Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Oleh Irfan Nuruddin

---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni Pondok? Langitan, perihal sosok Jokowi,? bagaimana keislamannya dan kiprah dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.

Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu shohih, tsiqoh, aku iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?

Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari sumber yang tsiqoh, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang aku tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor Jokowi.

“Pak, keislaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya keislaman Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad? 22 Juni di ndalem beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.

? “Islam-imanipun Jokowi miturut kulo sae, saestu sae (baik, benar-benar baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq, (Pengasuh PP Al Muayyad).

IPNU Tegal

Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena beberapa anggotanya sama mencalonkan dirimenjadi Wali Kota, Pak Jokowi sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat, adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil mantu oleh orang-orang? yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak tho Gus?” jawab beliau lugas.

? ? “Tapi kulo gih tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain, hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe… Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau sengau menahan isak.

IPNU Tegal

Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan pertanyaan rasanya tidak mampu.Terbawa suasana yang tiba-tiba mengiris-ngiris kalbu.

? “Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus, bacaannya tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan seperti itu menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi kafir?” Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.

Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut. Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih masih dan dasyhat, sehingga pada waktu ? Jokowi sowan ke Pak Dul Kareem (begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti itu, tetapi menawi kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir, nasrani,… kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau ibu saya yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),”? kata Jokowi ditrukan Pak Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.

Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur, setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin. Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN dan PKS-mambu-mambu sitik (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).

Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga kebijakannya, terutamapada umat Islam?”

? “Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat Islam subtantif Gus, tur yo merakyat tenan, umat Islam di Solo itu kan mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi ? Pak Jokowi untuk mengangkat ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional, minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada lagi,jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.

Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan? dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil di sekitarnya.

? “Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar untukmenghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak ? salah untuk berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan marak… podo ditumpakke? jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek Wali Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa dihargai),” ? cerita PakDul Kareem panjang lebar.

Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan semrawut, dan? sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal Ahbabul Musthofa saat ini.

Solo saat ini jadi lebih hijau dhohiron wa bathinan, peringatan hari besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir dan mengkhatamkan Al Qur’an.

? “Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, kulo ngiro niku isinya arto Gus, tapi jebule stiker (saya kira isinya uang, tapi sertanya isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua Selamat Dunia Akhirat.”

Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000 stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang puluhan juta. Jebule cuma stiker.

Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi adalah salah satu pembinanya.

? “Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados ketua PCNU Solo, jadi gih saget bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem dengan antusias.

? “Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu juga kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca yang di depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal untuk hal seperti itu, nyuruh ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat ketika Jokowi ngangkati gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam pembukaan apa itu, aku lupa.

? Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya dari keluarga muslim yang baik, ? yang juga telah melakukan rukun Islam kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta, dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu, Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya. ? Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah ? “Akulah yang paling Islam, Akulah yang paling benar” yang lain KW.

Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak Dul Kareem dalam ranah politik dia.

“Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan hanya bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan saya dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah kulo yang salah, kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan sampluk. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.

Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan, dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.

Wallohu a’lam bisshowab.

Irfan Nuruddin, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, RMI NU IPNU Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Kiai-kiai di Wonosobo Nonton Bareng "Sang Kiai"

Wonosobo, IPNU Tegal. Sebanyak 231 kiai dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Wonosobo menggelar nonton bareng film Sang Kiai di Dieng Cinema, Ahad (16/6) kemarin. Nonton bareng bersama kiai Wonosobo itu dilakukan di sela-sela harlah ke-90 NU sekaligus memperingati hari lahirnya Pancasila.

Ketua PCNU Kabupaten Wonosobo Arifin Shiddiq menuturkan, kader muda NU seharusnya meniru rekam jejak mbah KH Hasyim Asy’ari. Karena pendiri NU tersebut memiliki karakter yang luar biasa. "Karakter tersebut belum banyak dimiliki penerus NU pada masa sekarang," katanya. 

Kiai-kiai di Wonosobo Nonton Bareng Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai-kiai di Wonosobo Nonton Bareng Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai-kiai di Wonosobo Nonton Bareng "Sang Kiai"

Pembantu Rektor I UNSIQ Jawa Tengah KH Mukhotob Hamzah yang ikut nonton bareng menambahkan, para santri di era sekarang harus memiliki mental pejuang. Yaitu berjuang untuk dirinya, berjuang buat agamanya, dan berjuang demi bangsanya yaitu bangsa Indonesia.

IPNU Tegal

"Para Santri di Wonosobo bisa belajar keteladanan yang dilakukan sosok mbah KH Hasyim Asy’ari," tandasnya usai nonton bareng film yang diaktor Ikranegara dan Agus Kuncoro tersebut.

IPNU Tegal

Kepala Kementrian Agama Kabupaten Wonosobo Drs. H. Muhtadin mengatakan, Mbah Hasyim juga merupakan sosok yang berani dalam tindakan. Dia berpendirian dan bersemangat melawan penjajah Jepang. Mbah Hasyim menunjukkan bahwa untuk meraih kemenangan tidak harus dengan senjata lengkap. Cukup dengan tekad yang kuat meskipun senjatanya ala kadarnya.

"KH Hasyim Asy’ari menunjukkan betapa wajibnya hukum membela tanah air dari penjajahan. Beliau menyeru para santrinya untuk membela tanah air," jelasnya.

Film yang disutradarai Rako Prijanto membuat para kiai di Wonosobo bangga. Bahwa NU memiliki sosok yang berani berjihad demi agama dan bangsanya. Di film ini membuktikan bahwa banyak peran tokoh ulama dan kiai yang ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Fathul Jamil

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal RMI NU, Pertandingan IPNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

SMA NU 01 Bondowoso Terbitkan Buletin Mata Air NU

Bondowoso, IPNU Tegal

Sekolah Menengah Atas (SMA) Nahdlatul Ulama 01 Kabupaten Bondowoso menindaklanjuti pelatihan jurnalistik Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTNNU) beberapa waktu lalu dengan menerbitkan Buletin Mata Air NU.

SMA NU 01 Bondowoso Terbitkan Buletin Mata Air NU (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA NU 01 Bondowoso Terbitkan Buletin Mata Air NU (Sumber Gambar : Nu Online)

SMA NU 01 Bondowoso Terbitkan Buletin Mata Air NU

Pemimpin Redaksi Buletin Mata Air NU Reni mengatakan, nama buletin tersebut berdasarkan usulan salah satu tim redaksi. Nama ini merupakan perpaduan dari tiga kata, yaitu Mata, Air, dan NU. Dengan “Mata” diharapkan masyarakat melihat berita-berita dalam buletin yang pihaknya terbitkan sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara “Air” mengacu pada fungsinya sebagai sumber kehidupan bagi makhluk hidup, baik

IPNU Tegal

manusia, hewan, dan tumbuhan. “Harapannya, media buletin Mata Air NU ini bisa menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat,” kata gadis yang masih duduk di kelas 11 itu.

Yang terakhir adalah kata “NU”. Menurutnya, ini bukan hanya lantaran SMA tempat penerbitan buletin tersebut berada di bawah naungan NU, melainkan juga agar buletin ini mendapatkan doa barokah dari para pendiri NU.

IPNU Tegal

Sebagian siswa-siswi SMA NU 01 setempat yang merupakan tim redaksi Buletin Mata Air NU berkumpul di ruang kelas 11 SMA NU 01 Belindungan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (11/5). Mereka menyiapkan email redaksi.

Tak hanya itu, mereka juga berbagi peran untuk mengerjakan pengetikan sejumlah tulisan. Ada yang menulis puisi, cerpen, juga ada yang menulis berita kegiatan di pondoknya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal RMI NU, Pendidikan IPNU Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Perilaku Eksklusif Jadi Indikator Aliran Agama yang Melenceng

Pringsewu, IPNU Tegal. Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung KH Khairuddin Tahmid menjelaskan bahwa jika ingin melihat apakah suatu aliran, paham atau organisasi keagamaan Islam memiliki aliran yang melenceng, sesat ataupun radikal dapat diketahui dengan keterbukaannya dalam melakukan aktivitas keagamaan.

Perilaku Eksklusif Jadi Indikator Aliran Agama yang Melenceng (Sumber Gambar : Nu Online)
Perilaku Eksklusif Jadi Indikator Aliran Agama yang Melenceng (Sumber Gambar : Nu Online)

Perilaku Eksklusif Jadi Indikator Aliran Agama yang Melenceng

"Kalau lihat kelompok atau paham yang pengajiannya nyumput-nyumput (tertutup, red) dan tidak boleh diketahui oleh orang lain diluar kelompoknya bisa jadi aliran tersebut patut diwaspadai sesat ataupun radikal," katanya didepan Jamaah Itikaf Bersama Malam Ramadhan di Masjid Baitul Izza Pringsewu, Kamis (16/6) malam.

Sikap Inklusif dan eksklusif menurutnya menjadi salah satu indikator untuk memahami sebuah paham atau aliran keagamaan dalam Islam. "Kalau ada kelompok pengajiannya terbuka pakai sound system melibatkan semua pihak? maka sulit untuk dikategorikan menyimpang," tambah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini sembari menjelaskan beberapa poin dari 10 Kriteria Aliran Sesat yang telah ditetapkan oleh MUI Pusat.

Penjelasan ini dipaparkannya di tengah-tengah kondisi Umat Islam saat ini yang terkadang gampang terbawa arus aliran-aliran sesat dan radikal tanpa dapat menyaring dengan komprehensif. Aliran tertutup dan radikal muncul dengan membawa berbagai motif serta merekrut jamaahnya dengan iming-iming materi maupun non materi.

Selain menjelaskan tentang hal tersebut, Kiai Khairuddin juga memaparkan sikap MUI sebagai organisasi Ulama dalam berkiprah dan mensikapi berbagai paham yang ada di Indonesia.

IPNU Tegal

"MUI mengusung Islam Washatiyyah atau moderat. Islam tengah-tengah yang terkadang harus tegas dan di sisi lain harus lembut. Layyinan Wala Radikaliyyan Wala Terorisiyyan," kata Kiai yang memiliki selera humor tinggi ini.

Kiai Khairudin mencontohkan sikap tegas MUI dalam menyikapi perkembangan perilaku masyarakat yang semakin tidak terkontrol di Media Sosial dengan mengeluarkan menerbitkan Fatwa MUI Nomor 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial.

IPNU Tegal

Saat ini lanjutnya diperlukan langkah-langkah untuk menjaga moralitas ummat sehingga Ibadah akan berpengaruh positif pada Haliyah keseharian dan peningkatan keimanan umat.

"Kalau mau tahu Jumlah umat Islam di Indonesia lihatlah berapa banyak yang shalat Jumat dan Shalat Id. Tapi kalau mau tahu berapa banyak orang Islam yang beriman di Imdonesia lihatlah ketika shalat shubuh," katanya diiringi senyum yang hadir. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Amalan, RMI NU IPNU Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

ASEAN Apresiasi Pendekatan Lunak untuk Atasi Terorisme

Jakarta, IPNU Tegal



Negara-negara yang turut serta dalam KTT ASEAN 2016 di Laos mengapresiasi cara Indonesia dalam menangani kasus terorisme yang menimpa.

Presiden Joko Widodo di Vientiane, Laos, Kamis, menanggapi respons positif yang diberikan negara-negara anggota ASEAN terkait penanganan terorisme di Indonesia.?

ASEAN Apresiasi Pendekatan Lunak untuk Atasi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
ASEAN Apresiasi Pendekatan Lunak untuk Atasi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

ASEAN Apresiasi Pendekatan Lunak untuk Atasi Terorisme

Dalam forum tersebut, Jokowi memang sempat mempertanyakan efektivitas penanganan terorisme dengan hanya mengandalkan kekuatan militer semata.

"Berbeda penanganannya di negara yang lain, yang banyak dilakukan dengan penegakan hukum, diburu dengan kekerasan. Kita ini punya pendekatan lunak, dengan cara pendekatan agama, dengan cara pendekatan budaya, itu yang kita sampaikan," katanya.

Meski demikian, dia memastikan bahwa pemerintah tetap akan melakukan penegakan hukum bila memang pendekatan-pendekatan lunak tidak membuat jera para pelaku terorisme.

IPNU Tegal

Sebab, menurut dia, Indonesia sejatinya menerapkan kombinasi antara pendekatan keras dengan pendekatan lunak.?

IPNU Tegal

Walaupun yang disebut terakhir itu merupakan prioritas pemerintah saat ini.

"Tapi dari proses yang mereka lihat di Indonesia, memang mereka lihat lebih memberikan hasil. Paling tidak, tidak memproduksi teroris semakin banyak. Mereka yang mengatakan itu sendiri," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal RMI NU IPNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Jakarta, IPNU Tegal. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) 105/2013 dan 106/2013 yang mengatur memberikan fasilitas berobat gratis kepada pejabat negara hingga ke luar negeri.

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

“Memberikan fasilitas keuangan negara kepada pejabat negara secara berlebihan di tengah kemiskinan ekonomi rakyat serta derita karena bencana alam, adalah sebuah kezaliman,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Ahad (29/12).

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengatakan, Perpres tersebut menyakiti nurani rakyat yang pada umumnya masih miskin dan dikhawatirkan menjadi pemicu perlawanan rakyat.

IPNU Tegal

“Oleh karenanya, Perpres 105 dan 106 tahun 2013 tertanggal 13 Desember 2013 yang memberikan fasilitas berobat gratis sampai ke luar negeri segera dicabut,” terang Kiai Hasyim.

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini juga menyarankan para penyelenggara negara dan pejabat publik yang masih punya rasa tanggungjawab kepada rakyat, hendaknya menolak fasilitas berlebihan tersebut.

IPNU Tegal

“Sekalipun yang mau menolak pasti jumlahnya sangat minoritas. Seandanya pejabat negara meninggal karena sakit, biarlah meninggal di tanah air bersama rakyat yang mengantarkan mereka menjadi pejabat,” katanya.

Keluarnya Perpres menjalang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pejabat Negara.

“Hendaknya diingat saat ini menjelang pileg dan pilpres, maka perpres 105/106 akan menambah rasa kejengkelan kepada mereka yang akan menjadi penyelenggara Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden 105/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu. Juga, Perpres 106/2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga Negara.

Dalam laman Sekretaris Kabinet, kedua produk aturan itu dikeluarkan Presiden terkait mulai dilaksanakannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014.

Dengan Perpres itu, para menteri, pejabat eselon I, dan pimpinan lembaga negara dimudahkan untuk berobat ke luar negeri. Seluruh biaya itu nantinya akan ditanggung oleh negara, baik APBN maupun APBD.

Presiden mempertimbangkan risiko dan beban tugas menteri dan pejabat tertentu, serta ketua, wakil ketua dan anggota lembaga negara sehingga pemerintah memutuskan membuat perlindungan kesehatan khusus bagi pejabat negara. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal RMI NU, Bahtsul Masail, IMNU IPNU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS

Jakarta, IPNU Tegal. Menteri Pendidikan dan Olahraga Imam Nahrawi segera merealisasikan janji kepada para atlet Indonesia yang meraih medali emas di SEA Games 2017 Kuala Lumpur 2017 untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menpora menemui Menpan-RB, Asnan Abnur di Kantor Kemenpan-RB, Selasa (5/9).?

Pertemuan itu terkait koordinasi tindak lanjut usulan pengangkatan menjadi PNS yang saat ini berubah nama menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) bagi para atlet peraih medali emas SEA Games 2017.

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS

"Terima kasih tentunya kepada Menpan RB yang telah memberikan terobosan bagi masa depan atlet. Hal ini sebagai bentuk kesungguhan pemerintah terhadap masa depan atlet. Tentunya atlet tersebut harus memenuhi kualifikasi dan peraturan yang sudah baku di Kemenpan RB, baik dari sisi pendidikan, umur dan sebagainya,” kata Imam Nahrawi usai melakukan pertemuan tertutup dengan Menpan RB Asnan Abnur, Selasa (5/9) siang.

Lebuh lanjut, Imam yang didampingi Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta dan Asisten Deputi Standardisasi dan Infrastruktur Olahraga Muhamad Hanan Rahmadi menambahkan, kemudahan untuk menjadi PNS merupakan salah satu bonus yang sudah disiapkan.?

IPNU Tegal

"Bonus untuk SEA Games 2017 tidak hanya berupa uang tunai. Tentunya ini merupakan terobosan baru yang disiapkan pemerintah kepada para atlet. Berapa banyaknya atlet yang akan di promosikan menjadi PNS tentu akan diverifikasi lebih lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” pungkas Imam.

Sementara itu, Menpan-RB Asnan Abnur mengakui pihaknya bersama Kemenpora tengah merancang ? terobosan untuk ? para atlet yang berprestasi khususnya di SEA Games 2017.?

IPNU Tegal

“Ini merupakan terobosan khusus. Ini juga merupakan bentuk apresiasi kepada para atlet yang sudah berprestasi terutama ? di level internasional. ? Dengan demikian, kalau mereka sudah tidak jadi atlet maka mereka bisa bekerja sesuai dengan keahliannya,” tandas Asnan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kajian Sunnah, RMI NU, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock