Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Struktur Kepengurusan PBNU Segera Dibentuk

Jakarta, IPNU Tegal. KH Said Aqil Siroj yang baru saja terpilih menjadi ketua umum PBNU dalam muktamar ke-33 NU akan secepatnya membentuk struktur kepengurusan NU agar bisa segera menyusun program kerja yang melaksanakan kegiatan.?

Struktur Kepengurusan PBNU Segera Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Struktur Kepengurusan PBNU Segera Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Struktur Kepengurusan PBNU Segera Dibentuk

Insyaallah minggu depan sudah beres. Kiai Makruf akan punya gawe besar, yaitu haulnya Syeikh Nawawi Al Bantani Jum’at malam, setelah itu baru kita rapat,” katanya di gedung PBNU, Senin (10/8).?

Ia mengaku, saat ini usulan nama para pengurus, baik di jajaran syuriyah, tanfidziyah maupun di lembaga dan lajnah sangat banyak.?

IPNU Tegal

“Waduh, sudah sangat banyak, tetapi tidak mungkin masuk semua. Kalau istilahnya Jokowi, tidak ada transaksional. Pengurus yang akan kita pilih dengan mempertimbangkan agenda NU ke depan.”?

IPNU Tegal

Mereka yang menjadi pengurus harus sudah pernah aktif di lingkungan NU atau badan otonom, dan tidak merangkap jabatan di partai politik.?

Ia juga berjanji akan mengakomodasi warga NU potensial, meskipun dalam momen muktamar lalu mendukung calon lain.

“Saya akan mengakomodasi semuanya, ngak ada rasa permusuhan atau dendam karena ke depan tantangannya sangat berat, kita memasuki pasar bebas, globalisasi yang sangat menantang, ekstrimisme, radikalisme dan lainnya.”

Mengenai program ke depan, fokus yang akan dilakukan adalah melanjutkan program yang saat ini belum tuntas.?

“Agenda baru, akan saya prioritaskan luar Jawa. Pelajaran bagi saya, luar Jawa sering mengkritik saya, merasa kurang diperhatikan. Saya terima kritikan itu,” tandasnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa IPNU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara

Jakarta, IPNU Tegal. Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) bekerjasama dengan Forum Bagi Bangsa (FBB) mengadakan Seminar Kebangsaan bagi Siswa-siswi di SMAN 70, Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu, (15/11).

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Abdul Ghopur yang juga intelektual muda Nahdlatul Ulama, mengatakan kenusantaraan atau keindonesiaan yang multi etnis, multi budaya dan multi bahasa serta beragam suku bangsa adalah anugerah luar biasa yang tiada tara. 

“Tidak ada bangsa atau negeri sekaya ini dan seindah serta senyaman Indonesia. Belum lagi alamnya yang ramah, iklimnya yang sedang-sedang saja, tidak ada musim yang ekstrim, terlalu panas tidak, terlalu dingin pun tidak. Ditambah dengan keanekaragaman hayati dan hewani-flora dan fauna yang sangat kaya tak terbanding,” kata Ghopur melalui materi Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman.

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara (Sumber Gambar : Nu Online)
Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara (Sumber Gambar : Nu Online)

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara

Ghopur menyebutkan hal itu sebagaimana disebutkan dalam penggalan Al-Qur’an Surat An Naml ayat 40, "Haadza min fadli rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur, artinya: ini anugerah dari Tuhan untuk menguji kita untuk disyukuri atau diingkari).” 

Ghopur prihatin atas situasi bangsa Indonesia sekarang, 

“Ada sebagian kelompok masyarakat yang kurang mensyukuri karunia Tuhan ini dengan dalih atau atas nama kemurnian suatu paham agama tertentu dan atas nama kemodernan, sehingga, prinsip-prinsip kebangsaan, kenegaraan serta kewarganegaraan semakin hari semakin jauh. Bahkan jauh lebih menjauh setelah dikobarkannya reformasi Mei 98,” sesalnya.

IPNU Tegal

Menurutnya ada banyak jawaban atas persoalan tersebut. Tetapi,yang terpenting adalah karena; Pertama, problem Indonesia sesungguhnya adalah keberlangsungan manajemen negara pasca kolonial yang tak mampu menegakkan kedaulatan hukum, memberikan keamanan dan keadilan bagi warganya.

Di dalam ketiadaan keadilan, keamanan dan perlindungan hukum bagi individu untuk mengembangkan dirinya, orang lebih nyaman berlindung di balik  warga-tribus (tribalisme, premanisme, koncoisme dan sektarianisme) ketimbang warga-negara. 

Persoalan ekonomi-politik yang bersumber dari manajemen negara yang korup menyisakan kelangkaan dan ketimpangan alokasi sumberdaya di rumahtangga kebangsaan. Jika aparatur negara hanya sibuk mengamankan kekuasaan dan dapurnya sendiri, maka individu akan segera berpaling ke sumber-sumber tribus sebagai upaya menemukan rasa aman. Di sini persoalan ekonomi-politik yang objektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitias yang subjektif. 

“Kedua, kita belum siap menerima keragaman. Padahal, keragaman bangsa bisa menjadi kekayaan jika negara mampu menjalankan fungsinya sebagai, apa yang disebut Mohammad Hatta, (panitia kesejahteraan rakyat),” katanya.

IPNU Tegal

Lebih lanjut, Ghopur menukil isi dari teks Piagam Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam sebagai hasil Munas NU, Situbondo, 21 Desember 1983, Meski Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dipergunakan untuk menggantikan agama. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Udang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

“Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan antar manusia (hablumminannas),” tambahnya.

Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan (pengejawantahan) dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya.

“Sebagai konsekuensi dari sikap ini, segenap anak bangsa yang masih mencintai dan menginginkan utuhnya negeri ini, berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak,” imbuhnya lagi.   

“Intinya, No Ekstrim Kanan, No Ekstrim Kiri! Jadilah Ummat yang Tengah-tengah (ummatan wasahan) yang seimbang, bersatulah Orang Indonesia (Oi)” tandasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran

Jakarta, IPNU Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras sikap Pemerintah Indonesia yang mendukung perberlakukan sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) terhadap Iran. PBNU menilai, sikap tersebut merupakan kesalahan fatal yang justru akan mempersulit posisi Indonesia sendiri.

”Sikap Indonesia yang ikut menyetujui sanksi terhadap Iran adalah blunder besar untuk pemerintah Indonesia,” ungkap Ketua Umum PBNU Dr KH Hasyim Muzadi di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (26/3).

DK PBB menjatuhkan sanksi bagi Iran melalui Resolusi 1747 pada Ahad (25/3). Rancangan resolusi yang dirumuskan Inggris, Prancis, dan Jerman itu disepakati secara bulat oleh 15 negara anggota DK PBB, termasuk Indonesia.

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Sikap RI Soal Sanksi terhadap Iran

Resolusi ini memperluas sanksi atas Iran yang ditetapkan pada Desember 2006 dalam Resolusi 1737. Di antara isi Resolusi 1747 itu adalah larangan secara menyeluruh ekspor senjata Iran maupun pembatasan penjualan senjata ke Iran. Isi resolusi juga membekukan aset milik 28 lembaga atau perorangan yang berhubungan dengan program nuklir dan rudal Iran.

Iran juga dibatasi untuk memperoleh bantuan keuangan. DK PBB memberi batas waktu 60 hari setelah resolusi agar Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya. Jika diabaikan, DK PBB bisa mengambil langkah yang lebih pantas berupa sanksi ekonomi, bukan militer.

Hasyim menambahkan, kesalahan fatal yang dilakukan pemerintah akan berakibat menjauhnya umat Islam dan bangsa lain di seluruh duni dari Indonesia. Karena itu, menurutnya, pemerintah Indonesia harus bertanggung jawab terhadap rakyatnya yang sebagian besar muslim.

IPNU Tegal

Tak hanya itu. Menurut Presiden World Conference on Religon for Peace itu, dukungan pemerintah atas pemberlakukan sanksi tersebut akan menghancurkan nama baik Indonesia di mata negara-negara berkembang dan negara-negara Islam. “Indonesia mungkin hanya mendapat pujian kosong dari Amerika Serikat. Tapi bangsa Indonesia tidak akan dapat untung apa-apa,” pungkasnya.

IPNU Tegal

NU, tegas Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu, akan mengambil sikap berbeda dengan pemerintah, yakni tetap mendukung Iran berikut program nuklirnya serta negara-negara di kawasan Timur Tengah yang menjadi korban ketidakadilan.

”NU sikapnya jelas, yaitu selalu memperkuat yang benar, bukan membenarkan yang kuat. NU melakukan gerakan moral, bukan gerakan kepentingan. Kita semua berdoa, sukses untuk bangsa Iran, Irak dan Pelestina dalam meraih haknya yang sah,” pungaksnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, AlaSantri, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU

Surabaya, IPNU Tegal. Legalitas kepengurusan hasil Muktamar ke-33 NU semakin kuat. Hal ini seiring dengan adanya keputusan Menteri Hukum dan HAM RI yang dikeluarkan 8 September 2015 lalu. "Setidaknya ada tiga alasan yang semakin menguatkan kepengurusan PBNU hasil Muktamar ke-33 di Jombang awal Agustus 2015," kata KH Sholeh Hayat, SH, Selasa (10/11).

Wakil Ketua PWNU Jatim ini kemudian memberikan rincian bahwa legalitas kepengurusan PBNU tidak lagi terbantahkan. "Pertama adalah kepengurusan hasil Muktamar ke-33 NU telah diterima oleh Presiden RI di istana kepresidenan pada tanggal 27 Agustus lalu," katanya. Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yakni KH Maruf Amin dan KH Said Aqil Siroj bersama sebagian pengurus harian telah diterima presiden dengan baik, lanjutnya.

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Kemenkumham Kian Kukuhkan Kepengurusan PBNU

Penguatan kedua adalah kehadiran Presiden RI pada pelantikan PBNU periode 2015 hingga 2020 di Masjid Istiqlal Jakarta, 5 September 2015. "Ini semakin meyakinkan bahwa secara hukum, keberadaan kepengurusan telah diakui negara," ungkapnya.

IPNU Tegal

Dan yang terbaru adalah dikeluarkannya keputusan dari Kementerian Hukum dan HAM RI bernomor AHU – 70 AH.01.08 tahun 2015 tentang kepengurusan PBNU.

"Sehingga dengan demikian kepengurusan PBNU hasil Muktamar ke-33 yang berlangsung di Jombang telah diakui negara," kata KH Sholeh Hayat sembari menunjukkan salinan surat dimaksud.

IPNU Tegal

Mantan anggota DPRD Jatim ini tidak menampik adanya sejumlah kalangan yang masih mempersoalkan keabsahan kepengurusan PBNU. "Tapi kami rasa, itu adalah sebagai bagian dari dinamika yang ada di NU," katanya. Selanjutnya, setelah tiga fakta tersebut, semua pihak hendaknya dalam kembali bergabung dalam satu barisan dalam berkhidmat kepada NU, lanjutnya.

Kiai Sholeh, sapan akrabnya menandaskan ada banyak persoalan umat dan bangsa yang mendesak untuk segera disikapi dan dicarikan formula pemecahan terbaiknya. "Mari satukan kekuatan untuk mencarikan solusi terbaik agar bangsa ini segera dapat keluar dari berbagai masalah," katanya. Dan hal itu dapat dilakukan antara lain dengan terus memberikan dukungan kepada kepengurusan PBNU hingga daerah sehingga bisa berkiprah dengan lebih baik, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

?

Kamis, 25 Januari 2018

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU

Jombang, IPNU Tegal. Panitia lokal muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum (PPBU), mengundang lebih dari 20 Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) untuk hadir dalam acara “Forum Diskusi dan Reuni PCINU Internasional” yang rencananya akan ditempatkan di Pondok Pesantren al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU

Acara forum diskusi ini akan berjalan di sela-sela muktamar ke-33 NU berlangsung, yakni tanggal 1, 2, 4, dan 5 Agustus 2016. Target acara ini adalah mempertemukan kaum nahdliyin yang berada di luar negeri, baik yang masih aktif maupun yang sudah purna.

“Tanggal 3 Agustus sengaja dikosongkan karena pada tanggal tersebut di masing-masing pesantren dipakai sidang komisi. Jadi Pondok Pesantren Tambak Beras sepakat mengosongkan semua kegiatan muktamar pada tanggal tersebut, dan mengharuskan semua untuk fokus ke sidang komisi,” kata ketua panitia Latif Malik kepada IPNU Tegal, Rabu (28/7).

IPNU Tegal

Acara ini akan diisi dengan diskusi berbagai tema penting, seperti krisis Timur Tengah dan materi muktamar ke-33 NU. “Forum ini akan dibuat santai, mengingat peserta muktamirin dalam forum muktamar biasanya sudah jenuh dengan materi utama muktamar, jadi yang kita tekankan adalah mempererat silaturrahim antar PCINU,” kata pria yang akrab disapa Gus Latif ini.

Dalam forum di atas, panitia akan memberikan berbagai fasilitas untuk peserta, di antaranya adalah 12 kamar penginapan, terdiri dari 8 putra dan 4 putri. Selain itu, peserta juga akan mendapat kartu identitas peserta dan kartu parkir, serta konsumsi tentu saja. Tamu yang diundang dari luar daerah ini juga dapat meminta panitia untuk menjemput mereka di lokasi terdekat, seperti bandara, stasiun kereta api, dan terminal bus.

IPNU Tegal

Untuk konfirmasi kehadiran dan informasi lebih lanjut, peserta bisa menghubungi M. Najih Arromadloni sebagai pelaksana, di nomor ponsel 081938299525. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Kiai, Doa IPNU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Madrasah Ini Peringati Rajaban dengan Karnaval Pakaian dari Sampah

Bojonegoro, IPNU Tegal. Para siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bahrul Ulum Desa Bulu, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (1/5/2014), mengadakan karnaval. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memperingati bulan Rojab.

Madrasah Ini Peringati Rajaban dengan Karnaval Pakaian dari Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Ini Peringati Rajaban dengan Karnaval Pakaian dari Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Ini Peringati Rajaban dengan Karnaval Pakaian dari Sampah

Salah seorang guru MI Bahrul Ulum dan juga ketua panitia kegiatan, Khoirul Anam mengatakan, karnaval ini dalam rangka memperingati bulan Rojab, serta hari kartini dan juga Hari Pendidikan Nasional (Hardikanas).

Acara tersebut diikuti seluruh siswa-siswi di lembaga tersebut, mereka mengenakan pakaian daur ulang, dari sampah di sekitar kita. "Karena banyak sampah di sekitar kita, sehingga oleh para siswa dimanfaatkan menjadi baju," terangnya.

IPNU Tegal

Para siswa dibantu guru bersama-sama, merangkai menjadikan pakaian bahan daur ulang tersebut. "Agar siswa belajar berkreasi, menggunakan bahan di sekitarnya," sambungnya.

IPNU Tegal

Rencananya kegiatan tersebut akan rutin dilakukan setiap memperingati hari besar Islam, maupun hari besar nasional lainnya. Diharapkan para siswa tahu dan memahami hari-hari tersebut.

Sementara itu, salah seorang siswa yang mengenakan pakaian daur ulang, Nurotun mengaku, membuat baju daur ulang tersebut bersama teman-temannya dan dibantu guru. "Agar sampah di sekitar dapat dimanfaatkan," pungkasnya.

Para peserta karnaval nampak bersemangat menyusuri jalanan desa setempat. Meskipun cuaca panas, para peserta tidak ada yang mengeluh. Pasalnya mereka bangga mengenakan pakaian berbahan daur ulang itu. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Ahlussunnah IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Doa dan Dzikir Sangat Bermanfaat bagi Prajurit

Surabaya, IPNU Tegal. Di hadapan ratusan prajurit angkatan laut yang berkumpul di Markas Komando (Mako) Armatim Surabaya, Ustadz Maruf Khozin mengingatkan bahwa doa memiliki manfaat sangat besar. Apalagi hal tersebut dilakukan dalam kondisi genting dan menghadapi mara bahaya.

"Anda sudah hafal Surat Yasin?" tanya Ustadz Maruf Khozin saat berada di podium, Kamis (24/11). Serentak perajurit menjawab: "Sudah."

Doa dan Dzikir Sangat Bermanfaat bagi Prajurit (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa dan Dzikir Sangat Bermanfaat bagi Prajurit (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa dan Dzikir Sangat Bermanfaat bagi Prajurit

Kemudian Ustadz Maruf, sapaan akrabnya mengemukan bahwa di dalam surat Yasin terdapat keterangan yang menyebutkan keselamatan di laut. Secara khusus, anggota Dewan Pakar PW Aswaja NU Center Jatim ini menjelaskan ayat ke 41 hingga 44 dari Surat Yasin tersebut yang secara umum menjelaskan bahwa keselamatan dalam bahtera atau kapal sangat ditentukan oleh Allah SWT.

IPNU Tegal

"Karena itu saat berada di kapal hendaknya meminta kepada Allah dengan berdoa," pesannya. Karena manfaat dari doa saat kondisi aman terkendali, maka di saat keadaan membahayakan Allah akan menolong.

IPNU Tegal

Kemudian Ustadz Maruf membacakan teks hadis dari Abu Harairah yang mengemukakan "Barangsiapa senang doanya dikabulkan oleh Allah di saat ada kesulitan, maka perbanyaklah berdoa kepada Allah di saat kondisi tenang," terangnya sembari menyebutkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan Tirmidzi.

Sebelumnya, jelang Hari Armada Nasional, Mako Armatim mengadakan istigatsah dan doa bersama yang rutin dilakukan tiap tahun. Dalam sambutannya, Panglima Armatim menyampaikan bahwa manfaat dari dzikir dan istigatsah sangat dirasakan prajurit manakala bertugas di tengah laut. Saat menghadapi terjangan ombak, badai, gempa laut, hujan deras, cuaca buruk dan sebagainya, semua akan terlewatkan dengan pertolongan dari Allah. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Doa, Makam IPNU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning

Pringsewu, IPNU Tegal. Ratusan Santri dari perwakilan pondok Pesantren di Kabupaten Pringsewu memenuhi Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (15/10). Dengan menggunakan seragam pakaian ciri khas masing-masing pesantren, para santri siap menunjukkan kemampuannya dalam Perlombaan Lalaran dan Baca Kitab Kuning yang diselenggarakan oleh Panitia Hari Santri PCNU Kabupaten Pringsewu.

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning

Dalam penjelasannya Koordinator Lomba tersebut, H Auladi Rosyad mengatakan bahwa dalam lomba lalaran para peserta dibagi kepada dua tingkatan atau kelas, yaitu kelas Tsanawiyah menggunakan Nadhoman Imrithy dan Aliyah menggunakan Nadloman Alfiyah.

"Satu grup 10 sampai 15 orang, masing-masing ada yang vokal dan lainya menabuh alat seperti galon bekas, rebana atau alat perkusi sejenisnya. Asal kompak dan harmonis," jelas Rosyad.

Sementara untuk lomba baca kitab panitia melombakan 2 kelas yaitu kelas Tsanawiyah dengan Kitab Mabadi dan Kelas Aliyah dengan Kitab Fathul Qarib.

Setelah melewati proses penampilan dan penjurian yang cukup ketat, akhirnya dewan juri memutuskan pemenang dari masing-masing tangkai lomba.

IPNU Tegal

Untuk Group Pemenang Lomba lalaran Imrithi adalah Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara I, dan Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu yang berhasil menyabet sekaligus juara II dan Juara III.

Untuk Lalaran Alfiyah, Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran berhasil menjadi Juara I diikuti oleh Pondok Pesantren Miftahul Huda Banyumas dan Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara II dan III.

Sementara untuk Lomba Baca Kitab Mabadi, Santri atas nama Baaduddin dari Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran berhasil menjadi Juara I diikuti oleh Ahmad Muhaimin dari Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu sebagai juara ke II dan M. Nurul Baihaqi dari Pondok Pesantren El Banun Keputran sebagai Juara III.

Untuk kelas Fathul Qarib Santri Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran atas nama Aga Zainudin Ahsan berhasil menjadi Juara I diikuti Ahmad Afrizal dari Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran sebagai Juara II dan Maratus Sholihah dari Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara III.

IPNU Tegal

Rosyad menambahkan bahwa setelah para pemenang lomba diumumkan, mereka berhak mendapatkan hadiah berupa Thropy juara dan Uang Beasiswa Santri. "Kita akan bagikan hadiah tersebut pada Apel Hari Santri yang akan dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Pringsewu pada 22 Oktober 2017 mendatang," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Doa, Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Pemimpin Pemaaf

Oleh Ahmad Mustofa Bisri

Ka’b Ibn Zuhair penyair Arab kenamaan adalah penyair dari keluarga penyair. Ayahnya, Zuhair; kakeknya, Abu Sulma; kedua bibinya Khansa dan Sulma; saudaranya, Bujair; kedua sepupunya Tamadhir dan Shakhr; keponakannya, ‘Uqbah Ibn Bujair; dan cucunya, ‘Awwam Ibn ‘Uqbah; kesemuanya adalah penyair terkenal di zaman Jahiliyah.

Ketika Nabi Muhammad SAW mendakwahkan keesaan Tuhan dan dimusuhi oleh kaumnya yang bertuhan banyak, Ka’b adalah salah seorang di antara sekian banyak penyair yang gigih melawan Nabi dengan syair-syairnya. Rasulullah SAW dan kaum muslimin menjadi bulan-bulanan puisi-puisi hijaa-nya.

Pemimpin Pemaaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin Pemaaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin Pemaaf

Pada saat kaum muslimin menaklukkan Mekkah pada tahun 8 Hijriyah, Ka’b termasuk salah satu musuh kaum muslimin yang melarikan diri. Sampai saudaranya, Bujair, menyarankan kepadanya agar ia menemui Rasulullah SAW. Bujair meyakinkannya bahwa siapa yang datang kepada Rasulullah dan mengaku salah, pasti akan diampuni.

Begitu Ka’b datang menghadap Rasulullah SAW beberapa orang Ansor langsung berdiri ingin menghajarnya. Tapi seperti biasa, Rasulullah SAW dengan sareh mencegah mereka dan mendengarkan penyair itu menyatakan penyesalannya. Melihat ketulusan Ka’b dalam penyesalan dan tobatnya, Rasulullah SAW pun mengampuninya. Bahkan ketika Ka’b membacakan puisinya Banaat Su’aad, Rasullah SAW menghadiahinya burdah, semacam mantel bulu.

Sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW memang dikurniai sifat penyayang dan pemaaf. Tuhannya memang merahmatinya untuk menjadi demikian. Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah berfirman kepada utusannya itu: “Fabimaa rahmatin minaLlaahi linta lahum…” (Q. 3: 159) “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau kasar dan berhati kaku, tentulah mereka akan lari menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka tentang urusan (kalian). Kemudian bila kamu sudah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”

IPNU Tegal

Berapa banyak tokoh-tokoh kafir Mekkah yang sebelumnya begitu sengit memusuhi Rasulullah SAW, ketika beliau dan kaum muslimin menaklukkan Mekkah, diampuni oleh Rasulullah SAW.

Dulu waktu kejam-kejamnya orang Arab menyakiti Rasulullah SAW dan malaikat meminta beliau berdoa bagi kehancuran mereka, Rasulullah SAW malah berdoa penuh kasih sayang, “Ya Allah berilah kaumku petunjuk; mereka tidak mengerti.”

Secara lahiriah, seandainya sikap Rasulullah SAW tidak penyayang dan pemaaf, pastilah Abu Sufyan Ibn Harb pemimpin orang-orang kafir Mekkah; istrinya Hindun yang pernah mengunyah-ngunyah jantung sayyidina Hamzah; Khalid Ibn Walid; ‘Amr Ibn ‘Ash; ‘Ikrimah Ibn Abi Jahal; dan banyak lagi tokoh-tokoh kafir lainnya yang semula memusuhi Raasulullah, tidak akan menjadi muslim-muslim yang baik dan pahlawan-pahlawan Islam.

Dalam hadis-hadis sahih, banyak kita dapati kisah-kisah yang menunjukkan betapa Nabi Muhammad SAW dalam kesehariannya; baik dalam keluarga maupun dalam pergaulan kemasyarakatannya, sangat menonjol sifat-sifat kemanusiaannya. Beliau lemah-lembut kepada siapa saja, penyayang, pemaaf, dan murah hati kepada sesama. Beliau tidak menyukai kekasaran dan kekerasan.

Sebagi gambaran, pernah datang orang-orang Yahudi dan mengatakan “Assaam ‘alaikum” (Semoga kematian bagimu). Rasulullah SAW pun menjawab: “Wa’alaikum;” sementara sayyidatina ‘Aisyah r.a. isteri beliau yang mendengar ucapan Yahudi itu menjawab, “’Alaikumus saam wal la’nah!” (Semoga kematian dan laknat bagi kamu!”)

IPNU Tegal

Rasulullah SAW pun menegur isterinya, “Tenanglah, ‘Aisyah; jangan kasar begitu!” Istrinya masih menjawab, “Apa Rasulullah tidak mendengar ucapan mereka?” Dengan lembut Rasulullah SAW bersabda, “Aku mendengar, dan aku sudah membalasnya dengan mengatakan ‘Wa’alikum’ (Dan juga kamu).”

Sumber: Facebook Ahmad Mustofa Bisri

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba

Denpasar, IPNU Tegal 

Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Denpasar, Bali menerima anggota baru melalui Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA). Kegiatan tersebut berlangsung di desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan 29 September-1 Oktober lalu.

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)
Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba

Pada Mapaba yang diikuti belasan mahasiswa dan mahasiswi itu, panitia pelaksana mengambil tema "Membangkitkan Jiwa Nasionalis serta Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan dan Keadilan". 

Menurut Ketua Panitia Mapaba Agus Irawan, kegiatan itu diadakan untuk mencetak kader PMII yang religius dan nasionalis sebagai pelanjut pergerakan organisasi itu di Denpasar. 

PMII, kata dia, melihat jiwa nasionalis pada mahasiswa dan mahasiswi di Denpasar semakin menurun. Hal itu disebabkan oleh apatisnya terhadap permasalahan yang ada di Indonesia dan adanya sekelompok orang yang ingin menggantikan Pancasila.

Sedangkan Ketua Komisariat PMII STAI Denpasar Teguh Irwansyah berharap anggota PMII baru itu menjadi kader yang berwawasan kebangsaan dengan pijakan Islam yang rahmatan lil alamin.

IPNU Tegal

“Selain itu dapat memberikan sikap loyalitas terhadap organisasinya," tegasnya.

Ketua PC PMII Denpasar Moh. Nur Wakhid Al-Hadi pada acara penutupan Mapaba mengajak untuk bersama-sama menanamkan rasa haus akan ilmu. 

“Ini adalah modal utama bagi kita untuk menjadi agen of change yang akan mengemban tongkat estafet untuk generasi penerus Bangsa ke depan,” katanya. (Red: Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Pondok Pesantren IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Ratusan Santri Yafata Ikuti Silat Pagar Nusa

Subang, IPNU Tegal. Bakda Ashar, tiap Jumat di Pesantren Yafata Desa Marengmang, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat lebih dari seratus santri mengikuti latihan silat yang diselenggarakan atas kerjasama Pesantren Yafata dengan Pengurus Cabang Pagar Nusa Kabupaten Subang.

Ratusan Santri Yafata Ikuti Silat Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Yafata Ikuti Silat Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Yafata Ikuti Silat Pagar Nusa

Dari Pantauan IPNU Tegal pada hari Jumat (25/1) kemarin para peserta terlihat antusias mengikuti latihan silat tersebut. Menurut pengakuan ketua peserta latihan, Deden Muhammad Fauzi Ridwan (17) mengatakan bahwa santri Pesantren Yafata memang selalu semangat dalam mengikuti kegiatan mingguan ini.

“Kita baru mulai beberapa minggu yang lalu, jadi baru belajar kurang lebih dua jurus,” ujar Siswa kelas XII MA Yafata tersebut.

IPNU Tegal

Lebih lanjut ketua IPNU Kecamatan Kalijati ini menambahkan bahwa selain sebagai ajang olah raga, latihan silat ini juga dijadikan sebagai media dalam pengembangan minat dan bakat para santri di Pesantren Yafata.

IPNU Tegal

Di tempat yang sama, Ketua Pagar Nusa Kabupaten Subang, Totoh Bustanul Arifin (30) menyampaikan tujuan diadakannya latihan silat ini adalah untuk menambah pengetahuan dan keterampilan para santri.

“Ingin mengembangkan pengetahuan dan kretifitas para santri, santri kan kalau ngaji sudah biasa, nah kita ingin mereka dibekali juga dengan pengetahuan bela diri,” paparnya.

Selain itu, latihan silat ini juga merupakan salah satu program Pagar Nusa Kabupaten Subang di tahun 2013 yang ingin mencetak 1000 pesilat di Kabupaten Subang.

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Habib, Kajian IPNU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Seruan Jaringan Gusdurian Terkait Situasi Pasca-Pilpres

Proses pemungutan suara dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014 pada tanggal 9 Juli 2014 telah berlangsung dengan lancar, aman, tertib, dan damai. Kita mengapresiasi partisipasi masyarakat yang dengan sangat antusias mengikuti pemungutansuara di TPS-TPS dengan tertib.

Pada perkembangan selanjutnya diketahui bersama bahwa sejumlah penyelenggara hitung cepat (quick count)menghasilkan data yang berbeda. 7 (tujuh) lembaga penyelenggara hitung cepat yakni SMRC, RRI, CSIS-Cyrus, Lingkaran Survei Indonesia, Litbang KOMPAS, Indikator Politik, dan Populi Center menyatakan bahwa pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla unggul atas pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Sementara itu, 4 (empat) lembaga penyelenggara hitung cepat yakni IRC, JSI, LSN, dan Puskaptis menyatakan pasangan Prabowo dan Hatta unggul tipis atas pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Masing-masing kubu kemudian mendeklarasikan diri sebagai pemenang atas dasar hitung cepat di atas.

Seruan Jaringan Gusdurian Terkait Situasi Pasca-Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
Seruan Jaringan Gusdurian Terkait Situasi Pasca-Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

Seruan Jaringan Gusdurian Terkait Situasi Pasca-Pilpres

Sikap kedua kubu ini berpotensi pada peningkatanketegangan politik yang akan mempengaruhi sikap basis massa pendukung dari kedua kubu tersebut di akar rumput. Prasangka-prasangka yang muncul terkait isu-isu kecurangan Pemilu, berpotensi menyebabkan gesekan antar pendukung.

Karena itu, sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang selalu memperjuangkan keadilan dan perdamaian, murid-murid Gus Dur yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian Indonesia:

IPNU Tegal

Menyerukan kepada semua pihak untuk bersikap sebagai negarawan dengan menghormati dan selalu mengacu pada mekanisme yuridis formal penyelenggaraan Pemilu. Menyerukan kepada semua pihak untuk tidak bersikap reaktif terhadap hasil hitung cepat dan mengutamakan kedamaian masyarakat dan persatuan Indonesia. Menyerukan kepada para tokoh dari kedua belah pihak pasangan untuk secara bijaksana memimpin basis massa pendukungnya agar menahan diri dan menjaga perdamaian Menyerukan kepada jajaran penyelenggara Pilpres yaitu KPU dan Bawaslu di semua tingkatan untuk bekerja sungguh-sungguh secara profesional, jujur, dan adil dalam proses perhitungan suara. Menyerukan kepada pemerintah dan seluruh aparat birokrasi dan keamanan di setiap tingkat dan semua wilayah Indonesia untuk tetap netral demi mewujudkan perhitungan suara yang adil dan bertanggungjawab. Menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk secara aktif memantaudan mengawasi jalannya proses penghitungan suara dari tingkat lokal hingga nasional. Menghimbau kepada seluruh masyarakattetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh hal-hal yang dapat memicu konflik horisontal demi tegaknya persatuan Indonesia. Menyerukan kepada segenap Gusdurian di manapun berada untuk mengikhlaskan segala daya upaya untuk turut berpartipasi aktif dalam memantau perhitungan suara serta menjaga kondisi damai di lingkungan masing-masing.

Alih-alih memperebutkan kekuasaan, sudah saatnya kita semua kembali kepada tujuan akhir dari Pemilihan Presiden 2014 ini, yaitu“membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” sebagaimana diamanatkan UUD 1945.

IPNU Tegal

Yogyakarta, 11 Juli 2014

Koordinator Umum JGD

Alissa Wahid

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa IPNU Tegal

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal!

Jakarta IPNU Tegal,. Film-film yang dianggap Islami sekarang, menurut Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri, sebenarnya terjebak dalam simbol agama yang dangkal. Hal itu dia tegaskan selepas Musyawarah Film Nasional dengan tema Posisi Indonesia dalam Film Nasional, yang berlangsung di PBNU belum lama ini.?



Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal! (Sumber Gambar : Nu Online)
Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal! (Sumber Gambar : Nu Online)

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal!

KH A Mustofa Bisri mencontohkan film-film Islami yang pernah ada, “Dulu ketika Pak Usmar Ismail bikin film, tak ada idiom sorban, sajadah, tasbih. Kalau film sekarang, supaya cinta itu tampak Islami, jadi cinta bertasbih, cinta bersorban, yang gitu-gitulah. Ada subhanallah, istighfar segala macam begitu. Film-film Usmar Ismail nggak ada. Kenapa? Karena dia mengerti "inti" dari agama Islam itu apa,” tegasnya.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpendapat, film Islam itu harus bertema yang universal."Islam yang sejak zaman Nabi Ibrohim; atau orang sekarang mengatakan Islam yang universal tentang kemanusiaan, tentang kasih sayang. Itu malah tidak naik dalam film-film kita sekarang. Dulu itu ada cinta kepada tanah air, kasih sayang terhadap sesama manusia, pasrah kepada Tuhan; yang esensial semacam itu yang bisa dirasakan penonton,” tambahnya.

Jadi, lanjut penulis kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi? ini, film sekarang terjebak pada simbol-simbol yang dangkal, “Simbol itu pun nggak bener. Misalnya yang pake sorban, itu nggak jelas, itu sorban model mana? Arab nggak, India nggak, Indonesia nggak. Kenapa nggak pake udeng-udeng aja?” ungkapnya sambil tertawa.

IPNU Tegal

Orang salah mengambil kesimpulan tentang simbol agama, tambah putra pengarang Tafsir Al-Quran bahasa Jawa: Al-Ibriz ini, “Mereka menganggap sorban, sajadah, jubah itu simbol agama dari Rosulullah. Tidak! Itu penghormatan Rosulullah kepada budaya setempat. Karena yang pake sorban, jubah, itu tidak hanya Rosulullah, Abu Jahal juga pake. Itu penghormatan Rosulullah terhadap budaya setempat!”

“Jadi,” sambung kiai yang pelukis ini, “kalau kita mau ittiba (mengikuti, red) Rasul dalam hal pakaian, ya begini, (Gus Mus menunjuk pada pakaian batik coklatnya). Kalau Kanjeng Nabi pakai pakaiannya orang Arab, meskipun sama dengan Abu Jahal, dia menghormati budaya setempat. Saya memakai pakaian orang Indonesia."

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang, Jawa tengah ini juga menambahkan, pembuat film bernuansa agama harus mengerti moral agama sehingga menghasilkan film yang mencerahkan penonton. Film yang bagus itu, selepas menontonnya, penonton tercerahkan, ”Penonton berpikir, apakah saya hamba yang baik atau bukan,” pungkasnya.

?

IPNU Tegal

Penulis ? ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal News, AlaNu, Doa IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Waketum PBNU: Lima Kekuatan NU Saat Ini

Yogyakarta, IPNU Tegal. Dalam acara syawalan dan pamitan jamaah calon haji warga NU DIY, Ahad siang (9/7), Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH DR Asad Said Ali menekankan lima kekuatan NU di masa sekarang ini.

"Saat ini, Nahdlatul Ulama memiliki lima kekuatan utama yang jika itu semua bisa dimanfaatkan, akan menjadi kekuatan yang luar biasa," ujar Asad di hadapan para pengurus NU DIY, para kiai pemimpin pondok pesantren DIY dan calon jamaah haji DIY di SD NU Yogyakarta.

Waketum PBNU: Lima Kekuatan NU Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU: Lima Kekuatan NU Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU: Lima Kekuatan NU Saat Ini

"Kekuatan pertama adalah para kiai, santri dan para alumni pesantren yang menjadi sumber moralitas dan sumber kebijakan bagi kita semua. Kedua, adalah para intelektual yang ahli dalam berbagai macam ilmu pengetahuan. Saat ini, NU telah memiliki para intelektual muda yang berkompeten di bidangnya," terang Asad yang pernah tercatat sebagai santri Krapyak.

IPNU Tegal

Kemudian, kekuatan ketiga NU saat adalah para pengusaha NU yang kini semakin banyak. Selanjutnya, kekuatan keempatnya ialah para birokrat yang berlatar belakang NU yang juga semakin banyak jumlahnya.

IPNU Tegal

"Terakhir, kekuatan kelima Nahdlatul Ulama adalah para politikus yang tersebar di berbagai partai politik di Indonesia," tandas Asad.

Acara yang digelar di halaman SD NU Yogyakarta tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus PWNU DIY, baik dari Syuriyah dan Tanfidiyahnya. Selain itu, hadir juga para kiai dan bu nyai yang memimpin pesantren-pesantren di DIY. (Nur Rokhim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Jakarta, IPNU Tegal



Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, menyebut Indonesia bisa dijadikan teladan sekaligus rujukan dalam memahami kebinnekaan. Sebagai negara multikultur dan multiagama, NKRI patut dicontoh Jepang.

“Karena itu mereka berpikir bahwa Indonesia adalah salah satu model bagi Jepang juga untuk menerima seseorang atau sesuatu yang berbeda,” ujar Kato kepada IPNU Tegal usai berdiskusi tentang agama bersama sejumlah pejabat teras Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Senin (14/8).

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Menurut  Kato, Indonesia sudah sejak lama terbiasa menerima orang yang berbeda-beda. “Sikap orang Bali, orang Padang, orang Jawa, orang Sunda (yang bisa menerima orang lain) itu sangat penting bagi kami,” tandasnya. 

Ditanya tentang perbedaan perspektif dalam memandang agama, Kato membenarkan hal tersebut sekaligus menyayangkannya. Pada saat ini, di Jepang, agama Islam tidak begitu dihargai dan dipahami dengan baik. Karena ada banyak stereotipe dan salah paham terhadap Islam.

IPNU Tegal

“Karena itu, saya kira anak muda seperti mereka ingin belajar banyak dan berminat belajar secara langsung ke sini, berkomunikasi dengan bapak-ibu di sini. Mereka juga akan home stay juga dengan mahasiswa di UNAS. Saya kira mereka nanti akan memiliki pengalaman luar biasa untuk memahami Indonesia dan agama Islam secara lebih mendalam,” harapnya.

Dalam diskusi, Prof Kato mengatakan pihaknya kembali membawa para mahasiswa program studi Kebijakan Publik untuk studi banding tentang kebijakan terhadap agama di lembaga riset plat merah ini. Sebagian di antara mereka ikut serta dalam kunjungan pertama setahun silam.

IPNU Tegal

“Selain itu, kami ingin lebih mengenal Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Bagi kami, negara ini menjadi teladan dan rujukan dalam membangun peradaban dan menghargai perbedaan,” ujar Kato.

Selain belajar mengenai mengenai kebijakan, ia bersama 23 mahasiswanya hendak berkunjung ke SMA, ke sejumlah yayasan yang aktivitasnya mengenai agama seperti ICRP dan sejumlah perusahaan juga dan di beberapa tempatnya. “Kami akan belajar tentang Pancasila,” ujarnya.

Rombongan mahasiswa dari Universitas Chuo Jepang ini disambut langsung oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud. Turut mendampingi, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Amsal Bachtiar dan sejumlah peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Fragmen, Habib IPNU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

LK PBNU dan Kemenkes Promosikan Gerakan Pesantren Sehat

Selama 30 tahun terakhir, terjadi perubahan pola penyakit yang disebabkan berubahnya perilaku manusia. Pada dekade 1990, penyebab kematian dan kesakitan disebabkan penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), tuberculosis (TBC), diare dan penyakit menular lainnya.

Sejak tahun 2010-2015, penyebab terbesar kesakitan dan kematian bergeser pada penyakit tidak menular seperti stroke, serangan jantung, dan kencing manis. Penyakit tidak menular (PTM) saat ini dapat menyerang bukan hanya pada usia tua, tetapi telah menyasar ke usia muda; dari semua kalangan, di perkotaan maupun di perdesaan.?

Pergeseran beban penyakit dari tahun 1990 sampai 2015 mengakibatkan pertambahan biaya yang besar akibat penyakit tidak menular. Data Kementerian Kesehatan tahun 2014 menyebutkan, 10 besar biaya klaim penyakit rawat inap tertinggi untuk penyakit tidak menular yakni jantung (Rp 3,503.4 miliar), stroke (Rp 1,535.5 miliar), penyakit ginjal dan kemih (Rp 1,509.2 miliar).

Faktor penyebab PTM ini lebih banyak disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang berubah dimana kecenderungan masyarakat lebih senang mengonsumsi makanan olahan, siap saji, tinggi gula, garam dan lemak, serta kurang makanan yang berserat sehingga menyebabkan gangguan pencernaan; minum minuman berakohol; kebiasaan merokok, dan buang air besar sembarangan.?

LK PBNU dan Kemenkes Promosikan Gerakan Pesantren Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
LK PBNU dan Kemenkes Promosikan Gerakan Pesantren Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

LK PBNU dan Kemenkes Promosikan Gerakan Pesantren Sehat

Risiko terjakitnya PTM dapat dicegah melalui kegiatan yang dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia dari semua kalangan dari umur muda sampai tua, jenis pekerjaan, status sosial, status ekonomi, di desa maupun kota melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).?

GERMAS dicanangkan pada 15 November 2016 oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI di Yogyakarta. Pencanangan Germas atas prakarsa Presiden RI dan merupakan wujud gerakan revolusi mental bidang kesehatan untuk membudayakan hidup sehat, agar mampu mengubah kebiasaan perilaku tidak sehat.?

IPNU Tegal

GERMAS adalah suatu tindakan yang sistematis, terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Salah satu komponen bangsa yang penting keberadaannya adalah Pondok Pesantren, sehingga kemudian lahir Gerakan Masyarakat Sehat melalui Pesantren Sehat. Secara khusus gerakan ini dinamai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pondok Pesantren. PHBS Pondok Pesantren diselenggarakan atas kerjasama Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) dengan Direktorat Pusat Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

IPNU Tegal

PHBS Pondok Pesantren sebagai upaya untuk memberdayakan para santri agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

PHBS Pondok Pesantren dilakukan dalam bentuk aktivitas fisik, konsumsi sayur dan buah, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.?

Aktivitas fisik

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang melibatkan otot rangka dan mengakibatkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.?

Aktivitas fisik bermanfaat untuk meningkatkan keseimbangan, meningkatkan kerja otot, jantung dan paru; meningkatkan metabolism tubuh; mengendalikan stress, mengurangi kecemasan dan depresi; meningkatkan fleksibilitas, memelihara tulang, otot, dan sendi yang sehat; mengurangi risiko tekanan darah tinggi; mengurangi risiko diabetes; mengendalikan berat badan ideal; meningkatkan kemampuan dan keterampilan tubuh.

Lakukanlah aktivitas fisik paling sedikit 30 menit setiap hari. Batasilah kegiatan banyak duduk seperti: menonton TV, main game dan komputer, apalagi ditambah dengan makan-makanan kudapan yang manis, asin, dan berminyak.?

Konsumsi sayur dan buah?


Sayur dan buah sangat penting bagi tubuh karena mengandung serat yang tinggi, vitamin, dan mineral.Sajikanlah sayur dan buah dalam menu sehari-hari. Konsumsi sayur dua porsi setiap hari dan buah-buahan 2-3 kali sehari. Pilih buah dan sayur yang baik dan segar, bebas dari pestisida dan zat berbahaya.

Sayur dan buah mengandung serat dan vitamin. Serat berguna untuk mencegah diabetes; membantu proses pembersihan racun; membantu mengatasi anemia; membuat awet muda; menurunkan berat badan; memperindah kulit, rambut, dan kuku; melancarkan buang air besar; mencegah kanker, dan membantu perkembangan bakteri yang bersifat baik dalam usus.

Periksa kesehatan secara rutin

Agar kesehatan selalu terjaga, pemeriksaan secara rutin sangat penting. Mengetahui tekanan darah adalah salah satu cara mendeteksi dini risiko hipertensi, stroke dan penyakit jantung. Angka hasil pemeriksaan normal bila dibawah 140/90 mmHg.?

Pemeriksaan kadar gula darah menunjukkan kadar glukosa dalam darah. Hasilnya membantu mendeteksi masalah diabetes. Hasil tes normal jika kadar gula dalam darah kurang dari 100.

Pengecekan kolesterol total, terdiri dari LDL (kolesterol “buruk), HDL (kolesterol “baik”), trigliserida (lemak yang dibawa dalam darah yang berasal dari makanan).

Pemeriksaan berikutnya adalah arus puncak espirasi, yaitu salah satu cek kesehatan dalam uji fungsi paru-paru. Pengukuran ini biasa dilakukan pada penderita asma atau berbagai penyakit obstruktif lainnya untuk menilai kemampuan paru-paru.

Pemeriksaan lingkar perur untuk mengetahui lemak perut jika berlebihan akan memicu masalah kesehatan yang serius seperti serangan jantung, stroke dan diabetes. Batas aman lingkar perut bagi pria adalah 90 sentimeter dan 80 centimeter bagi perempuan.

Selain itu, khusus untuk perempuan, lakukan tes IVA (Inpeksi Visual Asam cuka) untuk deteksi dini kanker leher rahim. Cara yang paling umum untuk deteksi dini kanker leher rahim adalah dengan melakukan pilihan pemeriksaan secaar berkala.

Pemeriksaan ini dapat dilakukan di Puskesmas, Posyandu, Posbindu secara gratis dengan menggunakan BPJS. Agar mendapatkan hasil yang maksimal, biasakan juga berperilaku sehat dalam kehidupan sehari-hari di antaranya cukup istirahat, tidak merokok atau bila akan merokok, tidak minum alkohol dan menggunakan narkoba, menggunakan jamban keluarga, meluangkan waktu bersama untuk bersantai dengan keluarga, melakukan olah raga dengan rutin, membersihkan lingkungan.?

Dengan hadirnya PHBS Pondok Pesantren akan tercapai kebiasaan hidup disiplin dan sehat sehingga lebih produktif dan bermanfaat; tercipta pesantren yang bersih dan sehat, sehingga warga pesantren dan masyarakat sekitar terlindung dari ancaman penyakit; lingkungan yang bersih dan sehat membuat santri merasa nyaman sehingga meningkatkan semangat dalam proses belajar, dan prestasi santri akan semakin baik. Selain itu, pesantren akan menjadi percontohan lingkungan yang sehat bagi masyarakat dan daerah lain. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa IPNU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Naskah Kuno, Pesantren, dan NU

Adakah hubungan naskah kuno, pesantren, dan Nahdlatul Ulama? Jika jawabannya ada, muncullah pertanyaan berikutnya: Bagaimana hubungan ketiganya itu? Apakah karena ketiganya itu sama-sama “terpinggirkan”? Atau termasuk dalam kategori “tradisional”, sehingga kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat?

Pada kesempatan ini, penulis ingin mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cara mengurai ketiganya dalam konteks “al-muhafadhatu ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.”

Dalam tulisan ini, yang dimaksud naskah kuno (selanjutnya disebut manuskrip) merupakan catatan tulisan tangan, biasanya ditulis di atas alas kertas Eropa, daluang, ataupun lontar, berkembang sekitar abad ke-17 hingga awal abad ke-20 di Nusantara. Manuskrip merupakan satu-satunya media yang digunakan untuk menyimpan pesan ajaran keagamaan dan kebudayaan tertentu,? juga menjelaskan suatu peristiwa tertentu oleh seseorang ataupun kelompok masyarakat.

Manuskrip sering ditemukan di sekitar kraton (kesultanan, kerajaan), pesantren/surau/dayah/meunasah, dan orang-orang (koleksi masyarakat) yang mempunyai hubungan dengan tempat-tempat tersebut. Dalam manuskrip juga terdapat aksara yang saat ini sudah jarang dipelajari dan dijumpai di lingkungan “pendidikan nasional”. Aksara dalam manuskrip biasanya disesuaikan dengan konteks lokal, dimana manuskrip ditemukan.

Naskah Kuno, Pesantren, dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Naskah Kuno, Pesantren, dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Naskah Kuno, Pesantren, dan NU

Contoh ketika Islam berkembang di Nusantara, aksara Arab diadaptasi menjadi aksara Pego (dengan macam-macam bahasa dan variasi penulisannya), dan aksara Jawi (untuk bahasa Melayu). Adapun aksara-aksara lainnya yang terdapat dalam manuskrip antara lain aksara Batak, Bali, Lampung, Lontara (Sulawesi), dan Jawa. Aksara Jawi dan Pego hingga saat ini, dalam hemat penulis, biasanya berkembang di sekitar (bekas) kerajaan-kerajaan Islam (kesultanan), dan komunitas muslim (meunasah, dayah, surau, atau pesantren).

Khusus pesantren, menurut KH Saefuddin Zuhri, kehadirannya tidak dapat dilepaskan dari tumbuh kembangnya kerajaan-kerajaan Islam, termasuk kehadiran Walisongo di Jawa. Begitupun dengan eksistensi Islam tidak lepas dari tulis menulis suatu kitab, seperti ditulisnya dalam Guruku Orang-Orang dari Pesantren. Karena itu, tidaklah mengherankan bila manuskrip juga hingga saat ini masih ditemukan di pebagai pesantren (kuno) sebagai cara untuk melanggengkan ajaran Islam secara tekstual dan kontekstual.

Dalam buku katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid 4, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) disebutkan tentang naskah koleksi Abdurrahman Wahid (AW). Koleksi AW ini adalah salah satu bukti manuskrip yang berada di pesantren sekitar abad ke-18 sampai dengan abad ke-20. Hanya saja, demi kepentingan yang lebih luas lagi, bersama Martin van Bruimessen dan Timothy Behrend pada tahun 1993 saat itu Abdurrahman Wahid menyerahkannya ke tempat yang lebih aman yang ditanggung negara, yaitu melalui PNRI.

IPNU Tegal

Jumlah koleksi AW di PNRI sekitar 67 naskah dengan kode AW, mulai dari AW 2 sampai dengan AW 130. Sebagaimana kitab yang dikaji di pesantren, jenis koleksi AW juga beragam, mulai dari Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Nahwu, Shorof, Tauhid, dan seterusnya. Di antara kitab fiqih itu Safinah, Sullamut Taufiq, dan Bidayatul Hidayah.

Nama-nam kitab popular lainnya, seperti as-Samarqandy, Anwanur Risalah, dan Daqa’iqul Khaliq. Di antara naskah-naskah koleksi AW tersebut seringkali terdapat pula naskah yang beredar di masyarakat atau kraton, seperti Serat Yusuf, Mujarabat, Pawukon, dan karya Syekh Haji Abdul Muhyi, Kitab Bayan al-Qahhar. ? ?

IPNU Tegal

Menyadari apa yang telah dilakukan AW di atas, semestinya NU sebagai organisasi para ulama pesantren dan penerus metode pengajaran Walisongo juga mempunyai komitmen pada penyelamatan manuskrip. Terlebih lagi, saat itu AW sedang menjadi ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada periode keduanya. Sayang sekali, sampai dengan AW dipanggil sang kuasa, dan PBNU telah berganti ketua umumnya untuk kali ketiga periodenya juga belum ada “gelagat” diteruskan.

Menyahuti slogan “Kembali ke Pesantren”, yang sering didengung-dengungkan Kang Said sebagai ketua umum, barangkali sudah saatnya, PBNU secara struktural perlu membuat kebijakan khusus untuk menangani hal pernaskahan di lingkungan pesantren NU. Hal itu sejalan dengan temuan Amiq tentang “Tipologi Manuskrip Islam Pesantren di Indonesia” pada Simposium Internasional Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) pada tanggal 27-29 Juli 2010, bahwa Manuskrip Islam Pesantren (MIPES) di tiga kabupaten Jawa Timur berjumlah 321 judul, sebagaimana dilakukan oleh Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM) IAIN Sunan Ampel.

Pesantren di ketiga kabupaten itu adalah Kabupaten Tuban, koleksi milik? Pondok Pesantren Langitan Widang dan koleksi milik Kyai Abdul Jalil di Pondok Pesantren Darul Ulum Senori.

Lalu di Kabupaten Lamongan, yakni koleksi Pondok Pesantren Tarbiyya al-Talaba (Pondok Tabah) Keranji Paciran; koleksi pribadi milik Raden Santoso; koleksi pribadi bapak Rahmat Dasi, dan Masjid Al-Mubarok. Di kabupaten Ponorogo yaitu koleksi pribadi Ibu Siti Marfu’ah, koleksi pribadi Kyai Syamsuddin, dan koleksi pribadi Bapak Markuat. Ketiganya berada di Desa Tegalsari Jetis Ponorogo. Serta, koleksi pribadi Bapak Jamal Nasuhi di desa Coper Jetis Ponorogo.

Harapan semacam itu juga persis seperti ditulis Oman Fathurrahman sebagai ketua umum Manassa dalam “NU dan Manuskrip Islam Pesantren” (Seputar Indonesia, April 2010). Dinyatakan Oman, “Tampilnya KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum Tanfidziyah NU dalam Muktamar di Makassar lalu memberikan harapan baru pemberdayaan dan penguatan kembali pesantren sebagai aset kultural bangsa Indonesia.”

Dengan demikian pesantren, NU, dan manuskrip sungguh sangat kait kelindan. Saatnya pesantren dan NU menjadi “subyek” di tengah geliat kegiatan dan pengkajian manuskrip pesantren tersebut. Ketika naskah kuno kurang dapat diakses publik, maka dampaknya bukan sekedar pada naskah dan pemiliknya saja, tetapi juga penggunanya.

Akhirnya, akankah NU, Pesantren, dan manuskripnya itu tetap “terpinggirkan”? Semoga adagium “al-muhafadhah” benar-benar diaktualisasikan dengan tepat. (Mahrus eL-Mawa, Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Peneliti Pusaat Studi Budaya dan Manuskrip (PSBM) ISIF Cirebon, dan Pengurus PP LP Ma’arif NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Doa, Hadits IPNU Tegal

Gus Mus Jelaskan Bagaimana Bersikap sebagai Muslim Indonesia

Semarang, IPNU Tegal. KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mengisi Dialog Budaya Kebangsaan dalam rangka Closing Dies Natalis Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Ahad (8/11). Gus Mus menjelaskan bagaimana bersikap sebagai muslim Indonesia yang teguh mempertahankan tradisi dan budayanya.

Gus Mus Jelaskan Bagaimana Bersikap sebagai Muslim Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Jelaskan Bagaimana Bersikap sebagai Muslim Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Jelaskan Bagaimana Bersikap sebagai Muslim Indonesia

"Sering saya katakan dimanapun, bahwa kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia," terang Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang, Jawa Tengah ini.

Gus Mus menuturkan, masyarakat Indonesia tidak membutuhkan dalil, tetapi tingkah laku mereka sudah mencerminkan kehidupan yang dianjurkan oleh Rasulullah. "Saat ini banyak orang yang sedikit-sedikit menggunakan dalil, sedikit-sedikit tanya dalilnya apa, itu orang yang baru mengenal dalil," ungkapnya.

IPNU Tegal

Kiai yang juga dikenal sebagai Budayawan ini menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang dengan rukun saling tolong menolong dengan tetangganya. "Orang desa tidak membutuhkan dalil, tetapi tingkah laku yang meraka lakukan telah membudaya. Dan itu semua merupakan implementasi dalil-dalil," tegasnya lagi.

IPNU Tegal

Sehingga konsep tersebut merupakan Islam Indonesia, lanjutnya, adalah ajaran Islam yang senantiasa telah membudaya dalam kehidupan bermasyarakat.?

"Islam Indonesia pada zaman Soekarno sangat dihargai dimata dunia karena dengan bangganya Soekarno menyuarakan tentang Islam di Indonesia hingga pada sidang PBB pun beliau menggunakan dalil untuk meyakinkan bahwa Islam di Indonesia besar, sehingga saya sangat bangga memakai peci Soekarno ini," ungkap Gus Mus sambil menunjuk peci hitam yang beliau kenakan.

Gus Mus menandaskan, selain harus bangga dengan identitas, tradisi, dan budayanya, bangsa Indonesia juga harus sadar akan tantangan-tantangan besar ke depannya. (Mazid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Santri, Nahdlatul, Doa IPNU Tegal

Klarifikasi Surat Persekutuan Gereja Jayawijaya Tolak Pembangunan Masjid

Jakarta, IPNU Tegal

Pada Jumat (26/2/2016) pagi beredar kabar di sosial media (sosmed) terkait kabar yang menyatakan bahwa Persekutuan Gereja-Gereja Jayawijaya (PGGJ) Kabupaten Jayawijaya Papua mengeluarkan surat larangan bagi kaum Muslimin untuk membangun masjid dan memakai jilbab bagi Muslimah.

Berikut adalah isi surat yang telah tersebar luas di jejaring sosial:

Klarifikasi Surat Persekutuan Gereja Jayawijaya Tolak Pembangunan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Klarifikasi Surat Persekutuan Gereja Jayawijaya Tolak Pembangunan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Klarifikasi Surat Persekutuan Gereja Jayawijaya Tolak Pembangunan Masjid

========== awal kutipan ==========

Pernyataan Sikap Gereja-Gereja Jayawijaya:

IPNU Tegal

1. Seluruh dominasi gereja di Kabupaten Jayawijaya meminta Pemda Jayawijaya mencabut/membatalkan ijin membangun Masjid Baiturahman Wamena.

2. Panitia pembangunan masjid harus menghentikan pembangunan.

IPNU Tegal

3. Menutup mushala/masjid yang tidak memiliki ijin bangunan.

4. Dilarang pembangunan mushala atau masjid baru di Kabupaten Jayawijaya.?

5. Dilarang menggunakan toa/pengeras suara saat shalat, karena sangat mengganggu ketenangan masyarakat.?

6. Dilarang menggunakan busana ibadah (jubah dan jilbab) di tempat umum.?

7. Hentikan upaya mendidik (menyekolahkan) anak-anak Kristen Papua di pesantren-pesantren.?

8. Hentikan mendatangkan guru-guru kontrak non-Kristen.?

9. Demi keharmonisan, kenyamanan, dan keamanan agar dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Wamena, 25 Februari 2016

Persekutuan Gereja Gereja Jayawijaya

========== akhir kutipan ==========

Terkait surat di atas yang beredar luas di kalangan masyarakat, Abdul Wahab, selaku Tim Kantor Berita Aswaja (KBA) News yang juga koordinator Aktivis NU PPM Aswaja dan Sarkub Papua segera melakukan tabayyun atau klarifikasi. Pejuang dakwah Ahlussunnah wal Jamaah Papua itu pun mencoba menghubungi beberapa tokoh di Papua. Salah satunya adalah Ridwan selaku Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua.

Berikut hasil wawancara Tim KBA News bersama Pengurus FKUB Provinsi Papua Ridwan:

Abdul Wahab

Ada surat yang menyebar luas terkait pelarangan membangun masjid dan memakai kilbab dari PGGJ di Jayawijaya. Apa surat itu benar adanya? Dan bagaimana FKUB menanggapi tentang surat tersebut yang sudah menyebar luas di kalangan masyarakat, sehingga menimbulkan keresahan?

Ridwan

Ya, surat edaran itu benar. Tapi sudah ditempuh cara-cara penyelesaian. Kemarin sudah rapat di Kanwil dan sudah ada tim yang akan turun ke Wamena.

Abdul Wahab

Harapan dan himbauan dari Bapak pengurus FKUB terkait surat tersebut bagaimana?

Ridwan?

Hasil rapat Kanwil Kemenag kemarin, pertama membentuk tim pencari fakta dan data ke lapangan. Kedua, mendukung Pemda dan FKUB menyelesaikan secara damai dan dialog, dan semua pihak menjaga kerukunan dan menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sementara itu, sehari setelah beredarnya surat dari PGGJ pada Kamis (26/02/16), Ikatan Keluarga Wilayah Walesi (IKKW) langsung mengadakan pertemuan, yang mana dalam pertemuan tersebut menghasilkan beberapa pernyataan yang ditunjukan untuk Bupati Kabupaten Jayawijaya dan tembusan kepada instansi terkait.

Berikut isi dari pernyataan IKKW

========== awal kutipan ==========

Bahwasanya nilai kebenaran bersifat universal, ia tidak dibatasi oleh sekat-sekat apapun (ras dan warna kulit), sehingga agama dapat berkembang di manapun di belahan dunia. Lebih-lebih dalam perkembangan peradaban teknologi informasi dewasa ini nyaris tak ada batasan ruang dan waktu bagi individu maupun kelompok untuk menerima dan atau menolak ajaran/ideologi tertentu.

Dalam pada itu dan berkenan dengan adanya pernyataan yang dikeluarkan oleh PGGJ pada tanggal 15 Februari kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, maka kami dari Ikatan Keluarga Wilayah Walesi (IKKW) di Jayapura yang merupakan bagian integral dari masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya berpandangan bahwa, ke-9 (sembilan) poin tersebut mengandung unsur provokatif dan berpotensi menimbulkan konflik horizontal.

Perlu kami informasikan di sini bahwa, Ikatan Keluarga Wilayah Walesi (IKKW) di Jayapura adalah gabungan dari 3 (tiga) agama besar di Indonesia (Kristen, Katolik dan Islam) yang selalu hidup merekatkan diri di atas nilai-nilai adat dan kemanusiaan tanpa terjebak dalam perdebatan atas keyakinan kami masing-masing.

Untuk menjaga dan memupuk keharmonisan hubungan antaragama di Kabupaten Jayawijaya, Ikatan Keluarga Wilayah Walesi (IKKW) di Jayapura hendak memberikan sejumlah pemikiran terkait pernyataan PGGJ sebagaimana di atas, yakni sebagai berikut:

1. Bahwa kehidupan yang harmonis di Kabupaten Jayawijaya telah berjalan dengan sangat baik, dengan senantiasa mengedepankan kebersamaan dan toleransi di atas nilai-nilai adat istiadat leluhur orang Dani dan nilai-nilai kemanusiaan yang berketuhanan.

2. Karena itu kami sangat menyesalkan adanya pernyataan sikap PGGJ yang cenderung provokatif dan terkesan mengabaikan eksistensi masyarakat adat Wamena Muslim dan peran umat Islam umumnya di Kabupaten Jayawijaya.

3. Mengimbau kepada semua kelompok masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi oleh hasutan apapun yang dapat menimbulkan ketegangan yang lebih besar di kalangan masyarakat Jayawijaya.

4. Mendesak Bupati Kabupaten Jayawijaya segera memfasilitasi sebuah perjumpaan di antara semua kelompok kepentingan di Kabupaten Jayawijaya untuk mendiskusikan dan meniadakan segala bentuk kesalahpahaman yang terjadi hingga menemukan solusi yang baik masing masing pihak.

5. Kepada pimpinan adat, pimpinan agama-agama di Papua, dan pemerintah daerah serta semua pihak di Kabupaten Jayawijaya, untuk tidak menyampaikan pendapat, pandangan dan statemen yang berpotensi semakin memunculkan kekisruhan sosisal di Kabupaten Jayawijaya.

Demikian pernyataan ini disampaikan kepada semua pihak sebagai wujud kepedulian kami dalam menciptakan Papua Tanah Damai, Nyaman dan Indag (DANI)

Wa... wa... wa...Nai Hawolok

Pengurus Ikatan Keluarga Wilayah Walesi (IKKW) di Jayapura

Panto Yalipele (Ketua Umum)

Musa Aso (Sekretaris Umum)

Perwakilan Unsur Unsur Agama Ikww Di Jayapura

1.Agama Katolik : Amatus Yalipele

2.Agama Kristen : Heni Yalipele

3.Agama Islam : H Abdul Kahar Yalipele

========== akhir kutipan ==========

Adapun Ketua MUI Provinsi Papua KH Saiful Islam Al Payage berpendapat bahwa adanya surat dari PGGJ karena faktor miskomunikasi antara teman-teman Muslim dan Kristen, Isu yang beredar katanya Masjid Baiturrahim akan direnovasi menjadi tujuh tingkat, padahal tidak, hanya 2 tingkat saja. Adapun surat yang beredar kan hanya aspirasi saja, dan Insyallah akan aman-aman saja

Ia juga menghimbau agar semua pihak untuk tidak terprovokasi terhadap berita yang berkembang, "Untuk saat ini sudah ditangani oleh Bupati dan instansi yang terkait, jadi kita jangan sampai terprovokasi", ujar KH Saiful Islam Al Payage.

“Mohon teman-teman ? jangan sampai mengeluarkan argumen atau berita yang hanya membikin suasana memanas. Di sini sudah adem dan sudah ditangani oleh pihak-pihak terkait: Salama ini kegiatan keagamaan juga berjalan lancar. Kami umat Islam di sini sudah biasa hidup rukun dan saling membantu dengan penganut agama lain. Bahkan lebih dari satu tahun saya difasilitasi kantor dakwah oleh tokoh Katolik di sini. Dalam acara keagamaan kita juga sudah biasa bantu membantu. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Quote, Doa, Internasional IPNU Tegal

Rabu, 22 November 2017

LD PBNU Kukuhkan Peserta PKD Angkatan Ke-7

Bogor, IPNU Tegal. Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) pengukuhan peserta Pendidikan Kader Dai (PKD) angkatan ke-7 di Wisma Industri Cisarua Bogor, 3-4 September 2016. Acara ini diikuti oleh 108 peserta PKD angkatan ke-7 dan dihadiri oleh pengurus harian LD PBNU.

LD PBNU Kukuhkan Peserta PKD Angkatan Ke-7 (Sumber Gambar : Nu Online)
LD PBNU Kukuhkan Peserta PKD Angkatan Ke-7 (Sumber Gambar : Nu Online)

LD PBNU Kukuhkan Peserta PKD Angkatan Ke-7

Seluruh peserta pengukuhan dibaiat oleh Sekretaris LD PBNU KH Nurul Yakin Ishaq dengan kesanggupan untuk menyampaikan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah di tengah-tengah masyarakat. Peserta yang telah dikukuhkan diwajibkan untuk berperan aktif dalam pengembangan dakwah, membimbing dan membina masyarakat serta menjaga keutuhan NKRI.

Dalam sambutan pengukuhannya, KH Nurul Yakin Ishaq menyatakan, peserta kader dai yang telah dikukuhkan adalah salah satu ujung tombak dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Indonesia. "Para dai dan daiyah yang telah dididik dan dikukuhkan malam ini, harus aktif berperan serta menjaga masyarakat dari rongrongan akidah persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi juga telah menjadi ancaman nyata bagi dakwah Islam," tegasnya.

Lebih lanjut, Nurul Yakin menjelaskan, Dakwah Islam di Indonesia yang telah dirintis sejak zaman Walisongo dengan mengedepankan sikap toleransi dan keseimbangan antara ajaran agama dan nilai-nilai budaya, kini menghadapi ancaman nyata dari ideology kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Ideologi kekerasan ini bukan hanya meresahkan, melainkan juga mengancam kelangsungan hidup manusia dengan tindakan-tindakan terorisme atas nama agama yang terus terjadi di Indonesia.

IPNU Tegal

"Karenanya, para dai dan daiyah LD PBNU berkewajiban membendung ideologi kekerasan demi melindungi jiwa masyarakat Islam Indonesia sebagai kelanjutan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah sejak zaman Walisongo," tandasnya.

PKD LD PBNU angkatan ke-7 diikuti oleh 134 peserta yang telah mengikuti pendidikan selama satu semester. Peserta terdiri dari para aktivis dakwah seperti guru-guru agama, kyai, ustadz muda dan professional yang aktif melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan dakwah.?

"Dari 134 peserta angkatan ke-7 hanya 108 yang berhasil mengikuti pendidikan hingga paripurna dan mengikuti pengukuhan dari LD PBNU. Seluruh peserta angkatan ke-7 dibagi dalam empat kelas, masing-masing adalah 19 orang kelas Sabtu siang, 38 orang kelas Sabtu pagi, 14 orang kelas Rabu siang dan 37 orang kelas Rabu pagi," tutur Afifah Junainah selaku ketua PKD LD PBNU. (Red: Fathoni)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Fragmen IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock