Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Oleh Irfan Nuruddin

---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni Pondok? Langitan, perihal sosok Jokowi,? bagaimana keislamannya dan kiprah dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.

Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu shohih, tsiqoh, aku iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?

Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari sumber yang tsiqoh, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang aku tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor Jokowi.

“Pak, keislaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya keislaman Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad? 22 Juni di ndalem beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.

? “Islam-imanipun Jokowi miturut kulo sae, saestu sae (baik, benar-benar baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq, (Pengasuh PP Al Muayyad).

IPNU Tegal

Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena beberapa anggotanya sama mencalonkan dirimenjadi Wali Kota, Pak Jokowi sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat, adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil mantu oleh orang-orang? yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak tho Gus?” jawab beliau lugas.

? ? “Tapi kulo gih tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain, hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe… Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau sengau menahan isak.

IPNU Tegal

Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan pertanyaan rasanya tidak mampu.Terbawa suasana yang tiba-tiba mengiris-ngiris kalbu.

? “Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus, bacaannya tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan seperti itu menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi kafir?” Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.

Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut. Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih masih dan dasyhat, sehingga pada waktu ? Jokowi sowan ke Pak Dul Kareem (begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti itu, tetapi menawi kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir, nasrani,… kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau ibu saya yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),”? kata Jokowi ditrukan Pak Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.

Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur, setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin. Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN dan PKS-mambu-mambu sitik (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).

Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga kebijakannya, terutamapada umat Islam?”

? “Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat Islam subtantif Gus, tur yo merakyat tenan, umat Islam di Solo itu kan mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi ? Pak Jokowi untuk mengangkat ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional, minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada lagi,jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.

Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan? dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil di sekitarnya.

? “Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar untukmenghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak ? salah untuk berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan marak… podo ditumpakke? jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek Wali Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa dihargai),” ? cerita PakDul Kareem panjang lebar.

Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan semrawut, dan? sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal Ahbabul Musthofa saat ini.

Solo saat ini jadi lebih hijau dhohiron wa bathinan, peringatan hari besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir dan mengkhatamkan Al Qur’an.

? “Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, kulo ngiro niku isinya arto Gus, tapi jebule stiker (saya kira isinya uang, tapi sertanya isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua Selamat Dunia Akhirat.”

Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000 stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang puluhan juta. Jebule cuma stiker.

Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi adalah salah satu pembinanya.

? “Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados ketua PCNU Solo, jadi gih saget bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem dengan antusias.

? “Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu juga kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca yang di depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal untuk hal seperti itu, nyuruh ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat ketika Jokowi ngangkati gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam pembukaan apa itu, aku lupa.

? Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya dari keluarga muslim yang baik, ? yang juga telah melakukan rukun Islam kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta, dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu, Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya. ? Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah ? “Akulah yang paling Islam, Akulah yang paling benar” yang lain KW.

Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak Dul Kareem dalam ranah politik dia.

“Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan hanya bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan saya dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah kulo yang salah, kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan sampluk. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.

Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan, dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.

Wallohu a’lam bisshowab.

Irfan Nuruddin, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, RMI NU IPNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

MANU Nurussalam-Unnes Bekali Guru dengan Pembelajaran Quantum

Kudus, IPNU Tegal. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Nurussalam – Universitas Semarang (Unnes ) membekali guru tentang model pembelajaran Quantum (QuantumTeaching in Action) berbasis TIK di Aula Madrasah desa Besito Gebog Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (24/8). 

MANU Nurussalam-Unnes Bekali Guru dengan Pembelajaran Quantum (Sumber Gambar : Nu Online)
MANU Nurussalam-Unnes Bekali Guru dengan Pembelajaran Quantum (Sumber Gambar : Nu Online)

MANU Nurussalam-Unnes Bekali Guru dengan Pembelajaran Quantum

Kegiatan pelatihan guru itu diikuti 60 peserta dari kalangan pendidik tingkat SMA dan MA se-Kabupaten Kudus beserta mahasiswa PPL S-1 STAIN Kudus. 

Ketua Panitia Achmad Farchan menuturkan bahwa pelatihan ini diselenggarakan untuk mengoptimalkan metode dan model pembelajaran yang harus dijalankan guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Pembelajaran tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga harus menyentuh pada ranah afektif dan psikomotorik serta guru bertindak sebagai fasilitator dan mendorong siswa untuk aktif dan berpikir kritis serta berkarakter. 

IPNU Tegal

“Model pembelajaran Quantum Teaching ini, mendalami bagaimana mengajar dengan cara yang menyenangkan sehingga siswa ketagihan belajar dan mampu meraih prestasi dahsyat,” jelas Farhan yang juga mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Unnes. 

IPNU Tegal

Kegiatan yang mengusung tema mengusung tema “Mari antarkan anak didik dengan mendidik sepenuh hati, untuk meraih prestasi dahsyat” ini imbuh Farchan, merupakan kepeduliaan Unnes melalui melalui program pengabdian masyarakat oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).

 

“Harapannya, mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang interaktif dalam aplikasi model dan metode pembelajaran pada kurikulum 2013 yang bisa diterapkan oleh guru-guru madrasah,” katanya. 

Wakil Kepala MANU Nurussalam Achmad Machasin saat membuka acara mengatakan, sebagai seorang guru harus manyadari bahwa dirinya merupakan makhluk pembelajar, maka dari itu haruslah membuka diri terhadap keran informasi untuk terus menempa diri akan ilmu pengetahuan. Hal ini karena ilmu pengetahuan senantiasa berkembang mengikuti kebutuhan dan tuntutan masyarakat. 

“Usai pelatihan, guru mampu memahami model pembelajaran Quantum Teaching. Guru mampu menyusun media pembelajaran yang interaktif serta mampu menerapkan model pembelajaran ini dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan prestasi siswa,” harapnya. 

Pelatihan berlangsung penuh semangat dan interaktif, didampingi trainer muda Hudi Hermawan. Sesi pertama, diawali bagaimana membangun hubungan yang akrab dengan siswa, memotivasi siswa lewat pikiran bawah sadar. Dilanjutkan bagaimana menciptakan orkestrasi dalam proses pembelajaran serta ditutup cara menstimulasi beragam kecerdasan. 

Di akhir materinya, Hudi menegaskan bahwa ketika sudah di dipanggil bapak atau ibu guru, tidak ada alasan lagi untuk mengajar tidak dengan hati. “You never forget a good teacher,” tandas pria kelahiran Kendal ini. 

Pelatihan yang berlangsung sehari itu berlangsung menarik. Menurut salah satu peserta pelatihan Risya Umami, pelatihan ini mampu memotivasi guru serta tertantang untuk menerapkannya, meskipun tidak semua metode bisa diterapkan, dengan mempertimbangkan karakteristik atau norma dan nilai yang berlaku disekolah serta sarana dan prasarana. 

Hal senada juga diungkapkan oleh Djoko Warsito, guru SMAN 2 Bae. Menurutnya, pelatihan semacam ini sangat inspiratif, memotivasi guru untuk terus belajar menjadi lebih baik.

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Qomarul Adib 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem

Oleh Roqiyul Maarif Syam*



Maraknya kabar orang hilang di beberapa daerah di Indonesia yang terkait dengan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) maupun organisasi sejenisnya membuat keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi baru-baru ini terjadi aksi teror di Thamrin, Jakarta yang dikaitkan pada isu Islamic States of Iraq and Syiria (ISIS) maupun isu terorisme lainnya. Sasaran yang direkrut sebagai anggota oleh mereka dijadikan sempalan terhadap negara. Menyikapi hal tersebut, kita perlu untuk merespons, membentengi diri dan melawan terorisme, radikalisme, ekstrimisme serta bentuk kekerasan lain atas nama suatu paham atau keyakinan tertentu.?

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem

Negara Kesatuan Republik Indonesia ibarat rumah besar bagi warganya yang beragam. Pemerintah sebagai aparat yang bertugas menjamin keamanan, dan kesejahteraan para penghuninya dengan seperangkat aturan hukum yang mengatur keragaman warganya. Teror dan kekerasan yang berasal dari paham-paham fundamental, radikal dan ekstrem menjadi hantu gentayangan yang tidak mampu diusir hanya oleh para pemangku kebijakan. Dari luar, gelombang globalisasi yang tak terbendung selanjutnya memperparah persoalan karena secara drastis mengubah pola relasi masyarakat dengan ruang-ruang sosial. Hal-hal ini berakibat pada terjadinya guncangan serius pada identitas yang menjadi sumber makna dan pijakan setiap orang dalam mengidentifikasi secara simbolik arah dan tujuan tindakan-tindakan yang mereka lakukan didalam rumah besar ini. Dalam politik multikuturalisme seperti yang diungkapkan Melucci, gejala ini dinamakan "homelessness of personal identity" yang berarti gejala yang membuat orang kehilangan pijakan dan definisi tentang dirinya sehingga mudah dibujuk dan dipengaruhi paham ekstrem yang berasal dari "luar rumah" untuk menjadi penganutnya. Tak ayal situasi yang paling buruk akhirnya adalah ancaman disintegrasi bangsa yang disebabkan oleh konflik-konflik horizontal "di dalam rumah" dan pembangkangan/ sempalan terhadap negara.

Ledakan sosial dan riuh rendah tragedi kemanusiaan yang terjadi di negeri ini umumnya disebabkan dari pemahaman dangkal serta keyakinan ekstrem yang dianut oleh seseorang mengenai beberapa hal, diantaranya; nasionalisme; keberagamaan; dan juga lokalitas sebagai penanda/identitas primordial suatu etnik.

IPNU Tegal

Pertama, pemahaman nasionalisme yang dangkal akan berujung pada sikap hanya mengambil keuntungan saja dalam bernegara. Bagi orang yang berpemahaman dangkal terhadap negara akan beranggapan bahwa negara hanya tidak lebih dari suatu institusi yang korup. Orang dengan pemahaman demikian akan bersikap acuh tak acuh pada persoalan kenegaraan dan kebangsaan. Sedang bagi para wakil rakyat, sikap seperti ini beranggapan bahwa kepentingan-kepentingan yang dikiranya adalah kepentingan rakyat nyatanya hanya memperkuat posisi negara tanpa kehadirannya bagi kepentingan rakyat. Namun juga keyakinan bernegara yang keterlaluan adalah akar dari nasionalisme berlebihan (chauvistik) yang berujung pada fasisme seperti yang pernah dipraktikkan beberapa negara di masa yang silam. Sikap ekstrem di tengah kancah politik dunia juga sempat mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini. Dalam sejarah kepemimpinannya, Indonesia pernah mengalami masa nasionalisme ekstrem kiri (komunisme) pada era akhir kepemimpinan Orde Lama yang berujung pada peristiwa G30S-PKI, juga sempat menjadi pendukung nasionalisme ekstrem kanan (kapitalisme) di era Orde Baru yang lebih banyak lagi peristiwa teror dan kekerasan terjadi di era ini.

Bangsa kita menganut prinsip -meminjam istilah Soekarno, yaitu internasionalisme yang penulis pahami sebagai ikut aktif dalam menjaga humanisme atau peri- kemanusiaan, perdamaian di atas dunia. Nasionalisme kita adalah rasa cinta tanah air dan tumpah darahnya, suatu pemahaman dan keyakinan dengan fondasi nilai yang terkadung dalam Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap butir Pancasila merupakan jiwa yang menggerakkan setiap warga negara dalam berinteraksi sosial dari lingkup terkecil di Rukun Tetangga (RT) hingga masyarakat internasional. Ekspresi nasionalisme yang dituntun oleh rambu-rambu Pancasila ini akan mengantarkan bangsa Indosesia menuju cita-cita pendirian negara Republik Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 45. Meski erat kaitannya juga, bahwa nasionalisme kita harus diukur dari seberapa berhasil pemerintah mewujudkan janji-janji kemerdekaan yang diwariskan para pendiri negara ini. Di antara yang belum terwujud hingga saat ini yaitu cita-cita memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kedua, dalam hal beragama, jalan pintas memahami agama dengan instan serta praktik dakwah keagamaan yang keras adalah ekspresi kedangkalan pemahaman agama itu sendiri. Pemahaman agama yang ekstrem terhadap kebenaran dirinya hanya akan merusak nilai dari beragama itu sendiri, yaitu hidup dengan benar dan selamat di dunia dan akhirat. Lalu bagaimana penganut agama meyakini akan selamat di akhirat jika di dunia saja malah menyebarkan teror dan ancaman kemanusiaan bagi sesama hamba Tuhan?

Dalam catatan sejarah negara kita, pemahaman agama yang ekstrem merupakan hantu masa lalu yang selalu membisikkan teror, penculikan, dan tindakan yang mengganggu perikemanusiaan di negeri ini. Alih-alih demi mendirikan kerajaan tuhan di bumi, penganut agama yang ekstrem akan berani menganggap orang lain di luar kelompoknya sebagai kafir, musuh tuhan yang layak dimusnahkan. Sikap seperti ini berujung pada fitnah dan teror sesama umat beragama di suatu negara. Tak ayal pemahaman demikian bukannya mengajak selamat hidup di dunia malah menjadi pembangkang terhadap negara. Bangsa kita pernah mengalami fitnah ini dalam catatan kelam sejarahnya yaitu saat marak pendirian Negara Islam Indonesia (NII), juga Darul Islam (DI) di daerah Jawa Barat. Bahkan dalam hal ini penulis merupakan keturunan korban penyiksaan dan penculikan oleh anggota DI yang hingga kini tidak diketahui dimana keberadaan jasadnya atau kuburannya hanya untuk sekedar melakukan tradisi nyekar (ziarah kubur).

Namun juga perlu dipahami bahwa hampir setiap agama memiliki madzhab/sektenya masing-masing. Satu sama lain antar pemeluk agama perlu saling menjaga kebebasan beragamanya dengan saling melindungi dari sekte-sekte yang dianggap menggangu harmoni antar pemeluk agama. Diantara banyaknya sekte yang terdapat dalam setiap agama tersebut, yang terburuk adalah yang mengajarkan pemahaman yang ekstrem dan kekerasan terhadap manusia demi alasan pembelaan kepada Tuhan. Semua agama yang sah dianut di Indonesia mengedepankan prinsip-prinsip humanisme, perdamaian, serta cinta kasih sesama makhluk Tuhan. Juga setiap paham masing-masing agama yang mengajarkan kebaikan hidup, toleransi, saling menolong, merupakan sekte yang sah diakui sebagai bagian dari agama tersebut. Mereka yang membuat kerusakan dan menebar ancaman atas nama agama tidak lain adalah oknum penganut ajaran ekstrem dari suatu sekte agama tertentu yang keberadaannya malah meresahkan masyarakat. Seperti aksi pembakaran masjid pada saat pelaksanaan shalat hari raya yang dilakukan oleh oknum penganut sekte tertentu dalam agama Katolik di Papua beberapa waktu yang lalu. Sekali lagi, kita perlu saling mengenali dan menjaga sesama pemeluk agama dari penyusupan-penyusupan oknum penganut ajaran ekstrem yang justru ingin merusak wajah toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia.

IPNU Tegal

Ketiga, mengenai pemahaman serta keyakinan akan identitas lokal/primordial suatu etnik, apabila tidak arif dalam memahaminya hal ini seringkali menjadi pisau bermata dua yang dapat bernilai manfaat sekaligus dapat menjadi isu pemecah bagi masyarakat. Pemahaman yang ekstrem terhadap nilai lokal dapat menyebabkan seseorang terperangkap dalam sikap terlalu berbangga diri akan identitas lokal, tertutup terhadap perbedaan kebudayaan. Hal seperti ini yang sering disebut ego lokal. Seperti istilah katak dalam tempurung, yang tak mengerti akan dunia di luar dirinya dan dirinyalah satu-satunya penguasa di dalam tempurung itu. Ekspresi-ekspresi yang lebih menunjukkan sikap tertutup dari sang liyan ? akan menjadikan kita manusia primitif yang tidak mau mengenal kebaikan yang berasal dari luar. Sikap mengedepankan ego lokal secara ekstrem malah akan merusak nilai dari pada kearifan lokal itu sendiri. Merasa diri dari etniknya-lah yang layak mendapatkan posisi dan keistimewaan tertentu dalam masyarakat. Seperti anggapan yang sering terlontar saat musim pemilihan kepemimpinan nasional di negara ini semenjak pendiriannya, mengapa selalu orang Jawa yang jadi presiden?

Lebih arif bagi kita untuk menonjolkan identitas lokal dari sisi kesenian dan kebudayaan daerah juga identitas lokal lainnya sebagai alat pemersatu bangsa. Setiap kebudayaan suatu etnik memiliki rasa keindahan yang bersifat universal dapat dirasakan semua manusia Nilai-nilai keindahan universal tersebut adalah suatu ikatan tak terlihat yang menjadi penanda bahwa suatu etnis tertentu terhadap etnis lainnya adalah saudara yang saling mengisi peradaban manusia. Sebab kesenian dan kebudayaan tersebut merupakan warisan peradaban lokal yang patut dilestarikan keberadaannya. Dalam menyikapi perbedaan dari sudut pandang identitas kedaerahan, para pendiri bangsa ini sempat mengajarkan kita sikap keterbukaan, saling berbagi, persatuan dan kesatuan atas dasar kesamaan rasa, menghilangkan ego lokalitas atau sentimen kedaerahan, mengedepankan pertimbangan akal sehat, juga melakukan pertukaran budaya. Sikap para pendiri negara kita itu-lah yang menjadi rumusan terciptanya Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan dan kesatuan bangsa ini. Seperti pernah dicontohkan oleh Otto Iskandar Dinata dengan rela membubarkan Paguyuban Pasundan demi kebersatuan rakyat Indonesia dibawah Boedi Oetomo guna melawan kolonialisme Belanda, juga ? Sri Sultan Hamengku Bhuwana IX yang tulus bergabung memasukkan wilayah kekuasaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah pemerintahan Republik Indonesia, begitupun yang dicontohkan para tokoh besar lain pendiri republik ini.?

Gambaran Indonesia yang terangkai dalam kalimat "Dari Sabang sampai Merauke" menjadi istilah yang mampu merangkum jutaan nilai yang dikandung suku bangsa Aceh, Minangkabau, Jawa, Toraja, Dayak serta suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia. Nilai-nilai tersebut berasal dari peradaban lokal yang menyejarah bagi setiap suku bangsanya.

Lebih banyak dari kita yang menunjukkan perbedaan kedaerahan satu sama lain ketimbang persamaannya yang justru lebih banyak. Nilai-nilai itu harus dilahirkan menjadi bentuk ekspresi manusia Indonesia yang berkeadaban yang luhur demi mengisi kemajuan peradaban. Masyarakat Indonesia yang beradab berarti masyarakat yang mampu menjunjung nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan penghargaan yang tinggi bagi suatu karya. Bukankah suatu bangsa dianggap berbudaya jika dapat membangun kebaikan bersama?

Ketiga hal yang diuraikan tersebut merupakan isu-isu penting yang mengisi kesejarahan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa. Sejak jaman perjuangan pergerakan kemerdekaan, ketiga hal tersebut begitu saja liar berkelindan di dalam alam pikiran masyarakat tanpa porsinya yang sesuai demi membentuk kepribadian manusia Indonesia. Perdebatan antar kelompok di ketiga hal tersebut seperti tak pernah usai untuk diakhiri dengan kejernihan hati dan akal sehat. Dari ketiganya yang ekstrem lah yang selalu menjadi perusak kenyamanan kita sebagai manusia Indonesia di "rumah besar" kita ini. Pemahaman yang moderat dan mendalam akan ketiga hal tersebut nantinya yang akan membentuk kita menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Manusia Indonesia sebagai bangsa besar yang menghuni "rumah besar". Identitas keindonesiaan yang kuat akan begitu saja mampu menangkal paham-paham ekstrem yang akan merusak Indonesia sebagai negara-bangsa.

Jika hal-hal demikian dapat dilaksanakan baik oleh aparat pemerintah, maupun masyarakat selaku manusia Indonesia, paling tidak kita semua telah berusaha untuk dapat selamat hidup di belahan bumi manapun, terlebih di negeri kita tercinta yang gemah ripah loh jinawi ini. Lalu ajaran ekstrem mana lagi yang akan menabur benih ancaman dan kekerasan ? kita jika kita benar-benar menjadi manusia Indonesia? Demi hal itu kita tidak membutuhkan apapun, hanya ketulusan yang manusiawi. Wallahu alam bisshawwab

* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Siyasah UIN Sunan Kalijaga, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Sejarah, Ubudiyah IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail IPNU Tegal, belakangan ini kehadiran minimarket tidak lagi bisa dibendung. Pasar swalayan kecil ini sudah menjamur dan merangsek hingga ke pelosok-pelosok dusun. Pertanyaan saya, bagaimana hukum agama memandang pemerintah sebagai pemegang otoritas atas izin usaha tersebut? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (H Sadzili/Banjar).

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kehadiran minimarket yang menjamur hingga pelosok kampung di Indonesia menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Satu sisi kehadiran minimarket dianggap membawa berkah karena memudahkan masyarakat yang semakin kompleks. Pasar swalayan kecil ini dianggap oleh sebagian masyarakat lebih nyaman dalam berbelanja. Di samping itu minimarket melayani sejumlah kebutuhan masyarakat yang tidak bisa dipenuhi oleh warung-warung kecil yang dikelola warga.

IPNU Tegal

Sisi lain pasar swalayan kecil yang masuk hingga kampung-kampung ini juga membawa serta efek negatif bagi perkembangan usaha kecil masyarakat sekitar. Kehadiran minimarket dengan sendirinya menurunkan daya beli masyarakat terhadap warung-warung kecil di sekitarnya yang pada gilirannya juga gulung tikar.

IPNU Tegal

Kehadiran minimarket ini tidak lepas dari pemberian izin usaha melalui surat izin usaha perdagangan (SIUP) oleh pemerintah. Lalu bagaimana padangan Islam terkait memberikan izin usaha (retail) yang berpotensi menimbulkan mafsadah rakyat sekitar (toko-toko umat)?

Masalah ini diangkat dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama NU yang berlangsung di Mataram pada 23-25 November 2017.

Forum bahtsul masail ketika itu memberikan dua jawaban. Pertama, pemerintah tidak diperbolehkan mengeluarkan izin usaha apabila dampak mafsadah minimarket itu lebih besar dibanding mashlahat yang dirasakan, semisal mengakibatkan terjadinya monopoli harga. Tetapi pemerintah boleh mengeluarkan izin usaha jika mashlahat pasar swalayan kecil itu bagi masyarakat lebih besar.

Forum yang terdiri atas para kiai dari pelbagai daerah di Indonesia ini antara lain mengutip sejumlah pandangan ulama, salah satunya Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?: «?» ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kaidah ketiga adalah dampak mudharat yang lebih besar disbanding maslahatnya. Ketika seseorang menggunakan haknya dengan tujuan mewujudkan sebuah kemaslahatan yang dapat dilakukan, tetapi usahanya menimbulkan mudharat bagi orang lain yang lebih besar dibanding atau setara dengan maslahat yang direncanakan, maka harus dicegah sebagai bentuk preventif, sama saja apakah mudharat itu bersifat umum yang menimpa banyak orang atau bersifat khusus orang per orang.

Argumentasi atas larangan ini adalah sabda Rasulullah SAW, ‘Tidak mudharat dan memudharatkan.’ Atas dasar ini penggunaan hak itu menjadi sebuah kelaliman bila berdampak mudharat secara umum dan ini jelas lebih lebih bahaya dari mudharat secara khusus; atau dampak mudharat secara khusus yang lebih banyak dibanding kemaslahatan pemegang hak, atau lebih bahaya dari mudharat yang diterima pemegang hak, atau setara dengan mudharat orang yang berhak. Sedangkan bila mudharat itu lebih kecil atau masih bersifat spekulasi, maka penggunaan hak usaha itu bukan kelaliman,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, juz 4, halaman 392).

Muncul pertanyaan dalam forum, apakah pemerintah wajib mencabut izin usaha tersebut bila pemerintah sudah terlanjur mengeluarkan izin bagi minimarket tersebut?

Forum ini menyatakan bahwa pemerintah wajib melakukan upaya proteksi ekonomi bagi masyarakat bawah sehingga harus melakukan langkah-langkah yang diperlukan hingga harus mencabut izin. Forum ini mendasarkan pandangannya pada kutipan fikih empat madzhab berikut ini:

? ? ? ? ?: (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengertian sabda Rasulullah SAW, ‘Tidak mudharat dan memudharatkan’ adalah semestinya seorang Muslim menghilangkan mudharat dari saudaranya. Setiap pemimpin apakah ia pemerintah atau bukan wajib melenyapkan mudharat dari para pengikut atau masyarakatnya. Ia tidak boleh menyakiti mereka. Ia tidak boleh mengizinkan siapapun untuk menyakiti mereka. Tidak perlu disangsikan, pembiaran atas masyarakat dengan misalnya ketiadaan regulasi yang dapat memproteksi mereka dari tindakan menyakitkan dan mudharat jelas bertentangan dengan semangat hadits ini. Karena itu, setiap regulasi yang mengandung maslahat dan melenyapkan mudharat diafirmasi dan direstui oleh syariat,” (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ala Madzahibil Arba‘ah, juz V, halaman 193).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Nasional, Hikmah IPNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh

Temanggung, IPNU Tegal. Ny Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, mengatakan, toleransi di Kabupaten Temanggung patut untuk dicontoh daerah lainnya. Keragaman yang ada dapat melebur menjadi satu kesatuan sehingga tidak menimbulkan konflik. Kerjasama yang baik antaragama di daerah penghasil tembakau ini juga dapat menjadi kiblat bagi pengelolaan keragaman.

Istri presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) ini menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam “Pengajian Kebangsaan” yang digelar Gusdurian Temanggung di Pendopo Pengayoman Temanggung, Jawa Tengah, Ahad (6/7).

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh

Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Temanggung Bambang Sukarno, Wakil Bupati Irawan Prasetyadi, Ketua DPW PKB Jawa Tengah Yusuf Chudlori, serta seluruh tokoh agama yang ada didaerah Kabupaten Temanggung.

IPNU Tegal

“Kita lihat dari panitia kegiatan ini saja sudah dipimpin orang Katolik, kita melihat keragaman ini harus dicontoh di daerah lainnya. Ini sangat bagus untuk dikembangkan,” papar Shinta.

IPNU Tegal

Ia juga menjelaskan tentang pentingnya puasa bagi pengendalian diri masyarakat, khususnya umat Islam. “Inti dari puasa adalah pengendalian diri untuk menghindari berbuat jahat dan selalu berbuat baik,” terangnya.

Dalam menghadapi pilpres, Shinta berharap pengendalian diri tersebut dapat diterapkan pada masing-masing individu untuk menghindari praktik kampanye hitam dan tindak kampanye yang menyalahi aturan. “Kita harus menjaga suasana kondusif. Dengan berpuasa yang baik kita dapat melakukan itu,” katanya.

Bupati Temanggung Bambang Sukarno mengatakan, pihaknya menyambut baik keragaman yang ada di Kabupaten Temanggung. Menurutnya, Pemkab Temanggung berupaya optimal untuk mengembangkan dan menjaga keragaman yang dimiliki. “Kita bersama Gusdurian telah melakukan hal yang optimal untuk itu,” tandasnya. (Zahrotien/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama, Humor Islam, Nahdlatul IPNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Pondok Pesantren dan Sanad Keilmuan Islam Nusantara

Pondok Pesantren dalam pendidikan Islam sejak zaman dahulu mempunyai peran signifikan. Belakangan ini di tengah tantangan global, sekurangnya pesantren mempunyai peran penting pada tiga hal.

Pertama, untuk pendidikan agama/akhlak (tafaqquh fiddin); kedua, penguatan agama dan bahasa Asing (modern); ketiga, persiapan kompetisi global dengan dunia Barat (Islam dan sains).?

Satu hal yang acapkali dilupakan orang tua atau wali para santri/peserta didik adalah sanad (jaringan) keilmuan dalam pendidikan (pembelajaran) Islam hingga sebuah pesantren itu masih tetap berdiri dan berlangsung. Tentu saja, hal itu hanya berlaku bagi pesantren yang berusia cukup tua.

Pondok Pesantren dan Sanad Keilmuan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pondok Pesantren dan Sanad Keilmuan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pondok Pesantren dan Sanad Keilmuan Islam Nusantara

Berkaitan dengan itu, penulis punya pengalaman menarik, yang penulis temukan pada saat ikut dalam rombongan kegiatan Anjangsana Islam Nusantara Program Pascasarjana Magister STAINU Jakarta pada 23-28 Januari 2016 di Pulau Jawa.?

Khususnya ketika silaturahim di beberapa pondok pesantren, yaitu di Kanzus Shalawat Pekalongan (Habib Luthfi), At-Taufiqy Wonopringgo Pekalongan (Kiai Taufiq), Kaliwungu Kendal (Kiai Dimyati Rois), Raudlatut Thalibin Rembang (Kiai Mustofa Bisri/Gus Mus), Al-Anwar Rembang (Kiai Maemun Zubair, Mbah Mun), Amanatul Ummah Pacet Mojokerto (Kiai Asep Saifuddin Chalim), Tebuireng (Gus Sholah) dan Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (Kiai Nadjib Abdul Qadir).

Dari pesantren-pesantren di atas, semuanya mempunyai silsilah (sanad) keilmuan yang jelas dengan ulama-ulama di Nusantara, wabil khusus keterkaitannya dengan para pendiri Nahdlatul Ulama. Tulisan tangan atau naskah kuno juga menjadi bukti lain dari sanad keilmuan tersebut.?

IPNU Tegal

Sebagai contoh salah satunya, pesantren Amanatul Ummah milik Kiai Asep Saifuddin Chalim. Sebelum mendirikan pesantren yang sangat modern dari sisi pengelolaan dan materi pendidikannya, Kiai Asep ini adalah salah satu putra Kiai Abdul Chalim Leuwimunding Majalengka, Jawa Barat, Kiai Chalim pernah nyantri dengan Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari dan berguru kepada Kiai Wahab Hasbullah.

Pesantren Amanatul Ummah adalah di antara sedikit pesantren NU yang telah mendesain sejak awal untuk menyongsong peradaban pendidikan global dengan tetap pada tradisi NU, mulai dari Aswaja hingga keindonesiaan-nya. Tradisi tahqiq (filologis) juga dikenalkan sejak dini, hampir setiap hari oleh para pengasuhnya.?

Oleh karena itu, apabila para alumninya yang telah belajar di perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti UGM, UI, UNDIP, UIN, maupun di Eropa, Amerika, Asia, Timur Tengah, dan negara-negara lain, sudah dapat dipastikan mempunyai jalur sanad keilmuana Islam Nusantara. Hal itu tidak perlu diragukan lagi.

IPNU Tegal

Sanad keilmuan melalui pesantren semacam itu sangat penting saat ini di tengah budaya pragmatisme umat yang hanya belajar melalui google tanpa mau belajar langsung dengan para kiai atau guru yang mempunyai sanad keilmuan yang tersambung dengan Nabi Muhammad SAW.?

Di situlah salah satu pentingnya memilih pesantren yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas, bukan semata-mata hanya untuk kepentingan kompetisi global, tetapi juga tafaqquh fiddin tetap dijaga.

Mahrus EL-Mawa, Wakil Ketua PP LP Maarif NU, Koordinator Diklat Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Tegal, Humor Islam IPNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Warga NU Pesepeda Ini Diliput Media India

Jakarta, IPNU Tegal?



Perjalanan Hakam Mabruri dan istrinya Rofingatul Islamiyah dengan bersepeda melewati beberapa negara, untuk menuju tanah suci Makkah, diliput media lokal India di daring dan cetak ketika berada di negara tersebut. Di berita daring, pada 26 Juni lalu, mereka dilaporkan cityliveindia.com.

Sebagaimana diketahui, dua warga NU dari Malang tersebut melakukan perjalanan darat telah 7 bulan lamanya dengan sepeda. Selepas perjalanan melalui jalur Pantura, selama sebulan, mereka tiba di Jakarta. Anggota GP Ansor Malang dan Fatayat itu sempat meminta doa restu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj sebelum berangkat.?

Warga NU Pesepeda Ini Diliput Media India (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Pesepeda Ini Diliput Media India (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Pesepeda Ini Diliput Media India

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju Sumatera, menyeberang ke Malaysia, Thailand, Myanmar, kembali ke Thailand, lalu ke India. Namun, perjalanan Thailand-India, keduanya menggunakan pesawat.

Ke India, mereka masuk melalui Calcutta. Kemudian bersepeda menuju kota Asansol, Varanasi, dan sekarang berada di Uttar Pradesh. Sebelumnya, ketika di kota Dhanbad mereka diliput media lokal. Berikut laporan media tersebut:?

“Satu pasangan Indonesia telah tiba di India dengan maksud mengalihkan perhatian dari keadaan-keadaan saat ini akibat dari fanatisme agama di dunia.?

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Pasangan ini melakukan perjalanan ke 13 negara di tahun yang sama dengan menggunakan satu sepeda. Tujuan perjalanan mereka adalah Mesir, dimulai dari Indonesia.?

Maburi dan istrinya, Ruffingul Islami, saat ini berada di Dhanbad, India dan akan meninggalkan India menuju Jordan pada bulan Agustus.?

Hakam Maburi dan Ruffingul Islami mengatakan bahwa kondisi yang tak mengenakkan telah tercipta atas nama agama-agama di dunia. Padahal agama adalah sebuah nama ? penyelamatan dari kejahatan-kejahatan, ia adalah sebuah ajaran untuk merangkul orang-orang baik. ?

Dalam pengertian ini, mengapa nama agama dibenturkan? Seluruh dunia harus memikirkan isu ini, sehingga akan terbebas dari keadaan yang tak diinginkan ini.

Dengan motivasi yang sama, mereka berdua melakukan touring ini dengan menggunakan satu sepeda.?

Ada dua pedal dalam sepeda tersebut yang menyatu, dan keduanya bisa bergerak secara bersamaan. Dia selalu bernyanyi-nyanyi di sepanjang jalan Dhanbad. Saat ditanya, negara ini sangat indah, orangnya juga baik-baik dan jalanannya bagus. Kita di sini berjalan sekitar 110km/hari dengan aman.

Sejauh ini, mereka telah melakukan perjalanan ke 10 negara. Saat ditanya apakah akan ke Pakistan, mereka tak menjawab, karena ada banyak teroris di sana, katanya.

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Sholawat IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock