Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Alumni Beri Arahan Pengurus Baru IPNU-IPPNU Wonosobo

Wonosobo, IPNU Tegal. Menjelang pelaksanaan rapat kerja, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Wonosobo, Jawa Tengah, menggelar pertemuan rutin, Jumat (11/7).

Alumni Beri Arahan Pengurus Baru IPNU-IPPNU Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Beri Arahan Pengurus Baru IPNU-IPPNU Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Beri Arahan Pengurus Baru IPNU-IPPNU Wonosobo

Namun, ada yang berbeda dengan forum yang diadakan tiap sore tersebut. Pertemuan mendalami program kerja ke depan dengan melibatkan alumni kepengurusan lama.

Ketua PC IPNU Wonosobo peroide 1997-2001, A Muzan, hadir dalam kesempatan itu. Muzan memberikan gambaran serta arahan kepada pengurus PC IPNU-IPPNU masa khidmah 2014-2016 tentang beberapa hal.

IPNU Tegal

Menurutnya, beberapa hal penting yang harus menjadi pedoman dalam membuat program kerja, yaitu keislaman, kebangsaan, keilmuan, serta isu kaderisasi. “Membuat progam kerja adalah penjabaran empat visi umum,” kata A. Muzan.

Ia menambahkan, program kerja yang dibuat harus bisa menyentuh langsung kepada semua anggota, karena dengan seperti itu maka program kerja itu akan dinikmati langsung oleh semua anggota. ”Buatlah program kerja yang langsung mengena,” tambahnya.

IPNU Tegal

Kaderisasi, katanya, menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan. Ia menekankan tentang perlunya peningkatan profesonalisme pada setiap pengisi materi pada jenjang pengkaderan IPNU-IPPNU. (Arif Syukron/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Makam IPNU Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin

Situbondo, IPNU Tegal. Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada KHR. Asad Syamsul Arifin melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor 90/TK/2016 tentunya menegaskan keterlibatan para ulama NU dalam memperjuangkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, tak banyak orang tahu bagaimana perjuangan masyarakat, terutama para keluarga besar alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo dalam upaya pengusulan gelar kepahlawanan bagi Kiai Asad yang telah banyak berbuat untuk bangsa ini.?

Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin

Untuk mengetahui kronologis tersebut, IPNU Tegal menemui KH Muhyiddin Khotib, santri senior Pondok Sukorejo yang juga Ketua Tim Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KHR. Asad Syamsul Arifin, di kediamannya, 22 Mei 2017.

Ia menjelaskan, secara umum, pengusulan gelar kepahlawanan dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama, gagasan pemberian gelar ini muncul pertama kali sehari setelah Kiai Asad wafat pada tanggal 4 Agustus 1990 yang disampaikan langsung oleh KH Ahmad Siddiq, Rais ‘Aam PBNU saat itu.

Kiai Ahmad Siddiq menyampaikan bahwa Kiai Asad kalau dilihat dari jasa-jasanya, baik saat memperjuangakan kemerdekaan, maupun dalam menyatukan umat Islam untuk menerima ideologi negara Pancasila, maka sangat layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

IPNU Tegal

"Setelah pernyataan Kiai Ahmad Siddiq tersebut, banyak media yang memuat terkait gelar pahlawan untuk Kiai Asad, yang ini diikuti dengan pernyataan pernyataan tokoh yang juga sepakat, seperti Pangdam V Brawijaya Pak Hartono, dan Pak Basofi sebagai Korem di Malang" jelas Kiai Muhyidin.

Namun karena saat itu tidak ada yang mengawal secara serius, usulan kepahlawanan menjadi tenggelam.

Kedua, ide ini kembali muncul ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI mengunjungi Pondok Sukorejo sekaligus berziarah ke makam Kiai Asad. Saat itu Gus Dur meresponnya sangat positif dan akan ditindaklanjuti.

"Namun kala itu situasi politik yang tidak stabil, dimana Gus Dur harus berjuangan melawan lawan politiknya, maka pengusulan gelar ini mandeg lagi" paparnya.

IPNU Tegal

Pada tahap ketiga, pengusulan ini mendapat titik terang menjelang peringatan 1 Abad Harlah Pondok Sukorejo pada tahun 2014.

Kiai Muhyidin menceritakan, saat itu ia mengantarkan surat undangan acara rangkaian Harlah Pondok Sukorejo ke Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Disanalah Kiai Muhyidin dan Gus Ipul sempat memperbincangkan rencana pengusulan gelar kepahlawanan untuk Kiai Asad.

Ternyata, Pemprov Jawa Timur serius untuk mengusung dan mengawal seluruh proses gelar kepahlawanan. Hal itu disampaikan Gus Ipul saat memberikan sambutan pada puncak acara 1 Abad Pondok Sukorejo di hadapan ribuan jamaah yang hadir.

"Setelah itu, pengasuh pondok Kiai Azaim (cucu Kiai Asad), menunjuk dan mempercayakan kepada saya sebagai Ketua Tim Pengusulan Gelar Pahlawan," ujar dosen Mahad Aly Sukorejo ini.

Setelah menyusun tim kerja, lanjut Kiai Muhyidin, tim mengadakan seminar nasional terkait sepak terjang Kiai Asad. Seminar ini selain memperkaya data, juga untuk mendapatkan dukungan dari semua pihak.?

"Yang hadir sebagai narasumber salah satunya KH Hasib Wahab, putra Kiai Wahab Chasbullah, dan tokoh tokoh nasional yang lain. Semuanya sepakat memberikan dukungan sepenuhnya untuk rencana pengusulan gelar kepahlawanan," terangnya.

Tak sampai disitu, sambil lalu menyiapkan segala persyaratan administrasi prosedural birokrasi, Kiai Muhyidin dan tim berkeliling kebeberapa tempat, terutama menemui alumni ke daerah daerah terkait menyamakan persepsi atas rencana yang sedang berjalan.

Di tataran alumni, ada sebagian yang menolak atas rencana ini, karena menurut mereka, gelar keulamaan Kiai Asad jauh lebih tinggi dari sekadar gelar kepahlawanan.?

Kiai Muhyidin kemudian mencoba meyakinkan alumni yang menolak setidaknya dengan dua alasan. Pertama, gelar kepahlawanan ini sebenarnya untuk kepentingan NU. Kenapa? Ketika Gelar ini didapat, maka semakin mempertegas keterlibatan NU dalam mendirikan negara Indonesia. Karena selama ini masih sedikit ulama NU yang diakui negara dalam upaya ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Yang kedua, sebagai pelurusan sejarah. Maksudnya, ada orang atau tokoh yang pantas dan layak mendapat gelar pahlawan nasional, namun karena tidak pernah ada yang mengusulkan dan mengawal, akhirnya gelar itu tidak disandangnya. Sementara ada orang ? yang sebenarnya peran dan sepak terjangnya masih belum jelas, karena ada yang mengawal, malah mendapat gelar.

"Setelah mendapat dukungan bulat dari masyarakat, tokoh-tokoh dan terutama para alumni, begitu semua administrasi lengkap, kami pun mengajukan ke TP2GP daerah Situbondo, dilanjutkan ke Pemprov Jatim, lanjut ke Kemensos dan akhirnya sampai di meja Presiden" jelasnya bersemangat.

Secara umum tidak ada kendala yang berarti, hanya saja sempat dari tim peneliti pusat menemukan catatan bahwa Kiai Asad sempat diperiksa atau diintograsi di Danrem Malang atas tuduhan keterlibatan Kiai Asad dalam pemberontakan DI/TII.

Namun tuduhan itu terbantahkan setelah Pangdam V Brawijaya Jawa Timur menggelar sidang dan menyatakan bahwa Kiai Asad tidak terbukti sama sekali terlibat dalam pemberontakan tahun 1950an tersebut.

Akhirnya melalui pernyataan tertulis dari Pangdam, dikirim langsung ke Panglima TNI di Jakarta, dan dilanjutkan ke Presiden. Dengan surat tersebut seluruh persyaratan menjadi lengkap dan akhirnya Presiden resmi meneken SK gelar kepahlawanan Kiai Asad tanggal 3 November 2016.

"Alhmdulillah dua tahun mengawal bisa sampai tuntas, banyak sekali yang terlibat dalam upaya ini, ada Kiai Hasyim Muzadi, Bu Khofifah, Gus Ipul, Pemkab Situbondo dan seluruh masyarakat yang mendoakan," ungkapnya lega. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Hadits IPNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar

Tangerang, IPNU Tegal?



Mencegah radikalisme perlu dimulai dari kalangan pelajar. Sebab itu, Dewan Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang menggandeng Kementerian Agama Kota Tangerang untuk mencegah radikalisme di kalangan pelajar. Ini sebagai bentuk kegiatan di bulan Ramadhan?

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar

Presiden Dema STISNU Imam Khoiri menjelaskan, Kemenag harus ikut andil bersama-sama Dema STISNU dalam melakukan pencegahan bahaya radikalisme dan terorisme. "Kami (Dema) dan Kemenag sepakat terjun bersama menangkal radikalisme atas nama agama. Kita memulai dari sosialisasi di kalangan pelajar," ujarnya saat melakukan kunjungan ke Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang, Selasa (30/5).

Ia menambahkan, dema STISNU dan Kemenag sudah menyepakati beberapa poin sebagai manifesto kader mujahid untuk memberikan pemahaman pentingnya pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945.?

Kesepakatan juga berisi untuk menolak keras radikalisme atas nama agama, menolak organisasi yang ingin mengubah dasar negara, dan mendorong generasi muslim Indonesia berpikir moderat, toleran, dan penuh cinta serta kasih sayang.

IPNU Tegal

Kepala Kemenag Kota Tangerang H. Dedi Mahfudin a mengapresiasi langkah mahasiswa STISNU Nusantara. Menurutnya, radikalisme perlu ditangkal sejak dini karena pemikirian radikal dapat merusak integrasi kebangsaan.?

Sebab itu, Kemenag Kota Tangerang sangat mendukung program mencegah sejak dini bahaya pemikiran radikal di kalangan pelajar.

"Kita akan adakan kegiatan sosialisasi bersama-sama mencegah tindakan radikal di kalangan pelajar Kota Tangerang ", terangnya.

Jalinan kerjasama ini akan wujudkan pada kegiatan Gema (Gerakan Mahasiswa) Ramadhan 2017, yaitu berupa kegiatan roadshow dan sosialisasi bahaya radikalisme dan "ngaji pancasila" di 5 (lima) kelurahan Kota Tangerang selama bulan Ramadhan.?

Hadir pada acara silaturrahmi tersebut, Idrus Maulana pendiri PMII STISNU, Aflah Mumtaz Ketua Komisariat PMII, Raudhoh Amalia Pengurus Dema STISNU, dan pengurus Dema lainnya. (Suhendra/Abdullah Alawi)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Habib, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Oleh? Rijal Mumazziq Z

Gula menjadi salah satu basis industri andalan kolonial Belanda pasca (hampir) bangkrutnya mereka akibat Perang Jawa, Perang Padri, dan Perang Aceh. Melalui sistem tanam paksa, penjajah menikmati kemakmuran di Hindia Belanda, apalagi dengan adanya sistem sewa tanah 70 tahun. Para bangsawan Jawa, misalnya, dengan ceroboh banyak yang menyewakan tanah-tanah leluhurnya untuk kepentingan industri gula, teh, kakao, dan kopi yang dikelola pengusaha Eropa. Mengenai kejamnya sistem kapitalis yang disokong feodalisme konyol ini bisa dibaca dalam novel "Max Havelaar"-nya Multatuli.

Dua dasawarsa sebelum pergantian abad 19 ? ke 20, pabrik gula didirikan di berbagai daerah. Semua menjadi mesin yang menggelembungkan kantong bangsawan Belanda dan mengeringkan keringat kaum pribumi. Mangkunegoro IV, tercatat sebagai salah satu raja Jawa terkaya, yang turut mendirikan beberapa pabrik gula untuk menopang ekonomi keraton, seperti PG Colomadu dan PG Tasikmadu. Di eranya, industri ini menjadi salah satu pabrik gula pribumi yang bersaing dengan industri gula milik kaum kolonial. Prof Wasino menjelaskanan seluk beluk industri gula yang dikuasai bangsawan Jawa, Mangkunegoro IV (dan sedikit ulasan mengenai pabrik milik Hamengkubowono VII dengan kepemilikan 17 pabrik gula itu) dalam "Kapitalisme Bumiputra", sebuah buku menarik soal industri gula di pergantian abad.

Berdirinya pabrik gula di beberapa daerah juga diiringi dengan berdirinya permukiman di dekatnya. Adanya permukiman alias tangsi bagi buruh pabrik yang berasal dari luar daerah juga diiringi dengan tumbuhnya bisnis haram seperti perjudian, penjaja minuman keras, hingga prostitusi terselubung tak jauh dari lokasi pabrik. Jadi, lazim terjadi manakala setelah menerima upah, mereka akan menandaskannya di meja judi maupun memberi saweran kepada penari yang merangkap pekerja seks.

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Lalu, bagaimana ulama kita menyikapi fenomena ini? Alih-alih hanya mencaci maki, dengan cerdas dan bijak, para ulama menyalakan pelita di tempat gelap ini. Maka, berdirilah pesantren-pesantren legendaris tak jauh dari pabrik gula.

Pondok Tebuireng berhadapan menantang Pabrik Gula Tjoekir. Ponpes Denanyar tak jauh dari PG Djombang Baru. Ponpes Lirboyo tak jauh dari PG Pesantren Baru. Ponpes Zainul Hasan Genggong tak jauh dari PG Padjarakan. Ponpes Salafiyah Syafiiyah berdekatan dengan PG Asembagoes. PP Assuniyah Kencong Jember berdekatan dengan PG Gunungsari. Ponpes Annur Bululawang Malang juga tak jauh dari PG Krebet.

IPNU Tegal

Dalam fakta lain, berdirinya pondok pesantren di dekat pabrik gula ini kelak juga menghambat pengaruh PKI di kalangan buruh pabrik. Kaum kiri memang mendominasi gerakan buruh pabrik dan jawatan kereta api. Aksi-aksi pemogokan buruh beberapa kali juga dimotori kaum kiri, khususnya era 1920-an dan 1930-an.

Dalam kasus pembantaian ulama di Madiun, 1948, PKI menggerakkan buruh PG Pagotan sebagai milisi yang menggorok Kiai Shiddiq dan beberapa ulama lain di desa Kresek. Bahkan KH Masyhudi, Mursyid Thariqah Syadziliyah, yang juga menantu Kiai Shiddiq, menjelaskan apabila sebelum dieksekusi, milisi PKI menggunakan salah satu bangunan di PG Pagotan sebagai ruang penyekapan.

Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, juga menjadi lokasi penyekapan para kiai, camat, pamong desa, lurah, mantri, dan ratusan orang lainnya pada September 1948 itu. Kemudian para tawanan ini dieksekusi dengan cara diberondong senapan mesin. Kiai Imam Shafwan dan putranya, Kiai Zubair dan Kiai Bawani, dikubur hidup-hidup setelah sebelumnya disiksa habis-habisan. Adapun Kiai Mursyid, pengasuh PP Sabilil Muttaqin Takeran Magetan, yang juga menjadi salah satu kawan diskusi KH Abdul Wahid Hasyim tatkala di BPUPKI, ikut dilenyapkan dan tidak diketahui makamnya. Para pelaku pembantaian ini, kabarnya adalah anggota serikat buruh pabrik gula Pagotan dan Rejosari yang didukung militer yang pro FDR.

Bisa dibilang, adanya pesantren di dekat pabrik gula menjadi penanda lanjutan Perang Jawa. Para cucu Laskar Diponegoro yang berdiaspora di pedalaman Jawa itu kemudian memilih melawan mesin kolonialisme Belanda bukan dengan cara yang frontal, melainkan dengan pencerdasan masyarakat yang terkonsentrasi di tangsi buruh maupun masyarakat sekitar pabrik.

IPNU Tegal

Langkah-langkah yang dilakukan oleh para kiai di atas memberikan sebuah hipotesa awal bahwa siyasah alias politik yang dilakukan dengan cara yang elegan dan cerdas akan bertahan lama!

Penulis adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Ahlussunnah IPNU Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Ansor Tangsel Evaluasi Program Kerja dan Kaderisasi

Tangerang Selatan, IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Tangerang Selatan, Ahad (20/12), mengadakan rapat kerja (Raker) bersama seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor setempat di Taman Jajan Bumi Serpong Damai (BSD) Kota Tangerang Selatan, Banten.

Pertemuan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini antara lain membahas program kerja tahunan serta evaluasi kaderisasi dan kepengurusan ditingkat kecamatan atau PAC. Forum diikuti seluruh pengurus pimipinan cabang dan pimpinan anak cabang GP Ansor setempat.

Ansor Tangsel Evaluasi Program Kerja dan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tangsel Evaluasi Program Kerja dan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tangsel Evaluasi Program Kerja dan Kaderisasi

Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang Selatan Asrori mengatakan, pembahasan tersebut penting digelar sebagai langkah pembenahan roda organisasi dan proses pengaderan di berbagai tingkatan di Tangerang Selatan.

IPNU Tegal

“Kaderisasi di wilayah Kota berbeda dari wilayah desa, maka butuh ektra tenaga dan pemikiran dalam pengembangan kaderisasi di Kota Tangerang Selatan,” katanya.

Hasil dari Raker kali ini adalah pembentukan koordinator daerah binaan di masing-masing kecamatan se-Tangerang Selatan dan beberapa kegiatan dalam memunjang syiar NU Tangsel. PC GP Ansor Tangsel juga berencana akan mengedakan forum-forum diskusi, baik untuk pengembangan pemahaman Aswaja maupun tukar pikiran soal organisasi.

IPNU Tegal

Ketua Panitia raker Ari Hardi berharap hasil rapat kerja menjadi acuan dan fokus kerja GP Ansor ke depan, yang meliputi bidang kaderisasi dan internalisasi nilai-nilai Aswaja di wilayah Kota Tangerang Selatan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam IPNU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Kajian Hadits Kiai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Rakaat Tarawih

Khilafiyah terkait jumlah rakaat shalat Tarawih masih saja terjadi. Satu kelompok berpendapat bahwa shalat Tarawih harus 20 rakaat dengan dalil hadits Mauquf yang bersumber dari Sayidina Umar bin Al-Khatthab. Sementara itu, kelompok lain mencukupkan 11 rakaat saja dengan dalil hadits yang bersumber dari Sayyidah Aisyah RA. Bahkan Syekh Albani menganggap bid‘ah Tarawih yang dilaksanakan lebih dari 11 rakaat sebagaimana yang ia sebutkan dalam karyanya Risalah Tarawih.

Albani memfatwakan, siapa saja yang menambah shalat Tarawih lebih dari 11 rakaat maka perihalnya sama seperti orang yang menambahi shalat Zuhur menjadi 5 rakaat.

Kajian Hadits Kiai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Rakaat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Hadits Kiai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Rakaat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Hadits Kiai Ali Mustafa Yaqub tentang Bilangan Rakaat Tarawih

Berbeda dengan kedua pandangan di atas, Kiai Ali Mustafa Ya’qub mempunyai pandangan tersendiri. Ia menegaskan, dalam karyanya Hadits-hadits Bermasalah, bahwa tidak satupun riwayat valid yang menjelaskan kepastian jumlah rakaat shalat Tarawih. Ia juga menyebutkan bahwa boleh saja bagi seseorang melakukan shalat Tarawih dalam jumlah yang ia kehendaki, termasuk seribu rakaat sekalipun. Karena yang diutamakan dalam pelaksanaan shalat Tarawih adalah lama dan bagusnya shalat itu. Boleh saja bilangannya sedikit asalkan bacaannya bagus dan panjang, begitu juga dengan mereka yang shalat dengan jumlah rakaat yang banyak seperti 20 ataupun 36 rakaat.

Kiai Ali Mustqfa Ya‘qub mengajukan sejumlah argumentasi atas hal ini. Pertama, tidak satu pun hadits Marfu’ (hadits yang dinisbatkan secara langsung kepada Nabi) yang menjelaskan bilangan shalat Tarawih Rasulullah SAW. Memang benar ada hadits Sahih riwayat Muslim yang menceritakan bahwa Nabi SAW pernah shalat bersama sahabat sebanyak dua atau tiga malam pertama Ramadhan. Namun Rasulullah SAW tidak melanjutkannya karena khawatir Allah akan mewajibkan shalat tersebut bagi umat Islam yang pada akhirnya akan memberatkan mereka. Dalam hadits itu juga tidak disebutkan secara eksplisit jumlah rakaat yang dikerjakan oleh Nabi SAW.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Kedua, satu-satunya hadits Marfu’ terkait ibadah qiyamul lail (shalat Tarawih) adalah hadits Sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim di mana Rasulullah SAW bersabda,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Sayidina Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang mendirikan (malam-malam) di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh perhitungan, niscaya dosa-dosa (kecil) yang pernah ia perbuat akan diampuni oleh Allah SWT.’”

Dalam hadits di atas, Nabi SAW tidak memberikan batasan khusus untuk pelaksanaan qiyamul lail (shalat Tarawih). Rasulullah SAW hanya menyebutkan barangsiapa yang mengerjakannya dengan keimanan dan penuh perhitungan, maka dosa kecilnya akan diampuni. Berdasarkan keumuman tersebut Kiai Ali Mustafa Ya‘qub tidak membatasi bilangan rakaat shalat Tarawih.

Ketiga, Kiai Ali Mustafa membenarkan kesahihan hadits Mauquf yang digunakan oleh kelompok pertama, yaitu hadits yang menceritakan sikap Umar yang menyatukan umat Islam agar melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rakaat di bawah komando seorang imam, yaitu Sahabat Ubai bin Ka’ab. Kiai Ali juga membenarkan kalau hal itu sudah menjadi kesepakatan umat Islam dari sejak zaman Umar hingga sekarang. Tetapi dalam hal ini, Kiai Ali Mustafa tetap memberlakukan keumuman hadits yang bersumber dari Abu Hurairah RA di atas untuk dijadikan sebagai dalil tidak terbatasnya bilangan shalat Tarawih berdasarkan orientasi kemaslahatan, yaitu agar tidak adanya saling klaim kebenaran antarkelompok yang pada akhirnya akan mengakibatkan perpecahan umat.

Keempat, Kiai Ali juga mengkritisi dalil yang digunakan oleh kelompok kedua yang menganggap bahwa shalat Tarawih hanya sebelas rakaat saja dengan argumentasi bahwa hadits tersebut bukan dimaksudkan untuk menjelaskan shalat Tarawih. Tetapi hadits itu berbicara tentang jumlah rakaat shalat Witir. Buktinya hadits tersebut dicantumkan oleh Imam Al-Bukhari dalam bab shalat Witir. Selain itu, melalui redaksi haditsnya juga dapat dipahami bahwa Nabi SAW tidak pernah shalat sunah lebih dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya sehingga tidak mungkin shalat yang dimaksud di sana adalah shalat Tarawih karena shalat Tarawih hanya ada pada bulan Ramadhan.

Kelima, Kiai Ali juga membantah argumen Syekh Albani sebagaimana yang tercantum dalam karyanya Risalah Tarawih, yang membatasi pelaksanaan shalat Tarawih hanya pada bilangan sebelas rakaat. Setelah diteliti, argumentasi yang digunakan oleh Albani adalah hadits riwayat Ibnu Hibban yang bersumber dari Sahabat Jabir ibn Abdillah di mana dalam hadits itu disebutkan bahwa Nabi SAW mengizinkan sahabat Ubai ibn Ka’ab untuk mengimami shalat qiyamul lail wanita-wanita yang ada di rumahnya. Pada saat itu Ubai menyatakan akan shalat bersama mereka sebanyak 8 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir, sedangkan Nabi SAW diam saja pertanda Beliau SAW setuju.

Hadits tersebut mempunyai kualitas yang sangat dhaif sekali (dha’if syadid). Penyebabnya adalah karena dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Isa bin Jariyah. Ia dinilai oleh para ahli hadits seperti Ibnu Ma’in dan Imam An-Nasa’i sebagai perawi yang sangat dhaif. Bahkan Imam An-Nasa’i melabelinya sebagai perawi yang matruk (haditsnya semi palsu karena ia adalah seorang pendusta). Hal senada juga diungkap oleh Syekh Ismail Al-Anshari dalam karyanya Tashhihu Haditsi Shalatit Tarawih ‘Isyrina Rak’atan war Radd ‘alal Albani fi Tadh’ifihi. Wallahu a‘lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Hikmah IPNU Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Peran Orang Tua dalam Mengawasi Media Sosial

Oleh Durrotul Firdaus



Internet menjadi salah satu teknologi informasi yang fenomenal saat ini. Pertumbuhan penggunaan Internet yang pesat juga terjadi di Indonesia, beberapa tahun ini jumlah pengakses Internet di Indonesia mengalami peningkatan yang tajam. Sebagai gambaran, APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada 2014 menyebutkan, pengguna Internet di Indonesia mencapai 88,1 juta. Angka tersebut naik dari 71,2 juta dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerja sama dengan Taylor Nelson Sofres pada tahun 2009, pengguna Internet terbesar adalah usia 15-19 tahun, sebesar 64 persen. Sementara berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, usia 0-8 tahun tergolong usia anak-anak dan sementara 15-19 termasuk golongan remaja. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warung internet, sementara 19 persen mengakses via telepon seluler. Sedangkan data terbaru di tahun 2015 cenderung terbalik dengan data tahun 2009, seiring dengan banyaknya pengguna internet yang memiliki gawai (smartphone), sehingga pengguna internet saat ini lebih banyak mengakses lewat seluler dibanding warnet.

Peran Orang Tua dalam Mengawasi Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Orang Tua dalam Mengawasi Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Orang Tua dalam Mengawasi Media Sosial

Perkembangan teknologi bagai pisau bermata dua. Manfaat yang dihasilkan selaras dengan ancaman bahaya yang mungkin ditimbulkan apabila digunakan tidak semestinya. Mengawali tahun 2010, media massa ? di Indonesia mulai dari televisi, surat kabar, tabloid, dan radio menginformasikan tentang kasus kriminal yang melibatkan salah satu situs jejaring sosial yang sedang marak digunakan remaja di Indonesia, seperti Facebook, Blackberry massanger, Twitter, Instagram, Line, Whatsapp. Sebagai contoh, kejahatan yang marak diberitakan di media massa berkaitan dengan penggunaan facebook oleh remaja adalah penipuan, prostitusi online, human trafficking, dan pencemaran nama baik (Juju, 2010:73).

Kasus terbaru yang kian marak beberapa saat lalu ialah kasus 2 akun gadis yang memiliki follower Instagram menyaingi jumlah follower? istri presiden ke-5 RI, Ani Yudhoyono. Ketika ditelusuri akun Instagram yang ramai dikunjungi oleh netizen tersebut ternyata berisi konten yang menyedihkan. Akun tersebut menampilkan gaya hidup yang bebas, kebiasaan pacaran, dan budaya hura-hura. Diantara netizen memberikan komentar yang mendukung, memberikan pujian, dan juga ada yang menyudutkan pelaku, dan sebagian menyalahkan orangtua pelaku. Disini ada dua fenomena yang kita tangkap. Pertama, adalah pergaulan bebas anak yang kurang pengawasan dari keluarga. Kedua, sisi negatif penggunaan media sosial untuk mengekspresikan diri. Miris melihatnya, apalagi bagi orangtua yang memiliki anak-anak yang menuju masa pubertas. ?

IPNU Tegal

Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul yang umumnya adalah individu atau organisasi yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, dan keturunan. Begitu pula dengan situs dunia maya juga memiliki fungsi menunjukkan jalan dimana para penggunanya berhubungan karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga. Melalui media sosial, kita juga dapat menjalin komunikasi dengan teman-teman ataupun relasi ? baru. Layanan di media sosial ini merupakan sistem berbasis web menyediakan kumpulan cara yang beragam bagi penggunanya untuk dapat berinteraksi seperti memperbarui profil pribadi, memperbarui status, berkirim komentar, chatting, mengirim pesan, video, blog, dan diskusi grup.

Anak-anak dan remaja saat ini merupakan golongan masyarakat yang hidup di era digital (digital native). Sementara itu, generasi orangtua dari mereka saat ini masih cenderung menjadi penduduk pendatang digital (digital immigrant). Akibatnya, kesadaran akan potensi negatif yang mengancam anak-anak dan remaja tidak disadari dan diseriusi oleh kalangan dewasa. Anak dan remaja dapat digambarkan sebagai digital native, merupakan kalangan serupa penduduk asli di dunia digital saat ini. Mereka lahir dan tumbuh di era digital yang menjadikan mereka memiliki cara berpikir, berbicara, dan bertindak berbeda dengan generasi sebelumnya yang diibaratkan sebagai digital immigrant.

IPNU Tegal

Adapun kalangan orangtua saat ini diasosiasikan sebagai digital immigrant atau penduduk pendatang yang masih berusaha beradaptasi di dunia digital sebagai salah satu hasil dari perkembangan teknologi yang baru, orangtua sebagai digital immigrant dituntut untuk melakukan adaptasi secara instan terhadap teknologi yang marak digunakan oleh anak remajanya. Kurangnya pengetahuan orangtua terhadap situs jejaring sosial karena perbedaan persepsi yang ada diantara orangtua dan remaja. Persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimulus indrawi. (Rakhmat, 2005:51).?

Sebagai orangtua yang tergolong ke dalam digital immigrant, mereka mempersepsikan bahwa hadirnya media sosial saat ini tidak ditujukan oleh orangtua yang tidak banyak berinteraksi dengan kemajuan teknologi seperti anak remaja mereka. Persepsi orangtua dalam memahami media sosial yaitu bahwa teknologi seperti media sosial pantasnya digunakan bagi anak muda. Seperti orangtua yang merasakan bahwa ketidaktahuannya akan apa itu media sosial selain karena merasa gagap teknologi juga rasa malu jika dipandang sebagai orangtua yang terlalu gaul dan akrab dengan media baru.

Anggapan dari lingkungan yang juga tidak memahami media sosial menjadi pemicu kurangnya pengetahuan mengenai teknologi ini. Orang tua yang tidak gagap teknologi ? tentunya dapat memberikan pengarahan kepada anak tentang manfaat dan tujuan penggunaan media sosial yang positif. Selain itu pemahaman tentang teknologi akan mempermudah orangtua dalam memberikan pengertian kepada remaja mengenai esensi menggunakan teknologi baru dengan bijaksana. Bukan hanya itu, orangtua yang dekat dengan perkembangan anak, dan memahami perkembangan jaman akan mudah mengawasi dan memberikan arahan positif bagi pergaulan anak-anaknya di dunia nyata maupun dunia maya. ?

Penulis adalah Aktivis IPPNU, mahasiswi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam IPNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul

Jakarta, IPNU Tegal. Telah berpulang ke rahmatullah Mustasyar PWNU DI Yogyakarta KH A Arwan Bauis pada Selasa (11/8) malam. Pejuang NU di Yogyakarta ini dipanggil oleh Allah pada pukul 22.00 setelah beberapa tahun terakhir menderita Leukemia.

Salah seorang pengasuh pesantren Krapyak Yogyakarta KH Hilmi Muhammad mengatakan bahwa KH Arwan merupakan pejuang tulen NU yang tak tertandingi, lahir dan batin. Komitmennya terhadap NU tidak perlu diragukan. Pengabdiannya di GP Ansor di masanya juga memberikan bekas tersendiri.

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)
Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul

“Beliau adalah murid Simbah almarhum KH Ali Maksum, dan juga sahabat sekaligus pengawal almarhum KH Abdurrahman Wahid bila sedang di Yogya,” kata KH Hilmi dalam akun fesbuknya, Rabu (12/8).

IPNU Tegal

Ustadz Hilmi mengajak warga NU untuk meneladani KH Arwan terkait pengabdiannya untuk NU. Ia bercerita bahwa di era awal reformasi, almarhum mengalami puncak karier dan senioritas di Kanwil Depag DIY. Almarhum semestinya berhak untuk menjabat sebagai Kakanwil, namun ia dengan logowo menyerahkan posisinya untuk kalangan Muhammadiyah.

“Ini menjadi pelajaran besar bagi kita bahwa jabatan bukan segala-galanya, dan bahwa NU sebagai lembaga dakwah dan pengabdian tidak sepatutnya dijadikan pijakan guna mendapatkan suatu kedudukan tertentu,” ujar Ustadz Hilmi seraya mengajak warga NU untuk berdoa agar Allah mengampuni almarhum dan melipatgandakan amalnya. Allah yarhamuh. (Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Makam, Pesantren IPNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Menteri Malaysia Ziarah Makam Sunan Ampel

Surabaya, IPNU Tegal. Dato Seri Mustapa Mohammed, Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia, berziarah ke Makam Sunan Ampel, Surabaya, Ahad (8/4) lalu. Ia didampingi oleh Abdul A’la, Rektor IAIN ? Sunan Ampel Surabaya, KH Khoiron Syuaib, dan serta Karim Raslan, seorang kolumnis Malaysia.

Menteri Malaysia Ziarah Makam Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Malaysia Ziarah Makam Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Malaysia Ziarah Makam Sunan Ampel

Dengan takzim, To’ Pa, panggilan akrab Dato Seri Mustapa Mohammed, mengikuti pembacaan tahlil di makam Sunan Ampel yang dipimpin oleh Kiai Khoiron.

Dalam kesempatan itu, dengan antusias Prof A’la dan Kiai Khoiron menjelaskan proses dakwah yang dilakukan oleh Walisongo, khususnya Sunan Ampel. Disampaikannya, dakwah walisongo dilakukan dengan penuh kedamaian dan tanpa pertumpahan darah.

IPNU Tegal

Berasal dari Kerajaan Champa, Raden Rahmatullah, nama asli Sunan Ampel, mengunjungi bibinya yang menjadi salah satu istri Raja Majapahit. Semangat dakwah membuat Sunan Ampel kemudian memutuskan tinggal di Ujung Galuh, nama kuno Surabaya, dan berdakwah hingga akhir hayatnya.

IPNU Tegal

Raut muka To’ Pa sedikit terkejut mendengar keterangan bahwa Sunan Ampel berasal dari Kerajaan Champa, yang saat ini berada di wilayah Kamboja. Arsitektur gapura makam yang berornamen Hindu juga tak luput dari penjelasan Prof A’la. “Hal ini menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan oleh Sunan Ampel merupakan dakwah yang arif dan bijak, serta secara evolutif melalui pendekatan kultural,” terang Prof A’la.

Kiai Khoiron juga menambahkan keterangan legenda-legenda seputar Sunan Ampel dan murid-muridnya. Mengenai Mbah Bolong, murid Sunan Ampel yang menjawab keraguan masyarakat mengenai arah kiblat dengan langsung melobangi dinding mihrab sehingga, konon, kota Makkah bisa terlihat, maupun tentang Mbah Soleh, murid Sunan Ampel yang memiliki sembilan makam.

“Meskipun tampak irasional, tapi biidznillah, kejadian ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah,” terang Kiai Khoiron, kiai yang berdakwah selama puluhan tahun di Lokalisasi Bangunsari Surabaya.

Dalam ziarah tersebut, To’ Pa mengungkapkan kekagumannya pada Sunan Ampel. Bagi To’ Pa, Sunan Ampel adalah teladan. “Perjuangan dakwah beliau dengan jalan damai, dengan pendekatan kultural dan langkah yang arif inilah yang saat ini harus kita lanjutkan,” tuturnya kepada wartawan.

Di akhir perjalanan ziarah tersebut, Prof A’la memberi kenang-kenangan kepada To’ Pa dan Karim Raslan buku berjudul Walisongo karya Agus Sunyoto, sejarawan-sastrawan yang sedang menyusun buku berjudul Atlas Walisongo. ?

Kedatangannya To’ Pa ke Surabaya dalam rangka menjalin hubungan perdagangan antara Indonesia dan Malaysia. Bersama dengan 26 pengusaha Malaysia, pria ramah ini melakukan pertemuan dengan para pengusaha yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghua (Perpit), maupun Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Rijal Mumazziq Z

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kyai, Nahdlatul, Makam IPNU Tegal

Doa dan Dzikir Sangat Bermanfaat bagi Prajurit

Surabaya, IPNU Tegal. Di hadapan ratusan prajurit angkatan laut yang berkumpul di Markas Komando (Mako) Armatim Surabaya, Ustadz Maruf Khozin mengingatkan bahwa doa memiliki manfaat sangat besar. Apalagi hal tersebut dilakukan dalam kondisi genting dan menghadapi mara bahaya.

"Anda sudah hafal Surat Yasin?" tanya Ustadz Maruf Khozin saat berada di podium, Kamis (24/11). Serentak perajurit menjawab: "Sudah."

Doa dan Dzikir Sangat Bermanfaat bagi Prajurit (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa dan Dzikir Sangat Bermanfaat bagi Prajurit (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa dan Dzikir Sangat Bermanfaat bagi Prajurit

Kemudian Ustadz Maruf, sapaan akrabnya mengemukan bahwa di dalam surat Yasin terdapat keterangan yang menyebutkan keselamatan di laut. Secara khusus, anggota Dewan Pakar PW Aswaja NU Center Jatim ini menjelaskan ayat ke 41 hingga 44 dari Surat Yasin tersebut yang secara umum menjelaskan bahwa keselamatan dalam bahtera atau kapal sangat ditentukan oleh Allah SWT.

IPNU Tegal

"Karena itu saat berada di kapal hendaknya meminta kepada Allah dengan berdoa," pesannya. Karena manfaat dari doa saat kondisi aman terkendali, maka di saat keadaan membahayakan Allah akan menolong.

IPNU Tegal

Kemudian Ustadz Maruf membacakan teks hadis dari Abu Harairah yang mengemukakan "Barangsiapa senang doanya dikabulkan oleh Allah di saat ada kesulitan, maka perbanyaklah berdoa kepada Allah di saat kondisi tenang," terangnya sembari menyebutkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan Tirmidzi.

Sebelumnya, jelang Hari Armada Nasional, Mako Armatim mengadakan istigatsah dan doa bersama yang rutin dilakukan tiap tahun. Dalam sambutannya, Panglima Armatim menyampaikan bahwa manfaat dari dzikir dan istigatsah sangat dirasakan prajurit manakala bertugas di tengah laut. Saat menghadapi terjangan ombak, badai, gempa laut, hujan deras, cuaca buruk dan sebagainya, semua akan terlewatkan dengan pertolongan dari Allah. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Doa, Makam IPNU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Ranting NU Pasongsongan 2 Berikan Santunan kepada Yatim dan Dhu‘afa

Sumenep, IPNU Tegal - Pengurus Ranting NU Pasongsongan 2 Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep menggelar aksi sosial rutin tahunan yang mencakup santunan yatim, fakir miskin dan pasar murah bagi para janda. Aksi ini diadakan di tiga lokasi dan waktu yang berbeda.

Pada Jumat (23/12) panitia mengadakan santunan dan pasar murah di halaman Masjid Al-Mabarrot Dusun Morassen Desa Pasongsongan. Pada Sabtu (24/12) aksi ini digelar di Dusun Sempong. Sedangkan pada Ahad (25/12) kegiatan ini diadakan di Dusun Pakotan.

Ranting NU Pasongsongan 2 Berikan Santunan kepada Yatim dan Dhu‘afa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting NU Pasongsongan 2 Berikan Santunan kepada Yatim dan Dhu‘afa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting NU Pasongsongan 2 Berikan Santunan kepada Yatim dan Dhu‘afa

Hal ini sengaja dilaksanakan secara bertahap di masing-masing dusun mengingat medan tempuh yang sangat jauh jika hanya difokuskan di satu tempat. Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus MWCNU Pasongsongan dan Kepala Desa Pasongsongan Rasyid Busanto.

Ketua Panitia Slamet Hariyanto menjelaskan, kegiatan yang sangat sederhana ini terlaksana berkat kepercayaan masyarakat sebagai donatur kepada pengurus ranting NU dalam mengelola dan menyalurkan dana yang telah diterima.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Ketua Ranting NU Pasongsongan 2 Kiai Ahmad Sunni berharap kegiatan semacam ini terlaksana setiap tahun dan ada peningkatan dari segi kualitas maupun kuantitas.

Pada tahun ini pihak panitia menyalurkan bantuan kepada anak yatim sejumlah Rp.14.250.000. bantuan ini diberikan kepada anak yatim yang tersebar di wilayah ranting Pasongsongan 2 dan anak yatim di 13 ranting NU se-Pasongsongan.

Pihak panitia menyalurkan bantuan kepada 34 orang fakir miskin dengan masing-masing mendapat Rp 100.000. Sedangkan bantuan untuk para janda berbentuk pasar murah paket sembako senilai Rp 60.000 yang dijual dengan harga Rp 25.000. pihak panitia menyediakan sejumlah 300 paket plus mie instan bagi para janda pemegang Kartanu.

Sebelum pelaksanaan, panitia melakukan pendataan dan pembagian kartu undangan kepada yang berhak menerima. (AH Ihsan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pemurnian Aqidah, Makam IPNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Pagar Nusa Gelar Tahlil Selama 7 Hari untuk KH Suharbillah

Jakarta, IPNU Tegal. Dalam rangka memperingati wafatnya penasihat dan salah satu pendiri Pagar Nusa, KH. Suharbillah, Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa menggelar doa bersama dan tahlil selama tujuh hari, Rabu (27/8)-Senin (1/9) di kantor PP Pagar Nusa, gedung PBNU, Lantai 7, Jalan Kramat Raya No 164, Jakarta.

Pagar Nusa Gelar Tahlil Selama 7 Hari untuk KH Suharbillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Gelar Tahlil Selama 7 Hari untuk KH Suharbillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Gelar Tahlil Selama 7 Hari untuk KH Suharbillah

"Jasa KH. Suharbillah sangat besar pada Pagar Nusa, dari mulai berdirinya hingga sekarang. Untuk menghormati beliau kami menggelar tahlil selama 7 hari di sekretariat (Pagar Nusa) yang juga dilaksanakan oleh Pagar Nusa di daerah," ungkap Ridwan Hidayat, salah satu ketua harian PP PSNU Pagar Nusa dari Manado yang menyempatkan hadir, Sabtu (30/8).

Tahlil dilaksanakan bakda shalat maghrib yang diikuti tidak hanya oleh pengurus pusat, tapi simpatisan Pagar Nusa yang selama ini selalu berinteraksi dengan Pagar Nusa. Tahlil di gelar dengan sangat sederhana seperti kesederhanaan beliau selama ini, lanjut Ridwan.

IPNU Tegal

"Insya Allah pada hari ke 7 wafatnya beliau nanti (Senin, 1/9) kita akan merefleksikan apa yang menjadi harapan beliau terhadap Pagar Nusa selama ini, termasuk konsep gerakan pencak silat untuk senam kesehatan jasmani (SKJ) yang sampai wafatnya beliau belum terlaksana," kata Ridwan

Gus Aizzudin selaku ketua umum Pagar Nusa sebelumnya sudah mengintruksikan kepada pimpinan wilayah, pimpinan cabang dan perguruan yang tergabung dalam Pagar Nusa untuk menggelar tahlil di daerah masing-masing. Hal ini di sambut baik oleh Pagar Nusa di beberapa daerah seperti Solo Raya, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan beberapa daerah lain yang sudah konfirmasi kepada kepala kesekretariatan PP Pagar Nusa siap menggelar tahlil selama 7 hari wafatnya KH. Suharbillah. (Nashr Fanie/Mahbib)

IPNU Tegal

Foto: KH Suharbillah menunjukkan satu gerakan silat Pagar Nusa dalam satu acara halaqah silat.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Syariah IPNU Tegal

Indonesia Sedang Menghadapi Perang Proksi

Jakarta, IPNU Tegal. Indonesia kini tengah menghadapi perang proksi (proxy war), yakni perang tidak tampak, yang menggunakan tangan ketiga untuk merongrong dan mengambil kekayaan alam kita sebesar-sebesarnya melalui penyebaran narkoba, penyakit AIDS, media sosial, dan sejenisnya.

Indonesia Sedang Menghadapi Perang Proksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Sedang Menghadapi Perang Proksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Sedang Menghadapi Perang Proksi

Demikian disampaikan Asisten Teritorial Kodam Jaya Kolonel Arudji Anwar mewakili Panglima Kodam Jaya, saat menjadi narasumber pada diskusi yang digelar Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DKI Jakarta, menyambut diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016.

Calon doktor Universitas Padjajaran itu menjelaskan, penetrasi narkoba semakin parah, malah sudah masuk kategori darurat. Pengguna narkoba aktif saat ini sudah menembus 4,2 juta orang, dan setiap hari ada 50 orang meninggal akibat adiktif kronis. Sehingga yang terjadi ke depan adalah punahnya generasi, lantaran generasi kita tidak bisa berpikir, dipenuhi halusinasi, dan tidak peduli nasib bangsa lagi.

IPNU Tegal

Ancaman lainnya yaitu penyakit AIDS yang menyerang mayoritas generasi muda. Bahkan AIDS menjadi genosida bagi rakyat Afrika di kala dihancurkan oleh negara barat. Sebagaimana diketahui bahwa pusat studi AIDS milik Amerika berada di wilayah ASEAN, Thailand.

IPNU Tegal

Narkoba dan AIDS adalah langkah bangsa lain untuk menghancurkan generasi bangsa Indonesia. Indonesia menjadi sasaran karena terletak di daerah ekuator atau katulistiwa yang memiliki kekayaan alam dan sumber energi besar yang dibutuhkan semua bangsa di dunia ketika jumlah penduduk dunia semakin meledak. Agenda MEA, ACFTA, atau APEC, bagi Arudji tidak lain adalah instrumen untuk menguasai Indonesia.

"Saat bangsa lain sedang sibuk mencari cara untuk menguasai energi, air, pangan, dan lain-lain. Dan ketika generasi kita dihancurkan dengan narkoba, AIDS, dan lain-lain, ternyata kita sedang asyik dengan media sosial yang isinya non-fact semua. Tayangan televisi yang tidak mendidik dan merusak moral anak-anak. Nyuri ayam saja masuk TV, tayangan bacok-bacokan, tawuran, dan kekerasan sangat terbuka," sesal Arudji.

Dalam dikusi yang berlangsung di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (3/2), itu Arudji juga mengingatkan tentang mudahnya masyarakat terpancing membuat kegaduhan. "Lihat pemerintahan Pak Jokowi belum sampai 100 hari sudah dipenuhi gonjang-ganjing media. Gonjang-ganjing yang akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Kau tidak akan percaya lagi dengan TNI-mu, polisimu, KPK-mu, DPR-mu, dan lain-lain. Hancurlah bangsa ini," imbuhnya.

Ia melanjutkan, ancaman perang proksi harus dihadapi dengan memantapkan kondusivitas wilayah dengan kembali ke tugas pokok masing-masing dengan kerja. Aparat pemerintah bekerja, masyarakat pun harus memikirkan bagaimana berkontribusi untuk negara.

"Negara memang sudah ada yang mengatur, tetapi pikirkan apa yang bisa kita perbuat untuk bangsa. Sehingga Kodam Jaya pun sedang membangun wilayah/teritorial mandiri dimana keluarga bisa mencukupi kebutuhan sendiri dengan memelihara ternak dan menanam tanaman di rumah masing-masing. Selain mendampingi kajian dan proses pembangunan energi terbarukan (bioenergi) untuk ketahanan energi bangsa kita," tutup Arudji.

Diskusi dwimingguan bertajuk "Kondusivitas Jakarta Saat ini dan di Era MEA 2016" tersebut juga dihadiri Direktorat Binmas Polda Metro Jaya AKBP H Jajang Hasan Basri mewakili Kapolda Metro Jaya, dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Jakarta Taufan Bakri mewakili Gubernur DKI Jakarta sebagai narasumber. (Mulyadin Permana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam IPNU Tegal

Bekal Mandiri, TKI di Taiwan Digembleng Pelatihan Membuat Kue dan E-Commerce

Taipe, IPNU Tegal. Kisah tentang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, tidak melulu berisi kesedihan dan cucuran air mata. Seperti halnya di Taiwan, para TKI justru mengisi waktu luang di sela-sela hari libur dengan berlatih membuat kue tradisional khas Taiwan serta pelatihan bisnis e-commerce.

Bekal Mandiri, TKI di Taiwan Digembleng Pelatihan Membuat Kue dan E-Commerce (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekal Mandiri, TKI di Taiwan Digembleng Pelatihan Membuat Kue dan E-Commerce (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekal Mandiri, TKI di Taiwan Digembleng Pelatihan Membuat Kue dan E-Commerce

Tak kurang dari 40 TKI, hadir dalam pelatihan yang diadakan di Kainan Vocational High School, Taipei, Taiwan, Minggu (10/9). Direncanakan, puluhan TKI ini akan mengikuti pelatihan secara intens setiap minggu sebanyak 10 kali pertemuan atau sekitar 2,5 bulan ke depan.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat, sebab benar-benar mendidik kita mengolah kue dari tahap pengenalan bahan-bahan hingga jadi,” tutur Nurnaningsih.

TKI asal Wonosobo, Jawa Tengah, ini bahkan telah berancang-ancang membuka usaha sekembalinya di Indonesia.

IPNU Tegal

“Saat ini, saya sudah merintis toko kue dengan saudara di Kebumen. Nantinya dengan bekal ilmu ini, saya mau mandiri, membuka toko kue sendiri,” ujar TKI yang sebelumya juga rutin mengikuti beragam pelatihan di Taiwan.

Nurnaningsih menjelaskan, pihak majikan sangat mendukungnya dengan memberikan ijin libur bagi TKI yang bekerja di Daan District, Taipei, ini.

IPNU Tegal

“Pelatihan intens selama 2,5 bulan ini sangat efektif. Insyaallah akan banyak ilmu yang bisa kami serap,” timpal Tarnia Tari.

TKI yang juga Ketua Fathayat Nahdlatul Ulama (NU) Taiwan ini menuturkan, kegiatan pelatihan ini merupakan oase bagi TKI yang membutuhkan kegiatan positif dan produktif di hari libur.

Untuk menunjang kualitas kegiatan, pelatihan hasil kerja sama Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei dan Global Workers Organization (GWO) ini diadakan di ruang praktikum. Bagi TKI yang berlatih membuat kue, seluruh bahan-bahan membuat kue telah disediakan, termasuk peralatan mengolah kue. Adapun untuk kelas bisnis e-commerce, selain disediakan komputer bagi masing-masing peserta, dihadirkan pula tutor yang memandu pengenalan bisnis e-commerce, penerapan sistem aplikasinya, strategi pemasaran produk, pemilihan transaksi pembayaran, serta cara mengelola bisnis e-commerce.

“Program ini diharapkan dapat meningkatkan keahlian khusus bagi TKI, sehingga dapat berwirausaha ketika kembali ke Indonesia,” tandas Kepala KDEI Taipei, Robert J Bintaryo didampingi Kabid Ketenagakerjaan Devriel Sogia Raflis dan Analis Ketenagakerjaan Farid Maruf, di sela-sela kegiatan.

“Manfaat lainnya adalah menambah jaringan dan relasi, bisa bergabung dengan komunitas di Indonesia serta fasilitasi program pemberdayaan terintegrasi oleh Kemenaker dan BNP2TKI sesuai minat dan potensi,” imbuhnya. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Cerita IPNU Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Jelang Suro, Pagar Nusa Kartasura Giat Berlatih

Sukoharjo, IPNU Tegal. Bulan Suro atau Muharram, merupakan momentum yang ditunggu-tunggu oleh para pendekar silat Pagar Nusa. Pada bulan ini, sebagian dari mereka akan mengikuti prosesi sah-sahan (semacam pembaiatan anggota).

Jelang Suro, Pagar Nusa Kartasura Giat Berlatih (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Suro, Pagar Nusa Kartasura Giat Berlatih (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Suro, Pagar Nusa Kartasura Giat Berlatih

Begitu juga dengan para pesilat Pagar Nusa (PN) Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Untuk mempersiapkan kedatangan bulan tersebut, mereka semakin giat mengadakan latihan. “Hampir setiap malam, kami adakan latihan,” terang pengurus PN Kartasura, Ahmad Rosyid, Jumat (25/10) siang.

Menurut mahasiswa PAI Tarbiyah IAIN Surakarta tersebut, sebanyak 19 calon anggota mengikuti latihan yang dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Fattah Krapyak Kartasura. Pada malam 10 Suro nanti, mereka akan disahkan menjadi anggota Pagar Nusa.

IPNU Tegal

Namun, tidak hanya itu untuk menambah kekuatan batin, sebelum disahkan para calon anggota mesti menjalani puasa terlebih dahulu. “Selain latihan rutin, pada tanggal 8-10 Suro, mereka diminta untuk melakukan puasa mutih,” ungkapnya.

IPNU Tegal

Kembangkan Sayap

Sebetulnya geliat Pagar Nusa di Kartasura Sukoharjo, tidak hanya terjadi saat momentum Suro saja. Kebanyakan anggotanya yang merupakan mahasiswa IAIN Surakarta, aktif untuk mengembangkan organisasi.

Di samping menggelar pelatihan rutin di Pesantren Al-Fattah, para pengurus juga menggelar latihan di kampus IAIN. “Kita adakan rutin setiap Selasa dan Jumat sore,” jelas Rosyid.

Selain itu, lanjut pemuda asal Wonogiri itu, pihaknya juga membuka latihan di beberapa tempat, di antaranya di Pesantren Al-Anis Jiwan Kartasura, Masjid Al-Muttaqin Karangmojo, dan di beberapa kampung lainnya. Pengembangan daerah latihan tersebut dikarenakan, para anggota yang telah disahkan, diwajibkan untuk menjalankan pengabdian selama 1 tahun.

“Pengabdian minimal mereka ikut melatih, syukur kalau bisa membuka cabang baru di daerahnya,” paparnya.

Rosyid berharap, dengan adanya pembinaan yang bagus, Pagar Nusa Kartasura ke depan dapat menjadi wadah bagi para pendekar NU, untuk bisa ikut berjuang di wilayah Sukoharjo pada khususnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam IPNU Tegal

Senin, 30 Oktober 2017

Nahdliyin Tuntut TNI AD Hentikan Pemagaran Pesisir Urut Sewu

Konflik tanah di Urutsewu, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) telah berlangsung sejak penggabungan desa 1920. Pada 1932 pemerintah Kolonial Belanda mengadakan klangsiran tanah yang membagi tanah berdasarkan nilai ekonomisnya, dengan tujuan akhir menetapkan pajak yang harus dibayar oleh masyarakat.

Penjajah Belanda mengklaim tanah pada jarak ± 150—200 m dari garis pantai sebagai milik Belanda. Masyarakat menyebutnya sebagai “Tanah Kompeni”, dan melawan Belanda untuk merebut kembali tanah-tanah ini. Pada 1937, Tentara Kolonial Belanda memakai pesisir Urutsewu sebagai arena latihan militer, dan dilanjutkan oleh Jepang pada 1942-5.

Nahdliyin Tuntut TNI AD Hentikan Pemagaran Pesisir Urut Sewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Tuntut TNI AD Hentikan Pemagaran Pesisir Urut Sewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Tuntut TNI AD Hentikan Pemagaran Pesisir Urut Sewu

Maret-April 1998 Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) melakukan pemetaan sepihak dan melabeli area lapangan tembak dengan “Tanah TNI-AD”, dan meminta tandatangan dari kepala desa di kawasan Urutsewu. Belakangan tanda tangan ini dipakai oleh TNI-AD sebagai klaim pengalihan status kepemilikan tanah, sesuatu yang tidak pernah dibicarakan sebelumnya. Pada 2006, TNI kembali melakukan klaim lewat mekanisme tanah berasengaja yang dipakai untuk lapangan tembak. Dalam persepsi warga berasengaja adalah tanah yang sengaja di-bera-kan (tidak ditanami) dan digunakan sebagai penggembalaan ternak.

TNI AD meluaskan klaimnya menjadi 1000 m dari garis pantai pada 2007 dan meminta ganti rugi dalam proses pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan Pulau Jawa. Klaim TNI AD ini memicu perlawanan keras dari masyarakat dalam bentuk pencabutan patok radius 1000 m dari garis pantai. TNI AD mengancam warga terkait perlawanan ini. Belakangan, klaim “jarak 1000 m” TNI AD diakomodir dalam Draft Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kebumen.

IPNU Tegal

Pada 2008 Kodam IV Diponegoro mengeluarkan surat Persetujuan Pemanfaatan Tanah TNI AD di Kecamatan Mirit untuk Penambangan Pasir Besi kepada PT Mitra Niagatama Cemerlang (MNC). Artinya, TNI AD meneruskan klaimnya terhadap tanah di pesisir Urutsewu, sekaligus terlibat dalam bisnis pertambangan pasir besi. Hal terakhir ini diperkuat dengan terlibatnya salah seorang pensiunan TNI-AD sebagai komisaris PT MNC. Per Januari 2011, pemerintah mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi kepada PT MNC selama 10 tahun, tanpa sosialisasi. Dalam surat ini dinyatakan bahwa luasan lahan yang akan ditambang adalah 591,07 ha dengan 317,48 ha diantaranya adalah tanah milik TNI AD.

IPNU Tegal

Hal ini memicu reaksi keras dari warga yang disusul dengan penyerangan warga oleh TNI AD dan berujung pada 6 orang petani dikriminalisasi, 13 orang luka-luka, 6 orang diantara luka akibat tembakan peluru karet dan di dalam tubuh seorang petani lainnya bersarang peluru karet dan timah, 12 sepeda motor milik warga dirusak dan? beberapa barang, seperti handphone, kamera dan data digital dirampas oleh tentara. Tetapi pada Mei 2011, melalui surat Kodam IV Diponegoro, TNI AD mencabut persetujuan penambangan pasir besi yang telah diberikan kepada PT MNC.

Pada 2012, warga menolak pengesahan perda RTRW yang menjadikan Urutsewu sebagai kawasan pertambangan pasir besi dan area latihan dan uji coba senjata berat. Alternatif tuntutan warga adalah “jadikan Urutsewu hanya sebagai kawasan pertanian dan pariwisata”. Masih dalam fase yang sama, warga mengusir PT MNC dari Kecamatan Mirit, meskipun izin pertambangan belum dicabut sampai sekarang (Januari 2014).

Pada Desember 2013, TNI AD melakukan pemagaran dan sudah merambah 2 desa di Kecamatan Mirit, yaitu Desa Tlogodepok dan Mirit Petikusan. Meskipun sudah mendapatkan penolakan yang sangat keras dari masyarakat, tetapi TNI AD tetap melanjutkannya.

Karena itu, kami dari Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dengan ini menuntut kepada Panglima TNI untuk :

1. Memerintahkan penghentian pemagaran di sepanjang pesisir Urutsewu, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jateng oleh TNI AD.

2. Memerintahkan untuk membersihkan semua material, baik yang sudah terpasang maupun belum terpasang dari lokasi pemagaran.

Mengingat mayoritas petani adalah Nahdliyin, kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, kami memohon perlindungan terhadap warga di Urutsewu sehubungan dengan konflik tanah yang berkepanjangan di daerah ini.

Dalam konteks yang lebih luas, mengingat tata kelola sumber daya alam (SDA) yang sebagain besar dikuasai oleh perusahaan asing dan maraknya konflik berbasis SDA di Indonesia dewasa ini, maka FNKSDA:

1. Menuntut Pemerintahan Republik Indonesia supaya menentukan sikap dan tindakan nyata dan sepadan terhadap usaha-usaha yang membahayakan KEDAULATAN NKRI MERDEKA dan AGAMA.

2. Menuntut Nahdlatul Ulama agar memerintahkan perjuangan “fi sabilillah” guna merebut penguasaan sumber daya alam demi tegaknya KEDAULATAN NKRI MERDEKA dan Agama Islam.

3. Menyerukan kepada semua warga Nahdliyin dan ummat Islam untuk mempertahankan tanah air dari rongrongan kapitalisme ekstraktif dengan merebut dan menasionalisasi penguasaan Sumber Daya Alam.

________

Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) adalah wadah koordinasi antara Jamaah NU yang memiliki kehirauan mengenai permasalahan konflik pengelolaan sumberdaya alam (SDA), seperti udara, air, tanah, dan segala yang terkandung di dalamnya, terutama yang terjadi di basis NU.

Kelahiran Front ini diawali oleh diskusi tematik bertajuk “NU dan Konflik Tata Kelola SDA” yang diadakan di Pendopo LKiS, Yogyakarta pada tanggal 4 Juli 2013 dengan pembahasan kasus di berbagai daerah di Indonesia. Diskusan sepakat untuk membentuk aliansi dengan tujuan menyiapkan media jaringan untuk kelancaran sirkulasi informasi dan kemudahan pengorganisasian serta mengarusutamakan tata kelola SDA di kalangan NU. (Red: Abdullah Alawi)

Keterangan foto: Warga NU diskusi Fiqih dan Kedaulatan Sumber Daya Alam di PCNU Kebumen, Ahad (26/1).

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Tegal, Makam IPNU Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Pergunu Adakan Halaqah Bahas Persoalan Pendidikan Terkini

Jakarta, IPNU Tegal. Pendidikan tidak terlepas dari peran guru, pemangku kebijakan serta stakeholder pendidikan secara keseluruhan. Untuk mengkaji berbagai persoalan pendidikan terkini atau kontemporer, Persatuan Guru Nahdlatul Ulam (Pergunu) mengadakan Halaqah Pendidikan.

Halaqah pertama bertema Reorientasi Sistem Pendidikan Nasional untuk Pendidikan yang Berkualitas, Adil dan Merata, Senin (5/6) di Gedung PBNU Jakarta dengan menghadirkan sejumlah Dewan Pakar Pengurus Pusat Pergunu.

Pergunu Adakan Halaqah Bahas Persoalan Pendidikan Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Adakan Halaqah Bahas Persoalan Pendidikan Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Adakan Halaqah Bahas Persoalan Pendidikan Terkini

Wakil Ketua PP Pergunu, H Habibur Rahman mengatakan, kegiatan ini dibuat secara berkala setiap dua bulan guna mengkaji isu Pendidikan kontemporer. Pergunu bertekad untuk menunjukkan kontribusinya secara nyata dalam dunia pendidikan.

"Bulan Ramadhan ini mudah-mudahan menjadi awal yang baik untuk kegiatan rutin Pergunu dalam mendiskusikan perkembangan pendidikan,” ujar Gus Habib sapaan akrabnya.

Putra bungsu KH Asep Saifuddin Chalim, Ketua Umum PP Pergunu ini menegaskan, Pegunu harus responsif dengan perkembangan pendidikan secara riil, terutama dalam menegaskan kontribusinua dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia, khususnya Nahdliyin.

IPNU Tegal

Lebih lanjut, Sarjana Ekonomi Islam tersebut berharap Pergunu harus dapat memberikan orientasi baru dalam sistem pendidikan Nasional. Orientasi itu harus bermuara pada terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Hadir memberikan paparan KH Mujib Qulyubi, Katib Syuriah PBNU yang sekaligus Penasehat PP Pergunu. Kiai Mujib menyampaikan pentingnya guru NU dalam melestarikan Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah.?

IPNU Tegal

“Aswaja NU harus selalu menjadi nilai-nilai harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga akan tercipta suasana damai, ramah, sesuai makna dasar ajaran Agama Islam sebagai rahmatan lil alamin,” tutur Kiai Mujib.

Hadir dalam halaqoh tersebut, PC Pergunu se-DKI Jakarta, PC Pergunu Tasikmalaya, PC Pergunu Sukabumi, PC Pergunu Jambi, PC Pergunu Bekasi, dan Organisasi Profesi Guru lainnya, diantaranya Ikatan Guru Indonesia (IGI). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Makam, Syariah IPNU Tegal

Senin, 16 Oktober 2017

IPNU-IPPNU Mranggen Rekrut Kader Lewat Jurnalistik

Demak, IPNU Tegal. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Mranggen, Demak, Jateng, mempunyai kiat dalam merekrut dan mengembangkan kader. Salah satunya dengan mengadakan pengkaderan lewat pelatihan jurnalistik pelajar Madrasah Aliyah (MA) se-Kecamatan Mranggen di pesantren Ibrohimiyyah Suburan Mranggen 14-16 Februari 2014.

Di sela-sela acara pelatihan, Ketua PAC IPNU Mranggen Dimas Eko Siswoyo pada IPNU Tegal mengatakan, sebagai organisasi pelajar dan kader? sudah sewajarnya jika IPNU-IPPNU menggandeng beberapa sekolah untuk proses kaderisasi karena pelajar dianggap sebagai penanaman idiologi awal untuk kebesaran NU mendatang,

IPNU-IPPNU Mranggen Rekrut Kader Lewat Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mranggen Rekrut Kader Lewat Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mranggen Rekrut Kader Lewat Jurnalistik

“Mengkader pelajar ini merupakan investasi panjang Nahdlatul Ulama, kita tidak bisa instan di dalam merasakan untuk memetik hasinya,” kata Dimas Eko yang didampingi ketua IPPNU Dzawits Tsiqoh dan panitia pelatihan Khoirul Anwar.

IPNU Tegal

Lebih lanjut Dimas Eko mengatakan pelatihan yang mengambil tema “Mengembangkan Potensi Bidang Jurnalistik untuk Kemandirian dan Kepedulian terhadap Perubahan” tersebut dianggapnya pas dikarenakan PAC mempunyai program kerja dengan membuat media PAC salah satunya bulletin guna penyampaian pemikiran pemikiran organisasi kepada pengurus, anggota dan umumnya pada warga Nahdliyin di Mranggen,

IPNU Tegal

“PAC memang punya rencana bikin bulletin seperti periode periode sebelumnya, selain sebagai media penyampaian informasi pada anggota bulletin juga diharapkan bisa sebagai wahana silaturrahim pada anggota lainnya” tambah Dimas

Pelatihan jurnalistik ini melibatkan narasumber, di antaranya Samsul Huda (bendahara PWI Jateng sekaligus pengurus PWNU Jateng), A Shiddiq dari IPNU Tegal, Nurul Huda wartawan Tribune Jogja, Asyhadi mantan pengurus PP IPNU serta wartawan senior dan mantan wartawan wawasan H.Mahmud Suwandi. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Pertandingan IPNU Tegal

Minggu, 10 September 2017

Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi

Madinah, IPNU Tegal

Pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Nabawi Madinah semenjak masuk Islam membuat mantan juara dunia tinju kelas berat, Mike Tyson, memperoleh pengalaman spritual yang cukup mendalam.



Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mike Tyson Menangis di Masjid Nabawi

Entah sedang merenungi apa, petinju kekar yang dijuluki "Si Leher Beton" tak mampu menahan tangis saat masuk ke dalam masjid yang dibangun di zaman Nabi Muhammad SAW ini.

Dia mengatakan senang punya fans yang mencintainya di Arab Saudi. Tapi, Ia berharap mereka memberi waktu agar bisa sendiri untuk menikmati momen spiritual di Tanah Suci.

IPNU Tegal

"Saya tidak kuasa menitikkan air mata ketika saya mengetahui bahwa saya berada di salah satu taman surga," ujarnya ketika mengunjungi Masjid Nabawi seperti dikutip arabnews.com.

Selain itu, Tyson melakukan umrah di Mekah, Ahad 4 Juli 2010. Tyson menginjak Tanah Suci untuk kali pertama pada Jumat 2 Juli 2010. Pria 44 tahun ini langsung melakukan sejumlah kegiatan, termasuk melakukan ibadah di Masjid Nabawi.

IPNU Tegal

Senin 5 Juli 2010, Tyson tinggal di hotel dekat Masjid Nabawi dan mendapat sambutan luar biasa dari fans. Dia mendapat pengawalan ketat saat melakukan shalat Dzuhur. Dan Tyson mengaku mendapat pengalaman spiritual luar biasa selama di Arab Saudi.

Tyson yang memeluk Islam ketika masih dipenjara pada pertengahan 1990-an, kemudian mengenakan pakaian ihram untuk melakukan umrah di Mekah. Usai melakukan umrah, mantan petinju yang punya nama Islam, Malik Abdul Aziz ini rencananya juga akan mengunjungi Jeddah, Abha dan Riyadh. (nur)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Hadits IPNU Tegal

Selasa, 05 September 2017

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api

Magetan, IPNU Tegal - Warga NU Magetan, Jawa Timur, memperingati hari lahir (harlah) NU ke-93 dengan mengadakan kompetisi sepakbola api antarpondok pesantren. Kompetisi tersebut digawangi Rabhitah Maahid Islamiyah (RMI) NU bersama Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Kompetisi tersebut berlangsung sejak tanggal 4 sampai dengan 9 April. Meski tanpa dipungut biaya, panitia memberikan hadiah berupa piala bergilir serta uang pembinaan bagi juara.

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api

Sebelum memulai pertandingan, para pemain melakukan wirid khusus di bawah bimbingan Pengasuh Pondok Pesantren Subulus Safi’in KH Suprianto Ubaidillah. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Dengan wasilah (perantara) wirid ini agar memperoleh keselamatan dan diberi kelancaran oleh Allah SWT,” ujar kiai asal Pojok Kawedanan ini.

IPNU Tegal

Menurut ketua panitia kegiatan tersebut Ahmad Choiruddin, pondok pesantren sangat luar biasa menyambut kegiatan tersebut. Target panitia, semula hanya 16 pesantren yang turut serta. Kuota langsung penuh hanya dalam waktu 2 minggu. “Bahkan ada beberapa pesantren terpaksa tidak panitia akomodir,” katanya.

Kegiatan tersebut diharapkan jadi pengikat silaturahim antarpesantren. “Kompetisi ini khas santri-santri salaf atau kaum sarungan. Semoga ini juga menjadi media silaturahim santri se-Kabupaten Magetan,” imbuh Ahmad.

IPNU Tegal

Panitia, lanjut dia, bertekad akan jadikan kompetisi sepakbola api jadi program khas tahunan bagi para santri se-Magetan dalam naungan NU.

Pada kesemptan pembukaan, Selasa malam 4 April 2016 di halaman kantor NU Magetan dipimpin langsung Ketua PCNU Magetan KH Mansur didampingi sekretaris Ahmad Sudarto. Turut hadir pula, Rais Suriah KH Supriyanto, Ketua RMINU Ubaidillah dan jajaran pimpinan banom. (Dewi/Ali Makhrus/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal IMNU, Meme Islam, Makam IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock