Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan

Semarang, IPNU Tegal. Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) berpesan agar para ulama mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam berdakwah kepada masyarakat. Ulama hendaknya meresapi dan mengawali sendiri setiap petunjuk atau ajaran yang didakwahkan, termasuk ajaran hidup sederhana.

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan

"Jangan sampai para ulama justru pamer kemewahan dan kekayaan, padahal agama mengajarkan untuk hidup sederhana. Ajaran-ajaran agama adalah ajaran yang Universal yang bukan hanya harus dilaksanakan oleh rakyat saja, tetapi juga oleh para ulama," tutur Gus Mus di hadapan ribuan hadirin di halaman Masjid Baitur Rahman Simpang Lima Semarang, Sabtu (30/6).

Menurut Gus Mus, para ulama hendaknya memiliki empati yang sangat tinggi terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya. Para ulama harus meneladankan kehidupan yang sederhana, ramah dan santun.

IPNU Tegal

"Jangan sampai ada ulama mengajarkan kesantunan tetapi dia sangat garang. Jangan sampai ada ulama mengajarkan kesabaran tetapi dia sendiri amat rakus pada dunia," tandas Kyai asal Rembang ini.

?

Lebih lanjut Gus Mus juga berpesan, hendaknya selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong. para ulama harus mengayomi dan mendamaikan rakyatnya.

IPNU Tegal

"Jangan sampai ada ulama bermanis-manis menyerukan perdamaian saat di hadapan publik, tetapi padahal sebenarnya ia adalah profokator," paparnya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Berita IPNU Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Oleh Aswab Mahasin

Saya akan memulai tulisan ini dengan diskursus seorang atheis Will Durant, “Agama punya seribu jiwa, segala sesuatu jika sudah dibunuh ia akan sirna, kecuali agama. Agama sekiranya ia dibunuh seratus kali, akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.” Pernyataan ini senada dengan judul buku Komarudin Hidayat, “agama punya seribu nyawa”.

Agama sekarang ini berada pada posisi “dimanfaatkan” dan “bermanfaat”. Agama dimanfaatkan ketika suatu kelompok tertentu bertindak, berbuat, dan berdalih atas nama agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selanjutnya. Agama bermanfaat ketika agama benar-benar difungsikan sesuai dengan esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri, sebagai sistem pengajaran yang mendidik, sebagai sistem sosial yang mensejahterahkan, dan sebagai ajakan yang menentramkan.

Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Namun, kedua posisi itu tidak bisa dielakan dalam situasi dan dinamika sosialyang terus berkembang. Memang, agama tidak berubah, tetapi agama dianut oleh masyarakat baik secara menyeluruh maupun individudalam gerak sejarahnya terus mengalami perubahan, diberbagai dimensi sosialnya.

Fenomena tersebut terjadi disemua lapisan pemeluk agama, agama apapun mengalami hal yang sama. Dengan demikian, ada pergumulan antara agama dan sosial, atau biasa kita kenal juga dengan istilah “peradaban”. Agama dari mulai kelahirannya (agama manapun), selalu berinstrumen dengan kondisi sosialnya, di satu sisi agama membangun kebudayaan, di sisi lain agama berusaha membentuk peradaban.

Bila ditatap dari perspektif sejarah, setiap agama memang membentuk dan membangun kebudayaan serta peradabannya sendiri. Ketika Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Yastrib, Kanjeng Nabi langsung mengganti nama kota Yastrib yang berarti “tanah gersang berdebu” menjadi Madinah yang berarti “kota atau peradaban”. Artinya, Nabi Muhammad Saw ingin membangun dan mewujudkan perdaban dunia melalui makna kota Madinah, dengan kreatifitas peradaban masyarakatnya dan nilai-nilai Islam melalui petunjuk Ilahi.

IPNU Tegal

Dengan demikian, secara alamiah agama mempunyai kemampuan untuk melahirkan peradaban (madinah atau tamaddun). Berarti agama dan peradaban dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, berdampingan dan bersamaan. Walaupun banyak orang menyangsikan bahwa agama dan peradaban adalah berbeda, mereka mencoba membuat distingsi (pembedaan), dengan konklusi, agama di satu sisi dengan peradaban di sisi yang lain.?

Misalnya dikatakan, Agama adalah wahyu Tuhan, sedangkan peradaban adalah inovasi manusia. Pembedaan semacam ini sesungguhnya hanya ada dalam wacana dan verbalisme belaka, dan tidak pernah ada dalam kenyataan hidup manusia. (Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, MA, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, dan Dr. Achmad Mubarok, MA, dalam buku Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani: 2003)

Realitas hidup manusia menghendaki sesuatu yang oprasional, tidak hanya berhenti pada ajaran-ajaran kaku. Agama memang tidak berubah, namun sekali lagi saya tekankan masyarakatnya yang berubah, pemeluknya yang berubah. Perubahan ini mau tidak mau mempengaruhi pula cara dan sikap keberagamaan mereka.?

Apalagi di era informasi serba terbuka, tidak sedikit dari mereka berguru pada google, youtube, facebook, twitter, dan sebaginya—seringkali memuat informasi atau penyampaian tidak berimbang.Dari hal tersebut, akan terjadi penguapan yang tidak bisa dikontrol apalagi dibatasi, setiap orang boleh menyampaikan sesuatu, dan dilakukan secara bebas, dengan cara; emosi, tanpa data, ujaran kebencian, dan ngawur. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut merupakan masalah untuk mendapatkan pemahaman yang utuh.

IPNU Tegal

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir dialektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya dimiliki oleh satu golongan, melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan diskursus tertentu. Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita. Ini menjadikan kita berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, karena Islam cenderung meluas.?

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng. Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Mohamad dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi.?

Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya. Sambung Gunawan Muhammad, Nurcholish benar ketika mengatakan semua agama dewasa ini mengalami krisis. Tidak hanya umat Islam, melainkan semua umat dari berbagai agama.”

Kita bisa lihat juga potret yang berkembang, di Amerika Serikat menjelang tahun 1980-an muncul gerakan intelektual internasional, dengan misi “Islamisasi Pengetahuan”, pertama kali gerakan ini didengungkan oleh Isma’il Raji Al-Faruqi dari lembaga Pemikiran Islam Internasional (Internatioanl Institute of Islamic Thouhgt). Gagasan ke arah Islamisasi Pengetahuan sebelumnya sudah dicetuskan oleh Naquib Al-Attas dari Malaysia. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: 2006)

Hal tersebut adalah respon dari sebagian umat Islam, supaya tidak begitu saja menelan mentah-mentah ala Barat. Namun menjadi lucu, ketika objek dunia yang luas ini, dengan berbagai ragam spektrumnya lantas harus didudukan pada satu paradigma saja, dengan tiga dalih kesatuan; kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Jelas, kalau kita jabarkan lebih panjang, akan rancu.?

Minimal Anda bisa menelaah sendiri, bagaimana jika pengetahuan hanya tunggal, dimana pengetahuan hanya punya satu kiblat pengetahuan. Saya hanya membayangkan, tidak kreatifnya dunia ini dan merupakan pekerjaan yang tidak berguna memikirkan islamisasi pengetahuan. Toh menurut Kuntowijoyo, metode dimana-mana sama: metode survei, metode partisipan, atau metode grounded dapat dipakai dengan aman, tanpa resiko akan bertentangan dengan iman kita.?

Dalam hal ini, saya lebih sepakat dengan istilah Kuntowijoyo, bukan Islamisasi Pengetahuan, melainkan “Pengilmuan Islam” terhadap ilmu-ilmu yang telah ada, gerakan ini tidak seperti Islamisasi Pengetahuan (konteks ke teks), melainkan (teks ke konteks).

Pengilmuan Islam yang dimaksud adalah di mana Islam mampu mewarnai perubahan dunia. Intinya, dalam hal ini Islam bukan hanya sebagai ideologi atau doktrin agama, melainkan sebagai ide dan ilmu.

Kuntowijoyo hanya masih salah satu gambaran pemikir Indonesia yang mencoba memetakan Islam sebagai model pembangunan untuk merespon dinamika sosial. Berbeda dengan Nurcholish Madjid mengembangkan “sekularisasi”, dan Amin Rais berkiblat pada “Islamisasi ilmu pengetahuan”, sedangkan Jalaludin Rahmat menggaungkan “Islam alternatif”.?

Lain lagi dengan Munawir Syadzali lebih banyak berbicara tentang “reaktualisasi Islam” mengingat dinamika historis sudah berkembang cepat di samping adanya prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang harus dikedepankan. (Syamsul Bakri dan Mudhofir, Jombang Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam Indonesia: 2004)

Sedangkan Gus Dur menggaungkan Pribumisasi Islam, untuk mencairkan pola dan karakter Islam yang normatif menjadi sesuatu yang kontekstual. “Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.

Pada pijakan tersebut, para pemikir melihat pentingnya perspektif universal sebagai sebuah sistem gagasan yang ideal/kompleks dalam memahami agama khususnya sejarah yang berkembang. Munculnya ide-ide baru ini, dan mungkin masih banyak ide lainnya dari para pemikir, tidak lain sebagai respon ideologi, respon ide, respon kultural, respon pemikiran, respon sosial, dan berbagai respon lainnya dengan menilik pada perkembangan dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Islam dan dinamika sosial adalah sebuah proses mencari bentuk operasional agama yang sesuai untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, walaupun dengan corak dan karakter pemikiran yang berbeda. Namun, tetap dilandasi dengan pijakan-pijakan, data, refrensi yang ilmiah—tanpa gegabah dalam mengambil kesimpulan—dengan gambaran besarnya bagaimana Kitab Suci dan Rasulullah dalam menerjemahkan ajaran langit pada realitas bumi.

Saya tutup tulisan ini dengan wasiat dari KH Wahid Hasyim, semoga menjadi motivasi buat kitas semua, “Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.”

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Ubudiyah IPNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Cirebon,IPNU Tegal. Sebagian pesantren di Indonesia telah dilengkapi dengan teknologi komunikasi perangkat siar radio. Fungsinya adalah agar gerakan dakwah yang dilakukan mampu mencapai titik terluar? pesantren dan masyarakat di sekitarnya.

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Ketua Radio Komunitas (Rakom) Buntet Pesantren (Best FM) Ahmad Rovahan menilai? radio pesantren merupakan media yang cukup strategis. Ia berpendapat, meski dari pesantren, siaran radio tidak mesti harus memutar pengajian dan ceramah keagamaan.

“Pemutaran pengajian berupa ceramah dan pembacaan Al-Quran tentu baik, tapi hal ini jangan sampai dianggap sebagai cara tunggal untuk menyiarkan prinsip kepesantrenan secara lebih mengena kepada masyarakat luar,” katanya saat dihubungi IPNU Tegal melalui telepon.

IPNU Tegal

Menurut Rovahan, banyak cara dilakukan untuk mengenalkan pesantren tidak dengan cara yang monoton. Di antaranya adalah membongkar kesan ketertutupan pesantren melalui pembacaan selera pendengar.

“Kita tidak perlu antipati dengan karya seni yang lebih umum. Contoh pemutaran musik yang sedang marak di tengah masyarakat. Yang terpenting adalah sebisa mungkin para penggiat radio di dalamnya mampu mengemasnya seusai dengan prinsip-prinsip kepesantrenan,” katanya.

IPNU Tegal

Selain membuka diri dengan kegemaran masyarakat dengan tujuan membentengi mereka dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, lanjut Rovahan, radio pesantren juga sebenarnya memiliki peluang untuk menggawangi pesan-pesan yang dibutuhkan bagi masyarakat. Misalnya, pembuatan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) bertema kebhinekaan, anti korupsi, kenakalan remaja dan lain-lain.

“Syaratnya hanya satu, prinsip kepesantrenan dan syiar Islam tersebut tidak dikemas dengan cara yang kaku. Bahkan, boleh juga diimbuhi nuansa guyon sesuai dengan adat pesantren dan masyarakat nahdliyin,” pungkasnya.

Best FM meraih penghargaan membanggakan dengan mengalahkan ratusan radio lainnya. Radio tersebut juara 1 lomba pembuatan feature audio bertema “Anti Korupsi” yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) bekerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Hadiah dianugerahkan di Museum Fatahilla, Kota Tua, Jakarta, Ahad (17/8).

Sebagai juara 2 diraih Taraktak FM Sumatera Barat, Wijaya FM Yogyakarta dan K-FM Magelang. Pemenang lomba mendapatkan hadiah berupa peralatan siar radio yang diserahkan langsung oleh para Pimpinan KPK diantaranya Ketua KPK Abraham Samad, Bambang Widjayanto, Adnan Pandu Praja, dan Juru Bicara KPK Johan Budi. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim

Jombang, IPNU Tegal. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Sholah), berharap kader NU bisa menjadi Guberur Jawa Timur. Untuk itu, cucu pendiri NU ini berharap menghadapi pemilihan Gubernur 2013 mendatang Kader NU harus menyatu.

"Pada pilbug mendatang menurut saya jangan ada lagi kader NU yang sama sama ngotot maju mencalonkan diri akibatnya suara NU terpecah. ? Calon Gubernurnya ? harus satu ? saja, jangan ada calon dua orang, termasuk ada yang mencalonkan wakil gubernur,” ujarnya menjawab wartawan disela sela menerima kunjungan mantan wakilpresiden Jusuf Kalla, Senin (17/12).

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim

Cucu pendiri NU ini sangat berharap dalam pilgub Jatim 2013 ? mendatang ? agar kader NU bisa menjadi Gubernur. Untuk menentukan siapa calon gubernur yang layak ? bakal running ? mendatang adik kandung Gus Dur ini berharap PWNU melakukan survey.

IPNU Tegal

“Harus. Untuk gubernur Jawa Timur menurut saya saatnya dari NU, siapa yang menentukan kader NU yang layak dan patut menjadi Gubernur harus dilakukan survey bersama,”tandas ? Gus Sholah menambahkan.

IPNU Tegal

Namun, meski mendukung kader NU maju menjadi orang nomor satu di Jatim, Gus Sholah ? tidak menginginkan NU secara kelembagaan terlibat aktif dalam pemilihan ” Tidak bolehlah, NU secara organisasi ikut terlibat aktif dalam politik,”tandasnya.

Tugas NU lanjutnya adalah hanya menentukan siapa yang layak untuk maju merebut Gubernur. Untuk itu dirinya menyarankan agar PWNU dan PW Muslimat duduk bersama untuk kemudian melakukan survey bersama guna menentukan siapa kandidat yang dimaui warganya.

”Karena ? sekarang yang muncul dua orang yakni Gus Ipul sama Khofifah. Maka menurut saya harus dilakukan survey bersama siapa yang paling layak menjadi Gubernur Jatim, ”pungkasnya seraya mengusulkan ? kalau perlu menyewa lembaga survey yang benar benar kompeten untuk menentukan kandidat.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdrrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Pesantren IPNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Jepara, IPNU Tegal. Satu grup di Facebook yang berjuluk Ngomong Politik (Ngompol) Jepara tidak ketinggalan memperingati 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.



Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Awalnya Facebook, Lalu Ziarah Makam Gus Dur Bareng

Melalui jejaring Facebook, mereka mengkoordinir anggota untuk menziarahi makam Gus Dur di komplek pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu-Ahad (6-7/10).?

Selain makam Gus Dur rombongan yang berjumlah puluhan orang juga menziarahi Sultan Hadirin, Raden Abdul Jalil (Jepara), Sayyid Jafar Shadiq (Sunan Kudus), Maulana Ibrahim Asmara Qandi (Ayah Sunan Ampel) dan Raden Rahmat (Sunan Ampel).?

IPNU Tegal

Badiul Hadi, ketua panitia sekaligus deputi direktur Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jepara didampingi Ahmad N Huda mengatakan kegiatan dilaksanakan dalam rangka memperingati 1000 hari Gus Dur. ? ?

“Atas nama panitia kami mohon maaf karena pada saat hari H banyak yang membatalkan diri sehingga beberapa kursi tidak terisi,” paparnya.?

IPNU Tegal

H Abdul Kohar penggagas kegiatan mengungkapkan perjalanan ziarah sepenuhnya ditanggung H Abdul Wachid, mantan wakil ketua PP LPPNU. “Waktu itu beliau tanya agenda peringatan 1000 hari Gus Dur di Jepara kemudian saya share di grup Ngompol alhasil ziarah disepakati,” ungkapnya.?

Setelah disepakati, tambah ketua Kadin Jepara, H Wachid mem-back-up ongkos perjalanan menuju Jawa Timur. Biaya yang lain lanjutnya ditanggung penumpang sendiri.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam?

Kontributor: Syaiful Mustaqim ?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Khutbah IPNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Awal Ramadhan 1437 H, Jamaah Naqsyabandiyah Gersempal Tunggu Keputusan NU dan Pemerintah

Sampang, IPNU Tegal - Pengurus Tarekat Naqsyabandiyah Ahmadiyah Mudzhariyah Gersempal (Naqsyabandiyah Gersempal) yang berkantor pusat di Pesantren Darul Ulum Al-Wahidiyah Gersempal Omben Sampang mengimbau jama’ahnya untuk mengikuti ketetapan pemerintah RI dan NU terkait awal dan akhir Ramadhan 1437 H. Organisasi Silaturrahim Ikhwan Akhowat dan Simpatisan Thariqat An-Naqsyabandiyah (Sitqon) mengajak jamaahnya untuk menunggu hasil sidang Itsbat Kementerian Agama tanggal 5 Juni 2016.

Ketua Bagian Humas Sitqon KH Dr M Sahibuddin menyerukan ikhwan akhwat, simpatisan Naqsyabandiyah Gersempal dan kaum muslimin agar tidak terpengaruh dengan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Naqsyabandiyah yang menentukan awal Ramadhan beberapa hari sebelumnya.

Awal Ramadhan 1437 H, Jamaah Naqsyabandiyah Gersempal Tunggu Keputusan NU dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Ramadhan 1437 H, Jamaah Naqsyabandiyah Gersempal Tunggu Keputusan NU dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Ramadhan 1437 H, Jamaah Naqsyabandiyah Gersempal Tunggu Keputusan NU dan Pemerintah

Menurut Wakil Ketua NU Pamekasan, kelompok yang mengatasnamakan Naqsyabandiyah tidak ada hubungan dengan Thariqah Naqsyabandiyah Gersempal.

IPNU Tegal

"Kami tetap berpedoman pada hasil rukyatul hilal, tetapi pada prinsipnya kami menunggu hasil keputusan NU dan Sidang Isbat di Kementerian Agama," kata Kiai Sahibuddin seperti dirilis situs naqsyabandiyah gersempal.

Hasil kajian Tim Lajnah Falakiyah Sitqon sementara ini menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1437 H insya Allah akan jatuh pada hari Senin 6 Juni 2016 berdasar ijtima akhir Ramadhan jatuh pada Ahad 5 Juni 2016? pukul 10.01 WIB.

IPNU Tegal

Ketinggian hilal pada saat matahari terbenam pada posisi 04º 11 20.37" di atas ufuk sehingga apabila tidak terjadi mendung kemungkinan hilal bisa terlihat. Dengan demikian satu Ramadhan akan jatuh pada hari Senin. Namun apabila terhalang oleh mendung, menggenapkan bulan Syaban menjadi 30 Hari. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning

Pringsewu, IPNU Tegal. Ratusan Santri dari perwakilan pondok Pesantren di Kabupaten Pringsewu memenuhi Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (15/10). Dengan menggunakan seragam pakaian ciri khas masing-masing pesantren, para santri siap menunjukkan kemampuannya dalam Perlombaan Lalaran dan Baca Kitab Kuning yang diselenggarakan oleh Panitia Hari Santri PCNU Kabupaten Pringsewu.

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Santri, NU Pringsewu Gelar Lomba Lalaran dan Baca Kitab Kuning

Dalam penjelasannya Koordinator Lomba tersebut, H Auladi Rosyad mengatakan bahwa dalam lomba lalaran para peserta dibagi kepada dua tingkatan atau kelas, yaitu kelas Tsanawiyah menggunakan Nadhoman Imrithy dan Aliyah menggunakan Nadloman Alfiyah.

"Satu grup 10 sampai 15 orang, masing-masing ada yang vokal dan lainya menabuh alat seperti galon bekas, rebana atau alat perkusi sejenisnya. Asal kompak dan harmonis," jelas Rosyad.

Sementara untuk lomba baca kitab panitia melombakan 2 kelas yaitu kelas Tsanawiyah dengan Kitab Mabadi dan Kelas Aliyah dengan Kitab Fathul Qarib.

Setelah melewati proses penampilan dan penjurian yang cukup ketat, akhirnya dewan juri memutuskan pemenang dari masing-masing tangkai lomba.

IPNU Tegal

Untuk Group Pemenang Lomba lalaran Imrithi adalah Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara I, dan Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu yang berhasil menyabet sekaligus juara II dan Juara III.

Untuk Lalaran Alfiyah, Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran berhasil menjadi Juara I diikuti oleh Pondok Pesantren Miftahul Huda Banyumas dan Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara II dan III.

Sementara untuk Lomba Baca Kitab Mabadi, Santri atas nama Baaduddin dari Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran berhasil menjadi Juara I diikuti oleh Ahmad Muhaimin dari Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu sebagai juara ke II dan M. Nurul Baihaqi dari Pondok Pesantren El Banun Keputran sebagai Juara III.

Untuk kelas Fathul Qarib Santri Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran atas nama Aga Zainudin Ahsan berhasil menjadi Juara I diikuti Ahmad Afrizal dari Pondok Pesantren Al Hidayah Keputran sebagai Juara II dan Maratus Sholihah dari Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin Pardasuka sebagai Juara III.

IPNU Tegal

Rosyad menambahkan bahwa setelah para pemenang lomba diumumkan, mereka berhak mendapatkan hadiah berupa Thropy juara dan Uang Beasiswa Santri. "Kita akan bagikan hadiah tersebut pada Apel Hari Santri yang akan dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Pringsewu pada 22 Oktober 2017 mendatang," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Doa, Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Metode Penentuan Kalender Hijriyah di NU Harus Diseragamkan

Surabaya, IPNU Tegal - Terjadinya gerhana matahari 9 Maret lalu menjadi sarana bagi Lembaga Falakiyah NU untuk semakin memantapkan komunikasi. Hari ini, di bawah koordinasi Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LF PWNU) Jawa Timur, sejumlah kepengurusan di kabupaten dan kota dihadirkan. Utusan dari beberapa pesantren se-Jawa Timur juga diundang demi menyeragamkan metode penghitungan kalender hijriyah berdasar evaluasi hasil pengamatan gerhana.

Menurut Ketua LF PWNU Jatim KH Shofiyulloh, pada saat terjadi gerhana matahari, sejumlah tim dari lembaga falakiyah melakukan pengamatan di berbagai tempat. Di antaranya di Pulau Bangka, Balikpapan, Surabaya, Pasuruan, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Banyuwangi.

Metode Penentuan Kalender Hijriyah di NU Harus Diseragamkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Metode Penentuan Kalender Hijriyah di NU Harus Diseragamkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Metode Penentuan Kalender Hijriyah di NU Harus Diseragamkan

"Sebelum gerhana, kami sudah melakukan perhitungan waktu gerhana berdasarkan banyak metode ilmu hisab," kata Gus Shofi, sapaan akrabnya, Sabtu (12/3). Dari hasil pengamatan tersebut, dilihat mana metode yang paling akurat atau setidaknya mendekati kenyataan. Selanjutnya, metode yang paling akurat dipakai sebagai acuan menentukan awal bulan hijriyah, lanjutnya.

Pada kegiatan yang diikuti 70 peserta ini, masing-masing tim melaporkan hasil pengamatannya sekaligus menyampaikan rekomendasi untuk menyeragamkan metode penentuan awal bulan hijriyah.

IPNU Tegal

"Selama ini di NU sendiri masih sering terjadi perbedaan dalam penentuan awal dan akhir bulan dalam kalender hijriyah," katanya.

LFNU sebagai lembaga yang membidangi hisab dan rukyat berkomitmen melakukan upaya meyamakan hasil perhitung dengan mendorong para ahli falak dan umat Islam untuk menggunakan metode yang paling akurat dan rukyat yang cermat, lanjut Pengasuh Pesantren Miftahul Huda 4 Kepanjen, Malang ini.

IPNU Tegal

Selain melakukan evaluasi hasil pengamatan gerhana matahari, pada acara bertajuk sarasehan dan koordinasi LFNU se-Jawa Timur ini juga dilakukan penyeragaman kalender tahun 2017. Masing-masing peserta membawa hasil hitungan awal bulan hijriyah yang terjadi pada kalender tahun-tahun mendatang. Setelah mengambil kesepakatan, hasil penyeragaman ini nantinya akan dikirim ke seluruh PCNU dan pesantren se-Jawa Timur agar menjadi acuan untuk menyusun kalender tahun 2017 mendatang.

Gus Shofi juga berharap seluruh warga NU khususnya lembaga pendidikan formal dan yayasan untuk menggunakan data hasil penyeragaman sebagai acuan penentuan kalender tahun 2017. "Dengan demikian dapat meminimalisasi perbedaan penentuan awal bulan hijriyah di Indonesia," terangnya.

Kegiatan sarasehan dan koordinasi ini berlangsung di aula lantai satu gedung PWNU Jawa Timur Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

PMII IAIN Cirebon Gelar Pelatihan Administrasi

Cirebon, IPNU Tegal. Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IAIN Syekh Nurjati Cirebon menggelar Pelatihan Administrasi untuk anggota dan kader PMII di Aula Perpustakaan ISIF Cirebon, Jum’at (15/5) pagi hingga sore.?

Acara ini dihadiri puluhan anggota dan kader perwakilan dari setiap Rayon yaitu Rayon Pelangi Tarbiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Rayon El Farouk Fakultas Syariah, dan Rayon Annahdloh fakultas Adab dan Ushuluddin IAIN SNJ Cirebon.

PMII IAIN Cirebon Gelar Pelatihan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII IAIN Cirebon Gelar Pelatihan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII IAIN Cirebon Gelar Pelatihan Administrasi

Subhan Ibrahim, Ketua Pelaksana (OC), mengatakan dengan adanya pelatihan bertujuan agar sahabat-sahabati mampu dalam mengelola organisasi khususnya administrasi organisasi.?

IPNU Tegal

“Pelatihan ini digelar sebagai wujud ikhtiar kita dalam menunjukkan bahwa PMII mampu tertib administrasi. PMII organisasi besar sudah saatnya rapi dalam administrasi,” kata Subhan yang juga sekretaris PK PMII IAIN Cirebon.

Ia menambahkan pelatihan ini diisi dengan materi-materi keadministrasian. “Materinya terdiri dari teknik persuratan organisasi dan teknik mengelola data organisasi disampaikan oleh Asep Rizki Padhilah (sekretaris umum PC PMII Cirebon), teknik membuat proposal dan TOR yang baik dan benar oleh Ayub Al Ansori (ketua 1 PC PMII Cirebon), juga teknik mengelola keuangan organisasi oleh Cut Febi Pidiah Rizky (bendahara KOPRI Cirebon),” jelas Subhan.

IPNU Tegal

Sedangkan Safruddin, Ketua PK PMII IAIN Syekh Nurjati Cirebon menyampaikan bahwa PMII harus mampu mengelola organisasi dengan baik.?

“PMII hari ini harus mampu bersaing dengan organisasi mahasiswa lainnya. Kita jangan kalah dari segi apapun, termasuk soal administrasi. Kita kadang bingung dalam hal tertib administrasi, dengan pelatihan ini kita tunjukkan bahwa PMII mampu tertib administrasi. Rapi, baik dan benar dalam mengelola organisasi,” ungkap Addin, sapaan akrab Safruddin.

Pelatihan Administrasi ini didukung dan diapresiasi penuh oleh Ketua PC PMII Cirebon, M. Yazidul Ulum, ia juga mengingatkan bahwa sebagai pengurus, kader dan anggota PMII akan dituntut di akhirat sebagai pertanggungjawaban organisasi.?

“Jika dalam mengelola dan membangun PMII dengan benar kita akan mendapat kebaikan. Namun jika kita mengelola dan membangun PMII asal-asalan maka akan dipertanggungjawabkan di akhirat. PMII adalah organisasi yang mengikat kita dunia dan akhirat,” tandas Yazid. ? (uub ayub/mukafi niam)? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal

Bisyr bin Harits dikenal juga sebagai Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah /767 Masehi. Setelah meninggalkan hidup berfoya-foya, ia mempelajari Hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan pendidikan formal untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan dan bertelanjang kaki. Bisyr meninggal di kota Baghdad tahun 227 H/841 M. Ia sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh khalifah al-Mamun.

Bishr lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Kisah pertobatannya diriwayatkan oleh Fariduddin al-Attar di dalam buku Tadzkiratul Auliya. Attar meriwayatkan, sewaktu muda, ia adalah seorang pemuda berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang". Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal (Sumber Gambar : Nu Online)
Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal (Sumber Gambar : Nu Online)

Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal

Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr: "Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti".

"Bisyr adalah seorang pemuda berandal", si manusia suci itu berpikir. "Mungkin aku telah bermimpi salah".

IPNU Tegal

Oleh karena itu ia pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendatangkan mimpi yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya, ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juga. Keesokan harinya pergilah ia mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban: "Bisyr sedang mengunjungi pesta minum anggur".

IPNU Tegal

Maka pergilah ia ke rumah orang yang sedang berpesta itu, dan menyampaikan pesan dari mimpinya tersebut kepada Bisyr.

Kemudian Bisyr berkata kepada teman-teman minumnya, "Sahabat-sahabat, aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!"

Attar selanjutnya meriwayatkan bahwa sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr juga dijuluki si manusia berkaki telanjang (al-hâfî).

Berikut beberapa kisah tentang Abû Nashr Bisyr bin al-Hârist al-Hâfî yang kami himpun dari beberapa sumber:

Kisah Bisyr al-Hafi dan Imam Ahmad bin Hanbal



Konon Imam Ahmad bin Hanbal sering mengunjungi Bisyr al-Hafi, entah untuk urusan apa. Dan sang imam pun sangat mempercayai perkataan Bisyr al-Hafi. Hal itu kemudian menyebabkan rasa kurang senang pada hati murid-muridnya, sehingga suatu hari muridnya memprotes Imam Ahmad bin Hanbal.

“Wahai guru, di zaman ini tak ada seorang pun yang bisa menandingimu di bidang hadits, hukum, teologi dan setiap cabang ilmu pengetahuan. Lalu mengapa setiap saat engkau menemani dan bergaul bersama seorang berandal (Bisyr al-Hafi)? Pantaskah hal itu?” protes muridnya.

“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli bila dibandingkan dengan Bisyr. Tetapi mengenai Allah, dia lebih ahli daripada aku”, jawab sang Imam.

Konon juga Imam Ahmad bin Hanbal sering memohon kepada Bisyr al-Hafi “ceritakanlah padaku perihal Tuhanku!”

Bisyr al-Hafi dan Empatinya Terhadap Orang Miskin



Alkisah, selama 40 tahun keinginan Bisyr al-Hafi untuk merasakan daging panggang tak kunjung terwujud, hal itu disebabkan karena dia tidak memiliki uang. Pernah juga beliau menginginkan memakan kacang buncis, keinginan itu pun  juga tak kunjung terwujud. Padahal, kalaupun beliau berkehendak, sebagai salah seorang waliyullah yang dekat kepada Allah, beliau bisa saja meminta segala sesuatu dan pasti dikabulkan. Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya. Jalan hidup dan penyangkalan diri yang beliau jalani juga menahan beliau untuk meminum air dari saluran yang ada pemiliknya.

Rasa peduli atau empatinya kepada orang-orang miskin pun sangat besar. Konon di suatu musim yang begitu dingin, di mana semua orang mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh mereka, beliau, Bisyr al-Hafi malah berbuat sebaliknya. Dia melepas pakaiannya di tengah cuaca yang begitu dingin. Akibatnya tubuhnya menjadi menggigil kedinginan.

“Hai Abu Nashr (panggilannya), mengapa kau melepaskan pakaianmu di tengah cuaca yang sangat dingin ini?” teriak orang-orang heran. “Aku teringat orang-orang miskin. Aku tidak punya uang untuk membantu mereka. Oleh karena itu, aku ingin turut merasakan penderitaan mereka”.

Wafatnya Sang Waliyullah



Suatu malam, ketika Bisyr al-Hafi sedang terbaring menanti ajalnya pada tahuan 277 H/ 841`M, tiba-datang seseorang dan mengeluhkan nasibnya kepadanya. Kemudian Bisyr pun menyerahkan seluruh pakaian yang dia kenakan kepada orang tadi. Dia pun lantas memakai pakaian lain yang dia pinjam dari salah seorang sahabatnya. Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah sang waliyullah tersebut menghadap Tuhannya.

Di tempat yang lain, seorang laki-laki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di jalan. Padahal selama Bisyr al-Hafi hidup, tidak ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan tanpa menggunakan alas kaki. Melihat kenyataan aneh seperti itu spontan si laki-laki tersebut langsung berteriak “Bisyr telah tiada!”

Mendengar seruan laki-laki tadi, orang-orang pun pergi untuk menyelidikinya validitas berita tersebut. Dan ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi benar adanya. Lalu orang-orang pun menanyakan sesuatu padanya, “Bagaimana kau tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah meninggal dunia?”.

“Karena selama Bisyr al-Hafi hidup aku tidak pernah menyaksikan ada seekor keledai pun yang membuang kotoran di jalan. Dan tadi aku melihat kenyataan yang sebaliknya. Keledaiku membuang kotorannya di jalan. Dari itu pun aku tahu bahwa Bisyr al-Hafi telah wafat”, jawab laki-laki tadi. Wallahu a’lam.

Hilmy Firdausy, Mahasantri Pesantren Ilmu Hadits Darus-Sunnah Ciputat. [Sindikasi Media]

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sholawat, Nahdlatul Ulama, Aswaja IPNU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia

Oleh: Ahmad Khoiri*

22 Oktober merupakan momentum euforia kaum pesantren atau yang lumrahnya disebut kaum sarungan. Euforia tersebut termanifestasikan dalam pelbagai kegiatan yang dilakukan pesantren, kirab santri merupakan salah satu di antaranya. Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar kegiatan seremonial tersebut, yaitu bahwa sebenarnya santri memiliki potensi untuk menjadi Muslim yang progresif, tidak kaku, lebih-lebih di Indonesia dengan masyarakat pluralnya.

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia

Islam progresif menawarkan sebuah metode ber-Islam yang menekankan pada terciptanya keadilan sosial, kesetaraan gender dan pluralisme keagamaan. Setidaknya itu yang dapat dipahami tentang pemaknaan “progresif” menurut Omid Safi (What is Progressive Islam?: 2005).

Keadilan sosial sebagai makna pertama progresif, menekankan spirit kembali kepada pesan moral al-Qur’an untuk berbuat adil sebagaimana dalam surah al-Maidah [5]: 8 dan al-Nahl [16]: 90. Meskipun dalam surah terakhir ini tuntutan keadilan oleh Allah Swt. seringkali ditafsirkan eksklusif untuk antar Muslim saja, bukan dengan orang yang dilabeli kafir, berlandaskan penafsiran secara emosional-ideologis terhadap beberapa ayat lain, di antaranya surah al-Taubah [9]: 73 dan 123, al-Fath [48]: 29 dan al-Tahrim [66]: 9.

Kesetaraan gender, sebagai manifestasi kedua progresivitas Islam, meskipun di Indonesia masih tidak mendapatkan posisinya secara utuh, namun juga termasuk dalam spirit al-Qur’an. Dapat kita tilik misalkan dalam persoalan poligami. Fazlur Rahman (w. 1988) melalui teori gerak ganda interpretasi (double movement) mengedepankan aspek legal-moral ketika memahami ayat tentang poligami. Penekanan aspek legal-moral dalam teori Rahman ini jauh lebih objektif memahami ayat ketimbang interpretasi klasik yang tidak jarang bernuansa ideologis susio-kultural mufasir terdahulu yang tak lagi dapat dikontekstualisasikan.

IPNU Tegal

Sedangkan manifestasi ketiga, yakni pluralisme keagamaan, merupakan hal yang tidak dapat dihindari di Indonesia. Penduduk dari pelbagai ras, suku bahkan agama menjadikan sikap inklusif keberagamaan sebuah alternatif yang niscaya. Di samping itu sebenarnya keragaman tersebut tetap berada dalam koridor Allah, sunnatullah. Dengan demikian maka menentang pluralitas tidak saja menyalahi sunnatullah yang telah diterangkan al-Qur’an, tetapi juga mencederai koridor Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Sebagai masyarakat yang pemahaman keagamaannya lebih baik daripada mereka yang non-santri, maka di sinilah santri memegang peran. Sikap “progresif” yang sebenarnya linear dengan statusnya sebagai kaum agamis mesti mendapat perhatian yang lebih serius.

IPNU Tegal

Menarik dicatat bahwa di sisi lain, santri juga berpotensi menjadi kaum ekstremis dengan proyek takfiri-nya. Ini tidak dapat disangkal, karena literatur keagamaan yang diajarkan di pesantren lebih cenderung kepada pemahaman keagamaan pemikir salaf yang terdapat dalam kitab kuning. Predikat paradoks bagi penyandang status “santri” kemudian menjadi kegelisahan tersendiri dalam konteks masa depan Indonesia. Problematika ini kemudian menemukan pemecahannya dengan adanya pendidikan keagamaan yang mengedepankan sikap moderat, atau yang umumnya diistilahkan dengan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), baik dalam nomenklatur STAIN, IAIN maupun UIN.

Umumnya, meskipun tidak secara keseluruhan, dapat dibuat generalisasi bahwa para mahasiswa di kampus PTAI tersebut adalah mereka yang concern-nya terhadap kajian keislaman lebih mendominasi.Dalam hal ini, para santri ada di antara mereka. Meski derasnya arus pemikiran progresif yang diusung PTAI mendapat reaksi yang serius oleh Hartono Abdul Jaiz dengan publikasi bukunya, Ada Pemurtadan di IAIN (2005), namun reaksi agresif tersebut sama sekali tidak berdasar dan tidak berbobot akademis, tetapi lebih memprioritaskan aspek emosionalnya. Dengan dalih mempertahankan Islam yang dianggapnya telah diobok-obok kaum progresif-liberal, Hartono mengeluarkan sanggahan-sanggahan yang seringkali tidak beretika, hingga akhirnya ia juga mendapat tanggapan setimpal oleh Nur Kholis Setiawan, santri alumni Pesantren Tebu Ireng, Jombang, dan sarjana doktoral Bonn University, Jerman.

Keberadaan pemikir-pemikir progresif seperti Nur Kholis, dan tokoh lain seperti Ulil Abshar Abdalla yang kontroversial dengan JIL-nya beberapa tahun silam, megindikasikan bahwa potensi santri dengan kemampuannya mengkaji literatur-literatur bahasa Arab jauh lebih baik daripada mereka yang tidak pernah belajar di pesantren. Kita telah melihat bahwa kebanyakan para pemuda yang tergabung dalam kelompok-kelompok keagamaan ekstremis, adalah mereka yang pemahaman keagamaannya di bawah rata-rata. Doktrin yang terkesan agamis mudah sekali menjadikan mereka bertindak ceroboh, karena mereka tidak pernah mengerti duduk persoalan yang dihadapinya. Mereka telah menjadi sasaran empuk Muslim golongan kanan dalam melancarkan aksinya yang seringkali beriklim politis.

Kesadaran pengetahuan (al-wa’y al-‘ilm) dapat dilacak bahkan dalam khazanah turats klasik. Menurut Nur Kholis Setiawan (2008: 5) yang tidak bisa melacak hal tersebut hanyalah orang-orang narrow minded alias tidak memiliki bekal pengetahuan yang memadai. Bagi Nur Kholis, justru khazanah intelektual klasik/turats-lah yang menjadi pijakan revitalisasi semangat terbukanya pintu ijtihad (2008: 17). Oleh karena turats didominasi literatur berbahasa Arab, maka sekali lagi, potensi santri untuk memahami turats memberikannya peluang memahami pemikiran keagamaan (al-fikr al-diniy) secara kaffah, ekstensif, yang dengan alat bantu (istimdad) ilmu humaniora yang telah dipelajarinya di PTAI pada akhirnya akan melahirkan sikap progresif. Pemikiran progresif tersebut akan menjadi sebuah upaya depolitisasi Islam dan menghindari pensakralan pemikiran keagamaan (taqdis al-fikr al-diniy).Santri dengan pemikiran progresifnya, dengan demikian, akan memeran kiprah yang besar dalam menjadikan Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera.

*

Penulis adalah mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan, Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama, Nahdlatul Ulama, Lomba IPNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Banser Makassar Amankan Pawai Muharram Santri

Makassar, IPNU Tegal. Peringatan Tahun Baru Islam dengan Pawai Muharram yang dilakukan oleh Pesantren Se-Utara Makassar yang dimulai di pesantren MDIA Bontoala (Jl. Lamuru No. 65) mendapatkan pengawalan dari Banser Ansor Makassar, Rabu (14/10).

Kepala Satuan Koordinator Cabang (Satkorcab) Banser Ansor Makassar, Haryono memimpin langsung pengamanan pawai tersebut.

Banser Makassar Amankan Pawai Muharram Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Makassar Amankan Pawai Muharram Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Makassar Amankan Pawai Muharram Santri

Di depan puluhan pasukannya yang berpakaian lengkap, Ono sapaan akrab Haryono memberikan instruksi agar pasukannya betul-betul mengatur dan mengamankan kegiatan tersebut.

IPNU Tegal

"Kita harus menyukseskan kegiatan ini sebagai wujud kecintaan kita terhadap kiai dan pesantren, kita harus memastikan kegiatan ini berjalan aman dan lancar," tegas Mahasiswa Hukum Pascasarjana UMI ini.

IPNU Tegal

Sementara itu untuk memperingati pergantian tahun Hijriyah, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Mataram berkumpul membaca doa akhir tahun menjelang Magrib kemudian dilanjutkan dengan shalat Magrib berjamaah lalu dilanjutkan dengan pembacaan doa awal tahun. 

Setelah dilanjutkan dengan Yasinan bersama hingga diskusi. Keigiatan ini di berikan tema "Alhamdulillah... 1436 H dan Bismillah...1437 H". 

"Kegiatan ini sebagai wujud pelestarian budaya dan tradisi Islam Ahlussunah wal Jamaah," kata Hasan Basri Ketua Ansor Mataram di Aula Kantor PWNU NTB Jl Pendidikan No 6 Mataram (15/10).

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa Ansor memiliki dua agenda besar dalam waktu dekat yaitu agenda internal dan eksternal. 

Agenda internal menurut Hasan akan dilaksanakannya Konferwil ke VII GP Ansor NTB, prakongres di Surabaya dan kongres di Yogyakarta pada bulan November mendatang. 

Sedangkan secara internal lanjutnya  mantan aktivis PP IPNU ini, Ansor Mataram akan menyambut hari Santri (22 Oktober) dan tanggal 28 Oktober akan menyambut hari Sumpah Pemuda dan gelar doa lintas agama.  

Sementara itu Suaeb Qury Ketua PW GP Ansor NTB berharap agar semua banom NU bersinergi dalam berkegiatan "Semua banom seperti IPNU-IPPNU Fatayat dan lainnya termasuk PMII juga harus senergi dengan Ansor," katanya.

Lebih lanjut Ketum PMII Mataram tahun 2000-2001 ini menyebutkan bahwa generasi Ansor ke depan adalah IPNU-IPPNU maupun PMII saat ini.   

Puluhan pimpinan Ansor dan banom lainnya tampak serius mengikuti agenda satu kali setahun ini. (Rahman Hasanuddin/Hadi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Meme Islam, Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW

Jakarta, IPNU Tegal - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengajak masyarakat untuk mengingat kembali tiga pesan Rasulullah SAW kepada umatnya. Kang Said mengimbau masyarakat agar tidak terjerumus pada tiga godaan ini.

“Kalau kita lihat, ada tiga pesan atau peringatan Rasulullah yang harus kita perhatikan. Pertama, hati-hati fitnah perempuan. banyak orang yang berduit terkena fitnahnya perempuan,” kata Kang Said dalam pertemuannya dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (29/2) siang.

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Sebut Tiga Peringatan Rasulullah SAW

Pesan kedua dari Rasulullah SAW, kata Kang Said, adalah menjaga nafsu terkait batas kepemilikan tanah. Rasulullah SAW sangat marah saat Beliau mengetahui ada sahabat yang memindahkan batas tanahnya walau hanya beberapa meter.

IPNU Tegal

Ketiga, jual beli emas dengan emas atau uang dengan uang. Nabi SAW melarang akad jual-beli karena yang demikian itu haram. Yang ketiga inilah yang menjadi tantangan kita untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah agar bebas dari riba dan haram.

“Kalau semata-mata uang ditaruh di bank kemudian dibiarkan tidur begitu saja berbulan-bulan bahkan bertahun tahun, itu yang haram. Kalau mudharabah, musyarakah, dan murabahah itu sebuah jalan keluar yang baik dan harus terus kita kembangkan,” ujar Kang Said. (Ahmad Muchlishon/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sejarah, Nahdlatul Ulama, Syariah IPNU Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

NU Ngadirejo Giatkan Kembali Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan

Karanganyar, IPNU Tegal. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Ngadirejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menggiatkan kembali tradisi nyekar ke makam kakek-nenek, orang-tua, dan saudara. Hal ini dilakukan berdasarkan imbauan dari Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Mojogedang yang menegaskan agar tradisi-tradisi baik menjelang Ramadhan dilakukan kembali.

NU Ngadirejo Giatkan Kembali Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Ngadirejo Giatkan Kembali Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Ngadirejo Giatkan Kembali Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan

Wati, salah satu warga Ngadirejo, mengatakan, awalnya tradisi nyekar sudah ada di desanya namun sempat terhenti beberapa tahun setelah ada seseorang yang mengatakan bahwa tradisi ini tidak boleh dilakukan.

“Masih ada beberapa yang melakukan namun dengan tata cara yang kurang sesuai misalnya dengan membawa makanan ke makam lalu makanan tersebut dibagi-bagi dan diletakkan pada masing-masing makam keluarga dan terkadang makanan tersebut lalu dibuang. Jadi hemat kami itu adalah bentuk pemubadziran,” ungkapnya kepada IPNU Tegal usai nyekar, Ahad (15/6).

IPNU Tegal

Momen Kebersamaan

IPNU Tegal

Lebih lanjut Wati menyatakan bahwa acara nyekar tahun ini berbeda. Dengan bimbingan dari salah satu pengurus Ranting NU Ngadirejo nuansa kebersamaan dan inti dari nyekar tersebut lebih mengena.

“Acara dimulai dari bakda maghrib. Jadi para warga berkumpul di masjid dengan membawa bunga yang ditaruh dalam air serta membawa makanan untuk dibagikan kepada anak-anak kecil serta tetangga yang tidak membawa makanan. Setelah itu pengurus ranting NU mulai memimpin pembacaan yasin serta tahlil dan dilanjutkan dengan tausyiah yang isinya adalah penjelasan dari makna dan tujuan tradisi tersebut,” imbuhnya.

Usai acara ini, lanjutnya, pagi harinya para warga mulai dari anak kecil hingga orang tua kembali berkumpul di masjid untuk kemudian berjalan bersama-sama ke makam. Memang semua dianjurkan untuk tidak membawa motor kecuali bagi yang udzur misal sudah sangat tua. Hal ini dimaksudkan agar tercipta rasa kebersamaan dan keakraban. Pasalnya, semenjak banyak warga yang memiliki motor sudah tidak ada lagi momen yang bisa membuat warga berjalan bersama-sama.

Sesampainya di kompleks makam para warga kemudian duduk untuk mendengarkan pengarahan dari pengurus Ranting NU tentang tata cara nyekar sebagaimana tata cara berziarah. Dilanjut  membaca tahlil dan tak lupa membacakan satu persatu nama ahli kubur dari masing-masing keluarga yang sudah ditulis. Barulah kemudian warga menuju makam keluarga untuk nyekar atau menaburkan sekar (bunga).

Dengan adanya pengarahan dari Ranting NU seperti ini, warga tampak sangat antusias karena tradisi yang hampir punah ini bisa dilanjutkan lagi. Warga pun sekarang sudah bisa membedakan tata cara nyekar atau ziarah yang tidak diperbolehan dan nyekar yang dianjurkan. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Minggu, 26 November 2017

LBMNU Bogor Serukan Penguatan Relasi Islam-Sunda

Bogor, IPNU Tegal

Guna membentengi NKRI dari ancaman paham radikal dan liberal yang kian marak, Lembaga Bahsul Masail Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor mengajak warga Nahdliyin untuk memperkuat kembali relasi Islam dan kearifan lokal.

LBMNU Bogor Serukan Penguatan Relasi Islam-Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
LBMNU Bogor Serukan Penguatan Relasi Islam-Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

LBMNU Bogor Serukan Penguatan Relasi Islam-Sunda

Sekretaris LBM NU Kabupaten Bogor Ustadz Ahmad Idhofi mengatakan, NKRI bersatu karena budaya. Islam mengakar kuat di Indonesia juga karena budaya. “Islam dapat diterima secara terbuka oleh masyarakat Sunda karena adanya akulturasi. Islam dan budaya Sunda dapat hidup berdampingan,” kata Idhofi di Bogor, Rabu (25/1).

Sebelumnya pada Ahad (22/1), ia menggagas kegiatan “Tawassul dan Napak Tilas Sejarah dan Relasi Islam- Sunda” di Pesantren Nurul Iman Al-Hasanah, Jalan Karacak KM 03, Kampung Geledug, Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

IPNU Tegal

Idhofi mengutarakan, penyebaran Islam di tatar Sunda tidak terlepas dari peran Maharaja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran Prabu Siliwangi, bertahta pada 1482-1521 M. Ia berperan besar dalam proses Islamisasi Bogor maupun tatar Sunda umumnya.

“Semua kerajaan di tatar Sunda dan mayoritas ulama besar Sunda merupakan anak cucu keturunan Prabu Siliwangi,” papar alumnus program S2 Pascasarjana UIKA Bogor ini.

IPNU Tegal

Ketua MWC NU Kecamatan Leuwisadeng Baejuri mengatakan, orang Sunda identik dengan Islam. Ada istilah Islam itu Sunda, Sunda itu Islam. Hal ini berkat perjuangan para ulama dan pemimpin masa silam.

Ahmad Fahir menyampaikan, sejarah perjumpaan Islam dengan Sunda terbilang sangat panjang. Bahkan Islam masuk wilayah Sunda jauh sebelum era Wali Songo pada abad ke-15 dan 16, yang juga dikenal sebagai puncak Islamisasi Nusantara.

“Syaikh Quro mendirikan pesantren pertama di Nusantara sebelum era Wali Songo. Ia memiliki andil besar dalam mengislamkan Prabu Siliwangi dan menjadikan dinastinya di Kerajaan Pajajaran (terutama dari garis isteri Subang Larang Cirebon) dan dari garis Kerajaan Talaga sebagai aktor utama penyebaran Islam tatar Sunda,” kata Fahir.

Wilayah tatar Sunda dimaksud kini masuk dalam sejumlah provinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan wilayah barat Jawa Tengah.

Islam diperkirakan telah masuk tatar Sunda sejak awal abad 12, seperti dikisahkan babad Pamijahan, Tasikmalaya. Pada abad 17, seorang ulama besar bernama Syaikh Abdul Muhyi, melakukan napak tilas bertahun-tahun mencari goa safar wadi peninggalan Syaikh Abdul Qodir al-Jailani saat berguru ke Syaikh Sanusi pada abad 12.

“Islam berkembang pesat tatar Sunda karena berdampingan dengan budaya Sunda. Masyarakat menerima Islam secara terbuka, dan tetap melestarikan budaya,” katanya.

Ustadz Zulfiqor, pengurus MUI Kabupaten Bogor menambahkan, kegiatan tersebut dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang relasi Islam-Sunda.

“Banyak sejarah Islam Sunda yang masih misteri dan belum terungkap karena kekurangan literatur. Tugas kita untuk menggalinya, agar dapat memahami sejarah secara utuh,” tutur mantan ketua IPNU Cabang Kabupaten Bogor ini.

Pesantren Pesantren Nurul Iman Al-Hasanah didirikan KH Supendi pada 1993 dan mengelola SMP, MTs, SMK, MA, dan perguruan tinggi, dengan total santri lebih dari seribu orang.

Kegiatan tersebut menghadirkan aktivis NU dan pegiat budaya Sunda Ahmad Fahir, diikuti 50 orang alumni, mahasiswa, dan guru Pesantren Nurul Iman Al-Hasanah; utusan MWCNU Kecamatan Leuwiliang, guru SMP Ma’arif NU Cilebut, dan pengurus MUI Kabupaten Bogor. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pendidikan, Nahdlatul, Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Kamis, 16 November 2017

Sejarah Tak Catat Perjuangan NU untuk Bangsa

Kudus,IPNU Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kudus KH Muhammad Ulil Albab menyayangkan sejarah bangsa tak mencatat peran perjuangan kiai NU dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari penjajah.

Sejarah Tak Catat Perjuangan NU untuk Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Tak Catat Perjuangan NU untuk Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Tak Catat Perjuangan NU untuk Bangsa

Ia menyebut misalnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang memicu pertempuran 10 November yang digelorakan pendiri NU KH Hasyim Asyari. Karena resolusi itu, meski banyak korban dari pihak Indonesia, tapi cukup membuktikan pada dunia bahwa negara ini tak mau dijajah.

"Oleh karenanya, mari kita peringati Resolusi 22 oktober dengan penuh semangat dan gebyar supaya generasi penerus tahu perjuangan kiai NU pada masa lalu," katanya saat menyampaikan pengarahan dalam rapat persiapan panitia kegiatan Gebyar hari Santri Nusantaran dan Resolusi Jihad di Madrasah MA Khuffad Yanbuul Quran Desa Menawan Gebog Kudus, Ahad malam (4/10).

IPNU Tegal

Kiai yang biasa disapa Gus Bab ini menjelaskan, NKRI ini ada tidak bisa lepas dari peran kiai NU. Resolusi Jihad menjadi bukti kesusksesan perjuangan kiai NU memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

IPNU Tegal

"Waktu itu, ulama-ulama se Jawa Madura memutuskan perang melawan penjajah. Tapi sayangnya, sejarah tidak mau mencatatnya," keluhnya.

Pernyataan senada juga disampaikan Wakil Rais PCNU Kudus KH Mashum Ak. Ditegaskan, NKRI tanpa Resolusi Jihad tidak akan pernah ada. Bahkan, Bung Tomo sendiri tidak akan berjuang tanpa mendapat ijin dari kiai Hasyim Asyari.

"Ini prinsip yang harus kita teladani prilaku kiai dan lanjutkan yang baik sesuai kondisi zaman. Konsep mempertahankan yang lama dengan baik dan mengambil yang baru yang lebih baik,menjadi landasan rencana peringatan Resolusi Jihad dan hari santri," tandasnya.

Kedua tokoh NU ini mendorong pelaksanaan peringatan hari santri nusantara dan Resolusi Jihad di Kudus berlangsung penuh syiar dan gemebyar. "Kita tonjolkan kesemarakan kegiatan baik ini agar generasi penerus bisa mengingat perjuangan NU," tegasnya.

Kegiatan bertajuk “Gebyar hari Santri Nusantara dan Resolusi Jihad” yang diadakan Pengurus Cabang NU Kudus telah dipersiapkan ragam kegiatan besar. Di antaranya, Apel Akbar Kiai-Santri di Alun-alun Kudus (22/10) pagi, dilanjut? pawai mobil keliling kota Kudus, Sarasehan Santri (23/10) di Pondok Pesantren Yanbuul Quran Kudus dan Halaqoh Ulama di Pondok Pesantren Raudlotuth Thalibin (25/10). (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Selasa, 07 November 2017

Semangat Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Sejak Dini

Denpasar, IPNU Tegal. Alm. KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur secara tegas menyatakan, “Tidak penting apapun agama atau sukumu, karena orang lain tidak akan pernah tanya apa agamamu kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang." Dari ungkapan tersebut dapat diambil sebuah pesan moral akan pentingnya sebuah pengorbanan dan pengabdian untuk  orang lain dan masyarakat.

Semangat Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Sejak Dini

Dengan semangat mengamalkan petuah “sang guru” bangsa tersebut, pada hari Sabtu, 21 November 2015 sejumlah mahasiswa dan dosen penerima beasiswa kursus superintensif bahasa Inggris MoRA scholarship 2015 (Awardee MoRA Scholarship) di Indonesia-Australia Language Foundation (IALF) Denpasar menyelenggarakan kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat di yayasan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al-Huda Jimbaran Bali. 

Syahdan, Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia dimana Islam merupakan agama minoritas, tercatat jumlah penganut agama Islam adalah 13,37 persen atau setara 520.244 jiwa (Bimas Kemenag RI). Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, sehingga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi umat Islam selaku kaum minoritas untuk bisa berbaur dengan umat mayoritas lainya dengan nuansa toleransi yang indah.

IPNU Tegal

Kegiatan “Bali Mengaji, Dari Santri untuk Negeri” yang digagas oleh para penerima beasiswa kursus bahasa Inggris MoRA Scholarship 2015 diharapkan mampu menjadi salah satu jawaban untuk mewujudkan kehidupan beragama yang toleran. Secara umum, kegiatan yang dilaksanakan pada sore hari hingga menjelang maghrib ini berupa pengajian singkat dan berbagi motivasi dan inspirasi dari awardee MoRA scholarship kepada para peserta  yang mayoritasnya merupakan santri TPQ yang masih berumur dini rentang 4-10 tahun. Hal ini dirasa penting mengingat optimalisasi pendidikan agama dan karakter bagi anak usia dini adalah sebuah keniscayaan guna menyiapkan generasi cerdas dan handal yang akan menopang kemajuan peradaban Islam di masa mendatang.

Ahmad Romzi, selaku ketua penyelenggara menegaskan, tujuan utama diselenggarakan acara ini adalah untuk membumikan semangat membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca tetapi juga untuk diamalkan, karena salah satu spirit yang ditanamkan Al-Qur’an adalah rahmatan lil alamin, toleransi dan saling menghargai satu sama lain, dan pesan moral semacam ini sudah harus ditanamkan dalam benak anak sedini mungkin, tegasnya.

IPNU Tegal

Lebih jauh lagi, I’anatul Avifah, awardee MoRA scholarhsip asal UIN Sunan Ampel Surabaya, menyatakan, program positif semacam ini harus terus dilakukan dan dikembangkan. “Saya kira, program ini juga menjadi salah satu indikator ‘keseriusan’ penerima beasiswa pendidikan bahasa asing MoRA Scholarship 2015, yang juga merupakan ‘santri’ di sejumlah pesantren dan perguruan tinggi Islam di tanah air untuk kembali mengabdi pada lembaga pendidikan Islam, baik pesantren maupun perguruan tinggi Islam di kemudian hari,” ucapnya. (Dito Alif Pratama/Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Aku Bersandar pada-Mu

Oleh Gandi Gendon

ya Robku,

ketika beban hidup hampir meruntuhkan kekuatan?

Aku Bersandar pada-Mu (Sumber Gambar : Nu Online)
Aku Bersandar pada-Mu (Sumber Gambar : Nu Online)

Aku Bersandar pada-Mu

luka-luka merejam jiwa?

aku bersujud di hadapan-Mu?

tapi saat bahagia hinggap dalam hati

kembali aku sombong dan melupakan-Mu?

IPNU Tegal

Ya Allah, tuntunlah hidupku?

sadarkan aku dari kesombongan?

IPNU Tegal

yang membuatku sering lupa akan kebesaran kasih-Mu?

mabuk dalam keindahan semu?

izinkan hamba bersandar pada-Mu?

mengadukan segala perih getirku?

mencari makna dari setiap cobaan?

belajar untuk ikhlas dan tawadu

(22 April 2017)





Di Sebuah Huma

kembali di sini

mendengar nyanyian alam damai

menghirup udara beraroma bunga?

menangkapi bayangan masa lalu

di sebuah huma

kita pernah bermesra dengan angin

lalu terbang di ketiak kupu-kupu?

merentang sayap meniti pelangi

di sebuah huma

mega-mega berpuisi

bergulung bagai sutera Dewangga

di bawah kaki mata air jernih mengalir

di sebuah huma

setelah waktu membeber cerita

dan takdir merengkuhnya dariku

kini kutapaki jalan penuh makna

dan bergayut seribu kenangan....

(12 Mei 2017)





Penulis lahir di Yogjakarta, pemain teater, pengisi suara, penyanyi, dan pencipta lagu. Salah satu lagu ciptaannya yang nge-hits berjudul “Kutho Ngayogjakarto”

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah

Purwakarta, IPNU Tegal. Momentum tahun baru 1437 H dimanfaatkan oleh para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Puteri NU (IPNU-IPPNU) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat untuk berhijrah.

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah

Menurut Ketua Pengurus Cabang IPNU Purwakarta, Adi Setiawan, berhijrah ini dilakukan untuk kemajuan intelektual dan kematangan kader IPNU Purwakarta sebagai generasi Nahdlatul Ulama di masa yang akan datang.

"Sebetulnya masih banyak kekurangan yang mesti kita benahi dengan seluruh jajaran pengurus Banom NU. Ini yang menyebabkan ada istilah Jamaah is OK Jamiyah is DoyOK, ? ini juga adalah tanggung jawab bersama untuk sama-sama membenahi organisasi ini," papar Adi usai mengikuti diskusi peringatan dan refleksi Tahun Baru 1437 H di Kantor PCNU Purwakarta, Selasa (13/10)

IPNU Tegal

Diantara kekurangan tersebut, kata dia, tidak diajarkan doktrinisasi keaswajaan dan dalil-dalil tradisi amaliah Ke-NU-an secara luas ke basis akar rumput NU, tidak diajarkan cara merekrut dan merawat kader yang baik, kurang diperhatikannya cara berpakaian yang baik dan rapi dan juga perawatan kader atau alumni IPNU-IPPNU kurang begitu diperhatikan.

Untuk itu, kata dia, IPNU IPPNU Purwakarta mengambil keputusan untuk berhijrah dengan cara menguatkan pemahaman keaswajaan dan ke-NU-an dengan mendalam disertai dengan dalil dan logika yang jelas dalam berargumen.

IPNU Tegal

"Kedua, berhijrah untuk penarikan dan perawatan kader IPNU dengan cara yang berkualitas dan berkuantitas," katanya

Ditambahkannya, ada hal yang menjadi PR berat bagi pengurus IPNU dan IPPNU ke depan, yaitu berjuang dengan Kerja keras dan Kerja Cerdas.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Saparudin, MM.Pd (Wakil Sekretaris PCNU Purwakarta), KH. Anwar Nasihin (Ketua GP Ansor Purwakarta), Nunung Nurjanah (Ketua PW IPPNU Jawa Barat) dan para aktifis PC IPNU-IPPNU Purwakarta.

Selain diskusi, dalam peringatan tahun baru 1 Muharam 1437 H ini, para pelajar NU bersama Keluarga Besar NU Purwakarta mengadakan berbagai kegiatan lain, yaitu Pawai Obor Pelajar, Istigotsah, doa bersama dan Shalat Tasbih. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Hadits, Habib IPNU Tegal

Senin, 23 Oktober 2017

PMII Cabang Takalar Setujui PMII Kembali ke NU

Takalar, IPNU Tegal. Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-33 NU, 1-5 Agustus di Jombang, salah satu diskusi yang belum usai adalah kembalinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia menjadi Badan Otonom NU. Pro dan kontra di internal PMII juga masih menemui jalan buntu. Namun di tengah perdebatan tersebut, PMII Cabang Takalar Sulawesi Selatan memilih menyetujui PMII kembali ke NU.

PMII Cabang Takalar Setujui PMII Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Cabang Takalar Setujui PMII Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Cabang Takalar Setujui PMII Kembali ke NU

Seperti diungkapkan Ketua PMII Cabang Takalar Musafir, bahwa sudah saatnya PMII kembali ke rumah ditempat dia dilahirkan.

"Menurut kami PMII sudah saatnya kembali ke NU, mengingat sejarah PMII dilahirkan dari NU dan harusnya mengabdi untuk NU sebagai bagian yang tidak terpisahkan," ungkap Musafir.

IPNU Tegal

Lanjut menurut Musafir, selama ini PMII dirasa sudah cukup jauh dari ulama yang berimbas pada semakin kaburnya pemahaman aswaja kader-kadernya. Padahal PMII adalah anak kandung NU yang seharusnya sudah waktunya kembali untuk membesarkan NU.

Selain itu alasan independensi PMII di masa lalu adalah lantaran NU menjadi partai politik, tapi sekarang NU telah lama kembali  ke khittahnya sehingga tidak ada lagi alasan untuk terus berada diluar. Ajakan NU agar PMII kembali wajib dipatuhi.

IPNU Tegal

Meskipun demikian, kembalinya PMII ke NU bukan berarti  NU akan akan terlalu jauh mengintervensi kepentingan internal PMII, seperti yang ditakutkan oleh sebagian kader PMII yang tidak setuju PMII kembali ke NU.

"Secara tegas kami PMII Cabang Takalar setuju PMII kembali ke NU, dan kami berharap PB PMII bersama sahabat-sahabat  kader PMII lainnya juga setuju dengan hal tersebut," tegas Musafir. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock