Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Brebes, IPNU Tegal. Meski mengalami keterlambatan akibat delay pesawat di Bandara King Abdul Azis Mekah, jamaah haji dari Kabupaten Brebes pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka tiba di Islamic Center Brebes terlambat lima jam dari waktu yang dijadwalkan semula.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyambut kedatangan haji kelompok terbang (Kloter) pertama di Islamic Center Sabtu dinihari (11/10). Idza mengaku sangat gembira karena tidak ada permasalahan yang menimpa jamaah haji Brebes. Sehingga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap, para jamaah haji menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Selain itu, ia meminta mereka agar mampu menjadi contoh tauladan di masyarakat. “Gelar haji menjadi barometer akhlak dan tabiat di masyarakat,” katanya. Dengan tauladan yang telah dicontohkan para jamaah haji Brebes, mudah-mudahan Brebes semakin maju dan sejahtera dibawah naungan dan ridlo dari Allah SWT.

IPNU Tegal

Bupati juga menyambut kedatangan kloter 2 dan 3 di dampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi Garahaju) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes Drs H Syauqi Wijaya. Kloter 1 sejumlah 363 jamaah tiba di Islamic Center Brebes Sabtu (11/10) pukul 00.30 dini hari dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan.

IPNU Tegal

Sementara kloter kedua yang berjumlah 366 calon haji tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 08.00 dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan. Sedangkan kloter ketiga yang berjumlah 167 tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 12.30 mengendarai 4 bus.

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Donohudan Solo melaporkan jamaah yang berangkat sejak 30-31 Agustus lalu sudah menunaikan ritual haji dan kembali tiba di Donohudan dengan selamat. Mereka pulang ke Brebes dengan mengendarai 22 bus dan 2 bus cadangan.

Menurut Imam, secara umum kondisi jamaah haji Indonesia asal Brebes dalam keadaan baik, sehat walafiat. Namun demikian ada 2 orang suami istri dari Salem yang tertinggal tidak mengikuti jamaah asal Brebes, tetapi mengikuti kloter 16.

Sehingga, kata dia, yang sudah pulang saat ini baru 896 jamaah. Pada saat pemberangkatan, istrinya mengalami sakit maka suaminya turut mendampingi dan diberangkatkan mengikuti kloter 16, maka kepulangannya pun ikut juga kloter 16. “Yang bersangkutan memilih pulang tunda untuk menyempurnakan ibadahnya,” tandas Imam.

Salah seorang jamaah haji dari Kloter 1 H Moh Aqso MAg menjelaskan, jumlah jamaah haji dunia saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan tahun lalu. Namun demikian jamaah haji Brebes yang berangkat lebih awal terasa diuntungkan karena telah melakukan ibadah masih dalam kondisi lengang.

“Meski padat, tapi pemberangkatan awal bagi jamaah Brebes sangat diuntungkan,” kata Aqso ketika di tanya Bupati sesampainya di Brebes. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Cerita, Halaqoh IPNU Tegal

Kamis, 01 Maret 2018

Semangat Kebangsaan Ulama Thariqah

Oleh Mohamad Muzamil

Sebagai umat Islam kita patut bersyukur atas terselenggaranya Konferensi Internasional Bela Negara yang diselenggarakan Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Muktabaroh al-Nahdliyah (Jatman) bekerja sama dengan Kementerian pertahanan RI tanggal 27-29 Juli di Pekalongan. Konferensi yang dihadiri ulama thariqah dari 40 Negara tersebut menghasilkan 15 poin kesepakatan penting, agar umat Islam dan segenap komponen bangsa di dunia ini mencintai negaranya masing-masing serta mendorong terwujudnya kerja sama internasional dalam mewujudkan perdamaian, keadilan dan kemakmuran.

Semangat Kebangsaan Ulama Thariqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Kebangsaan Ulama Thariqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Kebangsaan Ulama Thariqah

Kesepakatan dalam konferensi internasional tersebut mencerminkan kedalaman dan keluasan serta pengamalan ilmu yang dimiliki ulama thariqah. Ulama thariqah bukan semata-mata menguasai ilmu tasawuf semata namun juga mengusai ilmu tauhid dan syariah secara lengkap serta menguasai ilmu-ilmu untuk kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.

Dengan demikian ulama thariqah adalah kumpulan orang-orang yang muwahid (memahami dan mengamalkan tauhid), faqih (memahami dan mengamalkan syariah) dan shufi (memahami dan mengamalkan al-ihsan). Mereka termasuk orang-orang yang selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah, menebarkan semua kebahagiaan dan kebaikan dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat kelak.

IPNU Tegal

Mereka termasuk orang-orang pilihan Allah yang dikehendaki-Nya diberikan ilmu, hikmah dan keutamaan-keutamaan serta istiqomah dalam ibadah dan kebaikan. Mereka sama sekali tidak menaruh syak wasangka kepada siapa pun utamanya kepada orang-orang yang belum mendapat petunjuk sekalipun. Justru para ulama tersebut memiliki rasa kasih sayang yang besar kepada umat sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasalam mencintai umat manusia.

IPNU Tegal

Mereka selalu berikhtiar dan mendoakan kepada semua umat manusia di dunia ini agar mendapatkan hidayah, keadilan dan kemakmuran dalam kehidupannya.

Dalam menjalankan amar maruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan), mereka melakukannya dengan hikmah, kearifan dan tanpa tindakan kekerasan. Mereka tidak memiliki kepentingan pribadi kecuali semata-mata mengharap ridha Allah Taala.? Mereka selalu berbuat baik kepada siapa pun sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya serta para al-salaf al-shalih melakukannya dalam sejarah yang telah lampau.

Para ulama thariqah selalu berprasangka baik kepada siapa pun. Jika mereka melihat orang yang lebih tua maka mereka beranggapan bahwa orang yang lebih tua itu telah memiliki amal kebaikan yang sangat banyak. Sedangkan jika mereka melihat orang yang lebih muda maka mereka menganggap bahwa yang masih muda belum memiliki dosa dan kesalahan yang banyak. Hal ini menjadi karakter yang luar biasa dari ulama thariqah karena diilhami sultan auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani radliyallahu anh. Pernah suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani pulang dari shalat jamaah di masjid. Dalam perjalanan ia bertemu seorang pemuda yang sedang dalam kondisi mabuk karena minuman keras. Waktu itu dalam hati Syekh Abdul Qadir al-Jailani terlintas dalam pikirannya (tidak dikatakan): "Pemuda kok mabuk-mabukan". Alangkah terkejutnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pemuda itu mengatakan dengan lantangnya: "Hai Syekh, anda ditakdirkan Allah termasuk orang yang al-alim al-allamah dan rajin beribadah. Bagaimana jika anda ditakdirkan Allah seperti saya yang pemabuk ini?" Seketika itu pula Syekh Abdul Qadir menangis mohon ampun kepada Allah Taala.

Semangat Kebangsaan

Semangat kebangsaan para ulama thariqah diilhami dari semangat Rasulullah dalam mencintai umatnya. Karena begitu besar rasa cinta Rasulullah kepada umat atau bangsanya, Rasulullah tidak ingin adanya pertumpahan darah yang akan memakan korban akibat ancaman dan perilaku keras orang-orang kafir Quraisy. Berdasarkan wahyu dari Allah, Rasulullah memerintahkan kepada umatnya untuk hijrah ke Habasyah. Setelah itu diperintahkan untuk hijrah ke Yatsrib atau Madinah.

Hijrah Rasulullah dan para sahabatnya ke Madinah bukan untuk menjajah sebagaimana orang-orang imperialis, tetapi untuk melaksanakan perintah Allah dan adanya pertolongan dari penduduk Madinah yang disebut kaum Anshar. Rasulullah dan para sahabatnya (kaum muhajirin) dapat hidup rukun dan bekerjasama dalam membentuk peradaban baru yang damai atas dasar nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Taala.

Kaum muhajirin bukan hanya bekerjasama dengan kaum anshar yang muslim tetapi juga kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani di Madinah. Mereka saling memperkuat satu sama lainnya dan membentuk pertahanan yang kokoh di Madinah dari serangan musuh. Ini lah contoh sebuah peradaban yang agung dan sangat mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Semangat cinta tanah air juga dilakukan para ulama di Nusantara ini sejak datangnya kaum penjajah. Hal ini misalnya dilakukan para Wali Songo pada abad ke-15 masehi dengan adanya perlawanan Raden Fatahillah kepada penjajah Portugis di Batavia, kemudian disusul perlawanan dari kesultanan yang ada di nusantara ini seperti Sultan Hasanudin, Sultan Agung Hanyukrokusumo, Sultan Ternate, Tidure dan sebagainya yang kesemuanya adalah atas bimbingan dan nasihat dari para ulama thariqah.

Setelah itu pada awal abad ke-19, muncul Pangeran Diponegoro dari kasultanan Mataram Yogyakarta, yang melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda di tanah air pada tahun 1825-1830. Pangeran Diponegoro adalah termasuk pengamal thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Kemudian perjuangan kemerdekaan Indonesia dilanjutkan oleh ulama thariqah seperti Syekh Yusuf almakasari, Syekhuna Mbah Kholil Bangkalan, Hadratus Syekh KH M Hasyim Asyari, Syekh Hasyim bin Yahya, Syekh KH Abdul Wahab Hasbullah, Syekh Subkhi Parakan, dan masih banyak lagi ulama thariqah hingga Indonesia dapat merdeka seperti sekarang ini.

Semangat dan cinta tanah air seperti ditunjukkan oleh para ulama thariqah tersebutlah yang harus diwarisi oleh generasi sekarang dan mendatang, guna mewujudkan perdamaian dan keadilan seluruh umat manusia. Wallahu alam.

Mohamad Muzamil, pernah tabarukan di Pesantren Al-Fattah Setinggil, Al-Istiqomah Kembangan, dan Futuhiyah Mranggen, Demak.



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh, Syariah IPNU Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus

Semarang, IPNU Tegal. Istri Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Hj Sinta Nuriyah berharap Rais Am PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) selalu istiqomah menjaga, merawat dan mendampingi umat.

Hal itu disampaikannya pada saat memberikan testimoni pada acara Selametan 70 tahun Gus Mus di Balairung Universitas PGRI Semarang, Sabtu malam (6/9).

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinta Nuriyah Ceritakan Persahabatan Gus Dur dengan Gus Mus

"Saya berharap Gus Mus selalu Istiqomah menjaga ummat sebagaimana yang diharapkan Gus Dur. Jangan sia-siakan. Apalagi sebelum wafat,  Gus Dur menitipkan NU kepada Gus Mus," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Sinta Nuriyah menceritakan persahabatan Gus Mus dengan suaminya. Dituturkan, persahabatan kedua sahabat ini sangat akrab sejak sama-sama kuliah di universitas Al  Azhar Kairo.

IPNU Tegal

"Persahabatannya sangat erat sekali,hingga segala kebutuhan Gus Dur itu ditanggung Gus Mus. Karena Gus Dur itu memang tidak punya dompet (uang)," ujarnya yang disambut senyum hadirin.

IPNU Tegal

Sangking eratnya, persahabatan kedua tokoh umat inipun masih terjalin dengan keluarga dan anak-anaknya. Bahkan, setiap ada hal  yang harus dicarikan solusi selalu mengkonsultasikan kepada pengasuh pesantren Raudhatut thalibin Leteh Rembang ini.

"Termasuk anak-anak saya memanggil beliau  dengan panggilan Om Mus sampai  sekarang. Ini saking akrabnya diantara kita,"kata istri cucu KH.Hasyim Asyari yang hadir didamping putrinya Yenny Wahid. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Halaqoh, Santri IPNU Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Jakarta, IPNU Tegal - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Puti Hasni mendukung gerakan ekonomi IPPNU Garut dalam pengembangan industri kuliner kreatif untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dirintis dan dikembangkan rekanita IPPNU Garut. Kepekaan dalam melihat peluang memang terlihat dari upaya konkret dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada," kata Puti kepada IPNU Tegal, Rabu (10/2).

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Ia menegaskan bahwa IPPNU akan terus mendorong para kadernya menciptakan kreasi-kreasi, inovasi, dan jeli melihat potensi serta peluang pasar dalam memanfaatkan bonus demografi sebagai jawaban menghadapi MEA.

IPNU Tegal

"Upaya ke depan, pelatihan-pelatihan berbasis kewirausahaan akan makin ditingkatkan dan ditindaklanjuti secara serius oleh IPPNU," ujarnya.

Puti berharap IPPNU di semua lini baik wilayah, cabang, anak cabang maupun ranting di daerah lain harus dapat termotivasi dan tidak boleh kalah dengan IPPNU Garut.

IPNU Tegal

Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing daerah yang tentunya beragam, saya berharap kader-kader IPPNU dapat mewujudkan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan selera pasar di era MEA, pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Cerita, Halaqoh, Meme Islam IPNU Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Berperadaban dengan Pendidikan Islam

PENGANTAR REDAKSI - Perjalanan sistem pendidikan nasional menunjukkan bahwa sekat dikotomis antara pendidikan agama dan umum sudah semakin terbuka. Beberapa lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama telah melakukan banyak terobosan di bidang pengembangan pendidikan umum, dan sebaliknya lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah melakukan banyak inovasi dalam mengembangkan pendidikan agama.

Pada gilirannya semua lembaga pendidikan baik pendidikan agama yang bernaung di Kementerian Agama maupun pendidikan umum di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersaing secara sehat untuk meningkatkan kualitas dan menarik simpati masyarakat.

Banyak sekali lembaga pendidikan (agama) Islam yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, yakni pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam di beberapa daerah di Indonesia yang layak diberi label “unggulan” dan pantas dijadikan percontohan atau menjadi inspirasi bagi pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam di daerah lain.

Berperadaban dengan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Berperadaban dengan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Berperadaban dengan Pendidikan Islam

Terhitung mulai 1 Juli 2015, rubrik khusus “Pendidikan Islam” IPNU Tegal yang didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama ini akan mengekspos berbagai capaian dan prestasi pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam di sejumlah daerah, baik dari aspek kelembagaan maupun stakeholdernya. Rubrik ini juga akan membidik berbagai inovasi yang sedang dikembangkan serta berbagai potensi yang mungkin untuk terus disupport perkembangannya untuk kemajuan lembaga pendidikan Islam.

Kita semua mengakui bahwa pengabdian, jerih-payah dan keikhasan dari para perintis dan pengelola pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam dalam mengembangkan pendidikan untuk rakyat Indonesia memang sangat luar biasa. Namun publikasi kita perlu bergerak lebih maju, yakni pada pencapaian dan prestasi yang telah dilakukan oleh pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam di beberapa daerah untuk bisa menjadi percontohan bagi daerah lain, serta berbagai potensi dan inovasi baru yang mungkin untuk terus dikembangkan.

Rubrik ini mengambil tema “Berperadaban dengan Pendidikan Islam”. Berbagai sajian berupa profil, kisah, feature, atau catatan perjalanan dalam rubrik ini dikerjakan oleh tim redaksi IPNU Tegal bersama sejumlah kontributor yang tersebar di sejumlah daerah. Saran, catatan dan informasi dari para pembaca sangat kita harapkan. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Halaqoh, Khutbah IPNU Tegal

IPNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei

Jakarta, IPNU Tegal - Pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang itsbat bersama lintas ormas Islam dan para ahli perbintangan, Jumat (26/5) petang. Melalui forum tersebut, pemerintah secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 1438 H jatuh pada Sabtu, 27 Mei 2018.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, ketetapan ini didasarkan pada dua metode, yakni hisab dan rukyat. Menurutnya, hisab penting untuk memberikan informasi posisi hilal, namun hisab juga harus dikonfirmasi melalui praktik rukyat. Hilal berhasil terlihat di sejumlah titik, antara lain Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Kepulauan Seribu.

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Resmi Tetapkan Awal Ramadhan Sabtu 27 Mei

“Maka dengan dua hal tadi, penghitungan (hisab) dan rukyat, seluruh peserta sidang besepakat malam ini sudah masuk 1 Ramadhan, dan Sabtu 27 Mei 2018 kita bisa mengawali puasa Ramadhan,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (26/5) malam.

IPNU Tegal

Ketetapan pemerintah ini selaras dengan prediksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah yang menyatakan, umat Islam sudah bisa memulai puasa Ramadhan pada Sabtu (275) besok.

IPNU Tegal

Hal tersebut berdasarkan hasil penghitungan astronomis Lembaga Falakiyah PBNU yang memungkinkan hilal terlihat pada Jumat tadi.

Data hisab Lembaga Falakiyah PBNU menyebutkan, posisi hilal markaz Jakarta pada 29 Sya’ban 1438 H berada pada ketinggian 8 derajat 26 menit 15 detik di atas ufuk. Peristiwa ijtima’ atau konjungsi berlangsung pada Jumat (26/5), pukul 02.45.47 WIB. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Ahlussunnah, Halaqoh IPNU Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Stikes Hafshawaty Genggong Wisuda 189 Mahasiswa

Probolinggo, IPNU Tegal. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Hafshawaty Zainul Hasan Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo mewisuda mahasiswanya di Gedung Islamic Centre (GIC) Kota Probolinggo, Kamis (1/10). Ada sebanyak 189 mahasiswa yang lulus pada tahun akademik 2014-2015 dari sekolah tinggi yang bernaung di bawah Yayasan Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong ini.

Mahasiswa yang diwisuda terdiri dari 64 mahasiswa D-3 Akademi Kebidanan (Akbid), 30 mahasiswa D-3 Akademi Keperawatan (Akper), 29 mahasiswa S-1 Keperawatan dan 66 mahasiswa D-4 Bidan Pendidik. Para wisudawan dikukuhkan oleh Ketua Yayasan Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong KH Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah.

Stikes Hafshawaty Genggong Wisuda 189 Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Stikes Hafshawaty Genggong Wisuda 189 Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Stikes Hafshawaty Genggong Wisuda 189 Mahasiswa

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Probolinggo H. Asy’ari memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para wisudawan. Ia berharap, kelulusan para perawat dan bidan itu bisa membawa dampak positif bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo. Khususnya dalam hal pengembangan pembangunan di sektor kesehatan.

IPNU Tegal

“Tak lupa kami sampaikan terima kasih pada Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong yang bertahun-tahun telah mencetak para perawat dan bidan yang berdedikasi tinggi. Kami mendoakan semoga ikhtiar pondok pesantren ini mendapat rahmat dari Allah SWT,” katanya.

Sementara Ketua Yayasan Hafshawaty Pondok Pesantren Zainul Hasan KH Moh Hasan Mutawakkil Allah mengatakan, wisuda bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada jalan panjang yang harus ditempuh masing-masing wisudawan. Bagi yang ingin terus menuntut ilmu, bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi

IPNU Tegal

“Bagi yang ingin bekerja bisa memanfaatkan mitra kerja Stikes Hafshawaty. Seperti magang di puskesmas dan beberapa rumah sakit. Kami doakan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai profesinya masing-masing,” ujarnya.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur ini berharap, agar ilmu yang didapat selama di bangku kuliah bermanfaat bagi masyarakat. “Ilmu harus diamalkan jika ingin bermanfaat. Amalkan ilmu yang kalian dapat kepada sesama manusia. Semoga para wisudawan dan santri Genggong mendapatkan kemudahan dari Allah dalam mengamalkan ilmunya,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh, Pendidikan IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

GP Ansor Cepogo Siap Wadahi Potensi Ekonomi Kader

Boyolali, IPNU Tegal - Kegiatan pelantikan bersama? yang diselenggarakan oleh PAC GP Ansor dan PAC Fatayat NU Kecamatan Cepogo, Kamis (4/5), berjalan lancar dan khidmat. Sebanyak 12 ranting GP Ansor dan 8 ranting Fatayat dilantik di Pondok Pesantren Bahrul hidayah Al-Karomah, Cabean Kunti, Cepogo, Boyolali.

Dalam kegiatan yang mengangkat tema "Nenandur kanggo ingsun lan putra wayah" tersebut, Ketua PAC GP Ansor Cepogo Athar Fuadi mengatakan bahwa GP Ansor mesti ikut aktif dalam mengontrol dan mewadahi potensi-potensi masyarakat, khususnya para kader, termasuk di dalamnya potensi ekonomi.

GP Ansor Cepogo Siap Wadahi Potensi Ekonomi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Cepogo Siap Wadahi Potensi Ekonomi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Cepogo Siap Wadahi Potensi Ekonomi Kader

"Ketika ranting sudah solid dan tertata, maka potensi tiap desa bisa diwadahi dan difasilitasi, terutama dalam bidang ekonomi," jelas Fuad.

IPNU Tegal

Fuad menambahkan pentingnya untuk mengetahui data potensi di masing-masing daerah. Sebagai contoh, di daerah Cepogo ada kerajinan tangan dari logam di Tumang, sabun herbal dan peralatan dapur.

“Di kecamatan Cepogo ini banyak sekali potensi produk kerajinan anggota Ansor yang sudah sampai ke kancah internasional. Sangat disayangkan kalau tidak diwadahi. Itu kan juga untuk kemandirian organisasi,” tukas Fuadi.

IPNU Tegal

Dengan langkah semacam itu, ia berharap GP Ansor dapat semakin mempercepat langkah gerak dalam menghadapi perkembangan zaman. (Ajie Najmuddin/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh IPNU Tegal

Grand Syekh Al Azhar Puji Indonesia Atas Kemampuan Jaga Harmoni

Jakarta, IPNU Tegal

Grand Syekh Al Azhar Prof Dr Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb memuji Indonesia yang mampu menjaga harmoni dalam perbedaan. Menurutnya, Indonesia berhasil mengelola perbedaan pandangan keagamaan dan itu tidak terlepas dari peran para ulama.

Grand Syekh Al Azhar Puji Indonesia Atas Kemampuan Jaga Harmoni (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Syekh Al Azhar Puji Indonesia Atas Kemampuan Jaga Harmoni (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Syekh Al Azhar Puji Indonesia Atas Kemampuan Jaga Harmoni

“Itu tidak terlepas dari kiprah para ulama yang dapat bermusyawarah dalam menyelesaikan perbedaan. Ikhtilaf (perbedaan) adalah rahmat,” terang Syekh Ath-Thayeb dalam pertemuan dengan sejumlah ulama dan tokoh cendekiawan Muslim di kantor Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, Senin (22/02). Hadir juga dalam kesempatan ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Dubes negara sahabat. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menurut Syekh Ath-Thayeb yang juga Ketua Majelis Hukama, perbedaan merupakan sunnatullah. Perbedaan dalam Islam bahkan sudah terjadi sejak zaman Nabi. Syekh Ath-Thayeb lalu mencontohkan tentang shalat. Menurutnya, para sahabat belajar shalat dari Rasulullah Saw. Namun, faktanya ada beberapa perbedaan kaifiyat (tata cara) shalat yang sampai kepada umat Muhammad. “Untuk yang syar’i (prinsip) tidak ada perbedaan. Tapi untuk yang furu’iyah (cabang-cabang keagamaan) terjadi perbedaan pendapat,” terangnya.

Perbedaan itu, lanjut Grand Syekh, mulai dari mengangkat kedua tangan saat takbiratul ikhram. Ada pendapat yang hanya sampai depan dada, ada yang berpendapat sampai dua telinga. Demikian juga perbedaan dalam bacaan Al-Fatihah, Maliki tidak didahului Basmalah, sementara Syafii harus.

IPNU Tegal

Terkait hal ini, Grand Syekh menghargai peran MUI yang dapat menghimpun banyak ulama dari beragam ormas dan pemikiran yang berbeda. Menurutnya, MUI menjadi modal besar bagi upaya  menyatukan umat Islam dan memberikan penyadaran kepada umat Islam agar tidak mudah terprovokasi.

Grand Syekh menegaskan bahwa perbedaan para ulama adalah rahmat. “Yasurruni an yakhtalifa ashhabu Rasulillah (perbedaan di antara sahabat Rasulullah menyenangkan buatku),” tutur Syekh Ath-Thayeb mengutip pernyataan Malik bin Abdul Aziz.

Dalam keragaman pandangan dan pemahaman, Grand Syekh mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh terjebak pada klaim kebenaran. “La taqul ana wahdy ash-shahih wa ghairii khatha’un (Janganlah kamu mengatakan hanya saya saja yang benar, lainnya salah),” tegas Syekh Ath-Thayeb sembari menyampaikan harapannya agar MUI dapat menjelaskan cara pandang dalam menyikapi perbedaan ini kepada umat Islam di Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin menyampaikan terima kasih atas kunjungan Grand Syekh Al Azhar ke Indonesia, khususnya ke kantor MUI. KH Ma’ruf berharap kunjungan ini akan dapat memperkuat dakwah Islam dan mempererat persaudaraan Indonesia dan Mesir.

IPNU Tegal

Kepada Syekh Ath-Thayeb dan rombongan Majelis Hukama, KH Ma’ruf menjelaskan bahwa Indonesia adalah bangsa dengan beribu pulau serta beragam suku dan agama. Menurutnya, ada 6 agama resmi, yaitu: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Dalam agama Islam, lanjut KH Ma’ruf, mayoritas Indonesia berakidah Ahlussunah wal Jamaah dan berpedoman pada beberapa madzhab dalam ibadah dan muamalah.

Dijelaskan juga bahwa di Indonesia terdapat beberapa ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Al Wasliyah dan lainnya. Meski setiap ormas mempunyai tujuan dan cara pandang masing-masing dalam mencapai tujuannya, namun antara satu dan lainnya saling menghargai dan terhimpun dalam MUI. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh IPNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pamekasan, IPNU Tegal. NU adalah organisasi yang paling jelas proses kaderisasinya. Tidak hanya berhenti di kalangan mahasiswa dan atau pelajar di lingkungan lembaga pendidikan, melainkan juga hingga ke daerah-daerah terpencil di pelosok desa. Ada istilah Pimpinan Ranting (PR) untuk kepengurusan NU dan perangkat-perangkatnya di tingkat akar rumput.

Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)

Proses Kaderisasi NU Jelas

Kesimpulan demikian terbesit ketika sebanyak 30 orang PR IPNU-IPPNU Desa Pamaroh sudah dibentuk, Ahad (8/4) lalau. Pembentukan yang ditempatkan di balai desa tersebut berjalan secara khidmat, disaksikan oleh puluhan petinggi NU Desa Pamaroh. Para pengurus harian IPNU-IPPNU Kadur sebagai penyelenggara dan ketua PC IPNU Pamekasan Nasiruddin menambah suasana pembentukan kian mengesankan.

Pada kesempatan itu, ketua IPNU Kadur Faisol Ansori menekankan betapa pentingnya menyeriusi proses kaderisasi. Dirinya sangat menaifkan ketika ada seseorang langsung dimasukkan ke dalam kepengurusan organisasi NU tanpa melalui proses kaderisasi yang matang dan panjang.

IPNU Tegal

“Kami ke sini dalam rangka silaturahim serta membentuk kader-kader yang mau serius mengabdi dan belajar di NU,” tegas Faisol. “Dan siapa pun yang tidak serius dalam belajar, dengan berat hati kami sangat tidak mereka kader semacam itu. Berorgansiasi di NU butuh keseriusan dan keuletan dalam belajar.”

IPNU Tegal

Berumah tangga saja, lanjut Faisol, masih memerlukan kader. Kehidupan rumah tangga tentu dinilai kurang sempurna tanpa kehadiran seorang kader (keturunan) yang nantinya menjadi penerus perjuangan sang orangtua.

“Sama halnya di NU. Kalau proses kaderisasi di tubuh IPNU maupun IPPNU sudah melemah, maka tunggulah kehancuran NU beberapa tahun ke depan,” katanya dengan nada kalem. “Dan jelas kita tidak menginginkan hal itu.”

Dari itulah pihaknya sangat berharap agar para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh bisa diajak kerja sama menghidupkan organisasi NU di tingkat desa, khususnya di Desa Pamaroh.

Pernyataan Faisol Ansori yang disampaikan saat sambutan tersebut mendapat dukungan seutuhnya dari para petinggi NU Pamaroh dan kepala desa Pamaroh. 

“Kami siap mendampingi, membina, dan membantu segala program kerja yang hendak dilaksanakan nanti,” ujar ketua PR NU Pamaroh K Abdus Syukur.

“Saya juga begitu. Saya akan selalu dukung segala kegiatan yang bernafas ke-NU-an,” kata A’wan PR NU Pamaroh yang kini menjabat kepala desa, Ustaz Moh Riski Abdullah.

Semangat berorganisasi tersebut disimak secara serius oleh para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh yang merupakan perwakilan dari 4 dusun yang ada di Pamaroh, meliputi Dusun Oray, Madis, Panconan, dan Sumber Waru. Sebelum azan Magrib menggema, pembentukan PR IPNU-IPPNU Pamaroh sudah selesai.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Halaqoh IPNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Dari Militer sampai Pendakwah

Ketika tentara Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, Sekolah Tinggi Islam ditutup. Masyarakat diarak untuk mengikuti kerja rodi (paksa). Seperti pemuda-pemuda lain, Buya Abdul Gani Latif mengikuti latihan militer di Kandang Empat Pariaman untuk kepentingan Jepang. Tahun 1946, Buya dengan pangkat Letnan Dua ditugaskan sebagai staf Resimen VI. Karir sebagai orang militer tidak berlanjut. Namun tahun 1950 Buya Gani meninggalkan tugas militer, beralih sebagai guru agama.

Lahir tahun 1920 di desa Siteba Nanggalo (sekarang kawasan perumahan dan pasar) Kota Padang. Sebagai orang Minangkabau, Buya Gani (begitu akrab dipanggil), menyandar gelar pusako Malin Mudo, sekaligus kepala waris dalam kaum suko Koto di kaumnya.

Masa kecil Buya sama seperti anak-anak lain ketika negara Indonesia masih dijajah bangsa Belanda. Masa kecilnya dihabiskan mengaji di surau (tempat beribadah umat Islam milik kaum di Minangkabau). Setelah usia sekolah, Buya kecil masuk sekolah desa (Governemen) dan meneruskan pendidikan ke Thawalib  Padang Japang Kabupaten 50 Kota selama satu tahun. Selanjutnya pindak ke Thawalib Tiakar Payakumbuh sampai tamat tahun 1935.

Setahun kemudian Buya melanjutkan pendidikan ke Normal Islam di Padang di bawah pimpinan H Muhammad Yunus, tamat tahun 1940. Kemudian tahun 1941 melanjutkan ke Pendidikan Islam Tinggi (semacam perguruan tinggi IAIN sekarang) sebagai lanjutan Normal Islam.

Dari Militer sampai Pendakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Militer sampai Pendakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Militer sampai Pendakwah

Sebelum Jepang menjajah Indonesia, Buya Gani pernah mendirikan Sekolah Thawalib tahun 1935. Tahun 1936 tercatat 190 orang murid. Tempat belajarnya menggunakan beberapa surau yang ada di sekitar sekolah Thawalib. Sekolah ini setingkat dengan tsanawiyah.

Pendirian sekolah Thawalib didorong oleh amanat dari Syekh Ibrahim, guru Buya Gani. Dengan alasan kurangnya lembaga pendidikan agama di Padang. Materi yang diajarkan diperoleh dari gurunya Syekh Ibrahim Hasan seperti Ilmu Nahwu, Sharaf, Mantiq, Tarikh, Tafsir, Fiqih, dan lain-lain. Namun tidak berapa lama umurnya karena ditutup Belanda. Sekolah tersebut dianggap Belanda menentang pemerintah. Buya tak hilang akal. Nama sekolah tersebut diganti menjadi Persatuan Islam.

Tahun 1950 madrasah ini diambil-alih oleh organisasi Muhammadiyah. Di bekas sekolah itu didirikan Sekolah Rakyat yang selanjutnya berubah menjadi Sekolah Dasar Islam (SDI).  Buya Gani selanjutnya diangkat menjadi kepala sekolah, di samping guru agama.

IPNU Tegal

Buya Gani juga pernah menjadi Kepala Madrasah Persatuan Islam. Sekaligus diminta Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (yang dikenal dengan Inyiak Canduang) mengajar pada Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Pasar Miskin Padang sebagai cabang dari MTI Canduang. Pada saat yang sama, Buya melanjutkan pendidikan ke Normal Islam di Padang.

IPNU Tegal

Hengkang dari dari militer tahun 1950, sampai tahun 1958 Buya Gani bertugas sebagai guru agama. Beliau memasukkan pelajaran gama dalam kurikulum sekolah umum. Kemudian tahun 1959 Buya Gani dipercaya menjabat Kepala Kantor Inspeksi Pendidikan Agama Padang/Padang Pariaman. Beliau merupakan orang pertama menjadi Kepala Inspeksi Pendidikan Agama di Kota Padang.

Tahun 1959 Buya Gani masuk organisasi Partai Nahdlatul Ulama (PNU). Setelah terjadinya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, memang banyak tokoh agama Islam yang berbondong-bondong bergabung dengan NU, sebagian benar-benar bermaksud memajukan syiar Islam bersama NU, sebagian lain sekedar agar tidak dianggap pemberontak. Dengan cara bergabung dengan NU, banyak ulama yang  diselamatkan Buya Gani dari anggapan pemberontak. Diantaranya adalah Buya H Darwas Idris dan Buya Yacub Thalib.

Gelar ”Kyai” diperoleh Buya Gani dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun 1984. Sejak bergabung dengan NU, beliau aktif dalam berbagai aktifitas NU, termasuk ketika NU berafilisai dengan PPP dan ketika NU memasilitasi pendirian PKB, hingga terakhir beliau dipercaya menjadi Rais Syuriah PWNU Sumatera Barat (1999 – 2004).

Buya Gani pernah mempelopori berdirnya panti asuhan di Nanggalo ketika Belanda masih menjajah negeri ini. Setidaknya ada 40 anak-anak yatim yang ditampung di panti asuhan tersebut. Ketika zaman Jepang, panti asuhan tersebut terhenti. Setelah kemerdekaan panti asuhan tersebut dilanjutkan oleh organisasi Aisyiah.

Beliau juga dikenal sebagai imam masjid Sahara Padang Pasir Kota Padang. Sebagai seorang pensiun dari Departemen Agama, sehari-hari kegiatan Buya antara lain berdakwah, bergerak di bidang sosial keagamaan, membimbing mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang menghadapi ujian komprehensif sebagai salah satu syarat mengakhiri pendidikan.

Di antara guru yang berkesan, kata Buya Gani, antara lain H Mohammad Noer Simlanggang. Keahlian yang diperoleh dari guru ini adalah membaca kitab ilmu tata bahasa arab Matan Jurumiyah, ilmu fikih Matan Taqrib. Sedangkan dari gurunya Syekh Abbas Padang Japang diperoleh pelajaran membaca kitab fiqih Fathul Qarib dan Syarh al-Bajuri. Pelajaran ilmu fikih lainnya lebih banyak diperoleh dari Syekh Ibdrahim Hasan di Tiakar Payakumbuh. Ilmu tafsir dari Kaciwin Effendi. Sedangkan ilmu tasawuf diperoleh dari H Ramli, dengan kitab yang dibaca Ihyaulumiddin. Ilmu hadits diperoleh dari H Amir dengan buku yang dibaca Arba’in Nawawi dan Jawahir Bukhari.

Ilmu keagamaan yang sangat diminatinya adalah tafsir dan ilmu tafsir. Dalam muzakarah yang diadakan sewaktu belajar pada Syekh Ibrahim Hasan, Buya Gani sangat tekun menyimak setiap penyampaian dari gurunya. Alasannya, kedua ilmu itu sangat perlu disampaikan ke tengah-tengah masyarakat yang merupakan sumber pokok dari ajaran agama Islam.

Dalam berdakwah, Buya Gani tidak seperti mubaliqh lain pada umumnya yang menyampaikan materi dakwah yang penuh dengan agitasi. Tetapi beliau menyampaikan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist dengan cara menafsirkan dan membahasnya terlebih dahulu, membuktikan apa betul pengertian yang terkandung dalam Al-Qur’an itu.

Ternyata, dakwahnya dapat dimengerti oleh masyarakat awam sampai kalangan akademisi. Pembantu Rektor IAIN Imam Bonjol Padang DR Jaya Sukma pernah belajar dengan Buya Gani karena beliau memang ahli membaca tulisan Arab tanpa harakat (kitab gundul).

Bagindo Armaidi Tanjung

Kontribotor IPNU Tegal di Padang



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh, IMNU IPNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Dunia Sastra Rindu Karya Sastra Lokal

Banyumas, IPNU Tegal 

Menggeliatnya karya sastra yang semakin banyak bertebaran di dunia maya, di facebook, blog atuau pun situs-situs web lainya, yang lebih banyak bercerita tentang hiruk pikuk perkotaan atau berlatar belakang urban dan lebih bersifat lebih universal mengakibatkan semakin sedikitnya karya-karya sastra yang bersetting kehidupan lokal. 

Dunia Sastra Rindu Karya Sastra Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Dunia Sastra Rindu Karya Sastra Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Dunia Sastra Rindu Karya Sastra Lokal

Ahmadun Yosi Hervanda, Wartawan senior asal Jakarta mengungkapkan hal tersebut dalam acara Sarasehan dan Pertunjukan Sastra Banyumas Besar, Sabtu (29/7) malam di Rumah Makan Selera Roso Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah.

Menurut Ahmadun, dunia sastra kini merindukan sosok penulis sastra yang ber-setting lokal, atau bercerita tentang lokalitas. "Dunia sastra merindukan penulis sastra lokal, bukan hanya sastra yang bersifat urban," katanya. 

Lokalitas yang dikemas dengan teknik penulisan yang baik akan terlihat lebih menarik dan mempunyai daya tarik tersendiri, "Itu lebih mudah ditulis pada karya sastra cerpen ataupun novel yang bersifat cerita," lanjutnya. 

Tapi, imbuh Ahmadun, meskipun mengangkat tema lokalitas, kita tidak boleh mengabaikan Jakarta, Jakarta tetap menjadi bagian yang penting karena terkait dengan obsesi penulis agar mendunia atau menasional. 

IPNU Tegal

"Apa cukup hanya menjadi penulis lokal," pangkasnnya. 

Acara sarasehan yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas dan Komunitas Sastra Getek Artinspiration Ajibarang tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagi komunitas sastra se-Kabupaten Banyumas. 

IPNU Tegal

Tampak hadir Camat Ajibarang Eko Heru Surono, Wanto Tirta Persiden Geguritan Banyumas, Jarot C Setyoko, Riswo Mulyadi, Amin Rohman dan para penyair Banyumas lainya. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Warta, Halaqoh, Kyai IPNU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Doa Basuh Kaki Kiri saat Wudhu

Kaki kiri adalah anggota tubuh terakhir yang dibasuh saat berwudhu. Meratakan air ke seluruh bagiannya minimal dari ujung kuku hingga atas mata kaki merupakan sebuah keharusan. Doa berikut ini dianjurkan dibaca saat membasuh kaki kiri saat berwudhu.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Basuh Kaki Kiri saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Basuh Kaki Kiri saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Basuh Kaki Kiri saat Wudhu

Allâhumma innî a‘ûdzubika an tazilla qadamayya ‘alas shirâti yauma tazillu aqdâmul munâfiqîna fin nâri.

IPNU Tegal

Artinya, “Wahai Tuhanku, aku berlindung kepadamu dari jatuhnya dua kakiku di atas shirath pada hari berjatuhan kaki semua orang-orang munafiq di dalam neraka,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Meme Islam, Halaqoh IPNU Tegal

Senin, 11 Desember 2017

50 Tahun Pendudukan Israel di Palestina, NU Desak Pemerintah Hentikan Akses Ekonomi

Jakarta, IPNU Tegal?

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) dengan Amnesty International Indonesia (AII) menggalang petisi 50 tahun pelanggaran HAM Israel terhadap Palestina di Gedung HDI Hive Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/6). Petisi rencananya akan digalang selama 6 bulan kedepan.?

Ketua Lakpesdam NU Rumadi Ahmad yang didaulat membacakan petisi menyatakan bahwa selama 50 tahun ini, Israel telah mencerabut ribuan orang Palestina dari tanah mereka, menduduki dan secara ilegal menggunakannya untuk membuat tempat tinggal yang dikhususkan bagi warga Israel.?

Selain itu, lanjut dia, ? rumah-rumah maupun kehidupan warga Palestina juga dihancurkan, kebebasan bergerak, akses atas air, tanah, dan sumber daya alam dibatasi.?

50 Tahun Pendudukan Israel di Palestina, NU Desak Pemerintah Hentikan Akses Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
50 Tahun Pendudukan Israel di Palestina, NU Desak Pemerintah Hentikan Akses Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

50 Tahun Pendudukan Israel di Palestina, NU Desak Pemerintah Hentikan Akses Ekonomi

"Komunitas-komunitas telah diserang secara kekerasan oleh militer dan penduduk Israel. Kita harus bertindak sekarang," katanya tegas.?

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyerukan agar negara-negara, termasuk Indonesia untuk menghentikan akses ekonomi yang memelihara pendudukan ilegal Israel dan memperburuk derita warga Palestina.

IPNU Tegal

Rumadi menjelaskan bahwa, isu ini bukan hanya mengenai Israel mengambil alih tanah dan sumber daya alam Palestina secara ilegal, lebih dari itu, banyak pemerintah negara dunia membiarkan masuknya suplai barang-barang yang produksi di wilayah pendudukan Israel ke pasar, dan membolehkan perusahaan di negara-negaranya untuk menjalankan usaha di wilayah itu.?

"Ini menguntungkan pendudukan Israel atas Palestina,"katanya.?

Berikut 3 poin petisi untuk mendesak pemerintah:

Melarang masuknya suplai barang-barang yang diproduksi di wilayah pendudukan Israel ke pasar Indonesia;Menghentikan perusahaan Indonesia yang menjalankan usahanya di area pendudukan ilegal Israel atau mengakhiri perdagangan produk dengan Israel;Membantu memutus rantai kekerasan dan pelanggaran HAM yang diderita warga Palestina yang hidup dibawah pendudukan Israel.? (Husni Sahal/Zunus)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh IPNU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Rukyat Cakung, Kiai Ghazalie dan FPI

Sidang itsbat atau penetapan awal Ramadhan 1433 H di kantor Kementerian Agama Jakarta, Kamis (19/7) malam menjadi agak renyah ketika muncul laporan bahwa ada yang berhasil mengamati hilal di Cakung, Jakarta. Lebih renyah lagi karena yang melaporkan hasil rukyat ini adalah salah seorang utusan dari Front Pembela Islam (FPI).

Saat diberikan kesempatan oleh pemimpin sidang itsbat Menteri Agama Suryadharma Ali, FPI langsung unjuk gigi melaporkan bahwa ada empat orang yang berhasil melihat hilal di Cakung pada pukul 17.53 WIB dan telah di sumpah oleh hakim pengadilan agama.

Rukyat Cakung, Kiai Ghazalie dan FPI (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyat Cakung, Kiai Ghazalie dan FPI (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyat Cakung, Kiai Ghazalie dan FPI

Atas hasil laporan itu, FPI meminta Menteri Agama menetapkan awal puasa jatuh pada hari Jum’at (20/7). Namun sayang permintaan FPI ini tidak direspon positif oleh Menteri Agama. Bahkan anggota sidang itsbat dari NU memberikan penilaian lain terhadap hasil rukyat di Cakung.

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri meragukan kualitas rukyat di Cakung. Bukan hanya meragukan, tapi mengatakan hasil rukyat di Cakung itu tidak sah dan meminta Kementerian Agama menertibkan tim rukyat di sana.

IPNU Tegal

Ada empat hal, kata Kiai Ghazalie yang menyebabkan hasil rukyat di Cakung tidak shahih menurut ilmu falak. Pertama hilal dilaporkan berhasil diamati pada pukul 17.53 WIB, sebelum waktu maghrib untuk wilayah Jakarta tiba. Padahal menurut ketentuan syariat dan berdasarkan pedoman ilmu astronomi hilal baru mungkin dilihat setelah ghurub, atau terbenam matahari. “Belum maghrib, mustahil mendapatkan hilal,” kata Kiai Ghazali.

IPNU Tegal

Kedua, cuaca di Jakarta, tepatnya di Cakung pada saat diadakan rukyat dalam keadaan mendung. Sementara arah pengamatan hilal di lokasi rukyat Cakung saat ini sudah terhalang gedung-gedung tinggi Jakarta. 

“Sudah lama kami mensurvei lokasi rukyat di Cakung. Tempatnya dan alat yang dipakai sangat sederhana. Sementara di barat sana terdapat gedung pencakar langit,” tambah Kiai Ghazalie.

Ketiga, tim rukyat yang menyatakan berhasil melihat hilal adalah orang yang itu-itu saja. Hakim yang menyumpah juga hakim yang itu-itu saja. Sangat kompak. “Tolong disampaikan hakim mana yang menyumpah dan dan di wilayah mana,” kata Kiai Ghazali,

Keempat, ahli falak NU itu mengingatkan, rukyat tidak bisa dilakukan oleh orang sembarangan, dan harus disertai ilmunya. Laporan hasil rukyat tidak cukup hanya dengan sumpah tetapi juga harus disertai data mengenai posisi matahari tenggelam, berapa jarak antara bulan dan matahari, serta bagaimana kondisi kemiringan hilal yang berhasil diamati.

Maka tegas Lajnah Falakiyah PBNU meminta pihak Kementeterian Agama segera mengadakan peninjauan kembali apakah layak Cakung digunakan untuk melakukan rukyat.

“Perlu ada tinjauan dari Kemenag agar tidak menjadi insiden terus-menerus. Ini bikan main-main. Saya minta hakim yang menyumpah dipanggil Mahkamah Agung untuk diperingatkan,” kata Kiai Ghazalie. IPNU Tegal juga menerima laporan dari berbagai daerah dan beberapa pesantren bahwa tim rukyat Cakung menyebarkan hasil rukyatnya sehingga membuat gelisah warga.

Alhasil laporan Rukyat Cakung oleh FPI itu tidak diindahkan dalam sidang itsbat. Namun ada yang menarik. FPI menyatakan menolak hasil kesimpulan sementara Menteri Agama terkait hisab-rukyat awal Ramadhan 1433 H yang disampaikan oleh para peserta sidang hanya gara-gara ada satu-dua metode hisab yang dikutip yang bersumber dari barat.

“Kami tidak mengikuti hisab barat. Kami mengikuti metode hisab ulama klasik, Sulamun Nayyirain,” kata perwakilan FPI.

Barangkali FPI tidak tahu sebenarnya banyak sekali karya ulama terbaru di bidang ilmu hisab. Ilmu falak atau astronomi adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang terus berkembang, dan tidak hanya berurusan dengan orang barat. 

Beberapa saat sebelum menutup pembicaraan, Kiai Ghazali Masroeri mengatakan, FPI lupa atau mungkin tidak tahu kalau pengarang kitab Sulamun Nayyirain sendiri berharap agar karyanya terus dikembangkan, dan terus dikembangkan oleh para ulama dan ahli falak setelahnya.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Pesantren Al-Mukhtariyah Gelar Ragam Lomba

Subang, IPNU Tegal. Dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia, Riungan Santri Pesantren Al-Mukhtariyyah (Rispa) menggelar aneka perlombaan di halaman pesantren tersebut pada Ahad (17/8) pagi.

Leni Nurwidia, salah seorang panitia mengungkapkan kegiatan ini terselenggara atas masukan dan inisiatif dari para santri serta dukungan dari Pimpinan Pesantren Al-Mukhtariyyah

Pesantren Al-Mukhtariyah Gelar Ragam Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mukhtariyah Gelar Ragam Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Mukhtariyah Gelar Ragam Lomba

"Sebelum memulai kegiatan, kita berdoa bersama dulu khususon untuk para pejuang dan pahlawan yang telah mengorbankan jiwa, raga, harta dan segalanya demi kemerdekaan Indonesia," tambah Sisiwi Kelas 12 Madrasah Aliyah itu.

IPNU Tegal

Leni melanjutkan, para santri juga baca Shalawat Badar, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan 17 Agustus.

IPNU Tegal

Perlombaan peringatan HUT Kemerdekaan tersebut adalah balap karung, pukul air, memasukan paku ke botol, makan kerupuk, tarik tambang, uang dalam tepung dan futsal. "Biayanya kita ambil dari uang kas Rispa dan dari patungan para santri," tukasnya.

Pantauan IPNU Tegal, para santri terlihat antusias dan terhibur saat mengikuti seluruh perlombaan itu. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh IPNU Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Jaga Akhlak dan Perilaku Selama di Tanah Suci

Probolinggo, IPNU Tegal. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta agar semua Calon Jamaah Haji (CJH) Kabupaten Probolinggo bisa melaksanakan ibadah haji dengan khusyu dan tuma’ninah.

Jaga Akhlak dan Perilaku Selama di Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Akhlak dan Perilaku Selama di Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Akhlak dan Perilaku Selama di Tanah Suci

Hal tersebut disampaikan oleh H Hasan Aminuddin ketika menghadiri kegiatan safari haji Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari bersama puluhan kepala sekolah dan guru se-Kabupaten Probolinggo, Senin (17/7) siang.

“Jangan pernah mengeluh dalam menjalankan ibadah haji di tanah suci Mekah dan Madinah. Hal terpenting adalah selalu menjaga akhlak dan perilakunya selama menjalankan ibadah haji,” ungkapnya.?

Lebih lanjut Hasan meminta agar para CJH tidak mempersulit diri sendiri terhadap bacaan untuk haji. Sebab tidak ada bacaan yang wajib dalam menjalankan ibadah haji. “Laksanakan sungguh-sungguh rukun wajib hajinya serta ibadah sunnahnya dengan baik. Perbanyaklah shodaqoh di Mekah dan Madinah,” jelasnya.

IPNU Tegal

Sementara Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari meminta para CJH agar selama berada di tanah suci bisa menjaga kondisi dengan sebaik mungkin. Karena ibadah haji ini adalah ibadah fisik sehingga diperlukan kondisi tubuh yang sehat dan bugar. “Mudah-mudahan para CJH selalu diberikan kesehatan dan kelancaran selama menjalankan ibadah haji di tanah suci,” harapnya.

Sedangkan Kepala SDN Malasan 1 Turhan menyampaikan meminta doa dan dukungannya agar senantiasa dalam melaksanakan ibadah haji diberikan kelancaran dan kesehatan lahir dan batin.

“Semoga ibadah ke tanah suci Mekah dan Madinah ini selalu diberikan kelancaran. Serta kesehatan dalam menjalankan haji baik dari berangkat hingga pulang ke Kabupaten Probolinggo nantinya menjadi haji yang mabrur,” katanya.

IPNU Tegal

Safari haji ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo Dewi Korina, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo Santoso serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Tahun ini, jumlah CJH Kabupaten Probolinggo yang akan berangkat ke tanah suci mencapai 784 CJH. Mereka akan dilepas dari obyek wisata religius Miniatur Ka’bah di Desa Curahsawo Kecamatan Gending pada 13 Agustus mendatang. (Syamsul Akbar/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh IPNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU

Jombang, IPNU Tegal. Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) yang digelar di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang selamat tiga hari, 13-15 April 2012, juga diramaikan dengan pameran UKM dan produk kesehatan serta pelayanan Rumah Sakit milik NU.

Salah satu RS milik NU yang ikut meramaikan adalah RSI Siti Hajar Sidorjo. RS milik NU dan Muslimat Sidoarjo ini berdiri sejak 1963. Awalnya RSI ini berawal dari Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang dikelola oleh Muslimat NU. Namun tekat pengurus NU kuat, kemudian Balai Kesehatan ini akhirnya dikembangkan menjadi RS.

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU

Kini RS dengan tipe C Plus ini telah memiliki dokter sebanyak 47 dengan dokter spesialis 19 orang dan jumlah tenaga medis sebanyak 140 perawat.

IPNU Tegal

“RS ini telah terakreditasi penuh 12 pelayan ini  memiliki jumlah ruang 156 tempat tidur , terdiri dari kamar  VIP 12, kelas 1, 12, kelas II anak 12 dan II 12, kelas III, 36 ruangan dengan ruang isolasi 2,” ujar Imron salah satu pengurus.

Disamping RSI Siti Hajar Sidoarjo Rakornas juga diramaikan beberapa produk UKM dan lembaga pendidikan kesehatan milik NU dan warga NU. 

IPNU Tegal

“Panitia memang menyediakan lokasi untuk pameran UKM dan lembaga pendidikan kesehatan bagi warga NU, Karena yang mengikuti Rakornas tidak hanya dari Jawa Timur tetapi berasal dari beberapa  provinsi lain,” ujar Zulfikar As’ad ketua panitia mengatakan.

Gus Upiq biasa dipanggil mengatakan, peserta dari pengurus wilayah yang telah hadir sebanyak 24 Pengurus PW LKNU se Indonesia. Dan beberapa lembaga kesehatan serta pengelola RS milik NU.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Warta, Humor Islam, Halaqoh IPNU Tegal

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Padangpariaman, IPNU Tegal. Sebanyak 34 tuanku dikukuhkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Selain itu, juga diberikan ijazah kelulusan kepada 111 tamatan pondok pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan tingkat tsanawiyah, Bustanul Muhaqqiqin (Ma’had A’ly) sebanyak 5 orang.?

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Imraniyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Idarussalam Tuanku Sutan, Rabu (19/7/2017) di komplek Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Pengukuhan gelar tuanku sekaligus peringatan manyaratuih (seratus) hari wafatnya pendiri Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan.

Tuanku yang dihasilkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, merupakan kader ulama yang memiliki kemampuan menggali sumber-sumber hukum dan ajaran Islam dari berbagai literatur ? klasik yang dikenal dengan kitab kuning. “Santri di Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan membaca kitab kuning yang banyak ditulis oleh ulama-ulama terdahulu yang hingga kini isinya masih relevan,” kata Idarussalam.

Menurut Idarussalam, ada tiga kompetensi yang dimiliki Nurul Yaqin diajarkan kepada santrinya. Pertama, keilmuan yakni ilmu kitab sebanyak 16 bidang. Kedua, skill, yakni kemampuan yang dimiliki santri yang diperlukan dalam kehidupan keseharian di masyarakat. Dimana santri bisa berdoa, jadi imam di masjid/surau/mushalla, berdakwah dan ? menjadi guru mengaji. Ketiga, karakter. Santri diajarkan dan dibiasakan dengan ? sopan santun, etika dan ? mengaplikasikan ibadah.?

“Inilah bedanya Pesantren Nurul Yaqin dengan sekolah lainnya. Di Pesantren Nurul Yaqin, Santri dituntut punya ilmu, skill dan berkarakter yang sangat mendukung dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Idarussalam.

IPNU Tegal

“Pesantren Nurul Yaqin tetap mengharapkan dukungan semua pihak, baik alumni, masyarakat, maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Padangpariaman,” kata Idarussalam.?

Dengan wafatnya pendiri Nurul Yaqin Ringan-Ringan Syekh Ali Imran, maka terdapat dua pimpinan, yakni pesantren dan keilmuan. Pelaksanaan pesantren diserahkan kepada Drs. Almuhdil Karim Tuanku Bagindo. Sedangkan di ? dibidang ? keilmuan, paham, jamaah, tarekat dan wirid, ? dipimpin oleh khalifah yang dinamakan Khalifah Imrani. Untuk pertama kali khalifah Imrani ini dipercayakan kepada Syekh Muda Zulhamdi Tuanku Kerajaan, murid langsung dari Syekh Ali Imran Hasan.?

Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur yang menghadiri acara pengukuhan tersebut mengatakan, para lulusan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan yang sudah dikukuhkan sebagai tuanku diharapkan menjadi ulama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Ilmu yang sudah diperoleh selama belajar di pesantren ini tentu diharapkan dapat bermanfaat bagi diri sendiri, maupun masyarakat di lingkungannya,” kata Suhatri Bur.

Dikatakan, sebagai ulama tentu prioritas utama adalah untuk terus menggali ilmu agama. Sehingga pemahaman tuanku akan sesuai dengan kondisi masyarakat yang dihadapinya. “Pemkab Padang Pariaman memberikan apresiasi terhadap kehadiran Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Amanah dari pendiri pesantren ini memang Pemkab agar memperhatikan perkembangan Pesantren ini. Ini tentu menjadi perhatian kita semuan,” kata Suhatri Bur menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh IPNU Tegal

Kamis, 16 November 2017

LAZIS NU-Extra Joss Kembali Tebar Qurban 1 Milyar

Jakarta, IPNU Tegal. Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (LAZIS) NU kembali bekerjasama dengan produsen minuman suplemen Extra Joss menebarkan qurban sebesar 1 Milyar, yang dibelikan sapi sebanyak 56 ekor.

LAZIS NU-Extra Joss Kembali Tebar Qurban 1 Milyar (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZIS NU-Extra Joss Kembali Tebar Qurban 1 Milyar (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZIS NU-Extra Joss Kembali Tebar Qurban 1 Milyar

Seremoni penyerahan hewan Qurban dilakukan di halaman gedung PBNU oleh perwakilan Extra Joss Simon Gunawan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ahad (13/10).

Simon menegaskan, qurban dengan menyembelih sapi dan membagikan kepada orang yang membutuhkan merupakan salah satu bentuk iman dan apa yang dilakukan merupakan tindakan nyata, yang bermanfaat kepada orang lain.

IPNU Tegal

Secara berseloroh, ia mengatakan, berkeinginan menjadikan Kiai Said iklan obat masuk angin bintang tujuh, yang masih satu perusahaan dengan Extra Joss, karena orang NU merupakan orang yang paling bejo.

Kiai Said Aqil menegaskan, qurban merupakan kewajiban bagi yang mampu. Ia menguraikan cerita dibalik munculnya tradisi qurban ini, yang berasal dari nabi Ibrahim, yang dalam bahasa Ibrani artinya bapaknya umat.

IPNU Tegal

Ibrahim merupakan seorang pengelana. Bersama keluarganya, ia menyeberangi sungai Jordan. Disinilah awal kata bangsa Ibrani, yang artinya penyeberang yang sukses.

Sayangnya, istri pertama Ibrahim mandul, sehingga Nabi Ibrahim menikah kembali dengan Sarah dari Mesir, yang kemudian hamil dan melahirkan seorang bayi bersama Ismail, yang artinya merupakan orang yang mendengar panggilan tuhan, 

Atas perintah tuhan untuk menghindari rasa cemburu dengan istri pertama, Sarah diajak pergi ke selatan di suatu daerah yang saat itu belum pernah dihuni oleh siapapun. Baru tiba mengantarkan istrinya, Nabi Ibrahim sudah dipanggil kembali oleh Allah untuk pergi ke utara, di tempat istrinya yang pertama. Ismail, yang kehausan menangis keras, sehingga ibunya berlari antara Sofa dan Marwa untuk mencari air sampai tujuh kali, dan akhirnya muncullah air zam-zam yang masih mengalir sampai sekarang.

Setelah adanya air itulah, mulai ada kehidupan dan menurunkan bangsa Arab.

Lalu, setelah kembali ke istri pertama, istrinya mulai hamil dan totalnya memiliki 12 orang anak yang kemudian menurunkan bangsa Yahudi.

“Jadi antara bangsa Arab dan Yahudi sebenarnya bersaudara,” katanya.

Suatu ketika, Ibrahim kangen anaknya, Ismail yang saat itu telah berusia 9 tahun. Baru saja berjumla, turun turun perintah agar Ibrahim mengorbankan anaknya sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah. Siap menjalankan perintah tuhan, berangkatkah ke gunung dan ketika sudah siap di embelih, jibril datang, dan menggantikannya dengan kambing, “Engkau telah lulus ujian dan diterima pahalanya, tapi sembelihannya diganti kambing.”

Dalam konteks zaman Nabi Muhammad, ketika berhijrah di Madinah, Nabi Muhammad menerima laporan dari masyarakat Madinah bahwa mereka selalu mengadakan perayaan setiap tahun selama dua kali, yang akhirnya dilakukan proses Islamisasi budaya tersebut, menjadi Idul Fitri dan Idul Adha. “Artinya, agama menyatu dengan budaya, diganti takbiran saja dan potong qurban.”

Jika dalam kerjasama sebelumnya, uang satu milyar bisa dibelikan sapi sebanyak 100 ekor, tahun ini, dengan jumlah uang  yang sama, hanya diperoleh 56 ekor karena harga sapi semakin mahal.

Qurban ini akan disebarkan ke seluruh Indonesia, terutama daerah-daerah yang paling membutuhkan. “Melalui NU, jangan khawatir, sedekah, infak dan sedekah, pasti akan sampai pada yang berhak,” kata Kiai Said. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh, Sejarah, Hikmah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock