Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Medan, IPNU Tegal. Ketua Umum PBNU KH. A. Hasyim Muzadi meminta umat Islam tidak terkecoh dan selalu waspada terhadap ajaran Islam yang “aneh-aneh” yang dapat meresahkan masyarakat.

Umat Islam perlu lebih berhati-hati dan selalu waspada terhadap setiap ajaran Islam model baru yang disebarkan secara simpatik oleh seseorang yang mengaku sebagai ustadz, wali dan bahkan Jibril.

“Di Malang ada yang mengaku sebagai kelompok Islam tapi sholatnya menggunakan dua bahasa,” kata Hasyim pada Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, di Medan, Minggu (20/8) kemarin.

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Dicontohkan lagi, di Purwokerto dan Jakarta seorang umat Islam mengaku sebagai Jibril atau mendapatkan wahyu dari Jibril. “Orang tersebut sudah diamankan oleh pihak berwajib,” katanya.

Begitu pula di salah satu daerah di Jawa Tengah ada kelompok yang sedang Shalat menganjurkan jamaahnya agar tidak menggunakan busana. “Tindakan seperti ini tidak hanya aneh, melainkan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam,” kata Hasyim.

Umat Islam diminta jangan sampai terpengaruh dengan ajaran yang menyesatkan, karena ajaran yang aneh-aneh itu tidak ada dalam Islam. "Masyarakat jangan sampai terkecoh akan ajaran itu,” kata Hasyim.

IPNU Tegal

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang itu mengingatakan, saat ini, banyak orang yang kelihatan pandai dan mempunyai ilmu agama yang tinggi, namun tidak dibarengi keimanan kepada Allah SWT.

“Seorang yang mengetahui hukum kadang mereka itu sering melakukan pelanggaran dan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan hukum tersebut. Hal semacam itu terjadi karena ilmu tinggi yang dimilikinya tidak dibarengi keimanan, ketaqwaan serta tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT,” ujarnya. (har/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal AlaNu, Kajian Sunnah, IMNU IPNU Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad

Bantul, IPNU Tegal. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu.” KH Habib Abdus Syakur, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, mengutip ayat Al-Qur’an itu di sela-sela amanatnya sebagai Pembina Upacara Peringatan Hari Kartini, 21 April 2014 yang diselenggarakan di halaman Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul.

Dalam kesempatan itu Habib juga menegaskan bahwa Islam mengajarkan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT. Tidak ada keunggulan bangsa Arab atas bangsa lainnya, bahkan tidak ada keunggulan apapun dari laki-laki atas perempuan, melainkan semata ketaqwaan mereka kepada Allah.

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad

Di hadapan segenap siswa-siswi MA Unggulan Al-Imdad Bantul yang khusyu’ mengikuti jalannya Peringatan Hari Kartini tersebut, Habib juga menyampaikan besarnya peran kaum perempuan dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

IPNU Tegal

“Dengan demikian Hari Kartini ini sangat pantas dipersembahkan bukan hanya untuk Raden Ajeng Kartini, melainkan juga untuk pahlawan-pahlawan perempuan lainnya. Bahkan juga bagi semua yang berusaha mewujudkan kesetaraan tersebut. Termasuk santri-santri putri yang berjuang meraih ilmu demi mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik,” ujar Habib.

IPNU Tegal

MA Unggulan Al-Imdad yang berdiri belum genap dua tahun ini memang telah memprogramkan peringatan Hari Kartini 2014 secara khusus. Terkait hal ini, pihak madrasah melalui Fajar Bashir selaku Kepala TU telah meminta segenap siswa dan siswi untuk mengenakan busana adat.

“Untuk para siswi kita sudah meminta mereka untuk mengenakan kebaya, dan para siswa dipersilahkan untuk mengenakan batik yang dilengkapi dengan sarung setinggi lutut,” ujarnya

“Bahkan para guru yang memiliki kegiatan belajar-mengajar di hari ini juga kita minta untuk turut mensukseskan acara Peringatan Hari Kartini yang kita gagas,” imbuhnya.

“Dan terimakasih kepada Kiai Habib sebagai Pengasuh Pondok Pesantren dan Bapak Taufiq Bukhori selaku Sekretaris Yayasan yang secara khusus mengenakan surjan sebagai sebuah bentuk teladan bagi para santri.” (Muhammad Yusuf Anas/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Tokoh, Sholawat IPNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial

Jakarta, IPNU Tegal

Buruh harus lebih sering melakukan dialog sosial sebagai upaya penguatan, pemahaman peraturan dan regulasi ketenagakerjaan, ujar Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) Syaiful Bahri Anshori.

“Langkah itu penting supaya buruh mengerti bagaimana hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan,” ujar Syaiful, di Jakarta, Selasa (4/4).

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial

Persoalan buruh, demikian Syaiful menambahkan, semakin banyak dan semakin kompleks. Karena itu, butuh dukungan dari pilar Tripartit, yakni serikat buruh yang kuat dan baik, Apindo yang apik dan pemerintah yang mempunyai regulasi tegas dan pengawasan efektif.

IPNU Tegal

“Persoalan hubungan industrial saat ini adalah bagaimana memahamkan Sarbumusi dan anggota dalam menyelesaikan persoalan-persoalan perburuhan sehingga penguatan dalam hal pembelaaan hak-hak buruh yang diabaikan menjadi berkurang,” paparnya.

IPNU Tegal

DPP K-Sarbumusi NU telah mengambil langkah untuk melakukan penguatan pembelaan hak-hak buruh melalui pendirian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bagi buruh sebagai bagian penting pembelaan melalui litigasi dan nonlitigasi.

“DPP K-Sarbumusi NU juga terus berupaya melakukan terobosan dan inovasi terkait bagaimana mengembangkan dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui pendiri Koperasi Sarbumusi,” tuturnya.

Syaiful mengajak anggota Sarbumusi NU lebih banyak silaturahmi dan berkomunikasi dengan orang tuanya, yakni NU.

“Ini jelas karena Sarbumusi merupakan badan otonom NU. Setiap tingkatan organisasi juga harus lebih membangun solidaritas antarsesama dan antarstruktural. Ssehingga lebih cepat bergerak dan beraktivitas dalam mencapai tujuan,” pungkas Syaiful. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Ubudiyah, AlaNu IPNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi

Oleh Muhammad Ishom 



“Aku punya gagasan untuk mempertemukan mereka berdua

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi



agar saling isi dengan cerita derita duka lara

Barangkali nanti tumbuh naluri sejati

IPNU Tegal

dan kembali seperti sediakala

Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti

Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” (Bait ke-6)

Itulah enam baris dari bait terakhir lirik lagu berjudul “Zaman” yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya– Ebiet G. Ade–dan dirilis pada tahun 1986. Apa yang dimaksudkan Ebiet dengan frasa “mereka berdua” pada baris pertama di atas tak lain adalah bencong dan tomboi sebagaimana terdapat dalam judul tulisan ini meski Ebiet tidak menyebut sama sekali dua istilah itu di dalam lirik lagunya. 

IPNU Tegal

Kedua istilah itu telah umum digunakan oleh masyarakat untuk menyebut kelompok orang yang perilaku atau penampilannya tidak cocok menurut kewajaran dengan jenis kelamin yang disandangnya. Mereka yang disebut bencong mungkin sama dengan yang dimaksud gay atau transgender dalam LGBT meski tidak setiap bencong adalah gay atau transgender. Demikian pula mereka yang disebut tomboi mungkin sama dengan yang dimaksud lesbian dalam LGBT meski tidak setiap tomboi adalah lesbian. 

Saat ini orang tengah ramai kembali membicarakan tentang LGBT sehubungan dengan penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perkara 46/PUU-XIV/2016 yang diajukan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Euis Sunarti bersama sejumlah pihak. Tahun lalu Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta para lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. 

Penolakan itu telah dipahami sebagian kalangan di sejumlah postingan di media sosial bahwa MK telah melegalkan perbuatan zina dan homoseksual. Pemahaman sekaligus tuduhan ini ditolak oleh Juru Bicara MK Fajar Laksono yang menegaskan Mahkamah tidak melegalkan perbuatan seksual sejenis (Kompas.com, 18/12/2017, 20:15 WIB).

Namun, tulisan ini tak dimaksudkan untuk membicarakan polemik tentang LGBT dari berbagai perspektif karena penulis hanya sekedar ingin mengingat kembali bahwa tiga puluh satu (31) tahun lalu seorang penyanyi sekali pencipta lagu–Ebiet G. Ade–telah menyodorkan sebuah gagasan untuk mencarikan solusi terhadap fenomena bencong dan tomboi yang masing-masing bisa masuk dalam kategori gay atau transgender dan lesbian.

Sejauh yang bisa saya tangkap dari lirik lagu “Zaman” secara keseluruhan, Ebiet G. Ade berpikir bahwa bencong dan tomboi dapat dipertemukan dalam ikatan perkawinan sebab mereka yang secara fisik laki-laki tetapi secara seksual tertarik kepada sesama jenis sebenarnya juga menyadari ketidak wajarannya. Mereka bahkan tak menghendaki hal itu terjadi sehingga selalu menangisi nasibnya. Akhirnya mereka sampai pada pertanyaan mendasar apakah hal itu berdosa. 

Pikiran Ebiet G. Ade tersebut sebagaimna dapat kita simak pada bait ketiga sebagai berikut: 

Ia bersembunyi menyimpan tangis yang tak kuasa dibendung

Ia jatuh cinta namun keburu sadar itu tak wajar

Tanda tanya bergolak di dalam fikirannya, “Berdosakah?”

Sedang ia pun tak menghendaki

Siapa gerangan yang dapat membantu menjawabnya? (Bait ke-3)





Pada baris terkahir dari bait ini Ebiet G. Ade mengajukan pertanyaan siapa gerangan yang dapat membantu menjawab pertanyaan dari laki-laki bencong tentang berdosa tidaknya jika ia jatuh cinta secara tidak wajar karena mencintai sesama jenis. Beberapa pihak dari kalangan agamawan baik Islam maupun Nasrani telah memberikan jawaban tegas bahwa mencintai sesama jenis yang kemudian diungkapkan dengan hubungan seksual adalah berdosa. 

Pada bait keempat dan kelima Ebit G. Ade mengungkap fenomena yang berkebalikan dengan bencong, yakni tomboi sebagaimana tertuang dalam dua bait berikut ini:

Perempuan dongak di atas angin

Kepalanya bengkak penuh mimpi kekerasan

Tubuh sintal dan tegap menampilkan kejantanan

Tak tercermin sikap lembut sebagaimana kodratnya (Bait ke-4)

 

Rambutnya yang kasar kotor berdebu

Diisapnya cerutu bibir retak terbakar

Langkah dihentak-hentak, galak seperti singa

Ia ingin tampil lengkap sebagaimana layaknya lelaki (Bait ke-5)





Kedua bait itu (Bait ke-4 dan ke-5) mengungkapkan secara jelas tentang tomboi dengan disebutnya perempuan yang bertingkah laku tidak sebagaimana kodratnya tetapi malahan  ingin menampilkan kejantanan sebgaimana layaknya lelaki. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Queen Mary University, London, 1 dari 3 perempuan tomboi tumbuh menjadi lesbian. (Hidayatullah, 12 Juli 2011-10:44 WIB). 

Perempuan tomboi yang tumbuh menjadi lesbian inilah yang dibicarakan Ebiet G. Ade untuk dipertemukan dalam ikatan perkawinan dengan seorang bencong yang gay atau transgender sebagaimana diungkapkan dalam bait keenam di awal tulisan ini. Argumentasi Ebiet G. Ade dalam gagasanya ini adalah karena dari perkawinan semacam ini barang kali akan tumbuh naluri sejati dari masing-masing pihak sehingga akan kembali menjadi orang normal sesuai dengan kodrat jenis kelamin masing-masing. 

Gagasan Ebeit G. Ade tersebut patut diapresiasi karena dari berbagai perspektif agama, sosial dan susila tidak bertentangan. Bisa jadi gagasan ini menjadi alternatif terapi yang mujarab bagi ketidakwajaran kaum bencong dan tomboi dalam ekspresi diri dan seksualitasnya sehingga mereka bisa diselamatkan secara hukum maupun moral. Namun pertanyaannya adalah apakah para bencong mau kawin atau dikawinkan dengan kaum tomboi?

Jawaban dari pertanyaan itu telah Ebiet temukan dalam kedua baris terkahir dari bait keenam atau penutup di atas: “Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti. Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” Artinya jika Tuhan berkata “Kun” (jadilah), maka “fayakun” (maka jadilah).  

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu IPNU Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Rakernas, KMNU Rumuskan Program Kerja dan Resmikan Logo

Jakarta, IPNU Tegal. Pengurus Nasional Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) mengadakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Pondok Pesantren Al-Aqsho, Kelapa Gading, Jakarta, 3-5 April 2015. Forum ini akan membahas dua agenda utama, yaitu penetapan program kerja kepengurusan periode 2015-2016 dan peresmian logo KMNU Nasional.

Rakernas perdana ini mengusung tema “Optimalisasi Potensi guna Membangun Kinerja KMNU yang Produktif dan Berdedikasi dalam Mensinergikan Dakwah NU di Perguruan Tinggi”. Acara dihadiri seluruh pengurus KMNU Nasional yang terbentuk sesuai keputusan Munas KMNU bulan Januari lalu. Ada 71 orang yang diundang dalam acara tersebut.

Rakernas, KMNU Rumuskan Program Kerja dan Resmikan Logo (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas, KMNU Rumuskan Program Kerja dan Resmikan Logo (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas, KMNU Rumuskan Program Kerja dan Resmikan Logo

Panitia membagi acara tersebut dalam tiga sesi, yaitu Rapat General, Rapat Komisi, dan terakhir Pleno. Masing-masing Presidium Nasional akan menyampaikan usulan program kerjanya selama setahun ke depan dan akan dibahas bersama dalam Rapat General.

IPNU Tegal

Selain itu Rakernas juga akan merumuskan sistem Pengkaderan, membangun sistem komunikasi dan koordinasi, serta menyiapkan kegiatan akbar. (Red: Mahbib)

IPNU Tegal

 Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Anti Hoax, AlaNu IPNU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal!

Jakarta IPNU Tegal,. Film-film yang dianggap Islami sekarang, menurut Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri, sebenarnya terjebak dalam simbol agama yang dangkal. Hal itu dia tegaskan selepas Musyawarah Film Nasional dengan tema Posisi Indonesia dalam Film Nasional, yang berlangsung di PBNU belum lama ini.?



Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal! (Sumber Gambar : Nu Online)
Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal! (Sumber Gambar : Nu Online)

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal!

KH A Mustofa Bisri mencontohkan film-film Islami yang pernah ada, “Dulu ketika Pak Usmar Ismail bikin film, tak ada idiom sorban, sajadah, tasbih. Kalau film sekarang, supaya cinta itu tampak Islami, jadi cinta bertasbih, cinta bersorban, yang gitu-gitulah. Ada subhanallah, istighfar segala macam begitu. Film-film Usmar Ismail nggak ada. Kenapa? Karena dia mengerti "inti" dari agama Islam itu apa,” tegasnya.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpendapat, film Islam itu harus bertema yang universal."Islam yang sejak zaman Nabi Ibrohim; atau orang sekarang mengatakan Islam yang universal tentang kemanusiaan, tentang kasih sayang. Itu malah tidak naik dalam film-film kita sekarang. Dulu itu ada cinta kepada tanah air, kasih sayang terhadap sesama manusia, pasrah kepada Tuhan; yang esensial semacam itu yang bisa dirasakan penonton,” tambahnya.

Jadi, lanjut penulis kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi? ini, film sekarang terjebak pada simbol-simbol yang dangkal, “Simbol itu pun nggak bener. Misalnya yang pake sorban, itu nggak jelas, itu sorban model mana? Arab nggak, India nggak, Indonesia nggak. Kenapa nggak pake udeng-udeng aja?” ungkapnya sambil tertawa.

IPNU Tegal

Orang salah mengambil kesimpulan tentang simbol agama, tambah putra pengarang Tafsir Al-Quran bahasa Jawa: Al-Ibriz ini, “Mereka menganggap sorban, sajadah, jubah itu simbol agama dari Rosulullah. Tidak! Itu penghormatan Rosulullah kepada budaya setempat. Karena yang pake sorban, jubah, itu tidak hanya Rosulullah, Abu Jahal juga pake. Itu penghormatan Rosulullah terhadap budaya setempat!”

“Jadi,” sambung kiai yang pelukis ini, “kalau kita mau ittiba (mengikuti, red) Rasul dalam hal pakaian, ya begini, (Gus Mus menunjuk pada pakaian batik coklatnya). Kalau Kanjeng Nabi pakai pakaiannya orang Arab, meskipun sama dengan Abu Jahal, dia menghormati budaya setempat. Saya memakai pakaian orang Indonesia."

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang, Jawa tengah ini juga menambahkan, pembuat film bernuansa agama harus mengerti moral agama sehingga menghasilkan film yang mencerahkan penonton. Film yang bagus itu, selepas menontonnya, penonton tercerahkan, ”Penonton berpikir, apakah saya hamba yang baik atau bukan,” pungkasnya.

?

IPNU Tegal

Penulis ? ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal News, AlaNu, Doa IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Sumenep, IPNU Tegal - Roh organisasi sekelas Nahdlatul Ulama (NU) ialah memaksimalkan fungsi pengabdian dan pemberdayaan terhadap masyarakat. Itulah yang dicerminkan oleh para pendiri dan ulama NU sekaligus pejuang negeri ini. Karenanya sangat tepat kalau LKNU Sumenep membuka layanan cuma-cuma operasi katarak.

Demikian ditegaskan Ketua NU Sumenep KH Pandji Taufik saat sambutan aksi sosial operasi gratis di aula lantai II PCNU Sumenep di Jalan Trunojoyo, Sumenep, Sabtu (16/4).

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Menurut Kiai Pandji, sejauh ini NU Sumenep berikhtiar mewujudkan misi pengabdian dan pemberdayaan di atas. Karenanya, program operasi katarak secara gratis merupakan salah satu wujud dari misi tersebut.

IPNU Tegal

Ketua LKNU Sumenep Taufikurrahman menyatakan, kegiatan tersebut menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep dan RSUD Moh Anwar Sumenep.

Kepala Dinkes Sumenep dr Fathoni dan Direktur RSUD Moh Anwar Sumenep dr Fitril Akbar tampak hadir dalam acara tersebut. Sebanyak 160 penderita katarak dioperasi dalam aksi sosial ini.

IPNU Tegal

"Operasi katarak ini sudah 4 kali dilakukan oleh LKNU Sumenep. Ini khidmah NU kepada warganya. Inilah gerakan konkret yang dilakukan NU kepada warganya," tegas Wakil Sekretaris PCNU Sumenep M Muhri Zaen.

Sebelum aksi ini digelar, beberapa pekan sebelumnya panitia menyebar pamplet dan informasi melalui jejaring sosial. Dalam pengumuman ini disebutkan, warga yang hendak mengikuti operasi katarak harus terlebih dahulu mendaftar kepada panitia. Mereka cukup menyerahkan fotokopi selembar kartu tanda penduduk.

"Ada yang mendaftar langsung pada hari H. Kami tetap melayani mereka," tandas Ketua GP Ansor Sumenep Muhri itu. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Sejarah, AlaNu IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

Jakarta, IPNU Tegal - Pimpinan Wilayah GP Ansor dan Banser NTT turut berpartisipasi dalam Pawai Paskah 2016, Senin (28/3). Satu pleton Banser diturunkan guna mengamanakan situasi pengamanan Paskah bersama Polisi maupun TNI. GP Ansor NTT dan GP Ansor Kota Kupang menurunkan satu unit mobil rombongan pawai paskah.

Demikian disampaikan Sekretaris PW Ansor NTT Ajhar Jowe di Kupang.

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

"PW Ansor dan Banser NTT ikut mengamankan Pawai Paskah demi menjaga keberlangsungan situasi Paskah serta menjaga keberagamaan umat beragama di NTT, pada momen hari-hari besar keagamaan," kata Ajhar.

Pihaknya sementara ini melakukan persiapan partisipasi pawai paskah bersama rombongan menuju lokasi pawai di Jalan Eltari Kupang, Depan Rumah Jabatan Gubenrur NTT.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Pawai Paskah, kata Ajhar bagian dari agenda rutin tahunan GP Ansor NTT sebagai pengamanan hari besar keagamaan. Partsipasi dari GP Ansor beserta Banser dilakukan bukan saja momen hari besar agama Kristiani tetapi seluruh umat beragama yang ada di NTT.

Dari pantauan IPNU Tegal, sejumlah pihak tengah mempersiapkan pawai paskah. Seluruh jajaran terkait menghiasi berbagai kendaraan dengan tema Paskah. Terlihat sepanjang jalan WJ Lalamentik, berbagai kendaraan tronton besar menuju lokasi pawai dengan berbagai hiasan menarik. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Khutbah IPNU Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah

Makassar, IPNU Tegal - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Makassar memperingati pergantian tahun baru hijriyah di Masjid Al-Hamzah, Jalan Monginsidi Baru. Peringatan ini dikemas bersama acara lailatul ijtima yang secara rutin dilaksanakan setiap malam Jumat ketiga bulan berjalan.

Ketua MUI Sulawesi Selatan Agh Sanusi Baco menyampaikan hikmah yang begitu besar dan penting dalam kisah hijrah Rasulullah SAW dan termasuk di antaranya pengorbanan tokoh muda sahabat Ali bin Abi Thalib yang menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW saat menghadapi rencana jahat kaum musyrikin Mekkah.

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah

“Hijrah adalah pengorbanan, di antaranya pengorbanan meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, harta kekayaan yang tentu saja merupakan nilai yang jika dijiwai dan diaplikasikan oleh umat Islam akan melahirkan generasi Islam yang dibanggakan oleh Rasulullah SAW," kata Agh Sanusi Baco.

Peringatan tahun baru Hijriyah di Masjid Al-Hamzah dihadiri juga oleh Rais Syuriyah PCNU Makassar Agh Baharuddin,  Sekretaris PCNU Makassar KH Masykur Yusuf, Katib Syuriyah H Saifullah Rusmin, beberapa pengurus PCNU Makassar,  Ketua MWC Kecamatan dan nahdliyin di Kecamatan Makassar. (Red Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Sunnah IPNU Tegal

IPNU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Ansor Batuputih Bentengi NKRI dengan Shalawat

Sumenep, IPNU Tegal - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Batuputih, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur dan jamaah PAC Rijalul Ansor bersama-sama membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di Desa Batuputih Laok, Kecamatan Batuputih Sabtu malam (7/2).

Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri menegaskan, tradisi membaca shalawat yang dipertahankan warga nahdliyin, merupakan salah satu upaya membentengi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ansor Batuputih Bentengi NKRI dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Batuputih Bentengi NKRI dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Batuputih Bentengi NKRI dengan Shalawat

Sebab, terang M Muhri, tradisi melantunkan shalawat serta menghayatinya, dapat menghadirkan kesejukan jiwa.

IPNU Tegal

"Apalagi ditopang dengan kesadaran muara dari shalawat itu, yakni Nabi Muhammad SAW. Kesadaran yang ditopang dengan semangat meneladani spirit dakwah Nabi, insyaallah dapat mengukuhkan NKRI dari gerakan perpecahan," tegas alumnus Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur tersebut.

Pihaknya bersyukur tradisi membaca shalawat terus menggema dan digenjot oleh pemuda-pemuda Ansor di Kabupaten Sumenep dan warga nahdliyin secara umum.

IPNU Tegal

"Tapi kalau membaca shalawat tapi masih berkata dan bersikap yang dapat merongrong keutuhan bangsa, berarti ruh shalawat belum sepenuhnya terpatri dalam jiwa," tandasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Tegal, AlaNu IPNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Soal Sampah, Bupati Way Kanan: Jangan Telat Bergerak

Way Kanan, IPNU Tegal. Bupati Way Kanan Provinsi Lampung Raden Adipati Surya, di Blambangan Umpu, Ahad (21/2) menegaskan, aksi peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2016 bertajuk Way Kanan Ramik Ragom (beragam) Sakai Sambayan (gotong royong) "Bergerak Untuk Indonesia #BebasSampah2020" merupakan gagasan cerdas.

?

"Mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dilakukan pada hari ini adalah hal positif. Jangan ada masalah, sampah banyak, menimbulkan bencana baru kita bergerak," ujar Adipati lagi.

Soal Sampah, Bupati Way Kanan: Jangan Telat Bergerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Sampah, Bupati Way Kanan: Jangan Telat Bergerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Sampah, Bupati Way Kanan: Jangan Telat Bergerak

Pada 21 Februari 2005, gunungan sampah dari TPA Leuwi Gajah longsor menimbun dua perkampungan warga hingga menewaskan ratusan jiwa. Semenjak bencana tersebut, 21 Februari dicetuskan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional, sebagai pengingat kondisi persampahan di Indonesia.

IPNU Tegal

"Pemerintah Kabupaten Way Kanan berharap kegiatan cerdas ini dilakukan kontinu, sebulan sekali, di minggu ke berapa bisa berkumpul dan bergotong royong bersama agar daerah kita menjadi bersih. Dan tentunya bisa dilakukan diseluruh kecamatan yang ada. Pemerintah tentu bisa memfasilitasi kegiatan positif semacam ini," kata Adipati yang selanjutnya membacakan Deklarasi Indonesia Bebas Sampah 2020 diikuti peserta.

IPNU Tegal

Sebagai upaya menjaga lingkungan, demi generasi mendatang yang lebih baik. Masyarakat Indonesia bertekad mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

"Kami siap untuk bersama-sama, mengurangi, memilah, dan meletakkan sampah pada tempatnya. Lalu mengelola sampah secara bertanggung jawab. Dan aktif berperan serta dalam kegiatan pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh pemerintah," kata Adipati membacakan deklarasi.

Di Blambangan Umpu, aksi dilakukan di 10 titik, diikuti relawan dari Polres, Kodim 0427, KNPI, Karang Taruna, Saka Wira Kartika, Pokjawan, Pemuda Katholik, BPUN, Gusdurian, GP Ansor, Sekolah Beladiri Karate Indonesia, Radin Djambat Shooting Club, Pemuda Muhammadiyah, alumni BPUN, Banser, Pemuda Peduli Lingkungan Hidup dan ALam, Lembaga Perlindungan Anak, Pramuka SMPN 5 Balambangan Umpu dan Kantor Lingkungan Hidup dan berakhir di Monumen Ryacudu.

"Rencana relawan yang hadir 305, namun ternyata bertambah, dari SD Lembasung 20 orang, SMPN 1 Blambangan Umpu 40 orang dan dari SMKN1 Blambangan Umpu 30 orang. Ini menunjukkan animo masyarakat berbuat baik dan bermanfaat cukup tinggi," ujar Ketua PC GP Ansor Gatot Arifianto selaku koordinator kegiatan.

Adapun sampah berhasil dihimpun disepanjang jalan menuju titik finish sekitar 30 karung 50 kilogram yang selanjutnya diserahkan kepada institusi terkait. Setelah memungut dan memilah sampah, relawan selanjutnya membersihkan rumput-rumput di sekitar Monumen Ryacudu.

Peringatan HPSN juga dilakukan di Kampung Tanjung Serupa, Pakuan Ratu, dikuti 310 relawan dari HIPSI, SMP, SMA, Pondok Pesantren Al-Falakhus Saadah, Gusdurian, GP Ansor-Banserdan berakhir di Pondok Pesantren Al-Falakhus Saadah.

Kemudian di Negara Batin, aksi akan dilakukan di Kampung Purwa Negara, diikuti kurang lebih 50 relawan dari Pemuda Muhammadiyah dan PAC GP Ansor Kampung Purwa Negara. Lantas di Baradatu, kegiatan dikuti 150 relawan dari PGRI, Fatayat, IPNU, IPPNU dan IPSI, berkahir di Gedung PCNU.

Selanjutnya di Way Tuba, pelaksanaan kegiatan dilakukan di Kampung Bukit Gemuruh, diikuti 100 relawan dari PAC GP Ansor Way Tuba, PMI, Gusdurian, pelajar dan masyarakat.

Kemudian di Banjit, kegiatan diikuti 250 relawan yang terdiri dari sejumlah pelajar dari Kampung Bali Sadhar Selatan, Bali Sadhar Utara dan Bali Sadhar Tengah, dikoordinir oleh Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah). Dan di Gunung Labuhan, aksi berlangsung di Dusun 1 Pamuka Jaya, Kampung Labuhan Jaya.diikuti 15 orang, berakhir di Pondok Pesantren Assiddiqiyah 11. (Syuhud Tsaqafi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal RMI NU, AlaNu IPNU Tegal

Selasa, 21 November 2017

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

Tidak dinyana sebelumnya, kesadaran kaum salafi terutama di Indonesia untuk menggunakan ruang publik sebagai spatial medium bagi dakwah mereka begitu menakjubkan. Kelompok ini sangat cepat belajar menatap kebutuhan masa depan mereka. Setelah era majalah cetak di kalangan mereka habis, ditandai dengan kejatuhan majalah cetak Sabili, Hidayatullah, dan beberapa jenis yang lainnya, kaum salafi begitu cepat melakukan proses adaptasi ke online media.

Sebagaimana yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya –lihat dua post terakhir saya—, gejala seperti ini, selain dilatarbelakangi oleh “kewarasan” mengenai perlunya terus eksis di ruang publik, gejala ini juga menunjukkan adanya penerimaan yang rendah atas kelompok ini di ruang konkrit kalangan Muslim Indonesia. Karenanya, bagi mereka, hijrah untuk menggunakan ruang online media atau internet merupakan ruang baru yang menjanjikan. Sebuah medan baru untuk melaksanakan jihad baru juga. Jihad lama dengan senjata tidak dihapus, namun jihad baru melalui pena dan tulisan perlu digalakkan.?

Tulisan ini tidak ingin mencari bagaimana masalah penggunaan teknologi internet atau online untuk keperluan dakwah di kalangan salafi, namun lebih ingin melihat antusiasme mereka dalam mengelola, menyajikan dan mengkampanyekan opini, diskursus, berita yang bernuansa salafi melalui surat kabar atau majalah, webpage, facebook, dan sarana-sarana online mereka lainnya. Basis analisis yang akan saya pakai di sini adalah teori-teori mengenai “ruang” (space) terutama abstract space. Yang saya maksud dengan abstract space di sini adalah ruang yang tidak tidak tersentuh oleh dunia nyata atau biasa disebut dengan istilah virtual. Selain itu, dalam menulis artikel ringan ini, saya terilhami oleh metode riset kualitatif yang biasa disebut dengan netnografi (netnography). Netnografi adalah etnografi di internet. Artinya, metode ini menggunakan teknik-teknik riset etnografis untuk mengkaji kebudayaan dan masyarakat yang muncul melalui komunikasi berbasis internet. Metode riset kualitatif ini pada mulanya digunakan untuk meriset konsumen di online misalnya forum-forum di internet untuk menjajagi apa yang diminati dan dikehendaki oleh konsumen. Metode ini sangatlah berguna untuk melihat kehadiran kaum salafi di ruang online –ruang-ruang forum–dan bagaimana mereka mempersuasi audien.

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

?

Makna Ruang Maya Bagi Salafi

Sebagaimana kita tahu tahu bahwa kaum mainstream Indonesian yang berhaluan Sunni masih belum bisa menerima sepenuh hati kehadiran kalangan salafi. Meskipun istilah salafi atau salafiyyah sendiri sudah lama dipakai I Indonesia misalnya oleh kalangan NU untuk menamai pesantren mereka, namun salafi yang saya maksudkan di sini, masih dianggap oleh mainstream Islam di Indonesia sebagai Wahhabi. Dalam kajian Islam, Wahhabi sebenarnya masih dalam kategori Sunni, namun masyarakat Sunni Islam di Indonesia—merupakan Sunni terbesar di seluruh dunia—belum bisa memasukki Wahhabi ke dalam kelompok mereka. Dalam diskursus publik, mayoritas ulama di Indonesia keberatan dengan Wahhabi. Fenomena lain yang sering dijumpai adalah meskipun mereka secata teologis berafilalsi dengan Wahhabi namun kebanyakan juga tidak berterus terang atau enggan disebut sebagai kaum Wahhabi. Hal ini semua karena stigmatisasi Wahhabi di Indonesia sebagai kelompok sesat dalam Islam sudah sekalian lama terjadi. Sudah barang tentu bagi mereka yang belajar di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah NU, Perti, al-Wasiliyah organisasi-organisasi lainnya, pernah disodori pelajaran Ahlusunnah Waljamaah dengan menggunakan buku pegangan yang dikarang oleh KH. Siradjuddin Abbas. Jelas dalam buku beliau, I’tiqad Ahlussunnah Waljamaah, Wahhabi dikeluarkan dari firqah najiyah (kelompok yang selamat). Tidaknya hanya Wahhabi, seluruh mereka yang menolak Imam AshʿārÄ« dan MāturidÄ« sebagai pedoman i’tiqad mereka bukan menjadi bagian dari mereka.

Namun yang lebih mendasar lagi, penolakan atas Wahhabi oleh kalangan Islam mainstream juga disebabkan oleh kekhuwatiran mereka akan ajaran Wahhabi yang mengancam pada tradisi keagamaan kaum mainstream. Di sini kaum mainstream bisa dikatakan sebagai kaum ortodoks dimana mereka menggunakan alasan-alasan kesucian doktrin agama untuk melarang ajaran lain yang dipandangnya keluar dari ortodoksi. Talal Asad menyatakan ortodoksi adalah pengaturan kembali pengetahuan yang bertujuan membangun sebuah relasi penguasaan wacana dalam hal pengaturan mana bentuk-bentuk praktis Islam yang benar. (210-11, Genealogy of Religion).

IPNU Tegal

Meskipun di Saudi Arabia, salafi-Wahhabi bisa dikatakan sebagai pemegang ortodoksi, tapi di Indonesia mereka tidak demikian adanya. Dari perspektif kaum mainstream Islam Indonesia, salafi-Wahhabi adalah kaum heterodok karena pemegang kebenaran ajaran Islam di Indonesia adalah kelompok mainstream Islam yang memiliki perbedaan cara pandang keagamaan dengan kaum salafi-Wahhabi. Karenanya, pada titik ini, keberadaan kaum Wahhabi sebenarnya hampir mirip dengan nasib-nasib kelompok sempalan lainnya, katakanlah kelompok Syiah atau Ahmadiyah. MUI sendiri misalnya secara implisit menolak salafi melalui fatwa-fatwa mereka yang menolak jihad ekstrim kaum salafi-Wahhabi sebagaimana juga menolak kaum Syiah. ? Nahdlatul Ulama secara keras menolak model pemikiran dan praktik keagamaan kaum Wahhabi.? Kembali kepada pandangan Talal Asad? bahwa kaum Muslim yang memiliki kuasa untuk mengatur, mempertahankan, mempersyaratkan, merendahkan atau mengganti hal-hal yang tidak benar adalah kaum ortodok.

Sebagai kelompok heterodok, kaum salafi-Wahhabi di Indonesia memerlukan ruang untuk mengekspresikan dan mempertahankan doktrin mereka yang dianggap “menyimpang” dari mainstream Islam di Indonesia dan “internet space” adalah pilihan yang tepat. Ketika mereka tidak bisa atau terancam oleh ketatnya ortodoksi dalam “concrete space,” maka ruang internet menyediakan mereka kebebasan untuk berdakwah karena di dalam ruang ini mereka adalah atau kita adalah pemegang kendali diskursus yang kita kehendaki. Berbeda dengan model interaksi “dari muka ke muka,” interaksi di ruang internet bisa dilakukan secara arbitrer, doktriner dan sekaligus otoriter. Dalam konteks Indonesia, Salafi-Wahhabi memerlukan ruang yang demikian ini untuk bergerak? karena pada dasarnya mereka adalah “kaum ortodoksi” juga di negara asalnya, namun karena ortodoksi mereka tidak mendapatkan legitimasi maka mereka menjadi heterodok. Di ruang maya ada proses dialog dan interaksi, tapi pemegang domain secara unilateral bisa menghentikan atau mentiadakan proses dialog atau forum. Ruang maya juga merupakan hal yang paling strategis untuk berkampanye pada audien yang tidak memerlukan penelahaan panjang (tidak kritik). Namun patut diakui bahwa daya juang kaum salafi-Wahhabi di ruang maya luar sangat efektif. Saya tidak menjumpau kelompok-kelompok heterodok lain yang seperti salafi-Wahhabi ini yang sedemikian efektif dan strategis dalam menggunakan “internet space.” Katakanlah kelompok Ahmadiyah dan Syiah Indonesia, mereka tidak punya “cyberspace fighters” sebagaimana yang dipunyai oleh kaum salafi-Wahhabi. Internet space sekarang menjadi semacam masjid virtual pusat pembelajaran alternatif.

Dalam kondisi yang terdesak di ruang konkrit, web-space menyediakan sifat immediacy, kecepatan untuk memanfaatkan media online ini dalam merespon peristiwa, kejadian, atau hal-hal genting lainnya, dalam waktu yang hampir bersamaan. Surat kabar, hasil riset, majalah dan sumber-sumber informasi offline lainnya tidak memiliki ini. Kita teringat ketika kaum salafi-Wahhabi mendapatkan tuduhan sebagai pelaku pengeboman beberapa tempat penting di Eropa, dengan cyberspace mereka bisa bereaksi secara cepat baik reaksi dan meluas itu untuk melakukan pembenaran maupun pengingkaran akan keterlibatan dirinya. Meskipun para ahli cyberspace crime bisa menemukan “concrete space” yang dijadikan sebagai tempat dimana mereka mengeluarkan pernyataan tersebut, tetapi hal ini memerlukan waktu yang lumayan agak panjang dan cara yang agak rumit.?

Dalam satu dekade terakhir, setelah beberapa peristiwa pengeboman di beberapa tempat penting di Indonesia dimana kaum salafi-Wahhabi adalah pihak yang banyak dituduh, dicurigai dan ada juga yang sudah terbutki secara hukum, mereka menyadari akan marginalisasi kelompok mereka di ruang konkrit. Tidak hanya menyadari hal ini, namun mereka berusaha untuk mencari ruang baru (alternative site). Ruang baru ini tidak hanya menyediakan kenyamanan bagi mereka, namun juga mempermudah transnasionalisasi ide dan gagasan mengingat frontier di dalam virtual space sangat cair dan bahkan bisa dikatakan borderless (tanpa batas). Di dunia nyata, transnasionalisasi membutuhkan ongkos yang tidak murah. Memindahkan dan mengirimkan orang, buku, dan juga hal-hal sarana lainnya dari satu negara ke negara lain tidak bisa dilakukan tanpa dukungan uang yang banyak. Lihat berapa uang yang dihabiskan oleh pemerintah Saudi dalam menyebarkan Islam-versi mereka ke negara-negara lain dalam kurun 30 tahun terakhir ini. Namun dalam dunia maya, mobilitas dan migrasi ide dan gagasan tidak memerlukan kehadiran seseorang, rujukan yang tersentuh, dan lain sebagainya.

IPNU Tegal

Lalu bagaimana dengan otoritas agama? Dunia maya tidak kurang canggih dalam mengakomodasi dan mempertahankan otoritas agama. Apabila di dunia offline, otoritas agama bisa runtuh gara-gara penampilan seorang pemegang otoritas yang kacau, di dunia maya, otoritas agama tidak hanya disediakan ruang untuk menyampaikan, tapi juga ruang untuk memperindah dan bila perlu memanipulasi kekurangan-kekurangan yang terjadi di ruang offline. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh ruang maya dan salafi Wahhabi Indonesia membaca ini sebagai hal yang berguna bagi perjuangan mereka.

*) Penulis adalah Rais Syuriah PCI-NU Jerman, saat ini menetap di Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kyai, AlaNu IPNU Tegal

Senin, 20 November 2017

CBP-IPNU Gelar Pra-Rakornas di Grobogan

Grobogan, IPNU Tegal. Dewan Koordinasi Nasional Corps Brigade Pembangunan Ikatan Pelajar Nahdlatul ulama (CBP-IPNU) menggelar Pra-Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Grobogan. Kegiatan tersebut berlangsung mulai tanggal 27 hingga 29 Desember 2013 akan datang.

Jumat (27/12) pagi, kegiatan pra-rakornas resmi dibuka oleh Ketua Pimpinan Pusat IPNU Khairul Anam HS di Gedung Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

CBP-IPNU Gelar Pra-Rakornas di Grobogan (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP-IPNU Gelar Pra-Rakornas di Grobogan (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP-IPNU Gelar Pra-Rakornas di Grobogan

Tema yang diusung dalam pra-rakornas tersebut yakni “Semangat Kepeloporan Pemuda Menjaga Kerukunan Dalam Keberagaman Negara Kesatuan Repblik Indonesia (NKRI)”.

IPNU Tegal

Turut Hadir mengisi sambutan, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Moh Mahfud MD, Komandan Nasional CBP Djunaidi dan Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan Sugiyanto. Dalam sambutannya, Mahfud MD bercerita tentang kali pertama CBP-IPNU terbentuk dan didirikan.

“Even seperti ini akan menjadi pemantik bagi organisasi kepemudaan di daerah untuk lebih aktif mempelopori gagasan konstruktif dalam upaya pembangunan daerah pada khususnya dan bagi Tanah Air kita tercinta pada umumnya,” ujar Maimun Rasyid, salah seorang anggota PMII yang turut berpartisipasi dalam acara pra-rakornas tersebut.

IPNU Tegal

Lebih dari 200 peserta hadir memadati  Gedung PCNU Grobogan. Peserta yang hadir bukan hanya dari Grobogan dan Jawa Tengah saja namun juga dari berbagai daerah, di antaranya DKI jakarta, Jawa timur, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Barat.

“Ketika kami melihat daftar hadir, tak sedikit peserta dari luar daerah,” papar salah seorang panitia, Qomar. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Tegal, Hikmah, AlaNu IPNU Tegal

Minggu, 19 November 2017

Berdayakan Dana Desa untuk Bangun Tanggul Penahan Longsor

Jakarta, IPNU Tegal. Hujan deras menimbulkan bencana banjir dan longsor di sejumlah desa di Jawa Tengah, Mingu (19/6/2016). Setidaknya ada 16 kabupaten di Jawa Tengah yang mengalami bencana longsor dan banjir akibat hujan lebat. Salah satunya yang paling parah adalah Purworejo yang mengalami longsor dan menewaskan puluhan korban jiwa.

Terkait kejadian ini, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar mengingatkan bahwa bencana alam ini harus direspon dengan cepat. Setelah identifikasi dan evakuasi korban, masyarakat dapat menggunakan Dana Desa untuk membenahi dan membangun infrastruktur desa, terutama tanggul penahan longsor dan membangun saluran air agar tidak terjadi banjir.

Berdayakan Dana Desa untuk Bangun Tanggul Penahan Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdayakan Dana Desa untuk Bangun Tanggul Penahan Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdayakan Dana Desa untuk Bangun Tanggul Penahan Longsor

"Membangun dan membenahi Infrastruktur desa yang rusak akibat bencana itu masuk dalam prioritas. Ini sudah kita atur dalam Permendesa No. 21/2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2016," ujar Menteri Marwan, di Jakarta, Senin (20/6).

Dalam Permendesa jelas tertera bahwa salah satu prinsip penggunaan Dana Desa adalah mendahulukan kepentingan desa yang lebih mendesak, lebih dibutuhkan, dan berhubungan langsung dengan kepentingan sebagian besar masyarakat Desa.

"Bencana alam yang menimbulkan kerusakan infrastruktur adalah sesuatu yang mendesak untuk dibenahi. Jadi masuk dalam prioritas Dana Desa. Jalan desa, gorong-gorong, sanitasi air, maupun tanggul penahan banjir yang rusak harus dibangun kembali. Tentunya dengan penataan baru yang lebih baik dan tahan terhadap bencana," jelasnya.

IPNU Tegal

Tokoh asal Pati, Jawa Tengah ini sangat berbela sungkawa atas bencana yang terjadi di desa-desa. Dia pun mengingatkan perlunya desa siaga bencana, mengingat banyaknya desa yang rawan bencana. Bukan hanya musim hujan yang kerap terjadi banjir atau longsor. Pada musim kemarau, banyak juga desa yang kekeringan dan kebakaran hutan. Wilayah-wilayah seperti ini harus membangun dengan program yang siaga bencana.

"Bencana alam yang terjadi itu bisa karena murni bencana alam, bisa juga karena ada sumbangsih faktor manusia yang kurang bersahabat dengan lingkungan. Tapi dua-duanya ini bisa dihindari dengan membangun infrastruktur yang lebih kuat dan tahan bencana," imbuh Menteri Marwan.

IPNU Tegal

Lebih jauh ia meminta agar desa-desa membuat perencanaan pembangunan dengan baik sehingga penggunaan Dana Desa benar-benar sesuai kebutuhan dan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Karena itu, masyarakat desa seharusnya terlibat aktif dalam rembug Desa tentang penggunaan Dana Desa. Berlakunya UU No 6/2014 telah memberikan Desa kewenangan penuh mengelola Dana Desa, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, hingga pelaporannya.

"Kami kemudian membuat aturan turunan agar penggunaan dana desa ini punya panduan-panduan agar sesuai dengan tujuan. Dana desa itu diprioritaskan untuk infrastruktur desa, kemudian pembangunan fasilitas sosial dasar seperti posyandu, polindes, puskesdes, dan PAUD, serta untuk memperkuat perekonomian local desa," terangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, AlaNu IPNU Tegal

Jumat, 17 November 2017

Santri Harus Dibekali Keterampilan

Medan, IPNU Tegal

Pemerintah mengharapkan pondok pesantren dapat memberikan keterampilan kepada santri sebagai bekal hidup mereka di masa depan jika tidak menjadi ulama.

Hal itu dinyatakan Menteri Negara Koperasi dan UKM, Surya Dharma Ali, ketika berdialog pada rangkaian acara silaturahmi dengan para ulama se Sumut dan penyerahan bantuan kepada sejumlah pondok pesantren di Medan, Kamis.

Ia mengatakan, pengemblengan terhadap para santri di pondok pesantren tidak hanya cukup dengan pendidikan agama dan umum saja, tetapi harus juga diberikan berbagai macam keterampilan agar mereka memiliki jiwa kewirausahaan.

Santri Harus Dibekali Keterampilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Dibekali Keterampilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Dibekali Keterampilan

Selepas keluar dari pesantren seorang santri akan menghadapi tantangan yang besar, sebab tidak semua santri pondok pesantren bisa menjadi kyai karena berbagai macam aspek, seperti keilmuan, kejiwaan, kematangan dan ketaatan, ujarnya.

Menurut dia, dewasa ini jika pondok pesantren dapat mencetak sepuluh persen dari total lulusannya menjadi kyai, maka hal itu merupakan prestasi yang sangat mengembirakan. Untuk itu para santri saat ini harus diberikan ketrampilan, seperti pertanian, kerajinan, perdagangan, dan lain sebagainya, katanya.

IPNU Tegal

Ali juga mengharapkan, program koperasi masuk pesantren jangan sampai mengganggu kegiatan kyai dalam memberikan pendidikan santri, dan pembinaan kegiatan koperasi pesantren harus dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah setempat, agar menjadi handal dan dapat menciptakan lapangan kerja serta memberi bekal kepada para santri. (ant/mad)



IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu IPNU Tegal

Selasa, 24 Oktober 2017

Aliran Pengusung Khilafah Tak Boleh Eksis di Indonesia

Makassar, IPNU Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi menyatakan, aliran keagamaan yang boleh hidup di Indonesia harus mendukung keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.?

Aliran Pengusung Khilafah Tak Boleh Eksis di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliran Pengusung Khilafah Tak Boleh Eksis di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliran Pengusung Khilafah Tak Boleh Eksis di Indonesia

“Tidak boleh ada aliran keagamaan mengusung ideologi politik yang bertentangan dengan NKRI dan Pancasila, seperti ideologi yang mengusung khilafah!" Katanya dalam acara seminar nasional bertajuk "Harmoni Umat Beragama untuk memperkokoh NKRI" yang diselenggarakan di Universitas Islam Makassar (UIM), Selasa (24/3).?

Lebih lanjut Kiai Masdar menegaskan bahwa ide mendirikan Khilafah Islamiyah berpotensi merongrong NKRI.

IPNU Tegal

Dalam forum yang sama KH Cholil Nafis, ketua komisi dakwah MUI? menyatakan, "Hubungan Islam dan negara bagaikan saudara kembar yang saling mempengaruhi. Karena itu, bentuk NKRI dengan dasar Pancasila adalah hasil relasi yang sesuai dengan Islam dan kebutuhan nasional kita,” katanya.

Pengurus Lembaga Bahtsul Masail NU ini menjelaskan, Islam merupakan agama rahmatan lil alamin, maka dimanapun keberadaan Islam itu akan memberi rahmat kepada umat manusia. Oleh karena itu perjuangan Islam model ISIS yang memaksakan kehendak dan intoleran serta menggunakan kekerasan tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.?

IPNU Tegal

Kiai Cholil memberikan argumentasi bahwa Rasulullah saw telah membuat sebuah tatanan negara majemuk yang menghormati semua aliran dan mengut? makan kemaslahatan, yaitu negara Madinah sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah.

Mewakili Pangdam VII Wirabuana Kolonel Andi Suyuti, menuturkan bahwasanya dewasa ini konflik, intoleransi dan kekerasan atas nama agama akhir-akhir ini terjadi, Sulsel merupakan salah satu provinsi di Indonesia memiliki keragaman budaya, sosial dan agama, permasalahan yang muncul antar kerukunan umat beragama disebabkan banyaknya paham radikal, bentrok antar umat beragama, dan terakhir gerakan radikal.

Tentunya dalam mewujudkan harmoni kehidupan umat beragama, mustinya membangun SDM berkualitas, tingkatkan kerja sama dalam kegiatan keagamaan, perkokoh toleransi, bangun benteng yang kuat terhadap pengaruh paham radikal dan ikut serta menjaga stabilitas keamanan di dalam bingkai Pancasila, tambahnya.

H Abdurrahman, wakil ketua DPW PKB lebih banyak menyinggung keutuhan Negara, politik kebangsaan, dan tentunya eksistensi nilai-nilai rahmatan lil alamin Ahlusunnah wal Jamaah mesti disebarluaskan.

Prof. Arfin Hamid selaku sekretaris PWNU Sulawesi Selatan menuturkan materi tentang Islam sebagai petunjuk bagi manusia dan seluruh alam.

Menurunya Islam sebagai ajaran tentunya mewajibkan bagi umatnya untuk melaksanakan ibadah dan memberikan kedamaian kepada umat seluruh alam. (andy muhammad idris/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Tokoh IPNU Tegal

Minggu, 15 Oktober 2017

PAC GP Ansor Kajen Siap Wujudkan Kemandirian Organisasi

Pekalongan, IPNU Tegal 

PAC GP Ansor Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan masa khidmah 2016-2018 secara resmi dilantik oleh M Ahsin Hana, mewakili ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah.  

Pelantikan berlangsung dengan suasana hidmat di hadapan ribuan Nahdliyin Kecamatan Kajen yang menghadiri acara tersebut yang sekaligus diisi pengajian umum dan tahlil massal sebagai rangkaian peringatan harlah ke-93 NU Kecamatan Kajen. 

PAC GP Ansor Kajen Siap Wujudkan Kemandirian Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC GP Ansor Kajen Siap Wujudkan Kemandirian Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC GP Ansor Kajen Siap Wujudkan Kemandirian Organisasi

Acara pelantikan dihadiri PW GP Ansor Jawa Tengah, PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, Pengurus MWC NU Kecamatan Kajen dan segenap badan otonom NU di Kecamatan Kajen.

Dalam sambutan pelantikannya, Ahsin Hana selaku wakil ketua PW GP Ansor Jawa Tengah berpesan kepada pengurus yang dilantik untuk mengimplementasikan tiga visi besar GP Ansor ke dalam program-program yang riil, meliputi: (1) revitalisasi nilai dan tradisi Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, (2) menguatkan sistem kaderisasi, dan (3) pemberdayaan potensi kader. Dan untuk dapat mewujudkan visi GP Ansor tersebut harus dibangun kebersamaan dan soliditas organisasi. 

"Tanpa adanya kebersamaan dan soliditas di antara segenap pengurus tidak mungkin terwujud visi dan cita-cita GP Ansor," tegas Ahsin.

IPNU Tegal

Sementara itu, Abdul Muid selaku ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kajen masa khidmah 2016-2018 dengan segenap dukungan segenap kader GP Ansor yang potensial siap mengemban amanah untuk mewujudkan visi GP Ansor. Untuk itu pengurus sudah menetapkan beberapa progam prioritas yang nantinya akan dilaksanakan. 

"Kami akan meneruskan program-program pengurus periode yang lalu dengan fokus pada kemandirian organisasi. Untuk dapat mewujudkan kemandirian organisasi, sebagaimana arahan Pimpinan Pusat, mutlak dibutuhkan soliditas organisasi. Untuk itu konsolidasi akan terus kami gencarkan  untuk menyatukan persepsi dan gerakan Ansor," tandasnya. (Alim Mustofa/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal AlaNu IPNU Tegal

Senin, 02 Oktober 2017

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis)

KH Ghazalie Masroeri

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencari Titik Temu Awal Ramadhan (2-habis)

Awal bulan ditandai dengan penampakan hilal yang dapat dilihat dengan mata di awal malam (sesaat setelah matahari terbenam). Kalau tidak tampak tidak disebut hilal. Hilal tidak hanya dalam angan-angan/pemikiran; dan tidak hanya dalam dugaan/keyakinan. Untuk mengetahui adanya penampakan hilal (ظُهُوْرُ الْهِلاَل), diperlukan upaya-upaya observasi, pengamatan, atau rukyah di lapangan.

Rukyah adalah sepatah kata isim berbentuk masdar, mempunyai fi’il ro-aa – yaroo (رَأَى - يَرَى). Kata رَأَى dan tashrifnya mempunyai banyak arti, antara lain: melihat, mengerti, mengetahui, memperhatikan, berpendapat, menduga, yakin, dan bermimpi.

IPNU Tegal

Ketika kata ro-aa (رَأَى) dan tashrifnya dirangkaikan dengan objek / maf’ul bih (مَفْعُوْلٌ بِهِ) yang fisikal / thobii’iyyaat (طَبِيْعِيَّات) maka masdarnya adalah rukyah (رُؤْيَة); dan mempunyai arti tunggal yaitu “melihat dengan mata kepala”, baik dengan mata telanjang maupun dengan alat pembesar. Contoh : 

رَأَى كَوْكَبًا – رُؤْيَةُ كَوْكَبٍٍ : Melihat Bintang

رَأَى اْلقَمَرَ – رُؤْيَةُ الْقَمَرِ : Melihat Bulan

IPNU Tegal

رَأَى الشَّمْسَ – رُؤْيَةُ الشَّمْسِ : Melihat Matahari

رَأَى الْهِلاَلَ – رُؤْيَةُ الْهِلاَلِ   : Melihat Hilal.   لِرُؤْيَتِهِ(Karena Melihat Hilal)

Baca Surat Al-an’am ayat 76 s/d 78 untuk contoh 1, 2, dan 3. Dan baca berbagai As-Sunnah untuk contoh no. 4.

Sedangkan ro-aa (رَأَى) yang mempunyai arti lain, objeknya tidak fisikal (غَيْرُ طَبِيْعِيَّات). Adakalanya tanpa objek dan masdarnya bukan Rukyatun, tetapi ro’yun (رَأْيٌ). Ketika ro-aa mempunyai dua maf’ul bih (objek), maka mempunyai arti menduga atau yakin. Dan adakalanya bermakna mimpi, masdarnya ru’ya (الرُؤْيَا).

Rukyah sebagai sistem penentuan awal bulan qomariyah dengan cara melakukan pengamatan/observasi terhadap penampakan hilal di lapangan, baik dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan alat seperti teropong, pada hari ke 29 malam ke-30 dari bulan yang sedang berjalan. Apabila ketika itu hilal dapat terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar Rukyatul hilal. Tetapi apabila tidak berhasil melihat hilal, maka malam itu adalah tanggal 30 dari bulan yang sedang berjalan dan kemudian malam berikutnya dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar Istikmal (menggenapkan 30 hari bagi bulan sebelumnya).

Ada pendapat bahwa rukyah itu hanya berlaku bagi masyarakat ummi/awam yang tidak mengetahui ilmu hisab, tetapi bagi masyarakat modern cukup dengan ilmu hisab tidak perlu rukyah. Pendapat ini mendasarkan pada hadits : 

اِنَّا اُمَّةٌ اُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا (متفق عليه). قَالَ اْلبُخََارِيُّ : يَعْنِى مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ 

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung (menghisab). Umur bulan itu sekian dan sekian,”  (HR. Muttafaq ‘alaih). “Menurut al-Bukhari “sekian dan sekian” ialah “kadang 29 hari dan kadang 30 hari.””

Pendapat demikian ini menunjukkan adanya pemahaman terhadap hadits tersebut secara hitam putih. Padahal sesungguhnya di balik hadits ini terdapat hikmah yang mendalam, yaitu:

Sifat keummian itu justru menunjukkan secara yakin tentang otentitas ad-dinul islam dibangun atas dasar wahyu, bukan dibangun atas dasar hasil pemikiran.

Hadits itu mengajarkan, bahwa  usia bulan Qomariyyah kadang 29 hari dan kadang 30 hari, berbeda dengan umur bulan syamsiyah.

Nabi saw. mengajarkan rukyah sebagai kemudahan untuk umatnya.

Rukyah mempunyai nilai ibadah jika hasilnya digunakan untuk pelaksanaan ibadah seperti shiyam, ‘id, sholat gerhana, dan lain-lain.

Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit seperti letak matahari terbenam, posisi dan tinggi hilal, dan jarak antara hilal dan matahari dapat menambah kekuatan iman.

Rukyah itu ilmiah. Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit ribuan tahun lamanya dicatat dan dirumuskan, kemudian lahirlah ilmu astronomi dan ilmu hisab. Rukyah melahirkan hisab. Tanpa rukyah tak ada hisab.

Pendapat yang mengatakan tidak perlu rukyah tetapi cukup hisab tersebut, sesungguhnya   belum dapat memberi jalan keluar atas terjadinya perbedaan pada metode dan kriteria hisab. Metode dan kriteria hisab mana yang harus digunakan?

Pendapat yang mengatakan cukup dengan ilmu hisab, tidak sejalan dengan nash Mafhuumul ayat S. Al-baqarah a.185 dan a.189, Yunus a.5, dan Yasin a.39

Hadits-hadits

Tidak kurang dari 23 hadits tentang rukyah diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hanbal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain.

Rukyah dan hisab tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat digunakan bersamaan. Rukyah sebagai penentu dan hisab sebagai pendukung. Hisab yang berkualitas tahqiqi/tadqiqi/’ashri dan memenuhi kriteria imkanurrukyah dapat dijadikan sebagai pendukung, pemandu, dan pengontrol rukyah, sehingga menghasilkan rukyah yang berkualitas. Sebaliknya, rukyah dapat dijadikan sebagai sarana uji verifikasi atas hipotesis hisab. 

Kriteria imkanurrukyah itu, secara empirik memenuhi ketentuan tinggi hilal 2 derajat, umur bulan 8 jam / jarak antara Matahari dan Bulan 3 derajat. Kriteria inipun sudah disepakati untuk kriteria Taqwim dan kriteria rukyah oleh Ormas-Ormas Islam dalam Lokakarya Hisab Rukyah yang diselenggarakan oleh Sub Direktorat Hisab Rukyah dan Pembinaan Syari’ah Kemenag RI, di Cisarua tahun 2011, yang kemudian disempurnakan dalam Lokakarya di Semarang tahun itu juga. Kriteria imkanurrukyah ini bukan dimaksudkan untuk mengganti rukyah, tetapi sebagai instrumen untuk menolak apabila ada laporan terlihatnya hilal ketika mayoritas ahli hisab menyatakan bahwa hilal pada hari itu belum imkanurrukyah.

Dari seluruh paparan tersebut, diharapkan dapat menjadi masukan dalam rangka mencari titik temu atas perbedaan yang serba majmu’ dalam menentukan awal Ramadlan, awal Syawal, dan awal  Dzulhijjah.

* Makalah disampaikan dalam acara Mudzakarah di Aula TK Islam Al-Azhar lt.II Kampus Al-Azhar Kebayoran Baru, Senin 2 Juli 2012, yang dipanel dengan Prof. DR. Thomas Djamaluddin (Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN), dan Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A.(Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah). Moderator : Dr. HM. Hartono, MM (Ka. Sekretariat Masjid Agung Al Azhar)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Fragmen, Nahdlatul IPNU Tegal

Alumni Pesantren Ploso Pimpin GP Ansor Jaktim

Jakarta, IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jakarta Timur resmi dipimpin oleh Kiai Mahmud Mudzofar yang sebelumnya menjabat sebagai ketua caretaker melalui Konfercab GP Ansor Jakarta Timur. Proses pemilihan dilakukan dengan jalan musyawarah. Dipimpin oleh perwakilan Pimpinan Wilayah GP Ansor DKI Jakarta, masing-masing Pimpinan Anak Cabung (PAC) GP Ansor dipersilakan untuk mengajukan satu calon kandidat.

Alumni Pesantren Ploso Pimpin GP Ansor Jaktim (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Ploso Pimpin GP Ansor Jaktim (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Ploso Pimpin GP Ansor Jaktim

Sembilan PAC dari sepuluh kecamatan di Jakarta Timur, semua mengajukan nama Kiai Mahmud, hanya PAC GP Ansor Makassar mengajukan nama lain, Dendi Zuhairil Finsa dan Firman Abdul Hakim, akhir pekan lalu (18/10). Namun, nama Firman Abdul Hakim gugur karena tak memenuhi persyaratan mencalonkan diri sebagai ketua PC Ansor.

Sehingga hanya ada dua calon yang lolos, KH Mahmud dan Dendi pada putaran selanjutnya. Pada pemilihan terbuka tersebut, sembilan dari sepuluh pemilik suara semua memilih Kiai Mahmud, satu suara dari PAC Makassar memilih abstain.

IPNU Tegal

Secara aklamasi terpilihlah Kiai Mahmud Mudzofar sebagai Ketua PC Ansor Jakarta Timur Periode 2015-2019. "Bagi saya, amanah (memimpin GP Ansor Jakarta Timur) ini beban berat. Namun beban berat ini akan menjadi ringan bila kita sama-sama, baik PAC dan kepengurusan yang ada bekerja sama," kata Kiai Mahmud, usai pemilihan di Kantor PW NU di Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur, Ahad (18/10) semalam.

Menurut ustadz muda alumni Pesantren Ploso ini, GP Ansor adalah milik umat dan organisasi berlatar belakang NU ini lahir untuk mengawal dan membangun bangsa ini sejahtera. Alasan itu, ia meminta agar kader Ansor lebih berkontribusi pada negara dan lebih bermanfaat bagi umat.

IPNU Tegal

"Tujuan kita ber-Ansor untuk memantapkan diri agar lebih bermanfaat bagi umat dan negara ini. Negara dalam hal ini, bukan pemerintahan, tapi tata kelola masyarakat perlu kita tata bersama dari unsur keumatan," jelasnya.

Ia menyadari bahwa GP Ansor Jakarta Timur banyak menghadapi kendala sehingga belum optimal memberi kontribusi kepada umat. Di era kepemimpinannya ini, Kiai Mahfud berjanji akan mengembalikan tradisi keilmuan NU dengan sistem pengajian santri.

"Kita di Ansor ada tradisi keilmuan dan berupaya menjaganya dengan banyak melakukan silaturahmi ke kaum ulama. Saya masih ingat pesan para alim ulama, ‘Jika mencari rezeki jangan di NU, tapi kalau mau mengabdi buat umat maka di Ansor NU tempatnya,’" ujarnya.

Terpisah M. Imaduddin, wakil sekretaris Pengurus Pusat LDNU mengucapkan selamat atas terpilihnya KH. Mahmud Muzofar. "Mudah-mudahan Gus Mahmud mampu membawa GP Ansor Jakarta Timur menjadi lebih baik lagi dan mampu mengakomodasi segenap potensi kader-kader GP Ansor Jaktim yang beragam".

Selanjutnya ia menyarankan kepada ketua terpilih untuk memaksimalkan potensi kader-kader Ansor Jakarta Timur yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

"Saya melihat kader-kader Ansor Jaktim bagus-bagus dan lengkap. Banyak kader yang berlatar belakang pondok pesantren salaf yang menguasai literatur kitab-klasik serta sudah berperan di masyarakat dan juga banyak yang berlatarbelakang aktifis mahasiswa yang sudah teruji di lapangan. Tentu bila dua latar belakang ini dapat dimaksimalkan maka saya yakin GP Ansor Jakarta Timur akan semakin maju", ujarnya.

Kader muda NU yang berangkat dari GP Ansor Jakarta Timur ini juga menyatakan, Mengingat kondisi masyarakat Jakarta yang heterogen dan masifnya serbuan ideologi-ideologi transnasional yang merongrong NKRI yang sasarannya adalah generasi muda, maka program GP Ansor Jaktim di masa kepemimpinan Gus Mahmud ke depan? hendaknya lebih fokus pada dua hal.

“Pertama, pengembangan keilmuan dan intelektualitas, terutama pengembangan dan sosialisasi faham aswaja an-nahdhiyah; kedua pemberdayaan masyarakat dengan mengadakan kegiatan-kegiatan dan pelatihan yang memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat dan melakukan pembelaan (advokasi) terhadap masyarakat. Dengan dua hal ini insya Allah GP Ansor akan semakin dicintai masyarakat Jakarta,” tutur alumni Pesantren Lirboyo ini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pondok Pesantren, AlaNu IPNU Tegal

Selasa, 22 Agustus 2017

PMII Unas dan UIC Galang Dana Peduli Bencana Asap

Jakarta, IPNU Tegal. Pengurus harian Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Nasional (Unas) dan Universitas Ibnu Chaldun (UIC) selama dua hari mengedarkan kotak peduli asap di kampus masing-masing. Mereka menggalang dana berkisar 1-2 jam.

PMII Unas dan UIC Galang Dana Peduli Bencana Asap (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unas dan UIC Galang Dana Peduli Bencana Asap (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unas dan UIC Galang Dana Peduli Bencana Asap

Aktivis pergerakan ini terpanggil untuk menggelar aksi solidaritas untuk korban asap di Sumatera dan Kalimantan. Di lingkungan kampus Unas dan UIC, mereka bergerak pada Jumat dan Sabtu, (23-24/10).

"Aksi solidaritas ini adalah bukti bahwa kami mahasiswa tidak hanya bisa mengkritik pemerintah terkait bencana ini, tapi juga solutif. Ini juga bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi," kata Koordinator aksi solidaritas PMII Unas Niswatul Hamdani Effendi, Selasa, (27/10).

IPNU Tegal

Momen ini menjadi ajang silaturahmi dan gotong royong para aktivis PMII lintas kampus di Ibu Kota.

"Ini momen untuk kebangkitan rasa gotong royong. Ini juga menjadi sindiran untuk para pejabat agar saling memperkuat tindakan melalui kerja sama, bukan saling melempar dan menyalahkan," kata Pina, peserta aksi dari UIC.

IPNU Tegal

Dana hasil aksi solidaritas ini diserahkan kepada lembaga terkait yang berkonsentrasi pada penanggulangan bencana.

"Kami menggalang dana 2 hari di kampus masing-masing, dana terkumpul Rp. 3.316.000 dari hanya 1-2 jam kita turun. Kita langsung berikan ke lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) di menara 165 TB Simatupang Selasa ini," kata anggota Majelis Pembina Komisariat PMII Unas Harsenda Sari.

Yang menarik, sambung Sari, aksi ini sempat ditegur oleh Satgas Pemprov DKI. "Sahabat-sahabati Unas sempat ngecrek di lampu merah Pejaten Village, tapi ditegur oleh Satgas Pemprov DKI lantaran tak berizin. Untuk itu kami putuskan aksi di lingkungan kampus saja," tutup Sari tersenyum. (Doni Rao/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh, Pahlawan, AlaNu IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock