Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan

Semarang, IPNU Tegal. Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) berpesan agar para ulama mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam berdakwah kepada masyarakat. Ulama hendaknya meresapi dan mengawali sendiri setiap petunjuk atau ajaran yang didakwahkan, termasuk ajaran hidup sederhana.

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Ulama Jangan Pamerkan Kemewahan

"Jangan sampai para ulama justru pamer kemewahan dan kekayaan, padahal agama mengajarkan untuk hidup sederhana. Ajaran-ajaran agama adalah ajaran yang Universal yang bukan hanya harus dilaksanakan oleh rakyat saja, tetapi juga oleh para ulama," tutur Gus Mus di hadapan ribuan hadirin di halaman Masjid Baitur Rahman Simpang Lima Semarang, Sabtu (30/6).

Menurut Gus Mus, para ulama hendaknya memiliki empati yang sangat tinggi terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya. Para ulama harus meneladankan kehidupan yang sederhana, ramah dan santun.

IPNU Tegal

"Jangan sampai ada ulama mengajarkan kesantunan tetapi dia sangat garang. Jangan sampai ada ulama mengajarkan kesabaran tetapi dia sendiri amat rakus pada dunia," tandas Kyai asal Rembang ini.

?

Lebih lanjut Gus Mus juga berpesan, hendaknya selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong. para ulama harus mengayomi dan mendamaikan rakyatnya.

IPNU Tegal

"Jangan sampai ada ulama bermanis-manis menyerukan perdamaian saat di hadapan publik, tetapi padahal sebenarnya ia adalah profokator," paparnya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Berita IPNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

PMII PTNU Tangerang Evaluasi 1 Tahun Kabinet Jokowi-JK

Tangerang, IPNU Tegal. Ratusan kader PMII PTNU Tangerang menyampaikan rasa kecewa atas kinerja kabinet Jokowi-Jk. Mereka tidak melihat peningkatan selama 1 tahun kinerja Jokowi. Untuk itu, mereka mengajukan sepuluh tuntutan untuk kepemimpinan Jokowi di depan kantor DPRD Kota Tangerang, Selasa (20/10).

Ketua PMII PTNU Tangerang Steven Idrus Maulana menyuarakan tuntutan terhadap Presiden Jokowi untuk meninjau ulang proyek pembangunan infrastruktur yang berasal dari hutang luar negeri.

PMII PTNU Tangerang Evaluasi 1 Tahun Kabinet Jokowi-JK (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII PTNU Tangerang Evaluasi 1 Tahun Kabinet Jokowi-JK (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII PTNU Tangerang Evaluasi 1 Tahun Kabinet Jokowi-JK

Pemerintah, mereka menuntut, segera mengeluarkan kebijakan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, menolak impor pangan, mewujudkan kedaulatan pangan, melakukan upaya percepatan serapan APBN. Mereka mendesak pemerintah mencabut izin perusahaan pelaku pembakaran hutan.

IPNU Tegal

Tuntutan mereka antara lain berbunyi agar pemerintah mempercepat perubahan RUU KUHP, meningkatkan mutu pendidikan bangsa, memberikan akses pendidikan tinggi seluas-luasnya untuk masyarakat tidak mampu.

“Yang terpenting adalah tolak UU revisi KPK yang diajukan oleh DPR RI. Sebab itu adalah pembunuhan KPK secara perlahan-lahan. PMII mengajak rakyat Indonesia ikut serta mengawal kebijakan pemerintah dan mengkritisi jika ada kesewenang-wenangan dalam kepentingan pribadi yang mengatasnamakan negara," kata Steven.

IPNU Tegal

Aksi mahasiswa, dimulai pada 13.00 WIB. Aksi mereka mulai memanas ketika mahasiswa bergerak mundur ke depan DPRD. Pada saat aksi, mahasiswa sempat membakar ban bekas.

Humas PMII PTNU Tangerang Aflahul Mumtaz menambahkan, pihaknya meminta Jokowi mengingat Nawacita, Trisakti, dan Revolusi Mental yang selalu digaungkannya. Karena, jika hal tersebut dilupakan, berarti Jokowi-JK telah mengakhiri mimpi 250 juta masyarakat Indonesia untuk sejahtera.

"Namun dalam kenyataanya mimpi dan rakyat sirna termakan janji yang tak kunjung ditepati dan tersimpan rapi di dalam laci kabinet Jokowi-JK," tegas Aflah. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, IMNU IPNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan

Karanganyar, IPNU Tegal. Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Serbaguna (Banser) se-Kabupaten Karanganyar siap menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mencegah paham yang bertentangan dengan Pancasila.?

"Kami menyatakan setia pada Pancasila dan NKRI sampai darah penghabisan. Sikap ini, juga merupakan instruksi serempak di seluruh Indonesia dari Pimpinan Pusat GP Ansor," kata Ketua GP Ansor Karanganyar, Suwanto di sela-sela acara Apel Kesetiaan Pancasila dan NKRI, di Taman Pancasila, Karanganyar Jawa Tengah, Rabu (1/6).

Selain itu, Iwan sapaan akrab Suwanto mengungkapkan beberapa waktu terakhir ada pihak-pihak yang secara terang-terangan menentang Pancasila. Bahkan ada yang ingin mengubah Indonesia menjadi negara khilafah.

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan

"Untuk menyikapi hal itu, kami pemuda NU siap menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI," tegasnya.

Kepala Kesbangpol Karanganyar, Indrayanto dalam sambutannya mengapresiasi kepedulian GP Ansor dan Banser Karanganyar. Kesadaran kolektif masyarakat diperlukan untuk menjaga keutuhan NKRI.

Apel kesetiaan Pancasila dan NKRI tersebut diikuti lebih dari 200 anggota Ansor-Banser se-Kabupaten Karanganyar. (Ahmad Rosidi/Zunus)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Daerah, Berita, Tokoh IPNU Tegal

IPNU Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah

Oleh Suwendi

Di bulan Oktober ini, tepatnya tanggal 9 hingga 14 Oktober 2017, Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyelenggarakan sejumlah even berskala nasional, di antaranya adalah Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) yang bertempat di Taman Sulthanah Ratu Shafiatudin Banda Aceh, Provinsi Aceh. Pentas PAI ini diikuti oleh seluruh siswa sekolah, mulai Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas dari 34 provinsi di Indonesia. 

Mereka akan mengikuti sejumlah even perlombaan yang mengasah atas pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan keagamaan dan kebangsaan yang telah diperoleh, khususnya, selamamengikuti mata Pelajaran Agama Islam (PAI) di sekolah. Pentas PAI yang kedelapan ini mengambil tema “Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan”.

Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyemai Kedewasaan dalam Beragama Melalui PAI di Sekolah

Even ini merupakan salah satu upaya Kementerian Agam dalam memperkuat PAI di sekolah, di samping terdapat upaya lain yang telah nyata dan sedang dilakukan, seperti program Bina Kawasan, Pengajaran Islam Rahmatan Lil’alamin, dan lain-lain. Memperkuat PAI di sekolah, termasuk di dalamnya melalui Pentas PAI, menurut hemat penulis, memiliki makna yang strategissetidaknya untuk menjawab tiga hal berikut. 

Pertama, merevitalisasi agama sebagai bagian dalam memperkokoh nilia-nilai kebangsaan di kalangan siswa sekolah. Agama didorong untuk menjadi penyanggah dalam meneguhkan komitmen kebangsaan di kalangan siswa sekolah, sehingga militansi kebangsaan di kalangan siswa sekolah tidak bisa dipisahkan dari sikap dan keyakinannya dalam beragama. Meneguhkan akan komitmen kebangsaan atas dasar agama di kalangan siswa ini, diakui belakangan menjadi sebuah kebutuhan mendesak. 

IPNU Tegal

Sebab, fenomena lunturnya semangat kebangsaan di kalangan para siswa sekolah, yang sebagian didasarkan atas pemahaman keagamaannya, menjadi keprihatinan tersendiri.

Data yang diperoleh dari hasil Penelitian Wahid Institute bertajuk “Bagaimana Potensi Radikalisme di Kalangan Aktivis Organisasi Rohani Islam (Rohis) di Sekolah-sekolah Umum” (2016) dengan 1.423 responden yang terdiri atas para aktivis Rohis menyajikan bahwa pada aspek pandangan dan sikap terhadap isu-isu dalam pidana (jinayah) dan politik Islam (siyasah) ditemukan 33%responden mengartikan jihad adalah berperang dan mengangkat senjata melawan orang kafir; 78% mendukung ide khilafah, 17% mendukung orang yang murtad dibunuh, 62% setuju orang yang berzina dihukum rajam hingga mati, dan 58% mendukung hukum potong tangan bagi pencuri, serta 1% sangat setuju dan 3% setuju bahwa memberi hormat bendera haram dilakukan.

IPNU Tegal

Pada aspek peta dukungan terhadap pelaku dan aksi terorisme ditemukan bahwa 33% meyakini Amrozi, Imam Samudera, Abu Bakar Baasyir, Abu Naim dan Oman Abdurrahman merupakan contoh muslim yang mempraktekkan jihad sejati; 37% meyakini Osama bin Laden mati syahid; 10% setuju terhadap Bom Sarinah; dan 6% mendukung ISIS. Aspek partisipasi bergabung ke Suria, Palestina, dan Poso ditemukan 60% siap bergabung saat ini dan 68% akan bergabung di masa akan datang.

Temuan di atas menujukkan betapa sebagian siswa di sekolah, utamanya pengurus Rohis, menghadapi problem kebangsaan dan keagamaan yang memprihatinkan. Untuk itu, melakukan revitalisasi peran agama dalam mendukung semangat nasionalisme kebangsaan di kalangan siswa sekolah mutlak dan segara dilakukan. Langkah dan kebijakan untuk menempatkan kesadaran bahwa Indonesia sebagai negara yang religius, bukan negara agama atau bukan negara sekuler, juga perlu ditanamkan. Demikian juga, gerakan menumbuhkan kesadaran bahwa nilai-niai keislaman di kalangan siswa juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan kita menjadi prioritas bersama. 

Kedua, membangun kesadaran akan keragaman baik dalam budaya, bahasa, etnis, dan agama sebagai karateristik Indonesia penting dilakukan. Keragaman ini merupakan fitrah yang Allah berikan sebagai kekayaan yang perlu dipertahankan dan, sekaligus, diberdayakan. Keragaman tidak kemudian dinafikan, tetapi dirawat dan dilestarikan sehingga mampu menciptakan kedamaian dan keharmonisan. Tentu, ini merupakan “pekerjaan” yang tidak mudah. Jika tidak mampu mengelolanya dengan baik maka akan terjadi benturan-benturan. 

Di sisi lain, Indonesia merupakan negara yang lekat dengan nilai-nilai religius-keagamaan. Meski bukan negara agama, kehidupan kebangsaan Indonesia dipenuhi dengan norma-norma keagamaan. Dalam konteks ini, menghadirkan dan memaksimalkan peran agama dan nilai-nilai agama dalam merawat kesadaran atas keragaman di kalangan siswa sekolah tampaknya menjadi pintu masuk yang efektif. Siswa di sekolah perlu dimantapkan pemahaman dan kemampuannya dalam mengartikulasikan agamasebagai perekat sosial di tengah-tengah keragaman.

Ketiga, meneguhkan kontribusi PAI dalam membangun kedewasaan dalam beragama. Even Pentas PAI dengan tema “Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan” menjadi pilihan yang tepat. Kondisi siswa di sekolah, sebagaimana ditemukan dari hasil studi Wahid Institut di atas, perlu untuk dilakukan kesadaran bahwa kita hidup di tengah negara-bangsa Indonesia dan kesadaran bahwa ternyata ada kebenaran agama lain menurut pengikutnya, selain kebenaran dalam agama yang kita anut.

PAI di sekolah mendorong untuk mengajarkan bahwa kita adalah orang Islam yang berwarganegara Indonesia sehingga artikulasi keislamannya harus sesuai dengan nilai keindonesiaan. Demikian juga, kesadaran bahwa Indonesia itu plural. Di samping kita yang beragama Islam, ada penganut lain yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, dan lain-lain. 

Kita meyakini bahwa kebenaran dalam agama yang kita anut merupakan sebuah keniscayaan. Namun, kebenaran di agama lain yang diyakini oleh patut penganutnya juga patut dihormati. Oleh karenanya, secara sosialkita harus menghargai atas kebenaran yang dianut mereka itu.Menghargai orang lain merupakan ajaran Islam itu sendiri.

Merevitalisasi agama dalam konteks kebangsaan dan merawat keragaman di kalangan siswa di sekolah merupakan domain dari pembelajaran PAI. Di banding dengan mata-mata pelajaran lainnya, PAI cenderung memiliki “hak” dan sekaligus “kewajiban” untuk mampu memposisikan agama pada tingkat yang semestinya. 

Kesuksesan dalam pembelajaran PAI di sekolahmerupakan modal dalam menatap masa depan Indonesia yang jauh lebih baik. Pasalnya, ada sekitar 80% siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah dari seluruh siswa di Indonesia, yang mengikuti pelajaran PAI. Ini artinya, PAI memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan watak anak bangsa ke depan. Keberhasilan dalam menyemai kedewasaan dalam beragama merupakan langkah yang harus dilakukan melalui PAI. Di sinilah peluang dan sekaligus tantangan bagi guru, pimpinan sekolah, dan pemerintah untuk mampu menghadirkan agama melalui materi-materi PAI sebagai “ruang titik temu” kesadaran kebangsaan dan keragaman itu.

Dalam konteks pengajaran PAI di sekolah, perlu ditekankan bahwa agama bukan hanya mengajarkan tentang agama itu sendiri, tetapi juga bagaimana agama itu menjadi instrumen dalam meneguhkan kohesi sosial dan karakter kebangsaan kita. Agama harus kontributif dalam membangun bangsa, dan sekaligus hadir sebagai solusi atas problem-problem sosial. Di sinilah yang perlu ditekankan oleh seluruh stakeholder pendidikan di sekolah agar menempatkan dan mengartikulasikan agama pada posisi yang semestinya.

Untuk meraih itu, tentu diperlukan kematangan berfikir, pemahaman keagamaan, hingga keterampilan teknis-operasional secara komprehensif dan genah (sesuai) yang dimiliki oleh seluruh stakeholder di sekolah menjadi penting dilakukan. PAI bukan hanya memompa semangat keagamaan yang bersifat elementer dan emosional semata, tetapi lebih dari itu, yakni menempatkan dan memfungsikan agama yang senantiasa berkorelasi dengan dinamika kehidupan sosial kebangsaan segera ditanamkan. Semoga.

Penulis adalah Pegiat Pendidikan Islam.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Warta, Berita, Daerah IPNU Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak

Cirebon, IPNU Tegal. Sedikitnya 75 pelajar NU Buntet Pesantren, Cirebon mendeklarasikan komunitas Falak. Mereka adalah peserta pelatihan Khazanah Teori dan Praktik Ilmu Falak yang diinisiasi MANU Putra Buntet Pesantren dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang, Senin-Selasa (27-28/1).

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak (Sumber Gambar : Nu Online)
Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak (Sumber Gambar : Nu Online)

Buntet Pesantren Bentuk Komunitas Falak

Pembentukan komunitas Falak Buntet Pesantren dinyatakan di akhir pelatihan Falak, Selasa (28/1) yang berisi pengenalan teori dan perangkat penelitian Falak mulai dari alat tradisional hingga modern berbasis teknologi.

Kepala Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren KH Ade Mohammad Mansyur mendorong komunitas Falak ini menjadi wadah pelajar mengembangkan khazanah Falak yang kini sepi dari perhatian dunia pendidikan.

IPNU Tegal

“Deklarasi ini diharapkan menginspirasi pesantren-pesantren lain untuk menghidupkan kembali khazanah Falak di mana pemikir-pemikir besar Islam masa lalu di bidang Falak menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia,” jelas Kiai Ade Mansyur.

Ia mengharapkan komunitas Falak Buntet Cirebon ini semakin menambah ? gairah para santri mempelajari dan mengembangkan Ilmu Falak agar eksistensinya tetap terjaga di dunia pendidikan khususnya pesantren. (Khaerun Nufus/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Sejarah, AlaSantri IPNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Ada Pesan Raja Salman di Balik Undangan Para Pimpinan Misi Haji

Mekkah, IPNU Tegal. Ada yang berbeda pada penyelenggaraan haji tahun ini. Pimpinan tertinggi Kerajaan Arab Saudi, Raja Salman, mengundang para pimpinan misi haji, termasuk Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku Amirul Haj jemaah haji Indonesia.

Pertemuan Raja Salman dengan pimpinan misi haji ini digelar di Istana Negara di Mina hari ini, Selasa (13/9). Di hadapan mereka, Raja Salman menyampaikan rasa syukurnya atas penyelenggaraan haji tahun ini yang berlangsung aman dan tertib.

Ada Pesan Raja Salman di Balik Undangan Para Pimpinan Misi Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Pesan Raja Salman di Balik Undangan Para Pimpinan Misi Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Pesan Raja Salman di Balik Undangan Para Pimpinan Misi Haji

Menurutnya, Pemerintah Saudi telah mencurahkan segala daya dan upaya untuk terciptanya keamanan dan kenyamanan pelaksanaan ibadah haji sehingga dapat berlangsung dengan baik. "Pemerintah Saudi juga menolak keras upaya yang menjadikan ibadah haji sebagai isu politik atau persoalan madzhab. Ibadah haji diperuntukan kepada semua umat Islam tanpa ada diskriminasi atas dasar apapun," tegas Raja Salman.

Putera Raja Abdul Aziz (alm) ini mengajak negara-negara Muslim untuk bersatu padu menolak radikalisme dan ekstrimisme. Menurutnya, kedua hal itu merupakan paham yang tercela, baik secara syariat maupun logika. Jika telah merasuk dalam diri umat Islam, lanjutnya, maka faham itu akan menghancurkan kemuliaan dan masa depan umat Islam di mata dunia internasional.

IPNU Tegal

"Tidak ada jalan lain untuk keluar dari kubangan persoalan ini, kecuali dengan kembali kepada spirit ajaran Islam dan memperkuat persatuan dan kesatuan Umat Islam," seru Raja Salman.

Raja Salman mengaku prihatin dengan konflik, perpecahan, dan peperangan yang terjadi di negara-negara Islam. Padahal Islam adalah agama perdamaian dan keadilan yang menjunjung tinggi persaudaraan, kasih sayang, dan kebajikan. Untuk itu, Raja menyeru pimpinan umat Islam untuk merapatkan barisan demi terciptanya persatuan, serta mencari solusi bersama atas konflik berkepanjangan di antara umat Islam.

"Pemerintah Saudi sangat menaruh perhatian dengan segala upayanya untuk terciptanya kedamaian dan kebaikan bagi negar-negara Islam dan dunai secara keseluruhan," tandasnya.

Di akhir sambutannya, atas nama Kerajaan Saudi, Raja Salman menyampaikan penghargaan kepada semua tamu Allah, teriring doa semoga mendapat haji mabrur dan dapat kembali ke negara masing-masing dengan selamat. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Berita, Santri IPNU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Kiai Marzuki Beri Taushiyah di Haul Gus Dur

Yogyakarta,IPNU Tegal. KH Marzuki menegaskan, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah orang yang peduli dan membela orang yang tidak mampu seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pendiri NU terdahulu.

Kiai Marzuki Beri Taushiyah di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Marzuki Beri Taushiyah di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Marzuki Beri Taushiyah di Haul Gus Dur

Ia menegaskan hal itu pada taushiah singkat yang diungkapkan dalam acara Majlis Sholawat Gusdurian (MSG) di pendopo Yayasan LKIS, Yogyakarta pada Senin (30/12) malam.

Kiai Marzuki mengimbau, latar belakang kesejatian Gusdurian harus dijaga. "Gusdurian harus mengikuti jejak perjuangan yang dilakukan Gus Dur. Gus Dur konsisten dalam mengayomi kaum minoritas," tegasnya.

IPNU Tegal

Forum yang sudah 9 kali dilaksanakan ini diawali dengan membaca tahlil untuk Gus Dur dan korban longsor di Banjarnegara.Kemudian penampillan grup hadroh MSG.

Jamaah terdiri dari warga sekitar Sorowajan, peserta kelas pemikiran Gus Dur, tim majalah Bangkit, dan intelektual muda NU Nur Khalik Ridwan. (muhlisin/abdullah)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Kiai IPNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

JQH Mantapkan Persiapan Haul Pahlawan Nasional

Surabaya, IPNU Tegal. Hari Pahlawan Nasional tanggal 10 Nopember akan diperingati besar-besaran di Surabaya. Acara dipusatkan di areal Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Kali ini acara besar itu akan diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Jam’iyatul Qura’ wal Huffadz (JQH) Jawa Timur, bekerjasama dengan MUI, PWNU, Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim.

Direncanakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, beberapa menteri dan gubernur di seluruh Indonesia akan turut hadir dalam perhelatan besar itu. “Semua undangan sudah kami sampaikan, dan dipastikan sudah sampai di tangan masing-masing yang kami undang,” kata KH Drs Abdullah Faqih, SH, Ketua Panitia Haul Pahlawan Nasional kepada IPNU Tegal di Surabaya, Selasa (6/11).

JQH Mantapkan Persiapan Haul Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
JQH Mantapkan Persiapan Haul Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

JQH Mantapkan Persiapan Haul Pahlawan Nasional

Ustadz Faqih menuturkan, dalam pelaksanaan nanti pihaknya akan melibatkan 1945 hafidz (penghafal Al-Quran putra) dan hafidzah (penghafal Al-Quran putri). Pengambilan jumlah itu disesuaikan dengan tahun terjadinya peristiwa hari bersejarah di Surabaya itu.

Para Qori’ adalah para anggota JQH di seluruh Jawa Timur. Faqih menyatakan, pihaknya tidak kesulitan mencari penghafal Al-Quran sebanyak itu di wilayah kerjanya, sebab tidak kurang dari 9.000 anggota JQH Jatim adalah seorang hafidz/hafidzah.

“Itu yang sudah terdaftar resmi hafal 30 juz, yang belum terdaftar masih banyak,” tutur alumnus Pondok Pesantren Langitan itu. Ia menuturkan, dalam rapat pleno persiapan yang dilakukan pada awal November lalu, sudah ada 3.900 orang yang mendaftar. “Ya nanti kita bagi, selebih dari 1945 orang, sisanya sebagai mustami’in saja,” imbuh Sekretaris JQH Jawa Timur itu.

IPNU Tegal

Di tempat yang sama, H Ahid Sufiaji, Wakil Majelis Ilmi JQH Jatim menjelaskan, acara akan dimulai pukul 06.00 WIB pagi dengan khatmil Quran bil ghaib oleh 1945 orang penghafal Al-Quran di 114 majelis. Setiap majelis berada di dalam masjid, hanya 9 di antaranya adalah majelis besar yang berada di areal Monumen Tugu Pahlawan.

Penggunaan angka 9 disesuaikan dengan angka keramat NU. Jam 11.00 WIB berarti Al-Quran telah dikhatamkan sebanyak 114 kali. Angka itu adalah angka seluruh jumlah ayat yang ada dalam Al-Quran.

Setelah itu akan dilakukan pelantikan pengurus baru PW JQH Jatim, disusul dengan pembacaan istighosah dan do’a bersama untuk para pahlawan. Baru setelah itu dilakukan sambutan-sambutan, termasuk di dalamnya amanat presiden dan ceramah umum yang akan disampaikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH A Hasyim Muzadi. Sedangkan doa penutup akan disampaikan oleh DR KH MA Sahal Mahfudh.?

Anggota FKB DPRD Jatim itu menuturkan, tidak kurang dari 4.000 undangan telah diedarkan. Mereka adalah para penghafal Al-Quran, para pengurus Ormas Islam, partai politik, para kepala daerah tingkat II se-Jatim, gubernur se-Indonesia, veteran, seniman, budayawan, banom-banom dan lembaga NU, para calon gubernur, dan lain-lain.

IPNU Tegal

“Pokoknya acara ini sekaligus sebagai ajang menjalin silaturahmi untuk mempererat persaudaraan bangsa,” tutur H Ahid, yang duduk di dewan penasehat kepanitiaan.

Ia menjelaskan, perayaan Hari Pahlawan kali ini sengaja dibuat besar-besaran, karena jasa para pahlawan yang meletakkan kemerdekaan negeri ini juga besar. Sebenarnya ide semacam itu sudah muncul 3 tahun lalu, namun baru kali ini bisa dilaksanakan. “Semoga kali ini tidak ada lagi gangguan di tengah jalan,” ujarnya berharap. (sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Syariah, Berita, Quote IPNU Tegal

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Jakarta, IPNU Tegal. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meminta agar penulisan sejarah keislaman, terutama yang menyangkut sejarah perjuangan komunitas NU terus dilanjutkan.  Peran para ulama  dalam perjuangan kemerdekaan seolah-olah diabaikan, padahal banyak diantara kaum santri yang meninggal.

Pernyataan tersebut diungkapkan dalam peluncuran buku Laskar Ulama-Santri  dan Resolusi Jihad yang digelar di Gedung Juang 45 Jakarta, Ahad (2/2).

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Ia menuturkan, suatu saat pernah diberi dokumentasi perjuangan kemerdekaan oleh Des Alwi, sejarawan dan penulis asal Jakarta, tetapi peran kaum santri sama sekali tidak disebutkan didalamnya.

IPNU Tegal

“Padahal banyak sekali santri yang meninggal waktu perjuangan kemerdekaan,” tandasnya.

Untuk itu, ia mengapresiasi langkah Zainul Millal dalam menelusuri dan menuliskan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan ini.

IPNU Tegal

“Ini merupakan langkah awal untuk menuliskan sejarah selanjutnya,” tegasnya.

Ditegaskannya, para ulama memiliki peran sangat besar sejak zaman zaman Kesultanan Demak yang menyerang Malaka, kemudian Sultan Agung yang menyerang Jayakarta sampai zaman Diponegoro yang selanjutnya, para keturunannya melahirkan para kiai dan pejuang kemerdekaan.

Dengan latar belakang sejarah inilah, Indonesia menjadi sebuah negara nasionalis yang religius, bukan sebuah negara agama atau negara sekuler dan bisa hidup damai sampai sekarang.

Dalam pertemuan dengan para ulama Afganistan, mereka menanyakan, bagaimana Indonesia bisa menyatukan nasionalisme sekaligus agama sehingga bisa hidup damai. Mereka sendiri merasa kelelahan menghadapi perang selama 32 tahun terus menerus yang sampai sekarang belum selesai.

“Karena itu, mereka saya ajak ke sini untuk belajar tentang kebangsaan ini,” paparnya.

Buku Sejarah Ulama-Santri yang dalam satu bulan ini sudah cetak ulang yang kedua ini menelusuri jejak perjuangan para ulama, termasuk peran penting dalam pertempuran 10 November di Surabaya, yang dalam sejarah umum sampai saat ini belum banyak diungkap. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pahlawan, Sunnah, Berita IPNU Tegal

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Jakarta, IPNU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jakarta Pusat mengadakan turnamen futsal se-DKI Jakarta. Kali ini turnemen tergolong unik, karena semua pesertanya adalah orang mini (cebol) yang tak asing lagi di layar televisi Indonesia.

Kebanyakan dari mereka adalah pemain sinetron, seperti Tarzan Betawi, Ronaldowati, dan  7 Manusia Harimau, yang sampai saat ini sinetronnya masih tayang. “Saya sendiri awalnya meragukan akan terlaksanannya turnamen ini. Mereka adalah pemain sinetron, terlebih ada yang bilang bahwa setelah futsal mau langsung menuju lokasi syuting di Cibubur,” ujar Yani Rahman, Ketua PC IPNU Jakarta Pusat.

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Turnamen yang digelar Sabtu (12/9) ini dihadiri langsung oleh Faisal dari Deputi 3 Kemenpora Republik Indonesia. Ia membuka turnamen ini dengan menendangkan bola dari tengah lapangan yang kemudian disahut gemuruh tepuk tangan para peserta dan panitia.

IPNU Tegal

Faisal tampak terkejut dan senang ketika memasuki lapangan futsal, di kawasan Kwitang, Jalan Keramat 2, Jakarta Pusat itu. “Waw, ini merupakan suatu kegiatan yang beda dengan yang lain, tetap jaya olahraga Indonesia,” ujarnya.

IPNU Tegal

PC IPNU Jakarta Pusat mengadakan turnamen ini karena menilai bahwa olahraga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Gelak tawa yang tanpa henti mewarnai turnamen futsal tersebut. Semua larut dalam kebersamaan dan kegembiraan, termasuk bagi tim yang kalah. “Ini merupakan kemenangan kita bersama,” ujar Farly sesaat setelah menerima piala juara 1 turnamen futsal mini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kiai, Berita IPNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Banser Kawal Karnaval Gebyar Sultan Agung

Pati, IPNU Tegal. Sebanyak 1600 orang memeriahkan Karnaval Gebyar Sultan Agung yang diselenggarakan setiap tahun, Sabtu (26/12). Mereka adalah para siswa lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Pengembangan Pendidikan Islam Sultan Agung (YPPISA), Sukolilo, Pati. Mereka terdiri atas siswa TK, MI, MTs, SMP, MA, dan SMK Sultan Agung.

“Kami sangat berterima kasih kepada anggota Banser yang sudah ikut mengawal dan menyukseskan acara Gebyar Sultan Agung,” kata Ketua Panitia Gebyar Sultan Agung Ahmad Mun’im.

Banser Kawal Karnaval Gebyar Sultan Agung (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kawal Karnaval Gebyar Sultan Agung (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kawal Karnaval Gebyar Sultan Agung

Ketua GP Ansor Sukolilo Ahmad Darmaji mengatakan, karena banyak pengunjung yang menyaksikan Karnaval Gebyar Sultan Agung, anggota Banser disebar di titik-titik strategis guna lancarnya pawai.

IPNU Tegal

Tepat pada 08.00 wib Karnaval Gebyar Sultan Agung dimulai dan dibuka langsung oleh Bupati Pati H Haryanto. Titik awal karnaval dimulai dari halaman YPPISA kemudian melewati jalan raya Pati-Purwodadi Km 27 dan berakhir di titik awal semula.

IPNU Tegal

Gebyar Sultan Agung ini merupakan salah satu bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Siswa-siswi yang ikut Karnaval Gebyar Sultan Agung diharapkan dapat mengambil hikmah dan keteladanan dari akhlak Nabi Muhammad SAW sehingga nanti terbentuk siswa yang berkarakter. (Moh Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Quote IPNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi

Oleh: KH  Imam Jazuli MA*

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya! Begitu kata Bung Karno, pada pidatonya di hari pahlawan 10 November 1961.

Dan, mengenang riwayat perjuangan anak bangsa, terutama saat-saat peran pemuda begitu dominan dan sentral untuk sebuah nasionalisme; merebut atau mempertahankan kemerdekaan dengan caranya sendiri dan demi nilai agama sekaligus. 

Maka, kita tentu tak boleh lupa atau alpa pada riwayat apa dan bagaimana Ansor, sebagai barisan pemuda pesantren-islam tradisional itu berdiri dan lahir, dan pada masanya sangat dibutuhkan ketika republik yang kita cintai ini  baru merangkak dan belajar berdiri. 

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Mengabdi untuk NKRI dan Mengawal Tradisi

Ansor yang sering disebut sebagai anak rahim dari NU (Nahdlatul Ulama) bahkan secara de jure sudah terlahir lebih dulu sebelum NU berdiri. Tahun 1924, ketika organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes mencuat, anak-anak muda yang terdiri dari santri pesantren dan langgar atau masjid mendirikan organisasi kepemudaan bernama: Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaid.

IPNU Tegal

Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan semakin banyak diminati dan mendapatkan tempat di hati pemuda, saat itulah situasi konflik internal terjadi; antara tokoh-muda tradisional (KH. Abdul Wahab Hasbullah) dan tokoh muda-modernis (KH. Mas Mansyur) yang sama sama berada di tubuh Nahdlatul Wathan. Perbedaan itu muncul dalam cita-cita yang sama-sama mulia, yaitu bagaimana sebaiknya membina kader mubalig dan kemana idiologi mereka arahkan?. Perbedaan ini akhirnya melahirkan arus gerakan yang berbeda dalam mendirikan organisasi kepemudaan. KH. Wahab membawa gerbong cikal bakal Ansor, sementara Mas Mansyur kemudian kelak dikenal sebagai pioner dari Pandu Hisbul Wathan (Muhammadiyah). 

IPNU Tegal

Dari gagasan KH. Wahab tersebut, secara kongkrit dilanjutkan oleh kader Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri pada tahun 1930 dengan nama Nahdlatus Subban (Kebangkitan Pemuda), yang dipimpin oleh Umar Burhan. Abdullah Ubaid kemudian mendirikan organisasi pemuda yang lebih luas yaitu persatuan pemuda Nahdlatul Oelama (PPNO) dan tahun 1934 namanya disempurnakan menjadi Ansor Nahdlotul Oelama (ANO), sebagai bagian dari NU pada Muktamar ke 9 di bayuwangi 21-26 April 1934. Selanjutnya, melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan barisan berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama). Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser.

Peran Kongkrit Membela Negara

Meski kedua prototipe gerakan tersebut (Subbanul Wathan dan Pandu Hizbul Wathan) sering berbeda haluan, namun menurut catatan Prof. Anthony Ried, ada saat-saat yang mengharukan, dimana kedua gerakan pemuda itu dalam satu barisan, yaitu ketika  KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1944 berfatwa, untuk antara lain mengharamkan pribumi yang muslim menyanyikan lagu kebangsaan “Kimigayo”, dan mengibarkan bendera Hinomaru serta segala bentuk Niponisasi (serba Jepang). Hari berikutnya, dua gerakan pemuda itu, tidak sekedar mengikuti fatwa Kiyai Hasyim, tetapi saling bahu-membahu memerangi kolonialisme Jepang yang sangat kejam. KH. Hasyim bersama KH. Wahab Hasbullah kemudian secara sembunyi-sembunyi mencoba menyatukan dua gerakan anak muda itu dalam kelompok Laskar Hizbullah yang dikomandani Mahfudz Shidiq dan untuk yang tua-tua dalam barisan Laskar Sabilillah yang diketuai oleh KH. Abdul Kholik (Putra KH. Hasyim Asyari). (Anthony Ried. 1974. The Indonesian National Revolution, 1945-1950, Connectitud: GrPenwood Press)

Menariknya, meskipun pada akhirnya jumlah Pandu Hizbul Wathan (Muhammadiyah) tak begitu signifikan yang masuk dalam barisan pasukan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah ini, tetapi usaha menyatukan sudah dicoba dilakukan dengan arif oleh KH. Hasyim Asyari, dan secara mengagetkan, segera saja, pasukan dari kalangan Islam tradisionalis ini jauh lebih banyak daripada pasukan resmi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Bahkan untuk menghadapi Perang Pasifik, kalangan Nasionalis dalam Hokokai pada bulan Agustus 1944, di seluruh Nusantara baru mempunyai anggota sekitar 80.000 pemuda di dalam unit para militernya dengan nama barisan Pelopor dengan komando Soekarno dan Hatta, dan organisasi PETA punya barisan perang dengan jumlah yang sama dengan Pelopor, yaitu sekitar 80.000 pemuda yang terdiri dari tentara dan kaum buruh tani, dengan komando Jenderal Sudirman dan Jenderal A. H. Nasution.

Sedangkan Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah yang anggotanya terdiri dari para santri, kaum muslim tradisionalis pedesaan di berbagai wilayah dan daerah dengan anggota di setiap wilayah sekitar 50.000 yang terpencar di kepulauan Nusantara, semuanya mencapai sekitar 500.0000. Jumlah tersebut tiap hari kian meledak, pemuda-pemuda desa  yang berumur sekitar delapan belas tahun sampai duapuluh tahun dengan antusias tergabung, dan  mengikuti pelatihan pusat di Malang. Dari semangat anak muda inilah, kelak kemerdekaan benar-benar terwujud. 

Setelah revolusi fisik (1945-1949) mereda. Tokoh Laskar Hizbullah dari barisan ANO Surabaya Moh. Chusaini Tiway, melegalkan ANO dengan Bansernya secara formal setelah sempat dibekukan oleh pihak Jepang. Ide tersebut mendapat sambutan positif dari KH. wahid Hasyim Menteri agama RIS kala itu, maka pada tanggal 19 desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO, dan secara de facto diakui dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor (GP. Ansor). 

Tentang Sepenggal Nama

Ansor Nahdlatul Oelama (ANO), adalah nama atas saran KH. Abdul Wahab. Nama ini menurutnya diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad Saw. kepada penduduk Madinah (kaum Ansorin) yang telah berjasa dalam membela dan ikut serta dalam perjuangan dan menegakan agama kaum muhajirin (Islam). Pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam. Kaum Ansor, berarti kaum asli pribumi, yang tak boleh meninggalkan karakter dan tradisi-tradisi arifnya, tetapi juga harus mau merima yang baik dari luar, yaitu dari kaum muhajirin (Makkah). Diktum ini kemudian dikenal luas oleh Nahdliyin dengan al-muhafadzah ala qadim as-shalih wal-akhdzu bil jadid al-ashlah (menjaga tradisi yang baik, dan mengambil baru yang baik). 

Dengan demikian ANO diharapkan dapat mengambil hikmahnya serta tauladan terhadap sikap, prilaku dan semangat perjuangan serta kiprah sahabat nabi dan yang dapat predikat Ansor tersebut. Yakni sebagai penolong perjuangan dan bahkan pelopor dalam menyiapkan gebrakan dan pembentengan kekuatan islam. Inilah komitmen yang sejak awal diperlihatkan anggota ANO (GP. Ansor), misalnya dalam kasus G. 30 SPKI, dan lain sebagainya.

GP. Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikian rupa, bahkan mungkin menjadi organisasi kemasyarakatan yang berbasis pemuda terbesar di Indonesia, dan memiliki watak mecintai tradisi dan bervisi keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 cabang (tingkat kabupaten/kota) di bawah koordinasi 32 pengurus wilayah (tingkat provinsi ). Ditambah dengan kemampuan pengelola keanggotaan khusus BANSER (barisan Ansor serbaguna) yang memiliki kemampuan dan kualitas kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Barangkali tantangan GP. Ansor yang paling kongkrit saat ini dan ke depan adalah ’berperang’ menyelamatkan negeri dengan cara ”meneguhkan kebinekaan dan mengentaskan kemiskinan” dari jarahan para koruptor yang semakin membudaya di kalangan  birokrat! Selamat ultah Ansor yang ke 78, yang saat ini dirayakan di Solo (dengan rencana dibuka oleh Presiden RI), mulai tanggal 13-18 Juli 2012. Semoga terus eksis dalam setiap episode sejarah perjuangan bangsa dan tetap menepati posisi dan peran yang strategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional. Amin

Jakarta, 10  Juli 2012

* Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabitah Maahid Islamiyah -Asosiasi Pesantren se-Indonesia- (PP RMI)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Nahdlatul, News IPNU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Kiai Muchit Adalah Konseptor dan Ideolog NU

Jakarta, IPNU Tegal. Meninggalnya KH Muchit Muzadi yang merupakan salah satu murid langsung dari Rais Akbar NU KH Hasyim Asyari meninggalkan duka yang mendalam bagi warga NU. Semasa hidupnya, ia membaktikan seluruh hidupnya untuk kebesaran NU.

Katib Syuriyah PBNU H Asrorun Niam Sholeh menilai Kiai Muchit merupakan konseptor dan ideolog NU dalam bidang keagamaan maupun kebangsaan. Ia merupakan tokoh di balik layar yang menjadi pemantik perubahan besar.

Kiai Muchit Adalah Konseptor dan Ideolog NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Muchit Adalah Konseptor dan Ideolog NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Muchit Adalah Konseptor dan Ideolog NU

Kepada KH Hasyim Asyari, Mbah Muchit tidak hanya belajar agama, tetapi juga belajar berorganisasi dengan masuk dalam NU pada 1941. Di Tebuireng, Muchit muda bersentuhan dengan para aktivis NU, diantaranya dengan Ahmad Siddiq yang kemudian menjabat rais aam PBNU.

IPNU Tegal

Saat rais aam PBNU dijabat oleh KH Ahmad Siddiq, Mbah Muchit dipercaya menjadi sekretaris pribadi dan menjadi “dapur” dalam berbagai perumusan strategis NU, seperti rumusan aswaja, hubungan Islam dan negera, dan mencari rumusan pembaharuan pemikiran Islam serta strategi pengembangan masyarakat NU.

IPNU Tegal

“Salah satu yang fenomenal adalah khittah Nahdliyah dan hubungan NU dengan politik serta penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal,” katanya.

Dengan dibantu Mbah Muchit, maka langkah KH Ahmad Siddiq mampu mengimbangi gerak dan langkah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sehingga dalam waktu singkat NU menjadi organisasi yang sangat maju dan berperan besar dalam bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.

“Sukses duet KH Ahmad Siddiq dan Gus Dur tak lepas dari pikiran kreatif Mbah Muchit,” imbuhnya.

“Mari kita sebagai umat Islam dan warga NU khususnya mendoakan beliau, melakukan shalat janazah, shalat ghaib di masjid-masjid dan musholla, bertakziah dan bertahlil untuk beliau,” ajaknya.

Tak lupa, Asrorun Niam juga mengajak warga NU untuk meneladani perbuatan baik yang selama ini telah dilakukan oleh kakak dari mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi ini.

“Selamat jalan, semoga khusnul khotimah, jasa dan pahalanya dilipatgandakan pahalanya, dosa dan kesalahannya diampuni, dan kita diberi kekuatan untuk meneladani ketokohannya dan meneruskan perjuangannya,” katanya. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pendidikan, Olahraga, Berita IPNU Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Husni dan Alim Ketua PC IPNU-IPPNU Brebes

Brebes, IPNU Tegal. Husni Mubaroq dari Tonjong dan Alimatul Khasanah (Wanasari), akhirnya terpilih sebagai Ketua Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Brebes. Mereka mendapat kepercayaan untuk memimpin organisasi badan otonom NU dalam Konferensi Cabang (Konfercab) VIII IPNU-IPPNU Brebes untuk periode 2010-2012.

Terpilihnya Alim sebagai Ketua IPPNU, sangat melelahkan. Pasalnya terjadi pada pukul 03.00 dini hari Ahad (4/7). Dalam kesempatan tersebut peserta menyatakan kesanggupannya meneruskan persidangan hingga terpilih Ketua. Aula pondok pesantren Darunnajat Pruwatan Bumiayu Brebes tempat berlangsungnya konfercab menjadi lebih hidup.

Husni dan Alim Ketua PC IPNU-IPPNU Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Husni dan Alim Ketua PC IPNU-IPPNU Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Husni dan Alim Ketua PC IPNU-IPPNU Brebes

Alim mengantongi menang tipis dengan selisih 1 suara dari rivalnya Toriqoh (Wanasari).  Alim mendapatkan 49 suara sedangkan Toriqoh 48 suara sementara 1 suara dinyatakan abstain dari 98 suara yang diperebutkan.

IPNU Tegal

Sebelumnya dalam pemilihan tahap pertama, ada 6 bakal calon. Selain Alim dan Toriqoh, ada Ani ulfiyati, Anisatul Kholisoh, Khoerunisa dan Tarini. Namun karena pada tahap pertama tidak mencapai batas minimal perolehan 20 suara, maka dianggap gugur.

IPNU Tegal

Sementara untuk Husni Mubaroq menang telak dalam satu tahapan dengan mengantongi 100 suara. Rivalnya  Ahmad Munjazi (Larangan) yang memperoleh 38 suara, dinyatakan tidak memenuhi syarat karena yang bersangkutan belum pernah mengikuti pelatihan pengkaderan. Munjazi dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga  (PD/PRT) IPNU.

“Salah satu syarat menjadi Ketua Pengurus Cabang IPNU, sekurang-kurangnya pernah mengikuti pelatihan pengkaderan. Karena Rekan Ahmad Munjazi belum pernah mengikuti pelatihan maka dinyatakan gugur dari pencalonan,” terang Wakil Ketua Pengurus Wilayah IPNU Jateng Nurcholis selaku pemimpin sidang.

Dalam programnya, Husni ingin lebih memfokuskan pada peningkatan nilai-nilai intelektualitas pelajar. “Pelajar NU, juga memiliki kemampuan intelektualitas yang tinggi dan ini akan kami buktikan dengan berbagai program unggulan kami ke depan, mohon doa restunya,” tutur Husni.

Sedang Alim berobsesi akan menciptakan kemandirian para pelajar putri NU. Meskipun kaum putri dinyatakan lemah, tetapi sesungguh tersimpan daya juang untuk bisa mandiri. “Kita tidak bisa bergantung terus dengan pelajar putra, kami pun bisa belajar, berjuang dan bertakwa secara mandiri,” tekadnya.

Sementara, Ketua Panitia Penyelenggara Muhaemin Nursalim mengaku gembira telah menyelesaikan agenda dua tahunan ini. Menurutnya, Konfercab yang berlangsung sejak 2 sampai 4 Juli 2010 berlangsung sukses karena mendapat dukungan semua pihak. “Dengan mengusung tema Restorasi Gerakan Pelajar sebagai piranti perubahan, akan tercipta kader NU yang militant,” pungkasnya. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, AlaSantri, Tegal IPNU Tegal

Rais Aam PBNU: Asal Tidak Bangkrut Boleh Selamatan Setiap Hari

Jakarta, IPNU Tegal. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menyebut paham Ahlussunnah wal Jamaah ala Thariqatin Nahdliyah sebagai paham terbuka yang memberi kesempatan peran bagi budaya lokal maupun global dalam menjalankan perintah agama. Kiai Ma’ruf menyebut upacara selamatan, kendurian, tahlilan, atau haul sebagai contoh praktik Aswaja NU yang belakangan ramai dengan sebutan “Islam Nusantara”.

Demikian disampaikan KH Ma’ruf dalam forum Tashwirul Afkar di Perpustakaan PBNU, Jakarta, Jumat (18/9) sore.

Rais Aam PBNU: Asal Tidak Bangkrut Boleh Selamatan Setiap Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU: Asal Tidak Bangkrut Boleh Selamatan Setiap Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU: Asal Tidak Bangkrut Boleh Selamatan Setiap Hari

“Selamatan itu sendiri perintah syara’ (agama). Sedangkan hitungan harinya seperti selamatan 7 hari, 15 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari itu yang minal awaid faqath (berasal dari tradisi, Red). Dengan tradisi timbul kreativitas dalam mempraktikkan ajaran Islam di Nusantara,” kata Kiai Ma’ruf.

IPNU Tegal

Menurut Kiai Ma’ruf, syara’ selain tidak mempermasalahkan upacara selamatan, justru memerintahkan. Tetapi syara’ memang tidak mengatur jadwal dan tata cara selamatan itu sendiri.

IPNU Tegal

“Kalau mau bikin selamatan setiap hari juga boleh. Tetapi bisa bangkrut juga,” kata Kiai Ma’ruf Amin disambut tawa para peserta diskusi. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, PonPes IPNU Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Benedict Anderson dan NU

Oleh Muhammad Nashirulhaq



Sebuah tulisan untuk memeringati 40 hari wafatnya Pak Ben.

Setelah wafatnya Benedict Anderson pada 13 Desember 2015 lalu, hampir tak ditemukan reaksi tokoh NU atau intelektual mudanya, kecuali mereka yang memang meminati kajian ilmu sosial, sejarah, dan atau budaya, baik berupa obituari atau catatan singkat demi mengenang Indonesianis besar ini. Wajar, memang. Dibanding para Indonesianis lain yang memang fokus pada kajian Islam, terlebih lagi yang menyangkut NU, nama Ben, begitu kerap ia disapa, memang tak begitu populer bagi kalangan muda NU yang pada umumnya tertarik pada isu keislamaan dan ke-NU-an (atau dalam istilah Ahmad Baso: NU-studies). Tak seperti Martin van Bruinessen, Andree Feillard, Greg Fealy, Greg Barton, atawa Mitsuo Nakamura yang tekun meneliti dan mengamati perkembangan NU (bahkan rutin menghadiri acara-acara akbar NU seperti muktamar, sehingga mengenal dan dikenal sebagian tokoh NU), serta menghasilkan karya-karya yang bertema ke-NU-an, Ben memang tak pernah meneliti, menulis, atau menelurkan karya khusus tentang NU. Karena itu, sekali lagi, sangat wajar bila namanya cukup asing bagi mereka yang fokus pada isu keorganisasian, kultur, dan dinamika internal serta wacana yang berkembang dalam tubuh NU selama ini.

Benedict Anderson dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Benedict Anderson dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Benedict Anderson dan NU

Namun, apakah dengan begitu, berarti Ben sama sekali tak menaruh perhatian dan tak punya hubungan langsung dengan kajian terkait ormas Islam terbesar di Indonesia ini? Apakah ia tak punya kontribusi sama sekali terhadap perkembangan tema kajian ini?

Kalau kita menengok karya-karya Indonesianis yang mengambil tema tentang NU secara spesifik, yang kita temukan justru sebaliknya. Robert Hefner, misalnya, dalam tulisannya di jurnal Indonesia yang kemudian menjadi kata pengantar edisi Bahasa Indonesia dari buku Andree Feillard, NU vis-a-vis Negara, ia menyatakan bahwa Ben Anderson bisa dibilang merupakan Indonesianis mula-mula yang menaruh perhatian terhadap pentingnya kajian mengenai NU ditinjau dari berbagai aspeknya. Ia juga menjadi pendorong utama bagi peneliti-peneliti lain untuk menekuni kajian ini. Melalui tulisannya yang terbit pada tahu 1977, “Religion and Politics in Indnesia Since Independence”, Ben, kata Hefner, “meratapi langkanya karya ilmiah Barat yang serius mengenai NU dan kecenderungan di kalangan pengamat politik Indonesia yang memandang organisasi tersebut sepenuhnya korup dan oportunis”.

Tulisan ini bisa dianggap sebagai tonggak sekaligus pionir yang menandai awal diliriknya NU sebagai objek kajian yang serius. Buktinya, kata Hefner lagi, sejak saat itu kajian mengenai NU mulai menjadi populer di kalangan akademisi Barat dan mereka tidak bisa lagi memandang organisasi tersebut secara sinis dan dengan pandangan meremehkan. (Feillard, 1999: xv)

IPNU Tegal

Perlu menjadi catatan, selama periode 1950-an-1970-an (dan bahkan sebelum itu, sejak era kolonial), dibandingkan dengan organisasi bercorak modernis, NU tidak banyak mendapat perhatian dari kalangan ilmiah. Ia lebh sering disebut sambil lalu, karena dianggap tidak begitu penting dan tidak memegang peran urgen dalam menentukan arah politik negara. Kalaupun ia dibicarakan dan disebut, ia sering digambarkan dengan atribusi yang benar-benar negatif (anti-modernisasi, kolot, anti-pembaruan, dll) (van Bruinessen, 1994: 8). Di saat ilmuwan sosial Barat yang mengkaji Indonesia terlalu berorientasi pada modernisasi (modernization-oriented) sehingga melihat potensi terbesar ada pada kalangan modernis, Ben Anderson, menurut Martin van Bruinessen, sudah sejak tulisan-tulisan awalnya “berusaha memberikan perhatian yang sepatutnya kepada pesantren dan NU”. Karenanya, van Bruinessen tak ragu menyebut Ben Anderson dan karyanya sebagai “perkecualian” dari tren akademisi Barat pada masanya, dalam hubungannya dengan kelompok tradisionalis.

Greg Fealy tak jauh berbeda dengan van Bruinessen dalam menilai peran Ben Anderson terhadap kajian ke-NU-an. Pada mulanya, Fealy membagi arus utama dalam pendekatan historiografi NU menjadi dua bagian. Pertama, adalah wacana atau pendekatan “yang didominasi modernis”, sedangkan yang kedua adalah wacana “yang menghargai tradsi”, yang lebih simpatik dalam memandang NU. Pandangan pertama mulai digunakan dan menjadi pandangan konvensional sejak dasawarsa 1950-an sampai 1970-an, dengan pendukung utamanya adalah intelektual Muslim modernis dan akademisi Barat. 

Hal ini cukup wajar, sebenarnya. Pada tahun-tahun itu, belum banyak kalangan Muslim tradisionalis yang menempuh pendidikan formal “ala Barat”, apalagi menjadi akademisi. Karenanya, kelompok Muslim tradisional menjadi—meminjam istilah Anthony Reid—kelompok yang tidak efektif dalam menjelaskan dirinya kepada dunia luar. Akibatnya, gambaran tentang Islam tradisional memang dikonstruksikan oleh cendekiawan modernis yang sejak dalam pikiran memang sudah berbeda scara diametral dengan kelompok Muslim tradisionalis. NU, misalnya, karena memisahkan diri dari Masyumi pada tahun 1952, lalu mereka sebut sebagai kelompok oportunis yang rela menjilat (Soekarno) dan mencari untungnya sendiri. Mereka (yang tak memahami prinsip dan kaidah berpolitik kaum tradisionalis) juga menganggap NU tak sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan Islam, karena prinsipnya yang tawassuth (moderat), luwes, elastis, dan akomodasionis, tak seperti Masyumi yang berani mengritik bahkan menentang kebijakan rezim Orde Lama dan Soekarno.

IPNU Tegal

Pendekatan model pertama ini kemudian mendapat antitesanya dengan kemunculan kelompok yang menyuarakan pendekatan kedua, yang lebih simpatik dan coba memahami kelompok tradisionalis. Menurut Fealy, meskipun kalangan ini dipelopori oleh Ken Ward—yang meneliti Partai NU dalam Pemilu 1971—, namun kecenderungan ini baru menguat seiring hadirnya tulisan-tulisan Ben Anderson dan Mitsuo Nakamura. Dalam hal ini, Ben berkontribusi misalnya dalam membalik anggapan yang sudah mapan sebelumnya, bahwa NU hanya “menunggangi” agama untuk kepentingan politik, jabatan, dan kekuasaan. Ia menegaskan, yang benar justru sebaliknya, yaitu bahwa NU selalu mengaggap politik hanya sebagai medium (wasilah) demi meraih tujuan-tujuan yang lebih besar, yang didorong oleh motif dan semangat keagamaan. (Fealy, 2003: 12)

Meskipun termasuk sosok yang mula-mula mendorong peneltian tentang NU dan mempromosikan NU sebagai objek penelitian, Ben sendiri hampir tak pernah meneliti dan menghasilkan karya khusus tentang NU. Saya kira, ada beberapa alasan yang bisa diajukan untuk menjelaskan hal ini. Pertama, dicekalnya Ben untuk memasuki Indonesia sejak tahun 1973 sampai 1999 oleh rezim Ore Baru-nya Soeharto jelas tidak memungkinkannya mengadakan penelitian lapangan, bukan saja tentang NU, tapi juga tema-tema lainnya, di Indonesia. Karena itu, pada masa-masa ini ia mengalihkan fokus kajiannya dari Indonesia ke negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand dan Filipina.

Kedua, ia mungkin juga menyadari, seorang yang meneliti NU seyogyanya memang mempunyai modal pemahaman akan Islam tradisional, karena NU-studies memang tidak bisa dilepaskan dari Islamic-studies. Fealy sendiri, yang bertolak dari basic ilmu politik mengakui, “sebagaimana pengetahuan tentang Marxisme diperlukan untuk mempelajari ideologi PKI, pengetahuan tentang fiqih merupakan syarat utama untuk memahami pemikiran politik NU”. (Fealy, 2003:10).

Namun, meskipun tak banyak tulisannya yang menyangkut soal NU, pandangannya yang simpatik terhadap organisasi tradisional ini tak pernah berubah. Pada tahun 2008, misalnya, dalam tulisannya tentang obituari Soeharto, “Obituary for a Mediocre Tyrant”, ia menggambarkan NU sebagai kelompok “’traditional’ Islam who in many ways are showing thmselves to be far more modern than the ‘modernist’”. Dalam tulisan yang sama, ia juga mengapresiasi dan menaruh harapan besar pada kelompok intelektual muda dan aktivis sosial dari kalangan ini, yang mempunyai potensi besar dan sudah mencoba membangun rekonsiliasi dan memulihkan kehormatan orang-orang yang menjadi korban pelanggaran HAM di masa lalu.

Sebuah penilaian yang mengingatkan saya pada penilaian serupa yang dinyatakan oleh Mitsuo Nakamura, misalnya. Pada tahun 1981, Nakamura menyebut NU sebagai “radical traditionalism”, yang setelah perubahan rezim politik,berhasil mengembangkan kombinasi antara sikap oposisi menentang otoritarianisme rezim dengan sikap akomodatif dalam beberapa hal demi tetap menyelamatkan kehidupan organisasi, yang tak kalah pentingnya. Ketika saudara modernisnya “memperoleh keuntungan dari sikap akomodatif terhadap Orde Baru” tetapi berhasil dikooptasi oleh rezim.

Sebuah penilaian, yang juga mengingatkan saya pada fase cukup pajang dari Matin van Bruinessen. “Ketika itu saya percaya bahwa modernisme Islam lebih dinamis dan secara intelektual lebih menarik ketimbang kaum pemelihara tradisi. Saya menghubungkan NU dengan oportunisme politik, konservatisme sosial, dan keterbelakangan kultural. Saya segera menemukan bahwa kenyataannya berbeda, dan kaum modernis, dan pembaharu tidak selalu merupakan pemikir Muslim paling progresif di Indonesia. Banyak di antara mereka yang nampaknya sudah memegang teguh paradigma–paradigma Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, dan Abul-A’la Maududi, sebuah bentuk taklid yang bisa menjadi lebih kaku ketimbang sikap taklid kaum tradisionalis kepada empat imam madzhab. Saya seringkali bertemu dengan orang-orang muda berlatar belakang pesantren yang secara intelektual berpikiran lebih terbuka dan lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang kebanyakan modernis yang saya kenal...... Dalam kenyataannya, sebagian dari pemikir Muslim paling menarik di Indonesia berasal dari latar belakang tradisionalis, bukan modernis.

..........Tradisionalisme pesantren dan otoritarianisme kiai jelas tidak menghalangi munculnya arus-arus pemikiran tandingan. Kenyataannya, saya sering terpesona oleh kemandirian berpikir dan sikap kritis generasi muda pesantren dibandingkan para lulusan sekolah bertipe modern di Indonesia”. (van Bruinessen, 1994: 12, 220).





* Mahasiswa FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan anggota PMII Ciputat

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita IPNU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Lecehkan Gus Dur, Kemenag Jabar Harus Minta Maaf

Subang, IPNU Tegal. Keluarga Besar NU di Kabupaten Subang Jawa Barat yang meliputi elemen GP Ansor, PMII, dan IPNU meminta pihak Kanwil Kementerian Agama Jabar untuk segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.



Lecehkan Gus Dur, Kemenag Jabar Harus Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Lecehkan Gus Dur, Kemenag Jabar Harus Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Lecehkan Gus Dur, Kemenag Jabar Harus Minta Maaf

Hal ini terkait kasus pelecehan terhadap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam soal Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil Madrasah Aliyah.

Seperti diwartakan, pelecehan terhadap Presiden RI ke-4 tersebut muncul dalam soal Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil Madrasah Aliyah yang tertuang dalam pilihan ganda nomor 33 oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Kanwil Kementrian Agama Jawa Barat.

IPNU Tegal

Dalam soal tersebut terdapat pertanyaan yang menjerumuskan siswa, terkait sebab jatuhnya Gus Dur yang mengarah ke pilihan jawaban A, yakni kasus Bruneigate dan Buloggate.

IPNU Tegal

“Kami menuntut agar Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Jabar, Kanwil Kemenag Jabar dan Kemenag Subang untuk meminta maaf kepada Warga Nahdliyin dan Rakyat Indonesia di media cetak maupun elektronik,” kataKetua GP Ansor Subang, Asep Alamsyah Heridinata di sekretariatnya Jl Darmodiharjo, Subang, Sabtu, (8/12) lalu.

“Jika tuntutan kami tidak direspon, kami akan mengepung dan menduduki kantor tersebut,” tegas Asep serius.

Ketua PMII Ketua Kabupaten Subang, Ade Mahmudin mensinyalir, Kanwil Kemenag Jabar sengaja membiarkan penerbit buku mata pelajaran yang bersangkutan yang mengeluarkan soal tersebut.

“Dalam hal ini Kanwil jabar telah melakukan tindakan fitnah. Karena kasus dugaan korupsi Buloggate dan Brunaigate tidak terbukti secara hukum dan menurut Kejaksaan Agung Gus Dur tidak terlibat,”, kritik Ade.

Ketua Ikatan Pelajar NU Kabupaten Subang, Ahmad mengaku miris dengan kejadian ini. “Saya sangat prihatin. Ini merupakan distorsi dan pembelokan sejarah. Apalagi ini dikonsumsi langsung oleh pelajar,” katanya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ade Mahmudin

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Aswaja IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Mahfud MD: Penjatuhan Gus Dur Melanggar Hukum

Jayapura, IPNU Tegal. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengungkapkan, tuduhan bahwa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerima dana dari Bulog dan Brunei sengaja diramaikan untuk menjatuhkan citra Presiden ke-4 RI ini. Berikut kronologi penurunan Gus Dur menurut Mahfud MD:

Dalam kasus yang selanjutnya disebut buloggate dan bruneigate tersebut, Gus Dur tak terlibat sama sekali. Dalam kasus buloggate, saat itu seseorang yang disebut sebagai tukang pijit Gus Dur, bernama Suwondo mengatasnamakan Gus Dur untuk kepentingan pribadi.

Mahfud MD: Penjatuhan Gus Dur Melanggar Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfud MD: Penjatuhan Gus Dur Melanggar Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfud MD: Penjatuhan Gus Dur Melanggar Hukum

“Gus Dur itu orangnya egaliter. Siapapun yang ingin bertemu, diterimanya. ? Termasuk tukang pijit pun diterimanya. Saat itu ? Suwondo ingin bertemu Gus Dur dengan membawa Sapuan. Dalam pertemuan itu, Suwondo bicara soal Aceh, dan sebagainya. Gus Dur hanya bilang bahwa Aceh perlu dibantu. Tapi kemudian, paska pertemuan itu, Suwondo menemui Sapuan dan meminta uang sebesar Rp35 Miliar, dengan membawa nama Gus Dur,” ungkap Mahfud.

IPNU Tegal

“Gus Dur tak tahu menahu soal itu. Itu kasus Suwondo yang menyalahgunakan nama Gus Dur,” tandas Mahfud dalam Konferensi Pers, usai mengisi seminar tentang Hukum di arena Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang dirangkai dengan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jayapura, Papua, Rabu (12/12).

Sementara tentang Brunei, kata Mahfud, bermula dari keinginan Raja Brunei Darussalam, yang ingin memberi zakat kepada masyarakat Indonesia, melalui Aryo. “ Waktu itu kata Gus Dur, silahkan disalurkan, dan kemudian uang zakat itu disalurkan ke Aceh, dan lainnya. Jadi Gus Dur tak menerima uang tersebut,” ujarnya.

IPNU Tegal

Peristiwa pemberian zakat tersebut, kata Mahfud terjadi tahun 1999, ketika ? itu belum ? ada Undang-Undang ? Gratifikasi. Jadi Gus Dur langsung menyalurkannya tanpa melaporkan kepada negara. “ Saat itu dana tersebut langsung disalurkan. Jadi dua kasus hukum tersebut, tidak benar sama sekali. Tak terbukti sama sekali,” imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan, bahwa jatuhnya Gus Dur, adalah murni kasus politik. Gus Dur ? dianggap melanggar TAP MPR nomor 6 dan 7 tahun 1999, karena memberhentikan Suroyo Bimantoro dari jabatan Kapolri. “Tanggal 20 Kapolri diganti. Undangan sidang MPR untuk menghentikan Gus Dur bukan soal Bulog dan Brunei tapi karena Gus Dur menggantikan Kapolri tanpa persetujuan DPR/MPR,” ujarnya.?

Karena undangan semacam itu, Gus Dur tak memenuhi undangan MPR dan mengeluarkan maklumat atau dekrit. “Tuduhan korupsi adalah tuduhan paling jahat. Gus Dur jatuh secara politik tak ada kasus hukum apapun di situ,” kata ahli hukum ini.

“Secara politik memang merupakan fakta yang tak terhindarkan. Sebagai fakta politik saya terima, tapi kalau secara hukum itu tak bisa. Bahkan penjatuhan Gus Dur menurut saya melanggar hukum, sebab menurut Tap MPR ? disebutkan bahwa sidang umum MPR untuk menjatuhkan Presiden harus dihadiri oleh seluruh Fraksi. Saat itu PDKS dan PKB menyampaikan surat resmi untuk menolak sidang umum MPR tersebut,” paparnya.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Malik

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Berita, Amalan, IMNU IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Inilah Cara Ahli Tarekat Mendekatkan Diri kepada Allah

Blitar, IPNU Tegal. Untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, anggota Tarekat Al-Mu’tabaroh An Nahdliyah memfida’i ? (mendenda) dirinya sendiri dengan cara menabung dzikir kalimat? Laailaahaillallah sebanyak 70.000 kali.

”Semua ahli Thoriqoh Al-Mu’tabaroh diharapkan bisa mida’i diriya dengan menabung dzikir 70.000 kali. Tabungan ini dimaksudkan untuk bisa lebih dekat kepada Allah. Baik di dunia maupun di akhirat nanti,’’ujar KH. Harun Ismail saat memberikan tausiyah pada penutupan Jamiyah Ahli Thoriqoh Naqshobandi Kholidiyah di Pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Blitar, Senin (23/5) malam.

Menurut kiai Harun, dzikir tersebut tidak harus diselesaikan sekaligus dalam satu majlis. Namun bisa dicicil beberapa kali.

Inilah Cara Ahli Tarekat Mendekatkan Diri kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Cara Ahli Tarekat Mendekatkan Diri kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Cara Ahli Tarekat Mendekatkan Diri kepada Allah

”Mungkin para jamaah setiap hari sibuk dengan pekerjaan. Bisa dikerjakaan seusai shalat rowatib. Misalnya setiap habis shalat wajib kita membaca 100 atau 200 dzikir saja. Kan nanti akhirnya bisa lunas 70.000 bacaan dzikir,’’ ungkap Kiai Harun yang juga anggota Musytasar PCNU Kabupaten Blitar.

Saat ini pimpinan tarekat (mursyid) di wilayah tersebut dipegang KH Diya’uddin Azam-zami setelah menggantikan ayahnya, KH. Ahmad Zubaidi Abdulu Ghofur yang wafat 4 tahun lalu.

Pesantren Mambaul Hikam menjadi pusat Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah untuk wilayah Blitar. Pesantren ini memiliki jumlah santri sekitar 1500. Sedangkan anggota tarekatnya mencapi 5000 orang yang menyebar di Kabupaten Blitar, Malang, Tulungagung, Kediri dan sekitarnya. Setiap Senin malam, kegiatan tarekat di pesantren ini dilaksanakan sulukan.

IPNU Tegal

Selain menjadi pusat kegiatan tarekat, Pesantren Mambaul Hikam ini juga menjadi pusat kegiatan sholawat Nariyah Mughistul Al-Mughits yang memiliki jamaah puluhan ribu orang. Jamiyyah ini dipimpin oleh KH. Sunhaji Nawal Karim Zubaidi Abdul Ghofur yang juga adik kandung Kiai Diya’uddin Azam-zami. (Imam Kusnin Ahmad/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Berita, Nasional, RMI NU IPNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas

Purwakarta, IPNU Tegal - Forum bahtsul masail pra-Munas NU 2017 mencoba menggali pandangan Islam terhadap penyandang disabilitas di Pesantren Al-Muhajirin 3, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (11/11) siang. Forum ini mengangkat pembahasan terkait pandangan Islam memperlakukan penyandang disabilitas.

“Ini berkaitan juga dengan fasilitas umum. Pembahasan ini lahir dari evolusi pemikiran manusia terhadap kalangan disabilitas,” kata Anis Masduki, salah seorang peserta forum bahtsul masail pra-Munas NU asal Yogyakarta.

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas

Forum ini dipimpin Wakil Katib Syuriyah PWNU Jatim KH Muhibbul Aman yang didampingi Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU KH Mahbub Maafi dan KH Najib Bukhori.

IPNU Tegal

Kiai Muhib mengatakan, disabilitas bukanlah merupakan aib karenanya Islam memandang penyandang disabilitas sebagai manusia yang memilik hak yang sama dengan yang lainnya. Tetapi mereka berhak mendapatkan perlakuan khusus dalam mendapatkan hak dan menunaikan kewajibannya baik dalam ranah sosial maupun agama karena keterbatasannya.

Forum ini membahas masalah disabilitas dalam konteks taklif syar’i dan peran negara serta elemen masyarakat dalam memperlakukan mereka.

“Dengan demikian individu, masyarakat maupun negara tidak boleh memperlakukan mereka secara diskriminatif. Maka masyarakat dan negara sesuai dengan fungsi dan peran masing harus berperan secara aktif untuk membantu dan memberdayakan mereka,” kata Kiai Mahbub.

IPNU Tegal

Menurutnya, selama ini kelompok agamawan dan ormas Islam belum memberikan perhatian dalam bentuk pembahasan khusus terhadap penyandang disabilitas. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal IMNU, Sejarah, Berita IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock