Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim

Kudus, IPNU Tegal. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengajak warga untuk selalu mempererat silaturahim dengan sanak keluarga, saudara maupun sesama umat. Sebab, menurutnya, silaturahim mampu membangun kerukunan dalam kehidupan masyarakat.

“Sebagai umat Islam harus rukun bersatu dengan memperbanyak silaturahim,” katanya saat memberikan taushiyah pada acara open house halal bihalal di kediamannya di Desa Kajeksan, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (31/7).

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim

Ulama kharismatik ini menerangkan, Rasulullah SAW dalam haditsnya menegaskan bahwa siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim.

IPNU Tegal

“Setiap orang yang berhubungan dengan sesama anak adam perlu menggunakan ajang silaturahim supaya ditambahi rizeki dan umur panjang,” tegas Mbah Sya’roni di hadapan ratusan tamu.

Di akhir taushiyahnya, Mbah Sya’roni menjelaskan, umat Islam pada hari kiamat nanti akan saling berangkulan sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an pada Juz 19. Sementara orang kafir tidak demikian karena mereka tidak memperoleh syafaat.

IPNU Tegal

“Oleh karenanya jagalah umat Islam supaya tetap rukun dan bersatu,” tegasnya lagi.

Dalam acara open House idul fitri ini, KH Sya’roni selalu memberikan taushiyah beberapa saat sebelum bersalaman dengana ratusan tamu. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Bahtsul Masail, AlaSantri IPNU Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus

Semarang, IPNU Tegal. Istri Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Hj Sinta Nuriyah berharap Rais Am PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) selalu istiqomah menjaga, merawat dan mendampingi umat.

Hal itu disampaikannya pada saat memberikan testimoni pada acara Selametan 70 tahun Gus Mus di Balairung Universitas PGRI Semarang, Sabtu malam (6/9).

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus

"Saya berharap Gus Mus selalu Istiqomah menjaga ummat sebagaimana yang diharapkan Gus Dur. Jangan sia-siakan. Apalagi sebelum wafat,  Gus Dur menitipkan NU kepada Gus Mus," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Sinta Nuriyah menceritakan persahabatan Gus Mus dengan suaminya. Dituturkan, persahabatan kedua sahabat ini sangat akrab sejak sama-sama kuliah di universitas Al  Azhar Kairo.

IPNU Tegal

"Persahabatannya sangat erat sekali,hingga segala kebutuhan Gus Dur itu ditanggung Gus Mus. Karena Gus Dur itu memang tidak punya dompet (uang)," ujarnya yang disambut senyum hadirin.

IPNU Tegal

Sangking eratnya, persahabatan kedua tokoh umat inipun masih terjalin dengan keluarga dan anak-anaknya. Bahkan, setiap ada hal  yang harus dicarikan solusi selalu mengkonsultasikan kepada pengasuh pesantren Raudhatut thalibin Leteh Rembang ini.

"Termasuk anak-anak saya memanggil beliau  dengan panggilan Om Mus sampai  sekarang. Ini saking akrabnya diantara kita,"kata istri cucu KH.Hasyim Asyari yang hadir didamping putrinya Yenny Wahid. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Halaqoh, Santri IPNU Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Tahun 2001 silam, angin kencang berhembus kepada Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sampai-sampai berbagai cara dilakukan oleh lawan politiknya untuk melengserkannya dari jabatan orang nomor satu di Indonesia, termasuk kriminalisasi.

Namun hingga sekarang, hukum tidak pernah bisa membuktikan bahwa Presiden Gus Dur bersalah dalam kasus yang dilemparkan oleh lawan politiknya di Parlemen. Sehingga kasus Gus Dur murni politisasi.

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Baik secara hukum pidana maupun tata negara, Gus Dur tidak jatuh pada kasus Bulog dan Brunei seperti yang dituduhkan parlemen. Penjatuhan Gus Dur adalah persoalan pertarungan politik dimana yang satu kalah yang satu menang. Bukan soal hukum yang satu benar, yang satu kalah. Dan Gus Dur kalah dalam pertarungan politik itu, karena dikeroyok ramai-ramai.

Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur dari jabatan Presiden RI. Mundur bukan karena mengalah, tetapi Gus Dur lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan keutuhan negara. Sebab, jutaan rakyat Indonesia kala itu akan membela mati-matian agar Gus Dur tetap pada tampuk pimpinan tertinggi negara.

Gus Dur sekuat tenaga menahan amarah rakyat yang mendukung penuh dirinya. Namun, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana Negara kala itu. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima, sebab inkonstitusional dan tidak rasional (irrasional).

Yang menarik dalam persitiwa itu adalah cara Gus Dur yang menolak untuk menjadikan pelengseran itu sebagai tragedi personal. Ia tak merengek atau curhat di depan publik terkait dengan serangan politik terhadapnya. Sikap Gus Dur masih nampak sama, dengan logika komunikasi publik yang gitu saja kok repot.?

IPNU Tegal

Dalam sebuah acara, Gus Dur pernah bercerita tentang perbincangannya dengan Luhut Pandjaitan. Saat itu Gus Dur bercerita pada Luhut tentang hukum Islam yang mengatur bahwa kalau orang diusir dari rumahnya dia harus melawan, kalau perlu dengan menggunakan kekerasan. Namun karena Gus Dur tak ingin mengambil jalan kekerasan, dia lalu meminta bantuan Luhut untuk menguruskan surat perintah pengosongan Istana Negara dari kantor Kelurahan Gambir karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.

IPNU Tegal

Karena pengosongan Istana adalah kehendak pemerintah setempat yang sah, maka Gus Dur tak perlu melawan sama sekali. Kewajiban mempertahankan “rumah” pun gugur. Urusan selesai, dan Gus Dur keluar dari Istana tanpa gejolak. Gus Dur tak menjadikan pelengseran dirinya sebagai beban personal.

Dalam perbincangan lain dengan KH Maman Imanulhaq, Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat perintah dari Lurah Gambir? "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya, kenapa kamu meninggalkan Istana Negara? Tinggal saya jawab: monggo (silakan) ditanya saja ke Lurah Gambir,” ujar Gus Dur.?

Itulah Gus Dur, sang Guru Bangsa. Bukannya susah payah mengumpulkan energi politik untuk melawan kekuatan para pengeroyok, Gus Dur justru menegaskan pada orang di sekitarnya bahwa “tak ada kekuasaan yang begitu berharga hingga harus dipertahankan dengan darah.” Bangsa Indonesia patut mencatat bahwa berbeda dengan kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto yang diawali dan/atau disusul dengan konflik sosial yang berdarah-darah, pelengseran Gus Dur di tahun 2001 justru berjalan aman karena langkah brilian kemanusiaan (humanisme) yang ada pada diri Gus Dur.

Inilah refleksi paling konkret dari visi kemanusiaan yang secara ajeg ditunjukkan oleh Gus Dur. Bagi putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim da cucu Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini, kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Dalam hal ini, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat dan sama sekali tak berkehendak mengorbankan kemanusiaan itu demi kepentingan kekuasaan.

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Syariah, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji

Sudah menjadi tradisi bertamu ke rumah mereka yang baru pulang dari tanah suci untuk mohon didoakan dan juga meminta cinderamata. Bahkan seringkali keluarga maupun tetangga mementingkan penyambutan dan berebut bersalaman lebih dahulu, dengan alasan tabarrukan doa.Memang dianjurkan untuk meminta do’a kepada mereka yang baru datang dari haji. Bukan untuk meminta cindera mata. Sebagian orang menamakan do’a orang yang baru pulang dari haji ini dengan sebutan do’a maghfiroh, yaitu do’a khusus meminta ampunan dari Allah swt atas segala dosa yang telah dilakukan.

Mereka yang baru datang dari tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan, masih suci dari dosa-dosa.

Oleh karena itu, do’a dan permohonannya memiliki nilai lebih. Karena kesuciannya itulah posisinya dianggap lebih dekat kepada Allah. Dan diharapkan do’a-do’anya akan terkabulkan.

Sebagain ulama berkata bahwa kondisi tersebut (kemakbulan do’a) dapat bertahan sebelum orang tersebut masuk ke dalam rumahnya. Namun ada yang mengatakan kondisi tersebut akan bertahan hingga empat puluh hari.

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji

Hal ini diterangkan dalam Hasyiyatul Jamal:

وفÙ? Ù‡ Ø£Ù? ضا ماÙ? صه ÙˆÙ? Ù? دب للحاج الدعاء لغÙ? ره بالمغفرة واÙ? لم Ù? سأله ولغÙ? ره سؤاله الدعاء بها وفى الحدÙ? Ø« (اذا لقÙ? ت الحاج فسلم علÙ? Ù‡ وصافحه ومره Ø£Ù? Ù? دعولك فاÙ? Ù‡ مغفور له) قال العلامة المÙ? اوى ظاهره Ø£Ù? طلب الاستغفار Ù…Ù? Ù‡ مؤقت بما قبل الدخول فاÙ? دخل فات لكÙ? ذكر بعضهم اÙ? Ù‡ Ù? متد أربعÙ? Ù? Ù? وما Ù…Ù? مقدمه وفى الإحÙ? اء عÙ? عمر رضÙ? الله عÙ? Ù‡ Ø£Ù? ذلك Ù? متد بقÙ? Ø© الحجة والمحرم وعشرÙ? Ù? Ù? وما Ù…Ù? ربÙ? ع الأول..

IPNU Tegal

… dan dianjurkan (disunnahkan) bagi para haji untuk memohonkan ampun (do’a maghfiroh) kepada orang lain, walaupun mereka tidak memintanya. Demikian pula bagi mereka (yang tidak berangkat haji) agar meminta untuk dido’akan. Hal ini berdasar pada hadits Rasulullah saw “apabila kalian berjumpa dengan haji (orang yang pulang dari melaksanakan ibadah haji) maka salamilah dia dan jabatlah tangannya dan mintalah agar didoakan olehnya, karena doanya akan mengampunimu” Al-allamah al-Munawi berkata bahwa permitaan doa kepada haji ini sebaiknya dilakukan selama haji itu belum memasuki rumah.

Tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa permintaan do’a ini dapat dilakukan hingga 40 hari sepulangnya dari rumah. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diterangkan berdasakan cerita dari sahabat Umar ra. Keadaan ini dapat diberlangsungkan hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram dan dua puluh hari Rabiul Awwal.? ?

Redaktur: Ulil hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Lomba, Bahtsul Masail, AlaSantri IPNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Kuliner Sore Ramadhan di Jalan Petak Damai

Nganjuk, IPNU Tegal. Bulan Ramadhan memang bulan penuh berkah. Setiap Ramadhan tiba, tidak sedikit pasar dadakan digelar. Salah satu di antaranya pasar di kecamatan ? Bagor kabupaten Ngajuk itu, Pasar Sore Ramadhan di kelurahan Petak Damai, Nganjuk.

Di pasar yang membentang di sepanjang jalan Petak Damai ? ini, antrean panjang warga yang berdesakan bukan pemandangan baru. Banyak pengunjung datang untuk sekadar melihat-lihat atau membeli makanan buat hidangan buka puasa.

Kuliner Sore Ramadhan di Jalan Petak Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuliner Sore Ramadhan di Jalan Petak Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuliner Sore Ramadhan di Jalan Petak Damai

Berbagai macam aneka rupa makanan kecil hingga makanan utama dijajakan para pedagang yang berbaris memanjang dari pintu gerbang sampai pertengahan jalan kampung. Bagi pecinta wisata kuliner, pasar sore Petak Damai ? bisa menjadi rujukan yang menambah kaya khazanah di dunia kuliner.

IPNU Tegal

Makanan khas jajanan pasar mendominasi hampir semua stan para pedagang. Sebut saja kue Lapis yang berwarna kuning kontras dengan warna coklat kehitaman di bagian bawah serta penempatan di nampan merah membuat makanan ini mencuri fokus setiap pengunjung.

"Jajanan pasar ini menjadi salah satu favorit pengunjung. Kita sering kewalahan dengan permintaan kue tersebut," kata Rika, salah seorang penduduk setempat.

IPNU Tegal

Salah satu keunikan dari pasar ini adalah pemandangan pengunjung ? yang saling berdesakan satu dengan yang lain. Tidak ada ? keributan antarpengunjung. Toleransi pengunjung yang masuk dan keluar menjadi semacam kesepatakatan tidak tertulis.

Keunikan lainnya ialah tidak adanya kompetisi di antara para pedagang makanan itu. Semua menggelar dagangan. Semua percaya pada rezeki serta peruntungan masing-masing. Mereka bahkan saling bertukar uang kembalian, serta saling menawarkan dagangan tetangganya ketika mendengar ada permintaan pembeli yang tidak dapat dipenuhinya.

Untuk menjaga kenyamanan dan keamanan para pengunjung, kalangan mustadh’afin yang kurang beruntung hanya diwajibkan untuk menyiapkan kalengnya di bibir pintu masuk. Sementara pihak RT dan RW setempat bertanggung jawab sebagai pengelola pasar tersebut sehingga keteraturan bisa disaksikan di pasar sore ini. (Atik Fatmawati/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran

Jakarta, IPNU Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras sikap Pemerintah Indonesia yang mendukung perberlakukan sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) terhadap Iran. PBNU menilai, sikap tersebut merupakan kesalahan fatal yang justru akan mempersulit posisi Indonesia sendiri.

”Sikap Indonesia yang ikut menyetujui sanksi terhadap Iran adalah blunder besar untuk pemerintah Indonesia,” ungkap Ketua Umum PBNU Dr KH Hasyim Muzadi di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (26/3).

DK PBB menjatuhkan sanksi bagi Iran melalui Resolusi 1747 pada Ahad (25/3). Rancangan resolusi yang dirumuskan Inggris, Prancis, dan Jerman itu disepakati secara bulat oleh 15 negara anggota DK PBB, termasuk Indonesia.

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran

Resolusi ini memperluas sanksi atas Iran yang ditetapkan pada Desember 2006 dalam Resolusi 1737. Di antara isi Resolusi 1747 itu adalah larangan secara menyeluruh ekspor senjata Iran maupun pembatasan penjualan senjata ke Iran. Isi resolusi juga membekukan aset milik 28 lembaga atau perorangan yang berhubungan dengan program nuklir dan rudal Iran.

Iran juga dibatasi untuk memperoleh bantuan keuangan. DK PBB memberi batas waktu 60 hari setelah resolusi agar Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya. Jika diabaikan, DK PBB bisa mengambil langkah yang lebih pantas berupa sanksi ekonomi, bukan militer.

Hasyim menambahkan, kesalahan fatal yang dilakukan pemerintah akan berakibat menjauhnya umat Islam dan bangsa lain di seluruh duni dari Indonesia. Karena itu, menurutnya, pemerintah Indonesia harus bertanggung jawab terhadap rakyatnya yang sebagian besar muslim.

IPNU Tegal

Tak hanya itu. Menurut Presiden World Conference on Religon for Peace itu, dukungan pemerintah atas pemberlakukan sanksi tersebut akan menghancurkan nama baik Indonesia di mata negara-negara berkembang dan negara-negara Islam. “Indonesia mungkin hanya mendapat pujian kosong dari Amerika Serikat. Tapi bangsa Indonesia tidak akan dapat untung apa-apa,” pungkasnya.

IPNU Tegal

NU, tegas Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu, akan mengambil sikap berbeda dengan pemerintah, yakni tetap mendukung Iran berikut program nuklirnya serta negara-negara di kawasan Timur Tengah yang menjadi korban ketidakadilan.

”NU sikapnya jelas, yaitu selalu memperkuat yang benar, bukan membenarkan yang kuat. NU melakukan gerakan moral, bukan gerakan kepentingan. Kita semua berdoa, sukses untuk bangsa Iran, Irak dan Pelestina dalam meraih haknya yang sah,” pungaksnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, AlaSantri, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah

Oleh Edi Subkhan



Di tengah isu penistaan agama yang disangkakan pada Ahok, akhir 2016 time line Facebook dikuasai perang opini pihak yang pro Bashar al-Assad maupun yang kontra. Jutaan informasi disebar via Facebook, dan barangkali sebagian besar dari kita tanpa sempat mengkonfirmasi sumbernya langsung saja menjadi bagian dari jaringan penyebar informasi mengenai konflik Suriah, apapun itu, baik yang pro maupun kontra Assad.

Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Merespon Konflik Suriah: Repotnya Berdiri di Tengah

Taggar #SaveAleppo mengemuka, banyak mengundang simpati bahkan dorongan agar pemerintah Indonesia segera mengirim kekuatan militernya untuk ikut serta mengakhiri konflik Suriah. Ketika pemerintah Arab Saudi menggalang kekuatan militer beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan Indonesia menolak ikut serta, Jokowi jadi bulan-bulanan bullying. Lawatan Presiden dan parlemen Indonesia ke Iran jadi bumbu penyedap tuduhan bahwa Jokowi pro Assad dan akan membawa nasib umat Islam di Indonesia sama seperti di Suriah.

Hal itu karena Iran dalam konflik Suriah menyokong pemerintahan Assad bersama Russia, dan isu sektarian yang diembuskan adalah: Assad presiden Syi’ah yang kejam dan membantai warganya sendiri. Narasi drama yang dibangun lebih lengkapnya adalah: Bashar al-Assad presiden Syi’ah yang kejam terhadap rakyatnya sendiri, hingga muncul para pemberontak yang ingin menumbangkannya. Setelah konflik bersenjata terjadi, kabut asap peta politik mulai tersingkap. Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, Amerika Serikat (AS), Israel, dan beberapa negara Eropa tampak mendukung para pemberontak, di sisi lain Iran dan Russia mendukung Bashar al-Assad.

IPNU Tegal

Respon umat Islam di Indonesia terbelah. Beberapa kelompok yang selalu responsif terhadap isu-isu politik Islam segera bersikap, walau sulit dan barangkali sadar pilihannya bukan tanpa risiko. Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang berada di lingkaran partai dakwah (baca: Partai Keadilan Sejahtera [PKS]). Kedutaan besar Russia di Jakarta mereka demo karena melihat Russia mendukung Assad yang menurut mereka telah membantai Muslim Sunni di Suriah. Sikap politik tersebut secara tidak langsung telah menjadikan HTI dan PKS berada di blok/pihak AS, Israel, dan kawan-kawan, satu pihak yang selama ini jadi sasaran kritik abadi mereka.

IPNU Tegal

Sikap tersebut juga menunjukkan mereka dalam satu blok/pihak dengan ISIS, karena para pemberontak di Suriah tiada lain kecuali ISIS dan kawan-kawannya. Hal yang saya pribadi tidak habis pikir adalah: sekian banyak orang yang posting di media sosial berada dalam posisi kontra Assad dan jika ditanya ternyata tak banyak yang paham bahwa dengan demikian mereka berada dalam satu blok dengan AS, Israel, bahkan ISIS. Anehnya juga tak banyak yang kritis bagaimana bisa AS, Israel, berada satu blok dengan Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, untuk sama-sama menggulingkan rezim Assad.

Sementara itu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah tampak lebih berhati-hati dalam bersikap, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Indonesia. Hal tersebut bisa jadi karena memang konflik Suriah teramat pelik dan kompleks. Duta besar Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto bahkan menyatakan banyak sekali informasi yang simpang siur hingga sampai di Indonesia. Misalnya tudingan bahwa Assad adalah Syi’ah dan juga keterlibatan media-media mainstream milik Barat yang membawa kepentingan Barat di Timur Tengah (Republika, 21/3/2016). Tuduhan bahwa rezim Assad merupakan rezim Syi’ah dan telah membantai Muslim Sunni juga dibantah oleh Muhammad Najih Arromadloni, sekretaris Ikatan Alumni Suriah (Syam) Indonesia (al-Syami) (nu.or.id, 14/5/2016).

Belajar dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah, setidaknya kita perlu melihat tendensi kepentingan Barat atas Timur Tengah dan Islam.



Kepentingan Barat



Kehadiran Barat yang direpresentasikan oleh AS dan negara-negara Eropa (terutama NATO) di Timur Tengah tentu bukan tanpa tendensi kepentingan tertentu. Kita bisa ingat bagaimana AS mendukung penuh para mujahidin di Afganistan agar dapat menjadi pengganggu permanen dari Uni Soviet waktu itu. Sayangnya milisi yang disokong penuh oleh AS tersebut sekarang jadi tanpa tuan dan cenderung destruktif. Namun keberadaannya di Timur Tengah tetap menguntungkan bagi AS, yakni sewaktu-waktu dapat dimainkan untuk jadi bagian dari proxy war di Timur Tengah, sekaligus jadi kambing hitam jika diperlukan.

Motif untuk menjadi satu-satunya kekuatan adidaya di dunia barangkali menjadikan AS berupaya untuk menundukkan potensi-potensi adidaya yang dimiliki oleh negara-negara lain. Terlebih negara-negara tersebut tidak berada dalam satu aliansi dan kesepemahaman dengan AS Di tahun 1960-an kita bisa telisik beberapa versi sejarah yang menyatakan bahwa kejatuhan Presiden Soekarno salah satunya direncanakan dan disetir oleh C.I.A., tiada lain karena Soekarno tidak dapat lagi disetir oleh AS dan sekutunya, dan juga Soekarno mulai dekat dengan Tiongkok. Berikutnya tahun 1990-an Saddam Husain dijatuhkan bahkan dengan intervensi langsung AS ke Irak dengan dalih membebaskan rakyat Irak dari pemimpinnya yang otoriter dan mencegah perang dunia karena Irak memiliki senjata pemusnah massal. Tuduhan yang pada kemudian hari tak pernah terbukti sama sekali.

Kembali menurut penuturan Arromadloni, sekretaris al-Syami (nu.or.id, 14/5/2016), pada 2009 Qatar meminta agar Assad membukakan jalur pipa gas alamnya melintasi Suriah hingga Turki menuju Eropa. Namun Assad menolak permintaan tersebut dan justru pada 2011 bekerjasama dengan Irak dan Iran untuk membuka jalur pipa ke Timur. Bisa jadi hal tersebut menjadi salah satu pemicu keterlibatan dari Arab Saudi, Qatar, Yordania, dan Turki dalam menyokong para pemberontak Suriah dalam menggulingkan Assad. Yakni rasa sakit hati blok Qatar, Turki, Arab Saudi yang kemudian melibatkan AS dan NATO sebagai mitra bisnis yang saling menguntungkan dan harus menjaga kepentingan masing-masing. Kerjasama Assad dengan Iran juga artinya mengancam posisi AS di Timur Tengah.

Senada dengan itu, Steven Sahiounie (ahtribune.com, 10/8/2016) menyatakan bahwa target Arab Spring setelah Tunisia, Libya, dan Mesir berikutnya adalah Suriah. Namun rencana awal tidak berjalan baik di Suriah hingga AS out of budget. Sahiounie menulis AS memulai rencana penggulingan Bashar al-Assad dengan menyelundupkan para teroris yang sebelumnya dimainkan untuk menggulingkan Moammar Khaddafi di Libya ke Deera, daerah perbatasan Suriah dan Yordania. Masjid Omari menjadi basis masuk dan pelatihan para pemberontak awal. Syaikh Ahmad al-Sayasneh, imam masjid Omari yang sudah sepuh dan bermasalah dengan penglihatannya terkelabuhi.

Para pengikut Ikhwanul Muslimin dan juga pengkut Salafi lokal Suriah diidentifikasi oleh Sahiounie sebagai pihak yang juga ikut membantu pergerakan awal para teroris/tentara bayaran dari Libya yang diselundupkan ke Deera. Rencana ini disusun dengan baik oleh C.I.A. dan dimonitor langsung dari Yordania. Di situ senjata dan dana sudah disiapkan untuk membakar api konflik/revolusi Suriah. Para demonstran lokal yang sudah tidak suka dengan rezim Assad barangkali banyak yang tidak tahu bahwa mereka menjadi bagian dari bidak-bidak catur yang dimainkan oleh pihak luar Suriah.

Deera tak pernah disangka bisa jadi pemicu awal konflik karena letaknya yang di perbatasan. Namun justru karena di pinggiran Deera strategis sebagai jalur suplai senjata dari Yordania. Jika benar konflik Suriah karena rakyat ingin Assad lengser, fakta menunjukkan bahwa hingga tahun kedua konflik, warga Aleppo dan beberapa kota besar seperti Damaskus dan Basrah tak pernah ikut demonstrasi menuntut Assad lengser. Bisa jadi karena mereka relatif terpelajar hingga tidak mudah untuk diseret pada isu murahan sektarian Sunni vs Syi’ah. Sahiounie menegaskan bahwa upaya AS menghancurkan Suriah dengan melengserkan Assad dan mengganti dengan pemimpin lain yang lebih kooperatif bukan hanya soal jalur gas, ladang minyak, juga tambang emas, melainkan juga untuk melumpuhkan Suriah di bawah kepemimpinan Assad yang selama ini jadi penyeru utama di Timur Tengah soal Palestina.

Upaya Mencoreng Islam Rahmatan Lil ‘Alamin



Kepentingan Barat lain yang perlu ditelusuri adalah upaya untuk menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama Rahmatan lil ‘alamin. Pelanggengan konflik Timur Tengah bertahun-tahun bisa ditafsirkan sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa wilayah tempat lahirnya Islam sendiri tak pernah lepas dirundung konflik. Citra yang barangkali ingin ditunjukkan pada dunia adalah: Islam agama yang mengajarkan terorisme, peperangan dan pembunuhan, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qaeda, ISIS, Assad, dan lainnya. Karena itu pula barangkali media-media mainstream Barat menyebut para pemberontak di Suriah dengan sebutan “Jihadis”, satu label yang berkonotasi positif dalam ajaran Islam.

Provokasi media-media Barat dan juga ISIS telah banyak mengundang simpati dan dorongan para “Jihadis” dari berbagai penjuru dunia untuk ikut berjuang di Suriah. Sahiounie mengemukakan bahwa kebanyakan mereka datang ke Turki dari Afganistan, Australia, Afrika, dan Eropa, kemudian diangkut bus-bus milik pemerintah Turki langsung ke perbatasan Turki-Aleppo. Konon tiket pesawat, bus, gaji, persediaan makanan dan obat-obatan sudah disediakan oleh pejabat dari Saudi di Turki. Soal senjata, AS mensuplai penuh dari gudangnya di pelabuhan Benghazi, Libya, sebagian besar persenjataan tersebut merupakan sitaan saat sukses menggulingkan rezim Khaddafi. Mehdi al-Harati, warga Libya berpaspor Irlandia, dijadikan pimpinan Free Syrian Army (FSA) setelah sebelumnya sukses memimpin pasukan teror di Libya.

Sahiounie memungkasi analisisnya bahwa: krisis Suriah adalah produksi bersama AS, Uni Eropa, NATO, Turki, Yordania, Israel, Arab Saudi, dan Qatar. Suplai senjata dilakukan oleh AS, sementara gaji, uang suap, dan lainnya ditanggung pangeran Qatar dan raja Saudi. Media yang digandeng untuk mempropagandakan narasi Hollywood adalah al-Jazeera milik Qatar, CNN, BBC, dan France24. Mereka inilah yang menggambarkan para “jihadis”/pemberontah Suriah sebagai pejuang pembebasan yang perlu didukung. Padahal di situ jelas ada ISIS, hal yang sangat kontradiksi tentunya. Al-Jazeera sejak awal krisis bahkan telah menawarkan $100 bagi siapa pun yang dapat menyerahkan video amatir dari Suriah kepada mereka. Sayembara tersebut seketika jadi lahan subur industri baru di Suriah, ‘sutradara’ dan ‘aktor’ bermunculan. Tak ada yang memverifikasi kebenaran isi video, asal mendukung propaganda semua diterima dan sebarluaskan media-media mainstream.

Telaah Sahiounie tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra dari almarhum Syaikh Ramadhan al-Buthi, salah seorang Ulama Suriah yang wafat di tangan kelompok pemberontak dalam konflik Suriah (republika, 7/12/2015). Ia menyatakan bahwa agenda memecah belah Suriah melalui konflik sektarian sudah terbaca ayahnya, oleh karena itu Syaikh Ramadhan al-Buthi memilih jalan tengah, berdiri di tengah, menjadi moderat, untuk menghindarkan konflik. Ia tak pernah mencela pemerintah namun tidak juga memujinya. Sebelumnya ia dikenal sebagai Ulama yang kritis terhadap pemerintah. Tiap bertemu Assad justru yang dilakukan adalah menasehatinya, bukan menyanjungnya. Namun karena upayanya untuk bersikap netral itulah al-Buthi di-bully sebagai Ulama pemerintah.

Pada akhirnya al-Buthi harus wafat dibom oleh para “jihadis” ketika sedang memimpin pengajian tafsir di Masjid al-Iman, Damaskus, 21 Maret 2013. Ironis sekali, seorang Ulama besar yang diakui keilmuannya di level internasional dibunuh karena dianggap pro pemerintah, dianggap akan menggagalkan skenario konflik sektarian di Suriah. Itulah yang terjadi, untuk berdiri di tengah menjadi moderat dan mencegah konflik saja fitnah datang bertubi-tubi, yang bisa saja fitnah itu datang dari pihak yang tidak tahu betul duduk perkaranya, bisa juga didalangi oleh pihak yang akan dirugikan jika konflik tak terjadi.

Dr. Taufiq Ramadhan menengarai bahwa konflik di Suriah sejatinya bukan konflik sektarian antara Sunni vs Syi’ah, apalagi Muslim vs non-Muslim. Menurutnya, selain menghancurkan Suriah menurutnya target dari konflik Suriah adalah mencoreng wajah Islam. Sekarang yang berkonflik dengan senjata bukan lagi warga Suriah, tapi diarahkan agar melibatkan warga Suriah. ISIS sendiri tak semuanya warga Suriah, demikian juga Jubha el-Nusra, anggotanya berasal dari berbagai negara. Ia mengatakan banyak sekali yang datang dari Eropa terutama melalui Turki untuk sampai ke Suriah. Ia mengatakan, tidak mungkin Barat tidak tahu hal ini, tidak mungkin intelijen tidak dapat mengidentifikasi gerakan mereka, namun dibiarkan saja karena akan menguntungkan dalam setting konflik yang disponsori oleh Barat.

Fenomena tersebut justru dimanfaatkan oleh Barat, yakni agar umat Islam di Eropa terprovokasi bertindak kriminal dan teror hingga wajah Islam benar-benar tampak buruk di Barat. Dr. Taufiq Ramadhan menyatakan bahwa yang ditakuti adalah kebangkitan Islam di Barat, oleh karenanya dibiarkan saja umat Islam datang ke Suriah dan saling bantai-membantai di situ. Ia juga meminta agar kita kritis terhadap ISIS: mengapa tak memerangi Israel, namun justru memerangi sesama Muslim? Begitu juga bagaimana Jubha el-Nusra dapat memperoleh bantuan logistik dan persenjataan dari Israel, termasuk Rudal Hawn, dan korban luka el-Nusra diobati di Israel. Barangkali para “jihadis” itu pun sebagian besar tak sadar jadi bagian yang dimainkan oleh para pemain yang lebih besar.

Selain itu Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin jelas punya kepentingan masing-masing, yakni mewujudkan cita-cita ideologisnya. Bagi Hizbut Tahrir Suriah harus direbut dari rezim Assad yang relatif sekuler dan diganti dengan Khilafah Islamiyah. Propaganda Hizbut Tahrir juga menggema ketika peristiwa Tahrir Square di Kairo, Mesir, juga misi pembebasan Palestina. Bagi Hizbut Tahrir pembebasan Palestina harus dilanjutkan dengan pendirian Khilafah Islamiyah, karena kalau yang dituju sekadar pengakuan terhadap Palestina sebagai negara yang merdeka ternyata tidak sejalan dengan visi ideologis Hizbut Tahrir. Oleh karena itu, informasi yang datang dari kanal-kanal informasi dan berita Hizbut Tahrir seluruh dunia, termasuk dari Timur Tengah, juga besar kemungkinan tidaklah netral. Sementara itu Ikhwanul Muslimin tampak lebih tertarik pada sentimen Sunni melawan Syi’ah.

Dus, mengamati banjir informasi di dunia maya mengenai Suriah, yang sebagian besar disetir oleh media-media mainstream Barat, juga media-media dari pihak yang punya kepentingan terhadap konflik Suriah, tentu kita mesti hati-hati. Dalam hal yang paling sederhana: janganlah ikut memperkeruh ruang publik umat Islam di Indonesia dengan berbagai posting yang provokatif, menyesatkan, dan belum dapat diverifikasi kebenarannya terkait dengan konflik Suriah. Upaya memecah belah umat Islam barangkali sedang terjadi juga di Indonesia, teror oleh jaringan ISIS dan sejenisnya dan provokasi para pemuka agama yang seringkali mengundang gesekan antara satu mazhab dengan mazhab lain perlu diwaspadai. Upaya membenturkan kelompok-kelompok ideologis di akar rumput bisa saja dilakukan sebagaimana terjadi di Suriah sebelum konflik pecah.

Oleh karenanya, menghindari konflik hendaknya lebih diutamakan. Hal ini penting mengingat tidak semua umat Islam di Indonesia terpelajar. Masih banyak yang lemah literasinya dalam berhadapan dengan jutaan informasi yang menyebar melalui televisi dan dunia maya. Wafatnya Syaikh Ramadhan al-Buthi patut jadi pelajaran, bahwa jadi moderat di tengah konflik pun berisiko difitnah, dihujat, dan dibunuh. Apalagi jika sudah memutuskan untuk ikut salah satu blok opini, padahal baik yang pro maupun kontra belumlah jelas betul mana yang benar. Namun satu yang pasti, bahwa konflik yang diuntungkan pasti bukan rezim Assad ataupun para “jihadis”, yang diuntungkan pasti para sutradara konflik di balik layar, juga industri persenjataan. Konflik Suriah mulanya juga bukanlah soal Sunni vs Syi’ah, ada intervensi AS, NATO, Arab Saudi, Qatar, Yordania, Turki, di blok berbeda terdapat Iran dan Russia. Sekiranya pihak-pihak tersebut belum bersedia untuk melepaskan ego dan kepentingan masing-masing, barangkali perdamaian di Suriah belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis adalah Takmir Masjid Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES).



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Cerita, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Jakarta, IPNU Tegal. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) 105/2013 dan 106/2013 yang mengatur memberikan fasilitas berobat gratis kepada pejabat negara hingga ke luar negeri.

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

“Memberikan fasilitas keuangan negara kepada pejabat negara secara berlebihan di tengah kemiskinan ekonomi rakyat serta derita karena bencana alam, adalah sebuah kezaliman,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Ahad (29/12).

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengatakan, Perpres tersebut menyakiti nurani rakyat yang pada umumnya masih miskin dan dikhawatirkan menjadi pemicu perlawanan rakyat.

IPNU Tegal

“Oleh karenanya, Perpres 105 dan 106 tahun 2013 tertanggal 13 Desember 2013 yang memberikan fasilitas berobat gratis sampai ke luar negeri segera dicabut,” terang Kiai Hasyim.

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini juga menyarankan para penyelenggara negara dan pejabat publik yang masih punya rasa tanggungjawab kepada rakyat, hendaknya menolak fasilitas berlebihan tersebut.

IPNU Tegal

“Sekalipun yang mau menolak pasti jumlahnya sangat minoritas. Seandanya pejabat negara meninggal karena sakit, biarlah meninggal di tanah air bersama rakyat yang mengantarkan mereka menjadi pejabat,” katanya.

Keluarnya Perpres menjalang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pejabat Negara.

“Hendaknya diingat saat ini menjelang pileg dan pilpres, maka perpres 105/106 akan menambah rasa kejengkelan kepada mereka yang akan menjadi penyelenggara Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden 105/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu. Juga, Perpres 106/2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga Negara.

Dalam laman Sekretaris Kabinet, kedua produk aturan itu dikeluarkan Presiden terkait mulai dilaksanakannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014.

Dengan Perpres itu, para menteri, pejabat eselon I, dan pimpinan lembaga negara dimudahkan untuk berobat ke luar negeri. Seluruh biaya itu nantinya akan ditanggung oleh negara, baik APBN maupun APBD.

Presiden mempertimbangkan risiko dan beban tugas menteri dan pejabat tertentu, serta ketua, wakil ketua dan anggota lembaga negara sehingga pemerintah memutuskan membuat perlindungan kesehatan khusus bagi pejabat negara. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal RMI NU, Bahtsul Masail, IMNU IPNU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS

Jakarta, IPNU Tegal. Menteri Pendidikan dan Olahraga Imam Nahrawi segera merealisasikan janji kepada para atlet Indonesia yang meraih medali emas di SEA Games 2017 Kuala Lumpur 2017 untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menpora menemui Menpan-RB, Asnan Abnur di Kantor Kemenpan-RB, Selasa (5/9).?

Pertemuan itu terkait koordinasi tindak lanjut usulan pengangkatan menjadi PNS yang saat ini berubah nama menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) bagi para atlet peraih medali emas SEA Games 2017.

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS

"Terima kasih tentunya kepada Menpan RB yang telah memberikan terobosan bagi masa depan atlet. Hal ini sebagai bentuk kesungguhan pemerintah terhadap masa depan atlet. Tentunya atlet tersebut harus memenuhi kualifikasi dan peraturan yang sudah baku di Kemenpan RB, baik dari sisi pendidikan, umur dan sebagainya,” kata Imam Nahrawi usai melakukan pertemuan tertutup dengan Menpan RB Asnan Abnur, Selasa (5/9) siang.

Lebuh lanjut, Imam yang didampingi Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta dan Asisten Deputi Standardisasi dan Infrastruktur Olahraga Muhamad Hanan Rahmadi menambahkan, kemudahan untuk menjadi PNS merupakan salah satu bonus yang sudah disiapkan.?

IPNU Tegal

"Bonus untuk SEA Games 2017 tidak hanya berupa uang tunai. Tentunya ini merupakan terobosan baru yang disiapkan pemerintah kepada para atlet. Berapa banyaknya atlet yang akan di promosikan menjadi PNS tentu akan diverifikasi lebih lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” pungkas Imam.

Sementara itu, Menpan-RB Asnan Abnur mengakui pihaknya bersama Kemenpora tengah merancang ? terobosan untuk ? para atlet yang berprestasi khususnya di SEA Games 2017.?

IPNU Tegal

“Ini merupakan terobosan khusus. Ini juga merupakan bentuk apresiasi kepada para atlet yang sudah berprestasi terutama ? di level internasional. ? Dengan demikian, kalau mereka sudah tidak jadi atlet maka mereka bisa bekerja sesuai dengan keahliannya,” tandas Asnan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kajian Sunnah, RMI NU, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar

Tangerang, IPNU Tegal?



Mencegah radikalisme perlu dimulai dari kalangan pelajar. Sebab itu, Dewan Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang menggandeng Kementerian Agama Kota Tangerang untuk mencegah radikalisme di kalangan pelajar. Ini sebagai bentuk kegiatan di bulan Ramadhan?

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar

Presiden Dema STISNU Imam Khoiri menjelaskan, Kemenag harus ikut andil bersama-sama Dema STISNU dalam melakukan pencegahan bahaya radikalisme dan terorisme. "Kami (Dema) dan Kemenag sepakat terjun bersama menangkal radikalisme atas nama agama. Kita memulai dari sosialisasi di kalangan pelajar," ujarnya saat melakukan kunjungan ke Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang, Selasa (30/5).

Ia menambahkan, dema STISNU dan Kemenag sudah menyepakati beberapa poin sebagai manifesto kader mujahid untuk memberikan pemahaman pentingnya pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945.?

Kesepakatan juga berisi untuk menolak keras radikalisme atas nama agama, menolak organisasi yang ingin mengubah dasar negara, dan mendorong generasi muslim Indonesia berpikir moderat, toleran, dan penuh cinta serta kasih sayang.

IPNU Tegal

Kepala Kemenag Kota Tangerang H. Dedi Mahfudin a mengapresiasi langkah mahasiswa STISNU Nusantara. Menurutnya, radikalisme perlu ditangkal sejak dini karena pemikirian radikal dapat merusak integrasi kebangsaan.?

Sebab itu, Kemenag Kota Tangerang sangat mendukung program mencegah sejak dini bahaya pemikiran radikal di kalangan pelajar.

"Kita akan adakan kegiatan sosialisasi bersama-sama mencegah tindakan radikal di kalangan pelajar Kota Tangerang ", terangnya.

Jalinan kerjasama ini akan wujudkan pada kegiatan Gema (Gerakan Mahasiswa) Ramadhan 2017, yaitu berupa kegiatan roadshow dan sosialisasi bahaya radikalisme dan "ngaji pancasila" di 5 (lima) kelurahan Kota Tangerang selama bulan Ramadhan.?

Hadir pada acara silaturrahmi tersebut, Idrus Maulana pendiri PMII STISNU, Aflah Mumtaz Ketua Komisariat PMII, Raudhoh Amalia Pengurus Dema STISNU, dan pengurus Dema lainnya. (Suhendra/Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Habib, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Islam dan Laku Normatif

Oleh Aswab Mahasin

Zaman berganti zaman, ideologi berganti mantra, makna terseret rupa. Tidaklah kamu mengetahui nurani adalah penentram suci. Wajah suci berlumur lumpur, terhapus oleh udara miring nasionalisme. Atas nama kebangsaan mereka berdiri di tengah panji asmara Ilahi. Entah dari mana datangnya wangsit itu. Ritual/spiritual/moral/sosial sederet nama perilaku baik menjadi bancakan kelompok “terhormat”.

Penerjemahan ajaran langit pada realitas bumi dimanipulasi, Baginda Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan tapi diacuhkan. Kenapa manusia berebut kebaikan, sedangkan kejahatan sendiri adalah nilai realitas yang tidak bisa dieelakan.

Islam dan Laku Normatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Laku Normatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Laku Normatif

Pertemuan belum bisa dimaknai sebagai perjumpaan. Sedangkan perjumpaan adalah pemahaman fungsional—kebijaksanaan. Anda ingat, kebijaksanaan dalam literatur jawa selalu diartikan pada dua fungsi, fungsi pertama kebijkasanaan sebagai kebenaran, dan kedua kebijaksanaan sebagai kepeneran (sesuai). Islam dan Laku Normatif, dalam pandangan kebudayaan adalah dua entitas yang dirancang terpisah, berbeda, berlawanan, dan tak mungkin bersenggama.

?

Islam disuarakan dengan Al-Hikmah (kebijaksnaan) dan kebaikan, sedangkan “laku normatif” dikonotasikan “kaku, keras, dan ideologis”. Islam yang secara definisi praksis adalah “agama”, apakah memiliki persandingan yang sesuai jika “tutur perilakunya” diseret pada kepentingan normatif (ideologi politik). Kajian kebudayaan mengatakan, agama bukanlah alat kepentingan kelompok atau personal apalagi dijadikan will to power (kehendak berkuasa), tidak.

IPNU Tegal

Hukum ilmiahnya, pemahaman normatif tentu menyudutkan pemahaman kesempitan berpikir. Ada seruan Al-Quran menegaskan, La ikhraha Fiddin. Tidak ada paksaan dalam memeluk agama, selanjutnya karena Allah tahu mana yang benar dan salah. Kalau ayat ini ditafsirkan pada penafsiran normatif akan memunculkan “walaupun tidak ada paksaan namun Islamlah sebenar-benarnya agama, oleh karena itu akidah harus dimurnikan”.?

Padahal, jika ayat ini kita tafsirkan dalam pengertian yang oprasional maka ayat ini akan menjadi sihir perdamaian kebangsaan, kebudayaan, dan keanekaragaman. Dan tentu Islam akan menjadi potret positif dalam sistem sosial yang tentram.?

Tafsir oprasionalnya adalah tak ada paksaan bagi siapa saja untuk memeluk agama, bergaul, bersosialisai, berpolitik, berbudaya, dan bersuku. Karena sesungguhnya kebenaran dan kesesatan akan nampak terlihat jelas pada sisi-sisi ketidaksesuaian.

Di sinilah pentingnya kita mendewasakan interpretasi, bukan mengkerdilkan analisis. Paradigma kebangsaan, paradigma keagamaan, dan paradigma kebudayaan bukan “pengecualian”. Melainkan norma sosial dalam keselarasan alam. Menerima bukan berarti mengikuti, menyalahkan bukan berarti memenjarakan, dan menyesatkan bukan berarti menenggelamkan.

IPNU Tegal

?

Semua ini adalah proses menuju pada keabadian sejati. Janganlah, kelas sosial yang awalnya hanya kelas borjuis dan ploretar, kelas penindas dan tertindas, lantas digantikan menjadi kelas surga dan neraka. Sungguh surga adalah milik kita semua, begitu pun dengan neraka.

?

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Bahtsul Masail, Sholawat IPNU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Derita Rohingya, Derita Kita

Hidup Muslim Rohingya yang tinggal di Provinsi Rakhine Myanmar seolah tak lepas dari derita. Bukan hanya beberapa tahun belakangan ini, catatan sejarah menunjukkan, mereka telah mengalami penganiayaan oleh pemerintah yang berkuasa dari periode ke periode. Kini, etnis Rohingya kembali menjadi perhatian internasional atas kekerasan yang mereka alami yang memaksa mereka harus mengungsi untuk menyelamatkan hidup. Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling menderita atas situasi ini.

Kita memiliki konsep ukhuwah islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim, yaitu Muslim di mana pun adalah saudara. Jika mereka menderita, maka hal tersebut juga penderitaan kita. Dalam konteks inilah, terasa sekali nilai penting bagi kita untuk membantu orang-orang yang sedang ditimpa kesusahan. Ada banyak cara untuk membantu Muslim Rohingnya, bagi umat Islam secara umum, memberikan donasi untuk meringankan penderitaan yang mereka alami adalah cara paling mudah. Sedikit uang yang terkumpul dari jutaan umat Islam Indonesia, akan sangat bernilai. Jika belum mampu memberikan sumbangan, hal minimal yang kita lakukan adalah memanjatkan doa untuk kebaikan mereka.

Derita Rohingya, Derita Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Derita Rohingya, Derita Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Derita Rohingya, Derita Kita

NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil langkah nyata dalam meringankan beban Muslim Rohingya. NU melalui LAZISNU dalam hal ini memfasilitasi orang-orang yang ingin membantu dengan menyediakan rekening khusus yang dilaporkan pengkembangannya setiap hari demi menjaga transparansi dan akuntabilitas. Para aktivis NU yang tergabung dalam berbagai badan otonom NU seperti Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, pesantren, sekolah dan kelompok NU lainnya secara massif mengampanyekan kesadaran untuk turut memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan guna menolong mereka yang sedang mengalami musibah ini. Relawan-relawan NU yang selama ini sudah berpengalaman dalam mengatasi bencana, rencananya juga akan diterjunkan langsung ke lokasi konflik untuk memberi bantuan kepada semua pihak yang menderita.

IPNU Tegal

Bagi pemerintah Indonesia, hal yang penting untuk dilakukan selain memberikan bantuan keuangan adalah melakukan diplomasi kepada pemerintah Mynmar agar lebih bijak dalam menangani masalah tersebut. Langkah Menlu Retno Marsudi untuk berkunjung ke Mynmar dan ke Bangladesh sebagai negara yang paling terdampak oleh pengungsi Rohingnya patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh komunitas Muslim di dunia internasional.

Negara yang cukup aktif dalam membantu masalah Muslim Rohingya adalah Indonesia dan Turki. Karena itu, disayangkan jika komunitas Muslim internasional kurang memberikan perhatian yang cukup atas masalah ini, mengingat etnis Rohingya merupakan etnis minoritas yang paling menderita di dunia. Kekuatan internasional, baik dalam hal pengumpulan dana atau diplomasi akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam upaya penyelesaian ini agar tidak terus berlarut-larut dari waktu ke waktu.

IPNU Tegal

Aksi mendukung Muslim Rohingya dengan melakukan demonstrasi juga sah-sah saja selama menjaga ketertiban dan sesuai dengan koridor hukum yang ada. Aksi seperti itu akan menjadi perhatian publik internasional bahwa apa yang dialami oleh Rohingya menjadi perhatian pihak lain. Tetapi, jika aksi tersebut memiliki motif lain seperti sebagai sarana konsolidasi untuk menggoyang pemerintahan, tentu sangat disesalkan. Sikap pemerintah yang tidak memberi izin pada rencana aksi di dekat kompleks Candi Borobudur juga tepat. Umat Budha di Indonesia hidup dengan damai dan menjaga toleransi dengan sesama. Jangan sampai upaya untuk membantu saudara Muslim di negara lain malah menjadi masalah antarumat beragama di negeri sendiri.

Bagi umat Islam secara umum, bersikap kritis atas segala informasi yang beredar di internet sangat penting. Baru-baru ini beredar viral foto-foto di dunia maya yang ternyata hoaks. Ada pihak-pihak yang berusaha menunggangi penderitaan pihak lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Mawas diri dalam situasi yang tidak pasti menjadi sangat penting untuk menjaga kedamaian.

Upaya-upaya pertolongan dengan menggalang aksi kemanusiaan sangat bermakna sebagai solusi jangka pendek atas masalah Rohingya. Kini saatnya dicarikan solusi permanen agar nasib etnis Rohingya tidak sebagaimana yang terjadi dengan Pelestina yang terus menerus dilanda konflik dan menjadi faktor ketidakstabilan kawasan. Dengan perkembangan teknologi, masalah yang terjadi di satu daerah bisa menjadi problem yang meluas ke daerah-daerah sekitarnya. Keterlibatan ASEAN untuk bersama-sama menyelesaikan masalah ini sangat penting. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Nahdlatul, Amalan IPNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Jelang Harlah NU, Muslimat NU Garut Gelar Lomba Pidato Keagamaan

Garut, IPNU Tegal - Muslimat NU Garut menyelenggarakan lomba pidato keagamaan di SMK Ma’arif Garut, Ahad (15/1). Perlombaan yang diikuti 40 peserta ini dimaksudkan untuk melihat potensi ceramah keagamaan di kalangan remaja NU khususnya pelajar di Garut.

Perlombaan ini diadakan untuk memperingati Maulid Nabi sekaligus menyongsong Harlah Ke-91 NU yang diinisiasi oleh PCNU Kabupaten Garut.

Jelang Harlah NU, Muslimat NU Garut Gelar Lomba Pidato Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Harlah NU, Muslimat NU Garut Gelar Lomba Pidato Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Harlah NU, Muslimat NU Garut Gelar Lomba Pidato Keagamaan

Salah seorang panitia, Yayah Haryawati, menegaskan, penyelenggaraan acara ini bertujuan untuk mengembangkan potensi anak muda sehingga pesertanya terbatas pada siswa dan siswi setingkat SLTA atau sederajat di Garut.

“Acara ini diperlukan untuk mencari kader dan mengembangkan potensi anak-anak muda yang nantinya akan jadi penerus,? untuk da’i dan daiyah,” kata Yayah saat diwawancarai di sela-sela kegiatan di SMK Ma’arif Garut.

IPNU Tegal

Peserta berasal dari berbagai sekolah menengah atas dengan tiga juri, yaitu H Ahmad, H Samhari, dan Neneng. Semua peserta akan dinilai sesuai kebolehan dan penampilannya di panggung. Panitia akan mengumumkan tiga orang pemenang dalam kegiatan jalan sehat pada 29 Januari. Semua pemenang dari berbagai perlombaan akan turut diapresiasi pada hari tersebut.

IPNU Tegal

Sebelumnya pada (11/1) pihak panitia menyelenggarakan musabaqah qira’atul kutub, yang disusul dengan lomba paduan suara dan lomba liwet pada (4/1). Pada 16-28 Januari panitia menggelar olimpiade sains dan seni (O2SNU) dan cerdas cermat. Sementara Musyawarah Kerja Cabang NU Garut II (Mukercab II) digelar pada Selasa (17/1).

Pada Ahad (15/1) panitia menutup perlombaan untuk mencari MWCNU dan Ranting NU terbaik sekabupaten Garut yang dibuka sejak (25/12/16) lalu. Sementara pada Selasa-Rabu (31/1-1/2) PCNU Garut akan menyelenggarakan puncak peringatan Harlah Ke-91 NU di Gedung PCNU Garut. (Rohmah Nashruddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Tokoh, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan

Surabaya, IPNU Tegal - Kepengurusan Aswaja Center PWNU Jatim menyelenggarakan rapat bersama sekaligus melakukan evaluasi terhadap program yang selama ini dilaksanakan. Sejumlah nama dan program baru diluncurkan sebagai jawaban atas tantangan yang kian kompleks.

"Kita ingin melakukan penguatan Ahlus Sunnah wal Jamaah sesuai yang digariskan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari," kata KH Abdurrahman Navis, Sabtu (3/9). Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Islam Aswaja adalah tidak melakukan tatharruf tasyaddudi yakni yang terlalu keras atau ekstrem seperti kalangan fundamentalis.

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan

"Demikian juga Aswaja bukanlah kelompok yang tatharruf tasahhuli atau kalangan yang cenderung memudahkan syariat seperti kalangan liberal," ungkapnya.? Dan tentu Aswaja juga bukan kelompok Syiah dan sejenisnya, lanjut dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

IPNU Tegal

Menurut Wakil Ketua PWNU Jatim tersebut, inilah yang kemudian dikenal sebagai fikrah nahdliyah yakni kerangka berpikir yang didasarkan pada ajaran Aswaja yang dijadikan landasan berpikir NU untuk menentukan arah perjuangan.

Secara lebih rinci, Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini mengemukakan bahwa dalam merespon persoalan, baik yang berkenaan dengan masalah keagamaan maupun kemasyarakatan, NU memiliki manhaj Aswaja dengan ciri khas. "Dalam bidang aqidah atau teologi, mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Mansur Al-Maturidi," jelasnya.

IPNU Tegal

Sedangkan dalam bidang fiqih bermazhab kepada salah satu Al-Madzahibil Arbaah yakni Imam Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali. "Dan untuk bidang tasawuf, mengikuti Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali," katanya di aula PWNU Jatim.

Untuk dapat menjabarkan fikrah nahdliyah tersebut, PW Aswaja NU Center telah membentuk sejumlah divisi. Pertama adalah uswah atau usaha sosialisasi Aswaja yang merupakan usaha menyosialisasikan dan menyebarkan paham Aswaja NU lewat media cetak, elektronik, pengajian, lailatul ijtima, khatbah Jumat, dan sebagainya.

"Demikian juga ada biswah yakni bimbingan dan solusi Ahlussunnah wal Jamaah," katanya. Divisi ini menfasilitasi pengurus Syuriyah NU secara berkala untuk membimbing dan memberikan solusi kepada masyarakat tentang paham Aswaja, baik secara langsung, melalui telpon ataupun media lain, jelasnya.

Yang ketiga adalah divisi dakwah yakni daurah kader Ahlussunnah wal Jamaah yang mengadakan pelatihan kader Aswaja secara berkala untuk mencetak kader loyal.

"Selanjutnya adalah kiswah atau kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah," ungkapnya. Dalam praktiknya, divisi ini melakukan kajian Islam Aswaja ditinjau dari berbagai disiplin ilmu dalam bentuk halaqah, seminar atau forum ilmiah lain dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai ahli, terangnya.

Dan yang terakhir adalah makwah, yakni maktabah Ahlussunnah wal Jamaah dengan membuka perpustakaan di kantor PWNU untuk menyediakan kitab dan buku bacaan tentang Aswaja.

Kelima divisi ini telah dilakukan penyegaran personil. "Ini demi kian meningkatkan khidmah kita dalam memasyaratkan Aswaja," tandas Kiai Navis.

Sejumlah darah baru hadir pada koordinasi ini. Ada perwakilan dari UIN Sunan Ampel, Unesa, Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Unair, ITS serta kampus? lain. "Diharapkan kehadiran para aktivis kampus ini akan kian menyebarkan Aswaja An-Nahdliyah di seluruh lapisan masyarakat," pintanya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Santri IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Amalan Mujarab Lancarkan Rezeki ala Rasulullah SAW

Pada prinsipnya, zikir sangat dianjurkan pada saat apa saja dan dengan lafazh apa saja. Tidak peduli panas, hujan, mendung, atau terik, zikir tetap disarankan. Tidak ada ketentuan bahwa zikir mesti diperbanyak saat saluran rezeki tersumbat atau kredit macet. Demikian juga di waktu senang. Singkatnya lidah tidak boleh kering dari zikir di mana saja dan kapan saja.?

Tetapi memang ada kalanya Rasulullah SAW menganjurkan para sahabat untuk melazimkan suatu amal. Sementara Rasulullah SAW sendiri menyebutkan buah dari amal tersebut atau tidak menyebutkannya sama sekali.

Amalan Mujarab Lancarkan Rezeki ala Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan Mujarab Lancarkan Rezeki ala Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan Mujarab Lancarkan Rezeki ala Rasulullah SAW

Berikut ini merupakan amalan yang dianjurkan Rasul SAW kepada sejumlah sahabatnya dengan faidah melonggarkan saluran-saluran rezeki. Demikian disebutkan Abu Bakar bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam karyanya Hasyiyah I‘anatut Thalibin ala Fathil Mu‘in.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?.?

IPNU Tegal

Tersebut dalam banyak hadits sahih sebuah riwayat di mana Nabi Muhammad SAW memerintahkan sejumlah sahabatnya untuk mengamalkan bacaan ini demi memperlapang rezeki. Sebagian ‘arifin mengatakan, amalan ini teruji dalam melapangkan rezeki lahir maupun batin. Bacaan yang dimaksud ialah “La ilaha illallah. Almalikul haqqul mubin” setiap hari 100 kali. “Subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil adzim, astaghfirullahal adzim” setiap hari 100 kali. Banyak guru besar menganggap baik melazimkan bacaan ini saat di antara sembahyang sunah Subuh dan sembahyang Subuh. Kalau kesempatan itu luput, maka bacalah setelah Subuh hingga sebelum fajar menyingsing. Bila di waktu itu luput juga, maka bacalah setelah matahari gelincir (penanda Zhuhur). Singkatnya, kalau bisa jangan sampai setiap orang mengarungi hari-harinya tanpa bacaan ini.

IPNU Tegal

Rezeki yang dimaksud di atas mencakup rezeki lahir maupun batin. Artinya, tidak ada salahnya kalau bacaan ini diamalkan oleh para murid yang cenderung bebal menerima pelajaran atau mereka yang sulit mengubah kebiasaan buruk menjadi baik. Yang jelas, amalan ini menambah pahala yang bersangkutan.

La ilaha illallah. Almalikul haqqul mubin. Muhammadur Rasulullah Ash-shadiqul Wa‘dil Amin” merupakan kalimat yang tertera di pintu Ka‘bah. Siapa membacanya, akan mendapat pahala yang besar. Demikian keterangan Mufti Jakarta Habib Utsman bin Yahya dalam karyanya "Kitab Sifat Dua Puluh" dengan bahasa Arab Melayu. Wallahu A ‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Kiai, Tokoh IPNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud

Bandung, IPNU Tegal 



Ribuan santri dan warga NU Kecamatan Margaasih mengikuti Pawai Ta’aruf Hari Santri Nasional pada Sabtu (21/10). Mereka memulai pawai dari Pondok Pesantren Darul Ma’arif menuju makam penyebar Islam KH Abdul Manaf (Mahmud), kemudian kembali lagi di pondok pesantren semula. 

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud

Pawai dimulai dengan penampilan drum band kolaborasi antara santri Darul Ma’arif dan para orang tua. Kemudian barisan siswa-siswi Madrasah Ibdtidiyah, para guru, orang tua, dan santri mengikuti pada barisan selanjutnya.

Kepala Sekolah MTs Darul Ma’arif Fauzi Mubarok, pihak pesantren mengerahkan sekitar 1200 santri pada pawai itu. Kemudian ditambah warga sekitar. 

Pawai ini merupakan rangkaian dari pelantikan MWACNU dan seluruh Ranting MWCNU di kecamatan Margaasih. Juga pelantikan Lesbumi Kabupaten Bandung. 

IPNU Tegal

Sehari sebelumnya di pondok pesantren itu juga, Lesbumi mengadakan diskusi bertajuk “Lawung Budaya dan Tirakat Sastra” dengan tema “Dasar Pemikiran Islam Sunda dalam perahu Islam Nusantara”. 

Dua narasumber pada kegiatan itu adalah Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto dan Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat Asep Salahuddin. Selepas itu diadakan pelatihan menulis dengan narasumber Iip D. Yahya dan Neneng Yant KH. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Nasional, Kajian Sunnah IPNU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Ke PWNU Sulsel, Ketum Fatayat Ingatkan soal Perbaikan Kaderisasi

Makassar, IPNU Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama Anggia Ermarini berkunjung ke Kantor PWNU Sulawesi Selatan, Sabtu (31/10), seiring dengan pelaksanaan Konferensi Wilayah Fatayat NU Sulsel selama dua hari, 31 Oktober - 01 November 2015 di Makassar.

Ke PWNU Sulsel, Ketum Fatayat Ingatkan soal Perbaikan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke PWNU Sulsel, Ketum Fatayat Ingatkan soal Perbaikan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke PWNU Sulsel, Ketum Fatayat Ingatkan soal Perbaikan Kaderisasi

Anggia dalam kesempatan itu mengingatkan, sebagai organisasi keagamaan NU ke depan mendapatkan banyak tantangan, salah satunya soal penataan organisasi hingga ke tingkat ranting. Selain manajemen, sistem kaderisasi di tubuh NU menurutnya juga perlu diperbaiki.

“Kemudian tantangan lainnya adalah sejauh mana NU merespon isu-isu nasional, misalnya kekerasan terhadap perempuan, radikalisme, kekerasan terhadap anak, dan lingkungan,” katanya.

IPNU Tegal

Di Kantor PWNU Sulsel Lantai 4 itu, Ketua Umum PP Fatayat NU disambut langsung Ketua PWNU Sulsel Prof Iskandar Idy beserta para pengurus lainnya. Iskandar Idy memaparkan capaian-capaian NU.

IPNU Tegal

Keberhasilan tersebut di antaranya dalam pengembangan perguruan tinggi NU di Sulsel, yakni Universitas Islam Makassar (UIM). UIM terbukti banyak diminati calon mahasiswa baru di Sulawesi Selatan. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Cerita, Kajian Islam IPNU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Kasatkorwil Jatim: Banser Harus Tetap Berlatih

Pasuruan, IPNU Tegal - Kepala Satuan Koordinasi Wilayah ( Kasatkorwil) Banser Jawa Timur dr H Umar Usman menegaskan bahwa Banser bersama kekuatan bangsa yang lain untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segela ancaman, hambatan, gangguan, dan tantangan. Untuk itu Banser perlu membekali dengan pelbagai keterampilan dan giat berlatih.

“Artinya Apa? Banser bersama dengan komponen yang untuk tetap siaga menjaga keutuhan NKRI dari semua ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri. Ini memang tanggung jawab Banser,” tegas dr H Umar Usman ketika memberikan materi ke-Banseran dalam Kusrsus Banser Lanjutan (Susbalan) di Pasuruan, Sabtu (30/7) siang.

Kasatkorwil Jatim: Banser Harus Tetap Berlatih (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasatkorwil Jatim: Banser Harus Tetap Berlatih (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasatkorwil Jatim: Banser Harus Tetap Berlatih

Tanggung jawab yang lain apa? Yakni menjaga, memilihara, dan menjamin kelangsungan hidup dan kejayaan GP Ansor dan NU. Kalau ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan atau menghalangi, Banser harus berani mengatasinya.

IPNU Tegal

”Untuk itu Banser harus latihan dan latihan di semua bidang. Tujuannya agar mampu melaksanakan tanggung jawab itu,” katanya.

Sebagaimana diketahui Satkorwil BanserJawa Timur menggelar pelatihan Susbalan yang diikuti oleh 131 peserta di Pasuruan. Peserta adalah satkorcab-satkorcab se-Jatim. Acara berlangsung mulai 29 Juli hingga 1 Agustus.

IPNU Tegal

Lebih lanjut dr Umar mengimbau Banser untuk banyak beramal saleh, selalu terlibat aktif dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial di daerah yang terkena bencana. Terkait ini Banser sudah memiliki satuan khusus yang bernama Bagana (Banser Tanggap Bencana) yang baru saja diakui sebagai sahabat Tagana (Taruna Tanggap Bencana) oleh Menteri Sosial Hj Khofifah Indar Parawansa.

“Dalam kaitan ini kita di lapangan bisa berkoordinasi dengan elemen lain seperti LPBI NU, BPBD dan Basarnas. Karena memang ini salah satu dari kegiatan yang harus dilaksanakan oleh Banser,” terangnya. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Hadits, Kajian Islam IPNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Musimat NU Pringsewu Salurkan “Koin Surga” Sebesar Rp. 93,5 Juta

Pringsewu, IPNU Tegal. Tabungan “Koin Surga” 2015 berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 93.545.000. Tabungan berbahan bambu itu telah disebarkan selama satu tahun yang kemudian dibuka pada peringatan harlah ke-69 Muslimat NU di Lapangan Dirgahayu kecamatan Sukoharjo, Pringsewu. Dana ini didistribusikan untuk santunan dhuafa, lansia, anak-anak yatim piatu, khitanan massal, donor darah.

Penggagas tabungan ini Dra Hj Ani Fitriani Sobri menyatakan bahwa pihaknya sudah setiap tahun menyebar tabuhan tersebut ke seluruh anak cabang, ranting, dan majelis taklim di seluruh titik di kabupaten Pringsewu.

Musimat NU Pringsewu Salurkan “Koin Surga” Sebesar Rp. 93,5 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Musimat NU Pringsewu Salurkan “Koin Surga” Sebesar Rp. 93,5 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Musimat NU Pringsewu Salurkan “Koin Surga” Sebesar Rp. 93,5 Juta

Hj Ani Fitriani Sobri yang tidak lain adalah Ketua Muslimat NU Pringsewu mengatakan bahwa awalnya tabungan Koin Surga itu dibuat sebanyak 3000 buah. Tabungan ini dibuka untuk menghitung hasilnya setiap satu semester.

IPNU Tegal

“Namun sekarang sudah lebih dari 3000an tabungan dibuat setiap tahunnya dan dibuka bersamaan dengan kegiatan Harlah Muslimat NU. Meningkatnya jumlah tabungan didasarkan atas permintaan dan animo yang tinggi dari majelis-majelis taklim yang ada,” kata Hj Ani.

Tabungan Koin Surga berawal dari keinginan Muslimat NU Pringsewu untuk saling peduli dan berbagi kepada sesama muslim yang membutuhkan uluran tangan di Pringsewu.

IPNU Tegal

Berangkat dari keinginan mewujudkan program-programnya, Muslimat NU Pringsewu lalu meluncurkan program Koin Surga ini untuk pertama kalinya pada peringatan harlah ke-66 Muslimat-NU di pesantren YASMIDA Ambarawa, Pringsewu pada 2012.

Peluncuran perdana waktu itu dilakukan secara simbolis dengan memasukkan koin ke dalam tabungan bambu oleh Bupati Pringsewu KH Sujadi yang juga Mustasyar PCNU Pringsewu.

Tidak tanpa alasan membuat media tabungan yang terbuat dari bambu tersebut. Hal ini didasarkan kepada arti yang terkandung dari nama Pringsewu yang berasal dari bahasa Jawa "Pring" yang berarti bambu dan "Sewu " yang berarti seribu. (M Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pendidikan, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Senin, 27 November 2017

Gus Dur dan Pemikiran Sastra Pesantren

Oleh Ahmad Zaki Muntafi

Siapa yang tak kenal sosok Gus Dur ? Sosok yang sangat progresif-inspiratif dengan segala pemikirannya. Bukan itu saja, Gus Dur dianggap pula sosok yang nyeleneh dalam tingkah lakunya. Termasuk pula pada saat memimpin negeri ini, yakni sebagai Presiden RI dengan gaya kepemimpinannya yang tak jarang nyeleneh pula. Namun, ada pesan yang tersirat dari segala ke-nyelenehan Gus Dur.

Gus Dur dan Pemikiran Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Pemikiran Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Pemikiran Sastra Pesantren

Bagi kalangan NU, Gus Dur tentu sebagai ulama besar yang sangat dihormati dan disegani warga nahdliyin dimanapun dan kapanpun. Bahkan, sebagai pemikir modern, sosok Gus Dur bisa dikatakan sebagai intelektual Muslim abad kontemporer. 

Mengenai pemikiran Gus Dur, tentu masyarakat telah mengetahui banyak tentang itu. Bahkan, saat ini terdapat kelompok Gusdurian yang memang fokus mengkaji pemikirannya Gus Dur sebagai sebuah refleksi kehidupan modern. Gusdurian terdiri dari para murid, pengagum, penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Di luar itu, telah banyak juga aktivitas-aktivitas yang mengkaji dan melestarikan pemikiran Gus Dur.

Sebagai intelektual pesantren, sosok Gus Dur tak bisa dilepaskan dari hiruk pikuk kehidupan dan polemik dalam pesantren. Bahkan, dalam corak pemikirannya lebih cenderung pada pesantren sebagai basis ideologinya, yang kemudian dibarengi dengan persoalan kebudayaan dan politik. Hal itu bisa dilihat pada awal tahun 70-an hingga 80-an, di mana Gus Dur telah banyak menulis tentang hubungan antara agama, tradisi (budaya), ideologi, dan politik. Misal saja, tulisannya yang berjudul Agama, Ideologi dan Pembangunan dan Pribumisasi Islam.

Eksistensi sastra pesantren

IPNU Tegal

Terdapat pula pemikiran Gus Dur yang mencoba mengkritisi eksistensi sastra dalam pesantren, yakni yang dipaparkan dalam tulisannya “Pesantren dan Kasusastraan Indonesia”. Menurut Halid Alkaf (2008) dalam disertasinya, memaparkan bahwa tulisan tersebut telah mencerminkan kuatnya penguasaan Gus Dur terhadap khazanah tradisi lokal, khususnya kaitannya pesantren sebagai bagian dari realitas kehidupan beragama dengan karya sastra yang bersumber pada tradisi keagamaan.

IPNU Tegal

Lebih lanjut lagi, Alkaf menjelaskan bahwa sebagai objek sastra, saat itu pesantren belum mendapatkan perhatian yang lebih dari budayawan sekaligus sastrawan. Padahal saat itu banyak di antara mereka yang telah mengenyam pendidikan keagamaan di dunia pesantren. Namun, justru mereka enggan atau pun belum menempatkan pesantren sebagai media dari karya-karyanya. 

Bisa dikatakan, pada saat itu eksistensi sastra tentang dunia pesantren belum mendapat tempat yang baik. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya, pada 50-an hingga 60-an, hanya Djamil Suherman yang pernah memfiksikan dunia pesantren dalam cerita pendeknya. Disinilah pemikiran Gus Dur yang menyoal tentang sastra dalam dunia pesantren. 

Gus Dur menjelaskan bahwa terdapat dua hal yang menjadi alasan eksistensi sastra tentang pesantren. Pertama, dramatisme dalam pesantren yang cenderung pada taraf terminologis yang tinggi. Dalam hal yang bersifat abstrak seperti; determinasi, free destination (iradah), intensitas ketundukan pada Tuhan dan lain sebagainya, saat itu amat sukar dituangkan dalam sebuah fiksi sebagai perwujudan sastra. 

Kemudian, kedua, telah terjadinya kakunisasi pandangan masyarakat Muslim terhadap manifestasi kehidupan beragama di negeri ini. Meminjam istilah Cak Nur disebut sebagai sakralisme agama. Hal ini yang membuat pemikiran Muslim untuk menuangkannya dalam tinta sastra cenderung susah, karena akan dianggap bertentangan dengan teks, ketimbang mementingkan kontekstualitas.

Desakralisasi: sastra pesantren dan pesan moral

 

Sebagai tanggapan atas alasan di atas, Gus Dur menganggap perlu adanya desakralisasi, sehingga agama tidak melulu diitafsirkan secara kaku, tetapi perlu penafsiran ulang dalam manifestasi kehidupan.

 

Dalam hal ini, Gus Dur juga melakukan pembacaan teks sastrawan Barat, di mana terdapat penggunaan satire sebagai medianya, seperti novelnya Giovanni Guareschi di Italia pada tahun 50-an yang menceritakan peliknya upaya dalam desakralisasi. Namun, menurut Gus Dur penggunaan satire kuranglah tepat. Kemudian Gus Dur mengajukan pembacaan atas karya penulis Yahudi Amerika, Chaim Potok.

Karya Potok sangat mengagumkan pembaca. Potok berhasil mengungkapkan dilema keagamaan yang universal. Dengan pembawaannya tentang mensinergikan ketundukan pada nilai agama dengan kebutuhan hidup modern. Hal inilah yang diharapkan Gus Dur tentang bagaimana pesantren merespon doktrin agama dan realitas sosial yang semakin berkembang sebagai pesan moralnya, melalui penggambaran dan pengimajinasian dalam sastra. 

Setidaknya apa yang dilakukan Gus Dur tentang eksistensi sastra dalam pesantren menjadi cambuk, terlebih lagi sosok Gus Dur sebagai penikmat sekaligus pengamat sastra dan budaya. Menurut Gus Dur penggarapan pesantren sebagai objek sastra harus diyakini terlebih dahulu sebagai persoalan dramatis yang akan dikemukakan.

Alhasil, dewasa ini telah banyak sastra yang menceritakan dunia pesantren sebagai objeknya, mulai dari sajak, novel, hingga film yang berlatar pesantren. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Gus Dur dalam menyoal pesantren, khususnya sastra pesantren.

Penulis adalah Ketua Umum KBPA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mudabbir Mabna Syaikh Nawawi Ma’had Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock