Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Medan, IPNU Tegal. Ketua Umum PBNU KH. A. Hasyim Muzadi meminta umat Islam tidak terkecoh dan selalu waspada terhadap ajaran Islam yang “aneh-aneh” yang dapat meresahkan masyarakat.

Umat Islam perlu lebih berhati-hati dan selalu waspada terhadap setiap ajaran Islam model baru yang disebarkan secara simpatik oleh seseorang yang mengaku sebagai ustadz, wali dan bahkan Jibril.

“Di Malang ada yang mengaku sebagai kelompok Islam tapi sholatnya menggunakan dua bahasa,” kata Hasyim pada Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, di Medan, Minggu (20/8) kemarin.

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Dicontohkan lagi, di Purwokerto dan Jakarta seorang umat Islam mengaku sebagai Jibril atau mendapatkan wahyu dari Jibril. “Orang tersebut sudah diamankan oleh pihak berwajib,” katanya.

Begitu pula di salah satu daerah di Jawa Tengah ada kelompok yang sedang Shalat menganjurkan jamaahnya agar tidak menggunakan busana. “Tindakan seperti ini tidak hanya aneh, melainkan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam,” kata Hasyim.

Umat Islam diminta jangan sampai terpengaruh dengan ajaran yang menyesatkan, karena ajaran yang aneh-aneh itu tidak ada dalam Islam. "Masyarakat jangan sampai terkecoh akan ajaran itu,” kata Hasyim.

IPNU Tegal

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang itu mengingatakan, saat ini, banyak orang yang kelihatan pandai dan mempunyai ilmu agama yang tinggi, namun tidak dibarengi keimanan kepada Allah SWT.

“Seorang yang mengetahui hukum kadang mereka itu sering melakukan pelanggaran dan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan hukum tersebut. Hal semacam itu terjadi karena ilmu tinggi yang dimilikinya tidak dibarengi keimanan, ketaqwaan serta tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT,” ujarnya. (har/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal AlaNu, Kajian Sunnah, IMNU IPNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Ansor Solo Raya Tingkatkan Wawasan Kebangsaan

Solo, IPNU Tegal. Bertempat di Aula Asrama Haji Donohudan 50 Gerakan Pemuda (GP) Ansor Solo Raya, Kamis (29/8) mengikuti kegiatan Peningkatan Wawasan Kebangsaan dengan menghadirkan pembicara Kompol Tumiran Kasi Binmas Polda Jateng.  

Dalam paparan selama lebih dari satu jam bapak tiga anak ini banyak memberikan gambaran kebangsaan terkini dan memberikan sharing berbagai solusi atau alternatif-alternatif mengenai bangsa Indonesia ke arah yang menjadi lebih baik terutama bagi GP Ansor. 

Selain itu, Tumiran berpesan kepada GP Ansor juga ikut berpran aktif dalam pencegahan keamanan, ketertiban di masyarakat. Karena hal tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat saja, justru diharapkan peran serta masyarakat secara aktif bersama dan bermusyawarah demi terciptanya masyarakat yang harmonis dan yang kondusif.

Ansor Solo Raya Tingkatkan Wawasan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Solo Raya Tingkatkan Wawasan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Solo Raya Tingkatkan Wawasan Kebangsaan

“Kami berharap dari pertemuan ini agar generasi muda terutama Ansor dapat menatap masa depan kebangsaan Indonesia memiliki jati diri yang positif dan menatap ke arah yang lebih baik,” pintanya. 

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Mashri 

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kajian Sunnah, Tegal IPNU Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Pelajar NU Jatilawang Berbagi Sembako dan Bershalawat

Banyumas, IPNU Tegal - Pengurus Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas menyelenggarakan serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Lahir Ke-62 IPNU dan Ke-61 IPPNU. Mereka mengawalinya berbagi sembako kepada masyarakat yang kurang mampu di Desa Karanglewas Kecamatan Jatilawang pada Ahad (06/3). Sementara pada Rabu (9/3) mereka menggelar shalawatan dan istighotsah untuk kelulusan UN SD/MI sederajat, SMP/MTS sederajat, dan SMA/SMA/MA sederajat.

Shalwatan dan istighotsah dipimpin olehKatib Syuriyah MWCNU Jatilawang Kiai Karimul Wafa. Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua IPNU Banyumas Sulistyo yang kemudian diberikan kepada Ketua IPNU Jatilawang Imam Edi Saputra.

Pelajar NU Jatilawang Berbagi Sembako dan Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jatilawang Berbagi Sembako dan Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jatilawang Berbagi Sembako dan Bershalawat

Imam Edi menjelaskan, Harlah Pelajar NU ini diharapkan dapat menjadikan tolok ukur untuk kader IPNU dan IPPNU ke depan untuk lebih sinergi mendukung serta mengembangkan ajaran-ajaran NU serta pengabdian kepada NKRI.

Disadari atau tidak, kaderisasi IPNU-IPPNU adalah pengkaderan paling awal bagi NU sebagai generasi penerus di masa mendatang.

IPNU Tegal

"Tujuan dilaksanakannya baksos dan istighotsah akbar ini adalah sebagai upaya memperkenalkan IPNU-IPPNU kepada masyarakat serta kader-kader baru untuk melatih pengurus betapa indahnya berbagi, juga doa bersama untuk menghadapi Ujian Nasional tingkat SD/MI sederajat, SMP/MTS sederajat, dan SMA/SMA/MA sederajat," katanya. (Imam Hidayat/Alhafiz K)

IPNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal AlaSantri, Kajian Sunnah, Fragmen IPNU Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Penghafal Al-Quran Diingatkan Wasiat Kiai Arwani

Grobogan, IPNU Tegal. Penghafal Juz ‘Amma yang telah belajar di majelis Hidayatul Qur’an diwisuda secara simbolik Jumat(13/12). Wisuda disaksikan oleh masyarakat sekitar mulai kanak-kanak hingga usia tua.

Penghafal Al-Quran Diingatkan Wasiat Kiai Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghafal Al-Quran Diingatkan Wasiat Kiai Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghafal Al-Quran Diingatkan Wasiat Kiai Arwani

Kegiatan ini dibarengkan dengan acara haul Simbah K. Muslih, salah seorang tokoh penyebar ilmu agama di Desa Selo, Grobogan Jawa Tengah.

Pada wisuda tersebut dibacakan wasiat ahli Al-Quran KH Arwani Amin Kudus oleh salah seorang pengajar.

IPNU Tegal

Inti wasiat dia adalah larangan Al-Qur’an dijadikan tujuan atau alat mencari dunia. Diantaranya jangan membaca Al-Qur’an dalam Musabaqah Tilawatul Qur’an (MTQ) dengan tujuan menjadi yang terbaik dan mendapat hadiah.

IPNU Tegal

KH Imron Hasani menggaristebali wasiat KH Arwani kudus tersebut. Membaca Al-Quran dengan tujuan hadiah bisa termasuk dalam hadit Nabi “rubba qoriin wal Qur’anu yal’anuh,”.

Menurut dia, terjemahan hadits tersebut betapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an justru melaknatnya. (Ibnu Muslih/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Cerita, Kajian Sunnah IPNU Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail IPNU Tegal, sekali waktu kami mendengar soal qunut nazilah yang dibaca pada saat bencana dialami umat Islam. Pertanyaan saya, bencana seperti apa yang menuntut kita membaca qunut nazilah dan sampai kapan kita harus mengamalkan qunut tersebut? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdus Salam/Jakarta Utara).

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Musibah sesekali datang menimpa umat Islam. Dalam kondisi demikian, umat Islam harus tetap bersabar sambil mencari solusi atas musibah yang mendera.

IPNU Tegal

Selain itu, kita juga dianjurkan untuk membaca qunut di setiap shalat wajib lima waktu. Qunut ini disebut doa qunut nazilah atau qunut karena musibah.

Lalu bencana kategori apa saja yang membolehkan kita untuk mengamalkan qunut nazilah? Apakah hanya bencana alam saja, tidak untuk bencana kemanusiaan? Ada baiknya kita melihat pandangan Syekh M Nawawi Banten dalam kutipan Nihayatuz Zein berikut ini.

IPNU Tegal

?) ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Qunut nazilah) sunah dibaca pada i’tidal rakaat terakhir (di semua shalat yang diwajibkan) lima waktu sehari (karena sebuah musibah) yang menimpa umat Islam meskipun menimpa hanya seorang Muslim yang punya pengaruh luas seperti penawanan seorang alim atau seorang tokoh pemberani, sama saja baik musibah itu berbentuk kekhawatiran atas serangan musuh meskipun mereka adalah umat Islam sendiri, paceklik, kemarau panjang, wabah, maupun pes,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, Bandung, Syirkah Al-Ma’arif, tanpa tahun, halaman 67).

Kutipan ini jelas mengatakan bahwa bencana kemanusiaan juga menjadi sebab pengamalan qunut nazilah bahkan untuk menghindari serangan musuh meskipun musuh itu umat Islam sendiri.

Penyebab doa qunut nazilah ini mencakup bencana alam seperti hujan, paceklik, atau bencana kemanusiaan seperti penyerangan, penawanan, gangguan masalah keamanan, atau tindakan brutal dan sewenang-wenang lainnya sebagaimana keterangan berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

Artinya, “Qunut juga disunahkan pada i‘tidal rakaat terakhir di setiap shalat wajib karena sebuah musibah yang menimpa umat Islam secara umum seperti paceklik, khawatir dari serangan musuh, kemarau panjang, hujan mengandung mudharat misalnya terhadap lahan pertanian, atau musibah yang menimpa beberapa orang Muslim yang berpengaruh luas seperti penawanan seorang alim atau seorang tokoh pemberani karena mudharat umat Islam tanpa keduanya; berdasarkan riwayat sahih bahwa Rasulullah SAW membaca qunut sebulan penuh seraya berdoa untuk mengecam pembunuh para sahabatnya di Bi’ri Ma‘unah untuk menolak kesewenang-wenangan para pelaku, bukan untuk memperbaiki korban tewas karena itu tidak mungkin. Diqiyas pula kasus selain kekhawatiran serangan musuh,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 2012 M/1433-1434 H, juz I, halaman 183).

Adapun pengamalan qunut nazilah hanya terbatas pada shalat wajib lima waktu. Kesunahan qunut nazilah tidak berlaku pada jenis shalat lainnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sembahyang sunah, nazar, dan shalat jenazah tidak termasuk kategori shalat wajib. Karena itu membaca qunut nazilah pada shalat jenazah makruh karena shalat itu harusnya sebentar. Di luar kategori ‘musibah’ adalah qunut yang dibaca bukan karena musibah. Ini jelas makruh,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 2012 M/1433-1434 H, juz I, halaman 183).

Qunut nazilah diamalkan sejauh bencana yang menimpa umat Islam itu masih berlangsung. Kalau bencana itu sudah tidak lagi berlangsung, maka qunut nazilah tidak lagi disunahkan. Hal ini disinggung oleh Sayyid Bakri dalam I‘anatut Thalibin berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tidak disunahkan sujud sahwi karena meninggalkan qunut nazilah karena qunut nazilah merupakan sunah sementara di dalam ibadah shalat di mana kesunahan qunut itu hilang seiring dengan hilangnya musibah yang menimpa,” (Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, tanpa tahun, Syirkah Isa Al-Babi Al-Halabi, Daru Ihyail Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 198).

Dari pelbagai keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa doa merupakan senjata ampuh orang-orang beriman. Terlebih lagi Rasulullah SAW mencontohkan bagaimana doa qunut menjadi salah satu jalan dalam menghadapi sebuah musibah yang sedang mendera umat Islam. Tentu saja qunut nazilah diamalkan sesuai dengan ketentuan syara’ yang diatur dalam kitab fiqih.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kajian Sunnah, News IPNU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS

Jakarta, IPNU Tegal. Menteri Pendidikan dan Olahraga Imam Nahrawi segera merealisasikan janji kepada para atlet Indonesia yang meraih medali emas di SEA Games 2017 Kuala Lumpur 2017 untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menpora menemui Menpan-RB, Asnan Abnur di Kantor Kemenpan-RB, Selasa (5/9).?

Pertemuan itu terkait koordinasi tindak lanjut usulan pengangkatan menjadi PNS yang saat ini berubah nama menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) bagi para atlet peraih medali emas SEA Games 2017.

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Segera Realisasikan Atlet Peraih Emas Jadi PNS

"Terima kasih tentunya kepada Menpan RB yang telah memberikan terobosan bagi masa depan atlet. Hal ini sebagai bentuk kesungguhan pemerintah terhadap masa depan atlet. Tentunya atlet tersebut harus memenuhi kualifikasi dan peraturan yang sudah baku di Kemenpan RB, baik dari sisi pendidikan, umur dan sebagainya,” kata Imam Nahrawi usai melakukan pertemuan tertutup dengan Menpan RB Asnan Abnur, Selasa (5/9) siang.

Lebuh lanjut, Imam yang didampingi Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta dan Asisten Deputi Standardisasi dan Infrastruktur Olahraga Muhamad Hanan Rahmadi menambahkan, kemudahan untuk menjadi PNS merupakan salah satu bonus yang sudah disiapkan.?

IPNU Tegal

"Bonus untuk SEA Games 2017 tidak hanya berupa uang tunai. Tentunya ini merupakan terobosan baru yang disiapkan pemerintah kepada para atlet. Berapa banyaknya atlet yang akan di promosikan menjadi PNS tentu akan diverifikasi lebih lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” pungkas Imam.

Sementara itu, Menpan-RB Asnan Abnur mengakui pihaknya bersama Kemenpora tengah merancang ? terobosan untuk ? para atlet yang berprestasi khususnya di SEA Games 2017.?

IPNU Tegal

“Ini merupakan terobosan khusus. Ini juga merupakan bentuk apresiasi kepada para atlet yang sudah berprestasi terutama ? di level internasional. ? Dengan demikian, kalau mereka sudah tidak jadi atlet maka mereka bisa bekerja sesuai dengan keahliannya,” tandas Asnan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Kajian Sunnah, RMI NU, Bahtsul Masail IPNU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita

Oleh Ahmad Faizal Amin

Pernah suatu masa, bangsa kita sangat disanjung oleh bangsa lain. Bukan hanya karena kekayaan alamnya, namun juga perilaku kita. Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah, penuh sopan santun, gotong royong, dan sikap religius yang sangat kuat. Tak heran jika banyak warga asing yang langsung jatuh cinta kepada Indonesia karena melihat bagaimana orang-orang kita yang sangat beragam dapat hidup dengan damai dengan suasana penuh kekeluargaan dan saling menghargai dengan menjunjung tinggi sopan-santun.

Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Sosial dan Mundurnya Akhlak Kita

Orang jawa menyebutnya sopan-santun ini sebagai unggah-ungguh. Orang arab menyebutnya sebagai adab. Orang Inggris menyebutnya sebagai attitude. Meski berbagai macam sebutan, namun dapat ditarik definisi umum bahwa sopan-santun ini mempunyai arti sebagai sikap menghargai dan menghormati orang lain baik yang lebih mudah, lebih tua, maupun karena posisinya di dunia professional.

Meski bangsa kita dikenal dalam tempo sejarah yang panjang sebagai bangsa yang penuh sopan-santun dan religius. Namun, akhir-akhir ini kita melihat ada sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan. Pergeseran pola komunikasi face to face menjadi komunikasi melalui dunia maya sedikit demi sedikit mulai membuat sopan-santun kita juga mulai bergeser. Orang yang dikenal dengan penuh keramahan dan sopan-santun di dunia nyata mendadak menjadi macan yang siap mencengkeram dan menerjang dengan kata-kata yang kasar di media sosial. Caci-maki dan saling lempar umpatan seolah menjadi menu harian yang hampir selalu kita temui di kolom komentar terutama karena perbedaan pendapat dan pandangan terkait isu-isu yang sensitif. Tidak ada lagi batasan umur maupun kedudukan seseorang, asal pendapatnya berseberangan, ya hajar saja.

IPNU Tegal

IPNU Tegal

Yang lebih memprihatinkan akhir-akhir ini adalah fenomena bagaimana ulama kita yang bertahun-tahun belajar, mengaji, kemudian mengajarkan ilmunya ke santri-santrinya dengan mudah diperolok dan dicaci-maki seolah-olah beliau-beliau baru belajar kemarin sore. Ketika seorang yang konon berpendidikan dengan mudahnya menghina sosok ulama kharismatik sekaliber Gus Mus dengan menyebut bagian tubuh yang melambangkan kehormatan dengan sebutan yang amat tidak pantas karena tweet yang berseberangan. Ketika seorang yang notabene lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan mudahnya share foto pribadi wakil ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin, dengan caption yang sangat tidak pantas terkait dengan fatwa MUI yang dianggap politis. Atau ketika para santri gugel dengan mudahnya merendahkan sosok ulama besar semacam Prof. Quraish Shihab dan Prof. Syafi’i Ma’arif karena berbeda pendapat dengannya.

Apa yang salah dengan kita? Mengapa bangsa yang dulu dikenal dengan sopan-santunnya dengan sangat cepat berubah menjadi kumpulan orang-orang celelekan dan tidak tahu adab ketika sudah berada di depan layar gadget? Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Apapun agama kita, di manapun kita belajar, setidaknya kita akan selalu mendapat pelajaran mengenai sopan-santun ini, yang termaktub dalam bab budi pekerti. Di dalam agama Islam, kita menyebutnya sebagai akhlak. Salah satu akhlak tersebut adalah tawadhu’ (rendah hati dan hormat) kepada orang-orang berilmu. Kita akan mudah melihat teladan ini kepada ulama-ulama yang sempat direndahkan ini, salah satu yang paling nyata adalah bagaimana Gus Mus menangis dan memohon bahkan menyatakan bersedia mencium kaki para kiai sepuh untuk menenangkan suasana muktamar NU tahun lalu. Di sinilah kita melihat betapa tinggi rasa tawadhu’ beliau dan seberapa tinggi derajat akhlak beliau.

Bagaimanapun juga agama tidak hanya mengajarkan mengenai akidah, namun juga akhlak. Akidah tanpa akhlak akan membuat orang tinggi hati, merasa dirinya paling mulia hingga merendahkan pendapat orang lain. Akhlak tanpa akidah hanya akan membuat kita bingung dan lupa jati diri kita sebagai muslim, lupa siapa Tuhan kita dan bagaimana kita harus beribadah. Maka, mempelajari keduanya adalah ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan tak dapat dipisahkan.

Sungguh amat tidak pantas kita sebagai orang yang beragama dan terpelajar dengan mudahnya merendahkan para ulama. Bagaimanapun juga, akhlak adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan di era social media ini, terlebih jika sudah berurusan dengan ulama. Pun juga dengan orang selain ulama, akhlak juga perlu deperhatikan. Tentu kita tidak mau mendapat masalah di kemudian hari karena ketidakhatihatian kita dalam ber-social media bukan? Tidak sedikit pelajaran yang dapat kita ambli dari teman-teman kita harus berurusan dengan hukum karena salah memanfaatkan social media. Atau beberapa orang harus kehilangan pekerjaan karena menghina orang lain di media sosial yang ternyata merupakan orang atau relasi penting di perusahaan. Atau beberapa orang yang sulit mendapat pekerjaan karena siulan di media sosialnya membuat recruiter ogah merekrut dirinya. Cukuplah kasus mereka menjadi pelajaran bagi kita. Mari lebih bijak dalam dalam ber-social media. Selalu perhatikan adab dalam ber-social media dan selalu berhati-hati dalam menulis. Ingat, lisanmu adalah pedangmu, socmed-mu adalah harimaumu!

Penulis adalah mahasiswa Teknik Geologi UGM; Exchange Student Tohoku University, Japan; anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)-Sendai, JapanDari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Khutbah, Kajian Sunnah IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock