Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Al-Manshur Tantang Walisongo di Final LSN Jateng 3

Solo, IPNU Tegal - Kesebelasan Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Klaten berhasil melenggang ke babak final di Liga Santri Nusantara (LSN) U-18 Region Jateng 3 Zona Soloraya. Hasil tersebut diperoleh setelah mereka berhasil mengalahkan tim dari Boyolali, Al-Ikhlas Dawar dengan skor telak 5-0, pada laga yang digelar di Stadion Kotta Barat, Senin (29/8).

Gol-gol kemenangan Al-Manshur dicetak dari kaki M. Baidlowi di menit ke-5 dan 57’, Rahmadani (37’), Wahidin (50’), dan Rico Diman (56’). Hasil ini mengantar tim Al-Manshur melaju ke final, melawan sang juara bertahan Pesantren Walisongo Sragen.

Al-Manshur Tantang Walisongo di Final LSN Jateng 3 (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Manshur Tantang Walisongo di Final LSN Jateng 3 (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Manshur Tantang Walisongo di Final LSN Jateng 3

Sementara itu, tim sepakbola Pondok Pesantren Walisongo Sragen juga berhasil melenggang ke partai puncak, dengan skor yang cukup meyakinkan, 5-0. Masing-masing gol dicetak di Akbar Ramadhani (2 gol), Aldino Salva, Dicky Yuana dan Orananda Endar Aji.

Kemenangan Walisongo ini sudah diprediksi sebelumnya mengingat tim ini masih jadi unggulan lantaran berstatus sebagai juara bertahan Jawa Tengah musim lalu.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Berbeda dengan musim lalu yang langsung maju ke level nasional setelah jadi kampiun. Musim ini Jawa Tengah dibagi tiga region. Region 1 meliputi wilayah Brebes, Pemalang, Pekalongan, Batang, dan Cilacap. Region 2 wilayah Kendal, Semarang, Kudus, Demak, Jepara, Blora, dan Pati. Sedangkan Region 3 dipertandingkan di dua wilayah yakni Soloraya dan Magelang (eks Karesidenan Kedu).

“Sistem pertandingan berbeda dengan tahun lalu. Target kami jelas masuk putaran nasional. Tim yang menjadi juara di Region 3 akan bertanding lebih dulu dengan kampiun Magelang. Kabarnya kemungkinan besar level nasional digelar di Solo. Ini akan menjadi keuntungan bagi kami,” papar manajer Walisongo, Mustawa.

Namun demikian, Walisongo mesti menjadi pemenang di Region 3 terlebih dulu. “Juara Soloraya nanti akan bertanding melawan juara dari Magelang Raya, setelah itu pemenangnya berhak lolos ke babak 32 besar nasional,” imbuh Koordinator Liga Santri Nasional Region 3 Jateng, Abil Khoirudin. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Warta IPNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Jakarta, IPNU Tegal. Pendidikan agama saat ini masih terhenti pada pengajaran ilmu agama, belum mencapai internalisasi nilai.? Pendidikan agama masih lebih terfokus pada aspek afektif, bukan kognitif.

“Pendekatannya masih pada a’malul jawarih (gerak tubuh), tidak sampai a’malul qulub (ketergerakan hati: red),” kata Mustasyar PBNU KH Tholchah Hasan, ketika menjadi narasumber dalam Temu Pakar Pendidikan Islam: Deradikalisasi, Multikultural, Wawasan Kebangsaan, serta PenguatanAkhlakul Karimah, di Jakarta, Senin (24/9).

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Dalam kesempatan itu, Kiai Tholchah mempertanyakan pencapaian pendidikan agama selama ini. “Banyaknya perilaku menyimpang di kalangan pemuda pelajar, seperti radikalisasi, narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas, memunculkan pertanyaan tentang sampai di mana capaian dan pengaruh pendidikan Islam terhadap perubahan perilaku dan sikap peserta didik di sekolah,” ujarnya.

IPNU Tegal

Menurutnya, tidak semua guru agama di sekolah mempunyai kelayakan mengajar agama, baik dari segi penguasaan bahan ajar, performa dalam menjalankan tugas, maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu adanya pembekalan berkesinambungan bagi peguatan penguasaan guru terhadap materi ajar.

IPNU Tegal

“Guru agama selama ini lebih mencerminkan dirinya sebatas sebagai pendidik professional, tidak bisa menjadi pendakwah yang bertanggungjawab terhadap pendidikan spiritual,” katanya.?

Menurut Kiai Tholchah, di luar kompetensi pendidik yang diatur dalam PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khusus guru agama, harus ada 2 kompetensi yang dikuasai, yaitu: leadership dan spiritual. Jika tidak ada 2 kompetensi ini, pendidikan agama di sekolah terasa kering.

Ditambahkan, guru agama selama ini juga kurang menggunakan soft-skill secara kreatif sehingga sulit dalam membentuk lingkungan keagamaan yang mendukung. Selain itu, apresiasi dan dukungan komunitas sekolah juga sering kurang memadai. Akibatnya fasilitas dan sarana pembelajaran pendidikan agama sangat terbatas.

Lebih dari itu, pendidikan agama sebagai saranan pembentukan karakter luhur, membutuhkan figur keteladanan (uswah hasanah). Tanpa itu, pendidikan agama akan kering dan hambar.?

Sayangnya, tambah Kiai Tholchah, keteladanan justru mulai langka di sekolah. Guru agama bahkan tidak mampu menjadi teladan di sekolahnya. Banyak guru agama yang minder di sekolahnya, dan merasa lebih rendah di banding guru lain.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber ? : Kementerian Agama

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Kyai, Nasional IPNU Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Gerakan Berbagi Buku GP Ansor Tambah Wawasan Masyarakat

Way Kanan, IPNU Tegal. Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Way Kanan Provinsi Lampung Desy Melda di Blambangan Umpu, Senin (6/7) menilai gerakan berbagi buku dimotori Pengurus Cabang GP Ansor setempat mendatangkan maslahat karena menambah wawasan masyarakat.

Gerakan Berbagi Buku GP Ansor Tambah Wawasan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Berbagi Buku GP Ansor Tambah Wawasan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Berbagi Buku GP Ansor Tambah Wawasan Masyarakat

"Kami sangat berterima kasih atas bantuan buku dari alumni BPUN ini. Mudah-mudahan kegiatan dimotori oleh Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan ini bisa membawa dampak positif dan juga bermanfaat bagi kita semua," ujar Desy setelah menerima 40 paket buku (satu paket berisi dua buku) dimaksud dari kader muda NU tergabung dalam alumni Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2015.

Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 bekerjasama dengan PC GP Ansor, PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Waykanan secara bertahap akan mendistribusikan buku dari International Organization for Migration (IOM) kepada 227 kepala kampung, 14 camat dan 89 SMA sederajat di daerah itu.

IPNU Tegal

"Kami sedang berupaya untuk menambah perpustakaan kampung yang belum terbentuk dan membantu penambahan buku-buku yang ada di perpustakaan kampung yang sudah disediakan karena untuk saat ini bersifat meminjam. Karena itu, dengan adanya gerakan ini, otomatis sangat membantu apa yang telah diprogramkan pemerintah," papar Desy lagi.

IPNU Tegal

Buku dibagikan itu berjudul "Panduan Bekerja ke Luar Negeri Secara Resmi dan Aman" serta "Lika Liku Perdagangan Orang", mengulas tentang migrasi yang aman kepada para pemangku kepentingan (stakeholder), lalu untuk mengembangkan monitoring perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) yang baik,  serta penyebaran tata cara TKI  yang aman, murah, cepat, dan bermartabat.

"Kami akan terus mengupayakan bagaimana caranya supaya minat membaca masyarakat terus meningkat seperti yang diharapkan. Peran organisasi kepemudaan seperti GP Ansor dan masyarakat sangat diperlukan sekali dalam upaya  menumbuhkan budaya minat membaca di Way Kanan," ujar Desy lagi.

Pendidikan merupakan politik yang harus dibela, demikian Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto menambahkan. Karena itu, seperti maknanya yang berarti penolong, Ansor Way Kanan berkomitmen berpartisipasi untuk terlibat dalam pendidikan kendati sedikit, misalnya pada Mei lalu menggelar Sanlat BPUN untuk mendorong pelajar SMA sederajat di Way Kanan untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri dan diapresiasi positif  oleh para peserta, Bupati, Ketua TP PKK hingga kepala sekolah di Way Kanan ni.

"Termasuk kegiatan berbagi buku dimaksud, semoga bisa menambah wawasan masyarakat mengenai migrasi aman. Selebihnya, mempelajari  Nabi Muhammad melalui tukang pos, yang amanah dan tidak mangkir saat diberi tanggung jawab. Kami hanya menyampaikan buku dari IOM Indonesia kepada pihak-pihak yang berhak," ujar penggiat Gusdurian di Lampung itu pula. (Saidi Fatah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Hikmah IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim

Jombang, IPNU Tegal. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Sholah), berharap kader NU bisa menjadi Guberur Jawa Timur. Untuk itu, cucu pendiri NU ini berharap menghadapi pemilihan Gubernur 2013 mendatang Kader NU harus menyatu.

"Pada pilbug mendatang menurut saya jangan ada lagi kader NU yang sama sama ngotot maju mencalonkan diri akibatnya suara NU terpecah. ? Calon Gubernurnya ? harus satu ? saja, jangan ada calon dua orang, termasuk ada yang mencalonkan wakil gubernur,” ujarnya menjawab wartawan disela sela menerima kunjungan mantan wakilpresiden Jusuf Kalla, Senin (17/12).

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim

Cucu pendiri NU ini sangat berharap dalam pilgub Jatim 2013 ? mendatang ? agar kader NU bisa menjadi Gubernur. Untuk menentukan siapa calon gubernur yang layak ? bakal running ? mendatang adik kandung Gus Dur ini berharap PWNU melakukan survey.

IPNU Tegal

“Harus. Untuk gubernur Jawa Timur menurut saya saatnya dari NU, siapa yang menentukan kader NU yang layak dan patut menjadi Gubernur harus dilakukan survey bersama,”tandas ? Gus Sholah menambahkan.

IPNU Tegal

Namun, meski mendukung kader NU maju menjadi orang nomor satu di Jatim, Gus Sholah ? tidak menginginkan NU secara kelembagaan terlibat aktif dalam pemilihan ” Tidak bolehlah, NU secara organisasi ikut terlibat aktif dalam politik,”tandasnya.

Tugas NU lanjutnya adalah hanya menentukan siapa yang layak untuk maju merebut Gubernur. Untuk itu dirinya menyarankan agar PWNU dan PW Muslimat duduk bersama untuk kemudian melakukan survey bersama guna menentukan siapa kandidat yang dimaui warganya.

”Karena ? sekarang yang muncul dua orang yakni Gus Ipul sama Khofifah. Maka menurut saya harus dilakukan survey bersama siapa yang paling layak menjadi Gubernur Jatim, ”pungkasnya seraya mengusulkan ? kalau perlu menyewa lembaga survey yang benar benar kompeten untuk menentukan kandidat.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdrrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Nahdlatul Ulama, Pesantren IPNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Di Baitul Maqdis Menjadi Imam Para Nabi dan Rasul

Pemeberhentian terakhir dalam perjalanan malam itu adalah Baitul Maqdis. Dalam sekejap mata setelah Rasulullah saw sampai di Baitul Maqdis para nabi, rasul dan malaikat berkumpul . Kemudian dikumandangkanlah adzan dan iqamat. Mereka yang datang berbaris rapi bershaf-shaf. Lalu Jibril mempersilahkan Rasulullah saw menjadi imam. Begitulah setelah shalat dengan berjama’ah para nabi dan rasul memuji kepada Allah atas karunia dari-Nya. Begitu juga Rasulullah saw mengucap tasbih atas karunia yang istimewa yang tidak diperoleh nabi dan rasul lainnya.

Baitul Maqdis adalah merupakan pelabuhan terakhir isra’nya (perjalanan malam)Rasulullah saw sebelum kemudian dimi’rajkan Allah ke shidratil muntaha. Baitul Maqdis seolah memiliki jalur utama yang dapat menghubungkan dunia ini dengan pintu langit. Dikatakan demikian karena di sanalah para nabi dan rasul itu turun, dan dari sanalah Rasulullah saw akan memulai mi’rajnya.

Adapun mengenai shalat Jama’ah bersama para nabi dan rasul dan Muhammas saw sebagai Imamnya merupakan sebuah bukti bahwa mereka para nabi dan rasul itu menjadikan Rasulullah saw sebagai wasilah menuju Allah swt. Mereka para nabi dan rasul itu menjadikan Rasulullah saw sebagai penghubung kepada Allah swt, sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Maidah ayat 35:

Di Baitul Maqdis Menjadi Imam Para Nabi dan Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Baitul Maqdis Menjadi Imam Para Nabi dan Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Baitul Maqdis Menjadi Imam Para Nabi dan Rasul

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Demikianlah kepemimpinan Rasulullah saw sebagai imam dalam shalat ini menunjukkan pengakuan para nabi dan rasul itu akan syariat islam yang sempurna yang dibawa oleh Rasulullah saw, nabi sekaligus rasul pungkasan. Mengenai jama’ah itu sendiri sungguh tidak dapat dipungkiri fadhilannya, jika para nabi, rasul dan malaikat saja berjama’ah. (red.Ulil H) 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Pesantren, Pondok Pesantren, Internasional IPNU Tegal

IPNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul

Jakarta, IPNU Tegal. Telah berpulang ke rahmatullah Mustasyar PWNU DI Yogyakarta KH A Arwan Bauis pada Selasa (11/8) malam. Pejuang NU di Yogyakarta ini dipanggil oleh Allah pada pukul 22.00 setelah beberapa tahun terakhir menderita Leukemia.

Salah seorang pengasuh pesantren Krapyak Yogyakarta KH Hilmi Muhammad mengatakan bahwa KH Arwan merupakan pejuang tulen NU yang tak tertandingi, lahir dan batin. Komitmennya terhadap NU tidak perlu diragukan. Pengabdiannya di GP Ansor di masanya juga memberikan bekas tersendiri.

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)
Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)

Telah Wafat KH Arwan Bauis, Pejuang NU Asal Bantul

“Beliau adalah murid Simbah almarhum KH Ali Maksum, dan juga sahabat sekaligus pengawal almarhum KH Abdurrahman Wahid bila sedang di Yogya,” kata KH Hilmi dalam akun fesbuknya, Rabu (12/8).

IPNU Tegal

Ustadz Hilmi mengajak warga NU untuk meneladani KH Arwan terkait pengabdiannya untuk NU. Ia bercerita bahwa di era awal reformasi, almarhum mengalami puncak karier dan senioritas di Kanwil Depag DIY. Almarhum semestinya berhak untuk menjabat sebagai Kakanwil, namun ia dengan logowo menyerahkan posisinya untuk kalangan Muhammadiyah.

“Ini menjadi pelajaran besar bagi kita bahwa jabatan bukan segala-galanya, dan bahwa NU sebagai lembaga dakwah dan pengabdian tidak sepatutnya dijadikan pijakan guna mendapatkan suatu kedudukan tertentu,” ujar Ustadz Hilmi seraya mengajak warga NU untuk berdoa agar Allah mengampuni almarhum dan melipatgandakan amalnya. Allah yarhamuh. (Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Ubudiyah, Makam, Pesantren IPNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Gus Mujib: MTA Mengingkari Kebenaran

Malang, IPNU Tegal. Beberapa pengurus NU bereaksi terkait diadukannya Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang, KH Marzuki Mustamar ke Kejaksaan Agung dan Mabes Polri oleh pimpinan organisasi garis keras yang menamakan diri MTA.

Gus Mujib: MTA Mengingkari Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mujib: MTA Mengingkari Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mujib: MTA Mengingkari Kebenaran

Gus Mujib Sadzili, salah satu jajaran Ketua PCNU Kabupaten Malang berharap pengaduan itu dihentikan. Jika diteruskan, ditengarai akan berakibat konflik sosial.?

“Memang benar bahwa Beliau (Kiai Marzuki, red) telah diajukan oleh mereka. Tapi kami yakin perkara tersebut pasti akan dihentikan oleh kepolisian. Karena hal ini akan menyebabkan kekacauan negara atau chaos,” kata Gus Mujib itu kepada IPNU Tegal di Malang, Rabu (29/5).

IPNU Tegal

Menurut Gus Mujib cukup akrab dengan Kiai Marzuki, dengan mengadukan ke kepolisian, berarti pihak MTA telah melakukan sesuatu perbuatan mengingkari kebenaran. Karena, setelah mereka diberitahu sebuah kebenaran justru mereka ingin mencelakai NU. Dan adalah sebuah keanehan jika pemerintah berniat meneruskan perkara ini.

“Cuma, anehnya mereka itu, mengapa setelah kita beritahu sebuah kebenaran kok justru akan mengadukan kami ke penjara? dan adalah hal yang aneh jika perkara dilanjutkan, NU adalah pemilik rumah Indonesia dan berperan serta membangun negara. Lalu sekarang ada pendatang baru yang ingin memenjarakan pemilik rumah itu?” kata Gus Mujib.

IPNU Tegal

Sedangkan saat ditanya, tentang tanggapan Kiai Marzuki sendiri, ia mengatakan, pihak Kiai Marzuki tidak hendak memperpanjang masalah ini. Kiai Marzuki memang mengaku mendengar sendiri MTA menyampaikan dakwah yang negatif untuk NU dan merusak ukhuwah islamiyah.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Ahmad Nur Kholis

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Pondok Pesantren, Jadwal Kajian IPNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Presiden Jokowi Ucapkan Selamat Harlah Ke-90 NU di Twitter

Jakarta, IPNU Tegal

Hari lahir (harlah) Ke-90 Nahdlatul Ulama yang jatuh pada tanggal 31 Januari mendapat ucapan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mantan Gubernur DKI Jakarta menyampaikan ucapannya melalui akun twitter pribadinya pada Ahad (31/1/2016).

Dalam ucapan selamatnya kepada NU, Jokowi berharap NU selalu menjaga kebhinnekaan serta mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Hal ini ditegaskan, karena selama ini banyak gerakan dan paham radikal yang cenderung berpotensi memecah belah perdamaian dan keutuhan bangsa Indonesia.

Presiden Jokowi Ucapkan Selamat Harlah Ke-90 NU di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Ucapkan Selamat Harlah Ke-90 NU di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Ucapkan Selamat Harlah Ke-90 NU di Twitter

“Selamat Milad NU ke-90. Tetap setia mengawal kebhinnekaan dan wujudkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta,” tulis Jokowi.

Ucapan selamat dari Presiden Jokowi mendapatkan ribuan respon dari followernya. Saat berita ini ditulis, tweet ucapan Jokowi di-retweet oleh 1225 orang, di-like oleh 882 orang, dan di-replay tak kurang dari 120 orang.?

IPNU Tegal

Sebelumnya, PBNU dan PSNU Pagar Nusa yang menyelenggarakan peringatan Harlah Ke-90 NU menegaskan bahwa NU berkomitmen menjaga keutuhan bangsa dan negara. Komitmen ini terus digelorakan, karena NU melihat banyak gerakan dan paham yang cenderung mencerai-berai keutuhan bangsa yang sejak dahulu hingga kini terus dibangun oleh para ulama, khususnya ulama pesantren.

“Sinergi dan keselarasan antara agama nasionalisme hingga kini terjaga karena jasa dan perjuangan para ulama yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari,” ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sabtu (30/1/2016).

Ulama Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, lanjut Kang Said, beserta para ulama lain tidak mempunyai ambisi mendirikan khilafah seperti yang dilakukan oleh ulama-ulama Timur Tengah hingga kini. Karena menurutnya, agama dan nasionalisme sangat bisa berjalan beriringan membangun bangsa yang satu.

“Tugas kita saat ini meneruskan perjuangan ulama-ulama NU dari rongrongan paham radikal berbaju agama yang justru ingin membuat Indonesia porak poranda seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah karena mengusung khilafah,” tegas Kiai asal Kempek Cirebon ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Pesantren, Kajian, Pendidikan IPNU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Wahid Hasyim; Kuli Desa untuk Nusantara

Diskursus tentang Islam tradisionalis dan modernis tidak akan pernah hilang dari kesejarahan bangsa Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan Islam sejak awal kemerdekaan sampai pasca Orde Baru, zaman kolonialisme sampai pada zaman liberalism (baca: demokrasi).

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, seharunya dapat menjadi solusi yang riil bagi bangsa Indonesia. Sedangkan munculnya tradisionalisme Islam dan liberalisme Yunani adalah hasil interaksi pergumulan Islam ke dalam dan kontak (relation) dengan dunia luar. Dalam konteks inilah, Indonesia yang masyarakatnya sangat multikultural dan plural dapat menjalankan keduanya (baca: tradisionalis dan modernis).

Wahid Hasyim; Kuli Desa untuk Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahid Hasyim; Kuli Desa untuk Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahid Hasyim; Kuli Desa untuk Nusantara

Kaitannya dengan modernitas, Indonesia sebagai negara yang memiliki pola pikir tradisionalis terhadap agama -sejak awal kemunculannya- seharusnya dapat menghadapi gesekan-gesekan peradaban baru (baca: global). Gesekan peradaban yang akhirnya selalu memihak pada yang berkuasa. Peradaban yang bertuhan pada modernitas. Modernitas yang dibuat-buat.

Wahid Hasyim (KH Abdul Wahid Hasyim) adalah tokoh muda yang dapat menggabungkan dualisme tersebut. Figur yang juga terlibat langsung dalam diskursus antara Islam dan modernitas baik dalam pemikiran (konsep) maupun tindakan (aksi). Ia juga hidup pada masa ethical policy, yaitu masa dimana pemerintah Hindia-Belanda menggulirkan kebijakan politik balas budi. Kebijakan ini penting karena sejak itulah mulai diselenggarakan pendidikan modern bagi warga pribumi (inlander). Artinya, Pak Wahid Hasyim ini merupakan sosok yang hidup pada era dimana bangsa Indonesia masih kurang begitu mengenal pendidikan formal ala Barat ? dan masa diselenggarakannya pendidikan formal tersebut (transisi pendidikan).

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Kehadiran pendidikan Barat modern sejak awal kemunculannya berlatar belakang pada fakta keunggulan Barat dalam segi duniawi. Ini tentunya menghadirkan berbagai reaksi di kalangan umat Islam Indonesia. Sebagian diantaranya menyambut dengan suka cita dan ikut memanfaatkan kesempatan ini. Sementara sebagian besar tetap bertahan dengan model pendidikan tradisional (baca: pesantren). Dalam konteks inilah Wahid Hasyim "bermain" dan mencoba untuk memadukan dua model (pola) pendidikan di Indonesia. Kiprahnya dalam memperjuangkan pendidikan sangat besar dan tidak bisa dihapus dari sejarah pendidikan Indonesia.

Tokoh muda yang lahir di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini juga seorang organisatoris. Ini dibuktikan dengan keterlibatannya dalam organisasi baik organisasi politik (Masyumi) maupaun organisasi kemasyarakatan (NU). Ia juga terlibat sangat intens dalam persiapan kemerdekaan RI, karena ia menjadi anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan (PPKI) yang bekerja keras mewujudkan NKRI. Perannya sangat menonjol terutama dalam panitia Sembilan. Tim kecil inilah yang kemudian menghasilkan Piagam Jakarta dan kemudian menjadi Teks Pembukaan UUD 1945 (minus tujuh kata yang hingga saat ini masih dalam perbincangan). Adalah Wahid Hasyim yang juga selalu berupaya keras untuk menjembatani kubu Islam dan Nasionalis dalam PPKI.

Inilah yang menyebabkan Achmad Zaini tertarik untuk mengangkat KH Abdul Wahid Hasyim dalam thesis-nya yang kemudian dicetak menjadi buku. Ada beberapa alasan yang membuat Achmad Zaini ? mengangkat sosok pemuda desa ini seperti yang dijelaskan yaitu, pertama, ia hidup pada era generasi pertama masyarakat Indonesia terdidik. Kedua, ia adalah pemimpin yang sangat penting (bahkan tokoh kunci) dalam komunitas NU para era-era tersebut yang ditandai dengan sejumlah kejadian penting dalam proses-proses berbangsa dan bernegara. Ketiga, keterbukaan Wahid Hasyim terhadap segala hal yang baru dan pemikiran yang cukup maju dapat dilihat dari mengusulkan adanya perubahan kurikulum di pesantren. Ide yang ditawarkan adalah memasukkan pengetahuan "sekuler" dalam kurikulum pesantren dengan harapan santri tidak hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga ilmu-ilmu pengetahuan modern Barat, sehingga para santri -menurut pandangannnya- dapat menjadi manusia yang sempurna. Keempat, hingga saat ini, masih sangat jarang karya ilmiah yang secara spesifik mengurai kiprah Wahid Hasyim.

Buku yang judul aslinya "Kyai Haji Abdul Wahid Hasyim: Has Contribution to Muslim Educational Reform and to Indonesian Nationalism During the Twentieth Century" memaparkan peran Wahid Hasyim dalam pembaharuan pendidikan Islam Indonesia dan perjuangannya dalam kemerdekaan. Ia juga menjelaskan kontribusi Wahid Hasyim yang seringkali dinafikan oleh para sarjana dari kalangan modernis. Walaupun buku ini merupakan terjemahan dari thesis yang berbahasa Inggris, namun bahasa sasarannya (Bahasa Indonesia) sangat mudah untuk difahami karena diterjemah langsung oleh penulisnya.

Membaca buku ini sudah mewakili beberapa tulisan (baca: buku) tentang Abdul Wahid Hasyim, sejarah hidup, pemikiran, peran (aktivitas) politik, dan "aksi" beliau dalam pembaharuan pendidikan. Banyak hikmah, khazanah keilmuan, inovasi, dan semangat yang dapat diperoleh dari sosok Abdul Wahid Hasyim. Semoga dan selamat membaca!

Judul Buku: ? KH. Abdul wahid Hasyim; Pembaharu Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan

Penulis: Achmad Zaini

Penerbit: Pesantren Tebuireng

Tahun : 2011

Ukuran: 14 X 20.5 cm.

Tebal : 131 Halaman

Peresensi: Oleh Abdur Rahim, Alumni Pesantren Kyai Syarifuddin, Wonorejo, Lumajang dan Redaktur Eksekutif Jurnal Transisi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren IPNU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Bantul, IPNU Tegal. Lahan terbatas sama sekali bukan alasan untuk berani berkreasi atau berkarya. Tampak dalam foto, Pengasuh Pondok Pesantren Alimdad, KH M Habib A Syakur, sedang berusaha meluruskan batang tanaman lombok dan terong di media tanam polybag di terik sinar matahari.

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Beberapa puluh polybag berisi tanaman lombok dan terong memang sengaja ditata sedemikian rupa oleh Habib di pekarangan kediamannya, yang masih masuk dalam kawasan komplek Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul. Dalam keterangannya, Habib menyebutkan bahwa ia telah menyiapkan sekira 500 polybag untuk kedua jenis tanaman tersebut.

"Sejatinya, saya juga ingin mempersiapkan beberapa ratus polybag lagi untuk berbagai jenis tanaman lain, seperti tomat, timun, dan kacang panjang. Tapi, saya kira hal ini akan saya lakukan secara berjenjang dahulu," ujar Habib.

IPNU Tegal

Media tanam polybag yang dirawat oleh Habib ini terdiri dari campuran tanah dengan pupuk kandang dan kompos yang keduanya merupakan hasil dari pengolahan limbah di Pondok Limbah yang dimiliki PP Al-Imdad Bantul. Hal ini adalah ejawantah dari visi pesantren Al-Imdad sendiri, yaitu SANTRI SALIH--Santun, Agamis, Nasionalis, Terampil, Ramah, Inovatif dan SAdar LIngkungan Hidup.

"Saya gak punya pengetahuan apa-apa tentang tanaman polybag ini, tapi saya beranikan diri untuk mencobanya, sebab berdasarkan teori dan pengalaman sebagian orang, hal semacam ini mungkin saja dilakukan," jawab Habib saat ditanya perihal pengalamannya menekuni tanaman polybag ini.

IPNU Tegal

Habib lantas memungkasi, "Kalau usaha saya berhasil, ini akan meringankan anggaran belanja untuk makan santri dan kalaupun gagal, saya kira tak jadi masalah. Sebab, dalam prosesnya saja, saya sudah terhibur dengan merawatnya."(Yusuf Anas/Anam) Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren IPNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Fahira Idris: Wacana Sekolah Delapan Jam Sehari Perlu Dikaji

Jakarta, IPNU Tegal. Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris menilai rencana penerapan delapan jam sehari dalam lima hari sekolah perlu dikaji ulang oleh pemerintah. Lantaran, wacana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu menjadi perdebatan di masyarakat.

"Polemik ini memang perlu dikaji kembali. Apalagi, kebijakan lima hari sekolah sendiri dalam implementasinya tidak jelas," ucap Fahira saat konferensi pers di Nusantara III Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (21/6).

Fahira Idris: Wacana Sekolah Delapan Jam Sehari Perlu Dikaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Fahira Idris: Wacana Sekolah Delapan Jam Sehari Perlu Dikaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Fahira Idris: Wacana Sekolah Delapan Jam Sehari Perlu Dikaji

Secara yuridis, Kemendikbud telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Pada Pasal 2 ayat (1) Permendikbud tersebut ditegaskan "Hari sekolah dilaksanakan 8 jam dalam 1 hari atau 40 jam selama 5 hari dalam 1 minggu". Permendikbud dimaksud berdasarkan Pasal 11, berlaku pada tanggal diundangkan yaitu 12 Juni 2017.

"Konsepnya sudah baik namun implementasinya yang sulit. Karena permasalahan di pendidikan sangat banyak baik dari kurangnya guru dan minimnya infrastruktur," jelas senator DKI Jakarta.

Fahira menyarankan untuk menerapkan sekolah delapan jam sehari harus lihat dulu daerahnya. Jangan sampai pemerintah menerapkan kebijakan tersebut di seluruh sekolah di Indonesia. "Jangan langsung seluruh sekolah di Indonesia. Harus dipilih dulu kabupaten atau kota mana yang menjadi percontohan," jelas dia.

IPNU Tegal

Ia menambahkan, Komite III DPD RI telah membuat kajian waktu pendidikan yang ada di Jepang dan Korea Selatan yang menurutnya lebih efektif. "Indonesia jam belajar 1095 per tahun, Korea 903, Jepang 712 jam," jelas Fahira.

Selain itu, ia juga mengimbau bahwa isu porsi waktu sekolah sebaiknya tidak mengarah pada isu perbedaan yang terjadi pada Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Seperti diketahui, NU menolak sistem full day school itu, sementara Muhammadiyah memberikan dukungan. "Jadi wacana ini jangan dikaitkan dengan NU dan Muhammadiyah. Yang satu mendukung dan satu lagi tidak. Jadi tidak ada kaitannya," tukas Fahira. Red: Mukafi Niam?

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren IPNU Tegal

Senin, 27 November 2017

PMII Airlangga Kunjungi Rumah Singgah Anak Penderita Kanker

Surabaya, IPNU Tegal. Sejumlah aktivis PMII Universitas Airlangga mengadakan kunjungan ke Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) jalan Dharma Husada Indah Timur L147, Surabaya, Ahad (17/5). Pada kegiatan bakti sosialini, mereka mengajak anak-anak penderita kanker bermain bersama.

Salah satu pemrakarsa berdirinya YPKAI Surabaya Ibu Hj Rubiyah menyatakan apresiasi atas kehadiran para aktivis PMII. “Sebagai pemuda yang bersedia sedikit menoleh kepada para penderita kanker di tempatnya. Kunjungan kali ini semoga menumbuhkan rasa syukur kita terhadap karunia Allah SWT.”

PMII Airlangga Kunjungi Rumah Singgah Anak Penderita Kanker (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Airlangga Kunjungi Rumah Singgah Anak Penderita Kanker (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Airlangga Kunjungi Rumah Singgah Anak Penderita Kanker

Selain itu, ia juga menegaskan agar PMII Universitas Airlangga mampu menjadi corong bagi para pejuang kecil penderita kanker untuk bersuara di tengah masyarakat bahwa penyakit kanker bukanlah penyakit menular yang perlu dijauhi.

IPNU Tegal

“Terlebih lagi justru penderita membutuhkan sentuhan perhatian dari relawan di sekitarnya,” kata Hj Rubiyah.

IPNU Tegal

Bakti sosial yang berlangsung pagi hingga siang ini berjalan cukup meriah. Dengan sedikit permainan dan kegiatan yang diagendakan para kader PMII, anak-anak penderita kanker mampu tertawa lepas dan sejenak melupakan rasa sakit yang sedang dideritanya. (Alfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Humor Islam, Khutbah IPNU Tegal

Senin, 20 November 2017

GP Ansor Nilai Polri Malas Bekerja

Jakarta, IPNU Tegal

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menyayangkan pembatalan penayangan film Hanung Bramantyo.

"Indonesia itu negara hukum. Harusnya aparat keamanan memberikan jaminan dan perlindungan keamanan kepada pihak manapun warga negara Indonesia, termasuk SCTV, untuk bekerja sesuai dengan koridor hukum," kata Nusron tadi malam (28/8).

GP Ansor Nilai Polri Malas Bekerja (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Nilai Polri Malas Bekerja (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Nilai Polri Malas Bekerja

“Kalau polisi menjamin keamanan, pasti SCTV tidak ketakutan dan membatalkan penayangan. Ini tanda-tanda polisi malas. Bisa bahaya negeri ini,” tegasnya.

Nusron menjelaskan, kondisi ini pertanda kegagalan negara dalam menjamin keamanan dan memberikan perlindungan bagi warga negara, dan gampang ditekan kelompok2 tertentu. Ini menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat.

“FPI mengklaim alasannya ada fatwa MUI. Sementara KH Maruf Amin dari MUI menyatakan belum mengeluarkan fatwa. Kalau toh ada fatwa MUI pun, tidak boleh ada pihak manapun kecuali instrumen negara yg bisa membatalkan atau meminta agar film ? ditunda penayangannya,” lanjutnya.

IPNU Tegal

“Hari ini filmnya Hanung, bisa siapa lagi kita tidak tahu. Aparat hukum dan keamanan menyatakan seakan-akan biasa. Dulu di Tasikmalaya minta dihentikan. Polisi juga diam dan cenderung mengabaikan. Dimana letaknya aparatur negara ini?”

Film "?" (baca tanda tanya) berkisah tentang aktivis Banser yang tewas kena bom ketik menjaga perayaan hari Natal serta menggambar kondisi kebhinekaan bangsa Indonesia dengan muamalah antara orang Jawa yang Islam dan orang Tionghoa yang Konghucu.

Sutradara film "?" Hanung Bramantyo yang ikut pertemuan dengan Nusron Wahid semalam menyampaikan, film “?” sudah lolos Lembaga Sensor Film. Komisi Penyiaran Indonesia juga mendukung penyiaran film tersebut.

IPNU Tegal

"Tak ada alasan hukum bagi SCTV untuk batal tayang film itu," tegas Hanung yang juga aktivis lembaga kebudayaan Muhammadiyah.

Sangat disayangkan, SCTV takut pada gertakan Front Pembela Islam. Corporate secretary SCTV? Hardijanto Soeroso memutuskan batal ditayangkan film tersebut dalam pertemuan dengan delegasi FPI selama 20 menit, Sabtu (27/8). Menurut informasi lain, film "?" akan ditanyangkan SCTV hari Ahad, 4 September 2011.

Ormas besar dan berpengaruh di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, tak bersuara. Tampaknya mereka tidak mempermasalahkan film ini, lebih-lebih organisasi kepemudaan di lingkungan NU Gerakan Pemuda Ansor mendukung penuh film ini.

"Saya punya catatan kritis untuk film ?, tapi secara umum bagus. Ini pendidikan untuk kita semua," kata Nusron.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Doa, Pesantren, AlaSantri IPNU Tegal

Jumat, 17 November 2017

Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab

Jakarta, IPNU Tegal. Dalam penentuan tanggal baru, negara-negara Islam ternyata lebih banyak menggunakan metode ru’yah atau melihat dengan mata telanjang daripada hisab atau cukup dengan perhitungan matematis dalam penentuan awal bulan. Perbedaan penggunaan metode ini menyebabkan seringnya terjadi perbedaan awal puasa atau hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

“Saudi Arabia, Syiria, Libya dan dunia Islam lainnya memakai ru’yah dalam penentuan bulan baru,” ungkap Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dalam pembukaan pelatihan Hisab dan Ru’yah yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah NU (LFNU) di Gd. PBNU, Jum’at.

Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab

Namun diingatkan oleh pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang tersebut bahwa metode ru’yah hanya efektif digunakan di daerah khatulistiwa dimana kemunculan bulan sabit dapat selalu diamati.

“Makanya, kalau ada uang saya ingin mengajak para pengurus Falakiyah pergi ke daerah sub tropis. Disini selisih satu derajat saja, orang wani gegeran, padahal disana matahari saja belum tentu muncul setiap hari,” tambahnya.

Dijelaskannya bahwa pengetahuan dan wawasan seperti ini diperlukan meskipun belum tentu digunakan di Indonesia karena situasinya memang berbeda. Diceritakannya bahwa metode penentuan waktu sholat yang ada dalam fikih tak bisa digunakan di negara seperti Eropa.

‘Disini tanda-tanda maghrib kalau sudah muncul mego abang, padahal disana meganya saja tidak ada,” ujarnya. Karena itu, penentuan waktu sholat mengikuti daerah yang paling dekat dengan kondisi normal.

IPNU Tegal

Dalam salah satu kunjungannya ke New York, ia juga pernah menemukan satu masjid menghadap ke barat sedangkan satunya lagi menghadap ke timur. “Mereka berargumentasi bahwa jaraknya ke Makkah sama baik dari Barat maupun Timur,” paparnya.

Ketua Lajnah Falakiyah KH Ghozalie Masroeri mengungkapkan bahwa pelatihan hisab dan ru’yah tingkat pemula ini merupakan upaya untuk transfer pengetahuan untuk para kader muda NU yang diharapkan bisa menggantikan para seniornya saat ini.

IPNU Tegal

Sejumlah sesepuh lajnah falakiyah seperti KH Muntari Abdullah yang sudah berumur 86 menyempatkan hadir, demikian pula KH Hasan Basri dari Gresik. Pelatihan ini akan diselenggarakan di Ponpes Al Itqon Cengkareng. Selain belajar teori, para peserta akan diajak praktek langsung agar bisa menentukan tanggal dan menentukan arah kiblat. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Olahraga, Pesantren IPNU Tegal

Jumat, 10 November 2017

Pesantren Nurul Burhany Wajibkan Santri Hafal Tahlil

Demak, IPNU Tegal. Pondok Pesantren Putri Nurul Burhany Mranggen, Demak, Jawa Tengah, mewajibkan para santrinya hafal tahlil atau susunan bacaan yang terdiri dari ayat, shalawat, kalimah thayibah, dan doa-doa yang biasa dibaca warga NU.

Pesantren Nurul Burhany Wajibkan Santri Hafal Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Burhany Wajibkan Santri Hafal Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Burhany Wajibkan Santri Hafal Tahlil

Pesantren Putri Nurul Burhany merupakan pondok pesantren khusus putri yang fokus pada al Qur’an, baik dari segi hafalan (tahfidh) maupun tafsirnya. Semua santri di pesantren ini juga diharuskan untuk mengahafal al-Qur’an, minimal Juz ‘Amma. Hafalan tahlil berserta doanya adalah tugas wajib lainnya.

Menurut pengasuh pesantren, KH Helmi Wafa Mahsuni, tugas tersebut diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa tahlil merupakan salah satu bentuk amalan paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga setelah santri pulang diharapkan santri dapat mengamalkan amalan yang sudah ditanamkan di pondok pesantren ini.

IPNU Tegal

kH. Helmi berharap setelah santri pulang di rumah atau kampung halaman masing-masing, para santri siap menjadi pemimpin atau imam tahlil di organisasi atau jama’ah yang ada di lingkungan masing-masing.

Dalam rangka menyiapkan hal tersebut, para santri dijadwal satu orang menjadi petugas tahlil dan satu orang lagi menjadi petugas do’a, dengan diikuti oleh santri-santri yang lain agar santri terbiasa menjadi pemimpin tahlil di hadapan orang banyak. (Abdus Shomad/Mahbib)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Budaya, Pesantren IPNU Tegal

Senin, 06 November 2017

Mengintip Perayaan Maulid Nabi di Jerman

Seperti di belahan dunia lainnya, kaum Muslim di Jerman juga merayakan hari kelahiran Nabi SAW, persisnya pada Ahad malam, 12 Januari 2014. Mereka menyebut perayaan ini “Die Mawlid-Nacht” (malam maulid).

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman Suratno lewat surat elektronik menceritakan, sore itu menjelang waktu shalat isya’ ia pergi ke masjid Turki (Islami Hizmetler Dernegi e.V) yang tidak jauh dari apartemennya.

Mengintip Perayaan Maulid Nabi di Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengintip Perayaan Maulid Nabi di Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengintip Perayaan Maulid Nabi di Jerman

Masjid dua lantai berukuran kira-kira 120 meter persegi ini terletak di samping eschborn-bahnhof (stasiun). Lokasi yang strategis untuk beribadah bagi kaum Muslim di wilayah itu karena di dekatnya juga ada kedai kebab dan gedung-gedung perkantoran seperti GIZ (Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit), Techem (perusahaan gas), Vodafone dan banyak lagi yang lainnya.

IPNU Tegal

Masjid ini berafiliasi dengan DITIB (Diyanet Isleri Turk Islam Birligi/Turkish Islam Union for Religious Affairs) cabang Jerman yang pusatnya di kota Cologne. DITIB di dirikan oleh Turkish Presidency for Religious Affairs tahun 1984 merupakan organisasi komunitas Muslim terbesar di Jerman, menjadi payung  lebih dari 870 organisasi dan dianggap menjadi aktor integrasi kaum Muslim terhadap masyarakat Jerman. Tahun November 2004 DITIB pernah mengorganisir demonstrasi besar-besaran, diikuti oleh lebih dari 250 ribu orang, dengan tema “Gemeinsam fuer Frieden und gegen Terror”.

Setelah selesai shalat isya’, sekitar pukul 19.00 acara pun dimulai. Pertama-tama dibacakan ayat-ayat al-Qur’an. Lalu semua peserta bersama-sama menyenandungkan shalawat Nabi.

IPNU Tegal

Suratno mengaku menikmati suasana kebersamaan yang kental di antara para peserta karena mereka bersenandung sambil berdiri dan bergandengan tangan. Selesai shalawat dilanjutkan dengan ceramah maulid oleh seorang ustadz.

Sayangnya, kata Kandidat Doktor Goethe-Uni Frankfurt Jerman ini, sang ustadz yang ia lupa namanya itu menyampaikan khotbah secara umum memakai bahasa Turki, meski sesekali dalam bahasa Jerman. Suratno merekam ceramah berbahasa Jerman di bagian awal yang kira-kira berbunyi seperti ini:

Jedes Jahr aufs Neue nehmen wir diese Nacht zum Anlass, um uns der Botschaft des Propheten Muhammed Mustafa (saw), der gesandt wurde als Barmherzigkeit für die Welten, nochmal zu vergegenwärtigen. Um uns seinen vorbildlichen Charakter nochmals in Erinnerung zu rufen, auf dass auch wir diesem Vorbild folgen, und auf dass wir schließlich die Liebe zu ihm in Worte gießen und diese aus unseren Herzen in das gesellschaftliche Bewusstsein weiter tragen.

(Setiap tahunnya kita mengambil malam ini (mawlid-nacht) sebagai kesempatan untuk mengingatkan diri kita sendiri pada pesan-pesan Nabi SAW, yang diutus sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Dia yang kita jadikan teladan dalam ingatan kita, menjadi role-model yang kita ikuti, dan bahwa kita mencurahkan cinta pada Nabi SAW dengan bershalawat dan membawanya dari hati kita kepada kesadaran sosial).

Selebihnya, sang ustadz berceramah dengan bahasa Turki. Suratno mengaku tak paham dengan bahasa ini. Tentang isi pesannya, ia menanyakan dengan berbisik-bisik pada pemuda di sebelahnya yang menjelaskan sambil berbisik-bisik juga. “Intinya tentang bagaimana mengaktualisasikan pesan-pesan mulia Nabi SAW dalam kehidupan pribadi dan sosial kaum Muslim.”

Sebelum 2009, kebanyakan masjid-masjid DITIB dalam khotbahnya menggunakan bahasa Turki. Tapi keadaan berubah setelah para ustadz (yang mayoritas datang dari Turki) menjalani pelatihan bahasa dan budaya Jerman hasil kerja sama antara DITIB dan DIK (Deutsche Islam Konferenz). DITIB juga mulai merekrut ustadz-ustadz berbasis kampus. Setelahnya, banyak masjid DITIB khotbah memakai bahasa Jerman.

Menjelang pukul 20.00 acara mawlid-nacht selesai. Memang acaranya terasa cepat bila dibandingkan dengan di Indonesia. Tetapi memang begitu karena esok paginya tidak ada libur hari Maulid Nabi seperti di Indonesia.

Sebagian peserta harus bekerja sehingga acaranya berjalan tidak terlalu lama. Setelah selesai dilanjutkan menyantap kue-kue khas Turki, seperti baklava, kue manis terbuat dari adonan phyllo pastry berlapis-lapis dengan isian cincangan kacang pistachio atau walnut ditambah sirup gula atau madu.

Kue ini konon sudah kondang sejak Dinasti Ottoman dan meluas sampai ke beberapa bagian Asia Tengah dan Barat Daya. Puas menyantap baklava, Suratno pamit pulang pada beberapa orang di sampingnya, keluar masjid berjalan kaki menuju apartemen sekitar 25 menit menembus dinginnya musim winter di Jerman. “Semoga manfaat dan berkah,” tuturnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren IPNU Tegal

Kamis, 14 September 2017

IPNU-IPPNU Bikin Lembaga Outbond Lintang Songo

Malang, IPNU Tegal. Sekian Lama IPNU-IPPNU Kota Malang telah menggeluti dunia outbound dan sering diundang di berbagai instansi baik pada lembaga pendidikan maupun sosial. Pada Kamis (19/7/2012) IPNU Kota Malang meresmikan sebuah lembaga tim outbound dengan nama “Lintang Songo” setelah sebelumnya memiliki pengalaman dalam mengisi outbound di lembaga Pendidikan favorit STM Turen tanggal 3-6 Juli 2012 dengan jumlah peserta 459 siswa, MTs Hamid Rusydi 138 siswa dan banyak lagi. 

IPNU-IPPNU Bikin Lembaga Outbond Lintang Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bikin Lembaga Outbond Lintang Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bikin Lembaga Outbond Lintang Songo

Outbound Lintang Songo di bentuk dengan tujuan mengembangkan Sumber Daya Manusia terutama SDM yang ada dilingkungan Nahdlatul Ulama. Mufarrihul Hazin-Dikrektur Lintang Songo mengatakan “Lintang Songo merupakan lembaga outbound dari IPNU untuk NU dan Indonesia,” atur Farih yang menjadi sekretaris PC IPNU Kota Malang.

Lembaga Lintang Songo melayani indoor dan outdoor dan ada 7 garapan utama, adventur camp, caracter building, team building, communication, fun games. Dengan manajemen dan sistem yang bagus Lintang Songo Songo melayani NU dan Banomnya serta seluruh masyarakat Indonesia. Lintang songo memiliki 9 trainer dan 9 fasilitator.

IPNU Tegal

Dengan semangat belajar, berjuang dan bertqwa Lembaga Lintang Songo siap melayani dengan sepenuh hati. Lihat lebih lengkap di www.lintang9.co.cc. 

IPNU Tegal

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Nusantara IPNU Tegal

Selasa, 25 Juli 2017

Tingkatkan Mutu Akademik, STISNU Nusantara Gandeng STAINU Jakarta

Tangerang, IPNU Tegal. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten, menjalin kemitraan dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta. Keduanya sepakat bekerja sama dalam meningkatkan mutu akademik perguruan tinggi.

Tingkatkan Mutu Akademik, STISNU Nusantara Gandeng STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Mutu Akademik, STISNU Nusantara Gandeng STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Mutu Akademik, STISNU Nusantara Gandeng STAINU Jakarta

KH Ahmad Baijuri, Ketua STISNU Nusantara menyampaikan alasan kenapa pihaknya menggandeng STAINU Jakarta. Menurutnya, pertama STISNU di Tangerang lahir dari rahim STAINU Jakarta. Kedua, secara umur STAINU Jakarta? lebih lama, dan karenanya tentu lebih banyak pengalaman.

"Setidaknya, hal yang positif dari STAINU Jakarta bisa dishare dan dipergunakan di kampus NU Tangerang," ujarnya.

IPNU Tegal

Di depan forum penandatanganan nota kesepahaman itu, Ketua STAINU Jakarta H. Syahrizal Syarif menambahkan, STAINU Jakarta akan mendorong lahirnya kampus-kampus NU di daerah-daerah, khususnya daerah penunjang Jakarta. Ia mengklaim telah berhasil membimbing lahirnya kampus NU di Tangerang dan Cianjur.

IPNU Tegal

"Harapannya, ada sinergi antara STISNU dan STAINU untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi NU," ujarnya.

Aris Adi Leksono, Puka Bidang Kerja Sama STAINU Jakarta, menambahkan bahwa kerja sama ini mencakup beberapa hal, di antaranya pertukaran informasi di lingkungan perguruan tinggi NU, membuat desain kurikulum berbasis KKNI dan SKKNI, pembinaan tentang konsep pendidikan berbasis Syariah di STISNU, dan mutu jurnal pada program studi.

Acara dilaksanakan di aula Hadrotusyyaikh Hasyim Asyari STISNU Nusantara Tangerang. Hadir pada acara MoU tersebut H. Muhamad Qustulani (Puka I Bidang Akademik STISNU), Bahruddin (Puka II Bidang Kemahasiswaan STISNU), Imam Bukhori (Puka I Bidang Akademik STAINU), Arif Rahman (Puka Bidang Administrasi dan Keuangan STAINU), Nurul Huda (Puka Bidang Kemahasiswaan STAINU), dan Dede Setiawan (Kepala Prodi PAI STAINU). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren, Budaya IPNU Tegal

Sabtu, 08 Juli 2017

Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab

Tidak ada yang memungkiri bahwa Soekarno adalah seorang pemimpin dan pemikir. Sebagai seorang pemimpin, Soekarno telah mampu menggerakkan jutaan masyarakat Indonesia pada saat itu untuk melawan penjajah dan membangun Indonesia yang merdeka. Soekarno juga adalah seorang pemikir. 

Banyak gagasan-gagasan besar dan konsep-konsep dalam bernegara yang dicetuskan oleh Soekarno. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, pemikiran-pemikiran soal revolusi, dan lainnya. Maka dari itu, banyak pemimpin dunia, termasuk Negara-negara Arab, yang kagum kepada Soekarno.

Kitab Al Audah ila Iktisyafi Tsauratina (Kitab Pemikiran Revolusi Presiden Soekarno) adalah salah satu pemikiran-pemikiran Soekarno dikaji dan dijadikan rujukan bagi masyarakat Arab. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada 1959, dua tahun setelah diadakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab

Pada saat ini, pemimpin terkuat di Negara-negara Timur Tengah adalah Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser. Ia didaulat sebagai pemimpin revolusi dunai Arab. Presiden Mesri tersebut sangat menghormati dan menjadikan Soekarno sebagai guru revolusinya.  

“Abdel Nasser menyatakan diri bahwa saya (Gamal Abdel Nasser) adalah murid ideologinya Soekarno,” Kata Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Sya’ban.

Kitab Al Audah di atas adalah kumpulan pidato Soekarno yang disusun menjadi satu dan dibahasa Arabkan. Kitab tersebut diterbitkan atas perintah daripada Gamal Abdel Nasser. 

IPNU Tegal

Presiden Soekarno juga pernah diundang oleh Gamal Abdel Nasser untuk menyampaikan pidato dihadapan ribuan masyarakat Mesir di Aleksandria dalam rangka peringatan tiga tahun revolusi Mesir. Ribuan masyarakat Mesir berduyun-duyun dan meneriakkan nama Ahmad Soekarno manakala dia naik mobil bak terbuka dengan Gamal Abdel Nasser. 

“Ahmad Soekarno, Pemimpin terkuat dan terbesar dari Timur Asia,” kata Ginanjar menirukan teriakan masyarakat Mesir.

IPNU Tegal

Ketenaran nama Soekarno di negara-negara padang pasir tidak perlu diragukan lagi. Tidak sedikit nama jalan dan tempat di Negara-negara Arab tersebut yang menggunakan nama Ahmad Soekarno. Nama Ahmad Soekarno juga terukir di Ismailiyah, salah satu kota pelabuhan kecil di Mesir. 

“Ada super market di sana, super market Ahmad Soekarno. Di Kota Kairo ada jalan namanya Ahmad Soekarno” cerita alumni Universitas Al Azhar Mesir itu.

Selain di Mesir, nama Soekarno juga dijadikan nama jalan di Maroko dan Pakistan. Di Rusia, nama Soekarno menjadi nama sebuah masjid. Sedangkan di Kuba, nama Soekarno diabadikan menjadi nama perangko. 

Soekarno adalah eksportir ideologi. Istilah-istilah dan konsep revolusi yang dicetuskan oleh sang putera fajar tersebut dialih bahasakan menjadi Arab. Seperti Al Mabadi’ Al Khomsah (Pancasila), A Wihdah fi tanawwu’i (Bhinneka Tunggal Ika), Al Wathoniyah wa Diniyah wa Syuyu’iyah (Nasakom), Al Bayan Al Siyasi An Wihdah Al Isytirakiyyah wa Dimuqratiyyah (Manipol Usdek). Ideologi-ideologi tersebut dipelajari dan menjadi inspirasi masyarakat Arab. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Pesantren IPNU Tegal

Jumat, 30 Juni 2017

Sambut Harlah Pancasila, PMII Unila Gelar Lomba Penulisan Opini

Bandar Lampung, IPNU Tegal

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung menggelar lomba penulisan opini dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni mendatang, dengan tema besar Refleksi 71 Tahun Lahirnya Pancasila.

Sambut Harlah Pancasila, PMII Unila Gelar Lomba Penulisan Opini (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Harlah Pancasila, PMII Unila Gelar Lomba Penulisan Opini (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Harlah Pancasila, PMII Unila Gelar Lomba Penulisan Opini

Lomba yang dimulai pada 30 April sampai berakhir 7 Juni 2016 ini memiliki empat subtema yang ditentukan panitia, yaitu “Peran Pancasila dalam Mengawal Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”, “Peran Pemuda dalam Mempertahankan Ideologi Pancasila”, “Pancasila di Tengah Kencangnya Arus Globalisasi”, dan yang terakhir “Pancasila dalam Realita Masa Kini”.

Menurut ketua pelaksana, Bandung Setiawan, kegiatan ini bertujuan untuk mengingat akan pentingnya pemahaman Pancasila sebagai ideologi Negara, sekaligus mencari bibit-bibit penulis.

IPNU Tegal

“Dengan adanya lomba ini, harapannya kita semua dapat mengingat akan pentingnya pemahaman Pancasila sebagai ideologi negara, selain itu juga sebagai ajang untuk mencari bibit-bibit penulis andal,” kata Bandung Setiawan.

IPNU Tegal

Ia juga menambahkan bahwa untuk mengetahui informasi tentang lomba ini dapat diakses di laman resmi PMII Unila, yaitu www.pmii-unila.org. Peserta disyaratkan merupakan mahasiswa aktif (D3/S1) atau pelajar SMA/sederajat, mengirimkan maksimal tiga karya, mengisi formulir yang dapat diunduh di www.pmii-unila.org, membayar biaya pendaftaran sebesar Rp25.000. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Pesantren IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock