Jumat, 17 November 2017

Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab

Jakarta, IPNU Tegal. Dalam penentuan tanggal baru, negara-negara Islam ternyata lebih banyak menggunakan metode ru’yah atau melihat dengan mata telanjang daripada hisab atau cukup dengan perhitungan matematis dalam penentuan awal bulan. Perbedaan penggunaan metode ini menyebabkan seringnya terjadi perbedaan awal puasa atau hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

“Saudi Arabia, Syiria, Libya dan dunia Islam lainnya memakai ru’yah dalam penentuan bulan baru,” ungkap Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dalam pembukaan pelatihan Hisab dan Ru’yah yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah NU (LFNU) di Gd. PBNU, Jum’at.

Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab

Namun diingatkan oleh pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang tersebut bahwa metode ru’yah hanya efektif digunakan di daerah khatulistiwa dimana kemunculan bulan sabit dapat selalu diamati.

“Makanya, kalau ada uang saya ingin mengajak para pengurus Falakiyah pergi ke daerah sub tropis. Disini selisih satu derajat saja, orang wani gegeran, padahal disana matahari saja belum tentu muncul setiap hari,” tambahnya.

Dijelaskannya bahwa pengetahuan dan wawasan seperti ini diperlukan meskipun belum tentu digunakan di Indonesia karena situasinya memang berbeda. Diceritakannya bahwa metode penentuan waktu sholat yang ada dalam fikih tak bisa digunakan di negara seperti Eropa.

‘Disini tanda-tanda maghrib kalau sudah muncul mego abang, padahal disana meganya saja tidak ada,” ujarnya. Karena itu, penentuan waktu sholat mengikuti daerah yang paling dekat dengan kondisi normal.

IPNU Tegal

Dalam salah satu kunjungannya ke New York, ia juga pernah menemukan satu masjid menghadap ke barat sedangkan satunya lagi menghadap ke timur. “Mereka berargumentasi bahwa jaraknya ke Makkah sama baik dari Barat maupun Timur,” paparnya.

Ketua Lajnah Falakiyah KH Ghozalie Masroeri mengungkapkan bahwa pelatihan hisab dan ru’yah tingkat pemula ini merupakan upaya untuk transfer pengetahuan untuk para kader muda NU yang diharapkan bisa menggantikan para seniornya saat ini.

IPNU Tegal

Sejumlah sesepuh lajnah falakiyah seperti KH Muntari Abdullah yang sudah berumur 86 menyempatkan hadir, demikian pula KH Hasan Basri dari Gresik. Pelatihan ini akan diselenggarakan di Ponpes Al Itqon Cengkareng. Selain belajar teori, para peserta akan diajak praktek langsung agar bisa menentukan tanggal dan menentukan arah kiblat. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Olahraga, Pesantren IPNU Tegal

PonPes Darussalam Jatibarang. Ru’yah Lebih Banyak Dipakai daripada Hisab di PonPes Darussalam Jatibarang ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock