Jumat, 26 Januari 2018

Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin

Situbondo, IPNU Tegal. Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada KHR. Asad Syamsul Arifin melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor 90/TK/2016 tentunya menegaskan keterlibatan para ulama NU dalam memperjuangkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, tak banyak orang tahu bagaimana perjuangan masyarakat, terutama para keluarga besar alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo dalam upaya pengusulan gelar kepahlawanan bagi Kiai Asad yang telah banyak berbuat untuk bangsa ini.?

Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin

Untuk mengetahui kronologis tersebut, IPNU Tegal menemui KH Muhyiddin Khotib, santri senior Pondok Sukorejo yang juga Ketua Tim Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KHR. Asad Syamsul Arifin, di kediamannya, 22 Mei 2017.

Ia menjelaskan, secara umum, pengusulan gelar kepahlawanan dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama, gagasan pemberian gelar ini muncul pertama kali sehari setelah Kiai Asad wafat pada tanggal 4 Agustus 1990 yang disampaikan langsung oleh KH Ahmad Siddiq, Rais ‘Aam PBNU saat itu.

Kiai Ahmad Siddiq menyampaikan bahwa Kiai Asad kalau dilihat dari jasa-jasanya, baik saat memperjuangakan kemerdekaan, maupun dalam menyatukan umat Islam untuk menerima ideologi negara Pancasila, maka sangat layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

IPNU Tegal

"Setelah pernyataan Kiai Ahmad Siddiq tersebut, banyak media yang memuat terkait gelar pahlawan untuk Kiai Asad, yang ini diikuti dengan pernyataan pernyataan tokoh yang juga sepakat, seperti Pangdam V Brawijaya Pak Hartono, dan Pak Basofi sebagai Korem di Malang" jelas Kiai Muhyidin.

Namun karena saat itu tidak ada yang mengawal secara serius, usulan kepahlawanan menjadi tenggelam.

Kedua, ide ini kembali muncul ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI mengunjungi Pondok Sukorejo sekaligus berziarah ke makam Kiai Asad. Saat itu Gus Dur meresponnya sangat positif dan akan ditindaklanjuti.

"Namun kala itu situasi politik yang tidak stabil, dimana Gus Dur harus berjuangan melawan lawan politiknya, maka pengusulan gelar ini mandeg lagi" paparnya.

IPNU Tegal

Pada tahap ketiga, pengusulan ini mendapat titik terang menjelang peringatan 1 Abad Harlah Pondok Sukorejo pada tahun 2014.

Kiai Muhyidin menceritakan, saat itu ia mengantarkan surat undangan acara rangkaian Harlah Pondok Sukorejo ke Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Disanalah Kiai Muhyidin dan Gus Ipul sempat memperbincangkan rencana pengusulan gelar kepahlawanan untuk Kiai Asad.

Ternyata, Pemprov Jawa Timur serius untuk mengusung dan mengawal seluruh proses gelar kepahlawanan. Hal itu disampaikan Gus Ipul saat memberikan sambutan pada puncak acara 1 Abad Pondok Sukorejo di hadapan ribuan jamaah yang hadir.

"Setelah itu, pengasuh pondok Kiai Azaim (cucu Kiai Asad), menunjuk dan mempercayakan kepada saya sebagai Ketua Tim Pengusulan Gelar Pahlawan," ujar dosen Mahad Aly Sukorejo ini.

Setelah menyusun tim kerja, lanjut Kiai Muhyidin, tim mengadakan seminar nasional terkait sepak terjang Kiai Asad. Seminar ini selain memperkaya data, juga untuk mendapatkan dukungan dari semua pihak.?

"Yang hadir sebagai narasumber salah satunya KH Hasib Wahab, putra Kiai Wahab Chasbullah, dan tokoh tokoh nasional yang lain. Semuanya sepakat memberikan dukungan sepenuhnya untuk rencana pengusulan gelar kepahlawanan," terangnya.

Tak sampai disitu, sambil lalu menyiapkan segala persyaratan administrasi prosedural birokrasi, Kiai Muhyidin dan tim berkeliling kebeberapa tempat, terutama menemui alumni ke daerah daerah terkait menyamakan persepsi atas rencana yang sedang berjalan.

Di tataran alumni, ada sebagian yang menolak atas rencana ini, karena menurut mereka, gelar keulamaan Kiai Asad jauh lebih tinggi dari sekadar gelar kepahlawanan.?

Kiai Muhyidin kemudian mencoba meyakinkan alumni yang menolak setidaknya dengan dua alasan. Pertama, gelar kepahlawanan ini sebenarnya untuk kepentingan NU. Kenapa? Ketika Gelar ini didapat, maka semakin mempertegas keterlibatan NU dalam mendirikan negara Indonesia. Karena selama ini masih sedikit ulama NU yang diakui negara dalam upaya ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Yang kedua, sebagai pelurusan sejarah. Maksudnya, ada orang atau tokoh yang pantas dan layak mendapat gelar pahlawan nasional, namun karena tidak pernah ada yang mengusulkan dan mengawal, akhirnya gelar itu tidak disandangnya. Sementara ada orang ? yang sebenarnya peran dan sepak terjangnya masih belum jelas, karena ada yang mengawal, malah mendapat gelar.

"Setelah mendapat dukungan bulat dari masyarakat, tokoh-tokoh dan terutama para alumni, begitu semua administrasi lengkap, kami pun mengajukan ke TP2GP daerah Situbondo, dilanjutkan ke Pemprov Jatim, lanjut ke Kemensos dan akhirnya sampai di meja Presiden" jelasnya bersemangat.

Secara umum tidak ada kendala yang berarti, hanya saja sempat dari tim peneliti pusat menemukan catatan bahwa Kiai Asad sempat diperiksa atau diintograsi di Danrem Malang atas tuduhan keterlibatan Kiai Asad dalam pemberontakan DI/TII.

Namun tuduhan itu terbantahkan setelah Pangdam V Brawijaya Jawa Timur menggelar sidang dan menyatakan bahwa Kiai Asad tidak terbukti sama sekali terlibat dalam pemberontakan tahun 1950an tersebut.

Akhirnya melalui pernyataan tertulis dari Pangdam, dikirim langsung ke Panglima TNI di Jakarta, dan dilanjutkan ke Presiden. Dengan surat tersebut seluruh persyaratan menjadi lengkap dan akhirnya Presiden resmi meneken SK gelar kepahlawanan Kiai Asad tanggal 3 November 2016.

"Alhmdulillah dua tahun mengawal bisa sampai tuntas, banyak sekali yang terlibat dalam upaya ini, ada Kiai Hasyim Muzadi, Bu Khofifah, Gus Ipul, Pemkab Situbondo dan seluruh masyarakat yang mendoakan," ungkapnya lega. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Makam, Hadits IPNU Tegal

PonPes Darussalam Jatibarang. Di Balik Gelar Pahlawan untuk Kiai As’ad Syamsul Arifin di PonPes Darussalam Jatibarang ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock