Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Januari 2018

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare

Parepare, IPNU Tegal



Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana tahap kedua.?

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Gelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana di Parepare

Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana ini dipandu oleh Humanitarian Open Street Map Team (HOT). Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, OPD Terkait, LPBINU, Pramuka, PMI, Perguruan Tinggi yang berasal dari Kabupaten Barru dan Wajo, Sulawesi Selatan yang telah mengikuti pelatihan tahap 1 (JSOM dan Mapathon). Pelatihan akan berlangsung selama 5 (lima) hari pada 10-14 April 2017 di Hotel Parewisata Parepare, Sulawesi Selatan.?

?

Ketua LPBINU PBNU M Ali Yusuf menyatakan bahwa untuk menyusun rencana dan aksi penanggulangan bencana yang sistematis, terarah dan terpadu, diperlukan dasar yang kuat untuk pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah/kawasan. Di sinilah letak penting adanya kajian risiko bencana sebagai perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran dampak (korban dan kerugian) dari ancaman bencana yang ada.?

IPNU Tegal

Dengan mengetahui kemungkinan dan besaran korban dan kerugian, lanjutnya, fokus perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif. “

Dapat dikatakan, kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu daerah atau kawasan,” jelasnya.

Pelatihan ini merupakan rangkaian kegiatan dalam Program Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Masyarakat Lokal dalam Kesiapsiagaan untuk Respon Bencana yang Cepat dan Efektif. Setelah penyelenggaraan pelatihan tahap pertama memperkenalkan dan menerapkan aplikasi Java Open Street Map (JOSM). JOSM merupakan salah satu alat dalam penanggulangan bencana alam, pada tahap kedua yaitu terkait dengan Quantum Geography Information System (QGIS) ? dan Ina SAFE.

Hasil dari pelatihan kajian risiko bencana ini adalah tersusunnya peta risiko bencana (peta ancaman, peta kerentanan dan peta kapasitas) dan juga tersusunnya kajian risiko bencana di Kabupaten Barru dan Wajo (Sulawesi Selatan).

H. Abdul Kadir, Kepala BPBD Kabupaten Barru, menyampaikan pentingnya kajian kerentanan untuk dapat meningkatkan kapasitas sehingga risiko dapat dikurangi. “Harapan kami dokumen kajian risiko bencana dapat menjadi acuan dalam pembangunan yang ada di Kabupaten Barru, dan kajian risiko bencana dapat diimplementasikan secara baik,” katanya.?

IPNU Tegal

Pelatihan dibuka oleh Syarifuddin Rahim, Sekretaris BPBD Provinsi Sulawesi Selatan. Ia mengapresiasi LPBINU yang bekerja sama dengan DFAT dalam melaksanakan program di Kabupaten Barru dan Wajo sebagai proyek percontohan. “Semoga kegiatan yang dilaksanakan di Sulawesi Selatan dapat di implementasikan dan di kembangkan di daerah lain,” katanya.

Menurutnya, bencana ? merupakan tanggung jawab bersama, dan pelatihan kajian risiko bencana dengan melibatkan multi stakeholders adalah sangat tepat, ? memang kegiatan kajian tidak mudah, namun hal yang sangat penting adalah kita mendapatkan kesepatan yang sangat berharga, dan semua peserta mampu mengamalkan ilmu yang telah didapat.

Salah satu tujuan pelatihan ini adalah untuk menerapkan aplikasi Java Open Street Map (JOSM) dalam melakukan pengkajian risiko bencana di suatu daerah termasuk di dalamnya memetakan risiko bencana dan mengembangkan skenario dalam melakukan penanggulangan bencana dengan menggunakan perangkat lunak InaSAFE. Hasil dari kajian risiko tersebut nantinya digunakan sebagai acuan dasar dalam menyusun perencanaan dalam kegiatan dan program penanggulangan bencana suatu daerah/kawasan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Tokoh, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Jakarta, IPNU Tegal. Rombongan Kementerian Agama Malaysia mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, Selasa (15/5) pagi. Rombongan yang berjumlah 29 orang ini, disambut baik oleh sejumlah Ketua Umum PBNU dan beberapa pengurus tanfidziyah. Kedua pihak saling mengabarkan kondisi sosial-keagamaan di masing-masing negara.

Dalam kesempatan ? tersebut, Iqbal Sullam, Ketua PBNU sempat mengenalkan profil singkat NU, badan otonom dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya. Pesantren dan madrasah yang menjadi kantong intelektual dan tata nilai moral-kultural NU, masuk dalam profil NU.

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Kedua pihak sepakat untuk mewaspadai gerakan-gerakan keagamaan yang ekstrem, terlebih lagi menggunakan kekerasan sebagai bentuk saluran aspirasinya. Masing-masing pihak, tidak menyetujui segala bentuk kekerasan atas nama apapun dan untuk tujuan apapun.

IPNU Tegal

PBNU menyatakan akan menerapkan, bentuk dakwah yang cocok dengan lokal setempat. “Dengan demikian, NU mengedepankan tawasuth, tasamuh, dan tawazun. Tiga istilah ini mungkin berbeda penyebutannya di Malaysia,” papar Iqbal Sullam disertai anggukan rombongan tamu.

Kedamaian dan persaudaraan bisa terjadi karena NU mendahulukan dan mementingkan 3 persaudaraan. Ketiganya adalah persaudaraan sesama muslim, persaudaraan se-tanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Karenanya, NU menjadi besar disebabkan oleh kalangan ulama yang mengorganisir dirinya dan menyatu dengan masyarakatnya.?

IPNU Tegal

“Kalau di Timur Tengah juga banyak ulama-ulama, namun tidak bisa menyelasikan konflik. Sedangkan kami di Indonesia mampu meredam konflik hingga tuntas,” ungkap Said Aqil Siroj, Ketum PBNU di hadapan tamunya.

Mayjen Dato Seri Jamil Khir bin Baharom, Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Agama) Malaysia, mengungkapkan pihaknya sepakat dengan paparan dari PBNU.

“Kita bangsa Malaysia juga sangat menghargai perbedaan seperti juga Nahdlatul Ulama. Dan kita bangsa Malaysia juga bagian dari persekawanan dengan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Di akhir pertemuan, kedua pihak saling memberikan cendera mata. Pemberian cendera mata adalah bukti sambutan baik PBNU akan kunjungan pihak Kementrian Agama Malaysia. Pertemuan keduanya sempat diliput oleh pers Malaysia dan pers dalam negeri Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nasional, Ulama, Nusantara IPNU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat

Jakarta, IPNU Tegal. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh meminta kalangan akademisi untuk meningkatkan kualitas pendidikannya dan menjadi teladan bagi masyarakat luas dengan tidak melakukan korupsi.

"Orang-orang terdidik mbok ya jangan korupsi. Wong sudah sekolah tinggi-tinggi, masak sih harus korupsi. Kan tidak pantas," kata Nuh usai mengikuti rapat koordinasi tentang pasokan gas di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian Jakarta, Rabu.

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Minta Akademisi Jadi Teladan Masyarakat

Menurut Nuh, saat ini korupsi sudah menjadi merasuki hampir semua kalangan, termasuk kalangan perguruan tinggi yang seharusnya menjadi teladan perilaku baik.

IPNU Tegal

Menyusul pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie yang menyebut banyak koruptor adalah alumni perguruan tinggi negeri, Nuh tidak sepenuhnya sependapat dengan pernyataan Ketua DPR tersebut.

"Memang ada yang menyebut bahwa alumni universitas A, universitas B, universitas C jagoan dalam hal korupsi. Tentu tidak sepenuhnya benar, dan tidak selamanya seperti itu," katanya.

IPNU Tegal

Sebelumnya dalam diskusi bertajuk Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia di Universitas Indonesia, Depok, Senin (7/5), Ketua DPR RI Marzuki Alie mengatakan bahwa koruptor di Indonesia didominasi alumni Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Saat ini korupsi kan orang-orang pintar lulusan universitas dari UI, Gadjah Mada, ICMI, dan semuanya terlibatlah (korupsi). Ini fakta," ujarnya.

Kesemuanya itu, lanjut Marzuki Alie, disebabkan oleh pendidikan masa lalu. Karananya masalah itu harus segera diperbaiki. Pada kesempatan itu, Marzuki menyinggung rendahnya kualitas pendidikan perguruan tinggi Indonesia.

"Kebanyakan perguruan tinggi negeri ngurusin proyek saja," sindir Marzuki Alie.

Karena itu, Rancangan Undang-undang Perguruan Tinggi diharapkap dapat mengatasi minimnya fasilitas pendidikan dan kurang berprestasinya perguruan tinggi Indonesia di tingkat internasional.

"Pendidikan mahal! Salah kalau dibilang murah, makanya alokasi 20 persen jangan dialokasikan ke 19 kementerian yang kurang bermanfaat," usulnya.

"Perguruan tinggi harus tahu kebutuhan lingkungannya, makanya harus disiapkan agar mahasiswa bisa match dengan lingkungannya," tambah Marzuki.

Penulis : Sudarto Murtaufiq

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara IPNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Banyak gambar dan postingan di media sosial seputar kejadian runtuhnya alat berat (crane) yang tengah mengerjakan perluasan Masjidil Haram. Musibah yang terjadi Jumat (11/9) jelang Maghrib tersebut akhirnya merenggut 11 nyawa jamaah dari Indonesia. Puluhan korban luka tengah dirawat di rumah sakit setempat.

Bagaimana suasana sebelum dan sesudah kejadian? Berikut catatan dari H Nur Hidayat, salah seorang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia atau TPIHI yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jatim. Ia melaporkan ? dari penginapan atau maktab jamaah haji di kawasan Misfalah.

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Senin (7/9) dinihari, calon jamaah haji Kloter SUB 14 memasuki Kota Suci Makkah. Kelompok penerbangan atau kloter yang terdiri dari 450 orang jamaah dari Kabupaten Jombang ini menempati pemondokan Nomor 902, di sektor IX. Tepatnya di Hotel Jauharot Adham, yang berjarak sekitar 1.125 meter dari Masjidil Haram. Di hotel ini, jamaah kloter SUB 14 tinggal bersama dengan kloter SUB 05 SUB, JKS 25 dan sebagian jamaah kloter BTH 17.

Melalui "jalur tikus", jamaah yang menghuni Hotel Jauharot Adham dapat memperpendek jarak tempuh ke Masjidil Haram menjadi sekitar 750 meter. Karena itu, hampir semua jamaah yang masih berusia di bawah 60 tahun dan kondisinya sedang fit selalu berusaha melaksanakan shalat fardlu di Masjidil Haram. Adapun jamaah yang lansia dan kurang sehat, biasa melaksanakan di mushalla berkapasitas sekitar 500 di hotel setempat.

IPNU Tegal

Usai melaksanakan umrah wajib pada Senin dinihari hingga pagi, sebagian jamaah kloter SUB 14 pun mulai mencuci kain ihram dan pakaian yang sudah kotor. Selasa pagi adalah "hari mencuci berjamaah", usai menghilangkan kepenatan akibat perjalanan Madinah-Makkah yang memakan waktu hingga hampir 12 jam dan menunaikan umrah wajib.

Menerima pertanda

IPNU Tegal

Keesokan harinya, Selasa (8/9) sore, sekitar pukul 17:10 WAS, Nanik Kusyani (37), seorang jamaah kloter SUB 14, mengirimkan pemberitahuan melalui grup WhatsApp Ketua Regu dan Rombongan, agar jamaah yang memiliki jemuran segera mengambil jemurannya. "Angin sore ini sangat kencang, hingga banyak pakaian jamaah yang beterbangan dan terjatuh dari tempat jemuran," pesannya.

Sebagian jamaah di pemondokan 902 sempat agak kalut sore itu. Sebab, beberapa orang mengatakan ada badai pasir yang sedang berlangsung dan meminta jamaah untuk turun ke lobi hotel. Tapi, angin kencang Selasa sore itu sebenarnya tidak seberapa terasa dibandingkan apa yang terjadi pada Jumat (11/9) petang, yang berujung petaka jatuhnya (atau lebih tepatnya: terjungkal) mobile crane di proyek perluasan Masjidil Haram.

Karena itu, ketika Kamis (10/9) malam ada teman karib yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta menanyakan kabar dan berusaha mengonfirmasi kebenaran video badai pasir Jeddah yang beredar di media sosial, saya hanya menjawab santai. Pasalnya, saya kebetulan menyanggong jamaah yang kembali dari Masjidil Haram untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya di lobi hotel. Setiap saya tanya, rata-rata jamaah menjawab santai dan tidak ada kondisi yang mengejutkan. "Mboten wonten nopo-nopo, cuma radi gerimis kolowau (Tidak ada apa-apa. Cuma memang tadi agak gerimis)," kata M Syaikhu Amirulloh (43), salah seorang jamaah yang baru pulang dari Masjidil Haram.

Kepada teman karib tersebut, saya menjawab, "Sejak akhir Agustus, memang beberapa kali ada badai gurun." Ya, maskapai Saudia Airlines juga sempat menunda beberapa jam penerbangan haji karena badai pasir, termasuk keberangkatan kloter SUB 13 yang berisi jamaah dari Kabupaten Jember. Tapi, sepertinya itu sesuatu yang biasa di sini. Buktinya, di video badai pasir Jeddah yang beredar, kendaraan penumpang yang merekam badai pasir tersebut tetap melaju dengan santai sambil menyalakan lampu hazard. "Mungkin hal itu menjadi sesuatu bagi orang Indonesia," jawab saya dalam pesan WA pada Kamis (10/9) pukul 19.46 WAS.

Tapi, semuanya berubah pada Jumat (11/9) petang itu. Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan ketika menyaksikan badai pasir disusul hujan yang datang secara tiba-tiba, sekitar pukul 17:15 WAS. Saat itu, calon jamaah haji di pemondokan 902 sedang bersiap melaksanakan Shalat Maghrib di Masjidil Haram.

Awalnya, saya berencana mengajak Mbah Karnadi (75), seorang jamaah lansia berangkat ke Masjidil Haram bersama-sama. Ketika akan mengambil sajadah, saya melihat gumpalan pasir yang terbawa angin dari jendela kamar di lantai 7. Menyadari potensi bahaya yang muncul, pukul 17:24 saya segera mengirimkan pesan singkat ke grup Ketua Regu dan Rombongan Kloter SUB 14, "Alert!!! Hujan Badai... Mohon tidak usah ke Masjidil Haram!".

Setelah itu, saya segera menuju lobi hotel untuk memastikan tidak ada jamaah yang memaksakan diri berangkat ke Masjidil Haram. Selebihnya, saya berusaha merekam momen langka tersebut dengan kamera video telepon seluler. Hujan deras disertai angin kencang yang berlangsung sekitar 30 menitan itu, merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Makkah.

Abdurrahman (51), petugas kebersihan hotel asal Bangladesh yang sudah lima tahun bekerja di Makkah juga sibuk merekam momen langka itu dengan kamera video di telepon selulernya. Ketika saya tanya apakah hujan seperti ini sering terjadi, ia menjawab hal itu jarang terjadi. Dahsyatnya hujan dan angin yang menerpa, sampai harus membuat petugas hotel mematikan sensor pintu otomatis yang menjadi akses keluar masuk jamaah.

Tidak berselang lama, Faisol Adib (34) warga Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang baru turun ke lobi hotel bercerita, menyaksikan sebuah crane yang patah dan terjungkal karena terpaan angin. Faisol dan istrinya, Aisyah Muniroh (27), yang tinggal di lantai 11, menduga yang patah dan terjungkal itu adalah crane proyek pembangunan di sekitar Masjidil Haram.

Usai Shalat Maghrib berjamaah di mushalla hotel, saya segera menemui beberapa jamaah untuk menghimbau agar mereka tidak berangkat ke Masjidil Haram, hingga cuaca stabil. Tetapi, saya tidak menduga bahwa cerita Faisol tentang crane patah dan terjungkal itu terjadi di sekitar mathaf (area thawaf) dan memakan puluhan korban jiwa. Saat memasuki kamar, Susanto Slamet (31), salah satu anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), menunjukkan tiga foto yang diterimanya dari anggota TKHI yang sedang berada di Masjidil Haram. Saat itu, saya baru menyadari bahwa suara sirine yang bergema di sekitar maktab kami sejak hujan mereda ternyata sedang mengevakuasi jamaah yang meninggal dan terluka.

Sontak, saya segera menyalakan televisi, untuk menyaksikan berita di saluran televisi Al-Arabiya. Sekitar pukul 20.00 WAS, Al-Arabiya melaporkan data 62 jamaah yang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka akibat tertimpa crane proyek perluasan Masjidil Haram tersebut. Saya pun segera menemui salah satu pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang sudah mengagendakan untuk umrah sunnah malam itu.

Fatimatuz Zahro (51), pimpinan KBIH Al-Kautsar yang mengagendakan umrah sunnah untuk sekitar 324 orang jamaah malam itu, menjawab santai ketika saya minta menunda kegiatannya. Fatimah berada di Mushalla Nisa (tempat shalat khusus perempuan, berlokasi di sekitar pintu 84 Masjidil Haram) saat kejadian berlangsung menjelang Maghrib. Dia bercerita melihat beberapa petugas mengevakuasi jamaah yang berlumuran darah melalui kawasan Mushalla Nisa.

Ketika saya tanya apakah bisa agenda umrah sunnahnya ditunda, dia bilang akan jalan terus. "Tidak ada apa-apa kok. Tadi sudah selesai evakuasinya," tutur anggota DPRD Kabupaten Jombang ini. Tapi, muka Fatimah mendadak merah padam ketika saya tunjukkan gambar situasi di area mathaf yang tertimpa crane. Dia pun buru-buru menelepon muthawif untuk membatalkan sewa bis dan menunda pada hari lain.

Fatimah juga sempat menyatakan keheranannya karena imam hanya membaca dua ayat pendek dalam Shalat Maghrib saat itu. Hanya saja, saat itu dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Kalau tahu ada musibah itu, mungkin saya akan lari ke mathaf untuk menyaksikan secara langsung. Tapi karena tidak tahu, saya hanya memastikan suami saya aman karena berada di hotel," imbuh perempuan kelahiran Pasuruan ini.

Cerita berbeda diungkap oleh Abdurrahman (37). Pengusaha muda asal Jember yang kini tinggal di Bandung itu sedang melakukan thawaf di lantai 2, saat hujan mulai turun. Bersama ibu dan istrinya, Abdurrahman yang menginap di Hotel Hilton sore itu sedang melaksanakan thawaf sunnah. "Kami sedang memasuki putaran kelima saat badai pasir menerpa. Banyak botol air mineral, plastik dan pasir yang beterbangan di udara," tuturnya.

"Pas putaran ketujuh, hujan mulai turun. Banyak orang di lantai 2 dan lantai 3 mathaf yang panik, karena hujannya masya Allah (dahsyat). Langit juga penuh pasir dan angin kencang," imbuhnya.

Karena mengkhawatirkan keselamatan, Abdurrahman segera mengajak ibu dan istrinya berteduh di Masa (tempat Sai). Sempat berjalan perlahan, karena lantai sudah banjir dan licin. Dalam ingatan Abdurrahman, crane jatuh sekitar 17.32 WAS. "Saat itu, evakuasi jenazah sudah dimulai," kisahnya.

Dari siaran langsung televisi Masjidil Haram, tampak bahwa mathaf lantai 2 dan lantai 3 sempat ditutup hingga Sabtu sore. Tapi, aktivitas jamaah lainnya sudah mulai normal saat Shalat Subuh. Hanya sebagian area jatuhnya crane yang ditutup aksesnya untuk jamaah. Sabtu jelang Subuh, saya akhirnya memenuhi janji mengantar Mbah Karnadi ke Masjidil Haram.?

(Ibnu Nawawi/Fathoni)

Keterangan gambar: Suasana mathaf lantai dua Masjidil Haram usai musibah jatuhnya crane.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Fragmen, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni

Bangunannya terletak di pinggir jalan lintas Sumatera, jalur lalu lintas Padang Bukittinggi. Persisnya di Korong Batang Tapakih, Nagari Sintuak Tobohgadang Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat. Sekolah ini terkenal dengan nama Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lubuk Alung, kecamatan tetangga dari Sintuak Tobohgadang. Sebelumnya, Kecamatan Sintuak Tobohgadang merupakan bagian dari Kecamatan Lubuk Alung. Di bagian atap sekolah ini pun tertulis huruf besar MAN LUBUK ALUNG.

Seperti sekolah MAN lainnya, sekolah ini juga menyelenggarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Diantaranya kegiatan pramuka yang wajib diikuti siswa kelas X yang dibina oleh Ade Erwin, S.Pd. Setiap Selasa Hafiz Al-Quran melalui pondok Hafiz yang diasuh guru Abdul Malik S.Pd.I, Qirat dibimbing Drs. Bukari Masnur, dan tajwid setiap hari.

"Beberapa kegiatan lomba yang diikuti, sempat meraih juara. Seperti juara I Pramuka Lomba PBB antara SMA/SMK/MA yang diikuti 34 sekolah di Padangpariaman tahun 2014. Juara I Lomba Fisika se-Kabupaten Padangpariaman yang diselenggarkaan STIKIP YDB Lubuk Alung tahun 2015. Juara II Lomba Biologi yang diselenggarakan STIKIP PGRI tahun 2015 di Padang. Tahun 2015 ini, sebanyak 6 orang siswa MAN Lubuk Alung lolos jadi pasukan Paskibraka di Kabupaten Padangpariaman. Sedangkan di tingkat Propinsi Sumatera Barat, lolos satu siswa, yakni Abdi Wijasaksana kelas XI," tutur Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Ali Nurdin, S.Ag, MM kepada IPNU Tegal di ruang kerjanya, Senin (21/9/2015).

Kepala Sekolah MAN Lubuk Alung Drs. H.Akhri Meinhardi, MM ternyata tidak hanya menumbuhkan prestasi siswa secara akademik dan bidang perlombaan. Justru yang tidak kalah pentingnya adalah menumbuhkan kepedulian antar siswa yang mengalami kesulitan ekonomi di tengah keluarganya, namun memiliki semangat? belajar. Contoh konkrit, ada dua siswa yang mengalami kesulitan datang dan pulang dari sekolahnya. Seperti yang dialami Raki Paraski siswa kelas XI, dimana pergi ke sekolah jalan kaki sepanjang kurang lebih 5 kilometer. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dialami Ilma Rita siswi kelas X. Keduanya, masing-masing diberikan bantuan sepeda federal untuk Raki Paraski dan sepeda mini sanki untuk siswi Ilma Rita. Dengan sepeda tersebut, keduanya tidak perlu jalan kaki.

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni

Suatu hari, seorang siswa MAN yang bertempat tinggal di Nagari Pungguangkasiak meninggal dunia. Tentu saja pimpinan, guru dan teman-teman siswa yang meninggal datang melayat. Seluruh proses penyelenggaraan jenazah siswa itu dilaksanakan oleh siswa MAN. Mulai dari memandikan, mengapani, menshalatkan hingga ke pemakaman. Di sela-sela proses penyelenggaraan jenazah tersebut, Kepsek MAN Akhri menugaskan Ketua OSIS MAN Lubuk Alung Agung Irawan mendatangi rumah Muhammad Iqbal Abdilah. Rumahnya memang tidak jauh dari lokasi pemakaman. Selama ini Akhri mendapatkan informasi kondisi memprihatinkan keluarga Iqbal, siswa MAN kelas XI-PK.

Agung pun mengajak sekretarisnya Septia Intan Nurjanah mendatangi rumah Iqbal. Sampai di depan rumah Iqbal, keduanya sangat kaget dan penuh haru menyaksikan kondisi rumah teman sesama sekolahnya. Rumah itu tidak bisa dikatakan rumah, tapi layaknya kandang ternak peliharaan. Luasnya sekitar 4 x 6 meter persegi. Beratap rumbia, dindingnya terbuat dari bambu, tidak memiliki kamar, berlantaikan tanah. Saat hujan, mereka pun terpaksa bergantian tidur karena air masuk ke dalam. Rumah itu dihuni tujuh orang. Ayah, ibu dan lima anak. Masing-masing M.Iqbal, Hisam Ababil (siswa MTsN Sintuak), Fauziah Fisabillah Azmi (Siswa MTs Muhammadiyah Lubuk Alung), Ibrahim Arsyad (kelas 3 SD) dan Arsil Arsy (kelas 1 SD). Sedangkan dua kakak Iqbal, Risma Nizar Zamiati sudah berkeluarga dan M. Fahrizal Syamsuri merantau di Bogor.

IPNU Tegal

"Saya sempat meneteskan air mata saat mengetahui kondisinya. Saya dari keluarga yang miskin, ayah pengangguran, ibu petani, ternyata masih ada lagi teman yang hidupnya jauh lebih melarat dibanding saya," tutur Intan kepada IPNU Tegal? Senin (21/9/2015) di sekolahnya.

Pulang dari pemakaman, besoknya Kepsek Akhri mengumpulkan majelis guru dan karyawan MAN membicarakan apa yang harus dilakukan dengan kondisi rumah siswanya, Iqbal. Hasil rapat sepakat membedah rumah yang sangat tak layak huni itu.

Kepada IPNU Tegal, Iqbal bercerita ayahnya Zamzami bekerja sebagai pedagang barang mudo (buah-buah) yang dikumpulkan dari petani sekitar kampung. Sedangkan ibunya Siti Rusminah menerima upah cucian pakaian.

Meski hidup dengan prihatin, Iqbal bisa hafal 1 juz ayat-ayat Al-Quran. Dari kemampuan hafalan itu, sejak setahun lalu mengajar mengaji di sekitar tempat tinggalnya. Saat kelas III di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Sintuak, Iqbal meraih juara III. Namun kondisi rumah yang tidak nyaman, prestasi belajarnya anjlok di MAN. Bahkan tinggal di kelas 1. "Bayangkan, saat mau sekolah, saya harus melangkahi ayah yang tengah tidur. Seringkali ayah marah-marah dilangkahi. Bagaimana tidak melangkahi, semua peralatan sekolah, pakaian dan tidur hanya menempati satu ruangan," kenang Iqbal kelahiran Bogor, 31 Mei 1996.

Sejak itulah Iqbal mengaku selalu berdoa, "Ya Allah, keluarkan keluargaku dari kondisi yang memprihatinkan ini. Berilah tempat yang layak untuk keluargaku ini ya Allah," begitulah rintihan doanya pada Sang Khalik. Walaupun ada satu dua orang yang datang ke rumahnya ingin membantu, diambil fotonya, katanya bisa membantu mencari bantuan ke pusat (Jakarta) kepada orang penting. Tapi hasilnya tak pernah jadi kenyataan. Hanya mimpi.

IPNU Tegal

Doa Iqbal yang bercita-cita jadi dosen ini akhir mulai melihat titik terang. Kepala Kantor Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat Drs. Salman MM langsung melakukan? peletakan batu pertama pembangunan rumah Iqbal pada 3 September 2015 lalu. Bangunan berpondasi batu beton berukuran 6 x 10 meter, tiga kamar, wc dan dapur. Spontan pula Salman memberikan bantuan tunai Rp 2 juta kepada ibu Iqbal. "Hingga kini sudah terkumpul uang sebesar Rp 38 juta yang berasal dari keluarga besar MAN Rp 25 juta, alumni MAN Rp 3 juta, Baznas Kabupaten Padangpariaman Rp 10 juta. Dana yang dibutuhkan hingga selesai bisa dihuni mencapai Rp 100 juta. Untuk itu kami mengajak donatur bisa menyalurkan bantuannya melalui rekening bank Mandiri Lubuk Alung nomor 111-000-754091-3 a.n. Ali Nurdin/Nelhasrati dengan nomor kontak 081267261575," kata Ali Nurdin.

Menurut Ali Nurdin, sumbangan dari MAN berasal dari guru melalui badoncek (menyumbang) dari Rp 300.000 hingga 1 juta. Sedangkan siswa per kelas dengan membelikan bahan bangunan yang dibutuhkan. Misal ada kelas yang menyumbang pasir, semen, triplek, seng dan batu air. Sesuai dengan kesepakatan kelas. Pada peletakan batu pertama, siswa MAN bergotongroyong bersama. Saat pengerasan lantai, nanti juga akan digoro dengan siswa. Penanggungjawab pembangunan rumah tersebut langsung kepala sekolah bersama Ketua Komite Tuanku Syamsuar S.Pd.I.

Ali Nurdin mengakui, Iqbal sering kelihatan termenung dan mengalami kesulitan konsentrasi saat belajar, seperti mengalami depresi. Sehingga seringkali pula bila kondisinya tidak mengizinkan belajar, dibiarkan pulang. Boleh jadi apa yang belum pantas dilihatnya di tengah rumah malam hari menjadi pemikiran berat sehingga mengganggu konsentrasi belajar.

Ketua OSIS Agung Irawan pulang dari menyaksikan rumah Iqbal langsung mengadakan rapat pengurus OSIS. Pemikiran untuk turut membantu beban Iqbal dapat dukungan semua pengurus. Makanya seluruh pengurus OSIS bekerja saat peletakan batu pertama. Setidaknya 90 persen siswa MAN Lubuk Alung sudah mengunjungi rumah Iqbal sebagai bentuk solidaritas.

Berbeda dengan Sekretaris OSIS Intan, saat peletakan batu pertama dalam dirinya terucap ternyata keluarga itu tidak hanya keluarga kandung, di rumah. Masih ada keluarga lagi, yakni rasa keluarga yang ditumbuhkan sekolah. Hari itu, keluarga kami yang tidak punya rumah yang layak, dibuatkan rumah oleh keluarganya bersama-sama. "Inilah bentuk syukur saya sekolah di madrasah ini. Belum tentu di sekolah lain akan saya temui bagaimana menumbuhkan rasa "keluarga" sesama siswa ini. Terutama jika sekolah SMA. Di madrasah ini nilai-nilai Islam yang memiliki rasa sosial, bersyukur dan selalu berbuat kebaikan sesama selalu ditumbuhkan. Antar guru pun terlihat ada kepedulian sehingga kami juga termotivasi," tambah Intan alumni SMPN 2 X 11 Enam Lingkung ini. (Armaidi Tanjung)

Foto: Foto bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat Drs. Salman, MM usai peletakan batu pertama pembangunan rumah Iqbal, 3 September 2015

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pemurnian Aqidah, Nusantara IPNU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi

Jakarta, IPNU Tegal. Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya harus dijadikan momentum untuk bersih-bersih, termasuk membersihkan korupsi dan perilaku korup lainnya.

“Kini saatnya untuk bersih-bersih, termasuk bersih-bersih dari korupsi dan perilaku korup,” kata Gus Dur di kantor DPP PKB, Kalibata, Jakarta, Kamis (8/2), saat melepas rombongan Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI yang akan meninjau korban banjir di sejumlah lokasi.

Menurut Gus Dur, banjir yang melanda ibukota dan menelan sejumlah korban jiwa dan harta tidak sekedar persoalan gejala alam, melainkan juga akibat salah urus yang disebabkan praktik korupsi dan perilaku korup.

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi

Sementara itu Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar saat meninjau korban banjir di Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan, menyatakan setuju dengan gagasan relokasi warga yang bermukin di kawasan potensial banjir.

“Tentunya tempat relokasi tersebut tidak jauh beda dengan Jakarta. Jadi perlu dibuat semacam kota mandiri,” kata Muhaimin yang juga Wakil Ketua DPR RI tersebut.

IPNU Tegal

DPR RI, katanya, saat ini juga mengintensifkan komunikasi dengan DPRD DKI. Selain itu, DPR juga meminta Pemda DKI mengalokasikan dana-dana yang sangat tidak efektif untuk difokuskan pada korban banjir.

FKB DPR RI kemarin menyerahkan bantuan berupa 5 ton beras, 1.500 box susu balita balita, 500 dus biscuit, 300 paket pakaian anak-anak, alat kebersihan, paket pakaian dalam, selimut, dan lain-lain. Bantuan senilai Rp 100 juta yang dikumpulkan dari iuran anggota FKB tersebut dilepas oleh Gus Dur selaku Ketua Dewan Syura DPP PKB. (nam/ansor/uji)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Nusantara IPNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Menag: Siswa Madrasah Wajib Jaga Diri, Jaga Negeri

Yogyakarta, IPNU Tegal



Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tahun 2017 di Stadion Krida Mandala.

Di hadapan ribuan siswa madrasah, Menag mengingatkan kewajiban mereka untuk menjaga diri dan menjaga negeri. Caranya pelajar menjaga diri dan negeri adalah dengan prestasi.

Menag: Siswa Madrasah Wajib Jaga Diri, Jaga Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Siswa Madrasah Wajib Jaga Diri, Jaga Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Siswa Madrasah Wajib Jaga Diri, Jaga Negeri

“Terus berprestasi, hingga kalian menjadi seorang ahli. Bukan ahli yang lupa diri tetapi seorang ahli yang senantiasa mawas diri. Bukan ahli yang tidak berbakti tetapi seorang ahli yang siap mengabdi pada ibu pertiwi.

Bukan ahli yang tidak punya empati tetapi seorang ahli yang paham toleransi, selalu bergandeng tangan demi bangsa,” pekik Menag diiring tepuk tangan para siswa, Senin (7/8) sebagaimana diberitakan Kemenag.go.id.

Menag mengatakan, bangsa ini menaruh harapan besar kepada para siswa madrasah. Sebab, mereka adalah ? calon pemimpin bangsa masa depan.?

IPNU Tegal

“Pemimpin yang tidak sekedar mampu mengaplikasikan teknologi tetapi juga ? mengaplikasikan iman, taqwa dan cinta tanah air untuk menjaga keutuhan bangsa,” ucapnya.

IPNU Tegal

Menurut Menag AKSIOMA dan KSM merupakan kegiatan rutin Kementerian Agama ? dalam rangka mengaktualisasikan potensi siswa madrasah. Lebih dari itu, event ini menjadi ajang mereka untuk saling mengenal satu sama lain.

“Sehingga, tidak hanya potensi intelektulitas dan sportivitasnya saja yang terasah tetapi sekaligus integritas mereka juga ikut terlatih ketika mereka bertemu dan saling belajar satu sama lainnya,” ucap Lukman Hakim.

Para peserta datang bukan ingin ? menunjukan kemampuan dengan jumawa dan merasa ? paling digdaya, tetapi ingin menunjukkan bahwa inilah kami anak madrasah di negeri ini yang siap berkompetisi untuk maju bersama saling bersinegi demi ibu pertiwi.

Tampak hadir dalam pembukaan ini, Wakil Gubernur DI Yogyakarta dan jajaran Pemerintah Daerah, Dirjen Pendidikan Islam ? dan Irjen Kemenag RI beserta Kakanwil se-Indonesia. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara, RMI NU IPNU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah

Kudus, IPNU Tegal. Pengurus Wilayah nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa tengah  menilai sertifikasi ulama dan dai sebagai bentuk sikap kebingungan pemerintah dalam penanganan aksi radikal maupun teroris Oleh karenanya, Nahdlatul Ulama secara tegas menolak sertifikasi ulama atau dai yang diwacanakan Badan nasional penanggulangan terorisme (BNPT) tersebut.  

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah

"Bila yang menjadi kerisauan pemerintah adalah dai  yang menimbulkan keresahan dan mendorong terjadinya radikal atau teror, tangkap saja! Apalagi  jumlahnya tidak banyak dan orangnya itu-itu saja," kata Ketua PWNU Jateng KH Moh Adnan, dalam acara Halal bi halal Badan Pelaksana Pendidikan Hasyim Asyari Kudus, Selasa (11/9).

Ia mengatakan ide BNPT ini membingungkan berbagai kalangan karena di masyarakat banyak sebutan dan kategori tokoh ulama maupun juru dakwah seperti dai panggung, khotib, dai radio atau tv, dan lainnya 

IPNU Tegal

"Jika semua juru dakwah diseragamkan harus bersertifikasi, korbannya akan bertambah banyak dari pada target untuk mengawasi atau membatasi gerakan dakwah orang-orang yang memprovokasi," tandas KH Moh Adnan.

IPNU Tegal

Di depan ratusan guru madrasah tersebut, KH Adnan menegaskan peranan dan posisi Nahdlatul Ulama terhadap nasib Bangsa. Dikatakan, NU dari masa ke masa selalu tampil di depan dalam menjawab persoalan bangsa.

"Termasuk saat muncul radikalisme dan terorisme, Nahdlatul Ulama tampil dengan mengusung konsep Islam rahmatal lil alamin," tandasnya.

Tetapi. ketika bangsa menghadapi problem multi komplek belakangan ini, imbuhnya, posisi NU sepertinya mengalami pergeseran tidak memahami atau mengambil inisiatif memecahkan persoalan kecuali secara parsial.

"Kalau  indonesia ini tidak menyelesaikan masalahnya dan Nu tidak memiliki kemampuan sebagaiamana yang dicatat sejarah, saya tidak hanya khawatir nasib NU melainkan juga nasib bangsa ini,"tegasnya..

Usai berceramah pada acara yang bertempat di aula MANU Hasyim Asyari 2 Karangmalang Gebog Kudus ini, KH.Moh Adnan mengunjungi kampus Akademi Kebidanan Muslimat NU di jl Lambao Bae Kudus. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Tegal, PonPes, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Kirab Satu Suro, Napak Tilas atau Perayaan?

Solo, IPNU Tegal. Di momentum peringatan malam satu suro tahun ini (24/10), Langit Kota Solo pada malam itu tampak cerah. Warga pun mulai berdatangan untuk menyaksikan sebuah tradisi tahunan yang biasa digelar tiap pergantian tahun Hijriah ini.

Rombongan kirab mulai berjalan dengan formasi rombongan kerbau berada di barisan depan. Di belakangnya mengiringi rombongan yang membawa pusaka dan lainnya. Mereka berangkat dari Kori Kamandungan menuju Brojonolo.

Kirab Satu Suro, Napak Tilas atau Perayaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Satu Suro, Napak Tilas atau Perayaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Satu Suro, Napak Tilas atau Perayaan?

Pengageng Kusuma Wandawa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Puger, mengatakan peringatan malam satu suro ini dilakukan seperti biasa.

IPNU Tegal

“Seperti biasa untuk memperingati Tahun Baru Islam, kerbau dan pusaka dikirab. Dalam perjalanannya budaya ini kan milik semua orang, termasuk kirab ini juga milik semua masyarakat,” kata dia, di sela-sela acara.

IPNU Tegal

Menurut keterangan dari salah satu buku yang dikeluarkan dari Keraton Kasunanan Surakarta, tujuan kirab satu suro ini digelar salah satunya untuk mengingat kembali prosesi perpindahan keraton dari Pajang (Kartasura) ke Solo (Surakarta).

Adapula, versi yang menerangkan bahwa kirab dengan diiringi kerbau ini merujuk pada hal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. ketika memilih tempat untuk dibangun Masjid Nabawi, dengan menggunakan unta al-Qoswah.

“Saya pernah baca di buku Keraton kalau kerbau itu yang menjadi cucuk lampah perpindahan dari Kartasura ke Surakarta,” ungkap Wakil Ketua PCNU Sukoharjo, Sofwan Faisal Sifyan.

Namun, menurutnya tradisi kirab ini hanya sebatas "perayaan" bukan napak tilas. “Kalau napak tilas tentunya dari Kartasura ke Surakarta,” ujarnya.

Meski demikian, Sofwan tetap berharap agar tradisi ini tetap dilestarikan, dengan memperbaiki kekurangan dan penyimpangannya serta mengakomodasi tradisi baru yang lebih baik.

“Soal ada penyelewengan keyakinan rebutan kotoran kerbau, ya itu wajib diluruskan orang-orang terdekat dan bukan dilenyapkan begitu saja,” tegasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara, AlaSantri, Nasional IPNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

LBH Ansor DIY Buka Posbakum

Yogyakarta, IPNU Tegal. Lembaga Bantuan Hukum LBH Ansor bekerjasama dengan Pengadilan Negeri Sleman dan Pengadilan Agama Sleman menyelenggarakan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di Pengadilan Negeri Sleman dan Pengadilan Agama Sleman bagi masyarakat miskin.

LBH Ansor DIY Buka Posbakum (Sumber Gambar : Nu Online)
LBH Ansor DIY Buka Posbakum (Sumber Gambar : Nu Online)

LBH Ansor DIY Buka Posbakum

Menurut Direktur LBH Ansor, Agus Suprianto, Posbakum merupakan program pemberian bantuan hukum cuma-cuma yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin yang sedang berhadapan dengan hukum melalui Organisasi Bantuan Hukum yang terakreditasi sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 16 tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2013.

LBH Ansor sendiri merupakan salah satu organisasi bantuan hukum yang mendapatkan akreditasi “A” di Indonesia oleh Kementerian Hukum dan HAM RI dan merupakan satu-satunya organisasi bantuan hukum yang terakreditasi “A” di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

IPNU Tegal

Menurut Kadiv Humas LBH Ansor Yogyakarta Muh. Jamal, warga yang ingin mendapatkan pelayanan Posbakum cukup mengajukan permohonan di Posakum PN Sleman/PA Sleman, dengan menyerahkan dokumen yang berkenaan dengan perkara hukum yang dihadapi dan mMelampirkan Surat Keterangan Miskin dari Lurah/Desa/Pejabat yang berwenang di tempat tinggal pemohon atau surat sejenis lainnya (Kartu Jamkesmas, Raskin, PKH, KPS, BLSM, dll).

Adapun jenis pelayanan yang disediakan antara lain konsultasi, pembuatan dokumen hukum (permohonan/gugatan, dll), pendampingan hukum baik di Pengadilan maupun di luar pengadilan. Waktu dan tempat pelayanan Senin-Kamis pukul 09.00-12.00 WIB di Pengadilan Negeri Sleman Jl. Merapi No.1, Beran.

IPNU Tegal

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul, Nusantara, Ahlussunnah IPNU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Oleh Nadirsyah Hosen

Allahu Akbar sekarang menjadi guyonan. Takbir sering diplesetkan jadi take beer. Ucapan Takbir sering dianggap sebagai ciri Islam garis keras, yang sedikit-sedikit teriak Takbir disela orasinya. Bahkan di masyarakat Barat istilah Takbir dikenal akibat para teroris meneriakkannya sebelum menjalankan aksi terornya.

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Tiba-tiba kita hidup di jaman dimana ucapan Takbir menjadi begitu disalahmemgerti dan dikelirutafsirkan, baik oleh umat Islam maupun oleh non-Muslim. Dan harus diakui pihak Muslim berkontribusi besar atas kesalahpahaman ini. Takbir menjadi sesuatu yang menakutkan atau malah menjadi bahan plesetan. Mari kita kembalikan makna Takbir yang sesungguhnya.

Takbir itu adalah membesarkan Allah. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Maha Besar dari apa? dari alam semesta ini, dari segalanya, termasuk dari berbagai problem yang kita hadapi, dari segala ucapan yang menghina, dari segala pembangkangan makhluk.

Saat kita memulai shalat dan mengucapkan Allahu Akbar, maka itulah garis pemutus anrara kita dan dunia. Kita miraj ke hadapan Allah lewat ucapan takbir. Kita tinggalkan semua urusan dunia, tak kita pikirkan urusan hutang piutang, beban berat kerjaan, bahkan jomblo pun tak lagi hirau nasib ngenesnya saat Allahu Akbar diucapkan memulai shalat.

IPNU Tegal

Kita besarkan Allah, kita kecilkan diri kita. Siapa yang bertakbir maka dia tidak akan punya sifat kibir alias takabur. Dia paham sesungguhnya bahwa dirinya tidak berarti apa-apa di depan kemahabesaran Allah. Keangkuhan diri musnah seketika bersama Takbir.

Yang terjadi sekarang sebaliknya, ucapan Takbir dipakai untuk membesarkan diri kita, dan mengecilkan pihak lain. Takbir maknanya bergeser seolah menjadi "lihatlah betapa kami mayoritas, kami berkuasa penuh, dan kami bisa bertindak apapun atas kalian".

?

IPNU Tegal

Takbir sekarang lebih ditujukan kepada mereka yang kita anggap sebagai musuh Allah ketimbang kita tujukan untuk muhasabah diri kita sendiri. Alih-alih membesarkan Allah, saat ini ucapan Takbir justru dipakai untuk menakbirkan diri kita sendiri. Naudzubillah.

Tiba-tiba ucapan Takbir menjadi menakutkan. Dipakai untuk melibas yang berbeda, digunakan untuk membenarkan tindakan apapun termasuk membully atau memfitnah pihak lain. Takbir seolah mewakili kemurkaan Allah, padahal Allah gak ada urusannya dengan kemarahan dan ketersinggungan kalian. Kata Gus Mus, "disangkanya kalau kalian marah, terus Allah yang al-Rahman dan al-Rahim itu juga pasti marah?"

Allah Maha Besar itu tidak menakutkan. Allah Maha Besar itu mengayomi semuanya di dalam kemahabesaranNya. Allah Maha Besar itu memberi hak hidup dan rejeki bahkan kepada mereka yang menentangNya. Allah Maha Besar itu tidak terhina sedikitpun jikalau semua penduduk dunia melecehkanNya. Tidak berkurang kadar keagunganNya sedikitpun kalau tak satupun mau menyembahNya.

Maka sesiapa yang mengucap Takbir, sejatinya dia akan merunduk dan merendahkan diriNya di depan kemahabesaran Allah. Yang mengucapkan Takbir dia akan merangkul semua makhluk ciptaan Allah. Yang ber-takbir akan mengakui bukan kita yang menentukan nasib sesama tapi hanya Allah!

Mari kita kembalikan makna Takbir ke makna yang hakiki, agar ucapan Takbir tidak dianggap simbol kekerasan umat dan menjadi guyonan belaka. Ucapan Takbir harus diletakkan secara proporsional agar kita dan semuanya sama-sama mengerti makna yang sebenarnya.***

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara, Ahlussunnah IPNU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Sambut Hari Santri, JQHNU Sumedang Gelar Semaan Al-Quran 30 Juz

Sumedang, IPNU Tegal. Beberapa hari menjelang Hari Santri Nasional (HSN), Pimpinan Cabang (PC) Jamiyyatul Qurra wal Hufaz (JQH) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat mengadakan semaan Al-Quran 30 Juz yang bertempat di Masjid Agung Sumedang, Kamis (19/10) malam. Semaan Al-Quran ini dimulai bakda isya dan direncanakan khatam jumat sore bakda asar. 

Sambut Hari Santri, JQHNU Sumedang Gelar Semaan Al-Quran 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, JQHNU Sumedang Gelar Semaan Al-Quran 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri, JQHNU Sumedang Gelar Semaan Al-Quran 30 Juz

Kegiatan semaan tersebut dipimpin langsung oleh para pengurus PC JQHNU Sumedang dan dihadiri oleh masyarakat dan santri-santriwati dari berbagai pesantren yang ada di Sumedang. 

Ketua PC JQH NU Sumedang, Ahmad Jauharudin, mengatakan bahwa simaan Al-Quran ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional yang dilaksanakan oleh PCNU Sumedang. Selain itu dengan digelarnya simaan Al-Quran 30 juz ini, kami turut memasyarakatkan Al-Quran sekaligus mengajak masyarakat untuk mencintai Al-Quran dan mempelajarinya.

Ahmad Jauharudin juga mengharapkan semoga semua rangkaian kegiatan HSN tahun ini dapat menjadi daya tarik masyarakat untuk terus bersemangat dalam menjaga keutuhan NKRI, bersemangat untuk menjadi santri yang mempelajari Islam yang Kaffah, Islam yang berlandasan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. 

IPNU Tegal

Sementara itu, ketua panitia peringatan Hari Santri Nasional Kabupaten Sumedang, Acep Komarudin Hidayat, mengatakan bahwa semaan Al-Quran merupakan kegiatan pertama dalam rangkaian kegiatan yang direncanakan oleh panitia HSN.

Semuanya ada tujuh kegiatan. Di antaranya ada halaqah, ziarah, dzikir, upacara HSN, kirab, dan penampilan panggung kreasi seni santri. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Sejarah, Nusantara IPNU Tegal

Rabu, 08 November 2017

Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya

Sumenep, IPNU Tegal - Bendera Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep kembali berkibar di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Para santri Annuqayah memborong juara dalam lomba pekan intelektual kebangkitan pelajar Indonesia.

Perlombaan digelar oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UM Surabaya pada Sabtu-Ahad (6-7/2). Terdapat 4 piagam yang berhasil diraih oleh santri Annuqayah.

Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Annuqayah Borong Juara Lomba di UM Surabaya

Pertama, juara 1 pidato bahasa Arab yang diraih Moh Rozy Zamroni. Ia adalah delegasi MA 1 Annuqayah.

IPNU Tegal

Delegasi MA Tahfidz Annuqayah Moh Danial Shafran juga tampil mengesankan. Ia berhasil menyapu bersih pidato Bahasa Inggris. Shafran merengkuh status pemenang, sama seperti Moh Rozy Zamroni, juara 1.

Selanjutnya Wahyu Afifurrahman juara 2 pidato Bahasa Arab, dan Moh Iqbal Ghulam Ahmad Afandi sebagai juara 2 pidato bahasa Inggris. Keduanya merupakan delegasi MA Tahfidz Annuqayah.

IPNU Tegal

"Alhamdulillah, kami berhasil memborong lomba di UM Surabaya. Semua ini diraih berkat dukungan kiai, para guru, dan semangat kompetitif dalam diri para juara. Semoga prestasi santri Pesantren Annuqayah terus melejit dan memberi kontribusi positif bagi bangsa ini," ujar pembina lomba Annuqayah Ustadz Romaiki Al-Hafidz. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pertandingan, Tokoh, Nusantara IPNU Tegal

Jumat, 15 September 2017

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita

Oleh Fathoni Ahmad

Ada anugerah melimpah ruah ketika bulan Dzulhijjah tiba. Umat muslim di seluruh dunia tidak hanya dihadapkan pada rukun Islam kelima yaitu menunaikan ibadah haji, tetapi juga dapat memetik ibadah penuh hikmah seperti puasa di bulan Dzulhijjah, puasa sunnah tarwiyah dan Arafah, serta memperingati hari besar kedua umat Islam, Idul Adha.?

Idul Adha juga familiar dengan sebutan Hari Raya Kurban, di mana umat Islam dalam momen tersebut ramai-ramai memberikan hewan kurban seperti kambing, kerbau, maupun sapi sebagaimana syariat Nabi Ibrahim as dan Ismail as. Ibrahim adalah orang yang sangat patuh kepada Allah. Contohnya ketika Allah menyuruh Ibrahim untuk menyembelih anaknya, tanpa ragu-ragu langsung dilaksanakan kemudian dipangggilnya Ismail untuk bermusyawarah.?

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita

Dari musyawarah itu Ismail setuju dirinya dijadikan kurban oleh ayahnya (QS as-Shaffat: 107), ketika Ismail dieksekusi oleh ayahnya, Ismail sabar dan pasrah kepada Allah. Nabi Ibrahim yakin tidak akan ada sebuah perintah dari Allah tanpa jaminan dari Allah. Buktinya benar bahwa sembelihan Ibrahim diganti dengan sembelihan kambing yang sangat besar, inilah cikal bakal adanya syariat kurban. Oleh karena itu marilah kita berkurban semoga Allah akan menggantinya dengan rezeki yang lebih besar.

Tuntunan kurban juga terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 2 yang menyatakan, Fashalli lirabbika wan har, “Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)".

IPNU Tegal

Makna kurban dalam ayat tersebut mempunyai beberapa dimensi karena muaranya adalah taqwa kepada Allah. Untuk mencapai derajat tersebut, manusia tidak mungkin hanya bermodal keshalehan vertikal kepada Tuhannya, melainkan mampu menumbuhkan keshalehan sosial kepada sesama manusia sebagai basis kekhalifahan di muka bumi. Dimensi yang dimkasud yaitu dimensi sosial dan spiritual.

Aspek sosial dalam ibadah kurban jelas terlihat ketika seorang hamba berbagi kebahagiaan terutama dengan masyarakat kurang mampu untuk dapat menikmati daging kurban, baik berupa sapi maupun kambing. Dimensi ini akan menyadarkan individu bahwa kepedulian terhadap sesama manusia mempunyai peran yang sangat penting untuk menumbuhkan keshalehan sosial pada diri pribadi maupun orang lain. Jadi dampak ibadah kurban bukan satu arah, melainkan saling timbal balik memunculkan kebaikan.

Tentu sempit jika kepedulian kepada sesama manusia dimaknai melalui kurban. Ibadah kurban hanya salah satu amal shaleh yang dianjurkan oleh Allah untuk mengambil pelajaran berharga dari historisitas luar biasa Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar. Ketiga orang mulia ini bahkan menjadi penuntun umat muslim dalam menjalankan tahap-tahapan ibadah haji selama ini. Sebagaimana diketahui, rukun haji seperti Sa’i dan lempar jumroh berasal dari riwayat sejarah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Namun, hendaknya dipahami secara substantif meskipun terwujud dalam bentuk simbol-simbol dalam ibadah haji.

Dalam momen Idul Adha ini, Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan teladan penghambaan terbaik manusia kepada Tuhannya. Sebab itu, ibadah haji dan kurban tidak hanya sebatas ritual saja, tetapi bagaimana menjadikan peristiwa Nabi Ibrahim dan hal-hal yang melingkupinya dijadikan instrumen berharga untuk menghamba kepada Allah, bukan justru menghamba pada ritual-ritual tersebut. Sehingga tak jarang ditemui orang yang berkali-kali menunaikan ibadah haji, tetapi justru tetangga sekitarnya mengalami kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup.?

Begitu juga dengan kurban, ibadah yang seharusnya mampu menjadi sebuah kebaikan alam bawah sadar manusia agar kepedulian terhadap sesama terus dipupuk di hari-hari berikutnya, namun lewat begitu saja sebagai sebuah ritus tahunan. Di titik inilah kurban benar-benar harus dijadikan penghambaan kepada Allah sehingga kurbanmu mampu menjadikan kurbanku dan kurban kita semua sebagai sebuah energi pendorong masyarakat untuk menghamba kepada Tuhan. Artinya, penerima daging kurban juga harus memiliki semangat berkurban di tahun berikutnya agar selamanya tidak menjadi penerima, tetapi pemberi.

IPNU Tegal

Kurban kontraproduktif

Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan beberapa ironi ibadah kurban secara demografi yang selama bertahun-tahun mengalami ketimpangan. Maksud ketimpangan di sini ialah, satu daerah sangat melimpah daging kurban sebagai akibat banyaknya hewan kurban dari orang-orang menengah ke atas yang memang jumlahnya tidak sedikit, misal di DKI Jakarta. Sebaliknya, di suatu desa di satu kabupaten banyak ditemukan masyarakat yang tidak dapat menikmati berkah Idul Adha dengan menerima daging kurban.?

Jika dibandingkan, satu RW di Jakarta dalam sebuah Mushollah dapat terkumpul hewan kurban melimpah ruah berupa belasan sapi dan kambing. Sebaliknya, satu RW di sebuah desa kerap hanya ditemukan satu ekor hewan kurban saja. Kondisi ini miris, karena ketika masyarakat desa juga membutuhkan keberkahan daging kurban, kuantitas daging kurban di kota justru melimpah sehingga yang terjadi banyak distribusi daging kurban yang tidak tepat sasaran.?

Terlihat utopis ketika daging kurban harus didistribusikan ke masyarakat desa dari kota. Namun, para pejabat dan pegawai pemerintah, orang terkenal/artis, serta orang kaya hendaknya dapat memberikan hewan kurbannya ke tempat kelahiran di daerahnya. Selama ini, yang kerap terjadi justru mereka ramai-ramai berkurban di kota bukan di tempat kelahirannya sehingga semangat kurban menjadi kontraproduktif dengan ruh kepedulian sosial sebab tidak menyentuh dan tepat sasaran.

Akhirnya, perlu diperhatikan bahwa ibadah kurban mempunyai beberapa pelajaran utama yang dapat dipetik. Pertama tentang penghambaan total Nabi Ibrahim dan keluarganya ketika harus mengorbankan anak tercintanya atas perintah Allah SWT. Sebab itu, ibadah haji dan kurban jangan hanya dimaknai sebagai ritual belaka, tetapi sebuah totalitas penghambaan kepada Allah.

Kedua, tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah pengorbanan Ismail oleh Nabi Ibrahim, di satu sisi manusia diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia--sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dulu--adalah hal yang diharamkan.

Ketiga, pelajaran yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya. Hal ini sama seperti ibadah haji yang harus dimaknai sebagai sebuah totalitas pengahambaan manusia kepada Allah, tidak dijalankan sebagai ritual tanpa makna sehingga predikat haji mabrur dapat diperoleh, yaitu keshalehan sosial seseorang meningkat drastis ketika kembali ke tengah masyarakat. ***

Penulis adalah Dosen STAINU Jakarta.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara IPNU Tegal

Kamis, 14 September 2017

IPNU-IPPNU Bikin Lembaga Outbond Lintang Songo

Malang, IPNU Tegal. Sekian Lama IPNU-IPPNU Kota Malang telah menggeluti dunia outbound dan sering diundang di berbagai instansi baik pada lembaga pendidikan maupun sosial. Pada Kamis (19/7/2012) IPNU Kota Malang meresmikan sebuah lembaga tim outbound dengan nama “Lintang Songo” setelah sebelumnya memiliki pengalaman dalam mengisi outbound di lembaga Pendidikan favorit STM Turen tanggal 3-6 Juli 2012 dengan jumlah peserta 459 siswa, MTs Hamid Rusydi 138 siswa dan banyak lagi. 

IPNU-IPPNU Bikin Lembaga Outbond Lintang Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bikin Lembaga Outbond Lintang Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bikin Lembaga Outbond Lintang Songo

Outbound Lintang Songo di bentuk dengan tujuan mengembangkan Sumber Daya Manusia terutama SDM yang ada dilingkungan Nahdlatul Ulama. Mufarrihul Hazin-Dikrektur Lintang Songo mengatakan “Lintang Songo merupakan lembaga outbound dari IPNU untuk NU dan Indonesia,” atur Farih yang menjadi sekretaris PC IPNU Kota Malang.

Lembaga Lintang Songo melayani indoor dan outdoor dan ada 7 garapan utama, adventur camp, caracter building, team building, communication, fun games. Dengan manajemen dan sistem yang bagus Lintang Songo Songo melayani NU dan Banomnya serta seluruh masyarakat Indonesia. Lintang songo memiliki 9 trainer dan 9 fasilitator.

IPNU Tegal

Dengan semangat belajar, berjuang dan bertqwa Lembaga Lintang Songo siap melayani dengan sepenuh hati. Lihat lebih lengkap di www.lintang9.co.cc. 

IPNU Tegal

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Nusantara IPNU Tegal

Jumat, 11 Agustus 2017

IPNU Probolinggo Ajak Remaja Nikah Usia Ideal

Probolinggo, IPNU Tegal

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) setempat terus berupaya membantu program pemerintah dalam Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP).

IPNU Probolinggo Ajak Remaja Nikah Usia Ideal (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Probolinggo Ajak Remaja Nikah Usia Ideal (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Probolinggo Ajak Remaja Nikah Usia Ideal

?

IPNU Kabupaten Probolinggo memberikan sosialisasi PUP kepada kalangan pelajar yang ada di Kecamatan Kuripan, Bantaran dan Sumber. Dalam kesempatan tersebut, IPNU mengajak para remaja untuk menikah pada usia yang ideal.

?

IPNU Tegal

Sosialisasi yang digelar pada Kamis, (25/2) di aula Kantor Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Kuripan ini diikuti oleh 100 orang pelajar. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala BPPKB Kabupaten Probolinggo Endang Astuti, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Kuripan Puja Kurniawan dan Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono bersama segenap pengurus.

?

Kepala BPPKB Kabupaten Probolinggo Endang Astuti mengungkapkan bahwa keberadaan IPNU sebagai organisasi yang mewadahi unsur remaja dan pemuda di NU ini bisa menjadi garda terdepan atau pioner dalam menyuarakan tentang usia perkawinan yang ideal sehingga tidak sampai terjadi pernikahan dini.

IPNU Tegal

?

“Penyebab pernikahan dini itu tidak hanya dari faktor orang tua saja, tetapi juga kalangan remaja yang kurang ada motivasi diri dalam hal pendidikan. Jika remaja mempunyai semangat menempuh pendidikan, maka orang tua pasti akan memberikan dukungan,” katanya.

?

Menurut Endang, hingga akhir tahun 2015 angka pernikahan dini di tiga kecamatan ini sangat tinggi. Di Kecamatan Bantaran tercatat 187 pernikahan dini dari total 325 pernikahan atau 57,54%, Kuripan 149 pernikahan dini dari total 225 pernikahan atau 66,22% dan Sumber 118 pernikahan dini dari total 163 pernikahan atau 72,39%.

?

“Jika remaja bisa menunda perkawinan dan mengutamakan pendidikan, maka mereka mempunyai peluang untuk menjadi pelaku di dalam pembangunan. Apalagi usia remaja adalah masa investasi dalam meningkatkan pendidikan,” tegasnya.

?

Sementara Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono mengungkapkan sosialisasi ini diberikan dengan harapan pelajar yang merupakan bagian dari remaja bisa memahami tentang pentingnya menikah di usia yang ideal.

?

“Tujuannya adalah memberikan pemahaman kepada para remaja agar bisa menunda perkawinan sampai usia benar-benar matang untuk memasuki bahtera rumah tangga. Banyak ujian yang akan dihadapi dalam berumah tangga, maka jika belum siap tentunya akan berdampak kepada perceraian. Inilah pentingnya menikah pada usia ideal dan matang,” katanya.

?

Menurut Eko, salah satu upaya agar remaja tidak menikah pada usia dini adalah dengan meningkatkan motivasi dan semangat menuntut ilmu.

?

“Semoga melalui kegiatan ini, para remaja ini mampu menjadi media pembaharu dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang usia nikah yang ideal,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara IPNU Tegal

Mbah Suyuthi, Kiai Kampung yang Rendah Hati

Pati, IPNU Tegal. Almaghfurlah KH Ahmad Suyuthi merupakan sosok kiai yang alim tetapi rendah hati. Kontribusinya dalam forum Sidang Syuriah Bulanan di pendopo maqbaroh Syeikh KH Ahmad Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, diakui para ulama dan tokoh masyarakat. Khususnya ketika PCNU dipimpin oleh sahabat karibnya, KH Suyuthi Abdul Qodir, Pendiri Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan.

Mbah Suyuthi, Kiai Kampung yang Rendah Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Suyuthi, Kiai Kampung yang Rendah Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Suyuthi, Kiai Kampung yang Rendah Hati

Katib Syuriah KH Abdul Hadi Kurdi menceritakan hal tersebut kepada IPNU Tegal usai pengajian dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul KH Ahmad Suyuthi ke-27 di Masjid Sabilal Muhtadin Langgenharjo-Margoyoso-Pati, (19/1) Ahad malam. Dalam perjalanan menggunakan mobil panitia menuju kediamannya, Kiai Hadi menceritakan sekelumit cerita tentang peran Mbah Suyuthi di ormas Nahdlatul Ulama.

“Ketika saya ditunjuk Kiai Suyuthi Guyangan menjadi Katib Syuriah pada tahun 1978, waktu itu saya masih lajang, saya sering satu majlis dengan Kiai Suyuthi Langgen. Beliau sangat aktif saat sidang syuriah di Kajen,” ujar Kiai Hadi mengawali ceritanya.

IPNU Tegal

Menurutnya, Mbah Suyuthi merupakan salah satu kiai kampung yang bersahaja dan kharismatik. Senada dengan Kiai Hadi, salah seorang santri yang kini menjadi guru senior di Guyangan, Kiai Muhammad Salim, menyatakan bahwa penguasaan Mbah Suyuthi terhadap kitab kuning sangat mumpuni. “Kiai Suyuthi itu orang alim. Beliau itu ‘macan’ bagi masyarakat Langgen dan sekitarnya,” ujar Kiai Salim suatu ketika.

Ada cerita menarik tentang Mbah Suyuthi dari putranya yang kelima, Kiai Moh Asrori (67). Suyuthi muda awalnya menimba ilmu kepada KH Syamsul Hadi di daerah Pati selatan, tepatnya di Desa Sumberejo Kecamatan Jaken, 25 kilometer tenggara kota Pati. Karena kecerdasannya, oleh sang guru Suyuthi disarankan melanjutkan ngaji kepada Hadratusy Syaikh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng. Di sana, Suyuthi Langgen berjumpa Suyuthi Guyangan.

IPNU Tegal

Anehnya, lanjut Asrori, Mbah Suyuthi kembali mondok lagi di Sumberejo, tempat pertamanya menuntut ilmu. Suatu ketika, usai ngaji kitab di serambi masjid, Mbah Syamsul Hadi yang ketika mengajar ngaji kerap membawa serta putri pertamanya, Sholihati. Mbah Syamsul lalu bertanya kepada Sholihati yang duduk di pangkuannya. “Nduk, siapa yang kamu pilih sebagai calon suamimu?” Sholihati yang masih kecil dan lugu tiba-tiba mengarahkan jari telunjuk mungilnya tepat ke arah Suyuthi muda.

Singkat cerita, pernikahan antara Suyuthi dan Sholihati yang saat itu berusia 9 tahun pun dilaksanakan. Meski demikian, Suyuthi tetap melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke beberapa pesantren di Rembang dan Jombang. Sholihati kecil dengan setia menunggu kedatangan sang suami dengan menyimpan telur ayam untuk bekal kembali ke pondok. Hal ini dilakukannya untuk membantu meringankan sang suami dalam mencari ilmu.

Setelah Nyai Sholihati cukup usia untuk diajak membangun rumah tangga, diboyonglah sang istri menuju kampung halamannya di Langgenharjo usai boyongan dari pesantren. Hal ini dilakukan Mbah Suyuthi setelah dipanggil pulang kedua kakaknya, Haji Abdus Shomad dan Haji Markhaban, untuk menyebarkan agama Islam. Pasalnya, kakak pertama yang menjabat petinggi desa (birokrat) dan kakak kedua yang anggota militer itu bersepakat jika sang adik bungsu menjadi tokoh agama di kampungnya.

Dari pernikahannya dengan Nyai Sholihati, Mbah Suyuthi dikaruniai delapan orang putra dan putri: Moh Ma’shum, Ummi Kaltsum, Asiyah, Romlah, Moh Asrori, Moh Asyhari, Moh Asy’ari, dan Moh Masykuri. “Yang saya tidak habis pikir, kenapa bapak tidak mendirikan pesantren. Padahal, kealiman beliau sangat diakui. Peninggalan beliau itu ya masjid Langgen yang kini telah direhab total itu,” ujar Kiai Asrori.

Ketika ditanya mengapa Mbah Suyuthi tidak mendirikan pesantren sebagaimana sahabat karibnya, KH Suyuthi AQ, yang mendirikan Pesantren Raudlatul Ulum di Guyangan, Asrori menjawab bahwa Mbah Suyuthi merasa tidak layak membangun pesantren lantaran sudah ada di Guyangan dan Kajen. Rasa ta’dzimnya kepada KH Suyuthi Guyangan dan KH Abdullah Salam Kajen membuat Mbah Suyuthi menempuh jalan lain.

Meski demikian, lanjut bapak lima anak ini, Mbah Suyuthi menekankan kepada anak cucunya untuk rajin mengaji dan belajar agar bisa berkhidmat kepada masyarakat. Jalan khidmat itu, bagi Mbah Suyuthi sebagaimana dikutip Asrori, tidak hanya melalui pesantren. Tetapi bisa juga melalui masjid, madrasah, atau lembaga pendidikan lainnya.

Di akhir penelusuran sejarah perjuangan Mbah Suyuthi dalam ngemong masyarakat inilah Wakil Rais Syuriah PCNU Pati KH Abdul Hadi secara khusus berpesan agar anak cucu ulama yang wafat akhir tahun 1982 itu melanjutkan jalan spiritualnya yang sunyi. “Saya salut atas kesederhanaan dan sikap rendah hati beliau. Pesan saya, lanjutkan rintisan Kiai Suyuthi,” pungkasnya. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

 

Foto: Mbah Suyuthi dan Nyai Sholihati

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara, Pahlawan, Sejarah IPNU Tegal

Rabu, 26 Juli 2017

NU Baru Tetapkan 11 Oktober, Muhammadiyah Pasti 12 Oktober

Jakarta, IPNU Tegal

Nahdlatul Ulama (NU) baru akan menetapkan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri 1428 H pada 11 Oktober 2007. Berbeda dengan ormas Islam terbesar di Indonesia itu, Muhammadiyah sejak dini sudah memastikan Lebaran jatuh pada Jumat 12 Oktober 2007.



NU Baru Tetapkan 11 Oktober, Muhammadiyah Pasti 12 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Baru Tetapkan 11 Oktober, Muhammadiyah Pasti 12 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Baru Tetapkan 11 Oktober, Muhammadiyah Pasti 12 Oktober

Ketua Umum Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah NU KH Ghazalie Masroerie mengatakan, sikap NU tersebut karena masih akan menunggu sidang isbat (penentuan) yang akan diselenggarakan oleh Departemen Agama (Depag) pada 11 Oktober 2007 mendatang.

"NU belum bisa menetapkan, NU baru bisa menetapkan itu setelah dilakukan sidang isbat bersama sejumlah organisasi Islam lainnya di Depag," ujar Kiai Ghazalie—begitu panggilan akrabnya, Jumat (21/9).

IPNU Tegal

Dalam sidang isbat, Depag akan menggunakan metode dari berbagai cara termasuk menggunakan rukyat (melihat bulan) dan hisab (perhitungan astronomi). "Setelah itu, baru NU bisa menetapkan, namun kalau Depag dalam penetapannya berbeda dengan cara NU, maka NU tidak akan mengikuti pemerintah," terangnya.

IPNU Tegal

Namun, saat disinggung apakah nantinya hasil sidang isbat akan sama dengan yang ditetapkan oleh Muhammadiyah, Kiai Ghazalie mengatakan, bisa saja sama. Namun dirinya belum bisa memastikan karena metode yang digunakan berbeda. "Kita juga mengharapkan adanya persamaan dalam penetapan Idul Fitri 1428 H," terangnya.

Sebelumnya, Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri 1428 H pada 12 Oktober. Pernyataan ini dimuat dalam maklumat PP Muhammadiyah nomor: 03/MLM/1.0/E/2007. Dalam penetapan ini, Muhammadiyah menggunakan metode hisab.

Berikut isi rilis yang menetapkan Idul Fitri 1428 H tersebut:

"Setelah sebelumnya sempat dinyatakan H. Muchlas Abror di tengah materi pertama Pengajian Ramadan 1428 H, selasa 18 September malam, penetapan Muhammadiyah untuk satu syawal 1428 H? terbit dalam bentuk maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor : 03/MLM/1.0/E/2007.

"Terbitnya maklumat ini sempat disingung dalam pidato penutupan pengajian Ramadan yang disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir. Menurutnya, maklumat ini memang sengaja terbit tidak bersamaan dengan penetapan awal Ramadhan, dan tidak perlu dipermasalahkan. (rif/okz/sm)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Aswaja, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 18 Juli 2017

Muslimat NU Ngawi Minta Pemerintah Perkuat Islam Damai

Ngawi,? IPNU Tegal

Muslimat NU Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, meminta pemerintah agar mendukung dan memperkuat keberadaan Islam damai di kabupaten tersebut. Sebab letak kabupaten tersebut berdekatan dengan daerah tetangga yang memiliki organisasi “Islam bernuansa radikal.”

Muslimat NU Ngawi Minta Pemerintah Perkuat Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Ngawi Minta Pemerintah Perkuat Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Ngawi Minta Pemerintah Perkuat Islam Damai

Hal itu disampaikan Ketua Muslimat NU Ngawi Hj Rozinatul Malikhah selepas khataman Al-Qur’an di Pendopo Kabupaten Ngawi Ahad (13/3) sebagai tasyakuran terpilihnya bupati dan wakil bupati periode kedua.

Muslimat NU, kat dia, berharap mereka berdua diberi kekuatan oleh Allah SWT dalam menjalankan amanah sehingga masyarakat Ngawi merasakan kesejahteraan, Ngawi ramah.

IPNU Tegal

Terkait dengan permintaan Muslimat untuk dukungan Islam damai, menurut dia, kondisi Ngawi berdekatan dengan Sragen dan Solo yang terdapat pusat kelompok berpaham radikal.

“Kita juga minta kepada Bupati dan Wakil Bupati untuk ikut terlibat dalam menerapkan ajaran Islam damai, Islam Ahlussunah wal-Jamaah yang tidak suka menjelek-jelekkan kegiatan ataupun ritual organisasi lain,” ungkapnya.

IPNU Tegal

Bagi Muslimat NU, terpilihnya kembali Budi Sulistiyono dan Ony Anwar sebagai bupati dan wakil bupati menjadi harapan terwujudnya keinginan itu.

Harapan dilakukan Muslimat dengan pembacaan Al-Qur’an oleh 50 orang penghafal. Mereka disebar di beberapa tempat, 20 orang? mengaji di pendopo utama, 15 di ruangan kesenian Pemkab, 15 sisanya di masjid pemkab. Para penghafal mengaji secara bergiliran diikuti dengan para mustami’in.

Pada penutupan, Wakil Bupati Ony Anwar mengapresiasi sekaligus berterima kasih atas doa dan dan kepercayaan perempuan-perempuan NU tersebut.

Turut hadir para kiai NU, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB), PKK, istri bupati, Antik Budi Sulistiyono, dan beberapa pejabat publik lainya. (Ali Makhrus/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pemurnian Aqidah, IMNU, Nusantara IPNU Tegal

Senin, 05 Juni 2017

Kader Remaja GP Ansor Ini Raih Juara Mingguan Video Pendek Keindonesiaan

Jakarta, IPNU Tegal - Yudha Iswanto muncul sebagai salah seorang dari tiga pemenang mingguan Periode 6 November-12 November 2017 sayembara video pendek yang diselenggarakan oleh XL Axiata, AJI Kota Solo, dan Rumah Blogger. Kader GP Ansor yang masih belia ini ditetapkan oleh dewan juri sebagai pemenang kontes pesan instagram mingguan.

Alumnus Program Magang Multimedia di IPNU Tegal ini berhak mendapatkan satu buah Powerbank 16000 mah.

Kader Remaja GP Ansor Ini Raih Juara Mingguan Video Pendek Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Remaja GP Ansor Ini Raih Juara Mingguan Video Pendek Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Remaja GP Ansor Ini Raih Juara Mingguan Video Pendek Keindonesiaan

Pembukaan sayembara dibuka sejak tanggal 28 Oktober-24 November 2017. Sayembara diadakan kurang lebih hanya tiga pekan. Dewan juri akan mengumumkan juara umum pada tanggal 24 November 2017.

IPNU Tegal

Para pemenang nanti tidak diambil dari tiga pemenang mingguan yang diumumkan dewan juri. “Nggak juga (diambil dari pemenang mingguan), tapi (pemenang mingguan) berkesempatan lebih besar,” kata Yudha Iswanto, salah seorang peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan aktivis GP Ansor Kebayoran Lama Jumat-Ahad (20-22/10).

Dewan juri menyiapkan uang sebesar Rp 10.000.000 untuk pemenang I, Rp 5.000.000 untuk pemenang II, Rp 3.500.000 untuk pemenang III, dan Rp 1.500.000 untuk lima pemenang harapan.

IPNU Tegal

Panitia meminta peserta sayembara minimal caption tiga paragraf. Pesan dalam keterangan (caption) yang diminta berisi antara lain (1) ajakan untuk bijak dalam menyikapi pesan negatif seperti ajakan bermusuhan, ujaran kebencian; (2) pandangan/sikap/opini tentang pesan-pesan dan/atau informasi negatif; (3) cara menyikapi pesan bernada hasutan, ajakan permusuhan; (4) cara menyeleksi pesan dan tindakan yang akan dilakukan; dan (5) tanggapan atau opini yang relevan dengan tema lomba.

Yudha mengangkat video pendek bertema Tolak Khilafah, Cintai NKRI yang menayangkan seorang pelajar yang terpapar ideologi Negara Islam dengan memasang pamflet bertuliskan kalimat tauhid. Setelah menyaksikan video testimoni para veteran pergerakan atas aspirasi sebagian mahasiswa yang menyarakan khilafah islamiyah, pelajar ini tersadar dan kemudian mengganti pamflet itu dengan poster Pancasila.

Silakan buka videonya di link ini: Tolak Khilafah, Cintai NKRI

“Ideologi Pancasila sudah paling tepat, karena kita memerjuangkan negara ini bersama-sama dan bukan satu kaum saja,” kata kader GP Ansor yang masih duduk di bangku kelas III SMKN 40.

Menurutnya, dalam tulisan-tulisan Gus Dur yang tersebar di Majalah Aula NU tahun 1990-an, dikatakan bahwa “Ketuhanan Yang Esa” merupakan konsep tauhid dalam Islam sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolak  Pancasila.

“Jika para ulama ikut merumuskan Pancasila, kenapa kita harus meragukannya?” kata Yudha.

Biasanya mereka menggunakan kata "Orang Yang Tidak Berhukum dengan Hukum Allah" dan dijelaskan pendapat-pendapat mereka disebar banyak akun di media sosial untuk mempengaruhi pemahaman kita.

“Jika kamu menemukan post seperti itu, janganlah mempercayai dan menyebarnya. Jangan biarkan perbedaan suku, ras, dan agama memperpecah-belah kita. Toh, Rasulullah SAW mendirikan negara Madinah yang berbeda suku dan agama,” tulis Yudha dalam akunnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nusantara IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock