Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pelajar NU Gelar Diskusi Publik "Spirit Kartini"

Cirebon, IPNU Tegal Sekitar tiga ratusan peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, aktifis, dan santri dari wilayah Cirebon dan sekitarnya menghadiri diskusi publik bertema “Spirit Kartini di Mata Perempuan Masa Kini”.

Acara yang merupakan hasil kerjasama Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kabupaten Cirebon serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Biruni ini digelar di Aula Kampus II STID Al-Biruni, Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jum’at (26/4).

Pelajar NU Gelar Diskusi Publik Spirit Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Gelar Diskusi Publik Spirit Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Gelar Diskusi Publik "Spirit Kartini"

Selain sebagai refleksi dari peringatan hari Kartini, acara ini juga bertujuan untuk turut mengkampanyekan kedaulatan perempuan di segala bidang, dalam arti perempuan memiliki hak dan potensi yang setara dengan laki-laki di bidang pendidikan, ekonomi, dan politik. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wahyono, ketua PC. IPNU Kab. Cirebon.

IPNU Tegal

“Perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata, perempuan harus sama-sama diberi hak untuk mengolah potensi baik di bidang ekonomi maupun politik, terlebih lagi di dalam bidang pendidikan,” jelas Wahyono.

Hal senada disampaikan Putri Hidayani, Ketua PC. IPPNU Kab. Cirebon. Menurutnya acara diskusi publik tentang peran perempuan ini penting untuk digelar, karena dapat dijadikan sebagai media untuk membangkitkan semangat Kartini dalam hal memaksimalkan peran perempuan di tengah masyarakat.

IPNU Tegal

Berkesempatan hadir sebagai salah satu pembicara dalam diskusi publik ini Dr. Siti Fatimah, M. Hum, dosen ISIF dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dia memaparkan bahwa perjuangan Kartini sampai sekarang masih perlu diteruskan, karena masih terdapat banyak perempuan yang menjadi objek dan korban kekerasan. Meminjam data dari Komnas HAM 2013, terdapat 8.315 korban kekerasan , termasuk didalamnya 1.085 korban dalam pacaran. 

“Data yang dijelaskan adalah data yang masuk, dan masih banyak lagi yang belum diketahui. Ini potret perjuangan Kartini di era dewasa ini, untuk menghapus kekerasan dan menjadi subjek bukan objek,” ungkap Siti Fatimah.

Ny. Hj. Masriyah Amva, pengasuh pondok pesantren Kebon Jambu menambahkan tentang realita perempuan yang masih ditemui di kalangan pesantren, perempuan masih cenderung dinilai lemah dan harus bergantung kepada laki-laki.

“Sebagai perempuan, penting untuk selalu bercermin kepada lelaki yang kuat, juga kepada wanita tangguh dalam kehidupan ini,” tegas perempuan yang biasa disapa Yu Mas tersebut.

Selain dua pembicara di atas, diskusi publik ini juga melibatkan pembicara dari dinas kebudayaan, pariwisata, pemuda, dan olah raga (Disbudparpora) Kab. Cirebon, H. Asdullah Anwar, MM.

Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan hari Kartini yang digelar oleh pelajar NU Cirebon setelah sebelumnya melakuakn aksi tebar bunga bagi para pengendara yang melintas di sepanjang jalan Plered Cirebon, Ahad lalu.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Ahlussunnah, Internasional IPNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Perkuat Kearifan Lokal Jelang Pilkada Serentak 2018

Jakarta, IPNU Tegal. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mengatakan Konferensi Nasional Kearifan Lokal 2017 penting dalam situasi bangsa Indonesia menghadapi Pilkada serentak tahun 2018. Solusi atas radikalisme, konflik sosial, eksklusivitas kelompok dan golongan, terorisme dan yang baru-baru ini terjadi adalah penyanderaan warga Indonesia oleh oleh kelompok bersenjata di Timika.

Perkuat Kearifan Lokal Jelang Pilkada Serentak 2018 (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Kearifan Lokal Jelang Pilkada Serentak 2018 (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Kearifan Lokal Jelang Pilkada Serentak 2018

"Alhamdulillah berkat perjuangan TNI, Polri, dan rakyat Papua yang setia mencintai NKRI, maka semuanya dapat diselesaikan tanpa korban jiwa," papar Khofifah, Rabu (29/11) di Jakarta.

Ini semua, lanjutnya, terjadi berkat semangat kesetiaan seluruh bangsa menjaga  NKRI agar terus tegak dalam harmoni. Tentunya hal ini  tidak terlepas dari peran  kearifan lokal sebagai patron keberagaman yang saat ini masih hidup, berkembang dan berlaku hampir di semua daerah, misalnya setelah sandera dibebaskan dengan aman dan selamat maka ada upacara bakar batu sebagai tanda syukur.

Seperti diketahui, keberagaman Indonesia tampak pada 300 kelompok etnis, 1340 suku, 6 agama besar, puluhan aliran kepercayaan, yang semuanya menyebar pada 17.000 pulau di seluruh wilayah. 

IPNU Tegal

"Keragaman ini jika dikelola dengan baik, maka identitas ke-Indonesiaan akan makin kental yaitu identitas kebangsaan yang bersumber dari kebhinekaan, diikat oleh Pancasila," tegas Khofifah.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan dalam Konferensi Nasional Kearifan Lokal dihasilkan sejumlah rekomendasi penting untuk memperkuat fungsi kearifan lokal. 

IPNU Tegal

"Pertama adalah memperkuat regulasi tingkat nasional tentang kearifan lokal. Kemudian memasukkan kurikulum kearifan lokal dalam materi Muatan Lokal dimulai PAUD, TK, SD sampai perguruan tinggi baik formal maupun non formal, tidak hanya materi pengenalan bahasa daerah, tetapi penguatan faham keberagaman dalam.bingkai Pancasila," paparnya. 

Rekomendasi berikutnya adalah segera bersinergi dengan kementerian terkait khususnya Kementerian Desa dalam memperkuat kearifan lokal/adat dalam pembangunan desa. 

"Kita juga akan optimalkan dan mobilisasi Tenaga Pelopor Perdamaian sampai tingkat desa atau kelurahan untuk memperkuat peran dan fungsi kearifan lokal," kata Harry. 

Konferensi Nasional Kearifan Lokal 2017 diikuti 400 orang dari 34 provinsi, 340 unsur masyarakat yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat, lembaga keagamaan (NU, Muhammadiyah, PGI, KWI, Walubi, PKBI, Matakin), kepolisian, TNI, BIN Daerah, serta Dinas Sosial provinsi/kota/kabupaten. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Anti Hoax IPNU Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Komisariat IPNU-IPPNU Se-Jatim Siap Isi Kekosongan Kaderisasi di Kampus

Surabaya, IPNU Tegal. Para aktivis mahasiswa NU yang terwadahi dalam Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Palajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) menyatakan siap mengisi kekosongan organisasi resmi NU di perguruan tinggi tanpa harus membentuk badan otonom baru.

Lebih jauh lagi, seluruh kader PKPT yang hadir dalam pertemuan itu menyatakan siap mengisi kekosongan banom di tataran mahasiswa tanpa harus membentuk banom baru. Kesiapan itu juga diperkuat dengan komitmen pendirian PKPT IPNU-IPPNU di seluruh wilayah tanah air.

Komisariat IPNU-IPPNU Se-Jatim Siap Isi Kekosongan Kaderisasi di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisariat IPNU-IPPNU Se-Jatim Siap Isi Kekosongan Kaderisasi di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisariat IPNU-IPPNU Se-Jatim Siap Isi Kekosongan Kaderisasi di Kampus

Kesepakatan itu muncul dalam pertemuan 28 PKPT IPNU-IPPNU dan Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Jatim yang diselenggarakan di Aula lantai 3 PWNU Jawa Timur, Surabaya, 14-15 Maret 2015. Dari luar Jatim, hari pula PKPT IPNU-IPPNU Universitas Negeri Semarang dan IAIN Banten.

IPNU Tegal

Kegiatan yang difasilitasi penuh oleh PW IPNU-IPPNU Jawa Timur tersebut juga menghasilkan beberapa poin rekomendasi yang diharapkan mampu memperkuat eksistensi PKPT IPNU-IPPNU di Indonesia, terkhusus di Jawa Timur. Di antaranya, PW IPNU-IPPNU Jatim mesti melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap PKPT IPNU-IPPNU dan berkoordinasi dengan PC IPNU-IPPNU di masing-masing kabupaten/kota.

Menurut ketua PW IPNU Jatim Imam Fadlli, kader PKPT IPNU-IPPNU merupakan aset yang sangat berharga bagi organisasi kader seperti IPNU-IPPNU. Ia mengapresiasi pertemuan itu dan menyatakan kesiapannya untuk mendampingi dan memberi pembinaan terhadap kader PKPT yang telah berkembang sangat pesat.

IPNU Tegal

Selain itu, Ketua PW IPPNU Rosa menambahkan bahwa PKPT mempunyai peran yang sangat strategis dalam membantu kepengurusan di pimpinan cabang dan wilayah. “Kader-kader IPNU-IPPNU yang ada di PKPT mempunyai kontribusi besar terhadap keberlangsungan organisasi kita ini, oleh karena itu semangat ini harus selalu kita jaga,” tegasnya.

Ahmad Ainun Najib, salah satu koordinator acara, menyatakan bahwa ikhtiar baik dan semangat perjuangan seluruh kader PKPT yang terus berkembang hingga saat harus diperjuangkan oleh semua pihak.

“Kami berharap agar seluruh jajaran pengurus IPNU-IPPNU yang berada di Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Pusat agar senantiasa mendampingi dan memperjuangkan seluruh rekomendasi yang telah dihasilkan dalam pertemuan ini” terangnya.

Najib juga menandaskan bahwa ikhtiar ini merupakan salah satu bentuk amal jariyah dan pengabdian mahasiswa NU terhadap organisasi ini (IPNU-IPPNU) melalui perguruan tinggi.” tuturnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Pendidikan IPNU Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Berperadaban dengan Pendidikan Islam

PENGANTAR REDAKSI - Perjalanan sistem pendidikan nasional menunjukkan bahwa sekat dikotomis antara pendidikan agama dan umum sudah semakin terbuka. Beberapa lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama telah melakukan banyak terobosan di bidang pengembangan pendidikan umum, dan sebaliknya lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah melakukan banyak inovasi dalam mengembangkan pendidikan agama.

Pada gilirannya semua lembaga pendidikan baik pendidikan agama yang bernaung di Kementerian Agama maupun pendidikan umum di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersaing secara sehat untuk meningkatkan kualitas dan menarik simpati masyarakat.

Banyak sekali lembaga pendidikan (agama) Islam yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, yakni pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam di beberapa daerah di Indonesia yang layak diberi label “unggulan” dan pantas dijadikan percontohan atau menjadi inspirasi bagi pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam di daerah lain.

Berperadaban dengan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Berperadaban dengan Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Berperadaban dengan Pendidikan Islam

Terhitung mulai 1 Juli 2015, rubrik khusus “Pendidikan Islam” IPNU Tegal yang didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama ini akan mengekspos berbagai capaian dan prestasi pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam di sejumlah daerah, baik dari aspek kelembagaan maupun stakeholdernya. Rubrik ini juga akan membidik berbagai inovasi yang sedang dikembangkan serta berbagai potensi yang mungkin untuk terus disupport perkembangannya untuk kemajuan lembaga pendidikan Islam.

Kita semua mengakui bahwa pengabdian, jerih-payah dan keikhasan dari para perintis dan pengelola pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam dalam mengembangkan pendidikan untuk rakyat Indonesia memang sangat luar biasa. Namun publikasi kita perlu bergerak lebih maju, yakni pada pencapaian dan prestasi yang telah dilakukan oleh pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam di beberapa daerah untuk bisa menjadi percontohan bagi daerah lain, serta berbagai potensi dan inovasi baru yang mungkin untuk terus dikembangkan.

Rubrik ini mengambil tema “Berperadaban dengan Pendidikan Islam”. Berbagai sajian berupa profil, kisah, feature, atau catatan perjalanan dalam rubrik ini dikerjakan oleh tim redaksi IPNU Tegal bersama sejumlah kontributor yang tersebar di sejumlah daerah. Saran, catatan dan informasi dari para pembaca sangat kita harapkan. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Halaqoh, Khutbah IPNU Tegal

IPNU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Kiai Ini Bangkit Tiap Kali Dengar Pagar Nusa

Kebumen, IPNU Tegal



Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islami Al-Hasani KH Sufyan Al-Chasani Kebumen mengungkapkan tentang dirinya yang bangkit setiap mendengar nama Pagar Nusa meski dalam keadaan sakit.

"Pagar Nusa dari dulu kesukaan saya karena yang merintis guru saya sendiri, Gus Maksum. Jadi, batin saya bangkit," kata Kiai Chasani saat diwawancarai di rumahnya, di Kebumen, Jawa Tengah Ahad (14/5).

Kiai Ini Bangkit Tiap Kali Dengar Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ini Bangkit Tiap Kali Dengar Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ini Bangkit Tiap Kali Dengar Pagar Nusa

Menurutnya, Pagar Nusa itu harus menjadi pagar NU dan bangsa karena saat Pancasila dirobek-robek PKI, Gus Maksum menaruhkan jiwa raga untuk Indonesia.?

"Sehingga hati saya bangkit walaupun sedang sakit," ungkapnya dengan semangat.

IPNU Tegal

Ia berharap kepada ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa agar menghidupkan kembali Pagar Nusa di semua cabang se-Indonesia seperti dulu.?

"Di era Gus maksum, di hampir daerah itu ada Pagar Nusa, "pungkasnya.(Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Khutbah IPNU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

PP Fatayat NU Pindah ke Kantor Baru

Jakarta, IPNU Tegal
Setelah melewati perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya PP Fatayat NU memiliki kantor baru yang terletak di Jl. Kramat Lontar i/60. Lokasi ini tak begitu jauh dengan kantor PBNU di Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Proses perpindahan ini baru berlangsung sekitar seminggu yang lalu.

Ketua Umum Fatayat Maria Ulfa Anshori mengungkapkan sebelum membangun gedung tersebut, memang mencari lokasi yang berdekatan dengan kantor PBNU. Dahulunya rumah tua di sebelah kantor PBNU yang diincarnya, tetapi karena permintaan harganya mahal, maka terpaksa mencari lokasi lain.

Pembangunan kantor baru tersebut dilatarbelakangi oleh kecilnya ruangan yang disediakan oleh PBNU untuk Fatayat. “Dahulu di gedung PBNU lama, kantor PP Fatayat lebih luas dari yang sekarang disediakan digedung baru sehingga PP Fatayat berfikir untuk membikin kantor baru,” tandasnya.

Dijelaskannya sebenarnya PP Fatayat berencana untuk menyewa ke pengelola gedung PBNU untuk memperluas kantornya dengan catatan mendapat diskon 50 persen, tetapi mereka tidak mau. “Kami mikir-mikir daripada 200 juta setahun untuk menyewa ruangan, lebih baik untuk membikin kantor sendiri,” tambahnya.

Rumah tua seluas 20 X 4 M di Jl. Kramat Lontar akhirnya dianggap cocok dan dibeli seharga 275 juta rupiah dan dibongkar untuk diganti dengan bangunan baru berlantai dua. Biaya pembangunan menghabiskan dana sekitar 300 juta rupiah.

“Sebelumnya banyak fihak yang menjanjikan bantuan dana, tapi janji tinggal janji dan kami berusaha mencicil sesuai kemampuan yang ada sampai akhirnya jadi begini,” imbuhnya.

Diatas bangunan dengan luas sekitar 200 meter persegi ini, saat ini semua aktifitas PP Fatayat dilaksanakan. Terdapat ruang rapat besar, ruang ketua umum dan bendahara umum, lemari-lemari untuk menyimpan data yang diletakkan disisi-sisi tembok berwarna hijau muda, dapur, kamar mandi, taman kecil didalam dan ruang penjaga. Sebagian ruangan saat ini juga digunakan untuk kantor sekretariat kongres Fatayat ke 13 Juli mendatang.

Meskipun pindah, nomer telepon 021-31908732 dan Fax 021-3197267 yang dahulu digunakan ketika berkantor di PBNU masih tetap digunakan. Sayang sekali kantor megah ini tidak memiliki lahan parkir sehingga pengurus atau tamu yang membawa mobil terpaksa parkir agak jauh.(mkf)


 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Khutbah IPNU Tegal

PP Fatayat NU Pindah ke Kantor Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Fatayat NU Pindah ke Kantor Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Fatayat NU Pindah ke Kantor Baru

Rabu, 31 Januari 2018

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Jepara, IPNU Tegal. Satu grup di Facebook yang berjuluk Ngomong Politik (Ngompol) Jepara tidak ketinggalan memperingati 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.



Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Melalui jejaring Facebook, mereka mengkoordinir anggota untuk menziarahi makam Gus Dur di komplek pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu-Ahad (6-7/10).?

Selain makam Gus Dur rombongan yang berjumlah puluhan orang juga menziarahi Sultan Hadirin, Raden Abdul Jalil (Jepara), Sayyid Jafar Shadiq (Sunan Kudus), Maulana Ibrahim Asmara Qandi (Ayah Sunan Ampel) dan Raden Rahmat (Sunan Ampel).?

IPNU Tegal

Badiul Hadi, ketua panitia sekaligus deputi direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jepara didampingi Ahmad N Huda mengatakan kegiatan dilaksanakan dalam rangka memperingati 1000 hari Gus Dur. ? ?

“Atas nama panitia kami mohon maaf karena pada saat hari H banyak yang membatalkan diri sehingga beberapa kursi tidak terisi,” paparnya.?

IPNU Tegal

H Abdul Kohar penggagas kegiatan mengungkapkan perjalanan ziarah sepenuhnya ditanggung H Abdul Wachid, mantan wakil ketua PP LPPNU. “Waktu itu beliau tanya agenda peringatan 1000 hari Gus Dur di Jepara kemudian saya share di grup Ngompol alhasil ziarah disepakati,” ungkapnya.?

Setelah disepakati, tambah ketua Kadin Jepara, H Wachid mem-back-up ongkos perjalanan menuju Jawa Timur. Biaya yang lain lanjutnya ditanggung penumpang sendiri.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam?

Kontributor: Syaiful Mustaqim ?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Khutbah IPNU Tegal

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS

Semarang, IPNU Tegal. Sejumlah pendekar putra dan putri berbaris di arena bebas, tepat di hadapan Ketua Umum PBNU, Ketua Umum Pencak Silat Pagar Nusa, para tokoh masyarakat, polisi, tentara dan para pejabat yang hadir. Dipimpin seorang pelatih mereka mulai mengucapkan salam ala pendekar, lalu mereka memasang kuda-kuda.

Diiringi suara gamelan dan kendang, satu persatu mereka mulai beraksi. Ada yang memperagakan jurus-jurus tangan kosong yang indah, bahkan mereka seperti menari. Mereka memukul, menendang, melompat dan bersalto. Ada yang beraksi dengan senjata. Lalu mereka saling serang dan bertarung. Suara gamelan dan kendang bertalu-talu.

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Seragam Hitam Kami Bukan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS

Adegan itu sekaligus menandai dimulainya pembkaan resmi Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pencak Silat NU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Az Zuhri Semarang, Jum’at (27/3) siang.

IPNU Tegal

Para pimpinan Pencak Silat Pagar Nusa dari seluruh Indonesia duduk berjajar memutari gelanggang. Sementara ratusan pendekar berseragam hitam putra dan putri duduk bersila di barisan bagian belakang.

“Seragam kami memang hitam. Tapi hitam kami berbeda dengan yang ada di televisi itu,” kata Pengasuh Pesantren Az Zuhri yang juga Pengurus Pusat Pagar Nusa KH Lukman Hakim saat menyampaikan kata sambutan di hadapan para pejabat Polres dan Kodim.

IPNU Tegal

“Kami berpakaian hitam. Tapi hitam kami tidak memakai penutup. Kami ini memang ISIS tetapi ISIS kami adalah istri sholihah idaman suami,” katanya disambut tawa hadirin. “Kami berjenggot, tapi jenggot kami berbeda,” kata Kiai berambut gondrong itu.

Rapimnas Pencak Silat NU Pagar Nusa dilaksanakan sejak Kamis (26/3) kemarin yang diisi dengan halaqah-halaqah, pertemuan majelis pendekar, dan pelatihan pasukan inti. Rapimnas akan ditutup dengan Apel Kesetiaan pada Pancasila dan NKRI di lapangan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/3) pagi, yang akan diikuti sekitar lima ribu pendekar Pagar Nusa. (A. Khoirul Anam)

?

Ilustrasi: Para pendekar Pagar Nusa beraksi di Gelora Senayan Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah IPNU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

LDNU Harus Jadi Pelopor Aqidah Aswaja

Probolinggo, IPNU Tegal - Sedikitnya 70 orang Pengurus Anak Cabang (PAC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dari 11 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo dilantik secara bersamaan di Masjid Al-Anwar Desa Warujinggo Kecamatan Leces, Ahad (26/2).

Para pengurus LDNU yang dikukuhkan ini berasal dari Kecamatan Dringu, Leces, Tegalsiwalan, Sumber, Kuripan, Bantaran, Wonomerto, Sumberasih, Tongas, Lumbang dan Sukapura. Pengukuhan ini dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Probolinggo KH Jamaluddin Al-Hariri.

LDNU Harus Jadi Pelopor Aqidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Harus Jadi Pelopor Aqidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Harus Jadi Pelopor Aqidah Aswaja

Dalam sambutannya, Ketua PC LDNU Kabupaten Probolinggo Kiai Achmad Munir berpesan agar pengurus PAC LDNU di masing-masing kecamatan bisa menjadi pelopor aqidah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja).

IPNU Tegal

"Caranya dengan terus berhikmah dan mauizhotul hasanah serta mampu menjadi pengasuh pesantren masyarakat yang bisa mengajak masyarakat yang beraneka ragam ke jalan Allah," katanya.

Sementara Kiai Jamaluddin Al-Hariri mengharapkan pengurus yang sudah dikukuhkan mampu menjalankan amanah yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya serta mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.

IPNU Tegal

"Jalankan amanah yang sudah diterima dengan terus berupaya menjaga aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah maraknya paham-paham baru yang bertentangan dengan aqidah warga NU," ungkapnya.

Pengukuhan pengurus PAC LDNU se-Kabupaten Probolinggo ini bertujuan agar pengurus LDNU dapat menjalin hubungan baik antar umat dan menjadi orang yang berbahagia dunia akhirat dengan jalan dakwah. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Pendidikan, Pemurnian Aqidah IPNU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Santri Kikil Pacitan Buru Beasiswa Pendidikan Budaya ke Luar Negeri

Pacitan, IPNU Tegal. “Tuntutlah ilmu walau ke negeri cina” demikian sabda Rasulullah SAW yang menjadi motivasi ratusan santri Pesantren Al Fattah Kikil, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, untuk mengikuti sosialisasi program pertukaran pelajar ke luar negeri yang digelar oleh Madrasah Aliyah Pembangunan Al Fattah bekerjasama dengan AFS-Bina Antarbudaya Chapter Yogyakarta di auditorium KH Bakri Hasbullah,? Pesantren Al Fattah Pacitan,? Sabtu (12/3).

Pembina Pesantren Al Fattah, Hammam Fathullah, mengatakan kerjasama program pertukaran pelajar ini merupakan bentuk perhatian pesantren kepada para santri agar mereka mampu bersaing dengan ribuan pelajar lain dan berkesempatan menjadi peserta AFS.

Santri Kikil Pacitan Buru Beasiswa Pendidikan Budaya ke Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Kikil Pacitan Buru Beasiswa Pendidikan Budaya ke Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Kikil Pacitan Buru Beasiswa Pendidikan Budaya ke Luar Negeri

?

“Untuk mengikuti program ini, kualifikasi yang harus dimiliki para santri adalah kecakapan diri, memiliki sikap toleransi yang tinggi dan kemampuan mengenal dan mengenalkan bentuk budaya Indonesia kepada orang luar negeri,” jelas dosen Staifa Kikil Pacitan itu.

Gus Hammam, demikian sapaan akrabnya menambahkan, melalui sosialisasi ini, para santri ? diharap mampu memahami persyaratan yang harus disiapkan serta kiat apa saja yang harus dilakukan selama proses seleksi yang diadakan oleh AFS-Bina Antarbudaya.?

Sementara itu, Staf AFS-Bina Antarbudaya, Merlijn Dieteren (Belanda) dan Viola Negri (Italia) yang hadir dalam sosialisasi itu mengungkapkan kekagumanya dengan budaya pesantren. Keduanya mendorong para santri untuk dapat mengenalkan budaya Indonesia khususnya pesantren kepada warga dunia melalui program pertukaran pelajar ini.

IPNU Tegal

Menurut keduanya, selama ini banyak santri atau pelajar yang takut mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke luar negeri karena terkendala bahasa, padahal hal itu bukan syarat utama.?

IPNU Tegal

“Bahasa itu penting, tapi bukan yang paling penting. Jadi cobalah setiap ada kesempatan seleksi. Karena pengalaman di luar itu sangat berharga,” demikian keduanya memberi motivasi kepada sekitar 750 Santri Al Fattah.

Pengasuh Pesantren Al Fattah KH Burhanudin HB mengapresiasi terjalinya kerjasama program ini. Menurutnya, pesantren dan kehidupan di dalamnya merupakan ciri khas Islam Nusantara.

?

Ia juga berpesan kepada Staf AFS-Bina Antarbudaya untuk mempelajari budaya Islam Nusantara. “Inilah Islam Nusantara, ceritakan di negara kalian, bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang ramah, Islam yang rahmatan lil alamin,” kata Kiai Burhan.

Dalam sosialisasi kali ini, Staf AFS-Bina Antarbudaya berbagi pengalaman dengan para santri. Mereka ? memberikan informasi yang cukup detail terkait informasi pertukaran pelajar ini.?

AFS-Bina Antarbudaya merupakan lembaga yang mengelola program pertukaran pelajar yang masih duduk di kelas X SMA atau sederajat dengan umur yang ideal. ? Program mengirim peserta dari Indonesia ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Asia.

Melalui program ini, para peserta akan mendapat berbagai pengalaman baru, diantaranya memiliki kompetensi antarbudaya. Keterampilan ini akan membuat peserta memiliki kemampuan beradaptasi di kebudayaan manapun.

Pesantren Al Fattah Kikil, Arjosari, Pacitan, telah menjalin kersama dengan AFS-Bina Antarbudaya Chapter Yogyakarta sejak tahun 2012 lalu. Sejak saat itu, salah seorang santri telah berhasil lolos seleksi dan menjadi peserta AFS ke Jepang selama satu tahun. (Zaenal Faizin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah IPNU Tegal

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

Tasikmalaya, IPNU Tegal - Keluarga besar Gerakan Pemuda Ansor kembali kehilangan sosok pemberani dan murah hati. Wawan, salah satu anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) meninggal dunia, Kamis (9/3) pukul 03.30 WIB, selang beberapa jam selesai menjalankan tugas membantu korban puting beliung di daerah Tamansari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut Haris sesama anggota Banser, Wawan seperti biasanya membantu warga masyarakat yang tertimpa musibah.

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

"Dia itu Ketua RT dan mempunyai jiwa sosial tinggi, tegas, baik, dan perhatian terhadap keluarganya," ujar Haris selesai menshalatkan almarhum.

Haris menceritakan, setelah kejadian puting beliung yang mengakibatkan kerusakan di beberapa tempat, seketika para anggota Banser berdatangan untuk membantu tidak terkecuali almarhum.

IPNU Tegal

"Kami sesama Banser kaget, soalnya malam tadi Wawan bersama Ansor-Banser yang lainnya masih biasa saja, tidak terlihat sakit atau tanda-tanda, tiba-tiba menjelang Subuh kami mendengar kabar duka tersebut," tuturnya.

IPNU Tegal

Dikabarkan, Wawan pulang ke rumahnya sekitar pukul 21.00 WIB setelah membersihkan puing reruntuhan dan pohon tumbang yang menimpa bangunan Pondok Pesantren Miftahul Anwar, Nangela.

Almarhum yang beralamat di Ciharashas RT 01/RW 08 Kelurahan Sumelap ini meninggalkan seorang istri bernama Juju dan empat orang anak. Semoga Almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Allahummaghfir lahu warhamhu waafihi wa`fu anhu.. Aamiin. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Warta, Ubudiyah IPNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Jelang Harlah NU, Muslimat NU Garut Gelar Lomba Pidato Keagamaan

Garut, IPNU Tegal - Muslimat NU Garut menyelenggarakan lomba pidato keagamaan di SMK Ma’arif Garut, Ahad (15/1). Perlombaan yang diikuti 40 peserta ini dimaksudkan untuk melihat potensi ceramah keagamaan di kalangan remaja NU khususnya pelajar di Garut.

Perlombaan ini diadakan untuk memperingati Maulid Nabi sekaligus menyongsong Harlah Ke-91 NU yang diinisiasi oleh PCNU Kabupaten Garut.

Jelang Harlah NU, Muslimat NU Garut Gelar Lomba Pidato Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Harlah NU, Muslimat NU Garut Gelar Lomba Pidato Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Harlah NU, Muslimat NU Garut Gelar Lomba Pidato Keagamaan

Salah seorang panitia, Yayah Haryawati, menegaskan, penyelenggaraan acara ini bertujuan untuk mengembangkan potensi anak muda sehingga pesertanya terbatas pada siswa dan siswi setingkat SLTA atau sederajat di Garut.

“Acara ini diperlukan untuk mencari kader dan mengembangkan potensi anak-anak muda yang nantinya akan jadi penerus,? untuk da’i dan daiyah,” kata Yayah saat diwawancarai di sela-sela kegiatan di SMK Ma’arif Garut.

IPNU Tegal

Peserta berasal dari berbagai sekolah menengah atas dengan tiga juri, yaitu H Ahmad, H Samhari, dan Neneng. Semua peserta akan dinilai sesuai kebolehan dan penampilannya di panggung. Panitia akan mengumumkan tiga orang pemenang dalam kegiatan jalan sehat pada 29 Januari. Semua pemenang dari berbagai perlombaan akan turut diapresiasi pada hari tersebut.

IPNU Tegal

Sebelumnya pada (11/1) pihak panitia menyelenggarakan musabaqah qira’atul kutub, yang disusul dengan lomba paduan suara dan lomba liwet pada (4/1). Pada 16-28 Januari panitia menggelar olimpiade sains dan seni (O2SNU) dan cerdas cermat. Sementara Musyawarah Kerja Cabang NU Garut II (Mukercab II) digelar pada Selasa (17/1).

Pada Ahad (15/1) panitia menutup perlombaan untuk mencari MWCNU dan Ranting NU terbaik sekabupaten Garut yang dibuka sejak (25/12/16) lalu. Sementara pada Selasa-Rabu (31/1-1/2) PCNU Garut akan menyelenggarakan puncak peringatan Harlah Ke-91 NU di Gedung PCNU Garut. (Rohmah Nashruddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Tokoh, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita

Oleh Ahmad Faizal Amin

Pernah suatu masa, bangsa kita sangat disanjung oleh bangsa lain. Bukan hanya karena kekayaan alamnya, namun juga perilaku kita. Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah, penuh sopan santun, gotong royong, dan sikap religius yang sangat kuat. Tak heran jika banyak warga asing yang langsung jatuh cinta kepada Indonesia karena melihat bagaimana orang-orang kita yang sangat beragam dapat hidup dengan damai dengan suasana penuh kekeluargaan dan saling menghargai dengan menjunjung tinggi sopan-santun.

Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita

Orang jawa menyebutnya sopan-santun ini sebagai unggah-ungguh. Orang arab menyebutnya sebagai adab. Orang Inggris menyebutnya sebagai attitude. Meski berbagai macam sebutan, namun dapat ditarik definisi umum bahwa sopan-santun ini mempunyai arti sebagai sikap menghargai dan menghormati orang lain baik yang lebih mudah, lebih tua, maupun karena posisinya di dunia professional.

Meski bangsa kita dikenal dalam tempo sejarah yang panjang sebagai bangsa yang penuh sopan-santun dan religius. Namun, akhir-akhir ini kita melihat ada sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan. Pergeseran pola komunikasi face to face menjadi komunikasi melalui dunia maya sedikit demi sedikit mulai membuat sopan-santun kita juga mulai bergeser. Orang yang dikenal dengan penuh keramahan dan sopan-santun di dunia nyata mendadak menjadi macan yang siap mencengkeram dan menerjang dengan kata-kata yang kasar di media sosial. Caci-maki dan saling lempar umpatan seolah menjadi menu harian yang hampir selalu kita temui di kolom komentar terutama karena perbedaan pendapat dan pandangan terkait isu-isu yang sensitif. Tidak ada lagi batasan umur maupun kedudukan seseorang, asal pendapatnya berseberangan, ya hajar saja.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Yang lebih memprihatinkan akhir-akhir ini adalah fenomena bagaimana ulama kita yang bertahun-tahun belajar, mengaji, kemudian mengajarkan ilmunya ke santri-santrinya dengan mudah diperolok dan dicaci-maki seolah-olah beliau-beliau baru belajar kemarin sore. Ketika seorang yang konon berpendidikan dengan mudahnya menghina sosok ulama kharismatik sekaliber Gus Mus dengan menyebut bagian tubuh yang melambangkan kehormatan dengan sebutan yang amat tidak pantas karena tweet yang berseberangan. Ketika seorang yang notabene lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan mudahnya share foto pribadi wakil ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin, dengan caption yang sangat tidak pantas terkait dengan fatwa MUI yang dianggap politis. Atau ketika para santri gugel dengan mudahnya merendahkan sosok ulama besar semacam Prof. Quraish Shihab dan Prof. Syafi’i Ma’arif karena berbeda pendapat dengannya.

Apa yang salah dengan kita? Mengapa bangsa yang dulu dikenal dengan sopan-santunnya dengan sangat cepat berubah menjadi kumpulan orang-orang celelekan dan tidak tahu adab ketika sudah berada di depan layar gadget? Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Apapun agama kita, di manapun kita belajar, setidaknya kita akan selalu mendapat pelajaran mengenai sopan-santun ini, yang termaktub dalam bab budi pekerti. Di dalam agama Islam, kita menyebutnya sebagai akhlak. Salah satu akhlak tersebut adalah tawadhu’ (rendah hati dan hormat) kepada orang-orang berilmu. Kita akan mudah melihat teladan ini kepada ulama-ulama yang sempat direndahkan ini, salah satu yang paling nyata adalah bagaimana Gus Mus menangis dan memohon bahkan menyatakan bersedia mencium kaki para kiai sepuh untuk menenangkan suasana muktamar NU tahun lalu. Di sinilah kita melihat betapa tinggi rasa tawadhu’ beliau dan seberapa tinggi derajat akhlak beliau.

Bagaimanapun juga agama tidak hanya mengajarkan mengenai akidah, namun juga akhlak. Akidah tanpa akhlak akan membuat orang tinggi hati, merasa dirinya paling mulia hingga merendahkan pendapat orang lain. Akhlak tanpa akidah hanya akan membuat kita bingung dan lupa jati diri kita sebagai muslim, lupa siapa Tuhan kita dan bagaimana kita harus beribadah. Maka, mempelajari keduanya adalah ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan tak dapat dipisahkan.

Sungguh amat tidak pantas kita sebagai orang yang beragama dan terpelajar dengan mudahnya merendahkan para ulama. Bagaimanapun juga, akhlak adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan di era social media ini, terlebih jika sudah berurusan dengan ulama. Pun juga dengan orang selain ulama, akhlak juga perlu deperhatikan. Tentu kita tidak mau mendapat masalah di kemudian hari karena ketidakhatihatian kita dalam ber-social media bukan? Tidak sedikit pelajaran yang dapat kita ambli dari teman-teman kita harus berurusan dengan hukum karena salah memanfaatkan social media. Atau beberapa orang harus kehilangan pekerjaan karena menghina orang lain di media sosial yang ternyata merupakan orang atau relasi penting di perusahaan. Atau beberapa orang yang sulit mendapat pekerjaan karena siulan di media sosialnya membuat recruiter ogah merekrut dirinya. Cukuplah kasus mereka menjadi pelajaran bagi kita. Mari lebih bijak dalam dalam ber-social media. Selalu perhatikan adab dalam ber-social media dan selalu berhati-hati dalam menulis. Ingat, lisanmu adalah pedangmu, socmed-mu adalah harimaumu!

Penulis adalah mahasiswa Teknik Geologi UGM; Exchange Student Tohoku University, Japan; anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)-Sendai, JapanDari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Kajian Sunnah IPNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Jadikan Kiai sebagai Imam dalam Praktik Beragama di Tengah Masyarakat

Pacitan, IPNU Tegal

Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok, KH Luqman Harits Dimyathi menyatakan, pesantren turut bertanggung jawab pada praktik keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat. Pesantren sebagai pewaris ajaran para ulama diakui sebagai pihak yang diserahi tanggung jawab dalam kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikannya pada acara pengajian umum Bakti Santri Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas (IPPAPONMAS) bersama dengan masyarakat Desa Jatimalang, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa malam (19/1).

Jadikan Kiai sebagai Imam dalam Praktik Beragama di Tengah Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadikan Kiai sebagai Imam dalam Praktik Beragama di Tengah Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadikan Kiai sebagai Imam dalam Praktik Beragama di Tengah Masyarakat

Katib Syuriyah PBNU itu mengatakan, pesantren memiliki tugas mengajak masyarakat untuk menjalankan praktik keagamaan yang benar yang sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. Ini sesuai dengan karakter pesantren sebagai risalah rahmatan lil alamin.

"Para kiai, pengasuh pesantren, oleh Allah SWT nanti akan dimintai pertanggungjawaban, sejauh mana pesantren mampu menjaga pengikut Ahlusunnah wal Jamaah dari keterperosokan akhlak dan perilaku keagamaan yang ekstrem," tuturnya.

Oleh sebab itu, pengasuh Pesantren Tremas Pacitan ini mengajak masyarakat dalam melakukan praktik keagamaan agar tidak jauh dari cara beragama dan bermuamalah seperti yang diajarkan oleh para kiai di pesantren. Bila di tengah masyarakat dijumpai persoalan seputar masalah keagamaan, masyarakat dapat meminta penjelasan kepada para santri atau pada kiai di lingkungan pesantren.

IPNU Tegal

"Mari kita jadikan para kiai, pengasuh pesantren sebagai imam dalam praktik beragama kita," jelasnya.

IPNU Tegal

Melalui gerakan Nasional Ayo Mondok, Kiai Luqman juga mendorong masyarakat untuk menjadikan pesantren sebagai pilihan utama dalam menuntut ilmu. "Minimal satu dari putra-putri kita untuk dikirim belajar ke pesantren. Pesantren mana saja, semuanya baik. agar sanad keilmuan dan praktik beragama kita tidak terputus dan terus bersambung hingga Rasulullah SAW,” pungkasnya.

Para santri Pondok Tremas yang berasal dari Kabupaten Pacitan tiap tahun rutin menggelar kegiatan Bakti Santri IPPAPONMAS di tengah masyarakat. Sebagai upaya mendekatkan dan mengenalkan ajaran nilai-nilai kepesantrenan pada masyarakat.

Berbagai kegiatan dilakukan pada Bakti Santri ini, seperti Dakwah bil Hal, Pengajian umum, Semaan Al-Quran, Lomba-lomba, Kerja Bakti membersihkan lingkungan dan Pentas seni bersama masyarakat. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Kiai, Anti Hoax IPNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB

Tegal, IPNU Tegal. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Tegal menggelar Pelatihan Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Pengembangan Keprofesional Berkelanjutan (PKB), di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Bhakti Negara (STAIBN) Tegal, Selasa (26/2). 

Kegiatan itu diikuti oleh 34 peserta yang terdiri dari sekolah Ma’arif tingkat SMP/MTs se Kabupaten Tegal yang mengirimkan pesertanya.  

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB

Dalam laporannya Ketua Panitia, Komarudin mengatakan begitu pentingnya acara itu sehingga Ma’arif NU melakukan kegiatan ini.

“Saya juga sangat berharap ke depan implementasi dari kegiatan ini bisa diaplikasikan, karena penting sekali bagi guru-guru yang bersertifikat, karena ke depan penilaian Kinerja Guru melalui angka kredit. Dan formulasinya harus dilatih dengan baik.”

IPNU Tegal

Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya untuk mempersiapkan para guru di lingkungan Ma’arif agar tidak ketinggalan dengan dinamika pendidikan,“ kata Guru SMKN 1 Dukuhturi itu. 

IPNU Tegal

Sementara ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Tegal H Muslikh menjelaskan persoalan pendidikan di lingkungan NU harus segera dibenahi. Menurutnya Pendidikan di NU saat ini dikelola banyak lembaga atau badan otonom sehingga terjadi tumpang tindih dalam pengelolaanya.

Ia berharap ke depan dari pelatihan ini bisa menyediakan assesor-asseror internal di sekolah masing-masing, karena mungkin ini  pelatihan pertama kali yang di lingkungan Ma’arif dan mungkin sekolah yang berada di lingkungan Kemenag. 

Dalam sesi itu juga ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal, H Ahmad Wasy’ari mengatakan cara bersyukur menjadi guru adalah dengan menjadi guru profesional.

“Dengan bekal motivasi inilah, bapak atau ibu bisa hadir untuk memperkuat kualitas diri menjadi guru profesional.”

 Ia mengatakan, bagi sekolah yang hadir mengikuti pelatihan ini jelas akan mengharapkan berkah, karena telah bersungguh-sungguh ingin mengembangkan sekolah agar lebih baik, karena disana ada amanat yang yaitu peserta didik.

“Jadi jangan main-main karena kita juga mengharapkan berkah dari peserta didik juga,” tukas kepala UPTD Dipora kecamatan Adiwerna itu. 

Redaktur    : Mukafi  Niam

Kontributor: Abdul Muiz T                    

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Khutbah, Lomba IPNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah

Jakarta, IPNU Tegal. Kalangan pesantren atau warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) umumnya sepakat begitu saja dengan pembedaan antara jamaah dan jamiyyah. Jamaah disamakan dengan istilah paguyuban, sementara jamiyah disejajarkan dengan patembayan atau organisasi.

Dalam konteks NU, menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Masudi, pembedaan antara jamaah dan jamiyyah itu malah memunculkan segudang persoalan.

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar Farid Punya Definisi Sendiri Mengenai Jama’ah

Masdar Farid menyampaikan hal itu pada saat memberikan taushiyah kepada ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Pengajian Ahlussunnah wal Jamaah, yang dimotori oleh Pengurus Pusat Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB), di Jakarta, Selasa (22/4).

IPNU Tegal

Jamaah sering diartikan sebagai perkumpulan biasa yang hanya diikat secara tidak ketat oleh kultur yang berlaku di masyarakat setempat. Mereka hanya direkatkan dengan amalan atau kebiasaan yang sama.

IPNU Tegal

Sementara jamiyah adalah sebuah organisasi, dimana orang-orang yang berkumpul disatukan oleh visi dan misi yang sama dan diatur oleh tata aturan organisasi yang ketat dan tertata rapi.

Menurut Masdar Farid, pembedaan antara jama’ah dan jam’iyyah di dalam NU menyebabkan banyak warga Nahdliyyin merasa tidak terikat secara organisatoris dengan aturan-aturan dalam organisasi NU, juga kegiatan atau agenda-agendanya.

Maka pembedaan itu harus dihilangkan. Kiai yang sempat memunculkan opsi mengenai pengabungan antara zakat dan pajak di Indonesia itu mengatakan bahwa terma jama’ah yang sering disebut dalam berbagai literatur Islam justru dimaksudkan sebagai organisasi.

”Ada qoul yang menyatakan bahwa Allah bersama dengan kelompok yang berjama’ah, maka yang dimaksud dengan jama’ah di sini adalah organisasi,” katanya.

Dikatakannya, ibadah shalat yang dilakukan kaum muslimin bisa bernilai 27 derajat apabila dilakukan secara berjamaah, atau berorganisasi.

”Syarat shalat berjama’ah harus ada imam, mamum dan harus ada aturan main yang harus ditaati, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Demikian juga dalam berorganisasi,” katanya.

“Kelompok Muslim baru dikatakan sebagai umat terbaik atau Ahlussunnah wal Jama’ah hanya ketika mereka berorganisasi, berjama’ah. Ingat bahwa di situ ada kata wal jama’ah,” tambahnya.

Kelompok Muslim yang monoritas di dunia seperti Syi’ah, Ihwanul Muslimin bisa sangat kuat dan solid karena direkatkan oleh tata organisasi yang bagus. Sementara kelompok Muslim yang mayoritas yakni Ahlussunnah wal Jama’ah atau Sunni justru tidak bisa berbuat banyak karena tidak diorganisir dengan dengan baik.

Menurut Masdar, satu-satunya kelompok Ahlussunnah wal Jamaah di dunia yang terorganiasir adalah Nahdlatul Ulama (NU) yang berpusat di Indonesia, meski harus diakui bahwa sistem keorganisasian dalam NU berlum terlalu baik.

Sementara itu banyak yang menganggap bahwa berorganisasi adalah cara-cara yang primordial atau kampungan. Menurut Masdar, mereka yang solid dalam berbagai agama adalah anggota salah satu organisasi.

“Jadi anggapan bahwa berorganisasi itu primordial sama sekali tidak beralasan. Dengan berjamaah justru umat Islam dapat melakukan gerakan bersama untuk mencapai tujuan bersama,” katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Khutbah IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

Jakarta, IPNU Tegal - Pimpinan Wilayah GP Ansor dan Banser NTT turut berpartisipasi dalam Pawai Paskah 2016, Senin (28/3). Satu pleton Banser diturunkan guna mengamanakan situasi pengamanan Paskah bersama Polisi maupun TNI. GP Ansor NTT dan GP Ansor Kota Kupang menurunkan satu unit mobil rombongan pawai paskah.

Demikian disampaikan Sekretaris PW Ansor NTT Ajhar Jowe di Kupang.

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

"PW Ansor dan Banser NTT ikut mengamankan Pawai Paskah demi menjaga keberlangsungan situasi Paskah serta menjaga keberagamaan umat beragama di NTT, pada momen hari-hari besar keagamaan," kata Ajhar.

Pihaknya sementara ini melakukan persiapan partisipasi pawai paskah bersama rombongan menuju lokasi pawai di Jalan Eltari Kupang, Depan Rumah Jabatan Gubenrur NTT.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Pawai Paskah, kata Ajhar bagian dari agenda rutin tahunan GP Ansor NTT sebagai pengamanan hari besar keagamaan. Partsipasi dari GP Ansor beserta Banser dilakukan bukan saja momen hari besar agama Kristiani tetapi seluruh umat beragama yang ada di NTT.

Dari pantauan IPNU Tegal, sejumlah pihak tengah mempersiapkan pawai paskah. Seluruh jajaran terkait menghiasi berbagai kendaraan dengan tema Paskah. Terlihat sepanjang jalan WJ Lalamentik, berbagai kendaraan tronton besar menuju lokasi pawai dengan berbagai hiasan menarik. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Khutbah IPNU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

KBNU Cirebon Resmi Laporkan Gapas ke Polisi

Cirebon, IPNU Tegal. Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Cirebon, Selasa (3/3), melaporkan kelompok garis keras yang menamakan diri Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (Gapas) ke Kepolisian Resort (Polres) Cirebon, Jawa Barat, atas tuduhan sebagai organisasi yang kerap melakukan dakwah dengan cara kekerasan dan kerap bertindak anarkis. Terutama terkait peristiwa penggrebekan Pondok Pesantren Nurul Quran yang mereka lakukan pada 15 Februari lalu.

KBNU menuntut agar pihak kepolisian menindak tegas atas apa yang telah dilakukan oleh kelompok tersebut. KBNU juga mengecam akan melakukan tindakan sendiri seandainya tidak ada tindakan tegas dari pihak kepolisian.

KBNU Cirebon Resmi Laporkan Gapas ke Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)
KBNU Cirebon Resmi Laporkan Gapas ke Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)

KBNU Cirebon Resmi Laporkan Gapas ke Polisi

"Kami meminta agar pihak kepolisian menindak tegas atas apa yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Kalau tidak ada tindakan, kami akan bertindak tegas. Hari ini sebagai laporan awal," ujar Ketua Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Kabupaten Cirebon KH Badrudin Hambali, Selasa.

IPNU Tegal

Badrudin juga menilai kelompok tersebut sudah tidak layak lagi untuk hidup di negara Indonesia yang plural, karena kelompok tersebut menganggap paling benar sendiri. Pihaknya juga mengecam segala bentuk dakwah yang dilakukan secara kekerasan.

Menyikapi atas apa yang dilakukan kelompok tersebut, Ketua Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Cirebon Muiz Syaerozie mengaku sudah menyiapkan sedikitnya 20 pakar hukum yang berlatar belakang NU guna merumuskan gugatan kepada kelompok tersebut.

IPNU Tegal

Sebelumnya, pada 15 Februari 2015 lalu sekelompok orang yang mengaku dari ormas Islam mendatangi Pondok Pesantren Nurul Qur’an Desa Setu Kulon Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon yang dianggap mengajarkan aliran sesat dan penipuan dengan menjual benda yang disebut pusaka atau jimat.

Tak hanya itu, kelompok tersebut juga menyarankan MUI Kabupaten Cirebon agar segera megeluarkan fatwa sesat kepada H Idris Nawawi, pimpinan pondok pesantren yang bersangkutan. (Ahmad Imam Baehaqi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Lomba IPNU Tegal

Senin, 27 November 2017

PMII Airlangga Kunjungi Rumah Singgah Anak Penderita Kanker

Surabaya, IPNU Tegal. Sejumlah aktivis PMII Universitas Airlangga mengadakan kunjungan ke Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) jalan Dharma Husada Indah Timur L147, Surabaya, Ahad (17/5). Pada kegiatan bakti sosialini, mereka mengajak anak-anak penderita kanker bermain bersama.

Salah satu pemrakarsa berdirinya YPKAI Surabaya Ibu Hj Rubiyah menyatakan apresiasi atas kehadiran para aktivis PMII. “Sebagai pemuda yang bersedia sedikit menoleh kepada para penderita kanker di tempatnya. Kunjungan kali ini semoga menumbuhkan rasa syukur kita terhadap karunia Allah SWT.”

PMII Airlangga Kunjungi Rumah Singgah Anak Penderita Kanker (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Airlangga Kunjungi Rumah Singgah Anak Penderita Kanker (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Airlangga Kunjungi Rumah Singgah Anak Penderita Kanker

Selain itu, ia juga menegaskan agar PMII Universitas Airlangga mampu menjadi corong bagi para pejuang kecil penderita kanker untuk bersuara di tengah masyarakat bahwa penyakit kanker bukanlah penyakit menular yang perlu dijauhi.

IPNU Tegal

“Terlebih lagi justru penderita membutuhkan sentuhan perhatian dari relawan di sekitarnya,” kata Hj Rubiyah.

IPNU Tegal

Bakti sosial yang berlangsung pagi hingga siang ini berjalan cukup meriah. Dengan sedikit permainan dan kegiatan yang diagendakan para kader PMII, anak-anak penderita kanker mampu tertawa lepas dan sejenak melupakan rasa sakit yang sedang dideritanya. (Alfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Humor Islam, Khutbah IPNU Tegal

Jumat, 24 November 2017

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia

Jakarta, IPNU Tegal - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) menandatangani kerja sama dalam pelayanan jasa perbankan di Muamalat Tower, Kuningan, Jakarta, Senin (20/6) sore. Secara konkret NU DKI Jakarta akan membuka gerai Muamalat di lokasi yang jaringan berjejaring dengan NU DKI Jakarta.

Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah menyambut baik kerja sama kedua pihak ini. Ia mendukung gerai-gerai Muamalat untuk hadir di pelosok-pelosok DKI Jakarta.

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia

Alhamdulillah penandatanganan kesepakatan antara kedua pihak ini berjalan lancar. Saya akan berkomitmen bahwa setelah kesepakatan ini seluruh transaksi PWNU mesti pakai Bank Muamalat Indonesia,” kata H Saefullah.

IPNU Tegal

Ia berharap sosialisasi layanan perbankan berbasis syariah ini dikemas dengan bahasa yang sederhana.

“Saya sebagai Ketua PWNU sudah memulainya. Sejak ini saya menutup semua rekening bank lain,” kata H Saefullah.

Tampak hadir Rais Aam NU KH Makruf Amin, pengurus harian PWNU DKI Jakarta, dan jajaran Direksi Bank Muamalat serta Pimpinan Cabang Bank Muamalat Se-Jabodetabek. (Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kiai, Khutbah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock