Kamis, 01 Maret 2018

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim

Kudus, IPNU Tegal. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengajak warga untuk selalu mempererat silaturahim dengan sanak keluarga, saudara maupun sesama umat. Sebab, menurutnya, silaturahim mampu membangun kerukunan dalam kehidupan masyarakat.

“Sebagai umat Islam harus rukun bersatu dengan memperbanyak silaturahim,” katanya saat memberikan taushiyah pada acara open house halal bihalal di kediamannya di Desa Kajeksan, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (31/7).

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sya’roni Tekankan Pentingnya Silaturahim

Ulama kharismatik ini menerangkan, Rasulullah SAW dalam haditsnya menegaskan bahwa siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim.

IPNU Tegal

“Setiap orang yang berhubungan dengan sesama anak adam perlu menggunakan ajang silaturahim supaya ditambahi rizeki dan umur panjang,” tegas Mbah Sya’roni di hadapan ratusan tamu.

Di akhir taushiyahnya, Mbah Sya’roni menjelaskan, umat Islam pada hari kiamat nanti akan saling berangkulan sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an pada Juz 19. Sementara orang kafir tidak demikian karena mereka tidak memperoleh syafaat.

IPNU Tegal

“Oleh karenanya jagalah umat Islam supaya tetap rukun dan bersatu,” tegasnya lagi.

Dalam acara open House idul fitri ini, KH Sya’roni selalu memberikan taushiyah beberapa saat sebelum bersalaman dengana ratusan tamu. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Lomba, Bahtsul Masail, AlaSantri IPNU Tegal

Kader Harus Mampu Terjemahkan Misi Besar GP Ansor

Lampung Tengah, IPNU Tegal. Bertempat di dusun Neglasari, Kampung Marga Jaya, Kecamatan Selagai Lingga, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, keluarga besar Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor kampung Marga Jaya menggelar pelantikan sekaligus hormat maulid Nabi Muhammad SAW pekan lalu.

Kader Harus Mampu Terjemahkan Misi Besar GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Harus Mampu Terjemahkan Misi Besar GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Harus Mampu Terjemahkan Misi Besar GP Ansor

“Kami mohon doa restu sekaligus arahan poro kiai, para pengasuh pesantren dan pengurus Ranting NU kampung Marga Jaya dan pengurus GP Ansor Selagai Lingga agar mampu dan istiqomah mengembang amanah ini selama tiga tahun kedepan,” imbuhnya dalam kegiatan bertema membina kesatuan dalam bingkai NKRI melalui kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW ini.

Ketua Ansor Selagai Lingga, Edi Hermawan, berpesan, kepada seluruh jajaran pengurus Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor kampung Marga Jaya segera untuk Rapat Kerja guna menyusun Program Kerja Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor kampung Marga Jaya selama 2017 hingga 2020. 

Ia berharap, kader Ansor kompak menerjemahkan misi besar GP Ansor mulai dari tingkat Pimpinan Pusat hingga Pimpinan Anak Ranting.

IPNU Tegal

Pertama, internalisasi nilai Aswaja dan sifatur rasul dalam gerakan Gerakan Pemuda Ansor. Kedua, membangun disiplin organisasi dan kadersasi bebasis profesi. 

Ketiga, menjadi sentrum lalu lintas informasi dan peluang usaha antar kader dengan stakeholder. dan keempat, mempercepat kemandirian ekonomi kader dan organisasi. 

“Semoga mulai dari kampung Marga Jaya inilah Ansor mampu menjangkau skala yang lebih besar, bukan hanya sektor keagamaan amaliyah An-Nahdliyyah, pemerintahan, namun mampu menciptakan kewirausahaan sehingga Ansor benar-benar dirasakan kehadirannya ditengah-tengah masyarakat,” tutup alumni Pascasarjana UIN Raden Bandar Lampung ini. 

Hadir dalam pelantikan GP Ansor Kampung Marga Jaya dan Maulid Nabi Muhammad SAW antara lain, Ketua NU Kampung Marga Jaya Kiai Bilal Assabid, Gus Mabadi Syauqi, Ketua Muslimat NU Selagai Lingga Murniati, Pengurus Fatayat NU Marga Jaya Siti Silaini, Kepala Kampung Marga Jaya Syafei, dan ratusan masyarakat setempat. (Syarief Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal Tegal IPNU Tegal

Senin, 26 Februari 2018

Majelis Alumni IPNU: Momen Pembahasan RUU Pilkada Tak Tepat

Kudus, IPNU Tegal. Ketua Umum Presedium Majelis Alumni IPNU H Hilmi Muhammadiyah menilai pembahasan tarik ulur RUU Pilkada oleh DPR waktunya tidak tepat.

Majelis Alumni IPNU: Momen Pembahasan RUU Pilkada Tak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni IPNU: Momen Pembahasan RUU Pilkada Tak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni IPNU: Momen Pembahasan RUU Pilkada Tak Tepat

Hal itu mengemuka dalam diskusi “Pilkada Langsung, Pilkada Tidak Langsung: Siapa Beruntung?” yang diadakan STAIN Kudus bekerja sama dengan Majelis Alumni IPNU Jawa Tengah di aula Rektorat lantai 3, Sabtu (20/9) siang.?

Ketidaktepatan itu terkait hawa panas di gedung dewan antara kubu pendukung Pilkada Langsung dan Pilkada Tidak Langsung. “Saya menilai pembahasan RUU ini tidak tepat karena saya mencium aroma kekecewaan salah satu calon dalam Pilpres kemarin,” terangnya.?

IPNU Tegal

Idealnya, pembahasan RUU tersebut dilakukan 2019 mendatang, syaratnya dengan kejernihan berpikir. Hilmi juga menyayangkan DPR yang baru membahasnya saat ini. Padahal, Munas NU tahun 2012 di Kempek telah jelas membahas hal itu.?

Hasil Munas waktu itu menyebutkan Pilgub, Pilwali, dan Pilbup oleh DPRD layak diberlakukan lagi. “Hasil ini muncul lantaran keprihatinan konflik sosial dalam penyelenggaraan Pilkada Langsung,” jelasnya pada audien yang hadir.?

IPNU Tegal

Mestinya, sebelum Pilpres atau usai hasil Munas itu diputuskan DPR langsung tanggap. Jika tarik-menariknya baru sekarang, ia meyakini ada banyak kepentingan dibalik pembahasan RUU tersebut. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Jadwal Kajian, Cerita, Sunnah IPNU Tegal

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Oleh Irfan Nuruddin

---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni Pondok? Langitan, perihal sosok Jokowi,? bagaimana keislamannya dan kiprah dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.

Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu shohih, tsiqoh, aku iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?

Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari sumber yang tsiqoh, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang aku tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor Jokowi.

“Pak, keislaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya keislaman Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad? 22 Juni di ndalem beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.

? “Islam-imanipun Jokowi miturut kulo sae, saestu sae (baik, benar-benar baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq, (Pengasuh PP Al Muayyad).

IPNU Tegal

Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena beberapa anggotanya sama mencalonkan dirimenjadi Wali Kota, Pak Jokowi sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat, adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil mantu oleh orang-orang? yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak tho Gus?” jawab beliau lugas.

? ? “Tapi kulo gih tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain, hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe… Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau sengau menahan isak.

IPNU Tegal

Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan pertanyaan rasanya tidak mampu.Terbawa suasana yang tiba-tiba mengiris-ngiris kalbu.

? “Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus, bacaannya tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan seperti itu menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi kafir?” Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.

Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut. Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih masih dan dasyhat, sehingga pada waktu ? Jokowi sowan ke Pak Dul Kareem (begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti itu, tetapi menawi kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir, nasrani,… kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau ibu saya yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),”? kata Jokowi ditrukan Pak Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.

Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur, setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin. Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN dan PKS-mambu-mambu sitik (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).

Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga kebijakannya, terutamapada umat Islam?”

? “Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat Islam subtantif Gus, tur yo merakyat tenan, umat Islam di Solo itu kan mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi ? Pak Jokowi untuk mengangkat ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional, minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada lagi,jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.

Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan? dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil di sekitarnya.

? “Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar untukmenghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak ? salah untuk berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan marak… podo ditumpakke? jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek Wali Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa dihargai),” ? cerita PakDul Kareem panjang lebar.

Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan semrawut, dan? sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal Ahbabul Musthofa saat ini.

Solo saat ini jadi lebih hijau dhohiron wa bathinan, peringatan hari besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir dan mengkhatamkan Al Qur’an.

? “Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, kulo ngiro niku isinya arto Gus, tapi jebule stiker (saya kira isinya uang, tapi sertanya isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua Selamat Dunia Akhirat.”

Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000 stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang puluhan juta. Jebule cuma stiker.

Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi adalah salah satu pembinanya.

? “Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados ketua PCNU Solo, jadi gih saget bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem dengan antusias.

? “Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu juga kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca yang di depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal untuk hal seperti itu, nyuruh ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat ketika Jokowi ngangkati gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam pembukaan apa itu, aku lupa.

? Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya dari keluarga muslim yang baik, ? yang juga telah melakukan rukun Islam kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta, dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu, Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya. ? Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah ? “Akulah yang paling Islam, Akulah yang paling benar” yang lain KW.

Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak Dul Kareem dalam ranah politik dia.

“Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan hanya bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan saya dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah kulo yang salah, kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan sampluk. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.

Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan, dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.

Wallohu a’lam bisshowab.

Irfan Nuruddin, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Humor Islam, RMI NU IPNU Tegal

Minggu, 25 Februari 2018

Ribuan Jamaah Padati Majelis Habib Abu Bakar Depok

Depok,IPNU Tegal. Ribuan jamaah menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Majelis Habib Abu Bakar Bin Hasan Al-Athas di Jalan Karya Bakti 9, Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat.

Acara pada Rabu (24/12) tersebut berjalan dengan penuh khidmat dan khusuk. Kegiatan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan pembacaan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ribuan Jamaah Padati Majelis Habib Abu Bakar Depok (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Padati Majelis Habib Abu Bakar Depok (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Padati Majelis Habib Abu Bakar Depok

Dalam kesempatan tersebut Habib Salim bin Abdullah Syatiri dari Yaman menyampaika tausiyah dalamm bahasa Arab. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, dia berpesan agar meneladani akhlak Rasulullah SAW.

IPNU Tegal

Ia juga menambahkan, Islam menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita. Salah satunya, ajaran untuk menghormati Ibu dan perempuan. "Kita harus menghormati ibu,” katanya.

Selain itu, pendidikan pada anak sejak dini merupakan hal yang utama. Tentunya, dalam mendidik anak tidaklah mudah dan dalam tuntunan ajaran Islam sudah jelas diajarkan.

IPNU Tegal

Dirinya juga menegaskan, dalam dakwah Islam selalu mengedepankan dakwah secara hikmah atau bijaksana dan bukan dengan jalan kekerasan.

"Tentunya, untuk mempelajari Islam harus dari sumber aslinya dan bukan dari para orientalis. Ini yang banyak dijumpai, orang belajar ilmu tentang agama Islam tapi di tempat para orientalis seperti Rusia dan lainnya,"terangnya.

Di akhir taushiyah, ia berdoa untuk keselamatan umat Islam dan bangsa Indonesia. Serta mengajak agar mendidik anak dengan ketakwaan, menjauhi kalangan yang memusuhi wali Allah dan membenci sahabat.

Sementara Habib Abu Bakar bin Hasan al-Atthas sendiri tidak tampil di podium. Ia memilih menyambut dan menemani tamu. Tampak hadir para alim ulama diantaranya Ketua PCNU Depok KH Burhanudin Marzuki,  Habib Alwy bin Abdurrahman al-Habsyi, KH Abuya Abdurrahman Nawi, KH Syafii Ahmad, H. Yuyun Wirasaputra dan lainnya. Seusai acara, para tamu dijamu dengan makanan nasi kebuli. (Aan Humaidi/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Santri, Daerah, Sunnah IPNU Tegal

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Medan, IPNU Tegal. Ketua Umum PBNU KH. A. Hasyim Muzadi meminta umat Islam tidak terkecoh dan selalu waspada terhadap ajaran Islam yang “aneh-aneh” yang dapat meresahkan masyarakat.

Umat Islam perlu lebih berhati-hati dan selalu waspada terhadap setiap ajaran Islam model baru yang disebarkan secara simpatik oleh seseorang yang mengaku sebagai ustadz, wali dan bahkan Jibril.

“Di Malang ada yang mengaku sebagai kelompok Islam tapi sholatnya menggunakan dua bahasa,” kata Hasyim pada Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, di Medan, Minggu (20/8) kemarin.

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Perlu Terkecoh dengan Ajaran yang Aneh-Aneh

Dicontohkan lagi, di Purwokerto dan Jakarta seorang umat Islam mengaku sebagai Jibril atau mendapatkan wahyu dari Jibril. “Orang tersebut sudah diamankan oleh pihak berwajib,” katanya.

Begitu pula di salah satu daerah di Jawa Tengah ada kelompok yang sedang Shalat menganjurkan jamaahnya agar tidak menggunakan busana. “Tindakan seperti ini tidak hanya aneh, melainkan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam,” kata Hasyim.

Umat Islam diminta jangan sampai terpengaruh dengan ajaran yang menyesatkan, karena ajaran yang aneh-aneh itu tidak ada dalam Islam. "Masyarakat jangan sampai terkecoh akan ajaran itu,” kata Hasyim.

IPNU Tegal

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang itu mengingatakan, saat ini, banyak orang yang kelihatan pandai dan mempunyai ilmu agama yang tinggi, namun tidak dibarengi keimanan kepada Allah SWT.

“Seorang yang mengetahui hukum kadang mereka itu sering melakukan pelanggaran dan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan hukum tersebut. Hal semacam itu terjadi karena ilmu tinggi yang dimilikinya tidak dibarengi keimanan, ketaqwaan serta tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT,” ujarnya. (har/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal

IPNU Tegal AlaNu, Kajian Sunnah, IMNU IPNU Tegal

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan

Batam, IPNU Tegal

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta pengusaha hiburan Batam menghormati Ramadhan dengan menutup usaha selama umat muslim menjalankan ibadah di bulan suci tersebut.

“Selama 11 bulan, pengusaha mendapat keuntungan, jadi tidak ada salahnya, jika satu bulan ini aktivitas hiburan libur," kata Kiai Ma’ruf di Batam, Jumat (24/8).

Ia mengatakan pemerintah kota pun harus bijaksana mengambil keputusan buka-tutup usaha hiburan di Batam untuk menghindari konflik antara pengusaha dan organisasi masyarakat Islam.

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan

Menurut Rais Syuriyah PBNU itu, pemerintah kota Batam terlambat memutuskan buka-tutup usaha hiburan Batam selama Ramadhan. "Seharusnya sekarang sudah ada komitmen buka-tutup itu," katanya.

Di tempat terpisah, Walikota Batam Ahmad Dahlan mengatakan hingga kini belum ada keputusan buka-tutup usaha hiburan. "Masih dalam pembahasan awal Dinas Pariwisata," katanya.

Ia mengatakan, sebelum ada keputusan baru, maka peraturan? buka-tutup usaha hiburan mengacu masih tetap pada SK Walikota Batam No 10 tahun 2006. SK yang diterbitkan menjelang Ramadhan tahun lalu itu menegaskan penutupan usaha hiburan 15 hari ditambah dua hari sebelum bulan puasa dengan formulasi 2-8-2-5, tutup dua hari sebelum puasa, delapan hari pertama bulan Ramadan, dua hari Nuzulul Quran dan lima hari terakhir bulan Ramadhan.

IPNU Tegal

Pengusaha tolak

IPNU Tegal

Sebelumnya, pengusaha hiburan di Batam menolak usul Majelis Ulama Indonesia (MUI) menutup seluruh tempat hiburan malam selama Ramadhan untuk menghormati umat muslim yang menjalankan ibadah puasa.

Penolakan tersebut disampaikan pengusaha hiburan Batam kepada Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Syamsul Bahrum saat pertemuan tertutup di Batam, Kamis.

"Kata para pengusaha, supaya para pekerja tetap bekerja, dan mereka bisa memperoleh keuntungan selama Ramadhan untuk membayar gaji berikut THR," kata Syamsul di Batam, Kamis.

Menurut Syamsul, pengusaha menginginkan hanya tutup tujuh hari menjelang, saat dan usai Ramadhan. "Mereka memberikan dua formulasi 2-1-1-3 dan 2-3-1-3," kata Samsul.

Formulasi 2-1-1-3 yaitu tutup dua hari sebelum Ramadhan, satu hari di awal Ramadhan, satu hari saat Nuzulul Quran, dan tiga hari terakhir Ramadhan.

Sedangkan formulasi 2-3-1-3 adalah tutup dua hari menjelang Ramadhan, tiga hari diawal Ramadhan, satu di Nuzulul Qur’an dan tiga hari terakhir Ramadhan. (ant/lik)



Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal Meme Islam, Olahraga IPNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock