Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Kiai-kiai di Wonosobo Nonton Bareng "Sang Kiai"

Wonosobo, IPNU Tegal. Sebanyak 231 kiai dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Wonosobo menggelar nonton bareng film Sang Kiai di Dieng Cinema, Ahad (16/6) kemarin. Nonton bareng bersama kiai Wonosobo itu dilakukan di sela-sela harlah ke-90 NU sekaligus memperingati hari lahirnya Pancasila.

Ketua PCNU Kabupaten Wonosobo Arifin Shiddiq menuturkan, kader muda NU seharusnya meniru rekam jejak mbah KH Hasyim Asy’ari. Karena pendiri NU tersebut memiliki karakter yang luar biasa. "Karakter tersebut belum banyak dimiliki penerus NU pada masa sekarang," katanya. 

Kiai-kiai di Wonosobo Nonton Bareng Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai-kiai di Wonosobo Nonton Bareng Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai-kiai di Wonosobo Nonton Bareng "Sang Kiai"

Pembantu Rektor I UNSIQ Jawa Tengah KH Mukhotob Hamzah yang ikut nonton bareng menambahkan, para santri di era sekarang harus memiliki mental pejuang. Yaitu berjuang untuk dirinya, berjuang buat agamanya, dan berjuang demi bangsanya yaitu bangsa Indonesia.

IPNU Tegal

"Para Santri di Wonosobo bisa belajar keteladanan yang dilakukan sosok mbah KH Hasyim Asy’ari," tandasnya usai nonton bareng film yang diaktor Ikranegara dan Agus Kuncoro tersebut.

IPNU Tegal

Kepala Kementrian Agama Kabupaten Wonosobo Drs. H. Muhtadin mengatakan, Mbah Hasyim juga merupakan sosok yang berani dalam tindakan. Dia berpendirian dan bersemangat melawan penjajah Jepang. Mbah Hasyim menunjukkan bahwa untuk meraih kemenangan tidak harus dengan senjata lengkap. Cukup dengan tekad yang kuat meskipun senjatanya ala kadarnya.

"KH Hasyim Asy’ari menunjukkan betapa wajibnya hukum membela tanah air dari penjajahan. Beliau menyeru para santrinya untuk membela tanah air," jelasnya.

Film yang disutradarai Rako Prijanto membuat para kiai di Wonosobo bangga. Bahwa NU memiliki sosok yang berani berjihad demi agama dan bangsanya. Di film ini membuktikan bahwa banyak peran tokoh ulama dan kiai yang ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Fathul Jamil

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal RMI NU, Pertandingan IPNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Kisah Yahudi yang Dapat Berkah dari Rasulullah

Betapa sering kita dapati upaya sebagian orang untuk melihat hubungan Muslim dan non-Muslim sebagai dua entitas yang saling memusuhi. Ditampilkanlah beberapa fakta sejarah atau dalil yang memperkuat relasi antagonistis tersebut: Rasulullah memusuhi atau dimusuhi, misalnya oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi.

Pandangan itu menjadi berbeda seandainya fakta dan dalil itu juga digandengkan dengan data lain yang justru menunjukkan hubungan harmonis Rasulullah dengan orang-orang yang belum secara total mengikuti risalah beliau. Salah satunya cerita tentang seorang Yahudi yang mendapatkan berkah dari doa Rasulullah.

Kisah Yahudi yang Dapat Berkah dari Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Yahudi yang Dapat Berkah dari Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Yahudi yang Dapat Berkah dari Rasulullah

Kisah itu dimulai ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merasa haus dan mencari air. Dalam kondisi tersebut, seorang Yahudi pun memberinya minum. Atas perbuatan baik si Yahudi, Rasulullah lantas membalasnya dengan doa: jammalakallâh (semoga Allah memperelok dirimu).

IPNU Tegal

Ajaib. Lantaran doa itu hingga akhir hayat tak satu pun uban ditemukan di kepala orang Yahudi itu.

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik sebagaimana dikutip Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkâr. Sebagaimana banyak hadits-hadits lain yang tak menyebutkan nama secara jelas dalam alur kisah, begitu pula tentang nama orang Yahudi itu.

IPNU Tegal

Riwayat tersebut lebih dari sekadar informasi tentang seseorang yang menerima pemberian berterima kasih kepada si pemberi. Doa Nabi kepada si Yahudi memberikan gambaran tentang bagaimana Rasulullah membangun hubungan positif dengan pihak-pihak di luar Islam.

Memang benar bahwa konflik sudah terjadi sejak zaman Nabi antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir. Namun, belajar dari cerita di atas, rasanya sangat picik bila meyakini bahwa permusuhan itu hanya soal perbedaan dikotomis antara Muslim dan non-Muslim. Ada sebab lain yang lebih substansial mengapa peperangan harus terjadi, seperti ketidakadilan, perampasan hak-hak dasar, dan sejenisnya.

Rasulullah sendiri diutus sebagai rahmat bagi seluruh ciptaan (rahmatan lil alamin). Beliau tidak pernah menganjurkan memusuhi perbedaan identitas. Yang pasti adalah Islam memerangi kezaliman, sebagaimana pesan Al-Qur’an: falâ ‘udwâna illâ ‘aladh dhâlimîn (maka tidak ada permusuhan, kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Wallahu a’lam. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, AlaSantri, Santri IPNU Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Mentradisikan Teknologi

Judul Buku: Teknologi Sebagai Tradisi; Refleksi Pengalaman 4 Tahun IPNU Tegal

Pengantar: KH Hasyim Muzadi

Penulis: Abdul Mun’im DZ

Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mentradisikan Teknologi

Penerbit: IPNU Tegal, Jakarta

Cetakan: I, Agustus 2007

Tebal: 56 Halaman

Peresensi: Ach Syaiful A’la*


IPNU Tegal

IPNU Tegal

Nahdlatul Ulama—biasa disingkat NU—artinya adalah ”Kebangkitan Ulama”. Sebuah organisasi keagamaan kemasyarakatan (jamiyah diniyah ijtimaiyah) yang didirikan para ulama, 31 Januari 1926 M/16 Rajab H di Surabaya.

Latar belakang berdirinya, berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran kaum modernitas Islam atas situasi politik dunia Islam. Berawal dari pemikiran Syeikh Muhammad Abduh di Mesir, dan gerakan Wahabi yang dipelopori Abdul Wahab di Arab Saudi, dengan tujuan untuk memurnikan ajaran Islam.

Gerakan ini ingin memacu perkembangan Islam menghadapi perubahan zaman, dengan tetap berdasarkan Al-Quran dan Hadits (konservatif) yang tidak menghendaki ajaran bermazhab. Sementara, kalangan pesantren dan ulama salaf Indonesia, yang tetap berpegang pada ajaran bermadzhab dalam menjalankan syariat Islam, membentuk sebuah komite yang dipimpin KH Wahab Chasbullah atas restu KH Hasyim Asyari.

Komite kemudian mengalih perhatian ke kongres Islam yang diprakarsai Ibnu Suud, penguasa Hijaz baru di Arab. Gagasan Ibnu Suud akan menghapus tradisi keagamaan dan ajaran bermadzhab, tawasul, ziarah kubur, Maulid Nabi, dibicarakan dalam dua kongres umat Islam berturut-turut. Di Yogyakarta tahun 1925 dan di Bandung tahun 1926. Walaupun kongres Bandung sebenarnya hanya mengesahkan kesepakatan sebelumnya, karena nama, KH Abdul Wahab Chasbullah (delegasi pesantren) dicoret di konferensi khilafah umat Islam se-dunia, dengan alasan bukan organisasi. Peristiwa itu menyadarkan ulama pengasuh pesantren, betapa pentingnya sebuah organisasi. Akhirnya, para ulama pesantren sangat tidak bisa menerima kebijakan Ibnu Suud. Bahkan santer terdengar berita, rencana akan menggusur makam Nabi Muhammad Saw. Maka melalui proses panjang lahirlah “NU”.

Perkembangan NU ternyata semakin pesat. Mungkin di luar dugaan para pendirinya. Kebesaran ini tak lepas dari adanya kreatifitas para aktor sebagai pengendali dan uswah bagi umatnya. Dan sistem manajemen kepengurusan NU secara struktural sangat jelas, mulai tugas, fungsi, wewenang, kebijakan dari tingkat pusat hingga ranting.

NU, sebagai jamiyah diniyah ijtimaiyah, sangat menghargai nilai-nilai tradisi dan budaya. Karena kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan tradisi dan budaya. Salah satu karakter budaya adalah berubahan yang terus menerus, hal ini diciptakan oleh manusia. Maka, budaya bersifat beragam sebagaimana keberagaman manusia. Menghadapi hal semacam itu, NU mengacu pada salah satu kaidah fiqh “al-muhafazhah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidil al-ashlah” (mempertahankan kebaikan warisan masa lalu dan mengkreasi hal baru yang lebih baik).

Di tengah arus informasi dan komunikasi yang tak lagi terbendung, ternyata internet menjadi sebuah sarana alternatif yang harus digalakkkan. Maka apresiasi terhadap teknologi terasa perlu dilakukan karena pengetahuan warga “Nahdliyin” masih terbatas tentang teknologi. Dengan harapkan akan memunculkan masyarakat terpelajar dan melek informasi. Masyarakat tidak hanya tahu informasi keagamaan dari para mubalig, tetapi juga bisa banyak mengakses informasi mengenai perkembangan politik, ekonomi, sosial serta gerak lajunya kebudayaan.

Membuka mata dengan informasi nantinya akan menjadi manusia yang kritis dan mandiri. Orang yang kritis dan mandiri bisa mengambil keputusan atau sikap atas dasar keyakinan dan pertimbangan menurut rasionalnya sendiri. Juga menambah wawasan para kiai, pengasuh pesantren, dan santri agar pemikiran mereka relevan bagi perkembangan zaman, shalih fi kulli zaman wa makan. Oleh karena itu, dirasa perlu “IPNU Tegal” lahir untuk masyarakat NU.

Kenapa harus ada “IPNU Tegal”? Padahal sudah banyak media NU lainnya yang menfokuskan berbagai kajian tentang NU dan Ahlussunnah Wal Jamaah, Aswaja. Di antaranya: Bintang Sembilan (Sumatera Barat), Aula dan Duta Masyarakat (Jawa Timur), Khittah (Sulawisi Selatan), Forum Warga (Jawa Tengah) dan beberapa media lainnya tingkat cabang.

Setelah membuka website “IPNU Tegal” pembaca akan menemukan jawabannya. Melalui proses panjang, yang pada tanggal 11 Juli 2003 secara resmi “IPNU Tegal” diluncurkan di hall Hotel Borobudur, Jakarta. Bahkan tahun 2004-2005 website “IPNU Tegal” mendapat penghargaan situs terbaik kategori “Sosial & Kemasyarakatan”. Ini menandakan bahwa NU tidak hanya berjuang dalam bentuk tindakan nyata di masyarakat. Tapi juga NU memberikan pencerahan-pencerahan dalam dunia maya.

Terlepas adanya beberapa kelemahan website itu, adalah hal yang tetap patut disyukuri. Karena dengan adanya media seperti ini, berarti NU telah memperkenalkan ajarannya, yaitu, Islam Indonesia yang moderat, rahmatan lil alamin. Karena kini, NU telah go international dikenal kurang lebih 21 negara belahan dunia.

Buku ini, tidak bermaksud dijadikan sebagai rujukan (reference) bacaan yang mempunyai dasar pemikiran, rumusan masalah, metode, dan lain-lain. Tapi hanya sebatas memperkenalkan kepada warga “Nahdliyin” khususnya, pembaca pada umumnya tentang adanya website “IPNU Tegal”.

Website ini menyediakan berbagai “menu”? all about NU: sejarah berdirinya, tokoh, forum diskusi, beberapa istilah organisasi, dan lain-lain. Menariknya lagi, di website “IPNU Tegal” tersedia dalam tiga bahasa. Pembaca bisa ber-cas-cis-cus dengan bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Inggris sesuai dengan selera. Selanjutnya, selamat berkunjung di website: http://www.nu.or.id.



*Kader muda Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Aktif di Lesehan Komunitas Baca Surabaya (Kombas).
Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Tokoh IPNU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Puslitbang Lektur Validasi Terjemah Al-Quran Bahasa Bali

Denpasar, IPNU Tegal - Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Managemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pekan ini menggelar workshop validasi terjemahan Al-Quran ke dalam Bahasa Bali. Kegiatan ini dihelat di Hotel Neo Denpasar.

“Kegiatan validasi ini diarahkan untuk mengecek, melihat secara keseluruhan, secara teliti dan seksama hasil penerjemahan yang sudah dilakukan tahun 2016 kemarin,” ujar Kepala Bidang Manajemen Organisasi Yasin Ansori saat upacara pembukaan, Selasa (5/4) malam.

Puslitbang Lektur Validasi Terjemah Al-Quran Bahasa Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Lektur Validasi Terjemah Al-Quran Bahasa Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Lektur Validasi Terjemah Al-Quran Bahasa Bali

Ia mengatakan, penerjemahan Al-Quran ke dalam Bahasa Bali merupakan satu dari sekian kegiatan yang ada di Puslitbang Lektur. Sampai saat ini, pihaknya telah melakukan penerjemahan Al-Quran ke dalam 15 bahasa daerah.

Menurut dia, penerjemahan ke Bahasa Bali ini unik sekali. Pasalnya, tim penerjemahnya bukan dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) seperti UIN, IAIN, dan STAIN. Akan tetapi dari STAI Denpasar. “Ini barangkali satu-satunya kampus swasta yang bekerja sama dengan kami,” ujarnya disambut aplaus peserta workshop.

IPNU Tegal

Ia menambahkan, proses validasi selama 2017 dilakukan hanya dalam waktu empat bulan, mulai April sampai Juli. “Memang sangat simpel. Karena Agustus harus masuk proses pentashihan oleh LPMQ. Itu nggak bisa ditunda karena telah terjadwal. Kalau sampai tertunda, otomatis menunda kegiatan di belakangnya,” kata Yasin.

IPNU Tegal

Usai validasi, dilanjutkan proses desain selama bulan September. “Lalu, Oktober proses cetak.  Itu kita asumsikan satu bulan selesai. Kemudian November kita akan melakukan audiensi ke Menag dan Gubernur Provinsi Bali,” katanya.

Kerja maraton ini dilakukan karena terjemahan tersebut akan diluncurkan Menag Lukman Hakim Saifuddin pada awal Desember 2017. “Jadi, tahun ini mutlak selesai. Jadi, proses itulah yang melandasi bahwa kerja kita dikejar waktu, hanya empat bulan,” katanya.

Tujuan peluncuran terjemahan ini, kata Yasin, hendak menyampaikan kepada Gubernur Bali bahwa di provinsi yang dipimpinnya sudah ada terjemahan Al-Quran dalam bahasa Bali.

“Ia rencananya akan kami undang saat peluncuran di Jakarta. Setelah diluncurkan, masyarakat langsung bisa menggandakan untuk sosialisasi,” kata Yasin.

Penerjemahan ke dalam sejumlah bahasa daerah ini, lanjut Yasin, merupakan kerja Kemenag di bidang konservasi budaya. “Jadi hasilnya nanti menjadi milik Kemenag, bukan milik lembaga atau perorangan,” tegasnya.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari, Selasa-Kamis, 5-7 April 2017, ini diikuti delegasi sejumlah ormas Islam, antara lain NU, Muhammadiyah, MUI, peneliti serta para akademisi. (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Pertandingan IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Ribuan Banser Ikuti Apel Kebangsaan

Tegal, IPNU Tegal?

Ribuan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se eks Karesidenan Pekalongan mengikuti apel kebangsaan dalam rangka peringatan hari sumpah pemuda di alun-alun kota Tegal, Ahad (28/10).?

Mereka datang dari Kabupaten Tegal, Brebes, Pemalang, ? Pekalongan Kabupaten dan Kota serta tuan rumah sendiri.?

Ribuan Banser Ikuti Apel Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Banser Ikuti Apel Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Banser Ikuti Apel Kebangsaan

Sebagaimana diberitakan sebelumnya apel banser akan diwarnai juga dengan aksi penanaman 1000 pohon di wilayah kelurahan keturen, Kecamatan Tegal selatan. Kota Tegal dan akan dilakukan oleh Banser dan Ansor kota Tegal.?

Seperti biasa apel Banser jug di dalamnya dibacakan nawa prsetiya Banser sebagai pedoman bertingkah laku dan berideologi bagi anggota banser dan tentunya mengawal NKRI sebagai harga mati. Pembacaan nawa prsetiya Banser berjalan dengan khidmat dan penuh dengan semangat. ?

IPNU Tegal

“Aksi sosial tanam pohon yang dilakukan dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda itu merupakan simbol kepedulian pemuda terhadap lingkungan hidup,” kata sekretaris panitia Sofyan Efendi.

IPNU Tegal

Menurut Sofyan, penanaman 1000 pohon yang terdiri dari jenis pohon Sawo dan pohon Sukun itu akan dilakukan usai mengikuti upacara peringatan hari Sumpah Pemuda yang diselenggaran Pemkot di alun-alun Kota Tegal.?

Seusai apel Banser peserta langsung kembali dengan kendaraan yang ditumpangi masing-masing, kabupaten Tegal peserta apel menggunakan kendraan bermotor, jadi seolah ada pawai yang menghiasi kegiatan itu.?

Wasat Satkorcab Banser Kabupaten Tegal Zeni Masardi mengatakan anggotanya hadir dalm apel itu Karena ada permintaan untuk mengikuti dan kami sangat bangga Karena sumpah pemuda yang merupakan peristiwa yang sangat bersejarah. “Ini menunjukan bahwa Banser selalu menghargai nilai-nilai sejarah," katanya.

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Pertandingan IPNU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning

Pringsewu, IPNU Tegal. Ratusan Santri dari perwakilan pondok Pesantren di Kabupaten Pringsewu memenuhi Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (15/10). Dengan menggunakan seragam pakaian ciri khas masing-masing pesantren, para santri siap menunjukkan kemampuannya dalam Perlombaan Lalaran dan Baca Kitab Kuning yang diselenggarakan oleh Panitia Hari Santri PCNU Kabupaten Pringsewu.

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning

Dalam penjelasannya Koordinator Lomba tersebut, H Auladi Rosyad mengatakan bahwa dalam lomba lalaran para peserta dibagi kepada dua tingkatan atau kelas, yaitu kelas Tsanawiyah menggunakan Nadhoman Imrithy dan Aliyah menggunakan Nadloman Alfiyah.

"Satu grup 10 sampai 15 orang, masing-masing ada yang vokal dan lainya menabuh alat seperti galon bekas, rebana atau alat perkusi sejenisnya. Asal kompak dan harmonis," jelas Rosyad.

Sementara untuk lomba baca kitab panitia melombakan 2 kelas yaitu kelas Tsanawiyah dengan Kitab Mabadi dan Kelas Aliyah dengan Kitab Fathul Qarib.

Setelah melewati proses penampilan dan penjurian yang cukup ketat, akhirnya dewan juri memutuskan pemenang dari masing-masing tangkai lomba.

IPNU Tegal

Untuk Group Pemenang Lomba lalaran Imrithi adalah Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara I, dan Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu yang berhasil menyabet sekaligus juara II dan Juara III.

Untuk Lalaran Alfiyah, Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran berhasil menjadi Juara I diikuti oleh Pondok Pesantren Miftahul Huda Banyumas dan Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara II dan III.

Sementara untuk Lomba Baca Kitab Mabadi, Santri atas nama Baaduddin dari Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran berhasil menjadi Juara I diikuti oleh Ahmad Muhaimin dari Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu sebagai juara ke II dan M. Nurul Baihaqi dari Pondok Pesantren El Banun Keputran sebagai Juara III.

Untuk kelas Fathul Qarib Santri Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran atas nama Aga Zainudin Ahsan berhasil menjadi Juara I diikuti Ahmad Afrizal dari Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran sebagai Juara II dan Maratus Sholihah dari Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara III.

IPNU Tegal

Rosyad menambahkan bahwa setelah para pemenang lomba diumumkan, mereka berhak mendapatkan hadiah berupa Thropy juara dan Uang Beasiswa Santri. "Kita akan bagikan hadiah tersebut pada Apel Hari Santri yang akan dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Pringsewu pada 22 Oktober 2017 mendatang," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Doa, Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB

Tegal, IPNU Tegal. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Tegal menggelar Pelatihan Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Pengembangan Keprofesional Berkelanjutan (PKB), di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Bhakti Negara (STAIBN) Tegal, Selasa (26/2). 

Kegiatan itu diikuti oleh 34 peserta yang terdiri dari sekolah Ma’arif tingkat SMP/MTs se Kabupaten Tegal yang mengirimkan pesertanya.  

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB

Dalam laporannya Ketua Panitia, Komarudin mengatakan begitu pentingnya acara itu sehingga Ma’arif NU melakukan kegiatan ini.

“Saya juga sangat berharap ke depan implementasi dari kegiatan ini bisa diaplikasikan, karena penting sekali bagi guru-guru yang bersertifikat, karena ke depan penilaian Kinerja Guru melalui angka kredit. Dan formulasinya harus dilatih dengan baik.”

IPNU Tegal

Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya untuk mempersiapkan para guru di lingkungan Ma’arif agar tidak ketinggalan dengan dinamika pendidikan,“ kata Guru SMKN 1 Dukuhturi itu. 

IPNU Tegal

Sementara ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Tegal H Muslikh menjelaskan persoalan pendidikan di lingkungan NU harus segera dibenahi. Menurutnya Pendidikan di NU saat ini dikelola banyak lembaga atau badan otonom sehingga terjadi tumpang tindih dalam pengelolaanya.

Ia berharap ke depan dari pelatihan ini bisa menyediakan assesor-asseror internal di sekolah masing-masing, karena mungkin ini  pelatihan pertama kali yang di lingkungan Ma’arif dan mungkin sekolah yang berada di lingkungan Kemenag. 

Dalam sesi itu juga ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal, H Ahmad Wasy’ari mengatakan cara bersyukur menjadi guru adalah dengan menjadi guru profesional.

“Dengan bekal motivasi inilah, bapak atau ibu bisa hadir untuk memperkuat kualitas diri menjadi guru profesional.”

 Ia mengatakan, bagi sekolah yang hadir mengikuti pelatihan ini jelas akan mengharapkan berkah, karena telah bersungguh-sungguh ingin mengembangkan sekolah agar lebih baik, karena disana ada amanat yang yaitu peserta didik.

“Jadi jangan main-main karena kita juga mengharapkan berkah dari peserta didik juga,” tukas kepala UPTD Dipora kecamatan Adiwerna itu. 

Redaktur    : Mukafi  Niam

Kontributor: Abdul Muiz T                    

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Khutbah, Lomba IPNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah

Oleh Ubaidillah Achmad

Sehubungan dengan peristiwa bom bunuh diri di Madinah, telah memunculkan banyak spekulasi penilaian terhadap motif seseorang yang memilih siap mati, namun tidak siap melaksanakan darma kehidupan.

Secara psikis banyak motivasi yang menyebabkan peristiwa ini terjadi. Karenanya, saya ingin turut mencoba memahami alasan dibalik peristiwa bom bunuh diri di Madinah. Secara sederhana, peristiwa ini tidak mungkin karena kegilaan pelaku, karena orang gila tidak bisa menyiapkan perangkat yang super dahsyat ini dan menentukan momentum bagaimana ancaman yang mengundang kekhawatiran umat dunia. Yang saya maksudkan dengan pelaku di sini, adalah pelaku yang bisa saja berupa korban dan juga berupa mereka yang memainkan korban.

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah

Sebagai umat Islam, tidak perlu mengkhawatirkan terhadap peristiwa yang sudah terjadi, namun perlu memikirkan lebih serius bagaimana supaya peristiwa ini tidak terjadi? Dengan demikian, kita tidak hanya bisa mengecam, namun juga memikirkan apa yang harus kita perbuat dengan perbuatan kecil, namun bermanfaat untuk umat manusia. Karenanya, umat Islam perlu memikirkan resolusi konflik personal dan komunal yang bersumber dari nilai-nilai keagamaan, bukan justru menjadikan keyakinan agama sebagai sumber konflik kemanusiaan.

Sebelum saya berkesimpulan terhadap peristiwa naas di Madinah sebelum lebaran Idul Fitri 2016, menurut saya ada lima tesis yang bisa kita baca kemungkinannya sebagai penyebab bom bunuh diri tersebut: tesis pertama, karena adanya bom waktu sistem pemerintahan yang menggunakan sistem kerajaan. Hal ini membuat masyarakat sudah tidak puas dengan sistem kerajaan di tengah perkembangan sistem demokratisasi di dunia. Tesis kedua, karena konspirasi kapitalisme global yang ingin menguasai negara-negara penghasil minyak dunia, seperti kawasan Timur Tengah.

IPNU Tegal

Tesis ketiga, kepentingan imperialisme yang ingin menjajah negara yang menyimpan sumber daya alam yang tinggi dengan model atau cara manajemen konflik. Berbeda dengan zaman Perang Dunia II, penjajahan bisa dilakukan dengan cara penindasan pada harkat dan martabat manusia dengan merampas SDA dan menindas SDM. Namum sekarang para imperialis telah melakukan pencitraan atas nama kemanusiaan, sedangkan di sisi yang lain, secara pelan pelan melakukan penjajahan terselubung melalui perspektif akademik dan ilmiah.

Tesis keempat, karena adanya senjata makan tuan, berupa gerakan wahabi yang telah dibesarkan oleh sistem kerajaan di Arab Saudi, bertujuan untuk mendidik masyarakat agar lebih fokus pada ajaran al-Qur’an dan Hadits. Sementara itu, sistem kerajaan Arab Saudi bersumber penuh pada kehendak kuasa sang raja dari keluarga Ibn Suud. Cita-cita gerakan yang baik melalui slogan kembali pada dua wasiyat Nabi Muhammad ini, telah dipimpin langsung oleh para Ulama Wahabi yang didanai langsung oleh kerajaan. Para Ulama Wahabi di Negera Saudia Arabia ini bersikap mendua, yaitu sebagai corong kerajaan yang banyak mengabaikan teks kewahyuan, namun dalam konteks yang lain bersikap sebagai seorang ulama yang selalu berkampanye kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Yang berkembang kuat dapat mempengruhi hukum kerajaan, adalah kepentingan keluarga kerajaan Ibn Saud. Bukti yang menunjukkan hal ini, tidak ada seorang Ulama Wahabi yang berani dengan tegas menolak kebijakan Raja setegas menolak setiap yang bidah dlalalah perspektif Wahabi. Misalnya, kebijakan yang selama ini menjadi ajaran Wahabi anti Barat, namun membiarkan kebijakan raja yang memilih kerjasama dengan Yahudi untuk kepentingan penguasaan minyak. Fenomena ini berjalan lancar tanpa gugatan dari para ulama Wahabi. Yang ironis, dalam konteks kasus di Indoensia, mereka yang Arabis, justru menegaskan, sebagai gerakan anti-Amerika, anti-imperialis dan anti-Barat.

Tesis kelima, adanya gerakan teroris murni yang mengatasnamakan Islam untuk sebuah kepentingan kehendak kuasa dan gerakan pencitraan para teroris di mata aktivis gerakan kelas dunia. Namun karena merupakam gerakan makar, maka gerakan ini tidak mendapatkan dukungan masyarakat dunia. Gerakan teroris ini, telah melakukan pembajakan melaluu gerakan keagamaan yang mengajarkan tentang radikalisme. Hasil pencitraan justru berbalik, telah mendapatkan kecaman masyarakat dunia.

Sehuhungan dengan kelima tesis tersebut di atas, maka dapat dipahami, bahwa ada sistem yang memancing gejala yang bertolak belakang atau kontra produktif terhadap tujuan subjek. Sebaliknya, kelima indikasi yang menguatkan tesis tersebut di atas, telah menjadi kemungkinan terbesar dari dampak sekenario politik kapital. Mengapa kemungkinan ini terjadi, karena hanya negara besar dan super powerlah yang mampu melakukan semua ini.

IPNU Tegal

Pertanyaannya, adalah mengapa kemampuan ini tidak ditunjukkan secara terang terangan? jika secara terang terangan politik imperialis yang merugikan negara sasaran bisa dilakukan kenapa harus dengan cara silend. Karena, sekarang ini telah banyak yang menyadari betapa buruknya dikenal sebagai diktator atau manusia kejam dalam sejarah umat manusia. Beberapa sejarah kelam para penjahat kemanusiaan, tidak ingin mereka ulang dalam sejarah modern. Karenanya, kebijakan politik yang berisiko bagi kemanusiaan telah mereka hindari, sehingga sewaktu hendak memainkan kepentingan ekonomi kapital tidak mendapatkan penolakan dari para calon pelanggan di negara yang mereka katagorikan sebagai negara berkembang. Para kapital, selalu berusaha mencari pelanggan yang baik yang menjaga kepentingan kapital tanpa halangan predikat "sebagai penjahat kemanusiaan".

Meskipun semua tesis tersebut di atas mungkin terjadi pada peristiwa bom di dekat Masjid Madinah, namun dalam perspektif penulis, yang paling mungkin, berupa tesis yang keempat, berupa gerakan pagar makan tanaman. Sudah tidak asing lagi, mengapa di negara arab sering terjadi konflik internal, karena model pembelajaran keberagamaan lebih menekankan pada model fanatisme madzhab dan aliran keberagamaan. Hal yang sama seperti gerakan wahabi di Indonesia yang cenderung lebih mudah membidahkan, mengkafirkan, memusyrikkan kepada individu yang berbeda golongan atau kelompok komunal.

Model seperti ini berbeda dengan model keberagamaan di Indonesia yang cenderung lebih mengedepankan kemajmukan atau keragaman. Kondisi keberagamaan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kondisi historis para leluhur masyarakat nusantara sebelum menjadi bangsa Indonesia, yaitu masyarakat yang terdiri dari berbagai keyakinan dan memiliki aneka ragam kebudayaan dan prinsip moralitas. Dari aneka ragam kebudayaan dan prinsip moralitas ini, terdapat etika universal yang masih menjadi pedoman hingga sekarang, yaitu prinsip binika tunggal ika. Prinsip ini yang telah dirangkum menjadi ideologi Pancasila.

Antitesis dari prinsip karagaman kebudayaan dan keyakinan ini, telah direkonstruksi dan dikontekstualisasikan oleh Walisongo melalui model keberagamaan yang disebut dengan istilah pribumisasi Islam. Pribumisasi Islam Walisongo didasarkan pada model kontekstualisasi pola keberagamaan yang diintegrasikan dengan model kearifan lokal dan prunsip etika Universal.

Jika model keberagamaan walisongo dibandingkan dengan model keberagamaan di timur tengah, maka akan mengalami perbedaan yang signifikan. model keberagamaan di timur tengah terlihat mengabaikan model keragaman sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad, namun justru lebih menekankan pada model yang membedakan peran dan fungsi sosial, antara pendapat sesama umat Islam dan pendapat mereka yang bukan orang Islam.

Oleh karena itu, di Jazirah Arab terjadi banyak konflik yang belum terselesaikan, karena masih banyak umat beragama mejadikan posisinya secara konfrontatif antara dirinya sebagai umat beragama dan pihak lain sebagai kaum yang dzalim, kafir, musyrik, dan munafik. Sementara itu, Walisongo lebih menekankan keberadaannya sebagai sosok yang memiliki kekhasan dan keunikan yang dapat memposisikan diri dalam perbedaan dan keragaman. Strategi Walisongo ini dapat menjadi teori baru dalam resolusi konflik.

Jadi, peran Walisongo di tengah perbedaan bersama pihak yang lain tidak dalam konteks sebagai keberadaan yang konfrontatif, yang harus saling memaksa dan menafikan fungsi muamalah dan fungsi kemanusiaan. Meskipun demikian, Walisongo meyakini relasi suci kosmologis di bawah kekuasaan Allah yang berhak memutuskan penciptaannya.

Sehubungan dengan model keberagamaan Walisongo ini dapat dijadikan sebagai paradigma yang dapat menjadi konstribusi model keberagamaan yang mengembalikan pada model keberagamaan Nabi Muhammad. Model ini, yang sekarang ini justru dilupakan umat Islam dibelahan dunia, khususnya timur tengah.

Karenanya, banyak konflik keberagamaan di belahan dunia dan negara negara Arab, yang bertambah rumit dan runyam, yang seolah justru agama menjadi sumber konflik sosial. Di Timur Tengah kurang menata keragaman di tengah keberagamaan. Misalnya, terjadi pada kasus konflik sunni-syii di Timur Tengah. Sebaliknya di Indonesia, meskipun kebanyakan memilih model keberagamaan Sunni, namun tidak menjadi sumber konflik atas nama pemahaman kedua aliran ini. Beberapa kasus konflik justru disebabkan oleh beberapa orang yang lebih memilih model Arabisme.

Jadi, kesadaran keragaman masyarakat Indonesia dalam keberagamaan, selain telah berlangsung melalui proses pribumisasi Islam Walisongo, juga memiliki sumber historis yang telah menjadi model kebhinekatunggalikaan para leluhur atau nenek moyang bangsa Indonesia.

Ubaidillah Achmad, Penulis Buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Nasional, Pahlawan IPNU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Sudah jamak diketahui, bahwa masyarakat Indonesia merupakan “penggila” sepak bola. Hal itu terbukti dengan tingginya animo suporter dari Sabang sampai Merauke ketika mendukung klub kesayangannya bertanding di Liga Indonesia. Hampir di setiap pertandingan stadion penuh sesak ribuan bahkan puluhan ribu jiwa dengan segala atribut kreatifitasnya.

Puncaknya, ketika Timnas Indonesia bertanding di level Internasional yang dianggap mampu mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi, para suporter dari berbagai daerah rela antri berjam-jam untuk memperoleh tiket demi menjadi saksi perjuangan punggawa Timnas Merah Putih.

Akan tetapi, yang tak luput dari kaca mata dunia, bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.? Sebagai seorang Muslim, kewajiban shalat 5 waktu tentu tak boleh dilewatkan begitu saja. Para suporter sepak bola Indonesia yang mayoritas Muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban ini. Mungkin bagi mereka yang menyaksikan lewat siaran televisi dapat mengatur waktu lebih mudah antara menunaikan shalat dengan menyaksikan pertandingan. Akan tetapi, bagi mereka yang menyaksikan langsung di stadion justru menjadi masalah pelik. Lama waktu mengantre tiket, berjubelnya suporter dan minimnya fasilitas musholla seolah menjadi alasan mereka untuk “pasrah”. Akhirnya, mereka meninggalkan kewajiban shalat begitu saja.

Lantas, siapa yang “paling” bertanggungjawab terhadap masalah ini ? Dalam Islam, Nabi Muhammad telah bersabda: “kullukum rầ’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyatihi”. Jika ditempatkan dalam konteks persepakbolaan Indonesia, pemimpin dalam hal ini adalah pengurus PSSI. Sebagai penyelenggara Liga Indonesia dan pertandingan internasional, seharusnya mereka mengerti dan memahami bahwa mayoritas suporter adalah Muslim.

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Apalagi Ketua dan mayoritas pengurus PSSI juga Muslim. Tidak selayaknya mereka sibuk dengan masalah internal yang ujung-ujungnya berebut kekuasaan. Tidak selayaknya pula hanya melakukan komersialisasi demi meraih kuntungan yang sebesar-besarnya, hingga melupakan masalah yang urgent, hak dan kewajiban suporter sebagai umat Islam. PSSI harus mengayomi mereka dengan melakukan beberapa hal.

Pertama, mengatur waktu penyelenggaraan pertandingan. PSSI hendaknya menentukan waktu-waktu pertandingan yang tidak mepet dengan batas waktu shalat. Shalat yang paling “rawan” hilang adalah shalat Dzuhur (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan sore), shalat Ashar dan Magrib (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan malam). Waktu yang paling pas menurut bagi pertandingan sepak bola Indonesia adalah ba’da shalat Ashar dan ba’da shalat Isya’. Alasannya, jarak kedua waktu shalat ini dengan shalat sesudahnya cukup panjang. Dari Ashar ke Magrib sekitar tiga jam, sedangkan dari Isya’ ke Subuh malah lebih panjang lagi. Akan tetapi, hal ini harus didukung dengan penjualan tiket yang professional.

IPNU Tegal

Kedua, memperbaiki manajemen penjualan tiket. Apabila penjualan tiket masih saja seperti saat ini dengan cara mengantre berjam-jam di hari H, tentu akan membuang banyak waktu hingga shalatnya “bablas”. Karena itu, system penjualan tiket secara online hendaknya semakin diutamakan dengan waktu pengambilan tiket beberapa hari sebelum hari H. Minimal menjual tiket lebih pagi. Dengan itu para suporter bisa datang ke stadion beberapa menit sebelum kick off dimulai, tanpa kehilangan shalatnya.

Ketiga, penyediaan fasilitas shalat di dekat stadion. PSSI bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk membangun masjid di dekat stadion yang sanggup menampung ratusan hingga ribuan jamaah. Hal ini penting agar penonton tidak terlalu jauh dan membuang-buang waktu mencari tempat untuk menunaikan shalat. Selain itu, masjid yang dekat dengan stadion juga mempengaruhi mood para suporter terhadap kewajibannya agar tidak dilupakan begitu saja.

IPNU Tegal

Keempat, sosialisasi dalam internal PSSI maupun dengan elemen-elemen masyarakat. Berawal dari Pengurus Besar PSSI disalurkan kepada Pengprov PSSI, Pengcab PSSI hingga ke akar rumput perkumpulan suporter, dan akhirnya sampai ke sanubari pribadi suporter. Selain itu, perlu juga berkoordinasi dengan elemen-elemen masyarakat, di antaranya dengan ulama’ atau kyai. Pengurus PSSI bisa terjun dalam pengajian-pengajian bersama ulama’ membahas pentingnya shalat bagi umat Islam mekipun dalam keadaan hendak menyaksikan pertandingan sepak bola, sehingga shalatnya tidak terlewatkan.

Terakhir, petinggi dan pengurus PSSI (banyak yang telah Haji) mestinya memahami arti pentingnya shalat. Tentunya mereka menginginkan terwujudnya ketertiban dan sportifitas pada persepakbolaan Indonesia, baik di dalam maupun di luar lapangan. Hal itu dapat terwujud setelah elemen-elemen persepakbolaan Indonesia melaksanakan shalat. Setelah shalat, hati dan fikiran mereka akan terasa “adem ayem”, tenang, damai, dan terhapuslah rasa dengki yang dapat menciptakan anarkisme. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Ashsholatu tanha ‘an al-fakhsya’i wa al-munkar” (Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar).

Mengingat masih sedikitnya yang membahas masalah ini, semoga saran dalam tulisan ini diperhatikan dan ditindak lanjuti demi keseimbangan dunia dan akhirat kita sebagai umat Islam. Boleh kita menyaksikan pertandingan sepak bola, namun jangan sampai meninggalkan shalat. Hendaknya masalah pelaksanaan shalat ini menjadi tanggungjawab bersama antara PSSI, Suporter, dan elemen-elemen masyarakat.

Di dalam momentum peringatan tahun baru Hijriyah ini, dan sebelum dimulainya kompetisi musim depan, saatnya PSSI mulai berpikir dan berhijrah ke arah yang lebih baik dengan mengatur jadwal pertandingan sepak bola supaya tidak bentrok dengan waktu shalat. Semoga persepakbolaan Indonesia semakin berprestasi dan didukung oleh suporter yang mempunyai akhlak mulia, sebagai akibat dari pelaksanaan shalat. Amin.

?

Riza Nur Fikri

Alumni Pesantren Tebuireng Jombang dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Tokoh IPNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Bondowoso, IPNU Tegal. Pasangan suami istri Riski (50) dan Fatima (40) bersyukur cita-citanya melaksanakan ibada umroh telah tercapai. Pasangan tersebut melaksanakan ibadah itu dengan ongkos hasil dari berjualan es degan dan bakso yang telah mereka jalani selama 15 tahun.

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Pasutri itu berangkat umroh 6 Desember dari Jember. Menurut Riski, ibadah tersebut ditempuh selama 20 hari, di Madinah 5 hari dan di Mekkah selama 15 hari.

“Saya tidak punya gaji bulanan, bukan pegawai negeri. Tidak punya juga apa yang mau dijual. Jadi, hasil jualan ini saya tabung," ujar pria lulusan SMP itu kepada IPNU Tegal di tempat bekerjanya, sebuah warung di pinggir jalan di Desa Lojejer, Selasa (10/1), ketika ditanya ongkos keberangkatan.

IPNU Tegal

Bapak dua anak ini menambahkan, awalnya ia mempunyai uang 5 juta untuk membuka tabungan dia dan istrinya.

IPNU Tegal

“Saya buka rekening di bank. Saya menabung tidak setiap hari. Saya kumpulkan dulu selama beberapa hari. Empat hari atau lima hari, saya tabungkan ke bank BRI Cabang Tenggarang dekat pasar itu sebesar 500 ribu atau 700 ribu itu untuk dua orang," jelasnya.

Warga Desa Kajar Rt 4 Rw 1 Kecamatan Tenggarang itu mengaku menjual satu es degan seharga 6 ribu rupiah. Sementara bakso per mangkok 5 ribu rupiah.

Ketika musim panas, lanjutnya, es degan laris manis. Sehari ia bisa menjual 100 -125 butir dengan harga sama, 6 ribu. Sementara ia membeli kelapa tersebut seharga 2 ribu per butir.

"Semua itu niat hati, insyaallah bisa berangkat (umroh, red.). Ini buktinya saya bisa berangkat umroh," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal RMI NU, Pertandingan, Berita IPNU Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam

Jombang, IPNU Tegal. Tim Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang terdiri dari 9 kiai khos mengadakan sidang untuk memilih Rais Aam PBNU. Sebelum sidang penentuan Rais Aam, Gus Mus menulis surat resmi yang menyatakan ketidaksediaannya untuk dipilih menjadi Rais Aam PBNU.

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam

Dengan kenyataan seperti ini, justru salah satu anggota Ahwa, KH Maimun Zubair menyatakan sebaliknya. Mbah Mun menilai, bahwa menolak ingin dipilih inilah yang menjadi alasan utama Tim Ahwa untuk memilih KH Mustofa Bisri menjadi Rais Aam PBNU.

“Justru surat ketidaksediaan Gus Mus inilah yang menjadi alasan kami memilih Gus Mus. Dia layak menjabat pemimpin tertinggi NU karena dia tawadhu serta tidak punya nafsu dan ambisi secara kekuasaan,” ujar pemimpin sidang, KH Ma’ruf Amin menyampaikan pesan Mbah Maimun dari hasil sidang Tim Ahwa dihadapan Muktamirin, Rabu (5/8) di ruang sidang yang berada di komplek Alun-alun Jombang, Jawa Timur.

IPNU Tegal

KH Ma’ruf Amin sendiri ditetapkan sebagai Wakil Gus Mus melalui sidang Tim Ahwa tersebut. Sebelumnya, dalam sambutan di sidang pleno tata tertib yang sempat kurang kondusif, Gus Mus memang berharap tidak terpilih lagi menjadi Rais Aam PBNU. “Semoga Saya sekian saja jadi Rais Aam,” katanya.

IPNU Tegal

Hingga berita ini ditulis, sedang berlangsung rapat pleno pemilihan Ketua Umum PBNU di tempat yang sama. Sidang yang dipimpin oleh PWNU Jawa Timur, Prof Akh Muzakki ini telah memenuhi kuorum. “Dari 508 peserta pemilik hak suara, telah hadir di forum sebanyak 378 orang, jadi rapat pleno ini telah memenuhi kuorum,” terangnya dalam paparan pembuka. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Quote, Ulama IPNU Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Krisis Rohingya, Bagaimana Seharusnya Bantu Mereka?

Selama beberapa dekade terakhir, ratusan ribu orang etnis Rohingya mengungsi ke berbagai negara termasuk ke Indonesia. Mereka terpaksa meninggalkan tanah yang didiaminya selama puluhan bahkan ratusan tahun tersebut. 

Masalah mereka begitu pelik. Mereka mukim di wilayah Myanmar, tetapi Pemerintah Myanmar tidak mau mengakui mereka sebagai warga negara. Pun Bangladesh, meski mereka dianggap sebagai warga turunan etnis Bengalis tetapi nyatanya negara yang beribukotakan Dhaka itu juga tidak bersedia memberikan status kewargangeraan bagi etnis Rohingya. Iya, etnis Rohingya yang terusir adalah seorang tanpa status kewarganegaraan. 

Memang, faktor konflik Rohingya begitu kompleks sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli. Mulai dari persoalan etnis, politik, agama, hingga sumber daya alam. Sebetulnya, konflik Rohingya dengan Pemerintah Myanmar –atau dulu Kerajaan Burma- sudah berlangsung ratusan tahun. Mereka selalu dikucilkan karena minoritas dan dianggap bukan pribumi. 

Krisis Rohingya, Bagaimana Seharusnya Bantu Mereka? (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Rohingya, Bagaimana Seharusnya Bantu Mereka? (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Rohingya, Bagaimana Seharusnya Bantu Mereka?

Dalam hal ini, Jurnalis IPNU Tegal A. Muchlishon Rochmat mewawancarai Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) M Ali Yusuf agar krisis Rohingya dan ekses efeknya bisa dilihat dan disikapi dengan bijak. Berikut wawancaranya:

Bagaimana sebetulnya krisis Rohingya itu terjadi, Pak Ali?

Konflik Rohingya sudah berlangsung sejak lama bahkan sebelum ada Negara Burma atau sekarang menjadi Myanmar. Awalnya konflik persaingan etnis. Dulu namanya Arakan dan sekarang Rakhine dan di sisi lain Rohingya. Pada masa penjajahan Inggris, etnis-etnis tersebut diadu domba.

IPNU Tegal

Pada awal Myanmar merdeka, ada konsensus. Di Myanmar ada tujuh suku dan daerah diserahkan kepada suku-suku masing-masing. Rakhine State diserahkan kepada suku Rakhine karena pada waktu itu suku Rohingya minoritas. Awalnya mereka hidup rukun sampai junta militer berkuasa. Lalu, ada isu tentang kewarganegaraan tahun 1970-an. Sejak saat itu, suku Rohingnya dipertanyakan asal usulnya. Padahal hampir semua adalah suku pendatang, termasuk suku Burmis.

Saat junta militer Myanmar berkuasa hingga saat ini, konflik Rohingya semakin menjadi-jadi. Pemerintah Myanmar juga gagal model toleransi atau tidak melakukan upaya untuk menyatukan dan merekatkan antar warga di Rakhine. 

Apakah ada faktor lain selain pertarungan etnis? 

Ada juga faktor politiknya. Suku Rakhine adalah suku yang terpinggirkan di Myanmar. Selain terpinggirkan, mereka juga miskin dan mendapatkan tantangan dari suku Rohingya. Jadi konfliknya disebabkan banyak faktor. Dimulai dari kemiskinan, politik, sosial.

IPNU Tegal

Apa yang harus dilakukan agar konflik Rohingya bisa terselesaikan?

Yang paling penting adalah memberikan Myanmar kebebasan untuk menyelesaikan persoalannya. Myanmar juga seharusnya diberikan masukan yang produktif dan jangka panjang. Terutama memberikan pemahaman kepada militer bahwa penggunaan kekerasan itu tidak bisa dibenarkan, menghormati hak asasi manusia, mengedepankan persatuan, dan saling memahami.

Pemerintah Myanmar juga seharusnya merekatkan militer dan suku-suku yang bertikai itu. Termasuk mengakui suku Rohingya sebagai warga resmi Myanmar.

Sampai saat ini suku Rohingya tidak ada yang diakui sebagai warga negara Myanmar?

Ada puluhan ribu bahkan ratusan suku Rohingya yang sudah diakui sebagai warga Myanmar. Mereka mungkin saja tersebar di kota-kota besar di Myanmar. Kalau Rakhine itu kan di pinggiran. Artinya, pengakuan terhadap suku Rohingya sebagai warga negara Myanmar sudah pernah dilakukan. Seharusnya ini harus dilanjutkan. Namun sayangnya, Konstitusi tahun 1982 itu yang membuat junta militer dan itu masih digunakan hingga hari ini.

Lalu, bagaimana seharusnya kita sebaiknya menyikapi isu Rohingya ini, pak? Mengingat juga ada yang menggunakan isu Rohingya untuk alat politisasi?

Kalau kita cinta Rohingya, maka kita harus membantu mereka. Pertama, dengan berdonasi untuk mereka karena itu yang paling dibutuhkan mereka. Kedua, mendorong pemerintah agar lebih pro-aktif mengadvokasi dan mendorong Pemerintah Myanmar untuk memberikan solusi jangka panjang seperti pemberian status kewaraganegaraan bagi suku Rohingya. 

Kita tidak bisa hanya menyalahkan Aung San Suu Kyi, negara ini, atau negara itu. Indonesia kurang begini, negara-negara Islam kurang begitu. Mereka adalah negara yang berdaulat maka negara lain juga harus melakukan hal-hal yang menurut mereka bisa diterima. 

Sejauh ini, apakah yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia sudah tepat?

Saya kira Pemerintah Indonesia cukup pro-aktif dan positif. Hasilnya sudah bisa dirasakan. Hubungan baik antara Indonesia dan Myanmar menghasilkan kontribusi yang baik. Termasuk saat terjadi konflik di Myanmar, mereka masih mau mendengar saran dan kritik dari Pemerintah Indonesia. 

Menurut Pak Ali, ke depan apakah mungkin Pemerintah Myanmar mengakui suku Rohingya sebagai warga negaranya?

Tujuan akhir atau target dari penyelesaian kasus Rohingya adalah diakuinya mereka sebagai warga negara Myanmar. Namun itu membutuhkan waktu yang panjang dan Pemerintah Myanmar tidak bisa serta merta langsung menerimanya. Karena orang Myanmar secara umum sudah tidak suka dengan Rohingya. Begitupun dengan Rohingya, selama ini mereka merasa sangat diintimidasi dan didiskriminasi oleh Pemerintah Myanmar. 

Oleh sebab itu, Pemerintah Indonesia dan Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) mendorong Pemerintah Myanmar dan merencanakan program antar masyarakat yang berkonflik bisa berinteraksi dan memulihkan kembali semangat persaudaraan antar mereka. 

Untuk mengakui suku Rohingya sebagai warga negara Myanmar yang sah masih jauh?

Kalau masalah kewarganegaraan itu membutuhkan proses karena untuk melakukan itu maka Konstitusi Myanmar harus dirubah. Sedangkan untuk merubah suatu konstitusi maka membutuhkan waktu yang panjang. Apalagi belum ada political will dari tokoh-tokoh Myanmar untuk melakukan itu. 

Bagaimana anda melihat reaksi dunia terhadap kasus Rohingya, terutama masalah kewarganegaraan?

Selama ini, saya melihat hanya Pemerintah Indonesia yang memberikan solusi jangka panjang. Rata-rata mereka hanya mengecam dan bahkan tidak memberikan bantuan. Seharusnya kita mencari cara yang halus dan bisa diterima Pemerintah Myanmar sehingga mereka bersedia mendengarkan masukan-masukan. 

Pemerintah di luar Myanmar mendorong Pemerintah Myanmar untuk berubah. Kita dorong untuk lebih demokratis, maju, terbuka, dan memahami suku Rohingya.

Saat ini, konflik Rohingnya sudah parah karena sudah dikait-kaitkan dengan sensitivitas agama. Kalau dulu hanya menggunakan sensitivitas etnik dan ekonomi.   

Efek dari konflik Rohingya adalah semakin maraknya pengungsi. Mereka mengungsi ke berbagai negara, terutama ke Bangladesh dan bahkan sampai ke Indonesia. Bagaimana persoalan pengungsi ini diselesaikan?

Indonesia sangat men-support para pengungsi Rohingya. Meskipun Indonesia belum meratifikasi terkait dengan pengungsi luar negeri tetapi pemerintah daerah sangat mendukung. 

Yang perlu dipikirkan bersama adalah efek dari kejadian terakhir tanggal 25 Agustus. Yaitu hampir 300 ribu suku Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Sebelumnya sudah ada 400 ribu. Sehingga totalnya adala 700 ribu. Bangladesh sendiri sangat tidak siap karena ia negara miskin, memiliki problem sosial ekonomi yang banyak. 

Oleh karena itu, harus dicari solusi bersama karena kalau mereka dipaksakan menetap di Bangladesh maka ia tidak akan mampu. Bangladesh itu kan termasuk salah satu negara termiskin juga.

Ada usulan untuk menaturalisasi pengungsi Rohingya yang ada di Indonesia, bagaimana anda melihat itu?

Menurut saya itu harus diteliti dan dicek lagi terkait dengan konstitusi atau regulasi yang ada di Indonesia. Sejauh memungkinkan saya rasa tidak masalah tetapi Indonesia juga memiliki problem yang banyak soal kesejahteraan penduduk. Itu juga harus dipikirkan. Jangan sampai hanya berniat baik untuk membantu Rohingya tetapi lupa memikirkan permasalah kesejahteraan masyarakat Indonesia. Meski tidak resmi menerima pengungsi Rohingya, beban anggaran negara luar biasa.    

Terkait dengan aksi-aksi solidaritas untuk Rohingya yang digelar di Indonesia seperti demo, membakar bendera Myanmar, bahkan mengepung Borobudur. Apakah itu sudah tepat? 

Pertama, kita harus melakukan pendekatan yang bisa diterima oleh Myanmar sehingga mereka bersedia mendengar saran dan kritik kita. Kedua, memberikan bantuan kemanusiaan bagi mereka yang kena dampaknya karena saran dan kritik saja tidak cukup. Kalau kita hanya demo dan tidak memiliki langkah dan solusi yang konkrit sama saja itu tidak membantu mereka. Karena tidak ada gunanya kita demo di depan Dubes Myanmar.

Faktanya, warga Rohingya di Myanmar semakin berkurang. Oleh sebab itu, kalau mau demo Pemerintah Myanmar, mereka juga tidak ada persoalan karena memang warga Rohingya di sana tinggal sedikit. Maka dari itu, perlu langkah-langkah konkrit sehingga mereka bisa hidup layak dan diakui. Itu harus melibatkan dua negara: Bangladesh dan Myanmar. Apakah Myanmar bisa menerima balik kembali atau tetap di Bangladesh. 

Ada yang mengaitkan konflik Rohingya dengan isu agama sehingga ada ormas yang menggalang orang untuk jihad ke sana. Bagaimana anda menanggapai hal itu?

Saya kira jihadnya bukan untuk perang tetapi jihad bagaimana membantu mereka untuk merubah nasib mereka agar menjadi lebih baik lagi. Ada banyak cara seperti mengadvokasi negara-negara Islam untuk mempengaruhi Myanmar agar merubah kebijakannya atau mendukung Bangladesh agar bisa menerima mereka.

Kalau mereka dipaksakan untuk tinggal di Myanmar, tetapi kalau Myanmar tidak juga menerima mereka terus mau apa. Jadi yang dilakukan seharusnya solutif. Saat ini, Myanmar cukup diuntungkan karena warga Rohingya sudah keluar.

Yang juga perlu dilakukan adalah bagaimana menjaga koehesifitas sosial hubungan antara pengungsi dan warga asli Bangladesh. Jangan sampai ada konflik baru karena ada perasaan yang pengungsi mendapatkan bantuan sementara yang warga asli tidak meski mereka juga miskin.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan IPNU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Warga NU Harus Hidup Guyub dan Rukun

Semarang, IPNU Tegal. Ketua Persatuan Guru NU se-Jateng Ruswan Dr Ruswan MPd mengatakan, dalam organisasi Nahdlatul Ulama, guyup rukun antar sesama kader itu sangat penting karena akan meningkatkan hubungan emosional dalam organisasi. 

Hal ini dikatakan dalam acara temu alumni akbar dalam rangka Harlah PMII ke-53 dengan tema “Guyup Rukun Bareng PMII” di aula kampus IAIN Walisongo, Ahad (14/4) yang diselenggarakan oleh PMII Rayon Tarbiyah.

Warga NU Harus Hidup Guyub dan Rukun (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Harus Hidup Guyub dan Rukun (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Harus Hidup Guyub dan Rukun

Kegiatan itu mendatangkan Dr Ruswan MPd, Ketua Persatuan Guru NU se-Jateng dan Dr Hamdani Muin Katib Aam Jamiyyah Ahlutthoriqoh al Mu’tabaroh An Nahdliyah Jawa Tengah sebagai pembicara. 

IPNU Tegal

Ruswan mengatakan, Perbedaan itu dapat memacu prestasi. Perbedaan personal itu boleh saja dilakukan, akan tetapi jangan sampai dibawa dalam organisasi.

IPNU Tegal

“Dalam organisasi PMII kita memiliki kesamaan ideologi yaitu Nahdlatul Ulama (NU) yang menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah, hal ini yang bisa mengikat kerukunan diantara kita,” papar pembantu Rektor II IAIN Walisongo tersebut.

Menurutnya, dinamika dalam organisasi itu bisa mewarnai PMII. “Kita tidak ingin PMII besar di IAIN saja, kita perlu masuk dan membesarkan ke perguruan tinggi lain. Kita perlu menguatkan visi keislaman dan keindonesiaan.”

Ada tiga hal penguatan yang perlu diperhatikan guna kemajuan sebuah organisasi. Yaitu, penguatan personal, penguatan jamaah /jam’iyah dan penguatan jaringan.

“Kita sangat perlu meningkatkan kompetensi personal, baik di bidang akademik, kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, serta kemampuan berorganisasi. Kita harus memiliki kemampuan untuk bertarung dengan ideologi lain,” tegasnya.

Oleh karena itu, tambahnya, mulailah dari pengembangan keilmuan dengan banyak membaca, menulis, dan berdiskusi. Meningkatkan pemahaman wacana keislaman. Juga, penguatan pembangunan jaringan untuk kemajuan dan kekuatan organisasi pergerakan.

PMII seharusnya menyatukan visi dalam perjuangan terhadap kemajuan bangsa dan negara. Kontribusi PMII terhadap bangsa harus ditingkatkan dengan mengobarkan panji-panji PMII. Hal ini bisa terealisir dengan menciptakan keguyuban dan kerukunan antara kader PMII terhadap senior-senior alumni PMII.

Mengembalikan Jati diri NU

Dr Hamdani Muin menambahkan, mengembalikan spirit jati diri NU dan jati diri PMII sebagai pergerakan dan pengkaderan itu sangat penting. Kuatkan idealisme agar tidak terjebak pada tataran pragmatisme. Jadilah kader-kader yang militan.

“Kader PMII jangan hanya fokus pada pembahasan politik dan intelektual saja. Kita perlu kader-kader dari teknokrat, ekonom, maupun yang lain. Karena kita butuh revolusi pergerakan. Disamping itu kita juga menyiapkan revolusi spiritual dan intelektual,” ungkapnya.

Ditambahkannya, ia tidak menolak mahasiswa berdemonstrasi di jalan, akan tetapi alangkah lebih baiknya mahasiswa demonstrasi lewat ilmu pengetahuan, demonstrasi teknologi, maupun demonstrasi ilmiah lain.

Junaidi Abdillah, Alumni PMII Rayon Tarbiyah yang juga Ketua Himpunan Pengusaha Properti Indonesia (HPPI) menambahkan, jiwa kewirausahaan di kalangan kader muda NU sangat penting untuk dilakukan, juga harus menjaga kebaikan-kebaikan masa lalu dan juga mengakomodasi perkembangan era modern. NU itu harus fii kuli makan wa fi kulli zamaan. Guyup rukun itu bisa ditingkatkan dengan sinergi komunikasi antara kader dengan para senior.

Sebelumnya, telah dilakukan kegiatan rembug bareng jaringan alumni muda, workshop entrepreneurship, turnamen futsal, dan ziarah Walisongo.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Akhmad Shoim 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan IPNU Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Membumikan Kebermaknaan Bahasa Persatuan

Oleh M. Haromain



Membumikan Kebermaknaan Bahasa Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Kebermaknaan Bahasa Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Kebermaknaan Bahasa Persatuan



"Tanpa mempelajari bahasa sendiripun, orang tak kan mengenal bangsanya sendiri"

(Pramoedya Ananta Toer)

Tak dapat dimungkiri apresiasi, perhatian dan kepedulian mayoritas warga bangsa ini terhadap nasib dan masa depan bahasa Indonesia cukup rendah, tak kecuali dalamgolongan intlektual dan terpelajar yang seharusnya mereka berada di garda terdepan dalam menjaga dan mengawal marwah dan kualitas bahasa Indonesia. Bila kalangan akademisi dan terpelajar saja bersikap apatis, apatah lagi kalangan umum.?

IPNU Tegal

Siapa yang membaca sejarah tentu tahu bahwa sebenarnya semua warga Indonesia tanpa terkecuali mendapatkan amanat dan tanggung jawab untuk melestarikan dan merawat bahasa Indonesia. Seandainya para pejuang kemerdekaan dan pembela bahasa Indonesia zaman revolusi seperti Bung Hatta, Muhammad Yamin, Dr Soetomo, dan Ki Hajar Dewantoro tidak berusaha mati-matian membendung hegemoni bahasa Belanda tempo itu yang tengah begitu merajalelanya.?

IPNU Tegal

Khususnya dalam lapangan jurnalistik dan politik, dan umpama mereka tidak terus berusaha memosisikan bahasa Indonesia sebagai alternatif bahasa persatuan dan perjuangan, bangsa kita tidak akan memiliki bahasa Indonesia sebagaimana sekarang ini.?

Bukankah pernah suatu tempo antara tahun 1930-an hingga 1940-an bahasa Indonesia sangat dihinakan dan dianggap "bahasa sarap" alias sampah yaitu saatbahasa Indonesia menjadisoaldaruratdalamduniajurnalistikdanpolitik kala itu.

Tak banyak yang sadar bahwa Bahasa Indonesia yang diadaptasikan dari bahasa melayu merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa kita yang tak ternilai harganya, disamping juga menjadi identitas bangsa serta taruhan hargadiri bangsa. Muhammad Yamin tokoh pejuang revolosi, sastrawan dan ahli bahasa pernah menyatakan: "Perubahan apapun yanga akan terjadi di Indonesia, namun satu hal tak akan berubah-ubah, bahasa indonesia tidak akan lenyap dari bumi indonesia dan mungkin menjadi bahasa yang terpenting di atas dunia".

Jadi, saat ini sangat krusial untuk menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya menjaga bahasa Indonesia yang baik dan benar. Diantara pengejawantahannya ialah mentradisikan anak-anak dan generasi muda agar akrab dengan kamus bahasa Indonesia, yaitu membiasakanmereka membuka kamus bahasa Indonesia.?

Pasalnya kebiasaan membuka kamus bahasa Indonesia juga belum menjadi tradisi dalam masyarakat kita bahkan oleh pelajar dan mahasiswa sekalipun. Umumnya mahasiswa pun baru sempat membuka KBBI hanya ketika terpaksa karena suatu tuntutan mengerjakan tugas karya ilmiah atau skripsi yang diantara prosedurnya adalah wajib menyertakan daftar istilah dan batasan makna dari kata-kata kunci yang menjadi variabel penelitianya.?

Kebanyakan mereka enggan membuka kamus bahasa Indonesia berdalih bahwa bahasa Indonesia itu mudah dikuasai karena merupakan bahasa ibu yang tentunya sudah familiar sedari masa anak-anak sehingga tidak perlu mempelajarinya sebagaimana belajar bahasa asing yang membutuhkan ketekunan.

Dan sangat disayangkan pula ternyata umumnya masyarakat penutur bahasa Indonesia sendiri belum mengerti betapa urgen nya membuka kamus. Padahal dengan mengakses kamus kita bisa mengetahui batasan makna suatu kata serta dalam konteks apa kata tersebut dipakai dalam kalimat, memahami makna halus dari suatu kata sehingga mampu memilih diksi kata yang tepat, tahu makna asal suatu kata sebelum kata tersebut masuk ke dalam istilah disiplin ilmu tertentu atau sebelum mengalami pergeseran makna.?

Dengan banyak membuka kamus seseorang akan memiliki bejibun kosa kata yang itu sangat memberi andil demi kelancaran dan keakuratan memilih kata ketika menuangkan gagasan atau pikiran baik melalui tulisan atau oral. Perbendaharaan kata yang minim akan menyulitkan komunikator dalam menyampaikan pesan kepada khalayak atau komunikate, meskipun sebenarnya sangat menguasai materi yang hendak dilontarkan.

Gabriel Garcia Marques sastrawan kenamaan keliber dunia asal Kolombia penerima penghargaan nobel sastra tahun 1982 semenjak usia belia sudah akrab dengan kamus. Bahkan salah satu kunci suksesnya menjadi sastrawan besar menurut Ruben Pelayo penulis biografi Gabriel Garcia Marques, karena sejak kecil Marques sudah mengenal kamus, kakeknya yang mengenalkan kamus ketika ia berusia lima tahun. Waktu itu kakeknya menasihati bahwa kamus tidak saja buku yang tahu akan semua hal, tetapi juga buku yang tak pernah keliru.

Akhirnya kita berharap kepada para pendidik, khususnya pengajar bahasa Indonesia supaya anak-anak didiknya sejak dini sudah mulai dikenalkan dan ditanamkan kebiasaan membuka kamus bahasa Indonesia, supaya mereka tidak terjebak menggunakan kata-kata yang salah kaprah dalam komunikasi praktis keseharian, yang selama ini memang bahasa Indonesia dirusak oleh massifnya bahasa gaul dan alai yang didominasi generasi muda.

Dedikasi tanpa pamrih dari segenap bapak bangsa di atas serta pejuang bahasa Indonesia seperti Muhamad Yamin dan Adinegoro yang telah memperjuangkan eksisnya bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, bahasa persatuan dan menjadi identitas bangsa wajib kita hargai. Saatnya generasi sekarang untuk melanjutkan kebermaknaan bahasa Indonesia yang dahulu telah diamanahkaan pada saat konggres pemuda tahun 1928 dan konggres bahasa Indonesia I di Solo tahun 1938.

Penulis adalah jurnalis, tinggal di Temanggung, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Budaya, RMI NU, Pertandingan IPNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

GP Ansor Kledung Santuni Ratusan Anak Yatim

Temanggung, IPNU Tegal. Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Kledung, Temanggung, Jawa Tengah, memberikan sumbangan kepada ratusan anak yatim yang berada di daerah Lereng Gunung Sindoro Sumbing. Suasana haru dan tangis mewarnai distribusi santunan yang dilaksanakan di Desa Kwadungan Jurang, Kecamatan Kledung, Ahad (17/11).

“Kami mencoba memberikan yang terbaik bagi mereka, sengaja acara pemberian santunan ini kami gelar lebih meriah agar anak-anak yatim dan masyarakat sekitar terhibur,” kata Agus Suryanto, ketua panitia santunan yatim-piatu.

GP Ansor Kledung Santuni Ratusan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kledung Santuni Ratusan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kledung Santuni Ratusan Anak Yatim

Selain menyantuni 113 anak yatim piatu, Anak Cabang GP Ansor Kledung juga menyantuni 56 penyandang cacat tetap dan menggelar sunatan masal bagi anak-anak yang kurang mampu. “Tidak hanya anak yatim saja, kami juga peduli terhadap penyandang cacat tetap, karena mereka juga butuh uluran tangan,” lanjutnya.

IPNU Tegal

Diakuinya, GP Ansor hanya sebagai kepanjangan tangan dari para dermawan yang akan menyalurkan sebagian rezekinya untuk anak yatim. Dengan adanya acara santunan ini semua anak yatim yang ada di Kecamatan Kledung bisa terdata. 

IPNU Tegal

“Acara ini sebagai simbolis saja, semua anak yatim yang terdata di Ancab Ansor Kledung selain mendapatkan santunan juga diusahakan menempuh pendidikan hingga SMA,” terangnya.

Ketua PAC GP Ansor Kledung Sungkono menambahkan, santunan yatim-piatu ini merupakan kali kesembilan. “Tiap tahun tempatnya selalu berpindah, tapi masih dalam satu wilayah Kecamatan Kledung, tujuannya agar semua desa bisa merasakan suasana seperti ini," katanya.

Dikatakan, untuk menghibur anak-anak yatim, dalam kegiatan ini juga dilakukan pawai taaruf yang diikuti berbagai kesenian daerah serta drumband dari berbagai desa di Kecamatan Kledung.

Sementara itu, Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyah Habib Luthfi dalam tausiahnya mengingatkan umat Islam agar senantiasa menjalankan ibadah dengan sepenuh hati. Berbagi terhadap sesama juga harus dilakukan untuk melengkapi ibadah.

“Beribadah jika hanya dilakukan karena kebiasaan tidak akan mendapatkan nikmat-Nya, namun jika dilaksanakan dengan penuh rasa keyakinan insyallah akan mendapat Ridla-Nya,” katanya.

Dia juga meminta kepada seluruh panitia serta warga NU di Kecamatan Kledung untuk terus mempertahankan acara santunan ini, bahkan kalau bisa di tingkatkan sehingga tidak hanya anak yatim piatu saja yang di santuni tapi masyarakat yang membutuhkan bisa mendapat bantuan. 

“Bantuan tidak harus berupa materi, masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk meningkatkan amal ibadahnya,” tandasnya. (Zahrotien/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan IPNU Tegal

Kisah Inspiratif Semangat Nyantri Seorang Pak Tua

Lelaki itu sudah punya anak dan cucu. Umurnya sudah sekitar 70 tahun. Juga sudah pernah naik haji. Ia kini berdomisili di salah satu daerah di bilangan Jakarta dan menjadi pemangku sebuah masjid di kampungnya. Lelaki tua tersebut mengaku aslinya berasal dari Ponorogo Jawa Timur, sebelum akhirnya merantau dan sukses di Jakarta. Usia tua tidak menyurutkan dirinya untuk mengamalkan hadits Nabi, "Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat."

Sebutlah dia Pak Budi (bukan nama sebenarnya) yang pada bulan Ramadhan tahun 2009 dalam usia setua itu menyempatkan diri mengikuti ngaji pasaran seraya tabarrukan di salah satu pondok pesantren besar di Kediri. Sebelumnya, ia mengaku pernah juga mengikuti ngaji pasaran bulan Ramadhan di sejumlah pondok pesantren khususnya yang berada di wilayah Jawa Timur.

Kisah Inspiratif Semangat Nyantri Seorang Pak Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Inspiratif Semangat Nyantri Seorang Pak Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Inspiratif Semangat Nyantri Seorang Pak Tua

Barangkali sebagian orang menganggap hal itu biasa saja. Memang belakangan ini di dunia pendidikan akademik (formal) makin banyak saja dijumpai orang-orang tua mengikuti perkuliahan di pelbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Namun tanpa bermaksud menggeneralisasikan, kebanyakan dari mereka motif melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi itu tidak muncul dari kesadaran diri, melainkan misalnya lantaran tuntutan lembaga atau instansi tempat mereka bekerja.

IPNU Tegal

Pernyataan tadi bukan asumsi belaka, sekitar tiga minggu yang lalu penulis bertemu dengan seorang wanita dari Banjarnegara yang berprofesi sebagai guru, dia kira-kira berusia 35 tahun. Setelah beberapa saat kami mengobrol, penulis memberanikan diri mengajukan pertanyaan, "Gimana, Bu, kesan Anda selama ini mengikuti kuliah, adakah nilai tambah yang dirasakan?” Menanggapi pertanyaan penulis wanita itu dengan jujur saja menyatakan bahwa dirinya berkuliah sebenarnya menuruti kebijakan dari sekolah tempatnya mengajar yang sudah mulai mensyaratkan para pengajarnya bila ingin bertahan menjadi guru di situ, minimal harus bergelar sarjana.

IPNU Tegal

Kembali ke cerita Pak Budi. Terus apa yang melatabelakangi Pak Budi hingga dalam usia setua itu tiap kali bulan Ramadhan tiba ia mau meluangkan waktunya untuk mengaji di pesantren? Beliau bercerita sendiri bahwa pada waktu kecil hingga remajanya Pak Budi punya keinginan kuat untuk menutut ilmu dengan mondok di Pondok Pesantren. Tetapi impianya itu tidak dapat terwujud lantaran keadaan ekonomi keluarganya waktu itu yang tidak memungkinkan. Akhirnya niat Pak Budi untuk menjadi santri pun laksana pungguk merindukan bulan, tidak kesampaian. Situasi kala itu menuntut dirinya bekerja sejak remaja, Pak Budi pun merantau ke Jakarta mencari prospek masa depan yang lebih baik. ?

Singkat kata setelah Pak Budi sekian lama di Ibu Kota bekerja dan mengembangkan suatu usaha, berumah tangga dan mempunyai anak, pada masa tuanya menjadi orang yang berhasil dan berkecukupan. Luar biasanya, setelah Pak Budi dapat hidup berkecukupan, dirinya tetap masih menyimpan obsesi ingin mereguk manisnya ilmu agama di pesantren, cita-cita yang pupus saat dirinya muda. Hasrat untuk mendalami ilmu agama itu ternyata tidak terkubur meski puluhan tahun telah berlalu. Maka karena ia telah berkeluarga, bermasyarakat bahkan menjadi pemangku masjid di daerahnya, tentu tidak memungkinkan baginya mondok menjadi santri reguler mengikuti kurikulum sebagaimana mestinya. Maka solusinya adalah dengan menjadi santri mengikuti ngaji pasaran tiap kali bulan Ramadhan.

Totalitas Mengaji



Maka pada Ramadhan tahun 2009 itu Pak Budi memilih Pondok Pesantren Lirboyo sebagai pilihan berikutnya setelah tahun-tahun? sebelumnya sempat ngaji pasaran di beberapa pondok pesantren lainnya. Penulis menyaksikan sendiri Pak Budi meski di daerahnya telah menjadi tokoh masyarakat, tapi selama bulan Ramadhan itu di pesantren dia tidak berbeda dengan santri-santri lainnya yang masih muda. Bila tiba waktu berbuka dan sahur ia juga harus ikut mengantre di kantin sebagaimana santri lainnya. Tidur di kamar yang serba sederhana. Perlu antre pula ketika hendak mandi. Hal-hal kecil semacam itu bagi orang yang tua yang tidak benar-benar mempunyai tekad yang kuat untuk mondok jelas terasa berat. ?

Bukti keseriusan Pak Budi lainnya dalam semangat menimba ilmunya adalah selama mengikuti pengajian bulan Ramadhan itu ia sengaja tidak membawa HP dari rumah. Begitualah ketika kebanyakan orang sangat resah jika tidak memegang alat komunikasi, Pak Budi justru santai-santai saja tak membawanya agar bisa fokus mengaji. "Ah, membawa HP nanti hanya mengganggu saja", begitu jawaban Pak Budi saat salah seorang santri bertanya. Dan ia memang benar-benar bisa tuntas mengikuti pengajian hingga khatam pada sekitar pekan ketiga bulan Ramadhan.

Menyimak sepintas fragmen cerita Pak Budi di atas ada banyak memberi pelajaran. Di antaranaya ialah tidak ada kata terlambat dalam kamus memulai kebaikan, tak hanya dalam memulai menuntut ilmu, namun memulai atau merintis hal-hal baik lainnya. Selain itu apa yang dikerjakan Pak Budi secara tersirat mengirim pesan bahwa masih terdapat dimensi nikmat dan kesenangan selain kesenangan materi pada lazimnya.

Hemat kata,? Pak Budi dengan ikut menjalani laku santri di pesantren sekalipun pada bulan-bulan Ramadan saja, ia setidaknya mendapatkan kesenangan batin berupa suntikan ilmu baru dan pencerahan intlektualitas yang diperoleh dari mengaji kitab dan kenikmatan spiritual berkesempatan dapat dekat dengan para kiai sepuh pesantren termasuk masyayiikh pesantren yang sudah wafat yang biasa diziarahi di sela-sela santri ngaji pasaran Ramadhan. (M. Haromain) ?



=====

IPNU Tegal mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang cerita nyata diri sendiri atau pengalaman orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Pertandingan IPNU Tegal

Senin, 20 November 2017

Santri Kempek Bertanya Kesehatan dari Maag sampai Ginjal

Cirebon, IPNU Tegal. Bagaimana bila para santri diajak berbicara tentang kesehatan? Ternyata meriah dan antusias. Itulah yang tergambar selama berlangsungnya talkshow “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Melalui Gerakan Pesantren Sehat” di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (2/10) lalu.?

Santri Kempek Bertanya Kesehatan dari Maag sampai Ginjal (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Kempek Bertanya Kesehatan dari Maag sampai Ginjal (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Kempek Bertanya Kesehatan dari Maag sampai Ginjal

Hal itu terlihat tidak hanya dengan sikap fokus mereka memperhatikan paparan para pembicara, tapi juga keinginan untuk mempedalam pengetahuan seputar kesehatan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan setelah sesi paparan.

Seorang santri misalnya bertanya, apa itu penyakit ginjal? Santri lain bertanya bagaimana langkah pertama menghadapi keluhan mag dan lambung yang sangat mungkin diderita para santri yang harus tinggal di pesantren?

Para pembicara pun menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan tak kalah menariknya. Ahmad Faris Malki Zamzam Zein dari Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Wini Nurwini dari Dinkes Provinsi Jawa Barat, serta A Qoyyim dan Amdad dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.?

Faris memaparkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat di pesantren. “Dalam waktu mendatang, santri diharapkan akan ikut mengampanyekan perilaku hidup sehat sebisa mereka, walaupun dengan cara yang sederhana. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, santri dapat bertanya, Pak, Bu, kalau setiap hari ada rutinitas apa? Olahraga apa tidak?” ungkap pria yang akrab disapa Dokter Faris menyampaikan contoh peran santri dalam upaya membantu menerapkan perilaku hidup sehat.

IPNU Tegal

Dokter Faris juga mengatakan penanaman perilaku hidup sehat, menjadi bekal penting. Dalam konteks ini, santri dapat memberikan manfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ia mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

IPNU Tegal

Menurut Wini Nurwini, peningkatan PHBS sejalan dengan Trias Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), yaitu meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik, menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, sehingga tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal dalam upaya membentuk manusia Indonesia yang berkualitas.?

Sementara itu Dokter Amdad mengatakan PHBS di Pondok Pesantren dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun, mengkonsumsi jajanan sehat, menggunakan jamban yang bersih dan sehat.?

Ia menambahkan, olahraga yang teratur dan terukur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di lingkungan pesantren, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan, membuang sampah pada tempatnya.

Adapun Dokter A Qoyyim menyampaikan bahwa santri dapat melakukan pola hidup sehat dengan rutinitas yang juga dianjurkan di dunia pesantren, yakni dengan salat tahajud dan puasa rutin. Ia mengatakan, puasa terbukti menyehatkan fisik.

Talkshow “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Melalui Gerakan Pesantren Sehat” merupakan rangkaian kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Pesantren. Selain di Jawa Barat, kegiatan yang terselenggara atas kerja sama LK PBNU dan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan ini, juga akan diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, akhir Oktober mendatang. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

t

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan IPNU Tegal

Jumat, 10 November 2017

Mahasiswa ITB Terpilih Sebagai Presidium Regional I KMNU

Depok, IPNU Tegal. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Indonesia (UI) sukses laksanakan Musyawarah Regional (Musreg) di Pondok Pesantren Mutiara Bangsa Depok, Sabtu (5/3).

Kegiatan yang melibatkan delapan kampus ternama seperti IIUM, UNILA, UNPAD, ITB, UPI, UI, STAN, dan IPB ini akhirnya menetapkan Imam Syafii, Mahasiswa Institut Teknologi Bandung sebagai Presidium Regional I.

Ketua KMNU UI Nurul Fauzi menjelaskan, musyawarah berjalan dengan lancar meski terdapat perdebatan pengusungan calon presidium yang memakan waktu lama.

Mahasiswa ITB Terpilih Sebagai Presidium Regional I KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa ITB Terpilih Sebagai Presidium Regional I KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa ITB Terpilih Sebagai Presidium Regional I KMNU

"Ya, semua berjalan lancar. Dari berbagai rangkaian acara tidak dijumpai perdebatan alot yang memakan waktu lama," kata Fauzi kepada IPNU Tegal usai kegiatan.

Ia mengatakan bahwa pada prinsipnya metode pengambilan keputusan musyawarah mufakat yang digunakan dalam sistem pemilihan sangat tepat.

"Pasti, hal itu mengurangi bahaya konflik politik karena kepentingan masing-masing, sehingga musyawarah mufakat merupakan metode yang lebih baik daripada voting," paparnya.

IPNU Tegal

Tomy Lutvan selaku penanggung jawab kegiatan menambahkan, seluruh rangkaian acara diikuti dengan tertib oleh peserta karena pada dasarnya tujuan diselenggarakannya Musreg untuk kebaikan bersama, jadi tidak perlu memicu konflik yang tidak membawa manfaat.

"Tentunya kembali lagi pada prinsip KMNU yang bertekad untuk perkuat silaturrahim guna bangun konsolidasi yang sinergis untuk membawa nama besar KMNU di kampus-kampus perjuangan. Relevan dengan kondisi berbagai perguruan tinggi ternama yang didominasi oleh paham-paham lain. Maka, mari kita perkuat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah dengan kekuatan bersama," pungkasnya. (Afifah Marwa/Zunus)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Bahtsul Masail, IMNU, Pertandingan IPNU Tegal

Rabu, 08 November 2017

Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya

Sumenep, IPNU Tegal - Bendera Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep kembali berkibar di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Para santri Annuqayah memborong juara dalam lomba pekan intelektual kebangkitan pelajar Indonesia.

Perlombaan digelar oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UM Surabaya pada Sabtu-Ahad (6-7/2). Terdapat 4 piagam yang berhasil diraih oleh santri Annuqayah.

Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya

Pertama, juara 1 pidato bahasa Arab yang diraih Moh Rozy Zamroni. Ia adalah delegasi MA 1 Annuqayah.

IPNU Tegal

Delegasi MA Tahfidz Annuqayah Moh Danial Shafran juga tampil mengesankan. Ia berhasil menyapu bersih pidato Bahasa Inggris. Shafran merengkuh status pemenang, sama seperti Moh Rozy Zamroni, juara 1.

Selanjutnya Wahyu Afifurrahman juara 2 pidato Bahasa Arab, dan Moh Iqbal Ghulam Ahmad Afandi sebagai juara 2 pidato bahasa Inggris. Keduanya merupakan delegasi MA Tahfidz Annuqayah.

IPNU Tegal

"Alhamdulillah, kami berhasil memborong lomba di UM Surabaya. Semua ini diraih berkat dukungan kiai, para guru, dan semangat kompetitif dalam diri para juara. Semoga prestasi santri Pesantren Annuqayah terus melejit dan memberi kontribusi positif bagi bangsa ini," ujar pembina lomba Annuqayah Ustadz Romaiki Al-Hafidz. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Tokoh, Nusantara IPNU Tegal

Senin, 23 Oktober 2017

Terhadap Kelompok Khilafah, Banser Diminta Koordinasi dengan Aparat Keamanan

Jakarta, IPNU Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas menegaskan apa yang dilakukan Banser terhadap kelompok pengusung khilafah memiliki protap yang jelas. Yaitu, Banser melaporkan terlebih dulu kelompok tersebut kepada pihak kepolisian.

“Koordinasi dengan aparat keamanan. Dorong mereka untuk membubarkan acara itu. Semua harus dimulai dengan bicara baik-baik. Tapi jika ada yang berusaha merongrong negeri ini, masa sih kita diam?” tegasnya di Jakarta, Jumat malam (14/4).

Terhadap Kelompok Khilafah, Banser Diminta Koordinasi dengan Aparat Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terhadap Kelompok Khilafah, Banser Diminta Koordinasi dengan Aparat Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terhadap Kelompok Khilafah, Banser Diminta Koordinasi dengan Aparat Keamanan

GP Ansor dan Banser turun tangan untuk menyikapi hal itu, apa artinya aparat keamanan tidak mampu? Atau ada pembiaran? Atau sengaja meminjam tangan GP Ansor dan Banser?

IPNU Tegal

“Saya tidak mau membenarkan itu semua. Juga tidak menyalahkan jika ada anggapan seperti itu. Yang jelas, regulasi untuk membubarkan kelompok-kelompokk radikal itu belum cukup tegas,” jawab pria yang akrab disapa Gus Yaqut itu.

IPNU Tegal

Apa yang dilakukan Banser tersebut, bukan tanpa risiko. Banser sering dicitrakan atau lebih tepatnya dipelintir media tertentu bahwa Banser membubarkan pengajian, tidak care kepada sesama Muslim, malah lebih sayang kepada nonmuslim.

“Namanya juga media. Sesukanya bikin frame, kan? Kami menyayangi semua umat manusia. Tidak peduli latar belakangnya. Apa pun agamanya jika mencintai negeri ini, mereka sahabat kami,” tegas Gus Yaqut itu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock