Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Inilah 10 Karya Terbaik dalam Sayembara Logo Muktamar NU

Jakarta, IPNU Tegal. Ini nama peserta Sayembara Logo Muktamar NU yang masuk sepuluh besar. Muhammad Khoirul Umam dari Semarang (23 tahun), Agus Nasrudin dari Jogjakarta (20 tahun), Arif Setiarjo dari Tegal (31 tahun), Abdul Bastih dari Kudus (30 tahun), Agus Salim Toyyib dari Jakarta.

Berikutnya Ahmad Afandi dari Bantul (32), Moh Lutfhi dari Lamongan, Dodo Ardiles dari Grobogan (19 tahun), Zamzami Almakki (34 tahun), M Fadhil Ramadhani (27 tahun).

Inilah 10 Karya Terbaik dalam Sayembara Logo Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 10 Karya Terbaik dalam Sayembara Logo Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 10 Karya Terbaik dalam Sayembara Logo Muktamar NU

Dewan juri telah memilih dengan cara voting dalam rapat pleno yang dilakukan siang tadi di gedung PBNU, Kamis (5/3). Pleno langsung dipimpin oleh Ketua SC Muktamar NU dan sekaligus Ketua dewan juri H Slamet Effendi Yusuf. Anggota juri yang hadir adalah M Imam Aziz, Ilham Khoiri, Ahmad Mauladi, Savic Ali, Sadullah Affandy, dan Hamzah Sahal. Semantara itu Acep Zamzam Noor, dan Nukman Luthfie menilai karya melalui surat.

IPNU Tegal

Dewan juri menilai dalam beberapa tahap. Tahap pertama masing-masing dewan juri memilih 10 karya yang dianggap terbaik. Setelah terkumpul, panitia memilih 10 logo yang paling banyak dipilih dewan juri. 10 logo inilah yang diplenokan oleh dewan juri.

Ketua Panitia Muktamar M Imam Aziz menjamin semua proses penjurian obyektif.

IPNU Tegal

"Semua anggota dewan juri tidak mengetahui nama-nama peserta karena hingga penentuan pemenang, panitia hanya menyertakan angka dalam karya masing-masing. Panitia menjamin sayembara logo ini sangat obyektif," tegas M Imam Aziz yang juga Ketua PBNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, PonPes IPNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar

Tangerang, IPNU Tegal?



Mencegah radikalisme perlu dimulai dari kalangan pelajar. Sebab itu, Dewan Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang menggandeng Kementerian Agama Kota Tangerang untuk mencegah radikalisme di kalangan pelajar. Ini sebagai bentuk kegiatan di bulan Ramadhan?

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar

Presiden Dema STISNU Imam Khoiri menjelaskan, Kemenag harus ikut andil bersama-sama Dema STISNU dalam melakukan pencegahan bahaya radikalisme dan terorisme. "Kami (Dema) dan Kemenag sepakat terjun bersama menangkal radikalisme atas nama agama. Kita memulai dari sosialisasi di kalangan pelajar," ujarnya saat melakukan kunjungan ke Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang, Selasa (30/5).

Ia menambahkan, dema STISNU dan Kemenag sudah menyepakati beberapa poin sebagai manifesto kader mujahid untuk memberikan pemahaman pentingnya pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945.?

Kesepakatan juga berisi untuk menolak keras radikalisme atas nama agama, menolak organisasi yang ingin mengubah dasar negara, dan mendorong generasi muslim Indonesia berpikir moderat, toleran, dan penuh cinta serta kasih sayang.

IPNU Tegal

Kepala Kemenag Kota Tangerang H. Dedi Mahfudin a mengapresiasi langkah mahasiswa STISNU Nusantara. Menurutnya, radikalisme perlu ditangkal sejak dini karena pemikirian radikal dapat merusak integrasi kebangsaan.?

Sebab itu, Kemenag Kota Tangerang sangat mendukung program mencegah sejak dini bahaya pemikiran radikal di kalangan pelajar.

"Kita akan adakan kegiatan sosialisasi bersama-sama mencegah tindakan radikal di kalangan pelajar Kota Tangerang ", terangnya.

Jalinan kerjasama ini akan wujudkan pada kegiatan Gema (Gerakan Mahasiswa) Ramadhan 2017, yaitu berupa kegiatan roadshow dan sosialisasi bahaya radikalisme dan "ngaji pancasila" di 5 (lima) kelurahan Kota Tangerang selama bulan Ramadhan.?

Hadir pada acara silaturrahmi tersebut, Idrus Maulana pendiri PMII STISNU, Aflah Mumtaz Ketua Komisariat PMII, Raudhoh Amalia Pengurus Dema STISNU, dan pengurus Dema lainnya. (Suhendra/Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Habib, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Gus Dur Nasehati CEO Asia Pasifik Perjuangkan Orang Kecil

Jakarta, IPNU Tegal. Pada saat terjadi resesi ekonomi di Asia Pasifik tahun 2008, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) didaulat untuk berbicara pada pertemuan para CEO Multinational Corporate (MNC). Gus Dur menyampaikan satu hal sederhana namun sangat mengena, jangan lupa kepada orang-orang kecil karena tanpa mereka Anda tidak akan jadi orang besar.

Gus Dur Nasehati CEO Asia Pasifik Perjuangkan Orang Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Nasehati CEO Asia Pasifik Perjuangkan Orang Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Nasehati CEO Asia Pasifik Perjuangkan Orang Kecil

Demikian diceritakan Ketua Majlis Pembina NahNu Aizzuddin Abdurrahman saat berpidato pada pembukaan seminar nasional yang dihelat di lantai 8 gedung PBNU Jl Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Selasa (30/9) siang. Seminar tersebut mengusung tema “Combined Assurance pada Industri Jasa Keuangan: Upaya mewujudkan Industri Jasa Keuangan yang Sehat dan Stabil”.

Menurut Gus Aiz, panggilan akrabnya, Nahdliyin Nusantara (NahNu) diharapkan tetap istiqomah menggelar acara-acara yang mencerdaskan bangsa. “Salah satunya adalah kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengadakan seminar nasional pada hari ini,” ujarnya.

IPNU Tegal

Gus Dur, lanjut Gus Aiz, mengatakan bahwa jika kesejahteraan orang kecil tidak dijamin oleh para CEO itu, mereka bukanlah siapa-siapa.

IPNU Tegal

“Untuk konteks sekarang, isu tentang jasa keuangan ini sangat penting. Apalagi potensi NU terkait hal ini masih sangat minim dan terbatas. Oleh karenanya, diskusi ini diharapkan memberi pencerahan kepada kita semua,” harapnya.

Pantauan IPNU Tegal, acara tersebut dihadiri para Nahdliyin muda dari berbagai badan otonom semisal IPNU, IPPNU, dan Pagar Nusa yang datang atas nama pengurus cabang dari seluruh penjuru ibukota.

Seminar yang dimoderatori Wardi Taufiq tersebut menghadirkan tiga narasumber: anggota komisi XI DPR RI dari FPPP Zaini Rahman, pendiri Fine Institute Purnama Dhedhy Setyawan, dan Bayu Kariastanto, PhD.

Hingga berita ini ditayangkan, kegiatan seminar masih berlangsung khidmat dengan pemaparan para narasumber yang berkompeten. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Quote, Habib, Warta IPNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Pemerintah Siap Back-up Ansor Perang Hadapi Narkoba

Padangpariaman,IPNU Tegal?

Bupati Padangpariaman Ali Mukhni menegaskan siap memback-up di garda depan Gerakan Pemuda Ansor Padangpariaman dalam perang menghadapi penyalahgunaan narkoba yang sudah ? menghancurkan generasi bangsa Indonesia. Indonesia saat ini sudah berada pada darurat narkoba. Gerakan Pemuda Ansor terbukti terus mendengungkan perang terhadap narkoba yang merusak masa depan generasi muda bangsa.

?

Pemerintah Siap Back-up Ansor Perang Hadapi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Siap Back-up Ansor Perang Hadapi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Siap Back-up Ansor Perang Hadapi Narkoba

Penegasan itu diungkapkan Bupati Padangpariaman Ali Mukhni menjelang pembaitan dan penutupan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan Latihan Dasar Barisan Ansor Serbaguna (Diklatsar Banser), Ahad (31/5/2015) malam dinihari di INS Kayutanam.

Sebelum menyampaikan penegasan tersebut, Bupati Padangpariaman Ali Mukhni makan bersama dengan peserta PKD dan Diklatsar Banser. Makan bersama dengan ala pelatihan kader yang sudah disiapkan dan dengan menu seadanya. Bupati didampingi Wakil Ketua PW GP Ansor Sumbar Rahmat Tuanku Sulaiman, Bendahara Ansor Sumbar Armaidi Tanjung, Sekretaris Ansor Sumbar Zulhardi Z. Latif dan Ketua PC Ansor Padangpariaman Zeki Aliwardana. Bupati terlihat santai dan membaur dengan peserta PKD yang sudah mengikuti kegiatan sejak Jum’at (29/5/2015).

IPNU Tegal

?

"Penyalahgunaan narkoba merupakan kejahatan yang sengaja dilakukan untuk menghancurkan generasi muda Indonesia oleh pihak asing yang ingin menguasai negeri ini. Buktinya, hanya 9 orang pelaku pengedar/gembong narkoba yang dihukum mati ributnya bukan main. Ancaman terhadap pemerintahan Indonesia pun dilayangkan. Tapi anehnya, sudah ribuan orang yang meninggal akibat mengkonsumsi narkoba, tidak satupun diantara mereka yang meributkan itu angkat bicara. Sungguh kenyataan pahit yang harus dihadapi," kata Ali Mukhni.

?

IPNU Tegal

Kenyataan itu, kata Ali Mukhni, membuktikan bahwa narkoba memang harus dilawan, diperangi dan dijauhkan dari generasi muda, khususnya di Padangpariaman.?

"Saya bangga dan memberikan apresiasi kepada Gerakan Pemuda Ansor Padangpariaman yang sudah melaksanakan PKD dan Diklatsar ini. Mereka yang sudah mengikuti kegiatan ini, pastilah menjadi garda terdepan terhadap perang narkoba itu. Karena Ansor sudah menyatakan perang dengan narkoba itu sendiri," kata Ali Mukhni.

?

"Saya tidak menginginkan satupun generasi muda Kabupaten Padangpariaman terlibat narkoba. Untuk itu kegiatan pelatihan seperti ini yang menyatakan perang dengan narkoba harus didukung penuh," tutur Ali Mukhni yang disambut dengan mars Ansor dan mars Banser oleh peserta.?

Dari mars Ansor dan Banser tadi, kata Ali Mukhni, Ansor sangat tegas komitmennya terhadap NKRI dan agama. Sudah pasti setiap gerakan dan upaya yang menghancurkan NKRI akan dilawan.? ?

Selain itu, kata Ali Mukni, PKD dan Diklatsar ini penting dalam proses melahirkan pemimpin bangsa dan Kabupaten Padangpariaman masa depan. Seorang pemimpin tidak lahir secara tiba-tiba. Tapi pemimpin yang baik itu harus lahir dari proses yang cukup panjang sehingga matang dalam menerima amanah sebagai seorang pemimpin.?

"Peserta PKD dan Diklatsar jadilah seorang pemuda pelopor. Dimana menjadi pelopor ? di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sahabat-sahabat yang sudah ditempa selama tiga hari tiga malam full, kurang tidur, makan seadanya, diharapkan mampu berbuat untuk bangsa, agama, masyarakat Padangpariaman dan untuk diri sendiri," tutur Ali Mukhni.?

Ali Mukhni juga menyatakan, banyak pemimpin yang mengaku beragama Islam, tapi tidak peduli dengan Islam itu sendiri. Banyak pula pemimpin yang pintar, bertitel banyak, tapi juga tidak peduli dengan masyarakatnya. Seharusnya kekuasaan yang diperolehnya untuk membela agama dan NKRI. Tapi justru menghancurkan agama sendiri dan merongrong NKRI.?

"Di Kabupaten Padangpariaman hampir tiada hari tanpa kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Ini menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap berbagai kegiatan keagamaan. Hal ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan hendaknya di masa mendatang," kata Ali Mukhni yang juga Mustasyar Nahdlatul Ulama Padangpariaman ini.

?

Pentingnya kegiatan semacam ini, kata Ali Mukhni, Ansor Padangpariaman diminta untuk terus melakukan secara berkala. Minimal 2 kali setahun perlu diadakan. Terkait biaya pelaksanaan, tidak perlu ragu, pasti bisa diatasi.?

Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Zeki Aliwardana menyebutkan, PKD merupakan yang kedua kali diselenggarakan di Padangpariaman. Sedangkan Diklatsar Banser yang pertama di Padangpariaman. PKD diberikan instruktur nasional KH Abdul Khalim Anwar (PP GP Ansor), Rusli Intan Sati dan Armaidi Tanjung (PW GP Ansor Sumbar), ? serta instruktur PW. Ansor Sumbar Rahmat Tuanku Sulaiman. Sedangkan instruktur Diklatsar Banser Hafnizon, dari Kodim 0308 Pariaman, Polres Padangpariaman dan Polres Kota Pariaman. PKD dan Diklatsar Banser dibuka Ketua PW GP Ansor Sumbar Rusli Intan Sati, Jumat 29/5/2015).?

"PKD dan Diklatsar Banser ini diikuti utusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan di Padangpariaman dan beberapa orang dari kabupaten lain. Usai lebaran, Ansor Padangpariaman kembali mengadakan PKD dan Diklatsar Banser karena mendapat sambutan dari peserta. Masing-masing peserta sudah bertekad untuk menyelenggarakan kegiatan ini dengan melibatkan generasi muda di lingkungan masing-masing," kata Zeki Aliwardana mantan Wakil Ketua PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman ini.

Dukungan terhadap kegiatan PKD dan Diklatsar Banser ini tidak hanya dari Bupati Padangpariaman, tapi juga dari Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim, Wakil Bupati Padangpariaman Damsuar, Ketua Baznas Kabupaten Padangpariaman Suhatri Bur, Dandim 0308 Pariaman, Kapolres Padangpariaman, Kapolres Kota Pariaman, PC Nahdlatul Ulama dan pihak lainnya. Ini menunjukkan Gerakan Pemuda Ansor di Padangpariaman ditunggu masyarakat untuk turut menyelamatkan generasi muda Padangpariaman masa depan.

?

Menurut Zeki, Diklatsar Banser merupakan pelatihan dasar yang diikuti Banser Ansor. Dari Diklatsar ini kita berharap akan muncul generasi muda Padangpariaman yang memiliki jiwa nasionalisme, kebangsaan dan tangguh dalam menghadapi tantangan yang muncul di tengah masyarakat. Terutama terkait dengan ancam gangguan keamanan ketertiban masyarakat baik yang datang dari dalam masyarakat Padangpariaman sendiri, maupun dari luar Padangpariaman.

"Banser Ansor di Padangpariaman mulai memahami betapa pentingnya menjaga dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari serangan dan ancaman pihak luar. Khususnya jaringan transnasional yang belakangan jadi sorotan, misalnya paham dan rekrut simpatisan ISIS di daerah Kabupaten Padangpariaman," tambah Zeki. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Internasional, News IPNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Inilah Bunyi Ikrar Kesetiaan Pagar Nusa kepada NKRI

Semarang, IPNU Tegal. Sedikitnya 3000 pesilat mengikuti apel akbar Pagar Nusa di di lapangan Simpang Lima Semarang, Jawa Tengah, Ahad (29/3). Dalam acara itu, mereka mengucapkan ikrar kesetiaan kepada Negara Kesatuan Repuiblik Indonesia (NKRI).

Diawali dengan takbir tiga kali, ikrar itu dibaca Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali secara sepotong-potong, kemudian diikuti semua peserta apel. Berikut bunyi teks ikrar kesetiaan Pagar Nusa dengan disaksikan ratusan tamu undangan.

Inilah Bunyi Ikrar Kesetiaan Pagar Nusa kepada NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Bunyi Ikrar Kesetiaan Pagar Nusa kepada NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Bunyi Ikrar Kesetiaan Pagar Nusa kepada NKRI

 

Bismillahirrahmanirrahim

Asyhadu alla ilaaha illa-Llah, wa asyhadu anna muhammadar rasululuLlah, radlitu billahi rabba.

IPNU Tegal

Kami keluarga besar Pencak Silat Pagar Nusa seluruh Indonesia, berikrar:

IPNU Tegal

Pertama, menjaga ukhuwah diniyyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah, untuk keberlangsungan dakwah islamiyah ala Ahlussunnah wal Jamaah, demi keutuhan NKRI dan kedamaian umat manusia.

Dua, mengawal perjuangan NU, kiai dan pesantren dalam menjaga ideologi, amalan, dan tradisi Aswaja, dari gempuran atau ajaran radikalisme.

Tiga, senantiasa meningkatkan keimanan, memperkokoh kebangsaan, serta menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Usai ikrar, H. Asad menyampaikan tausiyah kepada pesilat Pagar Nusa. Ia mengajak Pagar Nusa meneruskan perjuangan para wali dan ulama yang telah melahirkan Nahdlatul Ulama. Saat ini, katanya, NU telah menjadi tulang punggung bangsa Indonesia.

 

Asad juga menegaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan perwujudan ayat Al-Quran yang berbunyi wama arsalnaaka illa rahmatallil alamin. "Islam itu rahmat untuk semesta alam, bukam Islam berdarah-berdarah. Bukan pula Islam yang membunuh orang tanpa alasan tetapi Islam yang penuh kasih sayang," tandasnya.

Di akhir tausiyahnya, Asad mempertegas komitmen Pagar Nusa bahwa NKRI harga Mati. "Kalau saya tanya siapa kita, jawab NU. Siapa kita, Pagar Nusa. NKRI harga mati, Pancasila Jaya," katanya penuh semangat. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib IPNU Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Turba, PCNU Semarang Terbitkan Majalah NU “Lentera 26”

Semarang, IPNU Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Semarang menyosialisasikan penerbitan majalah Lentera 26 dan pembuatan Kartanu di sejumlah kecataman di Semarang. Mereka membuka ruang dialog dengan warga NU Semarang melalui majalah ini untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan warga perihal agama, kebangsaan, pengembangan SDM, termasuk kesehatan.

Turba, PCNU Semarang Terbitkan Majalah NU “Lentera 26” (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba, PCNU Semarang Terbitkan Majalah NU “Lentera 26” (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba, PCNU Semarang Terbitkan Majalah NU “Lentera 26”

“Kita tengah mempersiapkan peluncuran majalah NU “Lentera 26”. Lentera 26 diharapkan menjadi media informasi bagi warga NU di kabupaten Semarang khususnya, dan warga Jawa Tengah umumnya,” kata Ketua PCNU Semarang H Ahmad Hanik di balai Islam Gedung MWCNU Ambarawa kabupaten Semarang, Ahad (21/9).

Untuk Kartanu, pihak PCNU menggandeng sejumlah pihak di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dengan kerja sama ini, pemegang Kartanu berkesempatan menerima fasilitas kesehatan di rumah sakit negeri atau swasta terutama dalam hal keringanan biaya.

IPNU Tegal

“Dengan semua itu, kita berharap NU menjadi pioner terdepan dalam menciptakan masyarakat yang adil, beradab dan berkemajuan. Karenanya, kita akan bekerja keras mewujudkan semua itu dalam program kerja yang ditransformasikan melalui kerja lembaga-lembaga yang kita punya,” tandas H Hanik. (Suharsini Buhar/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Pahlawan IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Ratusan Santri Yafata Ikuti Silat Pagar Nusa

Subang, IPNU Tegal. Bakda Ashar, tiap Jumat di Pesantren Yafata Desa Marengmang, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat lebih dari seratus santri mengikuti latihan silat yang diselenggarakan atas kerjasama Pesantren Yafata dengan Pengurus Cabang Pagar Nusa Kabupaten Subang.

Ratusan Santri Yafata Ikuti Silat Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Yafata Ikuti Silat Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Yafata Ikuti Silat Pagar Nusa

Dari Pantauan IPNU Tegal pada hari Jumat (25/1) kemarin para peserta terlihat antusias mengikuti latihan silat tersebut. Menurut pengakuan ketua peserta latihan, Deden Muhammad Fauzi Ridwan (17) mengatakan bahwa santri Pesantren Yafata memang selalu semangat dalam mengikuti kegiatan mingguan ini.

“Kita baru mulai beberapa minggu yang lalu, jadi baru belajar kurang lebih dua jurus,” ujar Siswa kelas XII MA Yafata tersebut.

IPNU Tegal

Lebih lanjut ketua IPNU Kecamatan Kalijati ini menambahkan bahwa selain sebagai ajang olah raga, latihan silat ini juga dijadikan sebagai media dalam pengembangan minat dan bakat para santri di Pesantren Yafata.

IPNU Tegal

Di tempat yang sama, Ketua Pagar Nusa Kabupaten Subang, Totoh Bustanul Arifin (30) menyampaikan tujuan diadakannya latihan silat ini adalah untuk menambah pengetahuan dan keterampilan para santri.

“Ingin mengembangkan pengetahuan dan kretifitas para santri, santri kan kalau ngaji sudah biasa, nah kita ingin mereka dibekali juga dengan pengetahuan bela diri,” paparnya.

Selain itu, latihan silat ini juga merupakan salah satu program Pagar Nusa Kabupaten Subang di tahun 2013 yang ingin mencetak 1000 pesilat di Kabupaten Subang.

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Habib, Kajian IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Jakarta, IPNU Tegal



Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, menyebut Indonesia bisa dijadikan teladan sekaligus rujukan dalam memahami kebinnekaan. Sebagai negara multikultur dan multiagama, NKRI patut dicontoh Jepang.

“Karena itu mereka berpikir bahwa Indonesia adalah salah satu model bagi Jepang juga untuk menerima seseorang atau sesuatu yang berbeda,” ujar Kato kepada IPNU Tegal usai berdiskusi tentang agama bersama sejumlah pejabat teras Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Senin (14/8).

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Menurut  Kato, Indonesia sudah sejak lama terbiasa menerima orang yang berbeda-beda. “Sikap orang Bali, orang Padang, orang Jawa, orang Sunda (yang bisa menerima orang lain) itu sangat penting bagi kami,” tandasnya. 

Ditanya tentang perbedaan perspektif dalam memandang agama, Kato membenarkan hal tersebut sekaligus menyayangkannya. Pada saat ini, di Jepang, agama Islam tidak begitu dihargai dan dipahami dengan baik. Karena ada banyak stereotipe dan salah paham terhadap Islam.

IPNU Tegal

“Karena itu, saya kira anak muda seperti mereka ingin belajar banyak dan berminat belajar secara langsung ke sini, berkomunikasi dengan bapak-ibu di sini. Mereka juga akan home stay juga dengan mahasiswa di UNAS. Saya kira mereka nanti akan memiliki pengalaman luar biasa untuk memahami Indonesia dan agama Islam secara lebih mendalam,” harapnya.

Dalam diskusi, Prof Kato mengatakan pihaknya kembali membawa para mahasiswa program studi Kebijakan Publik untuk studi banding tentang kebijakan terhadap agama di lembaga riset plat merah ini. Sebagian di antara mereka ikut serta dalam kunjungan pertama setahun silam.

IPNU Tegal

“Selain itu, kami ingin lebih mengenal Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Bagi kami, negara ini menjadi teladan dan rujukan dalam membangun peradaban dan menghargai perbedaan,” ujar Kato.

Selain belajar mengenai mengenai kebijakan, ia bersama 23 mahasiswanya hendak berkunjung ke SMA, ke sejumlah yayasan yang aktivitasnya mengenai agama seperti ICRP dan sejumlah perusahaan juga dan di beberapa tempatnya. “Kami akan belajar tentang Pancasila,” ujarnya.

Rombongan mahasiswa dari Universitas Chuo Jepang ini disambut langsung oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud. Turut mendampingi, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Amsal Bachtiar dan sejumlah peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Fragmen, Habib IPNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis

Cirebon, IPNU Tegal - Rais Aam PBNU KH Maruf Amin kembali menegaskan tanggung jawab ulama dalam himayatu daulah atau menjaga NKRI dari rongrongan kelompok radikal.

"Ulama bertanggung jawab menjaga umat dan melayani umat. Ulama juga bertanggung jawab dalam menjaga negeri ini. Karena ulama juga turut berperan dalam mendirikan NKRI, maka wajib hukumnya ulama menjaga keutuhan NKRI," kata Kiai Maruf dalam Halaqah Alim Ulama dan Kiai Pesantrem se Wilayah III Cirebon, Sabtu (6/5/2017) di Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon.

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis

Ia juga mengungkapkan, saat ini, ada kelompok yang ingin memperjuangkan Islam, tanpa memperhatikan realitas kebangsaan dan memaksakan kehendak. Ada juga kelompok yang melakukan delegitimasi agama.

IPNU Tegal

"Dua kubu ini sekarang menguat. NU yang cara berpikirnya moderat, harus bisa melunakkan, mengendalikan dua kubu ini. Kita harus mencegah gejala-gejala yang bisa menimbulkan konflik ini," tandasnya.

Ia mengimbau agar para kiai lebih peka dalam mendidik umat dan memperjuangkan kemaslahatan umat Islam, ulama harus memperhatikan konstitusi, kebinekaan, dan toleransi. "Kita bukan tidak  berjuang untuk Islam, kita berjuang dengan cara konstitusional dan demokratis," imbuhnya.

Pelayanan terhadap umat, kata Kiai Maruf, juga dilakukan dalam bentuk menjaga kerukunan umat. "Berikutnya kita perlu melakukan islahul umat dan khidmatul umat (perbaikan dan pengahbdian kepada umat). Kita melakukann perbaikan-perbaikan. Sekarang ini adalah momentum yang sangat baik. Baru-baru ini kita mengadakan kongres ekonomi umat. Kita gerakkan ekonomi umat. Mendorong umat untuk mandiri. Bila perlu berkonstribusi kepada bangsa," paparnya.

IPNU Tegal

Hal senada diungkap Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. Khidmah kiai NU terhadap umat, menurutnya, telah dilakukan dalam bentuk pelayanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

"Dalam kondisi situasi bangsa yang sedang mengalami pancaroba ini, kita perlu mengingat kembali manqobah dan uswah atau teladan yang diajarkan para ulama lampau. Saat ini kita harus mulai mengoreksi diri menjelang satu abad NU ini, apa yang  bisa kita sumbangkan untuk NU dan bangsa ini," ungkapnya.

Halaqah yang dihadiri ratusan ulama se Wilayah III Cirebon itu juga menghasilkan sejumlah usulan strategis untuk memaksimalkan sinergi gerakan Jamiyah Nahdlatul Ulama. (Malik Mughni/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Ubudiyah, Habib IPNU Tegal

Kamis, 09 November 2017

Haramkan Sekolah Belanda, Hadhratus Syekh Diangkat Pahlawan Nasional

Jakarta, IPNU Tegal. Ketika Belanda menyediakan fasilitas pendidikan dengan sistem sekolah, Hadhratus Syekh KHM Hasyim Asy‘ari yang mewakili kalangan NU dan pesantren mengharamkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Bagi Hadhratus Syekh, umat Islam dalam menang maupun kalah wajib melawan kolonial. Tidak ada kata menyerah.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Agus Sunyoto di gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (27/11) petang.

Haramkan Sekolah Belanda, Hadhratus Syekh Diangkat Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Haramkan Sekolah Belanda, Hadhratus Syekh Diangkat Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Haramkan Sekolah Belanda, Hadhratus Syekh Diangkat Pahlawan Nasional

Fatwa ini menjadi salah satu alasan pemerintah RI mengangkat KH Hasyim sebagai Pahlawan Nasional, tegas Agus Sunyoto.

IPNU Tegal

Dasar fatwa itu, ungkap Agus, sederhana sekali; tasyabbuh bil kafirin. Sebuah hadis menyatakan, man tasyabbaha bi qaumin fa hua minhum. Tentu fatwa ini efektif terhadap umat Islam. Karena, mereka tidak mau digolongkan ke dalam barisan orang kafir hanya karena meniru cara belajar dan hidupnya orang Belanda.

Agus menjelaskan kekalahan semua elemen pergerakan di Indonesia saat itu. Tetapi meskipun kalah, hanya kelompok NU dan pesantren yang pantang untuk menundukkan kepala kepada kolonial. KH Hasyim Asy‘ari membuktikan perlawanannya dengan fatwa itu.

IPNU Tegal

Fatwa Hadhratus Syekh ini tentu saja menakutkan Belanda. Belanda menilai fatwa KH Hasyim dapat menggagalkan agenda politik jangka panjang kolonial. Kebijakan sekolah merupakan politik Belanda untuk mencetak calon pegawai kolonial dengan gaji rendah selain penyeragaman cara berpikir model Barat. Cara berpikir model Barat itu pada gilirannya melemahkan pergerakan kemerdekaan, tambah Agus Sunyoto.

“Penjajahan bagi kalangan pesantren ialah penundukkan pikiran,” tegas Agus Sunyoto.

Dengan demikian, KH Hasyim membuktikan kalangan pesantren tidak pernah dijajah Belanda. Karena, kalangan pesantren memilih sendiri cara berpikirnya yang khas di luar ketentuan yang dikehendaki Belanda melalui sekolah-sekolah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Pendidikan, Olahraga IPNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo

Jepara, IPNU Tegal. Ratusan pelajar NU Blimbingrejo kecamatan Nalumsari, Jepara mengamanahkan Ridho Maulana dan Bela Santika sebagai ketua IPNU-IPPNU Blimbingrejo periode 2015-2016 di MI NU Al-Ma’arif, Senin (16/2) malam. Keduanya berencana membuat program-program sesuai kebutuhan masyarakat khususnya pelajar setempat.

Ketua IPNU Nalumsari Lukman Hakim mendukung kepengurusan baru agar ke depan menjadi lebih baik.

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo

"Selamat dan sukses kepada rekan Ridho dan Bella, semoga dapat membawa kepengurusan IPNU-IPPNU Blimbingrejo ke depan semakin baik" ujarnya.

IPNU Tegal

Sementara itu Ridho mengatakan, pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kepengurusan yang baru ini dengan merancang program-program yang dapat bermanfaat.

IPNU Tegal

"Kami akan merancang program-program yang sifatnya dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan juga kepada pengurus maupun anggota," ujarnya.

Ia berharap kepengurusan nanti bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

"Semoga dengan pergantian kepengurusan ini menjadikan IPNU-IPPNU lebih baik dan juga bisa menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab" tambahnya. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Ahlussunnah, Ulama IPNU Tegal

Jumat, 03 November 2017

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Jember, IPNU Tegal - Kalau mau menjadi anggota NU, niatilah? untuk? mencari ridlo Allah. Jangan berniat? mencari? sesuatu selain itu. Sebab, ketika berniat mencari sesuatu, pasti tidak akan didapat.? Hal tersebut dikemukakan Ketua PCNU Jember, KH Abdulah Syamsul Arifin dalam sebuah acara? pengajian Aswaja di Kaliwates,? belum lama ini.

Menurutnya, jika berniat mencari keuntungan duniawi lewat NU, biasanya tidak akan pernah tercapai. Sebab, NU bukan lembaga profit. "Tapi jangan khawatir jika bekerja untuk NU dengan ikhlas, keuntungan dunia pasti mengikuti. Itu namnya barokah. Ini fakta," terang Gus Aab, sapaan akrabnya Rabu (31/8).

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Ia lalu menceritakan sisi barokah NU yang dia rasakan sebagai Ketua NU. Dikatakannya, dalam menghadiri undangan apa pun yang atas nama NU, ia mengaku tak pernah menggunakan kas NU, tapi uang pribadi.

Namun, lanjutnya, uang tersebut pasti diganti oleh Allah di tempat lain dengan cara yang lain pula. "Saya misalnya diundang ke kantor PWNU Jawa Timur, saya pakai uang sendiri untuk ongkos,? tapi pulangnya insyaallah saya dapat lebih banyak dari ongkos yang saya keluarkan, karena saya masih mampir di sekian tempat untuk mengisi pengajian," tukasnya sambil tersenyum.

IPNU Tegal

Dekan Fakultas Tarbiyah? IAIN Jember itu lalu menyinggung kata-kata bijak yang sering diucapkan almarhum KH Muchit Muzadi terhadap pengurus NU. Katanya, kalau masuk atau menjadi pengurus NU, jangan berkata ingin membesarkan NU. NU tidak perlu dibesarkan. Sebab,? NU sudah besar.

"Yang penting? kita masuk NU, niat? dandani awak. Ingin membenahi diri. Karena di NU kita berkumpul dengan ulama dan orang? saleh. Itu? kata Kiai Muchit.? Jadi, dengan masuk NU, niat utama kita memperbaiki diri dulu.? Lebih dari itu, NU menjadi kontrol sosial bagi kita. Kita jadi malu untuk berbuat yang tidak-tidak, apalagi pengurus," terangnya. (aryudi a razak/ abdullah alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Quote, Meme Islam IPNU Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah

Purwakarta, IPNU Tegal. Momentum tahun baru 1437 H dimanfaatkan oleh para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Puteri NU (IPNU-IPPNU) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat untuk berhijrah.

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah

Menurut Ketua Pengurus Cabang IPNU Purwakarta, Adi Setiawan, berhijrah ini dilakukan untuk kemajuan intelektual dan kematangan kader IPNU Purwakarta sebagai generasi Nahdlatul Ulama di masa yang akan datang.

"Sebetulnya masih banyak kekurangan yang mesti kita benahi dengan seluruh jajaran pengurus Banom NU. Ini yang menyebabkan ada istilah Jamaah is OK Jamiyah is DoyOK, ? ini juga adalah tanggung jawab bersama untuk sama-sama membenahi organisasi ini," papar Adi usai mengikuti diskusi peringatan dan refleksi Tahun Baru 1437 H di Kantor PCNU Purwakarta, Selasa (13/10)

IPNU Tegal

Diantara kekurangan tersebut, kata dia, tidak diajarkan doktrinisasi keaswajaan dan dalil-dalil tradisi amaliah Ke-NU-an secara luas ke basis akar rumput NU, tidak diajarkan cara merekrut dan merawat kader yang baik, kurang diperhatikannya cara berpakaian yang baik dan rapi dan juga perawatan kader atau alumni IPNU-IPPNU kurang begitu diperhatikan.

Untuk itu, kata dia, IPNU IPPNU Purwakarta mengambil keputusan untuk berhijrah dengan cara menguatkan pemahaman keaswajaan dan ke-NU-an dengan mendalam disertai dengan dalil dan logika yang jelas dalam berargumen.

IPNU Tegal

"Kedua, berhijrah untuk penarikan dan perawatan kader IPNU dengan cara yang berkualitas dan berkuantitas," katanya

Ditambahkannya, ada hal yang menjadi PR berat bagi pengurus IPNU dan IPPNU ke depan, yaitu berjuang dengan Kerja keras dan Kerja Cerdas.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Saparudin, MM.Pd (Wakil Sekretaris PCNU Purwakarta), KH. Anwar Nasihin (Ketua GP Ansor Purwakarta), Nunung Nurjanah (Ketua PW IPPNU Jawa Barat) dan para aktifis PC IPNU-IPPNU Purwakarta.

Selain diskusi, dalam peringatan tahun baru 1 Muharam 1437 H ini, para pelajar NU bersama Keluarga Besar NU Purwakarta mengadakan berbagai kegiatan lain, yaitu Pawai Obor Pelajar, Istigotsah, doa bersama dan Shalat Tasbih. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Hadits, Habib IPNU Tegal

Minggu, 24 September 2017

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global

Surabaya, IPNU Tegal - Sejumlah pimpinan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di Jawa Timur kembali berkonsolidasi dalam rangka peneguhan eksistensi sekaligus memaparkan komitmennya dalam menciptakan kualitas perguruan tinggi di kancah regional dan global.

Forum dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU) Jawa Timur, Selasa (20/9), di aula Salsabila Gedung PWNU Jawa Timur, Jalan Masjid Akbar Timur 9 Surabaya.

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi NU Kuatkan Komitmen Bisa Tersertifikasi secara Global

Hadir dalam diskusi ini para pimpinan dan dosen PTNU Jawa Timur, PWLPTNU Jawa Timur serta perwakilan Jurusan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang baru saja divisitasi oleh Asesor AUN-QA (ASEAN University Network – Quality Assurance).

IPNU Tegal

AUN-QA adalah program sertifikasi penjaminan mutu skala global yang digagas oleh asosiasi perguruan tinggi. AUN sendiri berkantor pusat di Thailand, dengan anggota perguruan tinggi dan asesor dari berbagai kampus di negara-negara ASEAN.

IPNU Tegal

“Di dunia ini, setidaknya ada tiga ‘madzhab’ atau aliran dalam akreditasi perguruan tinggi, yang pertama Dublin Accord; kedua, Washington Accord; dan ketiga, Sidney Accord,” kata Ketua Jurusan Teknik Elektro ITS Dr. Ardyono Priadi mengawali diskusi.

Dublin Accord adalah sertifikasi perguruan tinggi yang banyak bergerak pada bidang vokasi, Washington Accord menekankan bagaimana capaian lulusan pembelajaran (learning outcomes) dari lembaga pendidikan tinggi, sedangkan Sidney Accord lebih pada bagaimana kompetensi dari lulusannya.

“Di Indonesia tampaknya ada pergeseran dari madzhab kompetensi ke madzhab learning outcomes,” papar Ardyono.

Sebagaimana diketahui, beberapa dekade terakhir di era global ini perguruan tinggi dunia memacu diri dengan membuat sistem penjaminan mutu tata kelola dan hasilnya. Sebut saja ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology), perkumpulan perguruan tinggi Islam dunia (ISESCO/Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization), hingga ASEAN University Network ini.

Pada penilaian sertifikasi AUN-QA, ada 15 kriteria penilaian yaitu: Expected learning outcomes, programm specification, programm structure and content, teaching and learning strategy, student assessment,? academic staff quality, support staff quality, student quality, student advice and support, facilities and infrastructure, quality assurance of teaching and learning process, staff development activities, stakeholders feedback, output dan stakeholders satisfaction.

Menurut Setiyo Gunawan, Sekjur Teknil Kimia ITS, para asesor AUN-QA cukup detail dalam memverifikasi bukti-bukti fisik dari proses-proses yang sudah dikerjakan, mulai dari proses penyusunan kurikulum, proses pembelajaran, hingga umpan balik para pemangku kepentingan dan pengguna lulusan.

Dekan Fakultas Teknologi Informasi ITS Agus Zainal Arifin yang turut hadir dalam diskusi ini menambahkan, sertifikasi AUN-QA memang lebih mengkroscek dari segi proses. Dengan proses yang bermutu maka tentu akan menghasilkan output yang bermutu pula.

Yusuf Amrozi, sekretaris LPTNU Jawa Timur mengatakan, bukan tidak mungkin PTNU di Indonesia tersertifikasi secara global. Tinggal bagaimana PTNU kita ini memacu komitmen masing-masing untuk menumbuhkan budaya mutu. Sehingga jika budaya mutu telah terbentuk, maka tinggal mengikuti template yang diminta oleh lembaga akreditasi atau sertifikasi internasional tersebut. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hadits, Habib IPNU Tegal

Rabu, 05 Juli 2017

IPNU-IPPNU Bandung Gelar Makesta Raya dan Maulid

Bandung, IPNU Tegal. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kota Bandung mengelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad di Pesantren Al-Munawwaroh, Gede Bage, Bandung, pada Sabtu (26/01) lalu.

Makesta yang diikuti ratusan pelajar putra-putra NU dari 30 kecamatan se-Kota Bandung tersebut bertema “Optimalisasi Proses Kaderisasi Menuju Keberlangsungan Organisasi yang Lebih Baik”.

IPNU-IPPNU Bandung Gelar Makesta Raya dan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bandung Gelar Makesta Raya dan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bandung Gelar Makesta Raya dan Maulid

Kegiatan tersebut diawali dengan pembacaan Al-Barzanji, dilanjutkan dengan semarak marawis anggota IPNU bernama “Al Anshar”. Lalu tabligh akbar dengan penceramah Ajengan Muhammad Nurdin, alumni Pesantren Al Munawwaroh.

IPNU Tegal

Makesta Raya tersebut dibuka Ketua PCNU Kota Bandung, KH MaftuhKhalil. Dalam taushiyahnya ia berpesan agar para kader IPNU-IPPNUtetap bersemangat memajukan negara Indonesia dibawah panji IPNU danIPPNU.

Selepas resepsi pembukaan, peserta dibekali materi-materi ke-NU-an, ke-IPNU-IPPNU-an, keorganisasian, dan kepemimpinan.

IPNU Tegal

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kota Bandung, Fajar Nugraha mengatakan bahwa Makesta Raya ini merupakan gerbang awal para kader memasuki ranah IPNU dan IPPNU dan sejatinya kepada NU sendiri.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Daerah IPNU Tegal

Minggu, 08 Januari 2017

Haul Mualif Simtudduror Digelar di Masjid Riyadh Solo

Solo, IPNU Tegal. Haul mualif (pengarang) Simtuddurar Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi digelar di Kompleks Masjid Riyadh Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah. Di sekitar masjid ramai didatangi para pedagang dan tamu dari berbagai daerah.

Haul Mualif Simtudduror Digelar di Masjid Riyadh Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mualif Simtudduror Digelar di Masjid Riyadh Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mualif Simtudduror Digelar di Masjid Riyadh Solo

Kepada IPNU Tegal, KH Ahmad Baidlowi, yang ikut mengurusi acara haul menuturkan, semarak haul sudah mulai dibuka Senin (17/2) lalu. "Acara selama tiga hari ini (Senin-Rabu), sudah dimulai dengan khataman Al-Quran," terang kiai yang juga Rais Syuriah PCNU kabupaten Sukoharjo.

Baidlowi menambahkan, puncak acara akan dilaksanakan pada kamis (20/2) pagi, dengan acara pengajian dan pembacaan manaqib Habib Ali.

IPNU Tegal

Pada malam harinya juga bagi yang tertarik, dapat mengikuti acara santai, yakni penampilan seni musik gambus dan tari zapin, bersama Grup Gambus Segaf As-Segaf.

Esok harinya, pembacaan Kitab Maulid Simtuddurar akan menandai ditutupnya rangkaian acara haul pada tahun ini. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Pertandingan, Jadwal Kajian IPNU Tegal

Selasa, 27 Desember 2016

Harakah Tiga Huruf

Oleh Gatot Arifianto

Tanpa harakah (gerakan), suatu kelompok atau bahkan negara hanya akan jadi monumen, kenangan yang menceritakan sejarah belaka. Sesekali dikunjungi, tanpa ada perubahan signifikan, pasif, tanpa upaya mencapai tujuan. Tapi republik pemilik mayoritas umat Islam di dunia ini beruntung, sangat malah. Salah satu membuat keberuntungan tersebut terjadi karena tiga huruf terangkai dalam satu kata sederhana: mau.

Harakah Tiga Huruf (Sumber Gambar : Nu Online)
Harakah Tiga Huruf (Sumber Gambar : Nu Online)

Harakah Tiga Huruf

Berbicara tentang mau, Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki basis pondok pesantren pencetak santri adalah referensi tak bisa dikesampingkan. ? NU sebagai organisasi massa, dari terbentuknya hingga kini, mau konsisten meyakini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Harga Mati. Bahkan jauh sebelum bernama NU (1926), tiga cikal bakal organisasi tersebut, yakni Nahdlatul Wathan (1914), Tashwirul Afkar dan Nahdlatut Tujjar (1918) sudah memiliki mau, mendorong negeri ini bergerak dari berbagai lini.?

Para santri yang berangkat sepuh dan menjadi ulama, cukut ti hanuwang, ema penuh di banca, (Kaki diobati dengan tanduk anoa, lidah penuh doa-doa, Peribahasa ini sering dijadikan pujian bagi ? orang yang pintar membuat rencana, pandai bicara, dan tepat dalam mengambil keputusan) mau memikirkan kebangkitan berbangsa dan bernegara yang merdeka, bebas dari pengaruh penjajahan dengan mendirikan Nahdlatul Wathan. Mereka juga mau dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan berkembang dengan mendirikan Tashwirul Afkar. Lantas untuk pengembangan ekonomi ummat, mereka juga mau mendirikan Nahdlatut Tujjar.?

Berbakti dengan bukti

Indonesia disepakati sebagai negara yang berdiri di atas kontruksi keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. ? Sejauh mana santri berperan atas terjaganya hal tersebut? Termasuk ketika penyakit bernama korupsi, yang menurut Gus Mus dalam sajak Tikus: memanen tanpa menanam/merompak tanpa jejak//kabur tanpa buntut/bau tanpa kentut, menggerogoti negeri ini. Apa ikhtiar para santri?

IPNU Tegal

Harakah adalah pembuktian, bahwa kata meski jadi fakta, bahwa gagasan meski jadi tindakan. Halaqah Pesantren Anti Korupsi diprakarsai Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) bersama Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian di Yogyakarta menjelang Muktamar NU ke 33 di Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menyikapi kejahatan luar biasa tersebut secara eksternal, namun juga internal bagi kalangan pesantren dengan membentuk Laskar Santri Anti Korupsi sebagai pagar.

Jauh sebelum itu, kegeraman terhadap extra ordinary crime bernama korupsi juga sudah ditabuh. Musyawarah Nasional NU di Pondok Gede, 2002, menelurkan fatwa tidak perlu mensalati jenazah koruptor. Kamis 23 Juni 2016, santri pesantren Al Mukti, Kudus, Jawa Tengah, Rumadi Ahmad dan kawan-kawan juga meluncurkan buku “Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi”. Tidakkah harakah-harakah tersebut penegasan tiada tanda titik bagi santri mencintai Indonesia?

Tapi tanpa mau, mungkinkah harakah tersebut terjadi? Mau adalah kata kunci sesuatu terjadi. Mau adalah upaya mewujudkan angan dan ingin tak sekedar jadi wacana. Mau adalah tekad, motivasi penyala nyali, ghirah (semangat) yang mengajarkan untuk berupaya menjadi mampu. Bukankah mampu belum tentu memantik mau?

Mau ikhlas, mau berkorban, mau berkhidmat, mau bergerak adalah sederetan karakter dimiliki santri. Generasi bangsa yang diasah di ruang pendidikan bernama pesantren, tempat yang membuat garis bawah, orang jadi besar karena pemikiran dan perbuatan bestari, bukan karena perut.?

IPNU Tegal

Andai santri tak mau ikhlas, berapa Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) terserap? Andai santri tak mau berkorban, berapa beban meski ditanggung negara? Andai santri tak mau berkhidmat, bagaimana Indonesia hari ini? Andai santri tak mau bergerak, berapa gelintir yang mau menjaga konstitusi?

Beragam peran santri yang seringkali diidentikan dengan “pendapatnya jelas tapi pendapatannya tak jelas”, adalah harakah tegas. Pondok pesantren terus mau membangun sumber daya manusia atau santri melalui pendidikan strategis, sejalan dengan QS An-Nahl ayat 125: “Serulah manusia dengan jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik,” berkembang, tanpa menanggalkan Islam Rahmatan Lil ’Alamin. Satu hal terbukti maslahat bagi bangsa Indonesia hingga kini.

Kendati berakhir sebagai kiai mushola, bukan pejabat negara, nasionalisme para santri, alumni ribuan pesantren tak pernah pudar. ? Adakah pengajian di tingkat desa yang mereka kelola dan helat mengajak masyarakat makar? Tidak mengakui Indonesia dan menolak Pancasila?Itulah akar kekar, bukti bakti diberikan santri untuk keberlangsungan Indonesia. Negara yang hari ini digerogoti kelompok penghendak khilafah dengan menebar benci terhadap konstitusi. Tidakkah itu sumbangsih pembangunan non fisik atau ideologi yang penting bagi Republik Indonesia? Relevan dengan pernyataan Multatuli (Douwes Dekker) puluhan tahun silam: "Kalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan."

Salah satu bukti sebagaimana pernyataan Multatuli ialah peristiwa 22 Oktober 1945, yang mulai 2015 ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Ketika itu, Rais Akbar NU Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ary bersama perwakilan cabang NU se-Jawa dan Madura mendeklarasikan Resolusi Jihad untuk mengusir pasukan Inggris yang hendak merebut kembali wilayah Indonesia dan memicu pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Adakah itu ilusi? Jika iya, santri yang turut serta bertempur menjaga kemerdekaan Indonesia adalah dusta para kiai, fiksi yang dipublikasikan dan mengingkari kebenaran. Sehingga pertempuran paling nekat dan paling destruktif menurut William H Frederick (1989), ? hanyalah kisah palsu yang terkesan jadi kisah nyata. Tapi fakta mencatat itu sebagai sejarah. Dan itu merupakan tanda seru, bahwa santri memang ada untuk Indonesia.

Saat Sukarno 1 Juni 1945 menyodorkan gagasan Pancasila, tidak serta merta bakal dasar negara itu diterima. Tapi salah satu perumus Pancasila dalam menjabarkannya berangkat dari tradisi dan keilmuan pesantren. Dialah KH A Wachid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari. Sehingga bisa dikatakan bahwa Pancasila merupakan kristalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Karena itu, NU dan seluruh bangsa Indonesia bukan hanya wajib mengamalkan, tetapi juga wajib mengamankan Pancasila. (Abdul Mun’im DZ, 2016).?

Maka ketika ada tuduhan Pancasila tidak sesuai dengan Islam. NU melalui peranan dua santri KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Muchit Muzadi dan KH Ahmad Shiddiq, menegaskan diri sebagai satu-satunya organisasi massa yang menerima Pancasila sebagai asas negara, pada Muktamar NU ke-27, di Situbondo, Jawa Timur.

Dan hari ini ketika Indonesia tercekik. Sulit untuk mencari pinjaman dana negara lain akibat kondisi ekonomi global belum membaik. Pemerintah Republik Indonesia beberapa waktu lalu telah meresmikan aturan mengenai tax amnesty (pengampunan pajak) untuk mengatasi masalah tersebut.

Indonesia memberikan kesempatan kepada wajib pajak yang tidak patuh, melaporkan penghasilannya dan membayar pajak secara sukarela dengan memberikan insentif pada mereka.

Suatu kesadaran yang pada tahun 1999 sudah digagas KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ketika menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur yang pernah menjadi santri Kiai Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta itu, mempunyai gagasan uang-uang koruptor di luar negeri ambil 50 persen, 50 persen kembalikan ke negara.

Sumbangsih pemikiran Gus Dur tersebut menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, adalah fakta sejarah. Santri yang pernah jadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta itu weruh sakdurunge winarah (mampu melihat sesuatu yang belum terjadi) bagaimana persoalan Indonesia mendatang dan berupaya memberi solusi sejak dini. Tidakkah itu, lagi-lagi suatu bukti ? bahwa karakter santri yang selalu mau berkhidmat bagi negara selalu melekat?

Sayangnya, pemikiran santri yang dalam langkah politiknya berhasil menjaga sejumlah provinsi tak lepas dari Indonesia, meneguhkan kebhinekaan, pro buruh, hingga membangkitkan potensi ekonomi laut yang lama diabaikan, dan kini dijalankan melalui pengampunan pajak dua persen, saat itu justru diserang habis-habisan oleh DPR, LSM hingga media, seolah presiden mengampuni koruptor.

Harakah tanpa lelah

Keberuntungan itu terjadi karena mau yang diupayakan menjadi mampu. Seperti metamorfis kepompong menjadi kupu-kupu, para santri akan menjadi ulama, kiai dan mendidik santri, generasi baru Indonesia. Ada pula yang mengikuti jejak KH A Wachid Hasyim berkiprah di politik. Mendorong kemandirian ekonomi dengan Nahdlatut Tujjar ala kini alias Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) yang bertekad mencetak satu juta wirausahawan santri. Hingga bergerak bagi bangsa di berbagai lini.

Suatu harakah sederhana dan seolah tanpa lelah memberi warna bermakna dalam perjalanan bangsa Indonesia. Jika sebaliknya? Jumlah santri yang tidak sedikit adalah energi sakti yang bisa membuat sakit.

Tapi kamus itu tidak ada di pesantren NU. Yang ada hanya berbakti untuk bangsa dengan bukti. Sebagaimana amanat santri Kiai Kholil Bangkalan, KH Wahab Hasbullah, yang pada tahun 1934 telah menegaskan Indonesia biladi (Indonesia negeriku), hubbul wathon minal iman (mencintai negara sebagian dari iman), dengan menciptakan lagu Syubbanul Wathan. Jauh sebelum Indonesia Raya WR Supratman, dan Cokelat mengumandangkan Bendera.?

Terkini, 1 miliar Shalawat Nariyah akan dibaca ribuan santri di sepuluh ribu titik pada peringatan HSN kedua. Tujuannya, meminta keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan hidup sebagai bangsa.

Dengan demikian, ketika sejumlah literasi menyatakan santri bermakna S: satir al-‘uyub wa al-aurat (menutup aib dan aurat). A: aminun fil amanah (bisa di percaya dalam mengemban amanah). N: nafi’ al-‘ilmi (bermanfa’at ilmunya). T: tarik al-maksiat (meninggalkan maksiat). R: ridho bi masyiatillah (ridho dengan apa yang diberikan Allah). I: ikhlasun fi jami’ al-af’al (ikhlas dalam setiap perbuatan), haruskah dipungkiri?

Tak ada gading yang tak retak. Tapi fakta selalu bicara, kiprah santri lebih banyak maslahat ketimbang mudharat. Selain itu, tidak sekedar dalam tataran romantisme masa lalu, tapi juga optimisme bagi Indonesia mendatang. Dengan segala keterbatasan, santri yang menurut Gus Mus juga bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, adalah santri, tetap mau berkiprah, jalin pandan menjadi tampah, jalin sayang menjadi tuah, menjawab permasalahan sosial kebangsaan.***

Penulis bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN). Menyutradarai sejumlah TV program edukasi, iklan dan film dokumenter. Tulisan berupa cerpen, puisi dan esai dipublikasikan sejumlah media cetak dan online.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib IPNU Tegal

Senin, 21 Maret 2016

Halal Bihalal NU Bojong Tegal, Diawali Manakib Syekh Abdul Qodir

Tegal, IPNU Tegal. Warga Nahdliyin Desa Bojong Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal menggelar Halal bi Halal bersama pengurus NU dan Badan Otonomnya. Kegitan Halal bihalal yang dipandegani Fatayat dan Muslimat NU Ranting ini digelar di MDA Hidayatul Mubtadiin, Jumat (14/7).

Dalam Halal bihalal kali ini ada suasana yang berbeda. Pasalnya sebelum kegiatan Halal bihalal diawali dengan pembacaan dzikir dan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.

Pembacaan Manaqiban dipimpin langsung Syuriyah Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Bojong, ? KH Abdul Malik dan KH Abdul Ghofur didampingi para ustadz setempat.

Halal Bihalal NU Bojong Tegal, Diawali Manakib Syekh Abdul Qodir (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal NU Bojong Tegal, Diawali Manakib Syekh Abdul Qodir (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal NU Bojong Tegal, Diawali Manakib Syekh Abdul Qodir

Ketua Pimpinan Ranting Muslimat NU Bojong, Fatih Nur Laely mengatakan, pembacaan Manakib Syech Abdul Qodir Al-Jailani merupakan kegiatan rutin Muslimat dan Fatayat NU Ranting Bojong yang dilaksanakan setiap Jumat Kliwon. Kegiatan ini melibatkan seluruh jamaah dan Jam’iyah se Desa Bojong.

"Pada momentum Halal bihalal kali ini sengaja dibarengkan dengan Manakiban, kegiatan melibatkan 38 Jami’yah se Desa Bojong," ujarnya

IPNU Tegal

Menurut Nur Laely, momentum Halal bihalal menjadi sarana membersihkan diri dari rasa benci kepada sesama dan menyingkirkan penyakit yang mengotori hati.

"Dalam momentum Halal bihalal ini marilah kita ganti kedengkian dengan ? kelapangan jiwa, kita obati kesombongan dengan kerendahan hati dan kita buang permusuhan serta kita isi dengan persaudaraan," pungkasnya. (Hasan/Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Habib, Kajian, Makam IPNU Tegal

Sabtu, 24 Oktober 2015

Kader PMII Harus Aktif di Kampus

Pariaman, IPNU Tegal



Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus mampu menunjukkan jatidirinya di kampus dimana mereka belajar. Kader PMII tentu harus aktif dalam berbagai kegiatan kampus sehingga mampu menjadi kader pemimpin masa depan.

Kader PMII Harus Aktif di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Harus Aktif di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Harus Aktif di Kampus

?

Ketua Umum Pengurus Cabang PMII Kota Pariaman Masrizal mengungkapkan hal itu pada Pelantikan Komisariat PMII Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin, Pariaman, Kamis (6/10/2016) di Pariaman. Pelantikan dilanjutkan dengan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Angkatan ke-16. Mapaba berlangsung hingga Jumat (7/10).

?

Menurut Masrizal, para aktifis PMII harus mampu berperan dalam kehidupan kampus sebagai lembaga intelektual. Untuk itu, kader PMII harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya mempersiapkan diri agar memiliki kemampuan sebagai seorang kader. Mereka yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik, maka akan merugi dalam hidupnya.

IPNU Tegal

?

“Organisasi PMII sebagai organisasi kader diharapkan dapat menjadi implementasi tanggungjawab mahasiswa kepada masyarakat. Melalui PMII mahasiswa mulai dilatih untuk memiliki responsif terhadap berbagai masalah yang ada di masyarakat. Orang yang aktif berorganisasi cenderung memiliki responsif terhadap masalah yang terjadi di masyarakat,” kata Masrizal menambahkan.

?

IPNU Tegal

Sementara itu, Mabinkom PMII STIT Syekh Burhanuddin Alva Anwar menambahkan, PMII merupakan wadah beraktifitas mahasiswa yang berpahamkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Untuk itu, kader PMII harus? menjadi benteng dari? paham Islam Ahlussunnah Waljamaah. Ketika serangan terhadap Ahlussunnah wal Jamaah gencar, maka PMII harus maju ke depan membelanya.

?

“Selama ini kehadiran PMII di STIT Syekh Burhanuddin Pariaman sudah dirasakan mahasiswa. Terbukti banyak alumni STIT yang pernah aktif di PMII ketika menjadi mahasiswa. Kini mereka sudah tersebar di berbagai profesi dan pekerjaan, baik di Kota Pariaman, Kabupaten Padangpariaman maupun di luar Pariaman,” kata Alva yang juga Sekretaris PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman ini.

?

Pengurus yang dilantik diketuai Rio Putra, Wakil Ketua Muhfi Efendi, sekretaris Mulya Rizki, Wakil Sekretaris Tamril Kiki Putra, Bendahara Santri Sri Mulyani. Pengurus juga dilengkapi dengan departemen-departemen.(Armaidi Tanjung/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Halaqoh, Habib IPNU Tegal

Sabtu, 02 Mei 2015

UU Kepemudaan Idealis, Tapi Tidak Realistis

Jakarta, IPNU Tegal. Undang-undang (UU) No.40 tahun 2009 tentang Kepemudaan yang sudah disahkan oleh DPR RI bersama pemerintah (Kemengpora) pada September 2009 lalu ternyata masih menuai protes keras dari kalangan ormas kepemudaan sendiri, termasuk IPNU, PP GP Ansor, PMII maupun PBNU.

UU yang membatasi usia kelompok pemuda 16-30 tahun itu dinilai idealis, tapi tidak realistis, karena dari ratusan organisasi kepemudaan di Indonesia, usianya masih banyak yang lebih dari 40 tahun termasuk KNPI sebagai organisasi induk kepemudaan di Indonesia.

UU Kepemudaan Idealis, Tapi Tidak Realistis (Sumber Gambar : Nu Online)
UU Kepemudaan Idealis, Tapi Tidak Realistis (Sumber Gambar : Nu Online)

UU Kepemudaan Idealis, Tapi Tidak Realistis

“Bagi saya UU kepemudaan ini idealis, tapi tidak realitis, karena dari ratusan organisasi kepemudaan yang ada faktanya usia pimpinan mereka itu banyak yang lebih dari 40 tahun. Jadi, Bab I Pasal I dalam ketentuan umum UUini tidak realistis,” tandas Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung dalam dialog publik “Desiminasi UU No.40 tentang Kepemudaan” bersama Panca Putra Hamzah (Deputi Menpora Bidang Pemberdayaan Pemuda-Kemenegpora) dan Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (23/2).

IPNU Tegal

Karena itu lanjut mantan anggota Komisi I DPR RI dari FPPP ini, seharusnya sebelum disahkan UU kepemudaan itu melibatkan seluruh ormas dan organisasi kepemudaan (OKP) yang ada, sehingga dalam sosialisasinya langsung bisa diterima dan menjadi kotroversi.

IPNU Tegal

Meski bagi NU sendiri di satu sisi bisa menguntungkan karena akan mengatur segmentasi badan otonom (banom) NU, tapi terbukti susah diterapkan. NU sendiri yang mambahas usia 40 tahun pun kata Andi Jamaro, malah ditentang oleh PP GP Ansor, karena mereka menginginkan 45 tahun.

Tapi, kalau sebatas organisasi kepemudaan pelajar dan mahasiswa UU ini menurut Andi Jamaro, wajar karena usia mereka memang antara 16-25 tahun. Namun, tidak demikian dengan mayoritas OKP yang lain. “Mestinya sebelum disahkan dulu, RUU ini diratifikasi dengan melibatkan seluruh ormas dan OKP, sehingga bisa diterima,” ujar Andi lagi.

Yang pasti kata Ahmad Syauqi, idealnya UU ini sebagai payung hukum untuk kepemudaan. Mengingat disamping secara kuantitatif jumlah penduduk Indonesia yang masuk kategori pemuda cukup besar.

Berdasarkan data BPS 2009 yang berusia 16-30 tahun mencapai 62.985.401 orang. Menurut catatan Menegpora ada 270.000 organisasi kepemudaan di Indonesia, sehingga dibutuhkan payung hukum kepemudaan tersebut.

“Semoga UU ini ke depan bisa bermanfaat dalam proses regenerasi di mana kaum muda sebagai agent of change-agen perubahan itu bisa segera terwujud,” tutur putra mantan Ketua PWNU Jatim, Ali Maschan Musa ini.

Yang pasti kata Panca Putra Hamzah, UU ini akan mulai berlaku tiga tahun setelah diundangkan, yaitu mulai tahun 2011. Meski dengan tegas ada batasan usia 30 tahun, namun kalau ada ormas dan OKP yang pimpinannya usianya lebih dari 30 tahun, hanya akan mendapat sanksi administratif, bukan sanksi pidana.

“OKP-nya pun nanti akan berubah menjadi ormas atau orpol. Dan, setelah diundangkan ini Kemengpora mendapat anggaran Rp 6 triliun untuk pembinaan pemuda di bawah 23 kementerian yang menangani berbagai bidang selain wirausaha, pertanian, olahraga dll,”ujar Panca mengingatkan.

Dikatakan, koordinasi kepemudaan dengan UU ini nantinya langsung oleh Presiden RI yang akan diatur melalui peraturan pemerintah (PP) bekerjasama dengan perguruan tinggi negeri dan sudah memberangkatkan 100 pemuda ke Jepang untuk pelatihan pembinaan pertanian. Juga akan dibangun gelanggang olah raga terpadu di setiap provinsi dengan melibatkan gubernur, bupati dan walikota seluruh Indonesia.

“Pertama pemerintah akan membangun gelanggang olahraga Bulungan dan gelanggang olahraga Kuningan di Jakarta,” tutur Panca Putra Hamzah. (mnf)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Habib IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock