Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim

Kudus, IPNU Tegal. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengajak warga untuk selalu mempererat silaturahim dengan sanak keluarga, saudara maupun sesama umat. Sebab, menurutnya, silaturahim mampu membangun kerukunan dalam kehidupan masyarakat.

“Sebagai umat Islam harus rukun bersatu dengan memperbanyak silaturahim,” katanya saat memberikan taushiyah pada acara open house halal bihalal di kediamannya di Desa Kajeksan, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (31/7).

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim

Ulama kharismatik ini menerangkan, Rasulullah SAW dalam haditsnya menegaskan bahwa siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim.

IPNU Tegal

“Setiap orang yang berhubungan dengan sesama anak adam perlu menggunakan ajang silaturahim supaya ditambahi rizeki dan umur panjang,” tegas Mbah Sya’roni di hadapan ratusan tamu.

Di akhir taushiyahnya, Mbah Sya’roni menjelaskan, umat Islam pada hari kiamat nanti akan saling berangkulan sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an pada Juz 19. Sementara orang kafir tidak demikian karena mereka tidak memperoleh syafaat.

IPNU Tegal

“Oleh karenanya jagalah umat Islam supaya tetap rukun dan bersatu,” tegasnya lagi.

Dalam acara open House idul fitri ini, KH Sya’roni selalu memberikan taushiyah beberapa saat sebelum bersalaman dengana ratusan tamu. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Bahtsul Masail, AlaSantri IPNU Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Rakernas Muslimat NU Bahtsul Masailkan Nikah Siri

Jakarta, IPNU Tegal. Komisi Bahtsul Masail Rakernas Muslimat NU di Asrama Haji Jakarta, Jumat (4/12) membahas tentang fenomena nikah siri. Bertajuk ‘Fenomena Nikah Sirri, Maslahah dan Mudharatnya Ditinjau dari Aspek Perlindungan Anak dan Perempuan’, Muslimat menghadirkan Rektor PTIQ Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, Komisi Fatwa MUI Pusat Prof Dr Hj Chuzaemah Tahido Yanggo, dan Ketua KPAI, Dr Asrorun Niam Sholeh sebagai narasumber.

Rakernas Muslimat NU Bahtsul Masailkan Nikah Siri (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas Muslimat NU Bahtsul Masailkan Nikah Siri (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas Muslimat NU Bahtsul Masailkan Nikah Siri

Ketua PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa menegaskan, bahwa hasil dari pembahasan ini akan dibawa ke musyawarah yang lebih intens lagi di Surabaya, Jawa Timur selama tiga hari. “Muslimat NU menyoroti dampak dari nikah jika sang suami ternyata menelantarkan istri, bahkan anaknya. Kita tidak ingin perempuan menjadi korban. Apalagi seorang anak yang membutuhkan perkembangan dan pendidikan untuk masa depannya,” ujar Mensos RI ini.

Karena menurut perempuan kelahiran Surabaya ini, banyak regulasi yang menyatakan bahwa anak dari hasil nikah siri tidak tercatat di catatan sipil sehingga tidak bisa membuat akte kelahiran yang seterusnya akan berdampak pada kesulitan administratif,baik sekolah, dan lain-lain.

IPNU Tegal

KH Nasaruddin Umar menerangkan, nikah siri merupakan hal yang tabu di tanah bugis, karena nikah ini tidak direstui oleh orang tuanya. Sebenarnya istilah nikah siri bersebalahan dengan kawin lari, maknanya sama, nikah yang tidak direstui oleh orang tua. Nikah jenis ini cenderung negatif sehingga biasanya tidak dipestakan secara adat.

“Menimbang maslahat dan mudharatnya, nikah siri lebih banyak mudharatnya ketimbang mendatangkan maslahah. Karena nikah ini tidak tercatat di KUA, jika mempunyai anak secara otomatis ? anak tidak bisa mendapatkan akte kelahiran. Padahal akte tersebut sangat penting untuk pembuatan KK, KTP, Paspor, dan lain-lain,” paparnya.

IPNU Tegal

Selain itu, lanjutnya, nikah siri juga akan memberi kelonggaran terhadap praktik poligami. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap pembagian warisan, yang jika pembagian warisan diadakan secara resmi, anak tidak akan mendapatkan warisan. Kemudian, anak dari hasil nikah siri juga hanya akan diakui sebagai anak ibunya, bukan anak bapaknya. “Tentu hal ini tidak masuk akal secara hukum agama sehingga dampak-dampak buruk tadi bisa menjadi alasan fiqh, karena bisa menjadi penghalang seseorang dalam melakukan praktik-praktik sosial dan administratif,” terang Prof Nasar.

Senada dengan Prof Nasar, Prof Chuzaemah juga mengatakan, bahwa praktik nikah siri atau nikah bawah tangan dapat menyebabkan maraknya praktik poligami. “Sewaktu saya menjadi saksi ahli di MK, saya ditanya oleh para penggugat poligami, kenapa sih negara ngatur-ngatur masalah poligami yang sudah diatur di dalam Al-Qur’an?,” tuturnya.?

Chuzaemah menjawab dengan memberi qiyasan ke persoalan haji. Haji merupakan kewajiban setiap muslim, terus kenapa pemerintah ikut mengatur paspor, dan lain-lain. Padahal itu katanya kewajiban pribadi. “Biar tidak tersesat, dan ada yang bertanggung jawab jika mengalami hal-hal yang tidak diinginkan,” ucap A’wan (Dewan Pakar) PBNU ini.

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh menjelaskan, orang yang melakukan praktik nikah siri sesungguhnya berusaha menyembunyikan sehingga jika terjadi konflik keluarga akan berdampak pada penelantaran.

“Tapi peran KPAI dalam perlindungan anak sudah jelas. Yaitu meliputi pemenuhan hak berupa hak pendidikan, hak sosial, hak kesehatan, dan hak agama. Kemudian, perlindungan khusus yang meliputi perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, perlindungan khusus bagi ABH, korban trafiking, penyalahgunaan napza, korban bencana alam dan konflik sosial, serta anak dengan disabilitas,” paparnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Lomba IPNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji

Sudah menjadi tradisi bertamu ke rumah mereka yang baru pulang dari tanah suci untuk mohon didoakan dan juga meminta cinderamata. Bahkan seringkali keluarga maupun tetangga mementingkan penyambutan dan berebut bersalaman lebih dahulu, dengan alasan tabarrukan doa.Memang dianjurkan untuk meminta do’a kepada mereka yang baru datang dari haji. Bukan untuk meminta cindera mata. Sebagian orang menamakan do’a orang yang baru pulang dari haji ini dengan sebutan do’a maghfiroh, yaitu do’a khusus meminta ampunan dari Allah swt atas segala dosa yang telah dilakukan.

Mereka yang baru datang dari tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan, masih suci dari dosa-dosa.

Oleh karena itu, do’a dan permohonannya memiliki nilai lebih. Karena kesuciannya itulah posisinya dianggap lebih dekat kepada Allah. Dan diharapkan do’a-do’anya akan terkabulkan.

Sebagain ulama berkata bahwa kondisi tersebut (kemakbulan do’a) dapat bertahan sebelum orang tersebut masuk ke dalam rumahnya. Namun ada yang mengatakan kondisi tersebut akan bertahan hingga empat puluh hari.

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji

Hal ini diterangkan dalam Hasyiyatul Jamal:

وفÙ? Ù‡ Ø£Ù? ضا ماÙ? صه ÙˆÙ? Ù? دب للحاج الدعاء لغÙ? ره بالمغفرة واÙ? لم Ù? سأله ولغÙ? ره سؤاله الدعاء بها وفى الحدÙ? Ø« (اذا لقÙ? ت الحاج فسلم علÙ? Ù‡ وصافحه ومره Ø£Ù? Ù? دعولك فاÙ? Ù‡ مغفور له) قال العلامة المÙ? اوى ظاهره Ø£Ù? طلب الاستغفار Ù…Ù? Ù‡ مؤقت بما قبل الدخول فاÙ? دخل فات لكÙ? ذكر بعضهم اÙ? Ù‡ Ù? متد أربعÙ? Ù? Ù? وما Ù…Ù? مقدمه وفى الإحÙ? اء عÙ? عمر رضÙ? الله عÙ? Ù‡ Ø£Ù? ذلك Ù? متد بقÙ? Ø© الحجة والمحرم وعشرÙ? Ù? Ù? وما Ù…Ù? ربÙ? ع الأول..

IPNU Tegal

… dan dianjurkan (disunnahkan) bagi para haji untuk memohonkan ampun (do’a maghfiroh) kepada orang lain, walaupun mereka tidak memintanya. Demikian pula bagi mereka (yang tidak berangkat haji) agar meminta untuk dido’akan. Hal ini berdasar pada hadits Rasulullah saw “apabila kalian berjumpa dengan haji (orang yang pulang dari melaksanakan ibadah haji) maka salamilah dia dan jabatlah tangannya dan mintalah agar didoakan olehnya, karena doanya akan mengampunimu” Al-allamah al-Munawi berkata bahwa permitaan doa kepada haji ini sebaiknya dilakukan selama haji itu belum memasuki rumah.

Tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa permintaan do’a ini dapat dilakukan hingga 40 hari sepulangnya dari rumah. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diterangkan berdasakan cerita dari sahabat Umar ra. Keadaan ini dapat diberlangsungkan hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram dan dua puluh hari Rabiul Awwal.? ?

Redaktur: Ulil hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Lomba, Bahtsul Masail, AlaSantri IPNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Oleh Fathoni Ahmad

Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Secara spesifik, tulisan ini tidak bermaksud membahas geneologi atau silsilah Kartini, tetapi bagaimana pemikiran revolusionernya tumbuh di tengah tradisi paternalisitik yang kental di lingkungan keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, kuatnya paternalisitk inilah yang membuat Kartini selalu mencari jawaban dari anomali yang terjadi. Mengapa peran perempuan seolah hanya menjadi pelengkap kehidupan laki-laki? Tentang jawaban pertanyaan ini, Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya.

Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini ? juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah ? yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

IPNU Tegal

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?





Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.



IPNU Tegal



Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.





Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.





Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.

Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:

Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.





Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.





Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.





Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.





Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.





“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.





Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.





“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.





Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. ? Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ? ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa ? yang saya pahami.”

(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.?

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.

Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!

Penulis adalah Redaktur IPNU Tegal.

*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Meme Islam, Lomba IPNU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU

Jombang, IPNU Tegal. Panitia lokal muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum (PPBU), mengundang lebih dari 20 Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) untuk hadir dalam acara “Forum Diskusi dan Reuni PCINU Internasional” yang rencananya akan ditempatkan di Pondok Pesantren al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU

Acara forum diskusi ini akan berjalan di sela-sela muktamar ke-33 NU berlangsung, yakni tanggal 1, 2, 4, dan 5 Agustus 2016. Target acara ini adalah mempertemukan kaum nahdliyin yang berada di luar negeri, baik yang masih aktif maupun yang sudah purna.

“Tanggal 3 Agustus sengaja dikosongkan karena pada tanggal tersebut di masing-masing pesantren dipakai sidang komisi. Jadi Pondok Pesantren Tambak Beras sepakat mengosongkan semua kegiatan muktamar pada tanggal tersebut, dan mengharuskan semua untuk fokus ke sidang komisi,” kata ketua panitia Latif Malik kepada IPNU Tegal, Rabu (28/7).

IPNU Tegal

Acara ini akan diisi dengan diskusi berbagai tema penting, seperti krisis Timur Tengah dan materi muktamar ke-33 NU. “Forum ini akan dibuat santai, mengingat peserta muktamirin dalam forum muktamar biasanya sudah jenuh dengan materi utama muktamar, jadi yang kita tekankan adalah mempererat silaturrahim antar PCINU,” kata pria yang akrab disapa Gus Latif ini.

Dalam forum di atas, panitia akan memberikan berbagai fasilitas untuk peserta, di antaranya adalah 12 kamar penginapan, terdiri dari 8 putra dan 4 putri. Selain itu, peserta juga akan mendapat kartu identitas peserta dan kartu parkir, serta konsumsi tentu saja. Tamu yang diundang dari luar daerah ini juga dapat meminta panitia untuk menjemput mereka di lokasi terdekat, seperti bandara, stasiun kereta api, dan terminal bus.

IPNU Tegal

Untuk konfirmasi kehadiran dan informasi lebih lanjut, peserta bisa menghubungi M. Najih Arromadloni sebagai pelaksana, di nomor ponsel 081938299525. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Kiai, Doa IPNU Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Kongres Pergunu Bahas Full Day School

Bandung, IPNU Tegal - Peserta Kongres Ke-2 Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) yang akan dilaksanakan pada 26-29 Oktober 2016 di Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto akan membahas isu-isu penting dalam pendidikan di antaranya gagasan Fulll Day School (FDS) yang dilontarkan pemerintah.

Menurut Ketua Umum Pergunu KH Dr Asep Saifuddin Chalim saat dihubungi di Kota Mekkah (24/9), bahwa gagasan FDS sebenarnya bukan sesuatu yang baru, model penyelenggaraan pendidikan seperti ini sesungguhnya sudah diaplikasikan oleh sebagian penyelenggara pendidikan di tanah air.

Kongres Pergunu Bahas Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Pergunu Bahas Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Pergunu Bahas Full Day School

"Tengok saja pendidikan di pondok pesantren, itu kan lebih dari pada full day school" tutur Kiai Asep

Wakil Ketua Umum Pergunu Dr H Rudolf Chrysoekamto mengatakan, upaya untuk mengadopsi pendidikan di pesantren justru dilihat sebagai solusi jalan di tempat, bukan sesuatu yang sama sekali baru.

IPNU Tegal

"Meski dilatari oleh keprihatinan mendalam terhadap kondisi moral bangsa, tetapi gagasan ini sungguh layak diapresiasi dengan catatan diawali dengan uji kelayakan terutama bagi subjek penyelenggaranya," tutur Dhofi.

Menurutnya, pemerintah perlu untuk menyiapkan model FDS yang akan diselenggarakan agar tidak lagi terkesan involutif dan menggesernya dari kesan inovatif menjadi inventif bahkan kalau memungkinkan makin discoverif.

IPNU Tegal

Sementara itu Sekretaris Pergunu Jawa Barat H Saepuloh berharap dalam Kongres Ke-2 Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah Pacet-Mojokerto dapat memberikan kajian yang menyeluruh terkait gagasan FDS.

“Bahkan kalau bisa dalam kongres tersebut Pergunu membuat model pembelajaran full day school sebagai upaya kontribusi Pergunu dalam upaya terselenggaranya nation character building yang lebih menyeluruh,” katanya. (Awis Saepuloh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Pemurnian Aqidah IPNU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

“English Camp” bagi Para Santri di Pangkep Sulsel

Pangkep, IPNU Tegal. Ikatan Alumni Pondok Pesantran Annahdlah (IAPAN) Makassar bekerja sama dengan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Madrasah Aliyah mengadakan "English Camp" (perkampungan bahasa Inggris) bagi para santri, 4-8 April 2015, di Sumpang Bita, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

“English Camp” bagi Para Santri di Pangkep Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
“English Camp” bagi Para Santri di Pangkep Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

“English Camp” bagi Para Santri di Pangkep Sulsel

Kegiatan yang berlangsung selama lima hari tersebut diikuti empat puluh santri dari berbagai jurusan setelah melalui seleksi yang cukup ketat. Abdul Latif sebagai ketua panitia mengungkapkan, sebelum kegiatan ini dilaksanakan, ratusan calon peserta mengikuti tes lisan maupun tulisan.

"Peserta diwajibkan menghafal minimal lima ratus? kosakata (vocabulary) dan ungkapan (expressions) dalam bahasa Inggris," ungkap Latif.

IPNU Tegal

Menurut Ketua IAPAN Makassar Firdaus Dahlan, dengan memadukan konsep outdoor dan indoor, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai bahasa asing, terutama bahasa Arab dan Inggris. Dua bulan yang lalu para santri ini juga mengikuti perkampungan Bahasa Arab.

"Kemampuan yang dimaksud seperti grammar (tata bahasa), speaking (berbicara),? reading (membaca), writing (menulis) dan listening (mendengar)," imbuh Firdaus. (Muhammad Nur/Mahbib)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Anti Hoax, Lomba IPNU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri

Jombang, IPNU Tegal. Secara prinsip, negara harus berkomitmen untuk segera melunasi semua hutangnya. Postur APBN harus ditata sedemikian rupa agar pembangunan tetap berjalan, namun pada saat yang sama hutang juga terbayar.

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri

Demikian dinyatakan Abdul Moqsith saat membacakan hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah pada rapat pleno Muktamar Ke-33 NU dengan agenda pengesahan sidang-sidang komisi, di alun-alun Jombang, Jawa Timur, Rabu (5/8).

?

Untuk kepentingan ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pada dasarnya yang wajib kita bayar adalah utang-utang pokok, bukan beban bunga. Oleh karena itu sah apabila Pemerintah RI menuntut pembebasan bunga dari negara-negara kreditor.

?

IPNU Tegal

Kedua, Pemerintah harus secara tegas mengontrol anggaran agar tidak bocor, dan menarik kembali uang negara yang telah? dijarah oleh para koruptor, baik dari kalangan pejabat atau pengusaha.

?

"Ketiga, pemerintah sedapat mungkin melakukan efisiensi dengan menggunakan barang dan jasa dalam negeri yang dibarengi dengan kebijakan pro growth, pro job, pro poor, dan pro environment," ujar anggota Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah itu.

IPNU Tegal

?

Keempat, Pemerintah dianjurkan melakukan optimalisasi dana penerimaan pajak, cukai dan pembiayaan non utang dari keuntungan pengelolaan aset negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pembiayaan dari saldo rekening Pemerintah dari penerimaan Rekening Dana Investasi (RDI), Rekening Pembangunan Daerah (RPD), Rekening Pembangunan Hutan (RPH), Saldo Anggaran Lebih (SAL), dan rekening lainnya.

Forum bahtsul masail menyayangkan kondisi bangsa Indonesia yang hingga kini lekat dengan utang luar negeri. Menurut forum, jika dibandingkan dengan data kekayaan sumber daya alam, kondisi tersebut sangat ironis dan mengkhawatirkan, walau pemerintah dengan indikator ekonomi makro masih menyatakan aman. (Mahbib Khoiron)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Lomba, Tokoh IPNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Saudi Luncurkan Proyek Wisata Pantai, Bagaimana soal Bikini?

Jeddah, IPNU Tegal - Kerajaan Arab Saudi telah resmi meluncurkan proyek kawasan pantai Laut Merah sebagai bagian dari program Visi 2030 negara setempat. Kawasan tersebut direncanakan bakal menjadi destinasi wisata internasional.

Menteri Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi Awad bin Saleh Al-Awad mengatakan, proyek Laut Merah adalah investasi yang efektif berbasis keuntungan dari kekayaan yang terdiversifikasi milik negara tersebut, agar dianfaatkan untuk kepentingan negara dan warga, demikian diberitakan kantor berita Arab Saudi, SPA, Selasa (1/8).

Saudi Luncurkan Proyek Wisata Pantai, Bagaimana soal Bikini? (Sumber Gambar : Nu Online)
Saudi Luncurkan Proyek Wisata Pantai, Bagaimana soal Bikini? (Sumber Gambar : Nu Online)

Saudi Luncurkan Proyek Wisata Pantai, Bagaimana soal Bikini?

Dia menjelaskan, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz sudah mengumumkan peluncuran proyek ini sebagai tujuan wisata internasional. Pengumuman ini muncul sebagai konfirmasi atas keberhasilan produk Visi 2030 Kerajaan Arab Saudi. Menurutnya, proyek ini merupakan tambahan yang bagus bagi proyek-proyek pembangunan dan kemabngkitan kembali di negaranya.

IPNU Tegal

“Kami menyampaikan selamat kepada tanah air atas proyek nasional yang ambisius ini, yang ditambahkan ke dalam serangkaian rencana dan inisiatif efektif yang terus berlanjut di lapangan dari hari ke hari,” katanya.

Soal Bikini

IPNU Tegal

Sejumlah media asing merespon kabar peluncuran proyek kawasan wisata tersebut sebagai transformasi sikap Arab Saudi dari norma yang selama ini ia pegang. Situs thetimes.co.uk, misalnya, menyebut Arab Saudi sedang menabrak tradisi keagamaannya yang ketat lantaran membuka kawasan pantai di Laut Merah, tempat para wanita asing berjemur mengenakan bikini di dekat para pria.

CNN Travel mengatakan, proyek Laut Merah akan membuka potensi kawasan sepanjang 125 mil dari garis pantai dan 50 pulau berlapis karang dengan pembangunan hotel dan perumahan mewah di zona wisata yang ditunjuk. Tahap pertama proyek direncanakan rampung pada 2022, dengan target pengunjung sekitar satu juta per tahun pada tahun 2035.

Media tersebut juga menyimpulkan dibolehkannya wanita berjemur dan berenang dengan bikini karena belum keluar larangan dari pihak kerajaan tentang hal ini.

Hingga berita ini ditulis, IPNU Tegal belum menemukan pernyataan resmi dari pemerintah Arab Saudi soal peraturan bikini jika proyek itu berjalan kelak. Situs kantor berita Arab Saudi sendiri hanya menyampaikan informasi tentang peluncuran dan prospek ekonomi dari proyek ambisius tersebut yang menjadi alternatif sumber ekonomi lain di luar pendapatan minyak. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Lomba, Tegal IPNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Banyak gambar dan postingan di media sosial seputar kejadian runtuhnya alat berat (crane) yang tengah mengerjakan perluasan Masjidil Haram. Musibah yang terjadi Jumat (11/9) jelang Maghrib tersebut akhirnya merenggut 11 nyawa jamaah dari Indonesia. Puluhan korban luka tengah dirawat di rumah sakit setempat.

Bagaimana suasana sebelum dan sesudah kejadian? Berikut catatan dari H Nur Hidayat, salah seorang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia atau TPIHI yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jatim. Ia melaporkan ? dari penginapan atau maktab jamaah haji di kawasan Misfalah.

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Senin (7/9) dinihari, calon jamaah haji Kloter SUB 14 memasuki Kota Suci Makkah. Kelompok penerbangan atau kloter yang terdiri dari 450 orang jamaah dari Kabupaten Jombang ini menempati pemondokan Nomor 902, di sektor IX. Tepatnya di Hotel Jauharot Adham, yang berjarak sekitar 1.125 meter dari Masjidil Haram. Di hotel ini, jamaah kloter SUB 14 tinggal bersama dengan kloter SUB 05 SUB, JKS 25 dan sebagian jamaah kloter BTH 17.

Melalui "jalur tikus", jamaah yang menghuni Hotel Jauharot Adham dapat memperpendek jarak tempuh ke Masjidil Haram menjadi sekitar 750 meter. Karena itu, hampir semua jamaah yang masih berusia di bawah 60 tahun dan kondisinya sedang fit selalu berusaha melaksanakan shalat fardlu di Masjidil Haram. Adapun jamaah yang lansia dan kurang sehat, biasa melaksanakan di mushalla berkapasitas sekitar 500 di hotel setempat.

IPNU Tegal

Usai melaksanakan umrah wajib pada Senin dinihari hingga pagi, sebagian jamaah kloter SUB 14 pun mulai mencuci kain ihram dan pakaian yang sudah kotor. Selasa pagi adalah "hari mencuci berjamaah", usai menghilangkan kepenatan akibat perjalanan Madinah-Makkah yang memakan waktu hingga hampir 12 jam dan menunaikan umrah wajib.

Menerima pertanda

IPNU Tegal

Keesokan harinya, Selasa (8/9) sore, sekitar pukul 17:10 WAS, Nanik Kusyani (37), seorang jamaah kloter SUB 14, mengirimkan pemberitahuan melalui grup WhatsApp Ketua Regu dan Rombongan, agar jamaah yang memiliki jemuran segera mengambil jemurannya. "Angin sore ini sangat kencang, hingga banyak pakaian jamaah yang beterbangan dan terjatuh dari tempat jemuran," pesannya.

Sebagian jamaah di pemondokan 902 sempat agak kalut sore itu. Sebab, beberapa orang mengatakan ada badai pasir yang sedang berlangsung dan meminta jamaah untuk turun ke lobi hotel. Tapi, angin kencang Selasa sore itu sebenarnya tidak seberapa terasa dibandingkan apa yang terjadi pada Jumat (11/9) petang, yang berujung petaka jatuhnya (atau lebih tepatnya: terjungkal) mobile crane di proyek perluasan Masjidil Haram.

Karena itu, ketika Kamis (10/9) malam ada teman karib yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta menanyakan kabar dan berusaha mengonfirmasi kebenaran video badai pasir Jeddah yang beredar di media sosial, saya hanya menjawab santai. Pasalnya, saya kebetulan menyanggong jamaah yang kembali dari Masjidil Haram untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya di lobi hotel. Setiap saya tanya, rata-rata jamaah menjawab santai dan tidak ada kondisi yang mengejutkan. "Mboten wonten nopo-nopo, cuma radi gerimis kolowau (Tidak ada apa-apa. Cuma memang tadi agak gerimis)," kata M Syaikhu Amirulloh (43), salah seorang jamaah yang baru pulang dari Masjidil Haram.

Kepada teman karib tersebut, saya menjawab, "Sejak akhir Agustus, memang beberapa kali ada badai gurun." Ya, maskapai Saudia Airlines juga sempat menunda beberapa jam penerbangan haji karena badai pasir, termasuk keberangkatan kloter SUB 13 yang berisi jamaah dari Kabupaten Jember. Tapi, sepertinya itu sesuatu yang biasa di sini. Buktinya, di video badai pasir Jeddah yang beredar, kendaraan penumpang yang merekam badai pasir tersebut tetap melaju dengan santai sambil menyalakan lampu hazard. "Mungkin hal itu menjadi sesuatu bagi orang Indonesia," jawab saya dalam pesan WA pada Kamis (10/9) pukul 19.46 WAS.

Tapi, semuanya berubah pada Jumat (11/9) petang itu. Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan ketika menyaksikan badai pasir disusul hujan yang datang secara tiba-tiba, sekitar pukul 17:15 WAS. Saat itu, calon jamaah haji di pemondokan 902 sedang bersiap melaksanakan Shalat Maghrib di Masjidil Haram.

Awalnya, saya berencana mengajak Mbah Karnadi (75), seorang jamaah lansia berangkat ke Masjidil Haram bersama-sama. Ketika akan mengambil sajadah, saya melihat gumpalan pasir yang terbawa angin dari jendela kamar di lantai 7. Menyadari potensi bahaya yang muncul, pukul 17:24 saya segera mengirimkan pesan singkat ke grup Ketua Regu dan Rombongan Kloter SUB 14, "Alert!!! Hujan Badai... Mohon tidak usah ke Masjidil Haram!".

Setelah itu, saya segera menuju lobi hotel untuk memastikan tidak ada jamaah yang memaksakan diri berangkat ke Masjidil Haram. Selebihnya, saya berusaha merekam momen langka tersebut dengan kamera video telepon seluler. Hujan deras disertai angin kencang yang berlangsung sekitar 30 menitan itu, merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Makkah.

Abdurrahman (51), petugas kebersihan hotel asal Bangladesh yang sudah lima tahun bekerja di Makkah juga sibuk merekam momen langka itu dengan kamera video di telepon selulernya. Ketika saya tanya apakah hujan seperti ini sering terjadi, ia menjawab hal itu jarang terjadi. Dahsyatnya hujan dan angin yang menerpa, sampai harus membuat petugas hotel mematikan sensor pintu otomatis yang menjadi akses keluar masuk jamaah.

Tidak berselang lama, Faisol Adib (34) warga Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang baru turun ke lobi hotel bercerita, menyaksikan sebuah crane yang patah dan terjungkal karena terpaan angin. Faisol dan istrinya, Aisyah Muniroh (27), yang tinggal di lantai 11, menduga yang patah dan terjungkal itu adalah crane proyek pembangunan di sekitar Masjidil Haram.

Usai Shalat Maghrib berjamaah di mushalla hotel, saya segera menemui beberapa jamaah untuk menghimbau agar mereka tidak berangkat ke Masjidil Haram, hingga cuaca stabil. Tetapi, saya tidak menduga bahwa cerita Faisol tentang crane patah dan terjungkal itu terjadi di sekitar mathaf (area thawaf) dan memakan puluhan korban jiwa. Saat memasuki kamar, Susanto Slamet (31), salah satu anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), menunjukkan tiga foto yang diterimanya dari anggota TKHI yang sedang berada di Masjidil Haram. Saat itu, saya baru menyadari bahwa suara sirine yang bergema di sekitar maktab kami sejak hujan mereda ternyata sedang mengevakuasi jamaah yang meninggal dan terluka.

Sontak, saya segera menyalakan televisi, untuk menyaksikan berita di saluran televisi Al-Arabiya. Sekitar pukul 20.00 WAS, Al-Arabiya melaporkan data 62 jamaah yang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka akibat tertimpa crane proyek perluasan Masjidil Haram tersebut. Saya pun segera menemui salah satu pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang sudah mengagendakan untuk umrah sunnah malam itu.

Fatimatuz Zahro (51), pimpinan KBIH Al-Kautsar yang mengagendakan umrah sunnah untuk sekitar 324 orang jamaah malam itu, menjawab santai ketika saya minta menunda kegiatannya. Fatimah berada di Mushalla Nisa (tempat shalat khusus perempuan, berlokasi di sekitar pintu 84 Masjidil Haram) saat kejadian berlangsung menjelang Maghrib. Dia bercerita melihat beberapa petugas mengevakuasi jamaah yang berlumuran darah melalui kawasan Mushalla Nisa.

Ketika saya tanya apakah bisa agenda umrah sunnahnya ditunda, dia bilang akan jalan terus. "Tidak ada apa-apa kok. Tadi sudah selesai evakuasinya," tutur anggota DPRD Kabupaten Jombang ini. Tapi, muka Fatimah mendadak merah padam ketika saya tunjukkan gambar situasi di area mathaf yang tertimpa crane. Dia pun buru-buru menelepon muthawif untuk membatalkan sewa bis dan menunda pada hari lain.

Fatimah juga sempat menyatakan keheranannya karena imam hanya membaca dua ayat pendek dalam Shalat Maghrib saat itu. Hanya saja, saat itu dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Kalau tahu ada musibah itu, mungkin saya akan lari ke mathaf untuk menyaksikan secara langsung. Tapi karena tidak tahu, saya hanya memastikan suami saya aman karena berada di hotel," imbuh perempuan kelahiran Pasuruan ini.

Cerita berbeda diungkap oleh Abdurrahman (37). Pengusaha muda asal Jember yang kini tinggal di Bandung itu sedang melakukan thawaf di lantai 2, saat hujan mulai turun. Bersama ibu dan istrinya, Abdurrahman yang menginap di Hotel Hilton sore itu sedang melaksanakan thawaf sunnah. "Kami sedang memasuki putaran kelima saat badai pasir menerpa. Banyak botol air mineral, plastik dan pasir yang beterbangan di udara," tuturnya.

"Pas putaran ketujuh, hujan mulai turun. Banyak orang di lantai 2 dan lantai 3 mathaf yang panik, karena hujannya masya Allah (dahsyat). Langit juga penuh pasir dan angin kencang," imbuhnya.

Karena mengkhawatirkan keselamatan, Abdurrahman segera mengajak ibu dan istrinya berteduh di Masa (tempat Sai). Sempat berjalan perlahan, karena lantai sudah banjir dan licin. Dalam ingatan Abdurrahman, crane jatuh sekitar 17.32 WAS. "Saat itu, evakuasi jenazah sudah dimulai," kisahnya.

Dari siaran langsung televisi Masjidil Haram, tampak bahwa mathaf lantai 2 dan lantai 3 sempat ditutup hingga Sabtu sore. Tapi, aktivitas jamaah lainnya sudah mulai normal saat Shalat Subuh. Hanya sebagian area jatuhnya crane yang ditutup aksesnya untuk jamaah. Sabtu jelang Subuh, saya akhirnya memenuhi janji mengantar Mbah Karnadi ke Masjidil Haram.?

(Ibnu Nawawi/Fathoni)

Keterangan gambar: Suasana mathaf lantai dua Masjidil Haram usai musibah jatuhnya crane.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Fragmen, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

IPPNU Yogyakarta Fasilitasi Pelajar Sukses SBMPTN

Yogyakarta, IPNU Tegal. Jelang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2014, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama DI Yogyakarta membuka dialog interaktif pelajar 2014. Dialog yang menghadirkan narasumber dari akademisi sejumlah kampus di Yogyakarta ini mengangkat tema "Sukses Studi di Perguruan Tinggi, Sukses SNMPTN dan SBMPTN".

Ketua panitia Haibah pada Selasa (27/5) mengatakan, kegiatan ini digelar untuk menambah wawasan pelajar. "Banyak ketidaktahuan para pelajar terkait sistem SNMPTN dan SBMPTN atau cara agar bisa masuk perguruan tinggi."

IPPNU Yogyakarta Fasilitasi Pelajar Sukses SBMPTN (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Yogyakarta Fasilitasi Pelajar Sukses SBMPTN (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Yogyakarta Fasilitasi Pelajar Sukses SBMPTN

Kegiatan ini diadakan guna memfasilitasi pelajar agar bisa masuk perguruan tinggi, "Terutama siswa-siswi di Yogyakarta yang baru saja lulus ujian khususnya pelajar sekolah Ma’arif."

IPNU Tegal

Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Maksudin menegaskan kepada para pelajar untuk tidak gugup menghadapi soal ujian masuk perguruan tinggi. Bagi Ketua LDNU Yogyakarta ini, pelajar harus siap lahir dan batin dalam menjawab soal. ?

IPNU Tegal

Heri Murti dari UGM dalam paparannya mengingatkan para siswa Ma’arif terkait perbedaan pola belajar antara di sekolah dan di perguruan tinggi. Jadwal belajar pun demikian. Di perguruan tinggi, peserta didik dituntut lebih mandiri.

Sementara Arif Rahman dari UNY berpesan kepada para pelajar agar tidak keliru memilih jurusan. "Karenanya, kalian harus mempertimbangkan pilihan terlebih dahulu sebelum memilih jurusan," kata Arif kini diamanahkan sebagai pengurus PWNU DI Yogyakarta. (Nur Sholikhin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba IPNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB

Tegal, IPNU Tegal. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Tegal menggelar Pelatihan Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Pengembangan Keprofesional Berkelanjutan (PKB), di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Bhakti Negara (STAIBN) Tegal, Selasa (26/2). 

Kegiatan itu diikuti oleh 34 peserta yang terdiri dari sekolah Ma’arif tingkat SMP/MTs se Kabupaten Tegal yang mengirimkan pesertanya.  

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Tegal Gelar PK Guru dan PKB

Dalam laporannya Ketua Panitia, Komarudin mengatakan begitu pentingnya acara itu sehingga Ma’arif NU melakukan kegiatan ini.

“Saya juga sangat berharap ke depan implementasi dari kegiatan ini bisa diaplikasikan, karena penting sekali bagi guru-guru yang bersertifikat, karena ke depan penilaian Kinerja Guru melalui angka kredit. Dan formulasinya harus dilatih dengan baik.”

IPNU Tegal

Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya untuk mempersiapkan para guru di lingkungan Ma’arif agar tidak ketinggalan dengan dinamika pendidikan,“ kata Guru SMKN 1 Dukuhturi itu. 

IPNU Tegal

Sementara ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Tegal H Muslikh menjelaskan persoalan pendidikan di lingkungan NU harus segera dibenahi. Menurutnya Pendidikan di NU saat ini dikelola banyak lembaga atau badan otonom sehingga terjadi tumpang tindih dalam pengelolaanya.

Ia berharap ke depan dari pelatihan ini bisa menyediakan assesor-asseror internal di sekolah masing-masing, karena mungkin ini  pelatihan pertama kali yang di lingkungan Ma’arif dan mungkin sekolah yang berada di lingkungan Kemenag. 

Dalam sesi itu juga ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal, H Ahmad Wasy’ari mengatakan cara bersyukur menjadi guru adalah dengan menjadi guru profesional.

“Dengan bekal motivasi inilah, bapak atau ibu bisa hadir untuk memperkuat kualitas diri menjadi guru profesional.”

 Ia mengatakan, bagi sekolah yang hadir mengikuti pelatihan ini jelas akan mengharapkan berkah, karena telah bersungguh-sungguh ingin mengembangkan sekolah agar lebih baik, karena disana ada amanat yang yaitu peserta didik.

“Jadi jangan main-main karena kita juga mengharapkan berkah dari peserta didik juga,” tukas kepala UPTD Dipora kecamatan Adiwerna itu. 

Redaktur    : Mukafi  Niam

Kontributor: Abdul Muiz T                    

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Khutbah, Lomba IPNU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia

Oleh: Ahmad Khoiri*

22 Oktober merupakan momentum euforia kaum pesantren atau yang lumrahnya disebut kaum sarungan. Euforia tersebut termanifestasikan dalam pelbagai kegiatan yang dilakukan pesantren, kirab santri merupakan salah satu di antaranya. Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar kegiatan seremonial tersebut, yaitu bahwa sebenarnya santri memiliki potensi untuk menjadi Muslim yang progresif, tidak kaku, lebih-lebih di Indonesia dengan masyarakat pluralnya.

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia

Islam progresif menawarkan sebuah metode ber-Islam yang menekankan pada terciptanya keadilan sosial, kesetaraan gender dan pluralisme keagamaan. Setidaknya itu yang dapat dipahami tentang pemaknaan “progresif” menurut Omid Safi (What is Progressive Islam?: 2005).

Keadilan sosial sebagai makna pertama progresif, menekankan spirit kembali kepada pesan moral al-Qur’an untuk berbuat adil sebagaimana dalam surah al-Maidah [5]: 8 dan al-Nahl [16]: 90. Meskipun dalam surah terakhir ini tuntutan keadilan oleh Allah Swt. seringkali ditafsirkan eksklusif untuk antar Muslim saja, bukan dengan orang yang dilabeli kafir, berlandaskan penafsiran secara emosional-ideologis terhadap beberapa ayat lain, di antaranya surah al-Taubah [9]: 73 dan 123, al-Fath [48]: 29 dan al-Tahrim [66]: 9.

Kesetaraan gender, sebagai manifestasi kedua progresivitas Islam, meskipun di Indonesia masih tidak mendapatkan posisinya secara utuh, namun juga termasuk dalam spirit al-Qur’an. Dapat kita tilik misalkan dalam persoalan poligami. Fazlur Rahman (w. 1988) melalui teori gerak ganda interpretasi (double movement) mengedepankan aspek legal-moral ketika memahami ayat tentang poligami. Penekanan aspek legal-moral dalam teori Rahman ini jauh lebih objektif memahami ayat ketimbang interpretasi klasik yang tidak jarang bernuansa ideologis susio-kultural mufasir terdahulu yang tak lagi dapat dikontekstualisasikan.

IPNU Tegal

Sedangkan manifestasi ketiga, yakni pluralisme keagamaan, merupakan hal yang tidak dapat dihindari di Indonesia. Penduduk dari pelbagai ras, suku bahkan agama menjadikan sikap inklusif keberagamaan sebuah alternatif yang niscaya. Di samping itu sebenarnya keragaman tersebut tetap berada dalam koridor Allah, sunnatullah. Dengan demikian maka menentang pluralitas tidak saja menyalahi sunnatullah yang telah diterangkan al-Qur’an, tetapi juga mencederai koridor Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Sebagai masyarakat yang pemahaman keagamaannya lebih baik daripada mereka yang non-santri, maka di sinilah santri memegang peran. Sikap “progresif” yang sebenarnya linear dengan statusnya sebagai kaum agamis mesti mendapat perhatian yang lebih serius.

IPNU Tegal

Menarik dicatat bahwa di sisi lain, santri juga berpotensi menjadi kaum ekstremis dengan proyek takfiri-nya. Ini tidak dapat disangkal, karena literatur keagamaan yang diajarkan di pesantren lebih cenderung kepada pemahaman keagamaan pemikir salaf yang terdapat dalam kitab kuning. Predikat paradoks bagi penyandang status “santri” kemudian menjadi kegelisahan tersendiri dalam konteks masa depan Indonesia. Problematika ini kemudian menemukan pemecahannya dengan adanya pendidikan keagamaan yang mengedepankan sikap moderat, atau yang umumnya diistilahkan dengan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), baik dalam nomenklatur STAIN, IAIN maupun UIN.

Umumnya, meskipun tidak secara keseluruhan, dapat dibuat generalisasi bahwa para mahasiswa di kampus PTAI tersebut adalah mereka yang concern-nya terhadap kajian keislaman lebih mendominasi.Dalam hal ini, para santri ada di antara mereka. Meski derasnya arus pemikiran progresif yang diusung PTAI mendapat reaksi yang serius oleh Hartono Abdul Jaiz dengan publikasi bukunya, Ada Pemurtadan di IAIN (2005), namun reaksi agresif tersebut sama sekali tidak berdasar dan tidak berbobot akademis, tetapi lebih memprioritaskan aspek emosionalnya. Dengan dalih mempertahankan Islam yang dianggapnya telah diobok-obok kaum progresif-liberal, Hartono mengeluarkan sanggahan-sanggahan yang seringkali tidak beretika, hingga akhirnya ia juga mendapat tanggapan setimpal oleh Nur Kholis Setiawan, santri alumni Pesantren Tebu Ireng, Jombang, dan sarjana doktoral Bonn University, Jerman.

Keberadaan pemikir-pemikir progresif seperti Nur Kholis, dan tokoh lain seperti Ulil Abshar Abdalla yang kontroversial dengan JIL-nya beberapa tahun silam, megindikasikan bahwa potensi santri dengan kemampuannya mengkaji literatur-literatur bahasa Arab jauh lebih baik daripada mereka yang tidak pernah belajar di pesantren. Kita telah melihat bahwa kebanyakan para pemuda yang tergabung dalam kelompok-kelompok keagamaan ekstremis, adalah mereka yang pemahaman keagamaannya di bawah rata-rata. Doktrin yang terkesan agamis mudah sekali menjadikan mereka bertindak ceroboh, karena mereka tidak pernah mengerti duduk persoalan yang dihadapinya. Mereka telah menjadi sasaran empuk Muslim golongan kanan dalam melancarkan aksinya yang seringkali beriklim politis.

Kesadaran pengetahuan (al-wa’y al-‘ilm) dapat dilacak bahkan dalam khazanah turats klasik. Menurut Nur Kholis Setiawan (2008: 5) yang tidak bisa melacak hal tersebut hanyalah orang-orang narrow minded alias tidak memiliki bekal pengetahuan yang memadai. Bagi Nur Kholis, justru khazanah intelektual klasik/turats-lah yang menjadi pijakan revitalisasi semangat terbukanya pintu ijtihad (2008: 17). Oleh karena turats didominasi literatur berbahasa Arab, maka sekali lagi, potensi santri untuk memahami turats memberikannya peluang memahami pemikiran keagamaan (al-fikr al-diniy) secara kaffah, ekstensif, yang dengan alat bantu (istimdad) ilmu humaniora yang telah dipelajarinya di PTAI pada akhirnya akan melahirkan sikap progresif. Pemikiran progresif tersebut akan menjadi sebuah upaya depolitisasi Islam dan menghindari pensakralan pemikiran keagamaan (taqdis al-fikr al-diniy).Santri dengan pemikiran progresifnya, dengan demikian, akan memeran kiprah yang besar dalam menjadikan Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera.

*

Penulis adalah mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan, Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ulama, Nahdlatul Ulama, Lomba IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Benarkah Gus Dur Waliyullah?

Sebagai sebuah teks, Gus Dur telah selesai ditulis bersama takdirnya, tapi ia belum selesai dibaca. Ia adalah korpus terbuka yang bisa ditafsirkan dengan beragam sudut pandang. Pula, ia dicela dan semakin dicinta dengan banyak cara. Demikianlah, Gus Dur selalu membuat pelbagai kemungkinan untuk “di” karena sejak sosok ini hidup ia adalah subyek sekaligus obyek.

Dari sini, bisa dipahami bahwa Gus Dur merupakan unfinished text yang belum tamat, dan belum rampung untuk dimaknai. Sebagai unfinished text, Gus Dur akan selalu menjadi “obyek” yang pernak-perniknya (pribadi dan gagasannya) selalu dielaborasi, dikritisi, dan direkonstruksi oleh para penulis yang bertindak sebagai “subyek”.

Benarkah Gus Dur Waliyullah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Gus Dur Waliyullah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Gus Dur Waliyullah?

Sebagai sebuah teks. Gus Dur memang terbuka untuk ditafsirkan. Meminjam teori independensi teks-nya Karl Popper, setiap pengetahuan yang sudah diumumkan dengan sendirinya terlepas dari monopoli pengarang dan penggagasnya, lalu masuk ke dalam pengetahuan obyektif. Dalam hal ini, seorang penafsir (interpreter) memiliki kebebasan dan otonomi penuh dalam menafsirkan sebuah teks. Namun, yang menjadi masalah bukanlah benar tidaknya tafsiran yang diberikan, tetapi argumentasi yang dijadikan landasan dalam memberikan penafsiran serta kedekatannnya dengan fenomena yang terjadi dan berkaitan dengan teks tersebut. 

Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, misalnya, melakukan penafsiran atas perilaku Gus Dur, mengumpulkan kesaksian-kesaksian unik dari para sahabat dan keluarga Gus Dur, serta dari ragam fenomena yang mengiringi sosok ini, baik saat hidup maupun setelah berpulang. “Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali: 99 Kesaksian Tak Terbantahkan dari Sahabat, Orang Dekat, Kolega dan Keluarga” merupakan upaya merekonstruksi apa yang telah dipahami oleh kedua penulis ini mengenai apa yang disebut oleh kedua penulis ini sebagai “kewalian Gus Dur”.

IPNU Tegal

Dalam kaidah jurnalistik, penulisan buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mengenai kisah-kisah yang menjadi bukti kualitas pribadi Gus Dur dan keistimewaan-keistimewaan sosok ini, kedua penulis memungutnya dari beragam narasumber yang memang dekat dengan Gus Dur (keluarga, sahabat, pengamat, pengamal tasawuf, dan para ulama yang kredibel), sekaligus memverifikasi kisah yang disampaikan, disertai dengan pembacaan kritis. Untuk itulah, kedua penulis buku ini, dalam “Pengantar Penulis”, memberikan rambu bahwa keduanya menyeleksi kisah-kisah yang diterima.

IPNU Tegal

KH Said Aqil Siroj, misalnya, memberikan kesaksian mengenai ‘terbongkarnya’ jatidiri seorang wali mastur (yang sengaja menyembunyikan identitas kewaliannya) oleh Gus Dur; kesaksian dr Umar Wahid bersama pilot pesawat kepresidenan dalam situasi genting di mana awan gelap yang hampir menjadi badai tiba-tiba membelah dan seolah mempersilahkan pesawat mendarat dengan aman (hlm. 58); hingga ritus ziarah ke makam para Wali dan dipercaya berdialog dengannya (Bagian II: Komunikasi dengan Para Wali); serta berbagai karamah-karamah yang dimiliki oleh Gus Dur. 

Demikianlah, tradisi dan kepercayaan mengenai keramat para waliyullah sangat mengakar di kalangan masyarakat Muslim tradisionalis. Meskipun ada ungkapan la ya’riful waliy illal waliy (hanya wali yang mengetahui wali), namun masyarakat juga memiliki kecenderungan untuk membedakan manakan perilaku yang termasuk bagian dari karamah, dan manakah yang merupakan istidraj; serta manakah karamah yang merupakan anugerah Allah, dengan bagian dari ilmu hikmah—yang bisa dipelajari.

Dalam kategori derajat kewalian, terdapat dua aspek penting: waliyullah dan wali huquqillah. Waliyullah adalah derajat wali yang pencapaian kewaliannya tidak melalui prosedur normatif lewat cara riyadlah atau tirakatan dengan mengasah kemampuan ruhaniah batiniah dengan meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan. Derajat ini didapat secara langsung dari Allah, tanpa usaha atau kasbul ibadah, namun ada kejadian istimewa sebelum seseorang menjadi waliyullah. Sedangkan Wali Huquqillah merupakan derajat kewalian yang dicapai dengan cara normatif atau berproses melalui jalur sufistik. Secara teoritis seserang harus melalui tahapan-tahapan berat sebelum akhirnya menjadi seorang waliyullah. Pertama, taubat, kemudian wara’, zuhud, sabar, tawakkal, lalu ridho syukur tahalli, tajalli, hingga pada puncaknya mencapai ma’rifat. 

Sedangkan Gus Dur, dari sisi pengalaman, telah menjalani berbagai corak kehidupan yang memungkinkannya menempa diri dalam derajat kesufian tertentu. Sebagaimana penuturan KH. Said Aqil Siroj, Gus Dur setiap hari secara istiqamah membaca Surat al-Fatihah ribuan kali (hlm. xxii). Pula, berbagai kesaksian orang terdekat Gus Dur bahwa dalam berbagai kesempatan Gus Dur banyak bertemu dengan tamu misterius yang memiliki derajat istimewa. 

Dari berbagai bab buku ini, selain menyuguhkan berbagai sisi yang (bagi sebagian orang) irasional, ada banyak kisah yang sesungguhnya rasional, logis, dan manusiawi. Sepak terjang Gus Dur dalam memperjuangkan aspek esoterisme Islam sehingga banyak disalahpahami, proses membumikan Islam Rahmatan lil Alamin, keteguhannya membela pihak yang tertindas, serta kehidupannya yang asketis, yang juga dikisahkan dalam buku ini.  

Terlepas dari kebenaran hakiki apakah Gus Dur itu wali atau bukan, hanya Allah yang Mahatahu. Berbagai kisah yang dimuat dalam buku ini bisa dijadikan salah satu standar penilaian kualitas pribadi Gus Dur dan segala pernak-pernik kehidupannya. Juga, kisah-kisah manusiawi yang juga banyak dimuat dalam buku ini seolah menjadi penawar sinisme pihak-pihak yang anti-Gus Dur untuk melihat lebih jernih dan komprehensif mengenai sosok ini. Waliyullah atau bukan, itu hak prerogratif Allah dalam menentukannya. Yang pasti, Gus Dur adalah sosok istimewa yang pernah dilahirkan di bumi Indonesia.  

Judul: “Bukti-Bukti Gus Dur itu Wali: 99 Kesaksian Tak Terbantahkan dari Sahabat, Orang Dekat, Kolega dan Keluarga”

Penulis: Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin

Penerbit: Renebook, 2014

Halaman: xxviii + 224

Peresensi: Rijal Mumazziq Z, direktur sebuah penerbitan buku di Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hadits, Lomba IPNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Mengutamakan Amal dan Keteladanan

Khutbah I

? ? ? ?

Mengutamakan Amal dan Keteladanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengutamakan Amal dan Keteladanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengutamakan Amal dan Keteladanan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

IPNU Tegal

Hadirin jamaah sahalat jumat hafidhakumullah,

IPNU Tegal

Dalam kesempatan yang baik ini, saya berwasiat kepada pribadi saya sendiri dan kepada hadirin sekalian, mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah Taala dengan selalu berusaha menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi aneka macam larangan-Nya.

Hadirin!

Sebagaimana sudah maklum, Baginda Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah Taala di dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia:

? ? ? ? ?

Oleh sebab itu, Rasulullah hadir memberikan contoh konkret dengan aneka ragam kebaikan sikap dan cara yang dapat kita baca sejarahnya di hadits-hadits Nabi shallallâhu alaihi wasallam.

Rasulullah tidak hanya mengajarkan kebaikan, namun beliau hadir memberi contoh berupa keteladanan. Maka, kenapa Allah mengutus utusan yang membawa risalah ke bumi itu berwujud manusia, tidak dari golongan malaikat? Karena jika malaikat yang diutus, manusia tidak mampu mengambil pelajaran secara nyata dalam sisi keteladanan berperilaku kepada Allah ta’ala atau adab antarsesama manusia.

Di akhir zaman ini kita lebih suka banyak berbicara tentang literatur ilmu, diskusi dengan materi selangit, membahas hal sulit nan rumit, namun amaliyah kita, ibadah kita, perilaku dan sikap kita tak seberapa. Naudzu billah.

Berbeda dengan zaman salaf dahulu. Para ulama salaf senantiasa mengamalkan ilmunya. Sedikit atau banyak ilmu yang mereka dapat.

Ibnul Mubarak mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Adab yang sedikit itu lebih kami butuhkan daripada ilmu yang banyak.”

Selain itu Imam Al-Ghazali juga mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Andai saja kau baca literatur keilmuan selama seratus tahun dan kau kumpulkan sebanyak seribu buku, hal itu tak akan mampu menyiapkan dirimu menggapai kasih dan rahmat Allah kecuali hanya dengan cara mengamalkan ilmu yang kautahu.

Sayyidina Ali karramallahu wajhah berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hai para pemilik ilmu, laksanakan ilmu yang pernah kau dapatkan. Sesungguhnya yang dinamakan cendekiawan itu adalah orang yang menjalankan apa yang ia mengerti, serta ilmunya sinkron dengan apa yang ia jalankan.

Hadirin!

Dengan hal itu, mari kita belajar saling mencari teladan atas kebaikan-kebaikan yang tersebar di sekitar kita dan mari kita beri teladan orang-orang di sekitar kita dengan contoh perilaku baik supaya kita dapat selamat dunia akhirat secara bersama-sama.

Menurut satu riwayat, dikisahkan bahwa Syekh Abdul Qadir Al Jilani mempunyai seorang sahabat yang mempunyai budak lelaki. Budak sahabatnya ini telah lama memimpikan untuk hidup merdeka, lepas dari ikatan perbudakan. Namun, ia tak berani? menyampaikan keinginan dan cita-citanya tersebut kepada majikan. Suatu ketika, si budak berinisiatif, ia minta tolong kepada Syekh Abdul Qadir untuk memberi saran kepada sang majikan supaya memerdekakannya.

Ditunggu sehari dua hari, si budak tak segera mendapat berita kemerdekaan. Seminggu-dua minggu, sebulan-dua bulan, kabar gembira itu juga tak kunjung datang. Namun, setelah setahun berlalu, ia baru dimerdekakan oleh majikannya. Ia mengetahui kemudian bahwa kemerdekaan pribadinya tidak lepas dari saran Syekh Abdul Qadir.

Merasa penasaran, budak yang telah merdeka ini menemui Syekh Abdul Qadir

"Ya Syekh, apa gerangan yang mendorong engkau untuk menyampaikan permintaan saya yang setahun lalu dan sekarang baru saja engkau laksanakan?" tanya budak

"Begini, selama ini aku tak pernah memberi saran atau menasihati seseorang dengan suatu hal yang aku sendiri belum pernah melaksanakannya. Nah, kau minta aku untuk menasihati majikanmu agar dia membebaskanmu, sedangkan aku sendiri selama ini belum pernah memerdekakan budak karena memang aku tak punya budak. Maka, aku harus memerdekakan budak dulu dengan cara aku menabung sampai setahun dengan uang yang cukup untuk membeli budak. Selepas aku mampu membeli, baru kemudian aku merdekakan. Setelah itu, aku berani memberi saran orang lain untuk memerdekakan budak."

Hadirin....

Nasihat-nasihat model Syekh Abdul Qadir di atas, sekarang ini semakin jarang kita temukan. Padahal, sebuah nasihat yang memang didasari dengan hati yang tulus akan menembus kepada hati.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jika nasihat keluar dari hati, maka akan mendarat, menancap di relung hari. Sedangkan bila keluar hanya dari lisan, tidak dari dalam hati, maka nasihatnya tak akan melampaui batas telinga saja. Artinya tak akan sampai ke dalam hati dan bisa merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik dan dekat pada Allah.

Hadirin!

Mari kita benahi diri kita pribadi. Mari kita ambil contoh orang-orang baik serta mari kita tebar contoh-contoh kebaikan kepada anak cucu kita, orang-orang sekitar kita. Kita niati bahwa kita sedang menanam benih kebaikan untuk orang lain. Dan pada akhirnya jika kebaikan yang kita tanam itu diambil pelajaran oleh orang lain dan diajarkan kepada orang lain lagi, maka kita meski sudah tidak lagi di dunia ini, kita akan selalu memanen pahala tanaman amal baik kita.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Mundzir



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Ulama, RMI NU IPNU Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Lebaran dalam Bahasa Kita

Oleh Bakhrul Amal?

Umat muslim Indonesia bolehlah berbahagia karena hampir sampai kepada hari lebaran. Ujian selama sebulah penuh di bulan Ramadlan, artinya sudah secara sah terlewati. Lelah payah, inysaallah diganti dengan kesucian. Setidaknya, begitulah janji Tuhan kepada umatnya yang bertakwa.

Jikalau kita ingat, pada saat menyambut momen lebaran itu, semua sibuk. Mal penuh sesak oleh mereka yang memburu diskon. Pasar ramai dengan orang-orang yang mencari jajanan untuk keperluan di hari lebaran. Tidak terkecuali di jalanan, jalanan nampak berpacu dan bising dipenuhi oleh pemudik yang merindukan kampung halaman. Semuanya digerakan oleh rasa yang sama, rasa bangga bahwa kita telah disucikan kembali oleh Allah melalui Ramadhan.

Lebaran dalam Bahasa Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebaran dalam Bahasa Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebaran dalam Bahasa Kita

Pada waktu itu, yang membeli baju merasa bahwa di hari lebaran nanti, tubuh yang suci haruslah dibalut dengan pakaian yang indah. Yang membeli jajanan punya maksud sendiri, mereka tidak mau mengecewakan tamu yang biasa hadir ke rumah dengan tradisi ‘halal-bi-halal’. Yang mudik dan menyemuti jalanan pun punya alasan, mereka diberangkatkan oleh keinginan bertemu keluarga agar maaf-me-maafkan itu nyata dan tak sekedar kata.

Di sisi yang lain, ada yang menilai bahwa hal-hal di atas tersebut tidak perlu dilakukan. Lebaran harus kembali pada nafas kesucian kita, yakni kesederhanaan. Yang lebih penting dari merayakan ialah merawat agar kebaikan, ketika dan pasca-Ramadhan, itu terus bersemai sepanjang hidup.

IPNU Tegal

Semua alasan di atas tadi adalah benar dan perlu kita hargai. Sekarang kita beranjak ke pembahasan yang lain, yakni pembahasan mengenai apa arti dari lebaran itu sendiri.?

Seperti kita ketahui bilasanya lebaran itu bahasa kita. Lebaran tidak memiliki arti kesucian ataupun pengembalian roh pada titik awal. Lebaran bukan kata ganti yang artinya sama dengan Idul Fitri (hari raya makan). Namun lebaran, karena sudah terlalu lama dan mengakar, lebih mudah diucapkan daripada menyebut Idul Fitri.?

Untuk itu, marilah kita mencari tahu darimana datangnya kata lebaran, sehingga hal itu menjadi relevan dengan budaya bangsa kita.

IPNU Tegal

Etimologi Lebaran

Dalam kajian ilmu filsafat, kita mengenal dua hal, etimologi dan terminologi. Etimologi mengupas tentang asal-usul kata. Sedangkan terminologi membahas mengenai makna daripada kata tersebut. Untuk membedah lebaran, kita hanya menggunakan etimologi saja.

Lebaran konon memiliki lima padanan kata yang berkaitan dengannya. Lima kata tersebut adalah lebar-an, luber-an, labur-an, lebur-an dan liburan. Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, lebaran konon berasal dari lebar yang dibubuhi imbunan -an. Lebar yang menjadi awalan dari lebaran bukanlah lebar dalam arti bangunan, lapangan atau pun halaman. Akan tetapi ‘lebar hati’ kita untuk memaafkan. Orang tua suka berkata “sing gede atimu” manakala kita disakiti dan darisitulah lebar dimasukan sebagai awal mula kata ‘lebaran’.

Kedua, lebaran dianggap juga sebagai kata yang bermula dari ungkapan luber. Luber dalam KBBI memiliki arti melimpah, meluap. Ringkasnya, melewati batas daripada batas yang ditentukan. Luber maafnya, luber rezekinya dan luber pula pahalanya sehabis Ramadhan. Untuk itu, maka luber-an bertransformasi menjadi lebaran.

Ketiga, menurut Mustofa Bisri atau Gus Mus, lebaran diambil dari kata laburan (jawa;mengecat). Setiap kali menjelang datangnya Idul Fitri, semua kepala keluarga sibuk mengecat rumahnya agar tampak indah. Dari kebiasaan laburan menjelang Idul Fitri itulah, lebaran menjadi sebuah kata yang setara dengan makna Idul Fitri itu sendiri.

Keempat, dalam satu kesempatan, Almarhum KH Muhtar Babakan Ciwaringi pernah berujar bahwa lebaran itu berakar filosofis dari kata leburan (jawa:menyatukan). Dengan ujian dan cobaan, dengan kesabaran dan ketenangan, selepas Ramadhan itu diharapkan kita mampu meleburkan diri kita pada sifat-sifat Tuhan. Dalam bahasa Syeikh Siti Jenar “manunggaling kawula gusti”. Semangat perubahan itulah yang merubah leburan menjadi lebaran.

Kelima, atau yang terakhir, lebaran dimaknai sebagai plesetan dari liburan. Dalam kalender Nasional, Hari Raya Idul Fitri adalah tanggal merah yang artinya libur. Menikmati hari libur berarti liburan. Oleh karena alasan itu, maka liburan yang diucapkan berulang-ulang, menjadi titik pangkal dari munculnya lebaran.

Begitulah arti lebaran dalam bahasa kita. Unik dan bermacam-macam. Jauh dari nalar namun dekat dengan perasaan.

Lebih penting daripada arti-arti itu adalah esensi atau ruh yang seringkali dimiliki dalam setiap kali kita menyebut kata ‘lebaran’. Bagi kita, bangsa Indonesia, Idul Fitri itu lebaran. Dan lebaran itu memaafkan, lebaran itu kesucian, lebaran itu kebahagiaan, lebaran itu makan-makan, lebaran itu kerinduan, dan lebaran itu adalah lembaran baru untuk menuju optimisme esok yang lebih baik.

Selamat lebaran!





Penulis adalah dosen UNUSIA Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Hikmah, Syariah, Lomba IPNU Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah

Jakarta, IPNU Tegal. Dosen Universitas King Fahd Arab Saudi Sumanto Al Qurtuby menilai, ada banyak kesalahpahaman yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam di Indonesia terkait dengan apa yang terjadi di Timur Tengah, terutama dengan konflik dan radikalisme yang ada di sana.

Di antara kesalahpahaman tersebut adalah bahwa banyak kelompok Islam di Indonesia yang menganggap konflik yang terjadi di Timur Tengah itu disebabkan oleh Barat, Yahudi, dan sekutu-sekutunya.

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah

 

Menurutnya, itu adalah hal yang kurang tepat karena konflik yang terjadi di Timur Tengah sudah ada sebelum Negara-negara Barat seperti Amerika dan juga Yahudi ada. 

IPNU Tegal

“Kekerasan itu bukan melulu produk dari non-muslim, tetapi muslim sendiri juga terlibat. Bahwa benar Amerika terlibat, ada non-muslim yang terlibat, iya. Tetapi kelompok-kelompok Islam juga terlibat,” urainya saat menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia di Auditorium Gedung PPSDM Jakarta, Sabtu (22/7) sore.

Misalnya, jelas Sumanto, apa yang terjadi di Suriah juga tidak terlepas dari umat Islam. Di dalam sebuah studi disebutkan bahwa ada 160 faksi kelompok Islam garis keras di Suriah. Ini juga yang menyebabkan konflik yang berkepanjangan.

IPNU Tegal

Kesalahpahaman kedua adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah dianggap sebagai konflik Sunni-Syiah. Hal itu tidak melulu demikian. Bahkan, ia menceritakan bahwa di beberapa daerah di Arab Saudi dan beberapa negara teluk lainnya terjadi kawin-mawin antara Sunni dan Syiah. Di Qatar pun demikian, belum ada sejarahnya konflik antara Sunni dan Syiah. 

Namun demikian, ia tidak menampik bahwa konflik yang disebabkan oleh Sunni-Syiah. Tetapi itu tidak bisa dijadikan sebagai representasi. Menurutnya Sumanto, kekerasan yang terjadi di beberapa negara Arab dilakukan oleh para ekstremis. 

“Kadang di dalam satu keluarga ada yang Sunni, ada yang Syiah. Meski satu klan tidak masalah. Jadi tidak melulu Sunni-Syiah bertengkar. Tergantung konteksnya,” katanya.

Kesalahpahaman terakhir adalah soal konflik Islam, Kristen, dan Yahudi. Ia menganggap, ini juga hal yang tidak selamanya benar. Di beberapa negara seperti Lebanon dan Yahudi, baik Islam, Kristen, maupun Yahudi memiliki hubungan yang baik. Bahkan mereka bekerjasama dalam menjalankan roda pemerintahan.

“20 persen masyarakat (Negara) Yahudi itu adalah Arab. Mereka juga banyak yang menduduki posisi strategis seperti polisi dan militer,” jelasnya.

Menurut dia, kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut sengaja disebarkan oleh sebagian kelompok Islam Indonesia dan dijadikan sebagai alat propaganda di Indonesia. Oleh karena itu, ia meminta kepada umat Islam Indonesia untuk belajar lebih seksama terkait dengan apa yang terjadi di Timur Tengah.

“Agar tidak gampang dibelokkan ke sana-ke sini untuk kepentingan politik,” tegasnya didampingi narasumber lain yaitu Direktur Eksekutif The Wahid Foundationa Yenny Wahid dan Kepala BNPT Suhardi Alius. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pondok Pesantren, Lomba IPNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU

Sidoarjo, IPNU Tegal. Halaqoh Ahlusunnah wal Jamaah yang digelar di aula PCNU Sidoarjo, Ahad (19/4), diharapkan mampu melakukan perubahan yang lebih bagus dengan membangun pola pikir masyarakat yang cerdas serta memiliki kemampuan dan rasa percaya diri yang tangguh dalam mengahadapi era global.

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Ulama Timur Tengah Perlu Belajar ke NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyatakan, pemikiran ulama NU sudah saatnya go internasional. Pasalnya, ulama Timur Tengah masih dalam tahap tafaqquh fiddzin atau mendalami ilmu agama. Mereka belum bisa yunziru qaumahum atau melakukan pembinaan terhadap umat.

"Dalam hal keilmuan memang ulama NU banyak belajar dari Timur Tengah. Beberapa karya besar ulama Timur Tengah dipelajari di pesantren-pesantren. Namun, terkait memberikan bimbingan kepada umat, ulama Timur Tengah perlu belajar ke Indonesia yaitu kepada NU. Sehingga, sudah saatnya pemikiran ulama NU go internasional tanpa meninggalkan aqidah dari Ahlussunnah wal Jamaah," tegas kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

IPNU Tegal

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Mutawakil Alallah yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa Muktamar NU yang akan diadakan di Jombang mendatang itu dalam rangka Harlah ke-89 NU dan akan ditempatkan di 4 pondok pesantren yang memiliki nilai history terhadap awal berdirinya NU, diantaranya, Tebuireng, Tambak beras, Denanyar dan Darul Ulum yang semua berlokasi di Jombang.

Acara Halaqoh Ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang diadakan di aula PC NU Sidoarjo dalam rangka memperingahti Harlah NU ke-89 itu juga dihadiri Ketua PC NU Sidoarjo KH Abdi Manaf, KH Agoes Ali Mashuri Pemangku Ponpes Bumi Sholawat, Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dan para ulama se-Sidoarjo. (Moh Kholidun/Mahbib)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Lomba, Pahlawan IPNU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

KBNU Cirebon Resmi Laporkan Gapas ke Polisi

Cirebon, IPNU Tegal. Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Cirebon, Selasa (3/3), melaporkan kelompok garis keras yang menamakan diri Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (Gapas) ke Kepolisian Resort (Polres) Cirebon, Jawa Barat, atas tuduhan sebagai organisasi yang kerap melakukan dakwah dengan cara kekerasan dan kerap bertindak anarkis. Terutama terkait peristiwa penggrebekan Pondok Pesantren Nurul Quran yang mereka lakukan pada 15 Februari lalu.

KBNU menuntut agar pihak kepolisian menindak tegas atas apa yang telah dilakukan oleh kelompok tersebut. KBNU juga mengecam akan melakukan tindakan sendiri seandainya tidak ada tindakan tegas dari pihak kepolisian.

KBNU Cirebon Resmi Laporkan Gapas ke Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)
KBNU Cirebon Resmi Laporkan Gapas ke Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)

KBNU Cirebon Resmi Laporkan Gapas ke Polisi

"Kami meminta agar pihak kepolisian menindak tegas atas apa yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Kalau tidak ada tindakan, kami akan bertindak tegas. Hari ini sebagai laporan awal," ujar Ketua Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Kabupaten Cirebon KH Badrudin Hambali, Selasa.

IPNU Tegal

Badrudin juga menilai kelompok tersebut sudah tidak layak lagi untuk hidup di negara Indonesia yang plural, karena kelompok tersebut menganggap paling benar sendiri. Pihaknya juga mengecam segala bentuk dakwah yang dilakukan secara kekerasan.

Menyikapi atas apa yang dilakukan kelompok tersebut, Ketua Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Cirebon Muiz Syaerozie mengaku sudah menyiapkan sedikitnya 20 pakar hukum yang berlatar belakang NU guna merumuskan gugatan kepada kelompok tersebut.

IPNU Tegal

Sebelumnya, pada 15 Februari 2015 lalu sekelompok orang yang mengaku dari ormas Islam mendatangi Pondok Pesantren Nurul Qur’an Desa Setu Kulon Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon yang dianggap mengajarkan aliran sesat dan penipuan dengan menjual benda yang disebut pusaka atau jimat.

Tak hanya itu, kelompok tersebut juga menyarankan MUI Kabupaten Cirebon agar segera megeluarkan fatwa sesat kepada H Idris Nawawi, pimpinan pondok pesantren yang bersangkutan. (Ahmad Imam Baehaqi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Lomba IPNU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Bersalaman Pria-Wanita Bukan Muhrim

Assalamualaikum wr. wb.

Pak Kiai, saya mau bertanya, bagaimana hukum bersalaman antara pria dan wanita (muda) yang bukan muhrim? karena kan banyak sekarang ini di tengah masyarakat yang mengatakan bersalaman tesebut hukumnya haram. Bagaimana dalil-dalil salaman tersebut? terima kasih. Wassalam. Ahmad Syarif H.?

Waalaikumus salaam wr. wb.

Bersalaman Pria-Wanita Bukan Muhrim (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersalaman Pria-Wanita Bukan Muhrim (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersalaman Pria-Wanita Bukan Muhrim

Bapak Ahmad Syarif H. yang saya hormati,

Bersalaman secara umum memberikan efek positif dalam pergaulan sehari-hari. Bersalaman merupakan sebagian langkah untuk mengeratkan hubungan antar individu dalam hal apapun, baik itu hubungan kekerabatan, hubungan bisnis,dan lain-lain. Dengan bersalaman juga sebuah ikatan dimulai dan perjanjian dilakukan.

Namun demikian, ada perhatian khusus terkait bersalaman antara pria dan wanita yang bukan mahram yang bapak tanyakan. Ulama memberikan hukum haram atas hal tersebut. Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Muin hal. 98 mengatakan :

IPNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. Artinya; sekiranya haram melihatnya maka haram pula menyentuhnya tanpa pemisah, karena memegang itu lebih menimbulkan ladzat.

Dalam sebuah hadits Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika Nabi Muhamamd SAW membaiat perempuan yang bukan mahram beliau tidak menjabat perempuan tersebut dan membaiat hanya dengan ucapan.(Al-Bukhari bab. Surat Al-Mumtahanah ayat 10)

IPNU Tegal

Bapak Ahmad Syarif H. yang budiman, memang dalam pergaulan sehari-hari sulit untuk menghindari berjabat tangan dengan perempuan bukan muhrim. Kita dituntut untuk mengikuti syariat tapi tetap tidak mengurangi kualitas hubungan antar individu laki-laki dan perempuan. Untuk itu, patutlah dicari cara yang elegan dalam menghindari bersalaman dengan perempuan bukan muhrim sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada agar keakraban tetap terjaga.

Semoga kita diberikan kemampuan untuk istiqamah menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya serta kemampuan untuk tetap menjaga hubungan baik dengan sesama dan semua makhluk. Amiin

Walloohu Alamu bishshawaab

Wassalamualaikum wr. wb.

Maftuhan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaSantri, Lomba, Hikmah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock