Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Pelajar NU Jatilawang Berbagi Sembako dan Bershalawat

Banyumas, IPNU Tegal - Pengurus Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas menyelenggarakan serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Lahir Ke-62 IPNU dan Ke-61 IPPNU. Mereka mengawalinya berbagi sembako kepada masyarakat yang kurang mampu di Desa Karanglewas Kecamatan Jatilawang pada Ahad (06/3). Sementara pada Rabu (9/3) mereka menggelar shalawatan dan istighotsah untuk kelulusan UN SD/MI sederajat, SMP/MTS sederajat, dan SMA/SMA/MA sederajat.

Shalwatan dan istighotsah dipimpin olehKatib Syuriyah MWCNU Jatilawang Kiai Karimul Wafa. Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua IPNU Banyumas Sulistyo yang kemudian diberikan kepada Ketua IPNU Jatilawang Imam Edi Saputra.

Pelajar NU Jatilawang Berbagi Sembako dan Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jatilawang Berbagi Sembako dan Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jatilawang Berbagi Sembako dan Bershalawat

Imam Edi menjelaskan, Harlah Pelajar NU ini diharapkan dapat menjadikan tolok ukur untuk kader IPNU dan IPPNU ke depan untuk lebih sinergi mendukung serta mengembangkan ajaran-ajaran NU serta pengabdian kepada NKRI.

Disadari atau tidak, kaderisasi IPNU-IPPNU adalah pengkaderan paling awal bagi NU sebagai generasi penerus di masa mendatang.

IPNU Tegal

"Tujuan dilaksanakannya baksos dan istighotsah akbar ini adalah sebagai upaya memperkenalkan IPNU-IPPNU kepada masyarakat serta kader-kader baru untuk melatih pengurus betapa indahnya berbagi, juga doa bersama untuk menghadapi Ujian Nasional tingkat SD/MI sederajat, SMP/MTS sederajat, dan SMA/SMA/MA sederajat," katanya. (Imam Hidayat/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaSantri, Kajian Sunnah, Fragmen IPNU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Stand Staimafa Pamerkan Buku Karya Kiai Sahal

Jombang, IPNU Tegal. Dalam memeriahkan muktamar ke-33 NU, Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (Staimafa) yang diwakili dari dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Fiqih Sosial Intitut (FISI) ikut serta dalam memeriahkan muktamar dengan mendirikan stand yang dihiasi dengan beberapa buku karya KH Sahal Mahfudz dan buku-buku karya dosen Staimafa, Sabtu, (2/8).

Stand Staimafa Pamerkan Buku Karya Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Stand Staimafa Pamerkan Buku Karya Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Stand Staimafa Pamerkan Buku Karya Kiai Sahal

Keikutsertaan Muktamar ke-33 NU ini merupakan yang pertama kali diikuti oleh Staimafa. Selain mendirikan stand buku yang diwakili oleh tim FISI juga akan memeriahkan dengan rangkaian kegiatan bedah buku “Metodologi Fiqih Sosial dari Qouli Menuju Manhaji” yang dilaksanakan pada hari Ahad, (2/8), yang bertempat di Aula PP. Al-Aqobah 4, dengan Narasumber Dr. Abdul Moqsith Ghazali, M.Ag dan Dr. Jamal Makmur Asmani, MA,” kata Umdatul Baroroh selaku direktur FISI.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan dan menyampaikan kepada masyarakat dengan menampilkan buku-buku karya Kiai Sahal Mahfudz, (almaghfurlah) rais ‘aam (1999-2014) serta mengadakan bedah buku untuk mengetahui pemikiran Kiai Sahal tentang ilmu fiqih’.

IPNU Tegal

Selain itu, harapannya dengan adanya ajang lima tahunan ini, bisa menambah spirit dan motivasi kepada FISI agar ke depan untuk lebih berkarya dan bisa melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Kiai Sahal, tambahnya.? (Siswanto El Mafa/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Fragmen IPNU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Lezatnya Masjid Berbahan Intip

Solo,IPNU Tegal. Cara unik dilakukan oleh salah satu hotel di Kota Solo untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Pihak pengelola hotel membuat miniatur masjid yang terbuat dari jajanan khas Kota Solo, intip.

Lezatnya Masjid Berbahan Intip (Sumber Gambar : Nu Online)
Lezatnya Masjid Berbahan Intip (Sumber Gambar : Nu Online)

Lezatnya Masjid Berbahan Intip

Selain menggunakan panganan berbahan baku nasi tersebut, masjid berdimensi 2×1,5x 1 meter tersebut juga dibuat dari beberapa makanan ringan tradisional lainnya seperti

rengginang dan keripik pisang.

Executive Chef hotel tersebut, Topan Noer menjelaskan, untuk membangun miniatur masjid tersebut, menghabiskan 15 kilogram intip, 3-5 kilogram kurma, 2-3 kilogram kismis serta dark coklat.

IPNU Tegal

“Miniatur masjid ini terinsipirasi bangunan masjid di Yordania yang terbuat dari bongkahan batu yang jika dilihat dari dekat pada dindingnya akan terlihat tekstur batu yang tidak beraturan,” terangnya, Jumat (27/6).

IPNU Tegal

Topan memaparkan alasan penggunaan makanan tradisional untuk membuat miniatur masjid tersebut, yakni untuk melestarikan kuliner Indonesia dan juga mengenalkan panganan khas Solo.

“Apalagi, mayoritas tamu yang menginap di sini berasal dari luar kota. Karena itu, kita juga sediakan contoh makanan yang kita gunakan untuk bisa dicicip,” ungkap Topan.

(Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sunnah, Pendidikan, Fragmen IPNU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan

Cilacap, IPNU Tegal. Bulan Ramadhan selalu mendapat tempat yang istimewa di hati umat Islam. Hampir semua kegiatan positif dilakukan di bulan ini, Tak terkecuali bagi Pengurus Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Gandrungmangu Cilacap Jateng.

Di sepertiga terahir Ramadhan ini, mereka menyelenggarakan “Pesantren Ramadhan” dengan tema Mencari Berkah di Bulan Penuh Hikmah.

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU–IPPNU Gandrungmangu Adakan Pesantren Ramadhan

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Sekolah MI Ma’arif I Muktisari Kecamatan Gandrungmangu. Pesantren Ramadhan ini diikuti oleh lebih dari 200 santri, yang merupakan delegasi 14 Ranting dan 8 komisariat. Acara tersebut diselenggarakan selama dua hari, sejak Sabtu pagi (3/8) sampai Ahad sore (4/8), bertepatan dengan 25-26 Ramadhan 1434 H.

IPNU Tegal

Para Santri Pesantren Ramadhan ini diberi pengetahuan tentang aswaja, keorganisasian, kepemimpinan, kesehatan remaja, dan diklat da’i- da’iyah.

IPNU Tegal

“Pesantren Ramadhan berguna untuk menambah pengetahuan agama bagi kader, sekaligus ajang silaturahim,“ ujar M Ali Mahfudz, ketua PAC IPNU setempat.

Hal ini senada juga diamini oleh Ulun Najah, ketua IPPNU Gandrungmangu. Selain hal tersebut di atas, pengetahuan seperti kesehatan remaja juga penting diketahuai oleh kader. Pengetahuan semacam ini jarang diberikan di kegiatan sejenis. Sabtu malam juga akan dilaksanakan lailatul ijtima’ dan sholat tarawih bersama.

Kegiatan ini merupakan hasil kerja perdana masa kepengurusan PAC IPNU–IPPNU yang baru saja dilantik pada bulan Juni 2013.

 

Kegiatan ini dibuka oleh KH Tabingan SQ selaku Ketua Tanfidziyah MWC NU Kec. Gandrungmangu dan rencananya akan ditutup oleh Rais Syuriyah, K. Ngadziman.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kyai, Fragmen, Sholawat IPNU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Menag RI: Pemblokiran Situs Radikal Jangan Salah Sasar

Jakarta, IPNU Tegal. Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin menyatakan bahwa perlu adanya batasan yang jelas perihal “radikal”. Kalau tidak ada ketentuan, pemblokiran terhadap situs-situs agama yang dianggap menyebarkan paham radikalisme tidak menutup kemungkinan akan menyasar pada situs institusi pendidikan Islam yang sama sekali aman dari radikalisme.

Demikian komentar Menteri Agama RI menanggapi pemblokiran situs-situs radikal atas nama agama oleh Kemenkominfo atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui akun twitternya.

Menag RI: Pemblokiran Situs Radikal Jangan Salah Sasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag RI: Pemblokiran Situs Radikal Jangan Salah Sasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag RI: Pemblokiran Situs Radikal Jangan Salah Sasar

H Lukman menyayangkan pemblokiran situs tanpa kejelasan batas “radikal” baik dari Kemenkominfo juga BNPT.

IPNU Tegal

“Penjelasan resmi dari BNPT itu diperlukan agar masyarakat mengetahui definisi dan batasan "radikal" itu seperti apa,” kata Lukman dalam akun twitternya.

IPNU Tegal

Ia juga menyatakan bahwa pihak Kemenag RI tidak terlibat sama sekali dalam proses pemblokiran situs-situs tersebut.

Di lain kesempatan, Menteri Dalam Negeri RI Tjahjo Kumolo menyatakan keberatan atas pemblokiran situs itu. Menurut Tjahjo, pendekatan pemerintah mesti berhati-hati dalam menangani penyebaran paham terorisme. Sementara untuk situs porno, Tjahjo menyatakan sepakat untuk menutup.

Menurut Tjahjo demikian rilis yang dikeluarkan Bidang Pemberitaan dan Media Visual DPD RI, pola deradikalisasi bisa dilakukan melalui sosialisasi dan komunikasi dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan atau persyarikatan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah.

"ISIS memang mengkhawatirkan, tapi kita jangan terjebak istilah IS. Sedang dicari pola penanganannya agar jangan masuk ke generasi muda," kata Tjahjo dalam rapat kerja Komite I DPD RI dengan Kemdagri yang membahas program strategis kementerian di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen IPNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Banyak gambar dan postingan di media sosial seputar kejadian runtuhnya alat berat (crane) yang tengah mengerjakan perluasan Masjidil Haram. Musibah yang terjadi Jumat (11/9) jelang Maghrib tersebut akhirnya merenggut 11 nyawa jamaah dari Indonesia. Puluhan korban luka tengah dirawat di rumah sakit setempat.

Bagaimana suasana sebelum dan sesudah kejadian? Berikut catatan dari H Nur Hidayat, salah seorang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia atau TPIHI yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jatim. Ia melaporkan ? dari penginapan atau maktab jamaah haji di kawasan Misfalah.

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Senin (7/9) dinihari, calon jamaah haji Kloter SUB 14 memasuki Kota Suci Makkah. Kelompok penerbangan atau kloter yang terdiri dari 450 orang jamaah dari Kabupaten Jombang ini menempati pemondokan Nomor 902, di sektor IX. Tepatnya di Hotel Jauharot Adham, yang berjarak sekitar 1.125 meter dari Masjidil Haram. Di hotel ini, jamaah kloter SUB 14 tinggal bersama dengan kloter SUB 05 SUB, JKS 25 dan sebagian jamaah kloter BTH 17.

Melalui "jalur tikus", jamaah yang menghuni Hotel Jauharot Adham dapat memperpendek jarak tempuh ke Masjidil Haram menjadi sekitar 750 meter. Karena itu, hampir semua jamaah yang masih berusia di bawah 60 tahun dan kondisinya sedang fit selalu berusaha melaksanakan shalat fardlu di Masjidil Haram. Adapun jamaah yang lansia dan kurang sehat, biasa melaksanakan di mushalla berkapasitas sekitar 500 di hotel setempat.

IPNU Tegal

Usai melaksanakan umrah wajib pada Senin dinihari hingga pagi, sebagian jamaah kloter SUB 14 pun mulai mencuci kain ihram dan pakaian yang sudah kotor. Selasa pagi adalah "hari mencuci berjamaah", usai menghilangkan kepenatan akibat perjalanan Madinah-Makkah yang memakan waktu hingga hampir 12 jam dan menunaikan umrah wajib.

Menerima pertanda

IPNU Tegal

Keesokan harinya, Selasa (8/9) sore, sekitar pukul 17:10 WAS, Nanik Kusyani (37), seorang jamaah kloter SUB 14, mengirimkan pemberitahuan melalui grup WhatsApp Ketua Regu dan Rombongan, agar jamaah yang memiliki jemuran segera mengambil jemurannya. "Angin sore ini sangat kencang, hingga banyak pakaian jamaah yang beterbangan dan terjatuh dari tempat jemuran," pesannya.

Sebagian jamaah di pemondokan 902 sempat agak kalut sore itu. Sebab, beberapa orang mengatakan ada badai pasir yang sedang berlangsung dan meminta jamaah untuk turun ke lobi hotel. Tapi, angin kencang Selasa sore itu sebenarnya tidak seberapa terasa dibandingkan apa yang terjadi pada Jumat (11/9) petang, yang berujung petaka jatuhnya (atau lebih tepatnya: terjungkal) mobile crane di proyek perluasan Masjidil Haram.

Karena itu, ketika Kamis (10/9) malam ada teman karib yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta menanyakan kabar dan berusaha mengonfirmasi kebenaran video badai pasir Jeddah yang beredar di media sosial, saya hanya menjawab santai. Pasalnya, saya kebetulan menyanggong jamaah yang kembali dari Masjidil Haram untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya di lobi hotel. Setiap saya tanya, rata-rata jamaah menjawab santai dan tidak ada kondisi yang mengejutkan. "Mboten wonten nopo-nopo, cuma radi gerimis kolowau (Tidak ada apa-apa. Cuma memang tadi agak gerimis)," kata M Syaikhu Amirulloh (43), salah seorang jamaah yang baru pulang dari Masjidil Haram.

Kepada teman karib tersebut, saya menjawab, "Sejak akhir Agustus, memang beberapa kali ada badai gurun." Ya, maskapai Saudia Airlines juga sempat menunda beberapa jam penerbangan haji karena badai pasir, termasuk keberangkatan kloter SUB 13 yang berisi jamaah dari Kabupaten Jember. Tapi, sepertinya itu sesuatu yang biasa di sini. Buktinya, di video badai pasir Jeddah yang beredar, kendaraan penumpang yang merekam badai pasir tersebut tetap melaju dengan santai sambil menyalakan lampu hazard. "Mungkin hal itu menjadi sesuatu bagi orang Indonesia," jawab saya dalam pesan WA pada Kamis (10/9) pukul 19.46 WAS.

Tapi, semuanya berubah pada Jumat (11/9) petang itu. Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan ketika menyaksikan badai pasir disusul hujan yang datang secara tiba-tiba, sekitar pukul 17:15 WAS. Saat itu, calon jamaah haji di pemondokan 902 sedang bersiap melaksanakan Shalat Maghrib di Masjidil Haram.

Awalnya, saya berencana mengajak Mbah Karnadi (75), seorang jamaah lansia berangkat ke Masjidil Haram bersama-sama. Ketika akan mengambil sajadah, saya melihat gumpalan pasir yang terbawa angin dari jendela kamar di lantai 7. Menyadari potensi bahaya yang muncul, pukul 17:24 saya segera mengirimkan pesan singkat ke grup Ketua Regu dan Rombongan Kloter SUB 14, "Alert!!! Hujan Badai... Mohon tidak usah ke Masjidil Haram!".

Setelah itu, saya segera menuju lobi hotel untuk memastikan tidak ada jamaah yang memaksakan diri berangkat ke Masjidil Haram. Selebihnya, saya berusaha merekam momen langka tersebut dengan kamera video telepon seluler. Hujan deras disertai angin kencang yang berlangsung sekitar 30 menitan itu, merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Makkah.

Abdurrahman (51), petugas kebersihan hotel asal Bangladesh yang sudah lima tahun bekerja di Makkah juga sibuk merekam momen langka itu dengan kamera video di telepon selulernya. Ketika saya tanya apakah hujan seperti ini sering terjadi, ia menjawab hal itu jarang terjadi. Dahsyatnya hujan dan angin yang menerpa, sampai harus membuat petugas hotel mematikan sensor pintu otomatis yang menjadi akses keluar masuk jamaah.

Tidak berselang lama, Faisol Adib (34) warga Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang baru turun ke lobi hotel bercerita, menyaksikan sebuah crane yang patah dan terjungkal karena terpaan angin. Faisol dan istrinya, Aisyah Muniroh (27), yang tinggal di lantai 11, menduga yang patah dan terjungkal itu adalah crane proyek pembangunan di sekitar Masjidil Haram.

Usai Shalat Maghrib berjamaah di mushalla hotel, saya segera menemui beberapa jamaah untuk menghimbau agar mereka tidak berangkat ke Masjidil Haram, hingga cuaca stabil. Tetapi, saya tidak menduga bahwa cerita Faisol tentang crane patah dan terjungkal itu terjadi di sekitar mathaf (area thawaf) dan memakan puluhan korban jiwa. Saat memasuki kamar, Susanto Slamet (31), salah satu anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), menunjukkan tiga foto yang diterimanya dari anggota TKHI yang sedang berada di Masjidil Haram. Saat itu, saya baru menyadari bahwa suara sirine yang bergema di sekitar maktab kami sejak hujan mereda ternyata sedang mengevakuasi jamaah yang meninggal dan terluka.

Sontak, saya segera menyalakan televisi, untuk menyaksikan berita di saluran televisi Al-Arabiya. Sekitar pukul 20.00 WAS, Al-Arabiya melaporkan data 62 jamaah yang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka akibat tertimpa crane proyek perluasan Masjidil Haram tersebut. Saya pun segera menemui salah satu pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang sudah mengagendakan untuk umrah sunnah malam itu.

Fatimatuz Zahro (51), pimpinan KBIH Al-Kautsar yang mengagendakan umrah sunnah untuk sekitar 324 orang jamaah malam itu, menjawab santai ketika saya minta menunda kegiatannya. Fatimah berada di Mushalla Nisa (tempat shalat khusus perempuan, berlokasi di sekitar pintu 84 Masjidil Haram) saat kejadian berlangsung menjelang Maghrib. Dia bercerita melihat beberapa petugas mengevakuasi jamaah yang berlumuran darah melalui kawasan Mushalla Nisa.

Ketika saya tanya apakah bisa agenda umrah sunnahnya ditunda, dia bilang akan jalan terus. "Tidak ada apa-apa kok. Tadi sudah selesai evakuasinya," tutur anggota DPRD Kabupaten Jombang ini. Tapi, muka Fatimah mendadak merah padam ketika saya tunjukkan gambar situasi di area mathaf yang tertimpa crane. Dia pun buru-buru menelepon muthawif untuk membatalkan sewa bis dan menunda pada hari lain.

Fatimah juga sempat menyatakan keheranannya karena imam hanya membaca dua ayat pendek dalam Shalat Maghrib saat itu. Hanya saja, saat itu dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Kalau tahu ada musibah itu, mungkin saya akan lari ke mathaf untuk menyaksikan secara langsung. Tapi karena tidak tahu, saya hanya memastikan suami saya aman karena berada di hotel," imbuh perempuan kelahiran Pasuruan ini.

Cerita berbeda diungkap oleh Abdurrahman (37). Pengusaha muda asal Jember yang kini tinggal di Bandung itu sedang melakukan thawaf di lantai 2, saat hujan mulai turun. Bersama ibu dan istrinya, Abdurrahman yang menginap di Hotel Hilton sore itu sedang melaksanakan thawaf sunnah. "Kami sedang memasuki putaran kelima saat badai pasir menerpa. Banyak botol air mineral, plastik dan pasir yang beterbangan di udara," tuturnya.

"Pas putaran ketujuh, hujan mulai turun. Banyak orang di lantai 2 dan lantai 3 mathaf yang panik, karena hujannya masya Allah (dahsyat). Langit juga penuh pasir dan angin kencang," imbuhnya.

Karena mengkhawatirkan keselamatan, Abdurrahman segera mengajak ibu dan istrinya berteduh di Masa (tempat Sai). Sempat berjalan perlahan, karena lantai sudah banjir dan licin. Dalam ingatan Abdurrahman, crane jatuh sekitar 17.32 WAS. "Saat itu, evakuasi jenazah sudah dimulai," kisahnya.

Dari siaran langsung televisi Masjidil Haram, tampak bahwa mathaf lantai 2 dan lantai 3 sempat ditutup hingga Sabtu sore. Tapi, aktivitas jamaah lainnya sudah mulai normal saat Shalat Subuh. Hanya sebagian area jatuhnya crane yang ditutup aksesnya untuk jamaah. Sabtu jelang Subuh, saya akhirnya memenuhi janji mengantar Mbah Karnadi ke Masjidil Haram.?

(Ibnu Nawawi/Fathoni)

Keterangan gambar: Suasana mathaf lantai dua Masjidil Haram usai musibah jatuhnya crane.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Fragmen, Nusantara IPNU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Pagar Nusa Jateng Dorong Pembentukan Kepengurusan Kecamatan

Kudus,? IPNU Tegal. Pimpinan Wilayah Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Jawa Tengah terus berupaya mengembangkan organisasi pada tingkat kecamatan. Dalam waktu dekat, badan otonom NU ini menginstruksikan seluruh Pimpinan Cabang Pagar Nusa se-Jateng membentuk kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC).

"Untuk kepentingan organisasi, kami minta semua PC Pagar Nusa di Jateng segera membentuk kepengurusan PAC,"ujar sekretaris Pagar Nusa Jateng Ghufron kepada IPNU Tegal saat menghadiri konferensi cabang Pagar Nusa Kudus, Kamis (4/8).

Ghufron mengakui pembentukan kepengurusan Pagar Nusa (PAC) belum maksimal. Baru beberapa kabupaten/kota yang sudah membentuk antara lain Grobogan, Kendal, Demak, dan Kudus. Sesuai peraturan, kepengurusan PAC tersebut disahkan oleh Pimpinan WIlayah.

Pagar Nusa Jateng Dorong Pembentukan Kepengurusan Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Jateng Dorong Pembentukan Kepengurusan Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Jateng Dorong Pembentukan Kepengurusan Kecamatan

"Dari catatan kami, hanya Tegal yang sudah terbetuk PAC seluruhnya 11 kecamatan. Lainnya masih terus diupayakan,"imbuhnya.

Disamping itu, pihaknya juga berencana membentuk kepemimpinan Rayon Pagar Nusa di madrasah atau sekolah terutama di lingkungan Maarif NU. Sebagai embrionya, ia mengharapkan dari hasil pendidikan dan pelatihan (diklat) Pagar Nusa bagi guru-guru olah raga madrasah/sekolah NU.

"Diklat ini menjadi langkah untuk penambahan anggota maupun pelatih pagar Nusa di madrasah. Mereka ini akan menjadi penjaga gawang pengembangan pencak silat NU ini,"tandasnya.

IPNU Tegal

Upaya pembentukan kepemimpinan anak cabang, ranting atau rayon, tegas Ghufron, bertujuan untuk memudahkan koordinasi organisasi. "Bila ada kebijakan strategis Pagar Nusa akan mudah terkoordinasikan,"tandasnya. (Qomarul Adib/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Fragmen, Tokoh, AlaSantri IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Sumenep, IPNU Tegal - Roh organisasi sekelas Nahdlatul Ulama (NU) ialah memaksimalkan fungsi pengabdian dan pemberdayaan terhadap masyarakat. Itulah yang dicerminkan oleh para pendiri dan ulama NU sekaligus pejuang negeri ini. Karenanya sangat tepat kalau LKNU Sumenep membuka layanan cuma-cuma operasi katarak.

Demikian ditegaskan Ketua NU Sumenep KH Pandji Taufik saat sambutan aksi sosial operasi gratis di aula lantai II PCNU Sumenep di Jalan Trunojoyo, Sumenep, Sabtu (16/4).

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Menurut Kiai Pandji, sejauh ini NU Sumenep berikhtiar mewujudkan misi pengabdian dan pemberdayaan di atas. Karenanya, program operasi katarak secara gratis merupakan salah satu wujud dari misi tersebut.

IPNU Tegal

Ketua LKNU Sumenep Taufikurrahman menyatakan, kegiatan tersebut menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep dan RSUD Moh Anwar Sumenep.

Kepala Dinkes Sumenep dr Fathoni dan Direktur RSUD Moh Anwar Sumenep dr Fitril Akbar tampak hadir dalam acara tersebut. Sebanyak 160 penderita katarak dioperasi dalam aksi sosial ini.

IPNU Tegal

"Operasi katarak ini sudah 4 kali dilakukan oleh LKNU Sumenep. Ini khidmah NU kepada warganya. Inilah gerakan konkret yang dilakukan NU kepada warganya," tegas Wakil Sekretaris PCNU Sumenep M Muhri Zaen.

Sebelum aksi ini digelar, beberapa pekan sebelumnya panitia menyebar pamplet dan informasi melalui jejaring sosial. Dalam pengumuman ini disebutkan, warga yang hendak mengikuti operasi katarak harus terlebih dahulu mendaftar kepada panitia. Mereka cukup menyerahkan fotokopi selembar kartu tanda penduduk.

"Ada yang mendaftar langsung pada hari H. Kami tetap melayani mereka," tandas Ketua GP Ansor Sumenep Muhri itu. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Sejarah, AlaNu IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Jakarta, IPNU Tegal



Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, menyebut Indonesia bisa dijadikan teladan sekaligus rujukan dalam memahami kebinnekaan. Sebagai negara multikultur dan multiagama, NKRI patut dicontoh Jepang.

“Karena itu mereka berpikir bahwa Indonesia adalah salah satu model bagi Jepang juga untuk menerima seseorang atau sesuatu yang berbeda,” ujar Kato kepada IPNU Tegal usai berdiskusi tentang agama bersama sejumlah pejabat teras Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Senin (14/8).

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Menurut  Kato, Indonesia sudah sejak lama terbiasa menerima orang yang berbeda-beda. “Sikap orang Bali, orang Padang, orang Jawa, orang Sunda (yang bisa menerima orang lain) itu sangat penting bagi kami,” tandasnya. 

Ditanya tentang perbedaan perspektif dalam memandang agama, Kato membenarkan hal tersebut sekaligus menyayangkannya. Pada saat ini, di Jepang, agama Islam tidak begitu dihargai dan dipahami dengan baik. Karena ada banyak stereotipe dan salah paham terhadap Islam.

IPNU Tegal

“Karena itu, saya kira anak muda seperti mereka ingin belajar banyak dan berminat belajar secara langsung ke sini, berkomunikasi dengan bapak-ibu di sini. Mereka juga akan home stay juga dengan mahasiswa di UNAS. Saya kira mereka nanti akan memiliki pengalaman luar biasa untuk memahami Indonesia dan agama Islam secara lebih mendalam,” harapnya.

Dalam diskusi, Prof Kato mengatakan pihaknya kembali membawa para mahasiswa program studi Kebijakan Publik untuk studi banding tentang kebijakan terhadap agama di lembaga riset plat merah ini. Sebagian di antara mereka ikut serta dalam kunjungan pertama setahun silam.

IPNU Tegal

“Selain itu, kami ingin lebih mengenal Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Bagi kami, negara ini menjadi teladan dan rujukan dalam membangun peradaban dan menghargai perbedaan,” ujar Kato.

Selain belajar mengenai mengenai kebijakan, ia bersama 23 mahasiswanya hendak berkunjung ke SMA, ke sejumlah yayasan yang aktivitasnya mengenai agama seperti ICRP dan sejumlah perusahaan juga dan di beberapa tempatnya. “Kami akan belajar tentang Pancasila,” ujarnya.

Rombongan mahasiswa dari Universitas Chuo Jepang ini disambut langsung oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud. Turut mendampingi, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Amsal Bachtiar dan sejumlah peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Fragmen, Habib IPNU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU

Jakarta, IPNU Tegal

Majelis alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama beri arahan khusus dalam rapat kerja dan orientasi kepengurusan PP IPNU periode 2015-2018.? Ketua Umum PP IPNU periode 1988-1996 Zainut Tauhid Saadi memberi pemaparan tantangan IPNU-IPPNU ke depan akan dihadapkan pada persoalan kualitas kader, karena di era global ini kita tidak hanya bisa berbicara soal kuantitas.

"Berbicara soal hari ini kita akan dihadapkan dengan tiga tantangan yang terus saling bersinggungan, yaitu idealisme, pragmatisme, dan tata nilai. Ketiga hal tersebut harus dipadukan agar seimbang," kata Zainut saat memaparkan arahan, Ahad (27/03), di Aula Asrama Haji Pondok Gede.

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni Jelaskan 3 Tantangan Terkini IPNU-IPPNU

Ia menjelaskan bahwa tiga kunci kesuksesan dalam organisasi adalah SDM, jejaring sosial, dan finansial.? "Tentu ketiga hal tersebut krusial semua, tapi jangan terpaku karena masalah finansial, coba perluas jaringan pasti banyak jalan," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PP IPNU periode 1996-2000 Hilmi Muhammadiyah memberikan arahan atas nama Majelis Alumni IPNU bahwa arah gerak IPNU sangat didukung oleh Majelis Alumni IPNU. Begitu pula IPPNU, meski saat ini belum terbentuk Majelis Alumni.

"Majelis Alumni IPNU bukan sebagai partner yang mengintervensi tapi membina dan mengarahkan serta membantu mencari jalan untuk berlangsungnya organisasi pelajar yang besar ini," kata Hilmi.

IPNU Tegal

Ia juga menambahkan bahwa IPNU-IPPNU perlu aktif berkoordinasi dengan Majelis Alumni agar mendapat dukungan serta akses yang mempermudah perjalanan organisasi. (Afifah Marwa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Sholawat, Pahlawan, Fragmen IPNU Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman

Tarim merupakan nama suatu daerah terpencil di Hadhramaut, Yaman. Di sini aktivitas keilmuan dan kerohaniannya lebih terasa dibanding kota lainnya di Yaman. Tarim juga memiliki nuansa Ramadhan yang khas yang diwariskan secara turun-menurun. Suasana semacam inilah yang tidak ditemukan di daerah Yaman lainnya.

Antusiasme masyarakat Tarim dalam menyambut bulan Ramadhan sangat tinggi. Hal itu terlihat dari ramainya masjid-masjid pada siang hingga malam hari. Mereka menghidupkan bulan Ramadhan dengan Al-Qur’an, dzikir, shalawat, dan ziarah.

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman

Pelaksaan shalat tarawih di Tarim tidak hanya dilaksanakan dalam satu waktu serentak, namun bergantian secara estafet sejak pukul 19.30 hingga pukul 03.00 di beberapa masjid yang berbeda.

Yang unik dari suasana Ramadhan di Tarim, setelah melaksanakan shalat tarawih dan witir para jamaah tidak langsung pulang, tetapi mereka tetap duduk untuk bersama-sama melantunkan pujian kepada Rasulullah secara bersahutan dengan nada khas Tarim. Pujian ini disebut "Qashidah Fazzaziyah dan Witriyah". Vokalis pemilik suara merdu menambah rasa syahdu malam itu.

IPNU Tegal

Selama pembacaan qasidah terlihat beberapa orang tua yang mengabdikan diri kepada masjid berkeliling membawa bukhur (sejenis kemenyan), dan juga tampak orang orang berbaris memberikan minuman air dingin dan kopi khas Yaman. Sesekali di hari-hari tertentu juga diberikan air mawar asli untuk pewangi badan juga halawah (manisan) dan kaak (kue khas Tarim).

IPNU Tegal

Kemudian dilanjutkan pembacaan "Qawafi", yaitu lantunan syair yang berisi nasihat dan pengingat yang dibaca sesuai abjad huruf hijaiyah setiap harinya satu judul huruf hingga akhir bulan Ramadhan. Lalu diakhiri doa khusus di bulan Ramadhan yang ditulis Al Habib Umar bin Saqqof Asshofi. Biasanya ritual ini berlangsung selama 40 menitan.

Setelah usai orang-orang pun bersegera keluar dari masjid untuk pindah ke masjid lainnya mengerjakan shalat tarawih berikutnya dengan tata cara yang sama hingga akhir Ramadhan. Maka tidak diherankan jika di sini setiap orang dalam semalam bisa sampai melaksanakan tarawih hingga 100 rakaat. Ini bagi memiliki semangat yang tinggi. Habib Umar bin Hafidz dan Habib Salim Assyatiri, misalnya, meskipun keduanya berusia senja sanggup menunaikan shalat 60 rakaat dalam semalamnya.

Menjelang sahur, biasanya ada dua anak muda yang satu orang menabuh "thosah" (sejenis gendang) yang satunya lagi melantunkan dzikir dengan lantang berjalan di jalanan dan gang-gang membangunkan ibu-ibu untuk menyiapkan santap sahur.

Khatmul Quran Ramadhan di Tarim disebut Khatmu Rubu sebab khataman ini dilaksanakan setiap 4 empat hari sekali. Di antara masjid yang melaksanakan Khatmur Rubu adalah Masjid Al Muhdlar, Masjid Baalawi, Masjid Saqqaf, Masjid Wael. selain itu, banyak juga masjid yang melakasnakan "Khotmu Sitt" yaitu khataman setiap 6 hari sekali.

Panasnya cuaca Ramadhan membuat masjid-masjid memasang puluhan AC khusus daerah padang pasir dan puluhan kipas angin. Infrastruktur penunjang disediakan untuk member kenyamanan para jamaah yang sedang sibuk beribadah. Kamar mandi pun disiapkan bagi yang ingin berendam mendinginkan badan di kolam mandi yang disebut "Jabiyah".

Antusiasme ini tidak hanya di malam hari bahkan saat Shalat Dluha, Dhuhur dan Ashar juga ramai dengan aktivitas membaca Al-Qur’an, dzikir, dan pengajian- pengajian majelis taklim yang membacakan kitab-kitab Salafus Shalih. Biasanya setiap selesai majelis taklim para hadirin membaca surat Yasin bersama. Dan di akhiri dengan "Qashidah Fardiyah", kaisdah nasihat yang dibaca oleh satu orang.

Biasanya setelah Ashar pada Jumat pertama bulan Ramadhan seluruh masyarakat dan santri mancanegara yang berada di Tarim melaksanakan ziarah ke makam para sahabat dan waliyullah di makam "Zambal" dipimpin oleh mufti Tarim dan para ulama Tarim, hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Kemudian peziarah bergegas ke masjid untuk berbuka dengan takjil yang telah disediakan dan dilanjutkan Shalat Tasbih dan Shalat Awwabin, barulah setelah itu mereka kembali ke rumah masing masing.

Pada hari ke-9 diadakan majelis di kediaman Al Imam Haddad dan kediaman keluarga Al Hamid. Perkumpulan ini lazim disebut "Tsamratu Tasi." Acara itu diisi dengan bermacam-macam kasidah nasihat.

Pada hari ke-19 diadakan majelis di kediaman Khalifatussalaf Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Syihabuddin. Acara ini berisi ceramah agama dan nasihat lalu kasidah pujian tentang bulan Ramadhan sambil menikmati secangkir kopi khas Tarim.

Ada hal menarik juga di kalangan masyarak desa Tarim. Nuansa Islami di sini sangat terasa bahkan tidak hanya di dalam masjid melainkan di luar juga. Biasanya sejak tanggal 11 sebelas Ramadhan hingga 29 Ramadhan sambil berharap datangnya lailatul qadar masyarakat Tarim saling bertukar undangan dengan tetangga dan kerabat untuk bersantap hidangan buka puasa dalam rangka khataman masjid yang ada di sekitar rumahnya.

Sementara anak-anak kecil laki laki maupun perempuan saling berkunjung ke rumah teman bermain mereka saling bergantian menyanyikan lagu-lagu anak yang diwariskan para ulama pendahulunya dan lagu-lagu tersebut disebut dengan "Khotamy". Kegembiraan anak-anak itu kemudian bertambah dengan banyaknya hadiah yang diberikan pada mereka oleh tuan rumah, tentunya setelah lagu itu usai dilantunkan.

Sementara khataman akbar Al-Qur’an di masjid dipimpin oleh para ulama. Doa yang dibaca adalah doa khatmul qur’an susunan Imam Ali Zainal Abidin. Saat doa dirapalkan, air dan kopi dibagikan. Setelah selesai, dilanjutkan doa susunan Imam Abil Hirbah. Selanjutnya anak-anak kecil yang turut hadir diberikan kesempatan membaca doa "Birrul Walidain" untuk orang tua mereka secara bergantian. Dilanjutkan pembacaan khutbah "Qoff" dan khutbah milik salah satu dari Habib Idrus bin Umar Al Habsyi, Al Habib Hasan bin Sholih Al Bahr, Habib Abu Bakr bin Abdurrohman bin Syihab.

Ketika Ramadhan memasuki hari ke-21 maka masyarakat, santri, dan mahasiswa berduyun-duyun hadir ke masjid-masjid yang diistimewakan di Tarim. Keistimewaan masjid tidak ditinjau dari kemegahan bangunannya, tetapi dari kealiman dan kewalian yang membangun masjidnya meskipun hampir semua masjid di sini terbuat dari tanah liat. Berikut di antara masjid-masjid istimewa tersebut.

Tanggal 21 Ramadhan di Masjid Syeh Abdurrohman Assaqqof dan Masjid Abi Bakr Assakron. Tanggal 23 Ramadhan di Masjid Al Awwabin milik Imam Haddad. Tanggal 25 Ramadhan Syeh Ali bin Abi Bakr Assakron. Tanggal 27 Ramadhan di Masjid Baalawi yang dibangun oleh Syeh Kholi Qosam abad ke-5. Tanggal 29 Ramadhan di masjid fenomenal dengan menara tertinggi yang terbuat dari tanah liat milik Syeikh Umar Muhdlor dan Masjid Al-Fath milik Imam Abdulloh bin Alwi al-Haddad.

Menurut pengamatan saya, suasana religius Ramadhan di Tarim yang diwariskan turun-menurun menggabungkan beberapa konsep mahabbah (cinta), yaitu cinta kepada Allah dengan amalan shalat dan puasa, cinta kepada kitab Allah dengan memperbanyak tadarus dan khataman, cinta kepada Rasulullah dengan memperbanyak shalawat, cinta kepada syiar Allah dengan memperbanyak majelis taklim dan daurah (pesantren Ramadhan) bahkan peserta daurah ada yang datang dari Amerika, Australia, Inggris, Malaysia, China, dan lain-lain.

Ini merupakan Ramadhan kedua yang saya alami di Tarim, sementara Ramadhan pertama saya di kota Mukalla Yaman. Meskipun di Mukalla juga banyak syiar-syiar Ramadhan namun religiusme Tarim tidak ada tandingannya. Mungkin salah satu faktornya adalah banyaknya wali-wali Allah dan para ulama sufi yang dijumpai di Tarim. Sebuah nuansa kerohaniahan yang murni mendekatkan diri kepada Allah.

Moh Nasirul Haq, Mahasiswa Universitas Imam Syafii Yaman. Ditulis di Tarim, 7 Ramadhan 1437 H.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen IPNU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Berpikir dan Bertindak Sederhana untuk Membangun Masyarakat yang Sehat

Dalam? membangun pola hidup sederhana ( ? ? ? -? Iqamatul mujtama’ al-muqtashid) baik sederhana dalam pola berpikir, dalam tindakan dan tingkah laku. Sesungguhnya kehidupan yang sederhana diawali dari tindakan yang sederhana. Tindakan yang sederhana diawali dari ucapan yang sederhana, dan ucapan yang sederhana bersumber dari pola pikir yang sederhana. Dan pola pikir sederhana adalah memikirkan sesuatu yang bermanfaat, dan menjauhkan diri dari sesuatu yang dinilai tidak perlu. ? ?

?? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Berpikir dan Bertindak Sederhana untuk Membangun Masyarakat yang Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpikir dan Bertindak Sederhana untuk Membangun Masyarakat yang Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpikir dan Bertindak Sederhana untuk Membangun Masyarakat yang Sehat

?

Khotbah kali ini merupakan keterangan panjang dari satu hadits yang sangat pendek sekali, tentang anjuran meninggalkan segala centang preneng yang tidak penting. Menghindarkan diri dari segala macam hal yang bersifat skunder dan mementingkan yang primer. Inilah yang oleh Ibn Rajab dinilai sebagai akar dari hadits pendidikan. Yaitu hadits yang berupa ajaran dasar yang harus difahami dan diamalkan oleh seorang muslim. Hadits pendek itu berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ( ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ?

IPNU Tegal

Salah satu tanda kesempunaan islamnya seseb orang adalah meninggalkan segala yang dinilai tidak perlu.

Hadits yang tergolong pendek ini memuat beberapa hikmah yang sangat luas. Dalam kitab al-Wafi fi Syarahil Arbain an-Nawawi, Musthafa ? al-Bugha menjelaskan bahwa sebagian ulama mengatakan inilah hadits yang muatan isinya setengah dari ajaran agama. Karena agama sejatinya berisikan tentang laku yang berasal dari perintah dan tinggal yang berasal dari larangan. Sedangkan hadits ini merupakan sumber dari pemahaman segala larangan. Larangan berbuat sesuatu yang tidak penting, baik tidak penting dari tinjauan dunyawi maupun ukhrawi.

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

IPNU Tegal

Marilah kita refleksikan hadits ini dalam kehidupan masing-masing diri kita. Benarkah selama ini kita telah mengamalkannya, dengan meninggalkan segala yang terasa tidak perlu? Ataukah malah sebaliknya mementingkan segala yang tidak penting? Berapakah HP yang kita miliki, apakah kecanggihan dan harga mahal itu seseuai dengan kebutuhan kita? Benarkan kita membeli HP karena terjadi kerusakan ataukah karena gengsi dan mengikuti arus trend pasar? Berapakah motor yang kita punya? Benarkah anak kita yang berada di SMP benar-benar memerlukan motor? Ataukah itu sekedar menuruti gengsi saja? Berpakah baju koko yang kita punya dan seberapa rajin kita shalat? dan seterusnya. deretan ini masih bisa diperpanjang hingga tak terhingga. Dan semoga kita segera bersadar bahwa apa yang kita lakukan jauh dari aplikasi hadits ini. Meninggalkan apa yang tidak perlu.

Jama’ah jum’ah yang Berbahagia

Hadits ini dapat dijadikan inspirasi dari tiga hal besar, pertama; membangun masyarakat sosial yang idealis (? ? ? iqamatul mujtama’ al-fadhil). Islam sangat menjaga akan kesehatan sosial kemasyarakatan. Diantara ciri-ciri masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang hidup dengan tatanan yang rapi. Masyarkat yang saling menghargai kepentingan dan kebutuhan yang lain. Sehingga kepentingan seseorang tidak akan mengganggu kebutuhan orang lain. Demikian pula dengan kebebasannya, tidak akan melanggar kebebasan orang lain. Hal ini bisa tercapai jika seorang individu berkonsesntrasi dan bertindak dalam batas kepentingannya masing-masing, jika individu tidak ada keinginan untuk mengurus urusan orang lain yang sebenarnya tidak perlu baginya. Karena jika diamati virus sosial itu bermula dari ketumpang tindihan (at-tadakhul) yang membuat kehidupan makin semrawut secara sosial dan sangat merugikan secara mental. Bukankah perasaan ingin tahu dengan keadaan orang lain awal dari hasud, iri dan dengki. Penyakit hati yang akut dan berbahaya.

Kedua, membangun pola hidup sederhana ( ? ? ? - Iqamatul mujtama’ al-muqtashid) baik sederhana dalam pola berpikir, dalam tindakan dan tingkah laku. Sesungguhnya kehidupan yang sederhana diawali dari tindakan yang sederhana. Tindakan yang sederhana diawali dari ucapan yang sederhana, dan ucapan yang sederhana bersumber dari pola pikir yang sederhana. Dan pola pikir sederhana adalah memikirkan sesuatu yang bermanfaat, dan menjauhkan diri dari sesuatu yang dinilai tidak perlu.? ? ?

Memang, sepintas lalu keterangan ini bersifat sangat individualis. Tetapi apabila difahami secara mendalam tidak demikian. Karena kesibukan seorang muslim pada dirinya sendiri -dalam hadits ini- tidak lain adalah kesibukan menata diri agar siap menghadapi masyarakatnya. Karena masyarakat yang sehat diawali oleh individu-individu yang sehat pula. Dengan kata lain, untuk membangun masyarakat yang islami, tentunya harus bermodal dari individu yang islami pula. Individu-individu yang saleh akan memiliki standar penilaian terhadap realita yang sama. Sesuatu yang bernilai negatif pasti disepakati kenegatifannya, begitu juga yang baik pasti mutlak disepakati kebaikannya. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya:

? ? :? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sesungguhnya Rasulullah saw pernah ditanya tentang iman yang utama, maka beliau menjawab “apabila Engkau menyukai orang lain sebagaimana engkau menyukai diri sendiri, dan membenci mereka sebagaimana engkau membeci dirmu sendiri”

Secara tidak langsung hadits ini ingin mengatakan bahwa iman yang utama akan menyamakan standar nilai kebaikan bagi diri pribadi dan orang lain. Apa yang buruk bagi kita pastilah buruk bagi masyarakat dan begitupun sebaliknya.

Ketiga, membangun masyarakat yang beiman (religius) bukan individualis (? ? ? ? ? ? iqamatul mujtama’ al-iymany lal ananiy). Secara teoritis mempertentangkan individualis dengan religius adalah kurang tepat. Akan tetapi karakter religius pasti bertentangan dengan karakter individualis. Mengutamakan kepentingan bersama dan mengalahkan kepentingan pribadi adalah syarat mutlak sempurnanya iman seseorang. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?".

“engkau melimat orang-orang yang beriman saling mencintai dan menyayangi seperti hanya satu badan yang apabila salah satu anggot badannya mengalami luka akan sekujur badan terasa meriang dan panas”

Begitu juga sebaliknya, seorang hamba yang di hatinya tidak ada rasa iman, pastilah tiada pula rasa sayang kepada sesama, porsi kebencian lebih dominan dari pada rasa sayang. Yang ada di dalam pikirannya adalah upaya mensejahterakan diri dan keluarganya. Usahanya adalah menumpuk kekayaan demi kesejahteraan anak, cucu hingga tujuh turunan. Masa bodoh dengan tetangga, masa bodoh dengan anak-anak kaum buruh yang bekerja di pabriknya. Dia merasa sudah cukup dengan memberi gaji bulanan. Padahal keringat para buruh itulah yang melipat gandakan keuntungannya. Na’udzu billahi min dzalik. Bukankah masyarakat seperti ini yang sedang merebak di sekeliling kita dengan berbagai farian dan ukuran yang berbeda?

Sesungguhnya seseorang yang mementingkan diri sendiri (Individulis) pastilah terjebak dalam pola pikir materialistik apapun diukur dengan harta dan benda. Sehingga dalam upaya melanggengkan harta bendanya itu mereka akan bertindak sebagai seorang kapitalis yang berdasar pada kaidah ‘mengambil untung sebanyak-banyaknya dengan modal sesedikit mungkin’.

Para Jama’ah Jumah yang berbahagia

Seseungguhnya hal-hal seperti ini bisa kita hindarkan dengan berpegang pada satu hadits yang sungguh mudah di hafal ? ? ? ? ? ? ? ? ? Salah satu tanda kesempunaan islam seseorang adalah meninggalkan segala yang dinilai tidak perlu.

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga membawa banyak manfaat bagi diri khatib dan kita semua. Amin

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ?

? Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

(ulil)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Amalan, Nahdlatul IPNU Tegal

Rabu, 22 November 2017

LD PBNU Kukuhkan Peserta PKD Angkatan Ke-7

Bogor, IPNU Tegal. Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) pengukuhan peserta Pendidikan Kader Dai (PKD) angkatan ke-7 di Wisma Industri Cisarua Bogor, 3-4 September 2016. Acara ini diikuti oleh 108 peserta PKD angkatan ke-7 dan dihadiri oleh pengurus harian LD PBNU.

LD PBNU Kukuhkan Peserta PKD Angkatan Ke-7 (Sumber Gambar : Nu Online)
LD PBNU Kukuhkan Peserta PKD Angkatan Ke-7 (Sumber Gambar : Nu Online)

LD PBNU Kukuhkan Peserta PKD Angkatan Ke-7

Seluruh peserta pengukuhan dibaiat oleh Sekretaris LD PBNU KH Nurul Yakin Ishaq dengan kesanggupan untuk menyampaikan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah di tengah-tengah masyarakat. Peserta yang telah dikukuhkan diwajibkan untuk berperan aktif dalam pengembangan dakwah, membimbing dan membina masyarakat serta menjaga keutuhan NKRI.

Dalam sambutan pengukuhannya, KH Nurul Yakin Ishaq menyatakan, peserta kader dai yang telah dikukuhkan adalah salah satu ujung tombak dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Indonesia. "Para dai dan daiyah yang telah dididik dan dikukuhkan malam ini, harus aktif berperan serta menjaga masyarakat dari rongrongan akidah persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi juga telah menjadi ancaman nyata bagi dakwah Islam," tegasnya.

Lebih lanjut, Nurul Yakin menjelaskan, Dakwah Islam di Indonesia yang telah dirintis sejak zaman Walisongo dengan mengedepankan sikap toleransi dan keseimbangan antara ajaran agama dan nilai-nilai budaya, kini menghadapi ancaman nyata dari ideology kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Ideologi kekerasan ini bukan hanya meresahkan, melainkan juga mengancam kelangsungan hidup manusia dengan tindakan-tindakan terorisme atas nama agama yang terus terjadi di Indonesia.

IPNU Tegal

"Karenanya, para dai dan daiyah LD PBNU berkewajiban membendung ideologi kekerasan demi melindungi jiwa masyarakat Islam Indonesia sebagai kelanjutan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah sejak zaman Walisongo," tandasnya.

PKD LD PBNU angkatan ke-7 diikuti oleh 134 peserta yang telah mengikuti pendidikan selama satu semester. Peserta terdiri dari para aktivis dakwah seperti guru-guru agama, kyai, ustadz muda dan professional yang aktif melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan dakwah.?

"Dari 134 peserta angkatan ke-7 hanya 108 yang berhasil mengikuti pendidikan hingga paripurna dan mengikuti pengukuhan dari LD PBNU. Seluruh peserta angkatan ke-7 dibagi dalam empat kelas, masing-masing adalah 19 orang kelas Sabtu siang, 38 orang kelas Sabtu pagi, 14 orang kelas Rabu siang dan 37 orang kelas Rabu pagi," tutur Afifah Junainah selaku ketua PKD LD PBNU. (Red: Fathoni)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Fragmen IPNU Tegal

Senin, 20 November 2017

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Ajak Santri Baru Adaptasi Lingkungan

Demak, IPNU Tegal - Pesantren putra-putri Al-Badriyyah Mranggen Kabupaten Demak mengadakan kegiatan Masa Orientasi Santri selama Senin-Kamis (25-28/7). Kegiatan rutin tahunan yang diikuti 200 santri ini diadakan agar santri baru lebih mengenal kehidupan pesantren. Sementara panitia mempersiapkan acara-acara yang dibutuhkan santri agar tidak kaget ketika memasuki kehidupan pesantren.

Kegiatan orientasi ini memuat ta’aruf, pendampingan, kerja bakti, kegiatan kebersamaan, materi-materi penting kepesantrenan dan kegiatan lainya. Materi yang diberikan dalam kegiatan ini meliputi kepesantrenan, manajemen pesantren, keorganisasian, hubungan pesantren dan masyarakat, hak dan kewajiban santri, integritas dan akhlak santri dan self motivation.

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Ajak Santri Baru Adaptasi Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Ajak Santri Baru Adaptasi Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Ajak Santri Baru Adaptasi Lingkungan

Untuk pengembangan daya nalar ilmiah dan kritis peserta diberikan tugas untuk mempresantasikan tema-tema yang telah ditentukan oleh panitia. Pendampingan dilakukan juga oleh santri lama dengan sistem mentor untuk mendampingi secara pribadi, dilakukan pendampingan untuk mengontrol peserta secara personal.

IPNU Tegal

Dalam pengembangan softskill santri, peserta juga dituntut untuk berinteraksi dengan dewan ustadz, santri lama, dan lingkungan masyarakat.

Dengan adanya kegiatan ini, para santri baru diharapkan bisa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan pesantren dan mampu berinteraksi dengan baik. Santri yang dinyatakan lulus oleh panitia akan mengikuti pengukuhan santri baru dan pengucapan ikrar santri.

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen berdiri atas perintah Syekh KH Muslih bin Abdurrahman Qosidil Haq dengan memberi amanat kepada KH Muhibbin Muhsin dan Umi Hj Nadhiroh. Progam utama pesantren adalah tahfizhul Qur’an, pengajian kitab salaf, madrasah diniyyah, ta’limul khitobah, dan pelatihan life skill santri.

IPNU Tegal

Melalui Nyai Hj Nadhiroh, pengasuh pesantren putra-putri KH Muhibbin Muhsin mengatakan kepada santri baru, “Langkah kalian dan orang tua kalian adalah satu langkah yang besar dan tepat. Untuk itu jangan ragu menimba ilmu di pesantren Al-Badriyyah ini. Saya harapkan akan lahir para pemimpin-pemimpin dan penebar rahmat bagi dunia melalui Pesantren Al-badriyyah ini.”

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa generasi Qurani adalah generasi yang perilaku ucapan dan tindakannya didasarkan nilai-nilai Al-Quran. Ciri-ciri generasi Qurani adalah selalu merasa dekat dengan Allah SWT sehingga dia tidak berani menyimpang dari jalan yang diajarkan agama, memiliki hubungan yang dekat sesama manusia, memiliki akhlaq yang mulia dan menjadi teladan bagi masyarakat sekitar.

“Semoga kedatangan kalian akan membawa kebaikan untuk agama pada masa yang akan datang. Luruskan niat dan bersabarlah dalam mencari ridha Allah, terus giatlah belajar, berlomba-lombalah untuk menggapai prestasi,” ujarnya. (Ben Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Kyai IPNU Tegal

Minggu, 19 November 2017

Terjun di Masyarakat, Alumni Pesantren Harus ‘Berperang’

Cirebon, IPNU Tegal. Kembali ke tengah masyarakat, alumni pesantren harus memiliki tekad dan kemauan untuk berperang. Artinya mereka hadir bukan sekadar sebagai penonton atau umat pinggiran. Tetapi mereka berkontribusi secara aktif sesuai kebutuhan warga.

Terjun di Masyarakat, Alumni Pesantren Harus ‘Berperang’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Terjun di Masyarakat, Alumni Pesantren Harus ‘Berperang’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Terjun di Masyarakat, Alumni Pesantren Harus ‘Berperang’

Demikian ditegaskan KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan tausiyah dalam rangka Peringatan Haul ke-24 KH Aqil Siroj dan Khotmil Alquran serta Alfiyah Ibnu Malik di Majlis Tarbiyatul Mubtadi’ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (14/12).

Kalimat ummatan wasathan dalam Al-Quran bisa diarahkan ke dalam makna terjun ke tengah- masyarakat, bukan hanya di pinggir, atau sekedar menjadi penonton, tegas Kiai Said.

IPNU Tegal

Perang yang dimaksud, sambung Kiai Said, adalah peperangan moral dan budaya, peperangan pendidikan, serta perang untuk membangun masyarakat dan kemanusiaan. Karenanya, alumni pesantren harus bisa bergerak di tengah masyarakat untuk menjaga akhlak, moral, dan tradisi budaya sebagai identitas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

IPNU Tegal

Kiai Said menyimpulkan, kekuatan mempetahankan kesatuan Indonesia terletak pada niat dan tekad masyarakat untuk mempertahankan tradisi dan budaya warisan secara turun-temurun. Peringatan haul, tahlil, marhabanan dan lain sebagainya, tradisi yang patut dipertahankan.

“Bertahannya budaya menunjukkan bahwa kita wujud dan ada. Jika sudah ada, maka kita mudah melawan segala jenis ancaman pemecah belah kesatuan bangsa,” pungkas Kiai Said di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri malam puncak peringatan haul KH Aqil Siroj.

Mereka terdiri dari alumni, tokoh pesantren Cirebon, pejabat pemerintahan, dan warga umum.

Sementara KH Aqil Siroj merupakan tokoh pendiri MTM. Ia orang tua KH Said Aqil Siroj. Kiai Aqil dilahirkan pada 1917 dan wafat pada 1990. Selain haul Kiai Aqil, perhelatan ini digelar untuk memperingati wafatnya KH Nashir Abu Bakar dan Nyai Afifah Harun, ibu Kiai Said. (Sobih Adnan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen IPNU Tegal

Rabu, 08 November 2017

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU

Jombang, IPNU Tegal. Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf optimis Mukatamar NU ke-33 pada tahun 2015 akan digelar di Jombang, Jawa Timur. Menurutnya, usulan Jombang menjadi tuan rumah sudah disepakati PWNU Jatim dan disampaikan kepada PBNU.

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU

Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengungkapkan hal itu pada acara tasyakuran penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk KH Wahab Chasbullah di Jalan Gus Dur, depan GOR Merdeka, Jombang, Sabtu malam (15/11).

“Sudah saatnya NU kembali ke pendirinya, di Jombang ada tiga tokoh pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri yang harus dikenal lebih dekat dan diteladani oleh nahdliyin,” lanjut mantan ketua umum GP Ansor dua periode ini.

IPNU Tegal

Ia juga mengatakan, empat pesantren besar yang ada di Jombang sudah menyatakan kesiapannya. “Gus Sholah Tebuireng sudah siap, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, dan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso juga demikian. Serta pondok-pondok lainnya juga harus siap,” ujarnya.

IPNU Tegal

Menanggapi hal ini, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah pagelaran akbar NU ini. Kita siap dan mendukung penuh Jombang jadi tuan rumah Muktamar NU. Bahkan, kita sudah menyiapkan anggaran khusus untuk kegiatan ini, tuturnya tanpa menyebutkan nominal anggarannya. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Anti Hoax, Tokoh, Fragmen IPNU Tegal

Selasa, 31 Oktober 2017

Pelatihan Pulasara Mayit, Cara NU Pekalongan Peringati Harlah NU

Pekalongan, IPNU Tegal

Makin langkanya pengurus jenazah menjadikan keprihatinan tersendiri bagi PCNU Pekalongan. Karenanya, pada Kamis 28 April 2016 lalu, diselenggarakan pelatihan pulasara mayit (mengurus jenazah) di gedung Aswaja, yang di ikuti oleh ratusan kader dari PCNU kota Pekalongan. Acara ini juga merupakan rangkaian kegiatan dalam memperingati Harlah ke-93 NU.

Pelatihan Pulasara Mayit, Cara NU Pekalongan Peringati Harlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Pulasara Mayit, Cara NU Pekalongan Peringati Harlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Pulasara Mayit, Cara NU Pekalongan Peringati Harlah NU

Koordinator kegiatan, KH Hasan Suaidi menjelasakan, kematian sebagai hal yang pasti mendatangi setiap insan yang hidup, akan tetapi dari tahun ke tahun para pengurus jenazah justru cenderung makin berkurang. 

“Ada banyak faktor yang menyebabkannya, diantaranya karena minimnya pengetahuan tentang bagaimana mengurus jenazah sesuai dengan syariat Islam. Untuk itu akhirnya PCNU menyelenggarakan pelatihan pulasara mayit,” jelas Kiai Hasan.

Lebih lanjut, Hasan Suaidi menambahkan, peserta tidak hanya dilatih tentang bagaimana mengurus jenazah, namun juga dibekali tentang dasar hukumnya. 

IPNU Tegal

Pembekalan semacam ini, tandas Hasan, memang sebetulnya tidak cukup hanya sekali, akan tetapi setidaknya dengan bekal dasar yang sudah diberikan dapat menambah wawasan mereka dalam hal mengurus jenazah, syukur-syukur di praktikkan, minimal jika ada tetangga di kampungnya yang meninggal. (Muhammad Ilham/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Syariah, Fragmen, Sholawat IPNU Tegal

Senin, 30 Oktober 2017

Dilantik, Muslimat NU Brebes Janji Tingkatkan Peran

Brebes, IPNU Tegal. Kepengurusan Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Brebes masa khidmah 2015-2020 secara resmi dikukuhkan Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jawa Tengah Prof Dr Hj Asmawati dengan mengucapkan janji atau baiat pengurus.

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Brebes Dra Hj Chulasoh beserta anggota pengurus lainnya mengucapkan janji di hadapan? sekitar 1000 anggota yang hadir dan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa.

Dilantik, Muslimat NU Brebes Janji Tingkatkan Peran (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Muslimat NU Brebes Janji Tingkatkan Peran (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Muslimat NU Brebes Janji Tingkatkan Peran

“Kami mohon bantuan keikhlasan dari seluruh warga Muslimat NU dari Ranting hingga Anak Cabang dalam membesarkan organisasi di Brebes ini,” pinta Chulasoh saat menyampaikan sambutan pelantikan di Pendopo Bupati Brebes, Ahad (13/9).

IPNU Tegal

Muslimat NU, kata Chulasoh, bisa menjadi ladang kemuliaan bila kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan pengabdian. Dia berharap, Muslimat NU lebih mematangkan lagi dalam pengembangan dakwah dan membantu program pemerintah Kabupaten Brebes.

Chulasoh bertekad peran Muslimat di bidang Pendidikan, ekonomi, kesehatan dan dakwah akan terus ditingkatkan. Termasuk,? turut menyukseskan progam Keluarga Berencana (KB). Muslimat NU Brebes sudha membuktikan menjadi yang terbaik dalam capaian peserta KB baru terbanyak se-Jawa Tengah.

IPNU Tegal

Pendataan dan aktualisasi TK dan TPQ Muslimat NU serta data anggota muslimat se-Kabupaten Brebes dengan segala potensinya terus digali dan diperbaharui.

Chulasoh dilantik setelah dalam Konferensi Cabang Muslimat NU pada 7 Mei lalu dan mendapatkan suara terbanyak mengungguli 8 calon lainnya. Dia mengantongi 93 dari 288 suara yang sah. Sementara kandidat lain Hj Farikha (59), Hj Nurhalimah (57), Evi Najib (35), Hj Aqilatul Munawaroh (23), Hj Nok Zumaroh (15), Hj Mazkiyah dan Hj Muzalfah (2).

Tampak hadir Bupati Brebes Hj Idza Priyanti sebagai Dewan Pakar Muslimat NU, Ketua PCNU Brebes H Athoillah, Ketua PC Fatayat NU Brebes Mukminah, Ketua GP Ansor Moh Munsip, Staf Ahli Bupati Bidang Kesra Dra Hj Lely Mulyani, Ketua Korda eks Karesidenan Pekalongan seperti PC Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Pemalang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Kabupaten Batang juga turut hadir. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Cerita IPNU Tegal

Selasa, 17 Oktober 2017

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang

Jakarta, IPNU Tegal. Ada perbedaan pelarangan ma lima versi Walisongo dengan ma lima zaman sekarang. Larangan Walisongo mengacu kepada ritual yang dilakukan agama Budha Shiwa dengan salah satu mazhabnya, Bairawa Tantra.

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Beda, Larangan Ma Lima Walisongo dengan Sekarang

Menurut Sejarawan dan budayawan Agus Sunyoto, ritual mazhab itu adalah mamsa (daging), matsa (ikan), madya (arak) maiathuna (seks) mudras (semadhi) yang diamalkan dalam lingkaran jamaah di ksetra (kuburan).

Sementara ma lima versi sekarang mengacu kepada lima hal yang tak boleh dilakukan, yaitu madat, madon, main, minum, dan maling. Tetap sama-sama yang dilarang. Tapi acuan pelarangan Walisongo itu mengacu kepada ritual mazhab Bairawa Tantra tersebut.

IPNU Tegal

“Oleh karena itu, wal-wali dulu mengatakan ojo mo limo! (jangan melakukan lima hal, red.) karena itu upacara Pancamakara lingkaran, upacara Pancamatara Bairawa Tantra,” katanya di kantor redaksi IPNU Tegal, gedung PBNU, Jakarta, Sabtu, (9/3).  

Tapi, larangan Walisongo tidak menebar kebencian kepada kelompok yang melakukan, melainkan membuat budaya sendiri. Misalnya Sunan Bonang membuat tandingan dengan membentuk lingkaran jamaah yang disebut kenduri.

IPNU Tegal

Lebih jauh, penulis Suluk Abdul Jalil (7 Jilid) dan Atlas Walisongo tersebut menagatakan, waktu itu, umat Islam tandanya sederhan saja; sudah khitan dan melakukan selamatan sudah dianggap sebagai Muslim.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Aswaja IPNU Tegal

Senin, 02 Oktober 2017

10.000 Nahdliyin Se-Jateng Bakal Banjiri Apel Akbar di Kebumen Pekan Ini

Kebumen, IPNU Tegal. Sekitar 10 ribu warga Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa Tengah akan menggelar Istighotsah dan Apel Kesetiaan terhadap NKRI dan Pancasila sebagai Dasar Negara, Sabtu-Ahad (15-16/4) di Pantai Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.?

Panitia penyelenggara mengatakan, kader-kader NU di Jawa Tengah dipandang perlu untuk mempertegas komitmen tersebut demi keutuhan NKRI dan siap berada di garda terdepan jika NKRI ini mendapat gangguan dari sejumlah pihak yang cenderung anti Pancasila dan NKRI.?

10.000 Nahdliyin Se-Jateng Bakal Banjiri Apel Akbar di Kebumen Pekan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
10.000 Nahdliyin Se-Jateng Bakal Banjiri Apel Akbar di Kebumen Pekan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

10.000 Nahdliyin Se-Jateng Bakal Banjiri Apel Akbar di Kebumen Pekan Ini

"Selama ini kami mungkin terlihat diam, namun kali ini kami akan buktikan bahwa kami selalu bergerak ? demi agama bangsa dan negera, kami akan tunjukan bahwa NU tidak akan tinggal diam demi NKRI ini,” kata ? M. Muzammil Ketua Panitia Istighosah dan Apel Akbar PWNU Jawa Tengah, di Purwokerto, Kamis (13/4).

Ia mengatakan, gerakan terorisme oleh kelompok-kelompok radikalisme berbaju agama yang anti NKRI dan Pancasila di sejumlah daerah termasuk yang terbaru di Polres Banyumas yang menyerang tiga orang polisi, sudah sangat mengkhawatirkan.?

IPNU Tegal

"Oleh karna itu sudah saatnya kami harus bersikap tegas dan meminta pemerintah juga demikian terhadap kelompok radikalis tersebut termasuk kepada Ormas-ormas yang jelas jelas anti NKRI dan Pancasila,” kata Muzammil.

Ia menyatakan, acara apel akbar kader NU se-Jawa Tengah itu diadakan secara spontanitas melihat perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini. "Acara akan kita awali dengan doa bersama pada Sabtu malam di tepi Pantai Petanahan dan Ahad paginya kita akan Apel Kesetiaan para kader,” kata Muzammil yang juga salah satu Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah.

IPNU Tegal

Segenap Panitia meminta doa restu kepada seluruh Kiai NU di Jawa Tengah umumnya dan di Kabupaten Kebumen khususnya atas acara yang cukup mendadak tersebut. "Jadi mohon doa restu dan mohon maaf kalau acara ini mengejutkan terutama bagi warga di Kabupaten Kebumen,” terang Muzammil yang juga mengundang Pangdam IV Diponegoro dan Kapolda Jawa Tengah.

"Sejumlah perwakilan kader ? luar Jawa Tengah juga akan hadir sebagai undangan khusus seperti dari Yogyakarta, Jatim, DKI Jakarta, Jabar, Sumsel, Lampung dan sejumlah wilayah lain,” katanya.

Sekretaris Panitia Kholison Syafii, pada kesempatan yang sama mengatakan, meminta kepada seluruh Kader NU di Jawa Tengah untuk hadir pada acara tersebut. "Ini instruksi kepada seluruh kader di Jawa Tengah untuk segera mempersiapkan diri hadir pada acara tersebut. Ini sangat penting untuk keutuhan bangsa dan negara kita,” kata Kholison.

Ia mengatakan, selain puluhan ribu Kader Penggerak NU yang diwajibkan hadir pada acara tersebut, para Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU (PCNU) se Jawa Tengah, ketua-ketua Lembaga dan Ketua Banom PWNU Jateng juga diminta untuk hadir.?

Pemilihan tempat di Kabupaten Kebumen menurutnya karena pertimbangan strategis dan lokasi yang dipandang mampu untuk menampung kader dalam jumlah banyak, pantai adalah pilihan tepat sebab mengandung makna filosofi yang dalam,Tanah Air kita.

Sementara itu, Gus Hasan, Ketua PCNU Kabupaten Banyumas mengatakan siap untuk mengirimkan seluruh Kader Penggeraknya ke Kebumen ."Tidak ada kata lain kecuali siap menjalankan tugas sebagai kader. Kami dari Banyumas sudah berikrar untuk mempertahankan keutuhan NKRI sampai titik darah penghabisan,” kata Gus Hasan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Cerita, Ulama IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock