Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Februari 2018

Ini Doa Sesaat Sebelum Jimak

Sebelum berhubungan suami-istri (jimak) kita dianjurkan minimal berdoa kepada Allah. Doa sebelum berhubungan suami-istri ini diharapkan dapat mendatangkan perlindungan Allah SWT. Di samping itu, kita mengharapkan dalam doa tersebut karunia anak saleh kelak jika Allah menakdirkannya dari hubungan tersebut.

Hal ini diterangkan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Ghuniyah li Thalibi Thariqil Haqqi Azza wa Jalla fil Akhlaq wat Tashawwuf wal Adabil Islamiyah, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, tahun 1997 M/1417 H, juz I, halaman 103.

Ini Doa Sesaat Sebelum Jimak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Doa Sesaat Sebelum Jimak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Doa Sesaat Sebelum Jimak

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IPNU Tegal

Bismillâhil ‘aliyyil ‘azhîm. Allâhummaj‘alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbî. Allâhumma jannibnis syaithâna wa jannibis syaithâna mâ razaqtanî.

Artinya, “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kauanugerahkan padaku.”

IPNU Tegal

Sebelum berhubungan tentu saja pasutri dianjurkan untuk bersedap-sedapan terlebih dahulu. Wallahu a ‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama IPNU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Gara-gara Tuan Guru Bengkel, H Hatifi Sekeluarga Jadi Nahdliyin

Mataram, IPNU Tegal. Dosen UIN Mataram Tuan Guru Sohimun Faisal menceritakan, dulu ada saudagar asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjadi warga Nahdliyin setelah mengetahui kebesara Tuan Guru Haji M Shaleh Hambali Bengkel. H Hatifi namanya. Bahkan, Ia mengajak keluarganya untuk masuk Nahdlatul Ulama.

H Hatifi, cerita Tuan Guru Sohimun, ketika itu sedang berdagang ke Surabaya. Teman pedagangnya dari Surabaya memberitahukan kepada H Hatifi bahwa ada ulama besar asal Lombok yang akan hadir dalam acara Nahdlatul Ulama di Kota Pahlawan tersebut.

“H Hatifi ini tidak kenal tentang NU, tidak kenal dengan Tuan Guru Shaleh Bengkel,” kata Tuan Guru Sohimun dalam acara bedah Buku Pemikiran Islam Lokal: TGH M Shaleh Hambali Bengkel di Universitas NU NTB Mataram, Rabu (22/11).

Gara-gara Tuan Guru Bengkel, H Hatifi Sekeluarga Jadi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara Tuan Guru Bengkel, H Hatifi Sekeluarga Jadi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara Tuan Guru Bengkel, H Hatifi Sekeluarga Jadi Nahdliyin

(Baca juga: http://www.nu.or.id/post/read/70398/pemikiran-islam-lokal-tuan-guru-bengkel)

Temen saudagarnya asal Surabaya itu mengajak H Hatifi untuk ikut serta dalam acara NU tersebut. Ketika sudah sampai di tempat acara, Ulama-ulama NU menyambut Tuan Guru Bengkel dengan hangat dan memanggilnya dengan sebutan ulama besar dari Lombok. 

“Ini dia ulama besar yang datang dari Lombok,” kata Rais Syuriah PWNU NTB ini menirukan ulama NU itu.

IPNU Tegal

H Hatifi kaget karena orang-orang menyebut Tuan Guru Bengkel dengan sebutan ulama besar. Di Lombok, Tuan Guru Bengkel dipanggil dengan Datuk Bengkel.

“Tidak pernah terkenal nama ulamanya,” ceritanya.

Lalu kemudian, H Hatifi pulang ke Lombok. Ia memberitahu keluarganya perihal peristiwa yang dialaminya di Surabaya terkait Tuan Guru Bengkel. 

IPNU Tegal

“Sehingga banyak keluarganya yang masuk NU,” tukasnya.

TGH M Shaleh Hambali atau Tuan Guru Bengkel adalah merupakan salah satu perintis kebangkitan pendidikan Islam di Lombok pada awal abad ke-20. Tuan Guru Bengkel merupakan Rais Syuriah pertama PWNU NTB. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama, News IPNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam

Jakarta, IPNU Tegal. Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam kembali memberikan penghargaan kepada para pionir, teladan, dan tokoh-tokoh yang peduli dan berdedikasi dalam pengembangan pendidikan Islam. Penghargaan ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam ajang Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2015 di Jakarta, Jumat (11/12) malam.

API 2015 merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Kementerian Agama kepada insan pendidikan Islam yang telah berprestasi, berdedikasi, dan peduli dengan pengembangan dan kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. ?

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam

“Apresiasi ini diberikan kepada ? putera puteri bangsa dalam berbagai kategori, yang menunjukkan bahwa madrasah, sekolah, perguruan tinggi dan pesantren kita berhasil mengembangkan kognisi, afeksi dan psikomotoriknya serta karakter secara optimal,” kata Menag Lukman seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

IPNU Tegal

Apresiasi ? Pendidikan Islam juga dianugerahkan kepada para kepala madrasah, pengawas, guru/ustad, dan dosen di mana mereka telah berkarya dan mengabdikan dirinya dengan penuh totalitas.?

IPNU Tegal

“Juga ? dianugerahkan kepada Bupati dan Walikota ? yang telah memberikan atensi pada pengembangan Pendidikan Islam,” tegas Menag.

Dikatakan Menag , Pemerintah memberikan apresiasi ? pendidikan ini, sebagai ekspresi kesyukuran dan pengakuan, bahwa kita memiliki banyak putera-puteri terbaik bangsa yang peduli dan mewakafkan dirinya untuk pendidikan Islam, agar terus maju dan berkembang di seluruh pelosok tanah air.?

“Peristiwa ? saat ini merupakan momen ? istimewa bagi saya dan keluarga besar Kementerian Agama. Suatu kebanggaan bagi kita semua dapat berkumpul dengan para pionir dan inspirator pendidikan Islam dari seluruh Indonesia,” katanya.

Pendidikan Islam menurut Menag, sejak beberapa dekade terakhir semakin menampakkan identitas yang khas, modern, dan berdaya saing. Fenomena ini tidak sekedar sebagai respon terhadap dunia yang terus berubah, tetapi sekaligus sebagai refleksi kebangkitan dunia pendidikan Islam sebagai salah satu pilar terdepan peradapan bangsa.

“Kita tidak akan membiarkan bangsa yang besar ini kalah bersaing dengan bangsa –bangsa lain karena kelemahan sumber daya manusiannya. Kita semua menginginkan pendidikan islam tetap menjadi tuan rumah dinegeri sendiri,” ucapnya.

“Karena alasan itulah, maka pemerintah memperioritaskan pembangunan bidang pendidikan, Kementerian Agama bahkan telah mengalokasikan anggaran lebih dari 85 persen untuk pendidikan agama dan keagamaan,” tambahnya.

Tampak hadir dalam acara Apresiasi Pendidikan Islam, Sekjen Kementerian Agama Nur Syam, Dirjen Pendidikan Islam Kamarudin Amin, para pejabat eselon II baik pusat maupun daerah, serta ? para penerima penghargaan Apresiasi Pendidikan Islam. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Ulama IPNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Cinta Rasul, Muslimat NU Gelar Lomba Shalawat Badar

Brebes, IPNU Tegal. Cara membuktikan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW antara lain dengan selalu memanjatkan shalawat dan salam kepada beliau. Dengan bershalawat, akan dimudahkan kita mendapatkan safaat dari Nabi, kelak di yaumul hisab (hari perhitungan).

“Shalawat Nabi, akan memberatkan timbangan amal sehingga membuka jalan menuju surga,” kata Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah SH saat membuka lomba membaca Shalawat Badar tingkat Kabupaten Brebes di gedung PCNU, Jalan Yos Sudarso Brebes, Sabtu (30/3).

Cinta Rasul, Muslimat NU Gelar Lomba Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Rasul, Muslimat NU Gelar Lomba Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta Rasul, Muslimat NU Gelar Lomba Shalawat Badar

Muslimat NU, kata Chulasoh, harus menjadi gerbang utama untuk mensyiarkan shalawat. Dengan ribuan pengajian yang dimiliki Muslimat NU bisa menjadi ladang persemaian untuk menanamkan dan memanen shalawat. “Bagaimanapun keadaanya, shalawat harus kita gelorakan, termasuk lewat perlombaan,” katanya.

IPNU Tegal

Lomba diikuti 17 peserta dari perwakilan Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU se Kabupaten Brebes. Dengan berbagai gaya dan lagu yang berbeda-beda mereka tampil dengan penuh semangat dan keceriaan.

IPNU Tegal

Setelah mengantongi nilai 93, akhirnya Grup PAC Muslimat NU Bulakamba Kabupaten Brebes berhasil menjadi juara I dalam lomba Baca Shalawat Badar. Juara II diraih PAC Muslimat NU Paguyangan (90) dan juara III PAC Muslimat NU Salem (85). Sedang juara harapan I PAC Losari (84), harapan II PAC Jatibarang (83) dan PAC Songgom (82)

Ketua Panitia Dra Hj Chulasoh menuturkan, lomba Shalawat Badar merupakan rangkain Hari Lahir (Harlah) Muslimat NU ke-67 tingkat Kabupaten Brebes. Selain lomba Shalawat, Harlah dimeriahkan dengan manasik haji untuk TK/RA se Kabupaten Brebes, pelayanan KB Kes, Santunan Anak Yatim dan Pengajian Akbar di Bantarkawung pada 7 April mendatang. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Amalan, Ulama, Daerah IPNU Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu

Bandung, IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) se-Bandung Raya mengadakan silaturahmi dan diskusi dengan Majelis Alumni IPNU. Hadir pada kesempatan itu IPNU Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Cimahi, dan Sumedang.

Kegiatan bertema "Membangun kader, mengembangkan jaringan di atas kebersamaan yang kokoh" tersebut berlangsung di Gedung PW NU Jawa Barat Jl. Terusan Galunggung, Kota  Bandung Jumat 26 September.

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkokoh Silaturahim, Pengurus-Alumni IPNU se-Bandung Raya Bertemu

Menurut siaran pers yang dikirim PC IPNU Kota Bandung, Senin (29/9) kegiatan tersebut adalah sarana pertemuan pengurus IPNU se-Bandung Raya dengan para alumni IPNU demi memperkokoh barisan “barisan” pelajar NU, di Bandung khususnya.

IPNU Tegal

Pada kesempatan tersebut beberapa alumni IPNU yang hadir adalah H. Basukhi, Ahmad Satari, Abdussani Ramdhani, Abdul Rozak, Ganjar, H. Asep Mamun, Rekan Fauzul.

IPNU Tegal

Pada kesempatan tersebut hadirin sepakat untuk tetap berjuang dan beristikomah dalam kaderisasi serta mempertahankan ajaran wali Allah, guru-guru dan pendahulu. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Ulama IPNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Jakarta, IPNU Tegal. Rombongan Kementerian Agama Malaysia mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, Selasa (15/5) pagi. Rombongan yang berjumlah 29 orang ini, disambut baik oleh sejumlah Ketua Umum PBNU dan beberapa pengurus tanfidziyah. Kedua pihak saling mengabarkan kondisi sosial-keagamaan di masing-masing negara.

Dalam kesempatan ? tersebut, Iqbal Sullam, Ketua PBNU sempat mengenalkan profil singkat NU, badan otonom dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya. Pesantren dan madrasah yang menjadi kantong intelektual dan tata nilai moral-kultural NU, masuk dalam profil NU.

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Kedua pihak sepakat untuk mewaspadai gerakan-gerakan keagamaan yang ekstrem, terlebih lagi menggunakan kekerasan sebagai bentuk saluran aspirasinya. Masing-masing pihak, tidak menyetujui segala bentuk kekerasan atas nama apapun dan untuk tujuan apapun.

IPNU Tegal

PBNU menyatakan akan menerapkan, bentuk dakwah yang cocok dengan lokal setempat. “Dengan demikian, NU mengedepankan tawasuth, tasamuh, dan tawazun. Tiga istilah ini mungkin berbeda penyebutannya di Malaysia,” papar Iqbal Sullam disertai anggukan rombongan tamu.

Kedamaian dan persaudaraan bisa terjadi karena NU mendahulukan dan mementingkan 3 persaudaraan. Ketiganya adalah persaudaraan sesama muslim, persaudaraan se-tanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Karenanya, NU menjadi besar disebabkan oleh kalangan ulama yang mengorganisir dirinya dan menyatu dengan masyarakatnya.?

IPNU Tegal

“Kalau di Timur Tengah juga banyak ulama-ulama, namun tidak bisa menyelasikan konflik. Sedangkan kami di Indonesia mampu meredam konflik hingga tuntas,” ungkap Said Aqil Siroj, Ketum PBNU di hadapan tamunya.

Mayjen Dato Seri Jamil Khir bin Baharom, Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Agama) Malaysia, mengungkapkan pihaknya sepakat dengan paparan dari PBNU.

“Kita bangsa Malaysia juga sangat menghargai perbedaan seperti juga Nahdlatul Ulama. Dan kita bangsa Malaysia juga bagian dari persekawanan dengan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Di akhir pertemuan, kedua pihak saling memberikan cendera mata. Pemberian cendera mata adalah bukti sambutan baik PBNU akan kunjungan pihak Kementrian Agama Malaysia. Pertemuan keduanya sempat diliput oleh pers Malaysia dan pers dalam negeri Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Ulama, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Memandikan dan Mengiringi Jenazah Kerabat non-Muslim ke Pemakaman?

Assalamu’alaikum wr. wb

Redaksi Bahtsul Masail IPNU Tegal yang terhormat, terlebih dahulu saya mohon maaf. Sebenarnya ini adalah pertanyaan dari teman saya yang baru masuk Islam. Ia punya saudara laki-laki masih nonmuslim dan belum lama meninggal dunia. Yang ia tanyakan, apakah ia boleh ikut memandikan jenazahnya dan mengiringinya ke pemakaman? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (nama dirahasiakan/Medan)

Jawaban

Memandikan dan Mengiringi Jenazah Kerabat non-Muslim ke Pemakaman? (Sumber Gambar : Nu Online)
Memandikan dan Mengiringi Jenazah Kerabat non-Muslim ke Pemakaman? (Sumber Gambar : Nu Online)

Memandikan dan Mengiringi Jenazah Kerabat non-Muslim ke Pemakaman?

Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Jika ada seorang muslim meninggal dunia, ia berhak untuk dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan. Kewajiban mengurus jenazah itu tentunya dibebankan oleh orang muslim yang hidup. Sampai di sini jelas tidak ada persoalan, semuanya klir.

IPNU Tegal

Lantas bagaimana jika yang meninggal dunia adalah orang nonmuslim? Menshalatinya jelas diharamkam sebagaimana ditegaskan Al-Qur`an dan ijma’ para ulama. Demikian sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

IPNU Tegal

“Adapun menshalati jenazah orang kafir dan memintakan ampun untuknya, hal itu adalah haram sebagaimana ketetapan nash Al-Qur`an dan ijma` ulama,” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Kairo-Dar al-Hadits, 1421 H/2010 M, juz, V, h. 190).

Lantas, bagaimana dengan memandikan, mengiringi jenazah orang kafir, dan ikut memakamkannya? Dalam hal ini para pakar hukum Islam (fuqaha`) berselisih pendapat. Tetapi, menurut pendapat madzhab Syafi’i hal tersebut diperbolehkan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Muhyiddin Syaraf An-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Tentang memandikan jenazah orang kafir, kami telah menyebutkan bahwa pendapat madzhab kami menyatakan, orang muslim boleh memandikan jenazah orang kafir, mengubur, dan mengiringi jenazahnya. Ibnul Mundzir menukilnya dari kelompok rasionalis (ashhab ar-ra’y) dan Abi Tsaur. Sedangkan menurut Imam Malik dan Ahmad, orang muslim tidak boleh memandikan dan menguburkan jenazah orang kafir. Tetapi Imam Malik menyatakan, ia (muslim) boleh ikut menguburnya,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz, V, h. 195).

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama IPNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh

Temanggung, IPNU Tegal. Ny Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, mengatakan, toleransi di Kabupaten Temanggung patut untuk dicontoh daerah lainnya. Keragaman yang ada dapat melebur menjadi satu kesatuan sehingga tidak menimbulkan konflik. Kerjasama yang baik antaragama di daerah penghasil tembakau ini juga dapat menjadi kiblat bagi pengelolaan keragaman.

Istri presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) ini menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam “Pengajian Kebangsaan” yang digelar Gusdurian Temanggung di Pendopo Pengayoman Temanggung, Jawa Tengah, Ahad (6/7).

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Shinta Nuriyah: Toleransi di Temanggung Bisa Dicontoh

Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Temanggung Bambang Sukarno, Wakil Bupati Irawan Prasetyadi, Ketua DPW PKB Jawa Tengah Yusuf Chudlori, serta seluruh tokoh agama yang ada didaerah Kabupaten Temanggung.

IPNU Tegal

“Kita lihat dari panitia kegiatan ini saja sudah dipimpin orang Katolik, kita melihat keragaman ini harus dicontoh di daerah lainnya. Ini sangat bagus untuk dikembangkan,” papar Shinta.

IPNU Tegal

Ia juga menjelaskan tentang pentingnya puasa bagi pengendalian diri masyarakat, khususnya umat Islam. “Inti dari puasa adalah pengendalian diri untuk menghindari berbuat jahat dan selalu berbuat baik,” terangnya.

Dalam menghadapi pilpres, Shinta berharap pengendalian diri tersebut dapat diterapkan pada masing-masing individu untuk menghindari praktik kampanye hitam dan tindak kampanye yang menyalahi aturan. “Kita harus menjaga suasana kondusif. Dengan berpuasa yang baik kita dapat melakukan itu,” katanya.

Bupati Temanggung Bambang Sukarno mengatakan, pihaknya menyambut baik keragaman yang ada di Kabupaten Temanggung. Menurutnya, Pemkab Temanggung berupaya optimal untuk mengembangkan dan menjaga keragaman yang dimiliki. “Kita bersama Gusdurian telah melakukan hal yang optimal untuk itu,” tandasnya. (Zahrotien/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama, Humor Islam, Nahdlatul IPNU Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Peringati Harlah, IPNU dan IPPNU Magetan Gelar Barzanjian

Magetan, IPNU Tegal. Para pengurus IPNU dan IPPNU kabupaten Magetan mengawali syukuran harlah dengan melantunkan sholawat Barzanji. Syukuran sederhana ini dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng di kantor PCNU jalan MT Haryono nomor 9 Magetan, Ahad (2/3).

“Tahun ini kami memang tidak mempunyai agenda besar untuk memperingati harlah ke-60 IPNU dan ke-59 IPPNU. Namun, setidaknya tumpengan ini dapat mengingatkan kembali kepada semangat juang para pendahulu,” kata Sekretaris PC IPNU Magetan Thoha saat dihubungi IPNU Tegal, Senin (3/3).

Peringati Harlah, IPNU dan IPPNU Magetan Gelar Barzanjian (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, IPNU dan IPPNU Magetan Gelar Barzanjian (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, IPNU dan IPPNU Magetan Gelar Barzanjian

Pembacaan Barzanji dan tumpengan itu, sambung Thoha, merupakan wujud syukur kami atas lahirnya IPNU dan IPPNU.

IPNU Tegal

Upacara sederhana dengan makan bersama nasi tumpeng menambah semangat dan kekompakan jajaran pengurus pelajar NU. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Ulama, Tokoh IPNU Tegal

Ustadzah Amerika Ini Kenalkan Anak-anak Ajaran Imam Al-Ghazali

Jakarta, IPNU Tegal

Virginia Gray Henry, Pengajar Islam Klasik di Amerika Serikat memiliki perhatian terhadap pendidikan Islam anak-anak. Ia dan timnya menerbitkan buku-buku untuk anak-anak antara lain tentang hidup dan ajaran Imam Al-Ghazali. Selain itu ia juga menyusun buku amaliyah wudlu, berdoa dan shalat.

Ustadzah Amerika Ini Kenalkan Anak-anak Ajaran Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ustadzah Amerika Ini Kenalkan Anak-anak Ajaran Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ustadzah Amerika Ini Kenalkan Anak-anak Ajaran Imam Al-Ghazali

Hal itu disampaikannya di arena International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) atau pertemuan internasional para pemimpin Islam moderat di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (10/5).

Virginia menuturkan, penerbitan buku-buku tersebut? sebagai upaya membantu anak-anak mempelajari Sunah juga pengajaran Islam dari sisi hati (tasawuf). “Ini untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak bahwa dalam hidup ada kesempatan untuk membersihkan hati,” kata Virginia.

IPNU Tegal

Virginia juga melakukan pendekatan dari hati dengan anak-anak didiknya. Misalnya ia pernah mengajak anak-anak untuk pergi ke sebuah taman kota dan bertemu dengan seorang alim yang kemudian dijadikan guru oleh anak-anak tersebut. Orang alim itu memberikan contoh bahwa setiap ibadah yang dilakukan untuk bersikap ramah dan ajaran baik lainnya.

Menurutnya, harapan pengajaran Islam kepada anak-anak sangat besar. Dan di antara pendekatan pengajaran kepada mereka adalah melalui cerita-cerita dari buku-buku yang diterbitkan.

IPNU Tegal

Dalam forum Isomil, Virginia juga memutarkan film pendek yang menceritakan berubahnya situasi kepada kembalinya keyakinan? anak-anak. Anak-anak dapat merasakan keyakinan dan percaya dengan kehidupan spiritual dan bagaimana anak-anak tidak hanya hidup dalam ketakutan.

Virginia sendiri terinspirasi dengan kehidupan Imam Al-Ghazali sejak kecil tepatnya? pada tahun 1966. Salah satu yang Virginia ingat adalah ungkapan, “Saya hancur bila tidak melakukan apa pun.”

Oleh karena itu, Virginia melakukan kerjasama penerjemahan buku-buku yang ditulisnya dengan beberapa negara untuk menyebarkan ajaran Islam.

Menanggapi paparan Virginia, salah seorang Mustasyar PBNU KH Abdullah Syarwani mengatakan bahwa upaya Virginia sangat baik untuk membangun karakter. “Manusia harus dibimbing dengan akal dan rasionya,” kata mantan Duta Besar RI untuk Syiria ini.

KH Syarwani yakin dan percaya bahwa dalam menghadapi radikalisme dunia, umat Islam harus kuat, tidak boleh takut. Kejahatan dilawan dengan cara yang santun, berbasis moral dan spiritual yang kuat.

Selanjutnya KH Syarwani mengatakan, kerja sama umat Islam dunia akan menyatukan itu. “Persatuan itu merupaka upaya basyariah di antara kita,” ungkap KH Syarwani. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Amalan, Ulama IPNU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia

Oleh: Ahmad Khoiri*

22 Oktober merupakan momentum euforia kaum pesantren atau yang lumrahnya disebut kaum sarungan. Euforia tersebut termanifestasikan dalam pelbagai kegiatan yang dilakukan pesantren, kirab santri merupakan salah satu di antaranya. Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar kegiatan seremonial tersebut, yaitu bahwa sebenarnya santri memiliki potensi untuk menjadi Muslim yang progresif, tidak kaku, lebih-lebih di Indonesia dengan masyarakat pluralnya.

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia

Islam progresif menawarkan sebuah metode ber-Islam yang menekankan pada terciptanya keadilan sosial, kesetaraan gender dan pluralisme keagamaan. Setidaknya itu yang dapat dipahami tentang pemaknaan “progresif” menurut Omid Safi (What is Progressive Islam?: 2005).

Keadilan sosial sebagai makna pertama progresif, menekankan spirit kembali kepada pesan moral al-Qur’an untuk berbuat adil sebagaimana dalam surah al-Maidah [5]: 8 dan al-Nahl [16]: 90. Meskipun dalam surah terakhir ini tuntutan keadilan oleh Allah Swt. seringkali ditafsirkan eksklusif untuk antar Muslim saja, bukan dengan orang yang dilabeli kafir, berlandaskan penafsiran secara emosional-ideologis terhadap beberapa ayat lain, di antaranya surah al-Taubah [9]: 73 dan 123, al-Fath [48]: 29 dan al-Tahrim [66]: 9.

Kesetaraan gender, sebagai manifestasi kedua progresivitas Islam, meskipun di Indonesia masih tidak mendapatkan posisinya secara utuh, namun juga termasuk dalam spirit al-Qur’an. Dapat kita tilik misalkan dalam persoalan poligami. Fazlur Rahman (w. 1988) melalui teori gerak ganda interpretasi (double movement) mengedepankan aspek legal-moral ketika memahami ayat tentang poligami. Penekanan aspek legal-moral dalam teori Rahman ini jauh lebih objektif memahami ayat ketimbang interpretasi klasik yang tidak jarang bernuansa ideologis susio-kultural mufasir terdahulu yang tak lagi dapat dikontekstualisasikan.

IPNU Tegal

Sedangkan manifestasi ketiga, yakni pluralisme keagamaan, merupakan hal yang tidak dapat dihindari di Indonesia. Penduduk dari pelbagai ras, suku bahkan agama menjadikan sikap inklusif keberagamaan sebuah alternatif yang niscaya. Di samping itu sebenarnya keragaman tersebut tetap berada dalam koridor Allah, sunnatullah. Dengan demikian maka menentang pluralitas tidak saja menyalahi sunnatullah yang telah diterangkan al-Qur’an, tetapi juga mencederai koridor Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Sebagai masyarakat yang pemahaman keagamaannya lebih baik daripada mereka yang non-santri, maka di sinilah santri memegang peran. Sikap “progresif” yang sebenarnya linear dengan statusnya sebagai kaum agamis mesti mendapat perhatian yang lebih serius.

IPNU Tegal

Menarik dicatat bahwa di sisi lain, santri juga berpotensi menjadi kaum ekstremis dengan proyek takfiri-nya. Ini tidak dapat disangkal, karena literatur keagamaan yang diajarkan di pesantren lebih cenderung kepada pemahaman keagamaan pemikir salaf yang terdapat dalam kitab kuning. Predikat paradoks bagi penyandang status “santri” kemudian menjadi kegelisahan tersendiri dalam konteks masa depan Indonesia. Problematika ini kemudian menemukan pemecahannya dengan adanya pendidikan keagamaan yang mengedepankan sikap moderat, atau yang umumnya diistilahkan dengan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), baik dalam nomenklatur STAIN, IAIN maupun UIN.

Umumnya, meskipun tidak secara keseluruhan, dapat dibuat generalisasi bahwa para mahasiswa di kampus PTAI tersebut adalah mereka yang concern-nya terhadap kajian keislaman lebih mendominasi.Dalam hal ini, para santri ada di antara mereka. Meski derasnya arus pemikiran progresif yang diusung PTAI mendapat reaksi yang serius oleh Hartono Abdul Jaiz dengan publikasi bukunya, Ada Pemurtadan di IAIN (2005), namun reaksi agresif tersebut sama sekali tidak berdasar dan tidak berbobot akademis, tetapi lebih memprioritaskan aspek emosionalnya. Dengan dalih mempertahankan Islam yang dianggapnya telah diobok-obok kaum progresif-liberal, Hartono mengeluarkan sanggahan-sanggahan yang seringkali tidak beretika, hingga akhirnya ia juga mendapat tanggapan setimpal oleh Nur Kholis Setiawan, santri alumni Pesantren Tebu Ireng, Jombang, dan sarjana doktoral Bonn University, Jerman.

Keberadaan pemikir-pemikir progresif seperti Nur Kholis, dan tokoh lain seperti Ulil Abshar Abdalla yang kontroversial dengan JIL-nya beberapa tahun silam, megindikasikan bahwa potensi santri dengan kemampuannya mengkaji literatur-literatur bahasa Arab jauh lebih baik daripada mereka yang tidak pernah belajar di pesantren. Kita telah melihat bahwa kebanyakan para pemuda yang tergabung dalam kelompok-kelompok keagamaan ekstremis, adalah mereka yang pemahaman keagamaannya di bawah rata-rata. Doktrin yang terkesan agamis mudah sekali menjadikan mereka bertindak ceroboh, karena mereka tidak pernah mengerti duduk persoalan yang dihadapinya. Mereka telah menjadi sasaran empuk Muslim golongan kanan dalam melancarkan aksinya yang seringkali beriklim politis.

Kesadaran pengetahuan (al-wa’y al-‘ilm) dapat dilacak bahkan dalam khazanah turats klasik. Menurut Nur Kholis Setiawan (2008: 5) yang tidak bisa melacak hal tersebut hanyalah orang-orang narrow minded alias tidak memiliki bekal pengetahuan yang memadai. Bagi Nur Kholis, justru khazanah intelektual klasik/turats-lah yang menjadi pijakan revitalisasi semangat terbukanya pintu ijtihad (2008: 17). Oleh karena turats didominasi literatur berbahasa Arab, maka sekali lagi, potensi santri untuk memahami turats memberikannya peluang memahami pemikiran keagamaan (al-fikr al-diniy) secara kaffah, ekstensif, yang dengan alat bantu (istimdad) ilmu humaniora yang telah dipelajarinya di PTAI pada akhirnya akan melahirkan sikap progresif. Pemikiran progresif tersebut akan menjadi sebuah upaya depolitisasi Islam dan menghindari pensakralan pemikiran keagamaan (taqdis al-fikr al-diniy).Santri dengan pemikiran progresifnya, dengan demikian, akan memeran kiprah yang besar dalam menjadikan Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera.

*

Penulis adalah mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan, Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama, Nahdlatul Ulama, Lomba IPNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Mengutamakan Amal dan Keteladanan

Khutbah I

? ? ? ?

Mengutamakan Amal dan Keteladanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengutamakan Amal dan Keteladanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengutamakan Amal dan Keteladanan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

IPNU Tegal

Hadirin jamaah sahalat jumat hafidhakumullah,

IPNU Tegal

Dalam kesempatan yang baik ini, saya berwasiat kepada pribadi saya sendiri dan kepada hadirin sekalian, mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah Taala dengan selalu berusaha menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi aneka macam larangan-Nya.

Hadirin!

Sebagaimana sudah maklum, Baginda Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah Taala di dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia:

? ? ? ? ?

Oleh sebab itu, Rasulullah hadir memberikan contoh konkret dengan aneka ragam kebaikan sikap dan cara yang dapat kita baca sejarahnya di hadits-hadits Nabi shallallâhu alaihi wasallam.

Rasulullah tidak hanya mengajarkan kebaikan, namun beliau hadir memberi contoh berupa keteladanan. Maka, kenapa Allah mengutus utusan yang membawa risalah ke bumi itu berwujud manusia, tidak dari golongan malaikat? Karena jika malaikat yang diutus, manusia tidak mampu mengambil pelajaran secara nyata dalam sisi keteladanan berperilaku kepada Allah ta’ala atau adab antarsesama manusia.

Di akhir zaman ini kita lebih suka banyak berbicara tentang literatur ilmu, diskusi dengan materi selangit, membahas hal sulit nan rumit, namun amaliyah kita, ibadah kita, perilaku dan sikap kita tak seberapa. Naudzu billah.

Berbeda dengan zaman salaf dahulu. Para ulama salaf senantiasa mengamalkan ilmunya. Sedikit atau banyak ilmu yang mereka dapat.

Ibnul Mubarak mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Adab yang sedikit itu lebih kami butuhkan daripada ilmu yang banyak.”

Selain itu Imam Al-Ghazali juga mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Andai saja kau baca literatur keilmuan selama seratus tahun dan kau kumpulkan sebanyak seribu buku, hal itu tak akan mampu menyiapkan dirimu menggapai kasih dan rahmat Allah kecuali hanya dengan cara mengamalkan ilmu yang kautahu.

Sayyidina Ali karramallahu wajhah berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hai para pemilik ilmu, laksanakan ilmu yang pernah kau dapatkan. Sesungguhnya yang dinamakan cendekiawan itu adalah orang yang menjalankan apa yang ia mengerti, serta ilmunya sinkron dengan apa yang ia jalankan.

Hadirin!

Dengan hal itu, mari kita belajar saling mencari teladan atas kebaikan-kebaikan yang tersebar di sekitar kita dan mari kita beri teladan orang-orang di sekitar kita dengan contoh perilaku baik supaya kita dapat selamat dunia akhirat secara bersama-sama.

Menurut satu riwayat, dikisahkan bahwa Syekh Abdul Qadir Al Jilani mempunyai seorang sahabat yang mempunyai budak lelaki. Budak sahabatnya ini telah lama memimpikan untuk hidup merdeka, lepas dari ikatan perbudakan. Namun, ia tak berani? menyampaikan keinginan dan cita-citanya tersebut kepada majikan. Suatu ketika, si budak berinisiatif, ia minta tolong kepada Syekh Abdul Qadir untuk memberi saran kepada sang majikan supaya memerdekakannya.

Ditunggu sehari dua hari, si budak tak segera mendapat berita kemerdekaan. Seminggu-dua minggu, sebulan-dua bulan, kabar gembira itu juga tak kunjung datang. Namun, setelah setahun berlalu, ia baru dimerdekakan oleh majikannya. Ia mengetahui kemudian bahwa kemerdekaan pribadinya tidak lepas dari saran Syekh Abdul Qadir.

Merasa penasaran, budak yang telah merdeka ini menemui Syekh Abdul Qadir

"Ya Syekh, apa gerangan yang mendorong engkau untuk menyampaikan permintaan saya yang setahun lalu dan sekarang baru saja engkau laksanakan?" tanya budak

"Begini, selama ini aku tak pernah memberi saran atau menasihati seseorang dengan suatu hal yang aku sendiri belum pernah melaksanakannya. Nah, kau minta aku untuk menasihati majikanmu agar dia membebaskanmu, sedangkan aku sendiri selama ini belum pernah memerdekakan budak karena memang aku tak punya budak. Maka, aku harus memerdekakan budak dulu dengan cara aku menabung sampai setahun dengan uang yang cukup untuk membeli budak. Selepas aku mampu membeli, baru kemudian aku merdekakan. Setelah itu, aku berani memberi saran orang lain untuk memerdekakan budak."

Hadirin....

Nasihat-nasihat model Syekh Abdul Qadir di atas, sekarang ini semakin jarang kita temukan. Padahal, sebuah nasihat yang memang didasari dengan hati yang tulus akan menembus kepada hati.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jika nasihat keluar dari hati, maka akan mendarat, menancap di relung hari. Sedangkan bila keluar hanya dari lisan, tidak dari dalam hati, maka nasihatnya tak akan melampaui batas telinga saja. Artinya tak akan sampai ke dalam hati dan bisa merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik dan dekat pada Allah.

Hadirin!

Mari kita benahi diri kita pribadi. Mari kita ambil contoh orang-orang baik serta mari kita tebar contoh-contoh kebaikan kepada anak cucu kita, orang-orang sekitar kita. Kita niati bahwa kita sedang menanam benih kebaikan untuk orang lain. Dan pada akhirnya jika kebaikan yang kita tanam itu diambil pelajaran oleh orang lain dan diajarkan kepada orang lain lagi, maka kita meski sudah tidak lagi di dunia ini, kita akan selalu memanen pahala tanaman amal baik kita.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Mundzir



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Ulama, RMI NU IPNU Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam

Jombang, IPNU Tegal. Tim Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang terdiri dari 9 kiai khos mengadakan sidang untuk memilih Rais Aam PBNU. Sebelum sidang penentuan Rais Aam, Gus Mus menulis surat resmi yang menyatakan ketidaksediaannya untuk dipilih menjadi Rais Aam PBNU.

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam

Dengan kenyataan seperti ini, justru salah satu anggota Ahwa, KH Maimun Zubair menyatakan sebaliknya. Mbah Mun menilai, bahwa menolak ingin dipilih inilah yang menjadi alasan utama Tim Ahwa untuk memilih KH Mustofa Bisri menjadi Rais Aam PBNU.

“Justru surat ketidaksediaan Gus Mus inilah yang menjadi alasan kami memilih Gus Mus. Dia layak menjabat pemimpin tertinggi NU karena dia tawadhu serta tidak punya nafsu dan ambisi secara kekuasaan,” ujar pemimpin sidang, KH Ma’ruf Amin menyampaikan pesan Mbah Maimun dari hasil sidang Tim Ahwa dihadapan Muktamirin, Rabu (5/8) di ruang sidang yang berada di komplek Alun-alun Jombang, Jawa Timur.

IPNU Tegal

KH Ma’ruf Amin sendiri ditetapkan sebagai Wakil Gus Mus melalui sidang Tim Ahwa tersebut. Sebelumnya, dalam sambutan di sidang pleno tata tertib yang sempat kurang kondusif, Gus Mus memang berharap tidak terpilih lagi menjadi Rais Aam PBNU. “Semoga Saya sekian saja jadi Rais Aam,” katanya.

IPNU Tegal

Hingga berita ini ditulis, sedang berlangsung rapat pleno pemilihan Ketua Umum PBNU di tempat yang sama. Sidang yang dipimpin oleh PWNU Jawa Timur, Prof Akh Muzakki ini telah memenuhi kuorum. “Dari 508 peserta pemilik hak suara, telah hadir di forum sebanyak 378 orang, jadi rapat pleno ini telah memenuhi kuorum,” terangnya dalam paparan pembuka. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Quote, Ulama IPNU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir

Assalamu alaikum wr. wb. Yth Redaksi. Ssaya seringkali mengantuk ketika sedang shalat ataupun berzikir, padahal sebelumnya saya sama sekali tidak mengantuk. Apakah hal ini termasuk gangguan setan? Dan bagaimana cara mengobati "penyakit" tersebut? Terima kasih.

Wassalamu alaikum wr.wb. (Ega Prasetya Noor)

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh

Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir

Saudara Ega Prasetya Noor yang terhormat.

Rasa kantuk mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Dengan adanya rasa kantuk yang berdampak pada tidur, seseorang akan dapat mengembalikan staminanya setelah sekian lama beraktifitas. Dengan tidur pula orang akan dapat berisitirahat dari keletihan dan kelelahan saat bekerja. Hal ini merupakan dampak positif dari adanya rasa kantuk yang menghinggapi mata manusia.

IPNU Tegal

Penyebab ngantuk sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah akibat mulai letihnya syaraf mata dan otak yang bekerja, hingga akhirnya menjadikan pikiran kurang fokus. Selain itu anemia atau sering juga disebut kurang darah, diabetes, depresi, dehidrasi (kurang cairan) dan gangguan tidur yang lain juga dapat menjadikan rasa kantuk seseorang kian bertambah.

Namun mengingat pertanyaan yang anda sampaikan tidak mengarah kepada sebab-sebab yang telah kami kemukakan, dengan bukti bahwa rasa kantuk muncul pada saat shalat atau dzikir saja, kami lebih menilai bahwa hal itu terjadi karena kurangnya niat maupun tekad untuk lebih fokus pada aktifitas yang dilaksanakan (shalat atau dzikir). Bisa juga memang syetan sedang menjalankan aktifitasnya untuk mengganggu anda dalam menunaikan ibadah.

IPNU Tegal

Ar-razi, Ibnu Katsir serta para mufassir lainnya ketika menafsirkan ayat 154 surat Ali ‘Imron banyak yang mengutip pendapat Abdullah bin Mas’ud yang menyatakan bahwa rasa kantuk yang menghinggapi manusia saat shalat berasal dari syetan. Dalam tafsir Mafatih al-Ghaib, Muhammad bin Umar atau yang sering dikenal dengan Fahruddin Ar-Razi mengatakan:

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: dari Ibnu Mas’ud: “Mengantuk ketika dalam kondisi perang dapat menjadikan rasa aman (bagi tentara yang berperang), sedangkan rasa kantuk dalam shalat adalah dari syetan. Hal itu dikarenakan rasa kantuk saat berperang hanya terjadi ketika ia (seorang tentara) telah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah secara total dan ia juga tidak peduli lagi dengan urusan duniawi. Sementara kantuk dalam shalat hanya terjadi apabila seseorang jauh (lupa) dengan Allah.”

Saudara penanya yang disayangi Allah. Dari uraian diatas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa kantuk yang terjadi ketika sedang shalat atau dzikir:

Pertama, selalu memohon kepada Allah agar dijauhkan dari godaan syetan (sering membaca ta’awwudz).

Kedua, kuatkan niat dan tekat untuk lebih fokus mengingat Allah ketika sedang shalat atau berdzikir.

Ketiga, lebih baik lagi apabila anda sering memperbarui wudhu (tajdid al-wudhu) menjelang shalat dan dzikir, agar siraman air yang mengguyur wajah serta sebagian anggota tubuh anda dapat menambah kesegaran dan kebugaran kondisi fisik saat beribadah kepada Allah swt.

Mudah-mudahan aktifitas ibadah yang akan kita lakukan semakin bertambah baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Amin. (Maftukhan)

Ilustrasi: Anggota DPR mengantuk saat sidang

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama, Syariah IPNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

IPNU Tangsel Siap Jadi Percontohan Cabang di Banten

Tangsel, IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memiliki peminpin baru setelah menggelar konferensi cabang (Konfercab) kedua pada 30 Januari 2015 lalu. Melalui musyawarah mufakat, Randi Hamdani terpilih sebagai ketua baru PC IPNU Kota Tangsel periode 2015-2017.

IPNU Tangsel Siap Jadi Percontohan Cabang di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Tangsel Siap Jadi Percontohan Cabang di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Tangsel Siap Jadi Percontohan Cabang di Banten

Randi Hamdani menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang hadir dalam konferensi dan berjanji akan menjadikan PC IPNU Kota Tangerang Selatan sebagai percontohan bagi cabang-cabang lain di seluruh Banten dalam mengawal pelajar dan santri untuk mendapakan pendidikan yang baik.

“Kota Tangerang Selatan adalah kota dengan masyarakat yang tinggi secara sosial dan kultur, namun tidak terstruktur. Inilah tantangan ke depan agar bisa mengenalkan IPNU kepada masyarakat dengan baik, khususnya kepada sekolah-sekolah atau pondok pesantren,” imbuhnya.

IPNU Tegal

Dengan usaha ini, kata Randi, IPNU dapat lebih dekat dengan masyarakat dan berharap dapat meluas hingga mampu mendirikan Pimpinan Anak Cabang, Pimpinan Ranting atau Pimpinan Komisariat.

IPNU Tegal

“Terima kasih kepada Rekan Moch. Syakur Ketua IPNU demisioner beserta jajaran pengurus, yang telah mengawal dan mejalankan roda organisasi dengan baik, semoga ke depan sesuai dengan harapan dan cita-cita kita bersama IPNU di Kota Tangsel bisa menjadi role model pelajar NU di Banten,” tuturnya.

Konfercab menjadi satu rangkaian dengan kegiatan Masa Kesetian Anggota (Makesta), jenjang awal kaderisasi di IPNU. Keduanya digelar di Pondok Pesantren Darul Hikmah Pamulang dan Sekretariat PCNU Kota Tangerang Selatan.

Acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut berhasil mengajak siswa-siswi dari sekolah-sekolah di Tangerang Selatan dan anggota-anggota Ikatan Remaja Masjid (Irmas). Makesta diikuti dua puluh peserta, dan mereka menjadi anggota baru PC IPNU Kota Tangerang Selatan. (Imron Rosyadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama IPNU Tegal

Jumat, 10 November 2017

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Ulama IPNU Tegal

Ansor Ciamis Gencar Bentuk Ranting

Ciamis,IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Ciamis sedang gencar membentuk kepengurusan hingga ke tingkat ranting. Setiap Pimpinan Anak Cabang (PAC) dibantu untuk membentuk kepengurusan ranting.

Ketua GP Ansor Kabupaten Ciamis Dendeu Rifa’i Hielmy menyatakan, kepengurusannya tidak akan dilantik, sebelum ranting-ranting terbentuk.

Ansor Ciamis Gencar Bentuk Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Ciamis Gencar Bentuk Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Ciamis Gencar Bentuk Ranting

“Jadi, kalau ada kabar GP Ansor Ciamis, dilantik, berarti ranting sudah selesai,” kata ketua terpilih pada Konfercab di Pondok Pesantren Miftahul Falah Al-Aziziyah Cihaur Beuti Kabupaten Ciamis akhir Januari lalu, kepada IPNU Tegal, di gedung PCNU Ciamis, Ahad, (10/2) lalu.

IPNU Tegal

Ada 3 program besar yang akan dilakukan Dandeu selama kepengurusannya. Pertama, membenahi sturuktur di PAC, penguatan SDM, pengembangan majelis dzikir. “Sudah berjalan, misalnya di Kecamatan Cijenjing, Cipaku, Kawali, Jatinegara. Di kecamatan-kecamatan lain juga bukan tidak aktif, tapi tidak diatasnamakan Ansor,” jelasnya.

Pria berusia 30 tahun tersebut menargetkan, di tingkat ranting digelar seminggu sekali, di wilayah kecamatan sebulan sekali. Dan di tingkat kabupaten dua bulan sekali.

IPNU Tegal

Kedua, program ideologisasi, yaitu rutinitas organisasi dengan pelatihan PKD, PKL, dan penjenjangan Diklatsar. Ketiga, pemberdayaan pemberdayaan ekonomi mutlak dilakukan di basis-basis NU. “Kemiskinan dekat dengan kekufuran,” lulusan Pesantren Al-Ihsan Purwokerto dan Pondok Pesantren Al-Quran Cijantung Ciamis ini berdalil. ?

Pemberdayaan melalui pengembangan yang berpotensi di kabupaten Ciamis semisal perikanan, sayur-mayur, agribisnis. Agribisnis sudah dimulai di Kecamatan Sukamantri. Perikanan di Kecamatan Cijenjing. Peternakan di Kecamatan Kawali, dan di Lakbok.

“Untuk menunjang kegiatan-kegiatan di PAC, Cabang akan membikin lembaga keuangan semisal BMT,” pungkas lulusan Jurusan PAI di Miftahul Huda Al-Azahar, Citangkolo.

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama IPNU Tegal

Selasa, 07 November 2017

PCNU Sumedang Berikan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang

Sumedang, IPNU Tegal. Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Sumedang pada selasa malam (20/9) mengakibatkan terjadinya longsor dibeberapa tempat. Salah satu lokasi longsor yang paling parah terjadi di Desa Ciherang Kecamatan Sumedang Selamat. Longsor yang terjadi mengusur beberapa rumah dan menuturkan jalanan umum. Korbanpun berjatuhan, tercatat dua orang meninggal dan beberapa orang masih belum ditemukan.

Takut terjadi longsor susulan, warga di sekitar longsor pun langsung dievakuasi ke Gedung Olahraga Raga Tajimalela. Tim dari kepolisian dan Banser NU Cabang Sumedang bahu membahu mengevakuasi korban bencana alam tersebut.

PCNU Sumedang Berikan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumedang Berikan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumedang Berikan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang

Menyikapi fenomena tersebut, pada Rabu pagi (21/9) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang langsung cepat tanggap. H Sadulloh selaku ketua PCNU Sumedang menginstruksikan kepada seluruh pengurus dan warga nahdliyin untuk membantu para korban bencana alam tersebut. Gerakan #NU_Peduli langsung dicanangkan oleh beliau.

Dalam waktu beberapa jam saja bantuan pun terus mengalir dan terkumpul. Untuk memudahkan mengumpulkan bantuan, H Sadulloh membagi posko #NU_Peduli di tiga titik. Titik pertama di Kantor PCNU Sumedang, titik kedua di Rumah Bendahara PCNU Dadan Buldani Jatinangor, dan titik ketiga di Rumah Katib PCNU Sumedang H Ade Gaos. Bantuan yang terkumpul berupa makanan, pakaian, dan uang.

IPNU Tegal

Bantuan yang sudah terkumpul sudah mulia didistribusikan. Lokasi pertama yang dikunjungi oleh rombongan PCNU Sumedang ialah GOR Tajimalela tempat para korban dievakuasi. H Sadulloh yang memimpin rombongan tersebut mengatakan sangat prihatin dengan adanya bencana alam yang terjadi di Sumedang ini. PCNU Sumedang akan terus membantu semaksimal mungkin kepada para korban.

PCNU Sumedang juga menyiapkan tim kesehatan melalui Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang untuk membantu memeriksa dan mengobati para korban longsor yang kesehatannya agak terganggu. Semoga bencana alam seperti ini tidak terjadi lagi, tutup H Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Kajian Islam, RMI NU, Ulama IPNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo

Jepara, IPNU Tegal. Ratusan pelajar NU Blimbingrejo kecamatan Nalumsari, Jepara mengamanahkan Ridho Maulana dan Bela Santika sebagai ketua IPNU-IPPNU Blimbingrejo periode 2015-2016 di MI NU Al-Ma’arif, Senin (16/2) malam. Keduanya berencana membuat program-program sesuai kebutuhan masyarakat khususnya pelajar setempat.

Ketua IPNU Nalumsari Lukman Hakim mendukung kepengurusan baru agar ke depan menjadi lebih baik.

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ridho dan Bella Gerakkan Pelajar NU Blimbingrejo

"Selamat dan sukses kepada rekan Ridho dan Bella, semoga dapat membawa kepengurusan IPNU-IPPNU Blimbingrejo ke depan semakin baik" ujarnya.

IPNU Tegal

Sementara itu Ridho mengatakan, pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kepengurusan yang baru ini dengan merancang program-program yang dapat bermanfaat.

IPNU Tegal

"Kami akan merancang program-program yang sifatnya dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan juga kepada pengurus maupun anggota," ujarnya.

Ia berharap kepengurusan nanti bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

"Semoga dengan pergantian kepengurusan ini menjadikan IPNU-IPPNU lebih baik dan juga bisa menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab" tambahnya. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Habib, Ahlussunnah, Ulama IPNU Tegal

Jumat, 03 November 2017

Perempuan Boleh Menyembelih Hewan

Di dalam kitab fiqih ada keterangan yang menyatakan bahwa seorang perempuan memiliki hak yang sama dalam hal penyembelihan. Seorang perempuan dibenarkan memotong ataupun menyembelih ayam, begitu pula diperbolehkannya menyembelih kambing ataupun kerbau, jika mampu. Namun hak itu diutamakan kepada lelaki terlebih dahulu. Karena masalah penyembelihan biasanya membutuhkan tenaga ekstra. Dalam kitab I’anatut Thalibin diterangkan:

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ...

 Yang lebih utama untuk memotong adalah muslim yang berakal, kemudian muslimah yang berakal, kemudian anak-anak muslim yang sudah mumayyiz dan baligh, kemudian kafir kitabi (laki-laki), kafirah kitabiyah(perempuan)....

 Demikianlah pada dasarnya tidak ada pelarangan tentang penyembelihan. Akan tetapi ada jenjangnya. Selama ada lelaki muslim maka hendaknya dialah yang menyembelih bukan muslimah. Walaupun tidak ada larangan untuk muslimah. Maka ketika seorang muslimah melakukan penyembelihan sementara ada di sana seorang muslim. Itu namanya khilaful aula menyalahi keutamaa. (Ulil H) 

Perempuan Boleh Menyembelih Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan Boleh Menyembelih Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan Boleh Menyembelih Hewan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Doa, Ulama IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock