Kamis, 06 November 2014

Menimba Kearifan Imam Syafi’i dari Komik

Komik bisa menjadi salah satu media untuk menyampaikan kearifan-kearifan para tokoh. Kearifan-kearifan tersebut merupakan substansi nilai luhur kemanusiaan yang pada saat ini semakin memudar. Untuk merawat nilai-nilai tersebut, seorang komikus, Irfan Mahardika, mengangkat biografi Imam Syafi’i melalui media komik. Komik Imam Syafi’i sang Penegak Sunah ini memiliki pesan mendalam tentang perjuangan seorang tokoh dalam menghadapi perbedaan.

Bagi umat Islam, Imam Syafi’i merupakan salah satu tokoh terkemuka yang memiliki pengaruh besar terhadap peradaban Islam. Lelaki yang dilahirkan di Gaza, Palestina ini memiliki kecerdasan yang luar biasa. Saat usianya sembilan tahun, ia sudah menghafal Al-Qur’an. Bakatnya yang menakjubkan ini banyak dilirik ulama pada saat itu.

Menimba Kearifan Imam Syafi’i dari Komik (Sumber Gambar : Nu Online)
Menimba Kearifan Imam Syafi’i dari Komik (Sumber Gambar : Nu Online)

Menimba Kearifan Imam Syafi’i dari Komik

Ketika menuntut ilmu, Imam Syafi’i suka mengembara. Ia berguru kepada ulama-ulama Mesir. Kemudian, ia merantau ke Madinah untuk berguru kepada Imam Malik. Pengembaraan Imam Syafi’i dalam mencari ilmu membuat dirinya tidak memiliki waktu untuk kembali ke kota Makkah. Namun, hal tersebut tidak membuatnya sombong dan angkuh. Ia selalu menghormati pendapat orang lain yang memiliki titik perbedaan dengan pendapat dirinya.  

Ketika berada di Baghdad, Imam Syafi’i melaksanakan shalat tanpa takbiratul ihram. Ia menghormati Imam Abu Hanifah dan para pengikut mazhab Hanafi. Imam Syafi’i juga tidak menjadi imam shalat, karena ia tidak mau terlihat seolah-olah memaksa pada pengikut mazhab Hanafi untuk mengikuti mazhabnya. Apalagi, Imam Syafi’i belum lama berada di Baghdad, sehingga mereka belum mengenal dirinya dengan baik (hal. 32).

IPNU Tegal

Pemikiran Imam Syafi’i tidak berada pada garis radikal. Ia adalah sosok moderat dan menghargai setiap perbedaan. Hal ini disebabkan kualitas keilmuan  yang dimilikinya sangat mumpuni. Selain hafal Al-Quran, Imam Syafi’i mendalami Ilmu Hadits, Ilmu Fikih, Ilmu Al-Quran, dan lain-lain. Dalam menghadapi setiap perbedaan, Imam Syafi’i selalu menjadikan Al-Quran dan Al-Hadits sebagai rujukan utama.

IPNU Tegal

Di Baghdad, Imam Syafi’i mendapat intimidasi dari sejumlah masyarakat karena pendapatnya berbeda dengan mayoritas umat. Walaupun demikian, Imam Syafi’i tidak menganggap pendapatnya merupakan sesuatu yang harus dianut oleh masyarakat Baghdad. Ia berpendapat, jika fatwa yang disampaikan menyalahi Al-Quran dan Al-Hadits, maka tak seorang pun diperbolehkan mengikuti fatwa tersebut. Sebaliknya, Imam Syafi’i tidak akan berhenti berfatwa selama tidak bertentangan dengan sumber ajaran Islam tersebut.

Ia hampir dipenjara. Seseorang bernama Syekh Isa menghadap Al-Makmun, khalifah kota Baghdad, agar mengusir atau memenjarakan Imam Syafi’i. Alasannya, Imam Syafi’i dianggap telah memecah-belah masyarakat Baghdad. Namun, Al-Makmun menolak permintaan tersebut. Selain karena atas undangan sang khalifah, peristiwa tersebut diharapkan tidak terjadi kali kedua.

Ketika ayah Al-Makmun menjadi Khalifah di Baghdad, Imam Syafi’i pernah dipenjara. Kedua kaki dan tangannya dirantai, lalu dipukul dengan rotan. Setelah Imam Syafi’i dipenjara dan disiksa, ternyata ia berada pada pihak yang benar. Ia mendapat ampunan dan kebebasan. Pihak yang menuduh lalu dipenjara (hal. 33-34).

Imam Syafi’i merupakan sosok yang memiliki keyakinan luar biasa. Imannya yang kuat tidak mampu mengubah pendiriannya walaupun harus dipenjara. Ia terus berfatwa dari suatu tempat ke tempat yang lain tanpa mengenal rasa takut. Ia juga terus beribadah walaupun dalam kondisi tubuh yang tidak sehat. Bahkan, ia masih sempat menulis 142 kitab di sela-sela kesibukannya mengajar ilmu agama kepada masyarakat (hal. 81).

Semangat dan perjuangan Imam Syafi’i perlu diketuk-tularkan kepada generasi bangsa. Ia bukan sekadar sosok tangguh dalam menghadapi berbagai intimidasi atau hinaan masyarakat. Ia tidak takut dipenjara selama apa yang disampaikan tidak menyalahi aturan. Ia juga merupakan sosok yang luar biasa. Maka, komik Imam Syafi’i sang Penegak Sunah merupakan bacaan yang tepat untuk menambah wawasan dan meningkatkan spirit perjuangan dalam rangka menegakkan agama Islam. Amin !

Peresensi adalah Suhairi, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan Madura.



Data Buku

Buku        : Imam Syafi’i sang Penegak Sunah

Penulis     : Irfan Mahardika

Penerbit     : Emir, Jakarta

Cetakan        : 2017

Tebal         : 106 halaman

ISBN         : 978-602-0935-53-9

Dari Nu Online: nu.or.id

IPNU Tegal News, Warta IPNU Tegal

PonPes Darussalam Jatibarang. Menimba Kearifan Imam Syafi’i dari Komik di PonPes Darussalam Jatibarang ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Darussalam Jatibarang sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Darussalam Jatibarang. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Darussalam Jatibarang dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock