes, AlaSantri, Sejarah IPNU Tegal

Selasa, 21 November 2017

Muslim NY Inginkan Pesantren dI Aceh Diperkuat

New York, IPNU Tegal
Kalangan muslim di New York mengharapkan pesantren-pesantren ataupun yayasan-yayasan Islam di Nanggroe Aceh Darussalam perlu diperkuat, terutama dalam pendanaan sehingga mereka juga mampu menampung lebih banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya.

Dalam suatu pertemuan untuk membahas bencana tsunami Asia di New York, Jumat, sejumlah perwakilan organisasi muslim seperti Islamic Centre of New York, Muslim Student Asociation (MSA), dan komunitas-komunits muslim di kota tersebut menyatakan cemas dengan masa depan anak-anak Muslim di Aceh.

Keprihatinan tersebut ditambah lagi dengan kabar bahwa sejumlah anak telah dibawa keluar Aceh oleh orang yang tidak dikenal, bahkan ada dugaan menjadi korban eksploitasi. "Kami cukup prihatin dengan banyaknya anak di Aceh yang menjadi yatim piatu," kata Ketua Islamic Center of New York, Shamsi Ali dalam pertemuan tersebut, seperti dikutip ANTARA.

Masyakarat Muslim di New York, katanya, saat ini terus melakukan penggalangan dana yang antara lain akan disalurkan bagi organisasi yang menyantuni anak-anak yatim piatu tersebut. Shamsi Ali sendiri pekan ini merencanakan akan ke Aceh untuk membawa sumbangan dari komunitas Muslim New York dan menemui sejumlah yayasan yang siap menampung dan mendidik anak-anak korban
tsunami tersebut.

"Kami ingin yayasan Islam itu memiliki kemampuan, dan kami di New York siap untuk memberi dukungan dana," kata Shamsi. Ia juga mendukung sikap Pemerintah RI yang melarang anak-anak yatim piatu Aceh dibawa keluar Aceh, dan ketetapan bahwa anak Muslim harus diadopsi oleh keluarga Muslim juga dengan sejumlah persyaratan.

Kalangan Muslim di New York juga merencanakan suatu penggalangan dana besar-besaran pada 13 Februari mendatang untuk korban tsunami tersebut. Sementara ini dari komunitas Muslim New York sudah terkumpul dana lebih dari 100.000 dolar AS untuk Aceh. (cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sejarah, Lomba IPNU Tegal

Muslim NY Inginkan Pesantren dI Aceh Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim NY Inginkan Pesantren dI Aceh Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim NY Inginkan Pesantren dI Aceh Diperkuat

Kamis, 16 November 2017

LAZIS NU-Extra Joss Kembali Tebar Qurban 1 Milyar

Jakarta, IPNU Tegal. Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (LAZIS) NU kembali bekerjasama dengan produsen minuman suplemen Extra Joss menebarkan qurban sebesar 1 Milyar, yang dibelikan sapi sebanyak 56 ekor.

LAZIS NU-Extra Joss Kembali Tebar Qurban 1 Milyar (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZIS NU-Extra Joss Kembali Tebar Qurban 1 Milyar (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZIS NU-Extra Joss Kembali Tebar Qurban 1 Milyar

Seremoni penyerahan hewan Qurban dilakukan di halaman gedung PBNU oleh perwakilan Extra Joss Simon Gunawan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ahad (13/10).

Simon menegaskan, qurban dengan menyembelih sapi dan membagikan kepada orang yang membutuhkan merupakan salah satu bentuk iman dan apa yang dilakukan merupakan tindakan nyata, yang bermanfaat kepada orang lain.

IPNU Tegal

Secara berseloroh, ia mengatakan, berkeinginan menjadikan Kiai Said iklan obat masuk angin bintang tujuh, yang masih satu perusahaan dengan Extra Joss, karena orang NU merupakan orang yang paling bejo.

Kiai Said Aqil menegaskan, qurban merupakan kewajiban bagi yang mampu. Ia menguraikan cerita dibalik munculnya tradisi qurban ini, yang berasal dari nabi Ibrahim, yang dalam bahasa Ibrani artinya bapaknya umat.

IPNU Tegal

Ibrahim merupakan seorang pengelana. Bersama keluarganya, ia menyeberangi sungai Jordan. Disinilah awal kata bangsa Ibrani, yang artinya penyeberang yang sukses.

Sayangnya, istri pertama Ibrahim mandul, sehingga Nabi Ibrahim menikah kembali dengan Sarah dari Mesir, yang kemudian hamil dan melahirkan seorang bayi bersama Ismail, yang artinya merupakan orang yang mendengar panggilan tuhan, 

Atas perintah tuhan untuk menghindari rasa cemburu dengan istri pertama, Sarah diajak pergi ke selatan di suatu daerah yang saat itu belum pernah dihuni oleh siapapun. Baru tiba mengantarkan istrinya, Nabi Ibrahim sudah dipanggil kembali oleh Allah untuk pergi ke utara, di tempat istrinya yang pertama. Ismail, yang kehausan menangis keras, sehingga ibunya berlari antara Sofa dan Marwa untuk mencari air sampai tujuh kali, dan akhirnya muncullah air zam-zam yang masih mengalir sampai sekarang.

Setelah adanya air itulah, mulai ada kehidupan dan menurunkan bangsa Arab.

Lalu, setelah kembali ke istri pertama, istrinya mulai hamil dan totalnya memiliki 12 orang anak yang kemudian menurunkan bangsa Yahudi.

“Jadi antara bangsa Arab dan Yahudi sebenarnya bersaudara,” katanya.

Suatu ketika, Ibrahim kangen anaknya, Ismail yang saat itu telah berusia 9 tahun. Baru saja berjumla, turun turun perintah agar Ibrahim mengorbankan anaknya sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah. Siap menjalankan perintah tuhan, berangkatkah ke gunung dan ketika sudah siap di embelih, jibril datang, dan menggantikannya dengan kambing, “Engkau telah lulus ujian dan diterima pahalanya, tapi sembelihannya diganti kambing.”

Dalam konteks zaman Nabi Muhammad, ketika berhijrah di Madinah, Nabi Muhammad menerima laporan dari masyarakat Madinah bahwa mereka selalu mengadakan perayaan setiap tahun selama dua kali, yang akhirnya dilakukan proses Islamisasi budaya tersebut, menjadi Idul Fitri dan Idul Adha. “Artinya, agama menyatu dengan budaya, diganti takbiran saja dan potong qurban.”

Jika dalam kerjasama sebelumnya, uang satu milyar bisa dibelikan sapi sebanyak 100 ekor, tahun ini, dengan jumlah uang  yang sama, hanya diperoleh 56 ekor karena harga sapi semakin mahal.

Qurban ini akan disebarkan ke seluruh Indonesia, terutama daerah-daerah yang paling membutuhkan. “Melalui NU, jangan khawatir, sedekah, infak dan sedekah, pasti akan sampai pada yang berhak,” kata Kiai Said. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh, Sejarah, Hikmah IPNU Tegal

Minggu, 24 September 2017

Ansor Garut Polisikan Oknum Ketua Partai

Garut, IPNU Tegal - Lagi-lagi unggahan di media sosial berujung di kepolisian. Kali ini, seorang oknum ketua partai di Kabupaten Garut dilaporkan Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten setempat ke Mapolres Garut, Rabu (24/5).

Wakil Ketua GP Ansor Heri dan Cucu Rusman serta Wakil Sekretaris Idham Kholid dan Regi Firmansyah diterima Kasat Intelkam Polres Garut, AKP Saifullah. Di sana GP Ansor menyampaikan, kedatangan mereka ke Polres Garut untuk berkoordinasi sekaligus melaporkan adanya ketua partai yang melakukan pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj serta institusi Banser.

Ansor Garut Polisikan Oknum Ketua Partai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Garut Polisikan Oknum Ketua Partai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Garut Polisikan Oknum Ketua Partai

"Kami ke Polres Garut untuk berkoordinasi sekaligus melaporkan. Sangat tidak pantas seorang ketua partai menyebarkan meme bernada fitnah, kebencian dan bisa menimbulkan pertentangan antarmasyarakat," kata Wakil Ketua GP Ansor Garut, Ang Heri melalui sambungan telepon.

Menurut Heri, ketua partai dengan inisial HM itu menyebarkan konten dimaksud di grup WhatsApp (WA) Pilkada Garut 2018. Di dalam grup WA tersebut ada sejumlah ketua partai lain, termasuk ormas, organisasi kepemudaan, dan aktivis.

IPNU Tegal

"Dalam gambar dikatakan, Kiai Said, Kapolri, dan Banser sebagai pihak yang melakukan kriminalisasi ulama dan habaib. Termasuk tudingan (atas) PKI. Terhadap apa yang menimpa Rizieq Shihab kali ini, karena di belakangnya ada (peran) PKI," ujarnya.

IPNU Tegal

Untuk itu, GP Ansor berpandangan sangat tidak lucu seorang ketua partai menyebarkan meme yang bisa menimbulkan pertentangan antar kelompok masyarakat. "Maka mengantisipasi ada reaksi lebih luas dari masyarakat, terutama warga NU, kami mengambil sikap tegas dengan menempuh jalur hukum," ucap Heri. (Nurjani/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Meme Islam, Sejarah, RMI NU IPNU Tegal

Kamis, 21 September 2017

Toleransi Hasan Bashri Bertetangga Nasrani

Kekaguman para sahabat dan murid-muridnya tak menggetarkan pribadi Hasan al-Bashri untuk tetap hidup penuh kesederhanaan. Di rumah susun yang tidak terlalu besar ia tinggal bersama istri tercinta. Di bagian atas adalah tempat tinggal seorang Nasrani. Kehidupan berumah tangga dan bertetangga mengalir tenang dan harmonis meski diliputi kekurangan menurut ukuran duniawi.

Di dalam kamar Hasan al-Bashri selalu terlihat ember kecil penampung tetesan air dari atap kamarnya. Istrinya memang sengaja memasangnya atas permintaan Hasan al-Bashri agar tetesan tak meluber. Hasan al-Bashri rutin mengganti ember itu tiap kali penuh dan sesekali mengelap sisa percikan yang sempat membasahi ubin.?

Toleransi Hasan Bashri Bertetangga Nasrani (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi Hasan Bashri Bertetangga Nasrani (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi Hasan Bashri Bertetangga Nasrani

Hasan al-Bashri tak pernah berniat memperbaiki atap itu. “Kita tak boleh mengusik tetangga,” dalihnya.

IPNU Tegal

Jika dirunut, atap kamar Hasan al-Bashri tak lain merupakan ubin kamar mandi seorang Nasrani, tetangganya. Karena ada kerusakan, air kencing dan kotoran merembes ke dalam kamar Sang Imam ? tanpa mengikuti saluran yang tersedia.

Tetangga Nasrani itu tak bereaksi apa-apa tentang kejadian ini karena Hasan al-Bashri sendiri belum pernah mengabarinya. Hingga suatu ketika si tetangga menjenguk Hasan al-Bashri yang tengah sakit dan menyaksikan sendiri cairan najis kamar mandinya menimpa ruangan Hasan Al-Bashri.

IPNU Tegal

“Imam, sejak kapan engkau bersabar dengan semua ini,” tetangga Nasrani tampak menyesal.

Hasan al-Bashri hanya terdiam memandang, sambil melempar senyum pendek.

Merasa tak ada jawaban tetangga Nasrani pun setengah mendesak. “Tolong katakan dengan jujur, wahai Imam. Ini demi melegakan hati kami.”

Dengan suara berat Hasan al-Bashri pun menimpali, “Dua puluh tahun yang lalu.”

“Lantas mengapa engkau tidak memberitahuku?”

“Memuliakan tetangga adalah hal yang wajib. Nabi kami mengajaran, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangga’. Anda adalah tetangga saya,” tukasnya lirih.

Tetangga Nasrani itu seketika mengucapkan dua kalimat syahadat. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Sejarah IPNU Tegal

Jumat, 11 Agustus 2017

Mbah Suyuthi, Kiai Kampung yang Rendah Hati

Pati, IPNU Tegal. Almaghfurlah KH Ahmad Suyuthi merupakan sosok kiai yang alim tetapi rendah hati. Kontribusinya dalam forum Sidang Syuriah Bulanan di pendopo maqbaroh Syeikh KH Ahmad Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, diakui para ulama dan tokoh masyarakat. Khususnya ketika PCNU dipimpin oleh sahabat karibnya, KH Suyuthi Abdul Qodir, Pendiri Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan.

Mbah Suyuthi, Kiai Kampung yang Rendah Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Suyuthi, Kiai Kampung yang Rendah Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Suyuthi, Kiai Kampung yang Rendah Hati

Katib Syuriah KH Abdul Hadi Kurdi menceritakan hal tersebut kepada IPNU Tegal usai pengajian dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul KH Ahmad Suyuthi ke-27 di Masjid Sabilal Muhtadin Langgenharjo-Margoyoso-Pati, (19/1) Ahad malam. Dalam perjalanan menggunakan mobil panitia menuju kediamannya, Kiai Hadi menceritakan sekelumit cerita tentang peran Mbah Suyuthi di ormas Nahdlatul Ulama.

“Ketika saya ditunjuk Kiai Suyuthi Guyangan menjadi Katib Syuriah pada tahun 1978, waktu itu saya masih lajang, saya sering satu majlis dengan Kiai Suyuthi Langgen. Beliau sangat aktif saat sidang syuriah di Kajen,” ujar Kiai Hadi mengawali ceritanya.

IPNU Tegal

Menurutnya, Mbah Suyuthi merupakan salah satu kiai kampung yang bersahaja dan kharismatik. Senada dengan Kiai Hadi, salah seorang santri yang kini menjadi guru senior di Guyangan, Kiai Muhammad Salim, menyatakan bahwa penguasaan Mbah Suyuthi terhadap kitab kuning sangat mumpuni. “Kiai Suyuthi itu orang alim. Beliau itu ‘macan’ bagi masyarakat Langgen dan sekitarnya,” ujar Kiai Salim suatu ketika.

Ada cerita menarik tentang Mbah Suyuthi dari putranya yang kelima, Kiai Moh Asrori (67). Suyuthi muda awalnya menimba ilmu kepada KH Syamsul Hadi di daerah Pati selatan, tepatnya di Desa Sumberejo Kecamatan Jaken, 25 kilometer tenggara kota Pati. Karena kecerdasannya, oleh sang guru Suyuthi disarankan melanjutkan ngaji kepada Hadratusy Syaikh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng. Di sana, Suyuthi Langgen berjumpa Suyuthi Guyangan.

IPNU Tegal

Anehnya, lanjut Asrori, Mbah Suyuthi kembali mondok lagi di Sumberejo, tempat pertamanya menuntut ilmu. Suatu ketika, usai ngaji kitab di serambi masjid, Mbah Syamsul Hadi yang ketika mengajar ngaji kerap membawa serta putri pertamanya, Sholihati. Mbah Syamsul lalu bertanya kepada Sholihati yang duduk di pangkuannya. “Nduk, siapa yang kamu pilih sebagai calon suamimu?” Sholihati yang masih kecil dan lugu tiba-tiba mengarahkan jari telunjuk mungilnya tepat ke arah Suyuthi muda.

Singkat cerita, pernikahan antara Suyuthi dan Sholihati yang saat itu berusia 9 tahun pun dilaksanakan. Meski demikian, Suyuthi tetap melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke beberapa pesantren di Rembang dan Jombang. Sholihati kecil dengan setia menunggu kedatangan sang suami dengan menyimpan telur ayam untuk bekal kembali ke pondok. Hal ini dilakukannya untuk membantu meringankan sang suami dalam mencari ilmu.

Setelah Nyai Sholihati cukup usia untuk diajak membangun rumah tangga, diboyonglah sang istri menuju kampung halamannya di Langgenharjo usai boyongan dari pesantren. Hal ini dilakukan Mbah Suyuthi setelah dipanggil pulang kedua kakaknya, Haji Abdus Shomad dan Haji Markhaban, untuk menyebarkan agama Islam. Pasalnya, kakak pertama yang menjabat petinggi desa (birokrat) dan kakak kedua yang anggota militer itu bersepakat jika sang adik bungsu menjadi tokoh agama di kampungnya.

Dari pernikahannya dengan Nyai Sholihati, Mbah Suyuthi dikaruniai delapan orang putra dan putri: Moh Ma’shum, Ummi Kaltsum, Asiyah, Romlah, Moh Asrori, Moh Asyhari, Moh Asy’ari, dan Moh Masykuri. “Yang saya tidak habis pikir, kenapa bapak tidak mendirikan pesantren. Padahal, kealiman beliau sangat diakui. Peninggalan beliau itu ya masjid Langgen yang kini telah direhab total itu,” ujar Kiai Asrori.

Ketika ditanya mengapa Mbah Suyuthi tidak mendirikan pesantren sebagaimana sahabat karibnya, KH Suyuthi AQ, yang mendirikan Pesantren Raudlatul Ulum di Guyangan, Asrori menjawab bahwa Mbah Suyuthi merasa tidak layak membangun pesantren lantaran sudah ada di Guyangan dan Kajen. Rasa ta’dzimnya kepada KH Suyuthi Guyangan dan KH Abdullah Salam Kajen membuat Mbah Suyuthi menempuh jalan lain.

Meski demikian, lanjut bapak lima anak ini, Mbah Suyuthi menekankan kepada anak cucunya untuk rajin mengaji dan belajar agar bisa berkhidmat kepada masyarakat. Jalan khidmat itu, bagi Mbah Suyuthi sebagaimana dikutip Asrori, tidak hanya melalui pesantren. Tetapi bisa juga melalui masjid, madrasah, atau lembaga pendidikan lainnya.

Di akhir penelusuran sejarah perjuangan Mbah Suyuthi dalam ngemong masyarakat inilah Wakil Rais Syuriah PCNU Pati KH Abdul Hadi secara khusus berpesan agar anak cucu ulama yang wafat akhir tahun 1982 itu melanjutkan jalan spiritualnya yang sunyi. “Saya salut atas kesederhanaan dan sikap rendah hati beliau. Pesan saya, lanjutkan rintisan Kiai Suyuthi,” pungkasnya. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

 

Foto: Mbah Suyuthi dan Nyai Sholihati

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara, Pahlawan, Sejarah IPNU Tegal

Jumat, 28 Juli 2017

Habib Novel Ajak Jamaah Mengenal Sejarah NU

Solo, IPNU Tegal. Pengasuh Majelis Ta’lim Ar-Raudah Solo, Habib Novel Alaydrus mengajak untuk lebih mengenal Nahdlatul Ulama (NU) kepada ribuan jamaah yang hadir dalam acara Rijalul Ansor GP Ansor Solo yang digelar Selasa malam (21/5) lalu, di halaman Kantor PCNU Kota Surakarta.

Habib Novel Ajak Jamaah Mengenal Sejarah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Novel Ajak Jamaah Mengenal Sejarah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Novel Ajak Jamaah Mengenal Sejarah NU

“Sebagai orang NU mesti mengetahui sejarah berdirinya NU, apa lambangnya NU,” ungkapnya.

Memang selama ini menurutnya banyak dari warga NU sendiri yang belum mengetahui sejarah dan seluk-beluk tentang ke-NU-an. Ia berharap agar warga NU kemudian lebih mengenal organisasi yang didirikan oleh para ulama 90 tahun silam.

IPNU Tegal

Habib Novel juga mengajak para jamaah untuk segera melakukan pendataan sebagai ? anggota NU, “pendaftaran bisa langsung di Markas Majelis Ar-Raudah, setiap Jumat Malam,” imbuhnya.

Pada akhir acara diadakan pembagian santunan kepada anak Yatim. Acara Rijalul Ansor yang diselenggarakan Pengurus Cabang GP Ansor Solo ini rutin diadakan sebulan sekali setiap minggu ketiga. Acara ini, menurut Ketua Ansor Solo, M Anwar, bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan generasi muda indonesia sebagai kader tangguh, imtaq, kepribadian luhur, berakhlaq mulia, patriotik, dan beramal soleh.

IPNU Tegal

?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sejarah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock