Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan

Semarang, IPNU Tegal. Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) berpesan agar para ulama mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam berdakwah kepada masyarakat. Ulama hendaknya meresapi dan mengawali sendiri setiap petunjuk atau ajaran yang didakwahkan, termasuk ajaran hidup sederhana.

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan

"Jangan sampai para ulama justru pamer kemewahan dan kekayaan, padahal agama mengajarkan untuk hidup sederhana. Ajaran-ajaran agama adalah ajaran yang Universal yang bukan hanya harus dilaksanakan oleh rakyat saja, tetapi juga oleh para ulama," tutur Gus Mus di hadapan ribuan hadirin di halaman Masjid Baitur Rahman Simpang Lima Semarang, Sabtu (30/6).

Menurut Gus Mus, para ulama hendaknya memiliki empati yang sangat tinggi terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya. Para ulama harus meneladankan kehidupan yang sederhana, ramah dan santun.

IPNU Tegal

"Jangan sampai ada ulama mengajarkan kesantunan tetapi dia sangat garang. Jangan sampai ada ulama mengajarkan kesabaran tetapi dia sendiri amat rakus pada dunia," tandas Kyai asal Rembang ini.

?

Lebih lanjut Gus Mus juga berpesan, hendaknya selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong. para ulama harus mengayomi dan mendamaikan rakyatnya.

IPNU Tegal

"Jangan sampai ada ulama bermanis-manis menyerukan perdamaian saat di hadapan publik, tetapi padahal sebenarnya ia adalah profokator," paparnya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Berita IPNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

PMII PTNU Tangerang Evaluasi 1 Tahun Kabinet Jokowi-JK

Tangerang, IPNU Tegal. Ratusan kader PMII PTNU Tangerang menyampaikan rasa kecewa atas kinerja kabinet Jokowi-Jk. Mereka tidak melihat peningkatan selama 1 tahun kinerja Jokowi. Untuk itu, mereka mengajukan sepuluh tuntutan untuk kepemimpinan Jokowi di depan kantor DPRD Kota Tangerang, Selasa (20/10).

Ketua PMII PTNU Tangerang Steven Idrus Maulana menyuarakan tuntutan terhadap Presiden Jokowi untuk meninjau ulang proyek pembangunan infrastruktur yang berasal dari hutang luar negeri.

PMII PTNU Tangerang Evaluasi 1 Tahun Kabinet Jokowi-JK (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII PTNU Tangerang Evaluasi 1 Tahun Kabinet Jokowi-JK (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII PTNU Tangerang Evaluasi 1 Tahun Kabinet Jokowi-JK

Pemerintah, mereka menuntut, segera mengeluarkan kebijakan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, menolak impor pangan, mewujudkan kedaulatan pangan, melakukan upaya percepatan serapan APBN. Mereka mendesak pemerintah mencabut izin perusahaan pelaku pembakaran hutan.

IPNU Tegal

Tuntutan mereka antara lain berbunyi agar pemerintah mempercepat perubahan RUU KUHP, meningkatkan mutu pendidikan bangsa, memberikan akses pendidikan tinggi seluas-luasnya untuk masyarakat tidak mampu.

“Yang terpenting adalah tolak UU revisi KPK yang diajukan oleh DPR RI. Sebab itu adalah pembunuhan KPK secara perlahan-lahan. PMII mengajak rakyat Indonesia ikut serta mengawal kebijakan pemerintah dan mengkritisi jika ada kesewenang-wenangan dalam kepentingan pribadi yang mengatasnamakan negara," kata Steven.

IPNU Tegal

Aksi mahasiswa, dimulai pada 13.00 WIB. Aksi mereka mulai memanas ketika mahasiswa bergerak mundur ke depan DPRD. Pada saat aksi, mahasiswa sempat membakar ban bekas.

Humas PMII PTNU Tangerang Aflahul Mumtaz menambahkan, pihaknya meminta Jokowi mengingat Nawacita, Trisakti, dan Revolusi Mental yang selalu digaungkannya. Karena, jika hal tersebut dilupakan, berarti Jokowi-JK telah mengakhiri mimpi 250 juta masyarakat Indonesia untuk sejahtera.

"Namun dalam kenyataanya mimpi dan rakyat sirna termakan janji yang tak kunjung ditepati dan tersimpan rapi di dalam laci kabinet Jokowi-JK," tegas Aflah. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, IMNU IPNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan

Karanganyar, IPNU Tegal. Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Serbaguna (Banser) se-Kabupaten Karanganyar siap menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mencegah paham yang bertentangan dengan Pancasila.?

"Kami menyatakan setia pada Pancasila dan NKRI sampai darah penghabisan. Sikap ini, juga merupakan instruksi serempak di seluruh Indonesia dari Pimpinan Pusat GP Ansor," kata Ketua GP Ansor Karanganyar, Suwanto di sela-sela acara Apel Kesetiaan Pancasila dan NKRI, di Taman Pancasila, Karanganyar Jawa Tengah, Rabu (1/6).

Selain itu, Iwan sapaan akrab Suwanto mengungkapkan beberapa waktu terakhir ada pihak-pihak yang secara terang-terangan menentang Pancasila. Bahkan ada yang ingin mengubah Indonesia menjadi negara khilafah.

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan

"Untuk menyikapi hal itu, kami pemuda NU siap menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI," tegasnya.

Kepala Kesbangpol Karanganyar, Indrayanto dalam sambutannya mengapresiasi kepedulian GP Ansor dan Banser Karanganyar. Kesadaran kolektif masyarakat diperlukan untuk menjaga keutuhan NKRI.

Apel kesetiaan Pancasila dan NKRI tersebut diikuti lebih dari 200 anggota Ansor-Banser se-Kabupaten Karanganyar. (Ahmad Rosidi/Zunus)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Daerah, Berita, Tokoh IPNU Tegal

IPNU Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah

Oleh Suwendi

Di bulan Oktober ini, tepatnya tanggal 9 hingga 14 Oktober 2017, Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyelenggarakan sejumlah even berskala nasional, di antaranya adalah Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) yang bertempat di Taman Sulthanah Ratu Shafiatudin Banda Aceh, Provinsi Aceh. Pentas PAI ini diikuti oleh seluruh siswa sekolah, mulai Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas dari 34 provinsi di Indonesia. 

Mereka akan mengikuti sejumlah even perlombaan yang mengasah atas pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan keagamaan dan kebangsaan yang telah diperoleh, khususnya, selamamengikuti mata Pelajaran Agama Islam (PAI) di sekolah. Pentas PAI yang kedelapan ini mengambil tema “Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan”.

Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah

Even ini merupakan salah satu upaya Kementerian Agam dalam memperkuat PAI di sekolah, di samping terdapat upaya lain yang telah nyata dan sedang dilakukan, seperti program Bina Kawasan, Pengajaran Islam Rahmatan Lil’alamin, dan lain-lain. Memperkuat PAI di sekolah, termasuk di dalamnya melalui Pentas PAI, menurut hemat penulis, memiliki makna yang strategissetidaknya untuk menjawab tiga hal berikut. 

Pertama, merevitalisasi agama sebagai bagian dalam memperkokoh nilia-nilai kebangsaan di kalangan siswa sekolah. Agama didorong untuk menjadi penyanggah dalam meneguhkan komitmen kebangsaan di kalangan siswa sekolah, sehingga militansi kebangsaan di kalangan siswa sekolah tidak bisa dipisahkan dari sikap dan keyakinannya dalam beragama. Meneguhkan akan komitmen kebangsaan atas dasar agama di kalangan siswa ini, diakui belakangan menjadi sebuah kebutuhan mendesak. 

IPNU Tegal

Sebab, fenomena lunturnya semangat kebangsaan di kalangan para siswa sekolah, yang sebagian didasarkan atas pemahaman keagamaannya, menjadi keprihatinan tersendiri.

Data yang diperoleh dari hasil Penelitian Wahid Institute bertajuk “Bagaimana Potensi Radikalisme di Kalangan Aktivis Organisasi Rohani Islam (Rohis) di Sekolah-sekolah Umum” (2016) dengan 1.423 responden yang terdiri atas para aktivis Rohis menyajikan bahwa pada aspek pandangan dan sikap terhadap isu-isu dalam pidana (jinayah) dan politik Islam (siyasah) ditemukan 33%responden mengartikan jihad adalah berperang dan mengangkat senjata melawan orang kafir; 78% mendukung ide khilafah, 17% mendukung orang yang murtad dibunuh, 62% setuju orang yang berzina dihukum rajam hingga mati, dan 58% mendukung hukum potong tangan bagi pencuri, serta 1% sangat setuju dan 3% setuju bahwa memberi hormat bendera haram dilakukan.

IPNU Tegal

Pada aspek peta dukungan terhadap pelaku dan aksi terorisme ditemukan bahwa 33% meyakini Amrozi, Imam Samudera, Abu Bakar Baasyir, Abu Naim dan Oman Abdurrahman merupakan contoh muslim yang mempraktekkan jihad sejati; 37% meyakini Osama bin Laden mati syahid; 10% setuju terhadap Bom Sarinah; dan 6% mendukung ISIS. Aspek partisipasi bergabung ke Suria, Palestina, dan Poso ditemukan 60% siap bergabung saat ini dan 68% akan bergabung di masa akan datang.

Temuan di atas menujukkan betapa sebagian siswa di sekolah, utamanya pengurus Rohis, menghadapi problem kebangsaan dan keagamaan yang memprihatinkan. Untuk itu, melakukan revitalisasi peran agama dalam mendukung semangat nasionalisme kebangsaan di kalangan siswa sekolah mutlak dan segara dilakukan. Langkah dan kebijakan untuk menempatkan kesadaran bahwa Indonesia sebagai negara yang religius, bukan negara agama atau bukan negara sekuler, juga perlu ditanamkan. Demikian juga, gerakan menumbuhkan kesadaran bahwa nilai-niai keislaman di kalangan siswa juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan kita menjadi prioritas bersama. 

Kedua, membangun kesadaran akan keragaman baik dalam budaya, bahasa, etnis, dan agama sebagai karateristik Indonesia penting dilakukan. Keragaman ini merupakan fitrah yang Allah berikan sebagai kekayaan yang perlu dipertahankan dan, sekaligus, diberdayakan. Keragaman tidak kemudian dinafikan, tetapi dirawat dan dilestarikan sehingga mampu menciptakan kedamaian dan keharmonisan. Tentu, ini merupakan “pekerjaan” yang tidak mudah. Jika tidak mampu mengelolanya dengan baik maka akan terjadi benturan-benturan. 

Di sisi lain, Indonesia merupakan negara yang lekat dengan nilai-nilai religius-keagamaan. Meski bukan negara agama, kehidupan kebangsaan Indonesia dipenuhi dengan norma-norma keagamaan. Dalam konteks ini, menghadirkan dan memaksimalkan peran agama dan nilai-nilai agama dalam merawat kesadaran atas keragaman di kalangan siswa sekolah tampaknya menjadi pintu masuk yang efektif. Siswa di sekolah perlu dimantapkan pemahaman dan kemampuannya dalam mengartikulasikan agamasebagai perekat sosial di tengah-tengah keragaman.

Ketiga, meneguhkan kontribusi PAI dalam membangun kedewasaan dalam beragama. Even Pentas PAI dengan tema “Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan” menjadi pilihan yang tepat. Kondisi siswa di sekolah, sebagaimana ditemukan dari hasil studi Wahid Institut di atas, perlu untuk dilakukan kesadaran bahwa kita hidup di tengah negara-bangsa Indonesia dan kesadaran bahwa ternyata ada kebenaran agama lain menurut pengikutnya, selain kebenaran dalam agama yang kita anut.

PAI di sekolah mendorong untuk mengajarkan bahwa kita adalah orang Islam yang berwarganegara Indonesia sehingga artikulasi keislamannya harus sesuai dengan nilai keindonesiaan. Demikian juga, kesadaran bahwa Indonesia itu plural. Di samping kita yang beragama Islam, ada penganut lain yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, dan lain-lain. 

Kita meyakini bahwa kebenaran dalam agama yang kita anut merupakan sebuah keniscayaan. Namun, kebenaran di agama lain yang diyakini oleh patut penganutnya juga patut dihormati. Oleh karenanya, secara sosialkita harus menghargai atas kebenaran yang dianut mereka itu.Menghargai orang lain merupakan ajaran Islam itu sendiri.

Merevitalisasi agama dalam konteks kebangsaan dan merawat keragaman di kalangan siswa di sekolah merupakan domain dari pembelajaran PAI. Di banding dengan mata-mata pelajaran lainnya, PAI cenderung memiliki “hak” dan sekaligus “kewajiban” untuk mampu memposisikan agama pada tingkat yang semestinya. 

Kesuksesan dalam pembelajaran PAI di sekolahmerupakan modal dalam menatap masa depan Indonesia yang jauh lebih baik. Pasalnya, ada sekitar 80% siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah dari seluruh siswa di Indonesia, yang mengikuti pelajaran PAI. Ini artinya, PAI memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan watak anak bangsa ke depan. Keberhasilan dalam menyemai kedewasaan dalam beragama merupakan langkah yang harus dilakukan melalui PAI. Di sinilah peluang dan sekaligus tantangan bagi guru, pimpinan sekolah, dan pemerintah untuk mampu menghadirkan agama melalui materi-materi PAI sebagai “ruang titik temu” kesadaran kebangsaan dan keragaman itu.

Dalam konteks pengajaran PAI di sekolah, perlu ditekankan bahwa agama bukan hanya mengajarkan tentang agama itu sendiri, tetapi juga bagaimana agama itu menjadi instrumen dalam meneguhkan kohesi sosial dan karakter kebangsaan kita. Agama harus kontributif dalam membangun bangsa, dan sekaligus hadir sebagai solusi atas problem-problem sosial. Di sinilah yang perlu ditekankan oleh seluruh stakeholder pendidikan di sekolah agar menempatkan dan mengartikulasikan agama pada posisi yang semestinya.

Untuk meraih itu, tentu diperlukan kematangan berfikir, pemahaman keagamaan, hingga keterampilan teknis-operasional secara komprehensif dan genah (sesuai) yang dimiliki oleh seluruh stakeholder di sekolah menjadi penting dilakukan. PAI bukan hanya memompa semangat keagamaan yang bersifat elementer dan emosional semata, tetapi lebih dari itu, yakni menempatkan dan memfungsikan agama yang senantiasa berkorelasi dengan dinamika kehidupan sosial kebangsaan segera ditanamkan. Semoga.

Penulis adalah Pegiat Pendidikan Islam.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Warta, Berita, Daerah IPNU Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak

Cirebon, IPNU Tegal. Sedikitnya 75 pelajar NU Buntet Pesantren, Cirebon mendeklarasikan komunitas Falak. Mereka adalah peserta pelatihan Khazanah Teori dan Praktik Ilmu Falak yang diinisiasi MANU Putra Buntet Pesantren dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang, Senin-Selasa (27-28/1).

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak (Sumber Gambar : Nu Online)
Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak (Sumber Gambar : Nu Online)

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak

Pembentukan komunitas Falak Buntet Pesantren dinyatakan di akhir pelatihan Falak, Selasa (28/1) yang berisi pengenalan teori dan perangkat penelitian Falak mulai dari alat tradisional hingga modern berbasis teknologi.

Kepala Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren KH Ade Mohammad Mansyur mendorong komunitas Falak ini menjadi wadah pelajar mengembangkan khazanah Falak yang kini sepi dari perhatian dunia pendidikan.

IPNU Tegal

“Deklarasi ini diharapkan menginspirasi pesantren-pesantren lain untuk menghidupkan kembali khazanah Falak di mana pemikir-pemikir besar Islam masa lalu di bidang Falak menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia,” jelas Kiai Ade Mansyur.

Ia mengharapkan komunitas Falak Buntet Cirebon ini semakin menambah ? gairah para santri mempelajari dan mengembangkan Ilmu Falak agar eksistensinya tetap terjaga di dunia pendidikan khususnya pesantren. (Khaerun Nufus/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Sejarah, AlaSantri IPNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Ada Pesan Raja Salman di Balik Undangan Para Pimpinan Misi Haji

Mekkah, IPNU Tegal. Ada yang berbeda pada penyelenggaraan haji tahun ini. Pimpinan tertinggi Kerajaan Arab Saudi, Raja Salman, mengundang para pimpinan misi haji, termasuk Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku Amirul Haj jemaah haji Indonesia.

Pertemuan Raja Salman dengan pimpinan misi haji ini digelar di Istana Negara di Mina hari ini, Selasa (13/9). Di hadapan mereka, Raja Salman menyampaikan rasa syukurnya atas penyelenggaraan haji tahun ini yang berlangsung aman dan tertib.

Ada Pesan Raja Salman di Balik Undangan Para Pimpinan Misi Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Pesan Raja Salman di Balik Undangan Para Pimpinan Misi Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Pesan Raja Salman di Balik Undangan Para Pimpinan Misi Haji

Menurutnya, Pemerintah Saudi telah mencurahkan segala daya dan upaya untuk terciptanya keamanan dan kenyamanan pelaksanaan ibadah haji sehingga dapat berlangsung dengan baik. "Pemerintah Saudi juga menolak keras upaya yang menjadikan ibadah haji sebagai isu politik atau persoalan madzhab. Ibadah haji diperuntukan kepada semua umat Islam tanpa ada diskriminasi atas dasar apapun," tegas Raja Salman.

Putera Raja Abdul Aziz (alm) ini mengajak negara-negara Muslim untuk bersatu padu menolak radikalisme dan ekstrimisme. Menurutnya, kedua hal itu merupakan paham yang tercela, baik secara syariat maupun logika. Jika telah merasuk dalam diri umat Islam, lanjutnya, maka faham itu akan menghancurkan kemuliaan dan masa depan umat Islam di mata dunia internasional.

IPNU Tegal

"Tidak ada jalan lain untuk keluar dari kubangan persoalan ini, kecuali dengan kembali kepada spirit ajaran Islam dan memperkuat persatuan dan kesatuan Umat Islam," seru Raja Salman.

Raja Salman mengaku prihatin dengan konflik, perpecahan, dan peperangan yang terjadi di negara-negara Islam. Padahal Islam adalah agama perdamaian dan keadilan yang menjunjung tinggi persaudaraan, kasih sayang, dan kebajikan. Untuk itu, Raja menyeru pimpinan umat Islam untuk merapatkan barisan demi terciptanya persatuan, serta mencari solusi bersama atas konflik berkepanjangan di antara umat Islam.

"Pemerintah Saudi sangat menaruh perhatian dengan segala upayanya untuk terciptanya kedamaian dan kebaikan bagi negar-negara Islam dan dunai secara keseluruhan," tandasnya.

Di akhir sambutannya, atas nama Kerajaan Saudi, Raja Salman menyampaikan penghargaan kepada semua tamu Allah, teriring doa semoga mendapat haji mabrur dan dapat kembali ke negara masing-masing dengan selamat. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Berita, Santri IPNU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Kiai Marzuki Beri Taushiyah di Haul Gus Dur

Yogyakarta,IPNU Tegal. KH Marzuki menegaskan, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah orang yang peduli dan membela orang yang tidak mampu seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pendiri NU terdahulu.

Kiai Marzuki Beri Taushiyah di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Marzuki Beri Taushiyah di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Marzuki Beri Taushiyah di Haul Gus Dur

Ia menegaskan hal itu pada taushiah singkat yang diungkapkan dalam acara Majlis Sholawat Gusdurian (MSG) di pendopo Yayasan LKIS, Yogyakarta pada Senin (30/12) malam.

Kiai Marzuki mengimbau, latar belakang kesejatian Gusdurian harus dijaga. "Gusdurian harus mengikuti jejak perjuangan yang dilakukan Gus Dur. Gus Dur konsisten dalam mengayomi kaum minoritas," tegasnya.

IPNU Tegal

Forum yang sudah 9 kali dilaksanakan ini diawali dengan membaca tahlil untuk Gus Dur dan korban longsor di Banjarnegara.Kemudian penampillan grup hadroh MSG.

Jamaah terdiri dari warga sekitar Sorowajan, peserta kelas pemikiran Gus Dur, tim majalah Bangkit, dan intelektual muda NU Nur Khalik Ridwan. (muhlisin/abdullah)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Kiai IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock