Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Jakarta, IPNU Tegal. Pendidikan agama saat ini masih terhenti pada pengajaran ilmu agama, belum mencapai internalisasi nilai.? Pendidikan agama masih lebih terfokus pada aspek afektif, bukan kognitif.

“Pendekatannya masih pada a’malul jawarih (gerak tubuh), tidak sampai a’malul qulub (ketergerakan hati: red),” kata Mustasyar PBNU KH Tholchah Hasan, ketika menjadi narasumber dalam Temu Pakar Pendidikan Islam: Deradikalisasi, Multikultural, Wawasan Kebangsaan, serta PenguatanAkhlakul Karimah, di Jakarta, Senin (24/9).

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Dalam kesempatan itu, Kiai Tholchah mempertanyakan pencapaian pendidikan agama selama ini. “Banyaknya perilaku menyimpang di kalangan pemuda pelajar, seperti radikalisasi, narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas, memunculkan pertanyaan tentang sampai di mana capaian dan pengaruh pendidikan Islam terhadap perubahan perilaku dan sikap peserta didik di sekolah,” ujarnya.

IPNU Tegal

Menurutnya, tidak semua guru agama di sekolah mempunyai kelayakan mengajar agama, baik dari segi penguasaan bahan ajar, performa dalam menjalankan tugas, maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu adanya pembekalan berkesinambungan bagi peguatan penguasaan guru terhadap materi ajar.

IPNU Tegal

“Guru agama selama ini lebih mencerminkan dirinya sebatas sebagai pendidik professional, tidak bisa menjadi pendakwah yang bertanggungjawab terhadap pendidikan spiritual,” katanya.?

Menurut Kiai Tholchah, di luar kompetensi pendidik yang diatur dalam PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khusus guru agama, harus ada 2 kompetensi yang dikuasai, yaitu: leadership dan spiritual. Jika tidak ada 2 kompetensi ini, pendidikan agama di sekolah terasa kering.

Ditambahkan, guru agama selama ini juga kurang menggunakan soft-skill secara kreatif sehingga sulit dalam membentuk lingkungan keagamaan yang mendukung. Selain itu, apresiasi dan dukungan komunitas sekolah juga sering kurang memadai. Akibatnya fasilitas dan sarana pembelajaran pendidikan agama sangat terbatas.

Lebih dari itu, pendidikan agama sebagai saranan pembentukan karakter luhur, membutuhkan figur keteladanan (uswah hasanah). Tanpa itu, pendidikan agama akan kering dan hambar.?

Sayangnya, tambah Kiai Tholchah, keteladanan justru mulai langka di sekolah. Guru agama bahkan tidak mampu menjadi teladan di sekolahnya. Banyak guru agama yang minder di sekolahnya, dan merasa lebih rendah di banding guru lain.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber ? : Kementerian Agama

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Kyai, Nasional IPNU Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Rakernas Muslimat NU Bahtsul Masailkan Nikah Siri

Jakarta, IPNU Tegal. Komisi Bahtsul Masail Rakernas Muslimat NU di Asrama Haji Jakarta, Jumat (4/12) membahas tentang fenomena nikah siri. Bertajuk ‘Fenomena Nikah Sirri, Maslahah dan Mudharatnya Ditinjau dari Aspek Perlindungan Anak dan Perempuan’, Muslimat menghadirkan Rektor PTIQ Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, Komisi Fatwa MUI Pusat Prof Dr Hj Chuzaemah Tahido Yanggo, dan Ketua KPAI, Dr Asrorun Niam Sholeh sebagai narasumber.

Rakernas Muslimat NU Bahtsul Masailkan Nikah Siri (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas Muslimat NU Bahtsul Masailkan Nikah Siri (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas Muslimat NU Bahtsul Masailkan Nikah Siri

Ketua PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa menegaskan, bahwa hasil dari pembahasan ini akan dibawa ke musyawarah yang lebih intens lagi di Surabaya, Jawa Timur selama tiga hari. “Muslimat NU menyoroti dampak dari nikah jika sang suami ternyata menelantarkan istri, bahkan anaknya. Kita tidak ingin perempuan menjadi korban. Apalagi seorang anak yang membutuhkan perkembangan dan pendidikan untuk masa depannya,” ujar Mensos RI ini.

Karena menurut perempuan kelahiran Surabaya ini, banyak regulasi yang menyatakan bahwa anak dari hasil nikah siri tidak tercatat di catatan sipil sehingga tidak bisa membuat akte kelahiran yang seterusnya akan berdampak pada kesulitan administratif,baik sekolah, dan lain-lain.

IPNU Tegal

KH Nasaruddin Umar menerangkan, nikah siri merupakan hal yang tabu di tanah bugis, karena nikah ini tidak direstui oleh orang tuanya. Sebenarnya istilah nikah siri bersebalahan dengan kawin lari, maknanya sama, nikah yang tidak direstui oleh orang tua. Nikah jenis ini cenderung negatif sehingga biasanya tidak dipestakan secara adat.

“Menimbang maslahat dan mudharatnya, nikah siri lebih banyak mudharatnya ketimbang mendatangkan maslahah. Karena nikah ini tidak tercatat di KUA, jika mempunyai anak secara otomatis ? anak tidak bisa mendapatkan akte kelahiran. Padahal akte tersebut sangat penting untuk pembuatan KK, KTP, Paspor, dan lain-lain,” paparnya.

IPNU Tegal

Selain itu, lanjutnya, nikah siri juga akan memberi kelonggaran terhadap praktik poligami. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap pembagian warisan, yang jika pembagian warisan diadakan secara resmi, anak tidak akan mendapatkan warisan. Kemudian, anak dari hasil nikah siri juga hanya akan diakui sebagai anak ibunya, bukan anak bapaknya. “Tentu hal ini tidak masuk akal secara hukum agama sehingga dampak-dampak buruk tadi bisa menjadi alasan fiqh, karena bisa menjadi penghalang seseorang dalam melakukan praktik-praktik sosial dan administratif,” terang Prof Nasar.

Senada dengan Prof Nasar, Prof Chuzaemah juga mengatakan, bahwa praktik nikah siri atau nikah bawah tangan dapat menyebabkan maraknya praktik poligami. “Sewaktu saya menjadi saksi ahli di MK, saya ditanya oleh para penggugat poligami, kenapa sih negara ngatur-ngatur masalah poligami yang sudah diatur di dalam Al-Qur’an?,” tuturnya.?

Chuzaemah menjawab dengan memberi qiyasan ke persoalan haji. Haji merupakan kewajiban setiap muslim, terus kenapa pemerintah ikut mengatur paspor, dan lain-lain. Padahal itu katanya kewajiban pribadi. “Biar tidak tersesat, dan ada yang bertanggung jawab jika mengalami hal-hal yang tidak diinginkan,” ucap A’wan (Dewan Pakar) PBNU ini.

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh menjelaskan, orang yang melakukan praktik nikah siri sesungguhnya berusaha menyembunyikan sehingga jika terjadi konflik keluarga akan berdampak pada penelantaran.

“Tapi peran KPAI dalam perlindungan anak sudah jelas. Yaitu meliputi pemenuhan hak berupa hak pendidikan, hak sosial, hak kesehatan, dan hak agama. Kemudian, perlindungan khusus yang meliputi perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, perlindungan khusus bagi ABH, korban trafiking, penyalahgunaan napza, korban bencana alam dan konflik sosial, serta anak dengan disabilitas,” paparnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Lomba IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Suci Tanpa Deterjen

Mencuci pakaian adalah rutinitas harian bagi semua orang, entah hal itu dilakukan sendiri ataupun dilakukan oleh mesin cuci. Pada dasarnya mencuci pakaian bertujuan membersihkannya dari kotoran dengan menggunakan air. Adapun deterjen merupakan alat bantu mempermudah proses pencucian tersebut.

Secara fiqhy, tujuan mencuci pakaian adalah menjadikannya suci bukan bersih apalagi wangi. Mengingat fungsi pakaian sebagai salah satu syarat yang menjadikan sahnya shalat. oleh karenanya pakaian harus dalam keadaan suci, juga lebih afdhal jika bersih dan wangi.

Pada hakikatnya, mensucikan pakaian yang terkena najis cukup dengan menggunakan air saja, akan tetapi jika dengan deterjen proses pencucian lebih mudah maka tidak ada masalah. Sama sekali tidak ada kewajiban mencuci pakaian harus menggnuakan deterjen. Dalam Kitab Kifayatul Akhyar terdapat keterangan berikut,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Suci Tanpa Deterjen (Sumber Gambar : Nu Online)
Suci Tanpa Deterjen (Sumber Gambar : Nu Online)

Suci Tanpa Deterjen

Syarat mensucikan sesuatu adalah dengan menggunakan air untuk menghilangkan najis, dan cukuplah air yang membersihkan najis.

Karena Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk menjaga kebersihan, dan juga menjadikan bersuci dari najis sebagai salah satu syarat sahnya shalat, maka menjaga kebersihan dan kesucian menjadi prioritas yang senantiasa dilaksanakan.

IPNU Tegal

Dan tanpa memberatkan umatnya, maka pakaian menjadi suci cukup dengan menggunakan air saja, tanpa harus menggunakan deterjen atau sabun cuci. Seandainya mencuci harus menggunakan sabun cuci niscaya akan terasa berat bagi sebagian umat yang tidak mampu untuk memenuhinya. (Pen. Fuad H/ Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Nasional, Hikmah IPNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN

Kuburaya, IPNU Tegal

PMII Komisariat Untan Pontianak memberikan sosialisasi kepada puluhan peserta Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kabupaten Kuburaya Kalimantan Barat terkait merebaknya paham radikalisme di lingkungan kampus. Kegiatan yang didukung Mata Air Foundation dan GP Ansor ini berlangsung di Kecamatan Ambawang, Rabu (4/5) malam.

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Radikal Merebak di Kampus, PMII Untan Kalbar Ingatkan Peserta BPUN

“Ketika kalian masuk ke dunia kampus, akan ada banyak macam perbedaan pemikiran, terlebih disaat baru masuk ke dunia kampus, mahasiswa sangat mudah dipengaruhi dan didoktrin. Maka kalian harus berhati-hati dan mempersiapkan diri dari sekarang, karena kalianlah yang menjadi harapan generasi ahlussunnah waljamaah, di dalam dunia kampus,” kata Abdul Wesi Ibrahim, Sekretaris Umum PMII Untan.

Abdul Wesi menjelaskan mahasiswa sebagai insan yang masih mencari jati diri, wajar jika mudah dipengaruhi. “Sebelum kalian terjun di dunia kampus, persiapkan itu semua” pungkasnya. (Ai, Sf/Zunus)

IPNU Tegal



IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Nasional IPNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

IPNU Tebuireng Siapkan Olimpiade Nahwu dan Aswaja se-Jatim

Jombang, IPNU Tegal. Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur sedang mempersiapkan Olimpiade Nahwu dan Aswaja tingkat Jawa Timur.

"Kegiatan ini dalam mata rangkai menyambut Isra Miraj dan hari lahir NU yang ke-89," kata Abdurrouf, Kamis (23/4). Ketua panitia kegiatan yang bertema “Penguatan peran pondok pesantren sebagai benteng pertahanan Islam ala Aswaja dan NKRI” ini akan berlangsung 8 Mei mendatang dan dipusatkan di Pesantren Tebuireng.

IPNU Tebuireng Siapkan Olimpiade Nahwu dan Aswaja se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Tebuireng Siapkan Olimpiade Nahwu dan Aswaja se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Tebuireng Siapkan Olimpiade Nahwu dan Aswaja se-Jatim

"Seperti diketahui, IPNU merupakan salah satu pilar penyangga pembinaan? generasi bangsa yang bertaqwa, berilmu, berkarya, serta memiliki kedudukan yang strategis sebagai wahana kaderisasi putra dan putri Nahlatul Ulama," kata Ketua PK IPNU Tebuireng, M. Iqbal Abdurrouf.

IPNU Tegal

Dengan kegiatan ini diharapkan akan lahir insan yang bermutu di kalangan generasi muda, khususnya dari? IPNU. "Generasi muda merupakan aset terbesar yang dimiliki bangsa dan negara, karenanya upaya menjadikan mereka terutama pelajar NU sebagai penerus yang mampu mengembangkan bakat, berdedikasi tinggi, dan memiliki komitmen untuk memperjuangkan perjuangan harus menjadi prioritas dan mendapat perhatian dari semua pihak," tandasnya.

Kegiatan juga didedikasikan agar mampu mewujudkan cita-cita IPNU sebagai media dan pelopor dalam setiap aktifitas yang berorientasi keilmuan dalam usaha meningkatkan kualitas? kader. "Juga terjalinnya silaturahim antara pelajar dan santri dengan IPNU," katanya.

IPNU Tegal

Abdurrouf menandaskan bahwa kegiatan akan berisi lomba atau olimpiade dan pengajian umum. Olimpiade dilangsungkan Jumat pagi hingga selesai. "Sedangkan pengajian umum yang menghadirkan KH Ilyas sekaligus pengumuman pemenang dan pembagian hadiah akan dilakukan malam hari," terangnya.

Panitia sangat terbuka menerima pendaftaran bagi kepengurusan IPNU di sejumlah madrasah dan sekolah, termasuk pesantren. "Silakan mendaftar dan mengisi formulir yang telah disediakan panitia," pungkasnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Budaya, Nasional, Quote IPNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Jakarta, IPNU Tegal. Rombongan Kementerian Agama Malaysia mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, Selasa (15/5) pagi. Rombongan yang berjumlah 29 orang ini, disambut baik oleh sejumlah Ketua Umum PBNU dan beberapa pengurus tanfidziyah. Kedua pihak saling mengabarkan kondisi sosial-keagamaan di masing-masing negara.

Dalam kesempatan ? tersebut, Iqbal Sullam, Ketua PBNU sempat mengenalkan profil singkat NU, badan otonom dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya. Pesantren dan madrasah yang menjadi kantong intelektual dan tata nilai moral-kultural NU, masuk dalam profil NU.

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Kedua pihak sepakat untuk mewaspadai gerakan-gerakan keagamaan yang ekstrem, terlebih lagi menggunakan kekerasan sebagai bentuk saluran aspirasinya. Masing-masing pihak, tidak menyetujui segala bentuk kekerasan atas nama apapun dan untuk tujuan apapun.

IPNU Tegal

PBNU menyatakan akan menerapkan, bentuk dakwah yang cocok dengan lokal setempat. “Dengan demikian, NU mengedepankan tawasuth, tasamuh, dan tawazun. Tiga istilah ini mungkin berbeda penyebutannya di Malaysia,” papar Iqbal Sullam disertai anggukan rombongan tamu.

Kedamaian dan persaudaraan bisa terjadi karena NU mendahulukan dan mementingkan 3 persaudaraan. Ketiganya adalah persaudaraan sesama muslim, persaudaraan se-tanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Karenanya, NU menjadi besar disebabkan oleh kalangan ulama yang mengorganisir dirinya dan menyatu dengan masyarakatnya.?

IPNU Tegal

“Kalau di Timur Tengah juga banyak ulama-ulama, namun tidak bisa menyelasikan konflik. Sedangkan kami di Indonesia mampu meredam konflik hingga tuntas,” ungkap Said Aqil Siroj, Ketum PBNU di hadapan tamunya.

Mayjen Dato Seri Jamil Khir bin Baharom, Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Agama) Malaysia, mengungkapkan pihaknya sepakat dengan paparan dari PBNU.

“Kita bangsa Malaysia juga sangat menghargai perbedaan seperti juga Nahdlatul Ulama. Dan kita bangsa Malaysia juga bagian dari persekawanan dengan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Di akhir pertemuan, kedua pihak saling memberikan cendera mata. Pemberian cendera mata adalah bukti sambutan baik PBNU akan kunjungan pihak Kementrian Agama Malaysia. Pertemuan keduanya sempat diliput oleh pers Malaysia dan pers dalam negeri Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Ulama, Nusantara IPNU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Puslitbang Lektur Validasi Terjemah Al-Quran Bahasa Bali

Denpasar, IPNU Tegal - Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Managemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pekan ini menggelar workshop validasi terjemahan Al-Quran ke dalam Bahasa Bali. Kegiatan ini dihelat di Hotel Neo Denpasar.

“Kegiatan validasi ini diarahkan untuk mengecek, melihat secara keseluruhan, secara teliti dan seksama hasil penerjemahan yang sudah dilakukan tahun 2016 kemarin,” ujar Kepala Bidang Manajemen Organisasi Yasin Ansori saat upacara pembukaan, Selasa (5/4) malam.

Puslitbang Lektur Validasi Terjemah Al-Quran Bahasa Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Lektur Validasi Terjemah Al-Quran Bahasa Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Lektur Validasi Terjemah Al-Quran Bahasa Bali

Ia mengatakan, penerjemahan Al-Quran ke dalam Bahasa Bali merupakan satu dari sekian kegiatan yang ada di Puslitbang Lektur. Sampai saat ini, pihaknya telah melakukan penerjemahan Al-Quran ke dalam 15 bahasa daerah.

Menurut dia, penerjemahan ke Bahasa Bali ini unik sekali. Pasalnya, tim penerjemahnya bukan dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) seperti UIN, IAIN, dan STAIN. Akan tetapi dari STAI Denpasar. “Ini barangkali satu-satunya kampus swasta yang bekerja sama dengan kami,” ujarnya disambut aplaus peserta workshop.

IPNU Tegal

Ia menambahkan, proses validasi selama 2017 dilakukan hanya dalam waktu empat bulan, mulai April sampai Juli. “Memang sangat simpel. Karena Agustus harus masuk proses pentashihan oleh LPMQ. Itu nggak bisa ditunda karena telah terjadwal. Kalau sampai tertunda, otomatis menunda kegiatan di belakangnya,” kata Yasin.

IPNU Tegal

Usai validasi, dilanjutkan proses desain selama bulan September. “Lalu, Oktober proses cetak.  Itu kita asumsikan satu bulan selesai. Kemudian November kita akan melakukan audiensi ke Menag dan Gubernur Provinsi Bali,” katanya.

Kerja maraton ini dilakukan karena terjemahan tersebut akan diluncurkan Menag Lukman Hakim Saifuddin pada awal Desember 2017. “Jadi, tahun ini mutlak selesai. Jadi, proses itulah yang melandasi bahwa kerja kita dikejar waktu, hanya empat bulan,” katanya.

Tujuan peluncuran terjemahan ini, kata Yasin, hendak menyampaikan kepada Gubernur Bali bahwa di provinsi yang dipimpinnya sudah ada terjemahan Al-Quran dalam bahasa Bali.

“Ia rencananya akan kami undang saat peluncuran di Jakarta. Setelah diluncurkan, masyarakat langsung bisa menggandakan untuk sosialisasi,” kata Yasin.

Penerjemahan ke dalam sejumlah bahasa daerah ini, lanjut Yasin, merupakan kerja Kemenag di bidang konservasi budaya. “Jadi hasilnya nanti menjadi milik Kemenag, bukan milik lembaga atau perorangan,” tegasnya.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari, Selasa-Kamis, 5-7 April 2017, ini diikuti delegasi sejumlah ormas Islam, antara lain NU, Muhammadiyah, MUI, peneliti serta para akademisi. (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Pertandingan IPNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi

Jakarta, IPNU Tegal

Bagi Suryandaru, dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, proses pembelajaran itu tidak sekadar teori. Tidak sekadar membaca, tapi juga dengan terjun langsung. Itu sebabnya dirinya selalu menyempatkan diri untuk mengajak mahasiswanya kunjungan studi, antara lain ke Pusat Penelitian Pengembangkan Teknologi (Pupitek), Serpong.

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi

Dalam proses pengajaran di kelas, Ndaru juga sering memutarkan video untuk menunjukkan gambaran langsung peristiwa alam yang bisa dikaji dari ? ilmu pengetahuan.

Sebagai dosen yang merupakan bagian dari perguruan tinggi yang salah satu tugasnya adalah pengabdian di masyarakat, Ndaru juga sering terjun ke masyarakat untuk memberikan pelatihan penerapan teknologi, salah satunya adalah pembuatan biogas dari kotoran sapi.

“Ini semacam bentuk aktivitas sosial. Agar mereka bisa melihat teknologi yang bisa mengahasilkan energi dan bisa dimanfaatkan sebagai sumber api,” kata Ndaru, Selasa (1/3) yang saat dihubungi lewat telepon sedang memberi pelatihan di Bintuhan, Kabupaten Riau, Bengkulu.

Ndaru menambahkan bahwa pelatihan-pelatihan tersebut bisa menjadi model awal yang bisa diterapkan di berbagai tempat. Ndaru sendiri menganggap bahwa kunjungan ke berbagai tempat itu sebagai pengabdian ilmu yang dimilikinya.

IPNU Tegal

Ditanya apakah aktivitas dan penelitiannya akan melibatkan UNU Indonesia tempatnya mengajar, Ndaru mengatakan sangat mungkin ke depan akan melibatkan mahasiswa UNU. “Tetapi itu tergantung dari pihak UNU,” Ndaru memberi catatan.

Ndaru yang menyenangi travelling dan karenanya sangat menikmati perjalanan dan kunjungan-kunjungan ke berbagai daerah, menyimpan harapan yang besar agar mahasiswa dan alumni UNU lebih banyak terlibat di masyarakat. Ndaru memandang Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisai masyarakat Islam terbesar di Indonesia yag saat ini sedang ditunggu kiprahnya, terlebih bidang sains dan teknologi.?

IPNU Tegal

“Kita mesti bisa mengonversi pemahaman keislaman kita menjadi wujud nyata di masyarakat. Dengan begitu, NU akan menjadi sahabat terbaik bagi masalah umat manusia di Indonesia bahkan dunia,” terang Ndaru yang baru-baru ini proposal penelitiannya ‘Pengolahan Limbah Seng Menjadi Nano Sengosida sebagai Aplikasi Kemasan Anti Bakteri dan Kosmetik’ disetujui oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek Dikti). (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal IMNU, Nasional IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail IPNU Tegal, belakangan ini kehadiran minimarket tidak lagi bisa dibendung. Pasar swalayan kecil ini sudah menjamur dan merangsek hingga ke pelosok-pelosok dusun. Pertanyaan saya, bagaimana hukum agama memandang pemerintah sebagai pemegang otoritas atas izin usaha tersebut? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (H Sadzili/Banjar).

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberian Izin Usaha Minimarket Berpotensi Mafsadat dalam Syariat Islam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kehadiran minimarket yang menjamur hingga pelosok kampung di Indonesia menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Satu sisi kehadiran minimarket dianggap membawa berkah karena memudahkan masyarakat yang semakin kompleks. Pasar swalayan kecil ini dianggap oleh sebagian masyarakat lebih nyaman dalam berbelanja. Di samping itu minimarket melayani sejumlah kebutuhan masyarakat yang tidak bisa dipenuhi oleh warung-warung kecil yang dikelola warga.

IPNU Tegal

Sisi lain pasar swalayan kecil yang masuk hingga kampung-kampung ini juga membawa serta efek negatif bagi perkembangan usaha kecil masyarakat sekitar. Kehadiran minimarket dengan sendirinya menurunkan daya beli masyarakat terhadap warung-warung kecil di sekitarnya yang pada gilirannya juga gulung tikar.

IPNU Tegal

Kehadiran minimarket ini tidak lepas dari pemberian izin usaha melalui surat izin usaha perdagangan (SIUP) oleh pemerintah. Lalu bagaimana padangan Islam terkait memberikan izin usaha (retail) yang berpotensi menimbulkan mafsadah rakyat sekitar (toko-toko umat)?

Masalah ini diangkat dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama NU yang berlangsung di Mataram pada 23-25 November 2017.

Forum bahtsul masail ketika itu memberikan dua jawaban. Pertama, pemerintah tidak diperbolehkan mengeluarkan izin usaha apabila dampak mafsadah minimarket itu lebih besar dibanding mashlahat yang dirasakan, semisal mengakibatkan terjadinya monopoli harga. Tetapi pemerintah boleh mengeluarkan izin usaha jika mashlahat pasar swalayan kecil itu bagi masyarakat lebih besar.

Forum yang terdiri atas para kiai dari pelbagai daerah di Indonesia ini antara lain mengutip sejumlah pandangan ulama, salah satunya Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?: «?» ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kaidah ketiga adalah dampak mudharat yang lebih besar disbanding maslahatnya. Ketika seseorang menggunakan haknya dengan tujuan mewujudkan sebuah kemaslahatan yang dapat dilakukan, tetapi usahanya menimbulkan mudharat bagi orang lain yang lebih besar dibanding atau setara dengan maslahat yang direncanakan, maka harus dicegah sebagai bentuk preventif, sama saja apakah mudharat itu bersifat umum yang menimpa banyak orang atau bersifat khusus orang per orang.

Argumentasi atas larangan ini adalah sabda Rasulullah SAW, ‘Tidak mudharat dan memudharatkan.’ Atas dasar ini penggunaan hak itu menjadi sebuah kelaliman bila berdampak mudharat secara umum dan ini jelas lebih lebih bahaya dari mudharat secara khusus; atau dampak mudharat secara khusus yang lebih banyak dibanding kemaslahatan pemegang hak, atau lebih bahaya dari mudharat yang diterima pemegang hak, atau setara dengan mudharat orang yang berhak. Sedangkan bila mudharat itu lebih kecil atau masih bersifat spekulasi, maka penggunaan hak usaha itu bukan kelaliman,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, juz 4, halaman 392).

Muncul pertanyaan dalam forum, apakah pemerintah wajib mencabut izin usaha tersebut bila pemerintah sudah terlanjur mengeluarkan izin bagi minimarket tersebut?

Forum ini menyatakan bahwa pemerintah wajib melakukan upaya proteksi ekonomi bagi masyarakat bawah sehingga harus melakukan langkah-langkah yang diperlukan hingga harus mencabut izin. Forum ini mendasarkan pandangannya pada kutipan fikih empat madzhab berikut ini:

? ? ? ? ?: (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengertian sabda Rasulullah SAW, ‘Tidak mudharat dan memudharatkan’ adalah semestinya seorang Muslim menghilangkan mudharat dari saudaranya. Setiap pemimpin apakah ia pemerintah atau bukan wajib melenyapkan mudharat dari para pengikut atau masyarakatnya. Ia tidak boleh menyakiti mereka. Ia tidak boleh mengizinkan siapapun untuk menyakiti mereka. Tidak perlu disangsikan, pembiaran atas masyarakat dengan misalnya ketiadaan regulasi yang dapat memproteksi mereka dari tindakan menyakitkan dan mudharat jelas bertentangan dengan semangat hadits ini. Karena itu, setiap regulasi yang mengandung maslahat dan melenyapkan mudharat diafirmasi dan direstui oleh syariat,” (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ala Madzahibil Arba‘ah, juz V, halaman 193).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, Nasional, Hikmah IPNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud

Bandung, IPNU Tegal 



Ribuan santri dan warga NU Kecamatan Margaasih mengikuti Pawai Ta’aruf Hari Santri Nasional pada Sabtu (21/10). Mereka memulai pawai dari Pondok Pesantren Darul Ma’arif menuju makam penyebar Islam KH Abdul Manaf (Mahmud), kemudian kembali lagi di pondok pesantren semula. 

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud

Pawai dimulai dengan penampilan drum band kolaborasi antara santri Darul Ma’arif dan para orang tua. Kemudian barisan siswa-siswi Madrasah Ibdtidiyah, para guru, orang tua, dan santri mengikuti pada barisan selanjutnya.

Kepala Sekolah MTs Darul Ma’arif Fauzi Mubarok, pihak pesantren mengerahkan sekitar 1200 santri pada pawai itu. Kemudian ditambah warga sekitar. 

Pawai ini merupakan rangkaian dari pelantikan MWACNU dan seluruh Ranting MWCNU di kecamatan Margaasih. Juga pelantikan Lesbumi Kabupaten Bandung. 

IPNU Tegal

Sehari sebelumnya di pondok pesantren itu juga, Lesbumi mengadakan diskusi bertajuk “Lawung Budaya dan Tirakat Sastra” dengan tema “Dasar Pemikiran Islam Sunda dalam perahu Islam Nusantara”. 

Dua narasumber pada kegiatan itu adalah Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto dan Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat Asep Salahuddin. Selepas itu diadakan pelatihan menulis dengan narasumber Iip D. Yahya dan Neneng Yant KH. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Bahtsul Masail, Nasional, Kajian Sunnah IPNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah

Oleh Ubaidillah Achmad

Sehubungan dengan peristiwa bom bunuh diri di Madinah, telah memunculkan banyak spekulasi penilaian terhadap motif seseorang yang memilih siap mati, namun tidak siap melaksanakan darma kehidupan.

Secara psikis banyak motivasi yang menyebabkan peristiwa ini terjadi. Karenanya, saya ingin turut mencoba memahami alasan dibalik peristiwa bom bunuh diri di Madinah. Secara sederhana, peristiwa ini tidak mungkin karena kegilaan pelaku, karena orang gila tidak bisa menyiapkan perangkat yang super dahsyat ini dan menentukan momentum bagaimana ancaman yang mengundang kekhawatiran umat dunia. Yang saya maksudkan dengan pelaku di sini, adalah pelaku yang bisa saja berupa korban dan juga berupa mereka yang memainkan korban.

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Tesis soal Bom Bunuh Diri di Madinah

Sebagai umat Islam, tidak perlu mengkhawatirkan terhadap peristiwa yang sudah terjadi, namun perlu memikirkan lebih serius bagaimana supaya peristiwa ini tidak terjadi? Dengan demikian, kita tidak hanya bisa mengecam, namun juga memikirkan apa yang harus kita perbuat dengan perbuatan kecil, namun bermanfaat untuk umat manusia. Karenanya, umat Islam perlu memikirkan resolusi konflik personal dan komunal yang bersumber dari nilai-nilai keagamaan, bukan justru menjadikan keyakinan agama sebagai sumber konflik kemanusiaan.

Sebelum saya berkesimpulan terhadap peristiwa naas di Madinah sebelum lebaran Idul Fitri 2016, menurut saya ada lima tesis yang bisa kita baca kemungkinannya sebagai penyebab bom bunuh diri tersebut: tesis pertama, karena adanya bom waktu sistem pemerintahan yang menggunakan sistem kerajaan. Hal ini membuat masyarakat sudah tidak puas dengan sistem kerajaan di tengah perkembangan sistem demokratisasi di dunia. Tesis kedua, karena konspirasi kapitalisme global yang ingin menguasai negara-negara penghasil minyak dunia, seperti kawasan Timur Tengah.

IPNU Tegal

Tesis ketiga, kepentingan imperialisme yang ingin menjajah negara yang menyimpan sumber daya alam yang tinggi dengan model atau cara manajemen konflik. Berbeda dengan zaman Perang Dunia II, penjajahan bisa dilakukan dengan cara penindasan pada harkat dan martabat manusia dengan merampas SDA dan menindas SDM. Namum sekarang para imperialis telah melakukan pencitraan atas nama kemanusiaan, sedangkan di sisi yang lain, secara pelan pelan melakukan penjajahan terselubung melalui perspektif akademik dan ilmiah.

Tesis keempat, karena adanya senjata makan tuan, berupa gerakan wahabi yang telah dibesarkan oleh sistem kerajaan di Arab Saudi, bertujuan untuk mendidik masyarakat agar lebih fokus pada ajaran al-Qur’an dan Hadits. Sementara itu, sistem kerajaan Arab Saudi bersumber penuh pada kehendak kuasa sang raja dari keluarga Ibn Suud. Cita-cita gerakan yang baik melalui slogan kembali pada dua wasiyat Nabi Muhammad ini, telah dipimpin langsung oleh para Ulama Wahabi yang didanai langsung oleh kerajaan. Para Ulama Wahabi di Negera Saudia Arabia ini bersikap mendua, yaitu sebagai corong kerajaan yang banyak mengabaikan teks kewahyuan, namun dalam konteks yang lain bersikap sebagai seorang ulama yang selalu berkampanye kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Yang berkembang kuat dapat mempengruhi hukum kerajaan, adalah kepentingan keluarga kerajaan Ibn Saud. Bukti yang menunjukkan hal ini, tidak ada seorang Ulama Wahabi yang berani dengan tegas menolak kebijakan Raja setegas menolak setiap yang bidah dlalalah perspektif Wahabi. Misalnya, kebijakan yang selama ini menjadi ajaran Wahabi anti Barat, namun membiarkan kebijakan raja yang memilih kerjasama dengan Yahudi untuk kepentingan penguasaan minyak. Fenomena ini berjalan lancar tanpa gugatan dari para ulama Wahabi. Yang ironis, dalam konteks kasus di Indoensia, mereka yang Arabis, justru menegaskan, sebagai gerakan anti-Amerika, anti-imperialis dan anti-Barat.

Tesis kelima, adanya gerakan teroris murni yang mengatasnamakan Islam untuk sebuah kepentingan kehendak kuasa dan gerakan pencitraan para teroris di mata aktivis gerakan kelas dunia. Namun karena merupakam gerakan makar, maka gerakan ini tidak mendapatkan dukungan masyarakat dunia. Gerakan teroris ini, telah melakukan pembajakan melaluu gerakan keagamaan yang mengajarkan tentang radikalisme. Hasil pencitraan justru berbalik, telah mendapatkan kecaman masyarakat dunia.

Sehuhungan dengan kelima tesis tersebut di atas, maka dapat dipahami, bahwa ada sistem yang memancing gejala yang bertolak belakang atau kontra produktif terhadap tujuan subjek. Sebaliknya, kelima indikasi yang menguatkan tesis tersebut di atas, telah menjadi kemungkinan terbesar dari dampak sekenario politik kapital. Mengapa kemungkinan ini terjadi, karena hanya negara besar dan super powerlah yang mampu melakukan semua ini.

IPNU Tegal

Pertanyaannya, adalah mengapa kemampuan ini tidak ditunjukkan secara terang terangan? jika secara terang terangan politik imperialis yang merugikan negara sasaran bisa dilakukan kenapa harus dengan cara silend. Karena, sekarang ini telah banyak yang menyadari betapa buruknya dikenal sebagai diktator atau manusia kejam dalam sejarah umat manusia. Beberapa sejarah kelam para penjahat kemanusiaan, tidak ingin mereka ulang dalam sejarah modern. Karenanya, kebijakan politik yang berisiko bagi kemanusiaan telah mereka hindari, sehingga sewaktu hendak memainkan kepentingan ekonomi kapital tidak mendapatkan penolakan dari para calon pelanggan di negara yang mereka katagorikan sebagai negara berkembang. Para kapital, selalu berusaha mencari pelanggan yang baik yang menjaga kepentingan kapital tanpa halangan predikat "sebagai penjahat kemanusiaan".

Meskipun semua tesis tersebut di atas mungkin terjadi pada peristiwa bom di dekat Masjid Madinah, namun dalam perspektif penulis, yang paling mungkin, berupa tesis yang keempat, berupa gerakan pagar makan tanaman. Sudah tidak asing lagi, mengapa di negara arab sering terjadi konflik internal, karena model pembelajaran keberagamaan lebih menekankan pada model fanatisme madzhab dan aliran keberagamaan. Hal yang sama seperti gerakan wahabi di Indonesia yang cenderung lebih mudah membidahkan, mengkafirkan, memusyrikkan kepada individu yang berbeda golongan atau kelompok komunal.

Model seperti ini berbeda dengan model keberagamaan di Indonesia yang cenderung lebih mengedepankan kemajmukan atau keragaman. Kondisi keberagamaan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kondisi historis para leluhur masyarakat nusantara sebelum menjadi bangsa Indonesia, yaitu masyarakat yang terdiri dari berbagai keyakinan dan memiliki aneka ragam kebudayaan dan prinsip moralitas. Dari aneka ragam kebudayaan dan prinsip moralitas ini, terdapat etika universal yang masih menjadi pedoman hingga sekarang, yaitu prinsip binika tunggal ika. Prinsip ini yang telah dirangkum menjadi ideologi Pancasila.

Antitesis dari prinsip karagaman kebudayaan dan keyakinan ini, telah direkonstruksi dan dikontekstualisasikan oleh Walisongo melalui model keberagamaan yang disebut dengan istilah pribumisasi Islam. Pribumisasi Islam Walisongo didasarkan pada model kontekstualisasi pola keberagamaan yang diintegrasikan dengan model kearifan lokal dan prunsip etika Universal.

Jika model keberagamaan walisongo dibandingkan dengan model keberagamaan di timur tengah, maka akan mengalami perbedaan yang signifikan. model keberagamaan di timur tengah terlihat mengabaikan model keragaman sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad, namun justru lebih menekankan pada model yang membedakan peran dan fungsi sosial, antara pendapat sesama umat Islam dan pendapat mereka yang bukan orang Islam.

Oleh karena itu, di Jazirah Arab terjadi banyak konflik yang belum terselesaikan, karena masih banyak umat beragama mejadikan posisinya secara konfrontatif antara dirinya sebagai umat beragama dan pihak lain sebagai kaum yang dzalim, kafir, musyrik, dan munafik. Sementara itu, Walisongo lebih menekankan keberadaannya sebagai sosok yang memiliki kekhasan dan keunikan yang dapat memposisikan diri dalam perbedaan dan keragaman. Strategi Walisongo ini dapat menjadi teori baru dalam resolusi konflik.

Jadi, peran Walisongo di tengah perbedaan bersama pihak yang lain tidak dalam konteks sebagai keberadaan yang konfrontatif, yang harus saling memaksa dan menafikan fungsi muamalah dan fungsi kemanusiaan. Meskipun demikian, Walisongo meyakini relasi suci kosmologis di bawah kekuasaan Allah yang berhak memutuskan penciptaannya.

Sehubungan dengan model keberagamaan Walisongo ini dapat dijadikan sebagai paradigma yang dapat menjadi konstribusi model keberagamaan yang mengembalikan pada model keberagamaan Nabi Muhammad. Model ini, yang sekarang ini justru dilupakan umat Islam dibelahan dunia, khususnya timur tengah.

Karenanya, banyak konflik keberagamaan di belahan dunia dan negara negara Arab, yang bertambah rumit dan runyam, yang seolah justru agama menjadi sumber konflik sosial. Di Timur Tengah kurang menata keragaman di tengah keberagamaan. Misalnya, terjadi pada kasus konflik sunni-syii di Timur Tengah. Sebaliknya di Indonesia, meskipun kebanyakan memilih model keberagamaan Sunni, namun tidak menjadi sumber konflik atas nama pemahaman kedua aliran ini. Beberapa kasus konflik justru disebabkan oleh beberapa orang yang lebih memilih model Arabisme.

Jadi, kesadaran keragaman masyarakat Indonesia dalam keberagamaan, selain telah berlangsung melalui proses pribumisasi Islam Walisongo, juga memiliki sumber historis yang telah menjadi model kebhinekatunggalikaan para leluhur atau nenek moyang bangsa Indonesia.

Ubaidillah Achmad, Penulis Buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Nasional, Pahlawan IPNU Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Kirab Satu Suro, Napak Tilas atau Perayaan?

Solo, IPNU Tegal. Di momentum peringatan malam satu suro tahun ini (24/10), Langit Kota Solo pada malam itu tampak cerah. Warga pun mulai berdatangan untuk menyaksikan sebuah tradisi tahunan yang biasa digelar tiap pergantian tahun Hijriah ini.

Rombongan kirab mulai berjalan dengan formasi rombongan kerbau berada di barisan depan. Di belakangnya mengiringi rombongan yang membawa pusaka dan lainnya. Mereka berangkat dari Kori Kamandungan menuju Brojonolo.

Kirab Satu Suro, Napak Tilas atau Perayaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Satu Suro, Napak Tilas atau Perayaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Satu Suro, Napak Tilas atau Perayaan?

Pengageng Kusuma Wandawa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Puger, mengatakan peringatan malam satu suro ini dilakukan seperti biasa.

IPNU Tegal

“Seperti biasa untuk memperingati Tahun Baru Islam, kerbau dan pusaka dikirab. Dalam perjalanannya budaya ini kan milik semua orang, termasuk kirab ini juga milik semua masyarakat,” kata dia, di sela-sela acara.

IPNU Tegal

Menurut keterangan dari salah satu buku yang dikeluarkan dari Keraton Kasunanan Surakarta, tujuan kirab satu suro ini digelar salah satunya untuk mengingat kembali prosesi perpindahan keraton dari Pajang (Kartasura) ke Solo (Surakarta).

Adapula, versi yang menerangkan bahwa kirab dengan diiringi kerbau ini merujuk pada hal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. ketika memilih tempat untuk dibangun Masjid Nabawi, dengan menggunakan unta al-Qoswah.

“Saya pernah baca di buku Keraton kalau kerbau itu yang menjadi cucuk lampah perpindahan dari Kartasura ke Surakarta,” ungkap Wakil Ketua PCNU Sukoharjo, Sofwan Faisal Sifyan.

Namun, menurutnya tradisi kirab ini hanya sebatas "perayaan" bukan napak tilas. “Kalau napak tilas tentunya dari Kartasura ke Surakarta,” ujarnya.

Meski demikian, Sofwan tetap berharap agar tradisi ini tetap dilestarikan, dengan memperbaiki kekurangan dan penyimpangannya serta mengakomodasi tradisi baru yang lebih baik.

“Soal ada penyelewengan keyakinan rebutan kotoran kerbau, ya itu wajib diluruskan orang-orang terdekat dan bukan dilenyapkan begitu saja,” tegasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara, AlaSantri, Nasional IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Inilah Cara Ahli Tarekat Mendekatkan Diri kepada Allah

Blitar, IPNU Tegal. Untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, anggota Tarekat Al-Mu’tabaroh An Nahdliyah memfida’i ? (mendenda) dirinya sendiri dengan cara menabung dzikir kalimat? Laailaahaillallah sebanyak 70.000 kali.

”Semua ahli Thoriqoh Al-Mu’tabaroh diharapkan bisa mida’i diriya dengan menabung dzikir 70.000 kali. Tabungan ini dimaksudkan untuk bisa lebih dekat kepada Allah. Baik di dunia maupun di akhirat nanti,’’ujar KH. Harun Ismail saat memberikan tausiyah pada penutupan Jamiyah Ahli Thoriqoh Naqshobandi Kholidiyah di Pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Blitar, Senin (23/5) malam.

Menurut kiai Harun, dzikir tersebut tidak harus diselesaikan sekaligus dalam satu majlis. Namun bisa dicicil beberapa kali.

Inilah Cara Ahli Tarekat Mendekatkan Diri kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Cara Ahli Tarekat Mendekatkan Diri kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Cara Ahli Tarekat Mendekatkan Diri kepada Allah

”Mungkin para jamaah setiap hari sibuk dengan pekerjaan. Bisa dikerjakaan seusai shalat rowatib. Misalnya setiap habis shalat wajib kita membaca 100 atau 200 dzikir saja. Kan nanti akhirnya bisa lunas 70.000 bacaan dzikir,’’ ungkap Kiai Harun yang juga anggota Musytasar PCNU Kabupaten Blitar.

Saat ini pimpinan tarekat (mursyid) di wilayah tersebut dipegang KH Diya’uddin Azam-zami setelah menggantikan ayahnya, KH. Ahmad Zubaidi Abdulu Ghofur yang wafat 4 tahun lalu.

Pesantren Mambaul Hikam menjadi pusat Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah untuk wilayah Blitar. Pesantren ini memiliki jumlah santri sekitar 1500. Sedangkan anggota tarekatnya mencapi 5000 orang yang menyebar di Kabupaten Blitar, Malang, Tulungagung, Kediri dan sekitarnya. Setiap Senin malam, kegiatan tarekat di pesantren ini dilaksanakan sulukan.

IPNU Tegal

Selain menjadi pusat kegiatan tarekat, Pesantren Mambaul Hikam ini juga menjadi pusat kegiatan sholawat Nariyah Mughistul Al-Mughits yang memiliki jamaah puluhan ribu orang. Jamiyyah ini dipimpin oleh KH. Sunhaji Nawal Karim Zubaidi Abdul Ghofur yang juga adik kandung Kiai Diya’uddin Azam-zami. (Imam Kusnin Ahmad/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Berita, Nasional, RMI NU IPNU Tegal

Satu Faqih Lebih Utama Dibanding Seribu Abid

Klaten, IPNU Tegal. KH M Nawawi Syafi’i membahas bagian awal bab pertama kitab Adabul Alim wal Muta’allim, yang termuat dalam kitab Irsyadus Sari karya Rais Akbar NU KH M Hasyim Asyari. Pada kesempatan pengajian pelajar NU Klaten ini, Kiai Nawawi membacakan karya Mbah Hasyim yang menerangkan keutamaan ilmu, para penyebar ilmu, dan orang berilmu.

Satu Faqih Lebih Utama Dibanding Seribu Abid (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Faqih Lebih Utama Dibanding Seribu Abid (Sumber Gambar : Nu Online)

Satu Faqih Lebih Utama Dibanding Seribu Abid

Banyak hadits, ujar Kiai Nawawi di tengah pengurus IPNU-IPPNU Klaten, menerangkan keutamaan orang yang menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. “Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda, ‘Seorang faqih (orang yang memahami ilmu agama) lebih berat bagi setan untuk digoda daripada ‘abid (ahli ibadah) yang tidak paham ilmu ibadah.”

Maka dari itu, jika sudah menjadi ahli ilmu, maka harus disebarkan, kata Kiai Nawawi pada pengajian kitab Irsyadus Sari putaran keempat di Gedung PCNU Klaten, Ahad (31/8) pagi.

IPNU Tegal

Pengasuh pesantren Roudlotush Sholihin Batur Ceper Klaten ini berdasarkan karya Mbah Hasyim mengimbau pelajar NU untuk menyegerakan mempelajari ilmu agama. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Nasional IPNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Permintaan Terakhir

Oleh Usmar Ismail

Aku terpekur di tanah merah yang masih basah itu, basah karena hari baru hujan, ditambah oleh air mata, yang aku cucurkan di atas pekuburan yang terletak di tepi hutan, jauh dari kota itu. Perkataannya yang terakhir masih mendengung di telingaku, orang yang baru kukenal ini, tetapi sungguhpun demikian seorang yang telah jadi perintis jalan bagiku.



Permintaan Terakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Permintaan Terakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Permintaan Terakhir

Semasa ia seorang ahli gambar yang termasyhur, sewaktu ia jadi buah bibir orang, aku turuti ia, sedangkan aku orang yang tak bernama, tak bergelar, seorang yang di jalan hanya dapat teguran, “Ah, kau itu, Anu.” Aku turuti ia di dalam hidupnya dari jauh. Teringat aku akan suatu peristiwa, suatu kejadian yang hidup dalam sanubariku, di suatu pertunjukan gambar-gambar, ciptaannya. Aku tertegun melihat keindahan cahaya sukmanya yang membayang di kain yang tergantung di dinding itu.

IPNU Tegal

“Guru dan Murid,” demikianlah nama gambar itu, merupakan seorang tua duduk di atas balai-balai; di bawah, di kakinya, bersila seorang anak muda. Pada wajah orang tua itu tergambar kekuatan batin yang tak terhingga, gores-gores tertera di keningnya, di sebelah menyebelah pipinya, dan kupiahnya berkerumuk menutup kepalanya sehingga sedikit saja kelihatan rambutnya yang putih, di sela di sana-sini oleh rambut hitam; bibirnya membayangkan kekuatan kemauan hatinya yang terdesak, dan tangannya terletak di atas bahu pemuda itu, ringan tetapi kuat.

IPNU Tegal

Di segala, “gerak-gerik” gambar itu tampak olehku guruku yang tak kenal padaku. Hanya ketika aku terdiam, terdiri melihat muka yang berseri itu, terasa olehku bahwa suatu alun meresap ke dadaku, menahan nafasku, suatu alun pengertian di antara dia dan aku. Dan guruku yang tak bernyawa itu, tak mendengar, tak melihat, hanya menerima dengan kesabaran hati yang kukuh, biarpun tak selalu mengaminkan sesuatu dengan begitu saja. Dab aku berkata kepada diriku sendiri, “Sekiranya aku bertemu dengan penderitaan yang sangat, di sinilah tempat aku mendapat perdamaian hati, di temat perjuangan dan penderitaan sehari-hari, pecah, hancur luluh di puncak hari kemarin, dan mudah-mudahan tanggunganku akan lebur menjadi debu dan perdamaian.”

Aku perhatikan anak muda yang duduk di bawahnya itu bersila, menengadah ke atas melihat gurunya dalam ketakjuban dan kehormatan, dan dari sedetik ke sedetik, dari semenit ke semenit aku kenal rupaku di wajah anak muda itu.

Demikianlah asal mulanya aku bergiat, mencoba menggamabar, membayangkan penghidupan di atas layar penghidupan dengan tak mengacuhkan caci pujian, tetapi terus berusaha, tak putus-putusnya, hanya dengan seorang guru yang tinggi perasaan keseniannya, yang tak kenal akan muridnya. Terkadang kalau terlambat pensilku di atas kain, tak berdaya, tak berjiwa lagi akan terus, akan kenang kembali gambar “Guru dan Murid” itu dan berkata aku kepada diriku, “Tidak, aku tidak hendakkan bayangan hidup, tiruan hidup, tetapi aku berkehendak hidup semata-mata.”

Ah, berapa pun uanga akan kubayar, untuk belajar kenal dengan perintis jalanku itu, jikalau ada padaku, tetapi … di dalam hatiku aku takut akan menemuinya. Betapa dambanya aku kadang-kadang akan membawa “ciptaan-ciptaan”ku kepadanya, mempersembahkan kerja yang jauh dari sempurna itu, mengatakan, “Ini hasil cucur peluhku, cacilah aku, katakanlah aku tidak ada kepandaian, buanglah pekerjaanku ke dalam bandar sampah,” tetapi hatiku takut, takut akan perkataan-perkataan itu, jika sekiranya nanti betul dilemparkannya ke mukaku.

Tak dapat tiada aku akan patah, jatuh, tak akan bangkit lagi, sebab terasa olehku, aku bergantung kepada guruku seperti seorang bergantung di akar yang tak kelihatan pangkalnya, sedangkan di bawahnya lembah yang dalam.

Oleh karena itu aku jauhakan diirku daripadanya, dan dengan tumpuan batin gambar yang telah terguris, tak dapat dihapus dari kalbuku itu, aku capai tingkat yang tinggi dalam dunia kesenian. Dan ketika aku mesti bercerai dengan “Guru”ku karena diundang orang ke luar negeri, coraknya masih gillang-cemerlang, biarpun tak gemerlapan seperti dahulu lagi.

Ketika aku kembali pulang, tiga tahun kemudian, tak ada kedengaran namanya lagi. Aku tanyakan ke sana-sini. Hingga pada suatu hari, ketika aku duduk di serambi muka rumahku, lalu seorang berjual gambar. Ia berhenti di muka rumahku, melepaskan lelah, menghapus peluhnya, dan karena aku senantiasa memperhatikan buah seni-seni yang tersembunyi, aku hampiri orang itu. Seorang pembeli sedang menawar sebuah gambar yang aku kenal, yang telah jadi teladan bagiku, yaitu gambar “Guru dan Murid”.

Kalau sekiranya aku tak kenal betul akan ciptaan “guru”ku niscaya aku akan terperdaya oleh tiruan itu. Si pembeli tadi menawar satu rupiah, sedangkan si penjual meminta serupiah setengah.

Mendengar harga yang disebut-sebut itu, mendidih darahku, bukan buatan marahku.

“Tunggu dulu,” aku berseru, “tahukah Tuan-tuan, bahwa gambar ini sepuluh tahun yang lampau harganya seribu rupiah, dan sekarang Tuan-tuan berani menjual atau membeli serupiah setengah?”

“Tetapi gambar ini kemarin baru siap,” jawab tukang jual itu.

Ketika itu jelas padaku, bahwa catnya masih baru, hilang marahku, hanya sekarang berganti dengan perasaan benci yang tak terhingga, benci terhadap orang yang meniru ini, yang menjual jiwa dan sukma seorang ahli seni yang besar. Dan ketika kulihat gambar-gambar yang lain, teringat olehku bahwa gambar-gambar lain itu pun pernah kulihat dahulu, dan sesudah kuperhatikan seketika, nyatalah padaku, bahwa ini barang tiruan semata-mata.

“Bang!” kataku kepada orang penjual itu,”kalau Abang bawa aku ke tempat orang yang membuat ini, aku beri Abang nanti persen lima rupiah.” Segera orang itu mau dan kami pun berangkatlah menuju sebuah kampung tak jauh dari kota. Tak lain maksudku, hanya hendak mengata-ngatai si peniru yang tak berperasaan itu.

Di tengah jalan aku perhatikan terus gambar-gambar itu dan makin lama kulihat, makin terharu pikiranku, karena barang tiruan itu tak dapat disangkal, diperbuat dengan tangan yang cakap dan tumbuhlah syak wasangka dalam hatiku yang membuat hatiku berdebar.

Setiba kami di sebuah kampung yang belum pernah aku jejak, dibawa aku oleh si penjual tadi ke sebuah pondok bambu, rendah dan tak teratur tampaknya.

“Silakan Tuan,” katanya dan berseru ia dari luar ke dalam,” Tuan, ini ada tamu!”

Dari dalam rumah itu kedengaran suara yang lemah, tak tegap lagi, ”Suruhlah masuk, Din!”

Aku masuk dan sejurus kemudian aku tertegun, hatiku bedebar, tak salah lagi, yang duduk di atas balai-balai ini ialah guruku, telah agak tua tampaknya, kupiahnya bekerumuk di atas kepalanya dan dari sana sini tersembur dari dalam tutup kepalanya itu rambut putih. Tak tahan hatiku lagi, aku meniarap di bawah lututnya, tak sadarkan diri. Ketika aku angkat kepalaku, heran aku melihat wajah yang tenang itu, sedikit pun tak terlihat keheranan di mukanya yang pucat itu.

“Kaulah yang aku nanti-nanti, Nak,” katanya, “harapan inilah yang memberi aku tenaga untuk hidup terus.”

“Aku yakin,” sambungnya lagi, “gambarku yang satu itu akan memutuskan penderitaanku. Lihatlah kita sekarang, tak ubahnya seperti gambarku dahulu. Aku kenal akan kau, Anakku. Aku turuti engkau semenjak cahayamu mulai terang bersinar dan aku mengerti, engkaulah yang akan menggantikan kedudukanku dalam kesenian Indonesia yang sepi ini. Sekarang aku bersyukur kepada Yang Maha Esa.”

Aku bercerita pula tentang segala hal yang aku alami, dan kunyatakan terima kasihku kepadanya yang tak terhingga.

“Tak usah kau mengucapkan terima kasih pula lagi; pada waktu ini akulah yang sangat bergirang hati, karena masih ada seorang di atas dunia in yang ingat kepadaku; bersuka hati buat pertama kali semenjak … isteriku meniggalkan daku. Semenjak itu tak datang lagi hasrat padaku hendak menggambar. Hilang segala kekuatanku; terkadang aku coba jua dengan bersusah payah, tetapi sia-sia belaka. Tak terperikan perasanku pada waktu itu, kelemahan yang tak terhingga. Perassaan untuk menciptakan sesuatu yang baru, telah hilang, ibarat sebuah lilin yang makin lama makin kurang jua terang nyalanya, pada akhirnya padam, tak dapat hidup lagi. Berkali-kali aku bertempur, kemauan ada, tetapi daya tak ada, karena setiap aku ambil pensilku hendak memulai suatu gambar, hilang kekuatan tanganku.”

“Dan ketika habis uangku, tak lain jalan hanya mengulang-ulang kaji yang lama, membuat gambar yang telah kuciptakan dahulu. Bagaimanakah sekarang penghargaan kepada gambarmu, Nak?

“Tidak seperti dahulu lagi,” sahutku. Bukannya karena orang tak lagi menghargai kesenian, tetapi terkadang uang yang hendak dikeluarkan untuk itu lebih baik lagi dipergunakan untuk yang lebih perlu.”

Ia diam, terpekur.

“Tak usah kau bersusah hati, Nak. Nasib ahli seni sekaliannya sama, seperti hari cerah di waktu pagi, tetapi kian lama kian kelam jua, hingga akhirnya datang awan hitam menutup bentangan langitnya,” ujarnya, setelah hening sejurus.

“Sungguhpun demikian,” sambungnya pula dengan suara yang terharu,”jangan kau berputus asa, sedetik pun jangan, sebab di waktu sekejap mata itulah kadang-kadang menyerang suatu kodrat yang meruntuhkan apa yang telah kita tegakkan dengan bersusah payah.”

Ia berhenti sebentar, mengambil nafas panjang.

“Sekarang, sementara badanku masih mengandung nyawa, ada permintaanku kepadamu…”

“Ah, Bapak jangan berkata begitu,” aku memotong perkataannya. “Seharusnya Bapak beristirahat dahulu, bersenang-senang di tempat saya dan insya Allah, akan kembali lagi kelak apa yang telah hilang buat sementara itu…”

“Tidak, Nak tak usah, dan lagi aku telah tahu, aku takkan lama lagi di dunia yang fana ini, oleh karena aku sendiri pun tak begitu berkehendak lagi akan hidup… Tidak, bukannya aku seorang yang tak berterima kasih kepada Tuhan, tetapi… ah, apakah gunanya bercakap tentang hal ini lagi. Permintaanku Nak, buatkanlah aku suatu gambar, ciptaanmu, sebagai balasan gambarku dahulu. Lihatlah di dinding itu, aku simpan buat Nak.”

Aku menoleh dan di dinding yang ditunjukkannya itu kelihatan olehku gambar “Murid dan Guru,” kotor tak pernah dibersihkan penuh debu, tapi sungguhpun demikian masih mempunyai sinar yang membayang dari bawah kotoran yang menutupinya itu. Terharu pikiranku bukan buatan, hanya Allah saja yang mengetahui, bagaimanakah gerangan.

***

Lima hari lamanya aku bekerja, berusaha mencari “tumpuan”, tapi suatu pun tak masuk dalam dadaku, hilang rasanya segala kekuatanku untuk menggambar; pada waktu subuh, telah mulai aku duduk di muka kain gambarku dan apabila telah terbenam matahari, kainku masih putih, di sana-sini tercoret oleh warna-warna yang tak berkententuan. Sehingga, pada hari keenam aku dipanggil orang, mengatakan guruku menyuruh aku datang.

Aku dapati ia terbujur di atas balai-balai, aku hampiri dan aku singgung lengannya. Lambat matanya baru terbuka dan ketika aku tegur, bertanya ia, “Kau itu Nak? Cobalah lihatkan kepadaku gambarmu itu.”

Aku tertegun, tak tahu apa yang harus kukatakan, hatiku dalam perjuangan, sebab suatu akal timbul dalam dadaku. Tetapi sebentar kemudian aku lemparkan ingatan itu jauh-jauh dari diriku, “Tidak! Aku takkan mengecoh orang tua ini.”

“Mana, Nak” tanyanya sekali lagi, sayup-sayup terdengar. Mendengar suaranya yang lemah itu, patah pula ketetapan hatiku, aku pergi ke dinding dan aku ambil gambar “Guru dan Murid” itu dan aku peragakan kepadanya, sedangkan pada batin bukan main maluku, karena telah mempermain-mainkan guruku yang tak berdaya itu. Tetapi lama kelamaan timbul perasaan lain dalam kalbuku mengatakan bahwa semestinyalah aku tak boleh mengganding guruku yang besar itu dan mulailah tenang hatiku.

Sungguhpun demikian, sekarang di atas tanah, tempat ia tidur selama-lamanya tak putus-putusnya aku menyesali diri, “Sehendaknya aku meluluskan permintaannya yang terakhir, sehendaknya…” Dan terkadang malu aku kepada diriku sendiri karena tak sanggup, tak berdaya, tetapi kemudian pula berpikir aku, “Bukankah ia guruku?” Sebenarnya ia guruku, biarpun ia telah terbujur, terbelintang berkalang tanah, dan aku muridnya, biarpun aku masih hidup bermegah di atas dunia. Mudah-mudahan Allah memaafkan daku, dunia akhirat, tak lain pengharapanku lagi!

Panji Pustaka, Th. XX No. 17, 1 Agustus 1942

USMAR ISMAIL, dilahirkan di Bukittinggi, Minangkabau, 20 Maret 1921. Pendidikan: AMS-A II Yogya, Sekolah Menengah Tinggi Jakarta, tamat 1943. Pada waktu penjajahan Jepang, Usmar dikenal sebagai pengarang yang produktif, melahirkan sajak-sajak, cerita pendek, sandiwara. Ciri khas dari karya-karyanya adalah keagamaan dan kebangsaan.

Usmar mendirikan sandiwara penggemar “Maya” pada permulaan tahun 1944, sebagai imbangan terhadap badan propaganda “Pusat Kebudayaan”. Sesudah Proklamasi Indonesia merdeka, pindah dari Jakarta ke Yogya dan mendirikan Majalah Tentara dan Patriot, yang kemudian menjadi harian dan majalah kebudayaan dan kesusasteraan Arena.

Di tahun 1962, Usmar bersama Djamaluddin Malik, Asrul Sani, Anas Ma’ruf bergabung di Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia, sebuah lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

Kemudian Usmar lebih dikenal sebagai tokoh film. Film Darah dan Doa dijadikan sebagai tonggak hari film nasional. Dan ia ditetapkan sebagai Bapak Film Indonesia

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional IPNU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Warga NU Jangan Lari dari Ulama

Probolinggo, IPNU Tegal. Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah menyampaikan bahwa warga NU hendaknya jangan menjauh dan lari dari ulama, namun berupayalah untuk selalu dekat dengan para ulama.?

Warga NU Jangan Lari dari Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Jangan Lari dari Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Jangan Lari dari Ulama

Hal tersebut disampaikan peringatan Harlah ke-93 NU yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Wonomerto bekerja sama dengan Madrasah Diniyah (Madin) Infarul Ghoy Desa Pohsangit Tengah Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo, Selasa (3/5) malam.

“Ulama sebagai pewaris para Nabi sebagaimana telah banyak pijakan hukum baik Al-Qur’an maupun Al-Hadis yang menjelaskannya,” katanya.

Nahdlatul Ulama menurut Abdul Hadi sangat besar secara kuantitas. Oleh karena itu, hendaknya dibarengi juga dengan besar dan hebatnya kualitas. “Besar barokahnya bagi siapa yang mau berpegang berjuang menjalankan ajarannya yakni Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah,” tegasnya.

Menurut Abdul Hadi, NU sebagai salah satu ormas Islam keagamaan seharusnya juga bisa berperan aktif, jangan pasif dalam menyikapi setiap perkembangan. “Di era saat ini banyak sekali tugas yang harus kita mainkan, mulai penanganan merosotnya moral para remaja, paham keagamaan dan aliran hingga penanganan serta pencegahan narkoba perlu kita galakkan dengan memberikan penerangan melalui pengajian umum atau melalui pendidikan diniyah di masyarakat kepada para generasi muda kita,” tambahnya.

IPNU Tegal

Hal senada juga disampaikan Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Syuhada’ Nasrullah. Menurutnya, umat Islam saat ini harus peka sosial, peka bermasayarakat sehingga akan terbangun kebersamaan yang bisa mewujudkan perdamaian.

Sedangkan Habib Qushay Bin Abdullah Assegaf memberikan ceramah sangat detail sekali akan pentingnya peran Nahdlatul Ulama di tengah kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.?

“Ulama adalah bagian terpenting dalam menegakkan amar ma’ruf nahyu anil munkar. Saya menghimbau agar putra-putri warga NU di sekolahkan di pendidikan Islam seperti madrasah diniyah dan pondok pesantren. Harapannya kelak mereka akan menjadi generasi yang bisa mengarahkan umat pada jalan yang benar, mampu menjadi pencerah dalam kehidupan, selamat dunia dan akhirat,” katanya.?

IPNU Tegal

Sementara Ketua MWCNU Wonomerto KH. Muh. Hasan Sidik berharap harlah ini akan membangkitkan ghirah para penjuang NU untuk terus bangkit dalam khidmat kepada Nahdlatul Ulama (NU). Adanya madrasah diniyah tidak lepas dari adanya para pejuang NU sebelumnya.

“Saya sebagai penerima tongkat estafet dari para pendahulu, bersama dengan para pengurus yang lain semoga mampu menjalankan amanah ini dengan baik. Sehingga mampu memberikan yang terbaik bagi Nahdliyin di Kecamatan Wonomerto,” katanya.

Peringatan Harlah ke-93 NU ini diawali dengan pembacaan istighotsah bersama-sama. Kegiatan ini diikuti oleh segenap jajaran pengurus mulai dari Tanfidziyah dan Syuriyah mulai dari lembaga dan badan otonom MWCNU Kecamatan Wonomerto. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Jadwal Kajian, Nasional, Olahraga IPNU Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Jangan Libatkan Gus Dur Soal Pelarangan Pemutaran Kaset Pengajian

Awalnya saya cuek saja ketika JK (wapres Jusuf Kalla) mengumbar sensasi dengan melarang pemutaran kaset pengajian di masjid, karena itu saya anggap sebagai upaya kurang kerjaan seorang Wapres yang mengurus-urus masalah sepele dibanding bicara blak-blakan soal kondensat. Namun lama kelamaan hal itu mengusik saya ketika seorang Jubir JK Husain Abdullah, membawa nama Gus Dur untuk mengamini pernyataan JK.

Persoalan pemutaran kaset pengajian selayaknya bukan wilayah Wapres mengurusi, karena pekerjaan dia lebih banyak dan yang lebih menantang ketimbang mengurus persoalan sepele. Pun juga jika sifatnya himbauan, selayaknya disampaikan dan didiskusikan terlebih dahulu dengan beberapa ormas seperti NU, Muhammadiyah, atau dengan lembaga Majelis Ulama Indonesia.

Sebagai simbol negara tentunya Wapres harus mengerti posisinya seperti apa. Rakyat Indonesia yang kompleks dalam semua hal termasuk faham dan aliran, serta agama. Mungkin bagi sebagian kelompok hal itu menguntungkan untuk dimanfaatkan demi kepentingan golongan, namun bagi kelompok lain justru menyakiti perasaan umat.

Jangan Libatkan Gus Dur Soal Pelarangan Pemutaran Kaset Pengajian (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Libatkan Gus Dur Soal Pelarangan Pemutaran Kaset Pengajian (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Libatkan Gus Dur Soal Pelarangan Pemutaran Kaset Pengajian

Seharusnya, sebagai seorang yang berada dalam pemerintahan, JK lebih hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan, karena seperti itu dapat direduksi sebagai komoditas politik yang justru akan merugikan pemerintahannya. Dalam konteks menjalankan peribadatannya, seharusnya setiap warga negara memperoleh kebebasan yang sama, dimana toleransi dapat dilaksanakan dengan baik, dan dimusyawarahkan dengan baik. Juga  tidak mudah mengumbar pernyataan yang tidak didukung argumentasi dan hasil penelitian yang logis.

JK yang saya tau, selain seorang Wapres, beliau juga termasuk seorang mustasyar PBNU. Dimana posisinya tersebut berfungsi sebagai penasehat. Dengan posisi yang dituakan di NU seharusnya, hal tersebut menjadikan beliau berfikir seribu kali dalam mengumbar pernyataan, tanpa penjelasan yang logis dan masuk akal. Berdasarkan pengamatan, pemutaran kaset jelang sholat (magrib dan subuh), itu telah dilakukan sejak dulu, dan itu telah menjadi budaya dalam masyarakat. baik masjid yang ada di lingkungan masyarakat NU maupun Muhammadiyah, hal tersebut sama-sama dilakukan, dan sampai saat ini saya belum pernah mendengar adanya komplain persoalan itu. Intinya hal yang dilakukan oleh Wapres tidaklah masuk akal, justru dianggap memberhangus dan menggikis metode pelaksanaan dakwah.

Adanya azan yang dikumandangkan oleh Bilal di atas menara, ketika zaman Rassulollah SAW, adalah berkepentingan untuk mengingatkan waktu sholat dan sekaligus dakwah bagi umat muslim. Dalam perkembangan teknologi dan metode komunikasi, akhirnya azan diperdengarkan lewat pengeras suara, agar jangkauan lebih luas dan jelas terdengar di lingkungan masyarakat. Demikian juga  adanya pengajian dan sholawat menjelang azan, saya rasa itu adalah bagian dari metode dakwah itu sendiri.

IPNU Tegal

Jika argumentasi adanya pengajian itu menganggu kebebasan dan kenyamanan, saya kira itu kurang tepat. Adanya lantunan pembacaan ayat suci Al Qur’an dan Sholawat justru membuat ketentraman hati pendengarnya.

Saran sekaligus masukan bagi Wapres dan Juru Bicaranya, jangan membawa nama Gus Dur jika ingin membangun pembenaran opini. Setahu saya belum pernah rasanya saya mendengar Gus Dur melarang hal yang demikian. Jikalau pun melarang pastinya PBNU juga harusnya sudah mengeluarkan fatwa tentang hal itu, dan rasannya saya belum pernah mendengar fatwa PBNU tentang pelarangan hal itu.  Statement yang dikeluarkan oleh Wapres sejatinya telah melukai perasaan mayoritas umat muslim, jangan ditambah lagi menyeret nama Gus Dur, karena itu akan lebih melukai perasaan warga Nahdiyin.

Lilik Agus Purwanto, warga Nahdliyin tinggal di Jakarta.

 

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Tokoh IPNU Tegal

Senin, 13 November 2017

KLH Way Kanan: Ansor Membuat Kami Memiliki Teman

Way Kanan, IPNU Tegal. Kepala Kantor Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Way Kanan Provinsi Lampung Rinaldi mengapresiasi PC GP Ansor yang mengajak elemen masyarakat, organisasi kepemudaan, organisasi profesi guru dan wartawan di daerah itu untuk berpartisipasi pada gerakan aksi amal nasional bertajuk "Bergerak untuk #IndonesiaBebasSampah2020."

KLH Way Kanan: Ansor Membuat Kami Memiliki Teman (Sumber Gambar : Nu Online)
KLH Way Kanan: Ansor Membuat Kami Memiliki Teman (Sumber Gambar : Nu Online)

KLH Way Kanan: Ansor Membuat Kami Memiliki Teman

"Upaya tersebut membuat kami yang selama ini merasa sendiri menangani persoalan lingkungan hidup menjadi merasa memiliki teman dengan adanya silaturahmi sejumlah organisasi non goverment membahas aksi Bergerak untuk #IndonesiaBebasSampah2020. Terima kasih atas prakarsanya," ujar Rinaldi melalui Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian (Kasi Wasdal) Arif Radigusman di Blambangan Umpu, Sabtu (6/2).

Hadir dalam pertemuan di KLH Way Kanan antara lain Pemuda Muhammadiyah, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah), GP Ansor, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Palang Merah Indonesia (PMI), Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Sekolah Beladiri Karate Indonesia (SKBI), Lembaga Perlindungan Anak, Pemuda Peduli Lingkungan dan Alam (Pemula) dan alumni Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN).

IPNU Tegal

Organisasi-organisasi tersebut berkomitmen untuk beraksi pada 21 Februari 2016 pukul 06.00 WIB dari sejumlah titik dan berkumpul di Monumen Mayjend Ryacudu pukul 10.00 WIB.

"Dengan segala keterbatasan dan kondisi, KLH Way Kanan berkomitmen untuk mendukung gerakan semacam itu. KLH Way Kanan berharap, isu lingkungan hidup bisa dianggap oleh masyarakat sehingga mereka bisa mengerti dan paham mengenai apa dan bagaimana lingkungan hidup. Persoalan lingkungan hidup persoalan kita bersama sehingga perlu bergandeng tangan dalam mengatasinya," ujar Arif lagi.

IPNU Tegal

Islam adalah rahmatan lil alamin, yang mana syariatnya tidak hanya untuk umat islam saja tapi bagi semesta alam sebagai Rahmat dari Allah. Bahkan diutusnya Nabi Muhammad adalah sebagai rahmat, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Anbiya: 107 ? ? ? ? ?. Wamaa arsalnaaka ilaa rahmatal(n)-lilaalamiin(a). "Tidaklah kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekian alam."

Dalam surat Ar-Ruum: 41 Allah SWT berfirman: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Zhaharal fasaadu fiil barri wal bahri bimaa kasabat aidiinnaasi liyudziiqahum badhal-ladzii amiluu laallahum yarjiuun(a). "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, (yang) disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

"Menjadi penting bagi Gerakan Pemuda Ansor mengimplentasikan firman melalui perbuatan, salah satunya ikut serta menjaga lingkungan hidup. Terima kasih buat sahabat-sahabat dan saudara-saudara kami yang memiliki persepsi sama mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan hidup untuk saat ini dan esok. Kami juga mengundang organisasi lain di daerah ini untuk beraksi bersama pada 21 Februari," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto.

Pada aksi tersebut nantinya, Ketua Pemuda Muhammadiyah Munawar menyatakan siap menampung sampah bisa didaur ulang seperti botol air mineral sehubungan pihaknya memiliki bank sampah "Bumea". (Disisi Saidi Fatah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kyai, Nasional, Hadits IPNU Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Ketua PBNU: Jangan Jadi Bangsa Fotokopi!

Jakarta, IPNU Tegal. Dalam diskusi panel yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi swasta, Rabu (11/9) lalu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Slamet Effendy Yusuf, menegaskan sikap penolakan NU terhadap penyelenggaraan Miss World 2013 yang akan diadakan di Bali.

Sikap KH Slamet Effendy mengulang pernyataan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj yang sebelumnya juga menyatakan menolak terhadap penyelenggaraan kontes ratu sejagat di Indonesia.

Ketua PBNU: Jangan Jadi Bangsa Fotokopi! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Jangan Jadi Bangsa Fotokopi! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Jangan Jadi Bangsa Fotokopi!

“Tidak boleh melihat persoalan Miss World di Indonesia atau di mana. Yang harus diperhatikan yakni masalah manfaat dan tidak manfaat. Kami melihat kegiatan ini lebih banyak banyak mudlorot daripada manfaatnya,” tegasnya.

IPNU Tegal

Menurutnya bangsa ini janganlah menjadi bangsa fotokopi. “Indonesia sebuah entitas yang punya kepribadian dan tradisi tersendiri, dan NU berkewajiban ikut menjaga tradisi ini,” imbuhnya yang saat itu mengenakan peci dan jas hitam.

IPNU Tegal

“Ketika kita akan menjangkau masa depan, kebudayaan apa yang akan kita siapkan, kekayaan kebudayaan peradaban bangsa ini atau cuma mencontoh,” lanjutnya.

Selain itu ia menilai bahwa penyelenggaraan Miss World ini penuh dengan aroma komersialisasi dan kapitalisasi perempuan. Dia mencontohkan, para peserta kontes ratu sejagat ini, mesti memenuhi beberapa kriteria khusus seperti tinggi dan bentuk badan.

“Meskipun sekarang dikamuflase tanpa bikini, tapi pada prosesnya tetaplah ada semacam eksploitasi terhadap tubuh wanita,” kata Ketua PBNU ini.

Pernyataan ini didukung oleh pengakuan salah satu narasumber, Rhenald Kasali. Ketika pernah menjadi juri dalam sebuah kontes kecantikan, ia memeilih seorang peserta yang menurutnya, merupakan yang paling cerdas. “Tapi setelah dirapatkan dalam juri senior tetap saja dihadapkan pada aturan internasional, ini kurang tinggi dan sebagainya,” ungkapnya.

Namun, ketika diberi pertanyaan apakah NU akan menggunakan ancaman atau kekerasan dalam penolakannya seperti halnya yang dilakukan ormas lain, dijelaskan olehnya cara penolakannya tentu masih di dalam koridor hukum. “NU bukan Ormas, yang model awas gue bakar lho,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional IPNU Tegal

Kamis, 02 November 2017

Jama Shalat Karena Kesibukan

Shalat adalah kewajiban bagi setiap orang muslim, kapanpun dan dimanapun. Artinya kewajiban shalat tidak tergoyahkan oleh ruang dan waktu. Namun, dalam realita kehidupan manusia, seringkali keadaan berbicara lain.

Bisa saja kondisi tidak mengizinkan seseorang menjalankan shalat secara sempurna, misalkan karena orang tersebut di dalam perjalanan, atau di atas perahu atau di ruang angkasa berjam-jam.

Jama Shalat Karena Kesibukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jama Shalat Karena Kesibukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jama Shalat Karena Kesibukan

Oleh karena itulah dalam fiqih mengajarkan jama’ shalat. Yaitu melaksanakan dua macam shalat yang berbeda dalam satu waktu, karena adanya satu alasan tertentu. Meski demikian para ulama fiqih berbeda pendapat mengenai alasan diperbolehkannya jama’ shalat.

Sebagain ulama fiqih hanya membolehkan jama’ shalat ketika seseorang dalam keadaan bepergian jauh (musafir).

Namun sebagian ulama yang lain seperti Ibnu Sirrin, al-Qaffal dan Abu Ishaq al-Marwazy membolehkan menjama’ shalat walaupun ada di rumah (hadir) dikarenakan keadaan yang amat sangat sibuknya dan jama’ ini tidak menjadi kebiasaan. Misalnya jama’ shalat bagi pengantin baru yang sedang ? menjalani walimatul arusy dan selalu menerima tamu. Begitu diterangkan dalam Syarah Muslim lin Nawawi

IPNU Tegal

? وذهب جماعة Ù…Ù? الأئمة الى جواز الجمع فى الحاضر للحاجة لمÙ? لا Ù? تخذه عادة وهو قول ابÙ? سÙ? رÙ? Ù? وأشهب Ù…Ù? أصحاب مالك وحكاه الخطابÙ? عÙ? القفال والشاشى الكبÙ? ر Ù…Ù? أصحاب الشافعى عÙ? أبى إسحاق المروزى عÙ? جماعة Ù…Ù? أصحاب الحدÙ? Ø« واختاره ابÙ? المÙ? ذر

Sejumlah imam berpendapat tentang diperbolehkannya menjama’ shalat di rumah karena ada keperluan bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Ini pendapat Ibnu Sirrin , Asyhab pengikut Imam Malik, al-Qaffal. As-Syasyi al-Kabir dari kalangan as-Syafi’I dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan ahlul hadits. Sebagaimana dipilij oleh Ibnu Mundzir.

IPNU Tegal

?

Redaktur: Ulil Hadrawy. Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Olahraga, Pemurnian Aqidah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock