Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Medan, IPNU Tegal. Ketua Umum PBNU KH. A. Hasyim Muzadi meminta umat Islam tidak terkecoh dan selalu waspada terhadap ajaran Islam yang “aneh-aneh” yang dapat meresahkan masyarakat.

Umat Islam perlu lebih berhati-hati dan selalu waspada terhadap setiap ajaran Islam model baru yang disebarkan secara simpatik oleh seseorang yang mengaku sebagai ustadz, wali dan bahkan Jibril.

“Di Malang ada yang mengaku sebagai kelompok Islam tapi sholatnya menggunakan dua bahasa,” kata Hasyim pada Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, di Medan, Minggu (20/8) kemarin.

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Dicontohkan lagi, di Purwokerto dan Jakarta seorang umat Islam mengaku sebagai Jibril atau mendapatkan wahyu dari Jibril. “Orang tersebut sudah diamankan oleh pihak berwajib,” katanya.

Begitu pula di salah satu daerah di Jawa Tengah ada kelompok yang sedang Shalat menganjurkan jamaahnya agar tidak menggunakan busana. “Tindakan seperti ini tidak hanya aneh, melainkan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam,” kata Hasyim.

Umat Islam diminta jangan sampai terpengaruh dengan ajaran yang menyesatkan, karena ajaran yang aneh-aneh itu tidak ada dalam Islam. "Masyarakat jangan sampai terkecoh akan ajaran itu,” kata Hasyim.

IPNU Tegal

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang itu mengingatakan, saat ini, banyak orang yang kelihatan pandai dan mempunyai ilmu agama yang tinggi, namun tidak dibarengi keimanan kepada Allah SWT.

“Seorang yang mengetahui hukum kadang mereka itu sering melakukan pelanggaran dan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan hukum tersebut. Hal semacam itu terjadi karena ilmu tinggi yang dimilikinya tidak dibarengi keimanan, ketaqwaan serta tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT,” ujarnya. (har/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal AlaNu, Kajian Sunnah, IMNU IPNU Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad

Bantul, IPNU Tegal. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu.” KH Habib Abdus Syakur, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, mengutip ayat Al-Qur’an itu di sela-sela amanatnya sebagai Pembina Upacara Peringatan Hari Kartini, 21 April 2014 yang diselenggarakan di halaman Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul.

Dalam kesempatan itu Habib juga menegaskan bahwa Islam mengajarkan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT. Tidak ada keunggulan bangsa Arab atas bangsa lainnya, bahkan tidak ada keunggulan apapun dari laki-laki atas perempuan, melainkan semata ketaqwaan mereka kepada Allah.

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Perayaan Hari Kartini di Pesantren Al-Imdad

Di hadapan segenap siswa-siswi MA Unggulan Al-Imdad Bantul yang khusyu’ mengikuti jalannya Peringatan Hari Kartini tersebut, Habib juga menyampaikan besarnya peran kaum perempuan dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

IPNU Tegal

“Dengan demikian Hari Kartini ini sangat pantas dipersembahkan bukan hanya untuk Raden Ajeng Kartini, melainkan juga untuk pahlawan-pahlawan perempuan lainnya. Bahkan juga bagi semua yang berusaha mewujudkan kesetaraan tersebut. Termasuk santri-santri putri yang berjuang meraih ilmu demi mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik,” ujar Habib.

IPNU Tegal

MA Unggulan Al-Imdad yang berdiri belum genap dua tahun ini memang telah memprogramkan peringatan Hari Kartini 2014 secara khusus. Terkait hal ini, pihak madrasah melalui Fajar Bashir selaku Kepala TU telah meminta segenap siswa dan siswi untuk mengenakan busana adat.

“Untuk para siswi kita sudah meminta mereka untuk mengenakan kebaya, dan para siswa dipersilahkan untuk mengenakan batik yang dilengkapi dengan sarung setinggi lutut,” ujarnya

“Bahkan para guru yang memiliki kegiatan belajar-mengajar di hari ini juga kita minta untuk turut mensukseskan acara Peringatan Hari Kartini yang kita gagas,” imbuhnya.

“Dan terimakasih kepada Kiai Habib sebagai Pengasuh Pondok Pesantren dan Bapak Taufiq Bukhori selaku Sekretaris Yayasan yang secara khusus mengenakan surjan sebagai sebuah bentuk teladan bagi para santri.” (Muhammad Yusuf Anas/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu, Tokoh, Sholawat IPNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial

Jakarta, IPNU Tegal

Buruh harus lebih sering melakukan dialog sosial sebagai upaya penguatan, pemahaman peraturan dan regulasi ketenagakerjaan, ujar Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) Syaiful Bahri Anshori.

“Langkah itu penting supaya buruh mengerti bagaimana hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan,” ujar Syaiful, di Jakarta, Selasa (4/4).

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Buruh Harus Rajin Lakukan Dialog Sosial

Persoalan buruh, demikian Syaiful menambahkan, semakin banyak dan semakin kompleks. Karena itu, butuh dukungan dari pilar Tripartit, yakni serikat buruh yang kuat dan baik, Apindo yang apik dan pemerintah yang mempunyai regulasi tegas dan pengawasan efektif.

IPNU Tegal

“Persoalan hubungan industrial saat ini adalah bagaimana memahamkan Sarbumusi dan anggota dalam menyelesaikan persoalan-persoalan perburuhan sehingga penguatan dalam hal pembelaaan hak-hak buruh yang diabaikan menjadi berkurang,” paparnya.

IPNU Tegal

DPP K-Sarbumusi NU telah mengambil langkah untuk melakukan penguatan pembelaan hak-hak buruh melalui pendirian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bagi buruh sebagai bagian penting pembelaan melalui litigasi dan nonlitigasi.

“DPP K-Sarbumusi NU juga terus berupaya melakukan terobosan dan inovasi terkait bagaimana mengembangkan dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui pendiri Koperasi Sarbumusi,” tuturnya.

Syaiful mengajak anggota Sarbumusi NU lebih banyak silaturahmi dan berkomunikasi dengan orang tuanya, yakni NU.

“Ini jelas karena Sarbumusi merupakan badan otonom NU. Setiap tingkatan organisasi juga harus lebih membangun solidaritas antarsesama dan antarstruktural. Ssehingga lebih cepat bergerak dan beraktivitas dalam mencapai tujuan,” pungkas Syaiful. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Internasional, Ubudiyah, AlaNu IPNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi

Oleh Muhammad Ishom 



“Aku punya gagasan untuk mempertemukan mereka berdua

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi



agar saling isi dengan cerita derita duka lara

Barangkali nanti tumbuh naluri sejati

IPNU Tegal

dan kembali seperti sediakala

Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti

Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” (Bait ke-6)

Itulah enam baris dari bait terakhir lirik lagu berjudul “Zaman” yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya– Ebiet G. Ade–dan dirilis pada tahun 1986. Apa yang dimaksudkan Ebiet dengan frasa “mereka berdua” pada baris pertama di atas tak lain adalah bencong dan tomboi sebagaimana terdapat dalam judul tulisan ini meski Ebiet tidak menyebut sama sekali dua istilah itu di dalam lirik lagunya. 

IPNU Tegal

Kedua istilah itu telah umum digunakan oleh masyarakat untuk menyebut kelompok orang yang perilaku atau penampilannya tidak cocok menurut kewajaran dengan jenis kelamin yang disandangnya. Mereka yang disebut bencong mungkin sama dengan yang dimaksud gay atau transgender dalam LGBT meski tidak setiap bencong adalah gay atau transgender. Demikian pula mereka yang disebut tomboi mungkin sama dengan yang dimaksud lesbian dalam LGBT meski tidak setiap tomboi adalah lesbian. 

Saat ini orang tengah ramai kembali membicarakan tentang LGBT sehubungan dengan penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perkara 46/PUU-XIV/2016 yang diajukan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Euis Sunarti bersama sejumlah pihak. Tahun lalu Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta para lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. 

Penolakan itu telah dipahami sebagian kalangan di sejumlah postingan di media sosial bahwa MK telah melegalkan perbuatan zina dan homoseksual. Pemahaman sekaligus tuduhan ini ditolak oleh Juru Bicara MK Fajar Laksono yang menegaskan Mahkamah tidak melegalkan perbuatan seksual sejenis (Kompas.com, 18/12/2017, 20:15 WIB).

Namun, tulisan ini tak dimaksudkan untuk membicarakan polemik tentang LGBT dari berbagai perspektif karena penulis hanya sekedar ingin mengingat kembali bahwa tiga puluh satu (31) tahun lalu seorang penyanyi sekali pencipta lagu–Ebiet G. Ade–telah menyodorkan sebuah gagasan untuk mencarikan solusi terhadap fenomena bencong dan tomboi yang masing-masing bisa masuk dalam kategori gay atau transgender dan lesbian.

Sejauh yang bisa saya tangkap dari lirik lagu “Zaman” secara keseluruhan, Ebiet G. Ade berpikir bahwa bencong dan tomboi dapat dipertemukan dalam ikatan perkawinan sebab mereka yang secara fisik laki-laki tetapi secara seksual tertarik kepada sesama jenis sebenarnya juga menyadari ketidak wajarannya. Mereka bahkan tak menghendaki hal itu terjadi sehingga selalu menangisi nasibnya. Akhirnya mereka sampai pada pertanyaan mendasar apakah hal itu berdosa. 

Pikiran Ebiet G. Ade tersebut sebagaimna dapat kita simak pada bait ketiga sebagai berikut: 

Ia bersembunyi menyimpan tangis yang tak kuasa dibendung

Ia jatuh cinta namun keburu sadar itu tak wajar

Tanda tanya bergolak di dalam fikirannya, “Berdosakah?”

Sedang ia pun tak menghendaki

Siapa gerangan yang dapat membantu menjawabnya? (Bait ke-3)





Pada baris terkahir dari bait ini Ebiet G. Ade mengajukan pertanyaan siapa gerangan yang dapat membantu menjawab pertanyaan dari laki-laki bencong tentang berdosa tidaknya jika ia jatuh cinta secara tidak wajar karena mencintai sesama jenis. Beberapa pihak dari kalangan agamawan baik Islam maupun Nasrani telah memberikan jawaban tegas bahwa mencintai sesama jenis yang kemudian diungkapkan dengan hubungan seksual adalah berdosa. 

Pada bait keempat dan kelima Ebit G. Ade mengungkap fenomena yang berkebalikan dengan bencong, yakni tomboi sebagaimana tertuang dalam dua bait berikut ini:

Perempuan dongak di atas angin

Kepalanya bengkak penuh mimpi kekerasan

Tubuh sintal dan tegap menampilkan kejantanan

Tak tercermin sikap lembut sebagaimana kodratnya (Bait ke-4)

 

Rambutnya yang kasar kotor berdebu

Diisapnya cerutu bibir retak terbakar

Langkah dihentak-hentak, galak seperti singa

Ia ingin tampil lengkap sebagaimana layaknya lelaki (Bait ke-5)





Kedua bait itu (Bait ke-4 dan ke-5) mengungkapkan secara jelas tentang tomboi dengan disebutnya perempuan yang bertingkah laku tidak sebagaimana kodratnya tetapi malahan  ingin menampilkan kejantanan sebgaimana layaknya lelaki. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Queen Mary University, London, 1 dari 3 perempuan tomboi tumbuh menjadi lesbian. (Hidayatullah, 12 Juli 2011-10:44 WIB). 

Perempuan tomboi yang tumbuh menjadi lesbian inilah yang dibicarakan Ebiet G. Ade untuk dipertemukan dalam ikatan perkawinan dengan seorang bencong yang gay atau transgender sebagaimana diungkapkan dalam bait keenam di awal tulisan ini. Argumentasi Ebiet G. Ade dalam gagasanya ini adalah karena dari perkawinan semacam ini barang kali akan tumbuh naluri sejati dari masing-masing pihak sehingga akan kembali menjadi orang normal sesuai dengan kodrat jenis kelamin masing-masing. 

Gagasan Ebeit G. Ade tersebut patut diapresiasi karena dari berbagai perspektif agama, sosial dan susila tidak bertentangan. Bisa jadi gagasan ini menjadi alternatif terapi yang mujarab bagi ketidakwajaran kaum bencong dan tomboi dalam ekspresi diri dan seksualitasnya sehingga mereka bisa diselamatkan secara hukum maupun moral. Namun pertanyaannya adalah apakah para bencong mau kawin atau dikawinkan dengan kaum tomboi?

Jawaban dari pertanyaan itu telah Ebiet temukan dalam kedua baris terkahir dari bait keenam atau penutup di atas: “Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti. Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” Artinya jika Tuhan berkata “Kun” (jadilah), maka “fayakun” (maka jadilah).  

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaNu IPNU Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Rakernas, KMNU Rumuskan Program Kerja dan Resmikan Logo

Jakarta, IPNU Tegal. Pengurus Nasional Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) mengadakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Pondok Pesantren Al-Aqsho, Kelapa Gading, Jakarta, 3-5 April 2015. Forum ini akan membahas dua agenda utama, yaitu penetapan program kerja kepengurusan periode 2015-2016 dan peresmian logo KMNU Nasional.

Rakernas perdana ini mengusung tema “Optimalisasi Potensi guna Membangun Kinerja KMNU yang Produktif dan Berdedikasi dalam Mensinergikan Dakwah NU di Perguruan Tinggi”. Acara dihadiri seluruh pengurus KMNU Nasional yang terbentuk sesuai keputusan Munas KMNU bulan Januari lalu. Ada 71 orang yang diundang dalam acara tersebut.

Rakernas, KMNU Rumuskan Program Kerja dan Resmikan Logo (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas, KMNU Rumuskan Program Kerja dan Resmikan Logo (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas, KMNU Rumuskan Program Kerja dan Resmikan Logo

Panitia membagi acara tersebut dalam tiga sesi, yaitu Rapat General, Rapat Komisi, dan terakhir Pleno. Masing-masing Presidium Nasional akan menyampaikan usulan program kerjanya selama setahun ke depan dan akan dibahas bersama dalam Rapat General.

IPNU Tegal

Selain itu Rakernas juga akan merumuskan sistem Pengkaderan, membangun sistem komunikasi dan koordinasi, serta menyiapkan kegiatan akbar. (Red: Mahbib)

IPNU Tegal

 Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Anti Hoax, AlaNu IPNU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal!

Jakarta IPNU Tegal,. Film-film yang dianggap Islami sekarang, menurut Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri, sebenarnya terjebak dalam simbol agama yang dangkal. Hal itu dia tegaskan selepas Musyawarah Film Nasional dengan tema Posisi Indonesia dalam Film Nasional, yang berlangsung di PBNU belum lama ini.?



Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal! (Sumber Gambar : Nu Online)
Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal! (Sumber Gambar : Nu Online)

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal!

KH A Mustofa Bisri mencontohkan film-film Islami yang pernah ada, “Dulu ketika Pak Usmar Ismail bikin film, tak ada idiom sorban, sajadah, tasbih. Kalau film sekarang, supaya cinta itu tampak Islami, jadi cinta bertasbih, cinta bersorban, yang gitu-gitulah. Ada subhanallah, istighfar segala macam begitu. Film-film Usmar Ismail nggak ada. Kenapa? Karena dia mengerti "inti" dari agama Islam itu apa,” tegasnya.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpendapat, film Islam itu harus bertema yang universal."Islam yang sejak zaman Nabi Ibrohim; atau orang sekarang mengatakan Islam yang universal tentang kemanusiaan, tentang kasih sayang. Itu malah tidak naik dalam film-film kita sekarang. Dulu itu ada cinta kepada tanah air, kasih sayang terhadap sesama manusia, pasrah kepada Tuhan; yang esensial semacam itu yang bisa dirasakan penonton,” tambahnya.

Jadi, lanjut penulis kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi? ini, film sekarang terjebak pada simbol-simbol yang dangkal, “Simbol itu pun nggak bener. Misalnya yang pake sorban, itu nggak jelas, itu sorban model mana? Arab nggak, India nggak, Indonesia nggak. Kenapa nggak pake udeng-udeng aja?” ungkapnya sambil tertawa.

IPNU Tegal

Orang salah mengambil kesimpulan tentang simbol agama, tambah putra pengarang Tafsir Al-Quran bahasa Jawa: Al-Ibriz ini, “Mereka menganggap sorban, sajadah, jubah itu simbol agama dari Rosulullah. Tidak! Itu penghormatan Rosulullah kepada budaya setempat. Karena yang pake sorban, jubah, itu tidak hanya Rosulullah, Abu Jahal juga pake. Itu penghormatan Rosulullah terhadap budaya setempat!”

“Jadi,” sambung kiai yang pelukis ini, “kalau kita mau ittiba (mengikuti, red) Rasul dalam hal pakaian, ya begini, (Gus Mus menunjuk pada pakaian batik coklatnya). Kalau Kanjeng Nabi pakai pakaiannya orang Arab, meskipun sama dengan Abu Jahal, dia menghormati budaya setempat. Saya memakai pakaian orang Indonesia."

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang, Jawa tengah ini juga menambahkan, pembuat film bernuansa agama harus mengerti moral agama sehingga menghasilkan film yang mencerahkan penonton. Film yang bagus itu, selepas menontonnya, penonton tercerahkan, ”Penonton berpikir, apakah saya hamba yang baik atau bukan,” pungkasnya.

?

IPNU Tegal

Penulis ? ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal News, AlaNu, Doa IPNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Sumenep, IPNU Tegal - Roh organisasi sekelas Nahdlatul Ulama (NU) ialah memaksimalkan fungsi pengabdian dan pemberdayaan terhadap masyarakat. Itulah yang dicerminkan oleh para pendiri dan ulama NU sekaligus pejuang negeri ini. Karenanya sangat tepat kalau LKNU Sumenep membuka layanan cuma-cuma operasi katarak.

Demikian ditegaskan Ketua NU Sumenep KH Pandji Taufik saat sambutan aksi sosial operasi gratis di aula lantai II PCNU Sumenep di Jalan Trunojoyo, Sumenep, Sabtu (16/4).

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Menurut Kiai Pandji, sejauh ini NU Sumenep berikhtiar mewujudkan misi pengabdian dan pemberdayaan di atas. Karenanya, program operasi katarak secara gratis merupakan salah satu wujud dari misi tersebut.

IPNU Tegal

Ketua LKNU Sumenep Taufikurrahman menyatakan, kegiatan tersebut menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep dan RSUD Moh Anwar Sumenep.

Kepala Dinkes Sumenep dr Fathoni dan Direktur RSUD Moh Anwar Sumenep dr Fitril Akbar tampak hadir dalam acara tersebut. Sebanyak 160 penderita katarak dioperasi dalam aksi sosial ini.

IPNU Tegal

"Operasi katarak ini sudah 4 kali dilakukan oleh LKNU Sumenep. Ini khidmah NU kepada warganya. Inilah gerakan konkret yang dilakukan NU kepada warganya," tegas Wakil Sekretaris PCNU Sumenep M Muhri Zaen.

Sebelum aksi ini digelar, beberapa pekan sebelumnya panitia menyebar pamplet dan informasi melalui jejaring sosial. Dalam pengumuman ini disebutkan, warga yang hendak mengikuti operasi katarak harus terlebih dahulu mendaftar kepada panitia. Mereka cukup menyerahkan fotokopi selembar kartu tanda penduduk.

"Ada yang mendaftar langsung pada hari H. Kami tetap melayani mereka," tandas Ketua GP Ansor Sumenep Muhri itu. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Fragmen, Sejarah, AlaNu IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock