Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Gerakan Berbagi Buku GP Ansor Tambah Wawasan Masyarakat

Way Kanan, IPNU Tegal. Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Way Kanan Provinsi Lampung Desy Melda di Blambangan Umpu, Senin (6/7) menilai gerakan berbagi buku dimotori Pengurus Cabang GP Ansor setempat mendatangkan maslahat karena menambah wawasan masyarakat.

Gerakan Berbagi Buku GP Ansor Tambah Wawasan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Berbagi Buku GP Ansor Tambah Wawasan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Berbagi Buku GP Ansor Tambah Wawasan Masyarakat

"Kami sangat berterima kasih atas bantuan buku dari alumni BPUN ini. Mudah-mudahan kegiatan dimotori oleh Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan ini bisa membawa dampak positif dan juga bermanfaat bagi kita semua," ujar Desy setelah menerima 40 paket buku (satu paket berisi dua buku) dimaksud dari kader muda NU tergabung dalam alumni Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2015.

Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 bekerjasama dengan PC GP Ansor, PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Waykanan secara bertahap akan mendistribusikan buku dari International Organization for Migration (IOM) kepada 227 kepala kampung, 14 camat dan 89 SMA sederajat di daerah itu.

IPNU Tegal

"Kami sedang berupaya untuk menambah perpustakaan kampung yang belum terbentuk dan membantu penambahan buku-buku yang ada di perpustakaan kampung yang sudah disediakan karena untuk saat ini bersifat meminjam. Karena itu, dengan adanya gerakan ini, otomatis sangat membantu apa yang telah diprogramkan pemerintah," papar Desy lagi.

IPNU Tegal

Buku dibagikan itu berjudul "Panduan Bekerja ke Luar Negeri Secara Resmi dan Aman" serta "Lika Liku Perdagangan Orang", mengulas tentang migrasi yang aman kepada para pemangku kepentingan (stakeholder), lalu untuk mengembangkan monitoring perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) yang baik,  serta penyebaran tata cara TKI  yang aman, murah, cepat, dan bermartabat.

"Kami akan terus mengupayakan bagaimana caranya supaya minat membaca masyarakat terus meningkat seperti yang diharapkan. Peran organisasi kepemudaan seperti GP Ansor dan masyarakat sangat diperlukan sekali dalam upaya  menumbuhkan budaya minat membaca di Way Kanan," ujar Desy lagi.

Pendidikan merupakan politik yang harus dibela, demikian Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto menambahkan. Karena itu, seperti maknanya yang berarti penolong, Ansor Way Kanan berkomitmen berpartisipasi untuk terlibat dalam pendidikan kendati sedikit, misalnya pada Mei lalu menggelar Sanlat BPUN untuk mendorong pelajar SMA sederajat di Way Kanan untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri dan diapresiasi positif  oleh para peserta, Bupati, Ketua TP PKK hingga kepala sekolah di Way Kanan ni.

"Termasuk kegiatan berbagi buku dimaksud, semoga bisa menambah wawasan masyarakat mengenai migrasi aman. Selebihnya, mempelajari  Nabi Muhammad melalui tukang pos, yang amanah dan tidak mangkir saat diberi tanggung jawab. Kami hanya menyampaikan buku dari IOM Indonesia kepada pihak-pihak yang berhak," ujar penggiat Gusdurian di Lampung itu pula. (Saidi Fatah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Hikmah IPNU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Peduli Gaza, Pelajar NU Temui Dubes Palestina

Jakarta, IPNU Tegal. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta menggelar aksi damai untuk Palestina di depan kantor Kedutaan Besar Palestina Jl Dipenogoro No 49 Menteng Jakarta Pusat, Sabtu (12/07) sore. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap penderitaan rakyat di Jalur Gaza akibat agresi militer Israel.

Peduli Gaza, Pelajar NU Temui Dubes Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Gaza, Pelajar NU Temui Dubes Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Gaza, Pelajar NU Temui Dubes Palestina

Dalam aksinya, IPNU DKI Jakarta meminta kepada perdana menteri Israel, Benyamin Nyetanyahu untuk segera merespon kecaman dunia, terkait dengan serangan yang dilakukan pihak militer Israel yang mengakibatkan ratusan korban dari warga sipil yang kebanyakan wanita dan anak-anak.

Pada kesempatan ini, dua perwakilan IPNU DKI diterima oleh Duta Besar Palestina Mr Fariz Mehdawi beserta staf. Mereka menyambut baik kedatangan pelajar-pelajar NU, seraya mengucapkan terima kasih atas aksi damai yang dilakukan.

IPNU Tegal

Mr. Fariz Mehdawi mengaku sangat terharu dengan kepedulian pelajar NU, dan ia menyebut ini sebagai langkah awal dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang berdasarkan pada ukhuwah islamiyah.

Ketua IPNU DKI Jakarta, Muhammad Said mengatakan, “Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas kita atas penderitaan yang dialami saudara kita di Palestina sana, dengan harapan ada langkah konkret dari dubes Palestina dalam agresi militer tersebut."

IPNU Tegal

Sebagai tindak lanjut, katanya, pengurus IPNU DKI Jakarta akan mengadakan audiensi kembali bersama dubes dalam waktu dekat.

Aksi ini diikuti seluruh pengurus Pimpinan Wilayah IPNU DKI, pengurus Pimpinan Cabang dan Anak Cabang se-DKI Jakarta, serta para pelajar NU di tingkat SLTA maupun SLTP. (Mohammad Khoiron/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kajian Islam, Hikmah IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Suci Tanpa Deterjen

Mencuci pakaian adalah rutinitas harian bagi semua orang, entah hal itu dilakukan sendiri ataupun dilakukan oleh mesin cuci. Pada dasarnya mencuci pakaian bertujuan membersihkannya dari kotoran dengan menggunakan air. Adapun deterjen merupakan alat bantu mempermudah proses pencucian tersebut.

Secara fiqhy, tujuan mencuci pakaian adalah menjadikannya suci bukan bersih apalagi wangi. Mengingat fungsi pakaian sebagai salah satu syarat yang menjadikan sahnya shalat. oleh karenanya pakaian harus dalam keadaan suci, juga lebih afdhal jika bersih dan wangi.

Pada hakikatnya, mensucikan pakaian yang terkena najis cukup dengan menggunakan air saja, akan tetapi jika dengan deterjen proses pencucian lebih mudah maka tidak ada masalah. Sama sekali tidak ada kewajiban mencuci pakaian harus menggnuakan deterjen. Dalam Kitab Kifayatul Akhyar terdapat keterangan berikut,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Suci Tanpa Deterjen (Sumber Gambar : Nu Online)
Suci Tanpa Deterjen (Sumber Gambar : Nu Online)

Suci Tanpa Deterjen

Syarat mensucikan sesuatu adalah dengan menggunakan air untuk menghilangkan najis, dan cukuplah air yang membersihkan najis.

Karena Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk menjaga kebersihan, dan juga menjadikan bersuci dari najis sebagai salah satu syarat sahnya shalat, maka menjaga kebersihan dan kesucian menjadi prioritas yang senantiasa dilaksanakan.

IPNU Tegal

Dan tanpa memberatkan umatnya, maka pakaian menjadi suci cukup dengan menggunakan air saja, tanpa harus menggunakan deterjen atau sabun cuci. Seandainya mencuci harus menggunakan sabun cuci niscaya akan terasa berat bagi sebagian umat yang tidak mampu untuk memenuhinya. (Pen. Fuad H/ Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Nasional, Hikmah IPNU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

PP Fatayat NU Pindah ke Kantor Baru

Jakarta, IPNU Tegal
Setelah melewati perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya PP Fatayat NU memiliki kantor baru yang terletak di Jl. Kramat Lontar i/60. Lokasi ini tak begitu jauh dengan kantor PBNU di Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Proses perpindahan ini baru berlangsung sekitar seminggu yang lalu.

Ketua Umum Fatayat Maria Ulfa Anshori mengungkapkan sebelum membangun gedung tersebut, memang mencari lokasi yang berdekatan dengan kantor PBNU. Dahulunya rumah tua di sebelah kantor PBNU yang diincarnya, tetapi karena permintaan harganya mahal, maka terpaksa mencari lokasi lain.

Pembangunan kantor baru tersebut dilatarbelakangi oleh kecilnya ruangan yang disediakan oleh PBNU untuk Fatayat. “Dahulu di gedung PBNU lama, kantor PP Fatayat lebih luas dari yang sekarang disediakan digedung baru sehingga PP Fatayat berfikir untuk membikin kantor baru,” tandasnya.

Dijelaskannya sebenarnya PP Fatayat berencana untuk menyewa ke pengelola gedung PBNU untuk memperluas kantornya dengan catatan mendapat diskon 50 persen, tetapi mereka tidak mau. “Kami mikir-mikir daripada 200 juta setahun untuk menyewa ruangan, lebih baik untuk membikin kantor sendiri,” tambahnya.

Rumah tua seluas 20 X 4 M di Jl. Kramat Lontar akhirnya dianggap cocok dan dibeli seharga 275 juta rupiah dan dibongkar untuk diganti dengan bangunan baru berlantai dua. Biaya pembangunan menghabiskan dana sekitar 300 juta rupiah.

“Sebelumnya banyak fihak yang menjanjikan bantuan dana, tapi janji tinggal janji dan kami berusaha mencicil sesuai kemampuan yang ada sampai akhirnya jadi begini,” imbuhnya.

Diatas bangunan dengan luas sekitar 200 meter persegi ini, saat ini semua aktifitas PP Fatayat dilaksanakan. Terdapat ruang rapat besar, ruang ketua umum dan bendahara umum, lemari-lemari untuk menyimpan data yang diletakkan disisi-sisi tembok berwarna hijau muda, dapur, kamar mandi, taman kecil didalam dan ruang penjaga. Sebagian ruangan saat ini juga digunakan untuk kantor sekretariat kongres Fatayat ke 13 Juli mendatang.

Meskipun pindah, nomer telepon 021-31908732 dan Fax 021-3197267 yang dahulu digunakan ketika berkantor di PBNU masih tetap digunakan. Sayang sekali kantor megah ini tidak memiliki lahan parkir sehingga pengurus atau tamu yang membawa mobil terpaksa parkir agak jauh.(mkf)


 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Khutbah IPNU Tegal

PP Fatayat NU Pindah ke Kantor Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Fatayat NU Pindah ke Kantor Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Fatayat NU Pindah ke Kantor Baru

Kamis, 25 Januari 2018

PMII Pariaman: Banyak Mahasiswa Tak Seperti Mahasiswa

Pariaman,IPNU Tegal. Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Pariaman Satria Effendi mengungkapkan masih banyak ditemui mahasiswa yang tidak bersikap seperti layaknya mahasiswa. Hal ini terlihat dari sikap dan perilakunya yang tidak sesuai dengan status seorang mahasiswa.

Ketua Umum PC PMII Kota Pariaman Satria Effendi, mengungkapkan hal itu saat membuka Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) ke-III Pengurus Komisariat STIE Sumbar, Sabtu (25/10), di TPA/MDA Masjid Raya Kampung Perak, Kota Pariaman, Sumatera Barat.

PMII  Pariaman: Banyak Mahasiswa Tak Seperti Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pariaman: Banyak Mahasiswa Tak Seperti Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pariaman: Banyak Mahasiswa Tak Seperti Mahasiswa

Menurut Satria Effendi, mahasiswa memiliki peran amat penting dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. Mengutip ungkapan dari Bung Karno, mahasiswalah kelak yang akan memimpin bangsa Indonesia. Untuk itu, Indonesia butuh mahasiswa.

IPNU Tegal

"Karena itu, mahasiswa harus siap membekali dirinya jadi pemimpin di negeri ini. Kalau mahasiswa tidak siap dalam memimpin, maka hancurlah Indonesia. Dengan demikian, di pundak mahasiswa terletak beban bangsa Indonesia ke depan," tambah Satria.

Satria mengakui, masih rendah minat mahasiswa di Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman untuk berorganisasi. Padahal organisasi merupakan salah satu wadah melatih dan menyiapkan pemimpin masa depan.

IPNU Tegal

"Selama berorganisasi sudah pasti akan menghadapi hambatan, tantangan dan butuh perjuangan. Namun apa pun hambatan dan tantangan dihadapi adalah bagian proses pematangan diri. Kepada kader PMII terus ditekankan untuk tetap istiqamah selama berproses dalam perjuangan berorganisasi," tutur Satria mahasiswa pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang ini.

Ditambahkan Satria, yakinkanlah diri saat berpikir dan berbuat untuk masyarakat, bangsa dan negara, berbagai hambatan akan dimudahkan oleh Allah Swt. Yang penting sebagai kader tidak boleh berputus asa.

Pembukaan MAPABA dihadiri  Ketua PC PMII Kabupaten Padangpariaman Rodi Indra Saputra, Ketua Komisariat PMII STIT SB Rozi Yardinal, Ketua Komisariat PMII STIE Sumbar Iqbal. "Peserta MAPABA berasal dari mahasiswa STIE Sumatera Barat Pariaman, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, STIKIP Nasional Pauhkambar Padangpariaman dan STIKIP YDB Lubuk Alung Padangpariaman," kata Ketua Panitia Pelaksana Jefrizal.

Ditambahkan Jefrizal, MAPABA berlangsung selama 2 hari, hingga Ahad (26/10). Kegiatan tersebut bertema, “Menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan mewujudkan tridarma perguruan tinggi di kalangan mahasiswa”.

Materi yang diberikan meliputi mahasiswa dan tanggungjawab sosial, motivasi dan semangat berorganisasi, Islam di Indonesia, antropologi kampus, teknik & praktek sidang, manajemen organisasi dan kepemimpinan, aswaja sebagai manhaj al-fikri, sejarah lokal PMII, emansipasi wanita (jender) dan nilai dasar perjuangan (NDP). (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pondok Pesantren, Hikmah, Kyai IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Muslimat NU Merauke Dilantik

Merauke, IPNU Tegal. Sabtu malam (21/4) kemarin, Hotel Itese Merauke dibanjiri para undangan dalam acara Peringatan Hari Lahir (Harlah) Muslimat NU dan sekaligus Pelantikan Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Merauke periode 2010-2015.

Pimpinan Wilayah Muslimat NU Papua dan Papua Barat Ibu Rahmatan secara resmi melantik Pengurus Muslimat NU Cab Merauke malam itu.

Muslimat NU Merauke Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Merauke Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Merauke Dilantik

Hadir dalam acara tersebut Staf Ahli Bupati Bidang Kesejahteraan Rakyat R. Gatot Marsigit dan Sekretaris Daerah Daniel Pauta, Danlantamal XI, Wakil Ketua DPRD Merauke, Komandan Korem, Ketua MUI, Kementerian Agama Kab. Merauke, para pengurus NU dan organisasi Islam lainnya, Ketua GOW, Pembedayaan Perempuan dan Majelis ta’lim se-kota Merauke.

Momen tersebut sungguh sangat penting karen bertepatan dengan hari Kartini. Acara pelantikan dan Harlah tersebut mengambil  tema “Mari Tingkatkan Kesalehan Sosial Menuju Kemandirian Muslimat NU”.

IPNU Tegal

“Muslimat NU sudah berjalan 3 periode di Kabupaten Merauke ini dinilai cukup membantu program-program pemerintah dari bergai bidang, khususnya bidang Pendidikan dan Kesejahteraan,” demikian disampaikan Ibu Rahmatan di sela pelantikan.

IPNU Tegal

Di bidang pendidikan, Muslimat NU telah membangun 4 PAUD dan 1 TK dan di bidang Kesejahteraan Muslimat setempat juga telah banyak membantu kaum dhuafa dan anak yatim. Sementara di bidang Kesehatan hampir setiap momen penting Muslimat NU mengadakan Khitanan Massal.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syamsuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Hikmah IPNU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Tentang Kontribusi Pendidikan Agama bagi Indonesia yang Majemuk

Jakarta, IPNU Tegal. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin berpendapat, pendidikan agama telah berkontribusi untuk menjadikan Indonesia seperti saat ini yakni negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan memiliki ekonomi yang stabil. Baginya, kalau tidak ada pendidikan agama yang moderat di lembaga pendidikan, Indonesia bisa menjadi negara dengan pemahaman keagamaan yang ekstrim.

“Secara inheren memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara ultra konservatif dengan jumlah muslim yang begitu besar. Bisa juga liberal,” katanya di Jakarta, Selasa (8/11).

Tentang Kontribusi Pendidikan Agama bagi Indonesia yang Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Kontribusi Pendidikan Agama bagi Indonesia yang Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Kontribusi Pendidikan Agama bagi Indonesia yang Majemuk

Namun hal itu tidak terjadi karena pengajaran agama di Indonesia baik di sekolah, pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi berhasil menciptakan infrastruktur sosial yang sangat kuat dan mengajarkan paham keagamaan yang moderat. 

Menurut Kamaruddin, pendidikan agama masih penting diajarkan di sekolah-sekolah. Hal itu untuk memberikan pemahaman kepada siswa-siswi agar mereka tahu bagaimana cara beragama dalam masyarakat yang majemuk.

“Dan bagaimana cara berbangsa dan bernegara dalam konteks Indonesia yang religius,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa lembaga pendidikan agama masih memiliki banyak kelemahan yang harus segera diatasi seperti meningkatkan kualitas guru yang profesional dan kompeten, menambah jam pelajaran, memperbaiki kurikulum, dan menyediakan sumber-sumber bacaan yang memadahi. (Muchlishon Rochmat)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, RMI NU IPNU Tegal

IPNU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Kajian Hadits Kiai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Rakaat Tarawih

Khilafiyah terkait jumlah rakaat shalat Tarawih masih saja terjadi. Satu kelompok berpendapat bahwa shalat Tarawih harus 20 rakaat dengan dalil hadits Mauquf yang bersumber dari Sayidina Umar bin Al-Khatthab. Sementara itu, kelompok lain mencukupkan 11 rakaat saja dengan dalil hadits yang bersumber dari Sayyidah Aisyah RA. Bahkan Syekh Albani menganggap bid‘ah Tarawih yang dilaksanakan lebih dari 11 rakaat sebagaimana yang ia sebutkan dalam karyanya Risalah Tarawih.

Albani memfatwakan, siapa saja yang menambah shalat Tarawih lebih dari 11 rakaat maka perihalnya sama seperti orang yang menambahi shalat Zuhur menjadi 5 rakaat.

Kajian Hadits Kiai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Rakaat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Hadits Kiai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Rakaat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Hadits Kiai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Rakaat Tarawih

Berbeda dengan kedua pandangan di atas, Kiai Ali Mustafa Ya’qub mempunyai pandangan tersendiri. Ia menegaskan, dalam karyanya Hadits-hadits Bermasalah, bahwa tidak satupun riwayat valid yang menjelaskan kepastian jumlah rakaat shalat Tarawih. Ia juga menyebutkan bahwa boleh saja bagi seseorang melakukan shalat Tarawih dalam jumlah yang ia kehendaki, termasuk seribu rakaat sekalipun. Karena yang diutamakan dalam pelaksanaan shalat Tarawih adalah lama dan bagusnya shalat itu. Boleh saja bilangannya sedikit asalkan bacaannya bagus dan panjang, begitu juga dengan mereka yang shalat dengan jumlah rakaat yang banyak seperti 20 ataupun 36 rakaat.

Kiai Ali Mustqfa Ya‘qub mengajukan sejumlah argumentasi atas hal ini. Pertama, tidak satu pun hadits Marfu’ (hadits yang dinisbatkan secara langsung kepada Nabi) yang menjelaskan bilangan shalat Tarawih Rasulullah SAW. Memang benar ada hadits Sahih riwayat Muslim yang menceritakan bahwa Nabi SAW pernah shalat bersama sahabat sebanyak dua atau tiga malam pertama Ramadhan. Namun Rasulullah SAW tidak melanjutkannya karena khawatir Allah akan mewajibkan shalat tersebut bagi umat Islam yang pada akhirnya akan memberatkan mereka. Dalam hadits itu juga tidak disebutkan secara eksplisit jumlah rakaat yang dikerjakan oleh Nabi SAW.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Kedua, satu-satunya hadits Marfu’ terkait ibadah qiyamul lail (shalat Tarawih) adalah hadits Sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim di mana Rasulullah SAW bersabda,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Sayidina Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang mendirikan (malam-malam) di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh perhitungan, niscaya dosa-dosa (kecil) yang pernah ia perbuat akan diampuni oleh Allah SWT.’”

Dalam hadits di atas, Nabi SAW tidak memberikan batasan khusus untuk pelaksanaan qiyamul lail (shalat Tarawih). Rasulullah SAW hanya menyebutkan barangsiapa yang mengerjakannya dengan keimanan dan penuh perhitungan, maka dosa kecilnya akan diampuni. Berdasarkan keumuman tersebut Kiai Ali Mustafa Ya‘qub tidak membatasi bilangan rakaat shalat Tarawih.

Ketiga, Kiai Ali Mustafa membenarkan kesahihan hadits Mauquf yang digunakan oleh kelompok pertama, yaitu hadits yang menceritakan sikap Umar yang menyatukan umat Islam agar melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rakaat di bawah komando seorang imam, yaitu Sahabat Ubai bin Ka’ab. Kiai Ali juga membenarkan kalau hal itu sudah menjadi kesepakatan umat Islam dari sejak zaman Umar hingga sekarang. Tetapi dalam hal ini, Kiai Ali Mustafa tetap memberlakukan keumuman hadits yang bersumber dari Abu Hurairah RA di atas untuk dijadikan sebagai dalil tidak terbatasnya bilangan shalat Tarawih berdasarkan orientasi kemaslahatan, yaitu agar tidak adanya saling klaim kebenaran antarkelompok yang pada akhirnya akan mengakibatkan perpecahan umat.

Keempat, Kiai Ali juga mengkritisi dalil yang digunakan oleh kelompok kedua yang menganggap bahwa shalat Tarawih hanya sebelas rakaat saja dengan argumentasi bahwa hadits tersebut bukan dimaksudkan untuk menjelaskan shalat Tarawih. Tetapi hadits itu berbicara tentang jumlah rakaat shalat Witir. Buktinya hadits tersebut dicantumkan oleh Imam Al-Bukhari dalam bab shalat Witir. Selain itu, melalui redaksi haditsnya juga dapat dipahami bahwa Nabi SAW tidak pernah shalat sunah lebih dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya sehingga tidak mungkin shalat yang dimaksud di sana adalah shalat Tarawih karena shalat Tarawih hanya ada pada bulan Ramadhan.

Kelima, Kiai Ali juga membantah argumen Syekh Albani sebagaimana yang tercantum dalam karyanya Risalah Tarawih, yang membatasi pelaksanaan shalat Tarawih hanya pada bilangan sebelas rakaat. Setelah diteliti, argumentasi yang digunakan oleh Albani adalah hadits riwayat Ibnu Hibban yang bersumber dari Sahabat Jabir ibn Abdillah di mana dalam hadits itu disebutkan bahwa Nabi SAW mengizinkan sahabat Ubai ibn Ka’ab untuk mengimami shalat qiyamul lail wanita-wanita yang ada di rumahnya. Pada saat itu Ubai menyatakan akan shalat bersama mereka sebanyak 8 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir, sedangkan Nabi SAW diam saja pertanda Beliau SAW setuju.

Hadits tersebut mempunyai kualitas yang sangat dhaif sekali (dha’if syadid). Penyebabnya adalah karena dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Isa bin Jariyah. Ia dinilai oleh para ahli hadits seperti Ibnu Ma’in dan Imam An-Nasa’i sebagai perawi yang sangat dhaif. Bahkan Imam An-Nasa’i melabelinya sebagai perawi yang matruk (haditsnya semi palsu karena ia adalah seorang pendusta). Hal senada juga diungkap oleh Syekh Ismail Al-Anshari dalam karyanya Tashhihu Haditsi Shalatit Tarawih ‘Isyrina Rak’atan war Radd ‘alal Albani fi Tadh’ifihi. Wallahu a‘lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Hikmah IPNU Tegal

Senin, 08 Januari 2018

NU Pesawaran Giatkan Dakwah Media

Pesawaran, IPNU Tegal

PCNU Pesawaran, Lampung mengajak kader untuk aktif berdakwah di media massa dan sosial sebagai upaya menyebarkan gagasan Islam rahmatan lil alamin, kebinekaan serta mereduksi penyebaran konten negatif dan radikal.

NU Pesawaran Giatkan Dakwah Media (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pesawaran Giatkan Dakwah Media (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pesawaran Giatkan Dakwah Media

Ketua PCNU Pesawaran KH Salamus Solichin di Pesawaran, Kamis (1/12) menegaskan, saat ini baru terhimpun 100 kader yang mempunyai akun media sosial.

Koordinasi, ujar dia menambahkan, sudah berlangsung dengan 100 kader. Akhir Desember ditargetkan 250 kader intens menyebarluaskan pemberitaan hingg opini dari media NU, baik pusa atau lokal melalui media sosial.

Salamus mengaku perlu mengambil langkah positif atas maraknya penyebaran konten negatif hingga penghinaan terhadap ulama.

IPNU Tegal

Menurut dia lagi, bagi ulama sabar dengan hujatan dan cacian merupakan ibadah. Tapi bagi jamaah dan kader NU, diam bukan perilaku tepat. Karena itu perlu ada upaya, menyebarkan dakwah ulama NU melalui media sosial, selain itu, untuk menangkal fitnah terhadap para kiai.

Berkaitan dengan gerakan dakwah lain melalui media, Salamus mengatakan pihaknya akan segera menghimpun badan otonom guna menyeleksi kader yang akan dilatih menulis untuk bisa menyebarkan dakwah ulama dan kiai NU. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Sholawat IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Pelajar STAINU di Maroko Adakan Tasyakuran

Kenitra, IPNU Tegal. Malam pergantian tahun baru, bagi sebagian orang telah menjadi suatu peristiwa yang sangat istimewa dan sakral. Nampaknya, kurang afdol jika malam istimewa itu hanya berlalu begitu saja. Magnet tahun baru, bukan hanya ada di Indonesia, tetapi hampir di setiap pelosok dunia, ikut merayakannya dengan tradisi serta nuansa alami yang berbeda.

Namun lain halnya dengan para pelajar STAINU yang baru saja selesai mengikuti program kelas internsional di universitas Ibnu Tofail, Kenitra-Maroko. Menjelang kepulangnnya ke tanah air mereka mengadakan tasyakuran dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur karena telah menyelesaikan program tersebut dengan baik dan lancar yang bertepatan dengan malam pergantian tahun baru 2013. 

Pelajar STAINU di Maroko Adakan Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar STAINU di Maroko Adakan Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar STAINU di Maroko Adakan Tasyakuran

Acara yang bertempat di wisma STAINU Kenitra ini, juga dihadiri oleh sejumlah anggota dan pengurus PCINU Maroko. Dimana sehari sebelum acara tersebut para pelajar STAINU juga telah mengadakan rihlah penutupan dengan mendatangi rumah para ulama di Maroko dan dilanjutkan dengan berziaroh ke makam para ulama di Maroko selama dua hari yang didamping oleh sejumlah pengurus PCINU Maroko.

IPNU Tegal

Acara tersebut berlangsung dengan meriah dan penuh rasa kekeluargaan dengan sedikit mengharukan. Pasalnya ada sebagai pelajar yang menginginkan untuk bisa meneruskan program sarjananya di Maroko sampai selesai namun terpaksa harus kembali ke tanah air karena waktu yang telah ditentukan sudah habis.

IPNU Tegal

Sementara Ali Shodikin selaku  ketua rombongan pelajar STAINU juga mengatakan bahwa pada hari Jumat pagi nanti semua teman-teman STAINU harus sudah bersiap-siap menuju ke bandara Muhammad V.

Sebelum acara tasyakuran ditutup, Prabowo Wiratmoko Jati selaku Dewan Mustasyar PCINU Maroko menyampaikan kepada semua pelajar STAINU agar tetap menjaga silaturahmi dengan para dosen di Maroko yang telah memberikan ilmunya. Selain itu juga tetap menjaga hubungan yang baik dengan para staf dan local staf KBRI Rabat yang telah banyak membantu dalam proses belajar di Kenitra. Tak lupa Ia juga berharap semoga ilmu yang di dapat selama setahun bisa di fahami dengan baik dan bermanfaat bagi diri sendiri, agama, bangsa dan negara.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Tegal, Hikmah IPNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan

Khartoum, IPNU Tegal. Dalam rangka meramaikan acara malam gebyar maulid, Kementerian Bimbingan dan Wakaf Sudan mengajak jamiyah sholawat NU Sudan yang bertempat di Qoah as Shodaqoh, Khartoum, untuk ikut berpartisipasil.



Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamiyah Shalawat NU Meriahkan Gebyar Maulid di Sudan

Acara yang berlangsung Senin, (2/2) lalu ini berlangsung meriah dengan penampilan musisi-musisi Negara Sudan yang terhimpun dalam Grup Ahbabul Rasul.

Menurut Wakil Rais Syuriah PCINU Sudan H. Lian Fuad, kelompok yang dinamakan Jami’yah Syifa’ul Qulub (JSQ) ini dinaungi oleh Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCINU Sudan dan sering mendapatkan undangan kehormatan, dari mulai kalangan sufi sampai pemerintah Sudan.

“Untuk kali pertama ini JSQ yang divokali oleh Hafidzul Umam ini bisa sejajar dengan para musisi dan seniman negara Sudan,” ujarnya.

IPNU Tegal

Acara yang berlangsung sampai larut malam ini disiarkan di beberapa stasiun televisi lokal dan juga dihadiri oleh Wakil Presiden Sudan Prof. Hassabu Mohammed Abdalrahman dan Menteri Bimbingan dan Wakaf Sudan Dr. Muhammad Musthafa al Yaquti.

Menurut Lian, para musisi Sudan sendiri sangat senang dan bangga bisa tampil bersama-sama membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Banyak juga penampilan dari kalangan anak-anak yang membawakan puisi untuk Nabi dan juga puisi dengan bahasa Inggris dan Perancis. Durasi penampilan yang diberikan oleh panitia kepada JSQ terbilang cukup untuk menampilkan satu lagu Ya Rasullah Salamun Alaik. (Azim Aufaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Hikmah, Tokoh, Sejarah IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail IPNU Tegal, belakangan ini kehadiran minimarket tidak lagi bisa dibendung. Pasar swalayan kecil ini sudah menjamur dan merangsek hingga ke pelosok-pelosok dusun. Pertanyaan saya, bagaimana hukum agama memandang pemerintah sebagai pemegang otoritas atas izin usaha tersebut? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (H Sadzili/Banjar).

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kehadiran minimarket yang menjamur hingga pelosok kampung di Indonesia menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Satu sisi kehadiran minimarket dianggap membawa berkah karena memudahkan masyarakat yang semakin kompleks. Pasar swalayan kecil ini dianggap oleh sebagian masyarakat lebih nyaman dalam berbelanja. Di samping itu minimarket melayani sejumlah kebutuhan masyarakat yang tidak bisa dipenuhi oleh warung-warung kecil yang dikelola warga.

IPNU Tegal

Sisi lain pasar swalayan kecil yang masuk hingga kampung-kampung ini juga membawa serta efek negatif bagi perkembangan usaha kecil masyarakat sekitar. Kehadiran minimarket dengan sendirinya menurunkan daya beli masyarakat terhadap warung-warung kecil di sekitarnya yang pada gilirannya juga gulung tikar.

IPNU Tegal

Kehadiran minimarket ini tidak lepas dari pemberian izin usaha melalui surat izin usaha perdagangan (SIUP) oleh pemerintah. Lalu bagaimana padangan Islam terkait memberikan izin usaha (retail) yang berpotensi menimbulkan mafsadah rakyat sekitar (toko-toko umat)?

Masalah ini diangkat dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama NU yang berlangsung di Mataram pada 23-25 November 2017.

Forum bahtsul masail ketika itu memberikan dua jawaban. Pertama, pemerintah tidak diperbolehkan mengeluarkan izin usaha apabila dampak mafsadah minimarket itu lebih besar dibanding mashlahat yang dirasakan, semisal mengakibatkan terjadinya monopoli harga. Tetapi pemerintah boleh mengeluarkan izin usaha jika mashlahat pasar swalayan kecil itu bagi masyarakat lebih besar.

Forum yang terdiri atas para kiai dari pelbagai daerah di Indonesia ini antara lain mengutip sejumlah pandangan ulama, salah satunya Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?: «?» ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kaidah ketiga adalah dampak mudharat yang lebih besar disbanding maslahatnya. Ketika seseorang menggunakan haknya dengan tujuan mewujudkan sebuah kemaslahatan yang dapat dilakukan, tetapi usahanya menimbulkan mudharat bagi orang lain yang lebih besar dibanding atau setara dengan maslahat yang direncanakan, maka harus dicegah sebagai bentuk preventif, sama saja apakah mudharat itu bersifat umum yang menimpa banyak orang atau bersifat khusus orang per orang.

Argumentasi atas larangan ini adalah sabda Rasulullah SAW, ‘Tidak mudharat dan memudharatkan.’ Atas dasar ini penggunaan hak itu menjadi sebuah kelaliman bila berdampak mudharat secara umum dan ini jelas lebih lebih bahaya dari mudharat secara khusus; atau dampak mudharat secara khusus yang lebih banyak dibanding kemaslahatan pemegang hak, atau lebih bahaya dari mudharat yang diterima pemegang hak, atau setara dengan mudharat orang yang berhak. Sedangkan bila mudharat itu lebih kecil atau masih bersifat spekulasi, maka penggunaan hak usaha itu bukan kelaliman,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, juz 4, halaman 392).

Muncul pertanyaan dalam forum, apakah pemerintah wajib mencabut izin usaha tersebut bila pemerintah sudah terlanjur mengeluarkan izin bagi minimarket tersebut?

Forum ini menyatakan bahwa pemerintah wajib melakukan upaya proteksi ekonomi bagi masyarakat bawah sehingga harus melakukan langkah-langkah yang diperlukan hingga harus mencabut izin. Forum ini mendasarkan pandangannya pada kutipan fikih empat madzhab berikut ini:

? ? ? ? ?: (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengertian sabda Rasulullah SAW, ‘Tidak mudharat dan memudharatkan’ adalah semestinya seorang Muslim menghilangkan mudharat dari saudaranya. Setiap pemimpin apakah ia pemerintah atau bukan wajib melenyapkan mudharat dari para pengikut atau masyarakatnya. Ia tidak boleh menyakiti mereka. Ia tidak boleh mengizinkan siapapun untuk menyakiti mereka. Tidak perlu disangsikan, pembiaran atas masyarakat dengan misalnya ketiadaan regulasi yang dapat memproteksi mereka dari tindakan menyakitkan dan mudharat jelas bertentangan dengan semangat hadits ini. Karena itu, setiap regulasi yang mengandung maslahat dan melenyapkan mudharat diafirmasi dan direstui oleh syariat,” (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ala Madzahibil Arba‘ah, juz V, halaman 193).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Nasional, Hikmah IPNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Rawan Gesekan Nahdliyin, Banser Amankan Pilgub Jateng

Wonosobo, IPNU Tegal. Satkorcab Banser X 23 Wonosobo ikut mengamankan proses Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng yang akan berlangsung pada tanggal 26 Mei 2013 mendatang.

Disinyalir banyak sekali kepentingan yang bermain. Salah satunya adalah dari masa pemilih yang rawan gesekan dengan berbagai trik dan isu yang berkembang. Apalagi mayoritas suara yang ingin di raih masing-,masing calon adalah warga Nahdliyyin, sehingga sangat rentan terhadap gesekan yang ada.

Rawan Gesekan Nahdliyin, Banser Amankan Pilgub Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Rawan Gesekan Nahdliyin, Banser Amankan Pilgub Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Rawan Gesekan Nahdliyin, Banser Amankan Pilgub Jateng

"Satkorcab berkepentingan untuk menyelaraskan dan menjaga kondusifitas di masyarakat, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan bisa dihindari," kata  M. Kurniyanto, Kasatkorcab Banser x 23 Wonosobo, Jum’at (17/5).

IPNU Tegal

"Ibarat kue, NU sedang diperebutkan untuk mendulang suara dari berbagai elemen khususnya calon, Sehingga kami sebagai bagian dari masyarakat musti berperan dan berpartisipasi dalam menyelenggarakan Pilgub ini dari netralitas dan kepentingan tertentu,” imbuhnya.

IPNU Tegal

"Kami tidak ingin masyarakat NU terpetak-petak karena perbedaan dukungan, kita harus kembali kepada ukhuwah nahdliyah kita dengan mengedepankan kebijaksanaan dan kecerdasan berfikir."

"Siapapun yang jadi mestinya harus berpihak kepada kepentingan masyarakat Jateng, dengan meningkatkan struktur dan infra struktur secara merata," ungkap pengurus satkorcab yang lain.

"NU harus kompak, demikian juga banomnya, jangan melihat kepentingan sesaat, tetapi harus lebih luas dan jangka panjang," tambahnya.

Sementara itu kegiatan peningkatan kualitas kader juga terus dilaksanakan yang diharapkan nantinya bisa menjadi kader yang handal dan tangguh dalam berbagai hal.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Herry BH

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Kajian IPNU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Sholawat Nariyah Bergema di Kota Tidore Kepulauan

Tidore, IPNU Tegal. Memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober PW NU Maluku Utara bersama Pondok Pesantren Harisul Khairaat Tidore mengelar Pembacaan 1 Milyar Shalawat Nariyah, Sabtu (21/10). Acara dihadiri oleh Kemenag, Kapolda, dan Dandim 1505 Kota Tidore Kepulauan.

Pembacaan Shalawat Nariyah dipimpin Ketua PCNU Kota Tidore Kepulauan KH An’im Fatahna Jabir. Irama gema sholawat terlihat menambah semangat sedikitnya 900 orang yang hadir.

Sholawat Nariyah Bergema di Kota Tidore Kepulauan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sholawat Nariyah Bergema di Kota Tidore Kepulauan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sholawat Nariyah Bergema di Kota Tidore Kepulauan

Kapolres Tidore Azhari Juanda dan Dandim 1505 Tidore Letkol Inf Harrisal Ismail Sumbing kembali mempertegas semangat patriotisme kepahlawan para santri terdahulu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Orasi Kebangsaan disampaikan langsung oleh Ketua PW NU Maluku Utara KH Sarbin Sehe.

IPNU Tegal

“Hari Santri telah ditetapkan oleh negara sebagai penghargaan atas sejarah perjuangan para santri yang turut mempertahankan bangsa Indonesia dari penjajahan. Maka ini menjadi tugas kita bersama seluruh eleman bangsa termaksud santri untuk bisa menyelesaikan persoalan kebangsaan yang akhir-akhir ini merongrong semangat kebangsaan kita,” kata Kiai Sarbin.

Menurutnya NKRI telah final dan tugas kita adalah menjaga persatuan bangsa kita tetap utuh. (Aish Doank/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Hikmah, News, Kajian IPNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Gus Dur dalam Lukisan Pasir

Jakarta, IPNU Tegal. Salah satu rangkaian acara dalam kegiatan peringatan Haul Ke-5 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang digelar di Ciganjur, Jakarta, Sabtu (27/12) malam, adalah pembacaan narasi puitis oleh Zastrouw Al-Ngatawi yang diiringi alunan musik dan kemudian narasi tersebut divisualisasikan dalam bentuk lukisan pasir oleh Fauzan.

Dalam kesempatan itu Zastrouw mengurai silsilah biologis dan ideologis Gus Dur. Di awal narasinya, Zastrouw menceritakan tentang sosok Syekh Subakir, seorang ulama dari Persia yang menumbal Nusantara pada umumnya dan Pulau Jawa khususnya.

Gus Dur dalam Lukisan Pasir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dalam Lukisan Pasir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dalam Lukisan Pasir

Saat Zastrouw membaca narasi, dengan sigap tangan seorang Fauzan langsung bergerak membentuk sebuah lukisan seorang tokoh yang diidentifikasi sebagai sosok Syekh Subakir.

IPNU Tegal

Begitu pun ketika Zastrouw menyinggung tentang peran Wali Songo dalam islamisasi di Nusantara, tangan kreatif Fauzan berhasil membentuk sebuah pola masjid yang di sekitarnya terdapat beberapa orang dan diduga kuat itu adalah gambar Wali Songo.

IPNU Tegal

Riuh tepuk tangan hadirin terus bergema menyaksikan krativitas Fauzan yang membuat logo Nahdlatul Ulama, tentu saja logo itu dibuat bersamaan dengan narasi yang disampaikan Zastrauw ketika menyinggung pendirian organisasi Nahdlatul Ulama.

Ketika logo NU sudah terbentuk, Zastrauw menceritakan sosok Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari, Fauzan menempatkan lukisan KH. Hasyim Asyari di samping kanan-depan logo NU dan disusul kemudian lukisan KH. Wahid Hasyim di sebelah kirinya lalu Fauzan melukis wajah Gus Dur di tengah-tengah lukisan kedua tokoh nasional tersebut.

Ketika Zastrouw mengatakan "Gus Dur menerangi masa depan", Fauzan memfokuskan lukisannya hanya pada sosok Gus Dur yang di belakangnya terdapat cahaya yang bersinar. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Meme Islam, Jadwal Kajian, Hikmah IPNU Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Lebaran dalam Bahasa Kita

Oleh Bakhrul Amal?

Umat muslim Indonesia bolehlah berbahagia karena hampir sampai kepada hari lebaran. Ujian selama sebulah penuh di bulan Ramadlan, artinya sudah secara sah terlewati. Lelah payah, inysaallah diganti dengan kesucian. Setidaknya, begitulah janji Tuhan kepada umatnya yang bertakwa.

Jikalau kita ingat, pada saat menyambut momen lebaran itu, semua sibuk. Mal penuh sesak oleh mereka yang memburu diskon. Pasar ramai dengan orang-orang yang mencari jajanan untuk keperluan di hari lebaran. Tidak terkecuali di jalanan, jalanan nampak berpacu dan bising dipenuhi oleh pemudik yang merindukan kampung halaman. Semuanya digerakan oleh rasa yang sama, rasa bangga bahwa kita telah disucikan kembali oleh Allah melalui Ramadhan.

Lebaran dalam Bahasa Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebaran dalam Bahasa Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebaran dalam Bahasa Kita

Pada waktu itu, yang membeli baju merasa bahwa di hari lebaran nanti, tubuh yang suci haruslah dibalut dengan pakaian yang indah. Yang membeli jajanan punya maksud sendiri, mereka tidak mau mengecewakan tamu yang biasa hadir ke rumah dengan tradisi ‘halal-bi-halal’. Yang mudik dan menyemuti jalanan pun punya alasan, mereka diberangkatkan oleh keinginan bertemu keluarga agar maaf-me-maafkan itu nyata dan tak sekedar kata.

Di sisi yang lain, ada yang menilai bahwa hal-hal di atas tersebut tidak perlu dilakukan. Lebaran harus kembali pada nafas kesucian kita, yakni kesederhanaan. Yang lebih penting dari merayakan ialah merawat agar kebaikan, ketika dan pasca-Ramadhan, itu terus bersemai sepanjang hidup.

IPNU Tegal

Semua alasan di atas tadi adalah benar dan perlu kita hargai. Sekarang kita beranjak ke pembahasan yang lain, yakni pembahasan mengenai apa arti dari lebaran itu sendiri.?

Seperti kita ketahui bilasanya lebaran itu bahasa kita. Lebaran tidak memiliki arti kesucian ataupun pengembalian roh pada titik awal. Lebaran bukan kata ganti yang artinya sama dengan Idul Fitri (hari raya makan). Namun lebaran, karena sudah terlalu lama dan mengakar, lebih mudah diucapkan daripada menyebut Idul Fitri.?

Untuk itu, marilah kita mencari tahu darimana datangnya kata lebaran, sehingga hal itu menjadi relevan dengan budaya bangsa kita.

IPNU Tegal

Etimologi Lebaran

Dalam kajian ilmu filsafat, kita mengenal dua hal, etimologi dan terminologi. Etimologi mengupas tentang asal-usul kata. Sedangkan terminologi membahas mengenai makna daripada kata tersebut. Untuk membedah lebaran, kita hanya menggunakan etimologi saja.

Lebaran konon memiliki lima padanan kata yang berkaitan dengannya. Lima kata tersebut adalah lebar-an, luber-an, labur-an, lebur-an dan liburan. Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, lebaran konon berasal dari lebar yang dibubuhi imbunan -an. Lebar yang menjadi awalan dari lebaran bukanlah lebar dalam arti bangunan, lapangan atau pun halaman. Akan tetapi ‘lebar hati’ kita untuk memaafkan. Orang tua suka berkata “sing gede atimu” manakala kita disakiti dan darisitulah lebar dimasukan sebagai awal mula kata ‘lebaran’.

Kedua, lebaran dianggap juga sebagai kata yang bermula dari ungkapan luber. Luber dalam KBBI memiliki arti melimpah, meluap. Ringkasnya, melewati batas daripada batas yang ditentukan. Luber maafnya, luber rezekinya dan luber pula pahalanya sehabis Ramadhan. Untuk itu, maka luber-an bertransformasi menjadi lebaran.

Ketiga, menurut Mustofa Bisri atau Gus Mus, lebaran diambil dari kata laburan (jawa;mengecat). Setiap kali menjelang datangnya Idul Fitri, semua kepala keluarga sibuk mengecat rumahnya agar tampak indah. Dari kebiasaan laburan menjelang Idul Fitri itulah, lebaran menjadi sebuah kata yang setara dengan makna Idul Fitri itu sendiri.

Keempat, dalam satu kesempatan, Almarhum KH Muhtar Babakan Ciwaringi pernah berujar bahwa lebaran itu berakar filosofis dari kata leburan (jawa:menyatukan). Dengan ujian dan cobaan, dengan kesabaran dan ketenangan, selepas Ramadhan itu diharapkan kita mampu meleburkan diri kita pada sifat-sifat Tuhan. Dalam bahasa Syeikh Siti Jenar “manunggaling kawula gusti”. Semangat perubahan itulah yang merubah leburan menjadi lebaran.

Kelima, atau yang terakhir, lebaran dimaknai sebagai plesetan dari liburan. Dalam kalender Nasional, Hari Raya Idul Fitri adalah tanggal merah yang artinya libur. Menikmati hari libur berarti liburan. Oleh karena alasan itu, maka liburan yang diucapkan berulang-ulang, menjadi titik pangkal dari munculnya lebaran.

Begitulah arti lebaran dalam bahasa kita. Unik dan bermacam-macam. Jauh dari nalar namun dekat dengan perasaan.

Lebih penting daripada arti-arti itu adalah esensi atau ruh yang seringkali dimiliki dalam setiap kali kita menyebut kata ‘lebaran’. Bagi kita, bangsa Indonesia, Idul Fitri itu lebaran. Dan lebaran itu memaafkan, lebaran itu kesucian, lebaran itu kebahagiaan, lebaran itu makan-makan, lebaran itu kerinduan, dan lebaran itu adalah lembaran baru untuk menuju optimisme esok yang lebih baik.

Selamat lebaran!





Penulis adalah dosen UNUSIA Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Syariah, Lomba IPNU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Dari Pengembangan Islam Nusantara, Pemberdayaan Syuriyah sampai Ekonomi Syariah

Keputusan sembilan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk memilih KH Ma’ruf Amin sebagai rais aam PBNU periode 2015-2020 mencerminkan pengakuan para kiai sepuh terhadapnya. Ia memiliki berbagai kapasitas yang diperlukan untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Pandangan-pandangannya secara jelas dapat dilihat oleh publik dalam berbagai isu agama nasional. Kiprahnya bisa dilihat dalam pengembangan ekonomi syariah. Tak kalah penting, ia juga memahami politik nasional yang sangat krusial mengingat besarnya pengaruh yang dimiliki NU. Ia dikenal sebagai kiai yang sangat disiplin soal waktu dengan pergaulannya yang sangat luas. Kemampuannya dalam mengelola organisasi diharapkan akan mampu ‘menggerakkan’ jajaran syuriyah PBNU. 

Lalu, seperti apa visi dan misinya sebagai rais aam PBNU untuk periode lima tahun mendatang, upaya pengembangan Islam Nusantara, pemberdayaan syuriyah, pengembangan ekonomi syariah sampai dengan perannya di Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut wawancara Mukafi Niam  dengannya sesaat sebelum pengumuman jajaran kepengurusan PBNU, Sabtu (22/8).

Dari Pengembangan Islam Nusantara, Pemberdayaan Syuriyah sampai Ekonomi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Pengembangan Islam Nusantara, Pemberdayaan Syuriyah sampai Ekonomi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Pengembangan Islam Nusantara, Pemberdayaan Syuriyah sampai Ekonomi Syariah

Apa visi dan misi Kiai sebagai rais aam PBNU untuk lima tahun ke depan?. Pertama tentu, saya akan mendorong konsolidasi organisasi, melakukan revitalisasi di tingkat Pusat, Wilayah, Cabang, MWC sampai di Ranting. Semua tugas dan program tidak mungkin jalan tanpa konsolidasi organisasi yang solid. Itu mutlak. Karena itu, kita akan melakukan pemantauan-pemantauan, di mana bagian pusat yang harus dibenahi, didorong, kemudian wilayah mana yang tampak belum hidup. Dan kita harus bisa memantau secara tepat kondisi kepengurusan di semua tingkatan. 

IPNU Tegal

Selanjutnya apa Kiai?.

IPNU Tegal

Yang kedua, tentu program yang diprioritaskan di muktamar. Pasti kita akan melakukan sosialisasi, edukasi yang kita sudah kita sampaikan seperti Islam Nusantara. Islam Nusantara bagi saya bukan sesuatu yang baru, ini merupakan Islam Aswaja Annahdliyah. Kenapa Aswaja. Kerena ada ada paham lain seperti Syiah, ada Muktazilah, ada Jabariyah. Kemudian kenapa mesti Annahdliyah, karena ada yang mengaku Aswaja, tetapi tidak sama dengan paham Aswaja NU, seperti Wahabiyah. Kita mendasarkan akidahnya pada Asy’ari dan Maturidi, tetapi mereka menganggap Asy’ari menyimpang. Karena itu kita tegaskan bahwa Annahdliyah menjadi ciri khusus. Atau juga sekarang ini model ISIS. Mereka mengaku aswaja, tetapi melakukan tindakan yang radikal, teror dan itu tidak sesuai dengan watak Islam Nusantara. Maka Aswaja Annadliyah perlu kita pertahankan. Ini perlu sosialisasi dan edukasi di lingkungan warga NU dan di luar warga NU. 

Bagaimana dengan pengembangan Islam Nusantara?. Saya ingin perilaku Islam Nusantara ini menjadi perilakunya Islam di Indonesia, bahkan kalau perlu kita ingin ini menjadi perilaku bukan hanya di Indonesia, tetapi perilaku di dunia. Perilaku pergaulan dalam kehidupan global. Kita melihat Islam di Timur Tengah diliputi kekerasan. Banyak konflik dimana-mana karena itu kita menginginkan Islam Nusantara menjadi bagian dari Islam yang damai, tidak memaksa, tidak mengintimidasi, menjaga hubungan yang harmonis.

Apa point-point penting yang harus diperhatikan?. Islam menurut saya ada tiga faktor yang perlu diperhatikan. Pertama cara berpikirnya atau fikrah-nya. Saya sering mengemukakan, fikrah nahdliyah sebagai tawassutiyah, tatawwuriyah, wa manhajiyah. Artinya tawassutiyah moderat, tidak tekstual, tidak statis pada teks, beda dengan salafi. Mereka sangat tekstualis sehingga tidak memberi ruang pada yang tidak ada nash-nya. Cara berpikir ini penting karena di NU, atau kita sebut Islam Nusantara ini, kita memberi ruang sepanjang tidak bertentangan dengan nash. Kita menerima kebiasaan, tradisi, dan budaya selama ada maslahah, ya disitu sudah sesuai syariah, sepanjang tidak bertentangan dengan nash. Ini adalah al ihtisan, sesuatu yang kita anggap baik sepanjang tidak bertentangan. dalilnya “Jika orang Islam mengatakan itu baik, bagi Allah juga baik.” Kita mengakomodasi sepanjang tidak bertentangan dengan nash. Ada kaidah yang menyebut “sesuatu yang ditetapkan berlaku dalam kebiasaan, seperti sudah tercakup dalam nash.” Ini cara berpikir yang akomodatif, tetapi tidak liberal.

Bagaimana dengan kelompok Liberal?. Yang liberal cara berpikirnya terbalik dari kelompok tekstualis, tapi mereka berlebihan. Karena itu kita selain tawassutiyah, tetapi juga dinamis. Kita tidak boleh statis. Kita pernah terjabak pada teks kitab, maka di Lampung, kita buka insinbat mahaji. Berpikir secara manhaji atau metodologis, kemudian mendinamisir, tetapi sebaliknya ketika dinamisasi ini kebablasan, tidak memperhatikan metode-metode yang sudah diajarkan para ulama, maka pada tahun 2005 kita melakukan pengembalian, penjernihan kembali. Kalau di Lampung kita namakan tatwir, saat pengembalian kita namakan taswiyah. Ini dibersihkan dari unsur luar yang bisa merusak cara berpikir NU. Disini kita kembalikan pada manhaj-nya.

Tadi terkait dengan pemikiran, bagaimana dengan gerakan NU? . Ciri gerakan kita. Pertama kita islahiyah, ini artinya perbaikan. Sebab NU ini gerakan islahi. Ketika paradigma yang kita pakai ala qadimishaalih, menjaga yang lama yang baik-baik. Yang kedua, al akhdu bil jadidil aslah. Mengambil yang baru yang lebih baik. Ini kurang mendukung yang kita sebut al islah. Kalau hanya ‘mengambil’ kan bermakna pasif. ada produk orang yang lebih baik kemudian diambil, tetapi kita harus melakukan perbaikan. Saya menyebutnya al islah ila ma hua aslah summal aslah fal aslah. Memperbaiki keadaan untuk menjadi lebih baik, lebih baik lagi, lebih baik lagi secara sustainable. Ini adalah upaya menjadikan sesuatu inovatif, kreatif, dan aktif. Kalau cuma mengambil kan pasif. Karena itu, kita tidak cukup dengan mengambil. 

Memang NU itu kan jamiyyah islah, paradigmanya perlu dilengkapi, mendahulukan yang aslah, yang lebih baik daripada yang baik. Kenapa, karena ada ungkapan dari ahli ushul fikh, namanya Izzudin Ibnusalam “tidak mendahulukan yang baik daripada yang lebih baik, kecuali orang itu tidak mengerti, terhadap kelebihan yang lebih baik.” Kita harus melakukan itu. Namanya fikih aulawi, namanya auwaliyah. Ini mesti dibangun oleh kita. Ini kalau tidak menimbulkan kegoncangan. Kalau menimbulkan disharmoni, ya ditunda.

Kedua, tawazuniyah atau seimbang, ya masalah agama dan masalah keduniaan. Ketiga, ciri kita adalah mengajaknya dengan cara kesukarelaan. Tidak ada pemaksaan tapi juga tidak masa bodoh. Kemudian tasamuhiyah, toleran. Kita juga santun dalam menyampaikan dan mengajak. Itu gerakan yang saya sebut gerakan Islam Nusantara.

Selanjutnya adalah amaliyahnya, tradisi kita seperti shalawat dan istighotsah harus dihidupkan karena ini salah satu ciri Islam Nusantara. Ini perlu melakukan agar organisasi solid. 

Bagaimana mengenai pemberdayaan ekonomi?. Kita mengembangkan ekonomi kemasyarakat, ekonomi keumatan. Ini yang harus dibangun. Ada dua pendekatan, melakui ekonomi komersial dengan menumbuhkan dan menyemai pengusaha melalui upaya yang sungguh-sungguh, menghadirkan lembaga keuangan untuk mendukung, juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, tetapi juga ada sektor voluntary seperti dana sosial, wakaf, zakat, infak, dan sedekah. Jumlah warga NU yang besar ini menjadi potensi yang belum tergali. Ini bisa untuk membangun ekonomi masyarakat kita. Tentu yang tidak kita lupakan adalah akhlak bangsa. Dan ini memerlukan upaya sistematis, gerakan dakwah yang menurut saya high impact, jangan yang low impact atau bahkan yang no impact. Bagaimana, ini yang harus menjadi perhatian kita. 

Bagaimana dengan upaya penguatan syuriyah NU?. Salah satu faktor yang harus dibangun adalah penguatan kepemimpinan ulama di NU. Nah, penguatan kepemimpinan ulama ini identik dengan penguatan lembaga ulama di NU. Bagaimana syuriyah bisa efektif melakukan pengawasan, mendorong, kalau perlu melakukan pelurusan-pelurusan. Kalau kendor di dorong tanfidznya. Kalau terlalu kenceng dikendalikan biar tidak nabrak-nabrak, kan begitu. Jadi syuriyahnya harus aktif. Karena itu saya ingin mengefektifkan kekatiban. Karena rais syuriyah kan banyak yang jauh dari Jakarta. Syuriyah harus hadir. Kalau tidak hadir ya tidak berperan. 

Kiai tinggal di Jakarta, jadi lebih mudah beraktifitas di kantor PBNU?. Ya, akan saya usahakan karena kan ada harmoni antara syuriyah dan tanfidziyah, saling mengisi, saling memberi dan saling mendukung serta saling mengingatkan.

Kiai aktif di PBNU dan MUI, ke depan akan seperti apa?. Kalau saya masih di MUI, tentu saya pertama harus membagi. Kedua, berbeda antara fungsi MUI dan NU. MUI itu kan tidak punya umat. Umatnya ada di NU, di sana hanya bersifat kebijakan, pemikiran, tetapi operasionalisasi dalam rangka pemberdayaan umat, perbaikan akhlak, kemudian pemahaman Islam Nusantara, itu yang punya rakyat kan NU. Karena itu, cara kita kerja berbeda polanya. Disana pola besaran saja, konsep, dan pemikiran. Disini, di PBNU selain ada pemikiran, ada operasionalisasi. Langsung pada pembinaan umat.

Kadang ada beda sikap antara MUI dan NU?. Seharusnya sama, sayang ada perbedaan informasi. Di MUI sebenarnya juga anak NU. Ada paradigma yang dipakai terhadap suatu masalah. Kalau di MUI sudah saya gariskan. Kalau menyangkut makanan, kita mengambilnya al akhdu bil akhlab, wal khuruj minal khilab, mengambil pendapat yang paling hati-hati dan supaya keluar dari khilaf. Mengambil yang paling unggul. Tapi kalau dalam muamalah, ekonomi syariah, mengambilnya yang paling maslahah dan pendapat yang bisa mengakomodir, walaupun tidak unggul. Kenapa, karena dalam muamalah asalnya adalah boleh sepanjang tidak ada larangan. Karena itu yang lebih longgar. 

Dalam masalah label halal, nanti NU punya lembaga pemeriksa. UU-nya memang begitu, fatwa ada di MUI, obyek yang diperiksa dibagi oleh LP POM, mana yang dikasih ke NU, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) NU, mana yang akan diambil yang lain sehingga tidak terjadi rebutan. Ini harus dihindari, harus proporsional. Jadi sebenarnya tidak harus terjadi perbedaan, wong fikihnya sama, kitabnya sama, kaidahnya sama.

Kiai sangat aktif dalam pengembangan ekonomi syariah. Apakah hal ini juga akan dikembangkan di lingkungan NU?. Ini sudah menjadi sistem nasional, artinya sudah memperoleh tempat secara nasional. Bahkan insyaallah akan dibentuk Komite Nasional Keuangan Syariah. Ketuanya kalau tidak salah presiden atau wakil presiden. Anggotanya para menteri. NU harus memanfaatkan peluang ini. Kita yang punya potensi, jangan sampai diambil orang, dan NU yang paling punya referensi. Yang punya kitab kan NU, jangan sampai orang lain yang memakai. Kita hanya terlambat saja masuk sektor ini, tetapi potensinya ada di NU. Kita akan gerakkan ekonomi syariah di lingkungan pesantren. Saya kira ekonomi syariah itu nantinya yang memegang kendalinya orang NU. Itu keyakinan saya. 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Santri, Nahdlatul IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi

Madinah, IPNU Tegal

Pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Nabawi Madinah semenjak masuk Islam membuat mantan juara dunia tinju kelas berat, Mike Tyson, memperoleh pengalaman spritual yang cukup mendalam.

Entah sedang merenungi apa, petinju kekar yang dijuluki "Si Leher Beton" tak mampu menahan tangis saat masuk ke dalam masjid yang dibangun di zaman Nabi Muhammad SAW ini.

Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi

Dia mengatakan senang punya fans yang mencintainya di Arab Saudi. Tapi, Ia berharap mereka memberi waktu agar bisa sendiri untuk menikmati momen spiritual di Tanah Suci.

IPNU Tegal

"Saya tidak kuasa menitikkan air mata ketika saya mengetahui bahwa saya berada di salah satu taman surga," ujarnya ketika mengunjungi Masjid Nabawi seperti dikutip arabnews.com.

Selain itu, Tyson melakukan umrah di Mekah, Ahad 4 Juli 2010. Tyson menginjak Tanah Suci untuk kali pertama pada Jumat 2 Juli 2010. Pria 44 tahun ini langsung melakukan sejumlah kegiatan, termasuk melakukan ibadah di Masjid Nabawi.

IPNU Tegal

Senin 5 Juli 2010, Tyson tinggal di hotel dekat Masjid Nabawi dan mendapat sambutan luar biasa dari fans. Dia mendapat pengawalan ketat saat melakukan shalat Dzuhur. Dan Tyson mengaku mendapat pengalaman spiritual luar biasa selama di Arab Saudi.

Tyson yang memeluk Islam ketika masih dipenjara pada pertengahan 1990-an, kemudian mengenakan pakaian ihram untuk melakukan umrah di Mekah. Usai melakukan umrah, mantan petinju yang punya nama Islam, Malik Abdul Aziz ini rencananya juga akan mengunjungi Jeddah, Abha dan Riyadh. (nur)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah IPNU Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Hadiri Pelantikan DPP Hanura, Kiai Said: Jadi NU itu Membuka Diri

Jakarta, IPNU Tegal?



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menghadiri pelantikan Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura periode 2016-2020 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/2). Pada kesempatan tersebut, ia didaulat sebagai pembaca doa.?

Hadiri Pelantikan DPP Hanura, Kiai Said: Jadi NU itu Membuka Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Pelantikan DPP Hanura, Kiai Said: Jadi NU itu Membuka Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Pelantikan DPP Hanura, Kiai Said: Jadi NU itu Membuka Diri

“Saya habis membaca doa di pelantikan di DPP Hanura. Saya kenal lama dengan Pak Osman Sapta, seorang pengusaha sukses dan dermawan,” katanya di gedung PBNU, Jakarta Rabu (22/2). ?

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta, tersebut berharap Hanura dibawah kepemimpinan Osman Sapta Odang bisa memberikan harapan kepada rakyat, partai yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia.?

Kehadirannya di pelantikan tersebut, menurut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo dan Krapyak itu, artinya menjadi NU adalah terbuka dengan semua kalangan. ?

IPNU Tegal

“Saya dulu berdoa di PKPI. Itu artinya NU membuka diri dengan partai mana pun. Netral,” pungkas kiai kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu. (Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Sunnah, Hikmah IPNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis

Cirebon, IPNU Tegal - Rais Aam PBNU KH Maruf Amin kembali menegaskan tanggung jawab ulama dalam himayatu daulah atau menjaga NKRI dari rongrongan kelompok radikal.

"Ulama bertanggung jawab menjaga umat dan melayani umat. Ulama juga bertanggung jawab dalam menjaga negeri ini. Karena ulama juga turut berperan dalam mendirikan NKRI, maka wajib hukumnya ulama menjaga keutuhan NKRI," kata Kiai Maruf dalam Halaqah Alim Ulama dan Kiai Pesantrem se Wilayah III Cirebon, Sabtu (6/5/2017) di Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon.

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis

Ia juga mengungkapkan, saat ini, ada kelompok yang ingin memperjuangkan Islam, tanpa memperhatikan realitas kebangsaan dan memaksakan kehendak. Ada juga kelompok yang melakukan delegitimasi agama.

IPNU Tegal

"Dua kubu ini sekarang menguat. NU yang cara berpikirnya moderat, harus bisa melunakkan, mengendalikan dua kubu ini. Kita harus mencegah gejala-gejala yang bisa menimbulkan konflik ini," tandasnya.

Ia mengimbau agar para kiai lebih peka dalam mendidik umat dan memperjuangkan kemaslahatan umat Islam, ulama harus memperhatikan konstitusi, kebinekaan, dan toleransi. "Kita bukan tidak  berjuang untuk Islam, kita berjuang dengan cara konstitusional dan demokratis," imbuhnya.

Pelayanan terhadap umat, kata Kiai Maruf, juga dilakukan dalam bentuk menjaga kerukunan umat. "Berikutnya kita perlu melakukan islahul umat dan khidmatul umat (perbaikan dan pengahbdian kepada umat). Kita melakukann perbaikan-perbaikan. Sekarang ini adalah momentum yang sangat baik. Baru-baru ini kita mengadakan kongres ekonomi umat. Kita gerakkan ekonomi umat. Mendorong umat untuk mandiri. Bila perlu berkonstribusi kepada bangsa," paparnya.

IPNU Tegal

Hal senada diungkap Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. Khidmah kiai NU terhadap umat, menurutnya, telah dilakukan dalam bentuk pelayanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

"Dalam kondisi situasi bangsa yang sedang mengalami pancaroba ini, kita perlu mengingat kembali manqobah dan uswah atau teladan yang diajarkan para ulama lampau. Saat ini kita harus mulai mengoreksi diri menjelang satu abad NU ini, apa yang  bisa kita sumbangkan untuk NU dan bangsa ini," ungkapnya.

Halaqah yang dihadiri ratusan ulama se Wilayah III Cirebon itu juga menghasilkan sejumlah usulan strategis untuk memaksimalkan sinergi gerakan Jamiyah Nahdlatul Ulama. (Malik Mughni/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Ubudiyah, Habib IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock