Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak

Cirebon, IPNU Tegal. Sedikitnya 75 pelajar NU Buntet Pesantren, Cirebon mendeklarasikan komunitas Falak. Mereka adalah peserta pelatihan Khazanah Teori dan Praktik Ilmu Falak yang diinisiasi MANU Putra Buntet Pesantren dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang, Senin-Selasa (27-28/1).

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak (Sumber Gambar : Nu Online)
Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak (Sumber Gambar : Nu Online)

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak

Pembentukan komunitas Falak Buntet Pesantren dinyatakan di akhir pelatihan Falak, Selasa (28/1) yang berisi pengenalan teori dan perangkat penelitian Falak mulai dari alat tradisional hingga modern berbasis teknologi.

Kepala Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren KH Ade Mohammad Mansyur mendorong komunitas Falak ini menjadi wadah pelajar mengembangkan khazanah Falak yang kini sepi dari perhatian dunia pendidikan.

IPNU Tegal

“Deklarasi ini diharapkan menginspirasi pesantren-pesantren lain untuk menghidupkan kembali khazanah Falak di mana pemikir-pemikir besar Islam masa lalu di bidang Falak menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia,” jelas Kiai Ade Mansyur.

Ia mengharapkan komunitas Falak Buntet Cirebon ini semakin menambah ? gairah para santri mempelajari dan mengembangkan Ilmu Falak agar eksistensinya tetap terjaga di dunia pendidikan khususnya pesantren. (Khaerun Nufus/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Sejarah, AlaSantri IPNU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional

Demak, IPNU Tegal. Puluhan siswa kelas IX MTs Futuhiyyah 1 Mranggen Demak mengadakan istighotsah bersama sebelum menghadapi UN, Sabtu (3/5) malam. Kegiatan ini didampingi segenap jajaran guru dan pegawai MTs Futuhiyyah 1.

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional

Istighotsah ini merupakan kegiatan rutin tahunan di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen. Bertempat di aula sekolah para hadirin mendengarkan pembacaan maulid yang dipimpin salah seorang siswa. Mereka selanjutnya membaca tahlil yang dipandu KH Ahmad Tamziz.

Kepala MTs Futuhiyyah 1 Mranggen KH Said Lafif Hakim berpesan kepada seluruh siswa kelas IX untuk senantiasa belajar dan terus belajar. Ia mengimbau para siswanya untuk memanfaatkan waktu yang ada.

IPNU Tegal

“Di samping belajar, kalian jangan lupa berdo’a. Karena, do’a akan menjadi kekuatan batin bagi kita,” kata Kiai Said dalam sambutannya.

Pembacaan istighotsah dipimpin langsung H Shodiqin. Acara ini ditutup dengan doa yang dibacakan oleh KH Abdul Basyir Hamzah. (Abdus Shomad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Sejarah IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga

Brebes, IPNU Tegal. Pengurus Anak Cabang ( PAC) Fatayat Larangan mengadakan pelatihan untuk para pelatih di bidang tata boga di kediaman Tunjiyah dusun Temukerep desa Larangan kecamatan Larangan, Brebes, Ahad (7/6). Sebanyak 102 aktivis Fatayat NU dari 17 ranting di Larangan, hadir sebagai peserta pelatihan.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Fatayat NU Larangan dan Celoteh Brebes Membangun (CBM). Kegiatan ini murni swadaya anggota Fatayat. Setiap ranting dikenakan biaya sebesar Rp 200.000 untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan tata boga. Semua peserta yang ikut harus membawa alat masak seperti oven, kompor, gas lpj, dan mixer serta alat cetak kue.

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Larangan Bimbing 102 Calon Pelatih Tata Boga

Ketua Fatayat NU Larangan Khurmah Al-Munawar bercerita bahwa pelatihan ini digagas bersama teman-teman CBM dengan maksud ? ke depan semua pengurus ranting Fatayat bisa melatih kembali warga NU di desanya. Dengan bekal itu, warga nantinya memiliki keterampilan yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga.

IPNU Tegal

Praktisi Tata Boga CBM Amellya Shofiya Rizqiyaty mengajarkan empat menu yang meliputi kue nastar nanas, kue putri salju keju, kue kering choco chips, bolu karamel panggang sarang semut. Semua bahan yang disajikan, langsung disediakan dan dibelikan oleh praktisi biar memudahkan saat praktik nantinya.

"Keahlian memasak dan membuat menu ini nantinya bisa menjadi nilai tambah bagi aktivis Fatayat. Apalagi menjelang puasa dan lebaran, para peserta bisa memproduksi aneka kue yang bisa dikonsumsi sendiri atau dijual di pasar," ujarnya.

IPNU Tegal

Salah seorang peserta pelatihan tata boga Tunjiyah mengaku senang dengan pelatihan ini karena selama ini dirinya belum pernah mendapat pelatihan seperti ini.

Ke depan diharapkan ada produk yang dihasilkan dari para peserta dan memiliki nilai jual produk yang tinggi hingga sukses di pasaran. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaSantri, Sejarah, Pahlawan IPNU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik

Jakarta, IPNU Tegal 



Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan, reuni, kongres atau apapun namanya boleh saja dilakukan. Apalagi jika dimaksudkan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan sesama warga negara).

Ia mengatakan hal itu ketika mengomentari Reuni alumni 212 yang akan digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Sabtu (2/12). Reuni itu memperingati aksi yang dilakukan umat Islam setahun yang lalu.   

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Reuni 212 Boleh Saja, Asal Jangan Jadikan Agama sebagai Tunggangan Politik

"Namun, jangan ada upaya untuk mengarus-utamakan agama dalam percaturan politik praktis, apalagi menjadikan agama sebagai tunggangan politik. Politisasi agama akan mengoyak kohesivitas sosial yang pada gilirannya merusak persatuan dan kesatuan bangsa," katanya di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (30/11). 

Ia meminta untuk menjadikan agama sebagai inspirasi dalam  mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan jadikan agama sebagai aspirasi politik. Kesepakatan para pendiri bangsa atas NKRI (mu’ahadah wathaniyyah, konsep negara bangsa) harus kita junjung tinggi.

“Betapa rendah kedudukan agama bila dijadikan aspirasi politik hanya untuk menangguk keuntungan politik elektoral lima tahunan. Apalagi untuk dikonversi dengan perolehan suara dalam politik elektoral.” (Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Anti Hoax, Pondok Pesantren, Sejarah IPNU Tegal

IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem

Oleh Roqiyul Maarif Syam*



Maraknya kabar orang hilang di beberapa daerah di Indonesia yang terkait dengan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) maupun organisasi sejenisnya membuat keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi baru-baru ini terjadi aksi teror di Thamrin, Jakarta yang dikaitkan pada isu Islamic States of Iraq and Syiria (ISIS) maupun isu terorisme lainnya. Sasaran yang direkrut sebagai anggota oleh mereka dijadikan sempalan terhadap negara. Menyikapi hal tersebut, kita perlu untuk merespons, membentengi diri dan melawan terorisme, radikalisme, ekstrimisme serta bentuk kekerasan lain atas nama suatu paham atau keyakinan tertentu.?

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem

Negara Kesatuan Republik Indonesia ibarat rumah besar bagi warganya yang beragam. Pemerintah sebagai aparat yang bertugas menjamin keamanan, dan kesejahteraan para penghuninya dengan seperangkat aturan hukum yang mengatur keragaman warganya. Teror dan kekerasan yang berasal dari paham-paham fundamental, radikal dan ekstrem menjadi hantu gentayangan yang tidak mampu diusir hanya oleh para pemangku kebijakan. Dari luar, gelombang globalisasi yang tak terbendung selanjutnya memperparah persoalan karena secara drastis mengubah pola relasi masyarakat dengan ruang-ruang sosial. Hal-hal ini berakibat pada terjadinya guncangan serius pada identitas yang menjadi sumber makna dan pijakan setiap orang dalam mengidentifikasi secara simbolik arah dan tujuan tindakan-tindakan yang mereka lakukan didalam rumah besar ini. Dalam politik multikuturalisme seperti yang diungkapkan Melucci, gejala ini dinamakan "homelessness of personal identity" yang berarti gejala yang membuat orang kehilangan pijakan dan definisi tentang dirinya sehingga mudah dibujuk dan dipengaruhi paham ekstrem yang berasal dari "luar rumah" untuk menjadi penganutnya. Tak ayal situasi yang paling buruk akhirnya adalah ancaman disintegrasi bangsa yang disebabkan oleh konflik-konflik horizontal "di dalam rumah" dan pembangkangan/ sempalan terhadap negara.

Ledakan sosial dan riuh rendah tragedi kemanusiaan yang terjadi di negeri ini umumnya disebabkan dari pemahaman dangkal serta keyakinan ekstrem yang dianut oleh seseorang mengenai beberapa hal, diantaranya; nasionalisme; keberagamaan; dan juga lokalitas sebagai penanda/identitas primordial suatu etnik.

IPNU Tegal

Pertama, pemahaman nasionalisme yang dangkal akan berujung pada sikap hanya mengambil keuntungan saja dalam bernegara. Bagi orang yang berpemahaman dangkal terhadap negara akan beranggapan bahwa negara hanya tidak lebih dari suatu institusi yang korup. Orang dengan pemahaman demikian akan bersikap acuh tak acuh pada persoalan kenegaraan dan kebangsaan. Sedang bagi para wakil rakyat, sikap seperti ini beranggapan bahwa kepentingan-kepentingan yang dikiranya adalah kepentingan rakyat nyatanya hanya memperkuat posisi negara tanpa kehadirannya bagi kepentingan rakyat. Namun juga keyakinan bernegara yang keterlaluan adalah akar dari nasionalisme berlebihan (chauvistik) yang berujung pada fasisme seperti yang pernah dipraktikkan beberapa negara di masa yang silam. Sikap ekstrem di tengah kancah politik dunia juga sempat mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini. Dalam sejarah kepemimpinannya, Indonesia pernah mengalami masa nasionalisme ekstrem kiri (komunisme) pada era akhir kepemimpinan Orde Lama yang berujung pada peristiwa G30S-PKI, juga sempat menjadi pendukung nasionalisme ekstrem kanan (kapitalisme) di era Orde Baru yang lebih banyak lagi peristiwa teror dan kekerasan terjadi di era ini.

Bangsa kita menganut prinsip -meminjam istilah Soekarno, yaitu internasionalisme yang penulis pahami sebagai ikut aktif dalam menjaga humanisme atau peri- kemanusiaan, perdamaian di atas dunia. Nasionalisme kita adalah rasa cinta tanah air dan tumpah darahnya, suatu pemahaman dan keyakinan dengan fondasi nilai yang terkadung dalam Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap butir Pancasila merupakan jiwa yang menggerakkan setiap warga negara dalam berinteraksi sosial dari lingkup terkecil di Rukun Tetangga (RT) hingga masyarakat internasional. Ekspresi nasionalisme yang dituntun oleh rambu-rambu Pancasila ini akan mengantarkan bangsa Indosesia menuju cita-cita pendirian negara Republik Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 45. Meski erat kaitannya juga, bahwa nasionalisme kita harus diukur dari seberapa berhasil pemerintah mewujudkan janji-janji kemerdekaan yang diwariskan para pendiri negara ini. Di antara yang belum terwujud hingga saat ini yaitu cita-cita memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kedua, dalam hal beragama, jalan pintas memahami agama dengan instan serta praktik dakwah keagamaan yang keras adalah ekspresi kedangkalan pemahaman agama itu sendiri. Pemahaman agama yang ekstrem terhadap kebenaran dirinya hanya akan merusak nilai dari beragama itu sendiri, yaitu hidup dengan benar dan selamat di dunia dan akhirat. Lalu bagaimana penganut agama meyakini akan selamat di akhirat jika di dunia saja malah menyebarkan teror dan ancaman kemanusiaan bagi sesama hamba Tuhan?

Dalam catatan sejarah negara kita, pemahaman agama yang ekstrem merupakan hantu masa lalu yang selalu membisikkan teror, penculikan, dan tindakan yang mengganggu perikemanusiaan di negeri ini. Alih-alih demi mendirikan kerajaan tuhan di bumi, penganut agama yang ekstrem akan berani menganggap orang lain di luar kelompoknya sebagai kafir, musuh tuhan yang layak dimusnahkan. Sikap seperti ini berujung pada fitnah dan teror sesama umat beragama di suatu negara. Tak ayal pemahaman demikian bukannya mengajak selamat hidup di dunia malah menjadi pembangkang terhadap negara. Bangsa kita pernah mengalami fitnah ini dalam catatan kelam sejarahnya yaitu saat marak pendirian Negara Islam Indonesia (NII), juga Darul Islam (DI) di daerah Jawa Barat. Bahkan dalam hal ini penulis merupakan keturunan korban penyiksaan dan penculikan oleh anggota DI yang hingga kini tidak diketahui dimana keberadaan jasadnya atau kuburannya hanya untuk sekedar melakukan tradisi nyekar (ziarah kubur).

Namun juga perlu dipahami bahwa hampir setiap agama memiliki madzhab/sektenya masing-masing. Satu sama lain antar pemeluk agama perlu saling menjaga kebebasan beragamanya dengan saling melindungi dari sekte-sekte yang dianggap menggangu harmoni antar pemeluk agama. Diantara banyaknya sekte yang terdapat dalam setiap agama tersebut, yang terburuk adalah yang mengajarkan pemahaman yang ekstrem dan kekerasan terhadap manusia demi alasan pembelaan kepada Tuhan. Semua agama yang sah dianut di Indonesia mengedepankan prinsip-prinsip humanisme, perdamaian, serta cinta kasih sesama makhluk Tuhan. Juga setiap paham masing-masing agama yang mengajarkan kebaikan hidup, toleransi, saling menolong, merupakan sekte yang sah diakui sebagai bagian dari agama tersebut. Mereka yang membuat kerusakan dan menebar ancaman atas nama agama tidak lain adalah oknum penganut ajaran ekstrem dari suatu sekte agama tertentu yang keberadaannya malah meresahkan masyarakat. Seperti aksi pembakaran masjid pada saat pelaksanaan shalat hari raya yang dilakukan oleh oknum penganut sekte tertentu dalam agama Katolik di Papua beberapa waktu yang lalu. Sekali lagi, kita perlu saling mengenali dan menjaga sesama pemeluk agama dari penyusupan-penyusupan oknum penganut ajaran ekstrem yang justru ingin merusak wajah toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia.

IPNU Tegal

Ketiga, mengenai pemahaman serta keyakinan akan identitas lokal/primordial suatu etnik, apabila tidak arif dalam memahaminya hal ini seringkali menjadi pisau bermata dua yang dapat bernilai manfaat sekaligus dapat menjadi isu pemecah bagi masyarakat. Pemahaman yang ekstrem terhadap nilai lokal dapat menyebabkan seseorang terperangkap dalam sikap terlalu berbangga diri akan identitas lokal, tertutup terhadap perbedaan kebudayaan. Hal seperti ini yang sering disebut ego lokal. Seperti istilah katak dalam tempurung, yang tak mengerti akan dunia di luar dirinya dan dirinyalah satu-satunya penguasa di dalam tempurung itu. Ekspresi-ekspresi yang lebih menunjukkan sikap tertutup dari sang liyan ? akan menjadikan kita manusia primitif yang tidak mau mengenal kebaikan yang berasal dari luar. Sikap mengedepankan ego lokal secara ekstrem malah akan merusak nilai dari pada kearifan lokal itu sendiri. Merasa diri dari etniknya-lah yang layak mendapatkan posisi dan keistimewaan tertentu dalam masyarakat. Seperti anggapan yang sering terlontar saat musim pemilihan kepemimpinan nasional di negara ini semenjak pendiriannya, mengapa selalu orang Jawa yang jadi presiden?

Lebih arif bagi kita untuk menonjolkan identitas lokal dari sisi kesenian dan kebudayaan daerah juga identitas lokal lainnya sebagai alat pemersatu bangsa. Setiap kebudayaan suatu etnik memiliki rasa keindahan yang bersifat universal dapat dirasakan semua manusia Nilai-nilai keindahan universal tersebut adalah suatu ikatan tak terlihat yang menjadi penanda bahwa suatu etnis tertentu terhadap etnis lainnya adalah saudara yang saling mengisi peradaban manusia. Sebab kesenian dan kebudayaan tersebut merupakan warisan peradaban lokal yang patut dilestarikan keberadaannya. Dalam menyikapi perbedaan dari sudut pandang identitas kedaerahan, para pendiri bangsa ini sempat mengajarkan kita sikap keterbukaan, saling berbagi, persatuan dan kesatuan atas dasar kesamaan rasa, menghilangkan ego lokalitas atau sentimen kedaerahan, mengedepankan pertimbangan akal sehat, juga melakukan pertukaran budaya. Sikap para pendiri negara kita itu-lah yang menjadi rumusan terciptanya Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan dan kesatuan bangsa ini. Seperti pernah dicontohkan oleh Otto Iskandar Dinata dengan rela membubarkan Paguyuban Pasundan demi kebersatuan rakyat Indonesia dibawah Boedi Oetomo guna melawan kolonialisme Belanda, juga ? Sri Sultan Hamengku Bhuwana IX yang tulus bergabung memasukkan wilayah kekuasaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah pemerintahan Republik Indonesia, begitupun yang dicontohkan para tokoh besar lain pendiri republik ini.?

Gambaran Indonesia yang terangkai dalam kalimat "Dari Sabang sampai Merauke" menjadi istilah yang mampu merangkum jutaan nilai yang dikandung suku bangsa Aceh, Minangkabau, Jawa, Toraja, Dayak serta suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia. Nilai-nilai tersebut berasal dari peradaban lokal yang menyejarah bagi setiap suku bangsanya.

Lebih banyak dari kita yang menunjukkan perbedaan kedaerahan satu sama lain ketimbang persamaannya yang justru lebih banyak. Nilai-nilai itu harus dilahirkan menjadi bentuk ekspresi manusia Indonesia yang berkeadaban yang luhur demi mengisi kemajuan peradaban. Masyarakat Indonesia yang beradab berarti masyarakat yang mampu menjunjung nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan penghargaan yang tinggi bagi suatu karya. Bukankah suatu bangsa dianggap berbudaya jika dapat membangun kebaikan bersama?

Ketiga hal yang diuraikan tersebut merupakan isu-isu penting yang mengisi kesejarahan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa. Sejak jaman perjuangan pergerakan kemerdekaan, ketiga hal tersebut begitu saja liar berkelindan di dalam alam pikiran masyarakat tanpa porsinya yang sesuai demi membentuk kepribadian manusia Indonesia. Perdebatan antar kelompok di ketiga hal tersebut seperti tak pernah usai untuk diakhiri dengan kejernihan hati dan akal sehat. Dari ketiganya yang ekstrem lah yang selalu menjadi perusak kenyamanan kita sebagai manusia Indonesia di "rumah besar" kita ini. Pemahaman yang moderat dan mendalam akan ketiga hal tersebut nantinya yang akan membentuk kita menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Manusia Indonesia sebagai bangsa besar yang menghuni "rumah besar". Identitas keindonesiaan yang kuat akan begitu saja mampu menangkal paham-paham ekstrem yang akan merusak Indonesia sebagai negara-bangsa.

Jika hal-hal demikian dapat dilaksanakan baik oleh aparat pemerintah, maupun masyarakat selaku manusia Indonesia, paling tidak kita semua telah berusaha untuk dapat selamat hidup di belahan bumi manapun, terlebih di negeri kita tercinta yang gemah ripah loh jinawi ini. Lalu ajaran ekstrem mana lagi yang akan menabur benih ancaman dan kekerasan ? kita jika kita benar-benar menjadi manusia Indonesia? Demi hal itu kita tidak membutuhkan apapun, hanya ketulusan yang manusiawi. Wallahu alam bisshawwab

* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Siyasah UIN Sunan Kalijaga, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Sejarah, Ubudiyah IPNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan

Khartoum, IPNU Tegal. Dalam rangka meramaikan acara malam gebyar maulid, Kementerian Bimbingan dan Wakaf Sudan mengajak jamiyah sholawat NU Sudan yang bertempat di Qoah as Shodaqoh, Khartoum, untuk ikut berpartisipasil.



Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan

Acara yang berlangsung Senin, (2/2) lalu ini berlangsung meriah dengan penampilan musisi-musisi Negara Sudan yang terhimpun dalam Grup Ahbabul Rasul.

Menurut Wakil Rais Syuriah PCINU Sudan H. Lian Fuad, kelompok yang dinamakan Jami’yah Syifa’ul Qulub (JSQ) ini dinaungi oleh Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCINU Sudan dan sering mendapatkan undangan kehormatan, dari mulai kalangan sufi sampai pemerintah Sudan.

“Untuk kali pertama ini JSQ yang divokali oleh Hafidzul Umam ini bisa sejajar dengan para musisi dan seniman negara Sudan,” ujarnya.

IPNU Tegal

Acara yang berlangsung sampai larut malam ini disiarkan di beberapa stasiun televisi lokal dan juga dihadiri oleh Wakil Presiden Sudan Prof. Hassabu Mohammed Abdalrahman dan Menteri Bimbingan dan Wakaf Sudan Dr. Muhammad Musthafa al Yaquti.

Menurut Lian, para musisi Sudan sendiri sangat senang dan bangga bisa tampil bersama-sama membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Banyak juga penampilan dari kalangan anak-anak yang membawakan puisi untuk Nabi dan juga puisi dengan bahasa Inggris dan Perancis. Durasi penampilan yang diberikan oleh panitia kepada JSQ terbilang cukup untuk menampilkan satu lagu Ya Rasullah Salamun Alaik. (Azim Aufaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Hikmah, Tokoh, Sejarah IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

Jakarta, IPNU Tegal. Kepala Badan Litbang Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Masud menegaskan bahwa Indonesia berada pada urutan terdepan negara-negara dunia dalam konteks kerukunan. Banyak negara mengakui keberhasilan Indonesia dalam menjaga harmoni dalam kemajemukan.

Menurut Masud, kerukunan Indonesia tidak terlepas dari kekayaan kearifan lokal yang telah diwariskan pendahulu bangsa sejak ratusan tahun lalu. Kekayaan kearifan lokal itu, kata Masud, antara lain berupa tradisi lisan yang sarat akan nilai dan pesan kerukuan, persatuan, dan kesatuan.

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

“Tradisi lisan di daerah yang menjadi bagian dari kearifan lokal mempunyai korelasi dengan kerukunan daerah. Tradisi itu terbukti menjadi perekat kerukunan warga dan karenanya bisa dijadikan bahan kampanye perdamaian nusantara,” demikian penegasan Abdurrahman Masud sebagaimana dilansir di laman kemenag.go.id, Jumat (29/4).

Merujuk pada hasil penelitian Balai Litbang Keagamaan DKI Jakarta yang dilakuan sejak awal tahun ini. Penelitian yang bertajuk “Nilai Keagamaan dan Nilai Kerukunan dalam Tradisi Lisan Nusantara” mengungkap data dan fakta bahwa suku-suku bangsa di Indonesia sangat agamis dan rukun. Masyarakat Indonesia juga memiliki kekhasan dalam ? beragama yang terkait dengan kebudayaannya, dan salah satu wujudnya adalah tradisi lisan. Tradisi lisan itu diwariskan secara turun-temurun menjadikan pesan keagamaan dan kerukunan lebih mudah disampaikan dan diterima.

Anik Farida, selaku ketua tim peneliti mengungkapkan, ada delapan wilayah yang dijadikan sasaran penelitian, yakni: Jakarta, Banten, Bandung, Cirebon, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau. Penelitian dilakukan dengan menggali nilai keagamaan dan kerukunan yang tersirat dalam tradisi lisan pada sejumlah tradisi, yaitu: ? Ritual Akikah di Jakarta, Tradisi Panjang Mulud di Banten, Petatah-Petitih Sunan Gunung Jati di Cirebon, Tradisi Warahan di Lampung, Tradisi Tadud di Sumatera Selatan, Tradisi Teater Rakyat Mendu di Natuna Kepulauan Riau, dan Tradisi Pasambahan di Sumatera Barat. ? ? ?

IPNU Tegal

“Potensi harmoni di negara kita itu jauh lebih kuat dan dahsyat dibanding potensi disharmoni atau ? intoleransi. Makanya tidak aneh jika hasil penelitian kita, termasuk soal KUB, indeks kerukunan 2015, kita mencapai 75,36%. Bahkan yang nomor satu seperti di NTT dan Bali di atas 80%,” tandasnya. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Warta, Sejarah, Nahdlatul IPNU Tegal

IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock