Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Oleh Aswab Mahasin

Saya akan memulai tulisan ini dengan diskursus seorang atheis Will Durant, “Agama punya seribu jiwa, segala sesuatu jika sudah dibunuh ia akan sirna, kecuali agama. Agama sekiranya ia dibunuh seratus kali, akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.” Pernyataan ini senada dengan judul buku Komarudin Hidayat, “agama punya seribu nyawa”.

Agama sekarang ini berada pada posisi “dimanfaatkan” dan “bermanfaat”. Agama dimanfaatkan ketika suatu kelompok tertentu bertindak, berbuat, dan berdalih atas nama agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selanjutnya. Agama bermanfaat ketika agama benar-benar difungsikan sesuai dengan esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri, sebagai sistem pengajaran yang mendidik, sebagai sistem sosial yang mensejahterahkan, dan sebagai ajakan yang menentramkan.

Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Namun, kedua posisi itu tidak bisa dielakan dalam situasi dan dinamika sosialyang terus berkembang. Memang, agama tidak berubah, tetapi agama dianut oleh masyarakat baik secara menyeluruh maupun individudalam gerak sejarahnya terus mengalami perubahan, diberbagai dimensi sosialnya.

Fenomena tersebut terjadi disemua lapisan pemeluk agama, agama apapun mengalami hal yang sama. Dengan demikian, ada pergumulan antara agama dan sosial, atau biasa kita kenal juga dengan istilah “peradaban”. Agama dari mulai kelahirannya (agama manapun), selalu berinstrumen dengan kondisi sosialnya, di satu sisi agama membangun kebudayaan, di sisi lain agama berusaha membentuk peradaban.

Bila ditatap dari perspektif sejarah, setiap agama memang membentuk dan membangun kebudayaan serta peradabannya sendiri. Ketika Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Yastrib, Kanjeng Nabi langsung mengganti nama kota Yastrib yang berarti “tanah gersang berdebu” menjadi Madinah yang berarti “kota atau peradaban”. Artinya, Nabi Muhammad Saw ingin membangun dan mewujudkan perdaban dunia melalui makna kota Madinah, dengan kreatifitas peradaban masyarakatnya dan nilai-nilai Islam melalui petunjuk Ilahi.

IPNU Tegal

Dengan demikian, secara alamiah agama mempunyai kemampuan untuk melahirkan peradaban (madinah atau tamaddun). Berarti agama dan peradaban dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, berdampingan dan bersamaan. Walaupun banyak orang menyangsikan bahwa agama dan peradaban adalah berbeda, mereka mencoba membuat distingsi (pembedaan), dengan konklusi, agama di satu sisi dengan peradaban di sisi yang lain.?

Misalnya dikatakan, Agama adalah wahyu Tuhan, sedangkan peradaban adalah inovasi manusia. Pembedaan semacam ini sesungguhnya hanya ada dalam wacana dan verbalisme belaka, dan tidak pernah ada dalam kenyataan hidup manusia. (Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, MA, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, dan Dr. Achmad Mubarok, MA, dalam buku Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani: 2003)

Realitas hidup manusia menghendaki sesuatu yang oprasional, tidak hanya berhenti pada ajaran-ajaran kaku. Agama memang tidak berubah, namun sekali lagi saya tekankan masyarakatnya yang berubah, pemeluknya yang berubah. Perubahan ini mau tidak mau mempengaruhi pula cara dan sikap keberagamaan mereka.?

Apalagi di era informasi serba terbuka, tidak sedikit dari mereka berguru pada google, youtube, facebook, twitter, dan sebaginya—seringkali memuat informasi atau penyampaian tidak berimbang.Dari hal tersebut, akan terjadi penguapan yang tidak bisa dikontrol apalagi dibatasi, setiap orang boleh menyampaikan sesuatu, dan dilakukan secara bebas, dengan cara; emosi, tanpa data, ujaran kebencian, dan ngawur. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut merupakan masalah untuk mendapatkan pemahaman yang utuh.

IPNU Tegal

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir dialektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya dimiliki oleh satu golongan, melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan diskursus tertentu. Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita. Ini menjadikan kita berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, karena Islam cenderung meluas.?

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng. Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Mohamad dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi.?

Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya. Sambung Gunawan Muhammad, Nurcholish benar ketika mengatakan semua agama dewasa ini mengalami krisis. Tidak hanya umat Islam, melainkan semua umat dari berbagai agama.”

Kita bisa lihat juga potret yang berkembang, di Amerika Serikat menjelang tahun 1980-an muncul gerakan intelektual internasional, dengan misi “Islamisasi Pengetahuan”, pertama kali gerakan ini didengungkan oleh Isma’il Raji Al-Faruqi dari lembaga Pemikiran Islam Internasional (Internatioanl Institute of Islamic Thouhgt). Gagasan ke arah Islamisasi Pengetahuan sebelumnya sudah dicetuskan oleh Naquib Al-Attas dari Malaysia. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: 2006)

Hal tersebut adalah respon dari sebagian umat Islam, supaya tidak begitu saja menelan mentah-mentah ala Barat. Namun menjadi lucu, ketika objek dunia yang luas ini, dengan berbagai ragam spektrumnya lantas harus didudukan pada satu paradigma saja, dengan tiga dalih kesatuan; kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Jelas, kalau kita jabarkan lebih panjang, akan rancu.?

Minimal Anda bisa menelaah sendiri, bagaimana jika pengetahuan hanya tunggal, dimana pengetahuan hanya punya satu kiblat pengetahuan. Saya hanya membayangkan, tidak kreatifnya dunia ini dan merupakan pekerjaan yang tidak berguna memikirkan islamisasi pengetahuan. Toh menurut Kuntowijoyo, metode dimana-mana sama: metode survei, metode partisipan, atau metode grounded dapat dipakai dengan aman, tanpa resiko akan bertentangan dengan iman kita.?

Dalam hal ini, saya lebih sepakat dengan istilah Kuntowijoyo, bukan Islamisasi Pengetahuan, melainkan “Pengilmuan Islam” terhadap ilmu-ilmu yang telah ada, gerakan ini tidak seperti Islamisasi Pengetahuan (konteks ke teks), melainkan (teks ke konteks).

Pengilmuan Islam yang dimaksud adalah di mana Islam mampu mewarnai perubahan dunia. Intinya, dalam hal ini Islam bukan hanya sebagai ideologi atau doktrin agama, melainkan sebagai ide dan ilmu.

Kuntowijoyo hanya masih salah satu gambaran pemikir Indonesia yang mencoba memetakan Islam sebagai model pembangunan untuk merespon dinamika sosial. Berbeda dengan Nurcholish Madjid mengembangkan “sekularisasi”, dan Amin Rais berkiblat pada “Islamisasi ilmu pengetahuan”, sedangkan Jalaludin Rahmat menggaungkan “Islam alternatif”.?

Lain lagi dengan Munawir Syadzali lebih banyak berbicara tentang “reaktualisasi Islam” mengingat dinamika historis sudah berkembang cepat di samping adanya prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang harus dikedepankan. (Syamsul Bakri dan Mudhofir, Jombang Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam Indonesia: 2004)

Sedangkan Gus Dur menggaungkan Pribumisasi Islam, untuk mencairkan pola dan karakter Islam yang normatif menjadi sesuatu yang kontekstual. “Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.

Pada pijakan tersebut, para pemikir melihat pentingnya perspektif universal sebagai sebuah sistem gagasan yang ideal/kompleks dalam memahami agama khususnya sejarah yang berkembang. Munculnya ide-ide baru ini, dan mungkin masih banyak ide lainnya dari para pemikir, tidak lain sebagai respon ideologi, respon ide, respon kultural, respon pemikiran, respon sosial, dan berbagai respon lainnya dengan menilik pada perkembangan dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Islam dan dinamika sosial adalah sebuah proses mencari bentuk operasional agama yang sesuai untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, walaupun dengan corak dan karakter pemikiran yang berbeda. Namun, tetap dilandasi dengan pijakan-pijakan, data, refrensi yang ilmiah—tanpa gegabah dalam mengambil kesimpulan—dengan gambaran besarnya bagaimana Kitab Suci dan Rasulullah dalam menerjemahkan ajaran langit pada realitas bumi.

Saya tutup tulisan ini dengan wasiat dari KH Wahid Hasyim, semoga menjadi motivasi buat kitas semua, “Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.”

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Ubudiyah IPNU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja

Ikan dalam keadaan hidup-hidup maupun bangkainya, dihukumkan halal. Bagi yang hobi, ikan bisa diolah dengan pelbagai macam cara dan aneka bumbu. Ikan bisa dibakar, digoreng, dipepes, atau diolah dengan lain cara. Status hukumnya bisa sedikit bergeser bagi ikan pemakan kotoran di sebuah empang.

Namun demikian Rasulullah SAW seperti dalam riwayat Turmudzi mengajarkan umatnya untuk menunda selama beberapa hari jika mau mengonsumsi hewan pemakan kotoran. Dari sana ulama menetapkan kemakruhan memakan hewan demikian.

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyantap Ikan Bakar Pemakan Tinja

Syekh Abu Zakaria dalam Syarah Tahrir mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IPNU Tegal

Makruh hukumnya mengonsumsi hewan pemakan kotoran baik itu hewan ternak, ayam, atau hewan selain keduanya. Maksudnya, kemakruhan itu meliputi anggota tubuh hewan pemakan kotoran itu seperti susu, telur, daging, bulu, atau mengendarainya tanpa alas.

IPNU Tegal

Ungkapan saya “anggota tubuh” lebih umum dibanding ungkapan “dagingnya”. Makruh ini dikarenakan ada perubahan pada dagingnya yang mencakup rasa, bau, dan warnanya. Menyantap daging hewan seperti ini akan tetap makruh hingga hewan ini dibiarkan hidup beberapa waktu agar ia memakan barang-barang yang suci. Tujuannya tidak lain agar tubuhnya kembali bersih dengan sendirinya tanpa bantuan sesuatu (seperti mencucinya hingga bersih).

Sementara Syekh Syarqawi dalam Hasyiyah-nya menyebutkan.

? ? ? ? ? ? ? ?

Yang dimaksud dengan “hewan pemakan kotoran” di sini ialah segala hewan yang memakan najis mutlaq (najis apapun itu) seperti tinja.

Uraian ini cukup terang menjelaskan kedudukan ikan pemakan tinja di sebuah empang, sapi yang berkeliaran mencari makan di tempat pembuangan sampah, ayam yang mengais-kais gundukan sampah, atau hewan lain yang memakan barang-barang kotor. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah IPNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam

Jakarta, IPNU Tegal. Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam kembali memberikan penghargaan kepada para pionir, teladan, dan tokoh-tokoh yang peduli dan berdedikasi dalam pengembangan pendidikan Islam. Penghargaan ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam ajang Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2015 di Jakarta, Jumat (11/12) malam.

API 2015 merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Kementerian Agama kepada insan pendidikan Islam yang telah berprestasi, berdedikasi, dan peduli dengan pengembangan dan kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. ?

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Beri Penghargaan pada Pionir dan Teladan Pendidikan Islam

“Apresiasi ini diberikan kepada ? putera puteri bangsa dalam berbagai kategori, yang menunjukkan bahwa madrasah, sekolah, perguruan tinggi dan pesantren kita berhasil mengembangkan kognisi, afeksi dan psikomotoriknya serta karakter secara optimal,” kata Menag Lukman seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

IPNU Tegal

Apresiasi ? Pendidikan Islam juga dianugerahkan kepada para kepala madrasah, pengawas, guru/ustad, dan dosen di mana mereka telah berkarya dan mengabdikan dirinya dengan penuh totalitas.?

IPNU Tegal

“Juga ? dianugerahkan kepada Bupati dan Walikota ? yang telah memberikan atensi pada pengembangan Pendidikan Islam,” tegas Menag.

Dikatakan Menag , Pemerintah memberikan apresiasi ? pendidikan ini, sebagai ekspresi kesyukuran dan pengakuan, bahwa kita memiliki banyak putera-puteri terbaik bangsa yang peduli dan mewakafkan dirinya untuk pendidikan Islam, agar terus maju dan berkembang di seluruh pelosok tanah air.?

“Peristiwa ? saat ini merupakan momen ? istimewa bagi saya dan keluarga besar Kementerian Agama. Suatu kebanggaan bagi kita semua dapat berkumpul dengan para pionir dan inspirator pendidikan Islam dari seluruh Indonesia,” katanya.

Pendidikan Islam menurut Menag, sejak beberapa dekade terakhir semakin menampakkan identitas yang khas, modern, dan berdaya saing. Fenomena ini tidak sekedar sebagai respon terhadap dunia yang terus berubah, tetapi sekaligus sebagai refleksi kebangkitan dunia pendidikan Islam sebagai salah satu pilar terdepan peradapan bangsa.

“Kita tidak akan membiarkan bangsa yang besar ini kalah bersaing dengan bangsa –bangsa lain karena kelemahan sumber daya manusiannya. Kita semua menginginkan pendidikan islam tetap menjadi tuan rumah dinegeri sendiri,” ucapnya.

“Karena alasan itulah, maka pemerintah memperioritaskan pembangunan bidang pendidikan, Kementerian Agama bahkan telah mengalokasikan anggaran lebih dari 85 persen untuk pendidikan agama dan keagamaan,” tambahnya.

Tampak hadir dalam acara Apresiasi Pendidikan Islam, Sekjen Kementerian Agama Nur Syam, Dirjen Pendidikan Islam Kamarudin Amin, para pejabat eselon II baik pusat maupun daerah, serta ? para penerima penghargaan Apresiasi Pendidikan Islam. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Ulama IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN

Kuburaya, IPNU Tegal

PMII Komisariat Untan Pontianak memberikan sosialisasi kepada puluhan peserta Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kabupaten Kuburaya Kalimantan Barat terkait merebaknya paham radikalisme di lingkungan kampus. Kegiatan yang didukung Mata Air Foundation dan GP Ansor ini berlangsung di Kecamatan Ambawang, Rabu (4/5) malam.

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN

“Ketika kalian masuk ke dunia kampus, akan ada banyak macam perbedaan pemikiran, terlebih disaat baru masuk ke dunia kampus, mahasiswa sangat mudah dipengaruhi dan didoktrin. Maka kalian harus berhati-hati dan mempersiapkan diri dari sekarang, karena kalianlah yang menjadi harapan generasi ahlussunnah waljamaah, di dalam dunia kampus,” kata Abdul Wesi Ibrahim, Sekretaris Umum PMII Untan.

Abdul Wesi menjelaskan mahasiswa sebagai insan yang masih mencari jati diri, wajar jika mudah dipengaruhi. “Sebelum kalian terjun di dunia kampus, persiapkan itu semua” pungkasnya. (Ai, Sf/Zunus)

IPNU Tegal



IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Nasional IPNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial

Jakarta, IPNU Tegal

Buruh harus lebih sering melakukan dialog sosial sebagai upaya penguatan, pemahaman peraturan dan regulasi ketenagakerjaan, ujar Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) Syaiful Bahri Anshori.

“Langkah itu penting supaya buruh mengerti bagaimana hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan,” ujar Syaiful, di Jakarta, Selasa (4/4).

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial

Persoalan buruh, demikian Syaiful menambahkan, semakin banyak dan semakin kompleks. Karena itu, butuh dukungan dari pilar Tripartit, yakni serikat buruh yang kuat dan baik, Apindo yang apik dan pemerintah yang mempunyai regulasi tegas dan pengawasan efektif.

IPNU Tegal

“Persoalan hubungan industrial saat ini adalah bagaimana memahamkan Sarbumusi dan anggota dalam menyelesaikan persoalan-persoalan perburuhan sehingga penguatan dalam hal pembelaaan hak-hak buruh yang diabaikan menjadi berkurang,” paparnya.

IPNU Tegal

DPP K-Sarbumusi NU telah mengambil langkah untuk melakukan penguatan pembelaan hak-hak buruh melalui pendirian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bagi buruh sebagai bagian penting pembelaan melalui litigasi dan nonlitigasi.

“DPP K-Sarbumusi NU juga terus berupaya melakukan terobosan dan inovasi terkait bagaimana mengembangkan dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui pendiri Koperasi Sarbumusi,” tuturnya.

Syaiful mengajak anggota Sarbumusi NU lebih banyak silaturahmi dan berkomunikasi dengan orang tuanya, yakni NU.

“Ini jelas karena Sarbumusi merupakan badan otonom NU. Setiap tingkatan organisasi juga harus lebih membangun solidaritas antarsesama dan antarstruktural. Ssehingga lebih cepat bergerak dan beraktivitas dalam mencapai tujuan,” pungkas Syaiful. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Ubudiyah, AlaNu IPNU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

Tasikmalaya, IPNU Tegal - Keluarga besar Gerakan Pemuda Ansor kembali kehilangan sosok pemberani dan murah hati. Wawan, salah satu anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) meninggal dunia, Kamis (9/3) pukul 03.30 WIB, selang beberapa jam selesai menjalankan tugas membantu korban puting beliung di daerah Tamansari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut Haris sesama anggota Banser, Wawan seperti biasanya membantu warga masyarakat yang tertimpa musibah.

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

"Dia itu Ketua RT dan mempunyai jiwa sosial tinggi, tegas, baik, dan perhatian terhadap keluarganya," ujar Haris selesai menshalatkan almarhum.

Haris menceritakan, setelah kejadian puting beliung yang mengakibatkan kerusakan di beberapa tempat, seketika para anggota Banser berdatangan untuk membantu tidak terkecuali almarhum.

IPNU Tegal

"Kami sesama Banser kaget, soalnya malam tadi Wawan bersama Ansor-Banser yang lainnya masih biasa saja, tidak terlihat sakit atau tanda-tanda, tiba-tiba menjelang Subuh kami mendengar kabar duka tersebut," tuturnya.

IPNU Tegal

Dikabarkan, Wawan pulang ke rumahnya sekitar pukul 21.00 WIB setelah membersihkan puing reruntuhan dan pohon tumbang yang menimpa bangunan Pondok Pesantren Miftahul Anwar, Nangela.

Almarhum yang beralamat di Ciharashas RT 01/RW 08 Kelurahan Sumelap ini meninggalkan seorang istri bernama Juju dan empat orang anak. Semoga Almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Allahummaghfir lahu warhamhu waafihi wa`fu anhu.. Aamiin. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Warta, Ubudiyah IPNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul

Jakarta, IPNU Tegal. Telah berpulang ke rahmatullah Mustasyar PWNU DI Yogyakarta KH A Arwan Bauis pada Selasa (11/8) malam. Pejuang NU di Yogyakarta ini dipanggil oleh Allah pada pukul 22.00 setelah beberapa tahun terakhir menderita Leukemia.

Salah seorang pengasuh pesantren Krapyak Yogyakarta KH Hilmi Muhammad mengatakan bahwa KH Arwan merupakan pejuang tulen NU yang tak tertandingi, lahir dan batin. Komitmennya terhadap NU tidak perlu diragukan. Pengabdiannya di GP Ansor di masanya juga memberikan bekas tersendiri.

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)
Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul

“Beliau adalah murid Simbah almarhum KH Ali Maksum, dan juga sahabat sekaligus pengawal almarhum KH Abdurrahman Wahid bila sedang di Yogya,” kata KH Hilmi dalam akun fesbuknya, Rabu (12/8).

IPNU Tegal

Ustadz Hilmi mengajak warga NU untuk meneladani KH Arwan terkait pengabdiannya untuk NU. Ia bercerita bahwa di era awal reformasi, almarhum mengalami puncak karier dan senioritas di Kanwil Depag DIY. Almarhum semestinya berhak untuk menjabat sebagai Kakanwil, namun ia dengan logowo menyerahkan posisinya untuk kalangan Muhammadiyah.

“Ini menjadi pelajaran besar bagi kita bahwa jabatan bukan segala-galanya, dan bahwa NU sebagai lembaga dakwah dan pengabdian tidak sepatutnya dijadikan pijakan guna mendapatkan suatu kedudukan tertentu,” ujar Ustadz Hilmi seraya mengajak warga NU untuk berdoa agar Allah mengampuni almarhum dan melipatgandakan amalnya. Allah yarhamuh. (Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Makam, Pesantren IPNU Tegal

Saudi Luncurkan Proyek Wisata Pantai, Bagaimana soal Bikini?

Jeddah, IPNU Tegal - Kerajaan Arab Saudi telah resmi meluncurkan proyek kawasan pantai Laut Merah sebagai bagian dari program Visi 2030 negara setempat. Kawasan tersebut direncanakan bakal menjadi destinasi wisata internasional.

Menteri Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi Awad bin Saleh Al-Awad mengatakan, proyek Laut Merah adalah investasi yang efektif berbasis keuntungan dari kekayaan yang terdiversifikasi milik negara tersebut, agar dianfaatkan untuk kepentingan negara dan warga, demikian diberitakan kantor berita Arab Saudi, SPA, Selasa (1/8).

Saudi Luncurkan Proyek Wisata Pantai, Bagaimana soal Bikini? (Sumber Gambar : Nu Online)
Saudi Luncurkan Proyek Wisata Pantai, Bagaimana soal Bikini? (Sumber Gambar : Nu Online)

Saudi Luncurkan Proyek Wisata Pantai, Bagaimana soal Bikini?

Dia menjelaskan, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz sudah mengumumkan peluncuran proyek ini sebagai tujuan wisata internasional. Pengumuman ini muncul sebagai konfirmasi atas keberhasilan produk Visi 2030 Kerajaan Arab Saudi. Menurutnya, proyek ini merupakan tambahan yang bagus bagi proyek-proyek pembangunan dan kemabngkitan kembali di negaranya.

IPNU Tegal

“Kami menyampaikan selamat kepada tanah air atas proyek nasional yang ambisius ini, yang ditambahkan ke dalam serangkaian rencana dan inisiatif efektif yang terus berlanjut di lapangan dari hari ke hari,” katanya.

Soal Bikini

IPNU Tegal

Sejumlah media asing merespon kabar peluncuran proyek kawasan wisata tersebut sebagai transformasi sikap Arab Saudi dari norma yang selama ini ia pegang. Situs thetimes.co.uk, misalnya, menyebut Arab Saudi sedang menabrak tradisi keagamaannya yang ketat lantaran membuka kawasan pantai di Laut Merah, tempat para wanita asing berjemur mengenakan bikini di dekat para pria.

CNN Travel mengatakan, proyek Laut Merah akan membuka potensi kawasan sepanjang 125 mil dari garis pantai dan 50 pulau berlapis karang dengan pembangunan hotel dan perumahan mewah di zona wisata yang ditunjuk. Tahap pertama proyek direncanakan rampung pada 2022, dengan target pengunjung sekitar satu juta per tahun pada tahun 2035.

Media tersebut juga menyimpulkan dibolehkannya wanita berjemur dan berenang dengan bikini karena belum keluar larangan dari pihak kerajaan tentang hal ini.

Hingga berita ini ditulis, IPNU Tegal belum menemukan pernyataan resmi dari pemerintah Arab Saudi soal peraturan bikini jika proyek itu berjalan kelak. Situs kantor berita Arab Saudi sendiri hanya menyampaikan informasi tentang peluncuran dan prospek ekonomi dari proyek ambisius tersebut yang menjadi alternatif sumber ekonomi lain di luar pendapatan minyak. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Lomba, Tegal IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem

Oleh Roqiyul Maarif Syam*



Maraknya kabar orang hilang di beberapa daerah di Indonesia yang terkait dengan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) maupun organisasi sejenisnya membuat keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi baru-baru ini terjadi aksi teror di Thamrin, Jakarta yang dikaitkan pada isu Islamic States of Iraq and Syiria (ISIS) maupun isu terorisme lainnya. Sasaran yang direkrut sebagai anggota oleh mereka dijadikan sempalan terhadap negara. Menyikapi hal tersebut, kita perlu untuk merespons, membentengi diri dan melawan terorisme, radikalisme, ekstrimisme serta bentuk kekerasan lain atas nama suatu paham atau keyakinan tertentu.?

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembali Menjadi Manusia Indonesia; Melawan Kekerasan Atas Nama Ajaran Ekstrem

Negara Kesatuan Republik Indonesia ibarat rumah besar bagi warganya yang beragam. Pemerintah sebagai aparat yang bertugas menjamin keamanan, dan kesejahteraan para penghuninya dengan seperangkat aturan hukum yang mengatur keragaman warganya. Teror dan kekerasan yang berasal dari paham-paham fundamental, radikal dan ekstrem menjadi hantu gentayangan yang tidak mampu diusir hanya oleh para pemangku kebijakan. Dari luar, gelombang globalisasi yang tak terbendung selanjutnya memperparah persoalan karena secara drastis mengubah pola relasi masyarakat dengan ruang-ruang sosial. Hal-hal ini berakibat pada terjadinya guncangan serius pada identitas yang menjadi sumber makna dan pijakan setiap orang dalam mengidentifikasi secara simbolik arah dan tujuan tindakan-tindakan yang mereka lakukan didalam rumah besar ini. Dalam politik multikuturalisme seperti yang diungkapkan Melucci, gejala ini dinamakan "homelessness of personal identity" yang berarti gejala yang membuat orang kehilangan pijakan dan definisi tentang dirinya sehingga mudah dibujuk dan dipengaruhi paham ekstrem yang berasal dari "luar rumah" untuk menjadi penganutnya. Tak ayal situasi yang paling buruk akhirnya adalah ancaman disintegrasi bangsa yang disebabkan oleh konflik-konflik horizontal "di dalam rumah" dan pembangkangan/ sempalan terhadap negara.

Ledakan sosial dan riuh rendah tragedi kemanusiaan yang terjadi di negeri ini umumnya disebabkan dari pemahaman dangkal serta keyakinan ekstrem yang dianut oleh seseorang mengenai beberapa hal, diantaranya; nasionalisme; keberagamaan; dan juga lokalitas sebagai penanda/identitas primordial suatu etnik.

IPNU Tegal

Pertama, pemahaman nasionalisme yang dangkal akan berujung pada sikap hanya mengambil keuntungan saja dalam bernegara. Bagi orang yang berpemahaman dangkal terhadap negara akan beranggapan bahwa negara hanya tidak lebih dari suatu institusi yang korup. Orang dengan pemahaman demikian akan bersikap acuh tak acuh pada persoalan kenegaraan dan kebangsaan. Sedang bagi para wakil rakyat, sikap seperti ini beranggapan bahwa kepentingan-kepentingan yang dikiranya adalah kepentingan rakyat nyatanya hanya memperkuat posisi negara tanpa kehadirannya bagi kepentingan rakyat. Namun juga keyakinan bernegara yang keterlaluan adalah akar dari nasionalisme berlebihan (chauvistik) yang berujung pada fasisme seperti yang pernah dipraktikkan beberapa negara di masa yang silam. Sikap ekstrem di tengah kancah politik dunia juga sempat mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini. Dalam sejarah kepemimpinannya, Indonesia pernah mengalami masa nasionalisme ekstrem kiri (komunisme) pada era akhir kepemimpinan Orde Lama yang berujung pada peristiwa G30S-PKI, juga sempat menjadi pendukung nasionalisme ekstrem kanan (kapitalisme) di era Orde Baru yang lebih banyak lagi peristiwa teror dan kekerasan terjadi di era ini.

Bangsa kita menganut prinsip -meminjam istilah Soekarno, yaitu internasionalisme yang penulis pahami sebagai ikut aktif dalam menjaga humanisme atau peri- kemanusiaan, perdamaian di atas dunia. Nasionalisme kita adalah rasa cinta tanah air dan tumpah darahnya, suatu pemahaman dan keyakinan dengan fondasi nilai yang terkadung dalam Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap butir Pancasila merupakan jiwa yang menggerakkan setiap warga negara dalam berinteraksi sosial dari lingkup terkecil di Rukun Tetangga (RT) hingga masyarakat internasional. Ekspresi nasionalisme yang dituntun oleh rambu-rambu Pancasila ini akan mengantarkan bangsa Indosesia menuju cita-cita pendirian negara Republik Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 45. Meski erat kaitannya juga, bahwa nasionalisme kita harus diukur dari seberapa berhasil pemerintah mewujudkan janji-janji kemerdekaan yang diwariskan para pendiri negara ini. Di antara yang belum terwujud hingga saat ini yaitu cita-cita memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kedua, dalam hal beragama, jalan pintas memahami agama dengan instan serta praktik dakwah keagamaan yang keras adalah ekspresi kedangkalan pemahaman agama itu sendiri. Pemahaman agama yang ekstrem terhadap kebenaran dirinya hanya akan merusak nilai dari beragama itu sendiri, yaitu hidup dengan benar dan selamat di dunia dan akhirat. Lalu bagaimana penganut agama meyakini akan selamat di akhirat jika di dunia saja malah menyebarkan teror dan ancaman kemanusiaan bagi sesama hamba Tuhan?

Dalam catatan sejarah negara kita, pemahaman agama yang ekstrem merupakan hantu masa lalu yang selalu membisikkan teror, penculikan, dan tindakan yang mengganggu perikemanusiaan di negeri ini. Alih-alih demi mendirikan kerajaan tuhan di bumi, penganut agama yang ekstrem akan berani menganggap orang lain di luar kelompoknya sebagai kafir, musuh tuhan yang layak dimusnahkan. Sikap seperti ini berujung pada fitnah dan teror sesama umat beragama di suatu negara. Tak ayal pemahaman demikian bukannya mengajak selamat hidup di dunia malah menjadi pembangkang terhadap negara. Bangsa kita pernah mengalami fitnah ini dalam catatan kelam sejarahnya yaitu saat marak pendirian Negara Islam Indonesia (NII), juga Darul Islam (DI) di daerah Jawa Barat. Bahkan dalam hal ini penulis merupakan keturunan korban penyiksaan dan penculikan oleh anggota DI yang hingga kini tidak diketahui dimana keberadaan jasadnya atau kuburannya hanya untuk sekedar melakukan tradisi nyekar (ziarah kubur).

Namun juga perlu dipahami bahwa hampir setiap agama memiliki madzhab/sektenya masing-masing. Satu sama lain antar pemeluk agama perlu saling menjaga kebebasan beragamanya dengan saling melindungi dari sekte-sekte yang dianggap menggangu harmoni antar pemeluk agama. Diantara banyaknya sekte yang terdapat dalam setiap agama tersebut, yang terburuk adalah yang mengajarkan pemahaman yang ekstrem dan kekerasan terhadap manusia demi alasan pembelaan kepada Tuhan. Semua agama yang sah dianut di Indonesia mengedepankan prinsip-prinsip humanisme, perdamaian, serta cinta kasih sesama makhluk Tuhan. Juga setiap paham masing-masing agama yang mengajarkan kebaikan hidup, toleransi, saling menolong, merupakan sekte yang sah diakui sebagai bagian dari agama tersebut. Mereka yang membuat kerusakan dan menebar ancaman atas nama agama tidak lain adalah oknum penganut ajaran ekstrem dari suatu sekte agama tertentu yang keberadaannya malah meresahkan masyarakat. Seperti aksi pembakaran masjid pada saat pelaksanaan shalat hari raya yang dilakukan oleh oknum penganut sekte tertentu dalam agama Katolik di Papua beberapa waktu yang lalu. Sekali lagi, kita perlu saling mengenali dan menjaga sesama pemeluk agama dari penyusupan-penyusupan oknum penganut ajaran ekstrem yang justru ingin merusak wajah toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia.

IPNU Tegal

Ketiga, mengenai pemahaman serta keyakinan akan identitas lokal/primordial suatu etnik, apabila tidak arif dalam memahaminya hal ini seringkali menjadi pisau bermata dua yang dapat bernilai manfaat sekaligus dapat menjadi isu pemecah bagi masyarakat. Pemahaman yang ekstrem terhadap nilai lokal dapat menyebabkan seseorang terperangkap dalam sikap terlalu berbangga diri akan identitas lokal, tertutup terhadap perbedaan kebudayaan. Hal seperti ini yang sering disebut ego lokal. Seperti istilah katak dalam tempurung, yang tak mengerti akan dunia di luar dirinya dan dirinyalah satu-satunya penguasa di dalam tempurung itu. Ekspresi-ekspresi yang lebih menunjukkan sikap tertutup dari sang liyan ? akan menjadikan kita manusia primitif yang tidak mau mengenal kebaikan yang berasal dari luar. Sikap mengedepankan ego lokal secara ekstrem malah akan merusak nilai dari pada kearifan lokal itu sendiri. Merasa diri dari etniknya-lah yang layak mendapatkan posisi dan keistimewaan tertentu dalam masyarakat. Seperti anggapan yang sering terlontar saat musim pemilihan kepemimpinan nasional di negara ini semenjak pendiriannya, mengapa selalu orang Jawa yang jadi presiden?

Lebih arif bagi kita untuk menonjolkan identitas lokal dari sisi kesenian dan kebudayaan daerah juga identitas lokal lainnya sebagai alat pemersatu bangsa. Setiap kebudayaan suatu etnik memiliki rasa keindahan yang bersifat universal dapat dirasakan semua manusia Nilai-nilai keindahan universal tersebut adalah suatu ikatan tak terlihat yang menjadi penanda bahwa suatu etnis tertentu terhadap etnis lainnya adalah saudara yang saling mengisi peradaban manusia. Sebab kesenian dan kebudayaan tersebut merupakan warisan peradaban lokal yang patut dilestarikan keberadaannya. Dalam menyikapi perbedaan dari sudut pandang identitas kedaerahan, para pendiri bangsa ini sempat mengajarkan kita sikap keterbukaan, saling berbagi, persatuan dan kesatuan atas dasar kesamaan rasa, menghilangkan ego lokalitas atau sentimen kedaerahan, mengedepankan pertimbangan akal sehat, juga melakukan pertukaran budaya. Sikap para pendiri negara kita itu-lah yang menjadi rumusan terciptanya Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan dan kesatuan bangsa ini. Seperti pernah dicontohkan oleh Otto Iskandar Dinata dengan rela membubarkan Paguyuban Pasundan demi kebersatuan rakyat Indonesia dibawah Boedi Oetomo guna melawan kolonialisme Belanda, juga ? Sri Sultan Hamengku Bhuwana IX yang tulus bergabung memasukkan wilayah kekuasaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah pemerintahan Republik Indonesia, begitupun yang dicontohkan para tokoh besar lain pendiri republik ini.?

Gambaran Indonesia yang terangkai dalam kalimat "Dari Sabang sampai Merauke" menjadi istilah yang mampu merangkum jutaan nilai yang dikandung suku bangsa Aceh, Minangkabau, Jawa, Toraja, Dayak serta suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia. Nilai-nilai tersebut berasal dari peradaban lokal yang menyejarah bagi setiap suku bangsanya.

Lebih banyak dari kita yang menunjukkan perbedaan kedaerahan satu sama lain ketimbang persamaannya yang justru lebih banyak. Nilai-nilai itu harus dilahirkan menjadi bentuk ekspresi manusia Indonesia yang berkeadaban yang luhur demi mengisi kemajuan peradaban. Masyarakat Indonesia yang beradab berarti masyarakat yang mampu menjunjung nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan penghargaan yang tinggi bagi suatu karya. Bukankah suatu bangsa dianggap berbudaya jika dapat membangun kebaikan bersama?

Ketiga hal yang diuraikan tersebut merupakan isu-isu penting yang mengisi kesejarahan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa. Sejak jaman perjuangan pergerakan kemerdekaan, ketiga hal tersebut begitu saja liar berkelindan di dalam alam pikiran masyarakat tanpa porsinya yang sesuai demi membentuk kepribadian manusia Indonesia. Perdebatan antar kelompok di ketiga hal tersebut seperti tak pernah usai untuk diakhiri dengan kejernihan hati dan akal sehat. Dari ketiganya yang ekstrem lah yang selalu menjadi perusak kenyamanan kita sebagai manusia Indonesia di "rumah besar" kita ini. Pemahaman yang moderat dan mendalam akan ketiga hal tersebut nantinya yang akan membentuk kita menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Manusia Indonesia sebagai bangsa besar yang menghuni "rumah besar". Identitas keindonesiaan yang kuat akan begitu saja mampu menangkal paham-paham ekstrem yang akan merusak Indonesia sebagai negara-bangsa.

Jika hal-hal demikian dapat dilaksanakan baik oleh aparat pemerintah, maupun masyarakat selaku manusia Indonesia, paling tidak kita semua telah berusaha untuk dapat selamat hidup di belahan bumi manapun, terlebih di negeri kita tercinta yang gemah ripah loh jinawi ini. Lalu ajaran ekstrem mana lagi yang akan menabur benih ancaman dan kekerasan ? kita jika kita benar-benar menjadi manusia Indonesia? Demi hal itu kita tidak membutuhkan apapun, hanya ketulusan yang manusiawi. Wallahu alam bisshawwab

* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Siyasah UIN Sunan Kalijaga, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Sejarah, Ubudiyah IPNU Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Mojokerto, IPNU Tegal - Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin atas nama pemerintah memberikan apresiasi kepada Pergunu yang telah membantu mendidik masyarakat Indonesia. Lukman berharap kerja keras para guru NU membuahkan hasil maksimal untuk melahirkan murid-murid berprestasi dan berakhlak.

“Kualitas pendidikan menjadi tujuan utama pemerintah, kami harap Pergunu bisa turut serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Lukman mengawali sambutannya dalam kongres yang kedua di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10).

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Menurut Lukman, kualitas pendidikan dari masa ke masa semakin maju. Kualitas pendidikan agama di Indonesia semakin membaik. Mulai dari kualitas kerukunan agama, kualitas lulusan madrasah atau pesantren.

IPNU Tegal

“Guru menduduki tempat strategis untuk turut andil dalam membangun negeri,” terangnya.

Saat ini pemerintah tengah memperbaiki lagi kualitas pendidikan dengan menetapkan standard indikator, isi, proses, dan lulusan. “Pergunu itu sudah satu misi dengan Kemenag,” katanya.

Pendidik pesantren atau madrasah saat ini sudah diakui oleh negara dan disetarakan dengan pendidikan negeri. “Kita terus berupaya ada program-program guru. Tunjangan guru akan diupayakan di tahun 2017, telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan regulasi yang ada,” jelas Lukman memberikan angin segar kepada para guru madrasah.

IPNU Tegal

Dengan ucapan basmalah Kongres Kedua Pergunu resmi dibuka oleh Menteri Agama RI. Hadir dalam pembukaan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Pembina Pergunu H As’ad Said Ali, Ketua MUI Jawa Timur, pendiri dan pejuang Pergunu serta para pengurus Pergunu di berbagai wilayah dan cabang se-Indonesia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Tokoh, Meme Islam, Ubudiyah IPNU Tegal

Akibat Korban Kambing

Udin yang baru saja lulus aliyah pesantren dengan nilai jayyid jiddan ( lumayan pintar). Dia pun sowan ke pengasuh untuk pulang kampung.

Saat perjalanan menuju terminal Tirtonadi Solo, tiba-tiba ada kerumunan orang. Rupanya sedang ada kecelakaan, maka Udin pun memutuskan untuk ikut menonton.

Berhubung kerumunan itu terlalu berjubel, sehingga Udin yang bertubuh kecil tidak bisa mendekat dan melihat korban. Udin santri berotak cemerlang, maka dia tidak kurang akal dan langsung berteriak-teriak sambil pura-pura panik.

Akibat Korban Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)
Akibat Korban Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)

Akibat Korban Kambing

"Innalillahi wainnailaihi raji’un, saya keluarganya, saya keluarganya, mohon minggir, tolong minggir!" Ucap udin sambil mengacungkan jari dan mendesak maju menerobos kerumunan orang-orang tersebut.

Orang yang berkerumun pun memandanginya dengan aneh, dan ternyata Udin memang berhasil. Mereka langsung memberi kesempatan kepada si Udin itu untuk menghampiri korban kecelakaan. Santri itu pun langsung mendekati korban kecelakaan.

Betapa terkejutnya ketika Udin melihat dengan jelas korban kecelakaan yang diakuinya sebagai keluarganya itu ternyata adalah kambing.

IPNU Tegal

Udin pun kaget dan ketawa meringis. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Cerita, Internasional, Ubudiyah IPNU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Grand Syekh Al-Azhar Terima Gelar Doctor Kehormatan dari UIN Malang

Malang, IPNU Tegal

Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyib menerima gelar doktor Honoris Causa (HC) dalam bidang Pendidikan Islam dari UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang.

Upacara penganugerahan gelar kehormatan ini ? berlangsung hikmat pada sidang senat terbuka di Auditorium Gedung Rektorat UIN Maliki Malang, Rabu (24/02). Hadir dalam acara ini Mantan Menag Quraish Shihab, Mantan Menag Tholhah Hasan, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Grand Syekh Al-Azhar Terima Gelar Doctor Kehormatan dari UIN Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Syekh Al-Azhar Terima Gelar Doctor Kehormatan dari UIN Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Syekh Al-Azhar Terima Gelar Doctor Kehormatan dari UIN Malang

Selaku promotor, Alwi Shihab menceritakan sejarah singkat perjalanan intelektual mantan Rektor Al-Azhar ini. Syekh Ahmad Ath-Thayeb ? lahir di Luxor-Mesir tahun 1946. Lulus sarjana pada tahun 1969, magister tahun 1971, dan doktor 1977 pada bidang Ilmu Filsafat Islam dan Teologi di Universitas Al Azhar Cairo.

Grand Syeikh Al-Azhar mengawali karier akademiknya sebagai instruktur di Fakultas Teologi (1969), Dosen Teologi dan Filsafat (1972-1977). Dia juga pernah dipercaya sebagai Dekan Fakultas Bahasa Arab dan Teologi Islam (1995-1999), Dekan Ushuluddin (1999-2000), dan Rektor Universitas Al Azhar (2003). Sejak 2010 hingga sekarang, Ahmad Ath-Thayeb diamanahi menjadi Grand Syekh Al Azhar.

IPNU Tegal

Dikatakan Alwi Shihab, Grand Syekh dikenal sebagai sosok toleran, menghormati aneka pendapat selama mencirikan perdamaian dan juga rendah hati. Dalam kedudukannya sebagai ulama, dia sangat memelihara kedamaian dunia.

Pada saat yang sama, lanjut Alwi, saat ini umat Islam dihadapkan dengan gerakan Islam yang cenderung membawa kekerasan dan intoleran. Padahal Islam mengajarkan kearifan, kasih sayang, dan kedamaian sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw.?

Menurut Alwi, Grand Syeikh telah berhasil mengembangkan toleransi atas dasar kasih sayang. Atas dasar itu, selaku promotor Prof Dr Alwi Shihab, bersama Prof Dr Machasin, dan Prof Baharuddin, mendukung dan memperkuat keputusan senat UIN Maliki Malang untuk menganugerahkan gelar doktor ini.?

IPNU Tegal

“Kita berharap, penganugerahan ini memperkuat niat Grand Syeikh dalam menebarkan perdamaian. Ini perlu dikembangkan di Indonesia agar ini bisa menginspirasi ruang Islam di masa mendatang dengan tantangan global yang semakin kompleks,” papar Alwi Shihab.

Sementara itu, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof Dr Mudjia Raharjo Msi mengatakan penghargaan akademik itu diberikan kepada Grand Syekh yang merupakan salah satu dari 500 orang terpenting di dunia.?

“Ini sebagai apresiasi atas jasanya. Terutama dalam pengembangan Islam moderat yang mengayomi semua golongan,” kata Mudjia.

Disampaikan Mudjia diberikannya gelar Doktor HC kepada Grand Syeikh Al Azhar oleh pemerintah lewat UIN Maliki Malang, merupakan bentuk penghargaan atas jasa-jasanya pada bidang pendidikan Islam moderat. Syeikh Al Azhar juga dikenal sebagai ulama moderat yang selalu menyuarakan perdamaian Muslim.

Pemberian gelar akademik ini digelar di lantai empat Gedung Rektorat UIN Maliki yang dihadiri 500 undangan dan merupakan pemberian gelar akademik pertama kalinya diadakan di Indonesia berskala intenasional. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Quote, Hadits, Ubudiyah IPNU Tegal

Senin, 11 Desember 2017

GP Ansor Way Kanan Serahkan Bantuan Kemanusiaan

Way Kanan, IPNU Tegal

Kegagalan menutup mata dari persoalan kemanusiaan merupakan suatu kebahagiaan. Hal ini disampaikan Ketua PC GP Ansor Way Kanan Lampung Gatot Arifianto usai menyerahkan dana donasi Rp8,9 juta untuk Tasrini, warga Kampung Panengahan Kecamatan Negeri Agung. 

"Kami hanya menyalurkan hati, kepedulian para donatur yang dihimpun dari website kitabisa.com," ujar Gatot di Blambangan Umpu, Kamis (3/3).

GP Ansor Way Kanan Serahkan Bantuan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Way Kanan Serahkan Bantuan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Way Kanan Serahkan Bantuan Kemanusiaan

Didampingi Andreas Natalis Sapta Aji dari Pemuda Katholik dan Dian Firasta dari Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan), dana donasi tersebut diserahkan kepada sepupu Tasrini, Teguh Yuwono, disaksikan Kepala Kampung Penengahan Hasanudin dan sejumlah warga setempat.

Menurut Gatot, dana berhasil dihimpun dari situs donasi dan menggalang dana (fundraising) untuk inisiatif, dan program sosial kitabisa.com sejumlah Rp8.793.261 dan selanjutnya dibulatkan menjadi Rp8,8 juta. Namun menjelang keberangkatan menuju tempat Tasrini mendapat tambahan Rp100 ribu, sehingga total diserahkan Rp8,9 juta.

IPNU Tegal

"Persoalan kemanusiaan seperti dialami Tasrini tidak layak dilihat dari sudut pandang suku hingga agama. Aji dari Pemuda Katholik ini rajin menyebarkan kampanye penggalangan dana sosial untuk Tasrini melalui media sosial. Karena itu, kami akui, jika gagal menutup mata terhadap persoalan kemanusiaan, namun itu membahagiakan sehubungan bisa membantu sesama kendati kecil," ujar alumni Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) itu lagi.

Penyerahan dana donasi tersebut, lanjut Gatot yang juga penggiat Gusdurian di Lampung itu menambahkan, merupakan bentuk tanggung jawab terhadap para donatur, lahir batin tidak ada tendensi apa-apa, murni dan murni kepedulian sosial bagi sesama.  

Setelah dilepas Pj Bupati Albar Hasan Tanjung 15 Februari 2016, Tasrini bertolak menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), di Jakarta, untuk menjalani pengobatan atas penyakitnya.

IPNU Tegal

Teguh yang sempat mendampingi Tasrini di RSCM kemudian menuturkan, dokter yang menanganiTasrini menyatakan jika penyakit tersebut merupakan kasus terparah yang pernah ditangani, sehingga membutuhkan tempo untuk kesembuhannya, diperkirakan sekitar enam bulan.

"Sementara ini Anak-anak Tasrini ikut neneknya, lalu Tasrini ditampung di Yayasan Kanker Indonesia. Kemudian biaya dikenakan untuk Samidi, suami Tasrini  yang mendampingi pengobatan setiap hari Rp35 ribu, sudah termasuk makan, kami sangat terbantu. Terima kasih banyak kepada media, Ansor dan para donatur yang berkenan membantu keluarga kami," ujar Teguh lagi.

Senada Teguh, Hasanudin juga menyampaikan terima kasih atas penyerahan dana donatur yang disampaikan untuk warganya itu.

"Terima kasih kami sampaikan kepada media, Ansor dan semua pihak yang ikut serta memikirkan warga kami. Semoga apa yang kita lakukan bernilai ibadah dan mendapat balasan setimpal dari Allah," ujar Hasanudin. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Ubudiyah, RMI NU IPNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis

Cirebon, IPNU Tegal - Rais Aam PBNU KH Maruf Amin kembali menegaskan tanggung jawab ulama dalam himayatu daulah atau menjaga NKRI dari rongrongan kelompok radikal.

"Ulama bertanggung jawab menjaga umat dan melayani umat. Ulama juga bertanggung jawab dalam menjaga negeri ini. Karena ulama juga turut berperan dalam mendirikan NKRI, maka wajib hukumnya ulama menjaga keutuhan NKRI," kata Kiai Maruf dalam Halaqah Alim Ulama dan Kiai Pesantrem se Wilayah III Cirebon, Sabtu (6/5/2017) di Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon.

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam PBNU: Berjuanglah untuk Islam secara Konstitusional dan Demokratis

Ia juga mengungkapkan, saat ini, ada kelompok yang ingin memperjuangkan Islam, tanpa memperhatikan realitas kebangsaan dan memaksakan kehendak. Ada juga kelompok yang melakukan delegitimasi agama.

IPNU Tegal

"Dua kubu ini sekarang menguat. NU yang cara berpikirnya moderat, harus bisa melunakkan, mengendalikan dua kubu ini. Kita harus mencegah gejala-gejala yang bisa menimbulkan konflik ini," tandasnya.

Ia mengimbau agar para kiai lebih peka dalam mendidik umat dan memperjuangkan kemaslahatan umat Islam, ulama harus memperhatikan konstitusi, kebinekaan, dan toleransi. "Kita bukan tidak  berjuang untuk Islam, kita berjuang dengan cara konstitusional dan demokratis," imbuhnya.

Pelayanan terhadap umat, kata Kiai Maruf, juga dilakukan dalam bentuk menjaga kerukunan umat. "Berikutnya kita perlu melakukan islahul umat dan khidmatul umat (perbaikan dan pengahbdian kepada umat). Kita melakukann perbaikan-perbaikan. Sekarang ini adalah momentum yang sangat baik. Baru-baru ini kita mengadakan kongres ekonomi umat. Kita gerakkan ekonomi umat. Mendorong umat untuk mandiri. Bila perlu berkonstribusi kepada bangsa," paparnya.

IPNU Tegal

Hal senada diungkap Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. Khidmah kiai NU terhadap umat, menurutnya, telah dilakukan dalam bentuk pelayanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

"Dalam kondisi situasi bangsa yang sedang mengalami pancaroba ini, kita perlu mengingat kembali manqobah dan uswah atau teladan yang diajarkan para ulama lampau. Saat ini kita harus mulai mengoreksi diri menjelang satu abad NU ini, apa yang  bisa kita sumbangkan untuk NU dan bangsa ini," ungkapnya.

Halaqah yang dihadiri ratusan ulama se Wilayah III Cirebon itu juga menghasilkan sejumlah usulan strategis untuk memaksimalkan sinergi gerakan Jamiyah Nahdlatul Ulama. (Malik Mughni/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Ubudiyah, Habib IPNU Tegal

Kisah Inspiratif Semangat Nyantri Seorang Pak Tua

Lelaki itu sudah punya anak dan cucu. Umurnya sudah sekitar 70 tahun. Juga sudah pernah naik haji. Ia kini berdomisili di salah satu daerah di bilangan Jakarta dan menjadi pemangku sebuah masjid di kampungnya. Lelaki tua tersebut mengaku aslinya berasal dari Ponorogo Jawa Timur, sebelum akhirnya merantau dan sukses di Jakarta. Usia tua tidak menyurutkan dirinya untuk mengamalkan hadits Nabi, "Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat."

Sebutlah dia Pak Budi (bukan nama sebenarnya) yang pada bulan Ramadhan tahun 2009 dalam usia setua itu menyempatkan diri mengikuti ngaji pasaran seraya tabarrukan di salah satu pondok pesantren besar di Kediri. Sebelumnya, ia mengaku pernah juga mengikuti ngaji pasaran bulan Ramadhan di sejumlah pondok pesantren khususnya yang berada di wilayah Jawa Timur.

Kisah Inspiratif Semangat Nyantri Seorang Pak Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Inspiratif Semangat Nyantri Seorang Pak Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Inspiratif Semangat Nyantri Seorang Pak Tua

Barangkali sebagian orang menganggap hal itu biasa saja. Memang belakangan ini di dunia pendidikan akademik (formal) makin banyak saja dijumpai orang-orang tua mengikuti perkuliahan di pelbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Namun tanpa bermaksud menggeneralisasikan, kebanyakan dari mereka motif melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi itu tidak muncul dari kesadaran diri, melainkan misalnya lantaran tuntutan lembaga atau instansi tempat mereka bekerja.

IPNU Tegal

Pernyataan tadi bukan asumsi belaka, sekitar tiga minggu yang lalu penulis bertemu dengan seorang wanita dari Banjarnegara yang berprofesi sebagai guru, dia kira-kira berusia 35 tahun. Setelah beberapa saat kami mengobrol, penulis memberanikan diri mengajukan pertanyaan, "Gimana, Bu, kesan Anda selama ini mengikuti kuliah, adakah nilai tambah yang dirasakan?” Menanggapi pertanyaan penulis wanita itu dengan jujur saja menyatakan bahwa dirinya berkuliah sebenarnya menuruti kebijakan dari sekolah tempatnya mengajar yang sudah mulai mensyaratkan para pengajarnya bila ingin bertahan menjadi guru di situ, minimal harus bergelar sarjana.

IPNU Tegal

Kembali ke cerita Pak Budi. Terus apa yang melatabelakangi Pak Budi hingga dalam usia setua itu tiap kali bulan Ramadhan tiba ia mau meluangkan waktunya untuk mengaji di pesantren? Beliau bercerita sendiri bahwa pada waktu kecil hingga remajanya Pak Budi punya keinginan kuat untuk menutut ilmu dengan mondok di Pondok Pesantren. Tetapi impianya itu tidak dapat terwujud lantaran keadaan ekonomi keluarganya waktu itu yang tidak memungkinkan. Akhirnya niat Pak Budi untuk menjadi santri pun laksana pungguk merindukan bulan, tidak kesampaian. Situasi kala itu menuntut dirinya bekerja sejak remaja, Pak Budi pun merantau ke Jakarta mencari prospek masa depan yang lebih baik. ?

Singkat kata setelah Pak Budi sekian lama di Ibu Kota bekerja dan mengembangkan suatu usaha, berumah tangga dan mempunyai anak, pada masa tuanya menjadi orang yang berhasil dan berkecukupan. Luar biasanya, setelah Pak Budi dapat hidup berkecukupan, dirinya tetap masih menyimpan obsesi ingin mereguk manisnya ilmu agama di pesantren, cita-cita yang pupus saat dirinya muda. Hasrat untuk mendalami ilmu agama itu ternyata tidak terkubur meski puluhan tahun telah berlalu. Maka karena ia telah berkeluarga, bermasyarakat bahkan menjadi pemangku masjid di daerahnya, tentu tidak memungkinkan baginya mondok menjadi santri reguler mengikuti kurikulum sebagaimana mestinya. Maka solusinya adalah dengan menjadi santri mengikuti ngaji pasaran tiap kali bulan Ramadhan.

Totalitas Mengaji



Maka pada Ramadhan tahun 2009 itu Pak Budi memilih Pondok Pesantren Lirboyo sebagai pilihan berikutnya setelah tahun-tahun? sebelumnya sempat ngaji pasaran di beberapa pondok pesantren lainnya. Penulis menyaksikan sendiri Pak Budi meski di daerahnya telah menjadi tokoh masyarakat, tapi selama bulan Ramadhan itu di pesantren dia tidak berbeda dengan santri-santri lainnya yang masih muda. Bila tiba waktu berbuka dan sahur ia juga harus ikut mengantre di kantin sebagaimana santri lainnya. Tidur di kamar yang serba sederhana. Perlu antre pula ketika hendak mandi. Hal-hal kecil semacam itu bagi orang yang tua yang tidak benar-benar mempunyai tekad yang kuat untuk mondok jelas terasa berat. ?

Bukti keseriusan Pak Budi lainnya dalam semangat menimba ilmunya adalah selama mengikuti pengajian bulan Ramadhan itu ia sengaja tidak membawa HP dari rumah. Begitualah ketika kebanyakan orang sangat resah jika tidak memegang alat komunikasi, Pak Budi justru santai-santai saja tak membawanya agar bisa fokus mengaji. "Ah, membawa HP nanti hanya mengganggu saja", begitu jawaban Pak Budi saat salah seorang santri bertanya. Dan ia memang benar-benar bisa tuntas mengikuti pengajian hingga khatam pada sekitar pekan ketiga bulan Ramadhan.

Menyimak sepintas fragmen cerita Pak Budi di atas ada banyak memberi pelajaran. Di antaranaya ialah tidak ada kata terlambat dalam kamus memulai kebaikan, tak hanya dalam memulai menuntut ilmu, namun memulai atau merintis hal-hal baik lainnya. Selain itu apa yang dikerjakan Pak Budi secara tersirat mengirim pesan bahwa masih terdapat dimensi nikmat dan kesenangan selain kesenangan materi pada lazimnya.

Hemat kata,? Pak Budi dengan ikut menjalani laku santri di pesantren sekalipun pada bulan-bulan Ramadan saja, ia setidaknya mendapatkan kesenangan batin berupa suntikan ilmu baru dan pencerahan intlektualitas yang diperoleh dari mengaji kitab dan kenikmatan spiritual berkesempatan dapat dekat dengan para kiai sepuh pesantren termasuk masyayiikh pesantren yang sudah wafat yang biasa diziarahi di sela-sela santri ngaji pasaran Ramadhan. (M. Haromain) ?



=====

IPNU Tegal mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang cerita nyata diri sendiri atau pengalaman orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Pertandingan IPNU Tegal

Senin, 27 November 2017

Merayakan Kemanusiaan

Oleh Ren Muhammad

Perang besar di Timur Tengah sejak satu dekade silam—yang digelorakan sebagai Perang Salib jilid baru, ditengarai bakal menghapus peta dunia Islam di jazirah yang dilintasi Sungai Eufrat dan Tigris. Sebagian besar alasan perang pecah di sana, dilandasi perebutan kue ekonomi yang berkedok agama. Perang yang sejatinya adalah kulminasi keputusasaan manusia mencari kebenaran. Selain itu, juga dilatari nafsu serakah menjarah kekayaan alam negeri—yang pernah melahirkan para Nabi. Itu baru di Timur Tengah, belum perang saudara yang tengah berkecamuk di bumi Afrika. Dunia kita seolah menuju titik nadir. Kedamaian hidup manusia, digerus keserakahan dan nafsu angkara.

Merayakan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Merayakan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Merayakan Kemanusiaan

Pendakuan manusia pada benar-salah, hanya perulangan cerita abad ke alaf. Tapi soal inilah yang kerap menghantui peradaban mana pun yang pernah ada. Agama, sebagai lokus utama yang mengajari manusia kehidupan setelah di dunia, kerap ditunggangi kepandiran. Agama dan penganutnya tak berjalin kelindan. Ia turun demi kebaikan manusia. Dilahirkan Langit, agar manusia tahu ke mana ia harus pamit, Pulang. Menganut agama, sama belaka dengan merangkul angin. Jika tak bisa dirasakan, maka belum absah disebut jalan hidup yang lurus.

IPNU Tegal

Para Nabi pembawa dan penganjur agama, tak pernah sekali pun menyebut diri merekalah yang paling benar. Mereka bukan pemabuk agama. Mereka hanya mengingatkan dan mengajak manusia yang mau menekuni perjalanan menuju Keabadian. Kembali ke sumber. Kembali ke asal. Hidup di dunia bukan tentang agama apa yang kita yakini, melainkan bagaimana hidup yang kita lalui dilandasi kebajikan dan kebijaksanaan. Jalan menuju kebenaran bisa serbaaneka. Namun kebenaran hanya satu jua—Tuhan sahaja.

Menghakimi Tuhan



Bagaimana mungkin Tuhan yang tanpa batas itu tak bisa didekati dengan cara apa saja? Padahal Dia menyelubungi semesta secara zhahir dan bathin. Ada sekaligus Tiada. Ada dalam rasa, karsa, cipta. Tiada satu pun yang menyamainya. Tan keno kinoyo ngopo. Laytsa kamitslihi syaiun.

IPNU Tegal

Kenapa selalu saja ada segelintir orang yang dengan gegabah meyakini bahwa ibadah yang ia lakukan, atau perilaku beragamanya pasti benar dan diterima tuhan? Sedang tak satu pun umat beragama di zaman ini yang pernah melihat langsung para Nabi dan Rasul menjalankan ibadah dan hidup kesehariannya. Pun jika Hadits—dalam kasus Islam misalnya, yang dijadikan tolok ukur, tetap saja itu hanya sebuah kabar. Bukan kebenaran itu sendiri. Jangankan mengetahui kebenaran, memahami tujuan kita dilahirkan saja sudah runyam.

Sejatinya, Kebenaran yang jelas paling Benar, hanya Dia saja yang tahu. Apa salahnya membiarkan setiap orang mencari jalan kebenaran yang sudah digariskan tuhan baginya. Apa susahnya menyadari bahwa kita semua sama tak tahu bahwa yang terbabar di alam semesta ini hanya senda gurau, lalu mengapa kita saling berbalahan mencabut pisau. Jika memang ada orang yang berani mengerangkeng kebenaran sedemikian rupa, tampaknya ia lebih pantas menjadi tuhan.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orangorang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. al-Anam [6]: 32)

Saat ini, sulit kiranya bagi kita menemukan kesantunan dalam beragama. Cinta dan welas asih yang menjadi spirit utama agama, menguap entah ke mana. Sementara anjuran itulah yang bertebaran di semua kitab suci agama manusia. Baik yang turun dari Langit (samawi), pun yang dianggit di bumi (ardhi). Sekadar menyegarkan pemahaman, berikut ini saya nukilkan sebuah kisah sederhana dari masa limabelas abad silam.

Seorang kepala kabilah di Yamamah—lahan subur pemasok bahan makanan bagi penduduk Makkah—yang secara sengit dan keji, getol memusuhi dan memerangi Islam, Tsumamah Ibn Ustal al-Hanafi, tertangkap oleh satuan pasukan di bawah komando Muhammad bin Maslamah. Selama ditawan kaum Muslimin di salah sebuah tiang Masjid Nabawi, Rasulullah Saw pun memperlakukan tahanan kakap pemimpin Bani Hanafi itu secara istimewa.

Kali perdana menemuinya, Rasulullah mengantarkan sarapan berupa susu dari onta miliknya sendiri, sambil menanyakan kabar, yang lalu dijawab, “Aku baik-baik saja, wahai Muhammad. Jika engkau ingin membunuh, berarti engkau akan membunuh seseorang yang masih memiliki darah. Jika engkau mau memberi makan, maka engkau memberi makan orang yang bersyukur. Jika engkau menghendaki harta benda, sebutkan saja, niscaya engkau akan mendapatkannya sesuai keinginanmu.” Pernyataan itu didiamkan saja oleh Rasulullah. Ia hanya mengulum senyum di wajahnya yang teduh.

Kejadian itu terus berulang sebanyak tiga kali, hingga kemudian Rasulullah berkata, “Lepaskanlah Tsumamah!” Maka para Sahabat pun melepasnya. Sambil terkejut melihat perlakuan Rasulullah yang di luar nalar manusia biasa, tanpa kata-kata, Ibn Ustal pun meninggalkan kawasan Masjid Nabawi—dengan seribu pertanyaan nirjawaban.

Ketika tiba di kebun korma dekat sebuah oase—tak jauh dari kawasan Masjid Nabawi, Ibn Ustal pun mandi, kemudian berbalik arah menuju Masjid Nabawi, menghadap Rasulullah lalu bersumpah, “Hai Muhammad! Demi Allah, tidak ada sebelum ini wajah yang paling kubenci di dunia selain wajahmu. Namun kini wajah yang paling kucintai adalah wajahmu. Demi Allah, tidak ada sebelum ini agama yang paling kubenci di muka bumi, selain agamamu. Kini agama yang paling kucintai adalah agamamu. Aku ingin naik kuda milikmu karena ingin melaksanakan umrah,” ujarnya mantap. Rasulullah pun mengabulkan permintaan itu dan meridhai Ibn Ustal berangkat umrah ke Makkah al-Mukarromah.

Kemerdekaan Manusia

Mengenang kelahiran sama dengan menelusur jejak kehadiran kita, dan akan ke mana kita setelah saat ini. Satu dua hari berlalu, tentu berbeda dengan satu dua tahun membeku—dalam kenangan. Kian rumit lagi jika sudah satu-dua dekade yang silam jadi sejarah waktu. Itulah kenapa bila melihat ke depan, terkadang tampak seperti menatap ke belakang.

Benarkah riwayat manusia abad ini tumbuh? Jika benar, kenapa yang terlihat malah kegalatan?Peradaban nampak maju berkembang. Namun kehidupan manusia mundur jauh ke belakang. Daya ingat manusia melemah. Wawasan semakin payah. Wacana tak lagi kritis. Jiwajiwa manusia mengering-menangis. Anakanak jadi lebih cepat dewasa. Sementara para orangtua berlomba lari ke masa lalunya. Sungai kehidupan kita menyusut jadi dangkal. Samudera ilmu menguap ke langit dan kembali ke asal.

Bela pati manusia kehilangan elan perjuangan. Tiada lagi yang bisa diharapkan kecuali harapan itu sendiri. Kita kesulitan membedakan kekeluargaan, kesukuan, kewargaan, kependudukan, kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan. Ditambah kerumitan meletakkan agama dan keyakinan di antara itu semua.

Sebagai bangsa, kita Indonesia. Maka lahirlah sebuah negara. Namun kelahiran bangsa Indonesia, belum berbanding lurus dengan kemerdekaan bangsa manusia untuk bertumbuh-kembang. Penjajahan di atas dunia belum benar-benar terhapuskan. Sebab manusia masih dijajah hidupnya sendiri. Hidup yang kian sulit ia mengerti.

Penulis adalah pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain terus membidani kelahiran buku-buku, juga bertugas sebagai Pemimpin Redaksi Majalah ARKA.
Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Sholawat, Kajian IPNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Warga NU Tiga Kecamatan Dilatih Handycraft

Probolinggo, IPNU Tegal

Dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo memberikan pelatihan kerajinan tangan atau handycraft.

Warga NU Tiga Kecamatan Dilatih Handycraft (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Tiga Kecamatan Dilatih Handycraft (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Tiga Kecamatan Dilatih Handycraft

Pelatihan yang dipusatkan di aula Kantor MWCNU Kecamatan Gending, Rabu (3/2), ini diikuti 30 warga NU yang berasal dari Kecamatan Gending, Maron dan Pajarakan. Selama pelatihan mereka dilatih beragam handycraft mulai dari kaligrafi, bingkai foto, tempat tisu, dan lain sebagainya.

Kabid Perindustrian Disperindag Kabupaten Probolinggo Andjar Noermala mengatakan pelatihan ini diberikan dalam rangka memberikan keterampilan kepada warga NU dengan memanfaatkan barang limbah kayu yang sudah dibuang dan tidak dimanfaatkan lagi. Sehingga nantinya menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang mampu menambah pendapatan masyarakat.

IPNU Tegal

“Selama ini banyak sekali limbah kayu yang terbuang begitu saja, bahkan karena banyak akhirnya dibakar. Padahal jika dibuat produk kerajinan tentunya itu akan menambah nilai jualnya yang dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujarnya.

Sementara Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Gending Misnaji mengatakan bahwa pelatihan handycraft ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan dalam rangka memberdayakan warga NU yang selama ini masih belum memiliki kesibukan tetapi mempunyai bakat di bidang keterampilan.

IPNU Tegal

“Setidaknya dengan pelatihan ini warga NU memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan sebagai alternatif usaha dengan bahan baku yang mudah didapatkan di lingkungan sekitar rumah. Apalagi selama ini warga NU sudah terampil dalam membuat sebuah kerajinan yang memiliki nilai jual yang tinggi,” ungkapnya.

Muslimin Syaba, salah satu pengurus NU mengaku jika pelatihan ini sangat bermanfaat dalam mengembangkan bakat dan keahlian yang dimiliki warga NU. “Sebenarnya warga NU itu memiliki bakat dan potensi, asalkan dilatih tentunya akan bisa diberdayakan dengan baik,” katanya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Tokoh, Tegal, Ubudiyah IPNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Syaikh Nawawi al-Bantani; Mutiara Nusantara yang Bersinar di Hijaz

Nama Syaikh Nawawi al-Bantani mungkin sudah tidak asing lagi, terutama di kalangan pesantren di Indonesia. Beliau merupakan ulama Nusantara yang multi talenta dan produktif dengan banyak karya tulis dari berbagai disiplin ilmu. Karya-karyanya tersebar keberbagai belahan dunia islam, terlebih di Timur Tengah dan Nuasantara. Bahkan sampai saat ini, karya-karya beliau masih eksis menjadi kajian utama di pesantren-pesantren salaf yang ada di Indonesia. Islam Nusantara yang dulunya masih terdengar tabu kini menjadi semakin dikenal dunia dengan tampilnya Syaikh Nawawi al-Bantani sebagai pengajar dan imam di Masjidil Haram. Kedalaman ilmu serta kerendahan sifatnya menjadi buah bibir banyak ulama di dunia terutama para ulama dari Haramain. Pengajiannya selalu ramai dipenuhi pelajar dari penjuru dunia yang ingin merasakan manisnya madu keilmuan Syaikh Nawawi al-Bantani.

Hal inilah yang membuat Amirul Ulum menulis buku yang mengupas sejarah Syaikh Nawawi al-Bantani. Melalui buku “Penghulu Ulama di Negeri Hijaz” ini, dikupas secara detail perjalanan hidup Syaikh Nawawi al-Bantani mulai dari sejarah leluhurnya yang gagah perkasa dengan kesulatanan Banten sampai lahir keturunan dari pendiri kesultanan itu Syaikh Nawawi al-Bantani, cahaya yang kelak akan ? bersinar terang melanjutkan kegemilangan yang pernah diraih kesultanan Banten sebelum diporakporandakan oleh kelicikan para kompeni.

Syaikh Nawawi al-Bantani; Mutiara Nusantara yang Bersinar di Hijaz (Sumber Gambar : Nu Online)
Syaikh Nawawi al-Bantani; Mutiara Nusantara yang Bersinar di Hijaz (Sumber Gambar : Nu Online)

Syaikh Nawawi al-Bantani; Mutiara Nusantara yang Bersinar di Hijaz

Saat kesultanan Banten dilenyapkan oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1813, di tahun tahun itu pula lahir bayi dari pasangan Kiai Umar dan Nyai Zubaidah yang diberi nama Muhammad Nawawi. Nama Nawawi yang disematkan Kiai Umar kepada putra sulungnya ini terinspirasi dari seorang ulama yang kitabnya sering dikaji oleh Kiai Umar. Ulama itu berasal dari daerah Nawa, Damaskus, Suriah, yang terkenal dengan sebutan Imam an-Nawawi. Dengan menamai putra sulungnya Nawawi, Kiai Umar berharap putranya itu akan menjadi seorang ulama yang handal seperti halnya Imam an-Nawawi yang merupakan sosok ulama alim yang ahli dalam berbagai kajian keilmuan. (hal 50-52)

Syaikh Nawawi al-Bantani lahir dan dibesarkan di lingkungan yang mengedepankan sendi-sendi keislaman. Ayahnya, Kiai Umar adalah seorang ulama alim yang selalu memantau pendidikannya bersama keenam saudaranya. Bersama dengan Nyai Zubaidah, Kiai Umar meniupkan pelajaran-pelajaran keislaman seperti membaca Al-Qur’an, Fiqih, Teologi dan Gramatika Arab. (hal 54)

IPNU Tegal

Sebelum mencari ilmu dan menetap di Hijaz, Syaikh Nawawi sempat melakukan pengembaraan dalam mencari ilmu ke tiga pesantren yang ada di tanah air.Yaitu ketika berusia 8 tahun, beliau beserta kedua adiknya diperintahkan Kiai Umar untuk belajar kepada Kiai Haji Sahal. Sebelum berangkat, Nyai Zubaidah menyampaikan sebuah pesan yang cukup unik kepada ketiga putranya itu, bahwa ia akan selalu mendoakan dan merestui dengan syarat tidak boleh pulang sebelum kelapa yang ditanam Nyai Zubaidah berbuah. (hal 56)

Setelah mendengar kabar bahwa kelapa yang ditanam ibunya telah berbuah, Syaikh Nawawi segera pulang. Baru setelah itu beliau melanjutkan belajar di tanah Haramain. Tiga tahun belajar di sana, Syaikh Nawawi akhirnya pulang ke tanah kelahirannya untuk menyebarkan ilmu yang diperolehnya dari Hijaz. Namun karena selalu diintimidasi oleh para kompeni akhirnya Syaikh Nawawi memutuskan kembali ke Hijaz untuk menetap dan memperdalam ilmunya sekaligus menyiapkan militan dari para penduduk pribumi yang belajar di Hijaz yang nantinya akan mengkader para pejuang-pejuang agar bisa mengusir para penjajah dari tanah mereka. (hal 77)

IPNU Tegal

Pada bagian akhir dari buku ini dipaparkan kontribusi besar yang diberikan Syaikh Nawawi kepada umat Islam khususnya umat Islam Nusantara, seperti banyaknya ulama yang dilahirkan dari tangan beliau. Diantara ulama-ulama itu ada yang menetap dan menjadi pengajar atau imam di Masjidil Haram seperti Syaikh Mafudz at-Turmusi, dan ada juga yang kembali ke Tanah Air seperti Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. (hal 117)

Kehadiran buku ini akan menambah khazanah Islam Nusantara yang telah harum di kancah keilmuan internasional. Membaca kisah Syaikh Nawawi dalam buku ini dapat memberikan sebuah semangat untuk meneladani dan meniru prestasi yang telah ditorehkan beliau untuk Islam Nusantara. Buku ini cocok dibaca untuk semua kalangan, terutama bagi generasi muda agar bisa meniru perjuangan Syaikh Nawawi dalam menuntut ilmu sehingga nantinya bisa melahirkan sosok-sosok seperti Beliau yang mampu membawa Nusantara go internasional. Dengan bahasa yang ringan dan sederhana, menambah kenikmatan untuk menyelami lautan kisah yang ada dalam buku ini.

Data buku

Judul Buku: Penghulu Ulama di Negeri Hijaz

Penulis: Amirul Ulum

Penerbit: Pustaka Ulama

Tahun: 2015

Tebal: 134 halaman

ISBN: 978-602-14834-8-0

Peresensi: Alfan Maghfuri, mahasiswa Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kiai, Ubudiyah IPNU Tegal

Politik Dompleng Masjid

Oleh H A Djunaidi Sahal

Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan telah memberikan dampak bagi tatanan sosial, baik masyarakat kota maupun masyarakat di pedesaan. Hal ini juga berpengaruh pada paradigma masyarakat dalam memandang politik dan cara bertindak di dalam masyarakat. Disadari atau tidak, pola sebagian  masyarakat di Indonesia sudah bergeser ke arah yang rentan terhadap disintegrasi, akibat pengaruh kemajuan teknologi, di mana perkembangan teknologi sangat mudah digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menyebarkan provokasi negatif yang mengancam keutuhan negeri ini.

Isu tentang peranan agama terhadap pola hidup yang tentaram dan damai, sangat menarik untuk di perbincangkan ketika konflik-konflik horizontal masyarakat yang mengarah pada konflik SARA dilatarbelakangi oleh agama. Mencermati meluasnya wabah intoleransi dalam beberapa momentum terakhir, di mana banyak kelompok-kelompok intoleran memanfaatkan isu yang berkembang di masyarakat. Kita dapat melihat fenomena Pilkada DKI Jakarta, yang diwarnai dengan kasus penistaan agama sangat mencuat ke muka publik sehingga banyak kelompok intoleran yang mengambil kesempatan untuk tampil. Hal ini memperkuat eksistensi kelompok tersebut semakin berani untuk muncul di tengah-tengah masyarakat yang dapat memprovokasi masyarakat untuk apatis dengan Pancasila dan sistem hukum di Indonesia.

Politik Dompleng Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Dompleng Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Dompleng Masjid

Kondisi perpolitikan yang dilatarbelakangi oleh agama, masih menjadi isu sentral menjelang tahun politik 2018 dan 2019, kita bisa lihat apa yang terjadi di kota Jakarta yang notabene memiliki tingkat intelektual yang baik tetapi masyarakatnya masih terprovokasi dengan isu-isu agama. Gerakan politik yang memanfaatkan isu agama masih dipakai oleh beberapa kelompok untuk memprovokasi masyarakat, salah satunya Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS). Tentu pola ini masih sama dengan apa yang pernah dilakukan dalam pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu, di mana banyak masjid ditarik dalam ranah pertarungan politik. Masjid juga dimanfaatkan untuk kampanye politik dan menolak pemimpin non-Muslim serta yang lebih ekstrem lagi label kafir untuk pendukung non-Muslim terjadi di mana-mana, bahkan menolak jenazah pendukung non-Muslim.

IPNU Tegal

Kita hidup di Indonesia tentu harus menyepakati Pancasila sebagai dasar negara. Setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama. Indonesia bukan negara sekuler, tetapi juga bukan negara agama. Setiap warga negara yang memenuhi persyaratan undang-undang, maka apapun latar belakangnya, warga negara Indonesia berhak memilih dan dipilih. Jika pandangan politik masyarakat Indonesia terprovokasi dengan isu-isu agama saja, hal ini sangat berpotensi pada tindakan intoleran. Dengan memutarbalikkan ajaran agama dan mengutip ayat-ayat Al-Quran, kelompok-kelompok intoleran akan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan gerakan politiknya.

Masjid sebagai pusat dakwah, tentu harus bersih dari tindakan dan ajaran politik praktis serta dakwah yang bersifat SARA. Secara luas, politik yang membahas sisi keilmuan, kesejahteraan masyarakat bahkan kritik terhadap praktik penyelenggaraan negara tidak dilarang di dalam masjid. Tetapi ketika politik dimanfaatkan untuk kepentingan perebutan kekuasaan, di situlah potensi perpecahan terhadap umat Islam sangat mungkin terjadi.

IPNU Tegal

Isu agama dan politik identitas masih sangat kuat menjelang pertarungan politik tahun 2018 dan 2019, setelah sukses menjadikan masjid sebagai alat propaganda politik yang dibawa oleh kelompok-kelompok tertentu dalam pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu, hal ini menjadi faktor penentu dinamika politik nasional ke depan. Agitasi serta provokasi GISS dan gerakan kelompok intoleran lainnya dikhawatirkan menjadi metode politik yang mendompleng kegiatan ibadah umat Muslim menjadi kegiatan politik dalam memperebutkan kekuasaan. Gerakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini merupakan gerakan politik yang memobilisasi umat Islam untuk membatasi hak-hak lawan politik. Dalam konteks pemilu 2018 dan 2019 “politik masjid” sangat mungkin dijadikan basis gerakan oleh kelompok-kelompok intoleran dalam agenda merebut kekuasaan.

“Kejatuhan Ahok” oleh kasus penistaan agama merupakan serangkaian serangan politik yang ditujukan oleh lawan-lawan politiknya. Kelompok-kelompok intoleran tentu tidak hanya berhenti di situ. Target ke depannya adalah untuk menjatuhkan lawan-lawan politik lain, khususnya yang ada di pemerintahan Jokowi (Politik Bola Sodok). Jika kelompok ini berhasil mempengaruhi masjid sebagai pusat gerakan, maka masjid akan menjadi pusat pengumpulan umat Muslim untuk diajarkan bagaimana merebut kekuasaan dan menolak non-Muslim sebagai pemimpin serta Jakarta sebagai pilot project dalam mempengaruhi wilayah-wilayah lain yang ada di Indonesia.

Umat Islam Indonesia mempunyai tanggung jawab moral terhadap bangsa ini. Menjaga stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kewajiban setiap warga negara. Umat Islam di Indonesia harus tetap menjaga suasana dan situasi yang kondusif, serta menghargai sesama tanpa memandang latar belakang dan pilihan politik, agar ke depannya kita dapat menjaga keutuhan bangsa Indonesia dari ancaman-ancaman intoleransi.

*) Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta. Ia juga Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Bangsa (FSB).Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, IMNU, Amalan IPNU Tegal

Kamis, 16 November 2017

Ada Agenda Neoliberalisme dalam Pembuatan Film Pesantren

Jakarta, IPNU Tegal

Kalangan umat Islam yang diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bereaksi keras terhadap pemutaran film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) yang menceritakan kekerasan yang terjadi di dunia pesantren tradisional terhadap kaum hawa, yang didramatisasi dalam film tersebut.

Saat ini memang banyak orang berharap ada film yang berlatar belakang pesantren, karena merupakan bentuk pendidikan Islam paling awal. Tetapi kemudian orang sangat kaget ketika berbagai film yang berlatar belakang pesantren bukan untuk mengangkat citra pesantren, sebaliknya? justeru untuk menyerang tradisi pesantren dan merusak citra lembaga pendidikan Islam itu.

Ada Agenda Neoliberalisme dalam Pembuatan Film Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Agenda Neoliberalisme dalam Pembuatan Film Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Agenda Neoliberalisme dalam Pembuatan Film Pesantren

Menurut Ketua Yayasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Hesti Prabowo (Wowok), hal itu bisa dipahami bahwa penulisan terhadap dunia pesantren selama ini ampir seluruhnya dibiayai oleh kelompok neo-liberal.

IPNU Tegal

Termasuk penulisan novel PBS yang dikerjakan oleh Abidah ini juga proyek dari Ford Foundation yang diberikan pada Fatayat NU Yogyakarta. Novel itu dikerjakan oleh orang? modernis yang tidak mengerti pesantren NU bahkan tidak senang terhadap pesantren NU, sehingga berusaha menjelek-jelekkan keadaan pesantren salaf.

IPNU Tegal

Walaupun terjadi diskriminasi di pesantren tetapi penggambaran yang seperti itu hanya mengada-ada untuk mencari efek dramatis dari novel yang ditulis. Celakanya hal-hal itulah yang diangkat ke layer film.

Tentu saja hal itu menurut Wowok yang juga anggota pengurus pusat Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) NU sangat menyenagkan pihak yang punya program, yaitu bos-bos kapitalis neoliberal.

”Pesantren sebagai benteng pertahanan Islam dan kebangsaan memang selalu merisaukan neo-liberal, karena itu harus dirongrong dari dalam melalui berbagai program, pelatiha hak asasi msnuisa, pengembangan manajemen pesantren dan termasuk program penguatan gender,” katanya.

Maka novel dan film PBS itu adalah agenda neoliberal yang bertujuan mendobrak keutuhan doktrin pesantren. Celakanya film fitnah semacam ini tidak bisa dilarang, hanya saja pemirsa harus disadarkan bahwa semuanya itu fitnah dan mengadada, oleh orang yang tidak memiliki tradisi pensatren dan sengaja digunakan orang lain untuk menggempur tradisi dan ajaran pesantren.

Ditambahkan, saat ini diperlukan film yang mampu mengangkan citra pesantren pesantren, bukan sebagai sarang perbudakan dan juga bukan sebagai sarang teoris, sebagaimana digambarkan secara tidak senonoh dalam novel itu. (mdz)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Hikmah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock